HERPETOFAUNA DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT
Awal Riyanto & MumpuniBidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi – LIPI
Gedung Widyasatwaloka, Jl. Raya Jakarta Bogor Km. 46. Cibinong, Jawa Barat, INDONESIA [email protected]; [email protected]
Abstrak— Pulau Bali terkenal akan objek wisatannya, dari kekayaan budaya maupun alamnya yang menawan. Taman Nasional Bali Barat (TNBB) merupakan kawasan konservasi yang di dalamnya memiliki berbagai ekosistem yaitu savana, hutan bakau, hutan muson dan hutan pegunungan. Pengetahuan mengenai keragaman herpetofauna yang terdapat dalam TNBB ini dapat digunakan sebagai modal dalam pengembangan ekowisata. Dari penelitian dan ditunjang hasil studi pustaka terungkap sebanyak 32 jenis herpetofauna tersebar di berbagai tipe ekosistem di TNBB. Dalam makalah ini disajikan pertelaan dari beberapa jenis dilengkapi infomasi biologi dan ekologi dan waktu pengamatan.
Keywords; TNBB; herpetofauna; ekowisata.
PENDAHULUAN
Taman Nasional Bali Barat (TNBB) secara administrasi pemerintahan terletak dalam 2 kabupaten yaitu Kab. Buleleng dan Jembrana, Propinsi Bali. Secara geografis terletak di sisi barat pulau Bali pada posisi koordinat antara 8o05′ 20″ s.d. 8o 15′ 25″ LS dan 114o 25′ 00″ s.d. 114o 56′ 30″ BT.
Sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan dan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan dan UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan serta SK Dirjen Perlindungan dan Konservasi Alam No.186/Kpts/Dj-V/1999 tanggal 13 Desember 1999 tentang Pembagian Zonasi Kawasan TNBB, maka zona pemanfaatan di TNBB telah dikelola diantaranya melalui kegiatan kepariwisataan khususnya ekowisata.
Berdasarkan hasil penelusuran pustaka, situs TNBB dan pengamatan langsung di TNBB terlihat bahwa kegiatan ekowisata sudah dilakukan bahkan dikelola secara profisional oleh mitra TNBB dari manca negara. Namun kegiatan ekowisata di TNBB hingga saat ini lebih menjual wisata bahari, adat/kebudayaan dan ekosistem (hutan musim, mangrove dan savanna).
Keanekaragaman jenis baik flora maupun fauna merupakan salah satu modal yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan kegiatan ekowisata terutama dari keunikan maupun eksotisitasnya. Berdasarkan penelusuran literatur dan website TNBB (http://www.tnbalibarat.com/?page_id=24), ternyata
data mengenai keragaman jenis dan potensi flora dan fauna TNBB masih sangat kurang.
Disisi lain, penduduk yang berbatasan langsung dengan hutan kawasan konservasi ini masih mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya hutan, misalnya ketergantungan terhadap sumberdaya kayu bakar untuk keperluan rumah tangga, sumberdaya pakan ternak serta sumberdaya hutan yang seringkali dijadikan komoditi dan diambil dari TNBBl oleh penduduk diantaranya beberapa jenis satwa liar (http://www.tnbalibarat.com/?page_id=20 ). Herpetofauna merupakan kelompok satwa yang terdiri atas kelas Amfibi dan Reptil. Kelompok ini mempunyai keunikan dan menimbulkan daya tarik baik dari segi morfologi, warna, suara maupun perilakunya. Disamping itu, sebagian anggota masyarakat percaya bahwa dengan mengkonsumsi jenis reptil tertentu mempunyai khasiat seperti menambah tenaga, gairah seks maupun obat. Oleh karenanya tidak mengherankan banyak jenis herpetofauna yang laris dalam perdagangan satwa baik untuk keperluan pet, konsumsi maupun laboratorium.
