TUGAS AKHIR INDIVIDU MBP EROPA TAHUN AJARAN 2015/2016
NAMA : WIWIT TRI RAHAYU
NIM : 071311233082
Keterlibatan Uni Eropa dalam Perjanjian Lingkungan Internasional sebagai Upaya Penanganan terhadap Isu Lingkungan
Asbtract
Environment becomes an important part in human life today and the future. Environment must be considered on an ongoing basis. Environmental issues had just considered in depth from the late 1970s, when many environmental cases becoming a threat to a country. Environmental issues possesed on government of European countries at around 1980s, after previously tended to ignore the interests of environmental issues. European countries that joined the European Union even later became the pioneer on environmental issues. European Union’s participation on environmental issues then considered for a lot of reasons. These reasons make environmental issues play a role in the new policies created by the European Union. European’s environmental issues include poluted air, water crisis, climate change, and also acid rain. European Union tried to solve these problems by creating Environmental Action Programme (EAP), GMOs restriction, and others. The European Union assessed using environmental issues to get its interests through regulations associated with environmental safety. In fact, the European Union policies on environmental issues were once considered contrary to world trade rules.
Abstrak
Lingkungan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia saat ini hingga nanti.
Lingkungan menjadi hal yang harus diperhatikan secara berkelanjutan. Isu lingkungan sendiri
kasus-kasus lingkungan yang menjadi ancaman tersendiri bagi suatu negara. Isu lingkungan baru
berhasil menarik perhatian pemerintah negara-negara Eropa pada sekitar 1980-an, setelah
sebelumnya cenderung mengabaikan kepentingan terkait isu lingkungan. Negara-negara di
Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa bahkan kemudian menjadi negara-negara pelopor
dalam isu-isu lingkungan yang ada. Ketergabungan Uni Eropa dalam isu-isu lingkungan
dianggap memiliki banyak latar belakang. Latar belakang inilah yang membuat isu-isu
lingkungan turut berperan dalam berbagai kebijakan baru yang diciptakan oleh Uni Eropa. Isu
lingkungan yang ada di Eropa antara lain adalah polusi udara, krisis air, hujan asam, dan juga
perubahan iklim. Uni Eropa melakukan banyak upaya penanganan terhadap isu tersebut dengan
membuat Environtmental Action Programme (EAP), restriksi GMOs, dan sebagainya. Uni Eropa
dinilai menggunakan isu-isu lingkungan untuk memenuhi kepentingannya melalui
peraturan-peraturan yang dikaitkan dengan keamanan lingkungan. Bahkan, kebijakan Uni Eropa terkait
isu lingkungan pernah dianggap bertentangan dengan peraturan dagang dunia.
Pendahuluan
leader dalam isu lingkungan internasional. Hal ini menunjukkan bahwa Uni Eropa turut aktif berperan dalam penanganan isu lingkungan baik dalam skala nasional ataupun internasional. Dalam penjelasan kali ini penulis akan membahas keterlibatan Uni Eropa dalam isu lingkungan global sebagai upaya dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan yang dihadapi.
Pembahasan
Alasan Uni Eropa dalam menyuarakan isu-isu politik dapat dikatakan merupakan upaya Uni Eropa untuk menggabungkan politik domestiknya dan juga persaingan dalam peraturan internasional. Hal ini dikarenakan politik domestik Uni Eropa menuntut agar diciptakannya regulasi dan standar khusus dalam persaingan internasional, terlebih di bidang lingkungan. Penciptaan regulasi ini dimaksudkan agar Uni Eropa mampu menjadi pelopor dalam peraturan internasional sehinga kepentingan akan lebih mudah dicapai. Selain itu, aktifnya Uni Eropa dalam isu lingkungan juga secara tidak langsung akan mengindikasikan eksistensi dalam melindungi Uni Eropa dari berbagai tantangan terkait. Jacoby dan Meunier (2010, dalam Kelemen, 2010: 336) berpendapat bahwa Uni Eropa menangani isu lingkungan juga sebagai upaya untuk merespon globalisasi yang ada. Upaya ini dilakukan melalui dua strategi utama yaitu exercising regulatory influence dan empowering international institutions. Globalisasi dianggap setidaknya memiliki dua ancaman tersendiri bagi setiap negara. Pertama adalah liberalisasi perdagangan yang akan mendorong negara-negara Eropa untuk menurunkan standar atau race to the bottom agar dapat bersaing. Ancaman selanjutnya adalah adanya lembaga-lembaga internasional yang turut mempromosikan liberalisasi ekonomi. Sehingga untuk menolak adanya race to the bottom, maka Uni Eropa mencoba untuk meningkatkan dan memperketat standar lingkungan.
