• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN SEMENTARA LOKASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN SEMENTARA LOKASI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN SEMENTARA LOKASI

Kelurahan : Sambinae

Kecamatan : Mpunda (Pemekaran dari Kec.Rasanae Barat)

Kota : Bima

Propinsi : Nusa Tenggara Barat

Kategori : Partisipasi Perempuan Rendah Tim : Ary Wahyono dan Marini Purnomo

A. Ringkasan Hasil (Temuan) Sangat Sementara

Pertanyaan 1 : Apakah masalah-masalah, hambatan-hambatan dan juga peluang-peluang utama yang mempengaruhi pemberdayaan ekonomi-sosial dan politik perempuan, khususnya berhubungan dengan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan.

Masyarakat Bima adalah masyarakat yang menganut ajaran agama Islam yang taat. Hal ini tidak bisa dipisahkan dengan sejarah peran Kota Bima yang dahulu merupakan salah satu pusat perkembangan Islam di Nusantara dengan ditandai berdirinya Kasultanan Bima.

Salah satu bukti masyarakat Bima masih memegang teguh ajaran agama terlihat dari pakaian yang dikenakan untuk perempuan yang sangat rapat atau disebut rimpu, Rimpu adalah pakian tradisional sehari-hari bagi perempuan yang keluar rumah. Bagi perempuan yang belum menikah bentuk rimpu mirip seperti cadar (lihat foto).

Sejak semaraknya jilbab di tanah air sekitar tahun 1990-an, rimpu telah digantikan oleh jilbab terutama untuk perempuan yang belum menikah. Rimpu untuk perempuan belum menikah saat ini sudah sangat jarang terlihat (bahkan mungkin tidak ada lagi), sementara rimpu untuk perempuan yang sudah menikah masih terdapat di desa-desa pelosok di Kabupaten Bima (lihat foto).

Perempuan ideal pada masyarakat yang menjunjung tinggi ajaran agama Islam adalah perempuan yang tidak pernah menginggalkan rumah tanpa seijin suaminya. Perempuan yang sudah bersuami hanya menyerahkan diri pada suami (Mansour Fakih, 1999: 130). Tetapi kultur semacam ini tidak sepenuhnya dianut di Bima. Banyak perempuan terutama di masyarakat level kelurahan memiliki kegiatan di luar rumah, banyak perempuan ikut mencari nafkah membantu suaminya. Keikutsertaan istri membantu suami mencari nafkah bukan suatu keterpaksaan melainkan sebagai bentuk loyalitas kepada suami dan keluarga.

Pekerjaan membantu suami ini diyakini oleh kalangan perempuan sebagai ibadah. Misalnya, seorang ibu yang seharian mengurusi rumah tangga tetapi pada sorenya harus membantu suami ikut memecah batu di gunung. Tugas ini adalah bagian dari kepatuhan terhadap suami. Pekerjaan memecah batu tidak dilihat sebagai pekerjaan lelaki melainkan bagian dari loyalitas terhadap suami dan keluarganya dan juga bukan keterpaksaan. Pekerjaan pemecah batu bukan monopoli pekerjaan lelaki. Pada kasus pengambilan batu di gunung ini, masyarakat tampaknya tidak mengenal pembagian kerja antara lelaki-perempuan. Pembagian kerja lebih didasarkan pada pembagian kekuatan

(2)

fisik-tenaga, bukan sifat atau bentuk pekerjaan. Walapun demikian, ada pekerjaan yang cenderung dilakukan oleh kalangan lelaki, misalnya tukang ojek, tukang bangunan, joki kuda. Pekerjaaan seperti ini tidak dilakukan kaum perempuan di kelurahan ini.

Jikalau terjadi perempuan jarang bicara di dalam pertemuan, menurut seorang informan perempuan, disamping memang tidak terbiasa mengemukakan pendapat di muka umum, dan lebih mengikuti apa yang disampaikan kaum lelaki, namun lebih dari itu disebabkan juga karena mereka tidak bisa secara utuh pikirannya ada di pertemuan tersebut melainkan memikirkan pekerjan domestik, yakni mengurus rumah tangga, mulai memasak, ngasuh anak dan juga bekerja membantu suami, pekerjaan rumah yang belum selesai. Perempuan lebih suka pertemuan berjalan tepat waktu, dan tidak suka berdebat, karena apabila berdebat waktu akan semakin molor padahal pekerjaan di rumah juga menunggu mereka.

”Kita mending diam dan dengar saja, karena kalo kita debat lagi mereka (baca: lelaki) tidak suka, dianggap bawel, dan ini akan makin memperpanjang waktu pertemuan, padahal urusan di rumah belum kelar”

(Relawan Perempuan, Kel. Sambinae)

Akses perempuan miskin terkait dengan sifat desain program P2KP dirasa tidak memberikan peluang banyak terutama bagi perempuan miskin. Design program yang memberikan porsi yang besar untuk kegiatan fisik (70%)), sosial (10%) dan ekonomi (20%) melahirkan image bahwa P2KP ini adalah pekerjaan fisik yang identik dengan pekerjaan laki-laki. Karena bentuk program yang banyak dilahirkan adalah bentuk2 fisik bangunan seperti jalan, jembatan, rabat gang dll yang banyak dikerjakan oleh kaum lelaki. Esensi dari peran perempuan agar terlibat dalam program ini belum ditangkap oleh kaum perempuan, sehingga dengan image yang muncul, secara perlahan perempuan yang pada awal disosialisasikannya program P2KP banyak terlibat mulai menarik mundur langkahnya, karena merasa tidak kompeten melakukan hal2 fisik yang dominan dalam program P2KP.

