8 A. Penelitian Terdahulu
Penelitian Nurul (2013) menguji dengan model analisis yang digunakan adalah fungsi Cobb-Dauglass dan fungsi produksi Frontier. Kemudian diolah dengan menggunakan metode regresi linier berganda dan fungsi produksi Frontier untuk menetukan faktor-faktor produksi yang efisien. Menunjukkan hasil bahwa variabel bibit dan pestisida Dursban berpengaruh positif tetapi tidak signifikan, pupuk kandang dan pupuk ZA berpengaruh positif dan signifikan, dan tenaga kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah produksi tembakau rakyat di Kabupaten Temanggung.
Fidiyana (2016) menguji dengan menggunakan model fungsi produksi frontier serta menggunakan alat analisis Regresi Linier Berganda dengan menggunakan data panel dari seluruh Kab/Kota di Provinsi Jawa Timur. Variabel Teanaga Kerja dan Luas Lahan secara serentak menunjukkan bahwa memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Sektor Pertanian, yaitu dalam koefisien determinasinya sebesar 99%.
Perbedaan yang terlihat dari penelitian ini dengan penelitian – penelitian terdahulu, perbedaan mendasar antara penelitian ini dengan penelitian ini difokuskan terhadap perkembangan dan produksi tembakau yang dapat dilihat dari 2 faktor (Luas Lahan dan Teanaga Kerja) dengan lokasi penelitian yang lebih meluas, dan juga dinilai dapat kompetitif dalam kegiatan produksi tembakau di
Indonesia, yaitu : Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali yang kemudian dicakup menjadi Provinsi Jawa dan Bali.
B. Tinjauan Teori 1. Teori Produksi
Tati S. Joerson (2003:77) mengatakan bahwa produksi merupakan hasil akhir dari proses atau efektivitas ekonomi degan memafaatkan beberapa masukan atau input, maka kegiatan produksi adalah kombinasi berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output. Hubungan tehnik antara input dan output tersebut dalam bentuk persamaan tabel atau grafik merupakan fungsi produksi.
Soekartawidalam Hany (2012) mengemukakan bahwa fungsi produksi aadalah hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel – variabel penjelas (X). Variabel yang dijelaskan biasanya berupa output dan variabel yang menjelaskan berupa input. Dengan fungsi produksi maka peneliti bisa mengetahui hubungan antara faktor produksi dan produksi secara langsungg dan hubungan tersebut dapat lebih mudah dimengerti. Selain itu dengan fungsi produksi, maka peneliti dapat mengetahui antara variabel penjelas. Secara matematis hubungan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
𝑌 = (𝑋1, 𝑋2, 𝑋3, … 𝑋𝑘)...(2.1) Vincent Gaspersz dalam Hany (2012) juga menjelaskan bahwa dalam industri modern yang berada dalam pasar global dan sangat kompetitif, aktivitas berproduksi bukan sekedar dipandan sebagai aktivitas penciptaan nilai tambah, dimana setiap aktivitas dalam proses produksi harus memberikan nilai tambah
(Value added). Pemahaman terhadap nilai tambah ini penting agar dalam setiap aktivitas berproduksi selalu menghindari pemborosan (waste). Dengan demikian berproduksi dapat dikatakan sebagai suatu aktivitas dalam perusahaan industri berupa penciptaan nilai tambah dari input menjadi output secara efektif dan efisien sehingga produk sebagai output sebagai proses penciptaan nilai tambah itu dapat dijua dengan harga yang kompetitif di pasar global.
