• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Strategi Penjaminan Mutu Pendidikan Pada Pendidikan Teknologi Kimia Industri Medan (PTKI-Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Strategi Penjaminan Mutu Pendidikan Pada Pendidikan Teknologi Kimia Industri Medan (PTKI-Medan)"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

31 2.1. Kebijakan Publik

Kebijakan Publik merupakan suatu aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah dan merupakan bagian dari keputusan politik untuk mengatasi berbagai persoalan dan isu-isu yang ada dan berkembang di masyarakat. Kebijakan publik juga merupakan keputusan yang dibuat oleh pemerintah untuk melakukan pilihan tindakan tertentu untuk tidak melakukan sesuatu maupun untuk melakukan tindakan tertentu.

Dalam kehidupan masyarakat yang ada di wilayah hukum suatu negara sering terjadi berbagai permasalahan. Negara yang memegang penuh tanggung jawab pada kehidupan rakyatnya harus mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Kebijakan publik yang dibuat dan dikeluarkan oleh negara diharapkan dapat menjadi solusi akan permasalahan-permasalahan tersebut. Kebijakan Publik adalah suatu keputusan yang dimaksudkan untuk tujuan mengatasi permasalahan yang muncul dalam suatu kegiatan tertentu yang dilakukan oleh instansi pemerintah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan (Sondang P. Siagian, 2006).

(2)

Menurut Dye (1978), kebijakan publik sebagai “Whatever governments choose to do or not to do.”, yaitu segala sesuatu dan atau apapun yang dipilih oleh

pemerintah untuk dilakukan dan atau tidak dilakukan. Dye juga memaknai kebijakan publik sebagai suatu upaya untuk mengetahui apa sesungguhnya yang dilakukan oleh pemerintah, mengapa mereka melakukannya, dan apa yang menyebabkan mereka melakukannya secara berbeda-beda. Dia juga mengatakan bahwa apabila pemerintah memilih untuk melakukan suatu tindakan, maka tindakan tersebut harus memiliki tujuan. Kebijakan publik tersebut harus meliputi semua tindakan pemerintah, bukan hanya merupakan keinginan dan atau pejabat pemerintah saja. Di samping itu, sesuatu yang tidak dilaksanakan oleh pemerintah pun termasuk kebijakan publik. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang tidak dilakukan oleh pemerintah akan mempunyai pengaruh yang sama besar dengan sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah. dalam (Sondang P. Siagian 2006 yang membahas kebijakan publik, formulasi, Implementasi dan Evaluasi)

(3)

5) kebijakan pemerintah setidak-tidaknya dalam arti yang positif didasarkan pada peraturan perundangan yang bersifat mengikat dan memaksa.

Pakar kebijakan publik David Easton (1975), mendefinisikan publik policy sebagai : “The authoritative allocation of value for the whole society, but it turns out that only the government can authoritatively act on the ‘whole’ society, and

everything the government choused do or not to do result in the allocation of

values.” Maksudnya, publik policy tidak hanya berupa apa yang dilakukan oleh

pemerintah, akan tetapi juga apa yang tidak dikerjakan oleh pemerintah karena keduanya sama-sama membutuhkan alasan-alasan yang harus dipertanggung-jawabkan.

Menurut Edward (1995) Kebijakan publik didefinisikan sebagai “What governments say and do, or do not do. It is the goals or purposes of governments

programs.” Maksudnya, apa yang dinyatakan dan dilakukan dan atau tidak

dilakukan oleh pemerintah termasuk kebijakan publik. Merujuk pada definisi di atas, kebijakan publik tampil sebagai sasaran dan atau tujuan program-program. Edward lebih lanjut menjelaskan bahwa kebijakan publik itu dapat diterapkan secara jelas dalam peraturan perundang-undangan dalam bentuk pidato-pidato pejabat teras pemerintah dan atau pun berupa program-program dan tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah.

(4)

dalam masyarakat agar mereka dapat hidup, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan secara luas. (Dalam, Sondang P Siagian, 2009 Pengantar Analisis Kebijakan Publik.)

Menurut Woll (1966) kebijakan publik ialah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui berbagai lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaan kebijakan publik terdapat tiga tingkat pengaruh sebagai implikasi dari tindakan pemerintah tersebut yaitu: 1) adanya pilihan kebijakan dan atau keputusan yang dibuat oleh politisi, pegawai pemerintah dan atau yang lainnya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat; 2) adanya output kebijakan, di mana kebijakan yang diterapkan pada level ini menuntut pemerintah untuk melakukan pengaturan, penganggaran, pembentukan personil dan membuat regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat; 3) adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat (Sondang P Siagian, 2009 Pengantar Analisis Kebijakan Publik)

Pada sudut pandang lain, Hakim (2003) mengemukakan bahwa Studi Kebijakan Publik mempelajari keputusan-keputusan pemerintah dalam mengatasi suatu masalah yang menjadi perhatian publik. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah sebagian disebabkan oleh kegagalan birokrasi dalam memberikan pelayanan dan menyelesaikan persoalan publik. Kegagalan tersebut adalah information failures, complex side effects, motivation failures, rentseeking, second best theory, implementation failures (Hakim, 2002). (Dalam, Sondang P

(5)

Berdasarkan stratifikasinya, kebijakan publik dapat dilihat dari tiga tingkatan, yaitu kebijakan umum (strategi), kebijakan manajerial, dan kebijakan teknis operasional. Selain itu, dari sudut manajemen, proses kerja dari kebijakan publik dapat dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang meliputi (a) pembuatan kebijakan, (b) pelaksanaan dan pengendalian, serta (c) evaluasi kebijakan. (Dalam, Sondang P Siagian, 2009, Pengantar Analisis Kebijakan Publik.)

Menurut Dunn (1994), proses analisis kebijakan adalah serangkaian aktivitas dalam proses kegiatan yang bersifat politis. Aktivitas politis tersebut diartikan sebagai proses pembuatan kebijakan dan divisualisasikan sebagai serangkaian tahap yang saling tergantung, yaitu (a) penyusunan agenda, (b) formulasi kebijakan, (c) adopsi kebijakan, (d) implementasi kebijakan, dan (e) penilaian kebijakan. (Dalam, Sondang P Siagian, 2009 Pengantar Analisis Kebijakan Publik.)

Proses formulasi kebijakan dapat dilakukan melalui tujuh tahapan sebagai berikut:

1. Pengkajian Persoalan. Tujuannya adalah untuk menemukan dan memahami hakekat persoalan dari suatu permasalahan dan kemudian merumuskannya dalam hubungan sebab akibat.

2. Penentuan tujuan. Adalah tahapan untuk menentukan tujuan yang hendak dicapai melalui kebijakan publik yang segera akan diformulasikan.

3. Perumusan Alternatif. Alternatif adalah sejumlah solusi pemecahan masalah yang mungkin diaplikasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. 4. Penyusunan Model. Model adalah penyederhanaan dan kenyataan persoalan

(6)

dibangun dalam berbagai bentuk, misalnya model skematik, model matematika, model disik, model simbolik, dan lain-lain.

