• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sintesa: Jurnal Ilmu Pendidikan p-issn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sintesa: Jurnal Ilmu Pendidikan p-issn"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

37

PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG KEBERAGAMAN SUKU, RAS,

AGAMA DALAM BINGKAI BHINEKA TUNGGAL IKA DAN DEMOKRASI MELALUI

STRATEGI PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION

IMPROVING STUDENTS' UNDERSTANDING ON DIVERSITY, RAS, RELIGION IN

FRAME OF BHINEKA TUNGGAL IKA AND DEMOCRACY THROUGH STUDENT TEAMS

ACHIEVEMENT DIVISION LEARNING STRATEGY

Siti Henhen Fatimah

1a

1SMP Negeri 2

a Tanggeung, Kabupaten Cianjur korespondensi: [email protected]

APA Citation: Fatimah, S.H. (2020). Peningkatan Pemahaman Siswa Tentang Keberagaman Suku, Ras, Agama dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika dan Demokrasi Melalui Strategi Pembelajaran Student Teams Achievement Division. Sintesa: Jurnal Ilmu Pendidikan, 15(1), 37-44.

Received: 18-3-2020 Accepted: 20-6-2020 Published: 29-6-2020 Abstrak: Perbedaan suku, ras, agama, adat istiadat, pola pikir antara individu-individu siswa adalah suatu

keniscayaan yang harus disikapi dengan cara demokratis pada saat siswa berinteraksi di sekolah dengan sesama siswa lainnya. Diperlukan suatu perilaku siswa dalam mengembangkan sikap demokrasi dengan langkah-langkah identifikasi diri, proses interaksi budaya dan asimilasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan strategi pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD yang efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang keragaman suku, ras, agama dalam Bhineka Tunggal Ika dan sikap demokrasi siswa. Penelitian ini menggunakan metode tindakan kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rata-rata pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika prasiklus adalah 63,83 dengan ketercapaian ketuntasan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika 39,99 % dari jumlah siswa yang mencapai KKM 70, kemudian terjadi peningkatan pada siklus 1 adalah 70,16 dengan ketercapaian 66,67 %, dan kembali mengalami peningkatan pada sikus 2 adalah 72,66 dengan ketercapaian ketuntasan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika 83,33% dari jumlah siswa yang mencapai KKM 70. Hal tersebut menunjukan bahwa penelitian telah berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, selain itu penerapan model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievemen Division (STAD) juga dapat meningkatkan kualitas kinerja guru dan sikap demokrasi siswa dalam pembelajaran.

Kata Kunci: Bhineka Tunggal Ika; Demokrasi; Keberagaman; STAD.

Abstract: Differences in ethnicity, race, religion, customs, mindset between individual students is a necessity that

must be addressed in a democratic way when students interact at school with other fellow students. A student's behavior is needed in developing a democratic attitude with steps of self-identification, a process of cultural interaction and assimilation. The purpose of this study was to find an effective STAD Cooperative Learning strategy type to increase students 'understanding of the diversity of races, races, religions in Unity in Diversity and students' democratic attitudes. This study uses a class action method. The results showed that the average understanding of students about the diversity of tribes, races, religions in the framework of Bhineka Tunggal Ika was 63.83 with the achievement of completeness of students' understanding of the diversity of tribes, races, religions in the frame of Bhineka Tunggal Ika 39.99% of the number of students which reached KKM 70, then an increase in cycle 1 was 70.16 with an achievement of 66.67%, and again an increase in the second cycle was 72.66 with the achievement of students completeness understanding of the diversity of tribes, races, religions in the frame of Bhineka Tunggal Ika 83.33% of the number of students who reached KKM 70. This shows that research has succeeded in increasing students' understanding of the diversity of ethnicity, race, religion in the frame of Bhineka Tunggal Ika, in addition to the application of the cooperative learning model Student Teams Achievement Division (STAD) can also improve the quality of teacher performance and democratic attitudes of students in learning.

(2)

38

1. PENDAHULUAN

Keragaman suku, ras dan agama di Indonesia, merupakan modal yang amat besar guna terbentuknya sikap demokrasi yang menjadi dasar berpijak bagi jalan pembangunan bangsa, apabila keragaman tersebut dijadikan sebagai suatu kemajemukan yang berciri kesatuan. Sisi lain dari pluralisme suku, ras dan agama mengandung benih-benih konflik yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Pada kondisi seperti ini diperlukan kesadaran kolektif dari segenap komponen bangsa akan keberadaan suku, ras dan agama sebagai landasan moral dan etika bagi pembangunan karakter bangsa. Keselarasan kehidupan umat beragama yang pluralistik di Indonesia tidak harus dipertentangkan, karena masalah keyakinan merupakan salah satu hak asasi manusia, diperlukan suatu sikap demokrasi untuk saling menghormati agar terwujud kondisi kehidupan beragama yang serasi, selaras dan seimbang di tiap tingkatan sosial masyarakat Indonesia, untuk kemudian bermuara bagi terwujudnya kerukunan dan persatuan bangsa.

Proses pelaksanaan di sekolah masih dijumpai permasalahan yang menyangkut bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, sehingga pengelompokkan antar siswa yang beragama sejenis dapat diminimalisir, dan bagaimana menumbuhkan rasa kerukunan antar siswa yang berbeda suku, ras dan agama.Kerangka untuk menumbuh-kembangkan sikap demokrasi, diperlukan sikap sebagai berikut: (1) Menjauhkan sikap fanatik yang berlebihan, yaitu sikap yang tidak menghargai suku, ras dan pemeluk agama lain bahkan memusuhinya; (2) Tidak mencampuradukan ajaran agama satu dengan ajaran agama yang lainnya, toleransi beragama tidak berarti mencampuradukan ajaran agama; dan (3) Menjauhi sikap acuh tak acuh terhadap agama dan kepercayaan lain (Wahab, 1993).

Nilai dan norma kehidupan beragama hendaknya dipahami serta dimengerti dengan baik, agar tercermin dalam interaksi

bermasyarakat dan dalam ranah yang lebih besar, tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai dipahami sebagai kebaikan yang bisa diterima dan dikerjakan serta dipatuhi oleh individu dan kelompok. Kondisi seperti ini, dimana penekanan atas perlunya sikap demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, harus terus menerus dipelihara sehingga tercipta suasana kehidupan yang harmonis dan saling menghormati dalam kemajemukan, sebagai suatu budaya bangsa Indonesia. Modal awal yang dimiliki siswa dalam memelihara sikap demokrasi, diharapkan dapat terlihat dari sikap positif siswa, dalam upaya mewujudkan kerukunan dan persatuan.

Salah satu contoh seperti yang terjadi pada siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur, pada dasarnya para siswa di sekolah tersebut sudah dapat memahami tentang keberagaman suku, ras, dan agama, karena materi tersebut sudah mereka dapatkan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Namun demikian masih ditemui siswa yang tidak memiliki sikap demokrasi, yang dapat terlihat dari para siswa yang tidak mau bekerjasama dengan pemeluk agama lain, acuh tak acuh dalam memilih teman, apabila temannya tersebut berbeda suku, ras terlebih berbeda agama agama.

Sikap dari para siswa yang teramati saat mereka berinteraksi antar sesamanya di kelas VII SMP Negeri 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur, terutama pada anak-anak yang berbeda status sosial, adat, suku dan budaya nampak jelas sekali. Hal tersebut ditandai dengan adanya pola kelompok mayoritas dan minoritas. Kelompok mayoritas biasanya dicirikan dengan anak yang mempunyai status sosial rendah (miskin), adat, suku dan budaya yang juga mayoritas pada lingkup di luar lingkungan sekolah, begitu pula sebaliknya. Kelompok siswa yang mayoritas berciri homogen (berasal dari kelompok siswa pribumi miskin) dan cenderung lebih dominan, sementara kelompok siswa yang minoritas berciri heterogen (berasal dari luar daerah) mereka lebih inferior dibandingkan

(3)

39 dengan kelompok mayoritas. Kecenderungan yang nampak pada kondisi keragaman status sosial, budaya, suku dan ras di kelas VII SMP Negeri 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur mengakibatkan adanya hambatan-hambatan pada pola pergaulan (interaksi) antara siswa, seperti:

1. Kelompok mayoritas lebih dominan dalam pergaulan siswa dan mereka cenderung mengadakan pola-pola hubungan hanya pada kelompoknya saja; 2. Adanya keengganan dalam bekerjasama, bergaul antara kelompok mayoritas dengan kelompok minoritas;

