• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Perbankan Syariah di Indones

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pertumbuhan Perbankan Syariah di Indones"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 Pertu buha Perba ka Syari’ah di I do esia

(Tinjauan Terhadap Kinerja Keuangan dan Manajemen Ba k Syari’ah)

Oleh: Ali Muhayatsyah 1

A. Pendahuluan

Perkembangan perbankan s ari’ah di Indonesia telah memasuki babak baru. Pertumbuhan

industri perbankan s ari’ah telah bertransformasi dari hanya sekedar memperkenalkan

alternatif praktik perbankan s ari’ah menjadi bagaimana bank s ari’ah menempatkan

posisinya sebagai pemain utama dalam peraturan ekonomi di tanah air. Bank s ari’ah

memiliki potensi besar untuk menjadi pilihan utama dan pertama bagi nasabah dalam

pilihan transaksi mereka. Hal ini ditunjukan dengan akselerasi pertumbuhan dan

perkembangan bank s ari’ah di Indonesia.

Faktor-faktor pendukung industri perbankan s ari’ah mencakup pertumbuhan secara

un-organic akibat penambahan pemain baru dalam industri, baik bank umum, unit usaha s ari’ah (UUS) maupun BPRS. Pertumbuhan secara un-organic tersebut juga didukung

dengan pertumbuhan organic melalui pertumbuhan volume usaha yang di dukung oleh

peningkata ju lah jari ga ka tor a k s ari’ah.2 Secara kelembagaan, jaringan perbankan

s ari’ah e i gkat e jadi BU“ erta ah BU“ setelah lahir a UU , de ga total

jaringan kantor mencapai 1.688 kantor dan 1.277 office chanelling. Aset Total aset per

Oktober 2011 (yoy) telah mencapai Rp127,19 triliun atau meningkat tajam sebesar 48,10%

yang merupakan pertumbuhan tertinggi sepanjang 3 tahun terakhir.3

Berdasarka suatu pe elitia pada se uah a k s ari’ah terhadap sekitar . nasabah di seluruh Indonesia, diketahui bahwa lebih dari 70 % nasabah memilih bank

s ari’ah dala elakuka tra saksi per a ka de ga alasa utama sesuai keyakinan

agama. Alasan lai a a g e e a ka asa ah e ilih a k s ari’ah adalah kare a

1 Peneliti Keuangan Syariah

2Yulli Tris a ati, Prospek Pertu uha Ba k “ ari’ah da Ta ta ga a di Masa a g Aka Data g, http://yullitrisnawati.blogspot.com/2011/04/prospek-pertumbuhan-bank-s ari’ah-dan.html, akses 20 Januari 2012.

(2)

2

pela a a a k s ari’ah a g epat dan memuaskan sebesar 38% serta karena lokasi kantor

bank strategis sebesar 30%, di samping alasan-alasan rasional lainnya.4

Mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim merupakan peluang untuk merebut

market per a ka I do esia kare a per a ka s ari’ah dalam operasionalnya

mengaplikasikan nilai- ilai s ari’ah. Dala pe elitia te ta g perilaku asa ah Karim

Business Consulting menjelaskan bahwa segmen pasar di dunia perbankan Indonesia dapat

dibagi dalam tiga kelompok: 1). Loyalitas Syari’ah yang mempunyai potensi pasar 10 triliun.

2). Floating Mass yang mempunyai potensi pasar terbesar yaitu 700 triliun dari total size

perbankan yaitu 900 triliun. 3). Konventional Loyalis yang mempunyai potensi pasar sebesar

240 triliun.5

Oleh karena itu, faktor-faktor emosional yang dihubungkan dengan religi masih dapat

digunakan sebagai alat persuasi terutama di daerah yang masih kental keislamannya. Dalam

hal ini, pendekatan-pendekatan penokohan akan sangat positif mengingat budaya Indonesia

yang paternalistik. Disamping itu, office chanelling dan diversifikasi produk dan juga

erupaka iri khas terse diri pada per a ka s ari’ah di a di gka per a ka konvensional.

Me perhatika hal di atas, se e ar a prospek eko o i s ari’ah cukup menjanjikan di masa depan. Hal ini, disebabkan adanya kesadaran sebagian

masyarakat, terutama yang berpendidikan tinggi untuk menjalankan kehidupan sosial

ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Kondisi tersebut harus diantisipasi dengan

kesiapan sarana dan prasarana guna mendukung berkembangnya perekonomian secara

optimal di masa depan. Sarana dan prasarana tersebut, tidak hanya bersifat material, tetapi

juga non material, serta sistem pendidikan yang mengakomodasikan kebutuhan tersebut,

sehingga tercipta sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam membangun dan

e ge a gka eko o i s ari’ah di asa depa .

