• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGADILAN AGAMA TAHUNA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGADILAN AGAMA TAHUNA"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

2014

PENGADILAN AGAMA TAHUNA

Jln. Baru Tona No. 11 Telp. 0432-23239 Fax. 0432-23239

Website : pa-tahuna.go.id & E-mail : [email protected]

KEPULAUAN SANGIHE - SULAWESI UTARA

PENGADILAN AGAMA TAHUNA

(2)

Page i

PENGADILAN AGAMA TAHUNA 2014

Laporan Tahunan

Pengadilan Agama Tahuna

(3)

Page ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridhaNya kami dapat menyusun Laporan Tahunan Pengadilan Agama Tahuna Tahun 2014 ini sesuai dengan waktu yang diharapkan.

Perkembangan teknologi yang semakin mutakhir, tradisi pelaporan tidak bisa hanya bertahan dalam bentuk yang sangat sederhana, penggunaan sistem TI (teknologi informasi) yang semakin kedepan menuntut peningkatan bentuk-bentuk pelaporan dinamis dan akuntabel atas setiap kinerja yang dilakukan.

Keberadaan Pengadilan Agama Tahuna sebagai suatu lembaga yang bertugas melayani masyarakat pencari keadilan khusus yang beragama Islam dalam perkara-perkara tertentu yang diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 merupakan salah satu ujung tombak pelaksana kekuasaan kehakiman di tingkat pertama dalam memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat yang beragama Islam di wilayah administratif Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud dan Kabupaten Kepulauan SITARO.

Laporan ini dibuat dalam rangka pertanggungjawaban publik atas seluruh tugas pokok dan fungsi Pengadilan Agama Tahuna dengan berpedoman kepada rencana strategis, program kerja, dan indikator keberhasilan yang telah dicapai yang pada gilirannya dapat dipergunakan sebagai tolak ukur program kerja tahun berikutnya. Sekalipun belum memenuhi harapan kita semua, kami yakin hal ini merupakan sebuah prestasi besar yang telah dicapai.

Pada kesempatan ini, kami atas nama pimpinan menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya bagi seluruh hakim, para pejabat struktural dan fungsional, serta para pegawai atas keterlibatan, kerja keras, dan kerjasamanya dalam penyusunan laporan ini. Demi peningkatan kualitas penyusunan Laporan Tahunan di tahun mendatang, segala saran konstruktif dari para pengguna laporan ini sangat kami harapkan.

Demikian, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan tolak ukur dan evaluasi pekerjaan kita di masa datang. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya. Amin.

Tahuna, 11 Desember 2014 Wakil Ketua,

Drs. Satrio A.M. Karim.

NIP. 196601011993031011

(4)

Page 3

DAFTAR ISI

PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Kebijakan Umum Peradilan ... 1

B. Visi dan Misi ... 3

C. Rencana Strategis ... 4

BAB II STRUKTUR ORGANISASI (TUPOKSI) ... 7

A. Penyusunan Alur Tupoksi ... 7

B. Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) ... 11

C. Kinerja/Sasaran Kerja Pegawai (SKP) ... 35

BAB III PEMBINAAN DAN PENGELOLAAN ... 49

A. Sumber Daya Manusia ... 49

1. Sumber Daya Manusia Teknis Yudisial ... 49

2. Sumber Daya Manusia Non Teknis Yudisial ... 49

3. Promosi dan Mutasi ... 49

4. Pengisian Jabatan Struktural ... 51

B. Keadaan Perkara ... 51

C. Pengelolaan Sarana dan Prasarana ... 55

D. Pengelolaan Keuangan ... 58

E. Dukungan Teknologi Informasi ... 63

BAB IV PENGAWASAN ... 65

A. Internal ... 65

B. Evaluasi ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 67

A. Kesimpulan ... 67

B. Rekomendasi... 68

(5)

Page 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Kebijakan Umum Peradilan

Transparansi dan akuntabilitas merupakan salah satu prinsip untuk mendukung pemerintahan yang baik (good governance). Untuk itu Pengadilan Agama Tahuna sebagai ujung tombak Mahkamah Agung RI dalam hal menerima, memeriksa, dan menyelesaikan perkara yang diajukan oleh para pencari keadilan (justiciabelen), memposisikan diri sebagai perpanjangan tangan atas “cetak biru” (blue print) yang disusun oleh Mahkamah Agung RI untuk program pembaharuan peradilan dan reformasi birokrasi sebagai upaya pencegahan atas penyimpangan-penyimpangan yang mungkin timbul.

Sepanjang tahun 2014, Pengadilan Agama Tahuna telah melakukan perbaikan-perbaikan, baik birokrasi penerimaan perkara, pengelolaan/penanganan administrasi keperkaraan, dan pengolahan/penanganan administrasi umum yang salah satunya melalui sistem SIADPA (Sistem Administrasi Perkara Peradilan Agama) yang dipelopori oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI dengan menggunakan teknologi tinggi. Hal tersebut merupakan wujud reformasi birokrasi menuju electronic-governance yang lebih dikenal dengan e-governance.

Volume pekerjaan yang semakin meningkat, khususnya dalam penerimaan perkara yang mencapai jumlah 49 perkara pada tahun 2013, telah menuntut dilakukannya reformasi birokrasi keperkaraan, pengawasan internal bagi para pejabat Pengadilan Agama Tahuna, pendidikan dan pelatihan, pembinaan karir serta penggunaan anggaran tepat sasaran yang kemudian dituangkan dalam Rencana Strategis dan Program Kerja Pengadilan Agama Tahuna, menjadi indikasi penting untuk mengukur keberhasilan kerja seluruh jajaran pejabat struktural fungsional serta seluruh pegawai Pengadilan Agama Tahuna. Adanya keinginan kuat melakukan reformasi bidang hukum dan peradilan demi mengembalikan citra dan wibawa lembaga peradilan khususnya pasca reformasi, ditandai dengan melakukan upaya pengkajian secara metodologis dan mendalam untuk menyusun cetak biru Mahkamah Agung RI dan peradilan secara menyeluruh.

Pengadilan Agama sebagai lembaga penyelenggara kekuasaan kehakiman (judicial power) khusus bagi orang-orang yang beragama Islam dan dalam perkara tertentu, tentu saja sangat menyambut baik keinginan dimaksud dengan harapan terjadinya perubahan mendasar baik secara struktural maupun kultural yang pada

(6)

Page 5

akhirnya akan bermuara pada pembaharuan-pembaharuan dan reformasi birokrasi untuk meningkatkan pelayanan yang maksimal/prima terhadap masyarakat pencari keadilan. Proses peradilan “sederhana, mudah, cepat dan biaya ringan” sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman merupakan kebijakan yang tidak bisa ditawar lagi dan harus direalisasikan dalam kinerja seluruh jajaran aparat dan para hakim dilingkungan Pengadilan Agama Tahuna.

Lahirnya Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor KMA/096/SK/X/2006 tentang Tanggung Jawab Ketua Pengadilan Tingkat Banding dan Ketua Pengadilan Tingkat Pertama dalam Melaksanakan Tugas Pengawasan atau yang dikenal dengan “KMA Pengawasan” merupakan langkah nyata dan keseriusan Mahkamah Agung RI menindaklanjuti cetak biru Mahkamah Agung RI yang dirintis sejak tahun 2003.

Untuk menjamin pemenuhan hak publik yang berkaitan dengan prinsip keterbukaan, pada tanggal 28 Agustus 2007 telah ditetapkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung nomor: 144/KMA/SK/VIII/2007 tentang Keterbukaan Informasi di Pengadilan, KMA tersebut selain memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak masyarakat untuk mengakses informasi yang dikelola oleh Pengadilan diatur pula pedoman pelaksanaannya;

Untuk memberikan pelayanan seluas-luasnya kepada masyarakat pencari keadilan, pada tahun 2014 ini Pengadilan Agama Tahuna merintis program unggulan berupa Sidang Keliling dan pendaftaran perkara secara cuma-cuma (prodeo) bagi masyarakat yang tidak mampu. Dua jenis layanan ini sepenuhnya dibiayai oleh anggaran APBN dan telah menjadi unggulan Mahkamah Agung. Dengan adanya program tersebut diharapkan semua lapisan masyarakat, terutama masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi, dapat memperoleh dan menikmati keadilan sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Kemudian untuk penegakan disiplin kerja bagi aparat peradilan agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya guna mencapai hasil kerja yang optimal telah dikeluarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia nomor: 071/KMA/SK/V/2008 sebagaimana terlah diubah oleh Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia nomor: 069/KMA/SK/2009, dan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 2010 tentang Kepegawaian.

Pembaharuan peradilan dan reformasi birokrasi yang kemudian dituangkan dalam visi dan misi Mahkamah Agung RI menandai dimulainya gerakan perubahan untuk mengembalikan trust (kepercayaan) masyarakat terhadap lembaga peradilan. Kebijakan-kebijakan itulah yang kemudian diadopsi menjadi kebijakan

(7)

Page 6

Pengadilan Agama Tahuna dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan kewenangannya dengan beberapa penyesuaian.

Dalam rangka mewujudkan kebijakan umum dimaksud dengan tepat waktu dan sasaran, Pengadilan Agama Tahuna telah menetapkan visi dan misi sebagaimana yang akan dijelaskan di bawah ini.

