Uni Eropa
Disusun untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester
Kelas Kapita Selekta Kawasan 2015
Dosen Pengampu:
NANANG PAMUJI MUGASEJATI, Dr., MAHARANI HAPSARI, , M.A., Ph.D.
Disusun Oleh:
Rakyan Rachman Bimoseno
14/367518/SP/26412
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Signifikansi Rencana Referendum 2017 Terhadap Masa Depan Inggris dan
Uni Eropa
Masa depan Inggris dan Uni Eropa sepertinya akan memanas. Dengan terpilihnya kembali Perdana Menteri David Cameron dalam pemilu 2015, sebuah referendum yang merupakan janji kampanyenya akan segera dilakukan paling tidak sebelum atau ketika 2017. Referendum ini akan membahas mengenai keanggotaan Inggris di Uni Eropa apakah akan tetap bergabung ataukah keluar. Sebuah referendum yang hampir sama dengan yang pernah terjadi pada 1975. Dalam hal ini Inggris menuntut untuk terjadinya perubahan dalam regulasi Uni Eropa atau Inggris akan keluar dari keanggotaannya. Uni Eropa sendiri merupakan organisasi yang dibentuk pada 1952 dengan diawali dengan terbentuknya Komunitas Perdagangan Batu Bara dan Baja Eropa (ECSC). Tujuan dibentuknya sendiri adalah pada awalnya untuk mencegah terjadinya kembali perang antar negara Eropa yang dalam beberapa dekade terakhir kerap kali terjadi. Dengan semakin berkembangnya jaman, jumlah anggota dan isu yang dibahas di dalam Uni Eropa semakin banyak dan meluas. Integrasi ekonomi perdagangan yang merupakan tujuan awal terbentuknya organisasi ini kemudian semakin berkembang juga karah politik, keamanan, sosial budaya dan sektor-sektor lain. Integrasi memang telah membawa negara-negara di Uni Eropa ke masa perdamaian dan kemakmuran dimana belum pernah terjadi sebelumnya. Tetapi dibalik perkembangannya, kerja sama di Uni Eropa tampaknya jauh lebih sulit daripada ketika anggotanya masih enam negara awal. Kesulitan tersebut juga terkait perihal ketegasan Uni Eropa dalam mengikat dan mengatur anggotanya. Memang kewenangan sebuah organisasi internasional terhadap negara anggotanya terbatas karena aktor utama dalam hubungan internasional adalah negara yang berdaulat[ CITATION Luc99 \l 1057 ]. Namun tetap saja sebagai sebuah organisasi internasional yang memiliki kewenangan terbatas, Uni Eropa tidak bisa memaksa sebuah negara berdaulat untuk tetap tergabung sebagai anggota organisasinya.
negara akan berpikir berulang kali untuk keluar dari Uni Eropa. Namun seiring dengan kesuksesan Uni Eropa untuk mengintegrasikan politik maupun ekonomi negara di kawasannya, muncul juga kekhawatiran bahwa ke depannya Uni Eropa akan memiliki kekuasaan di atas kedaulatan negara anggotanya[ CITATION Pho09 \l 1057 ]. Sebuah negara berdaulat juga dapat dengan bebas untuk menentukan nasibnya sendiri di dalam lingkungan internasional[ CITATION Mac93 \l 1057 ].
Inggris sebagai negara dengan pengaruh yang besar di dunia internasional, pernah mencoba untuk melepaskan diri dari European Economic Community yang sekarang menjadi Uni Eropa pada 1975. Pada masa itu Inggris di bawah Pemerintahan Partai Buruh merasa bahwa perdagangan bebas akan membawa dampak negatif bagi pasar dalam negeri Inggris. Selain itu pemerintah juga menganggap bahwa Perdana Menteri Edward Heath tidak konsisten dengan perkataannya setelah menyetujui aksesi Inggris ke dalam EEC pada pada tanggal 22 Januari 1972 tanpa adanya referendum. Sebelumya, Heath ketika pemilu 1970 memang pernah menyatakan bahwa integrasi Eropa tidak akan terjadi secara lanjut, kecuali dibarengi dengan persetujuan sepenuh hati dari Parlemen dan rakyat negara-negara anggota baru yang akan bergabung[ CITATION Teo00 \l 1057 ]. Sejak saat itulah banyak terjadi perdebatan mengenai apakah sebenarnya Inggris secara sukarela bergabung dengan Uni Eropa atau hanya memanfaatkan Uni Eropa untuk memenuhi kepentingannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan negara-negara anggota lainnya. Perdana Menteri Inggris David Cameron sendiri pernah berjanji, jika terpilih lagi dalam pemilu 2015 ia akan mereformasi Uni Eropa dan melaksanakan referendum di Inggris untuk memutuskan apakah negara itu tetap ikut atau keluar dari Uni Eropa.
