• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VI HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1. Sumber-sumber Risiko pada Usaha Pembiakan Anjing Labrador Retreiver

Pada kegiatan usaha pembiakan anjing Labrador di D’Sunflower Kennel, terdapat beberapa risiko produksi yang dapat menghambat jalannya usaha pembiakan ini. Langkah awal dalam menganalisis risiko produksi adalah dengan mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi. Sumber-sumber risiko tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

1) Kegagalan atau Tidak Tepatnya Pemacakan

Sebelum betina hamil dan menghasilkan anakan, terlebih dahulu perlu dilakukan perkawinan atau yang lebih dikenal dengan istilah pemacakan. Biasanya pemacakan dilakukan terhadap pejantan atau betina dengan anatomi dan karakteristik tertentu agar menghasilkan anakan yang diinginkan seperti dengan anatomi dan karakteristik induknya.

Pemacakan dapat dilakukan pada saat betina mengalami masa loops pada saat menstruasi, dimana masa loops ini biasanya terjadi setiap 3-6 bulan sekali. Pemacakan dapat dilakukan pada hari ke-9 sampai hari ke-14 masa loops, atau pada saat warna darah menstruasi menjadi pink kecoklatan (straw color). Biasanya pemacakan dilakukan dua kali, yaitu pada hari ke-9 dan ke 11 atau pada hari ke-11 dan ke-13. Pemacakan ini dilakukan sebanyak dua kali agar pembuahan dapat berhasil.

Apabila hari pertama masa loops tidak diketahui secara tepat, maka hari pemacakan yang tepat akan sulit ditentukan. Bila hari pemacakan tidak tepat (terlalu awal atau terlambat), maka kegagalan kehamilan akan terjadi. Bahkan bila masa loops tidak diketahui, pemacakan pun akan terlewatkan (tidak dilakukan pemacakan sama sekali). Kegagalan atau ketidaktepatan pemacakan sehingga terjadi kegagalan kehamilan ini akan mengakibatkan kerugian bagi D’Sunflower Kennel. Hal ini dikarenakan produksi anakan yang direncanakan menjadi tidak tercapai. Mengingat masa loops terjadi 6-9 bulan sekali, maka harus menunggu 6-9 bulan kemudian untuk melakukan pemacakan terhadap betina yang sama. Padahal terkadang sudah ada

(2)

perjanjian sebelumnya dengan pembiak lain bila ingin mengawinkan betina dengan pejantan milik pembiak tersebut.

Selain itu, kondisi pejantan dan betina dapa menjadi penyebab kegagalan pemacakan. Pada saat libido dan sperma pejantan lemah, maka pemacakan akan sulit dilakukan atau kehamilan tidak tejadi. Pemacakan yang dilakukan terhadap betina yang sel telurnya belum matang, betina yang mengalami loops kering (vagina bengkak tapi darah tidak keluar, ataupun betina yang belum pernah dikawinkan akan menyebabkan pemacakan sulit dilakukan atau kehamilan tidak terjadi.

2) Penyakit

Penyakit pada anjing Labrador Retreiver dapat menyerang anakan maupun anjing dewasa. Namun, anakan lebih rentan terhadap penyakit. Penyakit menular seperti Distemper, Parvovirus, Hepatitis, dan Leptospirosis terutama menyerang anakan yang berumur 3-8 minggu. Hal ini terjadi karena pada umur tiga minggu kadar kolostrum dari air susu induk menurun dan vaksinasi lengkap baru dilakukan pada umur delapan minggu. Jadi pada rentan umur 3-8 minggu inilah anakan rentan terserang penyakit. Penyakit-penyakit menular ini sangat berbahaya untuk anakan yang kondisi tubuhnya lebih lemah daripada anjing dewasa, bahkan penyakit ini bisa menimbulkan kematian.

Penyakit menular yang berbahaya tersebut jarang ditemukan di D’Sunflower Kennel. Biasanya penyakit menular ini terjadi apabila terjadi wabah di beberapa daerah. Penyakit menular yang pernah diderita oleh anakan di D’Sunflower Kennel adalah Distemper dan Parvovirus. Distemper pernah menyerang satu ekor anakan dan penyakit ini bisa disembuhkan. Namun, parvovirus pernah menjadi wabah di kennel ini pada akhir tahun 2009. Terdapat 10 ekor anakan berumur dua bulan yang meninggal akibat penyakit ini. Kejadian ini mengakibatkan D’Sunflower Kennel mengalami kerugian yang sangat besar. Saat ini, kasus Parvovirus di D’Sunflower Kennel sudah ditangani dengan baik dan semua anjing di D’Sunflower Kennel sudah

(3)

Selain Distemper, Parvovirus, Hepatitis, dan Leptospirosis, terdapat pula penyakit lain yang menyerang anjing-anjing di D’Sunflower Kennel. Penyakit-penyakit seperti flu, cacingan, mencret, dan kembung sering terjadi di D’Sunflower Kennel. Flu sering menyerang pada saat pergantian musim (pancaroba), dan cacingan terjadi anjing terlalu sering dibawa keluar kandang. Mencret terjadi akibat makanan, sedangkan kembung terjadi akibat masuk angin. Penyakit-penyakit ini mudah diobati, namun bila tidak cepat ditangani akan berbahaya.

