BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Kota Surakarta 1. Keadaan Geografis
Kota Surakarta terletak di antara 110 45` 15" - 110 45` 35" Bujur
Timur dan 70 36" - 70 56" Lintang Selatan. Kota Surakarta ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali pada sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo pada sebelah selatan.
Pembagian administratif, Kota Surakarta dan kabupaten-kabupaten di sekelilingnya, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, secara kolektif masih sering disebut sebagai eks-Karesidenan Surakarta. Kota Surakarta sendiri dibagi menjadi 5 kecamatan yang masing dipimpin oleh seorang camat dan 51 kelurahan yang masing-masing dipimpin oleh seorang lurah. Kelima kecamatan di Surakarta adalah:
Tabel 4.1
Tabel Jumlah Kelurahan di Surakarta
No Kecamatan Jumlah Kelurahan
1 Banjarsari 13
2 Laweyan 11
3 Jebres 11
4 Pasar Kliwon 9
5 Serengan 7
Sumber : Data Kecamatan 2013
2. Iklim
Kota Surakarta memiliki iklim muson tropis. Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, musim hujan di kota-kota Surakarta dimulai dari bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hinggal September. Rata-rata curah hujan di Solo adalah 2.200 mm, dan bulan paling tinggi curah hujannya adalah Desember, Januari, dan Februari. Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius. Meskipun pada akhir tahun 2013 terjadi anomali cuaca sehingga turunnya hujan tidak menentu dan cenderung sering turun hujan, meskipun begitu iklim dan cuaca di kota Surakarta tetap hanya memiliki 2 musim cuaca yaitu kemarau dan penghujan.
Surakarta terletak di dataran rendah di ketinggian 105 m dpl dan di pusat kota 95 m dpl, dengan luas 44,1 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah). Surakarta berada sekitar 65 km timur laut Yogyakarta dan 100 km tenggara Semarang serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu dan Merapi (tinggi 3115m) di bagian barat, dan Gunung Lawu (tinggi 2806m) di bagian timur. Agak jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu. Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, serta dilewati oleh Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Jenes. Mata air bersumber dari lereng gunung Merapi, yang keseluruhannya berjumlah 19 lokasi, dengan kapasitas 3.404 l/detik. Ketinggian rata-rata mata air adalah 800-1.200 m dpl. Pada tahun 1890 1827 hanya ada 12 sumur di Surakarta. Saat ini pengambilan air bawah tanah berkisar sekitar 45 l/detik yang berlokasi di 23 titik. Pengambilan air tanah dilakukan oleh industri dan masyarakat, umumnya ilegal dan tidak terkontrol.
Sampai dengan Maret 2006, PDAM Surakarta memiliki kapasitas produksi sebesar 865,02 liter/detik. Air baku berasal dari sumber mata air Cokrotulung, Klaten (387 liter/detik) yang terletak 27 km dari kota Solo dengan elevasi 210,5 di atas permukaan laut dan yang berasal dari 26 buah sumur dalam, antara lain di Banjarsari, dengan total kapasitas 478,02 liter/detik. Selain itu total kapasitas resevoir adalah sebesar 9.140 m3.Dengan kapasitas yang ada, PDAM Surakarta mampu melayani 55,22% masyarakat Surakarta
termasuk kawasan hinterland dengan pemakaian rata-rata 22,42 m3/bulan.
Tanah di Solo bersifat pasiran dengan komposisi mineral muda yang tinggi sebagai akibat aktivitas vulkanik Merapi dan Lawu. Komposisi ini, ditambah dengan ketersediaan air yang cukup melimpah, menyebabkan dataran rendah ini sangat baik untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, dan industri, seperti tembakau dan tebu. Namun demikian, sejak 20 tahun terakhir industri manufaktur dan pariwisata berkembang pesat sehingga banyak terjadi perubahan peruntukan lahan untuk kegiatan industri dan perumahan penduduk.
4. Kependudukan
Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2010 adalah 503.421 jiwa, terdiri dari 270.721 laki-laki dan 281.821 wanita, yang tersebar di lima kecamatan yang meliputi 51 kelurahan dengan daerah seluas 44,1 km2. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya sebesar 66%. Catatan dari tahun 1880 memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa. Pertumbuhan penduduk dalam kurung 10 tahun terakhir berkisar 0,565 % per tahun. Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.370 jiwa/km2, yang merupakan kepadatan tertinggi di Jawa Tengah (kepadatan Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km2).
Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas wilayah ke-13 terkecil, dan populasi terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia.
Tabel 4.2
Daftar Kecamatan dan Kependudukan di Surakarta
No. Peta Kecamatan Kode Pos Luas/km2 Luas Penduduk/km2 Kepadatan
1 Banjarsari 57130 14,81 157.438 10.630/km2 2 Jebres 57120 12,58 138.624 11.019/km2 3 Laweyan 57140 8,64 86.315 10.002/km2 4 Pasar Kliwon 57110 4,82 74.145 15.383/km2 5 Serengan 57150 3,19 44.120 13.830/km2
Sumber : Wikipedia. Berdasarkan sensus penduduk.2010
Kecamatan terpadat di Solo adalah Pasar Kliwon, yang luasnya hanya sepersepuluh luas keseluruhan Solo, sedangkan Laweyan merupakan kecamatan dengan kepadatan terendah. Laju pertumbuhan penduduk Solo selama 2000-2010 adalah 0,25%, jauh di bawah laju pertumbuhan penduduk Jawa Tengah sebesar 0,46%.
5. Sosial a. Pendidikan
Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 68.153 siswa dan 869 sekolah di Surakart a, dengan perincian: 308 TK/RA, 292 SD/MI, 97 SMP/MTs, 56 SMA/MA, 46 SMK, 54 PT, dan 16 sekolah lain. Di Solo terdapat dua universitas besar, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), keduanya memiliki lebih dari 20.000 mahasiswa aktif dan termasuk katagori 50 universitas terbaik di Indonesia. Demikian pula terdapat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta,Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta . Selain itu terdapat 52 universitas swasta lainnya seperti Unisri, Universitas Tunas Pembangunan, Universitas Setia Budi, STIKES Muhammadiyah, Universitas Islam Batik, dll. Solo juga kini menjadi tempat tujuan studi para lulusan SMA dari seluruh Indonesia
b. Layanan Publik
Beberapa rumah sakit bersejarah antara lain RS Kadipo lo dan Rumah Sakit Panti Kosala (Kandang Sapi). Sementara rumah sakit lain dengan fasilitas UGD 24 jam antara lain RSUD Moewardi, RS PKU Muhammadiyah, RS Islam Surakarta (Yarsis), RS Kustati, RS Kasih Ibu, RS Panti Waluyo, RS Brayat Minulyo, dan RS Dr. Oen Solo Baru. RS Ortopedi Dr. Soeharso adalah salah satu pusat ortopedi terkemuka di Indonesia yang pernah menjadi pusat rujukan tulang nasional.
Solo juga memiliki beberapa taman, antara lain Taman Balekambang, Taman Tirtonadi, Taman Sekartaji, Taman Sriwedari, yang juga merangkap sebagai tempat hiburan, tempat pagelaran musik dangdut dan wayang orang, tepatnya di Gedung Wayang Orang Sriwedari. Tempat ini menyajikan seni pertunjukan daerah wayang orang yang menyajikan cerita wayang berdasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabarata. Pada kesempatan tertentu juga digelar cerita-cerita wayang orang gabungan antara wayang orang sriwedari dengan wayang orang RRI Surakarta dan bahkan dengan seniman-seniman wayang orang Jakarta, Semarang, ataupun Surabaya. Tempat hiburan umum lainnya adalah Kebun Binatang Jurug (Taman Satwataru Jurug), yaitu salah satu dari kebun binatang terbesar dan tertua di Indonesia.
Kode area untuk untuk telekomunikasi telefon kota Solo adalah 0271. Telepon umum koin/kartu jarang dijumpai, sebagai gantinya, beberapa wartel tersebar di berbagai sudut kota meskipun kini mulai tutup karena perkembangan alat telekomuniaasi yang begitu cepat dan memiliki harga yang terjangkau bagi seluruh kalangan masyarakat. Warnet juga banyak dijumpai di berbagai tempat, sedangkan beberapa tempat sudah mulai menyediakan fasilitas Wi-Fi untuk para pengunjungnya.