Dalam rangka mendukung pengelolaan TNBB khususnya dalam pengembangan kegiatan ekowisata dengan objek berupa keanekaragaman hayati dan sekaligus salah satu upaya dalam pengurangan ketergatungan langsung penduduk akan sumberdaya hutan maka informasi dan data potensi kehati yang terdapat di kawasan TNBB perlu segera diungkapkan, salah satunya adalah keanekaragaman herpetofauna. Dalam tulisan ini keanekaragaman herpetofauna yang diunkapkan tidak meliputi kelompok laut (marine).
METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian telah dilakukan dari tanggal 10 hingga 19 April 2012 di wilayah Taman Nasional Bali Barat. Peneletian ini difokuskan pada daerah zona pemanfaatan yang meliputi 6 lokasi, yaitu Cekik (CK), Tegal Bunder (TB), Teluk Terima (TT), Labuan Lalang (LL), Prapat Agung (PA), dan Grojokan (GJ). Tipe ekosistem yang terwakili dalam penelitian ini meliputi savanna, mangrove dan hutan munson.
Cara Kerja
Penelitian dilakukan secara eksploratif dengan teknik Visual Searching. Pencarian amfibi dan reptil dilakukan secara aktif pada semua lingkungan yang dianggap sesuai sebagai habitat, seperti serasah, bawah kayu lapuk, tumpukan bebatuan, lubang-lubang di tanah dan pohon, semak-semak, sumber-sumber air, genangan air dan aliran sungai (rocky stream). Pencarian dilakukan secara konsisten pada jam 08.00 hingga 14.00 WIT dan pada jam 17.00 hingga 22.00 WIT, namun jumlah ulangan baik siang maupun malam di masing-masing lokasi tidak sama. Hal ini disebabkan singkatnya durasi penelitian yang tersedia.
Setiap individu yang dijumpai diidentifikasi secara langsung di lokasi. Identifikasi dan tata nama mengacu pada de Rooij (1915, 1917), Iskandar (1998), Iskandar & Colijn (2001), Mausfeld et. al. (2002), Frost et. al. (2006), McKay (2006), dan Murphy et al. (2012). Beberapa individu ditangkap dan disimpan sementara dalam kantong plastik atau blacu untuk dilakukan pemotretan di camp. Khusus untuk individu yang tidak teridentifikasi diproses lebih lanjut sebagai specimen koleksi dan dilakukan identifikasi di laboratorium Herpetologi, Bidang Zoologi (Museum Zoologicum Bogoriense) Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan membandingkannya pada specimen koleksi yang sudah divalidasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setidaknya sebanyak 32 jenis herpetofauna berhasil tercatat selama penelitian ini yang terbagi dalam 14 suku. Ke-32 jenis tersebut terdiri atas 10 jenis katak, 2 jenis bunglon, 6 jenis cicak/tokek, 4 jenis kadal, 1 jenis biawak, 8 jenis ular dan 1 jenis kura-kura (Tabel 1).
Jumlah jenis yang terungkap ini dibandingkan dengan laporan McKay (2006) untuk kekayaan herpetofauna pulau Bali mencapai 45% (32 jenis vs. 71jenis).
Dalam publikasi McKay (2006) menyebutkan Occidozyga leavis. Menurut Iskandar (1998), populasi Occidozyga pulau Bali adalah Occidozyga sumatrana. Hal ini diperkuat dari specimen yang dikoleksi dalam penelitian ini.
Mengingat keunikan dan adanya unsur petualangan dalam usaha menjumpai jenis-jenis herpetofauna di habitatnya, maka kelompok satwa ini dapat dimanfaatkan dalam kegiatan ekowisata seperti halnya kegiatan pengamatan burung (Bird Watching). Pemanfaatan ke arah ekowisata berbasis keanekaragaman herpetofauna dalam hal ini herpeto watching memerlukan prasarana berupa buku praktis panduan pengenalan jenis atau field guide dan pemandu wisata.
Buku yang dimaksud harus mudah bagi awam, dilengkapi dengan gambar yang jelas, keterangan singkat dan jelas tentang jenis-jenis bersangkutan, misalnya lokasi, jenis habitat, waktu dan cara dapat menjumpai jenis-jenis tertentu. Pemandu wisata haruslah orang yang mengenal jenis herpetofauna dan perilakunya. Pemandu ini dapat direkrut dari masyarakat setempat yang hidupnya mempunyai ketergantungan langsung dari sumberdaya TNBB. Anggota masyarakat ini sudah tahu betuk seluk beluk medan TNBB dan tinggal diberi pelatihan mengenai pengenalan jenis dan perilaku herpetofauna.