3. Sering terjadi ejekan-ejekan dari kelompok mayoritas pada kelompok minoritas;

4. Sikap demokrasi yang terasa amat lemah yang ditunjukkan siswa yang berbeda status sosial, budaya, suku dan adat istiadat, merupakan fenomena yang ada di kelas VII SMP Negeri 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur;

5. Pemahaman tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yang terasa kurang dari siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur merupakan cermin dari cara pandang masyarakat di sekitar tempat tinggal (rumah) mereka yang terbawa hingga ke sekolahnya, sebagai dampak dari kurangnya pemahaman tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai bhineka tunggal ika, pada masyarakat di tempat tinggalnya; dan 6. Potensi konflik antara siswa sangat

mudah terjadi jika pemahaman tentang keniscayaan pluralistik yang ada tidak diupayakan untuk ditanamkan kepada para siswa SMP Negeri 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur.

Penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik akan terjadi interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Proses pembelajaran tersebut, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pembelajaran secara sistematis dan berpedoman pada seperangkat aturan dan rencana tentang pendidikan yang disebut sebagai kurikulum. Oleh karena itu, dalam proses belajar

mengajar perlu adanya metode pembelajaran yang efektif dan mampu menciptakan suasana yang lebih mengaktifkan siswa pada materi keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Tujuan penelitian adalah memilih materi pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras dan agama untuk dijadikan sebagai bahan penelitian, karena selain untuk meningkatkan hasil belajar, juga peneliti berharap adanya perubahan sikap demokrasi para siswa secara bertahap dan berkelanjutan ke arah yang lebih baik, setelah mempelajari dan membahas materi tentang pemahaman siswa terhadap keberagaman suku, ras dan agama.

Menurut Edi Sedyawati (2003), dalam mengatasi masalah yang dihadapi saat ini dan mencari jalan keluar dari tatanan global tidak cukup dengan mengubah dunia, tetapi harus diiringi satu usaha bersama dalam memperbaiki kemampuan yang ada dalam diri sendiri. Hal tersebut dikarenakan budaya menjadi hal pokok yang sentral sifatnya. Sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, tantangan yang dihadapi adalah kemampuan pemerintah sebagai institusi formal untuk mempertahankan nilai-nilai budaya dan melestarikannya serta menjadi milik bersama. Selain itu pemerintah juga mengawasi setiap informasi yang datang dari luar.

Menurut Waluya (2007), yang harus dilakukan ialah; (1) adanya kemauan dari seluruh warga negara Indonesia yang memiliki karakteristik heterogen, untuk melangkah ke arah pola hubungan sosial antar individu yang memiliki sifat toleran dan dapat hidup berdampingan secara damai dengan perbedaan yang melekat pada setiap wujud sosial dan politiknya. Kerukunan hidup merupakan tujuan semua masyarakat yang beragam mencakup kerukunan politik, ekonomi, dan sosial budaya, kerukunan individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, juga kerukunan antara institusi sosial dan kerukunan antara masyarakat dan pemerintah. (2) Perlu memiliki kemampuan untuk menampung keberagaman

(4)

40 dalam satu ikatan berdasarkan prinsip hak asasi manusia dan demokrasi untuk mewujudkan kebesaran kebudayaan bangsa Indonesia. Slogan Bhinneka Tunggal Ika mengungkapkan persatuan dan kesatuan yang berasal dari keanekaragaman. Walaupun terdiri atas berbagai suku dengan latar budaya berbeda, Indonesia tetap satu dengan bangsa yang memiliki bahasa dan tanah air yang sama, yaitu bahasa Indonesia dan tanah air Indonesia. Begitu juga bendera kebangsaan merah putih sebagai lambang identitas bangsa dan kita bersatu padu di bawah falsafah dan dasar negara Pancasila. (3) Diperlukan adanya persatuan, kepercayaan diri, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia sebagai dasar untuk bersaing dan menghadapi gempuran bangsa lain dalam era globalisasi ini.