Ba k s ari’ah tidak isa ha a e gharapka terlalu esar terhadap ke eradaa mayoritas muslim dari masyarakat Indonesia, yang merupakan bidikan sebagai nasabah atas

sentimen agama, atau dikategorikan sebagai nasabah emosional. Masyarakat muslim pada

4Yulli Tris a ati, Prospek Pertu uha Ba k “ ari’ah da Ta ta ga a di Masa ang Akan

Data g, ..., akses Ja uari .

5Moha ad Ha iz, Pengaruh Potensi, Preferensi, Serta Perilaku Konsumen Terhadap Usaha Pemasaran

(3)

3

umumnya, dapat juga bersikap rasional atas keberadaan bank- a k s ari’ah. Tidak serta

erta ereka eralih ke a k s ari’ah ha a persoala aga a. Jika a k s ari’ah tidak mampu memberikan kenyamanan dan keamanan dari penyimpanan hartanya, atau tidak

mampu memberikan kepuasan kepada mereka dari sisi pelayanannya, maka tidak mustahil

a k s ari’ah aka diti ggalka asa ah a. Fe o e a perke a ga a k s ari’ah i i harus diimbangi dengan kualitas dan fasilitas yang memadai. Tidak dapat dipungkiri bahwa

a k s ari’ah harus e ata dari sisi i ter al a g a pu e pe garuhi perkembangannya, ataupun dari sisi eksternalnya.

B. Pertumbuhan Kinerja Ba k Syari’ah di Indonesia

Volume usaha perbankan s ari’ah dalam kurun waktu satu tahun terakhir, khususnya Bank

Umum “ ari’ah (BUS) dan Unit Usaha “ ari’ah (UUS), mengalami pertumbuhan yang sangat

pesat. Total aset per Oktober 2011 (yoy) telah mencapai Rp127,19 triliun atau meningkat

tajam sebesar 48,10% yang merupakan pertumbuhan tertinggi sepanjang 3 tahun terakhir.

Ditambah dengan aset BPRS sebesar Rp3,35 triliun, total aset perbankan s ari’ah per

Oktober 2011 telah mencapai Rp130,5 triliun. Marketshare perbankan s ari’ah terhadap

perbankan nasional telah mencapai sekitar 3,8%. Tingginya pertumbuhan aset tersebut

tidak terlepas dari tingginya pertumbuhan dana pihak ketiga pada sisi pasiva dan

pertumbuhan penyaluran dana pada sisi aktiva. Penghimpunan dana pihak ketiga meningkat

52,79% dan penyaluran dana masyarakat meningkat sebesar 46,43%.6

Pertumbuhan aset yang tinggi tersebut terkait erat dengan ekspansi perbankan

s ari’ah terutama pasca disahkannya Undang-undang No.21 tahun 2008 tentang Perbankan “ ari’ah. Secara kelembagaan, jaringan perbankan s ari’ah meningkat menjadi 11 BUS (bertambah 6 BUS setelah lahirnya UU), dengan total jaringan kantor mencapai 1.688 kantor

dan 1.277 office chanelling. Selain itu, upaya pengembangan perbankan s ari’ah yang

dilakukan secara sinergis antara Bank Indonesia dan pelaku industri yang tergabung dalam

iB campaign baik untuk funding maupun lending berpengaruh positif terhadap

pertumbuhan aset perbankan s ari’ah. Hal ini juga berkat dukungan Bank Indonesia dalam

bidang perijinan yaitu dengan memberikan service excellence pada percepatan proses

penyelesaian perijinan namun tetap menjaga kualitas analisa sesuai ketentuan yang berlaku.

(4)

4 Dengan demikian, upaya Bank Indonesia dalam mempercepat proses perijinan pendirian

bank, fit and proper test, merger atau akuisisi, pembukaan jaringan kantor serta persetujuan

produk-produk perbankan s ari’ah dapat dirasakan manfaatnya oleh industri perbankan

s ari’ah.7

Penghimpunan dana perbankan s ari’ah mengalami peningkatan yang tinggi selama

satu tahun terakhir dari Rp 66,48 triliun pada Oktober 2010 menjadi Rp 101,57 triliun pada

Oktober 2011 atau meningkat 52,79%. Meskipun mengalami sedikit penurunan di awal

tahun sebagai akibat dari January effect, namun penghimpunan dana dapat dipertahankan

meningkat secara stabil pada triwulan III 2011. Laju pertumbuhan pada triwulan III 2011

yang sebesar 52,79% (yoy) tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang

sama di tahun 2010 sebesar 39,16%. Penghimpunan dana masyarakat terbesar adalah

dalam bentuk deposito yaitu Rp 62,02 triliun (61,06%) diikuti oleh Tabungan sebesar

Rp27,81 triliun (27,38%) dan Giro sebesar Rp11,05 triliun (10,88%).8

Sedangkan dari sisi penyaluran dana, piutang murabahah paling mendominasi

tercatat sebesar Rp52,06 triliun atau 42,42% diikuti oleh pembiayaan musyarakah yang

sebesar Rp17,73 triliun (14,45%) dan piutang qardh sebesar Rp13,02 triliun (10,61%).