Pengunduran Diri Negara Anggota dari Uni Eropa
Parlemen Eropa, akan menyimpulkan perjanjian pengunduran diri tersebut atas nama Uni Eropa. Negara anggota yang telah menarik diri dari Uni Eropa tidak akan terikat lagi dengan perjanjian-perjanjian Uni Eropa dari tanggal yang ditetapkan dalam perjanjian pengunduran diri. Namun apabila perjanjian pengunduran diri tersebut gagal disepakati, maka ketidakterikatan dengan perjanjian-perjanjian Uni Eropa akan berlaku ketika dua tahun setelah pemberitahuan dari niatnya untuk mundur. Seorang mantan Negara Anggota yang ingin bergabung kembali dengan Uni Eropa harus mengikuti prosedur penerimaan yang sama dengan negara kandidat baru.
Hal ini tentu saja menjadi sebuah revolusi terhadap hukum di Uni Eropa. Sebelum Perjanjian Lisbon berlaku, telah terjadi pengusulan untuk peraturan serupa dalam rancangan Konstitusi Eropa. Namun Konstitusi Eropa tersebut urung terjadi karena Belanda dan Prancis secara referendum menolak untuk meratifikasinya. Dengan gagalnya ratifikasi Konstitusi Eropa tersebut, regulasi mengenai mekanisme negara untuk keluar dari Uni Eropa kemudian dimasukkan ke dalam Perjanjian Lisbon. Berhasil diterapkannya Perjanjian Lisbon sampai sekarang seakan menunjukkan lampu hijau bagi beberapa negara Euroskeptis untuk mengundurkan diri dari Uni Eropa. Perlu diketahui juga bahwa sebelum Perjanjian Lisbon, menarik diri secara sepihak dari Uni Eropa atau dari EMU merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Satu-satunya cara bagi mereka untuk melakukannya secara legal adalah melalui suatu perjanjian yang dinegosiasikan dengan seluruh negara anggota Uni Eropa. Sebuah kesepakatan tentu akan melibatkan perubahan-perubahan dalam perjanjian dan memerlukan konsensus dari negara anggota lainnya, sesuai dengan Pasal 48 TEU (Treaty of European Union). Hal ini tentu saja menimbulkan beberapa spekulasi mengenai bagaimana kelangsungan negara tersebut di Uni Eropa. Bisa saja apabila sebuah negara memperlihatkan niat untuk keluar dari Uni Eropa, ada negara lain yang mendukung keputusan tersebut. Namun dikarenakan proses yang harus dilalui secara hukum adalah negosiasi yang berujung dengan konsensus antar negara anggota lainnya, maka dipastikan negara tersebut tidak akan bisa keluar dari Uni Eropa secara sukarela[ CITATION Pho09 \l 1057 ]. Hal ini tentu sangat berbeda dengan prosedur yang ada di dalam Perjanjian Lisbon dimana Dewan Eropa akan menggunakan cara qualified majority voting untuk menentukan apakah negara tersebut masih layak bergabung dengan Uni Eropa atau tidak.
sebuah negara anggota dapat keluar secara sepihak dari Uni Eropa. Inggris dan Denmark merupakan contoh kasus dalam hal pengunduran diri secara sukarela dari Uni Eropa. Walaupun di akhir kasus keduanya, tidak ada perjanjian baru yang menyatakan bahwa mereka telah secara resmi meninggalkan Uni Eropa. Tetapi tetap saja kedua negara diberikan status keanggotaan khusus di dalam Uni Eropa. Bahkan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, yang baru saja terpilih kembali berencana mengadakan referendum mengenai apakah Inggris akan keluar atau tetap berada di Uni Eropa pada 2017. Kondisi David Cameron ini memang hampir mirip dengan kondisi Perdana Menteri Harold Wilson pada 1975 silam. Pada saat itu Harold Wilson yang merupakan pemimpin Partai Buruh menjanjikan akan diadakannya referendum yang membahas kembali posisi Inggris di dalam EEC. Referendum ini memang merupakan sebuah manifesto dari Partai Buruh pada pemilu 1974 untuk menegosiasi ulang keanggotaan Inggris di EEC[ CITATION Har74 \l 1057 ]. Di dalam detail kasusnya, Inggris pada 5 Juni tahun 1975 pernah mengadakan referendum mengenai bagaimana keanggotaannya dalam European Economic Communities yang sekarang telah berubah menjadi Uni Eropa. Di dalam referendum ini rakyat Inggris memilih negaranya tetap berada di dalam EEC dengan persentase suara 2 berbanding 1. Perbedaan mendasar dengan referendum yang akan dilakukan sekarang adalah mayoritas Euroskeptis pada 1975 berasal dari Sayap Kiri pimpinan Tony Benn. Banyak pengamat menyatakan bahwa kemenangan voting ‘ya’ pada referendum 1975 telah berhasil menurunkan pamor Euroskeptisme Sayap Kiri maupun xenofobia [CITATION GYE13 \l 1057 ]. Pada 2009, Perdana Menteri David Cameron pernah menegaskan bahwa Inggris tidak akan lagi membiarkan adanya transfer kekuasaan ke Uni Eropa tanpa adanya referendum dari rakyat Inggris sendiri. Niatannya bersama Pemerintah Konservatif untuk melakukan referendum terhadap Perjanjian Lisbon juga tidak dapat terlaksana setelah Presiden Republik Ceko, Václav Klaus, meratifikasi perjanjian ini[ CITATION Nic09 \l 1057 ].
kasus Inggris memang dianggap menyumbangkan lebih banyak daripada apa yang diterima selama bergabung dengan Uni Eropa. Analisis makro-media yang dilakukan media Inggris menunjukkan bahwa rakyat Inggris yang membayar pajak sedangkan pemanfaatannya ditujukan untuk menggaji pekerja migran yang datang ke Inggris ketika bergabung dengan Uni Eropa[ CITATION Sun15 \l 1057 ]. Berbeda dengan keanggotaan Euro, sebuah negara berdaulat memang dapat keluar sepihak secara legal dari Uni Eropa sesuai dengan pasal 50 di Perjanjian Lisbon. Perdana Menteri Cameron akan bertemu dengan para pemimpin Italia, Luksemburg, Slovenia dan Slovakia untuk berbicara dengan semua negara anggota menjelang KTT Uni Eropa pada akhir bulan, di mana tuntutan Inggris akan dibahas[ CITATION Hop15 \l 1057 ].
Efek Domestik Keluarnya Inggris dari Uni Eropa
Pada tahun 1985 Greenland memang meninggalkan Uni Eropa dengan menyisakan Perjanjian Greenland, tapi karena hanya mengekspor ikan, efek yang dirasakan tidak begitu terasa. Lain halnya dengan Inggris, efek yang ditimbulkan untuk meninggalkan Uni Eropa akan sangat besar. Menurut laporan Sunday Business Post, setidaknya keluarnya Inggris akan menimbulkan dua efek yang sangat signifikan[ CITATION Sun15 \l 1057 ]. Yang pertama adalah waktu yang harus dinegosiasikan. Jika referendum pada 2017 menghasilkan keputusan bahwa Inggris akan keluar dari Uni Eropa, mungkin secara hukum Inggris baru akan keluar pada 2018, 2019, atau bahkan baru pada 2020. Sebuah masa dimana ketidakpastian struktur hukum dan ekonomi akan dialami ketika proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa sedang berlangsung. Contoh konkretnya adalah dalam hal pengambilan statistik ataupun mengenai undang-undang stabilitas pangan. Permasalahan hukum juga masih bisa terjadi ketika perputaran langsung barang dan jasa serta orang-orang akan berakhir setelah Inggris bukan lagi anggota organisasi. Tentu saja hal ini akan mengakhiri prinsip kemandirian dimana negara tidak memberikan bantuan kepada perusahaan. Alhasil perusahaan milik negara dan swasta akan terlibat dalam persaingan yang timpang.
sendiri akan kesulitan untuk pergi ke Irlandia Utara, lebih sulit untuk bekerja di London, sulit untuk berinvestasi di Inggris dan juga lebih sulit untuk memiliki investor Inggris yang berinvestasi di Irlandia.
Terlepas dari kedua masalah tersebut, masih banyak sektor bermasalah lain yang akan timbul ketika Inggris keluar dari Uni Eropa. Masalah-masalah ini sendiri akan dapat terselesaikan apabila terdapat perjanjian bilateral atau menjadi diberikan status kerja sama khusus. Namun tentu saja pergerakan barang, modal dan tenaga kerja tidak akan sebebas dan terbuka sebelumnya. Masalah substansial manajemen sangat mungkin bisa terjadi. Bahkan negara tetangga Inggris juga akan mengalami dampak yang besar. Apalagi bila menyangkut dengan isu pekerja migran. Empat negara teratas yang warganya bekerja ke Inggris adalah India, Polandia, Pakistan, dan Irlandia. Warga negara Irlandia sendiri terdapat lebih dari 5 persen dari jumlah seluruh migran yang datang ke Inggris dalam rentang 1995-2013. Untuk warga Inggris yang tinggal dan bekerja di negara Uni Eropa lainnya,akan mengalami perubahan drastis dalam kehidupannya terutama dalam hal perpajakan.
Perpecahan dalam parlemen juga menjadi salah satu permasalahan yang akan dihadapi Inggris bila tetap ingin referendum dilakukan. Perdana Menteri David Cameron sampai sekarang saja telah mendapat berbagai tantangan. Bahkan dari dalam parlemennya sendiri. Anggota Partai Konservatif Euroskeptis tidak setuju dengan langkah Perdana Menteri David Cameron untuk mengajak kerja sama pemberontak Partai Tory dengan memberikan beberapa ‘jaminan kredibel’[ CITATION Hop15 \l 1057 ]. Mereka beranggapan bahwa mereka sudah mendapatkan jumlah mayoritas di parlemen sehingga langkah yang dilakukan Perdana Menteri David Cameron merupakan langkah yang tidak perlu dilakukan. Memang dalam hal referendum ini posisi pemerintah berada di bagian anti-Uni Eropa atau Euroskeptis bersama dengan Partai Buruh dan Partai Tory.
Pengaruh Keluarnya Inggris terhadap Dunia Internasional
Eropa bisa menghancurkan kerja sama kedua negara yang sudah dimulai sejak tahun 1950-an. Pemimpim Partai Demokrat Liberal, Nick Clegg, menyatakan bahwa Uni Eropa memberikan pekerjaan bagi rakyat Inggris karena memberikan akses ke pasar dimana terdapat 500 juta konsumen. Keanggotaan Inggris juga akan menarik perusahaan asing untuk menjadi bagian dari pasar Inggris [ CITATION Kat15 \l 1057 ].
Bila Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa, maka Inggris akan tidak lagi terikat dengan kerja sama-kerja sama di Eropa. Hal ini juga dapat berarti penurunan kekuatan Inggris dalam segi pengaruh regional dan global di berbagai isu penting. Dan jika rakyat Inggris mengatakan 'tidak' dan rakyat Skotlandia berkata 'ya', maka dapat dipastikan akan menjadi sinyal kuat untuk referendum kemerdekaan yang terbaru di Skotlandia. Skenario lain yang mungkin terjadi adalah apabila Wales, Irlandia Utara dan Skotlandia memvoting ‘ya’, maka hal ini dapat mendorong mayoritas voting yang cenderung ‘tidak’ di Inggris menuju kearah ‘ya’. Hal tersebut akan memicu perbedaan dan perpecahan besar di dalam konstitusi yang telah terbentuk[CITATION Smo15 \l 1057 ].
Kesimpulan
Meninggalkan Uni Eropa sebuah ide yang buruk bagi Inggris. Berbagai ketidakstabilan ekonomi, politik, maupun hukum yang akan dihadapi ketika dalam proses keluar dari Uni Eropa memiliki kemungkinan besar untuk memberikan dampak yang sangat panjang. Apalagi bila hal tersebut terjadi ketika era globalisasi. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan menimbulkan beberapa undang-undang dan hukum harus disesuaikan kembali. Hal yang begitu menjadi kekhawatiran utama tentu saja undang-undang mengenai isu imigran dan perdagangan, dua hal yang efeknya akan sangat terlihat dalam waktu yang dekat. Bisa saja Inggris akan menerapkan kebijakan imigran yang lebih ketat untuk masuk ke Inggris. Tapi tentu akan sangat rumit untuk meregulasi mereka yang sudah tinggal dan bekerja lama di Inggris. Efek yang ditimbulkan bagi negara sekitar seperti Irlandia juga akan sangat kental terasa. Tidak akan ada lagi perputaran modal, barang dan jasa yang bebas. Kemungkinan untuk terjadinya resesi di Inggris karena tidak ada lagi lahan konsumen yang melimpah seperti saat masih tergabung dengan Uni Eropa juga turut menghantui. Kemungkinan untuk berpisahnya Skotlandia juga kembali mencuat kembali seiring dengan referendum yang akan dilakukan pada 2017.
memungkinkan untuk bersaing dengan tiga kekuatan besar yang sedang berkembang, yaitu India, Cina, dan tentu saja Amerika Serikat.
Bibliography
Allen, K., Oltermann, P., Borger, J., & Neslen, A. (2015, Mei 14). The Guardian. Retrieved Juni 16, 2015, from Brexit – what would happen if Britain left the EU?:
http://www.theguardian.com/politics/2015/may/14/brexit-what-would-happen-if-britain-left-eu-european-union-referendum-uk
Athanassiou, P. (2009). WITHDRAWAL AND EXPULSION FROM THE EU AND EMU: SOME REFLECTIONS. LEGAL WORKING PAPER SERIE, 5.
Blagoev, B. (2010 ). Expulsion of a Member State from the EU after Lisbon: Political threat or legal reality? Master thesis International and European Public Law Specialisation European Law .
Deutsche Welle. (2014, Januari 16). Deutsche Welle. Retrieved Juni 16, 2015, from Inggris Ancam Keluar dari Uni Eropa: http://www.dw.de/inggris-ancam-keluar-dari-uni-eropa/a-17366030
Gye, H. (2013, Januari 23). An embattled Prime Minister facing down his own party over Europe: How Cameron's referendum promise turns back the clock to 1975 when Brits were last given a voice on the EU. Retrieved Juni 16, 2015, from Mail Online:
http://www.dailymail.co.uk/news/article-2266844/EU-referendum-How-PMs-promise-turns-clock-1975-Brits-given-voice-EU.html
Hope, C., & Riley-Smith, B. (2015, Juni 15). Fifty Conservative MPs to challenge David Cameron over 'rigged' EU referendum rules. Retrieved from The Telegraph: http://www.telegraph.co.uk/news/newstopics/eureferendum/11674174/Fifty- Conservative-MPs-to-challenge-David-Cameron-over-rigged-EU-referendum-rules.html
Hughes, K. (2015, Mei 15). Smoke and mirrors over 'brexit': Key questions on the path to the EU referendum. Retrieved from OpenDemocracy:
Lucas, M. R. (1999). Nationalism, Sovereignty, and Supranational Organizations. Heft 114, 7-10.
MacCormick, N. (1993). Beyond the Sovereign State. 56 Modern Law Review , 1.
Magliveras, K. D. (1999). Exclusion from Participation in International Organisations: The Law and Practice behind Member States' Expulsion and Suspension of Membership.
Boston: Kluwer Law International.
Sunday Business Post. (2015, Mei 17). Retrieved Juni 16, 2015, from Eurozone crisis : We can only expect the worst from a british exit:
http://search.proquest.com/docview/1681473550?accountid=13771.
Teodorczuk, T. (2000, Oktober 1). Ultimate Vindication: The Spectator and Europe 1966-79.
Retrieved Juni 16, 2015, from The Bruges Group:
http://www.brugesgroup.com/mediacentre/index.live?article=108
Watt, N., & Wintour, P. (2009, November 3). The Guardian. Retrieved Juni 16, 2015, from David Cameron to shed 'cast iron' pledge on Lisbon treaty:
http://www.theguardian.com/world/2009/nov/03/david-cameron-lisbon-treaty-referendum