ARTIKEL
ALAM BALI KINI
I GEDE DALEM SUARDITA
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT SENI INDONESIADENPASAR
DENPASAR
ALAM BALI KINI
I Gede Dalem Suardita
Pasca Sarjana, Institut Seni Indonesia Denpasar, Jl. Nusa Indah, Denpasar, 80235, Indonesia
E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Alam Bali yang indah membuat para wisatawan datang mengunjungi Bali. Keindahan alam Bali dapat di nikmati dari dataran tinggi hingga dataran rendah. Sawah Ceking, Pantai Kuta, hingga gunung Batur merupakan beberapa objek wisata alam yang terdapat di Bali. Bali yang terkenal akan keindahan alamnya mendorong wisatawan datang ke Bali. Perkembangan pariwisata di Bali sangat signifikan yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Namun dibalik gemerlap pariwisata Bali terjadi dampak yang merusak kelestarian lingkungan. Rusaknya lingkungan hidup di Bali diiringi dengan pembangunan besar-besaran untuk menunjang sarana pariwisata. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan konsep Tri Hita Karana yang menjadi landasan masyarakat Bali. Konsep Tri Hita Karana tersebut salah satunya menyatakan hubungan manusia dengan lingkungan. Berbagai permasalahan yang timbul divisualkan dalam karya foto yang memiliki nilai estetik dengan konsep fotografi ekspresi. Adapun landasan yang dipakai dalam menciptakan karya antara lain, teori keindahan untuk mendapatkan hasil karya yang memiliki nilai estetika baik secara ideational maupun teknikal dan juga teori semiotika untuk menghasilkan karya yang kuat akan penyampaian pesan. Tahap penciptaan selanjutnya adalah tahap eksplorasi yaitu melakukan pengamatan tentang kerusakan alam di Bali dampak dari pariwisata, tahap berikutnya adalah tahap perancangan disini pencipta menuangkan idenya kedalam sketsa, setelah tahap tersebut dilakukan tahap perwujudan, mulai dari pemotretan, editing, hingga pencetakan karya. Fenomena kerusakan lingkungan yang terjadi membuat pencipta ingin menciptakan sebuah konsep seni yang bertajuk Alam Bali Kini. Karya foto yang di ciptakan berupa fotografi ekspresi dengan menggunakan teknik digital imaging. Aliran surealisme di pilih pencipta guna menghasilkan karya foto yang menarik, unik dan kreatif.Dalam konsep karya ini pencipta ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan agar tetap lestari.
Kata Kunci: Alam Bali Kini, Tri Hita Karana, Digital Imaging, Surealis
I. PENDAHULUAN
Alam mencakup segala materi hidup dan materi bukan hidup yang berada secara alami di
bumi. Dalam pengertian yang paling murni, alam adalah lingkungan yang tanpa kegiatan manusia.
Alam Bali yang indah membuat para wisatawan datang mengunjungi Bali. Keindahan alam Bali
dapat di nikmati dari dataran tinggi hingga dataran rendah. Sawah Ceking, Pantai Kuta, hingga
gunung Batur merupakan beberapa objek wisata alam yang terdapat di Bali.
Bali sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia karena memiliki kekayaan dan
keindahan alam, serta keunikan seni budayanya menjadi daya tarik utama. Sebagian masyarakat di
Bali bekerja dan mempertaruhkan nasibnya pada bidang-bidang yang berkaitan dengan pariwisata,
sehingga dampak positif dari pariwisata tersebut dapat membantu kesejahteraan masyarakat yang
terhadap masyarakat adat yang memiliki kesenian-kesenian yang khas dimasing-masing daerah
untuk memperkenalkan dan sekaligus menjadikan sebagai suatu penghasilan bagi masyarakat
daerah tersebut.
Gegap gempita pariwisata Bali juga berdampak negatif terhadap lingkungan. Pembangunan
pariwisata selalu mengesampingkan dampak terhadap lingkungan. Konsep Tri Hita Karana seakan
tidak bermakna, hubungan manusia dengan alam tak ada timbal balik. Banyaknya kerusakan
lingkungan akibat kegiatan pariwisata yang tidak terkendali. Sebagaimana dinyatakan oleh Fridgen
(1996) bahwa “tourism is often the cause of environmental degradation”. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pariwisata telah menyebabkan adanya polusi udara, air, suara dan visual, masalah
pengolahan limbah, alih fungsi lahan untuk menyediakan fasilitas wisata, serta kerusakan lain
termasuk situs arkeologi dan sejarah.
Banyaknya pembangunan fisik yang mengikuti jalan raya, berdirinya bangunan-bangunan
tinggi. Konversi lahan pertanian ke non-pertanian menyebabkan lahan pertanian dan perkebunan
semakin sempit. Hal tersebut terjadi dikarenakan keinginan para investor (baik asing maupun
domestik) untuk memenuhi persaingan pasar, berebutan ingin meraih keuntungan tanpa
memperhatikan dengan seksama apa yang telah mereka perbuat secara tidak langsung kepada
lingkungan sekitarnya.
Kerusakan alam di Bali semakin tidak terbendung selama 10 tahun terakhir, seperti abrasi
pantai mencapai 91,070 km dari total 436 km panjang garis pantai yang ada, lahan kritis seluas
286.938 hektar, dan bahkan suhu udara naik mencapai 33 derajat celcius. Penyebab kerusakan ini
diperkirakan antara lain dampak dari pembangunan pariwisata sejak 1970-an yang kian tidak
terkontrol sampai sekarang di seluruh wilayah Bali (Ayuni, 2009).
Permasalahan lingkungan sudah sangat sering terjadi, masalah yang timbul sering kali di
abaikan, dikerjakan tetapi mangkrak. Berdasarkan fenomena yang terjadi terhadap kerusakan alam
Bali, menggugah pencipta untuk menciptakan karya fotografi ekspresi yang memvisualkan tentang
keadaan alam bali saat ini dimana pembangunan sarana pariwisata yang merusak ekosistem dan
alam Bali. Upaya ini dilakukan agar dapat memberi kritik terhadap dampak negatif dari pariwisata
tersebut dan menggugah masyarakat Bali untuk menjaga lingkungannya, disaat pariwisata
mengeksploitasi alam Bali.
Adapun hasil karya berupa foto berwarna yang nantinya di cetak diatas media kertas,
proses pemotretan dilakukan di beberapa daerah di Bali. Ada pula proses editing yang
beberapa foto sehingga menghasilkan foto yang sesuai dengan yang diinginkan. Karya foto yang
diciptakan merupakan kontradiksi dari Tri Hita Karana. Pada setiap karya foto yang diciptakan
akan dimuatkan warna Tridatu yang mempunyai makna sebagai penyelamat. Dalam konsep karya
tersebut pencipta ingin menyampaikan pesan tentang kerusakan alam Bali saat ini terutama dampak
dari pariwisata. Pencipta ingin menggugah masyarakat Bali untuk lebih peduli terhadap
lingkungannya.
II. METODE DAN PROSES PERANCANGAN
Proses penciptaan menurut Gustami (2007: 329) secara metodologis melalui tiga tahapan
utama, yaitu (1) ekplorasi, yang meliputi langkah pengembaraan jiwa, dan penjelajahan dalam
menggali sumber ide. Dari kegiatan ini akan ditemukan tema dan berbagai persoalan. Langkah
kedua adalah menggali landasan teori, sumber dan referensi serta acuan visual untuk memperoleh
konsep pemecahan masalah. (2) Perancangan, yang terdiri dari kegiatan dimensional atau desain.
Hasil perancangan tersebut selanjutnya diwujudkan dalam bentuk karya, dan (3) Perwujudan, yang
merupakan perwujudan menjadi karya. Dari semua tahapan dan langkah yang telah dilakukan perlu
dilakukan evaluasi untuk mengetahui secara menyeluruh terhadap kesesuaian antara gagasan
dengan karya yang diciptakan.
.
III. WUJUD KARYA
Karya fotografi yang tercipta merupakan sebuah pesan kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh dampak perkembangan dan pembangunan sarana penunjang pariwisata. Wujud
dari karya fotografi tersebut adalah fotografi ekspresi yang beraliran surealis. Gambar 1. Diagram Metode
1. Karya foto dengan judul “Disana Rumahku”
2. Karya foto dengan judul “Terhalang Sampah”
Pada karya tersebut menceritakan tentang terganggunya ekosistem dari satwa liar. Setiap elemen mengandung nilai semiotika yang dijelaskan dengan teori semiotika dari Carles Sandra Pierce yang menyatakan bahwa semiotika didasari atas logika (Sobur, 2006: 41). Dengan teknik digital imaging karya dengan aliran surealis tersebut lebih mudah diciptakan.
Pada karya tersebut menceritakan tentang kondisi pantai yang banyak terdapat sampah, yang mengganggu kelestarian dan keindahan pantai. Elemen pada foto dijelaskan dengan teori semiotik dari Greenlee dan Cassirer yang menyatakan bahwa manusia sendiri mencari makna yang terkadung dalam simbol-simbol tersebut. Dengan teknik digital imaging karya dengan aliran surealis tersebut lebih mudah diciptakan.
Gambar 2. Karya Foto “Disana Rumahku” Dok. I Gede Dalem Suardita, 2016
3. Karya foto dengan judul “Asap Pariwisata”
4. Karya foto dengan judul “Jejak Perusak”
Pada karya tersebut menceritakan tentang kondisi lingkungan Bali yang mulai tercemar akan emisi dari kendaraan penunjang pariwisata. Elemen-elemen yang terdapat pada karya tersebut dijelaskan menggunakan teori semiotika dari Carles Sander Pierre yang menyatakan bahwa semiotika didasari oleh logika. (Sobur, 2006: 41). Dengan teknik digital imaging karya dengan aliran surealis tersebut lebih mudah diciptakan.
Pada karya tersebut menceritakan tentang maraknya investor yang datang ke Bali untuk membangun hotel, tanpa memikirkan tentang kelestarian lingkungan di Bali. Dengan teknik digital imaging karya dengan aliran surealis tersebut lebih mudah diciptakan.
Gambar 4. Karya Foto “Asap Pariwisata”
Dok. I Gede Dalem Suardita, 2016
5. Karya foto dengan judul “Eksploitasi Bali
6. Karya foto dengan judul “Tangisan Pohon”
Pada karya tersebut menceritakan tentang ekploitasi yang terjadi di tanah Bali. dalam karya tersebut unsur fotografi yang diterapkan adalah kerumitan. semiotik sebagai tanda yang memiliki makna tertentu, merupakan hal-hal yang dirasakan dan dipikirkan yang kemudian dilakukan ataupun diciptakan melalui bentuk-bentuk tertentu oleh manusia dalam kehidupannya. (Soedjono, 2007: 36) Dengan teknik digital imaging karya dengan aliran surealis tersebut lebih mudah diciptakan.
Gambar 6. Karya Foto “Eksploitasi Bali” Dok. I Gede Dalem Suardita, 2016
Gambar 7. Karya Foto “Tangisan Pohon”
Dok. I Gede Dalem Suardita, 2016
7. Karya foto dengan judul “Polusi Air”
IV. KESIMPULAN
Untuk menginterprestasikan implikasi pariwisata yang menyangkut tentang kerusakan
lingkungan alam yang terjadi di Bali, digunakan beberapa metode, seperti pengumpulan data,
observasi, wawancara, studi pustaka pemotretan, pengolahan, tahap seleksi dan pencetakan.
Pengamatan dilapangan dilakukan untuk mengetahui tentang kerusakan lingkungan yang terjadi
akibat pariwisata. Kemudian mempelajari permasalahn dari kerusakan lingkungan akibat
pariwisata, dan mempersiapkan elemen-elemen pendukung untuk penciptaan karya fotografi
ekspresi.
Melalui fotografi ekspresi, kerusakan lingkungan akibat pariwisata dapat diungkapakan
sesuai dengan konsep dan metode. Berbagai makna dan pesan tentang kerusakan lingkungan akibat
pariwisata divisualkan dalam konsep fotografi ekspresi.
Penyajian karya tentang kerusakan lingkungan akibat dari pariwisata divisualkan dengan
fotografi ekspresi beraliran surealis. Dengan teknik digital imaging karya foto yang tercipta akan
lebih unik, kreatif, dan memiliki daya tarik untuk di nikmati. Dalam proses pengolahana digital
dengan teknik digital imaging di gunakan software Adobe Photoshop CS3, pada software tersebut
pengolahan di awali dengan penyeleksian gambar, pengomposisian objek, pengaturan pencahayaan
serta kontras dari karya yang dibuat.
Gambar 8. Karya Foto “Polusi Air”
Dok. I Gede Dalem Suardita, 2016
V.DAFTAR RUJUKAN
Gustami, Sp. Butir-Butir Mutiara Estetika Timur, Ide Dasar Penciptaan Karya.
Prasistwa:Yogyakarta. 2007
Soedjono, Soeprapto. Pot-Pourri Fotografi. Jakarta: Universitas Trisakti, 2007.
Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006
Pariwisata dan Pencemaran Lingkungan Bali. Ayuni Ni Kadek Mas. 11 Maret 2009.
www.cesckadek.wordpress.com. 25 Mei 2016.