Penyaluran dana berupa piutang Qardh mengalami peningkatan yang sangat tinggi yaitu

sebesar 295,17% yang didominasi oleh peningkatan qardh (gadai) emas.9

Berdasarkan data yang dikeluarkan Bank Indonesia menunjukkan bahwa produk

pe ia aa a g disalurka oleh a k s ari’ah asih ti ggi pe i at a di kala ga masyarakat, ini terbukti dari tujuh tahun terakhir jumlah angka pembiayaan terus

meningkat. Produk pembiayaan yang sangat diminati adalah murabahah yakni mencapai

sekitar 46,161 miliyar pada Juni 2012, dan yang kedua adalah produk pembiayaan

musyarakah yakni mencapai sekitar 16,295 miliyar pada Juni 2012.

7 Ibid.

8 Ibid., hlm. 2.

(5)

5 Tabel. 1

Ko posisi Pe biayaa ya g Diberika Ba k Syari’ah (Dalam Miliyar Rupiah) pertumbuhan dana yang dihimpun maupun pembiayaan yang relatif tinggi dibandingkan

perbankan nasional, serta penyediaan akses jaringan yang meningkat dan menjangkau

kebutuhan masyarakat secara lebih luas sehingga masih memiliki fundamental yang cukup

kuat untuk memanfaatkan potensi membaiknya perekonomian nasional.

1. Pengukuran Kinerja Dengan Analisis Laporan Keuangan

Informasi mengenai kinerja perusahaan sangat penting diperlukan bagi para investor

baik itu kinerja keuangan maupun manajemen perusahaan karena informasi kinerja

perusahaan dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan investor dalam

memilih investasi pada suatu perusahaan. Indikator yang biasa mendapat perhatian

utama dari investor adalah aspek keuangan yaitu laporan keuangan. Bagi pihak-pihak di

luar manajemen suatu perusahaan, laporan keuangan merupakan jendela informasi

yang memungkinkan investor untuk mengetahui kondisi suatu perusahaan pada suatu

masa pelaporan. Maka informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus dapat

dipahami, dipercaya, relevan dan transparan. Hal ini dikarenakan kegiatan investasi

merupakan kegiatan yang mengandung risiko dan ketidakpastian sehingga dengan

adanya informasi yang disajikan akan mengurangi tingkat risiko dan ketidakpastian yang

dihadapi oleh investor. Untuk itu, diperlukan pengungkapan (disclosure) yang memadai

dalam laporan keuangan. Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan harus

(6)

6 memadai agar dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan sehingga

menghasilkan keputusan yang cermat dan tepat.11

Melihat kondisi tersebut pengukuran kinerja perusahaan penting dilakukan baik

oleh manajemen, pemegang saham, pemerintah dan pihak lain yang berkepentingan

dan terkait dengan distribusi kesejahteraan di antara mereka termasuk

perbankan.12Pengukuran kinerja dengan ukuran rasio keuangan yang digunakan sebagai

indikator pengukuran kinerja perusahaan saat ini hanya merupakan pendekatan

akuntansi saja dan penggunaan banyak mengandung kelemahan yaitu pengukuran tidak

mencerminkan keadaan sebenarnya dan laporan dibuat untuk kepentingannya tanpa

memperhatikan stakeholder lain, sehingga laporan keuangan direkayasa untuk

mendapatkan rasio yang baik pada moment tertentu saja. Hal ini menyebabkan

semakin banyak gugatan terhadap laporan keuangan khususnya bila dipakai sebagai

indikator pengukuran kinerja perusahaan.13

Pengukuran tingkat kesehatan bank oleh Bank Indonesia biasanya diukur dengan

metode CAMELS. Capital (untuk rasio kecukupan modal bank), Assets (untuk rasiorasio

kualitas aktiva), Management (untuk menilai kualitas manajemen), Earnings (untuk

rasiorasio rentabilitas bank), Liquidity (untuk rasio-rasio likuiditas bank), Sensitivity

(untuk menilai sensitivitas terhadap risiko pasar). Secara sederhana dapat dikatakan

bahwa bank yang sehat adalah bank yang dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan

baik. Dengan kata lain, bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan

memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat

membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah

dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan moneter. Dengan

11Ali Muha ats ah, Pe garuh Karakteristik Perusahaa da Makro Eko o i Terhadap Retur da Beta

“aha “ ari’ah Pada Perusahaa a g Terdaftar di Jakarta Isla i I de JII , Skripsi Fakultas “ ari’ah da Hukum UIN Sunan Kalijaga (2011), hlm. 1-2.

