SISTEM DUNIA DAN
KOLONIALISME
Disusun Oleh :
1. Ahmad Idham Aziz
2. Cahyani
3. Hanifan Fissilmi
4. Khadafi Fajirin
5. Yoriesta Afnenda Ramizal
Universitas Al Azhar Indonesia
Program Studi Ilmu Hubungan
SISTEM DUNIA DAN
KOLONIALISME
Disusun Oleh :
1. Ahmad Idham Aziz
2. Cahyani
3. Hanifan Fissilmi
4. Khadafi Fajirin
5. Yoriesta Afnenda Ramizal
Universitas Al Azhar Indonesia
Program Studi Ilmu Hubungan
Internasional
T.A. 2013/2014
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
Halaman Judul...i
Kata Pengantar...ii
Daftar Isi...iii
Bab I (Pendahuluan)...1
1.1.Latar Belakang Masalah...1
1.2. Rumusan Masalah...1
1.3. Tujuan...1
Bab II (Isi)...2
2.1. Sejarah Sistem Dunia...2-5 2.2. Revolusi Industri dan Kolonialisme...6-13 2.3. Neoliberalisme...13-15 2.4. Sistem Dunia Saat Ini...15-24 Bab III (Kesimpulan)...25
Daftar Pustaka...26
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Dalam mengurus dunia ini, seringkali kita temui banyak sistem di dalamnya. Sistem yang ingin kita pakai tentu sistem yang menguntungkan bagi kita. Namun, seringkali sistem dijadikan sebagai salah satu senjata untuk memenuhi kebutuhan kita tanpa memikirkan kerugian yang dialami oleh orang lain. Sistem ini terus berkembang dan menjadi salah satu budaya yang turun temurun. Kolonialisme adalah bentuk penjajahan terhadap bangsa lain, guna memperoleh keuntungan bagi kehidupan bangsanya sendiri. Namun, dilain sisi dapat merugikan bangsa lain. Inilah yang menjadi salah satu permasalahan, dimana orang-orang yang mengalami penjajahan mengalami suatu penindasan. Itulah yang terjadi pada zaman dahulu, tapi bagaimana dengan zaman sekarang. Apakah kolonialisme sudah tidak dilakukan lagi atau masih merajalela dengan wujud yang lain.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah sistem dunia?
2. Bagaimana revolusi industri dan kolonialisme?
3. Apa yang dimaksud dengan neoliberalisme?
4. Bagaimana sistem dunia saat ini?
1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sejarah sistem dunia guna menjadi pembelajaran untuk masa kini dan masa depan
2. Untuk memahami revolusi industri dan kolonialisme
3. Untuk memahami neoliberalisme
Bab 2
2.1. Sejarah Sistem Dunia
Sistem dunia mengacu pada pembagian antar regional dan transnasional tenaga kerja yang membagi dunia ke dalam negara-negara inti, negara-negara semi pinggiran, dan negara-negara pinggiran. Negara-negara inti fokus pada keterampilan yang lebih tinggi, produksi padat modal, dan seluruh dunia berfokus pada low-skill, produksi dan ekstraksi bahan baku padat karya. Ini terus memperkuat dominasi negara-negara inti. Meskipun demikian, sistem yang dinamis sebagian sebagai akibat dari revolusi dalam teknologi transportasi, dan masing-masing negara dapat memperoleh atau kehilangan inti (semi-pinggiran / pinggiran) Status dari waktu ke waktu. Untuk sementara waktu, beberapa negara menjadi hegemon dunia. Selama beberapa abad terakhir, sebagai sistem dunia telah diperpanjang geografis dan intensif ekonomi, status ini telah lulus dari Belanda, ke Inggris dan yang paling baru-baru ini, ke Amerika Serikat.
Immanuel Wallerstein telah mengembangkan versi paling terkenal dari analisis sistem dunia. Dimulai pada tahun 1970. Wallerstein menelusuri munculnya ekonomi kapitalis dunia dari abad ke-16 (1450-1640) dan munculnya kapitalisme. Dalam pandangan Wallerstein adalah kontingen (tidak terhindarkan) hasil dari krisis yang berlarut-larut feodalisme (1290-1450). Eropa Barat dimanfaatkan keuntungan dan memperoleh kontrol atas sebagian besar dunia ekonomi, memimpin pengembangan dan penyebaran industrialisasi dan ekonomi kapitalis, secara tidak langsung mengakibatkan pembangunan tidak merata.
