• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 03 KERANGKA PEMBANGUNAN SANITASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 03 KERANGKA PEMBANGUNAN SANITASI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

3-1

BAB 03

KERANGKA

PEMBANGUNAN SANITASI

3.1 Visi dan Misi Sanitasi

Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada.

Visi merupakan arah pembangunan atau kondisi masa depan daerah yang ingin dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang (clarity of direction). Visi juga harus menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang harus diselesaikan dalam jangka menengah serta sejalan dengan visi dan arah pembangunan jangka panjang daerah.

Dengan mempertimbangkan kondisi daerah, permasalahan pembangunan, tantangan yang dihadapi serta isu-isu strategis, dirumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah. Visi Kota Bandung Tahun 2025 adalah

“TERWUJUDNYA KOTA BANDUNG YANG UNGGUL, NYAMAN, DAN SEJAHTERA” Visi Kota Bandung Tahun 2013-2018 yaitu : Terwujudnya Kota Bandung Yang Unggul, Nyaman dan Sejahtera, merupakan visi yang selaras dengan Visi Kota Bandung Yang Bermartabat Tahun 2025. Kriteria capaian visi daerah tahun 2005-2025 sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2008 tentang RPJPD Kota Bandung Tahun 2005-2025 secara jelas direfleksikan pada visi Kota Bandung yang Unggul, Nyaman dan Sejahtera.

(2)

3-2 Selanjutnya dari Visi Kota Bandung tersebut telah diturunkan menjadi bagian khusus bidang sanitasi yang menjadi salah satu komponen penting dalam membentuk kota yang nyaman dan sejahtera. Berikut ini sandingan Visi Misi Kota Bandung terhadap Visi Misi Pembangunan Sanitasi Kota Bandung.

Tabel 3. 1 Visi dan Misi Sanitasi Kota Bandung VISI KOTA

BANDUNG MISI KOTA BANDUNG KOTA BANDUNG VISI SANITASI MISI SANITASI KOTA BANDUNG

“TERWUJUDNYA KOTA BANDUNG YANG UNGGUL, NYAMAN, DAN SEJAHTERA” 1.Mewujudkan Bandung nyaman melalui perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur serta pengendalian pemanfaatan ruang yang berkualitas dan berwawasan lingkungan. 2.Menghadirkan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, bersih dan melayani. 3.Membangun

masyarakat yang mandiri, berkualitas dan berdaya saing. 4.Membangun

perekonomian yang kokoh, maju, dan berkeadilan.

Terwujudnya sanitasi kota yang berkualitas, mandiri dan berkelanjutan menuju Kota Bandung yang Bermartabat tahun 2020 1. Mengembangkan sistem sanitasi kota yang terpadu dan berkelanjutan;

2. Meningkatkan kualitas dan kinerja pelayanan sanitasi kota secara profesional dan terjangkau;

3. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam mewujudkan sanitasi kota yang mandiri;

4. Mendorong pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sanitasi kota;

5. Meningkatkan kapasitas pembiayaan sanitasi kota secara terbuka dan terukur

Sumber: Hasil FGD Tim Pokja AMPL/Sanitasi Kota Bandung, 2015

3.2 Pentahapan Pengembangan Sanitasi

Strategi layanan sanitasi pada dasarnya adalah untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan sanitasi yang bermuara pada pencapaian visi dan misi sanitasi Kota Bandung. Kota Bandung merumuskan strategi layanan sanitasi didasarkan pada isu-isu utama/strategis yang dihadapi pada saat ini.

Dasar penyusunan konsep pengembangan sanitasi terlebih dahulu dilakukan analisa data dari instrumen yang sudah ditentukan dari pusat yaitu instrumen profil sanitasi. Instrumen profil sanitasi adalah suatu tools/alat yang digunakan untuk menggambarkan kondisi sanitasi di kabupaten/kota, data yang digunakan dalam instrumen ini adalah data gambaran umum dan dapat diambil dari hasil analisa EHRA. Analisa tersebut menggunakan data mengenai kondisi ekstrim/daerah genangan rob,

(3)

3-3 kondisi CBD saat ini dan akan datang (sesuai RTRW), prioritas berdasarkan tingkat area beresiko, tingkat layanan sanitasi, fungsi perkotaan, luas wilayah terbangun dan estimasi kepadatan penduduk 5 (lima) tahun ke depan. Keluaran Instrumen profil sanitasi adalah dapat diketahuinya sistem dan zona sanitasi setiap desa/kelurahan.