Menurut Mar’at (1984) teori kognitif lebih menekankan keterkaitan struktur pembentukan sikap. Menurut teori kognitif, sikap adalah konstelasi antara komponen kognitif, efektif dan konatif yang saling berinteraksi. Ahli lain misalnya Winkel, mengenai sikap adalah sebagai berikut: “Sikap merupakan kecenderungan untuk menerima atau menolak sesuatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut; apakah sebagai objek berharga/tidak berharga atau objek yang baik/buruk. Menurut Winkel (1989) sikap demokrasi adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain, yang akan tampak dengan indikator; (1) Cara menyalurkan kehidupan demokrasi; (2) Kegiatan inti pembelajaran demokratis; dan (3) Budaya demokrasi di sekolah.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, terdapat banyak problematika dalam pembelajaran

PPKn serta kesulitan

mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan solusi pemecahan masalah pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa dengan alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan strategi pembelajaran cooperative learning tipe STAD (Student Team

Achievement Divisions). Penerapan strategi

pembelajaran kooperatif STAD yaitu model pembelajaran dengan membentuk kelompok belajar antara 4-5 siswa yang saling bekerjasama dalam menyelesaikan masalah. Model pembelajaran kooperatif STAD akan menciptakan kondisi belajar yang efektif dan kondusif, serta mempermudah dan memperlancar kegiatan belajar mengajar. Slavin (1995) mengemukakan STAD diartikan pembagian pencapaian tim siswa, merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Menurut Johnson & Johnson dalam Isjroni, model kooperatif STAD adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam satu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang dimiliki dalam kelompok tersebut (Isjroni, 2007).

Strategi pembelajaran kooperatif STAD adalah pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan dengan mengutamakan kerja kelompok untuk dapat meningkatkan kerja sama siswa baik secara individu maupun kelompok dan memastikan setiap siswa menguasai materi dengan memberikan kuis dan pemberian soal evaluasi. Adanya penelitian ini diharapkan akan mendapatkan hasil yang lebih baik sesuai dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan sikap demokrasi para siswa.

2. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di SMPN 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur. Waktu penelitian dimulai dari bulan April sampai September 2019. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Metode ini memfokuskan pada permasalahan alami yang terjadi, untuk kemudian akan dianalisis dan dapat ditarik kesimpulannya. (Pudjiastuti, 2018). Responden yang digunakan pada penelitian sebanyak 30 siswa SMPN 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur Kelas VII. Instrumen penelitian terdiri atas tes untuk

(5)

41 mengukur pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan observasi untuk mengukur sikap demokrasi siswa. Instrumen yang standar adalah instrumen yang disusun menggunakan prosedur pengembangan instrumen yang baku dan dapat dipertanggungjawabkan tingkat validitas dan reliabilitasnya (Pudjiastuti, 2019).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD pada siswa kelas VII SMPN 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus II dan siklus III telah menunjukan adanya perbaikan tindakan. Perbaikan terlaksana baik dari kinerja guru maupun sikap demokrasi siswa sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pengelolaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD pada siklus II belum sepenuhnya dapat berjalan dengan baik. Pada siklus II ini kinerja guru dan sikap demokrasi siswa menunjukkan belum mampu mengkondisikan siswa dengan baik selama pembelajaran berlangsung. Terutama saat pembelajaran kelompok sehingga masih ada beberapa siswa yang belum paham dan terlihat kebingungan dalam pembelajaran tersebut dan pengalokasian waktu selama pembelajaran belum maksimal sehingga belum sesuai dengan waktu yang direncanakan.

Pada siklus III guru berusaha meminimalisasi kekurangan yang ada berdasarkan hasil dari refleksi siklus II. Pembelajaran pada siklus III semakin maksimal karena selain guru lebih mengkondisikan kelas dengan baik dalam pembelajaran kelompok, siswa juga terlihat semakin antusias sehingga pembelajaran yang berlangsung lebih berjalan efektif dari siklus II. Oleh karena itu, dapat berimbas baik pada alokasi waktu yang tepat. Usaha perbaikan yang dilakukan guru pada siklus III ini membuahkan hasil selain pembelajaran yang berlangsung semakin efektif, juga hasil belajar yang diperoleh siswa dari siklus II ke siklus III mengalami peningkatan. Nilai rata-rata

pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yang dicapai siswa pada tiap siklus dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1. Nilai Rata-Rata Pemahaman Siswa No Siklus Nilai Rata- Rata

pemahaman siswa

1. I 68,66

2. II 70,16

3. III 72,66

Berdasarkan tabel 1, diketahui nilai rata-rata pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yang diperoleh siswa pada siklus I sebesar 68,66. Pada siklus II sebesar 70,16 dan mengalami peningkatan pada siklus III yaitu sebesar 72,66. Berikut visualisasi yang lebih jelasnya pada grafik 1.

