4.1 Gambaran Umum Binus Business School
Bina Nusantara (Binus) University didirikan pada tanggal 21 Oktober 1974 yang berawal dari sebuah lembaga pendidikan komputer jangka pendek, bernama Modern Computer Course. Lembaga ini terus berkembang berkat landasan yang kuat, visi yang jelas, dan dedikasi tinggi yang berkesinambungan. Modern Computer Course berkembang menjadi Akademi Teknik Komputer (ATK) pada tanggal 1 Juli 1981 yang menawarkan pendidikan manajemen informatika dan teknik informatika. Pada tanggal 13 Juli 1984, ATK mendapatkan status “Terdaftar” dan berubah menjadi AMIK Jakarta. Pada tanggal 1 Juli 1985, AMIK membuka kursus di bidang komputerisasi akuntansi. AMIK mulai menggunakan nama Bina Nusantara pada tanggal 21 September 1985.
Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tenaga-tenaga kerja handal dalam bidang teknologi informasi, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Bina Nusantara didirikan dengan Program Strata-1 (S-1) jurusan Manajemen Informatika, Teknik Informatika, dan Teknik Komputer pada tanggal 1 Juli 1986.
Pada tanggal 9 November 1987, AMIK Bina Nusantara dilebur ke dalam STMIK Bina Nusantara yang menawarkan program Diploma (D3) dan
Strata-1 (S1). STMIK Bina Nusantara memperoleh status “Disamakan” untuk
semua jenjang dan jurusan pada tanggal 18 Maret 1992. Dengan semakin baiknya prestasi serta tingkat kepercayaan masyarakat, STMIK Bina Nusantara menawarkan Program Magister Manajemen Sistem Informasi (MMSI) pada tanggal 10 Mei 1993, yang merupakan salah satu Program Pascasarjana pertama di Indonesia di bidang tersebut.
Dengan inovasi dalam hal kurikulum maupun gelar yang ditawarkan serta kualitas yang baik dari tahun ke tahun, Binus University mampu menjadi universitas yang memiliki reputasi yang cukup membanggakan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal tersebut terbukti dengan dibukanya Progam Magister Manajemen Sistem Informasi dengan Dual Master yaitu MMSI dan MCom(IS) pada tahun 1996, di mana mahasiswa akan mendapat gelar Master of Commerce in IS.
Untuk meningkatkan kualitas baik dari segi pendidikan maupun pelayanan, Binus pascasarjana bertransformasi menjadi Binus Business School (BBS) pada tahun 2007. BBS menawarkan program yang dirancang dengan memadukan aspek teori dan praktek bisnis untuk menunjang mahasiwa merancang strategi manajemen global serta perubahan pola pikir.
Transformasi tersebut memberikan nilai tambah bagi para lulusan serta perusahaan yang mempekerjakan lulusan dari BBS. Namun,
transformasi tersebut membuat perubahan pada brand dari program pascasarjana yang telah dirintis sejak tahun 1993. BBS harus kembali membangun citra dan strategi yang lebih baik untuk program-program Magister Manajemen.
4.2 Strength, Weakness, Opportunity, and Thread (SWOT)
Binus Business School memiliki kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan hambatan (threat) – atau lebih dikenal dengan SWOT – dalam rangka menjalankan institusi pendidikan sekaligus menarik para calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister manajemen. Berikut ini adalah SWOT dari Binus Business School:a. Kekuatan (Strength)
• Binus Business School memiliki tim penyusun case study yang berfokus pada case study perusahaan-perusahaan lokal dan telah dipergunakan langsung dalam proses kegiatan belajar-mengajar. • BBS memiliki infrastruktur dan pengalaman yang sudah diakui
dalam bidang IT yang dapat dipadukan dengan kurikulum bisnis sehingga para mahasiswa dapat menerapkan teknologi informasi yang berkembang dalam aspek bisnis.
• Lokasi kampus yang strategis di mana kampus BBS terletak di daerah segitiga emas yang dapat dengan mudah dijangkau.
• Dosen yang memiliki latar belakang praktisi yang memungkinkan mahasiswa untuk mengetahui lebih baik mengenai lingkungan kerja. • Cukup terjangkaunya investasi yang harus dikeluarkan untuk
mengikuti program MM di BBS dibandingkan dengan pesaingnya. b. Kelemahan (Weakness)
• Kekuatan jaringan alumni yang masih belum terbentuk serta masih belum dikelola dengan baik.
• Kurangnya jumlah dosen tetap dan dosen yang menjadi referensi baik dari dunia usaha maupun dunia pendidikan.
• Positioning yang tidak memiliki uniqueness yang memenuhi kebutuhan konsumen dan berbeda dengan kompetitornya.
• Masih sedikitnya kerjasama dengan pihak industri maupun kompetisi yang dimenangkan oleh BBS.
• Masih kurangnya intensitas promosi dan masih generiknya konten dari promosi yang dikomunikasikan ke masyarakat.
c. Peluang (Opportunity)
• Jumlah alumni S-1 yang semakin besar dari tahun ke tahun.
• Infrastuktur IT Binus yang sangat baik mendukung sistem kuliah
online yang semakin diminati dan berkembang di Indonesia.
• Lokasi kampus yang strategis berada di kawasan segitiga emas jakarta merupakan target pasar yang tepat bagi konsumen yang ingin bekerja sambil kuliah.
d. Hambatan (Threat)
• Brand image BBS sebagai sekolah bisnis yang masih belum kuat di masyarakat karena BBS baru bertransformasi tahun 2007 yang sebelumnya merupakan program pascarsarjana yang mengedepankan gelar IT sebagai program utamanya.
• Masih banyaknya lulusan Strata-1 yang masih belum merasakan nilai tambah dari pendidikan Strata-2.
4.3 Segmenting, Targeting, and Positioning (STP)
Berikut ini adalah segmenting, targeting, dan positioning dari BBS: a. Segmenting
BBS sebagai penyelenggara program magister manajemen memiliki segmen yang secara umum ditujukan untuk konsumen yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan Strata-1 dari berbagai jurusan. b. Targeting
Target dari program-program yang ditawarkan adalah lulusan S-1 dengan tingkat ekonomi menengah ke atas (upper-middle), baik yang telah maupun belum memiliki pengalaman kerja. Target mahasiswa BBS terbagi menjadi 3 (tiga) sesuai dengan program yang ditawarkan, yaitu: • MM Young Profesional
Target program ini adalah calon mahasiswa yang baru menyelesaikan jenjang pendidikan S-1 dan memiliki pengalaman kerja 0-2 tahun.
• MM Profesional
Target program ini adalah calon mahasiswa yang telah memiliki pengalaman kerja 2-5 tahun dan ingin memperdalam pengetahuannya di bidang keuangan terapan (Applied Finance) atau strategi pemasaran (Strategic Marketing).