ahli konstruktivis yang mengatakan bahwa Uni Eropa melakukan ini semua karena dikonstruksikan oleh rezim lingkungan global, bukan karena pengaruh politik domestik. Ahli lain dalam sebuah literatur mencoba melihat dari kebijakan luar negeri Uni Eropa. Pendapat ini menyatakan bahwa kepemimpinan Uni Eropa dalam pemerintahan lingkungan global memiliki tujuan untuk menunjukkan identitasnya sebagai civilian power. Uni Eropa ingin menunjukkan kemampuannya untuk menjadi civilian power di bidang-bidang tertentu seperti lingkungan, demokrasi, perdagangan, hak asasi manusia. Hal ini dikarenakan Uni Eropa tidak begitu mampu menjadi leader di bidang militer dan keamanan (Kelemen, 2010: 378).
Kesempatan Uni Eropa untuk menunjukkan dirinya sebagai civilian power dimulai pada sekitar tahun 1970-an hingga 1990-an ketika diberi wewenang untuk mewakili anggotanya dalam negosiasi lingkungan internasional. Hal ini kemudian juga dibuktikan dengan komitmen Uni Eropa untuk membentuk Environmental Action Programme (EAP) pada tahun 1973 yang masih berlangsung hingga sekarang. Uni Eropa juga menunjukkan peran aktifnya dalam Rio Summit yang diadakan pada tahun 1992 dan terus konsisten untuk memimpin dalam multilateral Environment Agreements (MEAs). Namun jika ditelusuri lebih jauh lagi, kemunculan Uni Eropa sebagai pelopor dalam isu lingkungan tidak terlepas dari peran aktivis lingkungan atau yang disebut dengan environmentalist. Aktivis ini muncul di Eropa pada tahun 1970-an dengan membawa kasus seperti forest death akibat hujan asam pada awal tahun 1980-an, bencana nuklir Chernobyl tahun 1986, ditemukannya lubang pada lapisan ozon, serta skandal berkaitan dengan pengiriman sampah-sampah beracun yang meningkatkan isu lingkungan antarnegara. Kemunculan aktivis lingkungan turut menggeser opini publik hingga akhirnya muncul Green party yang berhasil ikut dalam proses pemilihan. Barulah kemudian pada tahun 1990-an Uni Eropa mulai mencoba untuk menyebarkan standar lingkungannya (Kelemen, 2010: 341).
Isu Lingkungan di Eropa
lingkungan dapat pula muncul akibat proses alamiah yang kemudian mengakibatkan suatu dampak buruk terhadap lingkungan. Beberapa permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh negara-negara di Eropa antara lain adalah perubahan iklim, polusi udara, krisis air, dan juga hujan asam.
Perubahan Iklim
Perubahan iklim merupakan permasalahan lingkungan yang sedang dihadapi oleh banyak negara dunia, tidak terkecuali dengan negara-negara yang ada di Eropa. Perubahan iklim sendiri dapat diartikan atau diketahui dengan melihat pada perubahan pola penyebaran cuaca atau musim yang tidak seperti biasanya. Perubahan iklim sendiri dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti pemanasan global. Pemanasan global sendiri memiliki banyak penyebab, seperti pembakaran hutan, penggunaan energi yang berlebihan, serta aktivitas pembakaran lainnya. Pemanasan global yang ditandai dengan meningkatnya suhu bumi ini dapat menyebabkan peningkatan emisi gas (Confartigianato, t.t: 37). Perubahan iklim di Eropa sendiri telah menyebabkan banyak perubahan. Penyebaran curah hujan di Eropa terlihat mulai tidak merata, lapisan es di Greenland juga mulai mencair. Perubahan iklim telah membawa banyak dampak bagi lingkungan Eropa. Banyak spesies hidup seperti hewan dan tumbuhan yang mulai mati karena tidak cocok dengan suhu yang ada sekarang. Penurunan jumlah spesies tersebut secara tidak langsung juga turut berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari manusia (European Environment Agency, 2015).
regulasi yang sama. Dalam rangka mereduksi emisi karbon, Uni Eropa kemudian menerapkan adanya carbon tax terhitung sejak 1990 dan meminta negara-negara anggota untuk melakukan hal yang sama hingga diadakannya Rio Earth Summit tahun 1992. Namun banyak negara yang kemudian menolak hingga akhirnya Komisi pun menghilangkan aturan tersebut.