B. Visi dan Misi

Visi adalah suatu gambaran tentang keadaan masa depan yang berisikan cita-cita dan citra yang ingin diwujudkan Pengadilan Agama Tahuna di masa mendatang. Dalam merumuskan visinya, Pengadilan Agama Tahuna menyelaraskan dengan visi Mahkamah Agung RI yang dicanangkan untuk tahun 2010-2035, sebagai hasil Rapat Kerja Nasional Mahkamah Agung RI Tahun 2009. Visi Mahkamah Agung tersebut adalah:

Untuk mencapai visi tersebut, Mahkamah Agung menetapkan misi yang mengambarkan hal yang harus dilaksanakan, yaitu:

1. Menjaga kemandirian badan Peradilan;

2. Memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan kepada pencari keadilan;

3. Meningkatkan kualitas kepemimpinan badan peradilan; 4. Meningkatkan kredibilitas dan transparansi badan peradilan;

Pengadilan Agama Tahuna sebagai pengadilan tingkat pertama yang berada di bawah Mahkamah Agung RI memiliki komitmen dan kewajiban yang sama untuk mengusung terwujudnya peradilan yang baik dan benar serta dicintai masyarakat. Atas dasar itu maka Pengadilan Agama Tahuna telah menjabarkan visi dan misi tersebut ke dalam visi Pengadilan Agama Tahuna, yaitu:

Hal ini mengandung makna bahwa Pengadilan Agama Tahuna siap bersama-sama peradilan lainnya mewujudkan badan peradilan yang agung yang dihormati masyarakat dengan cara meningkatkan kinerja yang lebih baik demi menjaga kehormatan dan martabat serta wibawa peradilan yang didedikasikan dalam bentuk misi Pengadilan Agama Tahuna, yaitu:

“TERWUJUDNYA BADAN PERADILAN INDONESIA YANG AGUNG”

(8)

Page 7

1. Memberikan pelayanan hukum dan keadilan bagi semua lapisan masyarakat (justice for all);

2. Memberikan akses publik seluas-luasnya tentang informasi demi terwujudnya transparansi pengadilan;

3. Mewujudkan proses pemeriksaan perkara yang sederhana, cepat dan dengan biaya ringan;

4. Mewujudkan putusan/penetapan yang memenuhi rasa keadilan, kepastian hukum dan dapat dilaksanakan (eksekutabel);

5. Berupaya menciptakan aparatur Pengadilan Agama Tahuna yang jujur, bersih dan berwibawa.

Upaya untuk mencapai visi dan misi yang agung tersebut jelaslah bukan suatu pekerjaan mudah. Diperlukan suatu pemahaman yang mendalam atas permasalahan yang dihadapi Pengadilan Agama Tahuna dan rencana serta strategi yang tepat dan menyeluruh untuk menjawab permasalahan yang ada. Tujuannya, agar dapat mendorong terwujudnya lembaga peradilan yang bermartabat, berwibawa dan dihormati demi tegaknya supremasi hukum.

Untuk memudahkan pencapaian visi dan misi tersebut, ditetapkanlah tujuan strategis. Tujuan strategis merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan visi yang akandicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun. Dengan diformulasikannya tujuan strategis, Pengadilan Agama Tahuna akan dapat secara tepat mengetahui apa yang harus dilaksanakan oleh organisasi dalam memenuhi visi misinya untuk kurun waktu satu sampai lima tahun ke depan dan memungkinkan untuk mengukur sejauh mana visi misi organisasi telah dicapai mengingat tujuan strategis dirumuskan berdasarkan visi misi organisasi.

Adapun Tujuan yang ditetapkan Pengadilan Agama Tahuna adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kemampuan dan kinerja Pengadilan Agama Tahuna agar lebih efektif dan efisien.

2. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi peradilan.

3. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang ada di Pengadilan Agama Tahuna.

C. Rencana Strategis

Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, perencanaan stratejik merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah agar mampu menjawab tuntutan lingkungan stratejik lokal, nasional dan global, dan

(9)

Page 8

tetap berada dalam tatanan Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pendekatan perencanaan stratejik yang jelas dan sinergis, instansi pemerintah lebih dapat menyelaraskan visi dan misinya dengan potensi, peluang dan kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan akuntabilitas kinerjanya.

Pada prinsipnya setiap satuan kerja seharusnya mempunyai barometer untuk menilai sampai sejauh mana roda organisasi berjalan dengan baik atau tidak, apa hambatan dan tantangan serta tujuan yang belum tercapai. Para pegawai/staf juga mempunyai peranan yang sama dalam memajukan dan menjalankan roda organisasi tersebut, sehingga kualitas kinerja pegawai dimaksud, adalah merupakan suatu yang mutlak demi maksimalnya pelayanan (cleint service), baik internal maupun secara eksternal kepada para pencari keadilan.

Kualitas keterampilam (skill) pegawai/staf selaku pelaksana tugas dan karya tentunya harus dimulai dari diri sendiri yang bertekad untuk menigkatkan kualitas pribadi dalam menunjang tugas pokok dan fungsi masing-masing (SDM). Kami sadari sarana dan prasarana serta fasilitas tak kalah pentingnya guna mencapai tujuan tersebut yang sekarang ini masih terbatas. Untuk mewujudkan itu pada pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pada tahun 2014 di Pengadilan Agama Tahuna telah ditetapkan sasaran/keluaran kegiatan yang mengacu pada program dan fungsinya tersebut.

Rencana strategis (renstra) merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu 1 tahun dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang ada atau mungkin timbul.

Rencana Strategis Pengadilan Agama Tahuna tahun 2014 telah disusun secara tepat, dinamis, sistematis, dan berkelanjutan. Sebagai suatu proses perencanaan panjang di bidang keperkaraan dan administrasi harus memiliki arah yang konsisten agar tidak terombang-ambing dalam perubahan situasi. Dalam kondisi ketersediaan kualitas sumber daya manusia, sarana, dan prasarana, namun dukungan anggaran kurang cukup memadai, Pengadilan Agama Tahuna menyusun Renstra secara efektif dan efisien. Renstra ini dituangkan dalam suatu perencanaan kinerja tahunan (annual performance plan) sebagai penjabaran lebih lanjut yang memuat seluruh target kinerja dalam satu tahun yang juga dituangkan dalam sejumlah indikator kinerja utama (key performance indicators). Renstra dimaksud meliputi: (1) renstra bidang teknis yustisial dan administrasi perkara; (2) renstra bidang administrasi umum dan manajemen; dan (3) penetapan indikator/standar kinerja.

(10)

Page 9

Sistem akuntabilitas kinerja Pengadilan Agama Tahuna setidaknya memiliki empat fase penting yang membentuk siklus akuntabilitas kerja yang tidak terputus dan terpadu. Keempat fase tersebut mencakup: (1) penyusunan rencana strategis; (2) pengukuran kinerja; (3) pelaporan kinerja; dan (4) pemanfaatan informasi kinerja bagi perbaikan kinerja berkesinambungan.

Tantangan utama meliputi :

1. Memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan khususnya yang berkaitan dengan tugas dan fungsi Peradilan Agama. a. Kepercayaan dan keyakinan dalam sistem peradilan di Indonesia

pada umumnya telah terkikis disebabkan kelambanan dalam penyelesaian perkara, persepsi tentang korupsi, kolusi, nepotisme dan akses terbatasnya pada pelayanan peradilan, solusi efektif untuk masalah tersebut adalah membuat pola dasar dimana kepercayan masyarakat terhadap sistem peradilan bisa kembali pulih.

b. Rencana strategi akan memberi prioritas pada sistem dan prosedur peradilan, perbaikan institusi serta sumber daya manusia atau operasional manajemen yang langsung mempengaruhi efisiensi pemberian pelayanan pada peradilan, pada kejujuran dan ketidakberpihakkan dari putusan pengadilan, trasparansi dan integritas dari proses peradilan dan perlindungan kerahasiaan jika diperlukan.

c. Lebih jauh lagi program ini akan menyatakan dan mengkoordinasikan berbagai unsur program melalui pendekatan holistik sehingga perwujudan Visi dan Misi dapat dicapai dengan target secara maksimal.

2. Rencana strategis akan sangat memerlukan sumber daya dalam tujuan pencapaiannya, meskipun dapat dicapai dalam konteks keterbatasan dengan memaksimalkan kemampuan sumber daya yang tersedia.

Pengadilan Agama Tahuna berusaha untuk memprioritaskan pembangunan sistem peradilan dalam anggaran yang tersedia, di samping itu Pengadilan Agama Tahuna akan memobilisasi dan menggunakan secara efisien semua sumber daya internal dan eksternal dalam operasioanal rutin guna mencapai Misi, Tujuan dan Target yang telah ditentukan secara tepat sasaran dan tepat guna.

(11)

Page 10

BAB II

STRUKTUR ORGANISASI

(TUPOKSI)

A. PENYUSUNAN ALUR TUPOKSI

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya Pengadilan Agama Tahuna mempunyai struktur organisasi yang mengacu pada ketentuan dan peraturan perundang-undangan sebagaimana berikut :

1. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. 2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung Republik

Indonesia sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009.

3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Pengadilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Perubahan Kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009. 4. Keppres Nomor 21 Tahun 2004 Tentang Pengalihan Organisasi Administrasi,

dan Finansial dilingkungan Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Agama ke Mahkamah Agung.

5. Keppres Nomor 13 Tahun 2005 Tentang Kesekretariatan MARI. 6. Keppres Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Kepaniteraan MARI.

7. Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor KMA/018/SK/III/2006 Tanggal 14 Maret 2006 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

8. Keputusan Sekretaris Mahkamah Agung RI Nomor MA/SEK/07/SK/III/2006 Tanggal 13 Maret 2006 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kesekretariatan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan Kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, tergambar bahwa tugas pokok dan wewenang Pengadilan Agama adalah memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq,

(12)

Page 11

shadakah dan ekonomi syariah (pasal 49 UU Nomor 50 Tahun 2009 sebagai perubahan Kedua atas UU Nomor 7 Tahun 1989).