• MM Executive
Target program ini adalah calon mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja minimal 5 tahun pada level managerial.
c. Positioning
Dalam menunjukkan kualitas dan mengedepankan aspek bisnis dalam kurikulumnya, BBS memiliki tagline “Where Business Is Real”. Diharapkan dengan mengikuti program di BBS, konsumen akan mendapatkan pengalaman yang hampir sama dengan apa yang terjadi di lingkungan bisnis sesungguhnya. Namun, tagline tersebut masih umum dibandingkan dengan kompetitor yang juga menawarkan keunggulan yang hampir serupa, contohnya:
PPM: “A Place to Learn and Grow”
Prasetiya Mulia: "We are part of Global Community" IPMI: "The Choice of Professionals"
MMUI: "Veritas, Probitas, Iustitia" (Kebenaran, Kejujuran, Keadilan) SBM ITB: "Creating new business leaders and entrepreneurs"
4.4 Marketing Mix
Berikut ini adalah strategi marketing mix yang berjalan di Binus Business School:
a. Produk (product)
BBS merupakan suatu institusi penyelenggara program magister manajemen yang menawarkan 5 (lima) jenis program, antara lain:
• MM Business Management yang terbagi menjadi 2 (dua) program, yaitu MM Business Management Young Professional dan MM Business Management Professional;
• MM Applied Finance; • MM Strategic Marketing; • MM Executive; dan
• MM Dual Degree dengan Macquaire University.
Secara khusus, program-program yang ditawarkan oleh BBS memiliki karakteristik sebagai berikut:
Reputasi program MM
Reputasi dari program-program BBS telah mendapatkan respon yang cukup baik dari masyarakat dilihat dari jumlah lulusannya yaitu 1.951 orang (tahun 2009). Namun, reputasi yang telah dicapai belum banyak menjadi referensi dari banyak aspek bisnis, atau bahkan masuk ke dalam peringkat survei media. BBS juga belum banyak memiliki
reputasi dalam hal penghargaan baik dari tingkat nasional maupun internasional.
Pendekatan antara akademik dan praktik
Program-program yang ditawarkan oleh BBS memiliki keseimbangan antara pendekatan akademik dan praktik. Kurikulum yang sudah disusun oleh BBS selain berpegang pada teori akademik tetapi juga mengadaptasi penggunaan kasus-kasus bisnis yang nyata atau case
study (seperti Harvard case study), bahkan BBS telah
mengembangkan case study dari perusahaan-perusahaan lokal dan telah digunakan dalam proses perkuliahan.
Bekerja sama dengan MM luar negeri
Untuk kerjasama dengan MM luar negeri, BBS telah bekerjasama dengan universitas luar negeri, yaitu dengan Macquarie University untuk program Dual Degree.
Kualitas lulusan
Dalam kurikulum BBS, mahasiswa dibekali pengetahuan mengenai fungsi bisnis, soft skills, maupun inovasi dengan menghasilkan konsep-konsep baru di akhir setiap mata kuliah.
Network
Untuk anggota mahasiswa di dalam kelas, BBS menawarkan program dengan kelas yang memiliki anggota dengan latar belakang pekerjaan yang sama dan berbeda. Program applied finance dan strategic
marketing adalah contoh kelas yang diisi oleh mahasiswa berlatar
belakang pekerjaan sama. Sedangkan untuk program Business
Management (Young Professional dan Profesional) dan Executive,
BBS menawarkan kelas dengan mahasiwa yang berlatar belakang pekerjaan yang berbeda.
Waktu perkuliahan
BBS telah menyediakan waktu perkuliahan untuk program Young
Professional dan Professional setelah jam kerja pukul 18.30-21.30
WIB setiap hari senin hingga jumat. Untuk program Executive, waktu perkuliahan adalah setiap hari sabtu pukul 08.00-16.30 WIB.
b. People Dosen
BBS memiliki dosen berlatar belakang praktisi dan akademisi yang memiliki spesialisasi, kompetensi, dan berpengalaman di bidangnya. Alumni
Divisi Students and Alumni Relation (SAR) mencatat total lulusan BBS adalah 1.951 orang (tahun 1995-2009). Jika dibandingkan dengan total 56.021 lulusan S-2 Manajemen (2005-2008) se-Indonesia, maka lulusan BBS tercatat sekitar 1,58% dari total lulusan se-Indonesia. Alumni-alumni BBS terdiri dari 78,35% pegawai swasta, 15,64% entrepreneur, 3,35% tidak bekerja, 2,37%
c. Harga (price)
Selama masa pendidikan di BBS yaitu 16 (enam belas) bulan, biaya pendidikannya adalah sebagai berikut:
• MM Young Professional: Rp 45.000.000,00 (empat puluh lima juta rupiah)
• MM Professional: Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) • MM Executive: Rp 85.000.000,00 (delapan puluh lima juta
rupiah).
Harga tersebut dirasakan cukup murah dibandingkan dengan kompetitor. Perbandingan harga dengan kompetitor terlampir pada Lampiran (L-30). d. Distribusi (place)
BBS memiliki lokasi yang sangat strategis. Lokasi kampus berada pada jalur segitiga emas yang merupakan salah satu lokasi perkantoran terpadat di Jakarta.
e. Promosi (promotion)
Kegiatan promosi yang dilakukan oleh BBS cukup bervariasi, di antaranya mengadakan acara-acara seperti CEO Speak, Job Expo, Case
Activation dan lain-lain. BBS juga menggunakan metode trial class bagi
calon mahasiswa yang ingin merasakan bagaimana suasana kelas secara langsung sebelum memutuskan untuk bergabung dengan BBS.
Kegiatan promosi BBS juga didukung berbagai media komunikasi, di antaranya adalah brosur, iklan majalah, web, dan lain-lain.
4.5 Analisis
Deskriptif
4.5.1 Profil Responden
Proyek ini menggunakan survei eksternal dari 200 responden yang mengisi kuisioner sejak 4 Januari 2010 - 28 Februari 2010. Keseluruhan data di dalam 200 kuisioner dinyatakan valid. Pada survei ini, data profil responden juga dikumpulkan untuk menunjang analisis dari hipotesis. Berikut ini adalah informasi profil responden dari hasil kuisioner:
4.5.1.1 Jenis Kelamin Responden
Hasil kuisioner menyatakan bahwa responden survei ini sebagian besar adalah laki-laki sebanyak 61%, sisanya perempuan sebanyak 39%.
Gambar 4.1 Jenis Kelamin Responden
4.5.1.2 Pekerjaan
Responden
Dari hasil kuisioner, sebagian besar responden memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta yaitu sebanyak 77.00%. Responden yang bekerja sebagai pegawai negeri (Pegawai Negeri Sipil) adalah sebanyak 6.50%,
pegawai BUMN sebanyak 5.50%, self-employed sebanyak 4.00%, wiraswasta sebanyak 4.00%, dan sisanya dosen sebanyak 3.00%.
Gambar 4.2 Pekerjaan Responden
4.5.1.3 Latar Belakang Pendidikan Responden
Dilihat dari latar belakang pendidikan, responden yang memiliki tingkat pendidikan Strata-1 (S-1) adalah sebanyak 130 responden atau 65%, sedangkan sebanyak 70 responden atau 35% memiliki tingkat pendidikan Strata-2 (S-2).
Gambar 4.3 Tingkat Pendidikan Responden
Untuk penjabaran asal universitas, responden Strata-1 (S-1) terdiri dari beberapa universitas, antara lain:
Tabel 4.2 Asal Universitas Responden Strata-1 (S-1) Nama Universitas Jumlah
Responden
% Responden
Binus University 39 30.00%
Universitas Indonesia 14 10.77%
Institut Teknologi Bandung 14 10.77%
Lain-Lain 14 10.77%
Universitas Trisakti 7 5.38%
Universitas Atmajaya 6 4.62%
Universitas Padjajaran 6 4.62%
Universitas Gajah Mada 4 3.08%
Universitas Tarumanegara 4 3.08%
Institut Pertanian Bogor 4 3.08%
Universitas Gunadarma 3 2.31%
Universitas Luar Negeri 3 2.31%
Universitas Pelita Harapan 3 2.31% Universitas Prof. Dr. Mustopo 3 2.31%
Universitas Parahyangan 2 1.54%
London School of Public Relation 2 1.54% Institut Sains dan Teknologi
Nasional 2 1.54%
Total 130 100.00%
Sedangkan untuk responden Strata-2 (S-2), terdiri dari beberapa universitas, di antaranya:
Tabel 4.3 Asal Universitas Responden Strata-2 (S-2)
Nama Universitas Jumlah Responden % Responden
Binus Business School 22 31.43%
MM UI 10 14.29%
PPM School of Management 10 14.29%
Prasetiya Mulya Business School 10 14.29%
IPMI Business School 10 14.29%
Lain-lain 8 11.43%
Tahun kelulusan S-1 responden dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, antara lain tahun kelulusan S-1 di bawah tahun 2001 yaitu sebesar 24.50%, tahun kelulusan S-1 di antara tahun 2001 sampai dengan 2006 yaitu sebesar 29.50%, dan tahun kelulusan S1 di antara tahun 2007 sampai dengan 2010 yaitu sebesar 46.00%. Pengelompokkan tahun kelulusan S-1 ini didasarkan pada rata-rata tahun kelulusan S-1 pada profil mahasiswa BBS, yaitu MM Executive (di bawah tahun 2001), MM Professional (di antara tahun 2001 sampai dengan 2006), dan MM Young Professional (di antara tahun 2007 sampai dengan 2010).
Gambar 4.4 Kelompok Tahun Kelulusan S-1 Responden
4.5.2 Hasil Kuesioner
Dari kuesioner yang telah dibagikan dan dikumpulkan, terdapat pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijadikan data pendukung dalam penelitian ini. Berikut ini adalah penjabaran hasil kuesioner dari setiap pertanyaan:
4.5.2.1 Urutan
Faktor-Faktor
Prioritas Pemilihan Program
Magister Manajemen
Dari hasil kuesioner yang dikumpulkan, data menunjukkan bahwa 55% responden memilih reputasi sebagai prioritas utama dalam memilih program Magister Manajemen (MM) dari total 200 responden. Urutan prioritas selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Gambar 4.5 Persentase Urutan Prioritas dari Faktor-Faktor Pemilihan Program MM
Untuk pilihan lain-lain, sebanyak 0.50% responden memilih kurikulum sebagai prioritas utama dalam memilih program MM.
Berikut ini adalah rangkuman prioritas responden dalam memilih program MM berdasarkan tingkat pendidikan responden (S-1 dan S-2):
Tabel 4.4 Rangkuman Prioritas Berdasarkan Tingkat Pendidikan Responden
Faktor S-1 S-2
Reputasi 56.92% 51.43%
Dosen 1.54% 1.43%
Pendekatan antara akademik dan praktik 6.92% 8.57% Kerja sama dengan MM luar negeri 2.31% 4.29%
Kualitas lulusan 19.23% 8.57% Network 4.62% 0.00% Alumni 0.00% 2.86% Waktu Kuliah 1.54% 12.86% Lain-lain 0.00% 1.43% Biaya 3.08% 0.00% Lokasi 3.85% 8.57%
Sedangkan berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1, rangkuman prioritas pemilihan program MM adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5 Rangkuman Prioritas Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Faktor 2007-2010 2001-2006 < 2001
Reputasi 54.24% 64.10% 53.13%
Dosen 1.69% 2.56% 6.25%
Pendekatan antara
akademik dan praktik 6.78% 2.56% 15.63% Kerja sama dengan MM
luar negeri 3.39% 2.56% 3.13% Kualitas lulusan 23.73% 15.38% 15.63% Network 3.39% 5.13% 6.25% Alumni 0.00% 0.00% 0.00% Waktu Kuliah 1.69% 2.56% 3.13% Lain-lain 0.00% 0.00% 0.00% Biaya 1.69% 5.13% 6.25% Lokasi 3.39% 0.00% 9.38%
4.5.2.2 Urutan Faktor-Faktor Prioritas Pemilihan Program
Magister Manajemen menurut Binus Business
School
Dari hasil personal interview pada tanggal 18 Februari 2010 yang dilakukan dengan Manager Marketing BBS, Pak Tjiatno Indra, diperoleh hasil urutan faktor-faktor prioritas pemilihan program MM, yaitu:
Tabel 4.6 Urutan Prioritas Menurut Manager Marketing BBS Faktor Yang Sedang Berjalan Pendekatan antara akademik dan praktik 1
Dosen 2 Network 3 Kualitas lulusan 4 Reputasi 5 Lokasi 6 Alumni 7 Kerja sama dengan MM luar negeri 8
Waktu Kuliah 9
Biaya 10 Sumber : Hasil Personal Interview (2010).
4.5.2.3 Reputasi Program MM
Responden, baik dari tingkat pendidikan S-1 maupun S-2, memilih reputasi sebagai prioritas utama dalam pemilihan program MM (sebanyak 55% seperti terlihat pada Gambar 4.5). Penjabaran dari reputasi di dalam kuisioner terdiri dari 4 (empat) item, yaitu:
• Memiliki banyak penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional,
• Masuk dalam peringkat survei media (majalah, koran, radio, televisi),
• Menjadi referensi dari banyak aspek bisnis, serta • Lain-lain.
Berikut ini adalah hasil kuisioner dari pemilihan item-item reputasi program MM sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Gambar 4.6 Pemilihan Item Reputasi Program MM
Sebesar 68% dari total 200 responden memilih reputasi program MM yang menjadi referensi dari banyak aspek bisnis sebagai prioritas utama dalam memilih program MM. Reputasi dari banyak penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional dipilih sebanyak 21% dan reputasi dari peringkat survei media (majalah, koran, radio, atau televisi) sebanyak 11%. Hal ini menunjukkan bahwa program MM yang banyak menjadi referensi dari aspek bisnis lebih banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM.
Tabel 4.7 merupakan penjabaran dari item-item reputasi berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.7 Urutan Prioritas Item-item Reputasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Item Reputasi S-1 S-2 Penghargaan 23.85% 15.71% Peringkat Survey 11.54% 10.00% Referensi Bisnis 64.62% 74.29% Lain-lain 0.00% 0.00%
Tabel 4.8 merupakan penjabaran dari item-item reputasi berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.8 Urutan Prioritas Item-item Reputasi Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Item Reputasi 2007-2010 2001-2006 >2001 Penghargaan 1.54% 0.77% 6.15% Peringkat Survey 5.38% 3.08% 3.08% Referensi Bisnis 30.00% 19.23% 15.38% Lain-lain 0.00% 0.00% 0.00%
4.5.2.4 Lokasi
Lokasi merupakan salah satu faktor yang juga diperhatikan dalam memutuskan memilih sekolah bisnis. Penjabaran dari lokasi yang terdapat di dalam kuisioner terdiri dari 4 (empat) item, yaitu:
• Dekat dengan kantor,
• Dekat dengan tempat tinggal,
• Dekat dengan Segitiga Emas Jakarta, serta • Lain-lain.
