iii IKHTISAR EKSEKUTIF
Kinerja Universitas Airlangga disusun berdasarkan konsep Balanced Scorecard, yang dimulai dengan learning and growth perspective (modal manusia, sistem informasi, dan budaya organisasi), internal business process perspective (pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan holding university), customer perspective (rekognisi dari stakeholders) dan financial perspective (keuangan).
Junlah dosen Universitas Airlangga yang berkualifikasi doktor sebanyak 770 orang. Terkait jabatan fungsional dosen, terdapat 230 guru besar dan lektor kepala sebanyak 378 orang. Untuk modal informasi, sejak pertengahan 2011 Universitas Airlangga telah mengimplementasikan sistem informasi yang terintegrasi dalam Universitas Airlangga Cyber Campus (UACC) dan pada tahun 2019 semua jenjang pendidikan telah terintegrasi di dalamnya. Adapun pada modal organisasi, UNAIR mengoperasionalkan excellence with
morality ke dalam 4 kata kunci (BEST): based on morality; excellence in academic, research, community services, and holding university; strong academic culture; dan target-oriented.
Pada internal business perspective, bidang pendidikan dan penelitian mengalami perkembangan yang sesuai dengan harapan. Pada tahun 2018, terdapat 7 program studi yang naik statusnya menjadi terakreditasi A (123 dari 168 program studi yang dikelola), 17 yang tersertifikasi AUN dan 23 terakreditasi internasional. Di bidang penelitian, kinerja publikasi Universitas Airlangga meningkat di database Scopus sebesar 86,32%, dari 870 di tahun 2018 menjadi 1621 di tahun 2019 sedangkan total publikasi di jurnal nasional dan internasional mencapai 2331 artikel. Untuk pengabdian kepada masyarakat, Universitas Airlangga memperluas cakupan dalam kegiatan KKN dengan program yang lebih realistis dalam pemberdayaan masyarakat. Pada customer perspective, peringkat Universitas Airlangga relatif stabil dalam QS WUR, yakni peringkat 651-700 dunia pada tahun 2019 dan peringkat 5 untuk perguruan tinggi di Indonesia, sedangkan pemeringkatan oleh Kemenristekdikti, Universitas Airlangga menduduki peringkat 7 di Indonesia. Sementara itu laporan keuangan hingga 2018 telah diaudit oleh akuntan publik dengan opini penilaian adalah wajar tanpa pengecualian (WTP).
iv DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
IKHTISAR EKSEKUTIF ... iii
DAFTAR ISI ... iv DAFTAR TABEL ... v DAFTAR GAMBAR ... vi BAB I. PENDAHULUAN ... A. Gambaran Umum ... 1 B. Dasar Hukum ... 1
C. Tugas Pokok Dan Fungsi Serta Struktur Organisasi ... 2
D. Permasalahan Utama (Strategic Issues) Yang Dihadapi Organisasi 3
BAB II. PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA ... A. Rencana Strategis 2016-2020 ... 4
B. Perjanjian Kinerja 2019 ... 6
BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA ... A. Capaian Kinerja Organisasi ... 7
B. Realisasi Anggaran 2019 ... 37
v DAFTAR TABEL
Hal Tabel 2.1 Sasaran Strategis, Ukuran dan Target Kinerja, serta Inisiatif
Strategis 2016-2020 ... 5
Tabel 2.2 Perjanjian Kinerja Universitas Airlangga Tahun 2019 ... 6
Tabel 3.1 Tingkat Keketatan Penerimaan Mahasiswa Baru ... 8
Tabel 3.2 Sebaran Prestasi Mahasiswa Berdasarkan Tingkat Prestasi ... 11
Tabel 3.3 Sebaran Prestasi Mahasiswa Berdasarkan Bidang Prestasi ... 11
Tabel 3.4 Perolehan Akreditasi Program Studi di Universitas Airlangga ... 14
Tabel 3.5 Profil Program studi Tersertifikasi dan Terakreditasi Internasional . 15 Tabel 3.6 Kinerja Bidang Penelitian dan Publikasi Tiga Tahun Terakhir ... 16
Tabel 3.7 Sumber Pendanaan Kegiatan Pengmas UNAIR ... 20
Tabel 3.8 Target Rasio Tenaga Kependidikan dan Dosen ... 23
Tabel 3.9 Profil Daya Dukung Lahan Universitas Airlangga ... 25
Tabel 3.10.Capaian Indikator Kinerja Universitas Airlangga Tahun 2019 ... 31
vi DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 2.1 Peta Strategi Rencana Strategis (Renstra) UNAIR 2016-2020 ... 4
Gambar 3.1 Sebaran Mahasiswa Aktif 2019 ... 7
Gambar 3.2 Sebaran Geografis Asal Mahasiswa Universitas Airlangga 2019 . 8
Gambar 3.3 Profil Sebaran Sumber Dana Beasiswa Tahun 2019 ... 9
Gambar 3.4 Profil Sebaran Beasiswa Tahun 2019 ... 9
Gambar 3.5 Perolehan Medali UNAIR pada PIMNAS 2015-2019 ... 10
Gambar 3.6 Angka Efisiensi Edukasi (AEE) Jenjang D3, S1, S2, S3, dan Profesi ... 12
Gambar 3.7 Profil Jumlah Penelitian 2017-2019 ... 17
Gambar 3.8 Profil Dana Penelitian Tahun 2019 ... 17
Gambar 3.9 Profil Jumlah Kegiatan Pengmas ... 20
Gambar 3.10 Profil Dana Kegiatan Pengmas ... 20
Gambar 3.11 Profil Kerjasama UNAIR 2016 – 2019 ... 20
Gambar 3.12 Profil Kerjasama UNAIR Bidang Akademik dan Non-Akademik ... 21
Gambar 3.13 Bentuk Kerjasama Selain Akademik dan Non-Akademik UNAIR ... 22
Gambar 3.14 Proporsi Tenaga Kependidikan di Fakultas Berdasarkan Status Kepegawaian ... 24
vii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I. Perjanjian Kinerja Universitas Airlangga 2019 Lampiran II. Capaian Kinerja Universitas Airlangga 2019 Lampiran III. Perjanjian Kinerja Universitas Airlangga 2020 Lampiran IV. Salinan Keputusan Majelis Wali Amanat
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Gambaran Umum
Universitas Airlangga (UNAIR) diresmikan pendiriannya oleh Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia pada tanggal 10 Nopember tahun 1954 dengan Peraturan Pemerintah No. 57/1954. Dalam sejarah pendidikan tinggi di Indonesia, UNAIR tercatat sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ketiga setelah Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), sehingga merupakan perguruan tinggi negeri pelopor di kawasan timur Indonesia.
Perjalanan UNAIR menuju otonomi ditandai dengan terbitnya Statuta UNAIR (Permendiknas No. 16/2006) yang selanjutnya dibatalkan dengan terbitnya Permendiknas No. 33 Tahun 2006, namun demikian Permendiknas tersebut hanya berumur dua hari sebab pada tanggal 14 September 2006 terbit Peraturan Pemerintah (PP) No. 30 Tahun 2006 tentang Penetapan Universitas Airlangga sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Pada tanggal 10 Agustus 2012 dikeluarkan Undang Undang (UU) No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Melalui undang-undang tersebut, Universitas Airlangga ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Melalui kebijakan itu, maka Universitas Airlangga diberikan otonomi penuh untuk mengelola semua kegiatan akademik dan non akademik sebagaimana ditetapkan dalam rencana strategis universitas.
Universitas Airlangga memiliki visi menjadi universitas yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora berdasarkan moral agama. Visi tersebut akan tercapai melalui 4 misi yang dimiliki oleh UNAIR, yakni pelaksanaan tri dharma yang berkelas dunia serta pengelolaan perguruan tinggi dengan tata kelola yang baik (good university governance). Saat ini, UNAIR memiliki 14 fakultas dan 1 (satu) sekolah pasca sarjana yang bertanggungjawab untuk mengembangkan health science, life science, dan social science. Sebagai institusi pendidikan, UNAIR selalu berusaha memperbaiki kualitas pendidikannya serta melengkapi fasilitas pendukung agar dapat menghasilkan lulusan yang terbaik. Saat ini UNAIR memiliki tiga kampus yang sangat strategis letaknya, yaitu Kampus A di Jl. Prof. Dr. Moestopo, Kampus B di Jl. Airlangga, dan Kampus C di Jl. Dr. Ir. Soekarno.
B. Dasar Hukum
Universitas Airlangga merupakan PTN Badan Hukum sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Perguruan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012. Pada tanggal 14 Mei 2014 Statuta Universitas Airlangga akhirnya ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2014 yang tercatat dalam Lembaran Negara RI Nomor 100 dan tersusun dalam 101 pasal. Statuta UNAIR merupakan peraturan dasar pengelolaan UNAIR yang digunakan sebagai landasan penyusunan peraturan dan prosedur operasional di UNAIR. Implementasi Statuta sebagai peraturan dasar pengelolaan UNAIR, sesuai amanat dari Majelis Wali Amanat harus dilaksanakan secara utuh. Dengan terbitnya Statuta UNAIR, maka penyelenggaran UNAIR sebagai PTN-BH telah paripurna, sehingga Universitas Airlangga mempunyai otonomi penuh untuk mengelola semua kegiatan akademik dan non akademik yang sudah ditetapkan melalui rencana strategis universitas.
