7
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Sistem
Menurut O’Brien, James A. dan George M. Marakas (2010: 26) sistem merupakan suatu kesatuan yang terdiri lebih dari satu elemen atau komponen yang saling terhubung dan terintegrasi untuk beroperasi sehingga mencapai tujuan.
Elemen-elemen dari system tersebut meliputi:
a) Input:
Sekumpulan data awal yang dapat digunakan sebagai resource untuk diolah dalam tahap selanjutnya
b) Processing
Meliputi proses transformasi perubahan input menjadi output.
c) Output
Meliputi pemindahan elemen-elemen yang telah dihasilkan dalam proses transformasi menuju tujuan akhir.
Menurut Stair, Ralph dan George Reynold (2010: 8) sistem adalah satu set elemen atau komponen yang berinteraksi untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan kedua definisi diatas, dengan kata lain sistem merupakan suatu kumpulan elemen dan komponen yang saling terintegrasi dan terhubung untuk mencapai tujuan. Jika pada sistem terdapat salah satu elemen yang tidak terintegrasi dengan baik, maka sistem tidak dapat berjalan untuk mencapai tujuan.
2.2 Pengertian Informasi
Menurut Stair, Ralph dan George Reynold (2010: 5) informasi adalah sekumpulan fakta berupa pesan yang terorganisasi dan terstruktur sehingga dapat menambahkan nilai dari sebuah fakta.
Menurut O’Brien, James A. dan George M. Marakas (2010: 234) informasi merupakan hasil pengolahan data mentah yang telah diproses sehingga dapat digunakan sebagai pengetahuan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil dari pemrosesan fakta yang didapat dari data-data sehingga dapat mendukung pengetahuan yang bernilai.
2.3 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Stair, Ralph dan George Reynold (2010: 10) sistem informasi adalah perpaduan antara elemen atau komponen yang saling terkait dan terhubung dalam proses pengolahan data (input, process, output) sehingga mendapatkan informasi yang digunakan untuk mendukung tercapainya sebuah tujuan.
Menurut Ulric J. Gelinas, Jr., Richard B. Dull, dan Patrick R. Wheeler (2012: 14) sistem informasi adalah suatu sistem yang terdiri dari seperangkat komponen yang berbasis komputer dan komponen manual yang dibangun untuk mengumpulkan, menyimpan, dan mengelola data serta menghasilkan informasi bagi pengguna.
Berdasarkan kedua definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah seperangkat komponen yangs saling berhubungan untuk mengumpulkan, memanipulasi, menyimpan, serta mengelola data dan informasi untuk memenuhi tujuan bagi pengguna akhir.
2.4 Sistem Informasi Akuntansi
2.4.1 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Ulric J. Gelinas, Jr., Richard B. Dull, dan Patrick R. Wheeler (2012: 15) sistem informasi akuntansi adalah mengumpulkan, memproses, dan melaporkan informasi yang berkaitan dengan aspek keuangan peristiwa bisnis.
Menurut Bodnar, George H., dan William S.Hopwood (2010: 1) sistem informasi akuntansi merupakan kumpulan sumber daya, seperti orang-orang dan peralatan, dirancang untuk mengubah data finansial dan lainnya menjadi informasi.
Berdasarkan kedua definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi adalah kumpulan sumber daya yang dirancang untuk mengumpulkan, memproses, dan melaporkan informasi mengenai data finansial.
2.4.2 Subsistem Sistem Informasi
Menurut Hall, James A. (2011: 10), Sistem Informasi Akuntansi terdiri dari tiga subsistem utama, yaitu:
1) Transaction Processing System (TPS) merupakan pusat keseluruhan fungsi sistem informasi dengan mengubah peristiwa ekonomi ketransaksi keuangan, pencatatan transaksi keuangan dalam catatan akuntansi (jurnal dan buku besar), dan mendistribusikan informasi keuangan penting untuk operasi personil untuk mendukung operasi sehari-hari mereka.