Kegagalan tersebut akhirnya membawa Uni Eropa untuk ikut dalam Kyoto Protocol tahun 1995 dan 1997. Pada tahun ini, terbukti bahwa sejak tahun 1990 pertumbuhan ekonomi di Eropa melambat karena adanya reduksi karbon jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Dengan adanya Protokol Kyoto, Amerika Serikat kemudian diharuskan untuk mengurangi karbon sebanyak 30% 35%, sedangkan Uni Eropa hanya dituntut untuk mengurangi 15% -20%. Beberapa ahli kemudian menilai bahwa ketergabungan Uni Eropa dalam negosiasi perubahan iklim merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan efektivitas persaingan dengan membawa isu lingkungan. Karena melalui negosiasi seperti inilah Uni Eropa secara tidak langsung dapat memaksa negara pesaing untuk turut melakukan hal yang sama dengan yang telah dilakukan, seperti peningkatan pajak energi. Namun yang perlu untuk digarisbawahi dalam hal ini adalah bahwa ketergabungan Uni Eropa dengan Protokol Kyoto merupakan upaya dalam memenuhi tuntutan dari politik domestik untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Uni Eropa juga dianggap berhasil menggunakan kerangka yang telah disusun dalam Protokol Kyoto dan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCC) untuk menarik developing countries bergabung melawan perubahan iklim dengan menggunakan standar dan tekhnologi yang diterapkan oleh Uni Eropa (Kelemen, 2010: 345)
Polusi Udara
asap di daerah London pada waktu tertentu. Kabut asap merupakan reaksi antara sinar matahari dengan gas-gas polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor ataupun pabrik. Kabut asap terparah tercatat pada tahun 1952 ketika banyak manusia yang mengalami sakit pernafasan hingga korban jiwa (Nakate, 2011).
Hujan Asam
Sebagaimana diketahui bahwa hujan asam merupakan fenomena hujan dengan kadar keasaman air di bawah 5,6 pH. Hujan asam dapat terjadi ketika tingkat polusi udara terlalu tinggi, khususnya gas sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Reaksi keduanya ini kemudian akan membentuk sulfat dan asam nitrat di atmosfer, sehingga ketika hujan turun kadar keasaman air dari langit akan berubah (Putatunda, 2012). Hujan asam bukanlah fenomena baru di negara-negara anggota Uni Eropa. Hujan asam di wilayah Eropa terjadi akibat banyaknya pabrik industri yang beroperasi, terlebih sejak adanya revolusi industri. Revolusi industri meningkatkan kadar polusi udara secara signifikan di wilayah Eropa. Pada tahun 1980-an, beberapa negara di wilayah Eropa seperti Jerman, Austria, dan Yunani telah mengalami hujan asam dengan total kerusakan mencapai 25% di hutan (Nakate, 2011).
Krisis Air
Upaya Penanganan Isu Lingkungan
Uni Eropa berusaha untuk menangani permasalahan lingkungan di negara-negara anggota dan juga non-anggota melalui berbagai perjanjian dan program. Di antaranya adalah Environmental Action Programme (EAP) yang dimulai sejak tahun 1973, restriksi GMOs, dan juga Greening World Trade.