Apabila ingin meletakkan dimana peran serta perempuan pada pembangunan jalan ata pekerjaan fisik lainnya tampaknya tidak ada tempat di kegiatan ini. Kegiatan ini dianggap menjadi urusan lelaki, Kegiatan fisik ini juga tidak ada sentuhan pemberdayaan masyarakat, Pembangunan berbasis komunitas dalam pembangunan fisik lebih bersifat semi gotong-royong. Mereka diupah sebagai warga yang membangun jalan. Kegiatan fisik ini dimulai ketika warga diajak ketua RT. Tidak semua warga RT terlibat dalam kegiatan fisik ini. Jadi dengan demikian, target komunitas dalam pembangunan fisik tidak jelas. Pembangunan fisik tidak ada hubungannya dengan peran serta warga miskin dan kaum perempuan. Oleh karena itu, ada warga miskin yang tidak bisa hadir karena lebih memilih mencari nafkah, seperti berkebun.

“P2KP itukan program fisik, jadi itu merupakan pekerjaan laki-laki”

(3)

Sementara itu, untuk bidang ekoonomi (dana bergulir) lebih banyak dimanfaatkan oleh kalangan warga yang memiliki usaha (kalangan ekonomi produktif), bukan warga miskin yang perlu dibantu. Disini desain pembedayaan masyarakat pada program ini terkesan tidak memberikan peluang bagi perempuan miskin. Karena kebanyakan dari perempuan miskin yang terdaftar sebagai warga miskin bukanlah mereka yang memiliki usaha (kalangan ekonomi produktif). Disisi lain, salah satu alasan warga miskin tidak bisa menikmati dana bergulir adalah karena tidak tertarik dengan tawaran dana bergulir dari P2KP yang rumit dan sulit pengurusan adminisitrasinya. Sekalipun bunga pinjaman dari P2KP lebih kecil dari bunga pinjaman dari pelepas uang /renternir. Persyaratan harus memiliki KTP juga ternyata menjadi masalah bagi warga miskin kelurahan ini. Kesulitan dan mahalnya biaya mengurus KTP menyebabkan mereka tidak tertarik dana bergulir ini. Ada banyak warga miskin yang ditemui tidak memiliki KTP, kalaupun ada sudah "mati", tidak mau membuat atau perpanjang lagi karena biaya pembuatan KTP dirasa sangat mahal. Memiliki KTP seolah menjadi barang mahal di kelurahan ini, yang kemudian berakibat pada terhambatnya warga miskin untuk mendapatkan manfaat P2KP, terutama untuk memanfaatkan kegiatan social dan dana bergulir. Padahal KTP menjadi syarat dasar dalam berurusan, termasuk berurusan dengan P2KP. Belum lagi harus berkelompok dan mengisi dokumen pengajuan yang agak rumit dan tebal. Warga miskin di kelurahan menyadari akan hal ini karena ketidaksanggupan mereka memenuhi persyaratan yang diminta.

Ada peluang di kalangan orang miskin di kelurahan Sambinae yang potensial sebagai kelompok pemafaat PNPM namun tidak dijadikan target sasaran karena alasan persyaratan dan ketentuan, padahal perempuan miskin di Sambinae cukup memiliki waktu luang. Aspirasi perempuan miskin pada umumnya berkeinginan untuk berdagang sayuran, ikan dan sebagian lainnya lagi menekuni pekerjaan menenun. Sebenarnya, akses perempuan miskin tidak jauh berbeda dengan akses warga miskin lainnya yakni problem di persyaratan dan ketentuan program dana bergulir. Tidak ada hambatan yang serius dari suaminya bagi perempuan miskin di kelurahan ini. Suami sangat mendorong istrinya untuk bisa berdagang sayuran atau jualan ikan laut. Problemnya tidak ada modal untuk berdagang. Oleh karena itu, jika ada kesan bahwa dana bergulir dari program P2KP hanya dimanfaatkan oleh warga kelurahan yang dianggap mampu memenuhi persyaratan ada benarnya. Pada umumnya warga yang dianggap mampu memenuhi persyaratan adalah warga-warga kelurahan yang sudah punya usaha/dagang, seperti pedagang warungan, tukang ojek, dan mempunyai KTP tentunya.

Dilema RR (pengembalian dana bergulir) sebesar 85% membuat BKM "paranoid" jika memberikan bantuan tsb kepada warga miskin yang diragukan kemampuannya mengembalikan dana, sehingga banyak dana yang digulirkan kepada masyarakat yang relatif mampu membayar/mengembalikan, yang namanya tidak terdaftar dalam KK miskin

Anggota BKM (atau mungkin juga faskel) juga tidak sempat menjelaskan secara tuntas misi program dana bergulir, hal ini terlihat mereka tidak mengetahui soal tanggung renteng atau substansi dari berkelompok dalam KSM ekonomi (harus 5 orang). Makna berkelompok ini kurang difahami oleh warga yang menjadi pemanfaat dana bergulir. Sehingga tidak jarang keharusan berkelompok ini

(4)

malah dianggap sebagai beban bagi para pihak yang ingin segera memanfaatkan P2KP, tapi belum bisa mendapatkan sejumlah anggota kelompok yang dipersyaratkan.

Soal waktu dan kelancaran dana pinjaman yang menjadi target ketika BLM ini turun juga menjadi masalah sebenarnya. Dana BLM yang telah keluar harus segera disalurkan ke masyarakat. Sementara itu, disisi lain tidak terlalu mudah mencari calon peserta/pemanfaat program karena banyak terbentur soal persyaratan administrasi seperti memiliki KTP, punya usaha, mau swadana (sharing)), berkelompok dlsb. Infroman warga miskin yang ditemui yang tidak mendapatkan dana bergulir umumnya mengurungkan untuk pinjman ketika melihat persyaratan. Oleh karena bisa diperkirakan, dalam penyaluran BLM ini tidak menggunakan daftar warga miskin dari hasil pemetaan swadaya.