5. Penentuan kriteria. Analisis kebijakan memerlukan kriteria yang jelas dan konsisten untuk menilai alternatif kebijakan yang ditawarkan. Kriteria yang dapat dipergunakan antara lain kriteria ekonomi, hukum, politik, teknis, administrasi, peran serta masyarakat, dan lain-lain.

6. Penilaian Alternatif. Penilaian alternatif dilakukan dengan menggunakan kriteria dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran lebih jauh mengenai tingkat efektivitas dan kelayakan setiap alternatif dalam pencapaian tujuan. 7. Perumusan Rekomendasi. Rekomendasi disusun berdasarkan hasil penilaian

alternatif kebijakan yang diperkirakan akan dapat mencapai tujuan secara optimal dan dengan kemungkinan dampak yang sekecil-kecilnya. (Dalam, Sondang P Siagian, 2009, Pengantar Analisis Kebijakan Publik)

2.2. Implementasi Kebijakan

Kebijakan publik tidak akan memiliki arti jika tidak diiringi dengan pelaksanaan (implementasi) yang baik. Implementasi kebijakan merupakan tujuan dari diadakannya kebijakan (policy goals). Implementasi kebijakan lebih bersifat praktis, termasuk di dalamnya mengeksekusi dan mengarahkan.

(7)

Implementasi merupakan aspek yang penting dari seluruh aspek kebijakan. Implementasi bukan hanya menyangkut mekanisme penjabaran keputusan-keputusan ke dalam prosedur-prosedur lewat saluran-saluran birokrasi, tetapi juga menyangkut masalah konflik, keputusan dan apa yang diperoleh dari suatu kebijakan”. (Bambang Sunggono, 1994).

Implementasi kebijakan akan berhasil apabila terdapat 4 (empat) faktor kritis yang mendukungnya, yaitu:

1. Komunikasi 2. Sumber daya 3. Disposisi

4. Struktur birokrasi. (Bambang Sunggono, 1994).

Keempat faktor di atas memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap keberhasilan ataupun kegagalan pelaksanaan sebuah kebijakan. Implementasi menuntut ketersediaan sumber daya. Kinerja implementasi akan rendah apabila sumber daya yang dibutuhkan rendah. Sumber daya yang baik akan menimbulkan terwujudnya implementasi kebijakan yang efektif dan efisien.

(8)

kegagalan apabila pada pelaksana berjalan tidak efektif dan efisien dan tidak loyal.

Implementasi diartikan sebagai “to provide the means for carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); to give practical effects to (menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu)”. Implementasi berarti menyediakan sarana untuk melaksanakan suatu dan dapat menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu tertentu. (Bambang Sunggono, 1994).

Implementasi adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk Undang-Undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah dan atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting dan atau keputusan badan peradilan. (Bambang Sunggono, 1994).

Bahwa apapun tingkat birokrasi yang dimiliki, pada dasarnya tidak mengurangi tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang mempunyai peranan untuk memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat, karena dengan peranan pemimpin berusaha memberikan pelayanan publik terbaik, itulah salah satu faktor pemimpin untuk mencapai tujuan sebaik-baiknya. (Bambang Sunggono, 1994).

(9)

Pada pelaksanaan kegiatan kebijakan tentunya peran pemimpin layak diunggulkan karena mempunyai andil yang sangat penting dalam memberikan pelayanan serta memberi motivasi dalam bekerja pada suatu organisasi. Menurut Bambang Sunggono 1994: 151, implementasi kebijakan mempunyai beberapa faktor penghambat, yaitu :

a. Isi kebijakan

Pertama, implementasi kebijakan gagal karena masih samarnya isi kebijakan, maksudnya apa yang menjadi tujuan tidak cukup terperinci, sarana-sarana dan penerapan prioritas, dan atau program-program kebijakan terlalu umum dan atau sama sekali tidak ada. Kedua, karena kurangnya ketetapan intern maupun ekstern dari kebijakan yang akan dilaksanakan. Ketiga, kebijakan yang akan diimplementasikan dapat juga menunjukkan adanya kekurangan-kekurangan yang sangat berarti. Keempat, penyebab lain dari timbulnya kegagalan implementasi suatu kebijakan publik dapat terjadi karena kekurangan-kekurangan yang menyangkut sumber daya pembantu, misalnya yang menyangkut waktu, biaya/dana dan tenaga manusia.

b. Informasi

Implementasi kebijakan publik mengasumsikan bahwa para pemegang peran yang terlibat langsung mempunyai informasi yang perlu dan atau sangat berkaitan untuk dapat memainkan perannya dengan baik, informasi ini justru tidak ada, misalnya akibat adanya gangguan komunikasi.

c. Dukungan

(10)

d. Pembagian potensi

Sebab musabab yang berkaitan dengan gagalnya implementasi suatu kebijakan publik juga ditentukan aspek pembagian potensi diantara para pelaku yang terlibat dalam implementasi. Dalam hal ini berkaitan dengan diferensiasi tugas dan wewenang organisasi pelaksana. Struktur organisasi pelaksanaan dapat menimbulkan masalah-masalah apabila pembagian wewenang dan tanggung jawab kurang disesuaikan dengan pembagian tugas dan atau ditandai oleh adanya pembatasan-pembatasan yang kurang jelas (Bambang Sunggono, 1994 : 149-153).

Adanya penyesuaian waktu khususnya bagi kebijakan-kebijakan yang controversial yang lebih banyak mendapat penolakan warga masyarakat dalam implementasinya. Menurut James Anderson, faktor-faktor yang menyebabkan anggota masyarakat tidak mematuhi dan melaksanakan suatu kebijakan publik, yaitu :

1) Adanya konsep ketidakpatuhan selektif terhadap hukum, dimana terdapat beberapa peraturan perundang-undangan dan atau kebijakan yang bersifat kurang mengikat individu-individu:

2) Karena anggota masyarakat dalam suatu kelompok dan atau perkumpulan dimana mereka mempunyai gagasan dan atau pemikiran yang tidak sesuai dan atau bertentangan dengan peraturan hukum dan keinginan pemerintah:

(11)

4) Adanya ketidakpastian hukum dan atau ketidakjelasan “ukuran” kebijakan yang mungkin saling bertentangan satu sama lain, yang dapat menjadi sumber ketidakpatuhan orang pada hukum dan atau kebijakan publik:

5) Apabila suatu kebijakan ditentang secara tajam (bertentangan) dengan sistem nilai yang dianut masyarakat secara luas dan atau kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat. (Bambang Sunggono, 1994 : 144-145).