3.2.1 Tahapan Pengembangan Sanitasi

Tahapan pengembangan sanitasi adalah tahapan pengembangan pada tiap jangka waktu. Tahapan pengembangan sanitasi di bawah didasarkan pada target Universal Acces untuk mencapai 100% pelayanan air limbah, 0% jumlah permukiman kumuh dan 100% pelayanan air minum pada tahun 2019. Kota Bandung saat ini tergabung dalam program PPSP untuk mendukung target tersebut. Untuk mencapai target yang akan dicapai, Kota Bandung menetapkan suatu acuan/target yang harus dikejar untuk mengatasi masalah sanitasi di Kota Bandung.

A. SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK

Pada tahapan pengembangan air limbah domestik Kota Bandung selain mendukung pencapaian universal acces, Kota Bandung juga mengacu pada Roadmap Sanitasi Provinisi Jawa Barat yang memiliki target cakupan layanan air limbah domestik yaitu meningkatnya cakupan pelayanan air limbah domestik di PKN dan PKW melalui perluasan ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan air limbah serta penyediaan instalasi pengolahan/penampungan air limbah komunal dan IPAL kawasan. Dengan mengacu pada universal access dan target Provinsi Jawa Barat maka, tahapan pengembangan yang direncanakan untuk air limbah domestik di Kota Bandung adalah sebagai berikut :

Tabel 3. 2 Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kota Bandung

No Sistem

Cakupan layanan eksisting*

(%)

Target cakupan layanan* (%) Jangka

pendek menengah Jangka panjang Jangka A Buang Air Besar Sembarangan

(BABS)** 42,41%

B Sistem Pengolahan Air

Limbah Setempat (Onsite) 84,4% 20% 70% 0,00%

(4)

3-4 a. Terlayani Tangki Septik

Individual

55,27% b. Terlayani Tangki Tinja

2 Sistem Komunal 4,7% 50% 50% 0,00%

a. MCK/MCK ++ 1,39% 40% 60% 0,00%

b. IPAL komunal 0,01% 20% 70% 0,00%

c.Tangki septik komunal 3.3% 35% 65% 0,00%

C Sistem Pengolahan Air

Limbah Terpusat (Off-site) 37,9% 20% 70% 0,00%

Subtotal 100% 100% 100% 100%

Sumber: Hasil FGD Tim Pokja AMPL/Sanitasi Kota Bandung, 2015

Keterangan : ** data bersumber dari Studi EHRA. 2015

Berdasarkan Tabel 3.2 di atas maka disusunlah strategi pengembangan sanitasi sub sektor air limbah domestik yang direncanakan untuk mencapai target yang telah ditetapkan, yaitu :

1. Meningkatkan dan mengembangkan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPAL) secara terpusat (off site) Untuk wilayah Bandung Barat

2. Meningkatkan dan mengembangkan SPAL bersama Kabupaten Bandung

3. Meningkatkan kapasitas pengolahan air limbah domestik dalam SPAL terpusat (off site) melalui IPAL Bojong Soang

4. Meningkatkan infrastruktur jaringan dalam SPAL secara terpusat

5. Meningkatkan dan mengembangkan saran dan prasarana Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)

6. Meningkatkan sistem pengolahan air limbah domestik skala kawasan (on site) 7. Meningkatkan sistem pengolahan air limbah domestik (on site) skala khusus

(kawasan kumuh)

8. Meningkatkan penguatan kapasitas masyarakat dan kemitraan dalam bidang pengembangan penyehatan lingkungan permukiman

B.

SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN PERKOTAAN

Sektor persampahan mengacu pada kebijakan yang ditetapkan oleh Provinsi Jawa Barat, yaitu meningkatnya cakupan pelayanan persampahan di Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) melalui pembangunan pengolahan sampah kawasan metropolitan. Selain mengcu pada kebijakan yang ditetapkan oleh provinsi Kota Bandung juga mengacu pada universal access, maka disusunlah tahapan

(5)

3-5 pengembangan sanitasi sub sektor persampahan yang telah disepakati oleh Pokja seperti yang ditunjukkan Tabel 3.3 berikut ini.

