• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRA PROPOSAL PENGARUH KOMPETENSI KEPEMIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PRA PROPOSAL PENGARUH KOMPETENSI KEPEMIM"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KEPALA SEKOLAHTERHADAP KEPUASAN KERJA

DAN KINERJA GURU DI SDN 1 KAPUNG UPTD

PENDIDIKAN KECAMATAN TANGGUNGHARJO,

KABUPATEN GROBOGAN 2015-2016

oleh : Wisnu Wijayanto

NIM 942015017

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN-FKIP

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2015

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Pendidikan memegang peranan penting dalam membangun sumber manusia, sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.Melalui pendidikanlah dihasilkan manusia Indonesia yang cerdas baik secara jasmani dan rohani sehingga dapat mengelola sumber daya alam untuk kemakmuran bangsa.

Guru menjadi ujung tombak keberhasilan penerapan kurikulum KTSP. Terdapat empat kompetensi guru yang harus ditingkatkan untuk mencapai keberhasilan tersebut yaitu, kompetensi pedagogi; kompetensi akademik (keilmuan); kompetensi sosial; dan kompetensi manajerial atau kepemimpinan.Namun kondisi di lapangan menunjukkan kompetensi guru masih di bawah harapan. Hal ini antara lain dapat dilihat dari nilai pada pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG), yang menurut Mendikbud masih jauh dari nilai standar yang ditetapkan (www.kemdikbud.go.id).

Menurut Barnawi dan Mohammad Arifin (2012: 14) kinerja guru dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas pendidikan sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang telah ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan pendidikan.

Pengaruh yang positif antara kompetensi dengan kinerja dikemukakan oleh Wirawan (2009:7) yang menyatakan bahwa kinerja pegawai merupakan sinergi dari sejumlah faktor, baik faktor lingkungan internal organisasi, faktor lingkungan eksternal, dan faktor internal karyawan atau pegawai. Salah satu faktor internal karyawan yang diyakini menentukan kinerja pegawai adalah kompetensi.

Hasil penelitian Sriwidodo dan Haryanto (2010) menyimpulkan bahwa kompetensi mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai, apabila kompetensi semakin ditingkatkan maka kinerja pegawai akan

(3)

semakin meningkat. Demikian halnya hasil studi Setiowati (2013) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat kompetensi maka semakin tinggi pula tingkat produktivitas kerja pegawai.

Faktor lain yang dipercaya mendukung pencapaian kinerja guru yang optimal adalah kepemimpinan kepala sekolah. Soepardi dalam Barnawi dan Arifin (2012:67) menjelaskan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, dan bahwa menghukum (jika perlu) serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien. Daryanto (2013:3) menyatakan bahwa agar proses inovasi di sekolah dapat berjalan dengan baik,

Pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja diantaranya secara empiris dibuktikan dalam penelitian Suharto (2005), Masrukin dan Waridin (2006) yang menjelaskan semakin baik dan kondusif kepemimpinan akan meningkatkan kinerja pegawai.

Faktor ketiga adalah kepuasan kerja. Hani Handoko dalam Umar (2004:36) menjelaskan kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan atas suatu pekerjaan. Kepuasan kerja berkaitan erat dengan berbagai faktor yang salah satunya adalah kepemimpinan. Wirawan (2009:7) yang menjabarkan perilaku kerja yang salah satunya berupa kepuasan kerja memiliki pengaruh terhadap kinerja sumber daya manusia.

Peneliti menyimpulkan bahwa apabila kepuasan kerja pegawai meningkat maka kinerjanya diproyeksikan akan meningkat. Penelitian ini mengambil fokus pada SDN 1 Kapung UPTD Pendidikan Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan.

Berdasarkan beberapa faktor diatas maka peneliti selanjutnya tertarik melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Kompetensi, Kepemimpinan Kepala SekolahTerhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Guru di SDN 1 Kapung UPTD Pendidikan Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.”

1.2. Rumusan Masalah

(4)

3

1. Apakah terdapat pengaruhkompetensi terhadap kepuasan kerja guru? 2. Apakah terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap

kepuasan kerja?

3. Apakah terdapat pengaruh kompetensi terhadap kinerja guru?

4. Apakah terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru?

5. Apakah terdapat pengaruh kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru? 1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini secara jelas adalah sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi terhadap kepuasan kerja guru.

2. Untuk menganalisispengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru.

3. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi terhadap kinerja guru. 4. Untuk menganalisispengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap

kinerja guru.

5. Untuk menganalisis pengaruh kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang dilaksanakan, diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Bagi UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Tanggungharjo Grobogan dapat memberikan gambaran tentang kompetensi guru, kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan guru dan kinerja guru sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan.

(5)

diperoleh prestasi belajar yang semakin optimal sesuai batas minimal ketuntasan belajar.

3. Bagi guru memberikan sumbangan pemikiran dalam pembelajaran bagi peserta didik karena pengaruh dari kompetensi guru, kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan kerja, sehingga diharapkan kinerja yang baik dapat tercapai guna mendorongprestasi belajar siswa.

(6)

BAB II Akan tetapi, sering kali persepsi, pemahaman, dan makna terminologi itu tidak sama atau saling dipertukarkan (interchangeable) dengan terminologi lain. Kesamaan persepsi banyak orang terhadap “kompetensi” barangkali terletak pada bahwa terminologi itu merupakan atribut untuk melekatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas atau unggul.Suatu atribut adalah kualitas yang diberikan kepada orang atau benda.Atribut mangacu pada karakteristik tertentu yang diperlukan untuk dapat melaksanakan pekerjaan secara efektif.Oleh karenanya, atribut terdiri atas persyaratan pengetahuan, keterampilan, dan keahlian atau karakteristik tertentu (Sudarmanto, 2009:45).

Sudarmanto, 2009:46); kompetensi adalah karakteristik-karakteristik yang berhubungan dengan kinerja unggul dan atau efektif di dalam pekerjaan. Menurut Dale (2003, dalam Sudarmanto, 2009:48): kompetensi menggambarkan dasar pengetahuan dan standar kinerja yang dipersyaratkan agar berhasil menyelesaikan suatu pekerjan atau memegang suatu jabatan

Pusat kurikulum Depdiknas (Nurfuadi:71) mengatakan kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus.

2.1.1.1. Dimensi Kompetensi

Kompetensi sebagai suatu dasar dalam manajemen sumber daya manusia memiliki berbagai gugus dan dimensi. Amstrong,1995 dalam Sudarmanto (2009:68) membagi kompetensi dalam dimensi sebagai berikut: Kemampuan intelektual, Kemampuan interpersonal, Kemampuan adaptabilitas, dan Kemampuan orientasi hasil.

Williams, 2002 dalam Sudarmanto (2009:68), membagi komponen dalam dimensi kompetensi sebagai berikut: Kognitif, Direksional,Motivasional, Berprestasi.

(7)

2.1.2. Kepemimpinan Kepala Sekolah 2.1.2.1. Definisi Kepemimpinan

Robbins dan Judge (2008:49) mendefinisikan kepemimpinan (leadership) sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok guna mencapai sebuah visi atau serangkaian tujuan yang ditetapkan. Yulk (2009:4) mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. Pengertian kepemimpinan menurut Daryanto (2013:18) kepemimpinan berasal dari kata ”pimpin” yang memuat dua hal pokok yaitu 1) Pemimpin sebagai subjek, 2) Yang dipimpin sebagai objek. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan kepemimpinan.

2.1.2.2. Dimensi Kepemimpinan Kepala Sekolah

Daryanto (2013:168) menjelaskan kepala sekolah adalah orang yang melaksanakan / mengelola management sekolah. Seorang kepala sekolah sebagai pengelola management sekolah harus memahami fungsi-fungsi dasar management, yang meliputi: Planning (Perencanaan), Organizing

(Pengorganisasian), Actuating (Penggerakan), Controlling (Pengontrolan), dan

Evaluation (Evaluasi),

Kepala sekolah adalah pemimpin yang proses keberadaannya dapat dipilih secara langsung, ditetapkan oleh yayasan, atau ditetapkan oleh pemerintah. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi kepala sekolah yaitu (Daryanto, 2013:136):Aspek Akseptabilitas, Aspek Kapabilitas, Aspek Integitas

2.1.3. Kepuasan Kerja

2.1.3.1. Definisi Kepuasan Kerja

(8)

7

interaksi dengan rekan sekerja dan atasan, mengikuti aturan dan kebijakan organisasi, memenuhi standar kinerja, hidup pada kondisi kerja yang sering kurang dari ideal, dan hal serupa lainnya. Ini berarti penilaian (assesment) seorang karyawan terhadap puas atau tidak puasnya dia terhadap pekerjaan merupakan penjumlahan yang runit dari sejumlah unsur pekerjaan yang diskrit (terbedakan dan terpisahkan satu sama lain).

Keith Davis dalam Mangkunegara (2008:177), mendefinisikan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja merupakan cermin perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Wexley dan Yuki dalam Mangkunegara (2008:177) mendefinisikan kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya.

2.1.3.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

Ada lima faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja (Kreitner dan Kinicki, 2005:225) yaitu sebagai berikut: Pemenuhan kebutuhan (Need fulfillment), Perbedaan (Discrepancies), Pencapaian nilai, Keadilan (Equity), Komponen genetic (Genetic components)

2.1.3.3. Dimensi Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja adalah penilaian pekerjaan seseorang individu yang merupakan pencapaian atau pemenuhan hasil terhadap nilai-nilai kerja seseorang individu.

Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan kerja, dapat digunakan Job Descriptive Indeks atau skala indeks deskripsi yaitu pegawai ditanya mengenai pekerjaan maupun jabatannya yang dirasakan sangat baik dan sangat buruk. Skala pengukuran ini dikembangkan oleh Smith, Kendall, dan Hulin serta Luthan (dalam Umar, 2004:36 dan Mangkunegara 2008:126) ada lima yaitu: Pembayaran seperti gaji dan upah, Pekerjaan itu sendiri, Promosi pekerjaan, Penyelia (supervise), Rekan sekerja.

2.1.3.4. Pengaruh Kompetensi Terhadap Kepuasan Kerja

(9)

memiliki pengaruh terhadap kepuasan kerja guru, sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai berikut;

H1: Bila kompetensi guru semakin tinggi, maka kepuasan kerja semakin besar.

2.1.3.5. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kepuasan Kerja

Kepemimpinan kepala sekolah menjadi salah satu faktor kunci dalam menjalankan organisasi sekolah. Dari uraian tersebut, mengandung pokok pikiran bahwa kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor penting pada upaya peningkatan kepuasan kerja yang diperoleh guru. Oleh karena itu maka dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H2: Bila kepemimpinan kepala sekolah semakin baik, maka kepuasan kerja guru semakin tinggi.

2.1.4. Kinerja Pegawai

2.1.4.1. Pengertian Kinerja Pegawai

Mangkunegara (2010:9) memberikan definfisi kinerja sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sementara itu Faustino Cordosa Gomes (dalam Mangkunegara, 2010) mengemukakan definisi kinerja karyawan sebagai ungkapan seperti output, efisiensi serta efektivitas sering dihubungkan dengan produktivitas.

Secara umum kinerja merupakan suatu ukuran dari hubungan antara output yang dihasilkan oleh input tertentu. Performance atau kinerja adalah suatu spesifik target yang merupakan komitmen manajemen yang dapat dicapai oleh pegawai atau organisasi. Robbins (2006:128) menyatakan bahwa kinerja dapat diukur dari produktivitas, turn over (keluar atau berpindahnya karyawan ke perusahaan lain), citizenship (peran ekstra karyawan demi terselesainya tugas-tugas pekerjaan) dan satisfaction (kepuasan karyawan terhadap pekerjaannya. 2.1.4.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation). Hal ini sesuai dengan pendapat Keith Davis (dalam Mangkunegara, 2008:13) yang merumuskan bahwa:

(10)

9

Motivation = Attitude + Situation Ability = Knowlage + Skill

2.1.4.3. Dimensi Kinerja

Wirawan (2009:54) menyatakan secara umum dimensi kinerja dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu hasil kerja, perlaku kerja, dan sifat pribadi yang berhubungan dengan pekerjaan yaitu Hasil kerja, Perilaku kerja, dan

Sifat

Bernardin (dalam Sudarmanto, 2009:12) menyampaikan ada 6 kriteria dasar atau dimensi untuk mengukur kinerja, yaitu:Quality, Quantity, Timeliness, Cost-effectiveness, Need for supervision, dan Interpersonal impact.

Mangkunegara (2010:18) menjelaskan aspek-aspek standar pekerjaan dalam sisi kualitatif meliputi: Ketepatan kerja dan kualtias pekerjaan, Tingkat kemampuan dalam bekerja, Kemampuan menganilisi data/informasi. Kemampuan mengevaluasi.

Di samping hal tersebut pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja diantaranya secara empiris dibuktikan dalam penelitian Suharto (2005), Masrukin dan Waridin (2006) yang menjelaskan semakin baik dan kondusif kepemimpinan akan meningkatkan kinerja pegawai. Hasil penelitian Kaihatu dan Rini (2007) menyimpulkan bahwa penerapan kepemimpinan transformasional dari kepala sekolah meningkatkan kepuasan akan kualitas kehidupan kerja, dan hal ini cenderung akan meningkatkan kinerja para guru.

2.1.4.4. Pengaruh Kompetensi Terhadap Kinerja Guru

Kompetensi memiliki peran dan pengaruh yang besar terhadap hasil kerja seseorang berdasarkan standar-standar yang ditetapkan. Kompetensi guru secara konseptual terdiri tiga aspek yang selanjutnya memberikan efek pada tinggi rendahnya kinerja, yaitu : 1) kompetensi kepribadian guru;2) kompetensi profesional guru, dan kompetensi sosial guru. Ketiga kompetensi tersebut secara nyata berdampak pada kualitas, kuantitas, efektivitas, dan kreativitas hasil kerja guru.

(11)

H3. Bila kompetensi semakin tinggi, maka kinerja guru semakin optimal

2.1.4.5. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru Kepemimpinan kepala sekolah dipercaya mempunyai pengaruh yang besar terhadap keberhasilan organisasi dalam menghadapi tantangan dan tuntutan yang muncul. Tuntutan akan kualitas dan kuantitas hasil pendidikan akan terjawab apabila didukung dengan kemampuan seorang pemimpin dalam memotivasi, mengarahkan dan memberi contoh kepada para guru.

Berdasarkan uraian di atas maka , hipotesis yang diajukan adalah :

H4. Bila kepemimpinan kepala sekolah semakin bagus, maka kinerja guru semakin meningkat.

2.1.4.6. Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Guru

Tuntutan akan kualitas dan kuantitas hasil proses belajar mengajar akan dapat terpenuhi apabila faktor-faktor penunjangnya dapat terpenuhi. Dengan memperoleh kepuasan kerja yang tinggi, maka diharapkan kinerja guru yang tinggi dapat dicapai.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang diajukan adalah :

H5: Bila kepuasan kerja semakin besar, maka kinerja guru semakin tinggi.

2.1.5. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian yang menguji pengaruh variabel kompetensi dan kepemimpinan terhadap kepuasan kerja dan kinerja adalah sebagai berikut.

Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu

No Peneliti/Tahun Judul Penelitian Hasil Penelitian 1. Winanti (2005) Pengaruh Kompetensi

(12)

11 3. Setiowati (2013) Pengaruh Kompetensi,

(13)

2.1. Kerangka Pemikiran

Dari uraian tersebut di atas, maka diduga bahwa kinerja guru berhubungan dengan kompetensi, kepemimpinan kepala sekolah dan kepuasan kerja. Hubungan tersebut dapat dijelaskan dalam kerangka pemikiran teoritis seperti gambar berikut.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Sumber : Dikembangkan untuk penelitian ini. Kompetensi

Kepemimpinan Kepala Sekolah

Kepuasan Kerja

Kinerja Guru H3

H2

H4

(14)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Peneliti dapat menentukan beberapa variabel dari objek yang diteliti, dan membuat instrumen untuk mengukurnya (Sugiyono, 2007:17).

3.2. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh guru SDN 1 Kapung di lingkungan UPTD Pendidikan Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, guru di SDN 1 Kapung Berjumlah 15 orang.

3.3. Sumber dan Jenis Data

Adapun sumber dan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Data Primer, adalah data mengenai pendapat responden tentang kompetensi,

kepemimpinan, kepuasan kerja, dan kinerja guru.

2. Data Sekunder, adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain). Dalam penelitian ini, data sekunder hanya mendukung pengumpulan data awal berupa data guru.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Dalam metode ini peneliti metode pengumpulan data adalah dengan menyebarkan kuesioner kepada guru selain. Alat yang dipakai dalam pengumpulan data berupa kuesioner. Pada pelaksanaan penelitian responden dihubungi melalui daftar pertanyaan yang meliputu: (1) Jenis kelamin, (2) Usia, (3) Golongan, (4) Masa kerja, (5) dan Pendidikan. Sedangkan angket tertutup adalah angket yang disajikan dimana responden tinggal memilih satu jawaban

dengan memberikan tanda silang ( ) dari masing-masing pertanyaan dalam

indikator variabel yang bersangkutan, untuk memperoleh data variabel kompetensi, kepemimpinan, kepuasan kerja dan kinerja guru.

3.5. Teknik Analisis

Penelitian ini menggunakan teknis analisis Partial Least Square (PLS)

dengan perangkat lunak Smart Partial Least Square (SmartPLS). PLS merupakan metode alternatif dengan pendekatan berbasis varians atau komponen yang

(15)

berorientasi pada prediksi model serta dapat bekerja untuk model hubungan konstruk laten dan indikator yang bersifat reflektif dan formatif (Yamin dan Kurniawan, 2009).

Model indikator reflektif sering disebut juga principal factor model di mana covariance pengukuran indikator dipengaruhi oleh konstruk laten atau mencerminkan variasi dari konstruk laten. Pada model reflektif konstruk undimensional digambarkan dengan bentuk elips dengan beberapa anak panah dari konstruk ke indikator, model ini menghipotesiskan bahwa perubahan pada konstruk laten akan mempengaruhi perubahan pada indikator. Model indikator reflektif harus memiliki internal konsistensi oleh karena semua ukuran indikator diasumsikan semuanya valid indikator yang mengukur suatu konstruk, sehingga dua ukuran indikator yang sama reliabilitasnya dapat saling dipertukarkan. Walaupun reliabilitas (cronbach alpha) suatu konstruk akan rendah jika hanya ada sedikit indikator, tetapi validitas konstruk tidak akan berubah jika satu indikator dihilangkan.

3.6.2.2. Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis yang diajukan, maka dapat dilihat dari besarnya nilai t-statistik atau t-hitung satu sisi (one tail). Batas untuk menolak dan menerima hipotesis yang diajukan adalah 1,96, dimana apabila nilai t-statistik berada pada rentang di bawah 1,96 maka hipotesis akan ditolak, dengan kata lain menerima hipotesis nol. Sebaliknya apabila nilai t-statistik (t-hitung) di atas 1,96 maka hipotesis akan diterima(Ghozali, 2006:24).

3.6.2.3Pengujian Hubungan Langsung dan Tidak Langsung

Efek mediasi adalah efek yang ditimbulkan oleh sebuah variabel dimana variabel tersebut ikut mempengaruhi hubungan antara variabel predictor (independen) dan variabel criterion (dependen). Variabelnya dinamakan variabel intervening atau mediating.

(16)

15

Gambar 3.1.

Pengujian Efek Moderasi Kepuasan Kerja Pada Pengaruh Kompetensi terhadap Kinerja Guru

Pada gambar di atas, variabel intervening atau mediatingnya adalah kepuasan kerja. Variabel kompetensi dan kepemimpinan kepala sekolahberpengaruh langsung terhadap kinerja guru atau sering disebut direct effect. Selain itu variabel kompetensi dan kepemimpinan kepala sekolah juga memiliki pengaruh tidak langsung ke kinerja guru lewat kepuasan kerja sebagai variabel mediator. Untuk menguji efek mediasi digunakan metode analisis jalur (path analysis).

Pengaruh langsung Kompetensi / Kepemimpinan ke Kinerja = p1 Pengaruh tak langsung Kompetensi / kepemimpianke Kinerja = p2 x p3

Total pengaruh = p1+(p2xp3)

Kompetensi

Kepuasan Kerja

Kinerja Guru

e 1

e 2 p1

p2 P3

1

(17)

Penilaian Kinerja Guru Profesional.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Imam Ghozali, 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Semarang: Badan Penerbit UNDIP

Kaihatu, T.S. dan Wahju Astjarjo Rini. 2007. Kepemimpinan Transformasional dan Pengaruhnya Terhadap Kepuasan atas Kualitas Kehidupan Kerja, Komitmen Organisasi, dan Perilaku Ekstra: Studi pada Guru-guru SMU di Kota Surabaya. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol.98, No. 1, Maret 2007: 49-61.

Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

---, 2010.Evaluasi Kinerja SDM. Bandung: PT Refika Aditama.

Masrukin dan Waridin. 2005. Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Ekobis. Vol.7, No.2, Juni 2006: 197-209.

Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru. Purwokerto: Penerbit STAIN Press.

Robbins, Stephen P. Dan Judge, Timothy A. 2008. Perilaku Organisasi. Edisi 12. Jakarta: Salemba Empat.

Setiowati, Hanik. 2013. Pengaruh Kompetensi, Kepemimpinan, Kompensasi Terhadap Produktivitas Pegawai Sekretariat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Tesis. Universitas Pembangunan Nasional Veteran.

Sriwidodo, Untung dan Agus Budhi Haryanto. 2010. Pengaruh Kompetensi, Motivasi, Komunikasi dan Kesejahtaraan Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pendidikan. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia. Vol. 4 No.1 Juni 2010:47 – 57.

Sudarmanto. 2009. Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM. Teori, Dimensi Pengukuran, dan Implementasi dalam Organisasi. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Sugiyono, 2009.Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Penerbit Alfabeta.

(18)

17

Suharto. 2005. Pengaruh Budaya Organisasi, Kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja SDM di Sekretariat DPRD Propinsi Jawa Tengah. Jurnal Riset Bisnis Indonesia.Vol.1, No.1, Januari 2005 : 13-30.

Umar, Husen. 2004. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Gambar

Tabel 2.1.Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1
Gambar 3.1.1

Referensi

Dokumen terkait

Misalnya, diskusi terkait fasilitas laboratorium IPA di sekolah yang belum memenuhi standar, kemampuan dan penguasaan guru terhadap peralatan dan pemanfaatan bahan

Penelitian ini meneliti tentang pengaruh motivasi, persepsi, belajar, dan sikap terhadap perilaku konsumsi muslimah untuk produk kosmetik halal dan juga baik khususnya di

Page | 5 Jenis Data Cara Memper oleh Data Pengambil an Data Alat survey yang diguna kan Analisi s penumpa ng angkot  Lama Waktu Tunggu Survey langsung dengan cara

If you share this work, you must identify the creators named in this work and on the Living Archive of Aboriginal Languages website and abide with all other attribution

Hari Waktu Kelas Nama Matakuliah Ruang Jumlah Nama Dosen KAMIS 11:15:00 - 18:00:00 A Praktikum Kimia Anorganik lab anorganik 53 Drs. Misbah

Belum adanya upaya untuk mengatasi hambatan ini juga dapat menghambat pelaksanaan sistem e-procurement di Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Pengawasan Bangunan Kota

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di rumahsakit Tugurejo Semarang Periode Oktober- Desember Tahun 2013 terhadap 460 responden di ruang bersalin yang telah memenuhi

Model ini menunjukkan bahwa jumlah kedatangan mengikuti distribusi Poisson dan waktu pelayanan mengikuti distribusi General, jumlah loket pelayanan teller yang