• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. lagi pendekatan yang mencoba berebut nafas yaitu pendekatan Post

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN. lagi pendekatan yang mencoba berebut nafas yaitu pendekatan Post"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

3.1. Paradigma

Sebagai salah satu pendekatan yang baru, maka pendekatan konstruktivis (intepretatif) ini sebenarnya masih kurang besar gaungnya di bandingkan dengan pendekatan yang telah ada sebelumnya. Bahkan di Indonesia pendekatan konstruktivis ini masuk pada tahun 1990-an. Dan menjadi populer pada tahun 2000-an. Walaupun sebenarnya, setelah pendekatan konstruktivis ini masih ada lagi pendekatan yang mencoba “berebut nafas” yaitu pendekatan Post modernisme yang banyak dikembangkan oleh Jean Baudrilliard. Pendekatan konstruktivis banyak disemai oleh akademisi yang justru bukanlah akademisi ilmu komunikasi tulen. Adalah Peter Berger seseorang sosiolog , bersama Thomas Luckman mereka mengembangkan pendekatan ini secara konsisten. Asumsi dasar dalam pendekatan konstruktivis ini adalah realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, namun tidak juga, turun karena campur tangan Tuhan. Tapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan demikian, realitas yang sama bisa ditanggapi, dimaknai dan dikonstruksi secara berbeda-beda oleh semua orang. Karena, setiap orang mempunyai pengalaman, prefrensi, pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu, dimana kesemua itu suatu saat akan digunakan untuk menafsirkan realitas sosial yang ada disekelilingnya dengan konstruksinya masing-masing.

(2)

Selain itu, mereka melihat bahwa realitas merupakan suatu bentukan secara simbolik melalui interaksi sosial. Keberadaan simbol atau bahasa menjadi penting dalam membentuk realitas. Berbagai kelompok dengan identitas, pemaknaan, pengalamaan, kepentingan, dan sebagainya mencoba mengungkapkan diri dan selanjutnya akan memberi sumbangan dalam membentuk realitas secara simbolik. Interaksi sosial menjadi penting dalam proses ini. Realitas secara simbolik merupakan hasil bersama secara sosial.

Pendekatan ini secara tidak langsung lebih terfokus pada sebuah scope khusus. Dalam artian hanya melihat bagaimana bahasa dan simbol diproduksi dan direproduksi dihasilkan lewat berbagai hubungan yang terbatas antara sumber dan narasumber yang menyertai proses hubungan tersebut. Dalam bahasa sederhananya hanya menyetuh level mikro (konsepsi diri sumber) dan level meso (lingkungan dimana sumber itu berada) dan tidak menyetuh hingga level makro ( sistem politik, budaya, ekonomi, dan lain - lain).

Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban. Hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi

(3)

masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.

3.2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan oleh Penulis adalah penelitian deskriptif kualitatif bersifat subjektif. Dalam penelitian kualitatif ini, penelitian dilakukan oleh peneliti sendiri. Dalam arti lain, peneliti sendiri secara langsung mengumpulkan informasi yang didapat dari objek penelitian. Penelitian kualitatif tidak menggunakan angka-angka sebagai ukuran. Penelitian kualitatif bersifat subyektif, yaitu peneliti terlibat dan menjalin interaksi dengan subyek penelitian, melalui interaksi peneliti mencoba memahami subyek-subyek penelitian dari sisi pandang subyek penelitian sendiri.

Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data. Pada penelitian ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling, bahkan populasi atau sampling nya sangat terbatas. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang

(4)

diteliti, maka tidak perlu mencari sampling lainnya. Disini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data.

3.3. Metode Penelitian

Metode penelitian yang di gunakan dalam metode penelitian ini adalah semiotika menurut Roland Barthes. Roland Barthes pun merupakan pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktivan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama.

1. signifier (penanda) 2. signified (petanda)

(5)

3. denotative sign (tanda denotatif)

4. connotative Signifier (Penanda Konotatif) 5. Connotative Signified (Petanda Konotatif) 6. Connotative Sign (Tanda Konotatif)

Dari uraian Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes. Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999:22). Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai „mitos‟ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah

(6)

juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda.35

3.4. Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini, subyek penelitian adalah pergerakan persamaan hak sipil dalam film “TED 2”

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan, dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui data primer dan data sekunder :

3.5.1. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti atau data yang berasal dari sumber aslinya dan terkait secara langsung dengan topik penelitian. Data yang didapat adalah melalui observasi tayangan atau video film “TED 2”. Observasi , merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif.