Tabel 3. 3 Tahapan Pengembangan Persampahan di Kota Bandung

No Sistem Cakupan layanan eksisting (%) Cakupan layanan (%) Jangka

pendek menengah Jangka panjang Jangka A Prosentase terangkut yang sampah yang 74% 64% 20% 16%

1 Penanganan langsung (direct) 6% 0% 0% 0%

2 Penanganan tidak langsung (indirect) 68% 68% 32% 0% B Dikelola masyarakat mandiri atau belum oleh

terlayani 10% 12% 50% 38%

C 3R 16% 20% 30% 40%

Sumber: Hasil FGD Tim Pokja AMPL/Sanitasi Kota Bandung, 2015

Dewasa ini, perkembangan pengelolaan persampahan di Kota Bandung terutama dengan strategi pemberdayaan komunitas dan pengelolaan sampah secara mandiri melalui program 3R telah cukup meningkat. Terbukti pada tahun penyusunan SSK ini tahun 2015, Kota Bandung mendapat penghargaan Kota Adipura sebagai Kota yang dinilai oleh Pemerintah Pusat dan lainnya cukup representatif dari aspek kebersihan, kenyamanan dan keindahannya. Hal yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung ke depannya adalah konsistensi dan pengembangan kapasitas pengelola persampahan baik itu PD Kebersihan maupun unsur swasta yang terlibat dalam pengelolaan sampah secara 3R.

Adapun program jangka menengah persampahan diupayakan tetap mengacu pada Masterplan Persampahan Kota Bandung tahun 2016 – 2020.

Berikut adalah strategi pengembangan sanitasi sub sektor persampahan : 1. Meningkatkan dan mengembangkan sistem pengelolaan persampahan skala kota

melalui peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah

2. Mengurangi timbulan sampah yang akan dibuang ke TPA melalui pengelolaan Stasiun Antara dan TPST

3. Meningkatkan sistem penanganan sampah skala kawasan dan kawasan khusus (kumuh)

(6)

3-6 4. Mencari alternatif teknologi tepat guna dalam pengolahan sampah berbasis

masyarakat

5. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan

6. Mengoptimalkan trash rack untuk mengurangi pencemaran sungai dari sampah yang dibuang ke sungai

7. Membuka peluang kerjasama dengan sektor swasta dan lembaga masyarakat dalam 8. pengelolaan sampah Mengembangkan tempat pemrosesan akhir sampah regional

(TPA Regional)

C.

PENGELOLAAN DRAINASE PERKOTAAN

Kondisi pengelolaan drainase di Kota Bandung saat ini masih belum begitu baik, hal tersebut dikarenakan masih banyaknya titik genangan di beberapa sudut Kota Bandung. Kota Bandung memiliki beberapa titik genangan yang sebenarnya sangat kecil dilihat dari luas genangannya tetapi banyak tersebar di Kota Bandung.

Penyusunan tahapan pengembangan drainase perkotaan di Kota Bandung mengacu pada RPJMD Kota Bandung 2013-2018, di mana telah tertuang komitmen terselesaikannya permasalahan banjir dengan indikator kinerja tercapainya panjang saluran drainase yang berfungsi dengan baik sebesar 100% tahun 2016 dan terselesaikannya titik banjir sejumlah 68 titik di seluruh wilayah Kota Bandung tahun 2018. Untuk lebih jelasnya bagaimana tahapan pengembangan sanitasi sub sektor drainase Kota Bandung dapat dilihat pada Tabel 3.4 berikut ini.

Tabel 3. 4 Tahapan Pengembangan Drainase Perkotaan Kota Bandung

NO GENANGAN LOKASI LUAS (HA) PENGURANGAN LUAS GENANGAN JANGKA

PENDEK MENENGAH JANGKA PANJANG JANGKA

1 Sukaluyu, Cibeunying Kaler 0,4 30% 45% 15%

2 Husen / Pajajaran, Cicendo 0.5 45% 30% 15%

3 Situsaeur, Bojongloa Kaler 0.6 20% 50% 30%

4 Pagarsih, Bojong Loa Kaler 0,8 45% 30% 15%

5 Braga, sumur bandung 0,4 30% 40% 30%

6 Babakan Penghulu, Cinambo 0,20 45% 30% 15%

(7)