Untuk kegiatan sosial yang mensyaratkan adanya swadaya 30% dari warga miskin juga menimbulkan dilema yang sama dengan dana bergulir. Banyak pemanfaat kegiatan sosial ini adalah mereka yang mau dan mampu menanggung biaya transportasi ke tempat kursus sebagai bagian dari swadana mereka. Padahal ada banyak warga miskin yang ingin memanfaatkan kegiatan ini tapi mundur teratur ketika diketahui tempat kursus agak jauh sehingga membutuhkan transportasi untuk menjangkaunya. Akhirnya, yang memanfaatkan kegiatan2 sosial ini juga berasal dari mereka yang relatif masih mampu, dan terlihat dominan berasal dari para kerabat anggota BKM. Ini sebenarnya juga disadari dan diakui anggota BKM, tapi mereka berkilah bahwa memang tidak ada warga miskin yang mau ikut, karena mereka tidak punya/tidak mau bayar ongkos ke tempat kursus, sehingga daripada tidak dimanfaatkan kegiatan ini, maka para kerabat, istri, anak mereka yang dilibatkan dalam kegiatan sosial ini. Ini kemudian memberikan kesan bahwa warga miskin tidak merasakan manfaat kegiatan P2KP di kelurahan ini.

”Saya ikut karena tidak ada yang mau ikut kursus, ongkos harus sendiri, mereka (warmis) tidk mau/tidak mampu juga”

(KSM Sosial)

Kegiatan program P2KP di Kelurahan Sambinae praktis dilakukan oleh 3 orang anggota BKM, yang

semuanya lelaki. Ketiga orang ini paling dominan dalam menjalankan program P2KP, yakni mulai dari kegiatan persiapan ketika BLM akan turun sampai dengan menentukan calon penerima BLM. Ketiga pengurus BKM ini yang sering melakukan komunikasi dengan Faskel. Aktivitas BKM hampir tidak diketahui oleh sebagian besar anggota BKM. Mengapa ketiga pengurus BKM ini yang paling dominan ? Menurut informasi dari Faskel disebabkan anggota pengurus BKM yang lain tidak mau aktif bekerja karena alasan sibuk kerja. Ketiga orang ini yang mau bekerja. Karena itu, ketiga orang ini yang aktif berkunjung di semua RT yang tersebar di tiga kampung/dusun (Panggi, Sambinae, dan Ni’u). Di lain pihak, menurut informasi dari anggota BKM yang lain, bahwa BKM tidak pernah melakukan rapat atau pertemuan terutama pada saat program BLM akan turun. Juga soal lain, misalnya Soal siapa yang harus belanja semen dalam pekerjaan rabatisasi jalan gang di Panggi, misalnya adalah salah satu penyebab terjadinya friksi antara pengurus BKM Panggi dan Sambinae. Beberapa informan BKM yang kita datangi mengemukakan bahwa Faskel jika berkunjung di

(5)

kelurahan ini hanya menemui ketiga orang ini. Faskel tidak pernah mengajak rapat BKM untuk membahas persoalan yang dihadapi di kelurahan ini terkait dengan program P2KP. Jadi dengan demikian tidak semua anggota BKM berkomunikasi dengan Faskel. Kondisi ini memperlihatkan peran BKM bukan hanya sebagai pengawas program, tapi juga lebih sebagai perlaksana program. Di lihat dari sisi budaya, sebenarnya tidak ada hambatan yang berarti bagi istri atau perempuan untuk melakukan kegiatan di luar rumah walaupun peranan suami cukup penting sebagai kepala rumah di masyarakat. Istri harus menghargai suami. Setiap kegiatan harus sepengetahuan suami walaupun kita tidak pernah mendengar suami melarang istri ikut kegiatan di luar rumah. Istri beraktivitas harus sepengetahuan suami. Hal-hal seperti ini diyakni karena bagian dari pengaruh ajaran agama yang kuat di masyarakat ini. Peluang istri berkativitas di luar rumah besar. Kalangan ibu rumah tangga yang hanya mengurusi kegiatan di rumah, seperti memasak dan mengasuh anak, dan urusan domestik lainnya memiliki harapan bisa beraktivitas di luar rumah. Pilihan aktivitas pada umumnya berdagang sayuran atau bakulan. Ketiadaan modal adalah alasan yang dikemukakan. Tuntutan membantu suami untuk menambah penghasilan keluarga adalah alasan yang dikemukakan dan hal ini dianggap sebagai bentuk loyalitas terhadap suami dan keluarga.

Namun demikian jika melihat lebih jauh dari dinamika dalam pelaksanaan kegiatan P2KP dapat diperoleh kesan pengurus BKM yang aktif (Abubakar, Chaerudin dan Sofyan Hadi) tampaknya tidak begitu menginginkan ada perempuan yang kritis dalam kegiatan P2KP di kelurahannya. Tiga orang relawan perempuan yang semuanya profesinya guru dan berpendidikan D-II Pendidikan (sekarang sudah Sarjana Strata 1), menceritakan merasa diberhentikan begitu saja tanpa alasan yang jelas dan tanpa pemberitahuan, yang kemudian diganti begitu saja oleh perempuan lain. Salah satu dari perempuan ini adalah relawan lama yang dalam perjalanan P2KP di kelurhan ini diangkat BKM menjadi Manajer Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Dana Bergulir. Namun dalam perjalanan, perempuan ini diberhentikan karena dianggap tidak mampu menjalankan tugas. Dia dianggap tidak bisa menghitung angka, suatu alasan yang tidak masuk akal karena dia lulusan D2 dan seorang guru. Sementara kedua perempuan lainnya, yang relatif baik tingkat pendidikan dibandingkan perempuan kebanyakan di kelurahan ini, juga tidak pernah diminta membantu kegiatan P2KP. Kedua perempuan ini merasa ditinggalkan begitu saja setelah melakukan pendataan atau pemetaan swadaya diawal siklus P2KP. Ketiga perempuan ini kebetulan berpendidikan D2 (note: sekarang mereka sudah meraih gelar Sarjaan Strata 1) dan juga berprofesi guru tetapi dalam perjalanan model perempuan seperti ini justru tidak dipakai lagi oleh BKM dengan alasan bermacam-macam yang dikemukakan. Kekecewaan tersebut terlihat ketika mengktitisi program P2KP di kelurahan ini pada saat FGD yang dilakukan bahkan terjadi perdebatan yang cukup sengit dengan peserta FGD lain, yang kebetulan adalah istri salah seorang pengurus BKM yang dominan (aktif) dalam penentuan pelaksanan program P2KP.

