• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENTLE BIRTH VOLUME 2 NO.2 JUL-DES 2019 ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GENTLE BIRTH VOLUME 2 NO.2 JUL-DES 2019 ISSN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN SENAM LANSIA DENGAN PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI PUSKESMAS HESSA AIR GENTING KABUPATEN ASAHAN

Atika Pohan

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan As Syifa di Kisaran

ABSTRACT

Manusia lanjut usia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan fisiologis, fisik, kejiwaan, dan sosial. Perubahan ini akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan termasuk kesehatannya.Senam Lansia adalah olahraga ringan yang mudah dilakukan dan tidak memberatkan, yang dapat diterapkan pada lansia. Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dindinng arteri. Tekanan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah jantung, ketegangan arteri, dan volume, laju serta kekentalan (viskositas) darah. Tekanan darah terjadi akibat fenomena siklis (Pipin Sumantrie, 2013).

Kata Kunci : Lansia, Senam Lansia, dan Tekanan Darah

PENDAHULUAN

Berdasarkan data proyeksi penduduk, tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Diprediksi jumlah penduduk lansia tahun 2020 (27,08 juta), tahun 2025 (33,69 juta), tahun 2030 (40,95 juta) dan tahun 2035 (48,19 juta) (KEMENKES RI Pusat Data dan Informasi, 2017). Usia harapan hidup lansia di Indonesia pada tahun 2013 adalah 70,07%, angka ini meningkat menjadi 70,59% pada tahun 2014 dan 70,78% pada tahun 2015.

Proporsi lansia perempuan yang mengalami keluhan kesehatan lebih tinggi daripada lansia laki-laki pada semua kelompok umur. Kemunduran fungsi organ tubuh khususnya pada lansia menyebabkan kelompok ini rawan terhadap serangan berbagai penyakit kronis seperti diabetes mellitus, stroke, gagal ginjal, kanker, hipertensi, dan jantung. Adapun jenis keluhan kesehatan yang paling banyak dialami lansia adalah keluhan lainnya, yaitu jenis

keluhan kesehatan yang secara khusus memang diderita lansia seperti asam urat, darah tinggi, darah rendah, reumatik, diabetes, dan berbagai jenis penyakit kronis lainnya (BPS, 2014).

Diseluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4 % orang diseluruh dunia mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara berkembang, termasuk Indonesia (Yonata, 2016).

Komplikasi hipertensi menyebabkan sekitar 9,4 kematian diseluruh dunia setiap tahunnya. Hipertensi menyebabkan setidaknya 45% kematian karena penyakit jantung dan dan 51% kematian karena stroke. Kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler, terutama penyakit jantung koroner dan stroke diperkirakan akan terus meningkat mencapai

(2)

23,3 juta kematia pada tahun 2030 (Infodatin Jantung, 2014).

Hasil laporan Badan Litbangkes untuk registrasi penyebab kematian di 15 kabupaten/kota tahun 2011, proporsi penyebab kematian kelompok lansia (umur 55-64 tahuin dan >65 tahun) yang paling tinggi adalah stroke dan ischemic heartdiseases (Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2013).

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan lansia sehat, mandiri, berkualitas dan produktif. Bentuk pelayanan kesehatan santun lanjut usia yang diberikan di Puskesmas yaitu memberikan pelayanan yang baik, berkualitas dan berkesinambungan untuk dapat menjangkau sebanyak mungkin sasaran lansia yang terdapat di wilayah kerja puskesmas, melakukan koordinasi dengan lintas program dengan pendekatan siklus hidup dan melakukan kerja sama dengan lintas sektor, termasuk organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha dengan asas kemitraan. Kelompok lansia atau dikenal juga dengan sebutan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia atau Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) adalah suatu wadah pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) untuk melayani penduduk lansia dengan menitikberatkan pelayanan kesehatan pada upaya promotif dan preventif. Jumlah posyandu Lansia terbanyak berada di Provinsi Jawa Timur yaitu berjumlah 54.522 posyandu lansia (Direktorat BUKD, Kemenkes RI, 2015).

PERMASALAHAN

Seiring dengan bertambahna usia, Fungsi fisiologis mengalami penurunan, selain

itu masalah degeneratif menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi penyakit menular. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa penyakit terbanyak pada lanjut usia adalah penyakit tidak menular antara lain hipertensi, artritis, stroke, Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) dan diabetes mellitus (Kemenkes, 2016).

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

“Adakah hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia di puskesmas Hessa Air Genting Kabupaten Asahan Tahun 2018.?”

TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia di Puskesmas Hessa Air Genting Tahun Kabupaten Asahan 2018

MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :

1. Bagi peneliti

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia.

2. Bagi Responden

Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi lansia tentang manfaat senam lansia.

3. Bagi STIKes As Syifa

Dengan terlaksananya penelitian ini di harapkan dapat menjadi bahan referensi dan

(3)

bahan bacaan di perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan As Syifa Kisaran 4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai acuan peneliti untuk penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu untuk mengetahui hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia di Puskesmas Hessa Air Genting Kabupaten Asahan.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini dilakukan di Puskesmas Hessa Air Genting Kabupaten Asahan.

Adapun waktu penelitian dimulai pada bulan Agustus 2018.

Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini adalah Lansia yang mengikuti kelas Lansia di Puskesmas Hessa Air Genting Kabupaten Asahan.

Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisa Univariat berupa distribusi frekuensi dan analisa Bivariat yang menggunakan uji Uji Square yang datanya ordinal dan ordinal.

1. Analisi Univariat

Analisis ini dilakukan untuk mendeskripsikan hasil distribusi frekuensi dari masing-masing

variabel independen (senam lansia) dan variabel dependen (tekanan darah) sesuai dengan tujuan penelitian

2. Analisi Bivariat

Analisis yang digunakan adalah hasil tabulasi silang. Untuk menguji hipotesa digunakan uji statistik denagn menggunakan uji data kategori Chi Square Tes pada tingkatan kepercayaan 95% (α = 0,05). Apabila diperoleh hasil statistik ρ> 0,05 maka ada hubungan antara senam lansia dengan penurunan tekanan darah

HASIL DAN PEMBAHASAN

Adapun hasil penelitian hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia di Puskesmas Hessa Air Genting Kabupaten Asahan Tahun 2018 adalah sebagai berikut :

1. Senam Lansia

Dari hasil penelitian dapat dilihat dari 30 responden yang mengikuti senam lansia berdasarkan partisipasi lansia yang mengikuti senam secara keseluruhan dengan mayoritas sebanyak 20 orang (66,7 %).

Menurut Moniaga (2012) pandangan sebagian masyarakat yang menanggapi lansia sebagai manusia yang tidak mampu, lemah, dan sakit-sakitan, menyebabkan segala aktivitas sangat dibatasi dan kondisi ini diperparah oleh tidak adanya waktu, tempat, dan kesempatan bagi lansia dalam melakukan aktivitas. Sementara menurut Sctotch yang dikutip dari Darmojo dan Martono latihan yang baik untuk para lansia adalah dengan berolahraga. Jenis olahraga yang bisa dilakukan pada lansia antara lain senam. Olahraga dengan teratur seperti

(4)

senam lansia dapat mencegah atau memperlambat kehilangan fungsional organ. Bahkan dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan atau olahraga seperti senam lansia dapat mengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti hipertensi, DM, penyakit arteri koroner, dan lain-lain (Moniaga, 2018).

2. Tekanan Darah Lansia

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa dari 30 responden yang mengikuti senam lansia yaitu dengan mayoritas tekanan darah <150 berjumlah 22 orang (73,3%).

