• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN WORLD HEALTH ORGANIZATION DI NEG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERANAN WORLD HEALTH ORGANIZATION DI NEG"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Fakultas Hukum – UNISAN i

JURNAL HUKUM

JUSTITIA

Diterbitkan oleh:

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ICHSAN GORONTALO

(4)

ii Fakultas Hukum - UNISAN

JURNAL HUKUM

JUSTITIA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ICHSAN GORONTALO

Penasehat : Dekan Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo

Penanggung Jawab : Ketua Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo

Pemimpin Redaksi : Rafika Nur

Dewan Redaksi : Marwan Djafar Asdar Arti Muh. Nasir Alamsyah

Djamaris Machmud

Redaktur Pelaksana : Kingdom Makkulawusar

Sekretaris Redaktur : Hijrah Lahaling Darmawati

Mitra Bestari : Iin Karita Sakharina (Universitas Hasanuddin)

Johan Jassin (Universitas Negeri Gorontalo) Samsul Halim (Universitas Muhammadiyah Palu) Syamsul Bachri (Universitas Hasanuddin)

Desain Grafis & Layout : Ahsan Yunus

Distribusi & Pemasaran : Nur Insani

Zubair S. Mooduto

Alamat Redaksi : Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo Jl. Raden Saleh No. 17, Kota Gorontalo, 96115 Tel/Fax : (0435) 829975 / (0436) 829976 E-mail : [email protected]

Website : http://www.fakultashukumunisan.ac.id

JURNAL HUKUM JUSTITIA Jurnal ilmiah yang diterbitkan secara berkala oleh Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Terbit tiap bulan Maret dan September,

(5)

Fakultas Hukum – UNISAN iii

D

AFTAR ISI

Jurnal Hukum JUSTITIA Volume III, Nomor 1 September 2015

ISSN: 2338-9192

TINJAUAN KRIMINOLOGI TERHADAP PELANGGARAN BALAP LIAR OLEH ANGGOTA GENG MOTOR DI KOTA GORONTALO

Rafika Nur ……...……….……… 1-12

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PIHAK SWASTA SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI

Ramdhan Kasim ………..……… 13-29

KEBIJAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ANAK DALAM PROSES PENYIDIKAN DI POLRES MERAUKE

Erni Dwita Silambi ……….……… 31-41

IMPLEMENTASI BANTUAN HUKUM TERHADAP ANAK PELAKU

TINDAK PIDANA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA DI KOTA MAKASSAR

Haritsa ……….………..……..……… 43-49

PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA MELALUI JALUR MEDIASI

Nurmin K. Martam ... 51-64

KEDUDUKAN WASIAT BERDASARKAN KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN KUH PERDATA

Arpin ... 65-78

PERANAN WORLD HEALTH ORGANIZATION DI NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG

Nilawati Adam ... 79-94

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO. 003/PUU-IV/2006

TENTANG SIFAT MELAWAN HUKUM MATERIL DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPS

Apriyanto Nusa ... 95-108

(6)

iv Fakultas Hukum - UNISAN

E

DITORIAL

Pembaca yang budiman,

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa dan yang telah memberikan kami kekuatan,

kesempatan, dan karunia yang begitu besar sehingga penerbitan jurnal hukum “JUSTITIA”

Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Volume III Nomor 1 September 2015 dapat terlaksana dengan baik, merupakan suatu langkah progresif yang digagas oleh Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo untuk melahirkan suatu jurnal ilmiah yang sekaligus dimaksudkan untuk mengisi kekosongan ruang ekspresi ilmiah khususnya isu-isu yang berhubungan dengan perkembangan ilmu hukum secara umum, baik itu dalam aspek pidana, perdata, tata negara, administrasi negara, maupun isu-isu internasional.

Volume III Nomor 1 September 2015 menghadirkan beberapa penulis yang memiliki kepakaran di bidang masing-masing. Rafika Nur menuangkan gagasannya tentang tinjauan kriminologi terhadap pelanggaran balap liar oleh anggota geng motor di Kota Gorontalo, dan Ramdhan Kasim yang menulis tentang pertanggungjawaban pidana pihak swasta sebagai pelaku tindak pidana korupsi, kedua isu hukum pidana ini sangat menarik karena berhubungan langsung dengan masyarakat pada umumnya.

Selanjutnya Erni Dwita Silambi, menulis tentang kebijakan hukum terhadap pelaku tindak pidana anak dalam proses penyidikan di Polres Merauke, dan Haritsa yang menulis tentang implementasi bantuan hukum terhadap anak pelaku tindak pidana dalam sistem peradilan pidana di Kota Makassar, kedua isu yang masih bernuansa hukum pidana inipun tak kalah menariknya karena memiliki karakteristiknya masing-masing. Kemudian Nurmin K. Martam yang menulis tentang penyelesaian sengketa perdata melalui jalur mediasi, dan Arpin yang menulis tentang kedudukan wasiat berdasarkan kompilasi Hukum Islam dan KUH Perdata, kedua isu hukum perdata ini juga sangat menarik untuk dibaca karena menjadi isu penting dan sensitif di masyarakat. Nilawati Adam yang menulis tentang peranan world health organization di negara maju dan negara berkembang, isu hukum kesehatan internasional ini sangat penting diketahui oleh khalayak umum, karena sifatnya yang sangat urgen di era modern dan tahap implementasi pasar bebas, sehingga batas-batas negara sudah bukan lagi menjadi halangan untuk berinteraksi.

Kemudian isu dalam Volume III Nomor 1 September 2015 ditutup oleh gagasan yang dikemukakan oleh Apriyanto Nusa dengan tulisannya yang berjudul implikasi putusan Mahkamah Konstitusi No. 003/PUU-IV/2006 tentang sifat melawan hukum materil dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Semoga berbagai isu-isu ilmu hukum yang tersaji baik itu isu hukum pidana, hukum perdata, hukum islam, hukum internasional dan hukum tata negara dalam Volume ketiga ini, akan memberikan sebuah bentuk pencerahan baru yang bermanfaat bagi semua kalangan yang intens dan fokus mengkaji permasalahan yang berhubungan dengan ilmu hukum yang terus berkembang dewasa ini.

Selamat membaca.

(7)

Fakultas Hukum – UNISAN 1 TINJAUAN KRIMINOLOGI TERHADAP PELANGGARAN BALAP LIAR OLEH

ANGGOTA GENG MOTOR DI KOTA GORONTALO

Rafika Nur

Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo [email protected]

Abstract

Factors Causing Race Illegal Abuse By Motorcycle Gang Member In Gorontalo is of course very many factors causing juvenile lapsed into herd motorcycle gang. environmental factors, age and the role of media. Efforts What Do Police In Wild Race to Tackle Abuse By Motorcycle Gang Member In Gorontalo is with the preventive and repressive manner patrols or raids illegal motor racing is done because of the desire of the police in saving the lives of the younger generation because the perpetrators of illegal motorcycle racing mostly aged adolescents certainly has a future very long and it is expected that they someday may be the generation of useful and property so that it can provide benefits for future lives.

Keywords: Race illegal, motorcycle gang member, juvenile

I. PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, sehingga setiap kegiatan masyarakat yang merupakan aktivitas hidupnya harus berdasarkan pada peraturan yang ada dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Hukum tidak lepas dari kehidupan manusia, karena hukum merupakan aturan untuk mengatur tingkahlaku manusia dalam kehidupannya. Tanpa adanya hukum tidak dapat dibayangkan masa depan Indonesia. Setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat segala tingkahlakunya diatur oleh hukum, baik hukum adat di daerahnya maupun hukum yang telah diciptakan pemerintah. R. Abdoel Djamali (2005:26) mengemukakan bahwa :

“Hukum tidak otonom atau tidak mandiri, berarti hukum itu tidak terlepas dari pengaruh timbal balik dari keseluruhan aspek yang ada didalam masyarakat.Sebagai patokan, hukum dapat menciptakan ketertiban dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat melanggar hukum”.

(8)

2 Fakultas Hukum - UNISAN

kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka penulis berpendapat bahwa perlu adanya penegak hukum yang adil karena sangat mempengaruhi kesejahteraan rakyat di negara Indonesia.

Norma dan kaedah yang berlaku di masyarakat saat ini seringkali tidak lagi dipatuhi sehingga banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan.Untuk itu masyarakat memerlukan sanksi hukum yang berfungsi sebagai pengatur segala tindak tanduk manusia dalam masyarakat.Suatu kenyataan bahwa di dalam pergaulan hidup manusia, individu maupun kelompok, sering terdapat adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma pergaulan hidupnya, terutama terhadap norma yang dikenal sebagai norma hukum. Dalam pergaulan hidup manusia, penyimpangan terhadap norma hukum ini disebut sebagai kejahatan.Sebagai salah satu perbuatan manusia yang menyimpang dari norma pergaulan hidup manusia, kejahatan adalah merupakan masalah sosial, yaitu masalah-masalah di tengah masyarakat, sebab pelaku dan korbannya adalah anggota masyarakat juga.

Kejahatan akan terus bertambah dengan cara yang berbeda-beda bahkan dengan peralatan yang semakin canggih dan moderen sehingga kejahatan akan semakin meresahkan masyarakat saat ini. Masalah kejahatan merupakan masalah abadi dalam kehidupan umat manusia, karena ia berkembang sejalan dengan berkembangnya tingkat peradaban umat manusia yang semakin kompleks. Sejarah perkembangan manusia sampai saat ini telah ditandai oleh berbagai usaha manusia untuk mempertahankan kehidupannya, dimana kekerasan sebagai salah satu fenomena dalam usaha mencapai tujuan suatu kelompok tertentu dalam masyarakat atau tujuan yang bersifat perorangan untuk mempertahankan hidup tersebut.Berkaitan dengan kejahatan, maka kekerasan merupakan pelengkap dari bentuk kejahatan itu sendiri. Kitab Undang-undang Hukum Pidana, tidak ada satu definisi pun tentang kejahatan. Dalam buku II Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) hanya memberikan perumusan perbuatan manakah yang dianggap sebagai suatu kejahatan. Misalnya Pasal 338 KUHP

“Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan penjara paling lama lima belas tahun”.

Tentang definisi dari kejahatan itu sendiri tidak terdapat kesatuan pendapat diantara para sarjana. R. Soesilo (A. Gumilang, 1993:4) menyatakan :

“Membedakan pengertian kejahatan secara yuridis dan pengertian kejahatan secara sosiologis. Ditinjau dari segi yuridis, pengertian kejahatan adalah suatu perbuatan tingkah laku yang bertentangan dengan undang-undang. Ditinjau dari segi sosiologis, maka yang dimaksud dengan kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman dan ketertiban”.

(9)

Fakultas Hukum – UNISAN 3 kota gorontalo, maka ketertiban umum bahkan kejahatan-kejahatan penganiayaan,balap liar dan perkelahian antar kelompok sering terjadi.

Menurut Soerjono Soekanto (2009:326), mengemukakan : Di kota-kota besar di Indonesia, acap kali generasi muda ini mengalami kekosongan lantaran kebutuhan akan membimbing langsung dari orang tua tidak ada atau kurang. Hal ini disebabkan oleh karena keluarga mengalami disergonisasi. Pada keluarga-keluarga yang secara ekonomis kurang mampu, keadaan tersebut disebabkan karena orang tua harus mencari nafkah, sehingga tidak ada waktu sama sekali untuk mengasuh anak-anaknya. Sedangkan pada keluarga yang mampu, persoalannya adalah karena orang tua terlalu sibuk dengan urusan-urusan di luar rumah dalam rangka mengembangkan prestise.

Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja berupa tindakan kriminal boleh jadi membuat kita berpikir ulang mengenai integrasi dalam masyarakat. Alih-alih menjadi tertuduh utama, sebagaimana yang dituduhkan dalam media massa, kenakalan remaja berupa tindak kriminal justru memberikan pengaruh yang besar dalam masyarakat, meskipun pengaruh mereka tidak lah diinginkan (unintended). Adanya kriminalitas di kalangan remaja pun mendorong kita bertanya penyebab terjadinya tindakan tersebut.

Problema remaja merupakan topik pembicaraan di negara mana pun di seluruh dunia. Negara-negara super modern pun masih saja mempunyai persoalan dengan perkembangan remajanya. Pada kenyataannya negara-negara berkembang termasuk di Indonesia, problema remaja cukup ruwet. Hal ini disebabkan banyak faktor, terutama sekali para remaja di negara berkembang belum siap menerima perubahan yang begitu cepatnya. Sementara itu lingkungan budaya yang begitu kukuh berakar dalam pribadi telah menentukan sikap tertentu terhadap perubahan tersebut. Akan tetapi keadaan jiwa remaja yang masih dalam keadaan transisi menunjukkan sikap labil dan gampang sekali terpengaruh terhadap sesuatu yang datang pada dirinya, sehingga kadang-kadang timbullah konflik pada dirinya dengan lingkungannya. Hal ini memancar kepada tingkah laku yang mengandung problema terhadap lingkungan dan terhadap dirinya sendiri.

Kenakalan remaja boleh jadi berkaitan erat dengan hormon pertumbuhan yang fluktuatif sehingga menyebabkan perilaku remaja sulit diprediksi, namun ini bukan lah jawaban yang dapat menjadi justifikasi atas perilaku remaja. Rasanya angapan bahwa hormon berpengaruh sangat besar agak dilebih-lebihkan, nampaknya ada faktor lain yang menyebabkan mengapa angka kriminalitas di kalangan remaja menjadi sangat tinggi dan perbuatan kriminalitas tersebut dianggap sangat meresahkan masyarakat secara luas.

Salah satu tuduhan mengenai tingginya angka kriminalitas remaja atau lebih tepatnya kenakalan remaja adalah tidak berfungsinya kelurga dan/atau ketidakberfungsian sosial masyarakat. Keluarga di anggap gagal dalam mendidik remaja sehingga menyebabkan mereka melakukan tindakan penyimpangan yang berujung dengan diberikannya sanksi sosial oleh masyarakat. Alih-alih tertib, sanksi yang diberikan justru menjadikan remaja menjadi lebih sulit diatur. Dan hal ini pula yang menyebabkan masyarakat di anggap gagal dalam melakukan tindakan pencegahan atas terjadinya perilaku menyimpang tersebut.

(10)

4 Fakultas Hukum - UNISAN

disepakati dalam masyarakat, dan tingginya angka kriminalitas remaja sebagai konsekuensi dari tidak berjalannya aturan dan norma yang berlaku di masyarakat dianggap sebagai kesalahan keluarga. Jika melihat dari sisi teoritis, tentu saja bukan hanya keluarga yang dipersalahkan, masyarakat pun dapat dipersalahkan dengan tidak ditegakkan aturan secara ketat atau membantu sosialisasi norma dan tujuan dalam masyarakat.

Salah satu faktor lainnya yang juga harus diperhatikan adalah peer group remaja tersebut. Teman sepermainan memegang peran penting dalam meningkatnya angka kriminalitas di kalangan remaja. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sutherland, bahwa tindakan kriminal bukan lah sesuatu yang alamiah namun dipelajari, hal ini lah yang menyebabkan pentingnya untuk melihat teman sepermainan remaja tersebut.

Geng motor merupakan kelompok anak muda (remaja) karena ada kesamaan latar belakang, sekolah, daerah dan lain-lain yang tergabung dalam suatu komunitas pengguna kendaraan bermotor roda dua. Komunitas bermotor saat ini bukan hanya menjadi trend masyarakat perkotaan, melainkan sudah menjamur sampai pelosok pedesaan. Hal tersebut selain semakin mudahnya cara masyarakat memiliki kendaraan bermotor roda dua, juga karena kebutuhan akan transportasi maupun sebagai gaya hidup bagi sebagaian orang. Di kota gorontalo, munculnya komunitas geng motor sesungguhnya bukan baru berkembang saat ini saja, namun sudah ada sejak tahun 70-an. Bahkan mungkin jauh sebelumnya sudah dikenal kelompok-kelompok pencinta kendaraan bermotor.

Atas dasar itu, diperlukan penataan kehidupan pemuda karena pemuda perlu memainkan peranan yang penting dalam pelaksanaan pembangunan. Pembinaan dan pengembangan generasi muda harus menanamkan motivasi kepekaan terhadap masa datang. Kepekaan terhadap masa datang membutuhkan pula kepekaan terhadap situasisituasi lingkungan, untuk dapat merelevansikan partisipasinya dalam setiap kegiatan berbangsa dan bernegara. Tanpa peran serta pemuda pembangunan akan sulit berhasil, untuk itu pengembangan dan pemberdayaan pemuda sangat penting. Namun Dunia Geng motor tidak dapat dipisahkan dari ajang balap motor liar. Saat ini, balap motor liar dapat kita temui dengan mudah di kota-kota seperti kota Gorontalo. Ketika pelaku balap motor liar tertangkap dalam razia balap motor liar, mereka haya dikenakan sanksi pembinaan. Setelah

mendengarkan ‘ceramah’ dari pihak kepolisian, mereka diizinkan untuk pulang. Memang dapat

dikatakan pendekatan atau upaya yang dilakukan polisi tidak berhasil membuat kapok para pembalap jalanan tersebut. Mereka masih terus mengulangi tindakan yang cenderung membahayakan keselamatan, baik nyawa pelaku maupun nyawa pengguna jalan lainnya.

Tentu saja, balap liar lebih banyak mengandung unsur negatif dalam perkembangan dan masa depan remaja. Untuk itu, kerja keras polisi saja tak cukup dalam mengeliminasi atraksi balap di jalanan tersebut. Butuh peran serta seluruh elemen masyarakat dalam mengatasi persoalan ini. Seluruh komponen warga harus ikut berpartisipasi melawan balap liar, seperti menutup gang masing-masing, sehingga polisi leluasa mengamankan pelaku balap liar saat razia berlangsung.

(11)

Fakultas Hukum – UNISAN 5 II. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian empiris dengan metode pendekatan yuridis sosiologis. Data dibedakan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara wawancara yang diolah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sedangkan data sekunder diperoleh dari penelusuran studi dokumentasi dan kepustakaan.

B. Obyek Penelitian

Obyek penelitian ini adalah menganalisis secara langsung Tinjauan Kriminologi Terhadap Pelanggaran Balap Liar Oleh Geng Motor Di Kota Gorontalo.

C. Lokasi Penelitian

Dalam penulisan ini penulis melakukan penelitian Untuk melakukan analisis terhadap permasalahan yang ada, selain melakukan wawancara dengan kepolisian, dinas sosial dan salah satu anggota genk motor.

D. Jenis dan Sumber Data

Untuk tulisan ini, penulis menggunakan data yang relevan dengan judul peneltian, dan sumber data yang digunakan adalah :

1. Data primer, di mana data ini penulis peroleh dari lokasi peneltian melalui wawancara. 2. Data Sekunder, yaitu melalui studi kepustakaan dengan melakukan pengkajian pengelolaan

secara sistematis terhadap literatur, peraturan perundang-undangan maupun karya ilmiah sebagai penunjang teori dalam penulisan serta pembahasan hasil penelitian.

E. Teknik Pengumpulan Data

Adapun tehnik pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Observasi Lapangan, yaitu pengamatan dilokasi penelitian yaitu di Polres Kota Gorontalo 2. Wawancara, yaitu melakukan wawancara kepada responden maupun kepada informan atau

pihak-pihak yang terkait permasalahan yang akan diteliti.

F. Teknik Analisa Data

Data yang diperoleh dalam peneltian ini akan dianalisis secara kualitatif deskriptif, yaitu data yang diperoleh dari lapangan diuraikan dalam bentuk kalimat yang logis selanjutnya diberi penafsiran dan kesimpulan.

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

(12)

6 Fakultas Hukum - UNISAN

antara lain menyatakan bahwa gold, human merupakan sumber crimen. Aristoteles (384-322SM) menyatakan bahwa properti menimbulkan crimen dan rebellion. Kelahiran kriminologi sebagai ilmu pengetahuan, didorong oleh hukum pidana baik materiil maupun formal serta sistem penghukuman yang sudah tidak efektif lagi untuk mencegah dan memberantas kejahatan, bahkan kejahatan semakin meningkat dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai suatu bidang ilmu tersendiri, kriminologi memiliki objek kajiannya sendiri, baik objek materiil maupun formiil. Pembeda antara ilmu yang satu dengan ilmu lain adalah kedudukan objek formiilnya. Tidak ada suatu ilmu yang memiliki objek formiil yang sama, sebab apabila objeknya sama, maka ilmu itu adalah sama.

Edwin Sutherlend (A.S. Alam 2010:3) mengemukakan bahwa : Dalam mempelajari kriminologi memerlukan bantuan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Dengan kata lain kriminologi merupakan disiplin ilmu yang bersifat interdisipliner. Sutherlend menyatakan criminolgy is a body of knowledge (kriminologi adalah kumpulan pengetahuan). Berbagai disiplin yang sangat erat kaitannya dengan kriminologi antara lain hukum pidana, antropologi pisik, antropologi budaya, psikologi, biologi, ekonomi, kimia, statistik, dan banyak lagi disiplin lainnya yang tidak dapat disebutkan dalam tulisan ini. George C. Vold (H.R Addussalam, 2007:4), menyatakan bahwa:

“Dalam mempelajari kriminologi terdapat masalah rangkap, artinya kriminologi selalu menunjukkan pada perbuatan manusia juga batasan-batasan atau pandangan pada perbuatan manusia dan juga batasan-batasan atau pandangan pada masyarakat tentang apa yang dibolehkan dan apa yang dilarang, apa yang baik dan apa yang buruk, yang semuanya itu terdapat dalam undang-undang kebiasaan dan adat-istiadat”.

Soejono Dirjosisworo (1985:4) mengemukakan pengertian kriminologi sebagai berikut :

“Dari segi Etimologi, istilah kriminologi terdiri atas 2 suku kata yaitu “crime“ (kejahatan) dan

“logos” (ilmu pengetahuan). Jadi menurut pandangan etimologi, maka istilah kriminologi berarti suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala sesuatu tentang kejahatan dan kejahatan yang dilakukanya”.

Michael dan Adler (Topo Santoso dan Eva Achjani Sulva, 2001:12) berpendapat bahwa:

“Kriminologi adalah keseluruhan keterangan mengenai perbuatan dan sifat dari para penjahat, limgkungan mereka, dan cara mereka secara resmi diperlakukan oleh lembaga-lembaga penerbit masyarakat dan oleh parah anggota masyarakat”.

(13)

Fakultas Hukum – UNISAN 7 berbagai komentar suatu peristiwa kejahatan yang berbeda dengan yang lainnya. Berbicara masalah kriminologi tentu tidak terlepas dari bahasa tentang ruang lingkup kejahatan.

Menurut A.S. Alam (Amir Ilyas, 2001:2), ruang lingkup pembahasan kriminologi mencakup tiga hal pokok, yakni:

a. Proses pembuatan hukum pidana dan acara pidana (making laws);

b. Etiologi kriminal,yang membahas teori-teori yang menyebabkan terjadinya kejahatan (breaking of laws);

c. Reaksi terhadap pelanggaran hukum (reacting toward the breaking laws). Reaksi dalam hal ini bukan hanya ditujukan kepada pelanggar hukum berupa tindakan represif tetapi juga reaksi terhadap calon pelanggar hukum berupa upaya-upaya pencegahan kejahatan (criminal prevention).

Menurut Sutherland (T. Effendi, 2009:15), kriminologi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: a. Etiologikriminal, yaitu usaha secara ilmiah untuk mencari sebab-sebab kejahatan;

b. Penologi, yaitu pengetahuan yang mempelajari tentang sejarah lahirnya hukuman, perkembangannya serta arti dan faedahnya;

c. Sosiologi hukum (pidana), yaitu analisis ilmiah terhadap kondisi-kondisi yang mempengaruhi perkembangan hukum pidana.

Dalam etiologi kriminal, yang dibahas adalah aliran-aliran (mazhab-mazhab) kriminologi, teori-teori kriminologi, dan berbagai perspektif kriminologi. Sebab-sebab Kriminalitas :

1. Pertentangan dan persaingan kebudayaan 2. Perbedaan ideologi politik

3. Kepadatan dan komposisi penduduk 4. Perbedaan distribusi kebudayaan 5. Perbedaan kekayaan dan pendapatan 6. Mentalitas yang labil

Akibat Tindakan Kriminalitas :

1. Merugikan pihak lain baik material maupun non material 2. Merugikan masyarakat secara keseluruhan

3. Merugikan negara

4. Menggangu stabilitas keamanan masyarakat

Solusi Kriminalitas :

1. Mengenakan sanksi hukum yang tegas dan adil kepada para pelaku kriminalitas tanpa pandang bulu atau derajat

2. Mengaktifkan peran serta orang tua dan lembaga pendidikan dalam mendidik anak

3. Selektif terhadap budaya asing yang masuk agar tidak merusak nilai busaya bangsa sendiri 4. Menjaga kelestarian dan kelangsungan nilai norma dalam masyarakat dimulai sejak dini

(14)

8 Fakultas Hukum - UNISAN

Adapun tipe atau jenis-jenis menurut penggolongan para ahlinya adalah sebagai berikut : 1. Penjahat dari kecendrungan (bukan karena bakat).

2. Penjahat karena kelemahan (karena kelemahan jiwa sehingga sulit menghindarkan diri untuk tidak berbuat).

3. Penjahat karena hawa nafsu yang berlebihan dan putus asa.

Kepolisian Resort Gorontalo terletak diwilayah hukum Kota Gorontalo yang berdiri sejak tahun 1976 yang beralamat di jalan P. Kalengkongan No 31 Kel Tenda, Kec. Hulontalangi Kota Gorontalo. Sebelum dinamakan Polres Gorontao dahulu diberi nama KORES ISOS Gorontalo saat ini Polres Gorontalo membawahi 7 polsek dalam wilayah Kota Gorontalo yang terdiri dari 7 satuan fungsi yaitu satuan intel, satuan reskrim, satuan resnarkoba, satuan binmas, satuan sabhara, satuan tahti dn satuan sat lantas.

Dalam mengantisipasi tantangan kedepan menuju kondisi yang diinginkan polres gorontalo sebagai lembaga penegak hukum dan melaksanakan tugas, fungsi dan wewenangnya sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku menetapkan visi yaitu “polres gorontaalo sebagai aparat pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat bersama seluruh komponen masyarakat bertekad ikut serta membangun kota gorontalo dalam menciptakan keamanan dan ketertiban untuk mewujudkan supremasi hukum, menghormati hak asasi manusia dan menjunjung tinggi etika moral menuju masyarakat yang aman dan sejahtera.

Adapun visi ini dilakukan sebagai bagian dari perencanaan strategi yang merupakan langkah penting dalam melaksanakan tugas,fungsi dan wewenangnya sehingga hal ini sangat penting bagi kelangsungan lembaga itu sendiri dimasa yang akan datang.

Untuk mewujudkan visi diatas, Polres Gorontalo menetapkan misi sebagai sarana untuk menetapkan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dengan harapan agar seluruh pegawai dan pihak-pihak yang terkait lainnya dapat mengenal lembaga polri paada umumnya dan Polres Gorontalo pada khususnya, disamping itu untuk mengetahui apa peran serta program-program dan hasil yang akan diperoleh dimasa yng akan datang.

Adpun misi yang ditetapkan polres gorontalo adalah sebagai berikut :

1. Memberi jaminan rasa aman, tertib, tentram dan damai sehingga masyarakat bebas dari rasa takut dan rasa khawatir baik secara fisik maupun psikis

2. Memberikan penyuluhan dan bimbingan di bidang penegakan hukum serta upaya-upaya keamanan dan ketertiban pada masayarakat sehingga memiliki kesadaran yang tinggi dan rasa patuh dibidang hukum serta aturan-aturan yang ada.

3. Menjaga dan memelihara keamanan dn ketertiban masyarakat dengan tetap mengindahkan nilai-nilai local yang hidup dan terpelihara di lingkungan masyrakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia

A. Faktor yang Menyebabkan Pelanggaran Balap Liar di Kota Gorontalo

(15)

Fakultas Hukum – UNISAN 9 perhatian, pujian, dan kasih sayang dari lingkungannya, khususnya dari orang tua atau keluarganya, karena secara alamiah orang tua dan keluarga memiliki ikatan emosi yang sangat kuat. Faktor lain yang juga ikut berperan menjadi alasan mengapa remaja saat ini memilih bergabung dengan geng motor adalah kurangnya sarana atau media bagi mereka untuk mengaktualisasikan dirinya secara positif. Remaja pada umumnya, lebih suka memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Namun, ajang-ajang lomba balap yang legal sangat jarang digelar. Padahal, ajang-ajang seperti ini sangat besar manfaatnya, selain dapat memotivasi untuk berprestasi, juga sebagai ajang aktualisasi diri. Karena sarana aktualisasi diri yang positif ini sulit mereka dapatkan, akhirnya mereka melampiaskannya dengan aksi ugal-ugalan di jalan umum yang berpotensi mencelakakan dirinya dan orang lain.

A.1. Faktor Lingkungan.

Lingkungan juga berperan aktif dalam menciptakan pelaku-pelaku dari kekerasan anggota geng motor tersebut. Lingkungan yang kumuh dan terpencil membuat wilayah itu rawan terhadap berbagai bentuk tindakan kriminal seperti pencurian, perusakan, hingga pembunuhan, serta tindakan-tindakan amoral. Menurut teori ini yang biasa juga disebut sebagai mazhab perancis mengatakan bahwa

“Seseorang melakukan kejahatan karena dipengaruhi oleh faktor di sekitarannya/lingkungannya, baik lingkungan keluarga, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan termasuk dengan pertahanan dengan dunia luar, serta panamuan teknologi”.

Masuknya barang-barang dari luar negeri seperti televisi, buku-buku, serta film dengan berbagai macam reklame sebagai promosinya ikut pula menentukan tinggi rendahnya tingkat pelanggaran balap liar anggota geng motor di Kota Gorontalo.

A.2. Faktor Usia.

Dari hasil wawancara penulis di Polresta Gorontalo dalam hal ini (pelanggaran balap liar oleh anggota geng motor) diperoleh fakta bahwa usia pelakunya tergolong masih muda, yaitu 12-17 tahun berada pada masa transisi (remaja) yang notabenenya masih mengalami kesulitan adaptasi lingkungan sehingga kepribadian mereka mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif. Sifat yang masih tergolong labil, emosional dan gampang terprovokasi membuat tindakan kekerasan anggota geng motor tersebut sangat sulit untuk diantisipasi, walaupun tak dapat dipungkiri bahwa banyak juga orang dewasa yang terlibat di dalamnya.

A.3. Peran Media

(16)

10 Fakultas Hukum - UNISAN

B. Upaya Penanggulangan oleh Pihak Kepolisian B.1. Upaya Preventif

Upaya pencegahan yang dilakukan oleh pihak kepolisian yaitu dengan melakukan Salah satu solusi yang bisa memperbaiki keadaan mereka secara efektif adalah peran; kepedulian; dan kasih sayang orang tua mereka sendiri. Solusi ini akan lebih efektif, mengingat penyebab utama mereka memilih geng motor sebagai bagian kehidupannya adalah karena mereka merasa jauh dari kasih sayang orang tua. Dalam menterapi anaknya yang sudah terlanjur terlibat anggota geng motor, orang tua bisa bekerja sama dengan psikolog yang mereka percayai. Sehingga secara pasikologis sedikit demi sedikit anak akan mendapatkan kembali kenyamanan berada dalam kasih sayang orang tua.

Sebagai upaya preventif terhadap peningkatan jumlah anggota geng motor di kemudian hari, perlu dilakukan penanaman nilai-nilai agama sejak dini. terutama tentang akhlaq (moral dan etika). Dengan begitu anak akan mengetahui mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sehingga pada saat mereka sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat mereka tahu batasan-batasan dan aturan yang harus dipatuhi.

Upaya yang dilakukan polisi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam memberantas aksi balap motor liar seolah-olah tak ada habisnya. Dalam upaya mencegah terjadinya balap motor liar, pihak kepolisian sudah mengupayakan berbagai cara, dimulai dari metode paling lunak hingga metode yang keras. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil yang nyata. Tidak jarang pelaku balap motor liar kucing-kucingan dengan pihak kepolisian. Para pembalap jalanan itu tidak ada kapoknya, mereka terus melakukan aksi kebut-kebutan pada malam hari. Patroli yang dilakukan polisi untuk mencegah terjadinya balap motor liar dilakukan hampir setiap malam, terutama pada hari sabtu, biasanya pembalap tersebut seringkali melakukan aksinya pada malam minggu yang merupakan malam berkumpulnya anak muda. Pihak kepolisian melakukan patroli pada jam-jam rawan, yakni pada malam hari yang sasarannya adalah pelaku balap motor liar. Namun para pembalap jalanan itu mencari celah ketika petugas lengah. Setelah polisi melakukan patroli dan membubarkan balap motor liar, mereka kemudian melanjutkan lagi adu balap motor tersebut di jalan raya tanpa mengenal rasa takut.

B.2. Upaya Represif

Dari hasil wawancara lapangan penulis di Kota Gorontalo, ada beberapa anggota geng motor yang melakukan balapan liar pada malam hari sekitar jam 02.00 wita malam, sehingga banyak warga sekitar yang merasa terganggu, dan pengguna jalan lainnya tidak bisa menggunakan kecepatan di atas rata-rata karena kelompok geng motor menghalangi pengguna jalan di malam hari.

Dari hasil wawancara langsung, ditemukan fakta bahwa dengan keberadaan kelompok anggota geng motor di Kota Gorontalo, maka aparat penegak hukum (polisi) perlu melakukan tindakan agar kelompok anggota geng motor tidak melakukan lagi balap liar.

1) Upaya yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam mengurangi pelanggaran yang dilakukan oleh anggota geng motor di Kota Gorontalo, yaitu dengan :

a) Melakukan penyuluhan-penyuluhan tentang sanksi hukum terhadap perilaku kriminal. b) Membuat pos jaga di sekitar wilayah rawan tindak kriminal utamanya tindak

(17)

Fakultas Hukum – UNISAN 11 c) Menyelenggarakan acara pencanangan gerakan nasional pelopor lalu lintas yang

sudah dilakukan pada bulan januari 2014.

d) Pihak kepolisian dengan pemerintah kota gorontalo dan TNI untuk melakukan razia langsung ditempt kejadian balab liar dan memberikan sanksi terhadap pelaku balap liar oleh geng motor yang terkena razia agar bertobat.

3). Solusi dalam upaya meminimalisir tindak pelnggaran balap liar anggota geng motor. Ada beberapa langkah preventif yang dapat dilakukan guna mengurangi tingkat kejahatan, yang meliputi :

a) Peningkatan penyuluhan hukum untuk memeratakan kesadaran hukum.

b) Menambah personil kepolisian dan personil penegak hukum lainnya untuk lebih meningkatkan tindakan represif maupun preventif.

c) Meningkatkan ketangguhan moral serta profesionalisme bagi para pelaksana penegak

Upaya represif yang dilakukan oleh pihak kepolisian dalam sanksi terdapat dalam dasar hukum pelanggaran balap liar terdapat dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan, yaitu dalam :

Pasal 115 Pengemudi kendaraan bermotor dijalan dilarang :

a. Mengemudikan kendaraan melebihi batas kecepatan paling tinggi yang diperbolehkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21; dan atau

b. Berbalapan dengan kendaraan bermotor lain.

Pasal 297

Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor berbalapan dijalan sebagaimana dimaksud dalam pasal 115 huruf b dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp. 3.000.000,00 (Tuga Juta Rupiah)

III. PENUTUP

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka penulis menarik kesimpulan berdasarkan rumusan masalah dari hasil penelitian dan pembahsan yakni sebagai berikut :

1. Faktor Yang Menyebabkan Pelanggaran Balap Liar Oleh Anggota Geng Motor Di Kota Gorontalo adalah Tentunya sangat banyak faktor penyebab remaja terjerumus ke dalam kawanan geng motor. faktor lingkungan, usia dan peran media. Faktor lingkungan sedikit lebihnya membawah pengaruh terhadap pola tingkah laku warga utamanya yang berada dikawasan kumuh dan terpencil, Faktor usia yang relatif masih muda dan labil serta emosi yang kurang terkendali membuat pelaku kekerasan kelompok sangat mudah terprovokasi, Media massa dan elektronik juga menyumbang peran dalam proses terbentuknya sikap dan tidak kekerasan melalui gambar dan tayangan-tayangan kekerasan.

(18)

12 Fakultas Hukum - UNISAN

dengan cara patroli atau razia balap motor liar tersebut dilakukan karena keinginan polisi dalam menyelamatkan nyawa generasi muda karena pelaku balap motor liar kebanyakan berusia remaja yang tentunya memiliki masa depan yang sangat panjang dan diharapkan agar mereka kelak dapat menjadi generasi yang berguna dan membanggakan sehingga dapat memberikan manfaat bagi kehidupannya kelak.

DAFTAR PUSTAKA

A.S. Alam, Pengantar Kriminologi, Pustaka Refleksi. Makassar, 2010. Anwar, Yesmil dan Adang, Kriminologi, Refika Aditama, Bandung, 2010.

---, Saat Menuai Kejahatan, Refika Aditama, Bandung, 2009. Atmasasmita, Romli. Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, PT. Eresco, Bandung Moeljatno, L. Kriminologi. Jakarta: PT. Bina Aksara. 1986.

Muladi dan B. Nawawi, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, Bandung, Alumni, 1984. Kartono, K. Psikologi Anak. Bandung. 1979.

Reksodiputro, M. Masalah Penanggulangan Kejahatan yang Dilakukan Pelaku Usia Muda. Jakarta, 1979.

Simandjuntak, B. Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial, Tarsito, Bandung, 1981. Sudarto. Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Alumni, 1981.

Soemitro, Rony Hanitojo. Metode Penelitian Hukum dan Jurumetri, Semarang: Ghalia Indonesia, 2002.

(19)

Fakultas Hukum – UNISAN 13 PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PIHAK SWASTA

SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI

Ramdhan Kasim

Fakultas Hukum Universitas Gorontalo

Abstract

Criminal liability and criminal sanctions stipulated in Law corruption is broader than that stipulated by the Criminal Code, sanctions in the Act of corruption for the private sector and the civil service at which the death penalty, imprisonment, criminal fines and additional penalty. Legal arrangements in the Act of corruption that are 14 article that regulates corruption of the private sector, which is divided into three groups: the crime of financial loss to the state and the economy of the country, groups of the crime of bribery and the crime of fraudulent group.

Keywords: Criminal liability, sanction, corruption.

I. PENDAHULUAN

Suatu fenomena sosial yang dinamakan dengan korupsi telah menjadi realitas perilaku yang dianggap sebagai perbuatan menyimpang serta dapat membahayakan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Perilaku tersebut menjadi momentum penting serta menjadi perhatian berbagai pihak terhadap pemberantasan korupsi. Di Negara Indonesia, bahwa salah satu isu saat ini yang paling penting untuk segera dipecahkan adalah masalah tindak pidana korupsi. Hal ini disebabkan karena tindak pidana korupsi di Indonesia sudah mennyebar di semua aspek kehidupan masyarakat. Apalagi setelah diterapkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, dimana banyak kewenangan yang sebelumnya berada di pusat kemudian beralih ke pemerintahan daerah, sehingga memberikan peluang kepada kepala Daerah menyalahgunakan kewenanganannya untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain.

Terdapat ungkapan bahwa “otonomi daerah telah merubah korupsi yang tadinya tersentralisasi

(20)

14 Fakultas Hukum - UNISAN

Permasalahan korupsi di Indonesia memang sudah sedemikian parah. Berbagai kalangan angkat bicara, mendiskusikan dan membahas permasalahan korupsi. Dari orang awam, mahasiswa, praktisi hukum, pakar hukum dan sastrawan pun ikut bicara. Intinya bahwa korupsi harus segera diberantas. Satjipto Rahardjo (Achmad Ali, 2001:16) menyatakan bahwa sudah waktunya bangsa Indonesia mencanangkan bahaya korupsi sebagai keadaan darurat. Karena keadaannya darurat maka juga mesti ditangani dengan cara berpikir darurat cara bertindak darurat dan dengan petinggi hukum yang mampu melakukan terobosan yang bersifat darurat.

Di Indonesia lembaga-lembaga pengawasan sangat banyak, seperti: Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal Departemen, Badan Pengawasan Daerah (Bawasda), Pengawasan Fungsional, Pengawasan Melekat dan Pengawasan Masyarakat, sehingga seharusnya pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan pegawai negeri di Indonesia maupun pihak swasta apalagi yang ada hubungannya dengan penerimaan, penggunaan dan pengelolaan keuangan negara seharusnya sudah sedemikian sangat ketat diawasi oleh lembaga-lembaga pengawasan itu, namun kenyataannya tindak pidana korupsi semakin meluas.

Kenyataan yang terungkap bahwa di Indonesia, seolah-olah pelaku utama dari tindak pidana korupsi tersebut adalah pegawai negeri. Pegawai negeri dengan jabatan tertentu dalam melakukan tugas jabatannya dapat melakukan tindak pidana korupsi sehingga yang menjadi sasaran utama dari Undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi itu adalah pegawai negeri saja. Hal ini dipertegas lagi oleh Andi Hamzah (2005:16) sendiri menyatakan sebab terjadinya korupsi antara lain adalah kurangnya gaji atau pendapatan pegawai negeri dibandingkan dengan kebutuhan yang makin hari makin meningkat.

Penyebab pendapat seperti itu oleh karena banyaknya kasus tindak pidana korupsi hanya diarahkan kepada pegawai negeri atau aparat pemerintah. Bahkan pegawai negeri yang dimaksud terutama adalah pegawai negeri sipil. Sehingga seakan-akan pelaku utama dari praktek-praktek korupsi atau tindak pidana korupsi hanyalah pegawai negeri sipil saja ataupun orang-orang yang disamakan dengan pegawai negeri sipil itu. Praktik-praktik korupsi itu terkadang terjadi karena adanya kerjasama dengan pegawai negeri, namun seringkali seakan-akan pihak swasta tidak dapat disentuh atau dijangkau oleh hukum, padahal kemungkinan besar kasus-kasus korupsi di Indonesia apabila ditinjau dari sudut jumlah pelaku dan jumlah kerugian keuangan negara lebih banyak dilakukan oleh pihak swasta dari pada yang dilakukan oleh pegawai negeri, tetapi hal ini perlu penelitian lebih lanjut.

Secara teoritis yuridis Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi saat sekarang ini telah memberikan sarana yang cukup lengkap untuk dapat menjerat pelaku praktik-praktik korupsi. Mulai dari si penerima sampai dengan si pemberi, dari pegawai negeri sampai dengan bukan pegawai negeri atau pihak swasta dan korporasi. Sehingga seharusnya setiap orang atau siapapun yang secara langsung atau tidak langsung perbuatannya telah memenuhi rumusan menurut Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dapat dikenakan hukuman atau diminta pertanggungjawaban pidananya.

(21)

Fakultas Hukum – UNISAN 15 pidana Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi saat sekarang ini jauh lebih berat, dan dalam keadaan tertentu dapat dijatuhkan pidana mati. Oleh karena itu penulis sangat tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai pengaturan pasal korupsi untuk pihak swasta dan bagaimanakah pertanggungjawaban pidana untuk pihak swasta menurut Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sehingga yang menjadi rumusan masalah yang akan dikaji dalam tulisan adalah Bagaimana Pengaturan Hukum Tindak Pidana Korupsi di Indonesia? Dan Bagaimana Penerapan Tindak Pidana Korupsi terhadap Pihak Swasta sebagai Pertanggungjawaban Pidana?

II. PEMBAHASAN

A. Pertanggungjawaban Pihak Swasta Menurut Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi

Pihak swasta menurut Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah setiap orang diluar pengertian pegawai negeri yang sudah diatur dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, Advokat, Pemborong, Ahli Bangunan, Penjual Bangunan dan Korporasi yang tidak menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah atau mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.

Dari tiga puluh satu pasal rumusan tindak pidana korupsi menurut Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tersebut, dari hasil penelitian penulis terdapat 14 (empat belas) Pasal yang mengatur tindak pidana korupsi untuk pihak swasta. Hal ini berdasarkan dari subjek pelakunya khusus untuk pihak swasta dan tujuan dari perbuatan. Dari empat belas Pasal pengaturan tindak pidana korupsi yang untuk pihak swasta tersebut, terbagi lagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu tindak pidana merugikan keuangan negara dan perekonomian negara, tindak pidana penyuapan dan tindak pidana perbuatan curang.

Tabel 1.

Kelompok Tindak Pidana Untuk Pihak Swasta No Kelompok Tindak

Pidana

Pasal Tindak Pidana Korupsi Jumlah

1. Merugikan keuangan negara dan perekonomian negara

Pasal 2 ayat (1), Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 3

3 Pasal

2. Penyuapan Pasal 5 ayat (1) huruf a, Pasal 5 ayat (1) huruf b, Pasal 6 ayat (1) huruf a, Pasal 6 ayat (1) huruf b, Pasal 6 ayat (2), Pasal 12 huruf d dan Pasal 13

7 Pasal

3. Perbuatan curang Pasal 7 ayat (1) huruf a, Pasal 7 ayat (1) huruf b, Pasal 7 ayat (1) huruf c dan Pasal 7 ayat (1) huruf d

(22)

16 Fakultas Hukum - UNISAN

Pada umumnya yang diutamakan harus mencari dalam ketentuan-ketentuan undang-undang (penafsiran secara autentik). Maksudnya apakah ada suatu pasal undang-undang yang menentukan pengertian atau maksud dari istilah yang sedang dipermasalahkan. Jika tidak ada, lalu dicari dalam penjelasan undang-undang dan apabila tidak ditemukan juga maka dicari dalam jurisprudensi dan pendapat para ahli hukum. Roeslan Saleh (1983:75) menjelaskan bahwa dalam pengertian perbuatan pidana tidak termasuk hal pertanggungjawaban. Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarangnya perbuatan. Apakah orang yang telah melakukan perbuatan itu kemudian juga dipidana tergantung pada soal apakah dia dalam melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau tidak. Apabila orang yang melakukan perbuatan pidana itu memang mempunyai kesalahan, maka tentu dia akan dipidana. Tetapi, manakala dia tidak mempunyai kesalahan, walaupun dia telah melakukan perbuatan yang terlarang dan

tercela, dia tentu tidak dipidana. Asas yang tidak tertulis: “Tidak dipidana jika tidak ada kesalahan”,

merupakan dasar daripada dipidananya sipembuat.

Selanjutnya Roeslan Saleh (1983:76) menyatakan bahwa tidaklah ada gunanya untuk mempertanggungjawabkan terdakwa atas perbuatannya apabila perbuatan itu sendiri tidaklah bersifat melawan hukum, maka lebih lanjut sekarang dapat pula dikatakan bahwa terlebih dahulu harus ada kepastian tentang adanya perbuatan pidana dan kemudian semua unsur-unsur kesalahan tadi harus dihubungkan pula dengan perbuatan pidana yang dilakukan, sehingga untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidananya terdakwa maka terdakwa haruslah:

1) Melakukan perbuatan pidana 2) Mampu bertanggungjawab

3) Dengan kesengajaan atau kealpaan 4) Tidak adanya alasan pemaaf

Schuld mempunyai pengertian yang bertalian dengan pertanggungjawaban. Dapat dipertanggungjawabkan (toerekeingsvatbaarheid) adalah mengenai keadaan jiwa seseorang, sedangkan pertanggungjawaban (toerekendbaarheid) adalah mengenai perbuatan yang dihubungkan dengan si pelaku atau pembuat. seseorang dapat dipertanggungjawabkan apabila:

1) Keadaan jiwa orang itu adalah sedemikian rupa, sehingga di dapat mengerti atau tahu akan nilai perbuatannya itu, juga akan mengerti akan akibatnya.

2) Keadaan jiwa orang itu adalah sedemikian rupa, sehingga dia dapat menentukan kehendaknya atas perbuatan yang dilakukan.

3) Orang itu sadar dan insyaf, bahwa perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang dilarang atau tidak dibenarkan dari sudut hukum, masyarakat dan tatasusila.

Dalam perkembangan hukum pidana Indonesia, ada tiga sistem pertanggungjawaban korporasi sebagai subjek tindak pidana, yaitu :

1) Pengurus korporasi sebagai pembuat, maka penguruslah yang bertanggung jawab.

2) Korporasi sebagai pembuat, maka pengurus yang bertanggung jawab.

(23)

Fakultas Hukum – UNISAN 17 Pasal 20 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 telah mengatur pertanggungjawaban pidana suatu korporasi. Dengan demikian pertanggungjawaban korporasi yang bukan menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah atau korporasi yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.

Pertanggungjawaban pidana pihak swasta, dapat kita lihat mengenai adanya:

1) Pengaturan tentang melakukan percobaan, perbantuan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi, sebagaimana yang diatur Pasal 15.

2) Pengaturan tentang penjatuhan pidana secara in absentia, sebagaimana yang diatur Pasal 38.

3) Pengaturan tentang perampasan barang-barang yang telah disita terhadap terdakwa yang telah meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan, sebagaimana yang diatur Pasal 38 ayat (5).

4) Pengaturan pelaku yang memberikan bantuan, kesempatan, sarana atau keterangan terjadinya tindak pidana korupsi diluar wilayah negara Republik Indonesia, sebagaimana yang diatur Pasal 16.

5) Pengaturan terhadap pelaku yang menghalangi pemeriksaan perkara korupsi, sebagaimana yang diatur Pasal 21

6) Pengaturan tentang memberikan keterangan yang tidak benar, sebagaimana diatur dalam Pasal 22 jo Pasal 28, Pasal 29, Pasal 35 dan Pasal 36.

7) Pengaturan tentang saksi yang membuka identitas pelapor, sebagaimana diatur dalam Pasal 24 jo Pasal 31.

Agar mencapai tujuan yang diharapkan dengan diberlakukannya Undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi maka Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 telah menentukan ancaman pidana penjara minimum atau paling singkat sampai pidana denda maksimum atau paling lama, pidana denda minimum atau paling sedikit sampai pidana denda maksimum atau paling banyak dan sampai pada ancamanan pidana mati. Kemudian juga pidana tambahan berupa pidana penjara bagi pelaku tindak pidana korupsi yang tidak dapat membayar uang pengganti yang merupakan pengganti dari kerugian keuangan negara.

Sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi untuk pihak swasta adalah sama saja dengan untuk pegawai negeri. Sanksi pidana yang diatur berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Korupsi yaitu:

1. Pidana Mati

Dapat dipidana mati kepada setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara sebagaimana ditentukan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang dilakukan dalam “keadaan tertentu”.

2. Pidana Penjara

(24)

18 Fakultas Hukum - UNISAN

kebebasan seseorang dimana pidana penjara ini dijalankan di dalam gedung penjara yang dinamakan Lembaga Pemasyarakatan. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

3. Pidana Denda

Pidana denda merupakan satu-satunya pidana yang dapat dipikul oleh orang lain selain terpidana. Walaupun denda dijatuhkan terhadap terpidana pribadi tidak ada larangan jika denda itu secara sukarela dibayar oleh orang lain atas nama terpidana. Hasil penagihan denda diperuntukkan bagi kas negara. Pembayaran pidana denda ini dapat diganti pidana kurungan, hal ini merupakan pengganti pidana denda yang tidak dapat dibayar oleh terpidana. Jadi apabila pidana denda telah dilunasi, maka terpidana dapat dibebaskan dari pidana kurungan.

4. Pidana Tambahan

(25)

Fakultas Hukum – UNISAN 19

Kemudian pidana tambahan khususnya berupa uang pengganti, apabila terdakwa tidak dapat mengganti uang pengganti yang merupakan kerugian keuangan negara maka diganti dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi dari pidana penjara pokok yang diatur dalam Pasal tersebut. Tetapi tidak otomatis apabila sudah menjalani pidana penjara yang merupakan pengganti belum dibayarnya pidana tambahan berupa uang pengganti, tetap uang pengganti itu akan ditagih secara keperdataan. Namun apabila tidak dapat juga diganti maka uang pengganti tersebut dapat dihapus sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 31/pmk.07/2005 tentang Tata Cara Pengajuan Usul, Penelitian, dan Penetapan Penghapusan Piutang Perusahaan Negara/Daerah dan Piutang Negara/Daerah.

Di Indonesia langkah-langkah pembentukan hukum positif untuk menghadapi masalah korupsi telah dilakukan selama beberapa masa perjalanan sejarah dan melalui bebrapa masa perubahan perundang- undangan. Istilah korupsi sebagai istilah yuridis baru digunakan tahun 1957, yaitu dengan adanya Peraturan Penguasa Militer yang berlaku di daerah kekuasaan Angakatan Darat (Peraturan Militer Nomor PRT/PM/06/1957). Beberapa peraturan yang mengatur mengenai tindak pidana korupsi di Indonesia sebagai berikut :

Masa Peraturan Penguasa Militer, yang terdiri dari:

(26)

20 Fakultas Hukum - UNISAN

keuangan atau perekonomian. Tiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang pejabat yang menerima gaji atau upah dari suatu badan yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah yang dengan mempergunakan kesempatan atau kewenangan atau kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh jabatan langsung atau tidak langsung membawa keuntungan keuangan material baginya.

b. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/PM/08/1957 berisi tentang pembentukan badan yang berwenang mewakili negara untuk menggugat secara perdata orang- orang yang dituduh melakukan berbagai bentuk perbuatan korupsi yang bersifat keperdataan (perbuatan korupsi lainnya lewat Pengadilan Tinggi. Badan yang dimaksud adalah Pemilik Harta Benda (PHB).

c. Peraturan Penguasaan Militer Nomor PRT/PM/011/1957 merupakan peraturan yang menjadi dasar hukum dari kewenangan yang dimiliki oleh Pemilik Harta Benda (PHB) untuk melakukan penyitaan harta benda yang dianggap hasil perbuatan korupsi lainnya, sambil menunggu putusan dari Pengadilan Tinggi.

d. Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan darat Nomor PRT/PEPERPU/031/1958 serta peraturan pelaksananya.

e. Peraturan Penguasaan Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Laut Nomor PRT/z.1/I/7/1958 tanggal 17 April 1958 (diumumkan dalam BN Nomor 42/58). Peraturan tersebut diberlakukan untuk wilayah hukum Angkatan Laut.

f. Masa Undang- Undang Nomor 24/Prp/Tahun 1960 tentang Pengusutan, Penuntutan, dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Anti Korupsi, yang merupakan peningkatan dari berbagai peraturan. Sifat Undang- Undang ini masih melekat sifat kedaruratan, menurut Pasal 96 UUDS 1950, Pasal 139 Konstitusi RIS 1949. Undang-Undang ini merupakan perubahan dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 yang tertera dalam Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1961.

g. Masa Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1971 (LNRI 1971-19, TNLRI 2958) tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

h. Masa Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 (LNRI 1999-40, TNLRI 387), tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi kemudian diubah dengan undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 (LNRI 2001-134, TNLRI 4150), tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selanjutnya pada tanggal 27 Desember 2002 dikeluarkan Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2002 (LNRI 2002-137. TNLRI 4250) tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(27)

Fakultas Hukum – UNISAN 21 diatur dalam KUHP, dapat diartikan bahwa suatu bentuk aturan khusus telah mengesampingkan aturan umum (Lex Specialis Derogat Legi Generali). Dengan kata lain Pasal 103 KUHP memungkinkan suatu ketentuan perundang-undangan di luar KUHP untuk mengesampingkan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam KUHP.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebenarnya terdapat ketentuan-ketentuan yang mengancam dengan pidana orang yang melakukan delik jabatan, pada khususnya delik-delik yang dilakukan oleh pejabat yang terkait dengan korupsi. Ketentuan- ketentuan tindak pidana korupsi yang terdapat dalam KUHP dirasa kurang efektif dalam mengantisipasi atau bahkan mengatasi permasalahan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, dibentuklah suatu peraturan perundang-undangan guna memberantas masalah korupsi, dengan harapan dapat mengisis serta menyempurnakan kekurangan yang terdapat pada KUHP. Dengan berlakunya Undang- Undang 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 tentang Pemberantasan tindak Pidana korupsi, maka ketentuan Pasal 209 KUHP, Pasal 210 KUHP, Pasal 387 KUHP, Pasal 388 KUHP, Pasal 415, Pasal 416 KUHP, Pasal 417 KUHP, Pasal 418 KUHP, Pasal 419 KUHP, Pasal 420 KUHP, Pasal 423 KUHP, Pasal 425 KUHP, Pasal 434 KUHP dinyatakan tidak berlaku.

Perumusan tindak pidana korupsi menutur Pasal 2 ayat (1) Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 adalah setiap orang (orang-perorangan atau korporasi) yang memenuhi unsur/elemen dari pasal

tersebut. Dengan demikian, pelaku tindak pidana korupsi menurut pasal ini adalah “Setiap Orang”,

tidak ada keharusan Pegawai Negeri. Jadi, juga dapat dilakukan oleh orang yang tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau korporasi, yang dapat berbentuk badan hukum atau perkumpulan. Adapun perbuatan yang dilakukan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi adalah sebagai berikut :

1. Memperkaya diri sendiri, artinya bahwa perbuatan melawan hukum itu pelaku menikmati bertambahnya kekayaan atau harta benda miliknya sendiri.

2. Memperkaya orang lain, maksudnya akibat perbuatan melawan hukum dari pelaku, ada orang lain yang menikmati bertambahnya kekayaannya atau bertambahnya harta bendanya. Jadi, di sini yang diuntungkan bukan pelaku langsung.

3. Memperkaya korporasi, atau mungkin juga yang mendapat keuntungan dari perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku adalah suatu korporasi, yaitu kumpulan orang atau kumpulan kekayaan yang terorganisasi, baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum (Pasal 1 angka 1 undang- undang Nomor 31 Tahun 1999).

(28)

22 Fakultas Hukum - UNISAN

telah diperluas, pelaku korupsi tidak didefenisikan hanya kepada orang perorang tetapi juga pada korporasi, sanksi yang dipergunakan adalah sanksi minimum sampai pidana mati, seperti yang tercantum dalam Pasal 2 dan Pasal 3 undang-undang tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan telah pula dilengkapi dengan pengaturan mengenai kewenangan penyidik, penuntut umumnya hingga hakim yang memeriksa di sidang pengadilan. Bahkan, dalam segi pembuktian telah diterapkan pembuktian tebalik secara berimbang dan sebagai kontrol, undang- undang ini dilengkapi dengan Pasal 41 pengaturan mengenai peran serta masyarakat, kemudian dipertegas dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu pengaturan tindak pidana korupsi dilakukan melalui kerja sama dengan dunia Internasioanal. Hal ini dilakukan dengan cara menandatangani konvensi PBB tentang anti korupsi yang memberikan peluang untuk mengembalikan aset- aset para koruptor yang di bawa lari ke luar negeri. Dengan meratifikasi konvensi ini, Indonesia akan diuntungkan dengan penanda tangan jonvensi ini. Salah satu yang penting dalam konvensi inia adalah adanya pengaturan tentang pembekuan, penyitaan dari harta benda hasil korupsi yang ada di luar negeri.

Dalam praktek kita mengenal dua bentuk korupsi diantaranya Administrative Coruption, di mana segala sesuatu yang dijalankan adalah sesuai dengan hukum/ peraturan yang berlaku. Akan tetapi, individu- individu tertentu memperkaya dirinya sendiri. Misalnya dalam hal proses rekruitmen pegawai negeri, di mana dilakukan ujian seleksi mulai dari seleksi administratif sampai ujian pengetahuan atau kemampuan. Akan tetapi. Yang harus diluluskan sudah tertentu orangnya. Selain itu ada juga yang disebut dengan Against the rule corruption, artinya korupsi yang dilakukan adalah sepenuhnya bertentangan dengan hukum. Misalnya penyuapan, penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. Di masa orde lama masalah korupsi ini diperangi dengan Peraturan Penguasa Perang Nomor Prt/Perpu/013/1958, yang diumumkan pada tanggal 16 April 1958 dan disiarkan dalam Berita Negara nomor 40 Tahun 1958.

Subjek delik korupsi dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, terbagi dalam dua kelompok, yang kedua-duanya jika melakukan perbuatan pidana diancam sanksi. Pelaku ataupun subjek delik tersebut adalah manusia, korporasi, pegawai negeri, dan setiap orang. Ada beberapa perumusan delik dalam tindak pidana korupsi diantaranya adalah:

1. Memperkaya Diri atau Orang Lain Secara Melawan Hukum

Perumusan tindak pidana korupsi menurut pasal 2 ayat 1 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 adalah setiap orang (orang- perorangan atau korporasi) yang memenuhi unsur/ elemen dari pasal tersebut.dengan demikian, pelaku tindak pidana korupsi menurut pasal ini adalah “Setiap orang”, tidak ada keharusan Pegawai Negeri. Jadi, juga dapat dilakukan oleh orang yang tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau korporasi, yang dapat berbentuk badan hukum atau perkumpulan.

(29)

Fakultas Hukum – UNISAN 23 a. Memperkaya diri sendiri, artinya dengan perbuatan melawan hukum itu pelaku

menikmati bertambahnya kekayaan atau harta benda miliknya sendiri.

b. Memperkaya orang lain, yaitu akibat perbuatan melawan hukum dari pelaku ada orang lain yang menikmati bertambahnya kekayaannya atau bertambahnya harta bendanya. Jadi yang diuntungkan bukan pelaku langsung.

c. Memperkaya korporasi, atau mungkin juga mendapat keuntungan dari perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku adalah suatu korporsi, yaitu kumpulan orang atau kumpulan kekeyaan yang terorganisasi, baik merupakan badan hukum maupun badan hukum (pasal 1 angka 1 Undang- undang Nomor 31 Tahun 1999).

3. Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

Apabila perbuatan itu dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, perbuatan pidana sudah selesai dan sempurna dilakukan. Adapun yang dimaksud dengan keugangan neagar adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apa pun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk di dalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena berada dalam penguasaan, pengurusan dan pertanggungjawaban pejabat, lembaga negara, baik di tingkat pusat maupun di daerah. Sedangkan yang dimaksud dengan perekonomian negara adalah kehidupan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan yang didasarkan pada kebijakan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun di daerah. Hukumannya adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp.200.000.000,- dan paling banyak Rp.1.000.000.000,-

Delik dalam Pasal 3 (penyalahgunaan kewenangan, kesempatan atau sarana), yang pertama sekali perlu dipahami, bahwa pelaku tindak pidana menurut pasal 3 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 ini adalah setiap orang, yakni orang perorangan dan korporasi yang menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukannya. Pertanggungjawaban pidana dalam delik korupsi lebih luas dari hukum pidana umum. Hal itu nyata dalam hal, kemungkinan penjatuhan pidana secara in absentia (Pasal 23 ayat 1 sampai ayat 4 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971, Pasal 38 ayat 1,2,3 dan 4 UU Tindak Pidana Korupsi 1990). Perampasan barang-barang yang telah disita bagi terdakwa yang telah meninggal dunia sebelum ada putusan yang tidak dapat diubah lagi (pasal 23 ayat 5 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971, pasal 38 ayat 5 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1999), bahkan kesempatan banding tidak ada. Perumusan delik dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971 yang sangat luas ruang lingkupnya, terutama unsur ketiga pada Pasal 1 ayat 1 sub a dan b UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971, Pasal 2 dan 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1999. Penafsiran kata

“menggelapkan” pada delik penggelapan (Pasal 415 KUHP) oleh Yurisprudensi baik di Belanda maupun di Indonesia sangat luas. Uraian mengenai perluasan pertanggungjawaban pidana tersebut di atas dilanjutkan di bawah ini, pasal ini diadopsi menjadi Pasal 8 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 2001).

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, jenis penjatuhan pidana yang dapat dilakukan hakim terhadap terdakwa tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut:

(30)

24 Fakultas Hukum - UNISAN

1.1 Pidana Mati, baik berdasarkan pasal 69 KUHP, UU PTPK maupun berdasarkan hak tertinggi manusia pidana mati adalah pidana terberat karena pelaksanaannya berupa penyerangan terhadap hak hidup manusia yang merupakan hak asasi manusia yang utama. Selain itu, tidak dapat dikoreksi atau diperbaiki eksekusi yang telah terjadi apabila dikemudian hari ditemukan kekeliruan. Untuk itu hanya perbuatan pidana yang benar- benar berat yang diancam oleh pidana mati. Dan setiap pasal yang mencantumkan pidana mati selalu disertai alternatif pidana lainnya sehingga hakim tidak disertai merta pasti menjatuhkan hukuman mati kepada pelanggar pasal yang diancam pidana mati. Misalnya pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana sementara paling lama 20 tahun sebagaimana tercantum dalam pasal 340 KUHP, prinsip ini juga diikuti UU lain termasuk UU PTPK. Didalam UU No. 31 Tahun 1999 hanya terdapat

tindak pidana yang diancam mati yaitu pasal 2 ayat 2. Pidana mati di sini “dapat diancam apabila tindak pidana yang diatur pada ayat 2 beserta penjelasannya. Keadaan tertentu dijelaskan dalam penjelasan Pasal 2 ayat 2 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yaitu sebagai pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi apabila tindak pidana tersebut dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan UU yang berlaku, pada waktu terjadi bencana nasional, sebagai pengulangan tindak pidana korupsi, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi atau moneter.

1.2. Pidana Penjara, merupakan perampasan kemerdekaan yang merupakan hak dasar diambil secara paksa. Mereka tidak bebas pergi ke mana saja dan tidak dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial sesuai yang ia kehendaki. Namun, waktu pemidanaannya dipergunkan demi kepentingan reclassering (Pemasyarakatan atau pembinaan). Pengaturan pidana penjara menurut KUHP adalah sebagai berikut:

- Seumur hidup (tanpa minimal atau maksimal).

- Sementara dengan waktu paling pendek satu hari dan paling lama 15 tahun sesuai pasal 12 ayat 2 KUHP. Pidana penjara dapat melewati batas maksimum umum yaitu 15 tahun menjadi hingga 20 tahun dalam hal:

 Hakim boleh memilih antara pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau penjara sementara 20 tahun.

 Hakim boleh memilih antara pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara 20 tahun.

 Ada pemberatan umum yaitu, concursus / pembarengan yang diatur dalam Pasal 65 hingga Pasal 70, reseidve / pengulangan yang diatur dalam Pasal 486 hingga Pasal 488, Pasal 52 mengenai pengalahgunaan wewenang jabatan, dan Pasal 52a tentang menyalahgunakan bendera RI.

 Ada pemberatan khusus, seperti Pasal 355 jo Pasal 356 mengenai penganiayaan seorang anak terhadap ibu kandungnya.

(31)

Fakultas Hukum – UNISAN 25 sementara diancam dengan batas maksimum dan batas minimum. Batas minimum ditentukan dalam pasal- pasal dalam UU ini sebagai salah satu upaya dalam rangka mencapai tujuan yang lebih efektif untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi. Pidana penjara sementara berkisar antara 1 tahun hingga 20 tahun. Pidana 20 tahun sebagai alternatif penjara seumur hidup.

1.3. Pidana Tambahan

a. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang- barang tersebut.

b. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak- banyaknya sama dengan harta yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.

c. Penuntupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 tahun.

d. Pencabutan seluruh atau sebagian hak- hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh pemerintah kepada terpidana.

e. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama waktu 1 bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. f. Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar

uang pengganti maka terpidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak memenuhi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai ketentuan UU Nomor 31 Tahun 1999 dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.

g. Gugatan Perdata kepada ahli warisnya, dalam hal ini terdakwa meninggal dunia pada saat dilakukan pemeriksaan disidang pengadilan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian negara, maka penuntut umum segera menyerahkan salinan berkas berita acara sidang tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata kepada ahli warisnya.

h. Terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh atas nama suatu korporasi, di mana pidana pokok yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda dengan ketentuan maksimum ditambah 1/3. Penjatuhan pidana ini melalui prosedural ketentuan Pasal 20 ayat 1-66 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 adalah sebagai berikut:

- Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi atau pengurusnya.

Gambar

Tabel 1. Kelompok Tindak Pidana Untuk Pihak Swasta
Tabel 2. Pengaturan Sanksi Pidana Untuk Pihak Swasta
Tabel 1 Daftar Negara Maju

Referensi

Dokumen terkait

Kesulitan pembuktian unsur melakukan kejahatan atau pelanggaran dalam tindak pidana korupsi adalah karena unsur tersebut hanya mengandung pengertian sifat melawan hukum

Namun dalam pencegahan terhadap orang yang belum terinveksi HIV dan perawatan dukungan dan pengobatan kepada ODHA dapat dikatakan berhasil, karena jika tidak ada pencegahan dari

Dalam menjalankan tugasnya, badan- badan khusus Dewan Ekonomi dan Sosial menjalin suatu jaringan kerjasama yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan antara

[r]

Bahwa Penegakan Hukum Pidana khususnya Peraturan Mahkamah Agung Nomor : 2 Tahun 2012 tentang penyesuaian batasan tindak pidana ringan dan jumlah denda dalam KUHP