Dengan demikian sejalan dengan asumsi Riyanto (2010) bahwa masyarakat setempat akan mendapatkan peningkatan kesejahteraan dari sektor ekowisata, maka secara otomatis mereka akan menjaga keutuhan hutan sebagai habitat dari berbagai satwaliar di kawasan tersebut.
Di bawah ini dipertelakan secara singkat beserta informasi biolagi dari beberapa jenis yang terungkap pada penelitian ini.
AMFIBI
• Suku Bufonidae (Katak Buduk)
Ingerophrynus biporcatus (Lampiran 1A)
Katak berukuran sedang, dewasa mencapai cm. Permukaan kulit dipenuhi benjolan. Pada bagian kepala terdapat struktur sepasang lipatan kulit. Ciri ini yang membedakan dari jenis lain dalam marganya. Di alam katak ini berfungsi sebagai pengendali serangga. Selain keunikan pada kulit tubuh yang dipenuhi benjolan, suara juga cukup menarik.
• Suku Dicroglossidae
Fejervarya cancrivora (Lampiran 1B)
Katak berukuran sedang, jantan dewasa mencapai 60 mm dan betina mencapai 80 mm. Punggung coklat lumpur terkadang hijau lumut, terdapat bercak gelap yang tidak simetris. Kulit licin terdapat lipatan memanjang. Jari kaki berselaput sampai ujung terkecuali pada jari keempat. Mangsa berupa serangga. Katak ini juga menjadi mangsa bagi ular seperti jenis Dendrelaphis spp. Dapat dijumpai di habitat payau hingga sungai dalam hutan munson.
Occidozyga sumatrana (Lampiran 1C)
Katak ini berukuran kecil, jantan dewasa mencapai 30 mm dan betina mencapai 45 mm. Kepala berukuran kecil. Gendang telinga tersembunyi. Rahang bawah tanpa tonjolan atau tanpa struktur seperti gigi. Kulit halus dengan sedikit bintil. Habitat berupa genangan air atau kubangan atau aliran air dangkal termasuk di hutan munson. Mangsa jenis berupa serangga kecil dan tempayaknya. Dapat dijumpai saat usai hujan atau di malam hari.
• Suku Microhylidae (Katak Bermulut Kecil) Microhyla palmipes (Lampiran 1D)
Katak berukuran kecil mencapai 18 mm. Kepala dan mulut kecil, gendang telinga tersembunyi. Ujung jari tangan dan kaki membesar membentuk piringan kecil, dengan lekuk sirkum marginal di sepanjang tepiannya yang memisahkan sisi atas dengan bawah. Jari kaki berselaput hingga 2/3 atau 3//4 bagian, yang hampir mencapai piringan jari pertama dan jari kelima kaki. Kulit halus atau dengan sedikit bintil di punggung, pada bagian pelupuk mata terdapat sebuah bintil kecil. Dapat dijumpai selepas hujan baik pada siang maupun malam hari dengan mendengarkan suara yang mirip patikan korek api yang terus-menerus. Biasanya bersembunyi di bawah rerumputan pada genangan air. Mangsa berupa semut dan rayap.
• Suku Ranidae (Katak Sejati) Hylarana chalconota (Lampiran 1E)
Katak berukuran sedang, panjang dari moncong hingga anus mencapai 70 mm. Kodok jantan lebih kecil dari yang betinanya. Moncong runcing, mata besar menonjol dan tubuh ramping. Kaki panjang dan ramping, dengan selaput renang penuh hingga ke ujung, kecuali pada ujung jari keempat. Ujung jari tangan dan kaki melebar menyerupai cakram. Warna tubuh bervariasi dari krem kekuningan hingga kehijauan. Biasanya terdapat bintik-bintik hitam bulat yang letaknya tidak beraturan. Lipatan dorsolateral jelas. Permukaan perut berwarna putih. Permukaan kulit licin.
Aktif di malam hari. Dapat dijumpai di sekitar kolam, selokan, saluran air atau sungai kecil dari kawasan pertanian hingga hutan munson. Mangsa berupa serangga.
• Suku Rhacophoridae (Katak Pohon) Polypedates leucomystax (Lampiran 1F)
Katak berukuran sedang, panjang dari moncong hingga anus mencapai 50 mm pada jantan dewasa dan 80 mm pada betina dewasa. Permukaan kulit halus, tanpa lipatan, tonjolan maupun bintil. Warna bervariasi dari coklat muda kekuningan, keabu-abuan hingga putih pucat. Punggung terkadang terdapat pola titik gelap atau garis gelap memanjang. Permukaan perut berwarna putih.
berbintil halus, berwarna putih sedikit keemasan. Kulit bagian kepala seolah melekat pada tengkorak. Jari tangan berselapaut setengah atau bahkan tanpa selaput. Jari kaki berselaput hingga ruas paling ujung kecuali pada jari keempat yang hanya mencapai ruas kedua.
Aktif sejak menjelang senja hingga malam sekitar pukul 21.00. Dapat dijumpai pada habitat yang berair
baik pada tipe ekosistem pertanian hingga hutan munson. Mangsa berupa serangga.
REPTIL
• Suku Agamidae (Londok/Bunglon) Bronchocela jubata (Lampiran 1G)
Bunglon kebun yang berukuran sedang, panjang total mencapai 550 mm dengan panjang ekor sekitar 4/5 panjang total. Keunikan selain dapat berubah warna, pada tengkuk hingga punggung terdapat struktur gerigi yang menyerupai surai. Kepala bersegi. Pada dagu terdapat kantung lebar. Punggung berwarna hijau muda hingga hijau tua, terkadang terdapat semacam garis putih menyilang tubuh. Sisi perut kekuningan. Sisik berlunas.
Aktif dari pagi sekitar pukul 08.00 hingga senja. Malah hari tidur di atas ranting maupun semak. Mangsa berupa serangga.
• Suku Scincidae (Kadal)
Cryptoblepharus cursor (Lampiran 1H)
Kadal berukuran kecil, panjang moncong hingga anus mencapai 40 mm, panjang total hingga ujung ekor memcapai 95 mm. Punggung coklat dengan pola garis kuning kecoklatan di atas mata hingga lengan. Garis ini diapit garis hitam. Bagian ventral putih. Habitat berupa tumpukan sampah maupun semah di bibir pantai. Mudah dijumpai saat aktif dipagi hari sekitar pukul 08.00 hingga 11.00 atau menjelang senja sekitar pukul 16.00 hingga 17.00.
Eutropis multifasaciata (Lampiran 1I)
Kadal berukuran sedang, tubuh relatif gemuk. Panjang total mencapai 300 mm, panjang moncong hingga anus mencapai 100 mm. Sisik punggung berlunas tiga, pada sisik yang besar hingga lima. Warna dan polanya sangat bervariasi. Umumnya coklat baik dengan maupun tanpa garis hitam di punggung. Sisi tubuh dengan variasi warna dari oranye, kuning hingga merah. Termasuk kosmopolit, dapat dijumpai disekitar pemukiman hingga dalam hutan. Aktif di pagi hari hinga senja.
• Suku Varanidae (Biawak) Varanus salvator (Lampiran 1J)
Kadal berukuran besar dengan kuku yang kuat dan ekor panajang pipih. Panjang total mencapai 0,6 m, panjang moncong hingga anus mencapai 1,5 m. Punggung berwarna keabu-abuan hingga hitam dengan atau tanpa pola bercak kembang tersusun sebagai garis melintang berwarna putih, kuning atau merah kecoklatan. Dapat dijumpai di hutan munson, lahan pertanian, mangrove maupun savannah. Aktif di siang hari dan istirahan di malah hari pada batang dekat sungai atau habitat perairan.
• Suku Colubridae
Ahaetulla prasina (Lampiran 1K)
Ular sangat panjang dan langsing berwarna hijau (jarang keabuan) dengan kepala berbentuk segitiga sama kaki yang lancip. Panjang total mencapai 350 mm. Aktif di siang hari dan malam tidur pada pohon maupun semak. Dapat dijumpai di lahan pertanian hingga hutan munson. Jenis ini relative agresif dan berbisa, namun tidak membahayakan bagi manusia. Telur dieram dalam tubuh dan melahirkan bayi antara 4 hingga 10 ekor. Mangsa berupa kadal, katak, burung kecil dan mamalia kecil.
Cerberus schneiderii (Lampiran 1L)
Ular air atau payau berukuran sedang dengan keunikan posisi mata di kepala bagian atas dam hidung di atas moncong. Panjang total mencapai 1,2 m, panjang moncong hingga anus 0,6 m. Warna bervariasi dari pucat abu-abu hingga merah bata. Mudah dijumpai di malam hari dari pukul 18.00 hingga 21.00 saat menunggu mangsa di sungai bagian tepi dengan substrat umumnya berlumpur. Siang hari istirahat dalam liang di tepi sungai ataupun di hutan mangrove. Mangsa berupa ikan.
Jenis ini tergolong berbisa ringan dan tidak membahayakan bagi manusia. Sebelumnya dikenal sebagai C. rynchops, namun hasil penelitian Murphy et al. (2012) untuk populasi Indonesia dinakan sebagai C. schneiderii.
Bungarus candidus (Lampiran 1M)
Berukuran sedang hingga besar dengan pola warna garis melintang putih hitam. Panjang total mencapai 1,6 m. Bagian perut putih. Aktif di malam hari dengan mangsa berupa katak, kadal, ular dan mamalia kecil. Sekali bertelur antara 4 hingga 10 butir. Dapat dijumpai dari lahan pertanian, hutan munson, mangrove hingga savannah. Jenis berbisa dan berakibat fatal bagi manusia.
• Suku Pythonidae (Sanca)
Python reticulatus (Lampiran 1N)
Berukuran sangat besar dan berotot. Panjang total mencapai 10 m, namun umumnya sekitar 3 m. Warna coklat kekuningan dengan pola yang unik seperti batik. Mangsa berupa mamalia, burung dan kadal. Sebagian besar waktunya dihabiskan dalam aktivitas di daratan (tanah), namun jenis ini juga baik dalam memanjat dan berenang. Dapat dijumpai di lahan pertanian dan hutan munson.
• Suku Bataguridae
Cuora amboinensis (Lampiran 1O)
Kura-kura air tawar berukuran sedang dengan keunikan perisai perut dapat ditutup sehingga kepala
dapat disembunyikan dan adanya garis kuning pada bagian kepala yang mengelilingi tepi bagian atas dan pada bagian pipi. Panjang mencapai 22 cm. Mangsa berupa tumbuhan, jamur dan invertebrata. Telur berjumlah antara 2 hingga 6 butir. Dapat dijumpai di habitat perairan dari daerah lahan pertanian hingga hingga hutan munson.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini setidaknya terungkap 32 jenis satwa kelompok herpetofauna yang mempunyai potensi sebagai obyek dalam pengembangan kegiatan ekowisata diantaranya dengan kegiatan “herp watching”. Kegiatan ini membutuhkan pemandu lapangan yang mengenal jenis dan perilaku satwa bersangkutan. Pemandu lapangan ini dapat direkrut dari penduduk setempat yang diberi pelatihan khusus. Diharapkan penduduk setempat yang semula menggantungkan hidup secara langsung dari sumber daya hutan di TNBB, akan mendapatkan peningkatan kesejahteraan dari sektor ekowisata dan secara otomatis mereka akan menjaga keutuhan hutan sebagai habitat dari berbagai satwa liar di kawasan tersebut.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Pimpinan dan staf Taman Nasional Bali Barat atas perijian dan fasilitas selama penelitian, rekan-rekan dalam tim PKPP dengan tajuk “Peningkatan Ekowisata di TN Bali Barat Melalui Pengungkapan Keanekaragaman Fauna Vertebrata (Mamalia, Burung, Reptil dan Amfibi)”. Penelitian ini dibiayai oleh DIKTI melalui program PKPP 2012 dengan nomor kontrakBBB.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Frost, D. R., T. Grant, J. N. Faivovich, R. H. Bain, A. Haas, C. F. B. Haddad, R. O. De Sa’, A. Channing, M. Wilkinson, S. C. Donnellan, C. J. Raxworthy, J. A. Campbell, B. L. Blotto, P. Moler, R. Drewes, R. A. Nussbaum, J. D. Lynch, D. M. Green and W. C. Wheeler. 2006. The Amphibian Tree of Life. Bulletin of the American Museum of Natural History 297. New York, USA.
