SANITASI DAN HIGIENE PLUS
PANDUAN PENGENDALIAN
RISIKO COVID-19
DI UNIT PENANGANAN
DAN PENGOLAHAN IKAN
SANITASI DAN HIGIENE PLUS
PANDUAN PENGENDALIAN RISIKO COVID-19 DI UNIT PENANGANAN DAN PENGOLAHAN IKAN
Penyusun : Achmad Poernomo Editor : Sudari Pawiro Desain dan tata letak : Bobby Haryanto Ilustrator : Sekar Khairunnisa Yoris Penerbit : STP Press
Jl. Aup No. 1
Pasar Minggu, Jakarta Selatan DKI Jakarta
ISBN 978-602-9156-60-7 ©2021, SMART-Fish Indonesia Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang keras menerjemahkan, menyalin, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta.
SANITASI DAN HIGIENE PLUS
PANDUAN PENGENDALIAN
RISIKO COVID-19
DI UNIT PENANGANAN
DAN PENGOLAHAN IKAN
PENERBIT Oleh: Achmad Poernomo
4
KATA PENGANTAR
Panduan yang ada di tangan pembaca ini disusun khusus untuk mengendalikan risiko penularan di Unit Penanganan dan Pengolahan Ikan mengingat di sinilah aktivitas terakhir sebelum produk menuju konsumen. Panduan disusun untuk melindungi karyawan dari penularan Covid-19 dengan menerapkan berbagai perubahan praktik sanitasi dan higiena yang diperkuat dengan penerapan protokol kesehatan, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Karena itu, Panduan ini disebut Sanitasi dan
Higiene Plus.
Di dalam menyusun Panduan ini, penulis menggunakan rujukan terkini, antara lain dari Center for Disease Control and Prevention, USA. Beberapa gambar atau ilustrasi diambil dari berbagai rujukan, sebagaimana disebutkan di dalam teks. Penulis juga menerima masukan dari berbagai pihak, terutama Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui serangkaian diskusi dan konsultasi. Kepada mereka yang telah memberikan saran dan masukan, penulis ucapkan terima kasih. Penulis menyampaikan penghargaan kepada Pak Sudari Pawiro yang telah menyunting naskah ini, Mas Bobby Haryanto yang membuat desain kover dan tata letak, serta Dik Laras yang membantu membuat ilustrasi
Jakarta, April 2021
SAMBUTAN
NATIONAL CHIEF TECHNICAL ADVISOR
UNIDO GQSP INDONESIA SMART-FISH 2
Pandemi COVID 19 telah memaksa kita untuk melakukan tindakan-tindakan baru atau ekstra yang disebut sebagai new normal, tidak terkecuali di unit pengolaha ikan (UPI). Meskipun tindakan sanitasi dan higiene sudah merupakan hal yang rutin dilakukan oleh UPI, namun dalam masa pandemi ini tidak bisa menggunakan prinsip “businessas usual” tetapi langkah-langkah ekstra perlu
dilakukan, bukan hanya untuk melindungi karyawan tetapi juga untuk “melindungi” produk dari kemungkinan terkontaminasi oleh virus Corona. Kasus-kasus ditemukannya
jejak-jejak (traces) virus di produk perikanan oleh otoritas Cina menunjukkan adanya potensi kontaminasi ini yang telah menyebabkan beberapa eksportir hasil perikanan dilarang untuk ekspor ke Cina. Dengan pertimbangan hal-hal di atas, petunjuk teknis atau panduan Sanitasi dan Higiene Plus ini disusun oleh Dr. Achmad Poernomo, dosen Politeknik Ahli Usaha Perikanan dan tenaga ahli Global and Quality Standards Programme (GQSP) Indonesia SMART-Fish 2 bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Panduan ini semoga bisa membantu UPI untuk menerapkan sanitasi dan higiene yang lebih efektif untuk menurunkan risiko COVID-19. GQSP Indonesia yang didanai dari hibah pemerintah Swiss (SECO) dan diluncurkan pada bulan Juli 2019 ini, merupakan program perpanjangan dari SMART-Fish Indonesia (2014 -2019) yang dilaksanakan bersama oleh UNIDO, KKP dan juga BSN. GQSP memiliki mitra dari sektor swasta di 21 Kabupaten di 9 Provinsi di seluruh Indonesia. Keseluruhan program ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pemenuhan standar dan kualitas dari usaha kecil dan menengah (UKM) dalam menembus pasar domestik dan internasional.