6. Ekonomi
Perekonomian Kota Surakarta ditopang oleh Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah. Didalam penelitian ini penulis mengambil 200 sample yang terdiri dari :
Tabel 4.3
Jumlah dan Jenis Industri Didalam Penlitian
No Jenis Industri Jumlah
1 Makanan dan Minuman 35 2 Meubel 11 3 Handycraft 7 4 Percetakan 35 5 Plastik 19 6 Pakaian/kain 40 7 Barang besi 28 8 Lain-lain 23 Total 200
Sumber : Data diolah, Penulis
B. Karakteristik Responden
Berdasarkan data penelitian dari tingkat pendapatan usaha mikro kecil dan menengah di kota Surakarta, telah diperoleh informasi mengenai tingkat pendapatan UMKM sebagai variabel dependen serta variabel
modal, tenaga kerja, jam kerja, dan pembinaan sebagai variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen.
Sebelum data tersebut digunakan untuk mengetahui keterkaitan antar variabel, menurut Djarwanto (1994) terdapat beberapa tahapan dalam penyusunan tabel dan distribusi frekuensi, didalam penyusunan tabel distribusi frekuensi pertama kita harus menentukan jumlah kelas sesuai dengan pedoman sturges dengan cara Jumlah kelas adalah hasil dari 1 + 3,3 log n, dimana n adalah jumlah sample yang diambil, setelah melalui proses tersebut kemudian kita harus menentukan interval kelas dari tabel dengan cara mencari range (selisih data terbesar dan terkecil) dibagi dengan jumlah kelas. Hasil data tersebut kemudian dapat dilihat sebagai berikut :
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan
Berdasarkan jumlah pendapatan yang diteliti oleh penulis sebanyak 200 responden yang terbagi menjadi 9 kelas, dengan pendapatan tertinggi Rp.5.550.000.000,00 dalam satu tahun dan pendapatan terendah adalah sebesar Rp.20.000.000,00 dalam satu tahun. Untuk melihat kejelasan dari data tersebut dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 4.1
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan Tahun 2013
No Pendapatan Jumlah Pesentase
1 20.000.000 650.000.000 119 59,5% 2 650.000.001 1.300.000.000 75 32,5% 3 1.300.000.001 1.950.000.000 2 1% 4 1.950.000.001 2.600.000.000 2 1% 5 2.600.000.001 3.250.000.000 0 0% 6 3.250.000.001 - 3.900.000.000 0 0% 7 3.900.000.001 4.550.000.000 1 0,5% 8 4.550.000.001 5.200.000.000 0 0% 9 5.200.000.001 5.550.000.000 1 0,5% Total 200 100%
Sumber : data primer diolah, 2014
b. Karakteristik Responden Berdasarkan Modal Usaha
Bedasarkan modal usaha yang diteliti oleh penulis dari 200 responden yang terbagi menjadi 9 kelas dengan modal terendah sebesar Rp.10.000.000,00 dan modal tertinggi sebesar Rp.4.000.000.000,00. Jumlah responden terbanyak terdapat pada jumlah modal Rp 10.000.000,00 Rp.450.000.000,00 dengan 128 responden, dan jumlah responden terendah ada pada modal dengan jumlah responden sebanyak 1 responden dengan jumlah modal
Rp.1.350.000.001,00 sampai dengan Rp. 1.700.000.000,00; Rp.3.050.000.001,00 sampai dengan Rp.3.500.000.000,00 dan Rp.3.500.000.001,00 sampai dengan Rp.4.000.000.000,00 Untuk melihat lebih jelas dapat dilihat melalui tabel sebagai berikut :
Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Modal Usaha Tahun 2013
No Jumlah Modal Jumlah Presentase
1 10.000.000 450.000.000 128 64% 2 450.000.001 900.000.000 67 33,5% 3 900.000.001 1.350.000.000 1 0,5% 4 1.350.000.001 1.700.000.000 2 1% 5 1.700.000.001 2.150.000.000 0 0% 6 2.150.000.001 2.600.000.000 0 0% 7 2.600.000.001 3.050.000.000 0 0% 8 3.050.000.001 3.500.000.000 1 0,5% 9 3.500.000.001 4.000.000.000 1 0,5% Total 200 100%