Proyek Wallerstein sering disalahpahami sebagai “teori” sistem dunia. Sebuah istilah yang ia tolak secara konsisten. Untuk Wallerstein, analisis sistem dunia adalah di atas semua mode analisis yang bertujuan untuk mengatasi struktur pengetahuan yang diwarisi dari abad ke-19. Ini termasuk khususnya perpecahan dalam ilmu-ilmu sosial, dan di antara ilmu-ilmu sosial dan sejarah.
Untuk Wallerstein, maka analisis sistem dunia adalah "gerakan pengetahuan" yang berusaha untuk membedakan "totalitas apa yang telah diarak di bawah label dari ilmu manusia dan memang jauh melampaui". Kita harus menciptakan bahasa baru, Wallerstein menegaskan, untuk mengatasi ilusi tiga arena seharusnya khas masyarakat / ekonomi / politik. Struktur trinitas ini pengetahuan didasarkan pada yang lain, bahkan lebih megah, arsitektur modernis. Pemindah tanganan dunia biofisik (termasuk dalam tubuh) dari orang-orang sosial. Apakah kita akan dapat membenarkan sesuatu yang disebut ilmu sosial di abad kedua puluh satu sebagai suatu bidang pengetahuan yang terpisah?
Wariasan Pemikiran
Perspektif yang dirumuskan Wallerstain lahir dengan cara mengambil intisari dan menyerap pola pikir dari dua tradisi pemikiran yang terdahulu ada, yakni pola pikir pembangunan negara dunia ketiga neo marxis dan ajaran Annales Perancis. Perumusan teori Wallerstain mengambil berbagai konsep yang dimiliki oleh teori dependensi seperti ketimpangan nilai tukar, eksploitasi negara pinggiran oleh negara central dan konsep pasar dunia.
Ajaran Annales lahir sebagai proses melawan kenyataan bahwa spesialisasi yang berlebihan dalam disiplin ilmu sosial yang ada pada dunia akademik konvensional. Ajaran annals mengembangkan berbagai ajaran sebagai berikut :
1. Braudel mencoba mengembangkan apa yang disebut “ketololan sejarah dan sejarah Global”. Sejarah hendaknya membahas apa yang diamati sebagai suatu peristiwa yang tidak lepas dan selalu terkaitdalambeberapa konteks totalitas kekuatan sosial.
2. Perlu melakukan sintesis anatara sejarah dan ilmu sosial melalui analisa yang mendasarkan diri pada kecenderungan jangka panjang.
3. Keharusan untuk melakukan perubahan orientasi kajian dalam sejarah dari model periode kesejarahan menuju analisa kesejarahan denganm orientasi permasalahan.
Metodelogi
Bagi Wallerstain, perspektif system dunia bukan merupakan teori, tetapi sebuah proses melawan kecendrungan terbentuknya struktur pemahaman dan pengkajian ilmu sosial sejak dari lahirnya pada pertengahan abad ke 19.
1. Pembagian disiplin dalam Ilmu Sosial.
Pembagian disiplin ini meliputi Antropologi, ilmu politik, sosiologi, ekonomi, geografi, psikologi, dan sejarah.
2. Sejarah dan Ilmu Sosial
3. Masyarakat atau Sistem sejarah
Kajian ilmu sosial tradisional menganggap bahwa manusia akan selalu terorganisir dalam suatu kesatuan yang disebut masyarakat yang didalamnya terdiri dariberbagai kerangka kerja yang di dalamnya manusia hidup dalam kehidupannya.
4. Batasan kapitalisme.
Ilmu sosial memberikan batasan tentang kapitalisme sebagai system yang mendasarkan diri pada persaingan bebas, persaingan antara produsen bebas, untuk menggunakan tenaga kerja dan juga tidak terikat untuk menghasilkan produk yang dikehendaki. Bebas dengan kata lain mengandung pengertian ada dan tersedianya penjualan dan pembelian di pasar.
5. Gerak Maju
Ilmu sosial tradisional memperlakukan sejarah manusia sebagai suatu gerakan maju dan sebagai suatu perubahan yang tidakmungkin dihindari. Namun demikian Warrlerstain berkeinginan untuk menghilangkan anggapan bahwa gerak maju sebagai lintasan yang pasti dilalui dan dicapai, dan memperlakukan sejarah sejarah manusia memiliki baerbagai kemungkinan.
Negara Semi Pinggiran
Kritikan terhadap dwi kutub melahirkan konsep tri kutub. Hal ini disebabkan karena ada banyak negara yang tidak termasuk negara pinggiran dan juga tidak termasuk pada negara sentral, sehingga muncul lah negara yang semi pinggiran.
