• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DAN GEOMAGNET TERHADAP KETINGGIAN ORBIT SATELIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DAN GEOMAGNET TERHADAP KETINGGIAN ORBIT SATELIT"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DAN

GEOMAGNET TERHADAP KETINGGIAN

ORBIT SATELIT

Nizam Ahmad

Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN Email: [email protected]

ABSTRACT

The s u n is the main source of changings in space environment. It is continuously emitting the radiation and energetic particles which influence the orbit of satellite and its instrumentation. It c a n be seen from solar activity (indicated by radiation flux Fioj) a n d geomagnetic activity (indicated by Ap index) which are used as space environmental parameters. Both p a r a m e t e r s influence the altitude of satellites indirectly. It means that these parameters directly influence the atmosphere a r o u n d satellite, result the drags which have opposite direction with satellite motion, caused decreasing the altitude. In this paper it can be seen that in the high solar activity, both p a r a m e t e r s decreasing the altitude of satellite rapidly in LEO. In MEO, these effect a r e relatively small. It can be seen from some c a s e s of satellites in LEO and MEO which are used in this research.

ABSTRAK

Matahari m e r u p a k a n s u m b e r u t a m a perubahan lingkungan antariksa. Pancaran radiasi dan lontaran partikel energetik mempengaruhi orbit dan sistem instrumentasi satelit. Besarnya p e n g a r u h ini tercermin dari aktivitas m a t a h a r i (diindikasikan oleh fluks radiasi Fio,7) d a n aktivitas geomagnet (diindikasikan oleh indeks Ap) y a n g menjadi parameter lingkungan antariksa. Namun pengaruh kedua parameter ini terhadap ketinggian satelit adalah tidak langsung dalam arti kedua parameter secara langsung mempengaruhi k e r a p a t a n atmosfer di sekitar satelit, menyebabkan terjadinya h a m b a t a n terhadap satelit dan ini berdampak pada p e n u r u n a n ketinggian satelit. Dalam makalah ini dapat dilihat bahwa pada tingkat aktivitas matahari yang tinggi, pengaruh kedua parameter ini s a n g a t dominan t e r h a d a p p e n u r u n a n ketinggian satelit di orbit LEO. Sedangkan di orbit MEO, pengaruhnya relatif sangat kecil. Ini dapat dilihat pada beberapa k a s u s satelit yang mengorbit di ketinggian LEO d a n MEO seperti yang dilakukan dalam penelitian ini.

1 PENDAHULUAN

Matahari sebagai sumber pengaruh u t a m a terhadap lingkungan antariksa secara berkesinambungan m e m a n c a r k a n energi elektromagnet d a n partikel ber-muatan listrik. Superimposisi dari emisi ini mengakibatkan peningkatan radiasi elektromagnet (khususnya sinar-X, Ekstrim

Ultra Violet (EUV) dan panjang gelombang

radio) serta peningkatan a r u s partikel bermuatan. Hal ini secara otomatis akan mempengaruhi lingkungan antariksa dan berdampak pada radar, sistem komunikasi

dan sebagainya. G am b a ra n tentang pengaruh m a t a h a r i ini d a p a t dilihat pada Gambar 1-1.

Radiasi matahari mengandung sejumlah energi. Energi yang dipancarkan mengendap di atmosfer bagian atas bumi melalui sinar-X, EUV d a n t u m b u k a n partikel yang menyebabkan pemanasan atmosfer hingga mengakibatkan atmosfer mengembang d a n k e r a p a t a n atmosfer mengalami kenaikan. Akibatnya terjadi semacam h a m b a t a n atmosfer (drag) pada satelit (Hasting et al., 1996).

(2)

Bagi satelit yang berada p a d a ketinggian orbit rendah, h a m b a t a n ini memiliki a r a h yang berlawanan dengan arah gerak satelit. H a m b a t a n ini menye-babkan p e n u r u n a n ketinggian satelit dan peningkatan laju orbitnya sehingga satelit mengalami p e r u b a h a n posisi dari posisi semula

Besarnya percepatan akibat ham-batan ini dapat dilihat melalui per-samaan 1-1.

CD = koefisien h a m b a t a n

A = luas p e n a m p a n g satelit (m2) m = m a s s a satelit (kg)

V = kecepatan satelit (km/s)

Hambatan atmosfer pada ketinggian orbit rendah (150 -1000 km) m e r u p a k a n parameter kunci dalam melakukan prediksi t e r h a d a p kala h i d u p wahana, parameter orbit, k e b u t u h a n b a h a n bakar dan limit roda m o m e n t u m pada satelit.