Sedangkan fungsinya adalah memberikan pelayanan teknis yustisial dan administrasi terhadap masyarakat pencari keadilan bagi orang Islam dan pelayanan lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Susunan organisasi Pengadilan Agama Tahuna, sesuai dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 4 Tahun 1991, terdiri dari: unsur pimpinan yaitu Ketua, Wakil Ketua, dan pejabat fungsional Hakim. Selain itu ada unsur Kepaniteraan serta Kesekretariatan yang dipimpin oleh Panitera/Sekretaris yang membawahi: bidang Kepaniteraan, terdiri dari Wakil Panitera, Panitera Muda Gugatan, Panitera Muda Permohonan, dan Panitera Muda Hukum, kelompok fungsional Panitera Pengganti, Jurusita dan Jurusita Pengganti; bidang Kesekretariatan, terdiri dari Wakil Sekretaris, Kepala Urusan Umum, Kepala Urusan Kepegawaian dan Organisasi dan Tata Laksana, serta Kepala Urusan Keuangan dan Perencanaan.

Susunan organisasi Pengadilan Agama Tahuna dapat digambarkan sebagai berikut:

(13)

Page 12

STRUKTUR ORGANISASI

PENGADILAN AGAMA TAHUNA

KETUA WAKIL KETUA PANITERA/SEKRETARIS WAKIL SEKRETARIS WAKIL PANITERA HAKIM

KAUR KEU. & PERENC.

PANMUD PERMOHONAN PANMUD HUKUM KAUR KEPEG. & KAUR UMUM

ORTALA

PANMUD GUGATAN

JURUSITA / JURUSITA PENGGANTI PANITERA

PENGGANTI

KETERANGAN:

GARIS KOORDINASI STRUKTURAL GARIS KOORDINASI FUNGSIONAL

(14)

Page 13

Dari Struktur Organisasi Pengadilan Agama Tahuna di atas, Pengadilan Agama Tahuna menyusun Tupoksi untuk menjalankan tugas-tugas operasional perkantoran sehari-hari. Tugas Pokok dan fungsi tersebut adalah sebagai berikut: 1. Tugas pokok dan fungsi Unsur Pimpinan.

Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Agama Tahuna memimpin dan bertanggung jawab terhadap terselenggaranya tugas Pengadilan Agama Tahuna baik dalam bidang kepaniteraan maupun dalam bidang kesekretariatan secara baik dan lancar.

2. Tugas pokok dan fungsi Hakim.

Hakim adalah pejabat yang melaksanakan tugas kekuasaan kehakiman di lingkungan Pengadilan Agama Tahuna dan membantu unsur pimpinan untuk melaksanakan pengawasan pada bidang tertentu agar terselenggaranya Pengadilan Agama Tahuna secara baik dan lancar.

3. Tugas pokok dan fungsi Panitera/Sekretaris.

Memimpin dan mengatur serta bertanggung jawab atas tugas dalam bidang kepaniteraan dan kesekretariatan di Pengadilan Agama Tahuna, dan membantu unsur pimpinan dalam menjalankan tugasnya;

4. Tugas pokok dan fungsi Wakil Panitera.

Wakil Panitera membantu Panitera dalam membina dan mengawasi pelaksanaan tugas-tugas kepaniteraan serta mengkoordinir pelaksanaan tugas-tugas Panitera Muda Gugatan, Panitera Muda Permohonan, dan Panitera Muda Hukum.

5. Tugas pokok dan fungsi Wakil Sekretaris.

Wakil Sekretaris membantu Sekretaris dalam membina dan mengawasi pelaksanaan tugas-tugas kesekretariatan serta mengkoordinir pelaksanaan tugas-tugas Kepala Urusan Umum, Kepala Urusan Kepegawaian dan Organisasi dan Tata Laksana, dan Kepala Urusan Keuangan dan Perencanaan.

6. Tugas pokok dan fungsi Panitera Muda Gugatan.

Panitera Muda Gugatan mempunyai tugas dan fungsi memimpin dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas pada urusan kepaniteraan gugatan.

7. Tugas pokok dan fungsi Panitera Muda Permohonan.

Panitera Muda Permohonan mempunyai tugas dan fungsi memimpin dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas pada urusan kepaniteraan permohonan.

(15)

Page 14

8. Tugas pokok dan fungsi Panitera Muda Hukum.

Panitera Muda Hukum mempunyai tugas dan fungsi memimpin dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas pada urusan kepaniteraan Hukum.

9. Tugas pokok dan fungsi Kepala Urusan Umum.

Memimpin dan bertanggung jawab terhadap tugas kesekretariatan dalam urusan umum Pengadilan Agama Tahuna.

10. Tugas pokok dan fungsi Kepala Urusan Kepegawaian dan Organisasi dan Tata Laksana.

Memimpin dan bertanggung jawab terhadap tugas kesekretariatan dalam urusan kepegawaian dan organisasi dan tata laksana.

11. Tugas pokok dan fungsi Kepala Urusan Perencanaan dan Keuangan.

Memimpin dan bertanggung jawab terhadap tugas kesekretariatan dalam urusan keuangan dan perencanaan.

12. Tugas pokok dan fungsi Panitera Pengganti.

Membantu hakim dalam proses persidangan dan bekerjasama dalam melaksanakan tugas-tugas kepaniteraan serta membantu tugas-tugas yang diberikan oleh panitera.

13. Tugas pokok dan fungsi Jurusita/Jurusita Pengganti.

Melaksanakan tugas-tugas kejurusitaan dan melaksanakan semua perintah pimpinan, ketua majelis hakim, dan panitera di bidang kejurusitaan.

B. PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

Untuk menjamin berjalannya tugas Pokok dan Fungsi masing-masing elemen organisasi, mulai dari pimpinan sampai staf paling bawah serta untuk memberikan pelayanan terbaik/pelayanan prima kepada masyarakat pencari keadilan, maka disusunlah pedoman pelayanan ( Standard Operational Procedure ) Pengadilan Agama Tahuna.

Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah serangkaian instruksi tertulis

yang dibakukan mengenai berbagai proses penyelenggaraan administrasi pemerintahan, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana dan oleh siapa

dilakukan.

Penyusunan dan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Administrasi Pemerintahan merupakan salah satu aspek penting untuk mewujudkan birokrasi yang efektif, efisien dan akuntabel dalam rangka perbaikan kinerja manajemen pemerintahan/kualitas pelayanan publik. SOP melingkupi seluruh proses penyelenggaraan administrasi pemerintahan termasuk pemberian

(16)

Page 15

pelayanan baik pelayanan internal maupun eksternal organisasi pemerintah yang dilaksanakan oleh unit-unit organisasi pemerintahan.

SOP Pengadilan Agama Tahuna, seyogyanya diupayakan disusun sesuai dengan acuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PERMENPAN & RB) Nomor : 35 Tahun 2012 tentang Pedoman SOP Administrasi Pemerintah. Namun tidak adanya sosialisasi maupun bimbingan teknis yang pernah dilaksanakan oleh instansi yang berkompeten maupun instansi vertikal untuk diikuti oleh pejabat kepegawaian Pengadilan Agama Tahuna dan tidak adanya standarisasi nasional yang baku dalam menyusun maupun menentukan waktu dalam pembuatan SOP, sehingga standar waktu SOP Pengadilan Agama Tahuna mengikuti standar waktu yang digunakan oleh Pengadilan-Pengadilan yang lain di seluruh Indonesia.

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) Pengadilan Agama Tahuna memiliki standar / acuan guna memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat pencari keadilan sehingga Visi dan Misi Pengadilan Agama Tahuna dapat terwujud. Pengadilan Agama Tahuna menguraikan SOP secara garis besar ke dalam 2 (dua) bagian yaitu SOP Bagian Kepaniteraan dan SOP Bagian Kesekretariatan. Uraian SOP tersebut adalah sebagai berikut:

A. Standar Operasional Prosedur (SOP) Bagian Kepaniteraan.

Standar Operasional Prosedur (SOP) Bagian Kepaniteraan ini, secara spesifik menguraikan/menggambarkan sitematika/prosedur-prosedur tentang tahapan-tahapan dan standar waktu pelayanan yang digunakan dalam melaksanakan proses berperkara, mulai dari tahapan pendaftaran sampai dengan proses perkara tersebut berkekuatan hukum tetap.

