Analisis Implementasi Nawa Cita Jokowi Dalam Pembangunan Agraria. (Studi Deskriptif: Konflik Tanah di Desa Padang Halaban)

38 

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanah adalah salah satu alat utama bagi manusia untuk memenuhi

kebutuhan. Pentingnya arti tanah bagi kehidupan manusia ialah karena kehidupan

manusia itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari tanah. Manusia hidup di atas

tanah dan memperoleh bahan pangan dengan cara mendayagunakan tanah, seperti

bercocok tanam dalam hal faktor produksi dan bisa juga digunakan sebagai modal

dalam kegiatan perekonomian. Indonesia adalah negara agraris dimana mata

pencaharian mayoritas penduduknya dengan bercocok tanam. Secara geografis

Indonesia yang juga merupakan negara kepulauan memiliki potensi alam yang

besar tidak hanya dalam bidang kelautan tapi juga dalam pengolahan pertanian.

Potensi pertanian Indonesia yang tinggi salah satunya disebabkan wilayah

indonesia yang memiliki wilayah daratan sepertiga dari luas keseluruhan, ini

dilewati barisan pengunungan dunia. Hal ini menyebabkan wilayah daratan

Indonesia sangat subur. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebagian besar

penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Itulah mengapa selain

disebut sebagai negara maritim, Indonesia juga disebut sebagai negara agraris.

Oleh karena itulah tanah merupakan salah satu sumber daya penting bagi

masyarakat. Dinamika dalam pembangunan subjek tanah menempati posisi yang

khusus sebagai faktor produksi dan merupakan modal yang tidak dapat

(2)

merupakan alas tempat tinggal, bahkan bagi masyarakat Indonesia yang

heterogen, tanah memiliki arti perjuangan kebangsaan sebagaimana tercermin

dalam ungkapan “tanah air”. Arti yang beragam dan begitu penting mengenai

tanah mengarah pada satu esensi utama yakni tanah untuk kemakmuran rakyat1.

Dengan demikian, tanah merupakan sarana dan kebutuhan yang amat

penting bagi kehidupan manusia. Tanah tidak lagi dipandang sebagai masalah

agraria semata yang selama ini diidentikkan sebagai pertanian belaka, melainkan

telah berkembang baik manfaat maupun kegunaannya, sehingga terjadi dampak

negatif yang semakin kompleks, bahkan tanah sering menimbulkan guncangan

dalam masyarakat serta sendatan dalam pelaksanaan pembangunan2. Selain dari

faktor produksi tanah juga menyangkut hal-hal lain dalam aspek yang berbeda

yang memiliki arti penting baik itu pada aspek sosial maupun aspek politik. Oleh

sebab itu dapat kita simpulkan bahwa tanah tidak semata-mata merupakan

masalah hubungan antara manusia dengan tanah, tetapi lebih dari itu dimana

secara normatif merupakan hubungan manusia dengan manusia/makhluk sosial.

Tanah dalam sistem sosial-ekonomi-politik apapun, dianggap sebagai

faktor produksi utama, hal yang membedakan antara sistem yang satu dan sistem

lainnya hanyalah bagaimana fungsi, mekanisme pengaturan, dan cara pandang

terhadap tanah itu sendiri. Dalam sistem feodal, fungsi tanah lebih merupakan

1

Noer Fauzi. 1997. Penghargaan Populisme dan Pembangunan Kapitalisme, Dinamika Politik Agraria Indonesia Pasca Kolonial (Dalam Reforma Agraria). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Hal. 7.

2

(3)

simbol status kekuasaan bangsawan atau kerajaan3. Tanah secara keseluruhan dimiliki kelas bangsawan, sementara petani hanyalah pihak penggarap. Dalam

sistem kapitalisme, tanah dan faktor produksi lainnya merupakan mesin pencetak

laba, merupakan sesuatu yang dapat mengakumulasikan modal, sementara petani

hanya pekerja. Dalam sistem sosialisme, tanah tidak dimiliki secara pribadi, tetapi

secara kolektif, tanah merupakan alat produksi dan hasilnya digunakan secara

bersama4. Begitu pula dalam pendekatan (neo) populisme, tanah dianggap sebagai

alat produksi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat petani. Dalam

pandangan ini tanah tidak dimiliki atau dikuasai bangsawan, negara (kolektif),

atau kelas tuan tanah, tetapi tanah dikuasai secara tersebar oleh sejumlah besar

rumah tangga pertanian. Dalam sistem-sistem tersebut, tanah mempunyai nilai

strategis, walaupun memiliki fungsi berbeda-beda.

Akibat dari pentingnya tanah dalam kebutuhan sehari-hari maka kerap

adanya kecenderungan terjadi konflik bahwa orang yang memiliki tanah akan

berupaya mempertahankan tanahnya dengan cara apapun bila hak-haknya

dilanggar. Oleh karena itu tidak heran bila konflik pertanahan mengundang

berbagai bentuk kekerasan, baik individu maupun massal. Adanya konflik sosial

yang berkaitan dengan masalah tanah/lahan sebenarnya sudah ada sejak zaman

feodal, tetapi intensitas permasalahannya tidak seperti yang terjadi pada masa

Orde Baru. Adanya istilah patron client yang mengatur hubungan antara petani

3

Endang Suhendar dan Yohana Budi Winarni. 1998. Petani dan Konflik Agraria. Bandung : Penerbit Akatiga. Hal. 14

4 Arief Budiman. 1996. Fungsi Tanah dalam Kapitalisme. Dalam jurnal e-book Aanalisis Sosial: Penerbit

(4)

pemilik lahan luas dengan petani gurem atau buruh tani yang berfungsi sebagai

peredam gejolak masalah konflik tanah yang muncul5.

Di Indonesia sendiri, dalam pembangunan agraria dari zaman orde lama

hingga paska reformasi memiliki dinamika yang panjang. Dimulai setelah 15

tahun Indonesia merdeka, pada tanggal 24 September 1960, lahirlah

“Undang-Undang No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria” ,yang

kemudian terkenal dengan istilah UUPA. Lahirnya UUPA bukan proses yang

pendek. Karena setelah Indonesia merdeka, sejak awal sebenarnya pemerintah

telah mulai memperhatikan masalah agraria. Lahirnya UUPA-1960, yang diikuti

dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, No.56 tahun 1960

(yang dikenal sebagai Undang-Undang “Landreform”) sebenarnya merupakan

hasil dari usaha untuk meletakkan dasar strategi pembangunan seperti yang dianut

juga oleh berbagai Negara Asia pada masa awal sesudah Perang Dunia kedua

(Jepang,Korea,Taiwan,India,Iran,dan lain-lain)6.