Suatu kebijakan publik akan menjadi efektif apabila dilaksanakan dan mempunyai manfaat positif bagi anggota-anggota masyarakat. Dengan kata lain, tindakan dan atau perbuatan manusia sebagai anggota masyarakat harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah dan atau negara. Sehingga apabila perilaku dan atau perbuatan mereka tidak sesuai dengan keinginan pemerintah dan atau negara, maka suatu kebijakan publik tidaklah efektif.

Implementasi kebijakan bila dipandang dalam pengertian yang luas, merupakan alat administrasi hukum dimana berbagai actor, organisasi, prosedur, dan teknik yang bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak dan atau tujuan yang diinginkan (Budi Winarno, 2002:102). Adapun syarat-syarat untuk dapat mengimplementasikan kebijakan negara secara sempurna menurut teori implementasi Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gun, yaitu :

a. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan dan atau instansi pelaksana tidak akan mengalami gangguan dan atau kendala yang serius. Hambatan-hambatan tersebut mungkin sifatnya disik, politis dan sebagainya.

(12)

c. Perpaduan sumber-sumber yang diperlukan benar-benar tersedia

d. Kebijaksanaan yang akan diimplementasikan didasarkan oleh suatu hubungan e. Kualitas yang handal

f. Hubungan kausalitas bersifat langsung dan hanya sedikit mata rantai penghubungnnya.

g. Hubungan saling ketergantungan kecil

h. Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan i. Tugas-tugas diperinci dan ditempatkan dalam urutan yang tepat j. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna

k. Pihak-pihak yang memiliki wewenang kekuasaan dapat menuntut

Ada tiga hal penting yang dibahas dalam proses komunikasi kebijakan, yakni transmisi, konsistensi, dan kejelasan (carity). Faktor pertama yang mendukung implementasi kebijakan adalah transmisi. Seorang pejabat yang mengimplementasikan keputusan harus menyadari bahwa suatu keputusan telah dibuat dan suatu perintah untuk pelaksanaannya telah dikeluarkan. Faktor kedua yang mendukung implementasi kebijakan adalah kejelasan, yaitu bahwa petunjuk-petunjuk pelaksanaan kebijakan tidak hanya harus ditrima oleh para pelaksana kebijakan, tetapi komunikasi tersebut harus jelas.

Faktor ketiga yang mendukung implementasi kebijakan adalah konsistensi, yaitu jika implementasi kebijakan ingin berlangsung efektif, maka perintah-perintah pelaksanaan harus konsisten dan jelas.

1) Sumber-sumber

(13)

melaksanakan tugas-tugas mereka, wewenang dan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang pelaksanaan pelayanan publik.

2) Kecenderungan-kecenderungan dan atau tingkah laku-tingkah laku.

Kecenderungan dari para pelaksana mempunyai konsekwensi-konsekwensi penting bagi implementasi kebijakan yang efektif. Jika para pelaksana bersikap baik terhadap sesuatu kebijakan tertentu yang dalam hal ini berarti adanya dukungan, kemungkinan besar mereka melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat keputusan awal.

3) Struktur birokrasi

Birokrasi merupakan salah satu badan yang paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi pelaksana kebijakan, baik itu struktur pemerintah dan juga organisasi-organisasi swasta (Budi Winarno, 2002: 126-151).

Menurut Teori Proses Implementasi Kebijakan menurut Van Meter dan Hom, faktor-faktor yang mendukung implementasi kebijakan yaitu:

a. Ukuran-ukuran dan tujuan kebijakan

Dalam implementasi, tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran suatu program yang akan dilaksanakan harus diidentifikasi dan diukur karena implementasi tidak dapat berhasil dan atau mengalami kegagalan bila tujuan-tujuan itu tidak dipertimbangkan.

b. Sumber-sumber kebijakan

(14)

c. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan.

Implementasi dapat berjalan efektif bila disertai dengan ketetapan komunikasi antar para pelaksana.

d. Karakteristik badan-badan pelaksana

Karakteristik badan-badan pelaksana erat kaitannya dengan struktur birokrasi. Struktur birokrasi yang baik akan mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan.

e. Kondisi ekonomi, social dan politik

Kondisi ekonomi, sosial dan politik dapat mempengaruhi badan-badan pelaksana dalam pencapaian implementasi kebijakan.

f. Kecenderungan para pelaksana (implementers).

Intensitas kecenderungan-kecenderungan dari para pelaksana kebijakan akan mempengaruhi keberhasilan pencapaian kebijakan. (Budi Winarno, 2002: 110). Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak hanya ditujukan dan dilaksanakan pula oleh seluruh masyarakat yang berada di lingkungannya. Menurut James Anderson, masyarakat mengetahui dan melaksanakan suatu kebijakan publik dikarenakan:

1) Respek anggota masyarakat terhadap otoritas dan keputusan-keputusan badan-badan pemerintah.

2) Adanya kesadaran untuk menerima kebijakan.

(15)

4) Sikap menerima dan melaksanakan kebijakan publik karena kebijakan itu lebih sesuai dengan kepentingan pribadi;

5) Adanya sanksi-sanksi tertentu yang akan dikenakan apabila tidak melaksanakan suatu kebijakan (Bambang Sunggono, 1994: 144).

2.3. Kebijakan Pendidikan Nasional

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia.

Keberadaan satuan pendidikan baik secara jenjang dan jenis di Indonesia yang tersebar di seluruh Negara kesatuan Republik Indonesia memiliki keragaman layanan proses, sarana dan prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, serta mutunya. Oleh karena itu, standarisasi mutu regional dan nasional merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam upaya penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.

(16)

Implementasi penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan hingga saat ini masih menghadapi berbagai macam permasalahan antara lain: (1) belum tersosialisasikannya secara utuh Standar Nasional Pendidikan sebagai acuan mutu pendidikan; (2) pelaksanaan penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan masih terbatas pada pemantauan komponen mutu di satuan pendidikan; (3) pemetaan mutu masih dalam bentuk pendataan pencapaian mutu pendidikan yang belum terpadu dari berbagai penyelenggara pendidikan; dan (4) tindak lanjut hasil pendataan mutu pendidikan yang belum terkoordinir dari para penyelenggara dan pelaksana pendidikan pada berbagai tingkatan (Moerdiyanto, 2008)

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka diperlukan aspek legal tentang penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan meliputi: (1) pengertian dan ruang lingkup penjaminan dan peningkatan mutu; (2) pembagian tugas dan tanggungjawab yang proporsional dalam penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan, (3). pencapaian Standar Nasional Pendidikan, dan (4) pengembangan sistem informasi mutu pendidikan yang efektif untuk pengelolaan, pengambilan keputusan dalam penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan. (Moerdiyanto, 2008)

Upaya penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan sulit dilepaskan keterkaitannya dengan manajemen mutu, dimana semua fungsi manajemen yang dijalankan diarahkan semaksimal mungkin dapat memberikan layanan yang sesuai dengan dan atau melebihi standar nasional pendidikan. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan upaya untuk mengendalikan mutu (quality control).