Fungsi produksi memiliki sifat – sifat seperti fungsi utility, jika input bertambah, maka output juga meningkat. Namun tambahan input pertama akan memberikan tambahan output yang lebih besar dibandingkan dengan tambahan input berikutnya. Sifat ini disebut Law Of Diminishing Return (Sunaryo, 2001 : 71)
Sumber : Miller dan Mainers dalam Nurul (2013) Gambar 2.1 Kurva Tahapan Produksi
Dimana :
TP = Total Produksi L = Tenaga Kerja
MPL = Marginal produk Tenaga Kerja
APL = Produksi rata rata Tenaga kerja
MPL = ∆𝑇𝑃 ∆𝐿 APL = 𝑇𝑃 𝐿
Gambar 2.1 menggambarkan kurva total produksi fisik (TP) Yng melengkung mulus. Titik infleksi (titik perubahan) adalah titik A. Disitulah peningkatan produk fisik marginal (MP) berubah menjadi penurunan. Pada gambat kurva bawah terlihat perubahan itu mulai terjadi setelah dikerahkan input sebanyak qA. Pada titik B kurva total produk fisik marginal sama dengan produk qB, setelah itu produk fisik rata – rata (AP) menurun. Di titik C, total produk fisik mencapai nilai maksimum, sementara itu produk fisik marginal sama dengan nol, kemudian bernilai negatif. Pada kurva total produk fisik terlihat tahapan I, tahapan II, dan tahapan III. Tahapan II disebut daerah ekonomi produksi (economic region
of production)
Pada tahapan I, produk fisik rata – rata dari input fisik terus meningkat. Pada tahapan II, produk fisik rata – rata itu menurun, seiring dengan produk marjinal, tetapi produk fisik marjinal masih bernilai positif. Sedangkan pada tahap III, produk fisik rata – rata terus menurun bersamaan dengan turunnya total produk fisik dan marjinal sudah bernilai negatif.
2. Fungsi Produksi
Boediono dalam Hany (2012) mengatakan bahwa setiap proses produksi mempunyai landasan teknis, yang dalam teori ekonomi disebut fungsi produksi. Fungsi produksi merupakan suatu fungsi atau persamaan yang menungjukkan hubungan antar tingkat output dan tingkat kombnasi penggunaan inpu – input. Setiap produsen dalam teori dianggap mempunyai suatu fungsi produksi sebagai berikut :
𝑄 = 𝑓(𝑋1, 𝑋2, 𝑋3, … 𝑋𝑛)...(2.2) Dimana :
𝑄 = Tingkat Produksi
𝑋1, 𝑋2, 𝑋2, … 𝑋𝑛 = Berbagai input yangg digunakan
Tentang Law of Diminishing Return, Boediono juga mengatakan bahwa dalam teori ekonomi diambil pula satu asumsi dasar mengenai sifat fungsi produksi. Yaitu fungsi dari semua produksi dimana semua prodeusen dianggap tunduk pada suatu hukum yang disebut The law of diminishing Returns. Senada dengan Sunaryo (2001), Boediono juga mengatakan bahwa hukum ini mennerangkan bila sau macam input ditambah penggunaannya sedangkan input-input lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan mula–mula naik, tetapi kemudia seterusnya menurun apabila input tersebut terus bertambah.
Tambahann output yang dihasilkan dari penambahan 1 (satu) unit input variabel tersebut disebut Marginal Physcal Product (MPP) dari input tersebut :
Kurva total Physcal Product (TPP) adalah kurva yang menunjukkan ttingkat produksi total (sama dengan Q) pada berbaga tingkat penggunaan input variabel (input – input lain dianggap tetap). TPP = f (X) atau Q = f (X).
Kurva marginal Physcal Product (MPP) adalah kurva yang menunjukkan tambahan (atau kenaikan dari TPP, yaitu ΔQ dan ΔTPP yang disebabkan oleh penggunaan tambahan 1 (satu) unit input variabel.
𝑀𝑃𝑃𝑥= ∆𝑇𝑇𝑃 ∆𝑋 − ∆𝑄 ∆𝑋− 𝑓(𝑋) 𝑑𝑋 ...(2.4) Kurva Average Physcal Product (APP) adalah kurva yang menunjukkan hasil rata – rata per unit input variabel pada berbaga tingkat penggunaan input tersebut. 𝐴𝑃𝑃 = 𝑇𝑃𝑃 𝑋 − 𝑄 𝑋− 𝑓(𝑋) 𝑋 ...(2.5) Menurut Salvastor dalam Hany (2012) mengemukakan bahwa fungsi produksi untuk setiap komoditi adalah suatu persamaan tabel atau grafik yang menunjukkan jumlah (maksimum) komoditi yang dapat diproduksi per unit waktu setiap input alternatif, bila menggunakan teknik produksi terbaik yang tersedia.