Dimasa orde baru, Belum sampai terlaksana sepenuhnya apa yang

diprogramkan dalam Reformasi Agraria pada masa Orde Lama, terjadi tragedi

nasional dalam tahun 1965, yang melahirkan Orde Baru. Penguasa Orde Baru

mewarisi situasi nasional dalam keadaan perekonomiaan Negara yang

menyedihkan dan konstelasi politik yang dinilai sebagai penyimpangan dasar dari

sila-sila Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ciri kebijakan pemerintah

5

Heru Nugroho. 2001. Negara, Pasar, dan Keadilan Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Hal. 246.

6 http://dokumen.tips/documents/sejarah-an-hukum-agraria-di-indonesia.html. Di akses tanggal 3 mei 2016

(5)

Orde Baru ditandai oleh dua hal pokok. Pertama: Secara umum, strategi

pembangunanya mengandalkan kepada bantuan, hutang, dan investasi dari luar

negeri, dan bertumpu kepada “yang besar” (betting on the strong), tidak berbasis

pada potensi rakyat7.

Dimasa reformasi, tampak membawa perombakan yang asasi dalam

kebijakan pembangunan nasional di bidang ekonomi, sebagai yang ditetapkan

dalam kebijakan pembangunan nasional di bidang ekonomi, sebagai yang

ditetapkan dalam TAP MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi Dalam

Rangka Demokrasi Ekonomi, yang berbeda benar dengan kebijakan pembangunan

ekonomi Orde Baru. TAP MPR tersebut ditetapkan atas dasar pertimbangan,

bahwa pelaksanaan Demokrasi Ekonomi, sebagaimana dimaksud dalam pasal 33

UUD 1945 belum terwujud. Dinyatakan dalam TAP MPR tersebut, bahwa politik

ekonomi mencakup kebijaksanaan, strategi dan pelaksanaan pembangunan

ekonomi nasional sebagai perwujudan dari prinsip-prinsip dasar Demokrasi

Ekonomi, yang mengutamakan kepentingan rakyat banyak, untuk sebesar

besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana dimaksud dalma pasal 33 UUD 19458.

Politik Ekonomi nasional diarahkan untuk menciptakan struktur ekonomi

nasional, agar terwujud pengusaha menengah yang kuat dan besar jumlahnya,

serta terbentuk keterkaitan dan kemitraan yang saling menguntungkan antar

pelaku ekonomi yang meliputi usaha kecil, menengah dan koperasi, usaha besar

7

Tulus Tambunan. 2006. perekonomian indo sejak orde lama sampai pasca krisis. jakarta. PT Pustaka Quantum. hal. 21

8

(6)

swasta dan Badan Usaha Milik Negara, yang saling memperkuat untuk

mewujudkan Demokrasi Ekonomi dan efisiensi nasional yang berdaya saing

tinggi9.

Fenomena konflik pertanahan menjadi salah satu persoalan utama yang

tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebab persoalan ini tentunya berdampak kepada

perjalanan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik. Terlebih mengingat deretan

konflik agraria di Indonesia begitu panjang dan rumit seakan tak kunjung selesai.

Sehingga upaya penyelesaian konflik tersebut menjadi kebutuhan yang mendesak

bagi pemerintah sendiri agar dapat terselesaikan secara tepat demi pembangunan

masyarakat yang adil dan sejahtera, dilain sisi, penyelesaian konflik agraria di

Indonesia tentu saja merupakan bagian mendasar dari upaya pemerintah dalam

rangka pembangunan agraria itu sendiri. Sebab tentu saja, pembangunan agraria

baru akan dapat memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat ketika

kepentingan masyarakat itu sendiri telah terselesaikan dari persengketaan dan

konflik. Untuk menggambarkan kondisi agraria di Indonesia yang sarat akan

konflik dan persengketaan10.

Berdasarkan data Menurut Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA),

bahwa setelah mencuatnya kasus Mesuji berturut-turut konflik agraria

bermunculan kepermukaan seperti konflik agraria di Pulau Padang, pembakaran

9

Doddy Rudianto. 1996. Pembangunan Ekonomi dan Perkembangan Bisnis di Indonesia. Jakarta : PT.

Golden Trayon Press. Hal 53.

10

(7)

rumah-rumah masyarakat adat di Sumbawa dalam konflik dengan Dinas

Kehutanan. Selama ini, belum ada penyelesaian menyeluruh mengenai

konflik-konflik agraria ini. Data yang dihimpun Perkumpulan untuk pembaharuan Hukum

dan Masyarakat (HuMa) menyebutkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir

terdapat 108 konflik agraria di 10 provinsi di Indonesia yang didominasi oleh

konflik teritorial dikawasan hutan (69 kasus) dan konflik perkebunan (23 kasus).

Badan Pertanahan Nasional (BPN) bahkan mencatat 8000 konflik agraria di

Indonesia. Sementara Sawit Watch mencatat konflik tanah di perkebunan kelapa

sawit mencapai 663 diseluruh Indonesia. Konflik agraria ini melibatkan

perusahaan-perusahaan perkebunan swasta dan BUMN, perusahaan

pertambangan, Taman Nasional, dan Perhutani. HuMa juga mengamati bahwa

hampir disetiap konflik, terdapat keterlibatan aparat keamanan seperti kepolisian

dan militer. Selain itu juga keterlibatan preman atau pamswakarsa11.

Begitu juga yang terjadi di daerah Sumatera Utara banyak konflik yang

terjadi. Perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia berada di Sumatera Utara

dengan luas areal 1.018.580 Ha, dikelola swasta, BUMN maupun perkebunan

rakyat. Dengan produksi CPO rata-rata 3,5 Juta ton per tahun, perkebunan

tersebar di beberapa wilayah dataran rendah seperti Sumatera bagian Timur dan

Sumatera bagian Tenggara. Hampir semua perusahaan berkonflik dengan petani,

rakyat dan masyarakat adat yang berada di sekitar perkebunan. Konflik karena

persoalan lahan sering terjadi di Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang

11

(8)

Bedagai, Asahan, Simalungun, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Labuhan Batu

Selatan, Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal. Konflik itu biasanya terjadi

antara perusahaan perkebunan swasta. Konflik yang mencuat berupa perusakan,

pembakaran fasilitas perusahaan dan rumah, serta pembunuhan. Menurut data dari

Polda Sumut dalam kurun 2006-2012 terjadi 2.833 kasus lahan atau yang kerap

disebut konflik agraria12.

Di Sumatera Utara, dalam semester pertama tahun 2013, Kasus konflik

lahan antar petani, rakyat dan masyarakat adat dengan korporasi (pemerintah dan

swasta) semakin meningkat. Menurut majalah Burta bahwa sampai saat ini ada

delapan kelompok petani yang berkonflik dengan perusahaan, kasus tersebut

terdiri dari kasus baru juga kasus lama yang kembali mencuat. Dari konflik yang

terjadi, rakyat selalu menjadi korban dari tindakan pihak perusahaan yang di back

up oleh aparat keamanan maupun pengaman swakarsa yang disewa perusahaan13.