Kekecewaan ketiga perempuan yang kritis dalam kegiatan P2KP merupakan gambaran bahwa kaum lelaki tidak begitu menyukai perempuan yang sering membantah. Mungkin kekritisan ketiga perempuan ini terkait posisinya yang masih lajang, belum bersuami walaupun sangat potensial sebagai penggerak program P2KP. Dugaan ini paralel dengan pengakuan seorang informan ibu

(6)

rumah tangga bahwa suami pada dasarnya tidak mau dibantah atau diprotes, jika istri sering protes atau membantah suami semakin marah.

Kalau kita protes, suami malah makin marah

(Perempuan di Kel. Sambinae, Kota Bima)

Sementara itu, di lain pihak hubungan antara anggota BKM sudah tidak lagi dilakukan, bahkan terjadi hubungan yang kurang baik di antara mereka yang bersumber pada pelaksanaan kegiatan P2KP di kelurahan ini. Bahkan ternyata diantara 13 anggota BKM ini ada yang tidak saling kenal satu sama lain. Beberapa informan mengemukakan bahwa ketiga orang BKM lebih dominan mengatur pelaksanaan program P2KP, misalnya soal klaim siapa yang harus membeli semen untuk pembangunan jalan gang. Soal lain adalah tidak ada penjelasan perubahan usulan yang direncanakan dengan turunnya bantuan pembangunan fisik. Realisasi dana bergulir atau program non fisik (KSM social) lainnya yang lebih terfokus di dusun-tempat tinggal 3 orang yang aktif tersebut.

Jika melihat dari uraian di atas, jelas tidak ada terlihat upaya perempuan untuk peningkatan partisipasinya dalam program P2KP. Hal ini terlihat terutama orang yang menentukan, yakni Faskel dan BKM semuanya kaum lelaki. BKM yang dijalankan oleh 3 orang itu semua lelaki. Sementara perempuan yang dilibatkan dalam program P2KP tidak menggambarkan perempuan yang memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan, Kalaupun ada perempuan yang terlibat dalam program P2KP, hanya sebagai pemanfaat atau pelaksan UP yang mereka tunduk kepada pengurus BKM yang tiga orang lelaki itu.

Pertanyaan 2 : Apa peran elit perempuan dalam kerelawan lokal, dan sejauh mana keterlibatan mereka mempengaruhi perempuan miskin sebagai penerima BLM ? 1) Profil relawan

2) Akses perempuan menjadi relawan 3) Latar belakang menjadi relawan 4) Manfaat menjadi relawan 5) Apa saja yang dikerjakan

6) Pandangan wanita miskin terhadap relawan

7) Quota perempuan dalam setiap siklus program P2K 8) Pola interaksi relawan dengan KSM, BKM dan Faskel 9) Usulan meningkatkan partisisipasi relawan.

Berdasarkan data dari SIM Korkot Kota Bima, dari 34 orang relawan terdaftar pada awal sosialisasi program P2KP 19 orang diantaranya adalah perempuan (55,88%). Secara absolute angka ini relative tinggi, melebihi persyaratan PAD (Project Appraisal Document). Namun jika dilihat dari sejarah proses rekrutmen relawan, makna angka ini hanya sekedar nominal angka yang memang sudah ditentukan sebagai design awal program, dimana sejak awal disosialisasikannya program ini sudah ditentukan bahwa perwakilan relawan perempuan setiap RT-nya 1:1 (artinya: perwakilan setiap RT terdiri dari 1 orang laki-laki, dan 1 orang perempuan). Ada kesan keterwakilan perempuan ini hanya

(7)

untuk memenuhi standar program saja atau dengan kata lain memenuhi target kuota saja. Ini terbukti dari hasil temuan lapangan berdasarkan pengakuan dari beberapa relawan perempuan, mereka mengaku bahwa mereka ditunjuk oleh pihak RT, atau bahkan oleh fasilitator kelurahan (faskel) ataupun tokoh masyarakat lainnya untuk mewakili RT-nya menjadi relawan. Pengakuan ini juga menunjukkan bahwa “keinginan”menjadi relawan tidak berdasarkan dari diri yang bersangkutan, tapi lebih pada ditunjuk untuk mewakili kelompok warganya (dalam hal ini RT). Ini kemudian semakin tampak dari motivasi mereka menjadi relawan.

”Saya mau jadi relawan biar mendapat proyek dari P2KP bagi warga RT saya, seperti rabat gang, dan karena memang didorong oleh RT setempat.

(Relawan Laki-laki, Kel.Sambinae, Kota Bima)

Sebenarnya, akses bagi perempuan menjadi relawan maupun posisi lain didalam pelaksanaan P2KP di Kelurahan Sambinae terbuka lebar. Tidak ada hambatan yang berarti baik dari suami ataupun masyarakat setempat. Tidak ada larangan perempuan melakukan kegiatan di luar rumah. Semua kalangan bisa menjadi relawan, mulai dari guru, wiraswasta, maupun ibu rumah tangga.