2 Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi negara tetap mempunyai tanggung jawab terhadap pendanaan perguruan tinggi, oleh sebab itu UNAIR harus menjalankan tugas secara baik guna menciptakan iklim yang menunjang penyelenggaraan tri dharma perguruan tinggi. Atmosfer yang baik diperlukan pula bagi keberhasilan pencapaian semua program, termasuk peningkatan kesejahteraan sivitas akademika.
Tahun 2014 merupakan tonggak perubahan, bukan saja bagi UNAIR dengan terbitnya PP. 30 tahun 2014 tetapi juga bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan adanya Pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk masa bakti 2014 – 2019. Perubahan yang cukup mendasar pada pendidikan tinggi di Indonesia adalah dengan perubahan kementerian untuk urusan pendidikan tinggi dialihkan pada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Dengan komitmen yang tinggi dari Kemenristekdikti untuk mengakselerasi perwujudan implementasi UU Dikti, keberlangsungan status otonomi universitas ini semakin menguat karena penekanan budaya riset berbasis teknologi sangat membutuhkan budaya inovasi yang kreatif, yang hanya bisa hidup subur dalam lembaga yang otonom, memiliki talenta, serta menghargai keberagaman dan kebersamaan.
C. Tugas Pokok dan Fungsi serta Struktur Organisasi
Pengelolaan UNAIR PTN-BH mengacu pada PP. Nomor 30 Tahun 2014 tentang Statuta Universitas Airlangga. Berdasarkan Statuta UNAIR, organ UNAIR meliputi:
1) Majelis Wali Amanat (MWA); 2) Rektor; dan
3) Senat Akademik (SA).
Majelis Wali Amanat merupakan organ UNAIR yang menjalankan fungsi penetapan dan pertimbangan kebijakan umum, beranggotakan 21 orang yang terdiri atas Menteri (dalam hal ini Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi), Rektor, unsur SA (6 orang), unsur dosen (1 orang), unsur tenaga kependidikan (1 orang), dan unsur masyarakat (11 orang).
Rektor adalah organ UNAIR yang menjalankan fungsi pengelolaan perguruan tinggi dan bertanggungjawab kepada MWA. Rektor mewakili UNAIR baik di dalam dan di luar untuk kepentingan UNAIR. Dalam menjalankan fungsinya, Rektor dibantu oleh Wakil Rektor membentuk satuan kerja organisasi internal UNAIR, yaitu:
a. Fakultas; b. Badan; c. Direktorat; d. Perpustakaan; e. Lembaga; dan f. Sekretariat universitas.
Senat Akademik merupakan organ UNAIR yang menjalankan fungsi penetapan kebijakan dan pengawasan akademik. Keanggotaan SA terdiri dari Rektor dan Wakil Rektor, Dekan, perwakilan guru besar dan perwakilan dosen bukan guru besar yang berasal dari fakultas. Senat Akademik memiliki tugas dan wewenang dalam merumuskan norma dan etika akademik; kebijakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat; memberikan masukan kepada MWA tentang penilaian kinerja Rektor dalam
3 penyelenggaraan akademik dan memberikan pertimbangan mengenai rencana strategis dan penyusunan RKAT (Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan).
Pada tahun 2015 telah dilaksanakan pemilihan Rektor yang kemudian menunjuk empat Wakil Rektor dengan bidang masing-masing sebagai berikut:
a. Wakil Rektor I: bidang akademik dan kemahasiswaan;
b. Wakil Rektor II: bidang sumber daya, keuangan, dan sistem informasi;
c. Wakil Rektor III: bidang penelitian, publikasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama institusi perguruan tinggi;
d. Wakil Rektor IV: bidang kerjasama, pembiayaan mandiri, dan jejaring alumni. Dalam kepemimpinan Rektor periode 2015-2019 terdapat beberapa unit kerja baru yaitu:
a. Airlangga Global Engagement (AGE); b. Airlangga Health Science Institute (AHSI); c. Direktorat Sistem Informasi dan Komunikasi; d. Direktorat Sarana, Prasarana, dan Lingkungan; e. Institut Ilmu Kesehatan;
f. Lembaga Penelitian dan Inovasi;
g. Lembaga Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat; h. Lembaga Pengembangan Bisnis dan Inkubasi;
i. Lembaga Pengembangan Produk Terpadu;
j. Pusat Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi; k. Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah; l. Pusat Pengelolaan Dana Sosial;
m. Pusat Tata Kelola dan Daya Saing;
n. Pusat Inovasi Pembelajaran dan Sertifikasi; o. Pusat Riset dan Pengembangan Produk Halal; p. Pusat Pencegahan Penyakit dan Riset.
Pembentukan unit kerja baru di atas diharapkan dapat mengakselerasi kinerja UNAIR dalam rangka mencapai visi dan melaksanakan misi secara lebih optimal.
D. Permasalahan Utama (Strategic Issues) yang Dihadapi Organisasi
Universitas Airlangga memiliki beberapa permasalahan utama yang berpotensi menghambat tujuan yang ingin dicapai. Terdapat 5 kelemahan utama Universitas Airlangga, yaitu:
a. Tingginya ketergantungan pada dana yang berasal dari SPP serta dana pemerintah; b. Masih rendahnya link and match antara riset dengan industri;
c. Universitas Airlangga memiliki 15 fakultas dan 168 program studi dengan kinerja yang bervariasi;
d. Karya ilmiah dosen yang terpublikasi dan terindeks scopus masih dalam kategori rendah;
4 BAB II
PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA A. Rencana Strategis 2016-2020
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan insan yang unggul dan cerdas secara intelektual, emosional/sosial, spiritual, dan kinestetik, yang mampu mengisi kemerdekaan Indonesia secara komprehensif. Sesuai dengan amanah yang disandang oleh perguruan tinggi, maka perguruan tinggi menjadi salah satu tempat bagi penyelenggaraan proses pendidikan guna menyiapkan sumber daya manusia menjadi pemimpin bangsa dalam berbagai sektor kehidupan. Dengan ledakan penduduk usia produktif pada tahun 2025–2030, pendidikan tinggi mempunyai peran strategis dalam mengelola dan mengendalikan kualitas sumber daya manusia, sehingga ledakan penduduk usia produktif pada rentang tahun tersebut dapat menjadi bonus demografi Indonesia.
Rencana Strategis UNAIR disusun berdasarkan evaluasi diri institusi dan pemetaan pengembangan setiap unit kerja, yang meliputi kelemahan, kekuatan, potensi dan prospek pengembangan ke depan. Keputusan Majelis Wali Amanat nomor 01/UN3.MWA/K/2016 tentang Rencana Strategis Universitas Airlangga 2016-2020 dan Keputusan Rektor nomor 5857/H3/KR/2012 tentang Program Operasionalisasi Rencana Strategis Universitas Airlangga 2012-2017 menjadi dasar penyusunan Renstra bagi Rektor pada periode 2015-2020. Dua hal ditambahkan, yakni menjadikan UNAIR sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik 500 dunia pada tahun 2020 dan pengelolaan unit-unit usaha akademik yang tergabung dalam holding university.
Rencana Strategis 2016-2020 Universitas Airlangga kemudian dijabarkan dalam peta strategis Universitas Airlangga yang dilihat dari berbagai perspektif yang di dalamnya memuat sasaran strategis meliputi berbagai aspek yang dilengkapi dengan target tahun 2020 beserta inisiatif berupa aktivitas yang akan dilakukan.
5 Tabel 2.1. Sasaran Strategis, Ukuran dan Target Kinerja, serta Inisiatif Strategis 2016-2020
Sasaran
Strategis Ukuran Target 2020 Inisiatif Strategis
Peningkatan Reputasi Indeks reputasi (academic and employers based on QS survey)
85 • Mengembangkan Airlangga Connection berdasarkan database terintegrasi.
• Meningkatkan eksposur karya ilmiah pada media massa nasional (TV, radio, koran dan majalah).
• Mengelola image SBUs yang profesional. • Melakukan aktivitas University Branding. Peningkatan Academic Excellence Akreditasi Prodi & Institusi • Prodi terakreditasi A D3: 50%; S1: 100%; S2: 75%; S3: 75%; Internasional: 31 prodi • Akreditasi institusi : A
• Meningkatkan jumlah prodi terakreditasi A dan terakreditasi internasional.
• Meningkatkan jumlah prodi yang
menyelenggarakan program double degree. • Meningkatkan jumlah mahasiswa baru dari
luar Jawa Timur dan mahasiswa asing. • Mengembangkan kurikulum berbasis
competitive advantage UNAIR.
• Meningkatkan kapabilitas perpustakaan sebagai jantung pendidikan.
Peningkatan Research Excellence • Jumlah Publikasi & Sitasi • Jumlah hilirisasi riset • 828 (Scopus) • 85% citations per faculty • 20 riset terhilirisasi
• Melakukan program “Satu Doktor Satu Artikel Scopus”.
• Mewajibkan mahasiswa program magister maupun doktoral untuk publikasi di jurnal terindeks Scopus sebagai syarat lulus. • Menerapkan reward and punishment system. • Meningkatkan kerjasama penelitian dengan
high impact researchers.
• Menambah jurnal yang dikelola UNAIR agar terakreditasi Dikti dan terindeks Scopus. • Meningkatkan jumlah riset sesuai dengan
competitive advantage UNAIR.
• Update dan upgrade fasilitas penelitian berkelas dunia.