1. TINGKAT PERTAMA. 1). Pendaftaran

a. Petugas Meja I menerima surat permohonan/gugatan/permohonan banding/verzet (perlawanan)/ permohonan kasasi/permohonan peninjauan kembali/permohonan eksekusi dan permohonan perlawanan pihak ketiga sebanyak jumlah pihak berperkara ditambah empat salinan dengan melampirkan :

1) Surat Keterangan Tidak Mampu dari Lurah, atau yang sejenisnya (khusus perkara prodeo);

2) Surat Kuasa Khusus yang telah terdaftar (jika dikuasakan kepada orang lain) dengan disertai:

(17)

Page 16

- Surat Keterangan hubungan keluarga dari Lurah; dan

a) Surat Izin menjadi Kuasa dari Pengadilan Agama (bagi Kuasa Insidentil), atau

b) Surat izin khusus atasan (bagi PNS dan Anggota POLRI/ TNI); b. Petugas Meja I memeriksa kelengkapan berkas, menaksir panjar biaya

dan membuat SKUM (Surat Kuasa Untuk Membayar), berkas perkara yang telah dilengkapi SKUM dikembalikan kepada penggugat/ pemohon/kuasanya dan agar membayar panjar biaya perkara melalui Bank (kecuali perkara prodeo) ;

c. Berkas diserahkan ke pemegang kas untuk ditandatangani dan dibubuhi cap lunas pada SKUM setelah menerima pembayaran (bukti bayar pada Bank yang ditunjuk) dan dicatat dalam Jurnal Keuangan lalu menyerahkan satu exemplar surat permohonan/gugatan dan lembaran pertama SKUM kepada yang bersangkutan;

d. Berkas diserahkan ke Petugas Meja II untuk dicatat dalam register perkara dan selambat-lambatnya dua hari berikutnya : Ketua PA menunjuk Majelis Hakim, Panitera menunjuk Panitera Sidang dan Jurusita Pengganti lalu Majelis Hakim menentukan hari sidang dan memerintahkan Jurusita Pengganti (JSP) memanggil para pihak untuk menghadiri persidangan sesuai hari dan tanggal yang ditetapkan;

2). Penyelesaian Perkara

Dalam hal Penggugat/Pemohon mengajukan permohonan berperkara secara prodeo (tanpa biaya), persidangan diawali pemeriksaan permohonan prodeo;

Permohonan prodeo dapat dikabulkan atau ditolak. Terhadap putusan prodeo tidak dapat diajukan upaya hukum;

a. Apabila dikabulkan sidang dilanjutkan pada tahap Mediasi kecuali Termohon/Tergugat tidak hadir, sidang ditunda untuk memanggil kembali;

b. Apabila ditolak, sidang ditunda selama 14 hari untuk memberi kesempatan kepada pemohon/Penggugat membayar panjar biaya perkara. Pada sidang berikutnya :

1) Jika panjar biaya perkara tidak dibayar, perkara dibatalkan; 2) Apabila dibayar, sidang dilanjutkan pada tahap mediasi;

c. Dalam hal Tergugat mengajukan permohonan berperkara secara prodeo (untuk perkara selain bidang perkawinan) permohonan tersebut diajukan bersama-sama jawaban dengan melampirkan Surat

(18)

Page 17

Keterangan Tidak Mampu dari kepala Desa/Lurah atau sejenisnya, permohonan prodeo dapat dikabulkan atau ditolak. Terhadap putusan prodeo tidak dapat diajukan upaya hukum;

d. Dalam hal tidak ada permohonan prodeo, bila para pihak hadir persidangan diawali proses mediasi kecuali perkara permohonan (volunteir), proses mediasi dilaksanakan paling lama 40 hari sejak pemilihan Mediator dan dapat diperpanjang paling lama 14 (empat belas) hari;

e. Jika mediasi berhasil, kesepakatan dituangkan di dalam Surat Perdamaian yang ditanda tangani para pihak dan mediator, atau Surat Pencabutan gugatan/permohonan dalam hal para pihak rukun kembali (khusus perkara perceraian);

f. Pada hari sidang yang telah ditentukan, para pihak menyampaikan Surat Perdamaian atau Surat Pencabutan tersebut agar perkara diselesaikan dengan putusan perdamaian (Akta van Dading) atau penetapan pencabutan dan apabila perkara dipandang tidak layak dimediasi, atau proses mediasi gagal atau tidak berhasil, sidang dilanjutkan pada tahap litigasi.

g. Penyelesaian perkara melalui prosedur Litigasi berlangsung paling lama 6 (enam) bulan, kecuali ada alasan yang sah menurut hukum. Tahap litigasi diawali upaya perdamaian (dading);

1) Apabila upaya perdamaian berhasil, perkara selesai dengan pencabutan, atau putusan perdamaian (Akta van Dading);

2) Apabila gagal atau tidak berhasil, sidang dilanjutkan pada tahap pemeriksaan perkara;

Sidang pemeriksaan perkara dilakukan dengan acara: a) Default: tanpa hadirnya Termohon/Tergugat;

b) Contradictoir: tanpa jawaban; c) Biasa, yang meliputi tahap:

 Pembacaaan permohonan/gugatan;

 Jawaban atas permohonan/gugatan;

 Tanggapan Penggugat atas jawaban (Replik)

 Tanggapan Tergugat atas replik (Duplik);

 Pembuktian dari para pihak;

 Pemeriksaan setempat (khusus sengketa harta);

 Peletakan Sita (jika diminta);

 Kesimpulan dari para pihak;

(19)

Page 18

h. Sesaat setelah pembacaan Penetapan/Putusan (kecuali cerai talak), Sisa Panjar Biaya Perkara dikembalikan (jika ada), selambat-lambatnya tiga hari kerja berikutnya PA memberitahukan putusan kepada pihak yang tidak hadir saat putusan dibacakan dan paling lama 14 hari sejak dibacakan PA menyampaikan salinan penetapan/ putusan kepada para pihak;

i. Apabila tidak ada upaya hukum (verzet, banding, kasasi) putusan berkekuatan hukum tetap terhitung sejak hari 15 setelah pembacaan / pemberitahuan putusan.

j. Sejak berkekuatan hukum tetap Pengadilan Agama menyampaikan Akta Cerai kepada para pihak (khusus perkara cerai gugat) dan melaksanakan sidang penyaksian ikrar talak ( khusus cerai talak).

3. Pencabutan perkara

Permohon/Penggugat dapat mencabut permohonan/gugatannya baik sebelum atau dalam proses pemeriksaan perkara;

a. Dalam hal diajukan sebelum pemeriksaan perkara:

1) Surat Pencabutan diajukan ke Pengadilan Agama melalui Petugas Meja I dengan melampirkan Surat Kuasa Khusus yang telah terdaftar (jika dikuasakan kepada orang lain) dan bagi yang buta aksara, pencabutan dilakukan secara lisan dihadapan panitera. 2) Pada hari itu juga Panitera melalui petugas Meja I membuat dan

menanda tangani Akta Pencabutan;

3) Selambat-lambatnya satu hari kerja berikutnya, Majelis Hakim memerintahkan JSP memberitahukan pencabutan tersebut kepada Tergugat / Termohon dalam hal sudah dipanggil.

b. Dalam hal diajukan dalam proses pemeriksaan perkara:

a) Pencabutan diajukan secara lisan atau tertulis di muka persidangan

b) Pencabutan dapat dibenarkan apabila diajukan sebelum tahap jawaban, jika diajukan setelah jawaban pencabutan hanya dapat dibenarkan apabila Tergugat / Termohon setuju;

2. TINGKAT BANDING.

Permohonan Banding diajukan paling lambat 14 hari sejak: a. Pembacaan/ pemberitahuan putusan;

b. Pemberitahuan putusan berperkara secara prodeo pada tingkat banding; (Apabila diajukan setelah lewat waktu, permohonan Banding

(20)

Page 19

tetap diterima dengan catatan Panitera membuat pernyataan bahwa permohonan banding telah lewat waktu);

1. Permohonan banding diajukan ke Pengadilan Agama melalui Meja I dengan melampirkan:

a. Salinan resmi Putusan PTA tentang ijin berperkara secara prodeo pada tingkat banding (khusus perkara banding secara prodeo); b. Surat Kuasa Khusus yang telah terdaftar (jika dikuasakan kepada

orang lain) dengan disertai:

1) Fotocopy kartu anggota yang masih berlaku (bagi Advokat); atau

2) Surat Keterangan hubungan keluarga dari Lurah serta: - Surat Ijin dari Ketua PA (bagi Kuasa insidentil); atau

- Surat izin khusus atasan (bagi PNS dan Anggota POLRI/ TNI)

2. Petugas Meja I membuatkan SKUM dan membuat Akta Pernyataan Banding yang ditanda tangani Pemohon Banding namun belum ditandatangani panitera.

3. Kasir menerima Akta Pernyataan Banding disertai dengan asli SKUM dari Pemohon Banding, membukukan uang panjar biaya banding yang tercantum dalam SKUM pada jurnal Keuangan Perkara Banding, memberi nomor registrasi pendaftaran pada SKUM dan menyerahkan kembali Akta Pernyataan Banding (setelah ditandatangani oleh Panitera) beserta asli SKUM kepada Pemohon Banding.

4. Petugas Meja II mencatat dalam buku register;

5. Petugas Meja III melengkapi berkas permohonan banding dengan salinan putusan, akta pernyataan banding, dan relaas pemberitahuan isi putusan (jika ada) dan membuat daftar check-list kelengkapan berkas banding sebagai control proses perkara.

6. Selambat -lambatnya 3 (tiga) hari kerja berikutnya: a. Biaya banding dikirim ke PTA (kecuali prodeo);

b. Pernyataan banding diberitahukan kepada Terbanding;

7. Selambat-lambatnya 14 hari sejak pendaftaran para pihak dipanggil untuk pemeriksaan berkas (inzage). Pemeriksaan berkas perkara dilakukan paling lambat hari ke 27 sejak pendaftaran. Dalam hal para pihak atau salah satu pihak tidak hadir untuk memeriksa berkas, Panitera membuat Surat Keterangan tentang ketidak hadiran pihak tersebut untuk memeriksa berkas;

(21)

Page 20

8. Jika dikehendaki, Pembanding/Terbanding dapat mengajukan Memori/ Kontra Memori Banding sebelum berkas perkara dikirim; a. Memori/ Kontra Memori Banding di sampaikan ke PA melalui

Meja I.

b. Selambat-lambatnya tiga hari kerja berikutnya Memori/kontra memori tersebut disampaikan kepada Terbanding/Pembanding; 9. Selambat-lambatnya hari ke 29 sejak pendaftaran banding, berkas

banding (Bundel A dan Bundel B yang telah lengkap) di kirim ke PTA;

10.Selambat-lambatnya 5 hari kerja sejak Salinan Putusan PTA diterima, Putusan diberitahukan kepada para pihak, apabila tidak ada upaya hukum (kasasi) putusan berkekuatan hukum tetap terhitung sejak hari 15 setelah pemberitahuan putusan.