Selanjutnya, menarik untuk melihat beberapa kelompok relawan yang berhasil ditemukan di Kelurahan Sambinae. Temuan lapangan menunjukkan ada beberapa kelompok relawan yang ada di kelurahan ini, yaitu: Pertama, Relawan yang terdaftar sejak awal lahirnya P2KP di kelurahan setempat. Mereka ini adalah orang-orang yang sejak awal terdaftar (baca: didaftar) sebagai relawan, karena ditunjuk/dipilih oleh warga/RT/tokoh masyarakat untuk mewakili RT-nya masing-masing sebagai syarat program P2KP. Banyak dari mereka ini yang sebelumnya tidak tahu menahu untuk apa mereka menjadi relawan, apa program yang mau mereka ikuti. Sebagian dari mereka kemudian “ditugaskan” melakukan pendataan atau dalam istilah P2KP melakukan pemetaan swadaya (mendata warga-warga miskin yang ada di lingkungannya masing-masing). Sebagaian diatara mereka ini kemudian juga dipilih menjadi anggota BKM perwakilan lingkungannya masing-masing.

Kedua, Relawan yang menjadi anggota BKM. Dari 13 anggota BKM terpilih xx orang (xx%) diantaranya

berasal dari relawan yang memang sejak awal sudah aktif terlibat di kegiatan-kegiatan siklus P2KP, mulai dari rembug kesiapan masyarakat (RKM), pemetaan swadaya maupun di FGD Refleksi kemiskinan. Ketiga, Relawan peremajaan (terdaftar setelah BLM cair). Mereka ini sebagian adalah bagian dari keluarga anggota BKM (istri, anak,ponakan, sepupu dll) dan orang-orang yang menerima manfaat P2KP setelah BLM cair (terutama dari KSM social dan fisik). Mereka ini diiming-imingi oleh BKM akan atau telah mendapat manfaat P2KP. Keempat, Mereka yang mengaku dirinya relawan. Mereka ini adalah masyarakat yang kemudian mengaku dirinya adalah relawan P2KP, karena merasa terlibat aktif dalam proses pembangunan infrastruktur dari program P2KP. Keterlibatan mereka dalam proses pembangunan infrastruktur ini mendapat upah sebagai tukang. Kelima, mereka yang tidak

merasa dirinya sebagai relawan. Mereka ini pernah terdaftar (baca: didaftar) sebagai relawan, tapi merasa

tidak menjadi relawan lagi, karena merasa tidak dilibatkan dalam P2KP.

Namun demikian dalam siklus P2KP berikutnya, yakni pada pemilihan anggota BKM, perempuan yang terpilih menjadi anggota BKM hanya 2 orang. Dari siklus pemilihan anggota BKM, relawan

(8)

perempuan yang mewakili RT lebih memilih lelaki daripada perempuan. SSI terhadap relawan perempuan membenarkan soal ini. Salah seorang relawan mengemukakan bahwa perempuan merasa kurang percaya diri untuk tampil pada forum BKM.

Alasan menjadi relawan sangat normative, ingin membantu masyarakat dan memperbaiki lingkungan. Namun, jika ditelusuri dari pengalaman para relawan terlihat motivasi yang sesungguhnya, yakni ingin dibayar, menganggap ini adalah pekerjaan yang akan menghasilkan uang atau paling tidak akan mendapatkan sesuatu (bersifat materi) dari keiikutsertaan sebgaai relawan ini. Asumsi awal mereka tidak mungkin tidak dibayar, suatu saat (saat BLM cair) pasti mendapat sesuatu (materi). Misalnya, seorang relawan perempuan yang mengundurkan diri, mengemukakan bahwa alasan tidak dibayar dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan menenun tidak lagi aktif sebagai relawan. Sukarelawan bekerja tidak lepas mendapat imbalan. Jadi, tidak ada relawan yang benar-benar sukarela.

Jadi relawan P2KP itu tidak dibayar, jadi mending saya nenun saja

(Mantan relawan terdaftar P2KP)

Ketika anggota BKM terbantuk dan kegiatan PS berakhir, praktis tidak ada lagi kegiatan yang melibatkan relawan. Relawan yang bekerja adalah relawan yang terpilih sebagai anggota BKM atau relawan yang ditunjuk menjadi pengelola UP (manajer, bendahara, kolektor, dan KSM). Relawan yang tidak aktif di BKM, UP dan KSM merasa tidak lagi sebagai relawan. Kelompok Relawan ini pada umumnya kecewa karena tidak pernah diajak komunikasi dengan pengurus BKM. Setelah mereka bekerja mendata warga miskin, merasa “ditinggalkan” oleh BKM, relawan ini merasa dibiarkan begitu saja. Relawan mengaku tidak ada aktivitas yang terkait sebagai kerelawanan. Misalnya, ketika program turun, relawan ini tidak pernah diberitahu dan diajak kegiatan program tersebut. Relawan yang lama ini merasa menjadi pentonton ketika program akan turun di kelurahan ini. Namun demikian di sisi lain, relawan ini merasa “sungkan’ untuk bertanya kepada pengurus BKM ketika ditanyakan mengapa relawan tidak ngomong langsung pada BKM ketika dengar program itu akan turun.

Kondisi seperti ini kemudian dilakukan peremajaan sukarelawan. Namun demikian, jumlah relawan di kelurahan ini tidak jelas. Ada orang yang mengaku relawan tetapi tidak tercantum dalam daftar relawan. Ada yang merasa tidak diganti tetapi mendengar sudah ada orang yang menggantikan. Soal relawan baru, relawan yang tidak pernah ikut PS cenderung mengartikan relawan lebih pada pekerjaan seperti gotong-royong membangun jalan yang tidak diupah. Ada relawan yang merasa menerima beban dari warga yang memilih ketika tidak bisa berbuat apa yang pada tahap sosialisasi program ini akan memberikan bantuan program macam-macam yang sampai sekarang tidak kunjung tiba.

Dari uraian di atas dapat diberikan catatan bahwa, peluang perempuan untuk berpartisipasi dalam program P2KP cukup besar. Ada kepercayaan masyarakat terhadap kaum perempuan. Persoalannya

(9)

justru terjadi di kalangan kaum perempuan yang merasa rendah diri dari perempuan untuk tampil di depan publik.