• Meningkatkan hilirisasi hasil riset UNAIR melalui kerjasama dengan industri. Peningkatan Community Service Excellence Persentase realisasi program berdampak sosial tinggi 50 lokal 35 regional 15 nasional
• Mengembangkan tema-tema strategis sesuai
competitive advantage UNAIR.
• Meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat yang berdampak pada skala lokal, regional, dan nasional.
• Memfasilitasi key facilitators sebagai
ambassadors UNAIR.
• Membentuk pusat riset dengan menerapkan hasil penelitian langsung kepada masyarakat Peningkatan University Holding Excellence • Kontribusi RGU terhadap pendapatan UNAIR • 25%
• Mengembangkan Revenue Generating Units (RGUs) yang relevan.
• Mengelola RGUs secara profesional, efisien, dan profitable
6
Sasaran
Strategis Ukuran Target 2020 Inisiatif Strategis
• Alumni
engagement
• 50% • Mengelola alumni secara profesional • Meningkatkan dan mengelola dana abadi Peningkatan Kesiapan Modal Manusia, Modal Informasi, dan Modal Organisasi Indeks Kesiapan: • Modal manusia • Modal informasi • Modal organisasi • 90% • 90% • 90%
• Menyusun dan mengimplementasikan Human
Capital Strategic Plan.
• Menyusun dan mengimplementasikan
Information Capital Strategic Plan.
• Menyusun dan mengimplementasikan
Organization Capital Strategic Plan.
Peningkatan Kemandirian Keuangan Perbaikan Proporsi Pendapatan (SPP, pemerintah, dan usaha UNAIR)
40:35:25 • Meningkatkan proporsi pendapatan dari RGUs, baik akademik maupun non-akademik. • Meningkatkan utilisasi aset.
• Meningkatkan efisiensi biaya pengelolaan organisasi.
• Meningkatkan sinergi pendanaan Academic
Business Government (ABG).
• Proaktif dalam memanfaatkan dana dari para filantropi nasional maupun internasional B. Perjanjian Kinerja 2019
Perjanjian kinerja Universitas Airlangga tahun 2019 meliputi 7 (tujuh) sasaran sebagaimana Tabel 2.2. Dokumen resmi Perjanjian Kinerja tahun 2019 antara Universitas Airlangga dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi disampaikan pada Lampiran 1.
Tabel 2.2. Perjanjian Kinerja Universitas Airlangga Tahun 2019
Sasaran Indikator Kinerja Target
Meningkatnya kinerja dan akuntabilitas keuangan negara
Tingkat maturitas penyelenggaraan sistem
pengendalian intern pemerintah (SPIP) Level 3 Terwujudnya tata kelola serta
kualitas layanan yang baik
Opini penilaian laporan keuangan oleh akuntan
publik WTP
Meningkatnya kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan
Jumlah mahasiswa berwirausaha 425
Persentase lulusan bersertifikat kompetensi dan
profesi 82%
Persentase prodi terakreditasi unggul (A) 80% Persentase lulusan yang langsung bekerja 39% Meningkatnya relevansi, kualitas,
dan kuantitas sumberdaya
Persentase dosen berkualifikasi S3 44%
Persentase guru besar 14%
Meningkatnya relevansi dan produktifitas riset dan pengembangan
Jumlah publikasi internasional 1000 Jumlah kekayaan intelektual yang didaftarkan 45
Jumlah prototip industri 20
Jumlah jurnal bereputasi terindeks global 2
Jumlah sitasi karya ilmiah 23000
Meningkatnya kualitas kelembagaan
Peringkat UNAIR berdasar QS WUR <500 Tingkat maturitas kawasan sains dan teknologi 0
Jumlah pusat unggulan IPTEK 2
7 BAB 3
AKUNTABILITAS KINERJA A. Capaian Kinerja Organisasi
1. Bidang Kemahasiswaan
Pada tahun 2019, target kinerja Universitas Airlangga pada bidang kemahasiswaan dan pembelajaran berkurang menjadi 4 indikator, dimana sebelumnya terdapat 8 indikator. Keempat indikator tersebut adalah mahasiswa berwirausaha (425 orang), persentase lulusan bersertifikat kompetensi dan profesi (82%), persentase prodi terakreditasi unggul (A, 80%), dan persentase lulusan yang langsung bekerja sebesar (39%). Target tersebut kemudian diimplementasikan dalam setiap penyelenggaraan kegiatan akademik di UNAIR, mulai dari sistem penerimaan mahasiswa baru, pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, serta peningkatan kompetensi mahasiswa tingkat akhir.
Jumlah mahasiswa aktif Universitas Airlangga pada tahun 2019 adalah 38.243 orang dari seluruh jenjang studi dengan proporsi sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 3. Berdasarkan Gambar 3..1 diketahui bahwa proporsi terbesar adalah mahasiswa S1, hal ini disebabkan penyelenggaraan pendidikan bagi jenjang studi S1 merupakan salah satu core
bussiness Universitas Airlangga. Lebih lanjut, untuk meningkatkan kualitas mahasiswa,
maka dilakukan berbagai tahapan mulai dari seleksi awal masuk (keketatan mahasiswa), perluasan sebaran daerah asal mahasiswa, dan pembinaan karakter mahasiswa.
Gambar 3.1. Sebaran Mahasiswa Aktif 2019
(Sumber: dashboard.unair.ac.id per 31 Desember 2019)
Mahasiswa Universitas Airlangga memiliki sebaran daerah asal meliputi seluruh wilayah Indonesia dan berasal dari 34 provinsi (Gambar 3.). Hal ini menunjukkan bahwa Universitas Airlangga telah berhasil diakses oleh calon mahasiswa dari seluruh wilayah Indonesia. Sebaran yang sangat luas ini sejalan dengan kebijakan perluasan akses pendidikan dan keterjangkauannya oleh seluruh masyarakat Indonesia guna membangun suatu kehidupan berbangsa dan bernegara yang terintegrasi dalam proses tri dharma perguruan tinggi. 4.526 23.839 4.141 1.410 2.106 95 2.126
8 Gambar 3.2. Sebaran Geografis Asal Mahasiswa Universitas Airlangga 2019
(Sumber: Direktorat Pendidikan, 2019)
Tingkat persaingan untuk diterima sebagai mahasiswa Universitas Airlangga pada tahun akademik 2019/2020 menurun dari tahun sebelumnya, hal ini ditunjukkan dengan tingkat keketatan dari 6,17% menjadi 12,75% (Tabel 3.1). Rerata keketatan penerimaan mahasiswa baru selama empat tahun terakhir adalah 11,22% (setara dengan 1:10,02).
Tabel 3.1. Tingkat Keketatan Penerimaan Mahasiswa Baru
Tahun Akademik Pendaftar Diterima Keketatan Rasio
2016/2017 44.869 6.944 15,48% 1:6,46
2017/2018 52.048 5.445 10,46% 1:9,56
2018/2019 87.769 5.419 6,17% 1:16,21
2019/2020 69.730 8.891 12,75% 1:7,84
Rerata 11,22% 1:10,02
Sumber: Data Olahan PPMB, 2019.
Penyebarluasan informasi dan promosi mengenai penerimaan mahasiswa baru telah dilakukan dengan berbagai strategi untuk dapat memenuhi keinginan masyarakat yaitu berupa kunjungan langsung ke SMA, melalui hubungan telepon, informasi di website program studi/departemen/fakultas, media cetak (iklan), pameran, dan konsultasi online. Seleksi penerimaan mahasiswa baru Universitas Airlangga dilakukan melalui jalur nasional dan jalur mandiri Universitas Airlangga. Seleksi secara nasional yakni SNMPTN dan SBMPTN diperuntukkan bagi calon mahasiswa jenjang sarjana (S1), sedangkan seleksi jalur mandiri diperuntukkan bagi calon mahasiswa program magister, doktoral, diploma, dan spesialis.
Kriteria penerimaan mahasiswa baru telah ditetapkan untuk menjamin ekuitas dan aksesibilitas, sebab pada prinsipnya semua program studi terbuka bagi setiap Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) yang telah mendapat izin belajar dari pemerintah Republik Indonesia. Tidak ada pembedaan perlakuan atas dasar jender, status sosial, ras, agama, latar belakang budaya, politik, dan kondisi fisik. Mahasiswa yang mengalami cacat tubuh atau ketunaan tetap mendapatkan kesempatan, selama kondisi fisik mereka tidak mengganggu kelancaran studi pada program studi yang dipilih.
9 Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, Universitas Airlangga memberikan kemudahan akses untuk mengikuti pendidikan bagi calon mahasiswa yang mempunyai kemampuan akademik unggul, tetapi secara ekonomi kurang mampu dan atau berasal dari daerah terpencil. Penerapan kebijakan itu diterapkan melalui penyediaan bantuan biaya pendidikan dan beasiswa penuh (full scholarship) selama studi. Pada tahun 2019 sebanyak 7.362 mahasiswa jenjang S1 dan D3 mendapatkan beasiswa yang berasal dari 33 instansi yang dikelompokkan dalam 8 sumber pendanaan, sehingga mencakup 19,21% dari total mahasiswa jenjang S1 dan D3. Capaian ini belum mencapai mandat yang diberikan melalui UU No. 12 tahun 2012 pasal 74, yang mewajibkan PTN menerima paling sedikit 20% dari daya tampung yaitu mahasiswa yang mempunyai potensi akademik tinggi tetapi kurang mampu dan yang berasal dari daerah 3T (tertinggal, terpencil, dan terluar). Profil beasiswa berdasarkan perolehan sumber dana dan sebaran sumber dana beasiswa disajikan pada Gambar 3.3 dan Gambar 3.4.
