• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tulisan Dosen - Program D3 Keuangan Perbankan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tulisan Dosen - Program D3 Keuangan Perbankan"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Pen g a wa sa n

Asrian HC**

Orang sering meragukan kesyariahan bank syariah. ‘Itukan mereknya aja yang syariah, tapi belum tentu sesuai syariah.’ Keraguan ini sepertinya sepele, tapi bisa jadi merupakan faktor penghambat bagi perkembangan bank syariah. Sampai saat ini bank syariah baru menguasai pangsa pasar mendekati 3 persen.

Walau perkembangan bank syariah sangat pesat, tapi masih jauh untuk berimbang dengan bank konvensional. Karena itu, Bank Indonesia (BI) menargetkan untuk meningkatkan pangsa bank syariah menjadi 5 persen dua tahun kedepan. Dengan demikian, wajar bila keberadaan bank syariah belum banyak dirasakan oleh masyarakat. Pertama, keterbatasan kantor pelayanan bank syariah sehingga akses masyarakat rendah. Masyarakat masih sulit untuk berinteraksi-berhubungan dengan bank syariah karena jarang dijumpai. Kedua, pemahaman masyarakat yang masih terbatas tentang bank syariah sehingga mereka masih ragu-ragu menggunakan jasa bank syariah.

Kesan keraguan masyarakat pada bank syariah merupakan cerminan terbatasnya pemahaman atas bank syariah. Karena itu, untuk mempermudah memahami bank syariah perlu diketahui bedanya dengan bank konvensional. Beda bank syariah dengan bank konvensional dapat dilihat pada banyak aspek, seperti, prinsip operasional, produk, dll.

(2)

Asr i a n H en d i c a ya

2

Karenanya, masyarakat tidak perlu hawatir dan meragukan kesyariahan praktek perbankan syariah. Kesyariahan praktek bank syariah dijaga secara berlapis. Pertama, Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan memfatwakan praktek atau akad yang sesuai dengan syariah. Kedua, Bank Indonesia selalu menilai aspek syariah pelaksanaan kegiatan bank syariah sesuai dengan fatwa yang dikeluarkan DSN. Ketiga, DPS memberikan laporan atas penilaian kesyariahan kegiatan perbankan dalam menjalankan usahanya.

DPS menjadi bagian dari organisasi bank syariah yang dipersyaratkan peraturan perbankan. DPS juga berfungsi sebagai lembaga yang mengkaji aspek syariah suatu produk yang akan ditawarkan bank syariah. Kemudian baru disampaikan kepada DSN untuk mendapat pengesahan melalui fatwanya. Dengan demikian, DPS adalah penyaring pertama aspek syariah suatu produk bank syariah. Untuk itu, DPS biasanya diisi oleh unsur ahli fiqh (hukum islam) dan ahli ekonomi yang terkait dengan perbankan. Dengan demikian maka penilaian kesyariahan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Referensi

Dokumen terkait

Jual beli valas pada prinsipnya boleh dengan syarat: (1) tidak untuk spekulasi, (2) ada kebutuhan transaksi atau berjaga-jaga (simpanan), (3) bila transaksi terhadap mata uang

Dengan demikian, jika ada konflik antara eksekutif dan legislatif, seharusnya tidak merugikan rakyat, apalagi melibatkan rakyat.. Sebab itu, jika memang terjadi

Bank BRI Syariah merupakan salah satu bank syariah di Indonesia yang melakukan usaha dalam konsep mudharabah berdasarkan fatwa DSN NO:07/DSN-MUI/IV/2000, bahwa dalam rangka

Berkaitan dengan pemberian diskon ini BRI Syariah KCP Kopo sudah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI bahwa diskon yang di peroleh oleh BRI Syariah KCP Kopo telah diberikan

pembiayaan bermasalah pada produk BSM Implan di Bank Syariah Mandiri KCP Buah Batu Bandung, pada dasarnya tidak bertentangan dengan ketentuan Fatwa

a) Lina Pusvisasari “Pelakasanaan Gadai Emas (Rahn) dengan akad qardh berdasarkan Fatwa DSN Nomor 26/MUI/III/2002 di Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu

Dewan Pengawas Syariah (DPS) ialah lembaga yang bersifat independen, yang dibentuk sebagai bagian Dewan Syariah Nasional (DSN) dan di tempatkan di bank yang melakukan

Mega Syariah penelitian - Fokus penelitian Syariah - Kesesuaian pelaksanaan gadai emas di Bank Mega Syariah dengan Fatwa DSN-MUI tentang Rahn dan Rahn Emas - Pelaksanaan gadai