3) Mortalitas anakan

Dalam memproduksi anakan tidak terlepas dari adanya risiko mortalitas (kematian). Mortalitas anakan dapat disebabkan oleh keadaan dalam kandungan, seperti jumlah anakan, posisi, dan ukuran anakan. Bila jumlah anakan yang dikandung terlalu banyak, posisi anakan melintang, ataupun ukuran anakan terlalu besar, maka akan memungkinkan adanya kematian pada saat induk melahirkan. Setelah anakan dilahirkan, kematian dapat terjadi pada anakan yang yang cacat dan anakan yang tidak berkembang.

Salah satu bentuk kecacatan dari anakan yang sangat besar kemungkinannya akan mati adalah tidak memiliki langit-langit mulut. Anakan yang tidak memiliki langit-langit mulut akan mengalami kesulitan meminum susu dan susu yang diminum seringkali masuk ke tenggororokan (saluran pernafasan). Biasanya anakan yang mengalami cacat tubuh dan anakan yang tidak berkembang hanya bertahan hidup kurang dari dua minggu.

4) Keguguran

Induk yang hamil rentan terhadap risiko keguguran. Keguguran biasanya terjadi pada saat calon anakan belum menjadi janin. Keguguran ditandai dengan adanya flek darah atau darah yang menetes-netes yang terjadi pada induk yang sedang hamil. Hamil anggur sering diduga sebagai keguguran, karena induk yang perutnya membesar tiba-tiba perutnya kembali mengempis. Hamil anggur adalah sebuah istilah untuk kejadian hormonal

(4)

pada anjing betina yang ditandai dengan membesarnya perut seperti sedang anjing yang sedang hamil.

5) Kesulitan Persalinan

Sama halnya seperti mortalitas anakan, kesulitan persalinan dapat terjadi karena jumlah anakan, posisi anakan, dan ukuran anakan. Jumlah anakan yang banyak akan menyebabkan induk mengalami keletihan dalam persalinan, sehingga akan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melahirkan semua anaknya. Sedangkan posisi anakan dan ukuran anakan akan menyebabkan induk mengalami kesulitan dan kesakitan dalam persalinan. Hal ini dapat berbahaya bagi anakan maupun induknya. Biasanya apabila kemungkinan terjadinya kesulitan persalinan sudah diketahui, maka induk dibawa ke dokter hewan agar dapat ditangani dengan operasi caesar. 6) Cuaca

Cuaca sangat mempengaruhi kondisi kesehatan dari anjing-anjing di D’Sunflower Kennel. Bila cuaca terlalu panas, anjing mudah gelisah dan rentan terkena dehidrasi. Anakan yang merasakan cuaca yang panas biasanya akan mengonggong secara terus menerus. Bila cuaca terlalu dingin, penyakit flu, batuk, dan demam mudah menyerang anjing di D’Sunflower Kennel. Sedangkan bila musim pancaroba dimana cuaca panas dan dingin sering berganti, akan menyebabkan daya tahan tubuh anjing berkurang. Hal ini mengakibatkan anjing-anjing D’Sunflower Kennel sering terkena flu dan mencret. Perbedaan suhu antara siang dan malam lebih dari 100C akan melemahkan imun anak anjing. Keadaan cuaca ini tidak bisa dihindari karena merupakan faktor alam.

7) Warna Anakan Tidak Sesuai Harapan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Labrador Retreiver memiliki tiga variasi warna, yaitu kuning, hitam, dan coklat. Ketiga variasi warna yang ada ini memberikan alternatif pilihan bagi calon pembeli untuk menentukan apa warna anakan yang akan dibeli. Pihak D’Sunflower Kennel berusaha mewujudkan keinginan pelanggan terhadap pilihan warna anakan

(5)

Namun, seringkali pemacakan dengan harapan anakan yang dihasilkan lahir dengan warna tertentu sulit untuk diwujudkan. Warna anakan yang paling sulit diwujudkan adalah warna coklat. Perkawinan antara jantan berwarna coklat dengan betina berwarna coklat belum tentu menghasilkan anak berwarna coklat. Hal ini dikarenakan warna coklat merupakan warna resesif dari Labrador Retreiver. Bila warna coklat merupakan warna resesif dari anjing Labrador Retreiver, maka warna hitam merupakan warna dominan. Bila calon pembeli menginginkan anakan berwarna hitam, hal tersebut lebih mudah untuk diwujudkan.

Warna anakan yang tidak sesuai dengan keinginan calon pembeli bukanlah risiko yang besar yang menyebabkan calon pembeli beralih ke kennel lain. Banyak dari para pembeli yang rela menunggu untuk membeli anakan D’Sunflower Kennel dengan warna yang mereka inginkan. Contohnya adalah sekarang ini masih ada calon pembeli yang menunggu untuk membeli dua anakan jantan berwarna coklat dan dua anakan jantan berwarna kuning. 8) Jenis Kelamin Anakan Tidak Sesuai Harapan

Selain warna anakan, jenis kelamin anakan juga menjadi alternatif pilihan bagi calon pembeli dalam membeli anakan. Ada calon pembeli yang menginginkan anakan berjenis kelamin jantan karena pejantan memiliki karakter yang lebih agresif dan tidak akan melahirkan anak, sehingga fokus pemeliharaan hanya pada satu anjing saja. Ada pula calon pembeli yang menginginkan anjing betina karena biasanya calon pembeli tersebut menginginkan anjing yang sifatnya lembut dan memungkinkan untuk beranak, sehingga nantinya calon pembeli tersebut bisa memiliki anjing lebih dari satu.

Kebanyakan pembeli menginginkan anakan jantan, walaupun tidak sedikit pula pembeli yang menginginkan anakan betina. Hal ini menyebabkan anakan betina memerlukan waktu yang lebih lama untuk dijual karena menunggu calon pembeli yang berminat. Sedangkan terdapat antrian panjang bagi calon pembeli anakan jantan. Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, saat ini terdapat beberapa calon pembeli yang menunggu untuk

(6)

dapat membeli dua ekor anakan jantan berwarna coklat dan dua ekor anakan jantan berwarna kuning.

9) Sumber Daya Manusia

Sumber risiko lain yang dihadapi oleh D’Sunflower Kennel adalah sumber daya manusia. Kennel boy seringkali lalai dan tidak sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugasnya. Kelalaian tersebut seperti tidak teliti dalam memeriksa masa loops betina, tidak membersihkan kandang dengan bersih, lupa atau terlambat memberi makan, terlalu lama melepas anakan di lapangan umbaran, dan lain sebagainya. Kelalaian-kelalaian ini dapat menyebabkan tidak tepatnya pemacakan, serta munculnya penyakit-penyakit seperti kembung, mencret, dan lain sebagainya.

Pemilik D’Sunflower Kennel sempat merasa heran karena salah satu dari betina yang mereka miliki belum pernah mengalami masa loops selama tiga tahun. Setelah diselidiki, ternyata hal ini terjadi karena kelalaian dari kennel boy mereka. Apabila kennel boy tidak diawasi dengan baik dan tidak diberikan kompensasi atau perhatian-perhatian, maka seringkali kennel boy tidak melakukan tugasnya dengan baik dan benar.

Hasil identifikasi sumber-sumber risiko, seperti kegagalan atau tidak tepatnya pemacakan, penyakit, mortalitas anakan, keguguran, kesulitan persalinan, warna anakan tidak sesuai harapan, serta jenis kelamin tidak sesuai harapan produksi dapat dikuantifikasikan dan dipetakan ke dalam peta risiko. Sedangkan untuk risiko cuaca dan sumber daya manusia (SDM) tidak dapat dikuantifikasikan dan dipetakan ke dalam peta risiko. Penentuan besar atau kecilnya probabilitas adalah berdasarkan frekuensi kejadian sumber risiko per total kejadiannya. Sedangkan untuk penetuan besar atau kecilnya dampak adalah berdasarkan tingkat kerugian yang dialami oleh D’Sunflower Kennel karena akibat dari terjadinya sumber risiko. Penghitungan ini didapat dari hasil perkalian antara rata-rata harga anakan per ekor (Rp. 5.620.000) dengan jumlah anakan yang menjadi kerugian. Hasil status risiko dari sumber-sumber risiko yang dapat terkuantifikasi adalah sebagai berikut :

(7)

Tabel 10. Hasil Status Risiko Sumber-sumber Risiko Produksi D’Sunflower Kennel

No. Sumber Risiko Probabilitas (%) Dampak (Rp) Status Risiko (Rp) 1. Kegagalan atau tidak tepatnya pemacakan 20 89.920.000 17.984.000 2. Penyakit 14 56.200.000 7.868.000 3. Mortalitas anakan 22 89.920.000 19.782.400 4. Keguguran 16 67.440.000 10.790.400 5. Kesulitan persalinan 25 5.620.000 1.405.000 6. Warna anakan tidak sesuai harapan 6 22.480.000 1.348.800 7. Jenis kelamin anakan tidak sesuai harapan 6 22.480.000 1.348.800

Urutan sumber risiko produksi didapatkan dari hasil status risikonya, sehingga dari Tabel 10 dapat diketahui urutan sumber risiko produksi dari yang paling berisiko (risikonya paling besar) sampai paling tidak berisiko (risikonya paling kecil), yaitu mortalitas anakan, kegagalan atau tidak tepatnya pemacakan, keguguran, penyakit, kesulitan persalinan, dan sumber risiko yang paling tidak berisiko adalah warna anakan tidak sesuai harapan serta jenis kelamin tidak sesuai harapan. Nilai status risiko paling tinggi disandang oleh risiko mortalitas anakan. Artinya adalah bahwa mortalitas anakan merupakan sumber risiko yang memiliki nilai risiko yang paling tinggi, sehingga D’Sunflower Kennel menempatkan risiko mortalitas anakan sebagai prioritas utama dalam penanganan risiko (perlu ditangani secara serius). Sedangkan risiko warna anakan tidak sesuai harapan dan risiko jenis kelamin tidak sesuai harapan memiliki nilai status risiko paling rendah. Artinya

(8)

adalah bahwa warna anakan tidak sesuai harapan dan jenis kelamin tidak sesuai harapan merupakan sumber risiko yang memiliki nilai risiko yang paling rendah, sehingga D’Sunflower Kennel menempatkan risiko warna anakan tidak sesuai harapan dan risiko jenis kelamin tidak sesuai harapan sebagai prioritas paling akhir dalam penanganan risiko.