Berdasarkan Gambar 3.3 dapat diketahui bahwa 85,19% beasiswa diperoleh dari Kemenristekdikti, baik dalam skema beasiswa bidikmisi, Afirmasi Pendidikan Tinggi Provinsi Papua (Skema ADIK), Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), maupun beasiswa unggulan. Gambar 3.4 menunjukkan proporsi penerima beasiswa yang bervariasi antar fakultas. Fakultas Ekonomi dan Bisnis menempati urutan tertinggi (16,75%), sedangkan Fakultas Kedokteran Gigi merupakan fakultas dengan persentase penerima beasiswa terendah (1,79%). Kebijakan pemberian beasiswa tersebut akan terus ditingkatkan, terutama untuk mendukung program-program prioritas UNAIR yang terkait dengan pencapaian
World Class University, di antaranya melalui program outbound dan inbound student.
Di lingkup Universitas, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, namun juga kemampuan non-akademik. Program pembinaan mahasiswa dirancang untuk membina kemampuan softskill mahasiswa, yang memang diberikan sejak masuk perguruan tinggi hingga lulus. AMERTA merupakan tahap pertama program pembinaan yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Cakupan program adalah pembinaan kemampuan
FK; 259 FKG; 132 FH; 191 FEB; 1233 FF; 253 FKH; 399 FISIP; 894 FST; 946 FKM; 456 FPSI; 196 FIB; 742 FKP; 292 FPK; 557 FV; 812 85,19% 0,73% 0,34% 4,56% 1,90% 2,12% 3,06% 2,09% Kemenristekdikti Kemenag Lembaga Pemkot/Pemkab BUMN UNAIR
Yayasan (Foundation) Perusahaan Swasta
Gambar 3.3. Profil Sebaran Sumber Dana Beasiswa Tahun 2019
(Sumber: Direktorat Kemahasiswaan, 2019)
Gambar 3.4. Profil Sebaran Beasiswa Tahun 2019
10 membangun kebersamaan antar mahasiswa. Melalui program ini, diharapkan lulusan Universitas Airlangga mempunyai penguasaan softskill yang baik dan dapat menjawab tantangan kebutuhan dunia kerja di masa mendatang.
Program pengembangan jati diri kebangsaan dan jati diri ke-UNAIRan sebagai salah satu bentuk pendidikan karakter telah diimplementasikan sejak tahun 2010. Pada tahun 2012, pengembangan pendidikan karakter juga telah diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran pada tahun pertama perkuliahan dengan kegiatan kemahasiswaan melalui pengembangan modul pada Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU) serta kegiatan kemah kebangsaan.
Di samping kegiatan kurikuler, mahasiswa juga telah mampu mengembangkan bakat, kemampuan, dan keterampilan mereka secara baik. Banyak di antara mereka telah berhasil mengangkat nama Universitas Airlangga melalui prestasi di tingkat internasional, nasional, maupun regional. Pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXXII tahun 2019 di Universitas Udayana, tim mahasiswa UNAIR berhasil menduduki peringkat 5 nasional, dengan perolehan 3 medali emas, 1 medali perak, dan 3 medali perunggu. Peringkat UNAIR dalam ajang PIMNAS dalam kurun waktu 3 tahun disjikan pada Gambar 3.5.
Penurunan peringkat PIMNAS tahun 2019 disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adanya perubahan mekanisme pembatasan unggah proposal dimana UNAIR masuk dalam kluster 1 yang dibatasi hanya 700 proposal yang dapat diunggah ke sistem Kemenristekdikti. Selain itu faktor keterbaruan tema atau judul proposal juga menjadi perhatian untuk ditingkatkan, karena akan berdampak pada jumlah proposal yang lolos dan didanai oleh Kemenristekdikti. Strategi yang dilakukan adalah mengintensifkan bimbingan dan seleksi oleh dosen pembimbing di setiap fakultas sebelum proposal diunggah, kolaborasi antar fakultas sehingga keberagaman ide dapat dimunculkan, serta penambahan reviewer internal UNAIR yang dapat menjadi reviewer nasional.
Gambar 3.5. Perolehan Medali UNAIR pada PIMNAS 2015-2019
(Sumber: Direktorat Kemahasiswaan, 2019)
Pada tahun 2019, Universitas Airlangga berhasil mendapatkan medali emas pada ajang AMSA International’s World No Tobacco Day (WNTD) Competition 2019, yang diraih oleh Andro Pramana Witarto, mahasiswi Fakultas Kedokteran pada 18 Mei 2019. Adapun jumlah prestasi mahasiswa UNAIR berdasarkan level perlombaan dan bidang perlombaan disajikan pada tabel di bawah ini.
2015 2016 2017 2018 2019 Perunggu 0 2 1 3 3 Perak 3 3 4 2 1 Emas 2 8 2 3 3 0 2 4 6 8 10 12 14
11 Tabel 3.2. Sebaran Prestasi Mahasiswa Berdasarkan Tingkat Prestasi
Tingkat Sebaran Prestasi Mahasiswa Jumlah
FK FKG FH FEB FF FKH FISIP FST FKM FPsi FIB FKp FPK FV SPS
Internasional 8 0 11 18 4 1 5 15 2 1 5 3 1 10 0 84 Nasional 32 2 18 144 25 18 26 71 13 11 16 3 5 36 1 421
Regional 1 0 3 5 0 0 5 1 0 1 1 1 0 2 0 20
Lokal/UNAIR 5 0 1 0 0 2 2 3 2 0 2 0 0 6 0 33 Jumlah 46 2 33 177 29 21 38 90 17 13 24 7 6 54 1 558
Sumber: Direktorat Kemahasiswaan, 2019.
Tabel 3.3. Sebaran Prestasi Mahasiswa Berdasarkan Bidang Prestasi
Bidang Sebaran Prestasi Mahasiswa Jumlah
FK FKG FH FEB FF FKH FISIP FST FKM FPsi FIB FKp FPK FV SPS
Minat/bakat 2 2 3 3 2 0 2 3 0 5 4 0 0 10 0 36 Olah raga 13 0 8 12 3 19 23 26 8 3 7 5 5 32 0 164 Penalaran 30 0 21 162 24 2 13 60 9 5 13 2 1 12 1 355 Keorganisasian 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3
Jumlah 46 2 33 177 29 21 38 90 17 13 24 7 6 54 1 558
Sumber: Direktorat Kemahasiswaan, 2019.
Berdasarkan Tabel 3.2 dapat diketahui bahwa dari 558 prestasi yang diraih mahasiswa UNAIR pada tahun 2019 didominasi oleh prestasi tingkat nasional (421 prestasi) diikuti dengan prestasi internasional. Sumbangan prestasi UNAIR tersebut relatif menyebar pada seluruh fakultas, meskipun lebih didominasi oleh FEB, yaitu 177 prestasi. Proporsi prestasi mahasiswa UNAIR akan terus didorong ke arah prestasi internasional yang lebih baik serta pemerataan ke seluruh fakultas. Hal ini didasari oleh visi UNAIR untuk mencapai World
Class University.
Prestasi internasional tahun 2019 dari mahasiswa UNAIR salah satunya disumbangkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, tepatnya melalui ASEAN Youth Forum on “Advancing the
Partnership for the Sustainable Promotion of ASEAN Tourism” di Hat Lai, Thailand pada
tangal 29 Agustus –2 September 2019 yang diselenggarakan oleh ASEAN Studies Centre
Prince of Songkhla University, Hat Yai Campus, Thailand. Dua mahasiswa tersebut adalah
Dwika Muzakka Anan Tatya dan Sabrina Ashilah Salsabila, mahasiswa Program Studi S1 Bahasa dan Sastra Inggris yang meraih medali emas pada ajang tersebut.
Selain itu, prestasi internasional lainnya dari mahasiswa UNAIR adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Religi melalui Kompetisi Inovasi International Innovation,
Creativity and Technology Exhibition (I2Create), Kuala Lumpur, Malaysia pada tangal 12–
14 April 2019 yang diselenggarakan oleh Malaysia Research and Innovation Society (MyRIS) dan Universiti Malaysia Perlis (UNIMAP). Mahasiswa tersebut adalah Nurul Khosnul Qotimah (S1 Pendidikan Ners) yang meraih medali emas pada cabang kelompok/beregu.
12 2. Penyelenggaraan Akademik
Pengembangan sistem dan strategi pembelajaran dilakukan melalui metode inovatif dan interaktif. Pengembangan penguasaan soft skills telah diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, yang meliputi jati diri UNAIR, kepemimpinan, kerjasama (teamwork), kemampuan berkomunikasi, rasa percaya diri, dan kewirausahaan, yang bertujuan menghasilkan lulusan yang lebih kompetitif dan siap terjun ke dunia kerja.
Sesuai dengan motto excellence with morality, tegaknya moralitas akademik dan perilaku dalam penyelenggaraan institusi merupakan karakter bangsa yang harus dicitrakan secara individu dan korporat agar mampu membangun daya saing bangsa yang beradab. Upaya membangun atmosfer akademik yang kondusif melalui kegiatan akademik diwujudkan di antaranya melalui penelitian kolaboratif dosen-mahasiswa. Kolaborasi penelitian antara mahasiswa dan dosen juga dilakukan melalui student exchange dengan institusi mitra kolaborasi riset di luar negeri. Kegiatan ini dapat mengakselerasi pencapaian tujuan universitas untuk menjadi universitas yang bertaraf internasional sebagaimana dicanangkan dalam Roadmap Internasionalisasi.