Sumber : data primer diolah, 2014
c. Karakteristik Responden Berdasarkan Tenaga Kerja
Bedasarkan tenaga kerja yang diteliti oleh penulis dari 200 responden yang terbagi menjadi 9 kelas dengan jumlah tenaga kerja terendah sebesar 3 tenaga kerja dan tenaga kerja tertinggi sebesar
170 tenaga kerja, jumlah responden terbanyak terdapat pada jumlah tenaga kerja sebanyak 3 sampai 21 tenaga kerja, dan jumlah responden dengan jumlah tenaga kerja terendah ada pada industri dengan tenaga kerja 136 sampai 170 tenaga kerja. Untuk melihat lebih jelas dapat dilihat melalui tabel sebagai berikut :
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Tenaga Kerja
No Jumlah Tenaga kerja Jumlah Presentase
1 3 21 157 78,5% 2 22 40 24 12% 3 41 59 6 3% 4 60 78 4 2% 5 79 97 2 1% 6 98 116 2 1% 7 117 135 3 1,5% 8 136 152 1 0,5% 9 153 170 1 0,5% Total 200 100%
Sumber : data primer diolah, 2014
d. Karakteristik Responden Berdasarkan Jam Kerja
Berdasarkan jam kerja yang diteliti oleh penulis sebanyak 200 responden yang terbagi menjadi 9 kelas, dengan jam kerja terlama
12 jam dan jam kerja tersingkat adalah 6 jam. Untuk melihat kejelasan dari data tersebut dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendampingan
No Jumlah jam kerja Jumlah Presentase
1 6 6,5 18 9% 2 6,6 7 36 18% 3 7,1 7,5 0 0% 4 7,6 8 65 32,5% 5 8,1 8,6 0 0% 6 8,7 9,3 75 37,5% 7 9,4 10 4 2% 8 10,1 10,6 0 0% 9 10,7 12 2 1% Total 200 100%
Sumber : data primer diolah, 2014
e. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendampingan
Berdasarkan pendampingan usaha penulis mengelompokkan pendampingan menjadi 2 bagian yaitu dengan pendampingan usaha dan tanpa pendampingan usaha. Untuk melihat kejelasan dari data tersebut dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 4.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendampingan
No Variabel Jumlah e
1 Dengan pendampingan 153 76,5%
2 Tanpa Pendampingan 47 23,5%
Total 200 100%
Sumber : data primer diolah, 2014
C. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh modal, tenaga kerja, jam kerja, serta ada atau tidak adanya pendampingan usaha terhadap tingkat pendapatan sebagai variabel dependent. Analisis ini dilakukan dengan mengunakan analisis regresi linier berganda (Ordinary Least Squre) dengan Eviews 8. Hasil analisis dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.7
Ordinary Least Squre
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 2.009565 0.580671 3.460764 0.0007 LNX1 0.838241 0.043165 19.41951 0.0000 LNX2 0.196127 0.059167 3.314787 0.0011 LNX3 -0.710537 0.283983 -2.502042 0.0132 X4 0.085292 0.090990 0.937377 0.3497 R-squared 0.801350
Dari analisis tersebut dapat dilihat bahwa model yang dihasilkan adalah : Y : 2.009565 + 0.838241 LNX1 + 0.196127 LNX2 -0.710537 LNX3 + 0.085292 X4 + U1 Keterangan : X1 : Modal Usaha
X2 : Jumlah Tenaga Kerja X3 : Jam Kerja
X4 : Pendampingan
Y : Pendapatan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Terjadi perubahan model didalam penelitian karena terjadi kesalahan pada model sehingga terjadi masalah terhadap uji asumsi klasik, sehingga pada model harus dilakukan perbaikan dan menghasilkan model baru seperti diatas.