3-7

NO GENANGAN LOKASI LUAS (HA) PENGURANGAN LUAS GENANGAN JANGKA

PENDEK MENENGAH JANGKA PANJANG JANGKA

8 Mekarmulya, Gedebage 0.5 45% 30% 15%

9 Garuda, Andir 0.05 30% 40% 30%

10 Kebon Gedang, KiaraCondong 0.6 25% 50% 25%

11 Ujung Berung 0.8 30% 40% 30%

12 Pasirkaliki, Cicendo 0.4 40% 40% 20%

13 Hegarmanah, Cidadap 0.8 30% 40% 30%

14 Sukawarna, Cidadap 0.6 45% 30% 15%

15 Pasteur, Sukajadi 0.4 30% 40% 30%

16 Cirangrang, Bojong Kidul 0.6 45% 30% 15%

17 Arjuna, Cicendo 0.8 30% 40% 30%

18 Cicadas dan Pasirlayu,

Cibeunying Kidul 0.4 20% 50% 30%

19 Sukaraja, Cicendo 0.8 30% 40% 30%

20 Cihaurgeulis, Cibeunying Kidul 0.3 45% 30% 15%

21 Sal.Cikapayang -Gasibu 0.6 30% 40% 30%

22 Lengkong 0.3 45% 30% 15%

23 Sukagalih Sukajadi 0,9 30% 40% 30%

24 - Gegerkalong - Sukasari 0,4 45% 30% 15%

25 Gegerkalong, Sukasari 0,4 20% 50% 30%

26 Kali Cibaduyut - Pasar Kosambi 45% 30% 15%

27 - Sumurbandung 30% 40% 30%

28 -Sumurbandung 45% 30% 15%

29 - Cibeunying kidul 0,4 30% 40% 30%

30 Jl. Moch. Toha - Sal.Cipalasari /

Sal.Ciateul 0,8 45% 30% 15%

31 S.Cirangrang RW.01 / RT.01 0,5 30% 40% 30%

32 - Pasirluyu - Lengkong 0,3 45% 30% 15% 33 - Sadangserang - Coblong 0,5 30% 40% 30% 34 - Sadangserang - Ujung berung 0,6 45% 30% 15% 35 - Antapani tengah - Antapani 0,4 30% 40% 30%

(8)

3-8

NO GENANGAN LOKASI LUAS (HA) PENGURANGAN LUAS GENANGAN JANGKA

PENDEK MENENGAH JANGKA PANJANG JANGKA 36 - Karangpamulang - Antapani 0,6 45% 30% 15% 37 Jl.Caringin Sal.Leuwi Limus 0,4 30% 40% 30%

38 Jl Molek Cibuntu 0.4 45% 30% 15%

39 Sukamaju, Cibeunying Kidul 0.6 30% 40% 30%

40 Antapani Tengah, Antapani 0.8 45% 30% 15%

41 Antapani Kidul, Antapani 0.6 30% 40% 30%

42 Husen, Cicendo 0.8 45% 30% 15%

43 Cikutra, Cibeunying Kidul 0.6 30% 40% 30%

44 Pasanggarahan, Ujung Berung 0.4 45% 30% 15%

45 Kebonwaru, Batununggal 0.6 30% 40% 30%

46 Sumur Bandung 0.3 45% 30% 15%

47 Andir 0.8 30% 40% 30%

48 Batununggal dan Sumur Bandung 0.6 45% 30% 15%

49 Cibeunying Kidul 0.8 30% 40% 30%

50 Bandung kidul 0.8 45% 30% 15%

51 Persimpangan Jl Pasirkoja - Sal.

Cilimus I 0.8 30% 40% 30%

52 Persimpangan Jl.Pasirkoja -Sal

Cilimus I 0.8 45% 30% 15% 53 Sal.Irigasi Dungusema 0.8 30% 40% 30% 54 Jl.Moch.Toha 45% 30% 15% 55 Sal.Crossing Jl Soekarno Hatta-sal Cijagra (depan Hotel Lingga) 0.8 30% 40% 30% 56 S.Ciroyom, Jln Kopo 0.8 45% 30% 15% 57 Batununggal 0.6 30% 40% 30% 58 Sukaraja, Cicendo 45% 30% 15% 59 Terusan Jl.Kiaracondong-Jl Soekarno Hatt 30% 40% 30% 60 Sal.Cilimus, Jln Sukajadi 45% 30% 15%

(9)

3-9

NO GENANGAN LOKASI LUAS (HA) PENGURANGAN LUAS GENANGAN JANGKA

PENDEK MENENGAH JANGKA PANJANG JANGKA

62 Manjahlega, RancaSari 1,6 45% 30% 15%

63 Cipamokolan, Rancasari 0,5 30% 40% 30%

64 Margasari, Buah Batu 1 45% 30% 15%

65 Margasari, Buah Batu 0,5 30% 40% 30%

66 Sukamiskin, Arcamanik 0,3 45% 30% 15%

67 Panyileukan, Bandung Kidul 0,5 30% 40% 30%

68 Perumahan Riung Bandung, Jln Braga 0,5 45% 20% 25%

Sumber: Hasil FGD Tim Pokja AMPL/Sanitasi Kota Bandung, 2015

Untuk strategi yang ditetapkan didasarkan dari permasalahan mendesak yang diangkat dan hasil analisis SWOT terlampir, maka strategi yang ditetapkan adalah: 1. Menyusun reviu Masterplan Drainase Metro Bandung

2. Meningkatkan optimalisasi jaringan drainase perkotaan yang telah terbangun 3. Identifikasi jaringan sungai yang tersedimentasi dan banyak sampah

4. Pembersihan lokasi sungai yang terhambat

3.2.2 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Sanitasi

Pada subbab ini menjelaskan mengenai tujuan yang telah ditetapkan didasarkan dari isu strategis yang diangkat pada bab sebelumnya. Sasaran ini diambil mengacu pada tujuan yang sesuai dengan Kota Bandung.