Efektivitas keberlangsungan proses pembelajaran ditunjukkan di antaranya oleh tingkat mahasiswa drop out (DO), sedangkan produktivitas program studi dalam penyelenggaraan pendidikan dapat diukur dari besaran angka efisiensi edukasi (AEE) yang merupakan proporsi jumlah lulusan terhadap jumlah mahasiswa aktif (student body) pada satu tahun akademik. Produktivitas prodi yang ‘baik’ merupakan indikator penyelenggaraan dan pengelolaan program studi yang sudah baik.
Gambar 3.6. Angka Efisiensi Edukasi (AEE) Jenjang D3, S1, S2, S3, dan Profesi
(Sumber: Direktorat Pendidikan, 19 Desember 2019, 16:30 WIB)
Dalam tiga tahun terakhir, Angka Efesiensi Edukasi (AEE) secara umum masih belum mencapai angka ideal pada setiap jenjang pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
21,13% 17,10% 28,38% 13,79% 45,79% 31,51% 22,38% 34,22% 15,29% 72,10% 22,56% 22,34% 30,60% 16,19% 40,34% 0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% D3 S1 S2 S3 Profesi AEE 2016/2017 2017/2018 2018/2019
13 masa studi mahasiswa masih banyak yang belum sesuai dengan masa studi normal, di antaranya disebabkan oleh penyelesaian tugas akhir/skripsi/tesis/disertasi yang relatif lama. Penyebab lain adalah kewajiban publikasi di jurnal internasional terindeks Scopus yang mulai diterapkan pada tahun 2019 bagi lulusan program S2 dan profesi, yang berdampak menurunkan nilai AEE di tahun terakhir. Rerata AEE pada tiga tahun terakhir di tingkat Universitas Airlangga adalah D3: 25,07%; S1: 20,61%; S2: 31,07%; S3: 15,09%; dan Profesi: 52,74%. Para pengelola program studi diharapkan melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait faktor-faktor yang menjadi penyebab rendahnya AEE, mulai dari kualitas proses pembelajaran hingga lamanya waktu penyelesaian tugas akhir/skripsi/ tesis/disertasi. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat AEE menjadi salah satu faktor penentu penilaian
Faculty Student Ratio (FSR) dalam sistem pemeringkatan internasional.
3. Bidang Penjaminan Mutu
Penjaminan mutu di Universitas Airlangga dikelola oleh satu badan khusus yaitu Badan Penjaminan Mutu (BPM) yang merupakan unsur pelaksana universitas yang membantu pimpinan universitas dalam melakukan penjaminan mutu akademik dengan tugas pokok dan fungsi sesuai dengan PP. 30 Tahun 2014 yaitu: (1) merumuskan kebijakan penjaminan mutu; (2) melaksanakan proses sertifikasi mutu internal dan pelatihan dalam rangka peningkatan mutu; (3) mengendalikan dan memantau penjaminan mutu; dan (4) menyampaikan hasil penjaminan mutu kepada rektor.
Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Universitas Airlangga tidak hanya diimplementasikan pada tingkat universitas, tetapi juga sampai pada tingkat unit kerja, fakultas, dan departemen/program studi. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kualitas pengelolaan dan pemantauan hasil/kinerja yang lebih baik. Sebagai unit kerja yang bertanggung jawab terhadap jalannya SPMI, maka BPM memiliki beberapa tupoksi, meliputi:
1. menghasilkan sistem penjaminan mutu akademik yang terintegrasi, unggul, dan inovatif untuk seluruh komponen universitas;
2. menghasilkan keunggulan akademik institusi dan program studi melalui akreditasi/sertifikasi nasional maupun internasional di tingkat nasional dan internasional; 3. mewujudkan optimalisasi implementasi Airlangga Integrated Management System
(AIMS) di seluruh unit kerja;
4. menghasilkan atmosfer akademik yang sehat dan kondusif dalam aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat;
5. mewujudkan hubungan dengan pihak eksternal dan pihak lainnya dalam berbagai aktivitas akademik baik di tingkat nasional dan internasional;
6. menyampaikan hasil penjaminan mutu kepada Rektor.
Pada level institusi, peningkatan kapasitas seluruh unit kerja di lingkungan UNAIR terkait dengan degree comparability dilakukan dengan implementasi Airlangga Integrated
Management System (AIMS), monitoring dan evaluasi melalui audit internal, serta audit
eksternal oleh Badan Sertifikasi Eksternal. Audit eksternal ke unit kerja, fakultas, dan program studi yang telah masuk dalam ruang lingkup AIMS merupakan bentuk surveillance audit dari sertifikasi ISO 9001:2015 dan IWA 2:2007. Audit eksternal meliputi kelengkapan
14 dokumen dan implementasi terhadap kepatuhan peta proses, pedoman prosedur, serta instruksi kerja yang telah ditetapkan oleh Universitas Airlangga dan fakultas/unit kerja/program studi sesuai standar ISO 9001 dan IWA 2.
Sesuai dengan prinsip continuous improvement, Universitas Airlangga telah mengembangkan instrumen audit mengacu pada instrumen akreditasi BAN-PT terbaru. Hal ini dimaksudkan untuk mengevaluasi tata kelola fakultas/prodi (termasuk prodi spesialis) secara on-line. Hasil audit ditujukan untuk mengidentifikasi secara cepat ketidaksesuaian dan saran perbaikan yang telah dan harus dilakukan oleh fakultas/prodi. Lebih lanjut hasil audit tersebut dapat digunakan oleh Pimpinan UNAIR untuk mendapatkan informasi perkembangan seluruh fakultas guna menentukan kebijakan yang perlu diambil untuk perbaikan selanjutnya.
Pemeringkatan akreditasi merupakan tolok ukur yang digunakan sebagai salah satu dasar untuk menetapkan mutu serta kelayakan prodi dalam menyelenggarakan program pendidikan. Untuk menindaklanjuti peraturan pemerintah tentang kewajiban akreditasi bagi semua institusi dan program studi, maka UNAIR membangun sistem kebijakan untuk meningkatkan status akreditasi program studi. Kebijakan tersebut dilakukan dengan maksud meningkatkan kepercayaan stakeholders terhadap kualitas akademik semua program studi serta meningkatkan citra Universitas Airlangga.
Pemenuhan akreditasi pada semua jenjang pendidikan akademik dan vokasi dilakukan sejalan dengan amanat Undang Undang No. 20 Tahun 2003. Persyaratan prodi yang dapat meluluskan harus sudah terakreditasi, diberlakukan mulai tahun 2013. Program studi yang belum terakreditasi dan tetap meluluskan sarjana harus bertanggungjawab secara institusional terhadap sanksi pidana yang berlaku sesuai ketentuan pasal 67, UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 maupun pencabutan gelar akademik bagi lulusan program studi yang bersangkutan. Oleh karena itu, pimpinan fakultas dan program studi senantiasa meletakkan akreditasi sebagai suatu kewajiban dan kebutuhan.
Pada tahun 2019, beberapa program studi di UNAIR telah divisitasi oleh BAN-PT, LAM-PTKes, serta lembaga akreditasi internasional. Perolehan peringkat akreditasi BAN-PT, LAM-PTKes, serta hasil sertifikasi dan akreditasi internasional Tahun 2016 hingga Desember 2019 disajikan pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4. Perolehan Akreditasi Program Studi di Universitas Airlangga
Sumber: BPM, 2019.
Berdasarkan tabel di atas, 10 prodi D3 terakreditasi A dimana jumlah tersebut telah melampaui target renstra tahun 2019 sebesar 8 prodi. Kemudian untuk prodi S1 terdapat 33
Jen jang
A B C Belum Terakreditasi Jumlah Prodi
2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 D3 5 9 10 10 12 8 7 7 0 1 0 0 0 0 1 1 17 18 18 18 D4 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 3 0 0 0 0 0 0 - 3 3 S1 29 30 33 33 5 4 5 6 0 0 1 0 0 0 0 0 34 34 39 39 S2 22 27 30 34 20 17 15 11 2 1 0 0 0 0 0 1 44 45 45 46 S3 3 4 7 8 10 9 6 4 0 0 0 0 0 0 2 2 13 13 15 14 Profesi 6 6 7 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 6 7 7 Spesialis 23 23 29 31 8 8 2 1 0 0 1 0 0 0 9 9 31 31 41 41 Jumlah 88 99 116 123 55 46 35 32 2 2 15 0 21 18 12 13 166 165 168 168
15 prodi yang terakreditasi A dimana jumlah tersebut dibawah target renstra sebesar 37. Untuk prodi S2, prodi yang terakreditasi A sebesar 34 prodi, melebihi target renstra sebanyak 31. Sedangkan untuk S3 terdapat 8 prodi terakreditasi A dan sesuai dengan target renstra 2019. Pada prodi profesi dan spesialis, prodi yang terakreditasi A masing-masing sebanyak 7 dan 31, sehingga secara keseluruhan 123 prodi di UNAIR telah terakreditasi A.
Tabel 3.5. Profil Program Studi Tersertifikasi dan Terakreditasi Internasional
No. Nama Program Studi
Sertifikasi/Akreditasi Internasional
AUN ABEST21 ASIIN ASIC
2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 2016 2017 2018 2019 1 S1 Pendidikan Dokter √ √ √ √ - - - - - - - 2 S1 Ilmu Hukum √ √ √ √ - - - - - - - 3 S1 Pendidikan Apoteker √ √ √ √ - - - √ √ - - - - 4 S1 Biologi √ √ √ √ - - - √ √ - - - - 5 S1 Kimia √ √ √ √ - - - √ √ - - - - 6 S1 Matematika - - - √ √ - - - - 7 S1 Fisika - - - √ √ - - - -
8 S1 Pendidikan Dokter Hewan √ √ √ √ - - - √ √ - - - -
9 S1 Manajemen √ √ √ √ - - √ √ - - - - 10 S1 Sastra Inggris √ √ √ √ - - - - 11 S1 Kesehatan Masyarakat √ √ √ √ - - - - 12 S1 Ekonomi Pembangunan - √ √ √ - - √ √ - - - - 13 S1 Ilmu Komunikasi - √ √ √ - - - - 14 S1 Psikologi - √ √ √ - - - - 15 S1 Budidaya Perairan - √ √ √ - - - - 16 S1 Pendidikan Bidan - - √ √ - - - -
17 S1 Pendidikan Dokter Gigi - - √ √ - - - √ √ - - - -
18 S1 Akuntansi - - √ √ - - √ √ - - - - 19 S1 Keperawatan - - √ √ - - - √ √ - - - - 20 S1 Ekonomi Islam - - - √ √ - - - - - - 21 S2 Akuntansi - - - √ √ - - - - - - 22 S2 Ilmu Ekonomi - - - √ √ - - - - - - 23 S2 Magister Manajemen - - - - √ √ √ √ - - - - - - 24 S2 Sains Manajemen - - - √ √ - - - - - - 25 S3 Ilmu Akuntansi - - - √ √ - - - - - - 26 S3 Ilmu Ekonomi - - - √ - - - - 27 S3 Ilmu Manajemen - - - √ - - - - 28 Profesi Akuntan - - - √ √ - - - - - - 29 S1 Antropologi - - - √
30 S1 Ilmu Administrasi Negara - - - √
31 S1 Hubungan Internasional - - - √
32 S1 Ilmu Informasi dan
Perpustakaan - - - √ 33 S1 Ilmu Komunikasi - - - √ 34 S1 Politik - - - √ 35 S1 Sosiologi - - - √ 36 S1 Hubungan Internasional - - - √ 37 S2 Ilmu Politik - - - √ 38 S2 Kebijakan Publik - - - √
39 S2 Media dan Komunikasi - - - √
40 S2 Sosiologi - - - √
41 S3 Ilmu Sosial - - - √
Jumlah 9 13 17 17 1 1 1 1 0 0 5 8 0 0 0 14
Sumber: BPM, 2019
Berdasar tabel di atas, pada tahun 2019 UNAIR telah menargetkan adanya peningkatan jumlah prodi yang terakreditasi A melalui program reakreditasi prodi yang saat ini terakreditasi B, baik oleh BAN-PT maupun oleh LAM-PTKes. Lebih lanjut guna
16 mendukung peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan, maka pada tahun 2019 terdapat 17 prodi di UNAIR yang tersertifikasi AUN, satu prodi terakreditasi internasional, ABEST21, dan 8 prodi telah terakreditasi internasional ASIIN.
4. Penelitian dan Publikasi
Program pengembangan penelitian dan publikasi diarahkan untuk mencapai kinerja penelitian dan publikasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Kinerja penelitian UNAIR secara nasional (Ditlitabmas dan Non-Ditlitabmas) menunjukkan angka yang relatif stagnan sebesar 1,00% dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencapai 9,35%, namun jumlah publikasi yang dimiliki UNAIR di jurnal internasional terindeks Scopus di tahun 2019 menunjukkan pertumbuhan yang meningkat cukup signifikan sebesar 86%, dari tahun 2018 sebesar 870 dokumen menjadi 1621 dokumen pada tahun 2019. Hal ini perlu menjadi apresiasi dan tantangan yang lebih besar bagi Universitas Airlangga untuk meningkatkan kualitas publikasi.
Untuk meningkatkan kinerja penelitian, mulai tahun 2013 diterapkan kebijakan peningkatan penelitian dan publikasi melalui peningkatan alokasi pendanaan. Pada tahun 2019, total pendanaan yang digunakan untuk penelitian meningkat sebesar 14,37% yang bersumber dari dana internal UNAIR, dana program WCU, dan DRPM (Gambar 3.8). Khusus dana penelitian di tahun 2019 yang bersumber dari internal UNAIR, menunjukkan proporsi yang cukup signifikan yaitu sebesar 38,34%.
Tabel 3.6. Kinerja Bidang Penelitian dan Publikasi Tiga Tahun Terakhir
Kinerja Bidang Penelitian 2017 2018 2019*
Hibah Ditlitabmas 334 274 266
Hibah Non-Ditlitabmas 298 428 443
Total publikasi di jurnal (nasional dan internasional) 713 1294 2331
Publikasi di jurnal nasional 171 202 349
Publikasi Internasional : • Scopus • ISI Thompson 542 472 70 1092 870 222 1982 1621 361
Publikasi pada jurnal Top 25% 385 581 793
Q1 46 148 309
Q2 91 148 309
Q3 235 418 629
Q4 73 179 397
Jumlah Sitasi 1514 2044 2956
Kolaborasi Internasional (institusi) 98 195 357
17 Kinerja publikasi baik nasional dan internasional pada tahun 2019 menunjukkan kinerja yang meningkat 80,13% jika dibandingkan dengan tahun 2017 dan 2018 (Tabel 3.6). Berdasarkan data yang ada pada database SciVal, rata-rata pertumbuhan tahunan selama tiga tahun terakhir sekitar 36,4% jumlah publikasi pada jurnal Q1 sejak tahun 2017-2019. Peningkatan ini disebabkan kebijakan insentif yang diberikan oleh Rektor serta beberapa fasilitas seperti layanan translasi dan proofreading yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah (PPJPI).
Langkah strategis untuk peningkatan kualitas penelitian dan publikasi terus ditingkatkan melalui program unggulan universitas. Kebijakan program penelitian dan publikasi menjadi prioritas kebijakan program dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan (RKAT). Kebijakan tersebut memberikan dampak positif dalam bentuk peningkatan kualitas penelitian dosen dan peer group pada beberapa program unggulan universitas. Kualitas penelitian yang dilakukan oleh dosen dan peer group pada program unggulan UNAIR menunjukkan peningkatan yang sangat baik. Penelitian diarahkan pada fokus-fokus riset dengan peta jalan yang terintegrasi antara bidang health science, life
science, dan social science yang menunjang perwujudan Research Excellence pada bidang
kesehatan, bahan alam, dan ketahanan pangan. Kerja sama penelitian dengan institusi pemerintah di luar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi juga terus dikembangkan, misal dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN melalui beberapa perusahaan BUMN, misalnya PT. Biofarma, PT. Indofarma, PT. Pupuk Indonesia, PT. Petrokimia Gresik, PT. Harsen Laboratories, PT. Kimia Farma, PT. Pharos dan PT. Kalbe Farma.
Walaupun kinerja bidang penelitian dan publikasi tahun 2019 meningkat, akan tetapi diperlukan upaya sistematis agar kinerja dapat ditingkatkan, upaya tersebut di antaranya:
1. Revitalisasi Pusat Studi dan Pusat Kajian yang ada di lingkungan UNAIR dan Fakultas. Sebagaimana diketahui di lingkungan UNAIR terdapat beberapa pusat studi dan di fakultas terdapat berbagai pusat kajian. Pusat studi dan pusat kajian tersebut mewadahi aktivitas dosen yang memiliki minat studi/kajian yang sama baik dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam hal ini, pusat studi/pusat kajian memiliki potensi untuk dikembangkan dan dioptimalkan fungsinya melalui revitalisasi, sehingga perlu dilakukan penataan ulang serta ditetapkan indikator kinerja untuk mengetahui daya dukungnya pada pencapaian visi dan misi UNAIR. Pusat studi/pusat kajian diharapkan Gambar 3.7. Profil Jumlah Penelitian 2017-2019
(Sumber : Lembaga Penelitian dan Inovasi)
18 dapat menggali dana penelitian dari eksternal melalui pengembangan jejaring nasional dan internasional, serta pengajuan proposal riset yang bergengsi. Di samping itu dengan kualitas penelitian yang baik, pusat studi/pusat kajian dapat memberikan reputasi positif bagi UNAIR. Diperlukan juga insentif berupa media/alat penelitian bagi pusat studi/pusat kajian yang memiliki kinerja terbaik untuk memberi motivasi perkembangan pusat studi/pusat kajian di lingkungan UNAIR.
2. Perlu ditetapkannya prosedur yang terstandarisasi dalam seleksi proposal penelitian untuk menjaga kualitas penelitian serta monitoring hasil penelitian.