Berikut ini adalah hasil kuisioner dari pemilihan item-item lokasi sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Gambar 4.7 Pemilihan Item Lokasi
Gambar 4.7 menunjukkan bahwa sebanyak 49.50% dari 200 responden memilih lokasi sekolah bisnis yang dekat dengan lokasi kerja sebagai prioritas utama dalam memilih program MM. Responden yang memilih lokasi yang dekat dengan tempat tinggal sebanyak 41.50%. Sementara lokasi yang dekat dengan segitiga emas Jakarta (sekitar Jalan Sudirman, M.H. Thamrin, H.R. Rasuna Said, dan Gatot Subroto) hanya dipilih sebanyak 8.00%. Untuk pilihan lain-lain, sebanyak 1.00% responden memilih dekat dengan kantor dan tempat tinggal. Dari data kuisioner yang telah diperoleh, dapat disimpulkan bahwa lokasi kampus yang berada dekat dengan kantor lebih banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM.
Tabel 4.9 merupakan penjabaran dari item-item lokasi berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.9 Urutan Prioritas Item-item Lokasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Item Lokasi S-1 S-2
Dekat Kantor 52.31% 44.29%
Dekat tempat tinggal 38.46% 47.14% Dekat Segitiga Emas Jakarta 7.69% 8.57%
Lain-lain 1.54% 0.00%
Tabel 4.10 merupakan penjabaran dari item-item lokasi berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.10 Urutan Prioritas Item-item Lokasi Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Item Lokasi 2007-2010 2001-2006 >2001
Dekat Kantor 20.77% 16.92% 14.62%
Dekat tempat tinggal 20.77% 9.23% 8.46% Dekat Segitiga Emas Jakarta 3.08% 3.08% 1.54%
Lain-lain 0.77% 0.77% 0.00%
4.5.2.5 Dosen
Penjabaran dari dosen yang terdapat di dalam kuisioner terdiri dari 5 (lima) item, yaitu:
• Dosen-dosen yang banyak dijadikan referensi dunia usaha dan media,
• Dosen-dosen yang menjadi top executive di perusahaannya, • Dosen-dosen luar negeri (ekspatriat),
• Dosen-dosen dari lulusan universitas tertentu, serta • Lain-lain.
Gambar 4.8 adalah hasil kuisioner dari pemilihan item-item dosen sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Gambar 4.8 Pemilihan Item Dosen
Dosen-dosen yang dijadikan referensi dalam dunia usaha dan media dipilih sebanyak 62.00% dari total 200 responden, sedangkan dosen-dosen yang menjadi top executive di perusahaannya dipilih sebanyak 31.00%, dosen-dosen luar negeri (ekspatriat) dipilih sebanyak 2.00% dan dosen-dosen dari lulusan universitas tertentu dipilih sebanyak 5.00%. Dari data kuisioner yang telah diperoleh, dapat disimpulkan bahwa dosen-dosen yang dijadikan referensi dalam dunia usaha dan media banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM.
Tabel 4.11 merupakan penjabaran dari item-item dosen berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.11 Urutan Prioritas Item-item Dosen Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Item Dosen S-1 S-2
Referensi Dunia Usaha 66.15% 54.29%
Top Executive 26.92% 38.57%
Ekspatriat 2.31% 1.43%
Lulusan Univ. Tertentu 4.62% 5.71%
Tabel 4.12 merupakan penjabaran dari item-item dosen berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.12 Urutan Prioritas Item-item Dosen Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Item Dosen 2007-2010 2001-2006 >2001 Referensi Dunia Usaha 28.46% 23.08% 14.62%
Top Executive 15.38% 4.62% 6.92%
Ekspatriat 0.00% 1.54% 0.77%
Lulusan Univ. Tertentu 1.54% 0.77% 2.31%
Lain-Lain 0.00% 0.00% 0.00%
4.5.2.6 Pendekatan antara Akademik atau Praktik
Sekolah-sekolah bisnis mengembangkan kurikulum yang menggunakan pendekatan baik untuk akademik maupun praktik. Penjabaran dari pendekatan antara akademik dan praktik yang terdapat di dalam kuisioner terdiri dari 3 (tiga) item, yaitu:
• Lebih menganalisis hasil penelitian dan melakukan penelitian (research method),
• Lebih menganalisis kasus-kasus nyata dan role play (case study
approach seperti Harvard case study), serta
• Lain-lain.
Berikut ini adalah hasil kuisioner dari pemilihan item-item pendekatan antara akademik dan praktik sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Gambar 4.9 Pemilihan Item Pendekatan antara Akademik atau Praktik
Dari Gambar 4.9, sebesar 90.50% dari 200 responden memilih metode pembelajaran dengan menggunakan pendekatan yang lebih menganalisis kasus-kasus bisnis yang pernah terjadi dalam dunia bisnis dan role play, seperti contohnya Harvard case study approach. Untuk pendekatan yang lebih menganalisis hasil penelitian dan melakukan penelitian (research method), dipilih sebanyak 7%, sedangkan sisanya responden memilih opsi pilihan lain-lain 2.50%. Untuk pilihan lain-lain, pilihan responden antara lain memilih pengalaman bisnis secara keseluruhan, simulasi secara langsung, membuat kasus nyata sendiri berdasarkan pengalaman bisnis atau di kantor, serta seimbang antara teori dan kasus nyata. Dari data kuisioner yang telah diperoleh, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran dengan pendekatan yang lebih menganalisis kasus-kasus bisnis yang pernah terjadi dalam dunia bisnis dan role play, seperti contohnya Harvard case study approach lebih banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM.
Tabel 4.13 merupakan penjabaran dari item-item pendekatan antara akademik dan praktik berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.13 Urutan Prioritas Item-item Pendekatan antara Akademik dan Praktik Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Item Pendekatan antara
Akademik dan Praktik S-1 S-2
Research Method 6.92% 7.14%
Case Study Approach 92.31% 87.14%
Lain-lain 0.77% 5.71%
Tabel 4.14 merupakan penjabaran dari item-item pendekatan antara akademik dan praktik berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.14 Urutan Prioritas Item-item Pendekatan antara Akademik dan Praktik Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Item Pendekatan antara
Akademik dan Praktik 2007-2010 2001-2006 >2001
Research Method 2.31% 3.08% 1.54%
Case Study Approach 43.08% 26.15% 23.08%
Lain-lain 0.00% 0.77% 0.00%
4.5.2.7 Kerja Sama dengan Program MM Luar Negeri
Banyak sekolah bisnis yang mengadakan kerja sama dengan universitas luar negeri, baik dalam bidang kurikulum maupun program pertukaran pelajar. Penjabaran dari kerja sama dengan program MM luar negeri yang terdapat di dalam kuisioner terdiri dari 3 (tiga) item, yaitu:
• Bekerja sama dengan program MM luar negeri yang kurang terkenal tetapi memiliki keunggulan di bidang yang sesuai minat, • Bekerja sama dengan program MM yang terkenal namun tidak
• Lain-lain.