[2] de Rooij, N. 1915. The Reptiles of the Indo Australian Archipelago I (Lecertilia, Chelonia, Emydosauria), E.I. Brill, Ltd, Leiden.
[3] de Rooij, N. 1917. The Reptiles of the Indo Australian Archipelago (Ophidia), E.I. Brill, Ltd, Leiden.
[4] Iskandar, D.T. 1998. The Amphibians of Java and Bali, Research and Development Center for Biology LIPI-GEF-Biodiversity Collection Project, Bogor.
[5] Iskandar, D.T. and E. Colijn. 2001. A Checklist of Southeast Asian and New Guinean Reptiles, Part I, Serpentes, BCP (LIPI, JICA, PHPA), The Gibbon Foundation and Institute Technology of Bandung.
[6] Mausfeld, P., A. Schmitz, W. Bohme, B. Misof, D. Vricradic and C.F.D. Rocha. 2002. Phylogenetic Affinities of Mabuya atlantica Schmidt, 1945, Endemic to the Atlantic Ocean Archipelago of Fernando de Noronha (Brazil): Necessity of Partitioning the Genus Mabuya Fritzinger, 1826 (Scincidae: Lygosoma). Zoologischer Anzeiger 241: 281-293.
[7] McKay, J.L. 2006. Field Guide of the Amphibians and Reptiles of Bali, Krieger Publishing Company, Malabar, Florida.
[8] Murphy, J.C., Voris, H.K. and D.R. Karns. 20012. The dog-faced water snakes, a revision of the genus Cerberus Cuvier, (Squamata, Serpentes, Homalopsidae), with the description of a new species. Zootaxa 3484: 1-34.
[9] Riyanto A. 2010. Komunitas Herpetofauna dan Potensinya bagi Sektor Ekowisata pada Kawasan Ketenger-Baturraden di Selatan Kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Biosfera 27(2): 60-67.
[10] http://www.tnbalibarat.com/?page_id=20. Keadaan Umum Taman Nasional Bali Barat. Akses tanggal 10 Januari 2013.
[11] http://www.tnbalibarat.com/?page_id=24. Potensi Flora Fauna Taman Nasional Bari Barat. Akses tanggal 10 Januari 2013.
ZONA PEMANFAATAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT.