Untuk menunjang jumlah publikasi di jurnal internasional, tentunya kualitas penelitian perlu ditingkatkan karena pada umumnya hanya artikel dari penelitian yang berkualitas yang memiliki peluang besar untuk layak diterbitkan di jurnal internasional terindeks yang memiliki reputasi baik. Dalam rangka peningkatan kualitas penelitian, perlu ditetapkan prosedur baku dalam seleksi proposal penelitian, baik di level UNAIR (seleksi proposal di LPI) maupun di level Fakultas. Reviewer penelitian adalah dosen-dosen yang memiliki rekam jejak publikasi internasional yang baik, sehingga diharapkan proposal penelitian yang akan didanai dapat dikatakan layak untuk menghasilkan publikasi internasional.
Hal yang tidak kalah penting adalah monitoring hasil penelitian, sebab selama ini masih terindikasi cukup banyak penelitian (baik yang dikelola oleh LPI maupun Fakultas) yang berhenti pada laporan hasil penelitian atau dipublikasikan sekadarnya sebagai buku monograf. Hal ini tidak lagi dapat ditoleransi, seluruh hasil penelitian harus berlanjut sampai dipublikasikan di jurnal ilmiah baik nasional terakreditasi, atau apabila memang layak, harus didorong untuk dipublikasikan di jurnal internasional terindeks atau apabila penelitian bersifat potensial pengembangannya (memenuhi kriteria tingkat kesiapan teknologi Kemenristekdikti) dapat ditingkatkan untuk mendapatkan paten/HKI. Untuk itu prosedur yang jelas yang memuat ketentuan sanksi perlu ditetapkan, sehingga apabila seorang peneliti telah menyelesaikan laporan penelitian namun dalam pemantauan menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal ilmiah atau submit paten, maka yang bersangkutan dapat di-suspend pengajuan proposal penelitiannya.
3. Optimalisasi topik strategis program penelitian UNAIR.
Berdasarkan kekuatan yang dimiliki dan peluang yang dapat dikembangkan, Universitas Airlangga telah menetapkan tujuh topik strategis penelitian, yaitu:
a. Kesehatan dan penyakit tropis; b. Ketahanan dan keamanan pangan; c. Inovasi teknologi;
d. Pemanasan global, pelestarian lingkungan, dan manajemen bencana; e. Sistem jaminan sosial;
f. Pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, dan daya saing bangsa; serta g. Good governance.
Topik strategis di atas disusun dengan memperhatikan disiplin ilmu yang dikembangkan di UNAIR (bidang ilmu yang ada di UNAIR), kompetensi dosen/peneliti, prasarana penelitian, dan tentu saja kebutuhan masyarakat dalam
19 menyelesaikan berbagai permasalahan baik yang berskala lokal, nasional, regional, dan internasional. Pada setiap topik strategis terdapat beberapa bidang fokus yang dapat dipilih sebagai fokus penelitian para dosen/peneliti. Apabila setiap kegiatan penelitian secara konsisten mengikuti topik strategis dan bidang fokus yang ditetapkan, maka akan diperoleh suatu integrasi hasil penelitian dengan arah yang jelas yang mampu menjawab tantangan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan aktual yang relevan, sehingga akan menjadi keunggulan UNAIR yang meningkatkan reputasi UNAIR secara keseluruhan. Optimalisasi topik strategis program penelitian UNAIR dapat diarahkan pula untuk melibatkan dosen dengan kualifikasi S2 yang belum mempunyai jabatan Lektor Kepala untuk dilibatkan dalam penelitian yang diketuai oleh dosen dengan kualifikasi S3, sehingga dosen-dosen berkualifikasi S2 tetap memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas penelitian.
4. Segmentasi penelitian untuk dosen S2 dan S3
Segmentasi penelitian untuk dosen S2 dan S3 diperlukan untuk memberikan kesempatan dosen S2 agar juga dapat melakukan penelitian, selanjutnya pengalaman penelitian tersebut dapat dijadikan pondasi keilmuan untuk studi lanjut S3. Segmentasi ini dilakukan terutama untuk penelitian tingkat fakultas, sebab keterbatasan dosen S2 untuk dilibatkan sebagai anggota dalam penelitian simlitabmas. Segmentasi ini juga diperlukan untuk dosen/peneliti dengan keilmuan baru yang belum terwadahi dalam aktivitas penelitian dosen S3 di lingkungannya. Segmentasi tersebut disesuaikan juga dengan bidang ilmu yang terindeks Scopus, yaitu: agrikultur, kesehatan dan obat, sosial ekonomi dan hukum, matematika dan ilmu pengetahuan alam, serta psikologi dan budaya.
5. Pendanaan riset mandat dan pembentukan Research Group
Pembuatan Research Group yang beranggotakan 11 orang termasuk di dalamnya satu orang ketua peneliti yang merupakan key scientist yang memiliki rekam jejak penelitian dan publikasi tinggi. Tujuan dibentuknya Research Group adalah untuk membentuk budaya akademik penelitian dan publikasi di lingkungan UNAIR. Program ini diharapkan mampu meningkatkan publikasi dan sitasi universitas di kemudian hari. 6. Kolaborasi penelitian dengan mitra di tingkat nasional dan internasional
Peningkatan kolaborasi penelitian dengan mitra di tingkat nasional dan internasional diperlukan untuk meningkatkan publikasi Universitas Airlangga. Selain itu, kolaborasi penelitian/publikasi dengan bermitra dengan partner nasional dan internasional terutama yang punya reputasi tinggi juga perlu ditingkatkan.
5. Pengabdian Kepada Masyarakat
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengmas) sebagai salah satu tugas tri dharma merupakan manifestasi dari tanggung jawab institusi dalam pemberdayaan masyarakat. Secara umum, jumlah total kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengmas) oleh dosen UNAIR tahun 2019 meningkat dibanding tahun sebelumnya (Gambar 3.9), yaitu naik secara signifikan dari tahun 2018 ke 2019 pada dana yang bersumber dari eksternal (Nasional) sebesar 530% (Gambar 3.10).
20 137 182 315 0 100 200 300 400 2017 2018 2019 Sumber: LPPM, 2019. 6. Kerjasama
Kerjasama adalah sarana untuk mengembangkan dan meningkatkan daya saing perguruan tinggi sekaligus menguatkan pencitraan dan mutu perguruan tinggi sehingga semakin dikenal dan dipercaya oleh masyarakat. Kerjasama dengan berbagai pihak eksternal dengan prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan dituangkan dalam bentuk naskah Piagam Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), Kesepakatan Kerjasama (Memorandum of Agreement/MoA) dan Perjanjian Kerjasama (Memorandum of
Implementation/MoI). Kerjasama internasional UNAIR pada tahun 2016 sampai tahun 2019
mengalami tren kenaikan, namun kerjasama nasional pada rentang waktu tersebut mengalami tren penurunan (Gambar 3.11). Meskipun demikian, peningkatan yang signifikan kerjasama internasional pada tahun 2019 dibanding tiga tahun sebelumnya menunjukkan bukti ketercapaian target kinerja internasional UNAIR yang mana mendukung peningkatan pengakuan internasional terhadap UNAIR di kancah pendidikan tinggi global.
418 357 382 161 138 168 94 265 2016 2017 2018 2019 Dalam Negeri Luar Negeri Linear (Dalam Negeri) Linear (Luar Negeri)
Sumber Dana 2018 (Rp) 2019 (Rp)
Kemenristekdikti 652.000.000 681.600.000
Nasional 4.772.985.550 25.296.312.699
UNAIR 4.137.209.000 4.232.271.500
Tabel 3.7. Sumber Pendanaan Kegiatan Pengmas UNAIR
2%
84% 14%
Kemenristekdikti Nasional UNAIR
Gambar 3.9. Profil Jumlah Kegiatan Pengmas
(Sumber: LPPM, 2019)
Gambar 3.10. Profil Dana Kegiatan Pengmas Tahun 2019
(Sumber: LPPM, 2019)
Gambar 3.11. Profil Kerjasama UNAIR 2016 – 2019 (Sumber: AGE, LPI, LPPM, LPT, dan PIPS, 2019)
21 282 253 345 392 382 470 131 34 2016 2017 2018 2019 AKADEMIK NON AKADEMIK
Dalam menjalin kerjasama, Universitas Airlangga tetap memprioritaskan pengembangan kualitas layanan pendidikan sehingga kerjasama yang dilakukan harus memberikan dampak yang signifikan terhadap kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu penyediaan fasilitas pendidikan baik yang bersifat
tangible seperti bangunan, laboratorium, perpustakaan, dan pusat-pusat layanan pendidikan
maupun yang bersifat intangible seperti beasiswa, portal magang, dan pertukaran pelajar juga menjadi fokus utama Universitas Airlangga untuk menjadi perguruan tinggi berstandar internasional.
Kerjasama Universitas Airlangga di tahun 2019 pada bidang Akademik mengalami sedikit peningkatan yaitu mencapai 13,6% dari tahun 2018, peningkatan tersebut menunjukkan adanya tambahan jumlah kerjasama pada bidang akademik sebesar 47 kerjasama baru. Secara keseluruhan, 392 kerjasama akademik Universitas Airlangga didominasi oleh kerjasama dalam penyediaan fasilitas pendidikan sebesar 41,6% yang meliputi penyediaan dan penggunaan laboratorium, pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, pelatihan, material transfer, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan proses pendidikan. Program kerjasama terbanyak selanjutnya berada pada program penelitian, baik pendanaan penelitian berupa hibah dan bantuan pemerintah maupun riset kolaborasi dengan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri sebesar 32,8% atau sebanyak 129 kerjasama, jumlah ini tercapai seiring dengan fokus Universitas Airlangga untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah. Kerjasama bentuk lain yaitu pertukaran mahasiswa, magang, dan pemberian beasiswa yang masing-masing sebesar 20,2%; 3,2%; dan 2,2%.
