UNIVERSITAS INDONESIA
Perlindungan Hak Cipta atas Karya Lagu
Studi Kasus: Karya Lagu yang Digunakan Sebagai Nada
Sambung Pribadi (
Ring Back Tone
)
TESIS
Diana Kusumasari
NPM: 1006789141
FAKULTAS HUKUM
i
UNIVERSITAS INDONESIA
Perlindungan Hak Cipta atas Karya Lagu
Studi Kasus: Karya Lagu yang Digunakan Sebagai Nada
Sambung Pribadi (
Ring Back Tone
)
TESIS
Diajukan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Magister Hukum pada Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Diana Kusumasari
NPM: 1006789141
FAKULTAS HUKUM
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Diana Kusumasari
NPM : 1006789141
Tanda Tangan :
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Tesis ini diajukan oleh :
Nama : Diana Kusumasari
NPM : 1006789141
Program Studi : Ilmu Hukum
Judul Tesis : Perlindungan Hak Cipta atas Karya Lagu – Studi Kasus: Karya Lagu yang Digunakan Sebagai Nada Sambung Pribadi (Ring Back Tone).
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Hukum pada Program Studi Ilmu Hukum (Hukum Ekonomi), Pascasarjana Fakultas Hukum, Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing : Dr. Cita Citrawinda, SH., MIP. (...)
Penguji : Prof. Dr. Rosa Agustina, SH., MH. (...)
Penguji : Dr. Tri Hayati, SH., MH. (...)
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan tesis ini, tidak mudah bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih dari hati yang terdalam kepada:
(1) Dr. Cita Citrawinda, S.H., MIP, selaku dosen pembimbing yang dengan baik hati telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan tesis ini;
(2) Ayah dan Ibu yang sangat menyayangi saya dan senantiasa mendukung saya dalam setiap yang saya kerjakan. Merekalah inspirasi dan motivasi saya untuk senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik. Doa-doa mereka menjadi dorongan bagi saya untuk saya membuat mereka bangga;
(3) Seluruh kepemimpinan Gereja Generasi Apostolik yang telah mengajarkan saya banyak hal sehingga saya bisa seperti hari ini. Teman-teman dari Gereja Generasi Apostolik yang senantiasa menjadi saudara dalam setiap masa sukar maupun senang yang saya hadapi. I love you all!
(4) Teman-teman kos, teman-teman kuliah dan semua rekan yang telah memberikan dukungan doa dan moril selama penyusunan tesis ini. That means so much to me; dan
(5) Semua pihak yang memungkinkan terselesaikannya tesis ini.
Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu saya selama penyusunan tesis ini. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu dan perlindungan hukum, terutama perlindungan hukum hak cipta atas karya lagu.
Jakarta, 20 Juni 2012
v
“My concern is not whether God is on our side;
my greatest concern is to be on God's side,
for God is
always right.”
vi
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Diana Kusumasari
NPM : 1006789141
Program Studi : Ilmu Hukum (Hukum Ekonomi)
Fakultas : Hukum
Jenis Karya : Tesis
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Non-eksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Dengan Hak Bebas Royalti Non-eksklusif ini, Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Jakarta Pada tanggal : 20 Juni 2012
Yang menyatakan
vii
ABSTRAK
Nama : Diana Kusumasari Program Studi : Magister Ilmu Hukum
Judul : Perlindungan Hak Cipta atas Karya Lagu - Studi Kasus: Karya Lagu yang Digunakan Sebagai Nada Sambung Pribadi (Ring
Back Tone)
Tesis ini memfokuskan pada perlindungan hak cipta atas karya lagu yang digunakan sebagai Nada Sambung Pribadi atau Ring Back Tone (RBT). Nyatanya, banyak pencipta lagu yang karya lagunya meledak di pasaran tapi malah hidup berkekurangan. Saat ini perkembangan dunia musik dan dunia teknologi berjalan seiring. Namun, perkembangan ini tidak diikuti adanya perlindungan dan penegakan hukum yang memadai bagi hak pencipta atau pemegang hak cipta. Dari penelitian ini, pencipta lagu dapat mengetahui upaya-upaya yang dapat diambil ketika haknya dilanggar. Adanya lembaga manajemen pemungut royalti
saat ini belum maksimal membantu perlindungan hak pencipta karena belum adanya dasar hukum yang tegas mengaturnya.
Kata kunci: Hak Cipta, Ring Back Tone, Pencipta, Pemegang Hak Cipta, Lembaga Manajemen Pemungut Royalti
viii ABSTRACT
Name : Diana Kusumasari Study Program : Master of Law
Title : Copyright Protection on Songs - Case Study: Songs Used as
Ring Back Tone.
This research focuses on the protection of copyright of the songs used as Ring Back Tone (RBT). In fact, many song authors whose songs are exploded in the market are still living in need. Nowadays, the development of music and technology grow together. However, this development is not followed by adequate protection and enforcement of copyright laws for the author or copyright holder. From this research, song author might know any efforts can be taken when their rights are violated. The existence of Collecting Management Society is not optimally protecting author rights yet because there is no clear legal basis.
ix
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii
ABSTRAK ... vii
1.5. Definisi Operasional ... 11
1.6. Metode Penelitian ... 13
1.7. Sistematika Penulisan ... 17
BAB II PERLINDUNGAN HAK CIPTA ATAS KARYA LAGU ... 18
2.1. Prinsip Dasar Perlindungan Hak Cipta atas Karya Lagu ... 18
a. Hak Cipta dan Hak Terkait ... 18
b. Hak-hak Pencipta: Hak Moral (Moral Right) dan Hak Ekonomi (Economic Right) ... 25
c. Subjek dan Objek Hak Cipta ... 31
d. Fungsi dan Sifat Hak Cipta ... 35
e. Perlindungan Hak Cipta dalam Konvensi-Konvensi Internasional ... 36
2.2. Performing Right dari Pencipta Lagu Kepada Perusahaan Rekaman... 39
a. Aspek Hukum Perdata dari Performing Right Hak Cipta Lagu ... 39
b. Aspek Hukum Pidana dari Performing Right Hak Cipta Lagu ... 41
2.3. Peran Lembaga Manajemen Kolektif Royalti (Collecting Management Society) ditinjau dari Hukum di Indonesia, Hukum di Negara Lain dan Konvensi-Konvensi Internasional. ... 43
a. Lembaga Manajemen Kolektif di Indonesia ... 43
b. Lembaga Manajemen Kolektif di Singapura ... 45
2.4. Perjanjian Lisensi ... 48
a. Dasar Hukum Pengalihan Hak Melalui Perjanjian Lisensi ... 48
b. Perjanjian Lisensi Pencipta dengan Publisher ... 53
c. Perjanjian Pencipta Lagu dengan Produser Rekaman ... 53
BAB III HAK PENCIPTA LAGU YANG LAGUNYA DIGUNAKAN SEBAGAI RING BACK TONE ... 56
3.1. Nada Sambung Pribadi/Ring Back Tone (RBT) Sebagai Bagian dari Karya Cipta Lagu ... 56
3.2. Mekanisme Pemberian Lisensi atas Karya Cipta Lagu ... 57
a. Mekanisme Pemberian Lisensi atas Karya Cipta Lagu di Indonesia... 57
x
3.3. Mekanisme Pemungutan Royalti ... 63
a. Mekanisme Pemungutan Royalti oleh Pencipta dan Kendalanya ... 63
b. Mekanisme Pemungutan Royalti oleh Lembaga Manajemen Kolektif dan Kendalanya ... 65
3.4. Peraturan Perundang-undangan di Indonesia yang Belum Mengatur Mengenai Lembaga Manajemen Kolektif Secara Komprehensif ... 67
BAB IV ANALISIS KASUS PELANGGARAN HAK CIPTA ATAS KARYA LAGU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RING BACK TONE ... 68
4.1. Studi Kasus Pelanggaran Hak Cipta atas Karya Lagu ... 68
a. YKCI vs Telkomsel ... 68
b. Dodo Zakaria vs Telkomsel dan Sony BMG Musik ... 74
4.2. Analisis Kasus ... 77
BAB V PENUTUP ... 84
5.1. Kesimpulan ... 84
5.2. Saran ... 86
DAFTAR PUSTAKA ... 87
xi
DAFTAR LAMPIRAN
xii
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
I. GAMBAR
Gambar II. 1 Dua macam hak cipta: hak ekonomi dan hak moral
II. TABEL
Tabel II.1 Ruang lingkup Hak Ekonomi Pencipta Menurut UUHC
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Hak yang dimiliki oleh pencipta atas suatu ciptaan baik itu lagu, lukisan, atau ciptaan lainnya lazim disebut sebagai hak cipta. Hak Cipta ini adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak yang otomatis timbul setelah suatu ciptaan dilahirkan. Pencipta dan penerima hak berhak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.1
Hak cipta adalah hak yang dapat dijadikan uang dan merupakan hak kekayaan intelektual yang dapat dialihkan kepada orang lain. Berdasarkan ketentuan yang berlaku di Inggris dan Amerika, sepanjang perjalanan sejarah, negara-negara tersebut menekankan segi hak kekayaan intelektual dari hak cipta.