2) General Ledger / Financial Reporting System adalah dua subsistem yang saling berhubungan. Namun, karena saling ketergantungan operasional mereka, mereka umumnya dipandang sebagai sistem GL / FRS yang terintegras.
3) Management Reporting System (MRS) menyediakan informasi keuangan internal yang dibutuhkan untuk mengelola bisnis.
2.4.3. Komponen Sistem Informasi Akuntansi
Sistem informasi akuntansi memiliki enam komponen yang saling terkait dan berinteraksi untuk mencapai tujuan. Keenam komponen tersebut (Romney, M. B., dan Steinbart, P.J, 2012:30) yaitu :
1. User, orang atau badan yang berhubungan langsung dengan sistem. 2. Petunjuk dan tata cara, digunakan untuk menjalankan sistem. 3. Objek, informasi yang berisi tentang organisasi dan kegiatan bisnis. 4. Software, alat bantu yang digunakan untuk pemrosesan data.
5. Sumber daya teknologi, merupakan kumpulan dari perangkat keras yang saling terhubung untuk mendukung daya komputasi terdiri dari komputer, peripheral devices, dan perangkat jaringan komunikasi yang digunakan dalam sistem informasi akuntansi. 6. Pengendalian internal dan keamanan untuk mengamankan data
sistem.
2.5 Manajemen Sumber Daya Manusia
2.5.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu yang terpenting di dalam perusahaan. Sumber daya manusia sangat diperlukan untuk meningkatkan kegiatan operasional perusahaan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Untuk itu, perusahaan harus memiliki manajemen sumber daya manusia yang dapat mengelola karyawannya dan memonitoring manajer.
Menurut Sutrisno (2014: 6), manajemen sumber daya manusia merupakan proses pendayahgunaan karyawan yang dapat menunjang aktivitas bisnis perusahaan. Proses pendayahgunaan ini harus diterapkan dengan baik disebuah perusahaan agar perusahaan bisa mendapatkan sumber daya yang berpotensial untuk mencapai tujuan perusahaan. Selain itu, manajemen harus melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah kinerja karyawan dapat berjalan dengan baik.
2.5.2 Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia
Tujuan dari manajemen sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan kegiatan operasional perusahaan dalam pencapaian tujuan dari perusahaan.
Menurut Sutrisno (2014: 7), terdapat beberapa tujuan dari manajemen sumber daya manusia yang antara lain adalah sebagai berikut:
a. Membuat kebijakan sumber daya manusia, mengimplementasikan kebijakan tersebut, mengontrol karyawan untuk meningkatkan produktivitas kinerja, dan memastikan karyawan mampu beradaptasi terhadap setiap perubahan yang terjadi di perusahaan.
b. Menyediakan sarana komunikasi bagi para karyawan untuk menampung aspirasi dan menangani masalah yang dapat menggangu kinerjanya.
c. Memelihara karyawan untuk menumbuhkan rasa loyalitas terhadap perusahaan dengan memberikan reward.
d. Membuat perencanaan untuk melakukan training development agar karyawan dapat berkembang baik dalam hard skill maupun soft skill.
2.5.3 Fungsi Sumber Daya Manusia
Menurut Sutrisno (2014: 9), fungsi manajemen sumber daya manusia antara lain sebagai berikut :
1. Perencanaan, dalam lingkup perencanaan ini manajemen sumber daya manusia membuat program ketenagakerjaan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
2. Pengorganisasian, dalam lingkup pengorganisasian ini manajemen sumber daya manusia menjelaskan struktur organisasi perusahaan, mendeskripsikan tugas kepada masing – masing individu, menjaga hubungan kerja terhadap atasan maupun bawahan, serta menjelaskan hak dan kewajiban masing – masing individu.
