-2 Terwujudnya tata kelola serta
kualitas layanan yang baik 182.329.369.000 180.625.824.274 95.768.322.369 95.768.322.369 384.218.088.351 384.218.088.351 662.315.779.720 660.612.234.994 3 Meningkatnya kualitas
pembelajaran dan kemahasiswaan 1.654.791.731 1.654.791.731 209.066.863.081 209.066.863.081 210.721.654.812 210.721.654.812 4 Meningkatnya relevansi
kualitasdan kuantitas sumber daya 74.769.600.000 73.594.999.700 9.853.000 1.654.791.731 6.249.802.089 6.249.802.089 81.029.255.089 81.499.593.520 5
Meningkatnya relevansi dan produktivitas riset dan
pengembangan 17.472.738.743 1.654.791.731 34.986.719.000 34.986.719.000 104.681.692.335 104.681.692.335 157.141.150.078 141.323.203.066 6 Meningkatnya kualitas kelembagaan
11.090.554.157
1.654.791.731 82.986.919.885 82.986.919.885 94.077.474.042 84.641.711.616 7 Menguatnya kapasitas inovasi - 1.654.791.731 18.475.413.423 18.475.413.423 1.796.634.259 1.796.634.259 20.272.047.682 21.926.839.413 JUMLAH 257.098.969.000 254.220.823.974 125.996.260.000 104.042.281.024 53.462.132.423 53.462.132.423 789.000.000.000 789.000.000.000 1.225.557.361.423 1.200.725.237.421
JUMLAH Sasaran Program
No Gaji & Tunj PNS BPPTNBH Setjen BPPTNBH Non Setjen Non APBN
B. Realisasi Anggaran
38 Realisasi anggaran pada tahun 2019 menggunakan format pengelompokan anggaran yang sama dengan pada tahun 2018 dimana terdapat tujuh tema strategis yaitu meningkatnya kinerja dan akuntabilitas keuangan negara; terwujudnya tata kelola serta kualitas layanan yang baik; meningkatnya kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan; meningkatnya relevansi serta kualitas dan kuantitas sumber daya; meningkatnya relevansi dan produktivitas riset dan pengembangan; meningkatnya kualitas kelembagaan, serta menguatkan kapasitas inovasi.
Total penganggaran tahun 2019 naik 1,67% dari tahun 2018 menjadi sebesar Rp1,22 Triliun, dimana anggaran terbesar digunakan untuk program tata kelola serta kualitas layanan (55,16% dari total anggaran) serta program peningkatan kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan (17,5% dari total anggaran). Terkait dengan realisasi anggaran, pada tahun 2019 total realiasasi anggaran yang sesuai dengan total penganggarannya adalah program Peningkatan kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan yaitu sebesar 100%. Total realisasi anggaran terbesar kedua yang sesuai dengan pengannggarannya adalah program mewujudkan tata kelola serta kualitas layanan yang baik yaitu sebesar 99,69%. Pada program penguatan kapasitas inovasi, realisasi telah melebihi dana yang dianggarkan dengan persentase kelebihan sebesar 0,5%.
39 BAB IV
PENUTUP
Visi Universitas Airlangga adalah menjadi universitas yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora berdasarkan moral agama. Visi tersebut akan tercapai melalui 4 misi yang dimiliki oleh UNAIR, yakni pelaksanaan tri dharma yang berkelas dunia serta pengelolaan perguruan tinggi dengan tata kelola yang baik (good university governance).
Pencapaian visi dan pelaksanaan misi tersebut berlandaskan nilai moral dan keagamaan, yang termuat dalam motto Excellence with Morality. Slogan ini dioperasionalkan menjadi 4 nilai dengan akronim BEST: based on morality; excellence in
academic, research, community services, and holding university; strong academic culture;
dan target-oriented. Based on morality menegaskan bahwa segala aktivitas yang dilakukan oleh sivitas akademika UNAIR harus berlandaskan moral agama. Excellence in academic,
research, community services, and holding university menunjukkan bahwa aktivitas tri
dharma perguruan tinggi beserta unit-unit usaha yang dimiliki oleh UNAIR harus memiliki keunggulan. Strong academic culture merupakan budaya organisasi yang mencerminkan sikap dan tindakan sivitas akademika UNAIR sebagai lembaga akademik. Target-oriented adalah nilai yang mendasari segala aktivitas sivitas akademika yang terukur dan nantinya menjadi dasar pelaksanaan performance-based management.
Saat ini, UNAIR telah memiliki Rencana Strategis 2016-2020 yang telah disahkan oleh Majelis Wali Amanat pada tanggal 16 Januari 2016. Renstra 2016-2020 kemudian dijabarkan dalam Strategy Maps yang meliputi 4 perspektif. Pada perspektif keuangan, diharapkan terjadi perbaikan proporsi pendapatan dengan tujuan tercapainya peningkatan kecukupan dan kemandirian keuangan. Pada perspektif pemangku kepentingan, reputasi alumni dan reputasi pengguna merupakan hasil dari academic excellence, adapun reputasi riset merupakan hasil dari reesarch excellence. Reputasi pengabdian kepada masyarakat adalah hasil dari community services excellence, dan reputasi bisnis yang dikelola oleh UNAIR merupakan hasil dari university holding excellence.
Sesuai dengan Strategy Maps yang telah disusun, UNAIR diharapkan mendapatkan rekognisi, kepercayaan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Pada tahun 2020, UNAIR ditarget mencapai peringkat < 500 dunia oleh Kemenristekdikti, dan posisi saat ini (tahun 2019) adalah peringkat 651-700 pada lembaga pemeringkatan QS World University Ranking (WUR). Peringkat merupakan salah satu indikator kinerja yang menunjukkan rekognisi dari masyarakat, baik nasional maupun internasional. Kepercayaan menjadi tolok ukur kedua, yang mana sivitas akademika maupun alumni UNAIR akan mendapatkan tempat di masyarakat dan dapat mengabdikan dirinya (bermanfaat).
Pengakuan atas capaian UNAIR di level internasional akan tercapai melalui 4 keunggulan, yakni academic excellence, research excellence, community service excellence, dan university holding excellence. Sebagai target utama Rektor UNAIR, tentunya indikator kinerja utama juga mengacu pada indikator yang digunakan oleh QS WUR, yakni academic
reputation (40%), employer reputation (10%), faculty-student ratio (20%), citations per faculty (20%), international faculty ratio (5%), dan international student ratio (5%).
40 Terkait academic excellence, critical success factors untuk mencapainya adalah: a. Input mahasiswa yang berkualitas.
Calon mahasiswa yang berkualitas, baik pada jenjang S1, S2, maupun S3 merupakan syarat mutlak untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Selain itu, diversitas calon mahasiswa (baik dari luar negeri atau dalam negeri) menentukan tingkat inovasi proses belajar mengajar maupun penelitian yang dilakukan.
b. Kurikulum yang unik dengan mengedepankan core competence yang dimiliki UNAIR. Ditunjuknya UNAIR sebagai National Health Science Center tentunya perlu didukung oleh kurikulum yang merepresentasikan core competence tersebut, sehingga lulusan nantinya memiliki keunggulan dan kekhasan dibandingkan lulusan perguruan tinggi lain. c. Proses akademik yang bagus.
Hal ini tercermin dari tercapainya akreditasi A, baik di tingkat institusi maupun program studi dari lembaga akreditasi nasional (BAN-PT maupun LAM-PTKes). Bagi program studi yang telah terakreditasi A, memiliki akreditasi internasional merupakan sebuah keharusan untuk attract international faculty maupun students.
d. Staf pengajar yang berkualitas.
Memiliki staf pengajar yang berkualifikasi S3 sebanyak 50% dan guru besar > 20% pada tahun 2020 merupakan target yang harus dicapai. Tentunya hal tersebut juga mempertimbangkan faculty student ratio.
e. Fasilitas proses belajar-mengajar yang memadai dan up to date merupakan sebuah dasar pencapaian academic excellence.
Terkait research excellence, critical success factors untuk mencapainya adalah: a. Agenda strategis penelitian.
Guna memperkuat branding UNAIR, agenda penelitian yang menjadi tema unggulan merupakan suatu keharusan untuk menunjukkan competitive advantage relatif terhadap perguruan tinggi lain.
b. Keberadaan key scientists yang menjadi driver bagi kinerja penelitian UNAIR. Hingga tahun 2018, terdapat 2326 artikel yang dipublikasikan oleh dosen UNAIR pada jurnal internasional terindek Scopus.
c. Jumlah publikasi karya ilmiah pada jurnal ilmiah yang bereputasi (Scopus dan/atau ISI Thomson).
d. Fasilitas penelitian yang memadai, terutama laboratorium beserta peralatan penelitian yang up to date dengan utilitas yang efektif merupakan hal yang mutlak untuk disediakan. Demikian juga ketersediaan e-journal serta database yang menunjang penelitian para dosen perlu disediakan.
e. Budaya meneliti yang berkembang dan menjadi kegiatan yang utama bagi dosen UNAIR, selain aktivitas mengajar.
Terkait community services excellence, critical success factors untuk mencapainya adalah:
a. Isu-isu strategis yang akan menjadi ciri bagi pengabdian masyarakat yang akan dilakukan UNAIR. Hal tersebut selain memperkuat core competence yang dimiliki juga menunjang university branding.
41 b. Fasilitator-fasilitator kunci, minimal tiap departemen memiliki 1 pakar yang akan
menjadi rujukan pada tingkat provinsi maupun nasional.
c. Pusat studi yang dikembangkan sesuai kebutuhan external stakeholders, baik dari kalangan pemerintah, masyarakat umum, maupun bisnis.
Terkait university holding excellence, critical success factors untuk mencapainya adalah:
a. Keberadaan strategic business units (SBUs) yang memperkuat core competence UNAIR sekaligus memberikan kontribusi pendapatan yang nyata dalam mencapai target universitas 5 tahun ke depan.
b. Manajemen profesional merupakan sebuah keharusan dalam mengelola SBUs. Hal ini mutlak dilakukan untuk membangun reputasi bagi masing-masing SBUs yang dimiliki UNAIR agar menjadi pilihan utama bagi masyarakat atau pelanggan.
Terkait human capital, UNAIR mentargetkan pada tahun 2020 akan memiliki 50% dosen yang berkualifikasi Doktor. Selain hal tersebut, diharapkan rasio dosen/mahasiswa juga mencapai titik ideal pada tahun 2020, dimana pada bidang life dan health science mencapai rasio 1:10 dan social science mencapai 1:30. Information capital memiliki target akan terdapatnya integrasi sistem informasi yang terkait dengan akademik, sumber daya manusia, keuangan, dan manajemen kinerja mulai level staf, program studi, departemen, fakultas, direktorat/badan/lembaga/pusat/satuan di lingkungan Universitas Airlangga.
Pada organization capital, target tahun 2020 adalah membangun budaya organisasi Universitas Airlangga yang menitikberatkan pada budaya akademik yang bertumpu pada tiga hal: the life of the mind, participatory learning, dan interdiscipplinary inquiry. The life
of the mind menunjukkan bahwa ide sangat berarti, bernilai untuk didiskusikan, dan fokus
pada pembelajaran (learning), bukan pada mendapatkan nilai (earning). Participatory
learning menunjukkan bahwa dalam proses belajar mengajar, kolaborasi antara dosen dan
mahasiswa dimulai di kelas dan dapat diperluas pada media lainnya. Interdiscipplinary
inquiry didasarkan pada keyakinan bahwa semua problem riil di masyarakat maupun
permasalahan akademik tidaklah stand alone, namun saling berkaitan dan tentu pemecahannya membutuhkan integrasi antar bidang ilmu.
Secara global, dari 13 indikator di Renstra 2016-2020, terdapat 8 indikator yang telah melampaui target. Persentase ketercapaian tahun 2019 terhadap target Renstra 2016-2020 sebesar 108,2%. Persentase ketercapaian setiap indikator dihitung dari persentase capaian setiap indikator terhadap target. Sebagai contoh pada indikator prodi D3 terakreditasi A, capaian 52,63% dari target 46%; jadi persentase ketercapaian adalah (52,63:46) x 100% = 114,42%. Cara seperti di atas digunakan untuk menghitung persentase ketercapaian seluruh indikator, kemudian dihitung reratanya sehingga diperoleh angka persentase ketercapaian target Renstra 2016-2020 sebesar 180,2%.
Beberapa indikator yang mencapai target adalah 1) Kemandirian keuangan (terdapat 3 indikator, semua mencapai/melampaui target); 2) Perolehan prodi terakreditasi A (terdapat 4 indikator, 3 indikator telah melampaui target kecuali pada prodi jenjang S1/sarjana; 3) Prodi terakreditasi internasional; serta 4) Publikasi internasional terindeks Scopus. Adapun capaian yang belum memenuhi target adalah 1) Persentase prodi jenjang S1 yang terakreditasi A (tercapai 84,62% dari target 94%); 2) peringkat UNAIR pada pemeringkatan
42 QS WUR; 3) persentase guru besar, 4) persentase dosen bergelar doktor, dan 5) pendapatan UNAIR dari SBU.
Pada aspek kemandirian keuangan telah terjadi perubahan proporsi pendapatan: proporsi dana dari pemerintah menurun, persentase dana dari masyarakat meningkat, sedangkan persentase dana dari layanan UNAIR sebesar 20% dan telah mencapai target (20%). Meskipun demikian, perolehan dana dari Strategic Bussiness Unit (SBU) belum memenuhi target (capaian 249,866M dari target 299,482M). Untuk persentase dosen bergelar doktor dan persentase guru besar, keduanya belum memenuhi target Renstra 2016-2020 (capaian doktor = 39%, target = 47%; persentase guru besar = 12%, target = 18%). Kinerja terbaik Universitas Airlangga sepanjang 2017-2019 adalah aspek penelitian/ publikasi. Publikasi di jurnal internasional terindeks Scopus tahun 2019 sebanyak 1924 artikel, telah melampaui target (1000 artikel). Sementara itu, dari target 500 WCU versi QS WUR di tahun 2020, pada tahun 2019 UNAIR berhasil menempati peringkat 651-700 setelah sebelumnya menempati peringkat 751-800 pada tahun 2018.
38 LAMPIRAN I