Mengacu kepada kondisi konflik pertanahan diatas, maka tentu tanggung

jawab dan peran pemerintahlah yang sangat menentukan penyelesaian persoalan

tersebut. Pemerintah Indonesia dalam hal ini yakni Pemerintah dibawah

kepemimpinan Jokowi – JK yang mengemban tugas atas sederetan persoalan

Negara sejak memenangkan Pemilihan Presiden 2014 lalu.

12

Harian Kompas. Pergolakan Konflik Agraria di Sumatera Utara. Tanggal 28 mei 2013. Hal 12

13

(9)

Diawal pertarungan politik pada 2014 lalu, Jokowi – JK dan rivalnya yaitu

Prabowo – Hatta memiliki komitmen politik atas pencalonannya masing-masing.

Di pihak Jokowi – JK sendiri, komitmen tersebut dijabarkan dalam Sembilan

program prioritas pembangunan Indonesia yang lebih maju. Sembilan program

tersebut dikemas dengan nama Nawa Cita. Adapun program yang berkenaan

dengan pembangunan agraria dalam Nawa Cita tersebut yaitu antara lain14 :

1. Pada program keempat, kami akan menolak Negara lemah dengan

melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi,

bermartabat dan terpercaya. Kami akan memprioritaskan pemberantas

korupsi dengan konsisten dan terpercaya; pemberantasan mafia peradilan

dan penindakan tegas terhadap korupsi di lingkungan Peradilan;

pemberantasan tindakan penebangan liar, perikanan liar dan penambangan

liar, pemberantasan tindak kejahatan perbankan dan kejahatan pencucian

uang; Penegakan hukum lingkungan; Pemberantasan narkoba dan

psikotropika,; Menjamin kepastian hukum hak kepemilikan tanah,

penyelesaian sengketa tanah dan menentang kriminalisasi penuntutan

kembali hak tanah masyarakat,; Perlindungan anak, perempuan dan

kelompok masyarakat termarginal, serta penghormatan HAM dan

penyelesaian secara berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM

pada masa lalu.

14

(10)

2. Pada program kelima, kami akan meningkatkan kualitas hidup manusia

Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan

program "Indonesia Pintar" dengan wajib belajar 12 Tahun bebas

pungutan; peningkatan layanan kesehatan masyarakat dengan menginisiasi

kartu "Indonesia Sehat"; Serta peningkatan kesejahteraan masyarakat

dengan program "Indonesia Kerja" dan "Indonesia Sejahtera" dengan

mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9

Juta Hektar; program rumah kampung deret atau rumah susun murah

yang disubsidi serta Jaminan Sosial untuk seluruh rakyat di tahun 2019.

Berdasarkan dari kedua program tersebut, tersurat bahwa Pemerintahan

dibawah kepemimpinan Jokowi – JK berkomitmen menyelesaikan sederetan

sengketa atau konflik tanah yang bergulir selama ini di Indonesia. Pada

pelaksanaanya, komitmen tersebut diwujudkan dengan pembentukkan

kementerian baru di dalam Kabinet Kerja Jokowi – JK yaitu Kementerian Agraria

dan Tata Ruang, Ferry Mursyidan Baldan selaku Menteri, selain merupakan

kementerian yang berwenang atas pertanahan dan tata ruang di Indonesia, juga

tentu saja memiliki tugas yaitu dalam menyelesaikan berbagai konflik agraria

yang terjadi di Indonesia15.

Dengan demikian, keberadaan Kementerian tersebut menjadi pihak sangat

diharapkan agar berperan aktif dalam penyelesaian konflik pertanahan yang ada

15

(11)

saat ini. Terutama di Provinsi Sumatera Utara sendiri, sebagai Provinsi dengan

jumlah kasus konflik tanah tertinggi di Indonesia pada tahun 2013 silam.

Berkaitan dengan hal tersebut, dimana terdapat satu daerah di Kabupaten Labuhan

Batu Utara, tepatnya di daerah Padang Halaban yang hingga saat ini terus bergulir

konflik tersebut antara pihak perkebunan swasta dengan masyarakat petani.

Lokasi perkebunan sawit yang dikuasai PT. Smart berada di areal seluas

3000 Ha. Daerah ini jika dilihat dari jejak-jejak peninggalan sejarah,

menggambarkan daerah yang subur dengan kontur tanah bebukitan dan juga

terdapat lembah-lembah yang cocok untuk lahan pertanian. Apalagi lokasinya

berada tidak jauh dari stasiun padang halaban dan juga jalan lintas sumatera yang

menghubungkan kawasan labuhan batu ke kota medan maupun kota-kota besar

lainnya. Padang halaban dikelilingi desa-desa yang diantaranya, desa Sidomulyo,

Karanganyar, Aek Korsik, Kertosentono, Panigoran serta beberapa desa lainnya.

Terdapat dua suku, diantaranya suku Jawa dan suku Batak. Keberadaan desa-desa

ini sebagai bukti adanya kehidupan manusia sebelum penggusuran yang dilakukan

rezim orde baru. Hal lain yang membuktikkan adanya kehidupan masyarakat di

atas lahan yang dikuasai PT. Smart adalah pemakaman massal yang sudah ada

sejak masa demokrasi terpimpin. Pada tahun 1969 sampai tahun 1970 proses

penggusuran berlangsung. Penggusuran dilakukan di beberapa kampung,

kampung pertama yang digusur Sukodamai/Panigoran dengan menggunakan alat

berat D8. Kampung kedua digusur adalah Sidomulyo dengan memakai tenaga

(12)

Tindakan sewenang-wenang pengambilan tanah rakyat di area perkebunan Padang

halaban telah memicu perjuangan rakyat setempat. Usaha-usaha perjuangan sudah

dimulai sejak tahun 1970 dengan mendesak pihak perkebunan mengembalikan

tanah rakyat. Usaha perjuangan pertama dilakukan pada tahun 1975 dengan

mendesak pihak perusahaan untuk mengembalikan tanha rakyat, namun usaha

tersebut tidak mendapatkan tanggapan sama sekali. Sementara tanah seluas 3000

Ha adalah tanah rakyat, karena sejak awal tanah ini dibuka, digarap dan dibangun

oleh rakyat, namun keberadaan perusahaan-perusahaan silih berganti menduduki

lahan sejak masa penjajahan Belanda–Jepang – sampai perkebunaan swasta (PT.

Smart). Melalui berbagai kebijakan, dari Agrarische Wet sampai ke UU

Penanaman Modal, rakyat dibuat seolah-olah tidak punya hak atas tanah yang

telah lama diduduki16.

Dari situasi tersebut, tentu peran pemerintah sangat berarti dalam

penyelesaian konflik di daerah Padang Halaban Kabupaten Labuhan Batu Utara.

Oleh sebab itu, berdasarkan alasan-alasan diatas, maka peneliti tertarik untuk

mengadakan penelitian dengan judul : Analisis Implementasi Nawa Cita Jokowi

Dalam Pembangunan Agraria. Judul ini nantinya akan didasarkan kepada satu

lokasi di Provinsi Sumatera Utara yang dianggap memiliki konflik pertanahan

yang telah lama bergulir dan menelan banyak kerugian.