Agak sulit mempertahankan nilai-nilai kerelawanan yang ideal karena orientasi para relawan selalu ingin mendapatkan imbalan. Ada sesuatu yang sifatnya materi ketika bekerja sudah menjadi dambaan. Sukarelawan yang berhenti setelah kegiatan PS melihat bahwa orang-orang Sambinae yang aktif di BKM, UP dan KSM tidak lepas dari dorong untuk mendapatkan imbalan. Mereka yang diuntungkan dengan adanya P2KP.

Upaya untuk meningkatkan peran serta sukarelawan terutama perempuan harus merubah desain P2KP secara keseluruhan. Kegiatan sukarelawan perempuan harus dikaitan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat, yang sebenarnya tidak pernah dilakukan secara sungguh-ssungghuh dalam setiap siklus P2KP. Tidak ada roh pemberdayaan atau pengembangan kapasitas masyarakat baik dalam kegiatan fisik, ekonomi dan sosial dalam program P2KP. Selain itu, faskel praktis tidak pernah melakukan pengembangan kapasistas masyarakat. Tidak ada interaksi yang intens antara sukarelawan dengan Faskel baik pada saat ada kegiatan P2KP dan terlebih pada saat tidak ada kegiatan P2KP. Bahkan sebagian besar relawan tidak kenal siapa faskel di kelurahan tersebut. Faskel tampaknya lebih banyak berhubungan dengan anggota BKM saja, itupun hanya segelintir anggota BKM yang dihubungi (3 orang yang aktif), tanpa pernah memfasilitasi pertemuan dengan seluruh anggota BKM. Sebagian besar anggota BKM merasa tidak terlibat dan tidak tahu menahu soal BLM. Pertanyaan III. Sejauhmana fasilitator perempuan mempengaruhi partisipasi perempuan (miskin) dalam P2KP?

Tidak ada fasilitator perempuan di (8) delapan kelurahan-lokasi PNPM 2007 di Kota Bima dari 5 orang faskel yang bertugas untuk 8 kelurahan ini, sehingga untuk kasus lokasi PNPM P2KP 2007 di Kota Bima, agak sulit menjawab pertanyaan ini. Jumlah faskel perempuan di Kota Bima di lokasi lama (P2KP 2004) sebanyak 2 orang, dilokasi PNPM P2KP (2007) tidak ada, dan dilokasi PNPM P2KP 2009 (baru dimobilisasi Juni 2009) sebanyak 5 orang. Secara keseluruhan ada 23 faskel di Kota Bima, dan 7 orang-nya perempuan.

Dari hasil perbincangan dengan beberapa orang faskel, menjadi faskel bukan tujuan utama. Menjadi faskel hanya terminal saja. Jika diterima menjadi pegawai negeri, pekerjaan faskel ditinggalkan. Faskel yang keluar menjadi PNS terjadi di Bima. Tidak hanya PNS, ada faskel yang keluar karena terpilih menjadi anggota KPU atau ingin menjadi anggota DPRD. Hal ini juga terkait erat dengan masa kerja (kontrak kerja) faskel yang tidak menentu, sehingga mereka selalu was-was tentang keberlanjutan kontrak kerjanya apakah diperpanjang atau tidak.

Soal penempatan faskel justru menarik jika di lihat dari sisi jender. Kebijakan TL KMW dan Korkot dalam membuat formasi tim faskel lebih banyak melihat aspek disiplin ilmu daripada aspek gender jenis kelamin. Uraian di atas memberikan informasi bahwa keberadaan faskel perempuan dalam sebuah tim fasilitator dikorbankan. Terlepas seorang Korkot/Tim KMW sadar atau tidak pentingnya peranan faskel perempuan dalam P2KP tetapi ketika dihadapkan sebuah pilihan, Korkot/Tim KMW lebih memprioritas pentingnya pengelaman seorang faskel baru untuk

(10)

mengikuti siklus pertama dalam pelaksanaan P2KP. Pengalaman siklus P2KP ini lebih utama dibandingkan dengan aspek jender.

Padahal diakui oleh faskel perempuan dari lokasi lama P2KP bahwa pendekatan yang dilakukan perempuan kepada perempuan miskin di kelurahan sedikit banyak akan berpengaruh terhadap peran serta perempuan miskin di keluarahan. Mereka umumnya akan terbuka dengan faskel perempuan jika ingin curhat atau menyampaikan keinginan mereka terkait program2 yang dijalankan oleh P2KP. Namun sayangnya, sejauh ini di Kota Bima, pertemuan2 terkait pelaksanaan siklus P2KP tidak pernah memisahkan pertemuan antara laki-laki dan perempuan baik di lokasi PNPM 2007 yang semua faskelnya laki-laki, maupun lokasi P2KP lama (2004) yang memiliki faskel perempuan. Hal semacam ini tidak pernah dipikirkan oleh faskel sebagai metode untuk menjaring aspirasi perempuan.

4. Strategi peningkatan kapasitas yang didorong permintaan, apakah yang sesuai dengan kebutuhan perempuan di lokasi penelitian dan hubungan apa yang memungkinkan untuk kegiatan peningkatan kapasitass yang ada sekarang ini di berbagai bidang/departemen. Tidak ada peningkatan kapasistas yang didorong permintaan kebutuhan perempuan di lokasi penelitian. Kasus penempatan faskel baru sebagaimana disebutkan di atas jelas kebutuhan (faskel perempuan) tidak diperhatikan. Contoh lain adalah tidak terangkatnya seorang Askot perempuan sebagai Korkot, Askot perempuan ini paling senior. Kawan-kawannya sudah keluar dari P2KP. Namun oleh karena tidak memiliki relasi “khusus” dengaan TL KMW , maka ia tidak bisa menjadi Korkot. Jenjang karier di P2KP yang tidak jelas telah menghambat karir seorang aktivis perempuan P2KP di Bima.