12 Nurmadi H.“u arta da Yogi a to HM, E aluasi Ki erja Perusahaa Per a ka yang Terdaftar Di

(7)

7 menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan yang baik

kepada masyarakat serta bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan.14

Analisis laporan keuangan yang banyak digunakan adalah analisis tentang rasio

keuangan. Berdasarkan sumber analisis, terdapat dua teknik analisis rasio keuangan

yang biasa digunakan, yaitu (1) cross sectional approach, yaitu membandingkan

rasio-rasio antara perusahaan satu dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis pada saat

yang bersamaan atau membandingkannya dengan rasio rata-rata industri pada saat

yang sama. (2) time series analysis, yaitu membandingkan rasio-rasio finansial

perusahaan dari satu periode ke periode lainnya.15

Analisis keuangan yang mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan

kekuatan di bidang finansialnya akan sangat membantu dalam menilai manajemen

perusahaan masa lalu dan prospeknya di masa mendatang. Rasio keuangan tersebut

dapat memberikan indikasi apakah perusahaan memiliki kas yang cukup untuk

memenuhi kewajiban finansialnya, besarnya piutang yang cukup rasional, efisiensi

manajemen persediaan, perencanaan pengeluaran investasi yang baik dan struktur

modal yang sehat, sehingga tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham

dapat dicapai.16

Data keuangan yang dipergunakan untuk analisis keuangan, diambilkan dari

laporan keuangan yang pokok, yaitu neraca dan laporan rugi laba.17 Untuk melakukan

analisis rasio keuangan, diperlukan perhitungan rasio-rasio keuangan yang

mencerminkan aspek-aspek tertentu. Rasio-rasio keuangan mungkin dihitung

berdasarkan atas angka-angka yang ada dalam neraca saja, dalam laporan rugi laba

saja, atau pada neraca dan rugi laba. Setiap analis keuangan bisa saja merumuskan rasio

tertentu yang dianggap mencerminkan aspek tertentu.18

Rasio keuangan menggambarkan hubungan atau perimbangan antara suatu

jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dengan menggunakan analisis berupa rasio

14 Ibid.

15 Munawir, Akuntansi Keuangan dan Manajemen (Yogyakarta: BPFE, 2002), hlm. 268.

16 Agus Sartono, Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi (Yogyakarta: BPFE, 2001), hlm. 113.

17 Suad Husnan, Manajemen Keuangan: Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang) (Yogyakarta: BPFE, 2008), hlm. 36.

(8)

8 keuangan ini akan dapat menjelaskan atau memberikan gambaran kepada analis

tentang perusahaan, terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka

rasio perbandingan digunakan sebagai standar.19 Rasio keuangan juga menyediakan

suatu cara yang tepat dan berguna untuk mengekspresikan suatu hubungan di antara

angka-angka, manajer, kreditur dan analisis keuangan menggunakan rasio yang relevan

untuk pengambilan keputusan tertentu.

C. Berbagai Masalah yang Masih Dihadapi Ba k Syari’ah 1. Permasalahan Penghimpunan dan Penyaluran Dana

Berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2011, menunjukkan bahwa total aset per

Okto er a k s ari’ah e apai Rp , triliu atau e i gkat , %. Dita ah de ga aset BPR“ se esar Rp , triliu . Jadi total aset per a ka s ari’ah

per Oktober 2011 telah mencapai Rp130,5 triliun. Market share per a ka s ari’ah

terhadap perbankan nasional telah mencapai sekitar 3,8%. Tingginya pertumbuhan aset

tersebut tidak terlepas dari tingginya pertumbuhan dana pihak ketiga pada sisi pasiva

dan pertumbuhan penyaluran dana pada sisi aktiva. Penghimpunan dana pihak ketiga

meningkat 52,79% dan penyaluran dana masyarakat meningkat sebesar 46,43%.

Secara umum bank s ari’ah dapat diartikan sebagai media intermediasi yang

usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas

pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya dilandasi oleh syariat-syariat

Islam baik dalam bentuk jual-beli, bagi hasil maupun sewa-menyewa.20 Namun secara

eksplisit konsep bagi hasillah yang benar-benar mewakili konsep Islam dalam

perbankan, karena selain ia bisa mengerakkan sektor rill secara berimbang, ia juga

berindikasi jangka panjang sehingga akan mempunyai kontribusi bagi pertumbuhan

ekonomi secara berkesinambungan. Jadi berdasarkan pengertian diatas idealnya bank

s ari’ah adalah bank bagi hasil yang mengedepankan konsep loss and profit sharing dalam pegembangan produknya. Dalam pengembangannya ia menggunakan konsep

muamalah Islamiyah ala indonesia yang diijtihadkan MUI (Majelis Ulama Indonesia)

melalui DSN (Dewan “ ari’ah Nasional), lalu prakteknya diawasi oleh DPS (Dewan

19 Munawir, Akuntansi Keuangan dan Manajemen..., hlm. 268.

(9)

9

Pengawas “ ari’ah) sehingga akan menciptakan suatu mekanisme perbankan yang

diharapkan mampu memberi kemaslahatan objektif bagi umat seluruh alam.