(17)

suatu upaya pengendalian mutu dalam bentuk jaminan dan atau assurance, agar semua aspek yang terkait dengan layanan pendidikan yang diberikan oleh sekolah sesuai dengan dan atau melebihi standar nasional pendidikan. Konsep yang terkait dengan hal ini dalam manajemen mutu dikenal dengan Quality Assurance dan atau penjaminan mutu.

Pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, dan kesejahteraan suatu negara amat dipengaruhi oleh kemampuan bangsanya menguasai ilmu pengetahuan. Disamping itu, semakin kuatnya kecenderungan sistem keterbukaan turut mewarnai timbulnya iklim persaingan global. Pendidikan tinggi dalam hal ini mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terbesar dalam membangun fondasi untuk meningkatkan daya saing tersebut. Keyakinan dan pemikiran inilah yang mendasari argumen bahwa pendidikan tinggi harus ditingkatkan mutu dan pengembangannya untuk mencapai tingkat mutu, yang mampu secara efektif berkontribusi kepada peningkatan daya saing bangsa.

Pada awal 2003, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional telah menerbitkan dokumen 2003-2010. Dokumen ini menggantikan Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPTJP) 1996-2005 untuk dapat mengikuti dan mengantisipasi perubahan yang amat cepat yang terjadi sejak reformasi tahun 1998. Higher Education Long Term Strategy (HELTS) merumuskan tiga kebijakan dasar pengembangan pendidikan

(18)

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bagi setiap penyelenggara pendidikan selain undang-undang ini, paling tidak ada tiga (3) kebijaksanaan nasional berupa Peraturan Pemerintah yang harus dijadikan acuan dasar yaitu; Peraturan Pemerintah tentang Sertifikasi Guru dan Dosen, Akreditasi Lembaga (BAN) dan Standar Nasional Pendidikan. Tujuan dari kebijaksanaan ini dimaksudkan agar terwujud upaya dari setiap penyelenggara, terutama pendidikan tinggi untuk melakukan peningkatan “mutu” pendidikan secara berkesinambungan.

Kerangka dasar pengembangan sistem dan manajemen pendidikan tinggi yang implementasinya memerlukan partisipasi dan dukungan dari semua unsur seperti: pembuat kebijakan (pemerintah pusat dan daerah, lembaga legislatif dan yudikatif), masyarakat perguruan tinggi (pimpinan, dosen, staf pendukung, dan

masyarakat umum (orangtua mahasiswa, sektor produktif, LSM, alumni, media masa serta lainnya).

(19)

Evaluasi Diri (EPSBED) dan melalui proses akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang mulai berfungsi tahun 1997. Selain BAN, Ditjen Dikti juga melaksanakan fasilitasi dan pemberdayaan perguruan tinggi untuk meningkatkan mutu dengan menyediakan alokasi pendanaan melalui kompetisi, pembuatan evaluasi diri, dan rencana pengembangan yang memenuhi kriteria berdasar paradigma baru pendidikan tinggi. Pendanaan berbasis kompetisi berusaha untuk mempercepat penerapan paradigma baru dan telah menunjukkan hasil menggembirakan dalam skala kecil rintisan, tetapi belum menyentuh seluruh proses alokasi anggaran pemerintah. Sejalan dengan hal ini, penjaminan mutu internal yang lebih intensif baru akhir-akhir ini dikembangkan sebagai suatu bentuk kesadaran dari pengelola perguruan tinggi untuk menjamin dan meningkatkan mutunya secara konsisten, sekaligus sebagai bentuk akuntabilitas terhadap masyarakat.

Pada fungsinya yang paling mendasar, pendidikan tinggi merupakan landasan bagi pertumbuhan dan pendorong perkembangan bangsa. Perguruan tinggi diharapkan sebagai suatu kekuatan moral yang mampu:

1. Membentuk karakter dan budaya bangsa yang berintegritas tinggi didasari oleh nilai-nilai luhur [kejujuran, kebenaran, kewajaran sikap (sense of decency), saling percaya, dan saling menghormati] sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan di masyarakat akademis;

(20)

3. Menumbuhkan masyarakat yang demokratis sebagai pendamping bagi kekuatan sosial politik;

4. Menjadi pengawal reformasi nasional;

5. Menjadi sumber ilmu pengetahuan dan pembentukan SDM yang sensitif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat dengan seluruh strata sosialnya.

Perguruan tinggi perlu berubah untuk membantu memecahkan persoalan serta memberdayakan bangsa agar dapat mengantisipasi perubahan ekonomi global yang sangat cepat dan kompleks. Perubahan dan kemajuan ekonomi global yang cepat dan kompleks tersebut ditentukan oleh pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS), dan pola hubungan antara IPTEKS dengan pembangunan. Agar dapat mengejar ketertinggalan ekonomi global, sistem pendidikan tinggi di Indonesia harus diperbaiki dengan mendorong pendidikan ilmu pengetahuan, teknologi serta kolaborasi penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian pengembangan IPTEKS. Dalam hubungan ini kebijakan nasional mengenai copy right dan copy left movement perlu dikaji dan dikembangkan dengan seksama untuk memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi kemajuan bangsa.

(21)

Dalam sistem pendidikan tinggi yang bertumpu pada otonomi dan desentralisasi, organisasi sejawat memiliki peran yang amat penting, karena akan melaksanakan sebagian peran dan fungsi otoritas pusat. Dewan Pendidikan Tinggi (Higher Education Board), lembaga akreditasi, dan organisasi profesi merupakan

tiga organisasi sejawat yang menjadi pilar utama untuk mendukung upaya tersebut. Organisasi profesi terutama akan penting perannya dalam proses Sertifikasi tenaga profesional yang dihasilkan pendidikan tinggi (dalam bidang kesehatan, rekayasa, hukum, akuntansi, dan sebagainya).

2.4. Teori -teori Pembangunan dalam Sistem Mutu Pendidikan Tinggi Pendidikan, termasuk pendidikan teknologi dan kejuruan, diharapkan mampu menghasilkan tenaga kerja profesional yang diperlukan oleh lapangan kerja dan atau menciptakan peluang kerja untuk menampung tenaga kerja lainnya. Seperti diungkapkan oleh Sayuti Hasibuan bahwa fungsi sistem pendidikan dalam kaitannya dengan ketenagakerjaan meliputi dua dimensi penting, yaitu: (1) dimensi kuantitatif yang meliputi fungsi sistem pendidikan dalam memasok tenaga kerja terdidik dan terampil sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja yang tersedia, dan (2) dimensi kualitatif yang menyangkut fungsinya sebagai penghasil tenaga terdidik dan terlatih yang akan menjadi sumber pengerak pembangunan Dalam Ace Suryadi & H.A.R. Tilar, 1994 : 137),

(22)

pemanfaatan inovasi teknologi dengan proses produksi, dan (5) kurangnya minat terhadap penelitian (Cony R. Semiawan,, 1999),

Semua masalah di atas berdampak pada produktivitas bangsa secara umum, dan akhirnya berdampak pada pembangunan negeri. Sehubungan dengan hal tersebut, banyak kritik dilontarkan terhadap sistem pendidikan yang, pada dasarnya menyatakan bahwa perluasan kesempatan belajar cenderung mengakibatkan bertambahnya pengangguran tenaga terdidik daripada bertambahnya tenaga produktif sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja (Robinson, Philip, 1981).