11.Sejak berkekuatan hukum tetap:

a. PA menyerahkan Akta Cerai kepada para pihak (khusus perkara cerai gugat);

b. Melaksanakan sidang penyaksian ikrar talak ( khusus cerai talak). Atas dasar kesepakatan bersama, Para pihak dapat menempuh upaya perdamaian terhadap perkara yang sedang dalam proses banding sepanjang perkara belum diputus;

- Kesepakatan untuk menempuh upaya perdamaian diajukan secara tertulis kepada PA melalui Petugas Meja I. Dan selanjutnya Ketua PA memberitahukan hal tersebut ke PTA (dalam hal berkas sudah dikirim) dengan maksud agar pemeriksaan perekara ditunda;

- Upaya perdamaian berlangsung paling lama 14 hari kerja sejak diajukan ke PA. Dan jika para pihak menghendaki, Ketua PA dapat menunjuk seorang atau beberapa orang Mediator; - Para pihak melalui PA dapat mengajukan kesepakatan

perdamaian secara tertulis untuk dikuatkan dalam bentuk Akta perdamaian; Apabila tercapai perdamaian maka proses pencabutan perkara banding sebagai berikut :

1. Permohonan Banding dapat dicabut sebelum perkara diputus oleh PTA;

2. Surat Permohonan Percabutan diajukan ke PA melalui Petugas Meja I dengan melampirkan Surat Kuasa Khusus yang telah terdaftar (jika dikuasakan kepada orang lain):

(22)

Page 21

3. Petugas Meja I menyerahkan SKUM yang telah diberi tanda lunas setelah yang bersangkutan membayar tambahan panjar biaya banding melalui Bank, dicatat dalam Jurnal keuangan (kecuali banding secara prodeo) dan menyerahkan satu exemplar salinan Akta Pencabutan beserta SKUM tersebut kepada Pembanding;

4. Selambat-lambatnya 3 hari kerja berikutnya pencabutan tersebut diberitahukan kepada Terbanding dan dilaporkan ke PTA;

3. K A S A S I.

Permohonan Kasasi diajukan paling lambat 14 hari sejak pemberitahuan putusan Banding dan Pembacaan/Pemberitahuan Penetapan (volunteir) PA, apabila diajukan setelah lewat waktu permohonan Kasasi tidak memenuhi syarat formal;

1. Permohonan Kasasi diajukan ke PA melalui Petugas Meja I dengan melampirkan:

a. Surat Keterangan Tidak Mampu membayar biaya perkara dari Lurah atau yang sejenis (khusus kasasi secara prodeo);

b. Surat Kuasa Khusus yang telah terdaftar (jika dikuasakan kepada orang lain) dengan disertai:

1) Fotocopy kartu anggota yang masih berlaku (bagi Advokat); 2) Surat Keterangan hubungan keluarga dari Kepala Desa/Lurah

- Surat izin khusus atasan (bagi PNS dan Anggota POLRI/ TNI); - Surat Ijin dari Ketua PA(bagi Kuasa insidentil);

2. Petugas Meja I membuatkan SKUM dan membuat Akta Pernyataan Kasasi yang ditanda tangani Pemohon Kasasi namun belum ditandatangani panitera.

3. Kasir menerima Akta Pernyataan Kasasidisertai dengan asli SKUM dari Pemohon Kasasi, membukukan uang panjar biaya banding yang tercantum dalam SKUM pada jurnal Keuangan Perkara Kasasi, memberi nomor registrasi pendaftaran pada SKUM dan menyerahkan kembali Akta Pernyataan Kasasi (setelah ditandatangani oleh Panitera) beserta asli SKUM kepada Pemohon Kasasi.

4. Petugas Meja II mencatat dalam register;

5. Petugas Meja III melengkapi berkas permohonan kasasi dengan bundel A,salinan putusan tingkat pertama dan banding, akta pernyataan kasasi, dan relaas Pemberitahuan isi putusan banding dan

(23)

Page 22

membuat daftar check-list kelengkapan Berkas kasasi sebagai kontrol proses perkara;

6. Selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja berikutnya:

a. Biaya Kasasi dikirim ke MA (kecuali Kasasi secara prodeo);

b. Pernyataan Kasasi diberitahukan kepada Termohon Kasasi (kecuali kasasi dalam perkara volunteir);

7. Selambat-lambatnya 14 hari sejak pendaftaran, memori kasasi harus diajukan kepada PA melalui Petugas Meja I. Jika lewat waktu, Kasasi tidak memenuhi syarat formal. Selambat-lambatnya tiga hari kerja berikutnya JSP menyampaikan Memori kasasi kepada Termohon Kasasi (kecuali kasasi dalam perkara volunteir);

8. Kontra memori kasasi diajukan ke PA melalui Petugas Meja I dalam tenggang waktu 14 hari setelah pemberitahuan memori kasasi. Selambat-lambatnya tiga hari kerja berikutnya JSP menyampaikan Kontra Memori kasasi kepada Pemohon Kasasi;

9. Selambat-lambatnya 7 hari setelah penyampaian Kontra Memori Kasasi, berkas Kasasi di kirim ke Mahkamah Agung RI ( kecuali tidak memenuhi syarat);

10. Selambat-lambatnya 5 hari kerja sejak salinan putusan Kasasi diterima, putusan Kasasi diberitahukan kepada para pihak;

11. Setelah pemberitahuan isi putusan kasasi:

a. PA menyerahkan Akta Cerai kepada para pihak (khusus perkara cerai gugat);

b. Melaksanakan sidang penyaksian ikrar talak ( khusus cerai talak). Apabila perkara prodeo :

1. Selambat lambatnya 3 hari kerja sejak pendaftaran kasasi:

a. Panitera menunjuk Panitera Pengganti dan Jurusita Pengganti; b. Ketua PA menunjuk Majelis Hakim;

c. Majelis Hakim menentukan hari sidang d. JSP memangil para pihak;

2. Pada hari persidangan yang ditetapkan Majelis Hakim memeriksa permohonan berperkara secara prodeo pada tingkat kasasi dan dicatat dalam Berita Acara Persidangan; Atas dasar kesepakatan bersama, Para pihak dapat menempuh upaya perdamaian terhadap perkara yang sedang dalam proses kasasi sepanjang perkara belum diputus;

- Kesepakatan untuk menempuh upaya perdamaian diajukan secara tertulis kepada PA melalui Petugas Meja I. Dan

(24)

Page 23

selanjutnya Ketua PA memberitahukan hal tersebut ke MA (dalam hal berkas sudah dikirim) dengan maksud agar pemeriksaan perkara ditunda;

- Upaya perdamaian berlangsung paling lama 14 hari kerja sejak diajukan ke PA. Dan jika para pihak menghendaki, Ketua PA dapat menunjuk seorang atau beberapa orang Mediator. Para pihak melalui PA dapat mengajukan kesepakatan perdamaian secara tertulis untuk dikuatkan dalam bentuk Akta perdamaian; Apabila tercapai perdamaian maka proses pencabutan perkara kasasi s Apabila tercapai perdamaian maka proses pencabutan perkara banding sebagai berikut : - Permohonan Kasasi dapat dicabut sebelum diputus oleh MA; - Permohonan Percabutan yang disetujui Termohon ditujukan

kepada Ketua MA RI melalui PA dan disampaikan ke PA melalui Petugas Meja I dengan melampirkan Surat Kuasa yang telah terdaftar (jika dikuasakan kepada orang lain)

- Petugas Meja I menyerahkan salinan Akta Pencabutan kepada Pemohon dan Termohon Kasasi;

- Petugas Meja II mencatat dalam register;

- Selambat-lambatnya 3 hari kerja berikutnya Ketua PA melaporkan pencabutan tersebut secara tertulis ke MA RI;

4. PENINJAUAN KEMBALI. Petugas Meja I

1. Menerima dan membuatkan permohonan Peninjauan Kembali dari pemohon PK.

2. Mengklarifikasi nomor perkara dan tanggal putus dan melakukan cross-check dengan Buku Induk Register Gugatan/ Permohonan dan Buku Induk Register Kasasi.

3. Menghitung hari apakah permohonan Peninjauan Kembali diajukan masih dalam tenggang waktu 180 hari setelah putusan berkekuatan hukum tetap atau sejak ditemukannya bukti baru (novum).

4. Membuatkan SKUM dan Akta Pernyataan Peninjauan Kembali yang ditanda tangani Pemohon Peninjauan Kembali yang belum ditandatangani panitera.

(25)

Page 24

Kasir

1. Menerima Akta Pernyataan Peninjauan Kembali disertai dengan asli SKUM dari Pemohon Peninjauan Kembali.

2. Membukukan uang panjar biaya Peninjauan Kembali yang tercantum dalam SKUM pada Buku Jurnal Keuangan Permohonan Peninjauan Kembali dan memberi nomor registrasi pendaftaran pada SKUM. 3. Menyerahkan kembali Akta Pernyataan Peninjauan Kembali beserta

asli SKUM kepada Pemohon Peninjauan Kembali.