Menurut Moniaga (2012) tekanan darah adalah daya yang diperlukan agar darah dapat mengalir didalam pembuluh darah dan beredar mencapai semua jaringan tubuh. Darah dengan lancar beredar keseluruh bagian tubuh berfungsi sangat penting sebagai media pengangkut oksigen serta zat-zat lain yang diperlukan bagi kehidupan sel-sel tubuh. Selain itu darah juga berfungsi sebagi pengangkut metabolisme yang tidak berguna lagi dari jaringan tubuh. Pada lansia kenaikan tekanan darah hampir sering terjadi pada lansia sekitar 60% pada usia 70 tahun keatas pada lansia yang sudah menderita hipertensi. Seiring bertambahnya usia tubuh akan mengalami penurunan elastisitas pada pembuluh darah sehingga tekanan darah secara otomatis akan naik.

3. Analisis Hubungan Senam Lansia dengan Penurunan Tekanan Darah pada Lansia di Puskesmas Hessa Air Genting Kabupaten Asahan

Menurut Veronique dan Robert (2005) menyimpulkan bahwa olahraga dapat diterapkan

sebagai manajemen hipertensi bukan hanya untuk pencegahan tetapi juga dapat menjaga kesehatan lansia. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astari (2012) yang menyimpulkan ada hubungan yang signifikan antara senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia. Senam lansia yang dilakukan berulang-ulang, maka lama kelamaan penurunan tekanan darah akan berlangsung lama. Itulah sebabnya latihan aktivitas fisik senam secara teratur dapat menurunkan tekanan darah. Jenis olahraga yang efektif menurunkan tekanan darah adalah senam lansia dengan intensitas sedang (Rigaud, 2006) dalam (Dwi sulastri, 2015).

Latihan juga telah diketahui dapat meningkatkan High Density Lipopotein (HDL), yang pada gilirannya membantu proses metabolisme dan menurunkan kadar Low Density Lipopotein (LDL) (Smaltz & Bare, 2010). Senam lansia yang terdiri dari latihan pemanasan, latihan inti, dan latihan pendinginan yang mana gerakan-gerakan didalamnya juga bertujuan untuk menurunkan kecemasan, stres dan menurunkan tingkat depresi. Penurunan tersebut akan menstimulasi kerja sistem syaraf perifer terutama parasimpatis yang menyebabkan vasodilatasi penampang pembuluh darah akan mengakibtakn terjadinya penurunan tekanan daraha baik sistolik maupun diastolik (Hardjana, 2008) dalam (Dwi sulastri, 2015).

Penelitian yang dilakukan Sukartini (2010) tentang manfaat senam terhadap kebugaran lansia didapatkan hasil mampu menunjukkan bahwa senam dapat mempengaruhi tidak hanya stabilitas nadi, namun juga stabilitas tekanan

(5)

darah, pernafasan dan kadar immunoglobulin dalam Dwi Sulastri (2015).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Setiawan, Yunani & Kusyati (2014) yang menemukan bahwa frekuensi senam lansia terhadap nadi menunjukkan hubungan yang sedang (r = - 0, 394) dan berpola negative yang berarti semakin tinggi frekuensi senam lansia, maka semakin rendah denyut nadi (Dwi Sulastri, 2015).

Dari hasil penelitian ini yang menggunakan uji statistik Chi Square didapatkan ada hubungan yang signifikan antara senam lansia terhadap tekanan darah (p value = 0,004)dimana α = 0,005 atau p value < α= 0,005 yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Berdasarkan hasil penelitian ini juga dapat dilihat bahwa senam lansia 13,500 kali memiliki hubungan dengan penurunan tekanan darah pada lansia dengan nilai OR = 13,500 dan CI = 1,955-93,246.