3. Pengarahan dan pengadaan, dalam lingkup pengarahan dan pengadaan ini manajemen sumber daya manusia memberikan arahan berupa gambaran kerja yang telah sesuai prosedur hingga mencapai tujuan perusahaan, sedangkan pengadaan yang dilakukan berupa proses recruitment untuk penetapan posisi yang dibutuhkan perusahaan.
4. Pengendalian, dalam lingkup pengendalian ini manajemen sumber daya manusia mendisiplinkan setiap individu untuk menaati peraturan yang berlaku didalam perusahaan.
5. Pengembangan, dalam lingkup pengembangan ini manajemen sumber daya manusia melakukan pelatihan untuk meningkatkan hard skill maupun soft skill terhadap masing – masing individu.
6. Kompensasi, dalam lingkup kompensasi ini manajemen sumber daya manusia memberikan gaji yang sesuai atas kontribusi yang telah dilakukan.
7. Pengintegrasian, dalam lingkup pengintegrasian ini manajemen sumber daya manusia tidak membeda-bedakan kepentingan atasan maupun bawahan sehingga setiap individu mendapatkan perlakuan yang adil.
8. Pemeliharaan, dalam lingkup pemeliharaan ini manajemen sumber daya manusia memberikan rewards kepada setiap individu untuk menumbuhkan rasa loyalitas terhadap perusahaannya.
9. Pemberhentian, dalam lingkup pemberhentian ini manajemen sumber daya manusia melakukan tindakan pemberhentian bagi karyawan yang telah pensiun, karyawan yang ingin mengundurkan diri, karyawan yang dapat merugikan perusahaan, dan masa kontraknya telah selesai.
2.6 Gaji
2.6.1 Pengertian Gaji
Menurut Rivai, Veithzal dan Ella Jauvani Sagala (2013: 762), gaji adalah imbalan balas jasa yang diberikan perusahaan kepada setiap individu atas kontribusi yang telah dilakukan demi tercapainya tujuan perusahaan.
Menurut Hery (2009: 13), gaji merupakan pembayaran atas pemakaian jasa pegawai bagian manajerial dan administrasi setiap bulannya. Besaran gaji tidak hanya terdiri dari gaji pokok saja, melainkan juga tunjangan tambahan lainnya, seperti tunjangan makan, nikah, dan lain sebagainya.
Berdasarkan kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa gaji merupakan suatu bentuk imbalan baik berupa gaji pokok maupun tunjangan yang dibayarkan setiap bulan oleh perusahaan kepada masing - masing individu sebagai balas jasa atas kinerja yang telah diberikan terhadap perusahaan.
2.6.2 Proses Penggajian
Menurut J. Gelinas, Jr., Richard B. Dull, dan Patrick R. Wheeler (2012: 524) proses penggajian adalah struktur interaksi antara orang, peralatan, kegiatan, dan kontrol yang menciptakan arus informasi untuk mendukung rutinitas pekerjaan yang berulang-ulang dari departemen penggajian. Untuk itu, proses penggajian menjaga catatan yang berisi data untuk gaji pajak dan tunjangan, laporan kehadiran, ketepatan waktu, dan membayar karyawan untuk pekerjaan yang dilakukan.
2.6.3 Fungsi Penggajian
Menurut Mulyadi (2008: 382) terdapat lima fungsi yang terkait dalam siklus penggajian, yaitu :
1. Fungsi kepegawaian dan penempatan pegawai
Fungsi ini bertanggung jawab untuk melakukan seleksi pegawai baru dengan memberikan gambaran gaji yang akan diterima sesuai dengan golongannya.
2. Fungsi pencatat waktu
Fungsi ini bertanggung jawab untuk memberlakukan absensi kehadiran untuk setiap individu berupa sistem taping agar tidak terjadi tindakan penyalahgunaan data kehadiran.
3. Fungsi pembuat daftar gaji dan upah
Fungsi ini bertanggung jawab untuk merinci setiap gaji yang didapat, seperti slip gaji. Hal ini bertujuan agar karyawan mengetahui besarnya gaji pokok, tunjangan, potongan, dan pajak yang diterima.