Berikut ini adalah hasil kuisioner dari pemilihan item-item kerja sama dengan program MM luar negeri sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Gambar 4.10 Pemilihan Item Kerja Sama dengan Program MM Luar Negeri
Gambar 4.10 menunjukkan bahwa sebanyak 74% dari 200 responden memilih sekolah bisnis yang bekerja sama dengan program MM luar negeri yang kurang terkenal tetapi memiliki keunggulan di bidang yang sesuai minat sebagai prioritas utama dalam memilih program MM. Responden yang memilih bekerja sama dengan program MM yang terkenal namun tidak unggul di bidang yang sesuai minat yaitu sebanyak 21.50%. Sementara pilihan lain-lain, sebanyak 4.50% responden memilih bekerja sama dengan program MM yang terkenal dan memiliki unggul di bidang yang sesuai minat. Dari hasil kuisioner menunjukkan bahwa bekerja sama dengan program MM luar negeri yang kurang terkenal
tetapi memiliki keunggulan di bidang yang sesuai minat lebih banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM.
Tabel 4.15 merupakan penjabaran dari item-item kerja sama dengan MM luar negeri berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.15 Urutan Prioritas Item-item Kerja sama dengan MM Luar Negeri Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Item Kerja sama dengan MM
Luar Negeri S-1 S-2 Kurang terkenal, unggul di
bidang sesuai minat 79.23% 64.29% Terkenal, unggul di bidang
tidak sesuai minat 18.46% 27.14%
Lain-lain 2.31% 8.57%
Tabel 4.16 merupakan penjabaran dari item-item kerja sama dengan MM luar negeri berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.16 Urutan Prioritas Item-item Kerja sama dengan MM Luar Negeri Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1 Item Kerja sama dengan
MM Luar Negeri 2007-2010 2001-2006 >2001 Kurang terkenal, unggul di
bidang sesuai minat 35.38% 25.38% 18.46% Terkenal, unggul di bidang
tidak sesuai minat 8.46% 3.85% 6.15%
Lain-lain 1.54% 0.77% 0.00%
4.5.2.8 Kualitas
Lulusan
Penjabaran dari faktor kualitas lulusan yang terdapat di dalam kuisioner terdiri dari 4 (empat) item, yaitu:
• Kualitas yang unggul pada fungsi bisnis tertentu (misal: Harvard dianggap unggul pada strategi dan Wharton pada keuangan),
• Kualitas yang unggul pada inovasi dengan pemahaman merata pada seluruh fungsi bisnis,
• Kualitas yang unggul pada karakter dan soft skill dengan pemahaman merata pada inovasi dan fungsi bisnis (misal: pekerja keras, cepat belajar, pantang menyerah, berani memutuskan, fleksibel, dll), serta
• Lain-lain.
Gambar 4.11 menunjukkan hasil pemilihan item-item kualitas lulusan sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Gambar 4.11 Pemilihan Item Kualitas Lulusan
Sebanyak 50.50% dari total 200 responden memilih kualitas lulusan yang unggul pada fungsi bisnis tertentu sebagai prioritas utama dalam memilih program MM. Responden yang memilih kualitas lulusan yang unggul pada inovasi dengan pemahaman merata pada seluruh fungsi bisnis sebanyak 21.00%. Sementara kualitas lulusan yang unggul pada
karakter dan soft skill dengan pemahaman merata pada inovasi dan fungsi bisnis, dipilih sebanyak 28.50%. Dari hasil kuisioner menunjukkan bahwa kualitas lulusan yang unggul pada fungsi bisnis tertentu lebih banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM.
Tabel 4.17 merupakan penjabaran dari item-item kualitas lulusan berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.17 Urutan Prioritas Item-item Kualitas Lulusan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Item Kualitas Lulusan S-1 S-2
Fungsi Bisnis 49.23% 52.86%
Inovasi 25.38% 12.86%
Karakter dan Soft Skill 25.38% 34.29%
Lain-lain 0.00% 0.00%
Tabel 4.18 merupakan penjabaran dari item-item kualitas lulusan berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.18 Urutan Prioritas Item-item Lokasi Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Item Kualitas Lulusan 2007-2010 2001-2006 >2001 Fungsi Bisnis 26.15% 12.31% 10.77%
Inovasi 9.23% 5.38% 10.77%
Karakter dan Soft Skill 10.00% 12.31% 3.08%
Lain-lain 0.00% 0.00% 0.00%
4.5.2.9 Network
Penjabaran dari faktor network yang terdapat di dalam kuisioner terdiri dari 3 (tiga) item, yaitu:
• Network yang memiliki pekerjaan atau pengetahuan pada bidang yang sama,
• Network yang memiliki pekerjaan atau pengetahuan pada bidang yang berbeda, serta
• Lain-lain.
Gambar 4.12 adalah hasil kuisioner dari pemilihan item-item network sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Network
B idang yang berbeda 55.00% B idang yang s ama 45.00% Gambar 4.12 Pemilihan Item NetworkUntuk faktor network atau jaringan teman-teman sekelas, sebanyak 55.00% dari total 200 responden memilih network yang memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda sebagai prioritas utama dalam memilih program MM. Responden yang memilih network yang memiliki latar belakang pekerjaan yang sama sebanyak 45.00%. Dari hasil kuisioner menunjukkan bahwa network yang memiliki pekerjaan atau pengetahuan pada bidang yang berbeda lebih banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM.
Tabel 4.19 merupakan penjabaran dari item-item network berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.19 Urutan Prioritas Item-item Network Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Item Network S-1 S-2 Bidang yang Sama 44.62% 45.71% Bidang yang berbeda 55.38% 54.29%
Tabel 4.20 merupakan penjabaran dari item-item network berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.20 Urutan Prioritas Item-item Network Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Item Network 2007-2010 2001-2006 >2001 Bidang yang Sama 22.31% 11.54% 10.77% Bidang yang berbeda 23.08% 18.46% 13.85%
4.5.2.10 Alumni
Penjabaran dari faktor alumni yang terdapat di dalam kuisioner terdiri dari 4 (empat) item, yaitu:
• Memiliki alumni-alumni yang bekerja di perusahaan terkenal (BUMN atau Swasta),
• Memiliki alumni-alumni yang bekerja di perusahaan di luar negeri,
• Memiliki alumni-alumni yang menjadi entrepreneur, serta • Lain-lain.
Gambar 4.13 adalah hasil kuisioner dari pemilihan item-item alumni sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Alumni
B UMN/ S was ta 36.50% P erus ahaan L uar negeri 19.00% E ntrepreneur 43.00% L ain‐lain 1.50%Gambar 4.13 Pemilihan Item Alumni
Sebanyak 43% dari total 200 responden memilih sekolah bisnis yang memiliki alumni-alumni yang menjadi entrepreneur sebagai prioritas utama dalam memilih program MM. Responden yang memilih memiliki alumni-alumni yang bekerja di perusahaan terkenal (BUMN atau Swasta) sebanyak 36.50%, sementara yang memiliki alumni-alumni yang bekerja di perusahaan di luar negeri, dipilih sebanyak 19.00%. Untuk pilihan lain-lain, dipilih responden sebanyak 1.50% yaitu alumni-alumni yang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan alumni-alumni-alumni-alumni yang memiliki daya juang tinggi dalam mengusahakan apapun. Dari hasil kuisioner menunjukkan bahwa sekolah bisnis yang memiliki alumni-alumni yang menjadi entrepreneur lebih banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM.