3.5.2. Data Sekunder

Data pendukung (data sekunder) dalam penelitian ini diperoleh melalui media studi pustaka untuk mendapat teori-teori yang relevan dan data-data yang dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah.Peneliti juga menggunakan paradigma semiotik yang disebut “pembaca” (the reader).Pembaca disini

35

(7)

dimaksudkan sebagai seorang receiver yang dapat memaknai pesan yang disampaikan dalam film tersebut. Data-data pendukung juga diperoleh melalui buku, media massa dan internet.

3.6. Definisi Konsep

Menurut Roland Barthes semiotik tidak hanya meneliti mengenai penanda dan petanda, tetapi juga hubungan yang mengikat mereka secara keseluruhan (Sobur, 2004: 123). Barthes mengaplikasikan semiologinya ini hampir dalam setiap bidang kehidupan, seperti mode busana, iklan, film, sastra dan fotografi. Semiologi Barthes mengacu pada Saussure dengan menyelidiki hubungan antara penanda dan petanda, tidak hanya sampai disitu Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu mitos. Mitos menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem tanda-penanda-petanda maka tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi setelah terbentuk sistem tanda-penanda-petanda, tanda tersebut akan menjadi petanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Semiotik merupakan varian dari teori strukturalisme, yang berasumsi bahwa teks adalah fungsi dari isi dan kode, sedangkan makna adalah produk dari sistem hubungan. Semiotik berusaha menggali hakikat sistem tanda yang beranjak keluar kaidah tata bahasa dan sintaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi, dan bergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna 47 tambahan (connotative) dan arti penunjukan (denotative) kaitan dan kesan yang ditimbulkan dan diungkapkan melalui penggunaan dan kombinasi tanda. Setiap esai dalam bukunya, Barthes

(8)

membahas fenomena keseharian yang luput dari perhatian. Dia menghabiskan waktu untuk menguraikan dan menunjukkan bahwa konotasi yang terkandung dalam mitologi-mitologi tersebut biasanya merupakan hasil kontruksi yang cermat (Cobley & Jansz dalam Sobur, 2006: 68). Dalam memahami makna, Barthes membuat sebuah model sistematis dimana fokus perhatian Barthes lebih tertuju kepada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two order of signification) Menurut Barthes, tatanan (signifikasi) tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembicara serta nilai-nilai dari kebudayaan. Konotasi mempunyai makna yang subyektif atau paling tidak inter-subyektif. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang telah digambarkan tanda terhadap sebuah obyek, sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya. Pada tatanan (signifakasi) tahap kedua berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos (myth). Barthes menggunakan mitos sebagai seorang yang percaya, dalam artiannya yang orisinil. Mitos adalah cerita 48 yang digunakan suatu kebudayaan untuk menjelaskan atau memahami beberapa aspek dari realitas atau alam (Fiske, 2007: 121). Mitos primitif seperti mengenai hidup dan mati, manusia dan dewa. Sedangkan mitos masa kini misalnya mengenai maskulinitas dan feminitas, ilmu pengetahuan dan kesuksesan. Perspektif Barthes tentang mitos inilah yang membuka ranah baru dunia semiologi, yaitu penggalian lebih jauh dari penanda untuk mencapai mitos

(9)

yang bekerja dalam realitas keseharian masyarakat. Setiap tuturan dalam bentuk tertulis atau sekedar representasi, verbal atau visual, secara potensial dapat menjadi mitos (Barthes dalam Budiman, 1999: 66). Artinya, tidak hanya wacana tertulis yang dapat kita baca sebagai mitos, melainkan juga fotografi, film, pertunjukkan, bahkan olahraga dan makanan.