Kebutuhan perempuan di lokasi penelitian dalam konteks jumlah relawan perempuan di Bima terlibat cukup bagus. Jumlah perempuan relawan sudah sekitar 50%. Namun jika ditelusuri lebih lanjut angka itu tidak memiliki arti apa-apa dalam konteks tujuan P2KP. Jumlah perempuan sukarelawan tersebut terpenuhi karena faskel mencari dan menunjuk warga masyarakat yang tidak keberatan dipilih menjadi sukarelawan. Jumlah sukarelawan perempuan terpenuhi karena sekedar untuk memenuhi permintaan kebutuhan proyek. Dalam realitannya relawan perempuan tidak banyak yang bekerja –melakukan PS. Hal ini terjadi karena rekruitmen sukarelawan lebih didasarkan pertimbangan memenuhi proyek daripada memilih orang benar-benar mau bekerja melakukan pendataan.

Di lain pihak, terdapat sukarelawan perempuan yang terpilih menjadi anggota BKM sangat minimal, yakni hanya 2 orang dari 13 orang. Ini menggambarkan tidak ada kesadaran kebutuhan perempuan dalam keanggotaan BKM yang proses pemilihan tanpa penunjukkan oleh faskel sebagaimana terjadi pada sukarelawan. Pemilihan anggota BKM cukup demokratis tetapi justru menghasilkan jumlah perempuan yang terlibat menjadi minimal. Semakin demokratis proses pemilihan semakin minimal perempuan yang terlibat. Ini menggambarkan realita masyarakat paternalistik yang lebih mempercayai kalangan kaum pria sebagai pemimpin dibandingkan kaum perempuan.

(11)

Permintaan untuk strategi peningkatan kapasistas yang didorong oleh kesesuaian dengan kebutuhan perempuan adalah persoalan kesadaraan terhadap posisi dan peran perempuan di masyarakat. Dalam konteks dana bergulir misalnya, perhatiannya tidak diletakan pada dimana posisi social-ekonomi perempuan miskin di masyarakat tetapi lebih kepada kesadaran pada begaimana dana bergulir dapat sustain dan target keberhasilan terpenuhi. Akibatnya perempuan miskin tidak menjadi target padahal mereka sudah didaftar dalam warga miskin pada dokumen PJM Prognagkis. Singkat kata, target untuk mencapai keberhasilan P2KP lebih didahulukan daripada terpenuhi kebutuhan perempuan (miskin) di lokasi penelitian diabaikan. Ini artinya tidak ada kesadaran semua pihak untuk menerapkan strategi program yang dibuat sebagai permintaan kebutuhan perempuan (miskin). Tidak adanya strategi pemberdayaan masyarakat di lokasi penelitian tampaknya menjadi faktor kebutuhan perempuan tidak dapat diakomodasi di level masyarakat (BKM, Sukarelawan, KSM). Jumlah quota sukarelawan tidak mengambarkan realita yang sesungguhnya karena tidak ada pendampingan pekejaan sukarelawan terutama sukarelawan perempuan. Repotnya, di lokasi penelitian ini tidak adan faskel perempuan yang diharapkan bisa mendampingi sukarelawan perempuan di merumuskan kebutuhan perempuan.

Kebutuhan perempuan di level supra komuniti (Faskel, Askot dan Korkot) juga menjadi persoalan lain. Sebagaimana disebutkan di muka, aspek jender tidak menjadi arus utama dalam kebijakan P2KP di Bima dalami penempatan faskel, jenjang karir personil P2KP yang lebih mengutamakan kaum pria, dan sebagainya.

Pertanyaan V : Strategi apa yang dapat membahas kesenjanagan reaksi gender sebagai bagian dari budaya proyek di semua tingkatan.

&

Pertanyaan VI : Perubaha apakah yang diperlukan rancangan program, mencakup strategi untuk kepegawaian, pelatihan dan program responden gender

--- Pada awalnya program P2KP ”open menu” dimana masyarakat secara terbuka dan bebas melakukan pemetaan swadaya dan mengidentifikasi kategori dan titik kemiskinan di kelurahannya. Oleh karena itu, dilakukan pemetaan kemiskinan untuk melihat akar kemiskinan. Namun demikian dalam perjalanan, program penangan kemiskinan dengan pendekatan tridaya (pembangunan lingkungan, pembangunan ekonomi dan social) dipatok dengan komposisi 70 %: 20 % dan 10%. Pematokan komposisi ini membawa persoalan, sebagai berikut :

a. Desain program yang mencantumkan 70% untuk kegiatan fisik menimbulkan image bahwa P2KP ini program fisik yang identik dengan laki-laki, sehingga secara perlahan peran serta perempuan sangat minimal (tersingkirkan). Misalnya, pembangunan fisik atau konstruksi jalan bukan urusan perempuan. Paling tidak dalam proses pembuatan sarana fisik merupakan

(12)

urusan lelaki walaupun dalam pemanfaatan nantinya dinikmati perempuan atau semua warga tanpa kecuali (publik)

b. Desain program yang mencantumkan 20 % untuk kegiatan ekonomi berdampak pada keterlibatan perempuan miskin. Perempuan dalam keluarga miskin sangat besar peranannya dalam perekonomian rumah tangga miskin. Selama ini desain kegiatan ekonomi yang besarnya 20% belum memberikan arti bagi peran serta perempuan dalam rumah tangga keluarga miskin. Belum lagi dengan persoalan desain sasaran dana bergulir yang lebih difokuskan pada ekonomi produktif. Ini yang menghasilkan implikasi bahwa daftar warga miskin hasil dari pemetaan swadaya pada dokumen PJM Prognangkis tidak dapat digunakan untuk pedoman penyaluran dana bergulir. Warga kelurahan yang menjadi sasaran kegiatan program ekonomi pada akhirnya bukan warga miskin yang tercantum pada PJM Prognangkis.