Tabel 4.21 merupakan penjabaran dari item-item alumni berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.21 Urutan Prioritas Item-item Alumni Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Item Alumni S-1 S-2
BUMN/Swasta 32.31% 44.29%
Perusahaan Luar Negeri 22.31% 12.86%
Entrepreuner 45.38% 38.57%
Lain-lain 0.00% 4.29%
Tabel 4.22 merupakan penjabaran dari item-item alumni berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.22 Urutan Prioritas Item-item Alumni Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Item Alumni 2007-2010 2001-2006 >2001
BUMN/Swasta 13.08% 8.46% 10.77%
Perusahaan Luar Negeri 11.54% 7.69% 3.08%
Entrepreuner 20.77% 13.85% 10.77%
Lain-lain 0.77% 0.00% 1.54%
4.5.2.11 Waktu Perkuliahan
Penjabaran dari faktor waktu perkuliahan yang terdapat di dalam kuisioner terdiri dari 4 (empat) item, yaitu:
• Jadwal perkuliahan setelah jam kerja (senin-jumat), • Jadwal perkuliahan pada jam kerja (senin-jumat), • Jadwal perkuliahan pada hari sabtu, serta
• Lain-lain.
Gambar 4.14 adalah hasil kuisioner dari pemilihan item-item waktu perkuliahan sebagai prioritas utama pemilihan program MM:
Waktu P erkuliahan
S etelah jam kerja 53.50% J am kerja 12.50% S abtu 33.00% L ain‐lain 1.00% Gambar 4.14 Pemilihan Item Waktu PerkuliahanSebanyak 53.50% dari total 200 responden memilih jadwal perkuliahan setelah jam kerja (senin-jumat) sebagai prioritas utama dalam memilih program MM. Responden yang memilih jadwal perkuliahan pada hari sabtu sebanyak 33.00%, sementara jadwal perkuliahan pada jam kerja (senin-jumat), dipilih sebanyak 12.50%. Untuk pilihan lain-lain, dipilih responden sebanyak 1.00% yaitu E-learning serta jadwal perkuliahan pada hari jumat (setelah jam kerja) dan sabtu (fleksible). Dari hasil kuisioner menunjukkan bahwa jadwal perkuliahan setelah jam kerja (senin-jumat) lebih banyak dijadikan prioritas utama dalam memilih program MM. Di BBS, program MM yang ditawarkan memiliki jadwal perkuliahan setelah jam kerja (senin-jumat). Dalam hal ini, BBS telah memenuhi kebutuhan responden penelitian ini.
Tabel 4.23 merupakan penjabaran dari item-item waktu perkuliahan berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 4.23 Urutan Prioritas Item-item Waktu Perkuliahan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Item Waktu Perkuliahan S-1 S-2 Setelah jam kerja 54.62% 51.43%
Jam Kerja 6.15% 24.29%
Sabtu 38.46% 22.86%
Lain-lain 0.77% 1.43%
Tabel 4.24 merupakan penjabaran dari item-item waktu perkuliahan berdasarkan kelompok tahun kelulusan S-1:
Tabel 4.24 Urutan Prioritas Item-item Lokasi Berdasarkan Kelompok Tahun Kelulusan S-1
Item Waktu Perkuliahan 2007-2010 2001-2006 >2001 Setelah jam kerja 26.92% 13.85% 13.85%
Jam Kerja 3.85% 2.31% 0.00%
Sabtu 13.85% 13.85% 10.77%
Lain-lain 0.77% 0.00% 0.00%
4.5.2.12 Bahasa Pengantar
Dari hasil data kuisioner, ditemukan bahwa sebesar 71.54% responden tidak memilih bahasa inggris penting sebagai bahasa pengantar utama dalam proses perkuliahan, sedangkan hanya 28.46% yang memilih bahasa inggris sebagai bahasa pengantar utama dalam proses perkuliahan.
4.5.2.13 Sekolah Bisnis Pilihan
Dilihat dari Gambar 4.16, sebesar 36.92% dari total 130 responden lulusan S-1 memilih MM UI sebagai sekolah bisnis pilihan, sedangkan pilihan kedua terbanyak dipilih adalah Prasetiya Mulya Business School yang dipilih sebanyak 22%.
Gambar 4.16 Persentase Progam MM Pilihan
4.5.2.14 Promosi
Hasil kuisoner menunjukkan bahwa promosi yang paling banyak dipilih untuk pemilihan program MM, seperti Tabel 4.25 berikut ini:
Tabel 4.25 Penjabaran Item Masing-Masing Bentuk Promosi Bentuk Promosi Lulusan S-1 Lulusan S-2
Teman 90.00% 74.29% Perusahaan 36.92% 37.14% Alumni 50.00% 64.29% Media Massa 49.23% 61.43% Media Elektronik 43.85% 28.57% Lain-lain 4.62% 8.57%
4.6 Uji
Statistik
Dalam rangka menguji apakah ada hubungan yang signifikan antara faktor-faktor prioritas pemilihan program Magister Manajemen (MM) dengan tingkat pendidikan dan kelompok tahun kelulusan S-1 responden, maka proyek ini melakukan uji statistik Chi-Square. Variabel yang digunakan di dalam survei adalah reputasi, lokasi, dosen, pendekatan antara akademik dan praktik, kerja sama dengan MM luar negeri, kualitas lulusan, network, alumni, waktu kuliah, dan biaya kuliah.
Tingkat pendidikan terbagi atas 2 (dua), yaitu S-1 dan S-2. Pembagian kelompok S-1 dan S-2 dimaksudkan untuk mengetahui keputusan lulusan Strata-1 yang belum pernah mengambil program MM dan lulusan Strata-2 yang telah menyelesaikan program MM. Kelompok tahun kelulusan terbagi atas 3 (tiga), yaitu 2007-2010, 2001-2006, dan <2001. Pembagian kelompok tahun kelulusan S-1 dimaksudkan untuk mengetahui keputusan dalam pemilihan program MM berdasarkan kelompok tersebut yang dianggap berpotensi untuk target pasar BBS.
Untuk itu, hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. H1a: Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor-faktor prioritas
pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1b:Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor-faktor prioritas
pemilihan program MM dengan kelompok tahun kelulusan S-1.
2. 2 2
u χ
3. p < α = 0.05, maka H0 ditolak. p > α = 0.05, maka H0 diterima.
Di bawah ini akan dijabarkan output dari uji Chi-Square untuk masing-masing faktor.