3.7. Teknik Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik yang mengacu pada teori Roland Barthes, dimana dirasa cocok dengan penelitian sebuah film. Dimana dengan pemaknaan dua tahap denotasi konotasi yang digunakan oleh Roland Barthes dalam teori semiotiknya, Roland Barthes menelusuri makna dengan pendekatan budaya yaitu semiotik makro, dimana Barthes memberikan makna pada sebuah tanda berdasarkan kebudayaan yang melatarbelakangi munculnya makna tersebut. Dengan demikian makna dalam tataran mitos dapat diungkap sesuai dengan keunggulan semiotik Roland Barthes yang terkenal dengan elemen mitosnya.

Alasan digunakan penelitian ini, pertama bahwa obyek yang akan di kaji untuk diungkap maknanya adalah tanda, lambang, bahkan simbol yang ada di dalam Film “TED 2”. Karena itu menurut peneliti jenis penelitian kualitatif adalah jenis yang tepat untuk digunakan. Kedua, model Roland Barthes yang dipilih, karena model inilah yang memberikan kedalaman ketika memaknai sebuah film dengan mendasarkan pada beberapa hal antara lain:

(10)

2. Gambar, index, dan symbol

3. Fenomena social: tentang bagaimana cara menerapkan kebiasaan beradab dan berdoa kepada anak

4. Ingin memaknai makna adab dan doa sebagai konsep maupun implementasi dalam film “TED 2”

5. Perumusan peneliti menuntut digambarkannya model semiotika komunikasi model Roland Barthes sebab melalui rumusan masalah peneliti ingin memahami fenomena yang terkandung dalam film “TED 2”

3.8. Tenik Analisis Data

Dengan teknis analisis pertama, data visual tayangan film dipotong peradegan berupa kumpulan foto-foto. Kedua, setiap gambar atau photo diberi keterangan. Ketiga, menginterprestasikan makna yang ada dalam rangkaian photo atau gambar film untuk menjawab permasalahan penelitian ini.

A. Observasi Tayangan

Observasi yang digunakan adalah observasi partisipasi, karena metode observasi ini digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat dalam keseharian informan.

B. Analisis dengan teori semiotika Roland Barthes

Dikarenakan metode semiotika Roland Barthes ini lebih tepat untuk penelitian ini yang lebih banyak mengandung arti dari suatu tanda.

(11)

Penelitian ini mengartikan pergerakan persamaan hak sipil dalam film “TED 2”.

C. Deskripsi hasil analisis

Setelah melihat dan mendengarkan tayangan film tersebut, peneliti mendeskripsikan sebagai berikut. Tayangan film tersebut berisikan tentang makna pergerakan persamaan hak sipil yang berbeda dengan makna nyata yang ada.

3.9. Unit Analisis

Unit analisis ialah setiap unit yang analisa, digambarkan atau dijelaskan dengan pernyataan-pernyataan deskriptif. Yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah potongan gambar dari tayangan film “TED 2” tersebut. Ruang lingkup penelitian pesan nilai pendidikan yang akan diteliti memfokuskan pada setiap gambar yang mengandung pergerakan persamaan hak sipil dengan menggu nakan teori semiotika Roland Barthes.

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi inventarisasi dan Kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi inventarisasi dan evaluasi tingkat pelayanan. Maksud inventarisasi

Dari uraian kajian diatas menurut peneliti pendekatan investigasi adalah cara yang ditempuh guru dalam pembelajaran dengan memberikan kesempatan pada peserta didik

Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah obyek dari mana7. data

Mbak Mirta (Public Relations Officer Hyatt Regency Yogyakarta) dan Sekar (Public Relations Coordinator Sheraton Mustika Hotel) yang telah memberikan waktu untuk interview

 Terwujudnya inovasi teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala kecil  Terwujudnya Rintisan Technopark Baron  Terwujudnya inovasi teknologi

a) Proses Produksi, meliputi program efisiensi produksi, penggunaan material input, energi, air, teknologi proses, produk, dan sumber daya manusia. b) Pengelolaan Lingkungan

Pemberian ekstrak etanol daun lamtoro ( Leucaena leucocephala Lam. De Wit) dosis 250 mg/kg BB mampu meningkatkan kadar hormon estrogen dalam darah dan ketebalan

Tujuan dari menambahkan mikrotik pada jaringan warnet terutama warnet yang pakai telkom speedy adalah untuk mempermudah pembagian besaran bandwith tiap-tiap PC atau komputer