Soekirno dalam Hany (2012) menjelaskan bahwa fungsi produksi dapat dinyatakan dalam bentuk rumus sebagai berikut :
𝑄 = 𝑓(𝐾, 𝐿, 𝑅, 𝑇)...(2.5) Dimana :
Q = Jumlah produksi K = Modal
L = Tenaga Kerja
T = Teknologi
a. Fungsi Produksi Cobb-Douglas
Soekarwati dalam Nurul (2013) Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan suatu persamaan yag melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu disebut variabel dependen (Y) dan yang lain disebut variabel independen (X).
𝑌 = 𝑎𝑋1𝑏1𝑋2𝑏2… . 𝑋𝑛𝑏𝑛𝑒𝑢...(2.6) 𝐼𝑛𝑌 = 𝐼𝑛𝑎 + 𝑏1𝐼𝑛𝑋1+ 𝑏2𝐼𝑛𝑋2+ … 𝑏𝑛𝐼𝑛𝑋𝑛+ 𝑒...(2.7) Pada persamaan 2.5 terlihat bahwa b1, b2, bi ... bn adalah tetap walaupun
variabel yang terlibat telah dilogaritmakan. Hal ini karena b1, b2 ... bn pada fungsi
Cobb Douglas adalah sekaligus menunjukkan elastisitas X terhadap Y, dan jumlah dari elastisitas adalah merupakan ukuran returns to scale. Fungsi produksi Cobb-Douglass selalu dilogaritmakan dan diubah bentuknya menjadi fungsi liniear untuk mempermudah pendugaan.
Soekartawi dalam Nurul (2013) menjelaskan persyaratan yang harus dipenuhi dalam menggunakan fungsi Cobb-Douglas : (1). Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol, sebab logaritma dari nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infnite). (2). Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbadaan teknologi pada setiap pengamata (nol neutral
difference in respective technologies). Hal ini berarti, bila fungsi produksi yang
dipakai sebagai model dalam suatu pengamatan dan bila diperlukan analisis yang memerlukan lebih dari satu model, maka perbedaan model tersebut terletak pada intersep dan bukan pada kemiringan garis (slope) model tersebut. (3), Tiap
Modal (Arus Jasanya per unit Periode) Tenaga Kerja (Arus Jasanya per unit ) Q
Sumber : Miller dan Meiners dalam Nurul (2013) Gambar 2.2 Kurva Produksi
variabel X adalah perfect competition. (4). Perbedaan lokasi (pada fungsi produksi) seperti iklim adalah sudah tercakup pada disturbance term.
Soekartawi dalam Nurul (2013) juga menjelaskan beberapa hal yang menjadi alasan fungsi produksi Cobb-Douglas lebih banyak dipakai peneliti antara lain : (1). Penyelesaian fungsi produski Cobb-Douglas relatif mudah. (2). Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien regresi sekaligus menunjukkan besaran elastisitas. (3). Jumlah besaran elastisitas tersebut menunjukkan tingkat return to scale.
b. Fungsi Produksi Frontier
Soekarwati dalam Nurul (2013) fungsi Produksi Frontier adalah fungsi produksi yang dipakai untuk mengukur bagaimana fungsi sebenarnya terhadap posisi frontiernya. Karena fungsi produksi adalah hubungan fisik antara faktor produksi dan produksi, maka Fungsi Produksi Frontier adalah hubungan fisik antara faktor produksi dan produksi pada frontier yang posisinya terletak pada isoquant. Garis isoquant ini adalah tempat keudukan titik–titik yang menunjukkan titik kombinasi penggunaan masukan produksi yang optimal.
Gambar 2.2 merupakan gambar kurva produksi sama atau kurva isoquan. Kurva tersebut menggambarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan satu tingkat produksi tertentu (Sukirno S, 1994). Semakin jauh letak kurva isoquan dari titik 0 menunjukkan tingkat produksi yang semakin tinggi. Sebaliknya, semakin ke kiri bawah maka semakin rendah tingkat produksinnya. Apabila kurva isoquan produsen bergerak ke kanan atas, berarti produsen menaikkan skala produksinya atau melakukan perluasan usaha.
Nicholas dalam Khazani (2013) batas kemungkinan produksi merupakan suatu grafik yang menunjukkan semua kemungkinan kombinasi barang – barang yang dapat diproduksi dengan jumlah sumber daya tertentu. Sumber daya tertentu seperti ditunjukkan pada gambar 2.3
Gambar 2.3 Batas Kemungkinan Produksi dan Efisiensi Terbaik
Gambar 2.3 menunjukkan garis batas yaitu PP’ yang memperlihatkan seluruh kombinasi dari dua barang (barang X dan Y) yang dapat diproduksi dengan sejumlah sumber daya yang tersedia dalam suatu perekonomian. Alokasi
sumber daya yang dicerminkan oleh titik A adalah alokasi yang tidak efisiensi secara teknis, karena jelas bahwa produksi dapat ditingkatkan. Sepanjang garis PP’ produksi secara teknis adalah efisien. Slope PP’ disebut dengan tingkat transformasi produk.
C. Hubungan Antar Variabel
1. Pengaruh Luas Lahan Terhadap Produksi
Luas penguasaan lahan pertanian merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses produksi ataupun usaha tani dan usaha pertanian. Dalam usaha tani misalnya pemilikan atau penguasaan lahan sempit sudah pasti kurang efisien dibanding lahan yang lebih luas. Semakin sempit lahan usaha, semakin tidak efisien usaha tani dilakukan. Kecuali bila suatu usaha tani dijalankan dengan tertib dan administrasi yang baik serta teknologi yang tepat. Tingkat efisiensi sebenarnya terletak pada penerapan teknologi. Karena pada luasan yang lebih sempit, penerapan teknologi cenderung berlebihan (hal ini berhubungan erat dengan konversi luas lahan ke hektar), dan menjadikan usaha tidak efisien (Daniel 2004: 56). Lahan pertanian merupakan penentu dari pengaruh komoditas pertanian. Secara umum dikatakan, semakin luas lahan (yang digarap/ditanami), semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan oleh lahan tersebut. Ukuran lahan pertanian dapat dinyatakan dengan hektare (ha) atau are. Di pedesaan, petani masih menggunakan ukuran tradisional, misalnya patok dan jengkal (Rahim 2007: 36).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa luas lahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah luas tanah sawah yang digarap atau ditanami padi pada satu kali musim panen dengan satuan hektare (ha). Meskipun oleh petani tradisional masih menggunakan ukuran patok dan jengkal (petak) peneliti melalui proses transformasi dari ukuran luas lahan tradisional kedalam ukuran yang dinyatakan dalam hektare (ha)
2. Pengaruh Tenaga Kerja dalam Produksi Tembakau
Tenaga kerja dalam usaha tani merupakan tenaga kerja yang dicurahkan untuk usaha tani sendiri atau usaha keluarga. Dalam ilmu ekonomi ynag dimaksud tenaga kerja adalah suatu alat kekuatan fisik dan otak manusia, yang tidak dapat dipisahkan dari manusia dan ditujukan pada usaha produksi.
Dalam usaha tani kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan meliputi hampir seluruh proses produksi berlangsung, kegiatan ini meliputi beberapa jenis tahapan pekerjaan, antara lain yaitu : (a) persiapan tanaman, (b) pengadaan sarana produksi pertanian (bibit, pupuk, obat hama/penyakit yang digunakan sebelum tanam), (c) penanaman/persemaian, (d) pemeliharaan yang terdiri dari penyiangan, pemupukan, pengobatan, pengaturan air dan pemeliharaan bangunan air, (e) panen dan pengangkutan hasil, (f) penjualan (Hernanto 1996: 71-72).
Tenaga kerja dalam hal ini petani merupakan faktor penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi komoditas pertanian. Tenaga kerja harus mempunyai kualitas berpikir yang maju seperti petani yang mampu mengadopsi inovasi-inovasi baru, terutama dalam menggunakan teknologi untuk pencapaian komoditas yang bagus sehingga nilai jual tinggi. Penggunaan tenaga kerja dapat
dinyatakan sebagai curahan tenaga kerja. Curahan tenaga kerja adalah besarnya waktu tenaga efektif yang dipakai (Rahim 2007 : 37)
Gambar 2.4 Kerangka Berfikir
D. Hipotesis
Dari pembahasan tersebut maka dapat ditarik sebuah kesimpulan sementara dan masih harus diuji kebenarannya. Adapun hipotesis yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut adalah diduga bahwa Luas Lahan Tembakau (X1) dan Tenaga Kerja(X2) berpengaruh signifikan terhadap Produksi Tembakau (Y).
Luas Lahan Tembakau
Tenaga kerja
Produksi Tembakau Provinsi Jawa dan Bali