Namun fakta yang ada sekarang adalah perkembangan bank s ari’ah didominasi

oleh produk jual beli terutama murabahah yang berdasarkan data pada Juni 2012

menunjukkan pembiayaan dengan akad murabahah mencapai sebesar Rp.46,16 triliun,

sementara pembiayaan musyarakah sebesar Rp.16,295 triliun dan mudharabah sebesar

Rp.9,549 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa ketertarikan nasabah pada perbankan

s ari’ah masih didominasi oleh faktor idealitas bukan objektifitas kualitasnya, hingga mereka lebih tertarik menggunakan pembiayaan jangka pendek yang beresiko lebih

kecil dibandingkan mudharabah atau musyarakah yang bersifat jangka panjang. Hal ini

secara objektif kembali menunjukkan kelemahan bank s ari’ah sebagai bank bagi hasil

dalam mengaplikasikan dan mensosialisasikan produk-produknya.

Hingga sekarang permasalahan-permasalahan klasik bank s ari’ah seakan

menemui jalan buntu dalam penyelesaiannya, karena dampak dari solusi-solusi yang

pernah ditawarkan belum dapat dirasakan. Pencapaiannya baru sebatas memberi

pengetahuan belum dapat menimbulkan kemauan yang objektif untuk melirik bank

s ari’ah sebagai media intermediasi uangnya karena itu timbul kesenjangan antara keinginan dan pemahaman. Disisi lain kompetensi sumber daya insani perbankan

s ari’ah belum bisa dikatakan memadai untuk melakukan investasi pola bagi hasil yang

diharapkan.21

Sesuai dengan tingginya pertumbuhan penghimpunan dana telah dapat diimbangi

dengan pertumbuhan penyaluran dana kepada sektor riil baik berupa pembiayaan

(mudharabah dan musyarakah), piutang (murabahah, istishna, dan qardh), dan dalam

bentuk pembiayaan ijarah. Sehingga fungsi intermediasi perbankan dapat relatif terjaga

yang tercermin dari FDR agregat perbankan s ari’ah tercatat cukup tinggi yaitu sebesar

95,08% meningkat jika dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya yang tercatat

sebesar 94,76%. Selain fungsi intermediasi, untuk memberikan pelayanan dengan

jangkauan yang lebih luas bagi masyarakat, akses jaringan perkantoran meningkat

menjadi 1.688 dari 1.388 (Oktober 2010) kantor pada tahun sebelumnya. Perluasan

jaringan kantor tersebut telah mampu meningkatkan pengguna bank s ari’ah yang

21Maula a Ha zah, Pe ge a ga Per a ka “ ari’ah “e ara O jektif da Rasio al Dengan

(10)

10 tercermin dari peningkatan jumlah rekening yaitu 2,11 juta rekening dari 6,55 juta

rekening menjadi 8,66 juta rekening (yoy).22

Ada banyak faktor yang mempengaruhi besar kecilnya pembiayaan yang disalurkan

oleh bank syari’ah, aik faktor ekster al aupu i ter al a k s ari’ah se diri. Faktor

i ter al a k s ari’ah iasa a di akili oleh ko disi keua ga , dala hal i i elalui lapora keua ga a g dikeluarka atau dipu likasika oleh a k s ari’ah. “e e tara

faktor ekter al a k s ari’ah iasa a di akili oleh ti gkat agi hasil return) atau

ekspektasi keu tu ga a g diperoleh a k s ari’ah.

Persoalan yang mucul adalah apakah faktor internal maupun ekternal mampu

mempengaruhi terhadap proses pembiayaan yang ada pada bank s ari’ah? Dari

beberapa penelitian menemukan beberapa faktor yang menjadi pengaruh terhadap

jumlah besar kecilnya pembiayaan diantaranya adalah faktor besarnya dana pihak

ketiga (DPK), bagi hasil, luasnya jaringan bank, 5 C, tabungan / deposito mudharabah,

margin (keuntungan yang diharapkan), dan beberapa rasio keuangan seperti rasio FDR, NPF dan lainnya. Tentu dari faktor tersebut perlu adanya penelitian lebih lanjut

mengenai faktor apa sajakah yang bisa berpengaruh tehadap aktivitas pembiayaan

pada bank s ari’ah.