Secara u m u m , d a m p a k akibat h a m b a t a n atmosfer ini adalah lokasi satelit yang tidak a k u r a t yang dapat menghambat atau mengurangi kecepatan proses commanding a t a u transmisi data pada satelit komunikasi, prediksi deorbit satelit menjadi tidak a k u r a t serta

(3)

besarnya biaya m a n u v e r pemeliharan

[maintenance maneuver) satelit yang

h a r u s dikeluarkan.

Orbit s u a t u satelit bergantung pada kondisi lingkungan a n t a r i k s a di ketinggian satelit tersebut. Dalam hal ini, terdapat d u a parameter yang digunakan u n t u k memperkirakan orbit s u a t u satelit yaitu indeks radiasi F i o j (radiasi elektro-magnetik) d a n indeks geomagnet Ap (partikel energi rendah-menengah). Dalam makalah ini a k a n dilihat besarnya pengaruh aktivitas matahari (diindikasikan oleh Fioj) dan aktivitas geomagnet (diindikasikan oleh Ap) t e r h a d a p ketinggian orbit satelit di ketinggian orbit rendah bumi LEO (150 km - 1000 km) dan orbit menengah bumi MEO (1000 km -36000 km).

2 DATA DAN PENGOLAHAN 2.1 Indeks Fio,?

Indeks F10.7 digunakan u n t u k mengukur tingkat aktivitas matahari yang diamati pada panjang gelombang

10,7 cm (2800 MHz). Ini m e r u p a k a n indikator yang sangat baik u n t u k meng-hitung besar energi sinar-X dan EUV yang dipancarkan matahari dan energi yang terendap di atmosfer a t a s . Variasi Fio,7 diduga mengikuti variasi fluks EUV, dimana EUV sendiri bervariasi sebesar 50 sfu p a d a saat aktivitas matahari minimum (R minimum) hingga 240 sfu pada saat aktivitas m a t a h a r i m a k s i m u m

(R maximum) serta bervariasi mengikuti

siklus matahari 11 t a h u n (Wertz, 2001). Data- data F107 yang digunakan dalam penelitian ini adalah d a t a - d a t a Fioj dari t a h u n 1947 hingga t a h u n 2005 (NOAA, 2006). Variasi indeks Fio,7 ini dapat dilihat pada G a m b a r 2 - 1 .

Puncak dalam indeks Fio,7 ber-sesuaian dengan tingkat aktivitas maksi-mum matahari. Kondisi ini menyebabkan kenaikan kerapatan di atmosfer karena meningkatnya temperatur di atmosfer atas. Naiknya k e r a p a t a n ini semakin memperbesar h a m b a t a n pada satelit.

2.2 Indeks Ap

Indeks Ap digunakan u n t u k m e n g u k u r energi yang mengendap di atmosfer atas akibat t u m b u k a n partikel b e r m u a t a n . Indeks ini berkaitan dengan badai geomagnet dan m e r u p a k a n repre-sentasi dari gangguan medan magnet induksi yang disebabkan p e r u b a h a n angin matahari d a n efek p e m a n a s a n yang berkorelasi dengan variasi jangka pendek atmosfer atas. Nilai Ap ini ber-sesuaian dengan variasi maksimum medan magnet p e r m u k a a n bumi di lintang menengah yang dihitung dalam periode 3-jam. Variasi indeks Ap ini berkisar dari 0 (aktivitas m a t a h a r i mini-mum) hingga 400 (aktivitas matahari maksimum). Data-data Ap yang digunakan dalam penelitian ini adalah data-data Ap dari t a h u n 1957 hingga t a h u n 2005 (NOAA, 2006). Variasi nilai indeks Ap ini dapat dilihat p a d a G a m b a r 2-2.

3010

(4)

U n t u k melihat besarnya p e n g a r u h Fio,7 d a n indeks Ap terhadap ketinggian orbit s u a t u satelit dilakukan dengan melihat variasi ketinggian orbit satelit p a d a setiap aktivitas matahari. Dalam hal ini indeks Fio,7 dan indeks Ap m e r u p a k a n representasi dari aktivitas matahari. Dengan menggunakan perangkat lunak MATLAB 7.0, dilakukan plot grafik p a d a variasi ketinggian orbit satelit, indeks Fio,7 d a n indeks Ap. Dari grafik ini dilakukan analisis p e n g a r u h indeks Fioj d a n indeks Ap t e r h a d a p ketinggian orbit satelit.