Tabel 3. 5 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Sanitasi Kota Bandung

TUJUAN SASARAN DATA DASAR

(1) (2) (3)

SUB SEKTOR AIR LIMBAH DOMESTIK

Seluruh penduduk Kota Bandung memiliki akses terhadap infrastruktur sistem pengelolaan air limbah domestik (SPAL) yang layak dan berkelanjutan

1. Meningkatnya akses masyarakat terhadap sarana dan prasarana sanitasi yang layak 2. Meningkatnya perilaku

higienis pada masyarakat dalam mengelola air

Pelayanan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik di Kota Bandung oleh PDAM baru mencapai 66% 1 (Offsite: 37,9 %; Onsite:

28,1 %)

(10)

3-10

TUJUAN SASARAN DATA DASAR

(1) (2) (3)

limbah domestik

3. Meningkatnya peran dan kontribusi sektor swasta dan lembaga masyarakat

dalam cakupan

pengelolaan air limbah domestik

SUB SEKTOR PERSAMPAHAN

Seluruh penduduk Kota Bandung memiliki akses terhadap infrastruktur sistem pengelolaan persampahan yang layak dan berkelanjutan

1. Meningkatnya pelayanan pengelolaan persampahan melalui sistem pengelolaan persampahan yang

terpadu

2. Meningkatnya tingkat partisipasi dan

pemberdayaan komunitas dalam pengelolaan sampah secara mandiri

3. Meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ataupun ke sungai

4. Meningkatnya peran serta sektor swasta dan lembaga masyarakat dalam cakupan pengelolaan sampah 5. Terbangunnya Tempat

Pemrosesan akhir sampah Kota Bandung secara regional.

1. 26% penduduk Kota Bandung belum terlayani oleh PD Kebersihan 2

2. Masih rendahnya pengelolaan sampah secara 3R (16%) 3

SUB SEKTOR DRAINASE PERKOTAAN

Jaringan Drainase Kota Bandung terintegrasi dengan baik dan berfungsi dengan lancar

Terselesaikannya

Permasalahan banjir di Kota Bandung

Terdapat 68 titik banjir di Kota Bandung

Sumber: Hasil FGD Tim Pokja AMPL/Sanitasi Kota Bandung, 2015

3.2.3 Skenario Pencapaian Sasaran

Skenario pencapaian sasaran mengacu pada penetapan hasil FGD Pokja Kota Bandung dengan kebijakan provinsi. Untuk pelayanan air limbah direncanakan pada

2 Sumber: LKPJ Walikota Bandung. 2014 3 Sumber: LKPJ Walikota Bandung. 2014

(11)

3-11 tahun 2018 tingkat pelayanan menjadi 70% dan untuk persampahan mencapai 73%. Sedangkan pada tahun 2019 untuk pelayanan drainase direncanakan akan tercapai 100%.

Tabel 3. 6 Rencana Tahapan Pengembangan Sektor Sanitasi Kota Bandung

KOMPONEN TAHUN

N N+1 N+2 N+3 N+4 N+5

Air Limbah Domestik 59% 70% 50% 70% 90% 100%

Persampahan 65% 70% 73% 73% 90% 100%

Drainase Perkotaan 62% 77% 92% 100% 100% 100%

Sumber: Hasil FGD Tim Pokja AMPL/Sanitasi Kota Bandung, 2015

3.3 Kemampuan Pendanaan Sanitasi

Faktor lain yang sangat menentukan penentuan sistem dan cakupan pelayanan sanitasi adalah faktor pembiayaan yang sangat tergantung pada kemampuan keuangan daerah. Berdasarkan data dalam dokumen RPJMD Kota Bandung 2013-2018, dana APBD yang dialokasikan oleh Pemerintah Kota Bandung untuk pelaksanaan program/kegiatan pada sektor-sektor dalam Bidang Cipta Karya selama kurun waktu 2014-2018 diproyeksikan senantiasa mengalami peningkatan (terdapat pada Tabel

3.7). Pada tahun 2014, Bidang Cipta Karya dialokasikan mendapat dana sebesar Rp.