4. Fungsi Akuntansi
Fungsi akuntansi bertanggung jawab untuk membuat laporan secara rinci mengenai gaji yang telah dibayarkan berdasarkan jurnal terkait.
5. Fungsi Keuangan
Fungsi ini bertanggung jawab untuk memberikan cek berupa nominal gaji yang harus ditransfer ke bank.
2.6.4 Dokumen dan Catatan Akuntansi yang Digunakan dalam Sistem Penggajian
Menurut Mulyadi (2008: 374) dokumen-dokumen yang digunakan dalam sistem penggajian antara lain:
a. Berkas pendukung Perubahan Gaji dan Upah
Dokumen ini berupa surat-surat keputusan untuk karyawan, seperti surat kenaikan pangkat dan perubahan tarif upah.
b. Absensi Kehadiran dan Perhitungan Jam Kerja
Dokumen ini berisikan pencatatan kehadiran karyawan serta perhitungan jam kerja yang telah ditetapkan oleh organisasi.
Dokumen ini digunakan sebagai pencatat waktu hadir karyawan setiap saat karyawan tersebut hadir untuk bekerja.
c. Daftar Gaji dan Upah
Dokumen yang menerangkan jumlah gaji yang diterima karyawan serta rincian pemotongan pajak penghasilan, bpjs, dll.
d. Rekap Daftar Gaji dan Upah
Dokumen ini merupakan ringkasan gaji dan upah untuk setiap departemen dari suatu perusahaan.
e. Slip Gaji dan Upah
Dokumen ini dibuat oleh bersamaan atau terpisah dengan pembuatan daftar gaji dan upah, tergantung denga kebijakan perusahaan. Dokumen ini dibuat olek fungsi pembuat daftar gaji. f. Pemberian Gaji dan Upah Manual
Merupakan sejumlah uang yang merupakan gaji atau upah yang diberikan kepada setiap karyawan yang dimasukkan ke dalam sebuah amplop.
g. Tanda Bukti Pengeluaran Gaji dan Upah
Dokumen ini digunakan sebagai perintah pengeluaran uang untuk pembayaran gaji dan upah berdasarkan informasi yang ada di dalam daftar gaji dan upah.
h. Jurnal Umum
Berfungsi sebagai catatan distribusi biaya yang harus dikeluarkan untuk tenaga kerja dari setiap departemen di dalam suatu perusahaan. Adapun jurnal umum untuk penggajian adalah:
a. Pada saat pembayaran gaji
Biaya Gaji xxxxx
Utang PPh 21 xxxxx
Iuran Jamsostek/BPJS/Asuransi xxxxx b. Pada saat penyetoran PPh 21
Utang PPh 21 xxxxx
Kas xxxxx
c. Pada saat penyetoran Premi Asuransi
Iuran Jamsostek/BPJS/Asuransi xxxxx Biaya Tunjangan Asuransi (ditanggung perusahaan) xxxxx
Kas xxxxx
d. Kartu Biaya
Digunakan untuk mencatat biaya tenaga kerja dari setiap departemen di dalam suatu perusahaan.
e. Kartu Penghasilan
Merupakan catatan penghasilan dan komponennya yang diterima oleh setiap karyawan, atau biasa disebut dengan slip gaji.
2.7 Lembur
2.7.1 Pengertian Lembur
Lembur adalah pekerjaan yang dilakukan oleh setiap individu tanpa membedakan golongan yang melebihi batas jam kerja yang seharusnya. Lembur ini terjadi akibat perintah dari atasan yang memerintahkan kepada karyawannya untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum deadline.
Dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur, yang dimaksud dengan Waktu Kerja Lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 8 (delapan) jam sehari, dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan/atau pada hari libur resmi yang ditetapkan Pemerintah.
2.7.2 Perhitungan Lembur
Sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 102/MEN/VI/2004, perhitungan upah kerja lembur antara lain:
1. Perhitungan Upah Kerja Lembur Pada Hari Kerja
Berikut adalah cara perhitungan upah lembur pada hari kerja Tabel 2.1 Perhitungan Upah Lembur Pada Hari Kerja
Jam Lembur Perhitungan
Jam pertama 1,5 x 1/173 x gaji pokok Jam ke-2 & 3 2x 1/173 x gaji pokok Sumber: Kepmenakertrans No. 102/MEN/VI/2004
2. Perhitungan Upah Kerja Lembur Pada Hari Libur/Istirahat Berikut adalah cara perhitungan upah lembur pada hari libur/istirahat.
Tabel 2.2 Perhitungan Upah Lembur Pada Hari Libur/Istirahat
Jam Lembur Perhitungan
8 jam pertama 8 jam x 2 x 1/173 x gaji pokok
Jam ke-9 1 jam x 3 x 1/173 x gaji pokok
Jam ke-10 s/d jam ke-11 1 jam x 4 x 1/173 x gaji pokok
2.8 Pajak Penghasilan Pasal 21
2.8.1. Pengertian Pajak Penghasilan 21
Menurut Mardiasmo (2011: 168), Pajak penghasilan pasal 21 adalah pajak individu yang timbul akibat dari gaji bersih yang diterima dari perusahaan. Pajak ini dibebankan karena merupakan suatu kewajiban yang harus dibayarkan sesuai dengan peraturan pemerintah dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan Pasal 21 guna membiayai rumah tangga Negara, seperti pengeluaran yang bermanfaat untuk kepentingan masyarakat luas.
2.8.2. Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21
Dalam hal ini, pemotong pajak PPh Pasal 21 diantaranya adalah orang pribadi dan badan (PT, CV, Firma, dll), bendahara pemerintah, badan penyelenggara jaminan social.
2.8.3. Wajib Pajak Penghasilan Pasal 21
Wajib pajak atau yang dikenal dengan subjek pajak adalah pihak yang dikenakan pajak. Wajib pajak yang mendapat potongan pajak adalah, setiap individu yang sudah memiliki penghasilan, bukan individu yang memiliki pekerjaan tetap (konsultan, artis, model, dokter, dll), dan penerima uang pensiun. Disamping itu, yang tidak termasuk wajib pajak adalah badan perwakilan negara asing, pejabat diplomatik, dan organisasi internasional.
2.8.4. Objek Pajak Penghasilan Pasal 21
Objek pajak adalah sesuatu yang dikenakan pajak. Yang termasuk kedalam objek pajak adalah penghasilan yang diterima oleh pegawai, penghasilan yang diterima oleh pensiun, penghasilan yang diterima pegawai lepas, imbalan (honorarium). Disamping itu, yang tidak termasuk kedalam objek pajak adalah pembayaran asuransi, iuran pensiun, zakat, dan beasiswa.
2.8.5. Tarif Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21
Besarnya pajak yang ditanggung bervariasi sesuai dengan tarif pajak yang telah ditetapkan pada pasal 17 UU PPh :
a. Penghasilan ≤ Rp 50.000.000,00 maka tarif pajak yang ditanggung sebesar 5%
b. Penghasilan Rp 50.000.000,00 – Rp 250.000.000,00 maka tarif pajak yang ditanggung sebesar 15%
c. Penghasilan Rp 250.000.000,00 – Rp 500.000.000,00 maka tarif pajak yang ditanggung sebesar 25%
d. Penghasilan ≥ Rp 500.000.000,00 maka tarif pajak yang ditanggung sebesar 30%
2.8.6. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
Besarnya PTKP sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 122 /PMK .010/2015 adalah sebagai berikut:
a. Rp 36.000.000 (tiga puluh enam juta rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;
b. Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin;
c. Rp 36.000.000 (tiga puluh enam juta rupiah) tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami dengan syarat:
1) Penghasilan istri tidak hanya diterima atau diperoleh dari satu pemberi kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang PPh Pasal 21, dan
2) Pekerjaan istri tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga yang lain.
d. Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.
2.9 Teori Analisa dan Perancangan Sistem Informasi
2.9.1 Requirement Analysis
Menurut Satzinger et al. (2009: 122-123), Requirements Analysis terbagi sebagai berikut :
a. System Requirements adalah spesifikasi yang mendefinisikan fungsi yang akan disediakan oleh sistem.
b. Functional Requirements adalah persyaratan fungsional sistem yang menggambarkan kegiatan atau proses yang harus sistem lakukan.
c. Nonfunctional Requirements adalah sebuah karekteristik dari sistem selain kegiatan yang mendukung proses bisnis.
2.9.1.1. Activity Diagram
Activity diagram adalah sebuah tipe workflow yang menggambarkan aktivitas pengguna mengenai proses bisnis. Workflow adalah urutan langkah-langkah untuk memproses transaksi bisnis (Satzinger et al., 2009: 141)
Gambar 2.1 Activity Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009: 143
2.9.1.2. Event Table
Event table mempermudah untuk menganalisis sistem dengan mendaftarkan event-event dalam bentuk baris dan potongan informasi agar tidak ada event yang terlupakan dalam membuat suatu class diagram (Satzinger et al., 2009: 168).
Gambar 2.2 Event Table Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009: 169
2.9.1.3. Domain Model Class Diagram
Domain model class Diagram menggambarkan semua kepentingan user dalam pekerjaannya yang digambarkan dalam bentuk diagram UML (Satzinger et al., 2009: 187).
Gambar 2.3 Class Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009: 187
2.9.1.4. Usecase Diagram
Usecase diagram merupakan diagram yang menunjukkan peran pengguna dan cara pengguna
berinteraksi langsung dengan sistem (Satzinger et al., 2009: 242).
Gambar 2.4 Usecase Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009: 243
2.9.1.5. Use Case Description
Use Case Description merupakan penjelasan yang lebih terperinci mengenai penggambaran dari sebuah Use Case (Satzinger et al., 2009: 171),
Use Case Description dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1. Brief Description
Brief Description merupakan gambaran secara singkat dari use case yang ada.
Gambar 2.5 Use Case Brief Description Sumber: Satzinger et al., 2009: 172
2. Intermediate Description
Intermediate Description merupakan pengembangan dari Brief Description yang terdapat aktivitas internal use case.
Gambar 2.6 Use Case Intermediate Description Sumber: Satzinger et al., 2009: 172
3. Fully Developed Description
Fully Developed Description merupakan metode formal yang biasanya digunakan dalam mendokumentasikan Use Case dengan cara mendefinisikan seluruh komponen.
Gambar 2.7 Use Case Fully Developed Description Sumber: Satzinger et al., 2009: 174
2.9.1.6. Statechart Diagram
Statechart Diagram merupakan diagram yang menggambarkan berbagai masalah domain class yang memiliki perilaku kompleks. Dengan kata lain, menggambarkan transisi dan perubahan keadaan (Satzinger et al., 2009:263),
Gambar 2.8 Statechart Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009:267
2.9.1.7. Developing the First Cut Design Class Diagram
First cut design class diagram merupakan hasil pengembangan dari domain class diagram dengan cara mengelaborasi atribut bersama dengan tipe dan nilai informasi inisial serta menambahkan panah navigasi visibilitas (Satzinger et al., 2009: 413).
Gambar 2.9 First Cut Design Class Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009: 419
2.9.1.8. System Sequence Diagram
. System sequence diagram menggambarkan aliran informasi yang terotomatisasi berupa informasi yang masuk dan keluar dari sistem. System sequence diagram menunjukkan interaksi antar objek (Satzinger et al., 2009:252).
Gambar 2.10 System Sequence Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009:253
2.9.1.9. Three Layer Sequence Diagram
Pengembangan system sequence diagram berikutnya adalah three layer sequence diagram. Diagram ini lebih terperinci dengan memperluas objek-objek yang terlibat dalam system sequence diagram dan menambahkan view layer dan data access layer (Satzinger et al., 2009: 329-333).
Gambar 2.11 Three Layer Sequence Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009: 435
2.9.1.10. Updated Design Class Diagram
Update design class diagram merupakan gambaran akhir dari design sequence diagram. Pada view dan data access layer, harus ditambahkan beberapa class baru. sehingga dapat dikembangkan untuk programming code. (Satzinger et al., 2009: 457),
Gambar 2.12 Update Design Class Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009: 458
2.9.1.11. Package Diagram
Package diagram merupakan diagram tingkat tinggi sederhana yang menghubungkan kelas-kelas dengan grup sehingga saling terintegrasi. Diagram ini mengilustrasikan three-design layer, yaitu view layer, domain layer, dan data access layer dan memperlihatkan setiap lapisan sebagai paket yang terpisah (Satzinger et al., 2009: 459).
Gambar 2.13 Package Diagram Sumber: Satzinger et al., 2009:459
2.9.1.12. User Interface
User Interface merupakan gambaran dari sebuah sistem informasi yang dapat digunakan secara langsung oleh user. Tampilannya berupa output (Satzinger et al., 2009: 531).
Gambar 2.14 User Interface
Sumber: http://www.blueclaw-db.com/form_design_guide.html
2.9.1.13. Deployement and Software Architecture
Deployement environment merupakan lingkungan yang terdapat perangkat keras, perangkat lunak, serta jaringan yang saling terhubung untuk pengoperasian system (Satzinger et al., 2009: 291-340). Ada dua tipe deployment environment, diantaranya:
1. Single Computer Architecture
Single computer architecture menggunakan sistem komputer tunggal untuk menjalankan seluruh aplikasi perangkat lunak. Kesederhanaan dari single computer architecture ini merupakan kelebihan utama. Sistem informasi yang dijalankan pada single computer architecture umumnya mudah dirancang, dibangun, dioperasikan dan dikelola.
2. Multitier Computer Architecture
Multitier computer architecture merupakan tipe arsitektur yang proses pengeksekusiannya dapat digunakan di beberapa komputer. Multitier computer architecture dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Clustered Architecture
Clustered architecture merupakan tipe arsitektur yang menggunakan beberapa computer dengan fungsi yang sama dan berbagi beban processing.
b. Multicomputer Architecture
Multicomputer architecture merupakan tipe arsitektur yang menggunakan beberapa computer namun dengan spesifikasi yang berbeda-beda.
Deployment architecture menurut Satzinger et al., (2009: 341-342) terdiri atas dua tipe, yaitu:
1. Centralized Architecture
Centralized Architecture merupakan gambaran penyebaran sistem komputer dalam satu lokasi.
2. Distributed Architecture
Distributed Architecture merupakan penyebaran sistem komputer yang memiliki fungsi sama terhubung menggunakan jaringan namu tidak dalam satu lokasi.
Menurut Satzinger et al., (2009: 342-344), software architecture dibagi menjadi dua tipe, yaitu:
1. Client/ server architecture
Client/ server architecture membagi software ke dalam dua tipe, client dan server. Server berfungsi untuk mengolah sumber informasi atau menyediakan servis. Sedangkan client berfungsi untuk berkomunikasi dengan server untuk meminta sumber daya atau servis dan server akan merespon terhadap permintaan tersebut.
2. Three-layer client/ server architecture
Three-layer client/ server architecture merupakan pengembangan dari client/ server architecture yang terdiri dari tiga layer, yaitu:
a. Data layer
Merupakan layer untuk mengatur penyimpanan data pada satu atau lebih database.
b. Business logic layer
Merupakan layer yang mengimplementasikan aturan danprosedur dari proses bisnis.
c. View layer
Merupakan layer yang menerima input dan menampilkan hasil proses.