2. Masalah Manajemen

a. Problem Sumber Daya Manusia

Pesatnya perkembangan bank s ari’ah di Indonesia, belum terimbangi dengan

jumlah SDM yang memiliki kompetensi, yang secara khusus memiliki kualifikasi di

bidang s ari’ah. Minimnya SDM yang mampu memahami praktek keuangan dan

perbankan serta terimbangi dengan kemampuan memahami kaedah-kaedah

s ari’ah, akan mengganggu operasional bank s ari’ah tersebut. Keberadaan SDM merupakan bagian yang sangat penting dan memiliki peran terbesar di dalam

perkembangan dan kemajuan perbankan s ari’ah. Untuk mengatasi permasalahan

SDM yang cukup mendesak ini, bank s ari’ah dapat melakukan kerjasama dengan

perguruan tinggi-perguruan tinggi yang memiliki basis keilmuan s ari’ah, untuk

melakukan pelatihan ataupun pendidikan Ilmu-ilmu s ari’ah yang berkaitan dengan

keuangan atau perbankan s ari’ah.

(11)

11

Untuk lebih jauh dan mempersiapkan secara matang SDM perbankan s ari’ah

di masa mendatang, seluruh unsur yang berkepentingan di perbankan s ari’ah

ataupun lembaga keuangan s ari’ah lainnya, harus memasukkan ilmu-ilmu yang

berkaitan dengan bank dan keuangan s ari’ah ke dalam kurikulum pendidikan, baik

dari tingkat SMU hingga Perguruan Tinggi. Hal ini merupakan awal dari

pembentukan generasi yang mumpuni di bidang perbankan s ari’ah dan/atau

ekonomi s ari’ah/ Islam.

b. Problem Sosialisasi

Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang perbankan s ari’ah,

disebabkan oleh minimnya sosialisasi yang dilakukan oleh bank s ari’ah ke berbagai

lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun yang tinggal di pedesaan. Tidak

hanya masyarakat non-muslim, masyarakat muslim pun yang merupakan basis

nasabah emosional, sedikit sekali yang tahu dan paham tentang operasional bank

s ari’ah. Ironis memang, tapi ini adalah fakta yang harus segera menjadi program

garapan bank s ari’ah untuk menyentuh kantong-kantong basis masanya. Untuk

mengatasi persoalan yang dihadapi ini, seluruh komponen umat Islam harus

bersinergi untuk mensosialisasikan keberadaan dan sistem operasional bank

s ari’ah. Tidak hanya para praktisi perbankan s ari’ah, tapi juga para intelektual di perguruan tinggi, ulama, begitupun pemerintah harus ikut serta mensosialisasikan

perbankan s ari’ah.

Sosialisasi perbankan s ari’ah kepada masyarakat luas harus dioptimalkan,

khususnya kepada para ulama yang menjadi panutan bagi masyarakat. Dapat juga

para ulama ini dijadikan ujung tombak dari sosialisasi ini kepada masyarakat.

D. Harapan Masa Depan

Meskipun perkembangan perbankan syari’ah cukup mengesankan tetapi belum bisa

mengangkat skala volume usaha nasional. Masih diperlukan perjalanan panjang untuk

meningkatkan kuantitias dan kualitas perbankan s ari’ah. Penyebab masih kecilnya skala

volume perbankan s ari’ah sebenarnya memiliki beberapa faktor. Dengan kata lain

fenomena keterbelakangan ini memiliki faktor multidimensional. Karena itu untuk

(12)

12 program akselerasi oleh Bank Indonesia yang ada seharusnya dapat menjadi pemicu

percepatan perbankan s ari’ah.

Sinergitas dari semua kalangan baik regulator, akademisi, praktisi, ulama dan harus

terwujud agar tidak ada ketimpangan dalam mengakselerasikan perbankan s ari’ah di

Indonesia. Peran aktif dari masyarakat merupakan faktor penting dalam mempercepat

perbakan s ari’ah karena masyarakatlah yang menjadi sasaran perbankan karena sebagai

pemilik dana. Untuk menarik dana dari masyarakat, perbankan s ari’ah harus bisa

membuktikan kepada masyarakat tentang keunggulannya, contoh kualitas jasa perbankan

dan produk yang lebih mengena kepada masyarakat.

Meskipu per a ka s ari’ah e gala i pertu uha high growth), namun i dustri per a ka s ari’ah asih harus e gatasi e erapa ta ta ga , agar dapat mempertahankan pertumbuhan yang tinggi tersebut secara lebih berkesinambungan.

“etidak a ada ta ta ga uta a per a ka s ari’ah selai ta ta ga -tantangan lainya

yang juga perlu dihadapi:23

a. Sumber Daya Manusia. Dengan semakin meningkatnya kapasitas ekspensi BUS dan UUS

di masa depan, maka semakin menuntut penambahan SDM berkualitas dalam jumlah

memadai.

b. Aspek Regulasi. Pengembangan perbankan s ari’ah tidak terlepas dari aspek regulasi.

Jika ketentuan perundang-undangan tidak kondusif bisa menghambat pertumbuhan

perbankan s ari’ah, karena itu dukungan dari aspek hukum saat ini sangat mendesak

untuk dipenuhi. Untuk itu masyarakat ekonomi s ari’ah dan ikatan ekonomi Islam

Indonesia serta MUI harus mengawal dan mendesak terus janji pemerintah untuk

segera mengeluarkan beberapa UU yang terkait.

c. Optimalisasi Jaringan Pelayanan. Kebijakan office chanelling pada dasarnya terfokus

untuk menjawab masalah cakupan pelayanan perbankan yang terbatas. Namun, sangat

disayangkan pembukaan office chanelling tersebut tidak diimbangi dengan progam

edukasi dan sosialisasi.

d. Inovasi Produk. Keberhasilan sistem perbankan s ari’ah di masa depan akan tergantung

kepada kemampuan bank-bank s ari’ah menyajikan produk-produk yang menarik,

kompetitif, sesuai kebutuhan masyarakat, tetapi sesuai dengan prinsip-prinsip s ari’ah,

23Yulli Tris a ati, Prospek Pertu uha Ba k “ ari’ah da Ta ta ga a di Masa a g Aka

(13)

13

karena itu perbankan s ari’ah harus lebih kreatif dan inovatif dalam mendesign pro

duk-produknya.

Menurut identifikasi Bank Indonesia, yang disampaikan pada seminar Akhir Tahun

perbankan s ari’ah 2005, kendala-kendala perkembangan bank s ari’ah di samping imbas

kondisi makro ekonomi, juga dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:24

a. Jaringan kantor pelayanan dan keaungan s ari’ah masih relatif terbatas.

b. SDM yang kompeten dan profesional masih belum optimal.

c. Pemahaman masyarakat terhadap Bank “ ari’ah sudah cukup baik, namun minat untuk

menggunakannya masih kurang.

d. Sinkronisasi kebijakan dengan intitusi pemerintah lainnya berkaitan dengan transaksi

keuangan, seperti kebijakan pajak dan aspek legal belum maksimal.

Bank Indonesia dan para stakeholder yang terlibat lainnya yakin bahwa

pengembangan bank s ari’ah dianggap masih mempunyai prospek yang tinggi, jika kendala

jaringan dapat diatasi. Hal tersebut diyakini karena peluang yang besar dan dapat dilihat

dari hal-hal sebagai berikut:25

a. Respon masyarakat yang antusias dalam melakukan aktivitas ekonomi dengan

menggunakan prinsip-prinsip s ari’ah.

b. Pengembangan instrumen keuangan s ari’ah yang diharapkan akan semakin menarik

investor/ pelaku bisnis masuk dan membesarkan industri perbankan s ari’ah nasional.

c. Potensi investasi dari negara-negara Timur Tengah dalam industri perbankan s ari’ah

nasional.

Tantangan yang sangat jelas terlihat pada masa yang akan datang dari perbankan

s ari’ah nasional adalah bagaimana menjaga laju pertumbuhan pembiayaan dengan kinerja yang juga baik dalam menekan tingkat pembiayaan bermasalahnya. Di samping itu,

tantangan yang lain juga harus diperhatikan adalah pembiayaan perbankan s ari’ah masih

terkonsentrasi menggunakan akad beresiko kecil yaitu produk-produk menggunakan akad

berbasis jual beli serta masih berada pada sektor-sektor ekonomi yang belum variatif, yaitu

masih dominan berada pada sektor jasa dan perdagangan.

24 Ibid.

(14)

14 Di luar perkembangan fisik yang terlihat ini, diharapkan pada tahun-tahun

mendatang perkembangan industri perbankan s ari’ah nasional juga semakin

memperlihatkan keberkahannya berupa kemanfaatan bagi masyarakat dhuafa. Oleh karena

itu, mungkin sebaiknya diperkenalkan pula variabel/angka perkembangan berupa derajat

kemanfaatan ini sebagai parameter kemanfaatan perbankan s ari’ah nasional bagi

masyarakat yang selama ini tidak terjangkau oleh industri perbankan yang terbilang mapan.

Semoga usaha-usaha pengembangan industri ini oleh pihak-pihak terkait, semakin

dimudahkan oleh Allah swt. Sehingga perbankan s ari’ah nasional mampu berperan

signifikan dalam perkembangan nasional dan lebih luas lagi dalam mendukung

perekonomian nasional.

E. Kesimpulan

Ba k s ari’ah di I do esia e iliki pote si ukup esar u tuk e jadi piliha utama dan pertama bagi nasabah dalam pilihan transaksi. Hal ini ditunjukan dengan akselerasi

pertu uha da perke a ga a k s ari’ah di I do esia dari tahu ke tahu terus meningkat. Untuk itu, penerapan strategi yang tepat dalam menciptakan pangsa pasar yang

lebih besar bagi perbankan syari’ah adalah hal yang sangat perlu dilakukan.

Fe o e a perke a ga a k s ari’ah i i harus dii a gi de ga kualitas da

fasilitas yang memadai, seperti kinerja bank s ari’ah sangat penting diperlukan bagi para

investor baik itu kinerja keuangan maupun manajemen perusahaan, karena informasi

kinerja perusahaan baik itu dari kinerja keuangan dan manajemen dapat dijadikan sebagai

dasar pengambilan keputusan investor/nasabah dalam memilih investasi pada suatu

per a ka s ari’ah.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bank yang sehat adalah bank yang dapat

menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, bank yang sehat adalah bank

yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi

intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan

oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan moneter.

Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan yang

(15)

15 Daftar Pustaka

Bank Indonesia, Outlok Perba ka Syari’ah di I do esia , Jakarta: Direktorat Perbankan

“ ari’ah, .

Bank Indonesia, Statistik Perba ka Syari’ah Ju i , Jakarta: Direktorat Perbankan

“ ari’ah, .

Baridwan, Zaki, Intermediate Accounting, edisi VIII, Yogyakarta: BPFE, 2004.

Gustia Jua da, dkk, A alisis Ki erja Ba k “ ari’ah Diti jau dari Perspektif Keua ga da

Pelanggan: Studi Kasus Pada Bank “ ari’ah Ma diri da Bank Mua alat I do esia,

makalah dalam InternationalSeminarandSymposiumon Implementation of Islamic

Economics To Positive Economics in The World as Alternative of Conventional Economics System: Toward Development in The New Era of The Holistic Economics, UNAIR, Surabaya, Agustus 2008.

Ha zah, Maula a, Pe ge a ga Per a ka “ ari’ah “e ara O jektif da Rasio al

Dengan Pe dekata Meka is e Pasar, Jurnal Ekonomi Islam La Riba, Volume 2.

Nomor 1, Juli 2008.

Ha iz, Moha ad, Pengaruh Potensi, Preferensi, Serta Perilaku Konsumen Terhadap Usaha Pe asara Ba k “ ari’ah di I do esia, Jurnal MUAMALAH SEF UGM, Volume 4, Januari 2007.

Husnan, Suad dan Enny Pudjiastuti, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, edisi IV,

Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2004.

Husnan, Suad, Manajemen Keuangan: Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang),

edisi IV, Yogyakarta: BPFE, 2008.

Muhammad, Ma aje e Da a Ba k Syari’ah, Yogyakarta: Ekonisia, 2002.

Muha ats ah, Ali, Pe garuh Karakteristik Perusahaa da Makro Eko o i Terhadap Retur da Beta “aha “ ari’ah Pada Perusahaa yang Terdaftar di Jakarta Islamic Inde JII , Skripsi: Fakultas “ ari’ah da Huku UIN “u a Kalijaga .

Munawir, Akuntansi Keuangan dan Manajemen, edisi I, Yogyakarta: BPFE, 2002.

Sartono, Agus, Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi, edisi IV, Yogyakarta: BPFE, 2001.

Sumarta, Nurmadi H. da Yogi a to HM, E aluasi Ki erja Perusahaa Per a ka yang

Terdaftar Di Bursa Efek I do esia da Thaila d, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, September 2000.

Referensi

Dokumen terkait

V3 beradaptasi secara spesifik pada lingkungan tumbuh yang sama dengan lokasi penanaman kencur di Cileungsi, Cijeruk dan lokasi asalnya di Sumedang dengan rata-rata produksi

Definisi Teknologi Intruksional dirumuskan oleh Miarso (2012 : 137) adalah teknologi Intruksional adalah suatu cara yang sistematik untuk merancang, melaksanakan

Adanya interaksi antara kompos blotong dan pupuk nitrogen terhadap bobot kering brangkasan, hal ini diduga akibat penambahan pupuk dasar seperti SP36 dan KCl yang digunakan

Puji dan Syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh

(Barbodes gonionotus) merupakan jenis yang paling melimpah, dan yang tersebar paling luas di lokasi penelitian adalah ikan bulowo

Populasi studi adalah semua siswa SDN Jaka Mulya Kota Bekasi,dengan menggunakan teknik Random Sampling. Populasi penelitian sebanyak 68 siswa. Waktu penelitian pada

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proses pendampingan anak sosiopatik di Panti Sosial Marsudi Putra Dharmapala Indralaya sudah cukup baik karena dalam

Berdasarkan data pada Puskesmas Perawatan Kota Blangkejeren bulan Januari s/d Maret 2012 dari jumlah kunjungan 1222 pasien Askes kepuskesmas tersebut yang dirujuk berdasarkan