Gambar 3.12. Profil Kerjasama UNAIR Bidang Akademik dan Non-Akademik
22 Kerjasama non akademik Universitas Airlangga yang meliputi bisnis, hibah, dan wakaf mengalami tren yang turun dan memiliki nilai terendah pada empat tahun terakhir. Hal ini terjadi karena penambahan kerjasama non akademik tidak lebih besar dari kerjasama yang berakhir pada tahun 2019, sehingga menjadi evaluasi Universitas Airlangga untuk menyusun rencana strategis dalam meningkatkan jumlah kerjasama baik dengan pemerintah, perusahaan milik negara, maupun swasta pada tahun-tahun berikutnya. Kerjasama non akademik dalam bentuk bisnis seperti sewa-menyewa, pemanfaatan lahan, konsultasi pada industri maupun pemerintah memiliki persentase paling besar yaitu 91,2%, sisanya dalam bentuk hibah dan wakaf yang masing-masing sebesar 5,9% dan 2,9%.
Kerjasama luar negeri dikembangkan dengan berbagai negara di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. Kerjasama dengan Asia dilakukan bukan hanya dengan negara-negara ASEAN, tetapi juga dengan beberapa negara seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan China. Kerjasama dengan negara di benua Eropa diwujudkan dalam Konsorsium Erasmus Mundus. Hasil ini memberikan kesempatan pengiriman mahasiswa dan staf pengajar untuk mengikuti kegiatan students exchange ke Eropa untuk melaksanakan studi dan kegiatan akademik. Melalui program yang sama, Universitas Airlangga juga menerima mahasiswa dari beberapa negara Eropa.
Pengembangan kerja sama di wilayah Australia juga ditingkatkan. Selama ini, kerja sama di wilayah tersebut masih berlangsung melalui kerja sama yang bersifat sporadis di tingkat fakultas, dan sekarang sudah diangkat ke tingkat universitas demi efektivitas. Pengembangan kerjasama juga mulai dirintis ke Benua Amerika, terutama Amerika Latin, dimana banyak manfaat yang dapat diperoleh melalui peningkatan bidang pendidikan dan penelitian.
Kerja sama hasil hilirisasi penelitian dengan mitra industri dan institusi dalam negeri juga telah diwujudkan melalui kerjasama produksi enzym xylanase untuk pemutih kertas dengan PT. Petrosida Gresik, sediaan fitofarmaka kapsul gendarusa sebagai kontrasepsi pria dengan PT. Harsen, obat kumur Fordontis dengan PT. Konimex, Koniderm dengan PT. Konimex, KSB-1 konsorsium bakteri pengolah limbah cair dengan PT. Inovasi Bioproduk Indonesia, tes kit hidrokuinon pada krim pemutih kulit dengan PT. Airlangga Kit Surabaya, dentolaser dengan PT. Inovasi Bioproduk Indonesia dan PT. Sarandi Karya Nugraha,
32,8%
2,2%
20,2% 3,2%
41,6%
Penelitian Beasiswa Pertukaran pelajar
Magang Fasilitas Pendidikan
Gambar 3.13.Bentuk Kerjasama Selain Akademik dan Non-Akademik UNAIR
23 metabolit stem cell dengan PT. Phapros, dan kerja sama untuk penelitian leprosi dengan RS Sumber Glagah dan Ditjen PPPL.
7. Sumber Daya Manusia
Universitas Airlangga diberikan otonomi untuk mengelola sumber daya manusia (SDM), hal ini sejalan dengan statuta yang berlaku dengan status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Berdasarkan data dari Direktorat SDM tahun 2019, dari jumlah dosen UNAIR sebanyak 1.995 orang, komposisi yang bergelar master dan doktor S3 terus mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir, seiring dengan bertambahnya dosen yang menempuh pendidikan doktor. Jumlah Dosen yang berkualifikasi S3 mencapai 770 orang. Demikian juga dengan jumlah dosen yang bergelar Guru Besar mengalami peningkatan dengan total 230 orang.
Terkait dengan program percepatan guru besar dan dosen bergelar doktor, sejak tahun 2016 Universitas Airlangga telah menerapkan strategi sebagai berikut: (1) Prioritas peningkatan jenjang pendidikan terakhir dosen yang mempunyai jabatan fungsional lektor kepala yang belum S3 untuk mengikuti pendidikan S3; (2) Penyederhanaan proses pengurusan guru besar dengan memangkas prosedur yang tidak efisien dan efektif; (3) Memotivasi para dosen yang telah berpendidikan S3 untuk meningkatkan jabatan fungsional ke lektor kepala. Hasil strategi di atas adalah bertambahnya jumlah lektor kepala berpendidikan S3 dari 182 orang (2016), 173 orang (2017), 245 orang pada tahun 2018 dan meningkat menjadi 378 orang pada tahun 2019. Dengan meningkatnya jumlah lektor kepala, maka probabilitas peningkatan jumlah Guru Besar juga semakin tinggi.
Untuk mencapai target jumlah guru besar dan komposisi dosen, beberapa hal yang dilakukan adalah 1) Penerapan roadmap SDM Universitas secara menyeluruh; 2) Akselerasi dosen yang memiliki jabatan akademik Asisten Ahli ke Lektor; jika dosen tersebut telah bergelar S3, maka akselerasi dosen yang memiliki jabatan akademik Asisten Ahli ke Lektor Kepala, dosen yang memiliki jabatan akademik Lektor ke Lektor Kepala, dan Lektor Kepala ke Guru Besar (bagi dosen S3); 3) Akselerasi dosen untuk studi lanjut S3, khususnya yang telah Lektor dan Lektor Kepala; 4) Penerapan Strategic Performance
Management System (SPMS) yang selaras dengan Renstra UNAIR (berdasarkan Balance Score Card) dan 5) Menjadikan dosen S3 PNS yang telah pensiun menjadi dosen khusus,
karena dosen khusus masih masuk dalam perhitungan nisbah rasio dosen : mahasiswa. Pengembangan human capital UNAIR untuk tenaga kependidikan dilakukan berbasis kompetensi dan kinerja. Target strategis komposisi perbandingan jumlah tenaga kependidikan dengan jumlah dosen tertera pada Tabel 3.8. Berdasarkan evaluasi diri fakultas dan unit kerja, jumlah tenaga kependidikan pada tahun 2019 baik yang ada di fakultas dan unit kerja masih belum mencapai target ideal yang telah ditetapkan dalam Renstra UNAIR 2016-2020.
Tabel 3.8. Target Rasio Tenaga Kependidikan dan Dosen
Proporsi 2017 2018 2019 2020
Dosen 57% 58% 59% 60%
Tenaga Kependidikan 43% 42% 41% 40%
24 Jumlah keseluruhan dosen UNAIR saat ini sebanyak 1.995 (memperhitungkan semua jenis dosen baik yang tetap maupun tidak tetap) sedangkan jumlah tenaga kependidikan (tendik) sebanyak 2.113, jadi proporsi = 51% tendik dan 49% dosen. Jika dilihat data pada Gambar 3.14maka capaian saat ini belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Gambar 3.14. Proporsi Tenaga Kependidikan di Fakultas Berdasarkan Status Kepegawaian
(Sumber: Direktorat SDM, 2019)
Berdasarkan data kepegawaian pada Gambar 3.14, proporsi jumlah tenaga kependidikan tahun 2016-2019 yang berstatus PNS, tetap non PNS mengalami penurunan sedangkan untuk tenaga kependidikan yang berstatus honorer dan kontrak/tidak tetap mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa tugas tambahan yang membutuhkan tenaga kependidikan tambahan yang direkrut sehingga Universitas merekrut tenaga pendidik berstatus honorer dan tenaga kerja kontrak/tidak tetap. Jika dianalisis lebih dalam, menyoroti tingkat pendidikan tenaga kependidikan baik yang berada di fakultas maupun di unit kerja, tenaga kependidikan yang berpendidikan SD-SMA masih 38,23% dari total tenaga kependidikan yang ada.
8. Sarana dan Prasarana
Fasilitas akademik merupakan salah satu unsur dasar sekaligus sebagai daya dukung penyelenggaraan kegiatan akademik. Apabila dilihat dari kondisi geografis, UNAIR memiliki lahan seluas 87.34 hektare. Jumlah mahasiswa aktif UNAIR per 31 Desember 2019 adalah sebanyak 37.017 orang. Hal tersebut menuntut UNAIR memiliki suatu manajemen fasilitas yang terintegrasi, efektif, dan efisien. Kuantitas dan kualitas sumber daya ditekankan pada penyediaan, pengaturan, dan pemeliharaan infrastruktur institusi.
8.1.1. Lahan dan Bangunan
Fasilitas berupa daya dukung lahan Universitas Airlangga seluas 87.34 hektare (ha) yang terletak di lima wilayah yang terpisah merupakan daya dukung yang penting terkait dengan pengembangan universitas sebagaimana Tabel 3.9 di bawah ini.
1133 7 717 733 1062 0 705 801 1026 471 0 659 987 456 6 664
PNS Tetap Non PNS Honorer Kontrak/Tidak Tetap 2016 2017 2018 2019