2 . 3 Ketinggian Orbit Satelit

Data-data ketinggian orbit satelit diperoleh dari data-data Two Line Elements (TLE) melalui situs www.space-track.com. Data-data ketinggian orbit ini tidak diperoleh secara langsung melalui d a t a TLE, karena data TLE hanya memberikan informasi mengenai inklinasi (i), right

ascencion of ascending node (Q), argument of perigee (a), eksentrisitas (e),

periode (T) dan mean anomaly (M). Ketinggian orbit (h) d a n semi major axis satelit (a) diperoleh melalui p e r s a m a a n

astrodinamika berikut d e n g a n meng-gunakan data-data orbit TLE sebagai m a s u k a n (input).

(2-1)

(2-2) dengan

r =jarak satelit dari titik p u s a t bumi

Re =jari-jari ekuator bumi « 6378,14 km p. =Konstanta gravitasi =3,986.1014 m3/ s2

Data-data peluncuran d a n pelu-r u h a n (bagi satelit yang telah decay) dapat dilihat p a d a Tabel 2-1

(Space-track, org).

TiungSAT 1, Bepposax, Oscar 9, Floating Potensial Probe, CZ-4 Deb dan SL-12 R / B m e r u p a k a n satelit-satelit LEO sedangkan Pam-D Deb, Delta 2 R / B (1), dan Delta 4 Deb m e r u p a k a n satelit-satelit MEO. Dengan mengembangkan kode program satelit TiungSAT 1 u n t u k masing-masing satelit, a k a n dilihat besarnya pengaruh F10.7 d a n indeks Ap t e r h a d a p semi major axis satelit.

Tabel 2-l:DATA-DATA SATELIT LEO DAN MEO Catalog Number 2 6 5 4 8 23857 12888 2 8 8 9 6 23299 26331 28875 28712 27697 Common Name TIUNGSAT 1 BEPPOSAX OSCAR 9 (UoSAT 11 FLOATING POTENTIAL PROBE PAM-D DEB CZ-4 DEB DELTA 2 R/B(l) SL-12 R/B(AUX MOTOR) DELTA 4 DEB International Designator 2000-057D 1996-027A 1981-100B 2000-078B 1992-039D 1999-057HQ 2005-038B 2005-023F 2002-05 KJ Country/ Organization MALA IT UK US US PRC US CIS US Launch Date 2 0 0 0 - 0 9 - 2 6 1996-04-30 1981-10-06 2005-1 1-30 1992-07-07 1999-10-14 2005-09-26 2005-06-24 2002-1 1 -20 Decay Date -2003-04-29 1989-10-13 2006-02-25 2006-02-21 2006-02-10 2006-01-30 2006-01-30 2006-01-28 70

(5)

3 HASIL DAN PEMEAHASAN

Berikut ini a k a n diperlihatkan profil variasi Semi Major Axis (SMA) satelit TiungSAT 1 (Malaysia) yang masih aktif dan beberapa satelit yang telah mengalami peluruhan ketinggian orbit (decay) serta pengaruh parameter aktivitas matahari Fio,7 dan aktivitas geomagnet Ap. Pengaruh kedua parameter ini a k a n terlihat jelas pada SMA satelit. P e n u r u n a n pada SMA satelit secara langsung menggambarkan penurunan ketinggian orbit satelit karena ketinggian orbit terkait dengan SMA melalui p e r s a m a a n 2 - 1 .

Gambar 3-1: Profil SMA satelit TiungSAT 1 serta pengaruh Fio.7 dan indeks Ap

icon 2001 Epoch

2002 2003

Gambar 3-2: Profil SMA satelit Bepposax serta F,o,7 dan indeks Ap Secara u m u m p e n g a r u h aktivitas matahari melalui parameter F10.7 dan Ap u n t u k satelit TiungSAT 1 c u k u p besar (Gambar 3-1). Tingkat aktivitas matahari yang tinggi pada t a h u n 2001-an menye-b a menye-b k a n ketinggian SMA t u r u n s e k i t a r 2 km, n a m u n hal ini tidak menyebabkan terjadinya decay satelit TiungSAT 1.

Lebih jelasnya, pengaruh Fio,7 dan Ap t e r h a d a p ketinggian orbit satelit akan terlihat p a d a satelit-satelit yang telah mengalami p e l u r u h a n ketinggian

[decay). Satelit-satelit yang digunakan

sebagai rujukan di sini adalah satelit-satelit yang mengorbit di ketinggian orbit rendah bumi LEO dan orbit menengah bumi MEO yang d a t a - d a t a satelit ini dapat dilihat p a d a Tabel 2 - 1 .

Pada G a m b a r 3-2 dapat dilihat bahwa aktivitas matahari yang tinggi pada t a h u n 2000-an menyebabkan p e n u r u n a n SMA satelit Bepposax secara drastis sebesar sekitar 50 km, begitu j u g a p a d a pertengahan t a h u n 2001 d a n

t a h u n 2002 sekitar 40 km dan 50 km. Pada tahun 2003-an, satelit ini mengalami

decay dengan ketinggian perigee di bawah

200 km. Kala h i d u p orbit satelit ini hanya bertahan selama 7 t a h u n sejak peluncuran.

1S8I 19B2 1983 19B4 1995 1985 1937 19BB 1939 1990 Epoci

Gambar 3-3: Profil SMA satelit Oscar 9 serta pengaruh Fio,7 dan indeks Ap

2005 85 20059 200595 2035 200505 20051 2CC615 2005.2 Epoch

G a m b a r 3-4: Profil SMA floating potensial

(6)

Pada G a m b a r 3-3, peningkatan aktivitas m a t a h a r i p a d a p u n c a k siklus 22 (-1981-1982) menyebabkan penurunan SMA satelit Oscar 9 sekitar 30 km, sedangkan peningkatan aktivitas matahari pada p u n c a k siklus 23 ( - 1 9 8 9 - 1990) menyebabkan p e n u r u n a n drastis dari ketinggian SMA sekitar 6950 km sampai akhirnya jatuh, dengan ketinggian perigee di bawah 200 km.

Pada G a m b a r 3-4 terlihat laju p e n u r u n a n ketinggian orbit y a n g s a n g a t drastis. Selama periode 2 0 0 5 , terjadi p e n u r u n a n SMA sekitar 31 km. Pada awal tahun 2006 satelit ini decay dengan ketinggian perigee akhir di bawah 200 km dan hanya b e r t a h a n di orbitnya sekitar 2 bulan sejak peluncuran.

15S3 1994 1935 1998 2000 2002 2034 2008 20BB Epoch

Gambar 3-5: Profil SMA Pam-D Deb serta pengaruh Fio,7 dan indeks Ap

2X1 200? 2003 2004 2CCS Epoch

Gambar 3-6: Profil SMA CZ-4 Deb serta pengaruh Fio,7 dan indeks Ap Pada Gambar 3-5 terlihat bahwa satelit bertahan di orbit c u k u p lama. Tingkat aktivitas matahari p a d a t a h u n awal satelit mengorbit relatif sedang (Fio,7 * 150 sfu d e n g a n ketinggian orbit

« 1080 km) dan kecil k e m u n g k i n a n menyebabkan p e l u r u h a n ketinggian orbit satelit. Pada awal t a h u n 2 0 0 0 , tingkat aktivitas matahari yang tinggi h a n y a menyebabkan p e n u r u n a n SMA sekitar 100 km. Wahana ini d a p a t b e r t a h a n di orbitnya selama 14 t a h u n .

Pada Gambar 3-6, aktivitas matahari mencapai p u n c a k di awal t a h u n w a h a n a CZ-4 Deb mengorbit. P a d a

per-tengahan t a h u n 2000, Satelit mengalami p e n u r u n a n SMA sekiar 19 km d a n h a n y a bertahan di orbit selama 6 t a h u n dengan ketinggian perigee akhir di bawah 300 km.

1057 300575 JOBS8 2 0 X 6 5 30059 200555 2036 2005.05 2C0B 1 200SI5 Epoch

Gambar 3-7: Profil ketinggian delta 2 R / B ( l )

Gambar 3-8: Profil SMA SL-12 R / B Pada G a m b a r 3-7, dapat dilihat bahwa satelit mengalami peluruhan secara kontinu. Satelit ini memiliki ketinggian awal sekitar 1200 km. Satelit ini dilun-c u r k a n p a d a bulan September 2 0 0 5 di awal siklus 24. Selama periode 2005, satelit mengalami p e n u r u n a n total SMA sekitar 290 km. Satelit ini tergolong satelit MEO. Kemungkinan peluruhan ketinggian disebabkan oleh faktor gangguan lain.

(7)

Satelit hanya bisa b e r t a h a n di orbitnya sekitar 4 bulan sejak p e l u n c u r a n .

Ketinggian w a h a n a SL-12 R / B pada Gambar 3-8 meluruh dalam waktu yang cepat. W a h a n a b e r t a h a n di orbitnya kurang dari 1 t a h u n . W a h a n a SL-12 R / B di tempatkan pada ketinggian awal 320 km dan merupakan satelit LEO. Dapat diper-kirakan pengaruh aktivitas matahari pada orbit w a h a n a ini relatif besar dan pada ketinggian ini h a m b a t a n atmosfer juga bernilai besar.

Gambar 3-9: Profil SMA delta 4 Deb serta pengaruh Fio,7 dan indeks Ap Pada G a m b a r 3-9 terlihat penu-r u n a n SMA pada awal t a h u n 2003 sekitar 70 km. W a h a n a ini ditempatkan di ketinggian MEO dengan ketinggian awal sekitar 10.190 km. Pada saat awal w a h a n a mengorbit, tingkat aktivitas matahari dan geomagnet relatif kecil. Wahana bertahan di orbitnya selama 3 t a h u n . Kemungkinan orbit ini meluruh disebabkan faktor gangguan lain.

Besarnya pengaruh gaya gangguan pada masing-masing satelit tersebut sangat bervariasi. Untuk satelit TiungSAT 1 (Gambar 3-1), pengaruh kedua parameter ini c u k u p besar. Aktivitas matahari yang c u k u p besar di awal satelit ini mengorbit tidak menyebabkan peluruhan ketinggian secara cepat. Satelit TiungSAT 1 ditem-patkan pada inklinasi 64,5° (semi

aqua-torial) dengan ketinggian awal 640 km.

Penempatan satelit yang tepat di orbitnya mengurangi dampak peluruhan ketinggian satelit TiungSAT 1 ini.

Untuk satelit Bepposax (Gambar 3-2), Oscar 9 (Gambar 3-3) dan CZ-4 Deb

(Gambar 3-6), aktivitas matahari menye-babkan p e l u r u h a n ketinggian satelit secara drastis. Satelit Bepposax di tempat-kan pada inklinasi 3,95° (equatorial) dan ketinggian awal 580 km, satelit Oscar 9 di tempatkan pada inklinasi 97,51° (near

polar) d a n ketinggian awal 530 km,

w a h a n a CZ-4 Deb memiliki inklinasi 98°

(near polar) d a n ketinggian awal 810 km.

Pada ketinggian sekitar 500 - 800 km, kerapatan atmosfer bernilai sekitar 4,89.10-13 - 9 , 6 3 . 1 01 5 k g / m3 (Wertz, 2001). Dalam keadaan aktivitas m a t a h a r i mini-m u mini-m , penemini-mpatan satelit di wilayah tersebut c u k u p a m a n k a r e n a kerapatan atmosfer relatif kecil. Kenyataan mem-perlihatkan satelit mengalami peluruhan secara drastis yang berarti pada periode awal satelit mengorbit, aktivitas matahari c u k u p tinggi.

W a h a n a Delta 4 Deb (Gambar 3-9) memiliki inklinasi 16,9° dan ketinggian awal 10.190 km. Di MEO peluruhan ketinggian k a r e n a fluks radiasi Fioj dan indeks geomagnet Ap relatif kecil sekali. Peluruhan ketinggian di daerah ini u m u m n y a berasal dari sabuk radiasi Van Allen, yaitu s a b u k radiasi yang terdiri dari partikel elektron, proton dan ion-ion atom berat (heauier atomic ions) yang terperangkap dalam medan magnet bumi. Namun perlu juga diperhitungkan faktor gangguan lain selain sabuk radiasi ini seperti kegagalan fungsi sistem wahana yang berdampak p a d a operasionalnya, dll.

Pada k a s u s w a h a n a Pam-D Deb (Gambar 3-5) d a p a t dilihat pada awal w a h a n a mengorbit, tingkat aktivitas matahari dan geomagnet relatif sedang. Peluruhan ketinggian kemungkinan ber-asal dari s a b u k radiasi Van Allen atau gaya gangguan lain. W a h a n a ini decay dengan ketinggian perigee akhir di bawah 4 0 0 km.

W a h a n a Floating Potensial Probe (Gambar 3-4) dan SL-12 R/B (Gambar 3-8) diperkirakan bahwa peluruhan ketinggian orbit w a h a n a tersebut disebabkan oleh aktivitas matahari yang c u k u p tinggi. Hal ini b e r d a s a r k a n dugaan adanya

(8)

kemiripan pola gangguan p a d a satelit-satelit LEO. Untuk w a h a n a Delta 2 R/B (1) (Gambar 3-7), p e l u r u h a n ketinggian dari aktivitas m a t a h a r i relatif kecil dan kemungkinan disebabkan oleh gaya gangguan lain.

Dalam keadaan matahari minimum, kecil kemungkinan orbit terganggu oleh aktivitas matahari. Bila a d a gangguan orbit, hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh gangguan lain yang berasal dari gravitasi b u m i seperti efek bumi pepat atau gangguan rutin dari flux proton yang biasa terjadi p a d a s a a t satelit melintasi daerah South Atlantic

Anomaly (SAA) (Tribble, 2003)

4 KESIMPULAN

Pengaruh aktivitas m a t a h a r i yang dapat dilihat melalui parameter Fioj dan indeks Ap berbeda u n t u k masing-masing ketinggian. Pada tingkat aktivitas matahari yang tinggi secara dominan menyebabkan peluruhan ketinggian satelit di orbit r e n d a h b u m i LEO, sedangkan pada orbit menengah bumi MEO

pelu-ruhan ketinggian akibat aktivitas matahari dan geomagnet relatif kecil. Pengaruh dominan kemungkinan berasal dari s a b u k radiasi Van Allen d a n gaya gangguan lain seperti ke sa l a ha n sistem p a d a w a h a n a yang b e r d a m p a k p a d a operasional satelit.

DAFTAR RUJUKAN

Hasting D., Garret H., 1996. Spacecraft

Environment Interaction, Cambridge

University Press.

NOAA, 2 0 0 5 . Space Environment, h t t p : / / w w w . sec.noaa.gov/Juni.

Space-track, 2006. Catalog Number, h t t p : / / www.space_track.org/ Oktober.

Tribble, A. C, 2 0 0 3 . The Space

Environ-ment: Implications for Spacecraft Design, 2 nd Ed. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Wertz, J. R., 2 0 0 1 . Mission Geometry :

Orbit and Constellation Design and Management, Kluwer Academic

Gambar

Gambar 2-2:Variasi indeks Ap
Gambar 3-1: Profil SMA satelit TiungSAT  1 serta pengaruh Fio.7 dan  indeks Ap
Gambar 3-6: Profil SMA CZ-4 Deb serta  pengaruh Fio,7 dan indeks Ap  Pada Gambar 3-5 terlihat bahwa  satelit bertahan di orbit  c u k u p lama
Gambar 3-9: Profil SMA delta 4 Deb serta  pengaruh Fio,7 dan indeks Ap  Pada  G a m b a r 3-9 terlihat  penu-r u n a n SMA pada awal  t a h u n 2003  sekitar 70 km

Referensi

Dokumen terkait

Memenuhi Berdasarkan hasil hasi verifikasi terhadap dokumen Bill of Lading dari kegiatan penjualan ekspor Produk Jadi oleh PT Puriartha Artistika Jati Indonesia selama 12 (dua

Penulis tidak hanyan memberikan tahapan dan gambaran dalam analisis stabilitas lereng namun juga memberikan contoh perhitungan untuk rekayasa geoteknik yang

(1) Sebelum terbentuknya Senat Akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 Ayat (1), maka Senat Akademik sebagai organ ITB sesuai Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2012

Hasil penelitian didapatkan bahwa nilai KHM ekstrak etil asetat dan etanol tidak dapat disimpulkan, nilai KBM ekstrak etil asetat terhadap EPEC adalah 25%, ekstrak etil asetat

Dari beberapa penelitian kemudian diketahui bahwa aktivasi kaspase-8 yang diinduksi oleh zat antikanker, menyebabkan apoptosis yang tidak bergantung pada ikatan antara ligan

Harapan yang berkaitan dengan penelitian ini adalah bahwa karyawan perusahaan diharapkan memiliki komitmen organisasi yang tinggi dengan mengendalikan dan mengantispasi agar

Hasil studi ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan selulosa dari limbah organik masih belum layak untuk digunakan dalam sintesis selulosa asetat, hal ini disebabkan karena

Penegakan diagnosis rinitis lebih mudah dilakukan pada orang dewasa, sedangkan pada anak hal ini kadang-kadang menjadi sulit karena anak tidak dapat menyampaikan keluhannya,