4.6.1 Uji Chi-Square untuk Faktor-Faktor Prioritas Pemilihan
Program Magister Manajemen berdasarkan Tingkat
Pendidikan Responden
Untuk menguji apakah ada hubungan yang signifikan antara faktor-faktor prioritas pemilihan program Magister Manajemen (MM) dengan tingkat pendidikan responden, maka dilakukan uji Chi-Square. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
H0a: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor-faktor
prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. H1a: Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor-faktor prioritas
pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Berikut ini penjabaran output dari masing-masing faktor: • Faktor Reputasi
Hipotesis yang digunakan untuk menguji faktor reputasi adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara reputasi sebagai
faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara reputasi sebagai faktor
prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Tabel 4.26 Cross Tabulation antara Reputasi dengan Tingkat
Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan Program MM
Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Reputasi 74 36 110 Non Reputasi 56 34 90 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 0.555, p = 0.456 2 u χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.26 menunjukkan uji chi-square antara reputasi sebagai faktor pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden. Secara statistik, nilaiχ2= 0.555 (hasil perhitungan) lebih kecil dari
2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.456 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat
diambil kesimpulan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara reputasi sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada faktor reputasi adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item
reputasi sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item reputasi
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.27 Cross Tabulation antara Item-item Reputasi dengan Tingkat Pendidikan Responden
Reputasi Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Penghargaan nasional
maupun internasional
31 11 42
Peringkat dari survei
media 15 7 22 Referensi Bisnis 84 52 136 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 2.156, p = 0.340 2 u χ (df=2, α=0.05) = 5.991
Tabel 4.27 menunjukkan uji chi-square antara item-item reputasi sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 2.156 (hasil
perhitungan) lebih kecil dari 2
u
χ (df=2, α=0.05) = 5.991 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.340 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item reputasi sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
• Faktor Lokasi
Hipotesis yang digunakan untuk menguji faktor lokasi adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lokasi sebagai
faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara lokasi sebagai faktor
prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Tabel 4.28 Cross Tabulation antara Lokasi dengan Tingkat
Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan Program MM
Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Lokasi 5 6 11 Non Lokasi 125 64 189 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 1.955, p = 0.162 2 u χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.28 menunjukkan uji chi-square antara lokasi sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 1.955 (hasil perhitungan) lebih kecil dari
2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.162 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat
yang signifikan antara lokasi sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada faktor lokasi adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item lokasi
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item lokasi
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
Tabel 4.29 Cross Tabulation antara Item-item Lokasi dengan Tingkat Pendidikan Responden
Lokasi Tingkat Pendidikan Total S1 S2
Dekat kantor 68 31 99
Dekat tempat tinggal 50 33 83 Dekat segitiga emas 10 6 16
Lain-lain 2 0 2 Total 130 70 200 Catatan:χ2(4, N=200) = 2.539, p = 0.468 2 u χ (df=3, α=0.05) = 7.815
Tabel 4.29 menunjukkan uji chi-square antara item-item lokasi sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 2.539 (hasil perhitungan) lebih
kecil dari 2
u
p=0.468 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi,
dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item lokasi sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
• Faktor Dosen
Hipotesis yang digunakan untuk menguji faktor dosen adalah: H0: Tidak terdapat hubungan antara dosen sebagai faktor prioritas
pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan antara dosen sebagai faktor prioritas
pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.30 Cross Tabulation antara Dosen dengan Tingkat Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan
Program MM Tingkat Pendidikan S1 S2 Total
Dosen 2 1 3 Non Dosen 128 69 197 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 0.004, p = 0.951 2 u χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.30 menunjukkan uji chi-square antara dosen sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 0.004 (hasil perhitungan) lebih kecil dari
2
u
lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat
diambil kesimpulan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dosen sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Hipotesis untuk menguji item-item pada faktor dosen adalah: H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item dosen
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item dosen
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.31 Cross Tabulation antara Item-item Dosen dengan Tingkat Pendidikan Responden
Dosen Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Referensi dunia usaha 86 38 124
Top Executive 35 27 62 Ekspatriat 3 1 4 Lulusan universitas tertentu 6 4 10 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 3.311, p = 0.346 2 u χ (df=3, α=0.05) = 7.815
Tabel 4.31 menunjukkan uji chi-square antara item-item dosen sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 3.311 (hasil perhitungan) lebih
kecil dari 2
u
χ (df=2, α=0.05) = 7.815 (pada Tabel Chi-Square) dan
p=0.346 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi,
dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item dosen sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
• Faktor Pendekatan Akademik dan Praktik
Hipotesis yang digunakan untuk menguji faktor pendekatan akademik dan praktik adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendekatan
akademik dan praktik sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara pendekatan akademik
dan praktik yang mempengaruhi pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.32 Cross Tabulation antara Pendekatan Akademik dan Praktik dengan Tingkat Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan Program MM
Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Pendekatan akademik
dan praktik
9 6 15
Non pendekatan
akademik dan praktik 121 64 185
Total 130 70 200
Catatan:χ2(2, N=200) = 0.178, p = 0.673
Tabel 4.32 menunjukkan uji chi-square antara pendekatan akademik dan praktik sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 0.178 (hasil
perhitungan) lebih kecil dari 2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.673 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendekatan akademik dan praktik sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada faktor pendekatan akademik dan praktik adalah sebagai berikut: H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item
pendekatan akademik dan praktik yang mempengaruhi pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item pendekatan
akademik dan praktik yang mempengaruhi pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.33 Cross Tabulation antara Item-item Pendekatan Akademik dan Praktik dengan Tingkat Pendidikan Responden
Pendekatan Akademik dan Praktik
Tingkat Pendidikan Total S1 S2
Research method 9 5 14
Case study approach 121 61 182 Research dan case study 0 4 4
Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 7.608, p = 0.023 2 u χ (df=2, α=0.05) = 5.991
Tabel 4.33 menunjukkan uji chi-square antara item-item pendekatan akademik dan praktik sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2=
7.608 (hasil perhitungan) lebih besar dari 2
u
χ (df=2, α=0.05) = 5.991 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.023 lebih kecil dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa
secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara item-item pendekatan akademik dan praktik sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
• Faktor MM Luar Negeri
Hipotesis yang digunakan untuk menguji faktor kerja sama dengan MM luar negeri adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kerja sama
dengan MM luar negeri sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara kerja sama dengan MM
luar negeri sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.34 Cross Tabulation antara Kerja Sama dengan MM Luar Negeri dengan Tingkat Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan Program MM
Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Kerja sama dengan
MM luar negeri 3 3 6
Non kerja sama dengan MM luar negeri 127 67 194 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 0.612, p = 0.434 2 u χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.34 menunjukkan uji chi-square antara kerja sama dengan MM luar negeri sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 0.612
(hasil perhitungan) lebih kecil dari 2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.434 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa
secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kerja sama dengan MM luar negeri sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada faktor kerja sama dengan MM luar negeri adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item kerja
sama dengan MM luar negeri sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item kerja sama
dengan MM luar negeri sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.35 Cross Tabulation antara Item-item Kerja Sama dengan MM Luar Negeri dengan Tingkat Pendidikan Responden
Kerja Sama dengan
MM Luar Negeri Tingkat Pendidikan Total S1 S2 MM luar negeri kurang
terkenal, sesuai minat 103 45 148 MM luar negeri
terkenal, tidak sesuai minat
24 19 43
MM luar negeri terkenal, sesuai minat
3 6 9 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 6.935, p = 0.031 2 u χ (df=2, α=0.05) = 5.991
Tabel 4.35 menunjukkan uji chi-square antara item-item kerja sama dengan MM luar negeri sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2=
(pada Tabel Chi-Square) dan p=0.031 lebih kecil dari α=0.05, mengindikasikan H0 ditolak. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa
secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara item-item kerja sama dengan MM luar negeri sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
• Faktor Kualitas Lulusan
Hipotesis yang digunakan untuk menguji faktor kualitas lulusan adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas lulusan
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas lulusan
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.36 Cross Tabulation antara Kualitas Lulusan dengan Tingkat Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan Program MM
Tingkat Pendidikan Total S1 S2
Kualitas lulusan 25 6 31
Non kualitas lulusan 105 64 169
Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 3.947, p = 0.047 2 u χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.36 menunjukkan uji chi-square antara kualitas lulusan sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 3.947 (hasil perhitungan) lebih
besar dari 2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan
p=0.047 lebih kecil dari α=0.05, mengindikasikan H0 ditolak. Jadi,
dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas lulusan sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada faktor kualitas lulusan adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item
kualitas lulusan sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item kualitas
lulusan sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.37 Cross Tabulation antara Item-item Kualitas Lulusan dengan Tingkat Pendidikan Responden
Pendekatan Akademik dan Praktik
Tingkat Pendidikan Total S1 S2
Fungsi bisnis 64 37 101
Inovasi 33 9 42
Karakter dan soft-skill 33 24 57
Total 130 70 200
Catatan:χ2(2, N=200) = 4.784, p = 0.091
Tabel 4.37 menunjukkan uji chi-square antara item-item kualitas lulusan sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 4.784 (hasil
perhitungan) lebih kecil dari 2
u
χ (df=2, α=0.05) = 5.991 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.091 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara item-item kualitas lulusan sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
• Faktor Network
Hipotesis yang digunakan untuk menguji faktor network adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara network sebagai
faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara network sebagai faktor
Tabel 4.38 Cross Tabulation antara Network dengan Tingkat Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan Program MM
Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Network 6 0 6 Non network 124 70 194 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 3.331, p = 0.068 2 u χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.38 menunjukkan uji chi-square antara network sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 3.331 (hasil perhitungan) lebih
kecil dari 2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan
p=0.068 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi,
dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara network yang mempengaruhi pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada faktor network adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item
network sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item network
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.39 Cross Tabulation antara Item-item Network dengan Tingkat Pendidikan Responden
Network Tingkat Pendidikan Total S1 S2
Bidang yang sama 58 32 90
Bidang yang berbeda 72 38 110
Total 130 70 200
Catatan:χ2(2, N=200) = 0.022, p = 0.882
2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.39 menunjukkan uji chi-square antara item-item network sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 0.022 (hasil
perhitungan) lebih kecil dari 2
u
χ (df=2, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.882 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item network sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
• Faktor Alumni
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara alumni sebagai
faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara alumni sebagai faktor
prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Tabel 4.40 Cross Tabulation antara Alumni dengan Tingkat
Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan Program MM
Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Alumni 0 2 2 Non alumni 130 68 198 Total 130 70 200 2 χ (2, N=200) = 3.752, p = 0.053 2 u χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.40 menunjukkan uji chi-square antara alumni sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 3.752 (hasil perhitungan) lebih kecil dari
2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.053 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi, dapat
diambil kesimpulan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara alumni sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada faktor alumni adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item alumni
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item alumni
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.41 Cross Tabulation antara Item-item Alumni dengan Tingkat Pendidikan Responden
Alumni Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Bekerja di BUMN/Swasta 42 31 73 Bekerja di luar negeri 29 9 38
Entrepreneur 59 27 86 Lain-lain 0 2 3 Total 130 70 200 Catatan:χ2(4, N=200) = 9.990, p = 0.019 2 u χ (df=3, α=0.05) = 7.815
Tabel 4.41 menunjukkan uji chi-square antara item-item alumni sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 9.990 (hasil
perhitungan) lebih besar dari 2
u
χ (df=3, α=0.05) = 7.815 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.019 lebih kecil dari α=0.05, mengindikasikan H0
ditolak. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara item-item alumni sebagai faktor
prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
• Faktor Waktu Kuliah
Hipotesis untuk menguji faktor waktu kuliah adalah:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara waktu kuliah
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu kuliah sebagai
faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.42 Cross Tabulation antara Waktu Kuliah dengan Tingkat Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan
Program MM Tingkat Pendidikan Total S1 S2
Waktu kuliah 2 9 11
Non waktu kuliah 128 61 189
Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 11.215, p = 0.001 2 u χ (df=1, α=0.05) = 3.841
Tabel 4.42 menunjukkan uji chi-square antara waktu kuliah sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 11.215 (hasil perhitungan)
lebih besar dari 2
u
dan p=0.001 lebih kecil dari α=0.05, mengindikasikan H0 ditolak.
Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara waktu kuliah sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada waktu kuliah adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item waktu
kuliah sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item waktu kuliah
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.43 Cross Tabulation antara Item-item Waktu Kuliah dengan Tingkat Pendidikan Responden
Waktu Kuliah Tingkat Pendidikan Total S1 S2
Setelah jam kerja 71 36 107
Pada jam kerja 8 17 25
Hari sabtu 50 16 66 Lain-lain 1 1 2 Total 130 70 200 Catatan:χ2(2, N=200) = 15.609, p = 0.001 2 u χ (df=3, α=0.05) = 7.815
Tabel 4.43 menunjukkan uji chi-square antara item-item waktu kuliah sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan
tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 15.609 (hasil
perhitungan) lebih besar dari 2
u
χ (df=2, α=0.05) = 7.815 (pada Tabel Chi-Square) dan p=0.001 lebih kecil dari α=0.05, mengindikasikan H0
ditolak. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara item-item waktu kuliah yang sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
• Faktor Biaya Kuliah
Hipotesis untuk menguji faktor biaya kuliah adalah:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara biaya kuliah
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara biaya kuliah sebagai
faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.44 Cross Tabulation antara Biaya Kuliah dengan Tingkat Pendidikan Responden
Faktor Pemilihan Program MM
Tingkat Pendidikan Total S1 S2
Biaya kuliah 4 0 4
Non biaya kuliah 126 70 196
Total 130 70 200
Catatan:χ2(2, N=200) = 2.198, p = 0.138
Tabel 4.44 menunjukkan uji chi-square antara biaya kuliah sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan. Secara statistik, nilaiχ2= 2.198 (hasil perhitungan) lebih
kecil dari 2
u
χ (df=1, α=0.05) = 3.841 (pada Tabel Chi-Square) dan
p=0.138 lebih besar dari α=0.05, mengindikasikan H0 diterima. Jadi,
dapat diambil kesimpulan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara biaya kuliah sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan responden.
Sedangkan hipotesis yang digunakan untuk menguji item-item pada faktor biaya kuliah adalah sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara item-item biaya
kuliah sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara item-item biaya kuliah
sebagai faktor prioritas pemilihan program MM dengan tingkat pendidikan.
Tabel 4.45 Cross Tabulation antara Item-item Biaya Kuliah dengan Tingkat Pendidikan Responden
Biaya Kuliah Tingkat Pendidikan Total S1 S2 Sangat sesuai 11 19 30 Sesuai 105 49 154 Tidak sesuai 14 2 16 Total 130 70 200 2 χ (2, N=200) = 14.832, p = 0.001 2 u χ (df=2, α=0.05) = 5.991