Berdasarkan hasil penghitungan probabilitas risiko, didapatkan angka 15,3 persen sebagai batas tengah dari sumbu probabilitas. Sedangkan berdasarkan hasil penghitungan dampak risiko, didapatkan angka Rp 50.600.000,00 sebagai batas tengah dari sumbu dampak. Dari nilai status risiko serta nilai batas tengah dari probabilitas dan dampak, terpetakanlah sumber-sumber risiko yang terkuantifikasi ke dalam empat kuadran.

Kuadran I ditempati oleh risiko mortalitas anakan, kegagalan atau tidak tepatnya pemacakan, serta keguguran. Sumber-sumber risiko yang berada pada Kuadran I ini merupakan sumber-sumber risiko yang dapat mengancam pencapaian tujuan D’Sunflower Kennel, karena sumber-sumber risiko ini kemungkinan terjadinya besar dan mengakibatkan kerugian yang besar pula bagi D’Sunflower Kennel. Sumber-sumber risiko dalam kuadran ini memiliki prioritas utama dalam penanganan risikonya. Risiko penyakit berada pada Kuadran II, dimana risiko dalam kuadran ini merupakan risiko berbahaya yang jarang terjadi. Kuadran II ini ditempati oleh risiko-risiko yang jarang terjadi, namun dampaknya besar bila terjadi. Hal ini terbukti dari kasus penyakit parvovirus yang menyerang anakan D’Sunflower Kennel, yang mengakibatkan kematian 10 anakan.

Kuadran III dihuni oleh risiko kesulitan persalinan dengan skala prioritas III. Risiko ini memiliki probabilitas kejadian besar, namun dampaknya rendah. Risiko ini sering terjadi tetapi tidak terlalu mengganggu tujuan dan target D’Sunflower Kennel. Hanya satu anakan yang mati akibat kesulitan persalinan ini. Sedangkan risiko warna anakan tidak sesuai harapan dan risiko jenis kelamin tidak sesuai harapan menempati Kuadran IV yang memiliki skala prioritas terendah. Risiko-risiko dalam kuadran ini memiliki tingkat probabilitas rendah dan tingkat dampak rendah. Sumber-sumber risiko tersebut terpetakan pada Gambar 9.

(9)

Dampak (Rp) Besar 50,6 juta Kecil Probabilitas (%) Kecil 15,3 % Besar

Gambar 9. Peta Hasil Identifikasi Sumber Risiko Produksi D’Sunflower Kennel Berdasarkan nilai status risikonya, sumber risiko yang paling besar adalah mortalitas anakan. Mortalitas anakan merupakan risiko yang sering terjadi (22 persen) di D’Sunflower Kennel dan memberikan dampak atau kerugian yang besar (Rp 89.920.000,00) bagi D’Sunflower Kennel. Oleh karena itu, risiko mortalitas anakan ini harus menjadi prioritas utama untuk ditangani. Dengan penanganan mortalitas anakan ini, diharapkan dapat meningkatkan produksi anakan dan kualitas anakan di D’Sunflower.

6.2. Analisis Probabilitas dan Dampak Risiko Produksi di D’Sunflower

Kennel

Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko di D’Sunflower Kennel dapat dihitung melalui data produktivitas anakan tiap periode dari Januari 2008 sampai Desember 2009. Perbedaan jumlah produktivitas mengindikasikan adanya

Kuadaran II : - Penyakit

Kuadran I : - Mortalitas anakan - Kegagalan atau tidak

tepatnya pemacakan - Keguguran

Kuadran IV : - Warna anakan tidak

sesuai harapan

- Jenis kelamin anakan tidak sesuai harapan

Kuadran III : - Kesulitan persalinan

(10)

risiko dalam usaha pembiakan ini. Data produktivitas anakan per kelahiran menunjukkan penyimpangan dari distribusi normalnya terlihat pada Tabel 11 Tabel 11. Hasil Analisis Probabilitas Risiko Produksi di D’Sunflower Kennel

Periode Bulan Produktivitas

(ekor/kelahiran) Harga Jual(Rp/ekor) (Rp/kelahiran)Penerimaan

I Feb-08 6 3916666,667 23500000 II Mar-08 2 4250000 8500000 III Apr-08 2 3500000 7000000 IV Jun-08 5 6300000 31500000 V Agust-08 2 3750000 7500000 VI Jan-09 9 4111111,111 37000000 VII Apr-09 6 4250000 25500000 VIII Okt-09 4 1187500 4750000 IX Des-09 5 2850000 14250000 Total 41 Rata-rata 4,555555556 Standar deviasi 2,351122663 x 5 z 0,189034988

Nilai pada tabel

z 0,425

Probabilitas

risiko 42,50%

Hasil penghitungan dari data produktivitas per kelahiran menunjukkan persen kemungkinan terjadinya risiko produksi usaha pembiakan anjing Labrador Retreiver di D’Sunflower Kennel. Tabel 8 menunjukkan jumlah total produktivitas pada tahun 2008 sampai 2009 mencapai 41 ekor anakan, dengan rata-rata 4,55 ekor anakan per periodenya. Hasil produktivitas anakan Labrador Retreiver ini menunjukkan tingkat probabilitas risiko produksi sebesar 42,50 persen.

Tingkat probabilitas risiko produksi ini dipengaruhi oleh produksi normal anakan yang ditentukan oleh pihak D’Sunflower Kennel, yaitu sebesar lima ekor anakan per kelahiran. Hal ini berdasarkan pertimbangan produktivitas anakan

(11)

tanda positif menunjukkan bahwa penurunan produksi anakan berada di sebelah kanan rata-rata distribusi normalnya, sehingga nilai z sebesar 0,189 pada distribusi normal z menunjukkan angka 0,425. Hasil analisis ini menujukkan bahwa probabilitas produktivitas anakan di bawah lima ekor per kelahiran adalah sebesar 0,425 atau 42,5 persen.

Dampak risiko yang merugikan D’Sunflower Kennel terjadi akibat adanya kekurangan hasil dari terget produksi sebanyak lima ekor per kelahiran. Dengan adanya data kekurangan produktivitas menunjukkan suatu sumber risiko yang merugikan bagi D’Sunflower Kennel. Besarnya dampak merugikan oleh karena target produksi tidak tercapai dapat dilihat melalui Value at Risk pada Tabel 12. Tabel 12. Hasil Analisis Dampak Risiko Produksi di D’Sunflower Kennel

Periode Produktivitas Kekurangan Produktivitas (ekor) Harga (Rp/ekor) Kekurangan Penerimaan (Rp) II 2 3 4250000 12750000 III 2 3 3500000 10500000 V 2 3 3750000 11250000 VIII 4 1 1187500 1187500 Total 35687500 Rata-rata 8921875 Standar Deviasi 5240411,631 z 1,645 VaR 13232113,57

Anjing-anjing Labrador retreiver betina di D’Sunflower Kennel telah berproduksi selama sembilan periode pada Januari 2008 sampai Desember 2009. Hasil produktivitas yang tidak mencapai target terjadi pada periode I, III, V, dan VIII. Kekurangan produktivitas pada periode I, II, dan V sebanyak tiga ekor, dan pada periode VIII sebanyak satu ekor. Dampak risiko produksi karena selisih produktivitas menyebabkan D’Sunflower Kennel mengalami kerugian penerimaan sebesar Rp 35.687.500,00 pada tahun 2008-2009.

Nilai distribusi tabel z yang pada taraf nyata lima persen menunjukkan Value at Risk yang terjadi adalah sebesar Rp.13.232.113,57. Hasil ini

(12)

menunjukkan tingkat kerugian akibat produksi tidak akan melampaui Rp.13.232.113,57 tiap siklus produksi. Apabila terjadi kerugian di atas nilai tersebut maka dinyatakan adanya risiko yang besar dari penerimaan. Besarnya dampak ataupun kerugian penerimaan yang disebabkan oleh kekurangan produktivitas yang ditargetkan oleh D’Sunflower Kennel dan rata-rata harga pada setiap periode.

Analisis mengenai besaran probabilitas dan dampak risiko yang terjadi pada proses produksi anakan Labrador Retreiver, menunjukkan besarnya risiko produksi yang ditanggung oleh D’Sunflower Kennel pada Januari 2008 sampai Desember 2009. Pemetaan risiko produksi digolongkan atas klasifikasi besarnya dampak dan probabilitas.

Penempatan risiko didasarkan pada hasil penghitungan dari dampak dan probabilitas risiko. Dalam risiko produksi, tingkat probabilitas yang terjadi adalah sebesar 42,50 persen dan tingkat dampak yang terjadi adalah sebesar Rp.13.232.113,57. Probabilitas dan dampak inilah yang menjadi penentu posisi risiko produksi dalam peta risiko. Hasil pemetaan risiko produksi ini dapat dilihat pada Gambar 10. Dampak (Rp) Besar 50,6 juta Kecil Probabilitas (%) Kecil 15,3 % Besar Kuadaran II Kuadran I

Kuadran IV Kuadran III

(13)

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa risiko produksi anakan Labrador Retreiver terdapat pada Kuadran III. Risiko yang menempati posisi ini adalah risiko yang memiliki probabilitas atau kemungkinan terjadinya besar dan memiliki dampak kecil. Hasil dari dampak risiko produksi yang kecil terjadi karena proses penanganan risiko yang telah dilakukan oleh D’Sunflower Kennel. Risiko yang telah dipetakan akan ditindak lanjuti lagi dengan penanganan risiko untuk mengubah posisi risiko pada kondisi probabilitas risiko lebih kecil.

6.3. Strategi Penanganan Risiko Produksi di D’Sunflower Kennel

Dalam menghadapi sumber-sumber risiko produksi yang ada dalam usaha pembiakan anjing Labrador Retreiver, D’Sunflower Kennel memiliki berbagai macam cara atau strategi penanganan untuk dapat mengatasi rsumber-sumber isiko-risiko produksi yang ada. Strategi penanganan yang dilakukan adalah dengan mencegah terjadinya risiko produksi (strategi preventif) serta dengan meminimalisir risiko produksi yang terjadi (strategi mitigasi). Strategi-strategi yang digunakan oleh D’Sunflower Kennel untuk mengatasi risiko-risiko produksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

1) Strategi Preventif

Strategi preventif adalah strategi penanganan risiko yang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya risiko. Berbagai strategi preventif yang dilakukan oleh D’Sunflower Kennel untuk mencegah adanya risiko-risiko produksi adalah sebagai berikut :

a) Pemeriksaan USG

Anjing yang hamil perlu perawatan yang intensif agar dapat melahirkan dengan baik dan agar asupan gizinya tarcukupi. Salah satu cara D’Sunflower Kennel untuk mewujudkan persalinan yang baik dan lancar adalah dengan memeriksakan anjing yang hamil ke dokter hewan pada usia kehamilan 55 hari untuk di-USG. Dari hasil pemeriksaan USG, dapat diketahui berapa jumlah anak yang akan dilahirkan, seberapa besar ukurannya, serta bagaimana posisinya. Dengan mengetahui semua hal tersebut, persiapan persalinan dan proses persalinan dapat dilakukan dengan baik karena sudah ada prediksi dari hasil pemeriksaan USG.

(14)

b) Perbaikan Sumber Daya Manusia (SDM)

Salah satu penyebab terjadinya risiko produksi di D’Sunflower Kennel adalah karena sumber daya manusia, dalam hal ini adalah kennel boy di D’Sunflower Kennel. Untuk mencegah terjadinya risiko produksi akibat ulah kennel boy yang ada, pemilik D’Sunflower Kennel memberikan bonus kepada kennel boy sebagai penghargaan atas hasil kerja mereka yang baik. Contohnya, bonus diberikan apabila anakan dalam satu kelahiran atau keturunan (nest) terjual semua.

Selain itu, dilakukan pemberhentian terhadap kennel boy lama karena kinerjanya kurang bagus. Salah satu bentuk kesalahan dari kennel boy yang diberhentikan tersebut adalah tidak teliti dalam memeriksa masa loops betina, sehingga ada satu betina yang belum pernah dipacak selama tiga tahun dengan alasan betina tersebut belum pernah mengalami masa loops. kennel boy dan pengangkatan kennel boy baru. Oleh karena itu, posisi tersebut diganti dengan kennel boy yang baru dengan harapan kennel boy baru tersebut memiliki kinerja yang lebih baik. Hal ini terbukti dari kinerja kennel boy baru tersebut yang selalu teliti dalam memeriksa masa loops betina.

c) Operasi Caesar

Untuk menangani kesulitan persalinan yang biasanya disebabkan oleh janin yang terlalu besar, posisi janin yang salah, serta jumlah anakan yang terlalu banyak, pihak D’Sunflower Kennel menyerahkan proses persalinan kepada dokter hewan melalui operasi Caesar. Umumnya operasi Caesar dilakukan apabila selama 20 menit induk yang akan melahirkan mengejan terus menerus, namun proses kelahiran tak kunjung terjadi.

Strategi penanganan risiko produksi yang dilakukan oleh D’Sunflower Kennel berdasarkan hasil pemetaan sumber risiko produksi yang ada dalam usaha pembiakan anjing Labrador Retreiver dapat disesuaikan dengan letak risiko pada kuadran yang ada dalam peta risiko. Strategi preventif

(15)

pada Kuadran I dan II, yaitu risiko yang memiliki probabilitas atau kemungkinan terjadinya besar.

Risiko-risiko yang terdapat pada Kuadran I adalah risiko mortalitas anakan, kegagalan atau tidak tepatnya pemacakan, serta keguguran. Strategi preventif untuk menangani risiko-risiko produksi ini adalah dengan pemeriksaan USG dan perbaikan sumber daya manusia. Sedangkan risiko yang terdapat pada Kuadran III adalah risiko kesulitan persalinan, dan strategi preventif yang dilakukan adalah dengan melakukan operasi caesar pada induk yang mengalami kesulitan persalinan. Dengan melaksanakan strategi preventif ini, risiko-risiko yang berada pada Kuadran I dan II yang memiliki probabilitas kejadian besar akan bergeser ke Kuadran II dan IV, sehingga risiko-risiko tersebut probabilitas kejadiannya menjadi kecil. Strategi preventif risiko produksi pada D’Sunflower Kennel dapat terpetakan sebagai berikut : Dampak (Rp) Besar 50,6 juta Kecil Probabilitas (%) Kecil 15,3 % Besar Gambar 11. Strategi Preventif Risiko Produksi D’Sunflower Kennel

Kuadaran II Kuadran I :

- Pemeriksaan USG - Perbaikan SDM

Kuadran IV Kuadran III :

(16)

2) Strategi Mitigasi a) Vaksinasi

Vaksin merupakan virus yang sudah dilemahkan yang berfungsi sebagai imun bagi tubuh terhadap virus tertentu. Vaksinasi harus diberikan kepada anakan, agar memiliki daya tahan terhadap virus penyakit. Di D’Sunflower Kennel, umumnya anakan mulai divaksin pada umur delapan minggu. Vaksin yang diberikan tersebut merupakan vaksin lengkap yang berisi vaksin Distemper, Hepatitis, Parvovirus, dan Parainfluenza.

Vaksinisasi merupakan cara pencegahan penyakit yang penting untuk diberikan. Karena bila tidak diberikan, anakan dapat terserang penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Hal ini terbukti dari anakan di D’Sunflower Kennel yang terserang Parvovirus karena belum mendapatkan vaksinasi. Karena Parvovirus pernah membahayakan nyawa anakan di D’Sunflower Kennel, maka vaksin Parvovirus mulai diberikan kepada anakan pada saat berumur enam minggu.

Pemberian vaksinasi sangat efektif dalam produksi di D’Sunflower Kennel. Hal ini terbukti dari selama kennel ini berdiri hanya terdapat satu penyakit parah yang menular, yaitu parvovirus.

b) Pemberian Vitamin dan Obat Cacing

Setiap anjing membutuhkan daya tahan tubuh yang baik agar tidak mudah terserang penyakit, begitu pula dengan anjing-anjing Labrador Retreiver di D’Sunflower Kennel. Daya tahan tubuh yang baik didapatkan dari pemberian vitamin. Di D’Sunflower Kennel, vitamin diberikan setiap satu minggu sekali untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh anjing-anjing Labrador Retreiver di tempat ini.

Anjing mudah terserang penyakit cacingan karena sering dilepas ke luar kandang. Untuk mencegah hal ini, pihak D’Sunflower Kennel rutin memberikan obat cacing (Dronthal atau Combantrine cair) kepada anjing-anjing Labrador Retreiver mereka setiap tiga bulan sekali.

(17)

sampai berumur lima minggu. Pada umur delapan minggu obat cacing diberikan kembali, namun obat cacing yang diberikan adalah Dronthal. c) Membersihkan Kandang

Salah satu penyebab timbulnya penyakit adalah karena kurang terjaganya kebersihan. Oleh karena itu, kennel boy D’Sunflower Kennel selalu membersihkan kandang anjing setiap hari pada saat anjing-anjing dilepaskan di lapangan umbaran. Selain membersihkan kandang, setiap kandang dan juga ruangan selalu disemprot dengan deterjen setiap hari. Kandang yang bersih akan membuat anjing merasa nyaman dan terhindar dar segala kuman penyakit.

d) Pengendalian Penyakit

Dalam menghadapi adanya wabah penyakit, salah satu upaya dari pihak D’Sunflower Kennel untuk menghadapi penyakit tersebut adalah dengan mengkarantina anjing yang terinfeksi penyakit, dengan kata lain memisahkan anjing yang sakit dengan anjing yang sehat. Karantina ini dilakukan dengan tujuan agar penyakit tersebut tidak menular ke anjing yang sehat. Selain itu dengan mengkarantina anjing yang sakit, pengobatan terhadap anjing tersebut dapat dilakukan secara fokus dan intensif.

e) Pengobatan Penyakit

Upaya yang dilakukan oleh D’Sunflower Kennel dalam menangani anjing yang sakit adalah dengan cara melakukan penobatan terhadap anjing yang sakit tersebut. Apabila penyakit yang diderita tidak terlalu serius, maka pengobatan dilakukan oleh pihak D’Sunflower sendiri. Namun apabila penyakit yang diderita cukup parah, maka anjing yang sakit dibawa ke dokter hewan untuk diperiksa dan diobati.

Obat-obatan yang disediakan oleh D’Sunflower Kennel untuk mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita oleh anjing-anjing Labrador Retreiver mereka adalah Polisilen untuk mengatasi kembung, Diapet dan Diatab untuk mengatasi mencret, Amoxilin dan Amoxil sebagai antibiotik, serta Combantrine dan Dronthal untuk mengatasi cacingan. Selain itu disediakan pula obat untuk induk yang baru

(18)

melahirkan, seperti Adona AC untuk menghentikan darah dan Mololioble 12 untuk menambah air susu.

f) Menjual Anjing Pelacak

Dalam usaha pembiakan ini belum tentu semua anakan dalam satu nest (angkatan kelahiran) terjual semua. Anakan yang belum terjual tersebut tetap dipelihara oleh D’Sunflower Kennel. Karena suatu saat pihak kepolisian, hotel, ataupun perusahaan security akan membeli Labrador Retreiver yang berumur 1-2 tahun untuk dijadikan sebagai anjing pelacak atau anjing penjaga.

g) Melakukan Usaha Sampingan

Usaha utama dari D’Sunflower kennel adalah pembiakan. Namun, usaha pembiakan memiliki risiko produksi yang besar. Untuk menutupi kondisi financial kennel bila kerugian akibat risiko produksi terjadi, maka usaha sampingan pun dilakukan. Usaha sampingan tersebut berupa layanan pemacakan, jasa penitipan, grooming, penjualan dogfood, serta jasa pengiriman ke luar kota.

Strategi mitigasi dilaksanakan oleh D’Sunflower Kennel untuk menangani risiko yang ada pada Kuadran I dan II, yaitu risiko yang memiliki dampak yang besar. Risiko-risiko yang terdapat pada Kuadran I adalah risiko mortalitas anakan, kegagalan atau tidak tepatnya pemacakan, serta keguguran. Strategi mitigasi untuk menangani risiko-risiko produksi ini adalah dengan melakukan usaha sampingan dan menjual anjing pelacak. Sedangkan risiko-risiko yang terdapat pada Kuadran II adalah risiko penyakit, dan strategi mitigasi yang dilakukan adalah dengan melakukan vaksinisasi, pemberian vitamin dan obat cacing, membersihkan kandang, karantina, pengendalian penyakit, serta pengobatan. Strategi mitigasi ini dilakukan dengan cara mengurangi dampak terjadinya risiko dari risiko-risiko yang memiliki dampak besar yang terdapat pada Kuadran I dan III, sehingga risiko-risiko tersebut dapat bergeser ke Kuadran II dan IV Strategi mitigasi risiko produksi pada D’Sunflower Kennel dapat terpetakan sebagai berikut :

(19)

Dampak (Rp) Besar 50,6 juta Kecil Probabilitas (%) Kecil 15,3 % Besar Gambar 12. Strategi Mitigasi Risiko Produksi D’Sunflower Kennel

6.4. Alternatif Strategi Penanganan Risiko Produksi di D’Sunflower

Kennel

Tindakan preventif dan mitigasi risiko oleh petani dapat dilengkapi dengan alternatif strategi penanganan risiko. Alternatif strategi yang dapat digunakan oleh petani untuk penanganan risiko terdapat pada Gambar 13.

Pada Kuadran I terdapat risiko mortalitas anakan, kegagalan atau tidak tepatnya pemacakan, serta keguguran. Alternatif penanganan risiko pada kuadran ini adalah dengan strategi prevent at source. Strategi prevent at source dilakukan dengan cara melakukan bimbingan dan pengarahan, serta pelatihan kepada para kennel boy. Dengan adanya pengarahan yang benar kepada para kennel boy tentang proses produksi dalam usaha pembiakan Labrador Retreiver ini, diharapkan produksi di D’Sunflower Kennel menjadi lebih baik dan berkualitas.

Kuadaran II : - Vaksinasi

- Pemberian vitamin dan obat cacing - Membersihkan kandang - Karantina - Pengendalian penyakit - Pengobatan Kuadran I : - Melakukan usaha sampingan

- Menjual anjing pelacak

(20)

Dampak (Rp) Besar 50,6 juta Kecil Probabilitas (%) Kecil 15,3 % Besar

Gambar 13. Alternatif Strategi Penanganan Risiko Produksi di D’Sunflower Kennel

Strategi detect and monitor merupakan strategi alternatif yang diterapkan untuk risiko yang berada pada Kuadran II, yaitu risiko penyakit. Strategi ini dilaksanakan dengan cara mendeteksi kejadian-kejadian merugikan akibat dari terjangkitnya penyakit, dan juga mengawasi atau memantau kebersihan kennel. Pengendalian penyakit juga harus selalu diawasi, dimana pelaksanaannya harus sesuai ketentuan yang berlaku. Contohnya adalah pentatoan anakan Labrador Retreiver yang harus dilaksanakan pada saat anakan berumur enam

Kuadaran II : - Penyakit

(Detect and Monitor)

Kuadran I : - Mortalitas anakan - Kegagalan atau tidak

tepatnya pemacakan - Keguguran

(Prevent at Source)

Kuadran IV : - Warna anakan tidak

sesuai harapan

- Jenis kelamin anakan tidak sesuai harapan (Low Control)

Kuadran III : - Kesulitan persalinan

(21)

Pada Kuadran III yang ditempati oleh risiko persalinan, alternatif strategi dapat dilaksanakan adalah strategi monitor. Strategi monitor ini dilakukan dengan cara mengawasi betina hamil selama masa kehamilannya. Pemeriksaan USG pada usia 55 hari perlu dilakukan. Hasil pemeriksaan USG yang dilakukan oleh dokter hewan akan menjadi alat bantu bagi D’Sunflower Kennel dalam menangani persalinan, terutama untuk betina yang memiliki masalah dalam kehamilannya.

Pengawasan yang rendah atau low control merupakan strategi yang diterapkan untuk risiko warna anakan tidak sesuai harapan dan jenis kelamin tidak sesuai harapan. Pengawasan rendah ini dilakukan karena sumber risiko ini jarang terjadi dan tidak berdampak besar bagi D’Sunflower Kennel. Pengawasan yang bisa dilakukan untuk menghasilkan anakan yang sesuai harapan (khususnya warna yang diharapkan) adalah dengan mengawinkan pejantan dan betina yang memiliki gen yang diinginkan.

Gambar

Tabel  10.  Hasil  Status  Risiko  Sumber-sumber  Risiko  Produksi  D’Sunflower     Kennel
Gambar 9.  Peta Hasil Identifikasi Sumber Risiko Produksi D’Sunflower Kennel
Tabel 11.  Hasil Analisis Probabilitas Risiko Produksi di D’Sunflower Kennel Periode Bulan Produktivitas
Gambar  13.    Alternatif  Strategi  Penanganan Risiko  Produksi  di  D’Sunflower  Kennel

Referensi

Dokumen terkait

Menurut ME, persatuan penuh kasih dan pemberian diri timbal balik suami-istri adalah tanda dari sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu kesatuan yang ada antara Kristus

Dalam makalah ini diulas sistem proteksi galvanik dengan menggunakan anoda yang dikorbankan, yang mana sistem ini dapat diaplikasikan pada struktur beton yang mengalami

Berdasarkan kajian pustaka terhadap logam paduan Zr-Si diketahui bahwa penambahan Si antara 0,015%b/b sampai 0,3%b/b ke dalam logam induk zirconium akan -menghasilkan

Judul Penelitian :Hubungan Tingkat Konsumsi Protein, Vitamin A, Zat Besi dari Pangan Hewani dengan Status Gizi Anak Bawah Dua Tahun di Puskesmas Sangkrah Kota Surakarta..

menganalisis hukum 16. Obyek penelitian yaitu perlindungan hukum terhadap pekerja seks komersial ditinjau dari aspek kesehatan reproduksi.. Cara atau prosedur yang digunakan

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik

Senyawa-senyawa yang berasal dari spesies Sonneratia caseolaris telah banyak dilaporkan memiliki senyawa yang bersifat bioaktivitas, seperti antidiabetes dan

Dari analisa kriteria kapal pada tabel - tabel diatas yang mengacu pada peraturan IMO menerangkan bahwa hasil perhitungan stabilitas untuk KMP Jatra III pada