• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM MENIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERANAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM MENIN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Abad 21 ini merupakan era reformasi dan globalisasi yang ditandai dengan munculnya persaingan bebas antar bangsa. Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan merumuskan kurikulum yang dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap,

keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi yaitu kurikulum 2013. (Ritma, et al. 2015). Kurikulum 2013 didesain berdasarkan pada budaya dan karakter bangsa, berbasis peradaban, dan berbasis pada kompetensi (Resti, 2013).

Kurikulum 2013 berbasis proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba.

Pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari

berbagai sumber observasi, mampu merumuskan masalah (menanya) bukan hanya menyelesaikan masalah (Permendikbud No. 58, 2014).

Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung. Proses pembelajaran langsung adalah proses pendidikan di mana peserta didik

mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan

psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. (Taufik, 2013).

Kurikulum 2013 menerapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran, yang dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir berkaitan dengan pola

pembelajaran, yaitu berpusat pada peserta didik dan pembelajaran bersifat aktif-mencari. Hal ini dikarena pembelajaran merupakan proses ilmiah sehingga pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan

(2)

Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan saintifik harus dipandu dengan kaidah pendekatan ilmiah, sehingga proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai, prinsip, atau kriteria ilmiah (Daryanto, 2014). Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach)

meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran (Permendikbud, 2013).

Mencoba merupakan keterampilan proses untuk mengembangkan

pengetahuan tentang alam sekitar dengan menggunakan metode ilmiah dan sikap ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Untuk memperoleh hasil belajar yang otentik, peserta didik harus melakukan percobaan, terutama untuk materi/substansi yang sesuai dan aplikasi dari kegiatan

mencobapun dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar (sikap, keterampilan, danpengetahuan). Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini yaitu: menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum, mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan, mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya, melakukan dan mengamati percobaan, mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data, menarik simpulan atas hasil percobaan, dan membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan (Permendikbud, 2013).

Pembelajaran biologi pada dasarnya harus mampu membekali siswa

bagaimana cara mengetahui konsep, fakta secara mendalam, serta harus mampu memberikan kepuasan intlektual terutama dalam membangun kemampuaan berpikir. Hal ini dikarena kemampuan berpikir akan berimplikasi terhadap pengetahuan (kognitif), sikap (apektif), dan keterampilan (pisikomotor). Nurul (2013) menyebutkan Pembelajaran berpendekatan saintifik merupakan

(3)

mengarahkan proses belajar yang dilakukan siswa dan memberikan koreksi terhadap konsep dan prinsip yang didapatkan siswa. Dari pengertian pembelajaran berpendekatan saintifik, maka pembelajaran biologi sebagai produk dan proses sangat cocok untuk di ajarkan mengunakan pembelajaran berpendekatan saintifik. Pendekatan saintifik memiliki hubungan erat dengan pembelajaran sains biologi karena pendekatan pembelajaran ini menekankan pada keaktifan siswa dalam belajar, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun konsep dalam pengetahuannya secara mandiri, membiasakan siswa dalam merumuskan, menghadapi, dan menyelesaiakan permasalah yang ditemukan.

Penyelidikan atau percobaan dapat melatih siswa untuk memperoleh keterampilan proses sains (Riess dalam Rusmiyati, 2009). Dari keterampilan proses sains yang dilatihkan, diharapkan siswa mampu menguasai keterampilan proses sains seperti mengamati, merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengidentifikasi variabel, mengkomunikasikan dan menyimpulkan. Hal ini dapat membantu siswa dalam mengingat hasil belajar yang telah diperoleh dalam jangka panjang, karena siswa ikut terlibat sepenuhnya dalam proses kegiatan

pembelajaran. (Ritma, 2015). Hal ini didukung oleh hasil penelitian dari (Marjan, 2014), bahwa pembelajaran melalui pendekatan santifik mampu meningkatkan keterampilan proses sains dasar, disebabkan karena pendekatan ini memberikan keterlibatan langsung siswa dalam menggali dan menemukan konsep berdasarkan fakta yang mereka temukan.

Berdasarkan pemaparan diatas maka perlu diketahui peranan pembelajaran santifik dalam meningkatkan keterampilan poses sains, disebabkan karena pendekatan ini memberikan keterlibatan langsung siswa dalam menggali dan menemukan konsep berdasarkan fakta yang mereka temukan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari permasalahan diatas yaitu bagaimana peranan

(4)

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mendeskripsikan peranan pembelajaran saintifik dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa pada materi biologi.

1.4 Manfaat Penulisan Makalah

(5)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Keterampilan Proses Sains

Menurut Samiawan (1992), keterampilan proses merupakan keterampilan fisik dan mental yang berkaitan dengan kemampuan dasar (asas) yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan saintifik. Proses-proses yang digunakan oleh saintis untuk menjalankan penyiasatan merupakan proses-proses yang membawa kepada penyelesaian masalah dan penemuan. Menurut Poh (1997) bahwa keterampilan proses sains merupakan cara untuk memperoleh dan

meyiasati pengetahuan sains. Keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar.

Menurut Gega (1994) keterampilan proses digunakan oleh para ilmuwan (saintis) dalam memecahkan masalah. Menurut Widyaningtyas (2007), dan Balfaikha (2010) bahwa salah satu bagian dari pelaksanaan evaluasi dalam proses pembelajaran adalah penilaian keterampilan proses yang penilaiannya meliputi kemampuan atau keterampilan mengamati, menggolongkan menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan.

Keterampilan proses sains (KPS) adalah pendekatan yang mengarahkan bahwa untuk menemukan pengetahuan memerlukan suatu keterampilan mengamati, melakukan eksperimen, menafsirkan data mengomunikasikan gagasan dan sebagainya. Keterampilan-keterampilan tersebut dapat digunakan menemukan pengetahuan alam yang kemudian disebut keterampilan proses IPA. Keterampilan proses sains penting diajarkan kepada siswa untuk memperkaya pengetahuannya. (Alanindra, 2012). Keterampilan proses sains pada hakikatnya adalah kemampuan dasar untuk belajar (basic learning tool) yaitu kemampuan yang berfungsi untuk membentuk landasan pada setiap individu dalam

(6)

Keterampilan kognitif atau intelektual terlibat karena dengan melakukan

keterampilan proses siswa menggunakan pikirannya. Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat. Dengan keterampilan sosial

dimaksudkan bahwa mereka berinteraksi dengan sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar (Rustaman, 2005). Menurut Nuryani (2005), keterampilan proses sains terdiri atas observasi, menafsirkan, klasifikasi,

meramalkan, berkomunikasi, berhipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan mengajukan pertanyaan.

1. Melakukan Percobaan (Observasi)

Mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan proses yang lain. Mengamati merupakan tanggapan kita terhadap berbagi objek dan peristiwa alam dengan menggunakan panca indera. Menggunakan indera penglihat, pembau, pendengan, pengecap, dan peraba pada saat melakukan pengamatan. Menggunakan fakta yang relevandan memadai dari hasil pengamatan juga termasuk ketrampilan proses mengamati.

2. Menafsirkan (interpretasi)

Mencatat hasil pengamatan secara terpisah antara hasil utama dan hasil sampingan termasuk menafsirkan atau interpretasi. Menurut Evi (2015), menafsirkan data atau interpretasi data biasanya memerlukan dua langkah dasar. Pertama, membaca digram, grafik atau tabel untuk memperoleh informasi tertentu. Kemudian menerapkan informasi untuk mendapatkan jawaban.

3. Mengelompokkan (Klasifikasi)

Dalam proses pengelompokkan terjadi beberapa kegiatan seperti mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan. Klasifikasi merupaka keterampilan proses untuk memilah berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya, sehingga didapatkan golongan/kelompok sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud.

(7)

Keterampilan memprediksi adalah keterampilan

menduga/memperkirakan/meramalkan beberapa kejadian/keadaan yang akan terjadi berdasarka kejadian sekarang (yang telah diketahui,

keterampilan menggunakan grafik untuk menyisipkan dan meramalkan dugaan-dugaan). (Evi, 2015). Prediksi didasari pada pola atau

kecenderungan tertentu, atau hubungan antar fakta, konsep, dan prinsip dalam ilmu pengetahuan.

5. Berkomunikasi

Keterampilan mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil pengamatan yang berhasil dikumpulkan atau menyampaikan hasil penyelidikan, tang dapat dikembanagkan dengan cara menghimpun informasi dari grafik atau gambar yang mejelaskan benda/kejadian secara rinci. (Evi, 2015).

6. Berhipotesis

Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variabel, atau mengajukan perkiraan penyebab suatu terjadi. Menurut Evi (2015), hipotesis adalah ramalan atau prediksi yang bersifat khusus, yaitu meramalkan suatu variabel akan mempengaruhi variabel lainnya.

7. Merencanakan percobaan atau penyelidikan

Dalam penyusunan rencana kegiatan peneliti perlu ditentukan cara

mengolah data untuk didimpulkan, maka dalam merencanakan penyelidikan terlibat kegiatan menentukan cara mengolah data sebagai bahan untuk menarik kesimpulan.

8. Menerapakan konsep/prinsip

Setelah melakukan penyelidikan, siswa dapat menjelaskan peristiwa tersebut dengan menerapkan konsep yang telah dipelajari sebelum melakukan penyelidikan. Hal ini merupaka suatu penerapan konsep yang telah dipelajari dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

9. Mengajukan pertanyaan

Pertanyaan yang diajukan dapat meminta penjelasan, tentang apa, mengapa, bagaimana, atau menanyakan latar belakang hipotesis. Kemampuan

(8)

Indikator dalam pencapaian keterampilan proses sains dijabarkan dalam tabel 1.

Tabel 1. Keterampilan proses sains dan indikatornya

Keterampilan Proses Sains Indikator

Mengamati/Observasi 1. Menggunakan sebanyak mungkin indera 2. Mengumpulkan atau menggunakan fakta

yang relevan

Mengelompokkan/Klasifikasi 1. Mencatat setiap pengamatan secara terpisah 2. Mencari perbedaan, persamaan

3. Mengontraskan ciri-ciri 4. Membandingkan

5. Mencari dasar pengelompokkan atau penggolongan

6. Menghubungkan hasil-hasil pengamatan Menafsirkan/Interpretasi 1. Menghubungkan hasil-hsil pengamatan

2. Menemukan pola dalam suatu seri pengamatan

3. Menyimpulkan

Mengajukan pertanyaan 1. menggunakan pola-pola hasil pengamatan 2. mengemukakan apa yang mungkin terjadi

pada keadaan yang belum diamati Berhipotesis 1. Mengetahui bahwa ada lebih dari satu

kemungkinan penjelasan dari satu kejadian 2. Menyadari bahwa suatu penjelasan perlu

diuji kebenarannya dengan memperoleh bukti lebih bnayak atau melakukan cara pemecahan masalah

Merencanakan percobaan 1. Menentukan alat/bahan/sumber yang akan digunakan

2. Menentukan variabel/faktor penentu 3. Menentukan apa yang kan diukur, diamati,

dan dicatat

4. Menentukan apa yang akan dilaksanakan berupa langkah kerja

Menggunakan alat/bahan 1. Memakai alat/bahan

2. Mengetahui alasan mengapa menggunakan alat/bahan

(9)

alat/bahan

Menerapkan konsep 1. Menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru

2. Menggunakan konsep pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi

Berkomunikasi 1. Mengubah bentuk penyajian

2. Memberikan/menggambarkan data empiris hasil percobaan atau pengamatan dengan grafik, tabel atau digram

3. Menyusun dan menyampaikan laporan secara sitematis

4. Menjelaskan hasil percobaan atau penelitian 5. Mebaca grafik, tabel atau digram

6. Mendiskusikan hasil kegiatan, suatu masalah atau suatu peristiwa

Keterampilan proses dianggap sangat penting untuk pembelajaran sains. Semiawan (1992) mengemukakan alasan terbut, yaitu:

1. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat membuat para guru tidak mungkin lahi untuk mengajarkan semua fakta dan konsep yang ada kepada para muridnya.

2. Anak-anak akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai contoh konkret.

3. Untuk menanamkan sikap ilmiah dan melatih melakukan penyelidikan ilmiah. 4. Merupakan wahana yang tepat untuk pengembangan konsep dan

pengembangan sikap serta nilai.

Berdasarkan hasil dari berbagai penelitian, keterampilan proses sains memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:

1. Memberi bekal cara memperoleh pengetahuan

2. Ketarampilan proses merupakan hal yang sangat penting untuk pengembangan pengetahuan masa depan

3. Keterampilan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatakan keterampilan berpikir dan cara memperoleh pengetahuan.

(10)

1. Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyelesaikan bahan ajar yang ditetapkan oleh kurikulum.

2. Memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidaj semua sekolah dapt menyediakannya.

3. Merumuskan masalah, menyusun hipotesis, merancang suatu percoban untuk memperoleh data yang relecan adalah pekerjaan sulit, tidak setiap siswa mampu melakukannya.

2.2. Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah sintis dalam mengembangkan pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “scince of inquiry” dan kemapuan berpikir kreatif siswa. Model pembelajaran yang dibutuhkan adlah yang mampu menghasilkan kemampuan untuk belajar, bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi yang lebih penting adalah begaiamana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh peserta didik (Budiyono Dion, 2014).

Pendekatan saintifik dalam pembelajaran meliputi lima pengalaman belajar yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/ mencoba, menalar/ mengasosiasi, dan mengomunikasikan (Permendikbud No. 103, 2014).

Pendekatan saintifik dapat memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran dengan berbasis pendekatan saintifik harus dipandu dengan kaidah pendekatan ilmiah, sehingga proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai, prinsip, atau kriteria ilmiah (Daryanto, 2014).

Kriterian pendekatan saintifik menurut Permendikbud (2013) yaitu : 1.) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat

dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

(11)

3.) Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.

4.) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.

5.) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami,

menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.

6.) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.

7.) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.

Pendekatan saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namun, proses pembelajaran dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran saintifik menekankan pada keterampilan proses. Model

pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains kedalam sistem penyajian materi, dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, mambangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya. Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembanagan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan, dan

mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan (Marsigit, 2013).

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data/informasi, menalar, dan mengkomunikasikan (Permendikbud, 2013).

(12)

observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Melalui mengamati gambar, peserta didik dapat secara langsung

menceritakan kondisi sebagaimana yang di tuntut dalam Kompetensi Dasar (KD) dan indikator, dan mata pelajaran apa saja yang dapat dipadukan dengan media yang tersedia (Permendikbud, 2013).

(2.) Kegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun

pengetahuan siswa dalam bentuk konsep, prinsip, prosedur, hukum, dan teori, hingga berpikir metakognitif. Tujuannya agar siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi.secara kritis, logis, dan sistematis. Proses menanya dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok, kerja kelompok, dan diskusi kelas.

(3.) Kegiatan mencoba bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan siswa untuk memperkuat pemahaman konsep dan pronsip/prosedur dengan mengumpulkan data, mengembalikan kreatifitas, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan ini mencakup merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, serta memperoleh, menyajikan, dan mengolah data (Syofia, 2016). Mencoba merupakan keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar dengan menggunakan metode ilmiah dan sikap ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Untuk memperoleh hasil belajar yang otentik, peserta didik harus melakukan percobaan, terutama untuk materi/substansi yang sesuai dan aplikasi dari kegiatan mencobapun dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar (sikap, keterampilan, dan pengetahuan). Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk

mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini yaitu: menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum, mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan, mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil

(13)

atas hasil percobaan, dan membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan (Permendikbud, 2013).

(4.) Kegiatan menalar bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Data yang diperoleh dibuat klasifikasi, diolah, dan

ditemukan hubungan-hubungan yang lebih spesifik (Syofia, 2016). Menalar merupakan proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Menalar (associating) merujuk pada teori belajar asosiasi, yaitu kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori dalam otak dan

pengalaman-pengalaman yang tersimpan di memoriotak berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya (asosiasi) (Permendikbud, 2013).

(5.) Kegiatan mengkomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengkomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi, membuat laporan, dan/atau unjuk karya (Syofia, 2016).

2.3. Peranan Pembelajaran Saintifik dalam Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa

Kegiatan pembelajaran saintifik yang terdiri dari kegiatan mengamti, menanya, mencoba/mengumpulkan data, mengasosiasi, dan mengkomunikasi menekankan pada peningkatan keterampilan proses sains siswa. Hal ini sejalan dengan Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyatakan kegiatan mencoba merupakan

keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar dengan menggunakan metode ilmiah dan sikap ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Kegiatan mencoba yang terdiri dari merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, serta

(14)

menafsirkan, mengelompokkan, berkomunikasi, berhipotesis, merencakan percobaan atau penyelidikan, menerapkan konsep dan mengajukan pertanyaan. Hal ini sejalan denga hasil penelitian dari Ritma (2015) yang menyebutkan bahwa Pembelajaran IPA lebih menekankan pada penerapan keterampilan proses. Aspek-aspek pada pendekatan saintifik terintegrasi pada keterampilan proses dan metode ilmiah. Langkah-langkah metode ilmiah: melakukan pengamatan, menentukan hipotesis, merancang eksperimen untuk menguji hipotesis, menguji hipotesis, menerima atau menolak hipotesis dan merevisi hipotesis atau membuat

kesimpulan. Melalui penerapan pendekatan saintifik pada pembelajaran IPA yang dengan strategi dan metode yang tepat, siswa dapat terlatih dalam keterampilan proses sainsnya.

Johari (2014) menemukakan bahwa pembelajaran pendekatan saintifik lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran langsung dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa MA Kelas X pada pembelajaran biologi. Temuan ini didukung oleh data berikut.

Tabel 2. Data keterampilan proses sains kelas pembelajaran saintifik dan kelas model pembelajaran langsung

Pendekatan Saintifik Pembelajaran Langsung Keterampilan Proses

Sains

Keterampilan Proses Sains

Rata-rata 73,93 64,42

Median 75 64

Skala Deviasi 16,51 16,81

Varian 272,71 282,68

Maksimum 100 96

Minimun 32 23

Rentangan 68 67

N 77 77

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa yang mengikuti pembelajaran pendekatan saintifik lebih tinggi atau lebih baik

(15)

dengan penelitian yang dilakukan Sanjaya (2012) menyatakan bahwa siswa yang diajarkan dengan pembelajaran inkuiri laboratorium mengalami peningkatatan dalam keterampilan berpikir danketerampilan proses sains lebih baik apabila dibandingkan dengan model pembelajaran langsung.

Hubungan antara pembelajaran saintifik dan keterampilan proses sains siswa dapat dijelaskan pada tabel dibwah ini.

Tabel 3. Hubungan antara pembelajaran saintifik dan keterampilan proses sains siswa

Pendekatan Saintifik Keterampilan Proses Sains

Mengamati Melakukan pengamatan

Mengelompokkan

Menanya Mengajukan pertanyaan

Berhipotesis

Mencoba/mengumpulkan data Merencanakan percobaan/penyelidikan Melakukan penyelidikan

Mengasosiasi Menafsirkan

Menerapkan konsep Meramalkan

Mengkomunikasi Berkomunikasi

Kegiatan pembelajaran dalam pendekatan saintifik meliputi kegitan mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasi. Kegiatan mengamati melatih keterampilan proses siswa dalam melakukan pengamatan dan mengelompokkan. Kegiatan menanya melatih keterampilan proses siswa dalam mengajukan pertanyaan dan berhipotesis. Kegiatan mencoba/mengumpulkan data melatih keterampilan proses siswa dalam merencanakan percobaan dan

Gambar

Tabel 2. Data keterampilan proses sains kelas pembelajaran saintifik dan kelas
Tabel 3. Hubungan antara pembelajaran saintifik dan keterampilan proses sains

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “ Dampak Pengembangan Pembelajaran Inkuiri Laboratorium terhadap Kemampuan Inkuiri, Berpikir Kreatif, dan

Peningkatan tertinggi keterampilan berpikir kritis siswa pada pembelajaran hidrolisis garam dengan metode praktikum dan pendekatan inkuiri terstruktur terjadi

Keterampilan berpikir kritis siswa setelah diberikan model pembelajaran inkuiri terbimbing mengalami peningkatan, dikarenakan siswa dilatih untuk menganalisis argumen

Hal ini sesuai pernyataan BSNP (2006: 484) yang menyatakan bahwa pembelajaran PAI sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah ( scientific inquiry ) untuk

Siswa yang dibelajarkan dengan inkuiri terbimbing berbantuan multimedia memiliki rerata postes keterampilan berpikir kritis yang lebih tinggi daripada kelas yang diajarkan

Keterampilan berpikir kritis siswa setelah diberikan model pembelajaran inkuiri terbimbing mengalami peningkatan, dikarenakan siswa dilatih untuk menganalisis argumen

menerapkan model pembelajaran inkuiri dengan pendekatan SETS pada pokok bahasan fluida statis dalam upaya meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa kelas XI

Berdasarkan analisis data (1) pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing terlaksana dengan sangat baik, (2) keterampilan berpikir kritis peserta didik mengalami peningkatan