1. Uji Statistik a. Uji t
Uji t adalah uji secara individual semua koefisien regresi yang bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil pengujian terhadap koefisiensi masing-masing variabel dengan
%
5 akan diperoleh sebagai berikut:
1. Jika probabilitas > 0,05 pada tingkat signifikasi 5% maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
2. Jika probabilitas < 0,05 pada tingkat signifikan 5% maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikansi.
Dari pengujian yang telah dilakukan, maka akan diperoleh uji dengan 5%. Berikut ini adalah hasil pengujian parameter individual dengan tingkat sigmifikan (1=0,05) :
Tabel 4.8 Uji T-Statistic
Variable t-Statistic Prob. Keterangan
C 3.460764 0.0007 Signifikan pada a = 5%
LNX1 19.41951 0.0000 Signifikan pada a = 5%
LNX2 3.314787 0.0011 Signifikan pada a = 5%
LNX3 -2.502042 0.0132 Signifikan pada a = 5%
X4 0.937377 0.3497 Tidak Signifikan pada a = 5%
Sumber : data primer diolah, 2014
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa :
1. Variabel Modal (X1) = 0.0000 < 0,05 jika dilihat dari tingkat probabilitasnya maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variable modal berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya pendapatan pelaku umkm kota Surakarta pada derajat signifikansi 5%
2. Variabel Jumlah Tenaga Kerja (X2) = 0.0011 < 0,05 jika dilihat dari tingkat probabilitasnya maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variabel tenaga kerja berpengaruh secara signifikan
terhadap besarnya pendapatan pelaku umkm kota Surakarta pada derajat signifikansi 5%
3. Variabel Jam kerja (X3) = 0.0132 < 0,05 jika dilihat dari tingkat probabilitasnya maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variabel jam kerja berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya pendapatan pelaku umkm kota Surakarta pada derajat signifikansi 5%.
4. Variabel Pendampingan (X4) = 0.3497 > 0,05 jika dilihat dari tingkat probabilitasnya maka Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya variabel pendampingan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya pendapatan pelaku umkm kota Surakarta pada derajat signifikansi 5%.
2. Uji F
Uji F merupakan uji statistik untuk menguji pengaruh Modal Usaha, Jumlah tenaga kerja, jam kerja, Pendampingan sebagai variabel independen terhadap Tingkat Pendapatan UMKM sebagai variabel dependen secara bersama-sama.
Tabel 4.9 Uji F-Statistic
Variabel F-statistic Prob(F-statistic) Keterangan Pendapatan , Modal Usaha, Jumlah tenaga kerja, jam kerja, Pendampingan 196.6561 0.000000 Signifikan
Sumber : data primer diolah, 2014
Berdasarkan hasil analisis regresi pada tabel 4.9 di atas dapat dilihat nilai probabilitas untuk F statistik adalah 0.000000. Sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini dapat dikatakan bahwa koefisien regresi secara bersama-sama signifikan pada tingkat signifikansi 5% , sehingga dapat diartikan bahwa variabel modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pendampingan berpengaruh terhadap tingkat pendapatan pelaku UMKM dikota Surakarta.
3. Nilai R2
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui berapa persen perubahan variasi variabel independen dapat menjelaskan perubahan variabel dependen. Nilai R2berkisar antara 0 sampai 1. Apa bila R2 mendekati 1, ini menunjukkan bahwa variasi variabel dependen secara bersama-sama dapat dijelaskan oleh variasi variabel
independen. sebaliknya jika R2mendekati angka 0, maka variasi dari variabel dependen tidak dapat dijelaskan oleh variabel independen. Nilai R2= 0.801350, artinya 80% variasi variabel tingkat pendapatan pelaku umkm dikota Surakarta dapat dijelaskan oleh variasi variabel modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pendampingan. Sedangkan sisanya sebesar 20% dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
D. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah korelasi yang terjadi diantara anggota-anggota dari serangkaian pengamatan yang tersusun dalam rangkaian waktu (seperti pada time series) atau tersusun dalam rangakaian ruang (Gujarati, 1995). Adanya korelasi antara variabel gangguan sehingga penaksir tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar. Untuk mengetahui terhadap Autokorelasi atau tidak dapat dihitung dengan B-G test, yaitu jika nilai probabilitas variable independen lebih besar dari 5% maka hipotesa yang menyatakan pada model tidak terdapat Autokorelasi tidak ditolak, berarti model empiric lolos dari masalah Autokorelasi (Aisyah, 2007 : 103)
Tabel 4.10 Hasil Uji Autokorelasi
Variabel t-statistic Prob. Keterangan
Modal -0.111926 0.9110 Tidak terjadi autokorelasi Tenaga Kerja 0.069376 0.9448 Tidak terjadi autokorelasi Jam Kerja 0.058389 0.9535 Tidak terjadi autokorelasi Pendampingan -0.000188 0.9999 Tidak terjadi autokorelasi Sumber : data primer diolah, 2014
Dari regresi diatas dapat ditunjukkan bahwa probabititas untuk semua variable lebih besar dari pada 5% (0,05), sehingga dapat dipastikan bahwa pada model ini tidak terjadi autokorelasi
2. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan diantara variable bebas. Deteksi adanya multikolinieritas dilakukan dengan menggunakan uji korelasi parsial antara variabel independen. Pengujian yang dilakukan adalah menggunakan metod klein, yaitu membandingkan nilai r2 dengan Udiuted R2 yang diperoleh dari hasil pengujian korelasi. hasil dari uji klien untuk mendeteksi masalah Multikolinieritas adalah sebagai berikut:
Tabel 4.11
Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel R2 A.R2 (r2) Keterangan
Modal 0.947031 0.946763 R2 > r2, Tdk ada multikolinearitas Jumlah tenaga kerja 0.434417 0.431561 R2 > r2, Tdk ada multikolinearitas
Jam kerja 0.042939 0.038105 R2 > r2, Tdk ada multikolinearitas
Pendampingan 0.093103 0.088523 R2 > r2, Tdk ada multikolinearitas
Sumber : data primer diolah, 2014
Dari tabel di atas dapat ditunjukkan bahwa untuk semua korelasi antar variabel independen memiliki R2 yang lebih besar dari pada adjusted.R2. Hal ini memberikan kesimpulan bahwa semua variabel independen memberi pengaruh, sehingga tidak ada masalah Multikolinieritas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor pengguna tidak memiliki varian yang sama. Pengujian terhadap gejala heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan white Test, yaitu dengan cara meregresi residual kuadrat (Ui2) dengan variabel bebas kuadrat dan perkalian variable bebas. Dapatkan nilai R2untuk menghitung X 2dimana X 2 = Obs*R square (Gujarati, 1995: 376). Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas digunakan white
Heterkesdasticity baik dengan menggunakan no cross term yang hasilnya dapat dilihat pada tampilan dibawah ini :
Table 4.12
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber : Data diolah, 2014
Dari perhitungan diatas diperoleh X2 (df=4 5%) = 9,4873 sedangkan Obs*R2 lebih kecil dari pada X2. Hal ini menunjukkan bahwa model ini tidak terdapat Heteroskedastisitas.
E. Intepretasi Ekonomi
Dari hasil uji analisi data diatas maka dapat diambil hasil dan intepretasinya sebagai berikut :
1. Koefisien regresi variabel modal bernilai positif dan signifikan pada tingkat signifikasi 5% yaitu sebesar 0.838241, hal ini menunjukan bahwa jika jumlah besarnya modal usaha mengalami peningkatan maka tingkat pendapatan juga akan mengaami kenaikan dengan asumsi variabel lain konstan.
2. Koefisien regresi variabel tenaga kerja bernilai positif dan signifikan pada tingkat signifikasi 5% yaitu sebesar 0.196127, ini menggambarkan bahwa variabel tenaga kerja berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan UMKM, sehingga apabila terjadi penambahan atau kenaikan tenaga kerja maka akan meningkatkan
tingkat pendapatan UMKM dengan asumsi variabel lainnya konstan.
3. Koefisien regresi variabel jam kerja bernilai bernilai negatif dan tidak signifikan pada tingkat signifikasi 5% sebesar -0.710537, ini menggambarkan bahwa variabel jam kerja berpengaruh negatif terhadap tingkat pendapatan UMKM, secara angka peningkatan jam kerja pada umkm akan mengakibatkan turun atau berkurangnya tingkat pendapatan UMKM dengan asumsi variabel lainnya konstan.
4. Koefisien regresi variabel pendampingan bernilai positif dan signifikan pada tingkat signifikasi 5% yaitu sebesar 0.085292, ini menggambarkan bahwa variabel pendampingan berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan UMKM dengan asumsi variabel lainnya konstan.