Environmental Action Programme (EAP)
EAP pertama (1973-1977) tertuju pada persoalan polusi, yaitu terkait sumber penyebab dan dampaknya terhadap air, udara, tanah dengan mengusung prinsip “who pollutes pays”. Prinsip ini dijalankan dengan memberikan hukuman terhadap negara-negara yang menghasilkan polusi melebihi batas yang disepakati. Negara tersebut harus bertanggung jawab atas dampak negatif yang ditimbulkan. EAP pertama cenderung memiliki fokus terhadap pengelolaan air untuk menghindari krisis air (Confatigianato, t.t: 7). Pada EAP kedua (1977-1981) isu lingkungan yang dibahas oleh negara-negara Uni Eropa mengalami perkembangan dengan bahasan mengenai perlindungan lingkungan secara menyeluruh. EAP juga mulai mensosialisasikan kriteria air dan udara yang berkualitas. Selain itu, EAP juga menetapkan standar dan kualitas air yang layak dijadikan sebagai air minum untuk menghindari munculnya masalah kesehatan (Hey, t.t: 19). EAP ketiga (1982-1986) memiliki fokus terhadap kebijakan mengenai pencegahan kerusakan lingkungan (Confatigianato, t.t: 8). Kebijakan lingkungan dibentuk dengan tetap mempertimbangkan aspek keuntungan dan kerugian terhadap pasar internal. EAP ketiga memiliki fokus untuk menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan tetap memperhatikan lingkungan (Hey, t.t: 20). EAP keempat (1987-1992) disebut-sebut sebagai turning point dalam kebijakan lingkungan di kawasan Eropa. EAP keempat juga fokus dalam mengharmonisasikan antara kepentingan ekonomi dan proteksi lingkungan (Hey, t.t: 20). Perbedaan antara EAP ketiga dan keempat adalah skala penerapannya yang mulai terintegrasi dalam skala regional. Sejak EAP keempat dijalankan dengan mulai mempertimbangkan istilah sustainable development.
Amsterdam Treaty pada tahun 1977. Perjanjian ini berisi kesepakatan Uni Eropa untuk mengintegrasikan kembali negara-negara anggotanya dalam hal pembuatan kebijakan lingkungan. Fokus EAP keenam adalah integrasi antarnegara dan pembangunan berkelanjutan. EAP keenam juga mulai melibatkan pihak luar dengan mengundang NGO yang fokus terhadap lingkungan. EAP ketujuh (2013-2020) memiliki fokus yang lebih luas dari pada EAP sebelum-sebelumnya. Focus tersebut didedikasikan untuk mengatasi masalah iklim dan energi, penggunaan sumber daya, mendorong para pelaku industri untuk bisa menghasilkan produk dengan cara yang efisien, bersifat lebih tahan lama, mudah diperbaiki dan didaur ulang.
Kasus GMOs
Pada tahun 1990-an, Uni Eropa turut menyuarakan kesehatan, keamanan koonsumen, dan perhatian terhadap lingkungan di Eropa dengan mengeluarkan rezim regulasi yang dinilai paling ketat di dunia terkait otorisasi dan pelabelan genetically modified organism (GMOs) atau transgenik. Uni Eropa kemudian mengenalkan peraturan umum baru terkait dengan eksperimental rilis, pemasaran, pelabelan, dan tracing GMOs pada sekiar tahun 2001 dan 2003. Pemunculan regulasi baru ini didasarkan pada Precautionary Principle yang mengharuskan para pembuat kebijakan untuk bertindak membatasi produk yang membahayakan. Rezim ini dihadapkan dengan serangan hukum karena dianggap sebagai unjustified trade barrier. Amerika Serikat sebagai produsen dan eksportir utama GMOs menganggap regulasi Uni Eropa terkait GMOs bukanlah regulasi yang adil dan merugikan bagi Amerika Serikat (Kelemen, 2010: 342).
tidak dapat dianggap sebagai sebuah hambatan dalam perdagangan. Meskipun demikian, Amerika Serikat yang merasa dirugikan kemudian mengajak Kanada dan Argentina untuk melaporkan kepada World Trade Organiztion (WTO) bahwa moratorium aturan Uni Eropa terhadap GMOs pada rentang tahun 1999 dan 2003 telah melanggar aturan perdagangan dunia. Pada tahun 2004, Uni Eropa mengangkat moratorium dengan mulai melakukan perubahan dan evaluasi terhadap restriksi GMOs, salah satunya adalah memperbolehkan genetically modified foodstuffs atau bahan makanan yang dimodifikasi secara genetik. WTO baru mengeluarkan keputusan pada tahun 2006 dengan menyatakan bahwa moratorium Uni Eropa tahun 1999 dan 2003 adalah ilegal. Meskipun Uni Eropa akhirnya menerima pernyataan tersebut, namun ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak akan merubah sistem baru regulasi GMOs yang telah ada sejak tahun 2004 yang juga didasarkan pada evaluasi ilmiah (Kelemen, 2010: 343).