Istilah “hak cipta” (copyright) dalam bahasa Inggris diartikan sebagai hak
menyalin (the right to copy) dan hak cipta pada dasarnya adalah hak untuk
memperbanyak suatu ciptaan.
Sebagai perbandingan, negara-negara lain, seperti Perancis dan Jerman, lebih menekankan pada hak moral pencipta, yakni sebuah konsep yang dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran sosial di Eropa. Karena itu, terjemahan harfiah istilah hak cipta dalam bahasa Perancis dan Jerman adalah
“hak pencipta” (rights of the author).
Singkatnya, negara-negara tersebut lebih mementingkan konsep melindungi alam intelektual si pencipta, yaitu falsafah dan prinsip-prinsipnya, daripada konsep menaikkan nilai hak kekayaan intelektual atas suatu ciptaan dengan cara membuat salinannya banyak-banyak dan menjualnya. Oleh karena itu, ide bahwa hak cipta memiliki dua ciri khas, yakni hak kekayaan intelektual dan hak moral, berkembang terutama di Eropa.2
1
UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, LN No. 85 Tahun 2002, TLN No. 4220, Pasal 1 angka (1)
2 Tamotsu Hozumi, Asian Copyright Handbook Indonesian Version, (Jakarta:Asia/Pacific
2
Hak ekonomi (economic rights) dari pencipta ini tentunya tidak dapat dikesampingkan untuk seorang pencipta dapat menikmati hasil ekonomis dari karya atau ciptaannya. Dalam upaya untuk menikmati hak ekonomis ciptaannya, pencipta juga dapat memberikan izin bagi orang lain untuk mengumumkan (performing rights) atau memperbanyak (mechanical rights) ciptaannya untuk tujuan komersial dengan mendasarkan pada perjanjian lisensi3. Dasar hukum dari perjanjian lisensi ini ada pada Pasal 45 s/d 47 Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (selanjutnya disebut “UUHC”).
Dengan pemberian lisensi tersebut, penerima lisensi dapat mengumumkan dan/atau memperbanyak suatu ciptaan atau produk hak terkaitnya. Dan dalam pemberian lisensi tersebut sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 45 ayat (3) UUHC disertai dengan kewajiban hukum pemberian royalti kepada pencipta atau pemegang hak cipta yang wajib dilakukan oleh penerima lisensi.
Demikian pula halnya dengan karya lagu yang diciptakan oleh para musisi. Saat ini, karya-karya musik atau lagu mendapatkan penghargaan yang luar biasa di masyarakat. Sehingga, perlindungan terhadap hak moral maupun hak
ekonomi dari pencipta lagu ini tidak dapat diabaikan. Meskipun UUHC tidak mengatur secara khusus mengenai pengertian hak cipta lagu dan/atau musik, lagu dan/atau musik merupakan salah satu karya yang dilindungi oleh UUHC. Dalam penjelasan Pasal 12 ayat (1) huruf d secara khusus ditegaskan bahwa karya lagu atau musik dalam pengertian undang-undang diartikan sebagai karya yang bersifat utuh, sekalipun terdiri dari unsur melodi, syair atau lirik dan aransemennya termasuk notasi.4
Untuk memproduksi lagu-lagu tersebut, para pencipta lagu memang membutuhkan kerjasama dengan rumah-rumah produksi atau perusahaan rekaman untuk membantu para musisi mengumumkan dan memperbanyak ciptaan mereka. Dalam melaksanakan kerjasama tersebut, para musisi dapat memberikan lisensi
3 Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait
kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu (Definisi lisensi menurut Pasal 1 angka 14 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta).
4 Penjelasan Pasal 12 ayat (1) huruf d UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, LN No.
3
kepada rumah produksi atau perusahaan rekaman untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak lagu yang diciptakannya. Kemudian, dengan pemberian lisensi tersebut, tentunya pencipta atau pemegang hak cipta berhak menerima royalti atas pengumuman atau perbanyakan ciptaan yang dilakukan oleh pihak lain/pemegang lisensi.
Dalam praktiknya masih banyak pencipta lagu yang tidak bisa secara maksimal menikmati royalti yang menjadi haknya. Banyak hal yang menjadi kendala dalam perlindungan hak ekonomi pencipta atau pemegang hak cipta ini. Untuk itu, penting adanya suatu lembaga yang membantu pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengadministrasi royalti yang berhubungan dengan pembagian keuntungan berupa persentase dari penggunaan hak cipta yang diperoleh pencipta atau pemegang hak cipta atas izin yang diberikan kepada pihak lain oleh pencipta atau pemegang hak cipta atas penggunaan suatu ciptaan, di Indonesia dan juga di negara-negara lain ada lembaga-lembaga tertentu yang kemudian diberikan tugas untuk menjembatani pemegang hak cipta dan pemegang lisensi. Lembaga ini lazim disebut sebagai Lembaga Manajemen Kolektif atau Collecting Management
Society (selanjutnya disebut CMS).
Perlunya ada CMS ini adalah karena pemegang hak cipta atas suatu karya cipta tidak bisa setiap waktu mengontrol setiap stasiun televisi, radio, restoran untuk mengetahui berapa banyak karya cipta musiknya telah diperdengarkan di tempat-tempat tersebut. Oleh karena itu, untuk melindungi hak ekonomi pencipta dan pemegang hak cipta serta untuk memudahkan baik bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengawasi penggunaan karya ciptanya, maka si pencipta/pemegang hak cipta dapat saja menunjuk kuasa (baik seseorang ataupun lembaga) yang bertugas mengurus hal-hal tersebut.5
Di Indonesia, beberapa CMS ini di antaranya adalah Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI), Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI), Asosiasi Penerbit Musik Indonesia (APMINDO), Wahana Musik Indonesia (WAMI) dan
Performers Rights Society of Indonesia (PRISINDO). Dalam praktiknya, pencipta harus menjadi anggota CMS tertentu untuk dapat dibantu dalam pengawasan
5 Apakah Lembaga Pengumpul Royalti Dibenarkan Secara Hukum?,
4
penggunaan/eksploitasi ciptaannya dan untuk memungut royalti dari para pengguna (user) karya ciptanya. Karena untuk hak pencipta atau pemegang hak cipta atas royalti dapat dibantu pengadministrasiannya oleh CMS, perlu adanya pemberian kuasa dari pencipta atau pemegang hak cipta kepada CMS yang ditunjuk sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Di sisi lain, perkembangan dunia musik saat ini juga tidak kalah dengan perkembangan dunia telekomunikasi dan digital. Banyak fitur-fitur yang disediakan oleh perusahaan jasa telekomunikasi (operator selular) untuk memanjakan konsumennya. Mulai dari fitur berlangganan Ring Back Tone (nada sambung pribadi), fitur unduh lagu, permainan (games), nada dering (ring tone), dan masih banyak fitur-fitur lainnya yang sebenarnya tidak terlepas dari ranah hukum hak cipta. Era digital membawa banyak kemajuan bagi dunia musik maupun telekomunikasi sekaligus membuka peluang terjadinya pelanggaran terhadap hak cipta.
Penyediaan konten fitur-fitur dimaksud tentu sangat terkait dengan hak-hak pencipta konten, baik konten yang berupa lagu, game (permainan), nada
dering, gambar maupun video. Operator selular harus memiliki lisensi dari pencipta untuk dapat mengumumkan dan/atau memperbanyak suatu ciptaan untuk tujuan komersial.
Dalam tulisan ini, penulis memfokuskan pada karya cipta lagu yang digunakan oleh operator selular sebagai Ring Back Tone (RBT). Penggunaan lagu untuk RBT ini didasarkan pada perjanjian penyediaan konten Ring Back Tone
5
Pada kenyataannya, hingga saat ini, kebanyakan pencipta lagu belum paham betul mengenai perlindungan hak cipta atas lagu ciptaan mereka6. Para pencipta lagu dengan mudahnya memberikan lisensi tak berbatas waktu kepada produser. Akibatnya, seringkali para pencipta lagu tidak mendapat keuntungan yang selaras dengan lagu ciptaannya yang meledak di pasaran. Sehingga, yang diuntungkan dalam hal ini hanyalah produser dan operator selular, tidak sebanding dengan yang diperoleh oleh pencipta lagu.
Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan HAM Achmad M Ramli berpendapat bahwa, pemberian lisensi hak cipta lagu kepada produser harus dibatasi. Bahkan, menurut Ramli, beberapa pencipta lagu yang lagunya melegenda justru hidup susah. Hal ini tentunya menjadi ironi. Padahal lagu ciptaan mereka masih sering dinyanyikan dan dieksploitasi untuk berbagai kegiatan yang bersifat komersial.
Terkait dengan perjanjian lisensi antara produser dan pencipta lagu masih seringkali lebih menguntungkan pihak produser. Hal ini disampaikan pula oleh Musisi Tito Soemarsono sebagaimana dikutip dalam salah satu artikel
Hukumonline7 yang mengatakan bahwa selama ini produser seringkali mengambil keuntungan dari ketidaktahuan pencipta lagu mengenai haknya.
Hal ini juga diamini oleh pengamat musik Bens Leo terkait dengan ketidaktahuan pencipta lagu mengenai hak royalti ini. Menurut Leo, sebagian besar pencipta lagu masih berpikir begitu mereka menandatangani kontrak dengan produser, hak ciptanya kemudian beralih kepada produser sehingga hak atas royalti juga beralih. Padahal, hak cipta tetap melekat pada pencipta meskipun bisa dialihkan. Ketidaktahuan inilah yang kerap kali merugikan para pencipta (dalam hal ini pencipta lagu).
Terbatasnya pengetahuan pencipta lagu ini mengakibatkan hak-haknya dirugikan. Antara lain dalam pembuatan perjanjian atau kontrak lisensi bahkan ada penghilangan hak atas royalti oleh produser kepada pencipta lagu. Juga apabila kemudian lagu tersebut digunakan sebagai RBT, pencipta lagu belum
6 Pencipta Lagu Tak Paham Hak Cipta,
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4e08a068c24ea/pencipta-lagu-tak-paham-hak-cipta, diunduh pada Sabtu, 3 Maret 2012
6
tentu menikmati royalti atas penggunaan lagu ciptaannya yang digunakan sebagai RBT.
Contoh kasus pelanggaran hak cipta ini adalah kasus antara Dodo Zakaria sebagai Penggugat melawan Telekomunikasi Seluler dan PT. Sony BMG Musik Entertainment Indonesia sebagai Para Tergugat di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, terdaftar dalam perkara nomor: 24/HAK CIPTA/2007/PN.Niaga.Jkt.Pst yang diputus pada tanggal 13 Agustus 2007 jo No. 121K/Pdt.Sus/2007 tanggal 15 Agustus 20078. Gugatan ini dilatarbelakangi adanya perbuatan para tergugat yang melakukan pemenggalan/pemotongan atau
mutilasi lagu ciptaan Penggugat yang berjudul “Di Dadaku Ada Kamu” dengan
mengubah komposisi lagu dimaksud untuk digunakan sebagai RBT yang menyebabkan sebagian lirik lagu tersebut terpotong (tidak digunakan), sekalipun Penggugat telah memberikan lisensi kepada Para Tergugat untuk melakukan segala bentuk eksploitasi atas lagu dimaksud. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan bahwa para Tergugat dinyatakan telah melakukan pelanggaran hak moral dari Penggugat berupa tindakan pemotongan
(mutilasi) atas lagu berjudul “Di Dadaku Ada Kamu” sebagai RBT untuk tujuan
komersil.
Akan tetapi, pada tingkat Mahkamah Agung, putusan ini dibatalkan dengan alasan bahwa apa yang dilakukan Para Tergugat bukanlah merupakan pemotongan atau mutilasi melainkan merupakan pemutaran sebagian atau bagian tertentu dari lagu tersebut yang disesuaikan dengan durasi 20-40 detik, sehingga hal tersebut tidak mengakibatkan perubahan materi atas komposisi lagu dimaksud. Dalam penelitian ini lebih jauh akan dibahas apakah benar perbuatan tersebut bukanlah termasuk mutilasi.
Selain kasus Dodo Zakaria melawan Telkomsel, ada pula kasus terkait pelanggaran hak cipta yakni antara YKCI dan Telkomsel yang diawali karena adanya ketidaksepahaman antara YKCI dan Telkomsel9 terkait dengan masalah royalti atas lagu yang dijadikan RBT. YKCI merasa hak cipta yaitu hak
8 Hulman Panjaitan dan Wetmen Sinaga, Performing Right Hak Cipta atas Karya Musik
dan Lagu Serta Aspek Hukumnya, (Jakarta, Ind Hill Co, 2011), hal. 140.
7
mengumumkan yang dipegangnya melalui kuasa yang diberikan oleh para pencipta lagu dilanggar oleh PT. TELKOMSEL melalui Nada Sambung Pribadi (RBT). YKCI yang merasa dirugikan akhirnya mengajukan gugatan ke pengadilan dengan dasar bahwa Telkomsel telah melakukan perbuatan pelanggaran hak cipta yakni telah tidak membayarkan royalti yang menjadi kewajiban hukumnya.
Saat ini, distribusi konten musik digital (lagu) dalam bentuk RBT melalui handphone ini cukup populer. Hal ini dikarenakan pengguna handphone
sudah sangat banyak dan terus berkembang dengan pesat.10 Oleh karena itu, dilatarbelakangi oleh berbagai kasus pelanggaran hak cipta atas karya lagu dalam industri Ring Back Tone tersebut, penulis memandang perlu untuk mengkaji beberapa hal sebagaimana penulis sebutkan dalam Pokok Permasalahan.
1.2. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada sub-bab latar belakang, pokok permasalahan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah hak cipta atas lagu yang digunakan sebagai RBT diatur oleh UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta?
2. Upaya Hukum apa yang dapat ditempuh oleh pencipta sehubungan dengan lagunya yang digunakan sebagai RBT?
3. Bagaimana peran lembaga manajemen kolektif terkait dengan hak-hak pencipta lagu?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian dalam latar belakang dan pokok permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui eksistensi perlindungan hukum terhadap lagu yang digunakan sebagai RBT dalam UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
2. Mengetahui upaya hukum yang dapat ditempuh pencipta lagu sehubungan lagunya yang digunakan sebagai RBT.
10 Nuryani, Digital Right Management (DRM) dan Audio Watermarking untuk
8
3. Mengetahui peran lembaga manajemen kolektif terkait dengan hak-hak pencipta lagu.
1.4. Landasan Teori
Di dalam penelitian hukum yang merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi, diperlukan adanya kerangka konsepsional dan kerangka atau landasan teoritis sebagai suatu syarat penting.11 Teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu,12 dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Fungsi teori dalam penelitian tesis adalah untuk memberikan arahan dan ramalan serta menjelaskan gejala yang diamati.13 Teori hukum sendiri boleh disebut sebagai kelanjutan dari mempelajari hukum positif, setidak-tidaknya dalam urutan yang demikian itulah kita merekonstruksikan kehadiran teori hukum secara jelas.14
Kerangka teori memiliki beberapa kegunaan, sebagai berikut :
1. Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.
2. Teori sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkem-bangkan definisi-definisi.
3. Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar dari pada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang diteliti. 4. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena
telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa mendatang.
11 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 35.
12 JJJ M. Wuismen, dengan penyunting M. Hisman, Penelitian Ilmu Sosial Jilid 1, (Jakarta:
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996) hal. 203.
13 Ibid., hal. 210.
14
9
Sejalan dengan hal tersebut, salah satu teori yang dapat digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah Teori Hukum Alam (Theory van het natuursrecht) dari John Locke. Menurut teori hukum alam, bahwa pencipta memiliki hak moral dan hak ekonomi untuk menikmati hasil kerja atau hasil karyanya, termasuk keuntungan yang dihasilkan oleh keintelektualannya. Di samping itu, karena pencipta telah memperkaya masyarakat melalui ciptaannya, pencipta memiliki hak untuk mendapatkan imbalan yang sepadan dengan nilai sumbangannya, jadi hak cipta, memberi hak milik eksklusif atas suatu karya pencipta. Hal ini berarti mempertahankan hukum alam dari individu untuk mengawasi karya-karyanya dan mendapat kompensasi yang adil atas sumbangannya kepada masyarakat.15
Hugo de Groot (Grotius) sebagai orang yang pertama-tama memakai hukum alam atau hukum kodrat yang berasal dari pikiran terhadap hal-hal kenegaraan, dalam rangka teorinya yaitu sebagai berikut :
1. Pada azasnya manusia mempunyai sifat mau berbuat baik kepada sesama manusia.
2. Manusia mempunyai “appetitus societaties” (hasrat kemasyarakatan).
Atas dasar appetitus societaties ini manusia sedia mengorbankan jiwa dan raganya untuk kepentingan orang lain, golongan dan masyarakat. 3. Mengenai hidup dalam masyarakat ada 4 macam ajaran hukum kodrat itu :
a. Abstinentia alieni (hindarkan diri dari milik orang lain). b. Oblagatio implendorum promissorum (penuhilah janji).
c. Damni culpa dati reparatio (bayarlah kerugian yang disebabkan kesalahan sendiri).
d. Poenae inter humanies meratum (berilah hukum yang setimpal).16 Oleh karena itu, sudah selayaknyalah setiap warga negara memperoleh perlindungan atas setiap hak-haknya, khususnya disini adalah haknya atas suatu ciptaan. Bila dikaitkan dengan penelitian ini, maka keberadaan suatu lembaga
15 Hendra Tanu Atmadja, Hak Cipta Musik atau Lagu, (Jakarta: UI Press, 2003) hal. 19
16
10
yang dapat membantu dan melindungi para pemilik hak cipta pada hakikatnya adalah bersifat esensial.
Jika kita mencermati perlindungan hak cipta sebagai hak kebendaan yang immaterial maka kita akan teringat kepada hak milik. Hak milik ini menjamin kepada pemilik benda untuk menikmati dengan bebas dan boleh pula melakukan tindakan hukum dengan bebas terhadap miliknya itu. Terhadap hak cipta berlaku syarat-syarat pemilikan, baik mengenai cara penggunaannya maupun cara pengalihan haknya. Kesemua itu undang-undang akan memberikan perlindungan sesuai dengan sifat hak tersebut. Wujud perlindungan itu sudah seharusnya dikukuhkan dalam undang-undang yang mengatur dan melindungi hak pencipta secara komprehensif.
Salah satu bentuk perlindungan hukum terhadap hak pencipta adalah dengan menempatkan sanksi pidana terhadap orang yang melanggar hak cipta dengan cara melawan hukum. UUHC Indonesia menempatkan tindak pidana hak cipta itu sebagai delik biasa yang dimaksudkan untuk menjamin perlindungan yang lebih baik dari sebelumnya, dimana sebelumnya tindak pidana hak cipta
dikategorikan sebagai delik aduan. Perubahan sifat delik ini adalah merupakan kesepakatan masyarakat yang menyebabkan suatu pelanggaran bisa diperkarakan ke pengadilan secara cepat dan tidak perlu menunggu pengaduan terlebih dahulu dari pemegang hak cipta.17
Khusus mengenai perlindungan hak pencipta lagu yang lagunya digunakan sebagai RBT sehingga membawa keuntungan bagi pihak perusahaan rekaman dan operator selular, perlu adanya perlindungan dan penegakan hukum yang efektif. Seperti teori yang diungkapkan oleh Roscoe Pound, law as a tool of social engineering18, hukum itu juga berfungsi sebagai sarana rekayasa sosial. Dengan demikian, harus ada peraturan perundang-undangan komprehensif yang dapat menciptakan perlindungan yang efektif terhadap hak-hak warga negara.
Mendasarkan pada teori tersebut, UUHC harus mengikuti perkembangan yang ada, termasuk mengikuti perkembangan dunia teknologi.
17 H. OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2003), hal. 111-112
18
11
Terutama ketika perkembangan teknologi ini terkait erat dengan hak-hak warga negara. Adanya perlindungan hukum yang pasti serta penegakan hukum yang efektif, akan menjadi stimulus atau perangsang bagi para pencipta lagu maupun karya seni lainnya untuk semakin meningkatkan karyanya dan memperkaya khasanah budaya seni Indonesia.
1.5. Definisi Operasional
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pokok permasalahan, akan diberikan batasan dari kata, istilah, dan konsep yang digunakan dalam penelitian ini. Pembatasan ini diharapkan dapat menjawab permasalahan yang terkait dengan penelitian ini dan supaya terjadi persamaan persepsi dalam memahami permasalahan yang ada.
1. Hak Kekayaan Intelektual adalah hak atas kekayaan yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia melalui daya cipta, rasa, dan karsanya yang dapat berupa karya di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni, dan sastra.19
2. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.20
3. Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.21
4. Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra.22
19 PP Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual Serta Hasil
Penelitian Dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan, LN. No. 43 Tahun 2005, TLN No. 4497, Pasal 1 ayat 7.
20 Pasal 1 angka 1, UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
21 Ibid., Pasal 1 angka 2
12
5. Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai Pemilik Hak Cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut.23
6. Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran, atau penyebaran suatu Ciptaan dengan menggunakan alat apa pun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apa pun sehingga suatu Ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain.
7. Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu Ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer.
8. Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif bagi Pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukannya; bagi Perusahaan rekaman Suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau menyiarkan karya siarannya.24
9. Pelaku adalah aktor, penyanyi, pemusik, penari, atau mereka yang menampilkan, memperagakan, mempertunjukkan, menyanyikan, menyampaikan, mendeklamasikan, atau memainkan suatu karya musik, drama, tari, sastra, folklor, atau karya seni lainnya.25
10. Perusahaan rekaman Suara adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau perekaman bunyi, baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman suara atau perekaman bunyi lainnya.26
23 Ibid., Pasal 1 angka 3
24
Ibid., Pasal 1 angka 9
25 Ibid., Pasal 1 angka 10
26
13
11. Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu.27
12. Royalti adalah kewajiban penerima lisensi untuk membayar kepada Pemegang Hak Cipta atas penggunaan suatu ciptaan.28
13. Lagu adalah suatu karya yang bersifat utuh, terdiri atas unsur lagu atau melodi, syair atau lirik, dan aransemennya termasuk notasi.
14. Lembaga Manajemen Kolektif adalah Pelaksana hak eksklusif Pencipta dan pemilik Hak Terkait dalam penarikan royalty atas digunakannya Ciptaan dan Hak Terkait atas nama Pencipta, Pemegang Hak Cipta atau pemegang Hak Terkait.29
15. Nada Sambung Pribadi (Ring Back Tone) adalah rekaman yang diputar/dimainkan bagi penelepon, menggantikan nada tunggu konvensional selagi menunggu pembeli nada sambung untuk menjawab telepon.30
1.6. Metode Penelitian a. Bentuk penelitian
Bentuk penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif. Metode penelitian yuridis normatif adalah metode penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan sehingga pendekatan yang digunakan disini adalah pendekatan undang-undang (statute approach). Dalam penelitian yuridis normatif yang dipergunakan adalah merujuk pada sumber bahan hukum, yakni penelitian terhadap norma-norma hukum yang ada dalam berbagai perangkat hukum. Penelitian ini juga akan memberikan ilustrasi berupa perlindungan hak pencipta lagu yang lagunya digunakan sebagai RBT di di
27
Ibid., Pasal 1 angka 14
28 Ibid., Pasal 45 ayat 3
29
RUU Hak Cipta, Op.Cit, Pasal 48 A
30 Testimony of Ron Wilcox, Executive Vice President and Chief Business and Legal Affairs
14
Singapura karena Singapura juga merupakan anggota Berne Convention
seperti halnya Indonesia. b. Tipologi penelitian
Pada penyusunan karya tulis ilmiah ini, data terutama diperoleh dari bahan pustaka dimana pengolahan, analisis dan konstruksi datanya dilaksanakan dengan cara penelitian yang menggunakan metode kualitatif yang merupakan suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif. Penelitian ini melakukan kegiatan inventarisasi bahan-bahan hukum sekaligus juga mengidentifikasikan berbagai peraturan di bidang HKI khususnya mengenai hak cipta dan perjanjian.
Setelah analisis data selesai, maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif, yaitu dengan menuturkan dan menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti.31 Dari hasil tersebut kemudian ditarik kesimpulan yang merupakan jawaban dari penelitian ini, yaitu mengenai bagaimana perjanjian lisensi dapat secara efektif memberikan perlindungan hukum bagi hak-hak pencipta lagu. Selain itu, penelitian ini juga termasuk
penelitian murni yaitu penelitian ini bertujuan mengembangkan pengetahuan32 khususnya tentang kendala-kendala yang dihadapi oleh peneliti untuk menghasilkan penelitian yang berorientasi Hak Cipta.
c. Jenis data
Penelitian ini adalah menggunakan jenis data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dari bahan-bahan pustaka.33 Data-data tersebut adalah data yang berasal dari buku-buku meliputi berbagai bahan pustaka yang merupakan bahan pustaka hukum, khususnya peraturan perundang-undangan, rancangan undang-undang dan bahan-bahan lain yang terkait dengan Hak Cipta.
d. Alat pengumpul data
31 H.B. Sutopo, Metodologi Penelitian Hukum Kualitatif Bagian II, (Surakarta: UNS Press,
1998), hal. 37
32 Sri Mamudji, et al., Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, (Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005), hal. 5.
33
15
Oleh karena penelitian ini menggunakan jenis data sekunder, maka alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah melalui studi dokumen, studi komparasi dan sedikit menggunakan metode wawancara demi memberikan pandangan yang lebih dari para pakar. Studi dokumen adalah suatu alat pengumpulan data yang dilakukan melalui data tertulis dengan mempergunakan content analysis34terhadap dokumen-dokumen yang sudah ada (dalam hal ini peraturan perundang-undangan di Indonesia dan Singapura dan literatur pendukung terkait lainnya). Pengumpulan data dengan menggunakan metode studi dokumen ini dilakukan dengan cara menelusuri berbagai bahan pustaka yang merupakan bahan pustaka hukum. Bahan pustaka hukum, berdasarkan kekuatan mengikatnya dibedakan menjadi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier.35
Bahan hukum primer adalah bahan-bahan hukum yang mengikat, yang terdiri dari peraturan perundang-undangan, dalam hal ini adalah peraturan perundang-undangan terkait perlindungan hak cipta di Indonesia
(UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta) dan Singapura (Singapore Copyright Act [Cap 63]), yurisprudensi yakni putusan pengadilan terkait praktik pemberian lisensi, dan traktat.36 Bahan hukum primer yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah peraturan perundang-undangan nasional dan perjanjian-perjanjian internasional di bidang HKI, secara khusus di bidang Hak Cipta.
Selanjutnya, bahan hukum sekunder memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti misalnya rancangan undang-undang tentang Hak Cipta, hasil-hasil penelitian terkait perjanjian lisensi, dan hasil karya dari kalangan hukum (literatur-literatur hukum).37 Dalam penelitian ini, bahan hukum sekunder yang digunakan adalah buku-buku dan artikel yang berkaitan dengan HKI, secara umum mengenai Hak Cipta dan secara
34 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI Press, 1986), hal. 21.
35 Ibid., hlm. 52.
36 Ibid.
16
khusus mengenai perjanjian lisensi. Artikel yang digunakan termasuk pula artikel yang diperoleh melalui media internet.
Di dalam penelitian ini juga akan digunakan bahan hukum tertier. Bahan hukum tertier adalah bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, yang terdiri dari kamus, ensiklopedia, dan direktori pengadilan.38 Bahan hukum tertier yang akan digunakan adalah kamus bahasa dan kamus hukum.
e. Metode analisis data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.39 Metode analisis data yang dipergunakan adalah analisis data kualitatif, yaitu proses penyusunan, mengkategorikan data kualitatif, mencari pola atau tema dengan maksud memahami maknanya.
Metode analisis data dilakukan dengan cara, data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif. Kesimpulan yang diambil dengan menggunakan
cara berpikir deduktif yaitu cara berpikir yang mendasar kepada hal-hal yang bersifat umum dan kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus sesuai dengan pokok permasalahan tersebut.40
f. Bentuk laporan penelitian
Adapun bentuk laporan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis yaitu apa yang dinyatakan oleh sasaran penelitian yang bersangkutan secara tertulis41 selain itu memberikan gambaran secara umum tentang suatu gejala dan menganalisisnya.
38 Soerjono Soekanto, Op. Cit. hlm. 33.
39 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1991), hal. 103.
40 Surakhmad Winarno, Metode dan Tekhnik dalam bukunya, Pengantar Penelitian Ilmiah
Dasar Metode Tekhnik, (Bandung: Tarsito, 1994), hal. 17.
17 1.7. Sistematika Penulisan
Struktur tesis merupakan urutan isi dari tesis secara keseluruhan dari awal sampai akhir. Dengan alur yang sistematis maka akan memudahkan pembaca dalam mengikuti alur pemikiran dari penulis. Penelitian ini akan disusun dalam 5 (lima) Bab. Adapun struktur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bab I merupakan pendahuluan, menguraikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, definisi operasional, kerangka teori, metode penelitian; dan sistematika penulisan.
Bab II yang merupakan tinjauan kepustakaan tentang perlindungan hak cipta atas karya lagu menguraikan dengan rinci prinsip dasar perlindungan hak cipta atas karya lagu, performing right dari pencipta lagu kepada perusahaan rekaman, peran lembaga manajemen kolektif royalti dan perjanjian lisensi.
Bab III yang juga merupakan tinjauan kepustakaan, menguraikan tentang hak pencipta lagu yang lagunya digunakan sebagai Ring Back Tone
yang terdiri atas: penjelasan mengenai Nada Sambung Pribadi atau Ring Back Tone sebagai bagian dari karya cipta lagu, mekanisme pemberian lisensi baik di Indonesia maupun di Singapura, mekanisme pemungutan royalti dan kendalanya serta peraturan perundang-undangan di Indonesia yang belum mengatur mengenai Lembaga Manajemen Kolektif secara komprehensif.
Bab IV berisi studi kasus, pengolahan data dan analisis serta pembahasan terkait isu-isu atau permasalahan dan kerugian yang dialami pencipta lagu terkait dengan penggunaan lagu ciptaannya sebagai Ring Back
Tone.
18 BAB II
PERLINDUNGAN HAK CIPTA ATAS KARYA LAGU
2.1. Prinsip Dasar Perlindungan Hak Cipta atas Karya Lagu
a. Hak Cipta dan Hak Terkait Hak Cipta
Frasa hak cipta terdiri dari dua kata, yakni hak dan cipta. Sehingga, dapat diartikan hak cipta adalah hak yang dimiliki seorang pencipta atas suatu ciptaannya. Ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta dalam bentuk yang khas dan menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni dan sastra.42
Pada awal mulanya istilah untuk hak cipta yang dikenal adalah hak
pengarang sesuai dengan terjemahan harfiah bahasa Belanda, yakni Auteursrecht. Baru pada Kongres Kebudayaan Indonesia ke-2, Oktober 1951 di Bandung, penggunaan istilah hak pengarang dipersoalkan karena dipandang menyempitkan43 pengertian hak cipta. Jika istilah yang dipakai adalah hak pengarang, seolah-olah yang diatur hak cipta hanyalah hak-hak dari pengarang saja dan hanya bersangkut paut dengan karang mengarang saja, sedangkan cakupan hak cipta jauh lebih luas dari hak-hak pengarang. Oleh karena itu, Kongres Kebudayaan Indonesia pada saat itu memutuskan untuk mengganti istilah hak pengarang dengan istilah hak cipta. Istilah ini merupakan istilah yang diperkenalkan oleh ahli bahasa Soetan Moh. Syah dalam suatu makalah pada waktu Kongres. Menurutnya, terjemahan Auteursrecht adalah Hak Pencipta, tetapi untuk tujuan penyederhanaan dan kepraktisan disingkat menjadi Hak Cipta44.
Beranjak dari terminologi hak cipta, hak cipta itu sendiri timbul karena ada pencipta dan ada suatu karya cipta atau ciptaan. Akan tetapi, asal muasal dari
42 Pasal 1 angka 3 UUHC
43Stephen Fishmen, “
The Copyright Handbook: How to Protect and Use Written Works”, dalam Eddy Damian, Hukum Hak Cipta Menurut Beberapa Konvensi Internasional, Undang-Undang Hak Cipta dan Perlindungannya terhadap Buku serta Perjanjian Penerbitannya, (Bandung: PT. Alumni, 2002), hal. 111.
19
mana suatu ciptaan itu lahir, penulis mengutip kalimat yang tertulis pada langit-langit kubah atap bangunan Markas Besar WIPO di Geneva yang dirangkum oleh Arpad Bogsch, Direktur Jenderal WIPO yang dibaca oleh Eddy Damian pada kunjungan penelitiannya ke Geneva, tertulis sebagai berikut:
“Human genius is the source of all works, of art and inventions. These works are the guarantee of a life worthy of men. It is the duty of the state to ensure with diligence the protection of the arts and inventions45.
Berangkat dari kerangka pemikiran bahwa ciptaan merupakan hasil intelektual (human genius) atau olah pikir manusia, sudah sewajarnya apabila negara menjamin sepenuhnya perlindungan terhadap segala macam ciptaan yang merupakan karya intelektual manusia. Dasar pemikiran perlu adanya perlindungan hukum terhadap ciptaan ini tidak terlepas dari dominasi pemikiran Doktrin Hukum Alam yang menekankan pada faktor manusia dan penggunaan akal seperti yang dikenal dalam Civil Law system yang merupakan sistem hukum yang dianut di Indonesia46.
Sistem perlindungan hak cipta ini memberikan perlindungan terhadap nilai ekonomis suatu ciptaan ketika dilakukan eksploitasi terhadap suatu ciptaan dengan cara menggandakan (copying), pertunjukan secara publik (public performance), pengumuman atau penggunaan lainnya. Hak cipta yang juga dikenal dalam bahasa Inggris sebagai copyright juga meliputi sejumlah hak sebagaimana diatur dalam hukum yang berlaku.47 Diharapkan dengan adanya perlindungan secara hukum terhadap hak cipta, pencipta dapat menikmati nilai ekonomis dari ciptaannya secara optimal.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa hak cipta ini berkaitan erat dengan intelektualitas manusia berupa hasil kerja otak. Akan tetapi, lebih jauh dijelaskan oleh Hulman Panjaitan dan Wetmen Sinaga bahwa hak cipta hanya diberikan
45 Eddy Damian, op.cit, hal 15
46
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (PT. Alumni, 1958), hal. 292
47 J.A.L Sterling, World Copyright Law; Protection of Authors’ Works, Performances,
20
kepada ciptaan yang sudah berwujud atau berupa ekspresi yang sudah dapat dilihat, dibaca, didengarkan dan sebagainya. Ditegaskan bahwa hukum hak cipta tidak melindungi ciptaan yang masih berupa ide. Agar mendapat perlindungan hak cipta, suatu ide perlu diekspresikan terlebih dahulu.48 Ide yang masih abstrak dan belum pernah diekspresikan tidaklah dilindungi oleh hukum hak cipta. Berikut penjelasan Hulman Panjaitan dan Wetmen Sinaga49:
“Dapat ditegaskan bahwa adanya suatu bentuk yang nyata dan berwujud
(expression) dan sesuatu yang berwujud itu adalah asli (original) atau bukan hasil plagiat merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menikmati perlindungan hukum hak cipta. Sebuah lagu (ada syair dan melodi) yang dinyanyikan seseorang secara spontan dan kemudian suara dan syair yang terucapkan hilang ditelan udara tidak mendapat hak cipta. Akan tetapi, kalau lagu itu direkam (dalam pita rekaman) atau dituliskan dan terbukti tidak sebagai jiplakan, barulah mendapat perlindungan hak
cipta.”
Indonesia memang menganut sistem hukum Civil Law, namun dalam hal perlindungan terhadap hak cipta ini, secara universal negara-negara dengan sistem
common law maupun civil law pada dasarnya menggunakan prinsip-prinsip dasar yang sama dalam memberikan perlindungan hak cipta. Kedua sistem ini mendasarkan teorinya pada penggunaan akal atau nalar sehingga hukum dianggap sebagai karya akal atau nalar.
Beberapa prinsip yang sama dalam sistem hukum common law maupun
civil law terkait dengan perlindungan hak cipta antara lain50:
1. Yang dilindungi hak cipta adalah ide yang telah berwujud dan asli.
Salah satu prinsip paling mendasar dari perlindungan hak cipta adalah konsep bahwa hak cipta hanya melindungi perwujudan suatu ciptaan misalnya karya tulis, lagu atau musik, dan tarian sehingga tidak terkait atau tidak berurusan dengan substansinya.
Dari prinsip ide yang berwujud atau fixation of idea ini dapat diperoleh beberapa prinsip turunan, yaitu:
48 Hulman Panjaitan dan Wetmen Sinaga, Op. Cit, hal. 42
49 Ibid.
21
a. Suatu ciptaan harus mempunyai sifat keaslian (nilai orisinalitas) untuk seorang pencipta dapat menikmati hak-hak yang diberikan undang-undang. Unsur keaslian ini sangat erat hubungannya dengan bentuk perwujudan suatu ciptaan. Oleh karena itu, suatu ciptaan baru dapat dianggap asli jika bentuk perwujudannya bukanlah merupakan jiplakan (plagiat) dari ciptaan lain yang telah diwujudkan sebelumnya. Terkait keaslian suatu ciptaan ini, Hulman Panjaitan mengutip pendapat seorang penulis Belanda, Herald D.J. Jongen yang mengemukakan sebagai berikut:
“Article 10 of the Copyright Act (the Netherlands) provides that works
are all literary, scientific or artistic products. Although Copyright Act
does not mention any condition for protection, only “original”
products are considered works. The only exception to this rule are
writings which are protected even in the absence of any originality.”
b. Suatu ciptaan, mempunyai hak cipta jika ciptaan yang bersangkutan diwujudkan (fixation) dalam bentuk tulisan atau bentuk material yang lain. Hal ini berarti bahwa suatu ide yang tidak diwujudkan dan hanya berupa ide saja belum dapat dikatakan sebagai suatu ciptaan dan belum dilindungi oleh hak cipta.
c. Hak cipta merupakan hak eksklusif dari pencipta atau penerima hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya (sesuai Pasal 2 ayat [1] UUHC). Ini berarti tidak ada orang lain yang boleh mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan tanpa izin dari pencipta atau penerima hak cipta. Dengan kata lain, hak ekslusif ini mengandung pengertian
“monopoli terbatas” terhadap suatu ciptaan.
2. Hak cipta timbul dengan sendirinya (otomatis)
Hak cipta timbul saat seorang pencipta mewujudkan idenya, misal, dalam bentuk tulisan, lukisan, lagu, buku, dan bentuk-bentuk lainnya. Pendaftaran
suatu ciptaan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual bukanlah suatu keharusan untuk suatu ciptaan mendapat perlindungan. Namun,
22
kepemilikan hak cipta atas suatu ciptaan. Misalnya, jika suatu hari ada orang lain yang mengklaim ciptaan buku X adalah ciptaannya, padahal A adalah penciptanya dan sudah mendaftarkannya. Terhadap sengketa ini akan lebih mudah pembuktiannya mengenai siapa pencipta sesungguhnya dari buku X. Hal itu berarti suatu ciptaan baik yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar tetap dilindungi.
3. Suatu ciptaan tidak selalu perlu diumumkan untuk memperoleh hak cipta. Terhadap suatu ciptaan, baik diumumkan atau tidak diumumkan, keduanya dapat memperoleh perlindungan hak cipta. Contohnya, ketika seorang pelukis membuat suatu lukisan dan hanya disimpan di kamarnya tanpa dipertunjukkan atau dipamerkan, pelukis tersebut memegang hak cipta atas lukisan tersebut. Contoh lain untuk ciptaan yang hak ciptanya baru timbul ketika ciptaan itu diumumkan adalah pada lay out karya tulis (typhographical arrangement) (Pasal 12 [1] a UUHC). Yang dimaksud dengan typhographical arrangement adalah aspek seni atau estetika pada susunan dan bentuk karya tulis yang mencakup antara lain format, hiasan,
warna dan susunan atau tata letak huruf yang secara keseluruhan menampilkan wujud yang khas yang biasanya dikerjakan/diciptakan oleh penerbit sebuah buku. Suatu typhographical arrangement baru dilindungi hak ciptanya setelah penerbitan dilakukan (dalam hal ini berarti dilakukan pengumuman).51
4. Hak cipta suatu ciptaan merupakan suatu hak yang diakui hukum (legal right) yang harus dipisahkan dan harus dibedakan dari penguasaan fisik suatu ciptaan. Yang dimaksud dalam poin ini akan dijelaskan melalui contoh, yakni, Anton membeli sebuah kaset berisi lagu dari penyanyi ternama, bukan berarti Anton adalah pemilik hak cipta karena membeli karya lagu tersebut. Jika Anton memperbanyak lagu dan dijual untuk kepentingan komersial, maka Anton melanggar hak cipta.
51
Baca penjelasan Pasal 12 ayat (1) a UUHC yang menyebutkan bahwa: “Yang dimaksud dengan perwajahan karya tulis adalah karya cipta yang lazim dikenal dengan "typholographical arrangement", yaitu aspek seni pada susunan dan bentuk penulisan karya tulis. Hal ini mencakup antara lain format, hiasan, warna dan susunan atau tata letak huruf indah yang seca ra
23 5. Hak cipta bukan hak mutlak (absolut)
Disebutkan dalam Pasal 1 ayat (1) UUHC52 bahwa:
“Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Dapat kita lihat dari ketentuan tersebut di atas bahwa hak cipta bukanlah bersifat absolut, karena hak cipta juga dibatasi oleh undang-undang. Selain itu, hak cipta juga tidak menganut monopoli mutlak, tapi hanya menganut monopoli terbatas. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan terjadinya suatu ciptaan yang diciptakan pada waktu yang bersamaan oleh pencipta yang berbeda dan yang menghasilkan ciptaan yang sama. Dalam hal yang demikian, tidaklah terjadi pelanggaran hak cipta.
Hak Terkait
Selain hak cipta, dalam lingkup hukum hak cipta diatur pula hak terkait. Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif bagi Pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukannya. Hak terkait ini terdiri dari antara lain: bagi Produser Rekaman Suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau menyiarkan karya siarannya.53
Seperti halnya dengan hak cipta, hak terkait diakui secara otomatis tanpa perlu melalui suatu prosedur tertentu. Hak terkait ini juga dilindungi oleh
konvensi internasional, seperti Konvensi Internasional tentang Perlindungan Pelaku Pertunjukan, Produser Rekaman Suara, dan Lembaga Penyiaran (International Convention for the Protection of Performers, Producers of Phonograms and Broadcasting Organizations, 196154) dan Konvensi tentang Perlindungan Produser Rekaman Suara Terhadap Perbanyakan Rekaman Suara
52 Pasal 1 angka 1 UUHC.
53 Pasal 49 UUHC.
24
Tanpa Izin (Convention for the Protection of Producers of Phonograms Against Unauthorized Duplication of Their Phonograms, 197155).
Terhadap hak cipta dan hak terkait diberikan perlindungan yang terpisah dan untuk itu diperlukan adanya izin yang terpisah pula untuk penggunaan masing-masing hak tersebut. Misalnya, ketika seseorang hendak memperbanyak sebuah rekaman lagu, orang tersebut harus meminta izin tidak saja dari pencipta lagu, baik pengarang musik maupun penulis liriknya, tapi juga dari produser rekaman dari lagu tersebut.
J.A.L Sterling menyebutkan ada 6 (enam) jenis hak terkait56, yakni:
(1) Performers’ Rights produser rekaman dan lembaga penyiaran sebagaimana diakui dan diatur dalam
Pasal 49 UUHC sebagai berikut:
(1) Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan rekaman suara dan/atau gambar pertunjukannya.
(2) Produser Rekaman Suara memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya memperbanyak dan/atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyi.
(3) Lembaga Penyiaran memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, dan/atau menyiarkan ulang karya siarannya melalui transmisi dengan atau tanpa kabel, atau melalui sistem elektromagnetik lain.
Dari ketentuan di atas, bisa kita lihat bahwa di Indonesia hak terkait hanya dimiliki oleh pelaku, produser rekaman dan lembaga penyiaran untuk mengeksploitasi suatu karya (dalam hal ini karya cipta lagu).
55 http://www.wipo.int/treaties/en/ip/phonograms/trtdocs_wo023.html, diunduh 7 Juni
2012.
56
25
b. Hak-hak Pencipta: Hak Moral (Moral Right) dan Hak Ekonomi (Economic Right)
Hak pencipta secara umum terbagi menjadi dua yakni hak moral dan hak ekonomi. Hak moral adalah hak yang berkaitan dengan perlindungan pencipta secara personal dan integritas dari ciptaannya. Sedangkan hak ekonomi adalah hal-hal mengenai pengendalian secara komersial atau pengendalian terhadap eksploitasi ekonomi atas suatu ciptaan.57 Hak pencipta ini dilindungi pula melalui
The Universal Declaration of Human Rights (1948)58 dalam Pasal 27:
(1) Everyone has the right freely to participate in the cultural life of the community, to enjoy the art and to share in scientific advancement and its benefits.
(2) Everyone has the right to the protection of the moral and material interest resulting for many scientific, literary or a rtistic production of which he is the author.
Dari ketentuan tersebut, setiap orang berhak untuk mendapat perlindungan moral dan material atas hasil ciptaannya. Dengan kata lain, setiap
orang berhak dilindungi haknya secara moral maupun ekonomis atas hasil karyanya, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, maupun karya lainnya.
57 Ibid, J.A.L Sterling, hal. 279
58
26 Gambar II. 1
Dua macam hak cipta: hak ekonomi dan hak moral59
Hak Moral (Moral Rights)
Keberadaan hak moral adalah untuk memastikan bahwa pemilik hak
cipta mampu mengendalikan presentasi dan modifikasi dari ciptaannya. Ketentuan mengenai hak moral ini berakar pada ketentuan Berne Convention, Pasal 6 bis:
“Article 6 bis (1)
Independently of the author’s economic rights, and even after the transfer of
the said rights, the author shall have the right to claim authorship of the work and to object to any distortion, mutilation or other modification of, or other derogatory action in relation to, the said work, which would be prejudicial to his honour or reputation.
Article 6 bis (2)
The rights granted to the author in accordance with the preceding paragraph shall, after his death, be maintained, at least until the expiry of the economic rights, and shall be exercisable by the persons or institutions authorised by the legislation of the country where protection is claimed. However, those countries whose legislation, at the moment of their ratification of or accession to this Act, does not provide for the protection after the death of the author af all the rights set out in the preceding paragraph may provide that
some of these rights may, after his death, cease to be maintained.”
59
Eddy Damian, Hukum Hak Cipta, (Bandung: PT. Alumni, 2009), hal. 57
27
Dijelaskan oleh Dr. Ida Madieha bt Abdul Ghani Azmi bahwa pada dasarnya, ketentuan Pasal 6 bis tersebut di atas mengatur beberapa hal berikut60:
a. Hak pencipta untuk mengklaim paternity right, yakni bahwa dialah pencipta atas suatu ciptaan.
b. Hak pencipta untuk melakukan keberatan atas distorsi, mutilasi atau modifikasi bentuk lain atau tindakan lain terhadap karya/ciptaannya. Karena tindakan-tindakan tersebut dapat berakibat pada kehormatan dan reputasi dari pencipta.
c. Hak moral ini terlepas dari hak ekonomi pencipta. Sehingga, apabila terjadi transfer atau pengalihan, pemberian lisensi atas suatu ciptaan, hak moral akan tetap melekat pada pencipta.
d. Hak moral ada sepanjang hak ekonomi ada.
Mendukung perlindungan hak moral, Dr. Otto Hasibuan mengemukakan bahwa hak moral adalah hak yang melekat pada diri Pencipta yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus tanpa alasan apapun. Di antara Pencipta dan Ciptaannya ada sifat yang tidak terpisahkan (kemanunggalan) atau dapat
dikatakan ada hubungan integral di antara keduanya. Suatu ciptaan ada karena adanya pencipta, dan pencipta baru disebut sebagai pencipta jika telah menghasilkan suatu ciptaan, sehingga keduanya tidak terpisahkan.
Melanjutkan mengenai perlindungan hak moral pencipta, di Inggris, diperkenalkan empat macam hak moral dalam Copyright, Designs and Patent Act, 198861, yakni:
(a).The right to be named as the author of a work – the right of paternity. (b).The right to object to derogatory treatment of one’s work – the right of
integrity.
(c).The right to object to false attribution of the author of a work – the right against false attribution.
Ida Madieha bt Abdul Ghani Azmi, Copyright Law in Malaysia; Cases and Commentary, (Malaysia-Singapore-Hong Kong: Sweet & Maxwell Asia, 2004), hal. 367-368
61 Catherine Colston, Principles of Intellectual Property Law, (London: Cavendish
28
Demikian pula di Indonesia, ketentuan mengenai hak moral ini juga diatur dalam UUHC, yakni dalam Pasal 24 UUHC62 yang berbunyi:
(1) Pencipta atau ahli warisnya berhak menuntut Pemegang Hak Cipta supaya nama Pencipta tetap dicantumkan dalam Ciptaannya.
(2) Suatu Ciptaan tidak boleh diubah walaupun Hak Ciptanya telah diserahkan kepada pihak lain, kecuali dengan persetujuan Pencipta atau dengan persetujuan ahli warisnya dalam hal Pencipta telah meninggal dunia.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga terhadap perubahan judul dan anak judul Ciptaan, pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Pencipta.
(4) Pencipta tetap berhak mengadakan perubahan pada Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat.
Hak Ekonomi (Economic Rights)
Selain hak moral, pencipta juga memiliki hak ekonomi (economic rights). Hak ekonomi ini terkandung dalam hak cipta karena suatu ciptaan itu sendiri merupakan hasil dari pemikiran, intelektual manusia yang mempunyai nilai ekonomis yang meskipun tidak berwujud (intangible) tapi merupakan suatu bentuk kekayaan. Bagi orang yang menghasilkannya, suatu ciptaan memang memberikan kepuasan batin, akan tetapi karya cipta tersebut sebenarnya juga memiliki nilai ekonomis. Hasil karya atau perwujudan pemikiran dan intelektual seseorang itu sudah sepatutnya kita hargai dan sudah sepantasnya pencipta memperoleh keuntungan ekonomis dari karyanya itu.
Akan terasa tidak adil jika mengatasnamakan paham kekeluargaan kemudian pencipta membiarkan dan memberikan karyanya digunakan, ditiru dan dieksploitasi masyarakat secara luas tanpa memberikan keuntungan ekonomis kepada penciptanya. Meskipun pencipta dapat bersikap demikian, hal itu tidak mengurangi kewajiban setiap orang untuk menghargai dan mengakui hak tersebut63.
62
Pasal 24 UUHC
63 Bambang Kesowo, Pengantar Umum Mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di
29
Secara umum, setiap negara setidaknya mengenal dan mengatur hak ekonomi tersebut meliputi jenis hak64:
1. Hak reproduksi (reproduction right), yaitu hak untuk menggandakan ciptaan, UUHC menggunakan istilah perbanyakan untuk menyebut hak reproduksi ini.
2. Hak adaptasi (adaptation right), yaitu hak untuk mengadakan adaptasi terhadap hak cipta yang sudah ada (Pasal 12 Berne Convention).
3. Hak distribusi (distribution right), yaitu hak untuk menyebarkan kepada masyarakat setiap hasil ciptaan dalam bentuk penjualan atau penyewaan. Dari hak distribusi itu dapat dimungkinkan timbul hak baru berupa foreign
right, yaitu suatu hak yang dilindungi di luar negaranya. Misalnya, satu karya cipta berupa buku, karena merupakan buku yang menarik, maka sangat digemari di negara lain. Dengan demikian, buku itu didistribusikan ke negara lain tersebut, sehingga mendapatkan perlindungan sebagai
foreign right.
4. Hak pertunjukan (performance right), yaitu hak untuk mengungkapkan
karya seni dalam bentuk pertunjukan atau penampilan oleh pemusik, dramawan, seniman, peragawati, juga menyangkut penyiaran film, dan rekaman suara pada media televisi, radio, dan tempat lain yang menyajikan tampilan tersebut. Setiap orang atau badan yang menampilkan atau mempertunjukkan suatu karya cipta, harus meminta izin dari si pemilik performance right tersebut. Keadaan ini terasa menyulitkan bagi orang yang akan meminta izin pertunjukan tersebut, untuk memudahkan hal tersebut maka dibentuklah suatu lembaga yang mengurus hak pertunjukan ini yang dikenal sebagai Performing Right Society.
5. Hak Penyiaran (broadcasting right), yaitu hak untuk menyiarkan ciptaan melalui transmisi dan transmisi ulang.
6. Hak program kabel (cablecasting right), yaitu hak untuk menyiarkan ciptaan melalui kabel. Hak ini hampir sama dengan hak penyiaran, tetapi tidak melalui transmisi melainkan melalui kabel.
64 Muhammad Djumhana dan R. Jubaedillah, Hak Milik Intelektual, Sejarah, Teori dan
30
7. Droite de Suite, yaitu hak tambahan pencipta yang bersifat kebendaan. 8. Hak pinjam masyarakat (public lending right), yaitu hak pencipta atas
pembayaran ciptaan yang tersimpan di perpustakaan umum yang dipinjam oleh masyarakat.
Dalam UUHC, hak ekonomi pencipta (economic right) diatur dalam Pasal 1 ayat (1) UUHC yang hanya meliputi hak untuk mengumumkan (performing right) dan memperbanyak (mechanical right). Termasuk dalam pengumuman adalah pembacaan, penyiaran pameran, penjualan, pengedaran, atau penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat apapun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat dibaca, didengar atau dilihat orang lain. Sedangkan yang termasuk dalam perbanyakan adalah penambahan jumlah suatu ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer. UU Hak Cipta memang mengenal pembedaan antara hak untuk mengumumkan (performing right) dengan hak untuk memperbanyak (mechanical right).65 Kedua
hak ini dimiliki oleh pencipta dan dapat dilisensikan kepada orang lain tanpa mengurangi hak pencipta atas suatu ciptaannya. Berikut di bawah ini tabel ruang lingkup hak ekonomi pencipta menurut UUHC.
Tabel II.1
Ruang lingkup Hak Ekonomi Pencipta Menurut UUHC66
Hak Mengumumkan Hak Memperbanyak