6
SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL PENGUATAN DAYA SAING
PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
Pandemi Covid-19 dapat menjadi penghalang terhadap pertumbuhan ekonomi, termasuk di sektor perikanan. Dampak yang dirasakan oleh Unit Penanganan dan Pengolahan Ikan (UPI) di Indonesia adalah terganggunya kegiatan produksi, dan timbulnya risiko baru kepada produk perikanan. Ini dikhawatirkan akan menyebabkan penurunan produksi UPI yang akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian target Indikator Kinerja Utama Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen
PDSPKP) diantaranya volume produk olahan dan nilai ekspor produk perikanan secara nasional.
Saat ini, risiko yang harus dicegah adalah penularan atau transmisi Covid-19 sepanjang proses produksi, utamanya melalui kontak antar karyawan UPI. Oleh karena itu, seluruh pemasok dan UPI harus menguatkan penerapan prinsip-prinsip Sanitasi dan Higienis “Plus” sebagaimana disebutkan dalam panduan ini untuk memberikan perlindungan pada karyawannya, dan juga produk perikanan yang ditangani atau diolah. Ditjen PDSPKP terus melakukan berbagai upaya mitigasi risiko melalui pembinaan dan sosialisasi secara masif kepada pemasok dan UPI untuk penerapan protokol pencegahan Covid-19 secara ketat dan termonitor selama kegiatan penanganan dan/atau pengolahan ikan.
Sehubungan dengan permasalahan di atas, Panduan ini telah sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh Ditjen PDSPKP di dalam memitigasi dampak Covid-19. Dengan menerapkan panduan ini secara konsisten sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing, pemasok atau UPI diharapkan dapat mempertahankan kinerjanya. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan, khususnya Ditjen PDSPKP, serta Dinas Kelautan dan Perikanan setempat akan selalu siap memberikan bimbingan penerapan Panduan ini.
Terima kasih kepada Global Quality and Standard Programme
(GQSP) Indonesia SMART-Fish 2 yang telah bekerja sama dengan
Ditjen PDSPKP untuk penerbitan panduan ini. Kami juga memberikan penghargaan kepada Dr. Achmad Poernomo selaku tenaga ahli GQSP Indonesia dan Dosen Politeknik Ahli Usaha Perikanan sebagai penyusun buku panduan ini.
Jakarta, April 2021
DAFTAR ISI
SAMBUTAN NATIONAL CHIEF TECHNICAL ADVISOR
UNIDO GQSP INDONESIA SMART-FISH 2 4
KATA PENGANTAR 5
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PENGUATAN DAYA SAING
PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN 6
01. PENDAHULUAN 10
02. RISIKO COVID-19 DI UNIT PENGOLAHAN IKAN (UPI) 14 03. SANITASI DAN HIGIENA “PLUS”
UNTUK PENGENDALIAN VIRUS CORONA
DI UNIT PENGOLAHAN IKAN 16
Prinsip sanitasi dan higiene plus 16
Penilaian risiko 18
Eliminasi dan substitusi risiko 19
Pengendalian teknikal 21
Pengendalian prosedural dan penggunaan APD 23 Komunikasi, Informasi dan Edukasi 25
04. PENUTUP 26
DAFTAR PUSTAKA 27
Percikan besar (>10 µm, menjangkau <1m) Orang yang terjangkit Percikan kecil (5-10 µm, menjangkau 1-1,5m) inti percikan (<5 µm, menjangkau s.d. 50m) Batuk/bersin menghasilkan kepulan gas kecil yang bergerak cepat berisi percikan berbagai ukuran terbawa udara sejauh 7-8m Percikan Bertahan di permukaan Ber tah an di permuk aan perpindahan melalui sentuhan Kontak langsung Kontak tidak langsu ng Kontak lan gsung atau tidak lan
gsung Inh alasi Inh al as i
Orang yang rentan
10
Wabah Coronavirus 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh virus SARS-COV-2 merupakan penyakit pernapasan, yang ditularkan secara langsung maupun tidak langsung (Gambar 1). Virus ini dapat menyebabkan sakit jika masuk ke paru-paru dan jaringan lain melalui saluran pernapasan dan jaringan mukosa orang sehat. Dampak COVID-19 dapat bervariasi dari yang sangat ringan sampai yang parah, bahkan mengakibatkan kematian. Gejala umum penyakit yang disebabkan oleh virus Corona antara lain1 demam tinggi (>37,5°
C) atau kedinginan, batuk, sesak napas atau kesulitan bernapas, kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, kehilangan rasa atau bau, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, mual atau muntah dan diare (Gambar 2).