Taksa CK TB TT LL PA GJ Munson Savana Mangrove Lokasi Tipe Ekosistem Pengamatan Waktu Keunikan
Amfibi Anura (Katak) 1. Bufonidae 1. Duttaphrynus melanostictus 1 1 1 0 0 1 1 0 1 17.00-21.00 morfologi, suara 2. Ingerophrynus biporcatus 1 0 1 0 1 1 0 1 17.00-21.00 morfologi, suara 2. Dicroglossidae 3. Fejervarya cancrivora 1 1 1 1 0 1 1 0 1 17.00-21.00 morfologi, suara 4. Fejervarya
limnocharis 0 1 1 1 0 1 1 0 1 17.00-21.00 morfologi, suara,
5. Occidozyga
sumatrana
0 0 0 0 0 1 1 0 0 17.00-21.00 morfologi, suara 3. Microhylidae
6. Kaloula baleata 0 1 0 0 0 0 1 0 0 17.00-21.00 morfologi, warna 7. Microhyla palmipes 1 1 0 1 0 1 1 0 0 17.00-21.00 morfologi, suara, warna 4. Ranidae 8. Hylarana chalconota 1 1 1 1 0 1 1 0 1 17.00-21.00 morfologi, suara, warna 9. Hylarana
nicobariensis 0 1 1 0 0 0 1 0 1 17.00-21.00 suara, warna morfologi,
5. Rhacophoridae 10. Polypedates leucomystax 0 1 0 0 0 0 1 0 0 17.00-21.00 morfologi, suara, warna Reptil Lacertilia 6. Agamidae 11. Bronchocela jubata 0 1 1 1 0 1 1 0 0 09.00-17.00 Dan 18.00-21.00 morfologi, warna 12. Draco volans 1 0 0 1 0 0 1 0 1 09.00-16.00 morfologi,
warna 7. Gekkonidae 13. Cosymbotus platyurus 0 1 0 0 0 0 1 0 1 17.00-21.00 morfologi, warna 14. Cyrtodactylus fumosus 0 0 1 0 0 1 1 0 0 17.00-21.00 morfologi, warna 15. Gehyra mutilata 0 0 0 1 0 0 1 0 0 17.00-21.00 morfologi,
warna
16. Gekko gecko 0 1 1 0 0 1 1 0 0 17.00-21.00 morfologi, warna, suara 17. Hemidactylus frenatus 0 0 1 0 1 1 1 1 1 Siang maupun malam morfologi, warna 18. Hemidactylus garnoti 0 0 0 0 0 1 1 0 0 17.00-21.00 morfologi, warna 8. Scincidae 19. Cryptoblepharus baliensis 0 0 0 1 0 0 1 0 0 09.00-16.00 morfologi, warna 20. Cryptoblepharus cursor 1 0 0 0 1 0 0 0 1 09.00-16.00 morfologi, warna 21. Eutropis multifasciata 0 0 1 0 1 0 1 1 1 09.00-16.00 morfologi, warna 22. Eutropis rugifera 1 0 0 0 0 0 1 0 0 09.00-16.00 morfologi,
warna 9. Varanidae
23. Varanus salvator 0 1 1 0 0 0 1 0 1 09.00-16.00 morfologi, warna Serpentes (Ular)
10. Colubridae 24. Ahaetulla
prasina 0 0 1 1 0 0 1 0 0 09.00-16.00 17.00-21.00 dan morfologi, warna
25. Cerberus schneiderii 0 0 1 0 0 0 1 0 1 17.00-21.00 morfologi, warna 26. Chrysopelea paradisi 1 0 0 0 0 0 1 0 0 09.00-16.00 morfologi, warna 27. Lycodon aulicus 1 0 0 0 0 0 1 0 0 09.00-16.00 morfologi,
Taksa CK TB TT LL PA GJ Munson Savana Mangrove Pengamatan Keunikan
capucinus warna
11. Elaphidae 28. Bungarus
candidus 0 0 1 0 0 0 0 0 1 17.00-21.00 morfologi, warna
12. Pythonidae 29. Python molurus bivittatus 0 0 1 0 0 0 1 0 0 Siang maupun malam morfologi, warna 30. Python reticulatus 0 0 1 0 0 0 1 0 0 Siang maupun malam morfologi, warna 13. Viperidae (Crotalidae) 31. Trimeresurus albolabris 0 1 0 0 0 1 1 0 0 17.00-16.00 morfologi, warna Testudinata 14. Bataguridae 32. Cuora amboinensis 0 1 0 0 0 0 1 0 0 Siang maupun malam morfologi, warna pada kepala Jumlah 10 14 16 10 3 13
LAMPIRAN I. FOTO BEBERAPA JENIS HERPETOFAUNA TAMAN NASIONAL BALI BARAT.
Keterangan: A. Ingeriphrynus biporcatus, B. Fejervarya cancrivora, C. Occidozyga sumatrana, D. Microhyla palmipes, E. Hylarana
chalconota, F. Polypedates leucomystax, G. Broncochela jubata, H. Cryptoblepharus cursor, I. Eutropis multifasciata, J. Varanus salvator,