209 Milyar (10.10%). Jumlah alokasi APBD untuk Bidang Cipta Karya pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp. 274 Milyar (7.04%). Akan tetapi jika dibandingkan dengan total belanja APBD, alokasi APBD untuk Bidang Cipta Karya setiap tahunnya cenderung memiliki persentase menurun (seperti terlihat pada Gambar 3.1)

Tabel 3. 7 Proyeksi Perkembangan Alokasi APBD Kota Bandung untuk Pembangunan

Bidang Cipta Karya Tahun 2014-2018 (dalam juta rupiah)

SEKTOR

TAHUN

2014 2015 2016 2017 2018

Alokasi APBD % Alokasi APBD % Alokasi APBD % Alokasi APBD % Alokasi APBD %

BANGKIM 16.500 0,79 18.150 0,75 19.965 0,70 21.961.50 0,66 24.158 0,62 PBL 80.405,55 3,87 93.409,04 3,85 104.877,45 3,70 112.138,95 3,38 120.354,72 3,11 AM 5.250 0,25 5.600 0,23 5.700 0,20 5.800 0,17 5.800 0,15 SANITASI 107.614 5,18 116.960 4,82 126.258 4,45 117.616,70 3,55 124.329 3,21 TOTAL BELANJA APBD 2.077.671 100 2.427.646 100 2.836.722 100 3.315.3 38 100 3.875.867 100 Sumber: Rencana Belanja APBD Kota Bandung dalam RPJMD Kota Bandung, 2014-2019

(12)

3-12 Dari total alokasi belanja APBD, sektor dengan jumlah belanja terbesar adalah Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman atau Sanitasi dengan persentase rata-rata terhadap total belanja APBD sebesar 4.24%. Sementara itu sektor denngan jumlah belanja terkecil adalah Sektor Air Minum dengan persentase rata-rata terhadap total belanja APBD sebesar 0.2%.

Gambar 3. 1 Proporsi Belanja Cipta Karya terhadap APBD Kota Bandung Tahun 2014-2018 Untuk melihat gambaran kemampuan pendanaan pembangunan sektor sanitasi di Kota Bandung, maka dapat dilihat melalui uraian alokasi belanja APBD Kota Bandung dari tahun 2010 hingga 2014. Namun karena ada keterbatasan data yang diperoleh untuk menganalisis hal tersebut maka perkiraan pendanaan sanitasi di Kota Bandung tetap mengacu pada data dan informasi yang tertuang pada RPJMD Kota Bandung 2013-2018 seperti yang telah diuraikan sebelumnya di atas.

Berikut ini Tabel 3.8 Perhitungan Pertumbuhan Pendanaan APBD Kota Bandung untuk Sanitasi.

500,000.00 1,000,000.00 1,500,000.00 2,000,000.00 2,500,000.00 3,000,000.00 3,500,000.00 4,000,000.00 4,500,000.00 2014 2015 2016 2017 2018 T ot al Be la n ja ( jut a ru p ia h ) Tahun TOTAL BELANJA APBD TOTAL BELANJA APDB BIDANG CK

(13)

3-13

Tabel 3. 8 Perhitungan Pertumbuhan Pendanaan APBD untuk Sanitasi

No Uraian Belanja Sanitasi (Rp.)

Rata-rata Pertumbu han (%)

2010 2011 2012 2013 2014

1 Belanja Sanitasi (1.1+1.2+1.3+1.4) 131.607.067.833

1.1 Air Limbah Domestik 1.783.393.000 2.100.570.000 2.060.668.000 2.684.350.000 2.100.483.178

1.2 Sampah rumah tangga * * * * 3.142.219.673

1.3 Drainase lingkungan * * * * 124.805.129.622,00

1.4 PHBS * * * * 1.559.235.360

2 Dana Alokasi Khusus (2.1+2.2+2.3) 2.798.766.000,00 1.073.100.000,00 1.311.650.000,00 2.073.520.000,00 1.559.030.000,00 2.1 DAK Sanitasi 2.798.766.000,00 1.073.100.000,00 1.311.650.000,00 2.073.520.000,00 1.559.030.000,00

2.2 DAK Lingkungan Hidup - - - -

2.3 DAK Permukiman Perumahan dan - - - -

3 Pinjaman/Hibah untuk Sanitasi - - - -

Belanja APBD murni untuk Sanitasi (1-2-3)

Total Belanja Langsung

% APBD murni terhadap Belanja Langsung

Komitmen Pendanaan APBD untuk pendanaan sanitasi ke depan (% terhadap belanja langsung ataupun penetapan nilai absolut)  Datanya tidak tersedia

(14)

3-14

Tabel 3. 9Perkiraan Besaran Pendanaan Sanitasi 2016 – 2020

No Uraian Perkiraan Belanja Murni Sanitasi (Rp.) Total Pendanaan

2016 2017 2018 2019 2020

1 Perkiraan Langsung Belanja 126.258.000.000 117.616.000.700 124,329.000,000 130.500.455,000 132.000.000,000 630.703.455,000

2 Perkiraan Murni untuk Sanitasi APBD 126.258.000.000 117.616.000.700 124,329.000,000 130.500.455,000 132.000.000,000 630.703.455,000

3 Perkiraan Komitmen Pendanaan Sanitasi 4.45% 3.55% 3.21% 3.33% 3.22%

Tabel 3. 10Perhitungan Pertumbuhan Pendanaan APBD untuk Operasional/Pemeliharaan Sektor Sanitasi

No Uraian Belanja Sanitasi (Rp.) Pertumbuh-an rata-rata

2010 2011 2012 2013 2014

1 Belanja Sanitasi

1.1 Air Limbah Domestik - - - - -

1.1.1 Biaya operasional / pemeliharaan (justified) - - - - -

1.2 Sampah Rumah Tangga * * * * *

1.2.1 Biaya operasional / pemeliharaan (justified) * * * * *

(15)

3-15

1.3.1 Biaya operasional / pemeliharaan (justified) * * * * 11.073.383.544

Sumber : LKPJ Walikota Bandung. 2014

Ket : Biaya OM Drainase meliputi Pengerukan sungai dan pemeliharaan saluran *Data tidak tersedia

Tabel 3. 11Perkiraan Besaran Pendanaan APBD untuk Kebutuhan Operasional/Pemeliharaan Aset Sanitasi Terbangun hingga Tahun 2020

No Uraian Biaya Operasional/Pemeliharaan (Rp.) Pendanaan Total

2016 2017 2018 2019 2020

1 Belanja Sanitasi

1.1 Air Limbah Domestik - - - - -

1.1. 1

Biaya operasional / pemeliharaan

(justified) - - - - -

1.2 Sampah tangga rumah - - - - -

1.2. 1 Biaya operasional / pemeliharaan (justified) - - - - - 1.3 Drainase lingkungan 74.100.000.000 - - - - 1.3. 1 Biaya operasional / pemeliharaan (justified) 74.100.000.000 - - - -

(16)

3-16

Tabel 3. 12Perkiraan Kemampuan APBD dalam Mendanai Program/Kegiatan SSK

No Uraian Pendanaan (Rp.) Pendanaan Total

2016 2017 2018 2019 2020

1 Perkiraan Kebutuhan Operasional /

Pemeliharaan 74.100.000.000 - - - -

2 Perkiraan APBD Murni untuk Sanitasi 126.258.000.000 117.616.000.700 124,329.000,000 130.500.455,000 132.000.000,000 630.703.455.000

3 Perkiraan Komitmen Pendanaan Sanitasi 4.45% 3.55% 3.21% 3.33% 3.22%

4 Kemampuan Mendanai SSK (APBD Murni) (2-1) 52.158.000.000 117.616.000.700 124,329.000,000 130.500.455,000 132.000.000,000

5 Kemampuan Mendanai SSK (Komitmen) (3-1) Sumber : hasil analisis. 2015

(17)

3-17 Setelah melihat data yang diperoleh dalam tabel 3.8 hingga 3.12 mengenai data pendanaan sanitasi di Kota Bandung dapat dikatakan belum dapat dijadikan referensi untuk analisis kemampuan pendanaan sanitasi oleh Kota Bandung. Namun, informasi kemampuan pendanaan dan peluang pembangunan sanitasi di Kota Bandung dapat diperoleh melalui sumber data lainnya.

Kota Bandung merupakan kota yang termasuk pada Kawasan Strategis Nasional termasuk pada Kluster A Kebijakan Keterpaduan Pembangunan Keciptakaryaan Ditjen Cipta Karya Kemen PUPR. Hal ini berarti, Kota Bandung adalah prioritas APBN untuk meningkatkan pembangunan yang layak huni dan berkelanjutan sesuai dengan sasaran pembangunan keciptakaryaan di mana sektor sanitasi termasuk di dalamnya. Dengan demikian, Kota Bandung dapat berpeluang untuk meningkatkan investasi pembangunan dari sumber dana APBN dengan syarat readiness criteria usulan pembangunan khususnya sanitasi dapat disiapkan dan terpenuhi. Walaupun kebijakan 2015-2019 Ditjen Cipta Karya mengatakan bahwa porsi APBN akan terus diupayakan menurun selaras dengan upaya pembinaan peningkatan investasi dari APBD Kabupaten/Kota, Masyarakat dan Swasta.

Selanjutnya, berdasarkan dari data APBD Kota Bandung yang tercantum pada Tabel 3.8 mengenai pertumbuhan belanja sanitasi APBD Kota Bandung. Dapat diketahui bahwa sub sektor air limbah domestik, SKPD Kota Bandung yang menangani yaitu Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (Distarcip) cukup konstans melakukan kegiatan pembangunan dengan tiga fokus utama yaitu pendampingan dana DAK Bidang Cipta Karya, penyuluhan peningkatan kualitas perumahan serta penyediaan air bersih dan sanitasi di lokasi yang tidak terjangkau oleh PDAM dan PD Kebersihan. Untuk biaya pemeliharaan dan operasional output pembangunan, Distarcip Kota Bandung belum mengalokasikan kegiatannya hingga saat ini. Hal ini perlu diperhatikan ke depannya, agar dapat diupayakan adanya pemeliharaan serta peningkatan fungsi dari sarana dan prasarana sanitasi yang dibangun oleh Distarcip.

Untuk subsektor persampahan, kegiatan pembangunan dilakukan oleh Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) serta PD Kebersihan sebagai operator. Kebutuhan pendanaan pengelolaan persampahan ke depannya di kota bandung adalah untuk meningkatkan kapasitas sistem dan manajemen pengelolaan persampahan disertai dengan penambahan armada pengangkutan sampah agar cakupan layanan persampahan lebih meningkat. Selain itu, dana yang dibutuhkan selanjutnya adalah pengembangan teknologi 3R dalam pengelolaan sampah di masyarakat secara mandiri seperti penggunaan biodegester , komposter dan lainnya. Hal ini telah cukup dialokasikan oleh BPLH dan PD Kebersihan namun dirasakan masih kurang mengingat kebutuhannya masih cukup tinggi. Oleh karena itu, upaya penambahan pendapatan dari retribusi sampah sebagai bentuk partisipasi masyarakat mutlak diperlukan dan perlu ditingkatkan.

(18)

3-18 Untuk sektor drainase, Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung telah konsisten melaksanakan program pembangunan saluran drainase/gorong-gorong untuk mengurangi luasan genangan air/banjir serta program pengendalian banjir dengan fokus sasaran di sungai. Untuk biaya pemeliharaan, DBMP pun telah berupaya melakukan rehabilitasi dan pemeliharaan gorong-gorong.

Adapun untuk analisis komitmen pendanaan sanitasi di Kota Bandung sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan komitmen Kepala Pemerintahan yaitu Walikota Bandung dalam pembangunan sanitasi. Jika melihat dari Tabel 3.12 terdapat persen komitmen pendanaan sanitasi yang memang masih cukup kecil dibandingkan dengan urusan pendidikan dan kesehatan. Namun, ke depannya diperkirakan akan meningkat disebabkan adanya komitmen dari Walikota Bandung sebagai bagian dari AKOPSI (Alinasi Kota Peduli Sanitasi).

Gambar

Tabel 3. 1 Visi dan Misi Sanitasi Kota Bandung  VISI KOTA
Tabel 3. 2  Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kota Bandung
Tabel 3. 3 Tahapan Pengembangan Persampahan di Kota Bandung
Tabel 3. 4 Tahapan Pengembangan Drainase Perkotaan Kota Bandung
+6

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena sebagian besar peternak di dusun Getasan memberikan makan sapi dengan rumput gajah, peternak menggunakan tali yang berasal dari karung bagor bekas

 Klien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap  Klien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan  Klien mampu menggunakan obat dengan benar. SP 3 :

Untuk lokasi terpilih “Urimesing” dapat dilihat dari beberapa kriteria yaitu : kriteria lokasi dari hasil pengolahan data expert choice menunujukan lokasi urimesing

Hasil analisis ketahanan hidup dengan stadium kanker menunjukkan bahwa stadium tidak mempengaruhi ketahanan hidup secara signifikan karena secara keseluruhan, EPG

Pada laporan ini, dapat diperoleh gambaran bahwa pasien tipe mutasi yang ada adalah mutasi tunggal (single

Peran Modal Sosial dan Kearifan Lokal (Catur Guru) Dalam Efisiensi Biaya Transaksi Untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Provinsi Bali R.409 4 0028058103

Serta didukung oleh tema interior museum yang atraktif dengan desain bentuk yang asimetris sesuai dengan konsep modern, sehingga dapat menjadi sarana rekreasi

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil Karya Tulis Ilmiah yang berjudul