Greening World Trade
Usaha Uni Eropa dalam menangani akibat yang ditimbulkan oleh adanya globalisasi terhadap peraturan terkait lingkungan telah dibuktikan dengan menjalankan dua strategi dasar. Pertama dengan mencoba untuk globalize standar lingkungan yang diciptakan melalui MEAs, seperti yang dilakukan dalam Protokol Cartagena dan Protokol Kyoto. Kedua, dengan menyebarkan perdagangan internasional yang bersifat “green”. Uni Eropa menunjukkan komitmennya terhadap isu lingkungan di bawah MEAs dengan mengubah beberapa aturan perdagangan internasionalnya. Akibatnya, tidak jarang Uni Eropa mengalami konflik terkait dengan aturan perdagangan bebas dan kebijakan lingkungan. Namun Artikel XX dalam GATT telah menyebutkan bahwa ada pengecualian umum dalam perdagangan bebas yang memungkinkan penandatangan untuk melakukan restriksi dengan alasan lingkungan. Selama Putaran Uruguay, Amerika Serikat dan Uni Eropa telah menuntut adanya aturan tambahan yang menjelaskan hak negara untuk menjaga peraturan domestiknya terkait lingkungan. Hal ini kemudian menghasilkan Agreements on Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS) dan Technical Barriers to Trade (TBT) (Kelemen, 2010: 345).
perdagangan terhadap hewan yang membahayakan dan Protokol Montreal melarang import CFCs dari non-parties. Uni Eropa kemudian mencoba membahas ini pada Putaran Doha dengan menuntut adanya perubahan aturan yang mencakup aturan dalam MEAs.
Kesimpulan dan Opini
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa Uni Eropa memiliki ketertarikan dalam menyuarakan isu lingkungan dengan berbagai latar belakang. Para ahli memberikan berbagai argumen terkait alasan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Uni Eropa mengikuti berbagai macam MEAs karena ada dorongan fungsionalis, yaitu kebutuhan penyelesaian isu lingkungan yang membutuhkan kerjasama antarnegara. Selain itu ada pengaruh dari politik domestik dan persaingan internasional. Ada juga yang berpendapat bahwa ketergabungan Uni Eropa dalam menangani kasus lingkungan merupakan hasil dari konstruksi rezim lingkungan dunia. Uni Eropa juga mencoba untuk menjadi leader dalam berbagai perjanjian lingkungan internasional. Hal ini ditujukan agar Uni Eropa mendapatkan banyak legitimasi untuk menjadi civilian power. Isu lingkungan yang muncul di wilayah Eropa di antaranya adalah krisis air, hujan asam, polusi udara, dan perubahan iklim. Upaya Uni Eropa dalam menangani kasus tersbut diantaranya adalah dengan mengadakan EAP, restriksi GMOs, Greening World Trade, dan sebagainya.
Referensi
Confartigianato. t.t. EU Environmental Issues and Policies Guidelines. [pdf]
European Commission. 2012. Environment: Water Scarcity & Droughts in the European Union. [online] Tersedia dalam: http://ec.europa.eu/environment/water/quantity/ about.htm
[diakses pad 3 Januari 2016].
European Union. 2002. A European Strategy for Sustainable Development. EU Commission Office: Official Publications of The European Communities. Luxemburg
Hey, Christian. t.t. “EU Environmental Policies: A Short History of the Policy Strategies”, dalam Scheuer Stefan, EU Environmental Policy Handbook: A Critical Analysis of EU Environmental Legislation. European Environmental Bureau (EEB).
Kelemen, R. Daniel. 2010. “Globalizing European Union Environmental Policy”, dalam Journal of European Public Policy [pdf]. Routledge: Taylor & Francis Group.
Nakate, Shashank. 2011. Environmental Issues in Europe. [online] Tersedia dalam:
http://www.buzzle.com/articles/environmental-issues-in-europe.html [diakses pada 2 Januari 2016].
Nigel, Haigh. 1996. Climate Change Policies and the Politics in the European Community. Routledge: London. pp. 159-64.
Peycheva, Darina et al. 2014. Attitudes Towards Environmental Issues: Empirical Evidence in Europe and the United States. [pdf] Transworld Working Paper.
Putatunda, Rita. 2012. Causes and Effects of Acid Rain. [online] Tersedia dalam: