• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Hasil Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini dideskripsikan dalam tiga kondisi yaitu kondisi awal (prasiklus), kondisi siklus I, dan kondisi siklus II. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif, kualitatif, dan komparatif.

4.1.1 Deskripsi Kondisi Awal (Prasiklus)

Pada kondisi awal (prasiklus), dari 36 siswa yang mengikuti tes prasiklus, hanya 11 siswa (30,55%) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 70). Berarti ada 25 siswa (69,45%) yang masih di bawah KKM. Nilai rata-rata kelas juga masih belum mencapai KKM, yaitu 56,67.

Tabel 4.1 Analisis Nilai Prasiklus

No Ketuntasan Belajar Nilai KKM Frekwensi Persentase

1 Tuntas ≥70 11 30,55%

2 Tidak Tuntas <70 25 69,45%

Jumlah 36 100%

Rendahnya hasil belajar di atas karena peneliti belum menggunakan metode yang tepat. Hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran,sehingga prestasi belajar yang dicapai siswa kurang maksimal. Peneliti hanya menggunakan metode ceramah,dan tanya jawab. Akhirnya siswa kurang akif dalam pembelajaran. Pembelajaran masih berpusat pada guru, dan siswa hanya sebagai pendengar saja dalam proses transfer pengetahuan. Kondisi tersebut didasarkan pada hasil observasi pembelajaran prasiklus

.

(2)

4.1.2 Deskripsi Siklus I 4.1.2.1 Rencana Tindakan

Pada siklus I hasil rencana tindakan pada pembelajaran organ pernafasan manusia sebagai berikut: Dalam perencanaan hal-hal yang dilakukan ialah: Menentukan materi pernafasan manusia yang akan diajarkan dalam tahap siklus I: (a) Melakukan diskusi dengan teman sejawat dengan tujuan mengalokasikan waktu yang akan digunakan; (b) Mempersiapkan perangkat pembelajaran yakni Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan selama proses belajar- mengajar berlangsung dalam penelitian ini menggunakan metode pairs check; (c) Sebelum memulai proses pembelajaran peneliti melakukan pertemuan untuk mengetahui kesiapan siswa; (d) Membuat format observasi untuk merekam bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika pelaksanaan tindakan berlangsung; (e) Merancang dan membuat soal, baik soal latihan kelas, soal tugas pekerjaan rumah, LKS (lembar kegiatan siswa; dan (f) Mempersiapkan alat, bahan dan media pembelajaran.

4.1.2.2 Pelaksanaan Tindakan

Dari hasil observasi pembelajaran diperoleh data kualitatif pada pelaksanaan tindakan siklus I sebagai berikut:(a) Membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 orang; (b) Membagi lagi kelompok-kelompok siswa tersebut menjadi pasangan-pasangan. Jadi akan ada partner A dan partner B pada kedua pasangan; (c) Memberi setiap pasangan tersebut sebuah LKS untuk dikerjakan. LKS terdiri dari beberapa soal atau permasalahan (jumlahnya genap); (d) Berikutnya, memberi kesempatan kepada partner A untuk mengerjakan soal nomor 1, sementara partner B mengamati, memberi motivasi, membimbing (bila diperlukan) partner A selama mengerjakan soal nomor 1 tersebut; (e) Selanjutnya bertukar peran, partner B mengerjakan soal nomor 2, dan partner A mengamati, memberi motivasi, membimbing (bila diperlukan) partner A selama mengerjakan soal nomor 2 tersebut; (f) Setelah 2 soal terselesaikan, maka pasangan tersebut mencek hasil pekerjaan mereka berdua dengan pasangan lain yang satu kelompok dengan mereka; (g) Setiap kelompok yang memperoleh kesepakatan (sama pendapat/cara memecahkan masalah/menyelesaikan soal) merayakan keberhasilan mereka, dan guru memberikan penghargaan (reward). Guru dapat memberikan pembimbingan bila kedua pasangan di dalam kelompok tidak

(3)

menemukan kesepakatan; dan (h) Langkah nomor 4, 5, dan 6 diulang lagi untuk menyelesaikan soal nomor 3 dan 4, demikian seterusnya sampai semua soal pada LKS selesai dikerjakan setiap kelompok.

4.1.2.3 Hasil Tindakan

Pada siklus I, dari 36 siswa yang mengikuti tes, ada 29 siswa (80,55 %) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 70). Berarti masih ada 7 siswa (19,45%) yang masih di bawah KKM. Nilai rata-rata kelas sudah mencapai KKM, yaitu 76,94.

Tabel 4.2 Analisis Nilai Siklus I

No Ketuntasan Belajar Nilai KKM Frekwensi Persentase

1 Tuntas ≥70 29 80,55%

2 Tidak Tuntas <70 7 19,45%

Jumlah 36 100%

Peningkatan hasil belajar di atas terjadi karena peneliti sudah menggunakan metode yang tepat. Hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran,sehingga hasil belajar yang dicapai siswa maksimal. Pembelajaran sudah berpusat pada siswa, dan guru bertindak sebagai fasilitator. Kondisi tersebut didasarkan pada hasil observasi siswa dalam pembelajaran siklus I pertemuan 1 dan 2.

4.1.3 Deskripsi Siklus II 4.1.3.1 Rencana Tindakan

Pada siklus I hasil rencana tindakan pada pembelajaran organ pernafasan manusia sebagai berikut: Dalam perencanaan hal-hal yang dilakukan ialah: Menentukan materi pernafasan manusia yang akan diajarkan dalam tahap siklus I: (a) Melakukan diskusi dengan teman sejawat dengan tujuan mengalokasikan waktu yang akan digunakan; (b) Mempersiapkan perangkat pembelajaran yakni Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan selama proses belajar- mengajar berlangsung dalam penelitian ini menggunakan metode pairs check; (c) Sebelum memulai

(4)

proses pembelajaran peneliti melakukan pertemuan untuk mengetahui kesiapan siswa; (d) Membuat format observasi untuk merekam bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika pelaksanaan tindakan berlangsung; (e) Merancang dan membuat soal, baik soal latihan kelas, soal tugas pekerjaan rumah, LKS (lembar kegiatan siswa; dan (f) Mempersiapkan alat, bahan dan media pembelajaran.

4.1.3.2 Pelaksanaan Tindakan

Dari hasil observasi pembelajaran diperoleh data kualitatif pada pelaksanaan tindakan siklus II sebagai berikut:(a) Membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 orang; (b) Membagi lagi kelompok-kelompok siswa tersebut menjadi pasangan-pasangan. Jadi akan ada partner A dan partner B pada kedua pasangan; (c) Memberi setiap pasangan tersebut sebuah LKS untuk dikerjakan. LKS terdiri dari beberapa soal atau permasalahan (jumlahnya genap); (d) Berikutnya, memberi kesempatan kepada partner A untuk mengerjakan soal nomor 1, sementara partner B mengamati, memberi motivasi, membimbing (bila diperlukan) partner A selama mengerjakan soal nomor 1 tersebut; (e) Selanjutnya bertukar peran, partner B mengerjakan soal nomor 2, dan partner A mengamati, memberi motivasi, membimbing (bila diperlukan) partner A selama mengerjakan soal nomor 2 tersebut; (f) Setelah 2 soal terselesaikan, maka pasangan tersebut mencek hasil pekerjaan mereka berdua dengan pasangan lain yang satu kelompok dengan mereka; (g) Setiap kelompok yang memperoleh kesepakatan (sama pendapat/cara memecahkan masalah/menyelesaikan soal) merayakan keberhasilan mereka, dan guru memberikan penghargaan (reward). Guru dapat memberikan pembimbingan bila kedua pasangan di dalam kelompok tidak menemukan kesepakatan; dan (h) Langkah nomor 4, 5, dan 6 diulang lagi untuk menyelesaikan soal nomor 3 dan 4, demikian seterusnya sampai semua soal pada LKS selesai dikerjakan setiap kelompok.

4.1.3.3 Hasil Tindakan

Pada tahap siklus II, dari 36 siswa yang mengikuti tes, ada 33 siswa (91,66%) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 70). Berarti masih ada 3 siswa ( 8,34%) yang masih di bawah KKM. Nilai rata-rata kelas sudah mencapai KKM, yaitu 85,56.

(5)

Tabel 4.3 Analisis Nilai Siklus II

No Ketuntasan Belajar Nilai KKM Frekwensi Persentase

1 Tuntas ≥70 33 91,66%

2 Tidak Tuntas <70 3 8,34%

Jumlah 36 100%

Peningkatan hasil belajar di atas karena peneliti sudah lebih optimal menggunakan metode pair check berbantuan kartu pasangan. Hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran,sehingga hasil belajar yang dicapai siswa maksimal. Pembelajaran sudah berpusat pada siswa, dan guru bertindak sebagai fasilitator. Kondisi tersebut didasarkan pada hasil observasi siswa dalam pembelajaran siklus II pertemuan 1 dan 2.

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian 4.2.1 Pembahasan Hasil Siklus I

Pembelajaran pada siklus I sudah menggunakan metode pair check berbantuan kartu pasangan, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar yang cukup berarti. Ketuntasan belajar mencapai 80,55%, dan nilai rata-rata sudah melampaui KKM sebesar 76,94. Siswa semakin aktif mengikuti proses pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Sebagian siswa bahkan nampak menikmati setiap tahap pembelajaran. Mereka tahu apa yang sedang dipelajari,dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk menguasai materi. Kondisi tersebut diperoleh berdasarkan analisis hasil observasi pembelajaran siklus I.

Hasil penelitian perbaikan pembelajaran pada siklus I dapat dilihat dari grafik di bawah ini:

(6)

Gambar 4.1 Grafik Ketuntasan belajar Siklus I

Meskipun pada siklus I sudah dicapai peningkatan hasil belajar siswa, tetapi berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat dan saran dari supervisor, peneliti memandang perlu untuk melanjutkan perbaikan pembelajaran ini pada siklus II agar tercapai hasil yang lebih optimal.

4.2.2 Pembahasan Hasil Siklus II

Pembelajaran pada siklus II sudah menggunakan metode pairs check berbantuan kartu pasangan, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi dari pencapaian pada siklus I. Ketuntasan belajar mencapai 91,66%,dan nilai rata-rata sudah melampaui KKM sebesar 85,56. Siswa semakin aktif mengikuti proses pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Sebagian siswa bahkan nampak menikmati setiap tahap pembelajaran. Mereka tahu apa yang sedang dipelajari,dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk menguasai materi. Kondisi tersebut diperoleh berdasarkan analisis hasil observasi pembelajaran Hasil penelitian tindakan kelas pada siklus II dapat dilihat dari grafik di bawah ini:

0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00%

Tuntas Belum Tuntas Series1 80.55% 19.45%

Per

sen

tase

(7)

Gambar 4.2 Grafik Ketuntasan belajar Siklus II

Tindakan pada siklus II berhasil meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat dan saran dari supervisor diperoleh keputusan bahwa penelitian tidak perlu mengadakan tindakan siklus berikutnya.

4.2.3 Pembahasan Hasil Antar Siklus

Berdasarkan hasil penelitian perbaikan pembelajaran dari tahap prasiklus sampai dengan siklus II diperoleh informasi tentang peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan. Pada kondisi prasiklus ketuntasan belajar hanya 30,55%, setelah dilakukan tindakan naik menjadi 80,55% pada siklus I, dan menjadi 91,66% pada siklus II. Nilai rata-rata kelas juga mengalami kenaikan dari semula 56,67 pada prasiklus, naik menjadi 76,94 pada siklus I, dan 85,56 pada siklus II.

0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00%

Tuntas Belum Tuntas Series1 91.66% 8.34%

Per

sen

tase

(8)

Gambar 4.3 Grafik Ketuntasan Belajar Persiklus

Kualitas aktifitas siswa dalam pembelajaran menggunakan metode pairs check berbantuan kartu pasangan dari tahap prasiklus sampai dengan siklus II juga mengalami peningkatan.

Gambar 4.4 Grafik Nilai Rata-Rata Siklus I

0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00%

Prasiklus Siklus I Siklus II Series1 30.55% 80.55% 91.66%

Per

sen

tase

Ketuntasan Belajar Persiklus

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Prasiklus Siklus I Siklus II Series1 56.67 76.94 85.56

N

ilai

Gambar

Tabel 4.1  Analisis Nilai Prasiklus
Tabel 4.2  Analisis Nilai Siklus I
Tabel 4.3  Analisis Nilai Siklus II
Gambar 4.1 Grafik Ketuntasan belajar Siklus I
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pelajaran ke-7 ini, kita akan berlatih bagaimana menindak-lanjuti perkenalan yang lalu, bagaimana menjawab atau menanggapi pernyataan positif dan negatif, dan kita juga

Hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa: (1) penelitian menghasilkan e-modul pembelajaran Pengoperasian Kamera Digital berbasis flash untuk siswa SMK kelas

Dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan di Kabupaten Sleman tersebut mengalami kesulitan-kesulitan yaitu kurangnya pengertian masyarakat akan kewajiban

PESTEL adalah singkatan untuk politik (political), ekonomi (economical), sosial budaya (sosiocultural), teknologi (technollogical), lingkungan hidup (environment), dan hukum

selanjutnya, Yang Mulia juga telah memberikan perhatian kepada kami dengan meneliti duduk perkara yang berkaitan dengan soppeng, dan untuk itu kami sangatlah berterima kasih

terdapat hubungan positif yang signifikan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada remaja di SMP Negeri 1 Sukoharjo, koefisien korelasi rx 2

Sistem pakar yang didesain dengan e2gLite Expert System Shell untuk diagnosis penyakit THT, dapat bekerja sesuai yang diharapkan. Sistem dapat mengidentifikasikan 23 jenis penyakit

berhadap dengan hukum, peran guru sangat besar tentu melalui sebuah dialetika yang dikenal dengan sebutan memanusiakan hubungan. pendidikan karakter yang diimbangi