Aktivitas olahraga senam lansia membantu tubuh agar tetap bugar dan tetap segar karena melatih tulang agar tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berlebihan didalam tubuh (Suroto, 2004). Hasil penelitian ini sejalan denagn penelitian yang dilakukan oleh Tinti (2006) yang menyebutkan ada hubungan latihan senam terhadap peningkatan kebugaran yang ditunjukkan dengan penurunan tekanan darah istirahat.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia di Puskesmas Hessa Air Genting

Kabupaten Asahan Tahun 2018, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Adanya hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia di Puskesmas Hessa Air Genting Kabupaten Asahan (p- value 0,004) dengan nilai α = 0,005.

2. Ha diterima dengan hasil uji statistik p value 0,004 < α = 0,005dengan OR 13,500 dan CI 1,955-93,246 dan Ho ditolak.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka disarankan beberapa hal sebagai berikut : 1. Bagi Peneliti

Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia.

2. Bagi Institusi

Diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan bahan bacaan di perpustakaan Sekoah Tinggi Ilmu Kesehatan As-Syifa Kisaran. 3. Bagi Lansia

Diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi lansia tetntang manfaat senam lansia bagi kesehatan lansia.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dapat menjadi acuan peneliti untuk penelitian lebih lanjut mengenai hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia.

(6)

DAFTAR PUSTAKA

Anggriyana dkk. 2017. Senam Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika

Buchari Lapau. 2015. Metodologi Penelitian Kebidanan. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Destiara dkk. 2017. Jurnal Hubungan Pengetahuan dan Riwayat Hipertensi Dodi Izhar. 2017. Jurnal Ilmiah Universitas

Btanghari Jambi vol. 17 No. 1 Tahun 2017

Dwi Sulastri. 2015. Skripsi Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi di Puskesmas Kalijambe Sragen. Surakarta : Program Studi

S1 KEPERAWATAN STIKES

KUSUMA HUSADA SURAKARTA. Fatimah. 2017. Merawat Manusia Lanjut

Usia. Jakarta : Trans Info Media KEMENKES RI. Analisis Lansia. Pusat

Data dan Informasi. 2017 Padila. 2017. Buku Ajar Keperawatan

Gerontik. Yogyakarta : Nuha Medika Pedoman Pembianaan Kesehatan Lanjut Usia

Bagi Petugas Kesehatan. 2017. Dinas Kesehatan Sumatra Utara.

Pipin Sumantrie. 2013. Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Tekanan Darah Pada Lansia di Panti Werdah Pematangsiantar. Pematangsiantar

Siti Fatmawati dkk. 2017. Jurnal Keperawatan Muhammadiya

Soekidjo Notoatmodjo.2014. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT RINEKA CIPTA

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitataif, dan R&D. Bandung : Alfabeta

Sunaryo. 2016. Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : CV. ANDI OFFSET

http://irasuryani5.wordpress.com/2013/10/07/sen am-lansia-2/

Referensi

Dokumen terkait

(1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (1) tidak mengambil keputusan bersama dengan Bupati terhadap rancangan peraturan

Buku Statistik Dinas Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2015 ini merupakan Data dan Informasi yang dituangkan dalam Tabel Permenhut

Masjid sebagai tempat beribadah dan tempat berkumpul umat muslim tentunya memiliki dana yang tidak bisa dikatakan sedikit untuk dikelola dengan maksimal sehingga pemanfaatan

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014 tentang pusat kesehatan masyarakat bahwa pusat kesehatan masyarakat yang selanjutnya disebut puskesmas

Solusi yang ditawarkan oleh ajaran Islam untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) muslim antara lain sebagai berikut : (a) Supaya suami sebagai

dapat ditentukan dengan pertamaa, dinyatakan sebagai besaran dan sudutnya dari sumbu x horizontal positif atau kedua dinyatakan sebagai komponen kearah sumbu x dan komponen

Tokoh cerita (Character), menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (2007: 165) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama, yang oleh pembaca

Untuk melihat lebih jauh faktor-faktor yang mendorong efektivitas pengereman baik pada rem cakram maupun jenis tromol, maka dilakukan penelitian lanjutan pada