(23)

pengakuan masyarakat terhadap lulusan pendidikan, khususnya pendidikan teknologi dan kejuruan (Semiawan, Cony R., 1994)

Teori Human Capital beranggapan bahwa semakin tinggi mutu pendidikan, semakin tinggi produktivitas tenaga kerja, semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Teori ini menyatakan dalam perekonomian, orang- orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki penghasilan lebih besar daripada orang-orang yang memiliki pendidikan yang lebih rendah. Intinya, teori Human Capacity menganggap pendidikan sebagai suatu investasi, baik bagi individu maupun bagi masyarakat. Investasi tersebut akan meningkatkan ketrampilan, dan oleh karena itu juga meningkatkan produktivitas, yang secara langsung akan menciptakan kesejahteraan. Asumsi yang melatarbelakangi teori Human Capital adalah adanya pasar bebas untuk tenaga kerja. Setiap masyarakat memiliki sejumlah job dalam ketrampilan tinggi yang membawa renumerasi yang tinggi. Tenaga kerja yang akan mengisi job tersebut ditentukan oleh sistem pendidikan, sedemikian sehingga individu yang memiliki kemampuan tinggi akan mendapatkan job yang paling dinginkan.

(24)

miskin bisa masuk sekolah. Langkah pertama yang bisa diambil untuk mencapai tujuan itu adalah dengan mengadakan sekolah-sekolah. (Semiawan, Cony R., 1994)

Kebenaran teori Human Capital memang belum terbukti. Di Amerika Serikat misalnya, pendidikan di kalangan orang dewasa berkulit putih sudah mendekati sama antara tahun 1950 sampai tahun 1970. Akan tetapi pada sat yang sama terjadi hal yang bertentangan dengan prediksi teori Human Capital, yaitu distribusi pendapatan menjadi tidak sama. Disimpulkan bahwa investasi dalam pendidikan tidak cukup untuk meningkatkan taraf hidup kaum egalitarian. Kelemahan teori Human Capital bisa disebabkan oleh lapangan kerja yang tersedia, khususnya di sektor modern sangat terbatas, sehingga tidak mampu menampung lulusan yang datang dalam waktu relative bersamaan. Selain itu, kenyataan menunjukkan bahwa lulusan pendidikan umum belum siap bekerja sesuai dengan yang diharapkan oleh lapangan kerja. Akibatnya, dunia usaha dan atau industri harus melatih tenaga yang belum siap pakai tersebut dalam jangka waktu yang lama, yang juga berarti menambah anggaran pendidikan. Selain itu, yang sering menjadi sasaran kritik dari teori Human Capital adalah terlalu menekankan pada dimensi material sehingga mengurangi nilai kultur manusia (Satryo Soemantri, 2000)

(25)

Selanjutnya dinyatakan bahwa pendidikan harus mampu menghasilkan tenaga yang mampu mengerahkan potensi masyarakat untuk menghasilkan produk dalam bentuk barang dan jasa, dan sekaligus mampu membuka peluang pemasarannya. Ini berarti tujuan pendidikan adalah menghasilkan tenaga yang mampu memperluas lapangan kerja, sehingga tidak tergantung kepada lapangan kerja yang sudah ada, bahkan sebaliknya mampu menyediakan peluang kerja bagi tenaga kerja lainnya (Semiawan, Cony R., 1994)

(26)

dunia kerja merupakan ancaman serius terhadap teori ini. Kesenjangan yang lebar antara kemampuan dasar yang dimiliki oleh para lulusan dengan tuntutan ketrampilan dari dunia kerja akan mengakibatkan proses pelatihan akan berjalan dalam waktu yang cukup lama. Sudah barang tentu hal ini akan sangat merugikan dunia usaha karena harus menyediakan dana untuk pelatihan yang cukup besar. Selain itu tenaga terampil yang diharapkan tidak bisa menjadi tenaga profesional dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga juga mempengaruhi produktivitas perusahaan dan atau industri. (Satryo Soemantri, 2000)

2.5. Kajian Teori Manajemen Mutu Pendidikan

Definisi Penjaminan kualitas menurut Elliot (1993) adalah seluruh rencana dan tindakan sistematis yang penting untuk menyediakan kepercayaan yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tertentu. Dimana kebutuhan tersebut merupakan refleksi dari kebutuhan pelanggan. Penjaminan kualitas biasanya membutuhkan evaluasi secara terus-menerus dan biasanya digunakan sebagai alat bagi manajemen. Sedangkan menurut Gryna (1988), penjaminan kualitas merupakan kegiatan untuk memberikan bukti-bukti untuk membangun kepercayaan bahwa kualitas dapat berfungsi secara efektif (Pike dan Barnes, 1996).

Cartin (1999:312) memberikan Definisi penjaminan kualitas sebagai berikut :

Quality Assurance is all planned and systematic activities implemented

within the quality sistem that can be demonstrated to provide confidence

(27)

Jadi, Secara umum dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penjaminan mutu adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis sehingga konsumen, produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan dan percaya dengan kualitas produk yang ditawarkan, dengan demikian, penjaminan mutu pendidikan adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis sehingga stakeholders memperoleh kepuasan.

Teori manajemen mutu (quality management) telah banyak diterapkan dalam berbagai bidang, industri dan akademik (industrial and academic leaders), produksi dan jasa, profit dan non-profit, baik organisasi besar maupun kecil bahkan dipercayai dan diletakkan sebagai ‘a flurry of activity’. (Biggs, John 2001, Dalam Raden Intan, 2008)

Hadirnya manajemen mutu telah mendorong anggota dalam organisasi tersebut untuk sibuk dan bergerak menuju pencapaian mutu. Deming merupakan tokoh kunci yang memberikan kontribusi pada percepatan revitalisasi ekonomi Jepang setelah Perang Dunia II melalui manajemen mutu. (Billing, David, 2004, Dalam Raden Intan, 2008)

(28)

Manajemen mutu yang dikemukakan Deming dikritisi oleh John C. Anderson dkk., yang menyatakan bahwa Deming sebenarnya hanya memberikan semacam petunjuk (prescriptive), bukan menjelaskan teori manajemen mutu, sehingga tampak empirik praktis dengan 14 point sebagai rambu-rambunya (Anderson, John C. et.al., 1994, Dalam Raden Intan, 2008)