16

(13)

1.2 Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang:

Bagaimana pelaksanaan Nawa Cita Jokowi terhadap penyelesaian konflik tanah

dalam rangka pembangunan agraria di Indonesia ?

1.3 Batasan Masalah

Dalam pembatasan masalah di penelitian ini, penulis akan membatasi

beberapa masalah yang nantinya akan diteliti. Sehingga nantinya hasil penelitian

mampu mengurai beberapa masalah tersebut secara sistematis dan mendasar.

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini, yaitu antara lain :

1. Apa kebijakan pemerintahan Jokowi–Jusuf Kalla dalam pembangunan

Agraria?

2. Bagaimana pelaksanaan penyelesaian konflik Tanah di Padang

Halaban Kec. Aek Kuo, Kab. Labuhan Batu Utara ?

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu antara lain :

1. Untuk mengetahui bagaimana upaya pemerintahan Jokowi – Jusuf

(14)

2. Untuk menganalisis pelaksanaan penyelesaian konflik tanah di Padang

Halaban Kec. Aek Kuo, Kab. Labuhan Batu Utara.

1.5Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menerapkan

beberapa teori yang digunakan penulis sebagai pisau analisisnya,

diantaranya teori kebijakan publik, teori konflik, politik agraria

serta teori pembangunan politik.

2. Secara kelembagaan, penelitian ini diharapkan dapat menambah

perbendaharaan referensi penelitian sosial bagi Departemen Ilmu

Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Universitas

Sumatera Utara.

3. Secara masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat menambah

khasanah pengetahuan masyarakat luas tentang penyelesaian

konflik agraria yang terjadi di Padang Halaban Kec. Aek Kuo,

(15)

1.6Kerangka Teori

1.6.1. Teori Kebijakan Publik

1.6.1.1. Pengertian Kebijakan Publik

Kebijakan publik adalah keputusan yang dibuat oleh negara, khususnya

pemerintah, sebagai strategi untuk merealisasikan tujuan negara yang

bersangkutan. Kebijakan publik adalah strategi untuk mengantarkan masyarakat

pada masa awal, memasuki masyarakat pada masa transisi, untuk menuju pada

masyarakat yang dicita – citakan17.

Carl Frederich memandang kebijakan publik adalah suatu arah

tindakan yang diusulkan oleh seseorang kelompok atau pemerintah dalam

suatu lingkungan tertentu, yang memberikan hambatan – hambatan dan

kesempatan – kesempatan terhadap kebijakan yang diusulkan untuk

menggunakan dalam rangka mencapai suatu tujuan atau merealisasikan atau

suatu maksud tertentu18. Secara umum, saat ini kebijakan lebih dikenal sebagai

keputusan yang dibuat oleh lembaga pemerintah, yang bertujuan untuk

menyelesaikan permasalahan – permasalahan yang terjadi di masyarakat

dalam sebuah negara.

Maka dalam kaitannya, istilah kebijakan atau policy dipergunakan

untuk menunjuk perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu

kelompok, maupun suatu lembaga pemerintah) atau sejumlah aktor dalam

suatu bidang kegiatan tertentu, keterlibatan aktor-aktor dalam perumusan

17

Riant Nugroho. 2008. Public Policy. Jakarta: Elex Media Komputindo. Hal.55

18

(16)

kebijakan kemudian inilah menjadi ciri khusus dari kebijakan publik dalam

suatu sistem politik. Namun demikian, satu hal yang harus diingat dalam

mendefenisikan kebijakan adalah bahwa pendefenisian kebijakan tetap harus

mempunyai pengertian mengenai apa yang sebenarnya dilakukan dari pada apa

yang diusulkan dalam tindakan mengenai suatu persoalan tertentu, dan

mencakup pula arah atau apa yang dilakukan dan tidak semata-mata

menyangkut usulan tindakan, hal ini dilakukan karena kebijakan merupakan

suatu proses yang mencakup pula tahap implementasi dan evaluasi19.

1.6.1.2. Tahapan Pembuatan Kebijakan

Proses pembuatan kebijakan merupakan proses yang kompleks karena

melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji. Kebijakan publik

merupakan suatu kesatuan sistem yang bergerak dari satu bagian kebagian lain

secara sinambungan, saling menentukan dan saling membentuk. Kebijakan publik

tidak terlepas dari sebuah proses kegiatan yang melibatkan aktor – aktor yang

akan bermain dalam proses pembuat kebijakan.

Charles Lindblom mengutarakan bahwa untuk memahami siapa

sebenarnya yang merumuskan kebijakan, lebih dahulu harus dipahami sifat – sifat

semua pameran serta bagian atau peran apa yang mereka lakukan, wewenang atau

bentuk kekuasaan yang mereka miliki dan bagaimana mereka saling berhubungan

serta saling mengawasi.

19

(17)

Proses perumusan kebijakan merupakan inti dari kebijakan publik, karena

dari sinilah akan dirumuskan batas – batas kebijakan itu sendiri20.Tidak semua isu

yang dianggap masalah oleh masyarakat perlu dipecahkan oleh pemerintah

sebagai pembuat kebijakan, yang akan memasukkannya kedalam agenda

pemerintah yang kemudian diproses menjadi sebuah kebijakan setelah melalui

berbagai tahapan. Perumusan kebijakan meliputi empat tahapan yang

dilaksanakan secara sistematis, yaitu21 :

Tahap pertama, perumusan masalah. Mengenali dan merumuskan masalah

merupakan langkah yang paling fundamental dalam perumusan kebijakan. Untuk

dapat merumuskan kebijakan dengan baik, maka masalah – masalah publik harus

dikenali dan didefenisikan dengan baik.

Tahap kedua, agenda kebijakan. Tidak semua masalah publik akan masuk

kedalam agenda kebijakan. Masalah – masalah tersebut akan berkompetisi antara

satu dengan yang lain. Hanya masalah – masalah tertentu yang pada akhirnya

akan masuk kedalam agenda kebijakan masalah publik yang masuk kedalam

agenda kebijakan akan dibahas oleh para perumus kebijakan. Masalah – masalah

tersebut dibahas berdasarkan tingkat urgensinya untuk dilaksanakan.

Tahap ketiga, pemilihan alternatif kebijakan untuk memecahkan masalah.

Pada tahap ini, para perumus kebijakan akan berhadapan dengan berbagai

alternatif pilihan kebijakan yang akan diambil untuk memecahkan masalah. Para

20

Riant Nogroho. Op.Cit. Hal. 355

21

(18)

perumus kebijakan akan dihadapkan pada pertarungan kepentingan antar berbagai

aktor yang terlibat dalam perumusan kebijakan. Pada kondisi ini, maka pilihan –

pilihan kebijakan akan didasarkan pada kompromi dan negoisasi yang terjadi

antar aktor yang berkepentingan dalam pembuatan kebijakan tersebut.

Tahap keempat, penetapan kebijakan setelah salah satu dari kebijakan

alternatif diputuskan untuk diambil sebagai cara pemecahan masalah, maka tahap

terakhir dalam pembuat kebijakan adalah menetapkan kebijakan yang dipilih

tersebut sehingga memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Alternatif kebijakan

yang diambil pada dasarnya merupakan kompromi dari berbagai kelompok

kepentingan yang terlibat dalam pembuatan kebijakan tersebut.

1.6.1.3. Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah

kebijakan dapat mencapai tujuannya. Tidak lebih dan tidak kurang. Untuk

mengimplementasikan kebijakan publik, ada dua pilihan langkah yaitu langsung

mengimplementasikan dalam bentuk program atau melalui formulasi kebijakan

derivat atau turunan dari kebijakan publik tersebut. Pelaksanaan atau

implementasi kebijakan dalam konteks manejemen berada dalam kerangka

organizing-leading-controlling, jadi, ketika kebijakan sudah dibuat, tugas

(19)

pengendalian pelaksanaan tersebut22. Secara rinci manajemen implementasi kebijakan dapat disusun sebagai berikut:

Tabel 1.1 Manajemen Implementasi

NO Tahap Isu Penting

1 Implementasi Strategi • Menyesuaikan struktur dengan strategi

• Melembagakan strategi.

• Desain organisasi dan struktur

organisasi.

• Pembagian pekerjaan dan desain

pekerjaan.

• Integrasi dan koordinasi.

• Perekrutan dan penembatan sumber

daya manusia (recruting dan staffing).

• Hak, wewenang, dan kewajiban.

• Pendelegasian (sentralisasi dan

desentralisasi).

• Pengembangan kapasitas organisasi dan

22

(20)

kapasitas sumber daya manusia.

• Budaya organisasi.

3 Penggerakan dan

Kepeminpinan

• Efektivitas kepemimpinan.

• Motivasi.

• Etika.

• Mutu.

• Kerja sama tim.

• Komunikasi organisasi.

• Negosiasi.

4 Pengendalian • Desain pengendalian.

• Sistem informasi manajemen.

• Pengendalian anggaran/keuangan.

• Audit.

Matriks diatas memperlihatkan tahapan dan rincian pekerjaan dalam

implementasi kebijakan. Oleh karena itu proses rangkaian kegiatan merupakan

keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara

melaksanakannya yang dibuat oleh pimpinan dan di implementasikan oleh

(21)

1.6.2. Teori Pembangunan Politik

Dalam studi pembangunan politik sebelum menjelaskan definisi-defnisi

pembangunan politik ada beberapa konsep yang perlu di pahami, yaitu,

perubahan, pembangunan dan modernisasi politik. Pembangunan dan modernisasi

politik merupakan perubahan politik, bukan sebaliknya. Perubahan politik dapat

diartikan sebagai terjadinya perbedaan karakteristik dari suatu sistem politik yang

satu ke sistem politik lain. Misalnya dari sistem politik otoriter parlementer ke

sistem politik demokrasi Pancasila. Persoalannya ialah apakah perubahan itu

bersifat progresif yaitu menuju situasi yang lebih baik dari yang sebelumnya

ataukah bersifat regresif yaitu menuju situasi yang lebih buruk dari sebelumnya.

Contohnya adalah Indonesia masa pemerintahan orde baru yang cenderung

otoriter berubah ke masa reformasi yang cenderung lebih demokratis, dimana

kedaulatan rakyat lebih dijunjung tinggi23.

Disamping itu, konsep pembangunan politik dapat dikatakan mempunyai

konotasi secara geografis, derivatif, teologis dan fungsional24 :

1. Pembangunan politik secara geografis berarti proses perubahan politik

pada neggara berkembang dengan menggunakan konsep dan metode yang

pernah digunakan oleh negara maju, seperti konsep mengenai sosialisasi

politik, komunikasi politik, dan sebagainya.

23

Juwono Sudarsono. 1982. Pembangunan Politik dan Perubahan.Jakarta. Yayasan Obor. Hal. 19

24

(22)

2. Pembangunan politik secara derivatif berarti pembangunan politik

merupakan aspek dan konsekuensi politik dari proses perubahan yang

menyeluruh, meliputi modernisasi yang membawa konsekuensi pada

pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, peningkatan pendidikan, media massa,

perubahan status sosial dan aspek-aspek lainnya.

3. Pembangunan politik secara teologis berarti proses perubahan menuju

pada suatu atau beberapa tujuan dari sistem politik. Tujuan tersebut

meliputi stabilitas politik, integrasi politik, demokrasi, partisipasi,

mobilisasi dan sebagainya.

4. Pembangunan politik secara fungsional berarti suatu gerakan perubahan

menuju sistem politik ideal yang dikembangkan suatu negara untuk sistem

politik demokrasi konstitusional.

Kemudian terdapat sepuluh defenisi mengenai pembangunan politik dalam

hal ini yaitu25 :

1. Pembangunan Politik sebagai Prasarat Politik bagi Pembangunan

Ekonomi.

2. Pembangunan Politik sebagai Ciri Khas Kehidupan Politik Masyarakat

Industri.

3. Pembangunan Politik sebagai Modernisasi Politik.

4. Pembangunan Politik sebagai Operasi Negara Bangsa.

5. Pembangunan Politik sebagai Pembangunan Administrasi dan Hukum.

25

(23)

6. Pembangunan Politik sebagai Mobilisasi dan Partisipasi Massa.

7. Pembangunan Politik sebagai Pembinaan Kehidupan Demokrasi.

8. Pembangunan Politik sebagai Stabilitas dan Perubahan Teratur.

9. Pembangunan Politik sebagai Mobilisasi dan Kekuasaan.

10.Pembangunan Politik sebagai Satu Segi Proses Perubahan Sosial yang

Multi dimensi.

Pembangunan politik dalam ruang lingkup pembangunan agraria sendiri

dipandang sebagai pembangunan politik yang dapat membantu jalannya

pertumbuhan ekonomi. Para ahli ekonomi menunjukkan bahwa kondisi-kondisi

sosial dan politik dapat memainkan peranan penentu yang dapat menghalangi

ataupun membantu peningkatan pandangan per kapita.

Sehingga pantaslah bila pembangunan politik dipandang sebagai keadaan

masyarakat politik yang dapat membantu jalannya pertumbuhan ekonomi. Tapi

secara operasional pandangan tentang pembangunan politik seperti itu pada

dasarnya bersifat negatif, sebab lebih mudah bagi kita untuk dengan teliti

mengetahui prestasi sistem politik yang mungkin menghalangi atau menggagalkan

pembangunan ekonomi dari pada mejelaskan bagaimana sistem politik itu

(24)

pertumbuhan ekonomi bisa terjadi dalam berbagai macam sistem politik, dengan

berbagai macam kebijaksanaan umum yang ditempuh26.

1.6.3. Teori Konflik

Teori konflik sebenarnya suatu sikap kritis terhadap Marxisme yang

membicarakan tentang konflik antara kelompok-kelompok terkoordinasi dan

tentang elit dominan, pengaturan kelas dan manajemen pekerja. Keadaan

permasalahan masyarakat tidak selalu dalam kondisi terintegrasi, harmonis dan

saling memenuhi, tetapi ada wajah lain yang memperlihatkan konflik dan

perubahan yang melibatkan dunia kelompok-kelompok terkoordinasi

(imperatively coordinated association) dan mewakili peran-peran organisasi yang

dapat dibedakan27.

Menurut teoritis konflik bahwasanya masyarakat disatukan oleh” ketidak

bebasan yang dipaksakan”. Dengan demikian, posisi tertentu di dalam masyarakat

mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain. Otoritas.

Dahrendorf memusatkan perhatiaanya pada struktur sosial yang lebih luas. Inti

tesisnya adalah gagasan bahwa berbagai posisi dalam suatu masyarakat

mempunyai kualitas otoritas yang berbeda. Menurut Dahrendorf, tugas pertama

analisis konflik adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas didalam

masyarakat, karena memusatkan perhatian kepada struktur bersekala luas seperti

26

Yahya Muhaimin, dan Colin Mc Andrews.1995. Masalah-masalah Pembangunan Politik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hal 77

27

(25)

peran otoritas. Dahrendorf ditentang oleh para peneliti yang memusarkan

perhatiannya tingkat individual.

Dahrendorf, menyatakan bahwa masyarakat tersusun dari sejumlah unit

yang ia sebut asosiasi yang dikoordinasikan secara inperatif. Masyarakat terlihat

sebagai asosiasi individu yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas. Otoritas

dalam setiap asosiasi bersifat dikotomi, karena itu hanya ada dua, kelompok

konflik yang dapat terbentuk didalam setiap asosiasi. Kelompok yang memegang

posisi otoritas dan kelompok subordinat yang memiliki kepentingan tertentu Ada

sebuah konsep kunci lain dalam teori konflik Dahrendorf , yakni kepentingan.

Kelompok yang berada diatas dan yang berada dibawah, Didifinisikan

berdasarkan kepentingan bersama untuk tujuan analisis sosiologis tentang

kelompok konflik konflik kelompok, perlu menganut orientasi structural dari

tindakan pemegang posisi tertentu. Dengan analogi terhadap orientasi kesadaran

(Subjektif) tampaknya dapat dibenarkan untuk mendiskripsikan ini sebagai

kepentingan, asumsi kepentingan objektif yang diasosiasikan dengan posisi social

tidak mengandung rimifikasi atau implikasi psikologis ini adalah termasuk dalam

level analisis Sosiologis dalam setiap asosiasi, orang yang berbeda pada posisi

dominant berupaya mempertahankan Status Qou, sedangkan orang yang berbeda

berada dalam posisi subordinat berupaya bagaimana bisa menciptakan perubahan,

adapun konflik kepentingan akan selalu ada sepanjang waktu28.

28

(26)

Konflik kepentingan ini tidak perlu selalu disadari oleh pihak subordinat

dan superordinat, karena individu tidak perlu selalu menginternalisasikan harapan

itu atau tidak perlu menyadari dalam rangka bertindak untuk sesuai dengan

harapan itu, karena harapan yang disadari ini menurut Dahrendorf, disebut

kepentingan tersembunyi. Kepentingan nyata adalah kepentingan tersembunyi

yang telah disadari Dahrendorf melihat analisis hubungan antara kepentingan

tersembunyi dan kepentingan nyata, ini sebagai tugas utama teori konflik karena

walau bagaimanapun aktor tidak perlu menyadari kepentingan mereka untuk

bertindak sesuai dengan kepentingan itu29.

Organisasi ini dikarakteri oleh hubungan kekuasaan (power), dengan

beberapa kelompok peranan mempunyai kekuasaan memaksakan dari yang

lainnya. Saat kekuasaan merupakan tekanan (coersive) satu sama lain, kekuasaan

dalam hubungan kelompok-kelompok terkoordinasi ini memeliharanya menjadi

legitimate dan oleh sebab itu dapat dilihat sebagai hubungan (authority), dimana

beberapa posisi mempunyai hak normatif untuk menentukan atau memperlakukan

yang lain.

Dasar Teori Konflik adalah penolakan dan penerimaan sebagian serta

perumusan kembali teori Karl Marx yang menyatakan bahwa kaum borjuis adalah

pemilik dan pengelola sistem kapitalis, sedangkan para pekerja tergantung pada

sistem tersebut, pendapat yang demikian mengalami perubahan karena pada abad

29

(27)

ke-20 telah terjadi pemisahan antara pemilikan dan pengendalian sarana-sarana

produksi. Kecuali itu, pada akhir abad ke-19 telah menunjukkan adanya suatu

pertanda bahwa para pekerja tidak lagi sebagai kelompok yang dianggap sama dan

bersifat tunggal karena pada masa itu telah lahir para pekerja dengan status yang

jelas dan berbeda-beda, dalam arti ada kelompok kerja tingkat atas dan ada pula

kelompok kerja tingkat bawah30.

Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini, teori konflik merupakan

antitesis dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat

mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat pertikaian

dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat

tidak akan selamanya berada pada keteraturan, buktinya dalam masyarakat

manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan,

kemudian teori konflik juga melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan

dalam masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang

berbeda-beda, otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan

subordinasi, perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan

konflik karena adanya perbedaan kepentingan31.

Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu supaya terciptanya

perubahan sosial, ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial

dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, didalamnya teori konflik

30

Bernard Raho. Op.Cit. Hal. 54

31

(28)

melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan,

namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan

bersama didalam konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga

terciptalah suatu konsensus menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan

“paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena

adanya paksaan (koersi). Oleh karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan

dominasi, koersi, dan power32.

Berkenaan dengan hal tersebut maka dalam suatu sistem sosial

mengharuskan adanya otoritas, dan relasi-relasi kekuasaan yang menyangkut

pihak atasan dan bawahan akan menyebabkan timbulnya kelas. Dengan demikian

maka tampaklah bahwa ada pembagian yang jelas antara pihak yang berkuasa

dengan pihak yang dikuasai, keduanya itu mempunyai kepentingan yang berbeda

dan bahkan mungkin bertentangan. Selanjutnya, kepentingan kelas objektif dibagi

atas adanya kepentingan manifest dan kepentingan latent maka dalam setiap

sistem sosial yang harus dikoordinasi itu terkandung kepentingan latent yang

sama, yang disebut kelompok semu yaitu mencakup kelompok yang menguasai

dan kelompok yang dikuasai.

Teori Konflik yang dikemukakan juga membahas tentang intensitas bagi

individu atau kelompok yang terlibat konflik. Dalam hal ini, intensitas diartikan

sebagai suatu pengeluaran energi dan tingkat keterlibatan dari pihak-pihak atau

32

(29)

kelompok-kelompok yang terlibat dalam konflik. Ada dua faktor yang dapat

mempengaruhi intensitas konflik, yaitu (1) tingkat keserupaan konflik, dan (2)

tingkat mobilitas. Selain itu juga membicarakan tentang kekerasan dan

faktor-faktor yang mempengaruhinya. Konsep tentang kekerasan, yaitu menunjuk pada

alat yang digunakan oleh pihak-pihak yang saling bertentangan untuk mengejar

kepentingannya, tingkat kekerasan mempunyai berbagai macam perwujudan,

dalam arti mulai dari cara-cara yang halus sampai pada bentuk-bentuk kekerasan

yang bersifat kejasmanian33.

Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam

pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat

menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik

dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan

melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial di sekelilingnya. Seluruh

fungsi positif konflik tersebut dapat dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang

sedang mengalami konflik dengan kelompok lain. Di dunia internasional kita

dapat melihat bagaimana, apakah dalam bentuk tindakan militer atau di meja

perundingan mampu menetapkan batas-batas geografis nasional dalam ruang

lingkup yang lebih kecil, oleh karena konflik kelompok-kelompok baru dapat lahir

dan mengembangkan identitas strukturalnya dalam pengukuhan sebagai

kelompok.

33

(30)

Akan tetapi apabila konflik berkembang dalam hubungan- hubungan yang

intim, maka pemisahan (antara konflik realistis dan non-realistis) akan lebih sulit

untuk dipertahankan. Semakin dekat suatu hubungan semakin besar rasa kasih

sayang yang sudah tertanam, sehingga semakin besar juga kecenderungan untuk

menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan, sedang pada hubungan-

hubungan sekunder, seperti misalnya dengan rekan bisnis, rasa permusuhan dapat

relatif bebas diungkapkan. Hal ini tidak selalu bisa terjadi dalam hubungan-

hubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan membuat

pengungkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya bagi hubungan

tersebut. Apabila konflik tersebut benar- benar melampaui batas sehingga

menyebabkan ledakan yang membahayakan hubungan tersebut.

1.6.4. Politik Agraria

Kata agraria mempunyai arti yang sangat berbeda antara bahasa yang satu

dengan bahasa lainnya. Istilah agraria berasal dari kata akker (Bahasa Belanda),

agros (Bahasa Yunani) berarti tanah pertanian, agger (Bahasa Latin) berarti tanah

atau sebidang tanah, agraria (Bahasa Inggris) berarti tanah untuk pertanian. Dalam

terminologi bahasa Indonesia, agraria berarti 1) urusan pertanian atau tanah

pertanian, 2) urusan pemilikan tanah34.

Menurut Andi Hamzah, agraria adalah masalah tanah dan semua yang ada

di dalam dan di atasnya. Menurut Subekti dan R. Tjitrosoedibio, agraria adalah

urusan tanah dan segala apa yang ada di dalam dan di atasnya. Apa yang ada di

34

(31)

dalam tanah misalnya batu, kerikil, tambang, sedangkan yang ada di atas tanah

dapat berupa tanaman, bangunan35.

Selain pengertian agraria dilihat dari segi terminologi bahasa sebagaimana

di atas, pengertian agraria dapat pula diketemukan dalam Undang-Undang Pokok

Agraria (UUPA). Hal ini dapat ditemukan jika membaca konsiderans dan

pasal yang terdapat dalam ketentuan UUPA itu sendiri. Oleh karena itu,

pengertian agraria dan hukum agraria mempunyai arti atau makna yang sangat

luas. Pengertian agraria meliputi bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam

yang terkandung di dalamnya (Pasal 1 ayat (2).

Pengertian agraria juga sering dikaitkan dengan corak kehidupan suatu

masyarakat atau bangsa, misalnya Indonesia sebagai negara agraris, yaitu suatu

bangsa yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari bercocok tanam (bertani)

atau kehidupan masyarakatnya bertumpu pada sektor pertanian. Agraris sebagai

kata sifat dipergunakan untuk membedakan corak kehidupan masyarakat

pedesaan yang bertumpu pada sektor pertanian dengan corak kehidupan

masyarakat perkotaan yang bertumpu pada sektor non-pertanian (perdagangan,

industri, birokrasi)36.

Selain itu, ada beberapa dimensi yang bisa dilihat dalam mempelajari

politik agraria. Menurut Sitorus, dua dimensi tersebut yaitu dimensi subjek dan

objek. Dimensi objek didefinisikan sebagai sumber daya alam (sumber agraria)

yang terdapat di tanah, air, dan lain sebagainya. Di sisi lain, dimensi subjek terdiri

35

Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak-hak Atas Tanah, Cet. V (Jakarta: Kencana, 2009). Hal. 12

36

(32)

dari komunitas, swasta, dan pemerintah (berupa aktor). Dari beberapa subjek

tersebut terdapat istilah komunitas. Istilah tersebut muncul bukan tanpa alasan.

Kata tersebut bisa muncul karena pada awalnya (sebelum agraria dikuasai negara),

agraria dimiliki oleh komunitas-komunitas yang tinggal di beberapa wilayah

tertentu yang saat ini sering disebut sebagai tanah ulayat atau tanah adat.

Menariknya, subjek-subjek tersebut bisa saling berkontestasi, bekerjasama,

bahkan saling konflik karena ada ketimpangan (kepemilikan sumber daya yang

berbeda-beda). Selain itu, berangkat dari aktor-aktor yang ada, Sitorus juga

membagi tiga tipe struktur agraria. Ketiga tipe tersebut terdiri dari tipe kapitalis

(sumber agraria dikuasai oleh non penggarap alias perusahaan), sosialis (sumber

agraria dikuasai oleh negara atau kelompok pekerja), dan populis atau neo-populis

(sumber agraria dikuasai oleh keluarga atau rumah tangga pengguna)37.

1.6.4.1. Peraturan Pembangunan Agraria Di Indonesia

Konsep dasar tentang tentang kasus-kasus pertanahan platform dari

filosofis konstitusional tercermin dalam perumusan sila ke lima Pancasila yaitu

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Selanjutnya, kebijakan dan

regulasi di bidang pertanahan ditegakkan pada landasan konstitusi negara yaitu

pada Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa bumi

air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk

37

(33)

diperuntukkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat38. Peraturan Pelaksanaan dari ketentuan tersebut diatur lebih lanjut dalam Undang-undang

Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran

Negara Tahun 1960 Nomor 104) atau disebut juga Undang-undang Pokok Agraria

(UUPA), serta dijabarkan dalam berbagai peraturan organik dalam bentuk

Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Presiden (Kepres), Peraturan

Menteri/Pejabat dan lain-lain39.

Hak-hak atas tanah yang dapat diberikan kepada subjek hukum diatur

dalam Pasal 16 UUPA yang terdiri dari: 1) Hak Milik, 2) Hak Guna Usaha, 3)

Hak Guna Bangunan, 4) Hak Pakai, 5) Hak Sewa, 6) Hak Membuka Tanah, 7)

Hak Memungut Hasil Hutan, 8) Hak-hak lain serta hak-hak yang sifatnya

sementara. Hak-hak lain misalnya Hak Pengelolaan, sedangkan hak yang sifatnya

sementara adalah Hak Gadai, Hak Guna Usaha Bagi Hasil, Hak Menumpang dan

Hak Sewa Tanah Pertanian.

1.7Metode Penelitian

Berangkat dari uraian serta penjelasan tujuan penelitian maupun kerangka

teori di atas, penelitian ini memiliki metode deskriptif (melukiskan), dimana

penelitian deskriptif merupakan suatu cara yang digunakan untuk memecahkan

38 Ediwarman. 2003. Perlindungan Hukum Bagi Korban Kasus-Kasus Pertanahan. Medan: Pustaka Bangsa

Press. Hal. 35.

39 Elfachri Budiman. 2004. Tinjauan Hukum Terhadap Pengeluaran Areal Hak Guna Usaha Dan Pelepasan

(34)

masalah yang ada pada masa sekarang berdasarkan fakta dan data-data yang ada.

Penelitian ini memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau

fenomena40. Tujuan dasar penelitian deskriptif ini adalah membuat deskripsi,

gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,

sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Jenis penelitian ini

tidak sampai mempersoalkan jalinan hubungan antar variabel yang ada, tidak

dimaksudkan untuk menarik generalisasi yang menjelaskan variabel-variabel yang

menyebabkan suatu gejala atau kenyataan sosial, karenanya pada penelitian

deskriptif tidak menggunakan atau tidak melakukan pengujian hipotesa seperti

yang dilakukan pada penelitian eksplanatif berarti tidak dimaksudkan untuk

membangun dan mengembangkan perbendaharaan teori41.

1.7.1. Jenis Penelitian

Menurut Hadari Nawawi42, metode penelitian deskriptif dapat diartikan

sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan

atau melukiskan subjek atau objek penelitian seseorang, lembaga, masyrakat dan

lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagai

mana adanya. Penelitian deskriptif melakukan analisis dan menyajikan data-data

dan fakta-fakta secara sistematis sehingga dapat dipahami dan disimpulkan

40 Bambang Prasetyo dkk. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo

Persada. Hal 42.

41 Sanafiah Faisal. 1995. Format Penulisan Sosial Dasa-Dasar Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Hal. 20.

42 Hadari Nawawi. 1987. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

(35)

Tujuan penelitian deskriptif analisis adalah untuk membuat penggambaran

secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi

atau daerah tertentu. Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan bagaimana

Nawa Cita Jokowi tentang pembangunan agraria terhadap penyelesaian konflik

tanah yang terjadi di Padang Halaban, Kec. Aek Kuo, Kab Labuhan Batu Utara.

Disamping itu juga penelitian ini menggunakan teori-teori, data-data dan

konsep-konsep sebagai sebuah kerangka acuan dari pengamatan langsung yang diperoleh

di lapangan untuk menjelaskan hasil penelitian, menganalisis dan sekaligus

menjawab persoalan yang diteliti. Oleh karenanya jenis penelitian ini adalah

penelitian kualitatif.

1.7.2. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini, lokasi yang menjadi sumber penelitian yaitu di

daerah Perkebunan Padang Halaban, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhan

Batu Utara, Provinsi Sumatera Utara.

1.7.3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan maka penulis

melakukan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan

data primer dan data sekunder.43 Teknik pengumpulan data tersebut yakni sebagai

berikut:

43 Muhammad Idrus. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif.

(36)

1. Data primer

Pengumpulan data primer dalam penelitian ini yakni melalui metode

wawancara (interview). Teknik pengumpulan data melalui wawancara ialah

dengan bertanya langsung kepada informan ataupun narasumber yang dianggap

sesuai dengan objek penelitian serta melakukan tanya jawab secara langsung

kepada informan yang terkait dengan penelitian ini. Sebagai key informan dalam

penyusunan skripsi ini yaitu antara lain :

a. Pihak masyarakat yang berkonflik, diwakilkan oleh pengurus

organisasi tani STPHL (Serikat Tani Padang Halaban).

b. Pihak Manajerial PT. SMART yang berada di jajaran manager

produksi.

c. Dinas pertanahan Nasional Kab. Labuhan Batu Utara.

2. Data sekunder

Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini adalah mencari data dan

informasi melalui buku-buku, internet, jurnal, dan lainnya yang berkaitan dengan

penelitian ini. Selain itu penulis juga mencari informasi dan referensi tambahan

melalui perundang-undangan, artikel-artikel dalam majalah, koran dan

sebagainya. Nantinya teori-teori dan referensi dari sumber-sumber data sekunder

(37)

1.7.4. Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan tidak akan berarti apa-apa kalau tidak

dianalisa. Tujuan dari analisa data adalah untuk memperoleh keluaran (output)

dari hasil yang ingin dicapai dari proses penelitian. Dalam analisa data ini, data

yang sudah terkumpul akan diolah dan kemudian di analisis untuk dapat diambil

kesimpulan sebagai hasil dari penelitian. Penelitian ini mencoba menganalisis

implementasi Nawa Cita Jokowi terhadap penyelesaian konflik Agraria di Padang

Halaban. Metode analisa dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode

analisis deskriptif yaitu suatu metode dimana data yang diperoleh disusun dan

kemudian diinterpretasikan. Sehingga memberikan keterangan-keterangan

terhadap masalah-masalah yang aktual berdasarkan data-data yang terkumpul dari

(38)

1.8Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini akan menguraikan latar belakang masalah, perumusan

masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, kerangka teori,

metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II PROFIL DESA DAN TINJAUAN KEBIJAKAN

PEMERINTAH TERHADAP PEMBANGUNAN AGRARIA

DAN HISTORIS KONFLIK DI DESA PADANG HALABAN

Bab ini menguraikan tentang gambaran umum dari lokasi

penelitian di Desa Padang Halabang Kecamatan Aek Kuo,

Kabupaten Labuhan Batu Utara. Kemudian pada bab ini juga turut

menguraikan tentang kebijakan-kebijakan pemerintah dalam upaya

menyelesaikan konflik di Padang Halaban.

BAB III ANALISIS IMPLEMENTASI PENYELESAIAN KONFLIK

DI DESA PADANG HALABAN

Bab ini akan menguraikan hasil penelitian berupa bagaimana upaya

pemerintah terhadap penyelesaian konflik yang terjadi di Desa

Padang Halaban dengan PT. SMART menggunakan kajian teori

yang ada.

BAB IV PENUTUP

Bab ini akan berisi kesimpulan dan saran – saran yang diperoleh

Figur

Tabel 1.1 Manajemen Implementasi
Tabel 1 1 Manajemen Implementasi . View in document p.19

Referensi

Memperbarui...