Tidak ada bukti bahwa makanan merupakan sumber atau jalur penularan penting COVID-19 (González et al., 2021). Jumlah partikel virus hidup pada makanan sangat rendah dan virus tidak dapat berkembang biak dalam makanan. Perlakuan penanganan dan pengolahan yang dialami makanan menyebabkan mikro-organisme, termasuk virus akan mati atau tidak aktif. Setelah makanan dikonsumsi, ia memasuki saluran pencernaan dan asam lambung kemungkinan besar akan menonaktifkan virus.2
1 https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/symptoms-testing/symptoms.html
2 http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/ en/c/1294263/
01
PENDAHULUAN
Percikan besar (>10 µm, menjangkau <1m) Orang yang terjangkit Percikan kecil (5-10 µm, menjangkau 1-1,5m) inti percikan (<5 µm, menjangkau s.d. 50m) Batuk/bersin menghasilkan kepulan gas kecil yang bergerak cepat berisi percikan berbagai ukuran terbawa udara sejauh 7-8m Percikan Bertahan di permukaan Ber tah an di permuk aan perpindahan melalui sentuhan Kontak langsung Kontak tidak langsu ng Kontak lan gsung atau tidak lan
gsung Inh alasi Inh al as i
Orang yang rentan
Gambar 1. Transmisi virus Corona (diadaptasi dari (Duda-Chodak et al., 2020)
12
Gambar 2. Gejala umum yang disebabkan oleh virus Corona
Batuk, napas pendek, atau sesak napas
Mual, muntah atau diare
Badan pegal/nyeri otot Kehilangan penciuman/ perasa
Meskipun demikian, Cina telah beberapa kali menolak produk ikan beku dari bebagai negara, termasuk Indonesia, dengan alasan ditemukan jejak-jejak virus Corona di kemasan dan pada produknya. Klaim tersebut telah dipertanyakan oleh banyak negara, dan sampai saat Pedoman ini ditulis belum ada kejelasan lebih lanjut atas kasus ini mengingat pihak otoritas Cina juga belum membuka ke publik mengenai metoda analisisnya.
Sambil menunggu perkembangan lebih lanjut, Pedoman ini disusun dengan asumsi bahwa makanan, dalam hal ini ikan dan produknya, tidak menjadi sumber penularan. Kontak personal baik langsung maupun tidak langsung lebih merupakan sebab penularan daripada makanan yang terkontaminasi. Dengan demikian, upaya perlu difokuskan kepada perlindungan karyawan yang terlibat di dalam penanganan dan pengolahan ikan. Pedoman ini diadaptasi dari berbagai sumber, antara lain Center for Disease Control and Prevention, USA3 dan Nakat & Bou-Mitri (2021).
3 https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/guidance-seafood-processing. html
14
Perikanan merupakan kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak pihak melalui suatu rantai pasok yang sangat panjang (Gambar 3). Karena itu potensi penularan sepanjang rantai pasok tersebut sangat tinggi, termasuk di bagian hilir yaitu pengolahan. Semua pengusaha pengolahan ikan perlu merencanakan penilaian dan pengendalian COVID-19 di tempat kerja mereka selama pandemi, untuk melindungi kesehatan pekerja dan memastikan mereka dapat terus beroperasi dengan aman.