Oleh karena itu, Anderson merumuskan teori manajemen mutu serta aplikasi praktis sehingga dapat digunakan untuk penelitian lanjutan. Dalam hal ini, David A. Waldman meneliti relasi antara individu-individu dalam organisasi dengan proses sistem manajemen yang menyimpulkan bahwa manajemen mutu terpadu memiliki kontribusi terhadap teori-teori pengembangan sumber daya manusia dalam kesempurnaan kinerja. Waldman mengkaji sistem manajemen dalam organisasi yang sebelumnya hanya dipandang pengembangan SDM secara individual, padahal yang terpenting adalah sistem organisasi. Nuria Lopez Mielgo dkk., meneliti tentang hubungan antara mutu dengan manajemen inovasi yang sudah lumrah dianggap bertentangan menurutnya. (Waldman, David A.1994, Dalam Raden Intan, 2008)

(29)

terhadap proses dan produk baru (Mielgo, Nuria Lopez, et.al, 2009, Dalam Raden Intan, 2008)

Sim B. Sitkin dkk., mendebat karakteristik total quality manajemen dalam pendekatan tradisional yang hanya membatasi diri pada kontrol, kontrol mutu karena tidak mengandung unsur pembelajaran. (Sitkin, Sim B. et.al, 1994, Dalam Raden Intan, 2008)

Secara teoritis, manajemen mutu mudah dirumuskan, akan tetapi dalam implementasinya banyak keragaman, bahkan kesulitan sebagaimana dikaji dalam penelitian Rhonda K. Reger dkk. Hasil penelitian Reger menyimpulkan bahwa kesuksesan organisasi tergantung pada kemampuan manajemen dalam menyusun model yang dinamis untuk mentransformasikan perubahan secara bertahap sesuai prioritas organisasi. Reger, Rhonda K. et.al., 1 994, Dalam Raden Intan, 2008)

T. Ravichandran meneliti manajemen mutu dalam pengembangan sistem organisasi yang melibatkan 1000 perusahaan dan agensi pemerintahan dengan menyimpulkan bahwa mutu terbaik hanya dicapai jika top manajemen menciptakan infrastruktur yang mengenalkan perbaikan dalam desain proses dan menghubungkannya dengan stakeholders.(Ravichandran, T. & Arun Rai,, 2000, Dalam Raden Intan, 2008)

(30)

penjaminan mutu eksternal menjadi model yang ditransfer dari negara satu ke negara lainnya. (Jeliazkova, Margarita & Don F. Westerheijden, 2000, Dalam Raden Intan, 2008)

John Biggs meneliti penjaminan mutu dalam dua perdebatan apakah sifatnya retrospective dan atau prospective. Kesimpulan penelitian Biggs menyatakan bahwa penjaminan mutu itu sifatnya prospective yang mengandung proses Quality Model, Quality Enhancement, dan Quality Feasibility sebagai tahapan tercapainya mutu. Kesimpulan ini bertentangan dengan Bowden yang menyimpulkan bahwa penjaminan mutu adalah pengukuran terhadap apa yang sudah dilaksanakan dalam manajemen. (Biggs, John., 2001, Dalam Raden Intan, 2008)

Dirkvan Damme menyimpulkan bahwa penjaminan mutu (QA) harus kolaborasi antara pemerintah dan institusi pendidikan dengan pengukuran yang diperluas, walaupun dalam hal kasus mobilitas penerimaan peserta didik dengan program yang sangat beragam. Hal ini dengan pertimbangan bahwa stakeholders utama adalah pemerintah yang membutuhkan sumber daya manusia yang handal. (Damme, Dirk Van, 2001, Dalam Raden Intan, 2008)

Penjaminan mutu di Australia muncul diakibatkan adanya desakan globalisasi namun juga hasilnya memberikan kontribusi pada globalisasi secara simultan. Pemerintah telah memberikan kebijakan pada tahun 1990-an agar lembaga pendidikan menempatkan kustomers utama yaitu pemerintah sebagai pemilik dana yang membutuhkan sumberdaya bagi lapangan pekerjaan.

(31)

pendidikan tinggi sehingga terjadi sinergi antara pendidikan dan teori organisasi. (Srikanthan, G., 2002 Dalam Raden Intan, 2008)

Berdasarkan uraian hasil-hasil penelitian tentang manajemen mutu, perdebatan akademiknya terletak pada pengukuran dan mengelola mutu itu sendiri, bukan pada penting tidaknya manajemen mutu. Nina Becket dan Maureen Brookes menyatakan bahwa banyak negara mengadopsi model pengukuran mutu yang berbeda-benda.

Berdasarkan kajian teori terdahulu dapat dipahami bahwa masalah mutu pendidikan erat kaitannya dengan model manajemen yang diimplementasikan dalam lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena itu, manajemen mutu perlu dikelola dengan baik oleh seluruh komunitas lembaga pendidikan, sehingga benar-benar sejalan dengan perkembangan teori dan dinamika kebutuhan realitas yang berkembang dalam masyarakat.

(32)

dan dunia kerja yang menyatakan bahwa terdapat variasi cara manajemen untuk mewujudkan kepuasan tersebut. Pasca tahun 1990-an gerakan manajemen mutu mulai bergerak ke Eropa untuk mengkaji gap (kesenjangan) antara kebutuhan industri dengan hasil-hasil pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan. Pada waktu itu di Eropa masih sedikit kesadaran pentingnya manajemen mutu terutama dalam bidang pendidikan. (Roberts, A, 1992, Dalam Raden Intan, 2008)

Teori manajemen mutu kemudian menjadi kebutuhan dalam mengelola lembaga-lembaga pendidikan hingga era persaingan merebut jaminan mutu. Pemerintah, masyarakat dan pengguna jasa pendidikan sangat membutuhkan lembaga pendidikan yang bermutu. Hal ini harus direspon oleh para pengelola lembaga pendidikan baik dasar, menengah maupun pendidikan tinggi. Sikap demikian akan memberikan manfaat besar baik kepada internal maupun eksternal. Secara internal lembaga pendidikan akan berkembang dan maju sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup yang lebih baik bagi semua anggota institusi pendidikan tersebut. Secara eksternal akan mendapatkan kepuasan layanan pendidikan sehingga mendukung program-program yang ditetapkan lembaga. Hubungan timbal balik antara internal-eksternal secara simultan akan mencerdaskan kehidupan yang bermartabat di mata dunia internasional.

(33)

(SBM). Semua teori menempatkan quality (mutu) sebagai pusat pengawasan dan evaluasi mutu. Jika diklasifikasi dalam bidangnya, dua teori yang terakhir menjadi isu yang populer dalam bidang pendidikan, karena TQM dan SBM memiliki bangunan teori yang lebih relevan dengan karakteristik pendidikan sebagai layanan jasa, kecuali TQM selain pendidikan juga lebih dahulu digunakan dalam bidang ekonomi-produksi. Sedangkan tiga teori terdahulu lebih banyak diterapkan dalam dunia ekonomi industri layanan produksi barang yang sudah mapan digunakan sebagai strategi untuk memberikan kepuasan pelanggan.

Kajian kritis perlu dilakukan dalam menghadapi keragaman teori manajemen mutu di atas. Sebab, terkadang suatu teori yang tepat digunakan dalam bidang tertentu, belum tentu tepat untuk bidang lainnya; teori yang berkembang pesat di suatu negara, belum tentu berkembang di negara lainnya mengingat adanya perbedaan-perbedaan yang secara alamiah tidak dapat dipungkiri. Hal ini seringkali mengundang perdebatan akademik dalam teori manajemen mutu pendidikan.

Teori manajemen mutu dalam bidang pendidikan masih banyak didasarkan pada teori mutu yang dikembangkan dalam bidang ekonomi oleh para tokoh mutu yaitu Deming, Juran, Digenbaum, dan Crosby walaupun di antara mereka sendiri masih terdapat perbedaan dalam mendefinisikan mutu dan cara pengukurannya. Para ahli tersebut telah memberikan inspirasi dan mimpi-mimpi besar sebagai dasar-dasar manajemen mutu dalam lembaga pendidikan. Para tokoh mutu tersebut selalu muncul dalam tulisan-tulisan tentang manajemen mutu.

(34)

manajemen mutu berdasarkan konsep-konsep tokoh tersebut walaupun melalui adaptasi-adaptasi teori. Sebab, ketika teori manajemen mutu dalam bidang ekonomi diadopsi ke dalam bidang pendidikan, ternyata banyak menimbulkan masalah, karena adanya perbedaan karakteristik antara ekonomi-industri dengan pendidikan. Hal ini menimbulkan kajian menarik di kalangan para pemikir/pakar pendidikan untuk mengkaji relevansi manajemen mutu dengan indikator-indikator mutu dalam bidang pendidikan.

Konstruksi berpikir antara manajemen mutu pendidikan dengan manajemen mutu ekonomi-industri sangat berbeda, sehingga faktor kunci tercapainya mutu itu sendiri menjadi sangat berbeda dan lebih kompleks dalam bidang pendidikan. Misalnya, para peserta didik sebagai manusia dinamis turut serta menentukan tercapai tidaknya mutu yang ditetapkan lembaga pendidikan. Hal ini tidak sedikit, gagalnya pencapaian mutu, karena peserta didik tersebut tidak berusaha mewujudkannya. Sedangkan dalam bidang ekonomi-industri, bahan baku yang diproduksi tergantung sepenuhnya pada proses dan prosedur baku yang sudah didesain sedemikian rupa. Atas dasar perbedaan ini perlu dikaji dan dirumuskan model manajemen mutu untuk lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai dengan karakteristiknya

2.5.1. Konsep Penjaminan Mutu

Suatu lembaga pendidikan dinyatakan bermutu dan atau berkualitas, apabila :

(35)

2. lembaga pendidikan tersebut mampu memenuhi kebutuhan stakeholder (aspek induktif) berupa:

a. kebutuhan kemasyarakatan (societal needs); b. kebutuhan dunia kerja (industrial needs); c. kebutuhan profesional (professional needs).

Dengan demikian lembaga pendidikan harus mampu merencanakan, menjalankan, dan mengendalikan suatu proses yang menjamin pencapaian mutu sebagaimana diuraikan di atas agar bisa bersaing di era global dan bisa mendapatkan superior performance.

Untuk mencapai Superior Performance perguruan tinggi harus mampu memadukan kemampuan manajemen, kemampuan teknologi dan modal/capital (dalam hal ini sarana dan prasarana) yang dimiliki agar mampu bersaing (competitive) dalam pasar bebas (global market) dimana dalam pasar bebas

(36)

2.5.2. Standar Penjaminan Mutu dalam Pendidikan

Standar penjaminan mutu di dunia pendidikan dapat kita bedakan menjadi 2, yakni:

1. Standar Nasional Pendidikan (SNP)

Merupakan standar nasional sebagai tolak ukur minimal yang berlaku dalam lingkup wilayah lokal mencakup standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Hal ini diatur oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). 2. Standar Lain

Merupakan standar-standar lain yang perlu dipertimbangkan untuk diaplikasikan dalam dunia pendidikan misalnya ISO. ISO merupakan kepanjangan dari International Standardization Organization. Organisasi ini berkedudukan di Jenewa, Swiss. Latar belakang penerbitan sertidikat ISO ini adalah sebagai akibat dari pola perdagangan bebas yang akan dikembangkan dimasa yang akan datang agar hanya produk-produk yang bermutu saja yang beredar di pasar sehingga konsumen tidak dibingungkan dengan banyaknya merek yang beredar. Untuk di Indonesia sertidikat ISO lebih dikenal dengan dengan istilah SNI (Standar Nasional Indonesia). Beberapa Standar ISO yang telah diberlakukan diantaranya adalah:

(37)

2.5.3. Tujuan Penjaminan Mutu

Tujuan kegiatan penjaminan mutu Menurut Yorke (1997), antara lain sebagai berikut:

1. Membantu perbaikan dan peningkatan secara terus-menerus dan ber-kesinambungan melalui praktek yang terbaik dan mau mengadakan inovasi. 2. Memudahkan mendapatkan bantuan, baik pinjaman uang dan atau fasilitas dan

atau bantuan lain dari lembaga yang kuat dan dapat dipercaya.

3. Menyediakan informasi pada masyarakat sesuai sasaran dan waktu secara konsisten, dan bila mungkin, membandingkan standar yang telah dicapai dengan standar pesaing.

4. Menjamin tidak akan adanya hal-hal yang tidak dikehendaki.

Selain itu, tujuan dari diadakannya penjaminan kualitas (quality assurance) ini adalah agar dapat memuaskan berbagai pihak yang terkait di dalamnya, sehingga dapat berhasil mencapai sasaran masing-masing. Secara umum dapat disimpulkan bahwa tujuan Penjaminan Mutu dalam dunia pendidikan meliputi: 1. Memelihara dan meningkatkan mutu lembaga pendidikan secara

berkelanjutan, yang dijalankan oleh suatu lembaga pendidikan secara internal untuk mewujudkan visi dan misinya.

(38)

dikontrol dan diaudit melalui kegiatan akreditasi yang dijalankan oleh BAN-PT dan atau lembaga lain secara eksternal.

2.5.4. Proses Penjaminan Mutu

Proses penjaminan mutu lembaga pendidikan merupakan kegiatan mandiri dari lembaga pendidikan yang bersangkutan, sehingga proses tersebut dirancang, dijalankan, dan dikendalikan sendiri oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan tanpa campur tangan dari Pemerintah, dalam hal ini yakni Direktorat Jenderal Pendidikan, Depdiknas. Adapun dalam pelaksanaannya, setiap lembaga pendidikan memiliki spesifikasi yang berlainan, antara lain dalam hal ukuran, struktur, sumber daya, visi dan misi, sejarah, dan kepemimpinan.

Mengenai posisi dan arti penting penjaminan mutu pendidikan, dapat dikemukakan bahwa di masa mendatang eksistensi suatu lembaga pendidikan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah, melainkan terutama tergantung pada penilaian stakeholders (siswa, orang tua, dunia kerja, pemerintah, guru/dosen, tenaga penunjang, serta pihak-pihak lain yang berkepentingan) tentang mutu lembaga pendidikan yang diselenggarakannya. Agar eksistensinya terjamin, maka setiap lembaga pendidikan baik yang formal maupun nonformal, negeri maupun swasta, mau tidak mau harus menjalankan penjaminan mutu terhadap layanan pendidikan yang diselenggarakannya.

(39)

terus-menerus, setiap lembaga pendidikan harus selalu melakukan perbaikan terhadap layanan pendidikannya. Bahkan jika perlu harus ada inovasi pendidikan yang mampu memberikan brand terhadap layanan jasa yang diberikan sehingga tiap lembaga pendidikan memiliki ciri khas masing-masing.

Sistem Penjaminan Mutu sendiri pada prinsipnya adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait secara sistematis untuk peningkatan mutu output hasil produksi secara berkelanjutan yang dimanifestasikan dalam bentuk siklus kegiatan penjaminan mutu. Dalam dunia pendidikan output hasil produksi berarti lulusan/ keluaran(Alumni).

2.5.5. Tahapan-tahapan dalam Proses Penjaminan Mutu

Untuk memahami proses penjaminan Mutu secara Komprehensif berikut akan diuraikan tahapan-tahapan dalam proses Penjaminan Mutu. Penjaminan mutu lembaga pendidikan dijalankan melalui tahap-tahap yang dirangkai dalam suatu proses sebagai berikut :

1. Lembaga pendidikan menetapkan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan.

2. Penjabaran setiap visi menjadi serangkaian standar mutu.

3. Standar mutu dirumuskan dan ditetapkan dengan meramu visi lembaga pendidikan (secara deduktif) dan kebutuhan stakeholders (secara induktif). Sebagai standar, rumusannya harus spesidik dan terukur yaitu mengandung unsur ABCD (Audience, Behavior, Competence, Degree).

(40)

5. lembaga pendidikan melaksanakan penjaminan mutu dengan menerapkan manajemen kendali mutu.

6. lembaga pendidikan mengevaluasi dan merevisi standar mutu melalui benchmarking secara berkelanjutan.

2.5.6. Manajemen Kendali Mutu

Penjaminan mutu pendidikan dapat diselenggarakan melalui pelbagai model manajemen kendali mutu. Salah satu model manajemen yang dapat digunakan adalah model PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang akan menghasilkan pengembangan berkelanjutan (continuous improvement) dan atau kaizen mutu pendidikan. Kaizen dalam bahasa Jepang berarti “perbaikan secara terus menerus”. Jadi fungsi manajemen kendali mutu dalam pendidikan adalah untuk mengendalikan mutu pendidikan agar senantiasa berkembang ke arah yang lebih baik.

2.5.7. Strategi Penjaminan Mutu

Strategi penjaminan mutu pendidikan di Indonesia adalah:

1. Direktorat Jenderal Pendidikan, Depdiknas menetapkan Pedoman Penjaminan Mutu pendidikan.

2. lembaga pendidikan menggalang komitmen untuk menjalankan penjaminan mutu pendidikan yang diselenggarakannya

3. lembaga pendidikan memilih dan menetapkan sendiri standar mutu pendidikan yang diselenggarakannya.

(41)

5. lembaga pendidikan melakukan benchmarking mutu pendidikan secara berkelanjutan, baik ke dalam maupun ke luar negeri.

2.5.8. Strategi Menciptakan Lembaga Pendidikan Yang Memiliki Superior Performance

Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa pengembangan ilmu yang diberikan suatu lembaga pendidikan harus sesuai dengan tuntutan bisnis yang berkembang saat ini, sehingga apa yang diajarkan serta lulusan dari lembaga pendidikan tersebut dapat direspon oleh perusahaan

2.5.9. Pelaksanaan Penjaminan Mutu

Agar penjaminan mutu pendidikan di lembaga pendidikan dapat dilaksanakan, maka terdapat beberapa prasyarat yang harus dipenuhi agar pelaksanaan penjaminan mutu tersebut dapat mencapai tujuannya. Prasyarat tersebut mencakup:

1. Komitmen

Para pelaku proses pendidikan tinggi di suatu, baik yang memimpin maupun yang dipimpin, lembaga pendidikan harus memiliki komitmen yang tinggi untuk senantiasa menjamin dan meningkatkan mutu pendidikan yang diselenggarakannya. Tanpa komitmen ini di semua lini organisasi suatu, niscaya penjaminan mutu pendidikan di lembaga pendidikan tersebut akan berjalan tersendat, bahkan mungkin tidak akan berhasil dijalankan.

2. Perubahan Paradigma

(42)

pengawasan dan atau pengendalian yang ketat oleh pemerintah (Depdiknas). Hal ini harus diubah menjadi suatu paradigma baru. Yakni bahwasannya lembaga pendidikan harus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi yang diselenggarakannya meskipun pemerintah tidak melakukan pengawasan. 3. Sikap Mental

Harus diakui bahwa sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesia menyelenggarakan pendidikan tanpa didahului dengan perencanaan yang matang. Kalaupun terdapat perencanaan, pada umumnya bukanlah karena kebutuhan, melainkan karena persyaratan perijinan dan atau akreditasi. Sikap mental semacam itu harus diubah pada suatu sikap mental baru, yaitu rencanakanlah pekerjaan anda dan kerjakanlah rencana anda (plan your work and work your plan).

4. Pengorganisasian

Referensi

Dokumen terkait

Berikut ini adalah beberapa penyebab paling penting dari penambahan paragraf penjelasan dalam laporan audit wajar tanpa pengecualian : tidak ada konsistensi, keraguan

Dalam pembelajaran berbahasa Indonesia, kita mengenal empat keterampilan berbahasa yakni mendengarkan, berbicara, menyimak, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut

Berdasarkan hasil wawancara tanggal 15 Mei – 7 Juni 2018 dengan guru mata pelajaran ekonomi SMKS Panca Bhakti Sungai Raya, menyatakan bahwa “S elalu semangat

Pejabat Pengadaan Barang / Jasa Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten

Pejabat Pengadaan Barang / Jasa Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten

YAYASAN PENDIDIKAN BHINA TUNAS BHAKTI PATI SMK BHINA TUNAS BHAKTI JUWANA.. SBI (Sekolah

Dikarenakan letak Indonesia yang rawan akan bencana inilah, mengisyaratkan kepada kita harus selalu untuk bersiap menghadapi gempa. Mengingat dampak yang luar biasa dari gempa bumi

dibatasi oleh prosedur hukum positif. Model DPM tidak mensyaratkan penegak hukum dengan integritas tinggi, karena dalam model DPM ini meyakini penagak hukum adalah