Petugas Meja II

1. Menerima Akta Pernyataan Peninjauan Kembali dan asli SKUM dari Pemohon Peninjauan Kembali.

2. Menerima Akta Pernyataan Peninjauan Kembali dan asli SKUM dari Pemohon Peninjauan Kembali.

3. Menyerahkan Akta Pernyataan Peninjauan Kembali kepada Panitera untuk ditanda tangani.

4. Mencatat dalam register induk perkara Peninjauan Kembali sesuai dengan nomor registrasi pendaftaran yang ada di dalam SKUM;

Petugas Meja III

1. Menyerahkan 1 (satu) rangkap Akta Pernyataan Peninjauan Kembali yang telah ditanda tangani Panitera dan Stempel Pengadilan kepada Pemohon Peninjauan Kembali beserta lembar pertama SKUM Petugas menerima berkas permohonan Peninjauan Kembali melalui Panmud Hukum dengan menggunakan buku ekspedisi.

2. Melengkapi berkas permohonan Peninjauan Kembali dengan Bundel A, salinan putusan tingkat pertama, banding dan kasasi, Akta Pernyataan Permohonan Peninjauan Kembali, dan relaas pemberitahuan isi putusan.

3. Membuat daftar check-list kelengkapan berkas Peninjauan Kembali sebagai kontrol proses perkara dan menyerahkan Bundel A dan Bundel B yang sudah diteliti kelengkapannya ke panitera melalui Wakil Panitera untuk diteliti kembali sebelum dikirim ke Mahkamah Agung.

Proses Pengiriman Berkas PK

1. Panitera membuat Surat Pengantar pengiriman berkas perkara Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung yang dibuat dalam rangkap 5,: 1 rangkap untuk Mahkamah Agung, 2 (dua) rangkap ditembuskan

(26)

Page 25

kepada para pihak, 1 rangkap untuk tembusan kepada PTA/MSy Aceh, dan 1 rangkap disimpan sebagai arsip.

2. Petugas mengirimkan Bundel A dan Bundel B perkara Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung.

3. Biaya perkara Peninjauan Kembali dikirim ke Mahkamah Agung melalui bank.

4. Bukti setoran bank untuk perkara Peninjauan Kembali tersebut dimasukkan dalam bundel B yang dikirim ke Mahkamah Agung.

5. Petugas memphotocopy Isi dari bundel B untuk disimpan sebagai arsip oleh Panmud Hukum.

5. PENYAMPAIAN SALINAN PUTUSAN.

. 1. Panitera melakukan penelitian, cross-check terhadap salinan putusan yang akan disampaikan kepada para pihak.

2. Petugas membuat catatan kaki dalam salinan putusan yang diminta oleh para pihak yang berisi :

- Diberikan kepada/atas permintaan siapa. - Dalam keadaan belum/ sudah BHT

3. Petugas membuat/ mencantumkan tanggal pengeluaran dalam salinan putusan yang akan ditandatangani oleh panitera.

4. Panitera menyampaikan salinan putusan kepada pegawai pencatat nikah yang wilayahnya meliputi tempat kediaman dan tempat perkawinan penggugat/pemohon dan tergugat/termohon, melalui pos. 5. Petugas menyampaikan salinan putusan kepada para pihak yang

belum diambil melalui pos.

6. SITA JAMINAN, SITA EKSEKUSI,EKSEKUSI RIIL DAN EKSEKUSI LELANG.

Sita Jaminan

1. Panitera Muda Gugatan meneliti kelengkapan berkas dan menghitung panjar biaya (SKUM) setelah menerima salinan Penetapan Sita dari Majelis Hakim.

2. Panitera/Wakil Panitera melakukan penunjukan Jurusita pada hari itu juga setelah Pemohon Sita membayar SKUM.

3. Panitera Muda Gugatan mencatat ke dalam buku register penyitaan 4. Jurusita melaksanakan proses sita paling lama 3 hari setelah

(27)

Page 26

5. Jurusita menyerahkan berkas sita jaminan kepada Panitera/ Wakil Panitera paling lama 1 hari setelah pelaksanaan sita. Aanmaning/Peneguran

1). Ketua PA/Panitera menerima surat permohonan aanmaning dari Pemohon dan memberikan disposisi kepada Panitera Muda untuk meneliti dan menghitung panjar.

2). Panitera Muda Gugatan meneliti kelengkapan berkas dan menghitung panjar biaya (SKUM) setelah menerima disposisi dari KPA/Panitera.

3). Panitera/Wakil Panitera pada hari itu juga mempersiapkan penetapan aanmaning dari KPA paling lama 2 hari setelah pemohon membayar SKUM.

4). Panitera/Wakil Panitera melakukan penunjukan Jurusita untuk melaksanakan aanmaning pada hari itu juga setelah Pemohon membayar SKUM.

5). Panitera Muda Gugatan mencatat ke dalam buku register eksekusi 6). Jurusita melaksanakan proses aanmaning paling lama 3 hari

setelah menerima berkas dari Panitera/ Wakil Panitera.

7). Jurusita menyerahkan berkas aanmaning kepada Panitera/ Wakil Panitera paling lama 1 hari setelah pelaksanaan peneguran.

Sita Eksekusi

1. Ketua PA/Panitera menerima surat permohonan Sita Eksekusi dari Pemohon dan memberikan disposisi kepada Panitera Muda untuk meneliti dan menghitung panjar.

2. Panitera Muda Gugatan meneliti kelengkapan berkas dan menghitung panjar biaya (SKUM) setelah menerima disposisi dari KPA/Panitera. 3. Panitera/Wakil Panitera pada hari itu juga mempersiapkan penetapan

sita eksekusi dari KPA paling lama 2 hari setelah pemohon sita eksekusi membayar SKUM.

4. Panitera/Wakil Panitera melakukan penunjukan Jurusita untuk melaksanakan sita eksekusi pada hari itu juga setelah Pemohon Sita membayar SKUM.

5. Panitera Muda Gugatan mencatat ke dalam buku register eksekusi 6. Jurusita melaksanakan proses sita eksekusi paling lama 3 hari setelah

menerima berkas dari Panitera/ Wakil Panitera.

7. Jurusita menyerahkan berkas sita eksekusi kepada Panitera/ Wakil Panitera paling lama 1 hari setelah pelaksanaan sita.

(28)

Page 27

EksekusiRiil/Pengosongan

1. Ketua PA/Panitera menerima surat permohonan Eksekusi dari Pemohon dan memberikan disposisi kepada Panitera Muda untuk meneliti dan menghitung panjar.

2. Panitera Muda Gugatan meneliti kelengkapan berkas dan menghitung panjar biaya (SKUM) setelah menerima disposisi dari KPA/Panitera. 3. Panitera/Wakil Panitera pada hari itu juga mempersiapkan penetapan

eksekusi dari KPA paling lama 2 hari setelah pemohon eksekusi membayar SKUM.

4. Panitera/Wakil Panitera melakukan penunjukan Jurusita untuk melaksanakan eksekusi.

5. Panitera Muda Gugatan mencatat ke dalam buku register eksekusi. 6. Jurusita melakukan pemberitahuan proses eksekusi kepada para

pihak paling lama 3 hari setelah menerima berkas eksekusi.

7. Jurusita melakukan koordinasi dengan instansi terkait paling lama 3 hari setelah menerima penetapan dari KPA.

8. Jurusita melaksanakan proses eksekusi paling lama 3 hari setelah menerima berkas dari Panitera/ Wakil Panitera.

9. Jurusita menyerahkan berkas eksekusi kepada Panitera/ Wakil Panitera paling lama 1 hari setelah pelaksanaan Eksekusi.

Eksekusi Lelang

1. Ketua PA/Panitera menerima surat permohonan eksekusi lelang dari Pemohon dan memberikan disposisi kepada Panitera Muda untuk meneliti dan menghitung panjar.

2. Panitera Muda Gugatan meneliti kelengkapan berkas dan menghitung panjar biaya (SKUM) setelah menerima disposisi dari KPA/Panitera. 3. Panitera/Wakil Panitera pada hari itu juga mempersiapkan penetapan

eksekusi lelang dari KPA paling lama 2 hari setelah pemohon membayar SKUM.

4. Panitera/Wakil Panitera melakukan penunjukan Jurusita untuk melaksanakan eksekusi lelang pada hari itu juga setelah Pemohon membayar SKUM.

5. Panitera Muda Gugatan mencatat ke dalam buku register eksekusi 6. Panitera Muda Gugatan mempersiapkan surat permohonan

pelaksanaan lelang kepada Kantor Lelang paling lama 2 hari setelah penetapan ditanda tangani.

(29)

Page 28

B. Standar Operasional Prosedur (SOP) Bagian Kesekretariatan.

Standar Operasional Prosedur (SOP) Bagian Kesekretariatan ini, secara spesifik menguraikan/menggambarkan sistematika/ prosedur-prosedur tentang tahapan-tahapan dan standar waktu pelayanan yang digunakan dalam melaksanakan proses administrasi umum berupa tata persuratan dan pembuatan laporan-laporan serta pengajuan permintaan dan lain-lain, dari Bagian Kepegawaian, Bagian Keuangan dan Bagian Umum.

Ketua Pengadilan Agama bertanggung jawab secara managerial terhadap pelaksanaan administrasi umum (kesekretariatan). Panitera/Sekertaris bertanggung jawab penuh terhadap pengelolaan administrasi umum (kesekretariatan) yang dilaksanakan oleh Wakil Sekretaris melalui garis komando terhadap para Kepala-Kepala Urusan. Dalam hal pengelolaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), Panitera/Sekretaris bertanggung jawab penuh selaku Kuasa Pengguna Anggaran yang telah didelegasikan oleh Sekretaris Mahkamah Agung RI selaku Pengguna Anggaran/Barang, berdasarkan Keputusan Sekretaris Mahkamah Agung Nomor : 173/SEK/SK/12/2013 tanggal 27 Desember 2013.

Adapun SOP Bagian Kesekretariatan, diuraikan sebagai berikut : A. Tugas Wakil Sekretaris

1. Membuat program kerja pelaksanaan anggaran selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di laksanakan setelah turun DIPA, diselesaikan selama 10 hari kerja;

2. Menyusun rencana kegiatan kesekretariatan tahunan dan rencana anggaran tahunan dan rencana anggaran tahun berjalan diselesaikan selama 10 hari kerja;

3. Mengkoordinir dan mengawasi tugas-tugas sub bagian umum, keuangan dan kepegawaian setiap hari;

4. Mengoreksi dan mengkoordinasikan surat-surat keluar yang dibuat oleh sub bagian umum, keuangan dan kepegawaian diselesaikan 1 hari kerja;

5. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dilaksanakan sesuai kebutuhan;

6. Menyusun data untuk keperluan evaluasi dan pelaporan seluruh kegiatan untuk disampaikan kepada Pimpinan melalui Panitera/Sekretaris dilaksanakan 3 (tiga) hari kerja.

(30)

Page 29

B. Tugas Kepala Urusan Umum

Pengelolaan administrasi yang menjadi tugas pokok sub bagian Umum meliputi :

1. Administrasi Tata Persuratan, 2. Administrasi Perlengkapan, 3. Administrasi Perencanaan, 4. Kerumahtanggaan.

1. Administrasi Tata Persuratan a. Surat Masuk

Surat masuk adalah semua tulisan dinas atau surat pribadi yang diterima instansi/pihak lain untuk disampaikan kepada pejabat yang tercantum pada alamat, baik yang tercantum pada sampul maupun pada tulisan dinas itu sendiri, dan penerimaannya oleh urusan umum.

Pengelolaan Surat Masuk

- Surat yang diterima diberikan tanda terima dan diagendakan pada buku agenda surat masuk, diberikan nomor dan lembar disposisi, diteliti oleh sub bagian umum dan diparaf dan diteruskan ke panitera/sekretaris dan diparaf dan panitera/sekretaris mensortir surat untuk diteruskan kepada KPA atau WKPA diselesaikan 1 hari kerja;

- Ketua/Wakil KPA mendisposisi surat tersebut, diselesaikan pada hari itu juga (kecuali ketua dinas luar);

- Surat kembali ke Panitera/Sekretaris untuk didisposisi, diselesaikan 1 hari kerja;

- Surat didistribusikan sesuai disposisi oleh staf Panitera/Sekretaris kepada Wasek atau Wapan diselesaikan pada hari itu juga;

- Surat yang memerlukan jawaban/tanggapan masing-masing harus sudah dijawab/ditanggapi, diselesaikan paling lama 3 (tiga) hari kerja;

b. Surat Keluar

Surat keluar adalah semua tulisan yang dikirimkan kepada pejabat diluar instansi sendiri sesuai dengan alamat yang dicantum pada tulisan dinas atau pada sampulnya.

(31)

Page 30

Selain dikirimkan kepada instansi lain, dapat juga dikirimkan kepada pihak yang bersangkutan dalam satu instansi, misalnya dikirimkan kepada bagian yang lainnya yang berada dalam instansi tersebut.

Pada surat biasanya berisikan berupa pemberitahuan, undangan pertemuan/rapat, undangan kerjasama ataupun jawaban (konfirmasi) dari surat yang telah dikirimkan sebelumnya. Pada surat juga ada yang berisikan mengenai perintah tugas.

Pengelolaan Surat Keluar

- Surat diagenda dalam buku agenda surat keluar di beri nomor sesuai kode surat dan tanggal pada hari dan tanggal tersebut. 1 (satu) lembar surat ditinggal pada sub bagian umum sebagai arsip, diselesaikan 1 hari kerja;

- Pengiriman surat dilakukan melalui pos dan dilaksanakan setiap hari, sedangkan surat-surat yang sangat mendesak/penting dikirim hari itu juga melalui kurir.

2. Administrasi Perlengkapan

• Pencatatan aset/barang milik negara, dan setiap pengadaan pada barang/jasa setelah addanya penyerahan/laporan dari KPA dan telah adanya SP2D dan SPM dilakukan pencatatan/pengimputan kedalam aplikasi SIMAK-BMN diselesaikan 2 (dua) hari kerja;

• Pencatatan Barang-Barang Persediaan (ATK) diselesaikan 2 (dua) hari kerja;

• Pemberian Nomor Urut Pendaftaran (NUP) BMN diselesaikan 3 (tiga) hari kerja;

• Pembuatan Daftar Barang Ruangan (DBR) diselesaikan dalam waktu 3 (tiga) hari kerja yang berlaku selama 1 tahun;

• Pembuatan Kartu Inventaris Barang (KIB) di selesaikan 3 (tiga) hari kerja;

• Pembuatan Laporan Neraca (SIMAK BMN) ke sub bagian keuangan dilakukan selama 3 (tiga) hari dan dilaporkan setiap akhir bulan;

• Membuat Laporan Barang Milik Negara setiap Semester ke Instansi terkait, diselesaikan 7 hari kerja;

• Setiap semester melakukan rekonsiliasi ke KPKNL diselesaikan 3 (tiga) hari kerja;

(32)

Page 31

• Melakukan opname barang setiap triwulan, diselesaikan 3 (tiga) hari kerja;

• Pendataan barang inventaris yang telah rusak dan tidak bisa dipakai untuk dilakukan penghapusan, diselesaikan 14 hari kerja;

• Perpanjangan pajak kendaraan oprasional roda 2 (dua) dan roda 4 (empat), diselesaikan 2 (dua) hari kerja;

• Perbaikan dan perawatan kendaraan oprasional roda 2(dua) dan roda 4 (empat) yang masih bisa diprbaiki dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan;

• Perawatan dan pemeliharaan barang investaris kantor, setiap 3 bulan sekali oleh pihak ketiga ;

• Menguras dan mengisi kembali hidran, dilaksanakan sesuai kebutuhan ;

3. Administrasi Perencanaan

• Menghimpun data kebutuhan ATK dan sarana penunjang kerja dari Ketua, Wakil Ketua, Hakim, Panitera/Sekretaris, Kepaniteraan dan Kesekratariatan tahun yang akan datang diselesaikan selama 7 ( tujuh ) hari ;

• Menyusun rencana kerja tahunan yang berhubungan dengan sarana dan prasarana, diselesaikan selama 10 (sepuluh )hari ; • Menyusun rencana kerja dan program kerja sub bagian umum

setiap awal tahun, diselesaikan selama 7 (tujuh) hari ; 4. Kerumahtanggaan

Pelaksanaan tugas kerumahtanggaan dibedakan dalam 4 (empat) kegiatan yaitu pengelolaan perpustakaan, perawatan/pemeliharaan sarana gedung kantor, pengamanan dan kebersihan lingkungan kantor.

a. pengelolaan perpustakaan

• Mencatat buku baru yang diterima kedalam buku agenda, buku induk dan penomoran menurut klasifikasi, yang diselesaikan dalam 1 (satu) hari oleh petugas perpustakaan ; • Menurut perencanaan dan mengusulkan keadaan buku-buku,

undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah dan buku tentang hukum, serta buku-buku yang ada relevensinya dengan kedinasan diselesaikan selama 1 (satu) hari setiap akhir tahun oleh kepala sub bagian umum ;

(33)

Page 32

• Membuat catatan peminjaman buku dan pengembalian buku dalam buku peminjaman, pada hari itu juga ;

• Melakukan pemeliharaan, perawatan koleksi buku-buku satu minggu sekali.

b. Perawatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana gedung • Memanaskan genset satu kali sebulan selama 30 (tiga puluh)

menit ;

• Perawatan dan pemeliharaan gedung sesuai dengan kebutuhan dilaksanakan oleh pihak ketiga sesuai kebutuhan ; • Perawatan dan pemeliharaan barang investaris kantor, setiap

3 (tiga) bulan sekali oleh pihak ketiga ; c. Keamanan

• Menyusun uraian tugas (Job Description) satuan pengamanan setiap awal bulan diselesaikan selama 1 (satu) hari ;

• Melakukan pertemuan dalam rangka evaluasi pelaksanaan tugas dengan staf sub bagian umum dan satuan pengamanan setiap akhir bulan ;

• Melakukan pengontrolan lingkungan kantor setiap 2 (dua) jam sekali setiap hari dilaksanakan oleh petugas pengamanan dan staf sub bagian umum ;

• Melakukan koordinasi dengan aparatur keamanan terkait (Polres, Polsek, Kodim ) apabila di perlukan ;

• Mengarahkan semua tamu untuk melapor ke piket ;

• Melakukan pengontrolan semua ruang kerja setelah jam kerja mematikan AC, Listrik dan Komputer yang masih menyala dan mengunci pintu yang belum terkunci dilaksanakan selama 2 (dua) jam oleh satuan pengamanan ;

• Menyalakan lampu dimalam hari di luar ruangan seperlunya dilaksanakan oleh petugas pengamanan ;

• Mencatat dalam buku bagian pegawai atau pihak luar yang melaksanakan kegiatan di lingkungan kantor d iluar jam kerja di selesaikan sesuai dengan keperluan.

d. Kebersihan

• Menyusun uraian tugas (job description ) petugas kebersihan dan penanggung jawab petugas kebersihan, diselesaikan selama 1 (satu) hari ;

(34)

Page 33

• Mengontrol pelaksanaan tugas sesuai dengan uraian tugas (job description). Disamping tugas-tugas tersebut diatas sub bagian umum juga bertugas dan bertanggung jawab terhadap keamanan dan kenyamanan lingkungan kantor dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan.

C. Tugas Kepala Urusan Keuangan 1. Perencanaan Anggaran

Membuat dan Menyusun RKAKL dan data pendukung kelengkapan untuk diserahkan ke Pengadilan Tinggi Agama Manado paling lambat bulan Februari.

2. Administrasi Keuangan

a. Mengagenda surat masuk yang sudah didisposisi oleh Ketua Pengadilan Agama dan Panitera/Sekretaris, diselesaikan sejak surat itu diterima.

b. Surat keluar/jawaban surat diselesaikan dalam 1 hari. c. Membuat Berita Acara Rekonsiliasi : 1 hari kerja.

d. Membuat Rekapitulasi Gaji Pegawai yang disampaikan ke Bank : 2 (dua) hari Kerja.

3. Pelaksanaan Anggaran a.Gaji Induk

• Membuat daftar gaji pegawai menggunakan aplikasi gaji dan menyusun kelengkapan daftar gaji (SK Kenaikan Berkala, SK Kenaikan Pangkat, Tunjangan Istri/anak dan SK Mutasi) diselesaikan selama 3 (tiga) hari kerja setiap awal bulan.

• Membuat faktur pajak/setoran pajak (SSP) diselesaikan selama 1 hari kerja.

• Pengajuan surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) Daftar Gaji dan kelengkapannya untuk ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran diselesaikan selama 1 hari kerja.

• Membuat surat perintah membayar (SPM) dan surat setoran pajak (SSP) untuk ditandatangani oleh Pejabat Penandatanganan Surat Perintah Membayar (SPM) diselesaikan selama 2 (dua) hari kerja. • Mengantar surat perintah membayar (SPM) ke Kantor Pelayanan

Perbendaharaan Negara (KPPN) paling lambat tanggal 10 setiap bulannya.

(35)

Page 34

b.Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/Beras

• Membuat daftar gaji susulan/kekurangan gaji dan beras pegawai menggunakan aplikasi gaji dan menyusun kelengkapan daftar gaji (SK kenaikan berkala SK kenaikan pangkat, tunjangan istri/anak, SK mutasi) diselesaikan selama 3 (tiga) hari kerja ;

• Membuat faktur pajak / surat setoran pajak (SSP) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja ;

• Koreksi daftar gaji susulan/kekurangan gaji dan kelengkapannya diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja ;

• Pengajuan daftar gaji susulan/kekurangaan gaji dan kelengkapannya beserta surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) untuk ditandatangani oleh kuasa pengguna anggaran diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja ;

• Membuat surat printah membayar (SPM) untuk ditandatangani oleh pejabat penandatanganan surat perintah membayar (SPM) diselesaikan selama 2 (dua) hari kerja ;

• Mengantar surat perintah membayar (SPM) ke kantor pelayanan perbendaharaan negara (KPPN) diselesaikan selama 1(satu) hari kerja.

c. Uang Makan

• Membuat dan mengkoreksi daftar nominatif uang makan setelah mendapat rekapitulasi absensi dari sub bagian kepegawaian pada tanggal 5 setiap bulannya diselesaikan selama 2 (dua) hari kerja ; • Membuat surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) dan

ditandatangani oleh kuasa pengguna anggaran (KPA) diselesaikan selama 1 (satu) hari ;

• Membuat surat perintah membayar (SPM) dan surat setoran pajak (SSP) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja;

• Penandatanganan surat perintah membayar surat perintah membayar (SPM) diselesaiakn 1 (satu) hari kerja;

• Mengantar surat perintah membayar (SPM) kekantor pelayanan perbendaharaan Negara (KPPN) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja;

d.Uang lembur

• Membuat surat perintah kerja lembur yang ditandatangani oleh kuasa pengguna anggaran (KPA) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja;

(36)

Page 35

• Membuat daftar absen lembur diselesaikan selama 2 (dua) hari kerja;

• Penandatanganan oleh penerima / yang diperintah kerja lembur dan disetujui kuasa pengguna anggaran (KPA) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja;

• Pembuatan daftar nominatif uang lembur dan surat pernyataan tanggung jawab mutlak ( SPTJM ) diselesaikan selama 1 hari kerja;

• Penerbitan surat perintah membayar (SPM) dan pembuatan surat setoran pajak (SSP) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja;

• Penatanganan surat perintah membayar (SPM) oleh pejabat penandatanganan surat perintah membayar (SPM) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja;

• Mengantar surat perintah membayar (SPM) kekantor pelayanan perbendaharaan negara (KPPN) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja;

e. Gaji ke 13 ( Tiga Belas)

• Membuat daftar gaji ke 13 hakim dan Pegawai menggunakan aplikasi gaji dan kelengkapannya mengacu pada daftar gaji bulan juni, dilaksanakan setelah ada surat edaran mentri keuangan melalui kantor pelayanan perbendaharaan negara (KPPN) diselesaikan selama 3 (Tiga) hari kerja ;

• Membuat faktur pajak / surat setoran pajak (SSP) diselesaikan selama 1(satu) hari kerja ;

• Koreksi daftar gaji ke 13 (tiga belas) dan kelengkapannya di selesaikan selama 1 (satu) hari kerja ;

• Pengajuan daftar gaji ke 13 dan kelengkapannya dan surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) untuk ditandatangani oleh kuasa pengguna anggaran diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja ;

• Penerbitan surat perintah membayar surat (SPM) dan surat setoran pajak (SSP) untuk ditandatangani oleh pejabat penandatanganan surat perintah membayar (SPM) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja ;

• Mengantar surat perintah membayar (SPM) kekantor pelayanan perbendaharaan negara (KPPN) diselesaikan selama 1 (satu) hari kerja ;

(37)

Page 36

D. TUGAS KEPALA URUSAN KEPEGAWAIAN

1. SOP Pengelolaan Berkas Usulan Kenaikan Pangkat Pegawai

• Membuat konsep usul kenaikan pangkat pegawai yang mendapat kenaikan pangkat, diselesaikan dalam waktu 1 (satu) hari kerja; • Menerima kelengkapan berkas kenaikan pangkat dari pegawai

bersangkutan, diberi waktu 3 hari

• Meneliti kembali usulan kenaikan pangkat pegawai bersangkutan, diselesaikan dalam waktu 1 (satu) hari

• Melegalisir persyaratan kenaikan pangkat untuk ditandatangani, diselesaikan dalam waktu 1 (satu) hari

• Wakil Sekretaris meneliti dan memeriksa berkas kenaikan pangkat serta membubuhi paraf apabila telah sesuai, diselesaikan dalam waktu 2 (dua) hari

• Sekretaris meneliti dan memeriksa kembali serta membubuhi paraf, apabila berkas sudah sesuai persyaratan dan data dukung, diselesaikan dalam waktu 2 (dua) hari

• Mengajukan usulan kenaikan pangkat yang sudah di paraf oleh Wakil Sekretaris dan Sekretaris kepada Ketua untuk diteliti dan diperiksa lebih dalam, dan setelah semua berkas dianggap sudah memenuhi syarat, Ketua membubuhi tanda tangan pada nota usul kenaikan pangkat tersebut, diselesaikan dalam waktu 3 (tiga) hari

• Menyerahkan usul kenaikan pangkat yang sudah ditandatangani oleh Ketua kepada Kaur Umum, untuk selanjutnya dikirim ke Pengadilan Tinggi Agama guna prosese lebih lanjut, diselesaikan dalam waktu 2 (dua) hari.

2. SOP Surat Pemberitahuan Kenaikan Gaji Berkala

• Menyiapkan blangko KGB, SK pangkat terakhir, SK penyesuaian gaji atau SK KGB terakhir, diselesaikan dalam waktu 1 (satu) hari kerja; • Membuat konsep untuk selanjutnya diserahkan ke Wakil Sekretaris

dan Sekretaris untuk diteliti dan diperiksa, diselesaikan dalam waktu masing masing 1 (satu) hari;

• Wakil Sekretaris dan Sekretaris masing-masing membubuhi paraf apabila Surat Pemberitahuan tersebut sudah sesuai dengan data dan ketentuan yang berlaku, diselesaikan dalam waktu masing-masing 1 (satu) hari kerja;

Referensi

Dokumen terkait

Misalnya, jika yang menguasai tanah adalah Pemerintah Daerah atau instansi pemerintah lainnya, maka tanah yang berstatus tanah negara harus dimohonkan Hak Pengelolaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aplikasi tipe pemangkasan memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang umur 21 HST, 28 HST, dan 35 HST, umur berbunga, umur panen, diameter

7 Sementara itu, hasil penelitian lain yang sejalan juga menyimpulkan bahwa pada minggu ke-24, rata-rata berat badan bayi yang menyusui eksklusif selama 6 bulan (6,27 ± 0,47

keawetan dan mutu perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan bahan lain. Adapun untuk mengetahui kualitas agregat dilaku2. kan

Dengan ini diberitahukan bahwa Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memberi kesempatan bagi Warga Negara Indonesia yang berijazah Diploma III (Terakreditasi oleh Ditjen

Keluarga tercinta yang selalu mendoakan dan mendukung penulis, terutama Ko Hendra yang sudah menyemangati, memberikan kritik dan saran yang membangun,

Laporan Keuangan adalah bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara/daerah selama suatu periode. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau