• Tidak ada hasil yang ditemukan

6 Macam Teori Belajar Untuk Para Tenaga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "6 Macam Teori Belajar Untuk Para Tenaga"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

6 Macam Teori Belajar Untuk Para Tenaga Pendidik

> a. Teori Belajar Menurut Thorndike (Teori Koneksionisme)

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.

Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut :

1) Hukum Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.

Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak.

Masalah-masalah yang terjadi dalam hukum Law of Readiness:

a) Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain.

b) Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.

c) Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.

2) Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.

3) Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya

(2)

makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.

Teori Connectionisme

Edward Lee Thorndike dianggap sebagai ilmuwan behaviorisme terbesar sepanjang sejarah. Teori-teorinya mudah dan dapat dimengerti serta mudah diaplikasikan di dunia nyata. Beberapa teori yang mengusik pikiran para kritikus pendidikan adalah salah satu teori utamanya yang disebut dengan conectionisme.

Edward Lee Thorndike dilahirkan di Williamsburg, Massachusetts tahun 1874. Universitas Wesleyen dan kemudian Universitas Harvard telah membentuk ide-ide Thorndike mengenai psikologi. Teorinya dikenal sebagai connectionism (pertautan, pertalian) karena dia berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses “stamping in” (diingat), forming, hubungan antara Stimulus dan Respons.

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat diterapkan melalui alat indera.

Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakan/tindakan. Stimulus dan respon merupakan upaya secara metodologis untuk mengaktifkan siswa secara utuh dan menyeluruh baik pikiran, perasaan dan perilaku (perbuatan). Salah satu indikadasi keberhasilan belajar terletak pada kualitas respon yang dilakukan siswa terhadap stimulus yang diterima dari guru.

(3)

Dari definisi belajar tersebut menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran koneksionisme (connectionism).

Dalam melakukan eksperimennya, pilihan pertamanya mengadakan penyelidikan terhadap anak-anak (human learning) tetapi kemudian lingkungannya membuat ia mulai mempelajari binatang (animal learning) sebagai penggantinya. Percobaan pada binatang digunakan untuk membuktikan teorinya. Berdasarkan pada serentetan studi mengenai ayam dan kucing Thorndike mengkonsepsikan aktivitas problem solving binatang dengan istilah asosianistis. Melalui murid muridnya dan sejumlah besar kertas kerja dan bukunya, Thorndike secara serentak memberi pengaruh dasar pada penelitian psikologi belajar dan penerapan praktis di dalam psikologi pendidikan.

Pada saat yang hampir sama dengan dilakukan sebuah eksperimen pengkondisian klasik anjing oleh Ivan, E.L Thorndike (1906) sedang mempelajari kucing yang lapar dalam sebuah kotak dan meletakkan ikan diluar kotak. Untuk bisa keluar dari kotak, kucing itu harus mengetahui cara membuat palang di dalam kotak tersebut. Pertama-tama kucing itu melakukan beberapa respons yang tidak efektif. Dia mencakar atau menggigit palang. Akhirnya, kucing itu secara tidak sengat menginjak pijakan yang membuka palang pintu. Saat kucing dikembalikan kekotak, dia melakukan aktivitas acak sampai dia menginjak pijakan itu sekali lagi. Pada percobaan berikutnya, kucing itu semakin sedikit melakukan gerakan acak, sampai dia akhirnya bisa langsung menginjak pijakan itu untuk membuka pintu.

(4)

instrumental (penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki (Hirdzman, 1978). [14]

Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:

S R S1 R1 dst

Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.

Berdasarkan eksperimen diatas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon. Itulah sebabnya, teori koneksionisme juga disebut “S-R Bond Theory” dan “S-R Psychology of Learning, Selain itu, teori ini juga dikenal dengan sebutan “Trial and Error Learning”.

Adapun ciri-ciri belajar dengan Trial and Error Learning yaitu: adanya motif pendorong aktivitas, adanya berbagai respon terhadap situasi dan adanya aliminasi respon-respon yang gagal atau salah. Istilah ini menunjuk pada panjangnya waktu atau banyaknya jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan (Hikgard & Bower, 1975). Apabila kita perhatikan dengan seksama, dalam eksperimen Thorndike tadi akan kita dapati dua hal pokok yang mendorong timbulnya fenomena belajar.

(5)

Kedua, tersedianya makanan di muka pintu puzzle box. Makanan ini merupakan efek. Positif atau memuaskan yang dicapai oleh respons dan kemudian menjadikan dasar timbulnya hukum.

Dasar-dasar teori connectionisme dari Edward Lee Thorndike (1874-1949), diperoleh juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap perilaku binatang. Penelitian-penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang untuk mengetahui apakah binatang mampu memecahkan masalah menggunakan reasoning atau akal, dan atau dengan mengkombinasikan beberapa proses berpikir dasar.

Dalam membuktikan teorinya thorndike melakukan percobaan terhadap seekor kucing yang lapar dan kucing itu ditaruh dalam kandang, yang mana kandang tersebut terdapat celah-celah yang kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat makakanan yang berada diluar kandang dan kandang itu bisa terbuka dengan sendiri apabila seekor kucing tadi menyentuh salah satu jeruji yang terdapat dalam kandang tersebut. mula-mula kucing tersebut mengitari kandang bebarapa kali sampai ia menemukan jeruji yang bisa membuka pintu kandang kucing ini melakuakn respon atu tindakan dengan cara coba-coba ia tidak maengetahui jalan keluar dari kandang tersebut, kucing tadi melakukan respon yang sebanyak-banyaknya sehingga menemukan tindakan yang cocok dalam situasi baru atau stimulus yang ada. Thrndike melakukan percobaan ini berkali-kali pada kucing yang sama dan situasi yang sama pula. Memang pertama kali kucing tersebut, dalam menemuka jalan keluar membutuhkan waktu yang lama dan pastinya mengitari kandang dengan jumblah yang banyak pula, akan tetapi karena sifat dari setiap organisme itu selalu memegang tindakan yang cocok dalam menghadapi situasi atau stimulus yang ada, maka kucing tadi dalam menemukan jeruji yang menyebabkan kucing tadi bisa keluar dari kandang ia pegang tindakan ini sehingga kucing tadi dalam keluar untuk mendaptkan makanan tidak lagi perlu mengitari kandang karena tindakan ini dirasa tidak cocok, akan tetapi kucing tadi langsung memegang jeruji yang menyebabkannya bisa keluar untuk makan.

3.3 Hukum-hukum Belajar dari Edward Lee Thorndike

Thorndike merumuskan hasil eksperimennya ke dalam tiga hukum dasar (hukum primer) dan lima hukum tambahan (subsider).

(6)

law of readiness; jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak atau

bereaksi itu, maka reaksi menjadi memuaskan.

law of exercise; makin banyak dipraktekkan atau digunakannya hubungan stimulasi respon,

makin kuat hubungan itu. Praktek perlu disertai dengan “reward”.

law of effect”; bilamana terjadi hubungan antara stimulus dan respon dan dibarengi dengan

“state of affairs” yang memuaskan, maka hubungan itu menjadi lebih kuat. Bila mana hubungan dibarengi “state of affairs” yang mengganggu, maka kekuatan hubungan menjadi berkurang.

Faktor penting yang mempengaruhi semua belajar adalah reward atau “pernyataan kepuasan dari suatu kejadian”. Dalam penulisan kemudian, Thorndike menghapuskan bagian negatif yang “mengganggu” dari hukum law of effect (hukum pengaruh) karena dia menemukan bahwa hukuman tidak penting. Hukuman akan memperlemah ikatan dan tidak mempunyai efek apa-apa, berbeda dengan hadiah (reward).

Law of excercise (hukum latihan) adalah prinsip belajar yang kedua, yang pada umumnya dinyatakan hubungan antara S dan R akan menjadi semakin kuat dengan makin sering R (respons) dilaksanakan terhadap S (stimulus). Dengan latihan berkali-kali (law of use) hubungan S dan R makin kuat. Hubungan antara stimulus dan respons akan melemah bila latihan dihentikan atau bila hubungan neural (berhubungan dengan urat saraf) tidak ada. Dia juga memodifikasi dalam penulisan tanpa hadiah yang mendapatkan hadiah.

Teori belajar Thorndike mengarah pada sejumlah praktik pendidikan. Saran umum bagi guru adalah tahu apa yang harus diajarkan, respons apa yang diharapkan, dan kapan harus memberikan hadiah atau penguat.

Thorndike menunjukkan satu ikatan antara stimulus dan respons yang terjadi dalam matematika. Ulangan yang tetap dari tabel perkalian dengan pemberian hadiah dari guru akan membentuk ikatan antara stimulus (berapa 7X7) dan respons (49). Dalam membaca ulangan juga ditekankan dengan menyuruh siswa belajar menggunakan kata sesering mungkin pada berbagai tingkat kelas.

(7)

Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis.

Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan antara lain:

 Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response). Hukum ini mengatakan bahwa pada individu

diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

 Hukum Sikap (Set/ Attitude). Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak

hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi, sosial, maupun psikomotornya.

 Hukum Aktifitas Berat Sebelah (Prepotency of Element). Hukum ini mengatakan bahwa

individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif).

 Hukum Respon by Analogy. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon

pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.

 Hukum perpindahan Asosiasi (Associative Shifting). Hukum ini mengatakan bahwa proses

peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.

Selain menambahkan hukum-hukum baru, dalam perjalanan penyamapaian teorinya Thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar yaitu :

(8)

tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon. Dan akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.

Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training, yaitu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.

Adapun Prinsip-Prinsip Belajar yang Dikemukakan oleh Edward Lee Thorndik, yaitu : 1. Pada saat seseorang berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon yang ia lakukan. Adapun respon-respon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama walaupun menghadapi situasi yang sama hingga akhirnya tiap individu mendapatkan respon atau tindakan yang cocok dan memuaskan. Seperti contoh seseorang yang sedang dihadapkan dengan problema keluarga maka seseorang pasti akan menghadapi dengan respon yang berbeda-beda walaupun jenis situasinya sama, misalnya orang tua dihadapkan dengan prilaku anak yang kurang wajar.

2. Dalam diri setiap orang sebenarnya sudah tertanam potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur-unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan respon yang tepat. Seperti orang yang dalam masa pekembangan dan menyongsong masa depan maka sebenarnya dalam diri orang tersebut sudah menegetahui unsur yang penting yang harus dilakukan demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.

3. Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama. Seperti apabila seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh pacarnya dan ia mengalami ini bukan hanya kali ini melainkan ia pernah mengalami kejadian yang sama karena hal yang sama maka sudah barang tentu ia akan merespon situasi tersebut seperti yang ia lakukan seperti dahulu yang ia lakukan.

3.4 Aplikasi Teori Connectionisme terhadap Pembelajaran Siswa

(9)

Tujuan pendidikan harus masih dalam batas kemampuan belajar peserta didikan dan harus terbagi dalam unit-unit sedemikian rupa sehingga guru dapat menerapkan menurut bermacam-macam situasi. Supaya peserta didik dapat mengikuti pelajaran, proses belajar harus bertahap dari yang sederhana sampai yang kompleks.

Dalam belajar, motivasi tidak begitu penting karena perilaku peserta didik terutama ditentukan oleh external rewards dan bukan oleh intrinsic motivation. Yang lebih penting dari ini ialah adanya respon yang benar terhadap stimulus. Bila peserta didikan melakukan respon yang salah, harus segera diperbaiki, sebelum sempat diulang-ulang. Dengan demikian ulangan yang teratur diperlukan sebagai kontrol bagi guru, untuk mengetahui apakah peserta didik sudah melakukan respon yang benar atau belum terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.

Supaya guru mempunyai gambaran yang jelas dan tidak keliru terhadap kemajuan anak, ulangan harus dilakukan dengan mengingat hukum kesepian. Peserta didik yang sudah belajar dengan baik harus segera diberi hadiah, dan bila belum baik harus segera diperbaiki. Situasi belajar harus dibuat menyenangkan dan mirip dengan kehidupan dalam masyarakat sebanyak mungkin, sehingga dapat terjadi transfer dari kelas ke lingkungan di luar kelas. Materi pelajaran yang diberikan kepada peserta didik harus ada manfaatnya untuk kehidupan anak kelak setelah keluar dari sekolah.

Dengan diberikannya pelajaran-pelajaran yang sulit, yang melebihi kemampuan anak, tidak akan meningkatkan kemampuan penalarannya. Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.

(10)

Dengan konsep dasar teori koneksionisme Thorndike tersebut di atas, maka kami mencoba mengaplikasikan ke dalam sebuah perencanaan pembelajaran IPS sebagai berikut: a. Pendahuluan

 Guru meminta salah satu anak maju ke depan untuk memimpin menyanyikan sebuah lagu dari

sabang sampai merauke, sehingga siswa mengawali proses pembelajaran dengan perasaan riang gembira dan bersemangat

 Guru mengingatkan tentang materi pelajaran yang lalu dengan tanya jawab secara lisan. Hal ini

dilakukan agar siswa memiliki bekal yang berkaitan dengan materi yng akan diperoleh.

 Guru mengadakan Pre tes untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum mengikuti

pembelajaran

 Guru menunjukkan gambar-gambar tokoh atau yang lain sesuai dengan topik atau materi

pelajaran yang akan diajarkan untuk membangun kesiapan siswa pada materi pelajaran yang akan diperoleh

b. Kegiatan Inti

 Siswa diminta untuk menunjukkan letak Pulau Irian Jaya pada peta

 Memberi pertanyaan kepada siswa tentang isi Konferensi Meja Bundar yang berkaitan dengan

status Irian Barat

 Membagi kelas menjadi 5 kelompok, setiap kelompok beranggotakan 6 orang mendiskusikan

tentang perjuangan bangsa Indonesia mengembalikan Irian Barat. Kelmpok I.

Menjelaskan Keterkaitan antara isi Perjanjian KMB dengan usaha perjuangan Pengembalian Irian Barat.

Kelompok II

Menjelaskan latar belakang terjadinya perjuangan mengembalikan Irian Barat.

Kelompok III

Mengidentifikasi perjuangan diplomasi dan ekonomi dalam upaya mengembalikan Irian Barat.

(11)

Mengidentifikasi perjuangan dengan konfrontasi politik dalam upaya mengembalikan Irian Barat.

Kelompok V

Mengidentifikasi pelaksanaan Trikomando rakyat (Trikora) untuk merebut Irian Barat.

Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi. Kelompok lain menanggapi sekaligus memberi penilaian kepada kelompok yang presentasi. Kelompok lain memberikan applaus sebagai penghargaan bagi kelompok yang selesai berdiskusi. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan oleh siswa, karena dengan memberikan penghargaan tersebut akan mempengaruhi motivasi dan hasil belajar siswa

c. Kegiatan Penutup

 Guru membimbing siswa menarik kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan

 Memberi soal pos tes, dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi

pelajaran yang telah diperolehnya selama proses pembelajaran.

 Guru melakukan refleksi dengan menanyakan kesan-kesan kepada siswa tentang kegiatan yang

dilakukan, sekaligus membahas kekurangan dan kelebihan pembelajaran pada hari itu

 Guru memberi tugas mempelajari materi berikutnya sebagai upaya membangun kesiapan materi

siswa pada pertemuan yang akan datang.

Adapun temuan di lapangan tentang teori belajar connectionisme yaitu dengan memahaini prinsip conectionisme ini, maka tugas utama pendidik di dalam kelas adalah membuat anak didikiiya memahami manfaat pelajaran yang akan disampaikannya. Manfaat yang dimaksud bukan berarti manfaat yang melambung-lambung, akan tetapi manfaat praktis yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut prinsip connectionisme, mata pelajaran yang tidak dipahami manfaat kesehariaannya, akan sulit pula dipahami oleh siswa. Andaikata pelajaran i tu dapat dihapalkan, akan cepat sekali dilupakan, karena apa saja yang tidak dibutuhkan akan dibuang.

(12)

membutuhkan pelajaran i tu untuk bisa bertahan dalam kehidupan sehari-hari? Akhirnya yang terjadi adalah hapal menghapal asal hapal saja. Andaikata mata pelajaran itu secara material sekilas tidak ada manfaat praktisnya bagi peserta didik, maka di sinilah peran pendidik untuk menekankan manfaat pelajaran yang disampaikan. Mafaat dapat disampaikan dengan menggunakan contoh sehari-hari anak didik yang dikaitkan dengan pelajaran yang diajarkan. Dapat juga ditekankan tentang bagaimana fenomena sehari-hari yang ditemui, pada dasarnya hanya dapat dipahami hanya dengan mata pelajarana tersebut. Misalnya bagairnana pelajaran ekonomi dapat menjelaskan sampai masalah mengapa ibu-ibu anak didik semakin pelit, atau mengapa ayah selalu marah-marah kalau pulang kerja, dan yang lainnya. Pelajaran ekonomi yang hanya menjelaskan teori-teori saja, belum dapat menyentuh rasa butuh anak didik yang pada akhirnya tidak akan mampu membuat mereka memahami pelajaran.

Contoh lain disebuah sekolah kejuruan (SMK), ada pelajaran normatif, adaptif dan produktif. Untuk mata pelajaran produktif, anak selain diberi teori tentang pelajaran tersebut, juga diberikan praktek langsung tentang teori yang sudah diberikan. Mereka di didik langsung berekspenimen mengaplikasikan teori-teori dasar yang sudah diajarkan .

. Kelebihan Teori Belajar Thorndike

Dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, anak didik akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga. Selain itu dengan adanya sistem pemberian hadiah, akan membuat anak didik menjadi lebih memiliki kemauan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

b. Teori Belajar Menurut Skinner

B.F. Skinner dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

(13)

Beberapa prinsip Skinner antara lain :

1) Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika bebar diberi penguat. 2) Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

3) Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

4) Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.

5) Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri. 6) Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah.

7) Dalam pembelajaran digunakan shaping.

g. Kelebihan dan Kekurangan Teori Skinner

Kelebihan

Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan. Kekurangan

Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. B. G. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan

belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.

c. Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne

Gagne membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama, yaitu

(1) Fase Receiving the stimulus situation (apprehending),merupakan fase seseorang memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. (2) Fase Stage of Acquition, pada fase ini seseorang akan dapat memperoleh suatu kesanggupan yang belum diperoleh sebelumnya dengan

(14)

generalisasi adalah fase transfer informasi, pada situasi-situasi baru, agar lebih meningkatkan daya ingat,

siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut. (7) Fase

penampilan adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu, seperti mempelajari struktur kalimat dalam bahasa mereka dapat membuat kalimat

yang benar, dan (8) fase umpan balik, siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan

(reinforcement).

Menurut Robert M. Gagne, ada 8 tipe belajar, yaitu:

1. Tipe belajar tanda (Signal learning)

Belajar dengan cara ini dapat dikatakan sama dengan apa yang dikemukakan oleh Pavlov. Semua jawaban/respons menurut kepada tanda/sinyal.

2. Tipe belajar rangsang-reaksi (Stimulus-response learning)

Tipe ini hampir serupa dengan tipe satu, namun pada tipe ini, timbulnya respons juga karena adanya dorongan yang datang dari dalam serta adanya penguatan sehingga seseorang mau melakukan sesuatu secara berulang-ulang.

3. Tipe belajar berangkai (Chaining Learning)

Pada tahap ini terjadi serangkaian hubungan stimulus-respons, maksudnya adalah bahwa suatu respons pada gilirannya akan menjadi stimulus baru dan selanjutnya akan menimbulkan respons baru.

4. Tipe belajar asosiasi verbal (Verbal association learning)

Tipe ini berhubungan dengan penggunaan bahasa, dimana hasil belajarnya yaitu memberikan reaksi verbal pada stimulus/perangsang.

5. Tipe belajar membedakan (Discrimination learning)

Hasil dari tipe belajar ini adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antar objek-objek yang terdapat dalm lingkungan fisik.

(15)

Belajar pada tipe ini terutama dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman atau pengertian tentang suatu yang mendasar.

7. Tipe belajar kaidah (RuleLearning)

Tipe belajar ini menghasilkan suatu kaidah yang terdiri atas penggabungan beberapa konsep.

8. Tipe belajar pemecahan masalah (Problem solving)

Tipe belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan.

C. Sistematika “Lima Jenis Belajar”

Sistematika ini tidak jauh berbeda dengan sistematika delapan tipe belajar, dimana isinya merupakan bentuk penyederhanaan dari sistematika delapan tipe belajar.

Kelima kategori hasil belajar tersebut adalah informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.

1. Informasi verbal (Verbal information)

Merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan, dan tertulis.

2.Kemahiran intelektual (Intellectual skill)

Yang dimaksud adalah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang/simbol (huruf, angka, kata, dan gambar).

3. Pengaturan kegiatan kognitif (Cognitive strategy)

Merupakan suatu cara seseorang untuk menangani aktivitas belajar dan berpikirnya sendiri, sehingga ia menggunakan cara yang sama apabila menemukan kesulitan yang sama.

(16)

Adalah kemampuan seseorang dalam melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.

5. Sikap (Attitude)

Merupakan kemampuan seseorang yang sangat berperan sekali dalam mengambil tindakan, apakah baik atau buruk bagi dirinya sendiri.

D. Fase-Fase Belajar

Fase-fase belajar ini berlaku bagi semua tipe belajar. Menurut Gagne, ada 4 buah fase dalam proses belajar, yaitu:

1. Fase penerimaan (apprehending phase)

Pada fase ini, rangsang diterima oleh seseorang yang belajar. Ini ada beberapa langkah. 2. Fase penguasaan (Acquisition phase)

Pada tahap ini akan dapat dilihat apakah seseorang telah belajar atau belum 3. Fase pengendapan (Storage phase)

Sesuatu yang telah dimiliki akan disimpan agar tidak cepat hilang sehingga dapat digunakan bila diperlukan.

4. Fase pengungkapan kembali (Retrieval phase)

Apa yang telah dipelajari, dimiliki, dan disimpan (dsalam ingatan) dengan maksud untuk digunakan (memecahkan masalah) bila diperlukan.

E. Implikasi Teori Gagne dalam Pembelajaran

1. Mengontrol perhatian siswa.

2. Memberikan informasi kepada siswa mengenai hasil belajar yang diharapkan guru.

(17)

4. Penyajian stimuli yang tak bisa dipisah-pisahkan dari tugas belajar.

5. Memberikan bimbingan belajar.

6. Memberikan umpan balik.

7. Memberikan kesempatan pada siswa untuk memeriksa hasil belajar yang telah dicapainya.

8. Memberikan kesempatan untuk berlangsungnya transfer of learning.

9. Memberikan kesempatan untuk melakukahn praktek dan penggunaan kemampuan yang baru diberikan

d. Teori Belajar Menurut Bruner

Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya.

Agar pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan intelektual anak dalam mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), maka materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif/ pengetahuan anak agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik. 1) Model Tahap Enaktif

Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. Pada tahap ini anak belajar sesuatu pengetahuan di mana

pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan situasi yang nyata.

2) Model Tahap Ikonik

Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu

direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif.

3) Model Tahap Simbolis

(18)

Translate

Diberdayakan oleh Terjemahan

Share It

Info Populer

o PERENCANAAN SISTEM PEMBELAJARAN PAI (PROGRAM TAHUNAN DAN

SEMESTER

o ALIRAN SYIAH, KHAWARIJ, MURJIAH, QADARIYAH, JABARIAYAH,

MU’TAZILAH, DAN AHLUSSUNAH WALJAMA’AH

o DASAR, TUJUAN, RUANG LINGKUP, DAN FUNGSI-FUNGSI KURIKULUM PAI

o MATERI PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK PADA MTs KELAS VII-IX

o CONTOH TAKHRIJ HADIST

o PROPOSAL SKRIPSI "PEMANFAATAN INTERNET SEBAGAI SUMBER

BELAJAR DI MAN 2 MODEL BANJARMASIN"

o MAKALAH TEORI-TEORI KEBENARAN FILSAFAT

o RPP Mata pelajaran Aqidah Akhlak tentang Sifat-sifat Wajib bagi Allah

yang Ma’ani dan Ma’nawiyah

o “Belajar Penemuan menurut Jerome Bruner”

o RPP PPL1 (RASUL-RASUL ULUL AZMI)

Followers

Daftar Tulisan ku

o akhlak (1)

o Aqidah (1)

o Aqidah akhlak (1)

(19)

o Art (3)

o Filsafat (2)

o Fiqih (4)

o hadits (3)

o Keislaman (1)

o pendidikan (31)

o Proposal Skripsi (1)

o Qur'an Hadits (1)

o RPP (1)

o sejarah Islam (1)

o Tafsir (4)

Jumat, 18 Februari 2011

“Belajar Penemuan menurut Jerome Bruner”

BAB I

(20)

A. Latar Belakang Masalah

Kita ketahui bahwa pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan[1].

Dalam hal pendidikan, tentu tidak akan terlepas dari kata belajar, dimana belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisah dari semua kegiatan mereka dalam menunut ilmu dilembaga pendidikan formal. Kegiatan belajar mengajar mereka lakukan setiap waktu sesuai dengan keinginan. Entah malam hari, sore hari atau pagi hari[2].

Dari dulu hingga sekarang para ahli psikologi dan pendidikan tidak bosan-bosannya membicarakan masalah belajar. Penelitian demi penilitian sudah pula dilakukan. Berbagai teori belajar sudah tercipta sebagai hasil dari penelitian[3]. Dari beberapa teori yang terdcipta tersebut ada teori belajar penemuan yang dikembangkan oleh Jerome Bruner, diamana pada saat ini teori merupakan salah satu teori yang baik untuk dikembangkan di era globalisasi. Oleh karena itu dalam kesempatan akan di bahas secara mendalam mengenai teori tersebut.

B. Rumusan Masalah

(21)

1. Bagaimana belajar penemuan (Discovery) menurut Jerome Bruner.

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Psikologi Belajar

2. Untuk memberikan kejelasan kepada para pembaca dalam memahami teori belajar

penemuan menurut Jerome Bruner.

D. Metode Penulisan

(22)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Belajar penemuan Menurut Jerome Bruner

Belajar merupakan aktifitas yang berproses, tentu didalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui tahap-tahap yang antara satu dan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Dalam konsep belajar penemuan menurut Jerome Bruner ada tiga episode/tahap yang ditempuh oleh siswa, yaitu: tahap informasi (tahap penerimaan materi), tahap transformasi (tahap pengubahan materi) dan tahap evaluasi (tahap penilaian materi)[4]. Dan konsep ini merupakan konsep belajar yang menentang konsep belajar aliran behavioristik.

Nasution menjelaskan bahwa ketiga tahapan konsep penemuan Jerome Bruner tersebut saling berkaitan.

1. Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

Dalam tiap pelajaran kita proleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya , misalnya tidak ada energy yang lenyap.

2. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)

Informasi itu harus dianalisis , diubah atau ditransformasi kebentuk yang lebih abstrakatau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan.

3. Tahap evaluasi (tahap penilaian materi)

(23)

Dalam proses belajar ketiga tahapan ini selalu terdapat. Yang menjadi masalah ialah berapa banyak informasi diperlukan agar dapat ditransformasi. Lama tiap tahapan tidak selalu sama. Hal ini antara lain juga tergantung pada hasil yang diharapkan, motivasi murid belajar, minat, keinginan untuk mengetahui dan dorongan untuk menemukan sendiri[5]. Konsep ini juga menjelaskan bahwa prinsip pembelajaran harus memperhatikan perubahan kondisi internal peserta didik yang terjadi selama pengalaman belajar diberikan dikelas. Pengalaman yang diberikan dalam pembelajaran harus bersifat penemuan yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh informasi dan keterampilan baru dari pelajaran sebelumya[6].

Oleh karena itu, konsep pembelajaran ini secara sadar mengembangkan proses belajar siswa yang mengarah kepada aspek jiwa dan aspek raga. Sesuai dengan pengertian belajar itu sendiri yaitu serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh perubahan tingkah ;laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan linkungannya yang menyangkut kognitif, efektif, dan psikomotorik[7].

B. Tokoh Serta Pemikiran Belajar Penemuan Menurut Jerome Bruner

Tokoh yang mencetuskan konsep belajar penemuan (discovery) ini yaitu Jerome Bruner beliau dilahirkan pada tahun 1915. Jerome Bruner, bertugas sebagai profesor psikologi di Universiti Harvard di Amerika Syarikat dan dilantik sebagi pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari tahun 1961 sehingga 1972, dan memainkan peranan penting dalam struktur Projek Madison di Amerika Syarikat. Setelah itu, beliau menjadi seorang profesor Psikologi di Universiti Oxford di England[8].

Jerome Bruner (1966) adalah seseorang pengikut setia teori kognitif, khususnya dalam studi perkembangan fungsi kognitif. Ia menandai perkembangan kognitif menusia sebagai berikut:

1. Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi

(24)

2. Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan system penyimpanan

informasi secara realis.

3. Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri

sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri.

4. Interaksi secara systematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak

diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.

5. Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat

komunikasi antara manusia. Untuk memahami konsep-konsep yang ada diperlukan bahasa. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang lain.

6. Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan

beberapa alternative secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi[9].

Teori fre discovery learning bertitik tolak pada teori belajar kognitif, yang menyatakan belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan ini tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Asumsi dasar teori kognitif ini adalah setiap orang memiliki telah memiliki pengetahuan dan penglaman dalam dirinya. Pengalaman dan pengetauan ini tertata dalam bentuk struktur kognetif. Proses belajar akan berjalan dengan baik apabila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersinambungan) secara ‘klop’ dengan struktur kognetif yang sudah dimilki oleh peserta didik.

Menurut Bruner perkembangan kognetif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik.

1. Tahap enaktif

(25)

langsung suatu realitas. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainnya.

2. Tahap ikonik

Pada tahap ini anak didik melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).

3. Tahap simbolik

Pada tahap ini peserta didik anak didik mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika serta komunikasi dilakukan dengan pertolongan sistem symbol. Semakin dewasa seseorang maka system symbol ini semakin dominan. Peserta didik telah mampu memahami gagasan-gagasan abstrak. Peserta didik membuatabstraksi berupa teoti-teori, penafsiran, analisis dan sebagainya terhadap realitas yang telah diamati dan dialami.

Menurut Bruner belajar untuk sesuatu tidak tidak usah ditunggu sampai peserta didik mencapai tahap perkembangan tertentu.yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan kepadanya. Dengan kata lain perkembangan kognetif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan belajar yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.

(26)

C. Ciri-ciri Belajar Penemuan Menurut Jerome Bruner

Dari penjelasan tentang kensep Belajar penemuan menurut Jerome Bruner di atas tentu teori ini memiliki perbedaan-perbedaan dibandingkan dengan konsep atau teori belajar yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh lain. Diamana dalam konsep belajar penemuan menurut Jerome Bruner ini seseorang anak didik tidak saja dituntut untuk bisa menerima pengetahuan saja, tapi tuntut untuk bisa mengolah dan bahkan mengevaluasi serta mengembngkan pengetahuan tersebut. Jadi, secara umum terdapat dua ciri konsep belajar penemuan Jerome Bruner ini, yaitu:

1. Tentang (discovery) itu sendiri merupakan ciri umum dari teori Bruner ini, diamana

teori ini mengarahkan agar peserta didik mendiri dalam menemukan, mengolah, memilah dan dan mengembangkan. Berbeda dengan teori yang lain seperti teori, behavioristik yang belajar berdasarkan pengalaman tidak memperhatikan aspek kognitifnya seperti teori discovery Bruner ini.

2. Konsep kurikulum spiral merupakan cirri khas dari teori discovery Jerome Bruner

ini. Dimana dalam teorinya di tuntut adanya pengulangan-pengulangan terhadap penegetahuan yang sama namun diulang dengan pembahsan yang lebih luas dan mendalam. Seperti pengetahuan tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang di ajarkan pada sekolah dasar (SD) kemudian ilmu penegtahuan tersebut masih dapat diajarkan di perguruan Tinggi seperti Psikologi Belajar. Psikologi belajar merupakan pengetahuan yang sama dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) namun pembahasan psikologi belajar lebih mendalam.

D. Kelebihan dan kelemhan Belajar Penemuan Menurut Jerome Bruner

Setiap sesuatu itu memilki kelebihan dan kelemahan begitu juga dengan teori penemuan menurut Jerome Bruner. Sebagaimana dijelaskan Syaiful Bahri Djamarah, dalam bukunya Psikologi belajar, bahwa teori-teori belajar yang baru hadir di mengisi lembaran sejarah dalam dunia pendidikan, tapi perlu dipahami setiap teori belajar tersimpan kelemahan dibalik kelebihannya[11].

(27)

belajar mengajar konsep ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognetif. Kelemahannya adalah memakan waktu yang cukup banyak, dan kalau kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menjerumus kepada kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari[12].

Penggunaan konsep discovery ini berusaha meningkatkan aktivitas belajar, maka konsep ini memiliki keunggulan sebagai berikut:

1. Konsep ini membantu peserta didik mengembangkan bakatnya, membentuk sifat

kesiapan serta kemampuan keterampilan dalam proses kognitif peserta didik.

2. Peserta didik memndapatkan pengetahuan yang bersifat pribadi sehingga

pengetahuan tersebut dapat bertahan lama dalam diri peserta didik.

3. Konsep ini memberikan semangat belajar peserta didik, diamana dengan konsep

belajar mencari dan menemukan pengetahuan sendiri tentu rasa ingin tau itu timbul sehinnga akan membentuk belajar yang ikhlas dan aktif.

4. Konsep ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menegembangkan

kemampuannya dan keterampilannya sendiri sesuai dengan bakat dan hobi yang dimilikinya.

5. Konsep ini mampu membantu cara belajar peserta didik yang baik, sehingga

peserta memiliki motivasi yang kuat untuk tetap semangat dalam belajar.

6. Memberikan kepercayaan tersendiri bagi peserta didik karena mampu

menemukan, mengolah, memilah dan mengembangkan pengetahuan sendiri.

7. Konsep ini berpusat pada peserta didik, dan guru hanya membantu saja.

Adapun kelemahan konsep belajar penmuan menurut Jerome Bruner, yaitu:

1. Konsep belajar ini menuntut peserta didik untuk memiliki kesiapan dan

(28)

keadaan disekitarnya. Jika tidak memiliki keberanian dan keinginan tentu proses belajar akan gagal.

2. Konsep ini kurang berhasil apabila di laksanakan didalam kelas yang besar.

3. Konsep ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan

perkembangan/pembentukan sikap dan keterampila bagi peserta didik.

4. Konsep ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk bepikir secara

kretaif[13].

Dari beberapa penjelasan tentang kelebihan dan kelemahan konsep penemuan menurut Jeromi Bruner, tentu kita harus mampu mempergunakan konsep belajar ini sesuai dengan keadaan dan tempatnya, sehingga nantinya dapat memaksimalkan penggunaaan konsep ini dan tidak terjadinya kegalalan pembelajaran karena salah dalam penggunaannya.

E. Implikasi Konsep Belajar Penemuan Menurut Jerome Bruner Dalam

Kegiatan Pembelajaran.

Meneurut Syiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain impliklasi konsep belajar discovery dalam pembelajaran yaitu:

1. Simulation, guru mulai bertanya dengan mengajukan persoalan, atau menyuruh

anak didik untuk membaca atau mendengarkan uraian yang memuata uraian permasalahan.

2. Problem Statement, anak didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai

permasalahan. Sebagian besar memilihnya yang dipandang paling menarik dan fleksibel untuk dipecahakan. Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statemen) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang di ajukan.

3. Data collection, Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya

(29)

berbagai informasi yang relavan, membaca literature,m mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.

4. Data prossesing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara observasi, dan

sebagainya, semunya diolah, diacak, diklasifikasikn, ditabulasi, bahkan apabila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

5. Verfication, atau pembuktian. Berasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau

informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

6. Generalization. Tahap selanjutnya berdasarkan verfikasi tadi, anak didik belajar

menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu.

System belajar yang dikembangkan Brunner ini menggunakan landasan pemikiran pendekatan belajar mengajar. Hasil belajar cara ini lebih mudah dihapal dan diingat, mudah dtransfer untuk memecahkan masalah. Pengetahuan dan kecakapan anak didikbersangkutan lebih jauhdapat menumbuhkan motivasi instrik, karena anak merasa puas atas penggunaannya sendiri[14].

Kemudian Oemar Halik dalam bukunya perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, menjelaskan konsep belajar penemuan Jerome Bruner dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dalam bentuk pendekatan komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah, tergantung pada besarnya kelas.

1. Sistem satu arah (ceramah Reflektif)

(30)

proses pemecahan masalah, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya secarareflektif. Dalam eadaan ini, sesungguhnya tidak ada jaminan bahwa adanya penyajian oleh guru. Penggunaan discovery dalam kelompok kecil sangat bergantung pada kemampuan dan pengalaman guru sendiri, serta waktu dan kemampuan mengantisifikasi kesulitan siswa.

2. Sistem dua rah (discovery terbimbing)

System dua arah melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Siswa melakukan discovery, sedangkan guru membimbing mereka kearah yang tepat/benar. Sekalipun di dalam kelas yang terdiri dari 20-3o orang siswa. Hanya beberapa orang saja yang benar-benar melakukan discovery, sedangkan yang lainnya berpartisipasi dalam proses discovery misalnya dalam system ceramah reflektif. Dalam kelompok yang lebih kecil, guru dapat melibatkan hamper semua siswa dalam prose situ. Dalam system ini guru perlu memilki keterampilan memberikan bimbingan, yakni mendiagnosis kesulitan –kesulitan siswa dan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Namun demikian, tidak berarti guru menggunakan metode ceramah reflektif sebagaimana halnya pada strategi diatas[15].

Adapun Menurut Ahmad Sabri pendekatan ini merupakan pendekatan mengajar yang mberusaha meletakkan dasar dan mengembangan berpikir cara ilmiah. Pendekatan ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreatifitas dalam memecahkan masalah. Siswa betul-betul ditempatkan sebagai subyek yang belajar. Peranan guru dalam pendekatan ini adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Tugas utama guru adalah memilih masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas untuk dipecahkan oleh siswa sendiri. Tiugas beriutnya dari guru adlah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam memecahkan masalah. Sudah tentu bimbingan dan pengawasan dari guru masih tetap diperlukan, namun campur tangan interverensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah, harus dikurangi.

(31)

menambahkan bahwa ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pendekatan ini.

a. Guru harus terampil memilih persoalan yang relavan untuk diajukan kepada kelas

(persoalan yang bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa/problematik) dan sesuai dengan nalar siswa.

b. Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan penciptaan situasi

belajar yang menyenangkan.

c. Adanya faslitas dan sumber belajar yang cukup lengkap sehingga dapat

memfalisitsi pendekatan ini.

d. Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya dan berdiskusi.

e. Partisipasi seto\iap siswa dalam setiap kegiatan belajar, dan

f. Guru tidak banyak campurtangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.

Serta ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan ini, yakni:

a. Merumuskan masalah untuk dipecahkan siswa.

b. Menetapkan jawaban sementara atau yang lebih lebih dikenal dengan istilah

hipiotesis.

c. Siswa mencari informasi, data fakta yang diperlukan untuk menjawab

permasalahn atau hipotesis.

d. Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi.

e. Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru[16].

(32)

BAB III

KESIMPULAN

Menurut Bruner perkembangan kognetif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik yaitu, tahap enaktif, tahap ikonik dan tahap simbolik.

(33)

1. Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

2. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)

3. Tahap evaluasi (tahap penilaian materi)

Secara umum terdapat dua ciri konsep belajar penemuan Jerome Bruner ini, yaitu:

1. Tentang (discovery) itu sendiri merupakan ciri umum dari teori Bruner ini, diamana

teori ini mengarahkan agar peserta didik mendiri dalam menemukan, mengolah, memilah dan dan mengembangkan. Berbeda dengan teori yang lain seperti teori, behavioristik yang belajar berdasarkan pengalaman tidak memperhatikan aspek kognitifnya seperti teori discovery Bruner ini.

2. Konsep kurikulum spiral merupakan cirri khas dari teori discovery Jerome Bruner

ini. Dimana dalam teorinya di tuntut adanya pengulangan-pengulangan terhadap penegetahuan yang sama namun diulang dengan pembahsan yang lebih luas dan mendalam.

Kelebihan dan kelemahan konsep ini yaitu belajar mengajar konsep ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognetif. Kelemahannya adalah memakan waktu yang cukup banyak, dan kalau kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menjerumus kepada kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari

Impliklasi konsep belajar discovery dalam pembelajaran yaitu: Simulation, Problem Statement, Data collection, Data prossesing, Verfication, atau pembuktian. Generalization.

e. Teori belajar Menurut Piaget

(34)

Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru. Piaget mengatakan bahwa kita melampui perkembangan melalui empat tahap dalam memahami dunia, yaitu :

1) Tahap sensorimotor (Sensorimotor stage), yang terjadi dari lahir hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama piaget. Pada tahap ini, perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam

kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi (seperti melihat dan mendengar) melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.

2) Tahap praoperasional (preoperational stage), yang terjadi dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif.

3) Tahap operasional konkrit (concrete operational stage), yang berlangsung dari usia 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit. 4) Tahap operasional formal (formal operational stage), yang terlihat pada usia 11 hingga 15 tahun,

merupakan tahap keempat dan terkahir dari piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara abstrak dan lebih logis.

Perlu diingat, bahwa pada setiap tahap tidak bisa berpindah ke tahap berikutnya bila tahap sebelumnya belum selesai dan setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada pada tahap tertentu karena tergantung dari ciri perkembangan setiap individu yang bersangkutan

.

f. Teori Belajar Menurut Ausubel

Ausubel (dalam Dahar, 1988:137) mengemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna (meaningful) jika informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Ausubel (dalam Dahar,1988 :142)

Menurut Ausubel, Novak,dan Hanesian ada dua jenis belajar: 1) Belajar bermakna (meaningful learning)

Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur penertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya.

2) Belajar menghafal (rote learning)

Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada maka informasi baru tersebut harus

dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseoarang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahiu sebelumnya.

Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau

penemuan. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa

(35)

menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna.

Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah : 1) Pengatur awal (advance organizer)

Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.

2) Diferensiasi Progregsif

Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep- konsep. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail.

A. Latar Belakang

Pada dasarnya pendidikan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan dengan proses mendidik, yakni proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik agar mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dalam lingkungannya sehingga akan menimbulkan perubahan dalam dirinya, yang dilakukan dalam bentuk pembimbingan, pengajaran, dan atau pelatihan. Dimana setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Jadi pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam proses pendidikan, belajar merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan. Dimana belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku dan pola pikir yang dialami oleh seseorang, misalnya dari sesuatu hal yang tidak bisa menjadi bisa,dari tidak tau menjadi tau. Selama proses belajar manusia pasti tak luput dari kesalahan. Untuk itu perlu adanya teori-teori belajar yang tepat yang diterapkan dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diinginkan bisa tercapai dengan maksimal.

Teori – teori pembelajaran berpedoman pada prinsip-prinsip pembelajaran yang dihasilkan daripada kajian-kajian ahli psikologi pendidikan. Teori ini merupakan azas kepada para pendidik agar dapat memahami tentang cara pelajar belajar. Selain itu, dengan adanya pengetahuan yang menyeluruh tentang teori ini pendidik diharapkan agar dapat menghubungkan prinsip dan hukum pembelajaran dengan kaedah dan teknik yang akan digunakan.

Berdasarkan pemaparan diatas, dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai “Teori Belajar Kognitif dalam Pembelajaran”. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses belajar yang terjadi dalam akal pikiran manusia atau gagasan manusia bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dalam konteks situasi secara keseluruhan. Jadi belajar melibatkan proses berfikir yang kompleks dan mementingkan proses belajar.

BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Teori Belajar Kognitif

Pengertian Belajar

(36)

dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.” Kutipan diatas dapat diartikan bahwa belajar membutuhkan waktu yang lama dan melalui proses perubahan perilaku dan pola pikir dari seseorang.

Belajar menurut Drs. Bambang Warsita bahwa (2008:87)“ Belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang mengubah stimulasi yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasiyang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang.” Menurut Prof. Dr. Made Pidarta, belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat atau kecelakaan) dan bisa melaksanakanya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikanya kepada orang lain.

Berdasarkan beberapa pengertian belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku dan pola pikir baik yang berupa pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap, dimana perubahan- perubahan yang dialami bersifat relatif permanen atau jangka panjang yang merupakan hasil dari pengalaman hidup manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Pengertian Teori Belajar

Teori menurut Ratna Wilis (1988:5) menyatakan bahwa “ Teori-teori berarti sejumlah proposisi-proposisi yang terintegrasi secara sintatik (artimya, kumpulan proposisi-proposisi ini mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat menghubungkan secara logis proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan pada data yang diamati) dan yang digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati”. Sedangkan pengertian belajar seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku yang berasal dari hasil pengalaman. Jadi, belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran. http://belajarpsikologi.com/macam-macam-teori-belajar/

Berdasarkan pengertian- pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa teori belajar merupakan suatu upaya yang dilakukan seseorang untuk membantu dalam memahami pada saat proses pembelajaran. Jadi, teori belajar merupakan proses dimana dalam proses belajar menghasilkan pengajaran yang baik, manjemen yang baik dengan menggunakan teori belajaryang relevan, sesuai dan disukai sehingga tujuan belajar yang diinginkan bisa tercapai.

Pengertian Teori Belajar kognitif

(37)

aktif untuk mencapai, mengingat dan menggunakan perilaku, sehingga perilaku yang tampak pada manusia tidak dapat diukur dan diamati tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan dan lain sebagainya.

Teori belajar kognitif menurut Drs. Bambang Warsita yang beranggapan bahwa” Belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman”. Maksudnya bahwa belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat dilihat sebagai tingkah laku. Dimana teori ini menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dalam kontek situasi secara keseluruhan.

Seperti juga di ungkapkan oleh Winkel (1996:53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas.” (http://hasanahworld.wordpress.com/2009/03/01/teori-belajarkognitif/). Hal ini berarti bahwa perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang dialami oleh manusia, dimana pengalaman tersebut bersifat relatif menjadi proses belajar yang membekas dalam fikiran manusia. Selain itu teori belajar kognitif memandang “belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

B. Tokoh – tokoh Teori Belajar Kognitif

Tokoh-tokoh aliran kognitif di antaranya adalah Thorndike,Watson, Clark L. Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran kognitivisme, antara lain:

1. Piaget

(38)

itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya.

Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut Piaget, antara lain:1) menentukan tujuan pembelajaran; 2)memilih materi pembelajaran; 3) menentukan topik-topik yang dapat dipelajari oleh peserta didik; 4) menentukan dan merancang kegiatan pembelajaran sesuai topik; 5) mengembangkan metode pembelajaran; 6) melakukan penilaian proses dan hasil peserta didik.

David Ausubel

Menurut Ausubel dalam buku karya Drs. Bambang Warsita bahwa “belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasi secara nonarbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya”(2008:72). Hal ini berari bahwa pembelajaran bermakna merupakan suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif peserta didik. Dimana Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta saja, tetapi merupakan kegiatan yang menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Jadi guru harus menjadi perancang pembelajaran dan pengembang program pembelajaran dengan berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang dimiliki peserta didik dan membantu memadukan secara harmonis dengan pengetahuan baru yang dipelajari.

Langkah-langkah pembelajaran bermakna menurut Ausebel,dalam merancang pembelajaran antara lain: 1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) melakukan identifikasi peserta didik; 3) memilih materi pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk konsep inti; 4) menentukan topik peserta didik dalam bentuk advance organizers; 5) mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur topik pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik. Jerome Bruner

Berdasarkan Drs. Wasty Soemanto (1997:127) dan Drs. Bambang warsita(2008:71) dimana Jarome Bruner mengusulkana teori yang disebutnya free discovery learning.Teori ini bertitik tolak pada teori kognitif, yang menyatakan belajar adalah perubahan persepsi dan pemahan. Maksudnya, teori ini menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk konsep, teori, ide, definisi dan sebagainya melalui contoh-contoh yang menggambarkan atau mewakili aturan yang menjadi sumbernya.

(39)

melihat dunia melalui gambar dan visualisasi verbal; tahap yang ketiga, simbolok yaitu peserta didik mempunyai gagasan abstrak dimana komunikasi dibantu sistem simbolik.

Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut Bruner antara lain: 1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) melakukan identifikasi peserta didik; 3) memilih materi pembelajaran; 4) menentukan topik secara induktif; 5) mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur topik pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.

4. Albert Bandura

Bandura berpendapat tentang teori kognitif sosial. Seperti yang dijelaskan dalam buku karya John W. Santrock (2007:285) yang menyatakan bahwa teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan faktor sosial dan kognitif dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Hal ini berarti bahwa faktor kognitif berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya. Jadi menurut Bandura antara faktor kognitif/person, faktor lingkungan dan faktor perilaku mempengaruhi satu sama lain dan faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan.

Kurt Lewin

Yang juga merupakan tokoh teori belajar kognitif adalah Kurt Lewin yang menyatakan tentang teori belajar medan kognitif (cognitive-field learning theory). Seperti yang di jelaskan oleh Nana Sudjana dalam bukunya yang menjelaskan bahwa dalam teori belajar medan kognitif, “belajar didefinisikan sebagaai proses interaksional dimana pribadi menjangkau wawasan-wawasan baru dan atu merubah sesuatu yang lama”(1991:97). Hal ini berarti bahwa seseorang harus peduli dengan diri mereka sendiri dan juga dengan orang lain, dengan belajar secara afektif sehingga diharapkan mereka atau seorang guru bisa mengerti dengan dirinya sendiri dan dapat melaksanakan tugas dengan lebih baik selain itu juga mengembangkan sistem psikologis yang bermanfaat dalam berurusan dengan anak-anak dan pemuda dalam ssituasi belajar.

C. Prinsip-Prinsip Teori Belajar Kognitif

Berdasarkan pendapat dari Drs. Bambang Warsita (2008:89) yang menyatakan tentang prinsip-prinsip dasar teori kognitivisme, antara lain:

 Pembelajaran merupakan suatu perubahan status pengetahuan  Peserta didik merupakan peserta aktif didalam proses pembelajaran  Menekankan pada pola pikir peserta didik

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perhitungan skor tanggapan responden yang disajikan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa penilaian responden terhadap Harga masuk dalam kategori baik dengan

Prinsip kerja utama dari MBG metode spherical ball adalah menciptakan beda tekanan antara tekanan udara luar dengan tekanan fluida dalam pipa sampai titik tekanan

K omisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bekerja sama dengan Fokus Muda dan jaringan Populasi Kunci (OPSI, GWL dan PKNI) telah melaksanakan serangkaian pelatihan

Perlakuan E ( pupuk kandang sapi 25 ton/ha), C ( pupuk kandang sapi 15 ton/ha), D ( pupuk kandang sapi 20 ton/ha) dan B( pupuk kandang sapi 10 ton/ha), berbeda nyata dengan

Dengan melakukan variasi daya RF , waktu deposisi dan tekanan gas Ar, akan diperoleh lapisan tipis ZnO yang mempunyai tipe konduksi tipe N berstruktur kristal ZnO dengan

(Lucas Partanda Koestoro, Stanov Purnawibowo, Repelita Wahyu Oetomo) Kata kunci: aktivitas kemaritiman, Pulau Kampai, Kota Cina, Kota Rantang..

Dengan demikian laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual ini dapat memberikan informasi kepada para pengguna, tidak terbatas pada transaksi-transaksi masa lalu yang