Indikator kemiskinan PJM Prognangkis yang mengacu pada kriteria Milineum Development Goals (MDGc) kurang diterjemahkan kedalam kriteria lokal. Akibatnya, indikator kemiskinan yang tercantum dalam PJM Prognangkis tidak operasional sebagai patokan untuk melihat peta kemiskinan lokal, Kriteria kemiskinan tidak dikaitkan dengan konteks local (resources). terutama bila dikaitkan dengan sasaran program P2KP, dan peningkatan peran serta perempuan. Dari daftar warga miskin yang tercantum di PJM Prognangkis misalnya, dalam realitasnya tidak bisa dipakai untuk program P2KP yang lebih mementingkan ekonomi produktif. Oleh sebab itu, daftar warga miskin pada PJM Prognangkis barangkali lebih tepat untuk program yang charity sifatnya, seperti program BLT, BBM. Kelurahan sebagai unsur pemerintah Kota Bima paling bawah, aparat pemerintah yang bersentuhan dengan masyarakat, tidak pernah menggunakan PJM Prognangkis. Hasil pemetaan kemiskinan yang tercantum dalam PJM Prognangkis adalah dokumen hasil pemetaan kemiskinan yang satu-satunya dilakukan, tetapi dalam realitasnya tidak pernah digunakan sebagai data untuk mengatasi problem kemiskinan secara keseluruhan.

Tidak ada desain kegiatan pengembangaan kapasitas masyarakat untuk peningkatan peranserta perempuan sebagai tindak lanjut “political will” program PNPM 2007. Peningkatan peran serta perempuan masih terbatas pada visi program PNPM 2007.

B. Kejadian/hambatan tidak terduga

Beberapa sudah dijelaskan dalam logbook. Menyangkut pergantian manajemen yang membawahi Korkot Kota Bima, sehingga ada bnayak dokumen yang sudah dibawa oleh manajemen lama, selain personil2 kunci yang juga ikut pindah (kerjaan lain, atau pindah lokas lain). Lokasi KMW yang ada di ibu kota propinsi (yang jauh dari Kota Bima) membuat peneliti tidak bisa secara pararel melakukan konfirmasi dan cross check terkait design program P2KP dan kebijakan2 yang menjadi domain KMW (misalnya: pembentukan formasi di Korkot/faskel). Jadi hambatan juga karena TL KMW juga baru aktif mulai Mei 2009, sehingga kurang paham dengan lokasi NTB secara keseluruhan terkait P2KP, karena yang bersangkutan bukan dari P2KP sebelumnya.

(13)

Perlu ditambahkan bahwa secara administratif ada banyak perubahan di Kota Bima ini, karena terjadi banyak pemekaran kelurahan, yang secara langsung dan tidak mempengaruhi proses pengumpulan data. Misalnya sebuah dusun yang tadinya menjadi bagian dari kelurahan yang sedang diteliti sekarang sudah menjadi kelurahan baru yang mulai terbentuk BKM baru dan akan ada PNPM 2009 masuk wilayah tersebut, padahal semula dusun tersebut juga menjadi pemanfaat P2KP 2007, dan anggota BKM yang terpilih di kelurahan baru (mekar) tersebut juga adalah BKM dari kelurahan lama (PNPM 2007). Nama kelurahan juga berbeda ketika P2KP 2007 masuk dengan situasi saat ini. Tim faskel yang membawahi lokasi PNPM P2KP 2007 dari 5 orang yang bertugas hanya 1 orang yang ikut sejak awal, yang mengetahui sejarahnya, selebihnya adalah orang2 baru. Korkot yang juga baru bertugas Mei 2009 belum menguasai kondisi lapangan sesungguhnya.

Penentuan lokasi yang tidak ditentukan sejak awal oleh tim KE membuat sedikit kekhawatiran apakah langkah yang dibuat sedah benar dalam menentukan lokasi ini, sehingga ada assessment ke lapangan langsung yang dilakukan peneliti untuk meyakinkan bahwa lokasi yang terpilih adalah benar. Kelurahan yang kondisinya ”rata-rata” tidak terlihat situas yang ekstrim (partisipasi tinggi-rendah) menjadi catatan tersendiri bagi tim peneliti dalam menentukan lokasi ini, karena angka2 dalam data SIM hanya sekedar angka absolut yang sulit dipertanggungjawabkan dalam situasi yang ril.

C. Komentar lain

Referensi

Dokumen terkait

sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpul data, analisis, penafsir data ...” (Moleong, 2014:168). Untuk itu peneliti memerlukan alat bantu dalam melakukan

Berisi pandangan dan usul-usul tentang apa yang dapat dilakukan dan dikerjakan pada masa mendatang terkait dengan riset ini sebagai bahan pembinaan /

Seseorang yang memiliki sikap kejujuran dan disiplin yang tinggi dalam pembelajaran matematika, maka akan mempunyai pengaruh yang positif terhadap prestasi

(6) Bantuan Pemerintah dalam bentuk pemberian bantuan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf g, bantuan operasional potensi dan sumber

dugaan yang dianggap benar mengenai adanya suatu faktor yang terdapat dalam satu situasi, dan sama sekali tidak dapat menduga akibat tertentu yang diduga akan

Segala Puji, Hormat dan Syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala Kasih Karunia - Nya yang Ia berikan kepada saya sehingga skripsi ini dapat selesai. Skripsi

c. Mahasiswa dan Lulusan: 1) Secara kuantitatif, jumlah mahasiswa baru yang diterima Prodi PAI relatif stabil dan di atas rata-rata dibandingkan dengan jumlah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dilakukan di lokasi rencana program ini akan dilaksanakan, diperoleh kesimpulan bahwa ada seperangkat permasalahan yang