• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sarana dan Prasarana

Dalam dokumen IKHTISAR EKSEKUTIF. iii (Halaman 31-36)

Fasilitas akademik merupakan salah satu unsur dasar sekaligus sebagai daya dukung penyelenggaraan kegiatan akademik. Apabila dilihat dari kondisi geografis, UNAIR memiliki lahan seluas 87.34 hektare. Jumlah mahasiswa aktif UNAIR per 31 Desember 2019 adalah sebanyak 37.017 orang. Hal tersebut menuntut UNAIR memiliki suatu manajemen fasilitas yang terintegrasi, efektif, dan efisien. Kuantitas dan kualitas sumber daya ditekankan pada penyediaan, pengaturan, dan pemeliharaan infrastruktur institusi.

8.1.1. Lahan dan Bangunan

Fasilitas berupa daya dukung lahan Universitas Airlangga seluas 87.34 hektare (ha) yang terletak di lima wilayah yang terpisah merupakan daya dukung yang penting terkait dengan pengembangan universitas sebagaimana Tabel 3.9 di bawah ini.

1133 7 717 733 1062 0 705 801 1026 471 0 659 987 456 6 664

PNS Tetap Non PNS Honorer Kontrak/Tidak Tetap 2016 2017 2018 2019

25 Tabel 3.9. Profil Daya Dukung Lahan Universitas Airlangga

No Lokasi Lahan Status kepemilikan

Lahan Penggunaan Lahan Luas (m2) 1 Kampus A

Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No. 47, Surabaya

Milik Universitas Airlangga

Akademik 69.254

2 Kampus B

Jl. Airlangga No. 4-6 Surabaya

Milik Universitas Airlangga Akademik 159.600 3 Kampus C Jl. Mulyorejo Surabaya Milik Universitas Airlangga Akademik 423.469 4 Kampus D

Desa Wonosunyo, Gempol – Pasuruan dan Desa Kunjorowesi, Ngoro - Mojokerto Milik Universitas Airlangga Kebun Percobaan 32.813

5 Desa Tanjung, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik

Milik Universitas Airlangga Taman Ternak FKH 11.580 6 Kampus E

Jl. Kyai Tapa No. 11 Jakarta Barat

Milik Universitas Airlangga

Akademik 4.040

7 Kampus Universitas Airlangga Program di luar Domisili Banyuwangi

Jl. Wijaya Kusuma No. 133, Kec. Giri, Kab. Banyuwangi

Jl. Ikan Wijinongko No. 18A Sobo, Kec. Banyuwangi, Kab.

Banyuwangi

Hibah Akademik 159.430

8 Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo 239 Gresik

Sertifikat Hak Pakai Akademik 7.050 9 Jl. Kusuma Bangsa No. 7A

Lamongan

Sertifikat Hak Pakai Akademik 6.204

TOTAL 873.440

Sumber: Direktorat Sarana Prasarana dan Lingkungan, 2019.

Lahan UNAIR saat ini adalah sebesar 87,34 hektare. Jika dibandingkan dengan perguuan tinggi lain (ITS: 120 ha; UGM: 300 ha; UI: 320 ha) sebenarnya lahan UNAIR tidak terlalu luas. Meskipun demikian karena lokasinya terpisah-pisah, maka diperlukan sistem manajemen yang baik sehingga ketiga kampus yang berada di Surabaya (kampus A, B, dan C) tersebut dapat dikembangkan secara optimal. Pengembangan fasilitas infrastruktur yang baik dan optimal akan menjamin pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat dioptimalkan dan ke depan mampu meningkatkan performa UNAIR dalam menjadi kampus unggulan dunia.

Fasilitas bangunan di UNAIR juga terus dilakukan penambahan dari sisi jumlah. Rumah Sakit Universitas Airlangga, pembangunan Gedung C Fakultas Perikanan dan Kelautan, serta gedung Farmasi telah terealisasi dan telah difungsikan. Adapun tahapan pembangunan yang masih terus berjalan adalah gedung Syariah Tower, Gedung Parkir di Kampus B, dan Rumah Sakit Hewan di Kampus C. Pengembangan fasilitas infrastruktur yang baik dan optimal akan menjamin pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat dioptimalkan dan ke depan mampu meningkatkan kinerja UNAIR dalam menjadi kampus unggulan di dunia.

26 8.1.2. Ruang Administrasi

Ketersediaan ruang perkantoran/administrasi telah cukup memadai, baik di ruang administrasi di kantor manajemen UNAIR maupun di setiap fakultas. Ruang pimpinan dan ruang administrasi UNAIR terletak pada satu gedung di Kampus C yang dikenal dengan nama Kantor Manajemen Universitas Airlangga. Gedung berlantai 5 ini memiliki luas bangunan total sebesar 7.492,79 m2, dengan rincian lantai 1 seluas 1.986,47,78 m2; lantai 2 seluas 1.924,82 m2; lantai 3 seluas 1.344,82 m2, lantai 4 seluas 1.344,82 m2; dan lantai 5 seluas 891,86 m2. Ruang administrasi tersebar dari lantai 1 hingga lantai 5 dan menempati total ruangan seluas 1.659 m2. Rasio ketersediaan ruang administrasi dan ruang akademik di seluruh fakultas menunjukkan rata-rata 1:5,87 dengan rentang rasio perbandingan antar fakultas dari 0,06 hingga 0,32. Walaupun rentang ini cukup besar, namun ketercukupan ruang untuk jumlah pegawai administrasi dalam melayani proses administrasi pendidikan masih memadai.

Di samping ruang administrasi, ketersediaan ruang kerja dosen merupakan sarana pendidikan yang dibutuhkan dosen dalam menjalankan fungsi akademik sebagai pembimbing atau tempat konsultasi mahasiswa maupun kegiatan dalam rangka menunjang kompetensi akademik. Rasio luas ruang dosen berkisar antara 0,86 – 17,43 m2/dosen, dengan rerata 6,96 m2/dosen. Standar rerata rasio luas ruang dosen berdasarkan ketentuan Kemenristekdikti adalah 4 m2/dosen, maka keadaan ini menunjukkan adanya ketersediaan ruang yang cukup bagi dosen.

8.1.3. Ruang Kuliah

Total luas ruang kuliah di lingkungan Universitas Airlangga pada tahun 2019 sebesar 31.263,61 m2 yang tersebar di 14 fakultas dan 1 Sekolah Pascasarjana dan mengalami peningkatan pada tahun 2017. Peningkatan tersebut disebabkan mulai berfungsinya Gedung C Fakultas Perikanan dan Kelautan yang terdiri atas 8 lantai, 2 ruang kuliah umum, dan 5 ruang sidang. Total luas ruang kuliah sangat bervariasi antar satu dan lain fakultas, yaitu berkisar antara 476 m2 sampai 5.058,00 m2. Daya tampung masing-masing ruang kuliah pada ketiga kampus A, B, dan C berkisar antara 10–500 orang. Seluruh ruang kuliah telah dilengkapi dengan sistem pencahayaan, ventilasi, dan pendingin ruangan (AC atau kipas angin), serta kelengkapan fasilitas pengajaran (seperti LCD, Audio Visual, SCR, komputer, dll) yang memberi kenyamanan bagi mahasiswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Rasio luas ruang kuliah terhadap mahasiswa menurut persyaratan Peadcock, yaitu 1 m2/mahasiswa, sedangkan rasio menurut UNESCO 0,75 m2/mahasiswa. Rerata ruang gerak mahasiswa di dalam ruang kuliah telah memenuhi standar UNESCO, karena saat ini telah mencapai rerata 1,08 m2/mahasiswa, sedangkan rasio ruang gerak berkisar antara 0,30–2,78 m2. Rasio ruang gerak menurut standar Kemenristekdikti adalah 2 m2/mahasiswa berdasarkan Surat Dikti No. 2920/D/T/2007. Ketersediaan ruang gerak mahasiswa berpengaruh pada kenyamanan belajar yang berdampak pada daya serap mahasiswa terhadap materi kuliah.

Manajemen penggunaan ruang telah dilakukan dengan baik. Beberapa fakultas telah mengembangkan sistem untuk pengaturan penggunaan ruang kelas. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penggunaan sarana dan prasarana serta memberikan

27 kenyamanan akses bagi mahasiswa dan dosen, dan menunjukkan bahwa UNAIR telah siap untuk program internasionalisasi menuju 500 WUR pada tahun 2020.

8.1.4. Manajemen Laboratorium

Berdasarkan data yang dihimpun tahun 2019, ketersediaan jumlah dan luas laboratorium di masing-masing fakultas bervariasi sesuai dengan kebutuhan program studi yang bersangkutan. Total luas ruang laboratorium di UNAIR mencapai 24.013,12 m2. Frekuensi penggunaan laboratorium cukup tinggi antara 1-6 shif per hari selama 4-5 hari/minggu. Di sisi lain, terdapat hal yang perlu dicermati dari tingginya pemanfaatan fasilitas laboratorium, yaitu dampak pada beban kerja dosen dan pemeliharaan alat (kalibrasi, sistem keamanan, dan life time) peralatan laboratorium yang digunakan. Jumlah mahasiswa aktif yang cukup besardibandingkan dengan fasilitas laboratorium yang masih terbatas menimbulkan risiko terkait optimalisasi pelaksanaan praktikum dan penelitian, sehingga perlu dilakukan analisis terkait ketersediaan ruang laboratorium untuk pelaksanaan penelitian atau penyediaan laboratorium khusus untuk penelitian mahasiswa semester akhir dan dosen. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam hal teknis lapang.

Keberadaan sub-direktorat Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sejak tahun 2012 juga sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang aman bagi tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, dan peneliti di laboratorium dengan kelengkapan sarana K3 seperti: penataan layout laboratorium, penempatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pemasangan safety shower dan eye-wash pada setiap laboratorium kimia yang ada di seluruh fakultas di lingkungan UNAIR. Sejak tahun 2016 seluruh laboratorium kimia di UNAIR telah dilengkapi dengan fasilitas K3. Meskipun demikian perlu dianalisis maintenance dan pelatihan bagi laboran guna mendukung keamanan dan keselamatan kerja mahasiswa, dosen, dan peneliti di lingkungan UNAIR.

Keberadaan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Rumah Sakit Penyakit Tropik (RSPT), Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga (RSHPUA) juga menunjang proses pembelajaran, penelitian, dan pelayanan yang terintegrasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kompetensi lulusan disamping peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Keberadaan ketiga rumah sakit tersebut yang didukung oleh Lembaga Penyakit Tropik dan BSL-3 secara bersinergi, merupakan aset UNAIR dalam mewujudkan National

Health Science Center melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pelayanan, sehingga

diharapkan mampu menghasilkan kebijakan dan bioproduk yang berguna bagi peningkatan kesehatan masyarakat. Prinsip resource sharing juga telah diterapkan dalam kegiatan perkuliahan dalam hal penggunaan kedua gedung tersebut. Walaupun demikian, masih dirasakan perlunya peningkatan persiapan ruangan yang akan dijadikan sebagai ruang kuliah.

Selain pengembangan rumah sakit, prioritas pengembangan sarana prasarana juga difokuskan untuk fasilitas penunjang proses pembelajaran. Sejak tiga tahun terakhir telah dibangun gedung Fakultas Farmasi di Kampus C serta penataan dan peralihan fungsi beberapa gedung di Kampus B, gedung Pasca Sarjana, gedung Fakultas Psikologi, Gedung Syariah Tower, Pusat Laboratorium Bahasa, serta gedung Mata Kuliah Wajib Univesitas

28 (MKWU) untuk lebih mengoptimalkan utilisasi sarana perkuliahan selaras dengan pertumbuhan jumlah mahasiswa.

8.2. Manajemen Perpustakaan

Perpustakaan UNAIR adalah satuan kerja universitas sebagai unsur penunjang akademik yang mempunyai tugas pokok menghimpun, menyimpan, melestarikan, dan memanfaatkan bahan perpustakaan di lingkungan UNAIR. Selain perpustakaan pusat, di masing-masing fakultas juga menyediakan ruang baca. Perpustakaan dan Ruang Baca Fakultas berperan sebagai penunjang utama referensi dan sumber informasi bagi sivitas akademika dalam proses pembelajaran. Kemutakhiran dan relevansi bahan pustaka sangat diperlukan, oleh karena itu diharapkan selalu ada pemutakhiran bahan pustaka secara rutin, baik oleh perpustakaan pusat maupun ruang baca.

Pada tahun 2017, perpustakaan telah melakukan pengembangan sistem pengolahan

institutional repository dari aplikasi Ganesha Digital Library (GDL) ke aplikasi ePrint. Institutional repository yang dikembangkan oleh perpustakaan terdiri dari tugas akhir,

skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, laporan pengabdian kepada masyarakat, pidato pengukuhan Guru Besar, dan karya ilmiah sivitas akademika Universitas Airlangga.

Institutional repository dapat diakses melalui http://repository.unair.ac.id, sedangkan untuk pengelolaan buku, perpustakaan mulai menerapkan sistem yang berbasis teknologi

Radio-Frequency Identification (RFID). Pada tahun 2018 perpustakaan UNAIR menerapkan

integrasi sistem, dimana koleksi yang berada di perpustakaan dengan ruang baca fakultas dikelola dalam satu sistem yaitu menerapkan program Inlis-Lite. Untuk penelusuran koleksi baik yang berada di perpustakaan maupun di ruang baca fakultas dapat diakses melalui alamat ailis.lib.unair.ac.id.

8.3. Sarana Penunjang

Kondisi geografis lahan kampus UNAIR relatif kecil dan terpisah dalam tiga lokasi yang cukup jauh yaitu kampus A, kampus B, dan kampus C. Terpisah-pisahnya lokasi kampus yang cukup jauh ini mempunyai pengaruh terhadap mobilitas mahasiswa dari masing-masing kampus tersebut serta memungkinkan terjadinya perbedaan standar dalam manajemen fasilitas, baik dalam segi jumlah maupun akses. Hal tersebut berimbas pada interaksi antar mahasiswa dan dosen dan menurunkan rasa kebersamaan dan engagement mahasiswa dengan kampus. Telah dilakukan antisipasi kondisi kampus yang terpisah tersebut melalui kebijakan, antara lain bus Flash, Resource Sharing, Student Centre, dan asrama mahasiswa. Meskipun demikian, perlu dikaji lebih lanjut optimalisasi pemanfaatan dan aksesnya bagi sivitas akademika UNAIR sehingga mampu menjamin kenyamanan dan keamanan (secure) dalam menggunakan fasilitas yang ada tersebut.

Kebijakan resource sharing atas berbagai fasilitas dan alat fisik juga telah dan akan dilakukan. Hal tersebut diwujudkan dalam penggunaan kelas bersama untuk beberapa Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU) sejak tahun 2016. Pada tahun 2019 direncanakan untuk penggunaan alat dan laboratorium bersama sebagai solusi yang dinilai tepat untuk optimalisasi fasilitas dan keterbatasan lahan. Melalui resource sharing, maka penggunaan fasilitas dapat dioptimalkan sekaligus mengakrabkan mahasiswa. Kelas bersama juga

29 mempunyai tujuan ganda yaitu optimalisasi fasilitas dan mengakrabkan mahasiswa antar fakultas.

Universitas Airlangga juga memfasilitasi sarana peribadatan dengan memiliki satu masjid di kampus B seluas 1.443,41 m2 dan satu masjid di kampus C seluas 2.400 m2, serta mushola di setiap fakultas. Ketersediaan sarana peribadatan ini menunjang pembentukan karakter yang excellence dalam bidang spiritual dan moral. Selain itu, sarana peribadatan bagi agama lain (Hindu, Budha, Kristen Protestan, dan Katolik) difasilitasi di gedung student

center dan Unit Kegiatan Kerohanian Mahasiswa yang ada. Mahasiswa tidak hanya

mengembangkan aspek kognitif tetapi juga psikomotorik melalui sarana olah raga di setiap kampus. UNAIR menyediakan fasilitas gedung dan sarana olah raga bagi sivitas akademika. Terdapat 34 fasilitas olah raga yang tersebar di seluruh lokasi kampus, baik Kampus A, B, maupun C. Fasilitas tersebut terdiri atas lapangan basket, lapangan tenis, lapangan tenis meja, lapangan bola, lapangan voli, sport center, dan lapangan futsal.

Permasalahan utama terkait fasilitas adalah ketersediaan lahan parkir yang mulai dirasa mendesak. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor (sepeda motor dan mobil) mengakibatkan ketersediaan lahan parkir menjadi terbatas. Kondisi ini memerlukan kebijakan pembatasan mahasiswa membawa kendaraan ke kampus khususnya mobil. Kebijakan pembatasan ini perlu diimbangi dengan peningkatan mobilitas bus flash yang dapat memfasilitasi transportasi mahasiswa dari dan ke ketiga kampus yang berbeda. Kebijakan jangka panjang adalah pembangunan gedung parkir di kampus A dan B untuk dapat menata lahan dan dapat dimanfaatkan sebagai area hijau.

Pada tahun 2019, UNAIR menempati peringkat 255 dari 780 universitas di dunia dan peringkat 15 dari 74 universitas di Indonesia yang turut serta dalam pemeringkatan UI Green

Metrics World University Ranking. Hal tersebut perlu menjadi prioritas dalam

pengembangan fasilitas dan situasi kampus yang lebih hemat energi dan berkelanjutan. Aspek yang perlu dipertimbangkan terkait fasilitas dan lingkungan adalah persentase area hijau, penggunaan listrik, sarana transportasi, penggunaan air, manajemen limbah, setting dan infrastuktur, energi dan perubahan iklim, serta pendidikan.

Dalam dokumen IKHTISAR EKSEKUTIF. iii (Halaman 31-36)

Dokumen terkait