Faktor yang berpengaruh terhadap terpaparnya karyawan dari virus Corona adalah:
1. Jarak antar karyawan: Karyawan sering bekerja berdekatan
sepanjang alur pengolahan ikan di pabrik atau penanganan di kapal penangkap, seperti dalam proses pemotongan, pensortiran, penimbangan, pengepakan, laboratorium dan ruang kantor atau administrasi. Demikian juga di waktu dan kesempatan lain, seperti saat jam masuk atau keluar pabrik. Penggunaan ruang bersama (misalnya, ruang istirahat, ruang loker, pintu masuk/ keluar, tempat presensi, kantin) dan transportasi bersama (misalnya, transportasi umum, bis atau mobil jemputan) ke dan dari tempat kerja dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19.
02
RISIKO COVID-19
DI UNIT PENGOLAHAN
IKAN (UPI)
Transportasi Pengolahan Akuakultur Transportasi Transportasi Pasar/retail Perikanan tangkap Pendaratan/ pelelangan Sentra penanganan Konsumen 2. Durasi kontak: Karyawan sering kali memiliki kedekatan yang
lama dengan rekan kerja (misalnya, 8 jam per shift). Jam lembur juga akan meningkatkan potensi penularan.
3. Jenis kontak: Karyawan dapat terpapar virus yang menular melalui
percikan ludah maupun percikan pernapasan (respiratory droplet) di udara misalnya, saat salah satu karyawan yang terkena virus batuk, bersin, atau berbicara. Mungkin juga paparan dapat terjadi dari kontak dengan permukaan atau benda yang terkontaminasi, seperti alat, workstation atau meja di kantor, kantin dan ruang istirahat.
4. Lingkungan tempat tinggal: termasuk mess karyawan atau
tempat tinggal untuk pekerja musiman, di atas kapal juga dapat meningkatkan risiko terinfeksi.
03
SANITASI DAN
HIGIENA “PLUS” UNTUK
PENGENDALIAN VIRUS
CORONA DI UNIT
PENGOLAHAN IKAN
Prinsip sanitasi dan higiene plus
Sanitasi dan higiena merupakan prasyarat utama untuk menghasilkan produk perikanan yang aman konsumsi. Unit Pengolahan Ikan pada umumnya telah menerapkan praktik sanitasi dan higiene yang memenuhi syarat yaitu melalui Prosedur Operasi Standar Sanitasi (Sanitation Standard Operating Procedure/SSOP), yang juga merupakan salah satu persyaratan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dan/atau Sertifikat Hazard Analysis and Critical Control
Point (HACCP).
Delapan Kunci SSOP sudah cukup untuk menjamin terpenuhinya syarat sanitasi dan higiene di UPI, namun sebagaimana disebutkan di atas, untuk mengendalikan risiko penularan virus Corona diperlukan langkah lebih untuk penguatan sanitasi dan higiene tersebut. Langkah tersebut dalam Pedoman ini disebut Sanitasi dan
Higiene Plus, yaitu SSOP yang diperkuat dengan Protokol Kesehatan,
yaitu menjaga jarak, menghindarkan kerumunan dan menggunakan masker atau Alat Pelindung Diri (APD).
Gambar 4. Hirarki pengendalian risiko
Manajemen harus memahami pentingnya pengendalian risiko ini dan menggerakkan semua sumberdaya untuk memastikan berjalannya langkah-langkah pengendalian risiko yang sudah ditetapkan. Karena itu, Manajemen perlu membentuk Tim Pengendalian Risiko Covid-19. Tim ini bisa dirangkap oleh tim SKP/HACCP yang sudah ada. Tugas utama tim ini adalah:
1. Melakukan penilaian risiko
2. Menetapkan langkah-langkah pengendalian risiko
3. Mengorganisasikan pelaksanaan langkah-langkah pengendalian risiko
4. Melakukan pengawasan pelaksanaan langkah-langkah pengendalian risiko
5. Sebagai narasumber dengan pihak luar terkait pengendalian risiko di UPI
6. Melaporkan tugasnya kepada Manajemen
Pengendalian risiko difokuskan pada empat faktor yang berpengaruh terhadap terpaparnya karyawan dari virus Corona di atas, serta melalui hirarki pengendalian (NIOSH, 2015), sesuai dengan Gambar 4, yaitu eliminasi, substitusi, pengendalian teknikal, pengendalian
prosedural dan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri).
Menghilangkan atau mengganti sumber penularan
Membuat penghalang agar tidak terjadi penularan Memodifikasi prosedur untuk menghindari penularan Melindungi pekerja dari penularan Paling efektif Kurang efektif ELIMINASI SUBSTITUSI PENGENDALIAN TEKNIKAL PENGENDALIAN PROSEDURAL APD
18
Penilaian risiko
Penilaian risiko adalah metode sistematis untuk melihat bagaimana karyawan dapat menularkan dan/atau terpapar COVID-19 saat bekerja, dan memutuskan tindakan pengendalian yang sesuai. Langkah-langkah pengendalian ini dirancang untuk menghilangkan, mengurangi atau mengendalikan risiko penularan ke karyawan dan orang lain.
Untuk menilai risiko ini, setidaknya hal-hal berikut perlu dicermati: 1. Identifikasi bahayanya dan di mana.
2. Tentukan siapa yang mungkin terpapar dan bagaimana cara terpapar dan penularannya.
3. Evaluasi risiko dan putuskan tindakan pencegahan. 4. Tentukan pelaksanaan pencegahan.
5. Tinjau penilaian secara periodik dan perbarui jika perlu.
Penilaian risiko bisa dibuat secara sederhana, namun terstruktur dan bisa dipertanggungjawabkan. Contoh matriks penilaian risiko sebagaimana Tabel 1.
Tabel 1. Contoh formulir penilaian risiko penularan Covid-19
PENILAIAN RISIKO PENULARAN COVID-19 PT XYZ
Dibuat oleh Diverifikasi oleh:
Nama: Jabatan: Tanggal Nama: Jabatan: Tanggal
Di mana risiko penularan bisa terjadi
Siapa berpotensi
tertular yang selama ini Prosedur apa
telah dilakukan Prosedur tambahan yang harus dilakukan Siapa yang mengawasi pelaksanaan prosedur tambahan Kapan prosedur tambahan dilaksanakan
Kolom 1 diisi dengan tempat, misalnya Kantor Satpam, Ruang penerimaan Bahan, Ruang Pengolahan, Ruang Administrasi, Kantin, Ruang Loker, dll
Kolom 2 diisi orang, misalnya Satpam, Sopir, Pemasok, Karyawan Pengolahan, Karyawan Administrasi, dll Kolom 3 diisi denhan jenis prosedur sanitasi dan higiena yang telah dilaksanakan (SSOP) atau bisa kosong
kalau tidak ada
Kolom 4 diisi dengan prosedur/langkah pengendalian khusus untuk mencegah penularan Covid-19 Kolom 5 diisi dengan nama penanggung jawab mmasing-masing tempat di kolom 1
Untuk UPI skala kecil, penilaian risiko dapat dilakukan secara lebih sederhana dengan bantuan Pembina Mutu atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Tempat-tempat yang diprioritaskan adalah ruang pengolahan.
Eliminasi dan substitusi risiko
Pada dasarnya langkah ini adalah untuk mencegah virus Corona atau orang yang tertular masuk ke lingkungan UPI melalui tindakan-tindakan: 1. Lakukan pengujian/test Covid-19 secara periodik kepada seluruh
karyawan. Dorong karyawan untuk melakukan vaksinasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah.
2. Lakukan skrining suhu badan di pintu masuk lingkungan UPI (di pos Satpam dan/atau di gedung pengolahan/kantor) menggunakan alat pengukur suhu yang akurat. Sediakan sarana pencuci tangan di tempat-tempat tersebut dan mencuci tangan menggunakan sabun biasa setidaknya selama 30 detik cukup untuk melumpuhkan virus (Duda-Chodak et al., 2020). Atur antrian satu karyawan dengan lainnya pada waktu pengukuran suhu atau cuci tangan (Gambar 5). Lakukan hal ini untuk karyawan dan non karyawan.
3. Karyawan yang menunjukkan gejala demam/suhu badan tinggi (>37,5° C) atau gejala lain seperti pada Gambar 2, tidak diperbolehkan masuk bekerja dan segera dikonsultasikan ke Klinik Kesehatan setempat.
4. Karyawan yang memperoleh hasil uji Covid-19 positif agar segera melakukan isolasi mandiri dan dikonsultasikan dengan Klinik Kesehatan setempat atau Rumah Sakit, dan dilaporkan kepada Satuan Tugas Penanganan Covid-19 terdekat. Pihak UPI agar segera melakukan pelacakan dan pengujian Covid-19 kepada keluarga dan/atau kontak terdekatnya. Konsultasikan dengan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 setempat mengenai siapa yang termasuk dalam keluarga dan/atau kontak terdekat dan batas waktu kontak. Karyawan tersebut dapat dipekerjakan kembali apabila hasil uji oleh Klinik Kesehatan atau Rumah Sakit setempat telah menunjukkan hasil negatif.
20
5. Karyawan yang pernah dirawat di Rumah Sakit karena menderita Covid-19 bisa dipekerjakan kembali setelah mendapatkan Surat Bebas Covid-19 dari Rumah Sakit tempat perawatan.
6. Batasi jumlah tamu dalam satu hari. Tamu yang menunjukkan gejala demam/suhu tinggi (>37,5° C) atau gejala lain seperti pada Gambar 2 tidak diperbolehkan masuk ke lingkungan UPI.
7. Bila tamu diperbolehkan masuk ke UPI, mereka harus mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan dan manajemen perlu menyediakan APD bagi tamu.
8. Pemasok yang secara rutin mengirimkan bahan baku, bahan penolong maupun bahan pembantu agar didaftar dan dilakukan pengujian Covid-19 secara berkala. Hanya mereka yang terdaftar yang boleh memasuki gedung pengolahan. Pemasok yang tidak terdaftar agar disediakan tempat terpisah untuk transit.
9. Pastikan bahan non ikan (misalnya bahan pengemas) telah didisinfeksi sebelum dibawa masuk ke UPI.
10. Pastikan kendaraan dan peralatan pemasok didisinfeksi seperlunya sebelum memasuki lingkungan UPI.
11. Untuk UPI skala kecil, diutamakan untuk menyediakan tempat cuci tangan dilengkapi sabun dan hand sanitizer di pintu masuk ruang pengolahan dan toilet, serta menyediakan alat pengukur suhu untuk karyawan.
Gambar 5. Skrining sebelum masuk lingkungan UPI
1,5-2m
PINTU MASUK PEMERIKSAAN
SUHU CUCI TANGAN
Pengendalian teknikal
Langkah ini disiapkan untuk mengurangi kontak fisik antar karyawan dan interaksi yang terlalu dekat dengan menyediakan berbagai halangan fisik. Beberapa cara yang bisa ditempuh antara lain: 1. Bila tidak mengganggu, pintu ruangan tertentu dibiarkan terbuka
atau menggunakan pintu otomatis.
2. Jika memungkinkan, ubah formasi di ruang pengolahan sejak penerimaan sampai pengemasan sedemikian rupa sehingga pekerja setidaknya berjarak 1,5 meter ke segala arah misalnya, dari sisi ke sisi dan saat berhadapan satu sama lain (Gambar 6).
Gambar 6. Opsi pemberian sekat di ruang pengolahan
https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/guidance-seafood-processing.html <1,5m <2m Kosongkan Partisi Partisi Partisi Kosongkan 2m
Partisi mungkin perlu disesuaikanuntuk berintegrasi dengan jalur pemrosesan atau peralatan kerja lainnya.
Untuk pekerjaan yang dilakukan secara tandem dan berhadapan, partisi diposisikan untuk melindungi pekerja namun tetap menjamin kelancaran aliran bahan baku.
22
3. Jika memungkinkan, antar karyawan administrasi di ruang kerja diberi penyekat sehingga meminimalkan peluang kontak antar mereka (Gambar 7).
4. Jika kipas digunakan di tempat kerja, lakukan langkah-langkah untuk meminimalkan udara dari kipas yang bertiup dari satu pekerja langsung ke pekerja lain. Kipas pendingin pribadi harus dikeluarkan dari tempat kerja untuk mengurangi potensi penyebaran virus di udara atau aerosol.
5. Tambahkan fasilitas cuci tangan dan sanitasi di berbagai tempat, terutama di tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya kerumunan.
6. Kurangi kerumunan sebanyak mungkin tempat duduk yang tidak diperlukan di ruang komunal dan tempat lainnya.
7. Atur susunan meja dan kursi di kantin untuk meminimalkan kontak antar karyawan (Gambar 8).
Gambar 8. Opsi pengaturan jarak di kantin
1,5-2m
1,5-2m
Pengendalian prosedural dan penggunaan APD
Pengendalian prosedural membutuhkan tindakan dari pekerja atau pemberi kerja, dan biasanya berupa perubahan dalam pekerjaan, kebijakan atau prosedur untuk mengurangi atau meminimalkan paparan bahaya. Manajemen disarankan untuk mendorong pekerja yang sakit untuk tinggal di rumah, merevisi kebijakan cuti sakit, memperbarui jadwal pembersihan dan sanitasi menjadi lebih sering, meminimalkan kontak di antara pekerja dengan menyesuaikan shift kerja, serta menyediakan berbagai pelatihan dan pendidikan terkait pelaksanaan protokol kesehatan. Langkah-langkah yang dapat diambil antara lain:
1. Menunjuk karyawan untuk menjadi koordinator dan/atau pengawas pelaksanaan protokol kesehatan di bagian-bagian tertentu, termasuk di dalam mobil jemputan.
24
2. Memastikan bahwa antar karyawan tetap dalam jarak aman (1,5-2 meter) untuk memperkecil risiko penularan Covid-19.
3. Mengatur kedatangan dan keberangkatan pekerja untuk menghindari kerumunan di tempat parkir, pintu masuk dan tempat presensi.
4. Mengatur antrian di berbagai tempat misal koperasi, kasir, tempat mengambil makanan di kantin, kamar mandi dan toilet, ruang loker/ganti pakaian dan tempat ibadah.
5. Mengatur shift kerja sehingga mengurangi jumlah karyawan pada satu waktu.
6. Memperketat praktik-praktik sanitasi dan higiene, dan menambah sarana dan bahan yang diperlukan, misalnya memperbanyak fasilitas cuci tangan di tempat-tempat yang banyak karyawan berkumpul atau dilalui karyawan.
7. Menambah frekuensi tindakan sanitasi pada permukaan yang sering disentuh karyawan (pegangan pintu, pegangan tangga, pintu-pintu loker, toilet/kamar mandi, pegangan lemari es di kantin, dll.).
8. Bila tersedia mobil jemputan, maka kurangi jumlah penumpang dan terapkan praktik-praktik protokol kesehatan selama di kendaraan. Turunkan jendela mobil sehingga ada sirkulasi udara selama dalam perjalanan. Sediakan fasilitas sanitasi secukupnya, misalnya alkohol atau hand sanitizer. Mengingatkan karyawan untuk mengikuti etika batuk dan bersin saat berada di dalam kendaraan.
9. Membersihkan dan mendisinfeksi permukaan yang biasa disentuh setelah penggunaan setiap kendaraan antar-jemput (misalnya, gagang pintu, pegangan tangan, gesper sabuk pengaman). 10. Mengingatkan karyawan akan prosedur sanitasi dan higiene yang
benar melalui pelatihan dan infomasi tertulis atau gambar/poster. 11. Manajemen perlu menyediakan lebih banyak APD bagi
karyawan, terutama masker. Masker bukan hanya dikenakan oleh karyawan bagian pengolahan, tapi oleh seluruh karyawan termasuk manajemen dan staf administrasi. Pastikan bahwa karyawan mengerti cara penggunaan masker secara benar.
Masker harus diganti setiap 4 jam, dan perusahaan harus memfasilitasinya dalam jumlah yang cukup. Masker karyawan di ruangan pengolahan lebih cepat menjadi kotor, karena itu frekuensi penggantiannya akan lebih sering. Perusahaan harus menyediakan tempat pembuangan khusus untuk masker bekas sekali pakai, atau penampungan masker kain yang kotor untuk dicuci secara benar.
12. Untuk UPI skala kecil, karyawan dilatih untuk mencuci tangan secara benar dan berkala, membersihkan/mencuci peralatan sebelum dan sesudah digunakan dan selalu mengenakan masker.
Komunikasi, Informasi dan Edukasi
Keberhasilan langkah-langkah pengendalian di atas, selain membutuhkan komitmen manajemen juga memerlukan keterlibatan seluruh karyawan di semua tingkat. Karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa seluruh karyawan memahami langkah-langkah tersebut dan melaksanakannya. Upaya tersebut dapat ditempuh dengan:
1. Pelatihan terjadwal
2. Menyediakan sarana komunikasi secara berjenjang di setiap bagian, terutama apabila ada kejadian khusus terkait Covid-19, misalnya ada karyawan yang menunjukkan gejala selama jam kerja.
3. Memperbanyak informasi serta himbauan mematuhi protokol kesehatan dalam berbagai bentuk seperti poster, leaflet, brosur dll. Contoh poster dapat dilihat di Lampiran. Informasi tersebut harus tersedia di tempat-tempat strategis dan kalau dalam bentuk poster dipasang di papan pengumuman, mobil antar jemput kayawan, pintu masuk, ruang produksi, ruang ganti, kantin, tempat ibadah, gudang, laboratorium, toilet dan area publik lainnya.
26
Panduan ini merupakan tindakan darurat yang dapat digunakan selama masa pandemi Covid-19. Selain untuk UPI, Panduan ini juga bisa digunakan untuk unit distribusi/retail seperti pasar modern atau pasar swalayan, dengan penyesuaian seperlunya. Sedangkan untuk UPI skala kecil, dengan segala keterbatasannya, Panduan ini dapat diterapkan dengan memberikan perhatian kepada penggunaan masker, dan penyediaan sarana/fasilitas cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dapat memberikan bimbingan serta bantuan fasilitas seperlunya.
Pelaksanaan Panduan ini, selain memerlukan komitmen manajemen, perencanaan yang matang, dan keterlibatan secara aktif seluruh karyawan dari berbagai level, juga memerlukan kerjasama yang baik dan terbuka dengan aparat Pemerintah setempat, terutama Satgas Penanganan Covid-19. Dengan langkah-langkah pengendalian yang diambil, akan terjadi perubahan prosedur dan aturan kerja, termasuk ritme kerja, yang pada gilirannya bisa mengurangi produksi. Meskipun demikian, hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan akibat yang ditimbulkan bila Covid-19 tidak dikendalikan di UPI.
04
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Duda-Chodak, A., Lukasiewicz, M., Zięć, G., Florkiewicz, A., & Filipiak-Florkiewicz, A. (2020). Covid-19 pandemic and food: Present knowledge, risks, consumers fears and safety. Trends in Food
Science & Technology, 105, 145–160. https://doi.org/10.1016/j.
tifs.2020.08.020
González, N., Marquès, M., & Domingo, J. L. (2021). Respiratory viruses in foods and their potential transmission through the diet: A review of the literature. Environmental Research, 195, 110826. https://doi.org/10.1016/j.envres.2021.110826
Nakat, Z., & Bou-Mitri, C. (2021). COVID-19 and the food industry: Readiness assessment. Food Control, 121, 107661. https://doi. org/10.1016/j.foodcont.2020.107661
NIOSH. (2015, January 13). Hierarchy of controls. https://www.cdc. gov/niosh/ topics/hierarchy/default.html.
28
Jl. Aup No. 1
Pasar Minggu, Jakarta Selatan DKI Jakarta