Grafik 1. Nilai Rata-Rata Pemahaman Siswa Berdasarkan diagram 1, menggambarkan nilai rata-rata pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yang diperoleh siswa pada siklus I sebesar 68,66, kemudian pada siklus II sebesar 70,16 dan pada siklus III sebesar 72,66. Selanjutnya untuk mengetahui ketercapaian pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yang diperoleh pada tiap siklus dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Ketercapaian Pemahaman Siswa No Siklus Nilai Ketercapaian Hasil

Belajar

Mata Pelajaran PKn (%)

1. I 59,99 %

2. II 66,67 %

(6)

42 Berdasarkan table 2, diketahui pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yang dicapai siswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Ketercapaian pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yang dicapai siswa pada siklus I sebesar 59,99 %, kemudian pada siklus II sebesar 66,67 % dan pada siklus III mengalami peningkatan yaitu sebesar 83,33 %. Berikut visualisasi yang lebih jelasnya pada gambar 2.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

siklus I siklus II siklus III

Grafik 2. Ketercapaian Pemahaman Siswa Berdasarkan grafik 2, menggambarkan ketercapaian pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika yang dicapai oleh siswa pada siklus I sebesar 59,99, kemudian pada siklus II sebesar 66,67% dan mengalami peningkatan pada siklus III sebesar 83,33%. Selanjutnya untuk mengetahui kinerja guru dalam pembelajaran pada materi keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD pada tiap siklusnya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Kualitas Kinerja Guru No Siklus Kinerja Guru

1. I 69,00

2. II 78,25

2. III 93,25

Berdasarkan tabel 3, diketahui kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan model STAD pada materi keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika

mengalami peningkatan pada tiap siklus. Kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif STAD pada materi keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika pada siklus I memperoleh ketuntasan dengan skor 69 dengan kategori berkualitas, kemudian pada siklus II memperoleh ketuntasan dengan skor 78,25 dengan kategori berkualitas, dan pada siklus III memperoleh ketuntasan dengan skor 93,25 dengan kategori sangat berkualitas. Berikut visualisasi yang lebih jelasnya pada grafik 3.

Grafik 3. Kualitas Kinerja Guru

Berdasarkan grafik 3. kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif STAD pada materi keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika pada siklus I memperoleh ketuntasan dengan skor 69 dengan kategori berkualitas, kemudian pada siklus II memperoleh ketuntasan78,25, dengan kategori berkualitas. Pada siklus III mengalami peningkatan yaitu memperoleh ketuntasan dengan skor 93,25 dengan kategori sangat berkualitas. Selanjutnya untuk mengetahui sikap demokrasi siswa pada tiap siklus dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Kualitas Sikap Demokrasi Siswa No Siklus Sikap Demokrasi Siswa

1. I 69,4

2. II 71,8

(7)

43 Berdasarkan tabel 4, diketahui sikap demokrasi siswa mengalami peningkatan pada tiap siklus. Sikap Demokrasi siswa pada siklus I memperoleh skor 69,4 dengan kategori baik, kemudian pada siklus II memperoleh skor 80,6 dengan kategori baik, dan pada siklus III memperoleh skor 86,66 dengan kategori sangat baik. Berikut visualisasi yang lebih jelasnya pada gambar 4.

Grafik 4. Kualitas Sikap Demokrasi Siswa Berdasarkan grafik 4, sikap demokrasi siswa pada siklus I memperoleh skor 69,4 dengan kategori baik, kemudian pada siklus II memperoleh skor 71,8 dengan kategori baik, dan pada pada siklus III memperoleh skor 86,6 dengan kategori sangat baik. Berdasarkan pembahasan di atas, maka hipotesis yang berbunyi : “Penerapan model pembelajaran kooperatif Student Team Achievement

Divisions (STAD) dapat meningkatkan

pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur Tahun Pelajaran 2018/1019” dapat diterima. Berdasarkan hasil observasi tentang kinerja guru dalam pembelajaran menggunakan model kooperatif STAD dan sikap demokrasi siswa, diperoleh pula keterangan bahwa penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan kinerja guru dan sikap demokrasi siswa.

4. KESIMPULAN

Penerapan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika pada siswa kelas VII SMPN 2 Tanggeung Kabupaten Cianjur

Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keberhasilan dari kemajuan yang bermakna pada setiap siklusnya. Rata-rata pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika prasiklus adalah 63,83 dengan ketercapaian ketuntasan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika 39,99 % dari jumlah siswa yang mencapai KKM 70, kemudian terjadi peningkatan pada siklus 1 rata-rata pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika adalah 70,16 dengan ketercapaian ketuntasan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika 66,67 % dari jumlah siswa yang mencapai KKM 70, dan kembali mengalami peningkatan pada sikus 2 rata-rata pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika adalah 72,66 dengan ketercapaian ketuntasan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika 83,33% dari jumlah siswa yang mencapai KKM 70. Hal tersebut menunjukan bahwa penelitian telah berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, selain itu penerapan model pembelajaran kooperatif STAD juga dapat meningkatkan kualitas kinerja guru dan sikap demokrasi siswa dalam pembelajaran. Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooperatif STAD turut membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang keberagaman suku, ras, agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

DAFTAR PUSTAKA

Isjroni. (2007). Pembelajaran Visioner, Perpaduan Indonesia – Malaysia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Mar’at. (1984). Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Pudjiastuti, S.R. (2018). Implementation of The Mind Mapping Model With Scattergories Game in Improving Creativity and Learning Outcomes in

(8)

44 National Education Materials. Journal of Humanities and Social Studies, 2(2), 22-24.

Pudjiastuti, S.R. (2019). Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Media Akademi.

Wahab, A.A. (1993). Materi Pokok Pendidikan Pancasila. Jakarta: Universitas Terbuka. Waluya, B. (2007). Sosiologi Fenomena Sosial di

Masyarakat. Bandung: Setia Purna Inves.

Winkel, W.S. (1989). Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia.

Sedyawati, E. (2003). Warisan Budaya Tak Benda Masalahnya Kini di Indonesia. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia (PPKB-LPUI).

Slavin, R.E. (1995). Cooperative Learning. USA: Asimon and Schuter Company.

Gambar

Tabel 2. Ketercapaian Pemahaman Siswa  No  Siklus  Nilai Ketercapaian  Hasil
Tabel 3. Kualitas Kinerja Guru  No  Siklus  Kinerja Guru
Grafik 4. Kualitas Sikap Demokrasi Siswa  Berdasarkan  grafik  4,  sikap  demokrasi  siswa   pada  siklus  I  memperoleh  skor  69,4  dengan  kategori  baik,  kemudian  pada  siklus  II  memperoleh  skor  71,8  dengan  kategori  baik,  dan pada pada siklus

Referensi

Dokumen terkait

melakukan penelitian lebih mendalam dengan mewawancarai subjek untuk dapat melihat dinamika psikologis yang terjadi pada subjek juga melakukan pemaknaan mendalam

c. Contoh cap dinas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dipergunakan oleh Wakil Menteri, dan Staf Ahli Menteri. Contoh cap dinas Sekretariat Jenderal mempergunakan

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel yang tersedia di Jawa Tengah Dalam Angka 2013 berjumlah 9 variabel prediktor yang mewakili faktor-faktor yang

Yang berisikan mengenai, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, konsep promosi, media sosial, social media marketing, gaya hidup, kelompok referensi dan

Tahap pengolahan data yang dilakukan dengan metode Matching yaitu membandingkan karakteristik lahan pada setiap SPL dengan kriteria kelas kesesuaian lahan tanaman

In “Growing Their Profession, Interpreting the Law: Human Resources and the Management of Sexual Harassment Complaints in the University” and “Tracking Audit Culture: Sexual

Rapat pleno dihadiri oleh seluruh peserta dan dipimpin oleh pimpinan Pengadilan Tinggi Agama Kendari 3.. Rapat Komisi dihadiri oleh peserta komisi yang nama-namanya

Pendidikan dan pelatihan (Diklat) adalah suatu proses yang sistematis untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dari sikap, yang diperlukan dalam