Ada dua alasan utama mengapa ekonomi kapitalis dunia memerlukan kategori semi pinggiran. Pertama, polarisasi system dunia hanya dua kutub yang hanya sangat sedikit yang memiliki status tinggi dan harus berhadapan sangat banyak yang memiliki status rendah sehingga dengan mudah menyebabkan disintegrasi system dunia, sehingga diperlukan kategori menengah. Kedua, untuk membentuk iklim dan daerah ekonomi baru yang diperlukan pemilikmodal untuk memindahkan modal-modalnya dari tempat yang tidak lagi efisien ketempat yang dapat memberikan laba optimum. Tempat baru inilah yang disebut sebagai negara semi pinggiran.
Ada dua karakteristik negara semi pinggiran, pertama negara tersebut memiliki posisi tawar menawar perdagangan yang berbeda dengan yang dimiliki oleh negara pinggiran.
Kedua negara semi pinggiran memiliki kepentingan langsung untuk mengatur dan mengawasi pertumbuhan pasar dalam negeri.
Dari Pinggiran ke Semi Penggiran
Ilmuan Sosial mengkaji masalah pembangunan khusunya pembangunan negara Dunia Ketiga berminat untuk menetahui proses dan factor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan posisi suatu negara dari negara pinggiran ke negara semi pinggiran. Jawabannya terletak pada berhasil tidaknya negara pinggiran melaksanakan salah satu atau kombinasi dari tiga alternatif pembangunan yang berupa strategi menangkap dan memanfaatkan kesempatan, strategi promosi dengan undangan, atau strategi berdiri di kaki sendiri.
Dari Semi Pinggiran ke Sentral
Kunci utama untuk menjebol batas semi pinggiran dan bergerak maju menduduki posisi sentral terletak pada kemampuan negara semi pinggiran untuk menciptakan dan menyediakan luas pasar yang dipandang cukup besar untuk melegitimasikan secara rasional penggunaan teknologi maju dan karena itu negara semi pinggiran memiliki kemampuan menghasilkan barang dengan harga yang lebih murah dari harga sebelumnya yang terdapat pada pasar dunia.
Negara Sosialis Semi Pinggiran
Wallerstain mengatakan adanya kepemilikan negara dalam suatu sistem ekonomi dunia tidak berarti adanya ekonomi sosialis. Kepemilikan negara bukanlah sosialis melainkan bentuk baru dari merkantilismeklasik. Menurutnya Pemerintahan sosialis jika kemudian hari muncul maka tidak seperti Uni Soviet, Cina atau Chili. Produksi diperlukan berdasarkan pertimbangan dan digunakan untuk kebutuhan pemakaian, bukan didasarkan pada pertimbangan mencari laba. Menurut Wallerstain negara sosialis sekarang hanyalah negara semi pinggiran yang berusaha untuk mencapai posisi negara sentral dalam system ekonomi dunia.
Implikasi Kebijaksanaan
Kedua, cita-cita pembangunan nasional yang telah mampu diwujudkan oleh sedikit negara berakibat pada perubahan radikal dan global terhadap lokasi produksi dunia dan lebih dari itu perwujudan cita-cita pembangunan nasional tersebut terjadi atas beban biaya yang harus ditanggung oleh bagian dunia lain yang tidak berhasil melakukan hal serupa.
Perspektif Dependensi dan System Dunia
Pada awal perumusannya, perspektif sistem dunia banyak mengambil dan menggunakan konsep dan kategori teori yang dikembangkan oleh teori dependensi, sehingga banyak ilmuan sosial yang memberlakukan kedua perspektif tersebut secara tidak berbeda, namun ketika perspektif system dunia berkembang lebih jauh, ilmuan sosial mulai menyadari dan melihat perbedaan yang ada diantara kedua perspektif pembangunan tersebut.
Pertama, unit analisa yang digunakan dalam perspektif sistem dunia adalah sistem dunia itu sendiri, tidak seperti teori dependensi yang memfokuskan analisanya pada tingkat nasional. Perspektif sistem dunia menganjurkan dengan tegas bahwa dunia ini harus dijadikan unit analisa dalam ilmu sosial. Wallerstein berpendapat bahwa setiap penjelasan sejarah harus beranjak dari sudut pandang sistem dunia, dan setiap peristiwa sejarah hendaknya dijelaskan dengan menganalisa akibat-akibatnya bagi sistem dunia secara total dan bagian-bagiannya.
2.2. Revolusi Industri dan Kolonialisme
Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, pertambangan, teknologi, dan lain-lain serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Inggris dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia.
Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia, hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia meningkat lebih dari enam kali lipat.
Seperti yang dinyatakan oleh pemenang Hadiah Nobel, Robert Emerson Lucas, bahwa: "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya".1
Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18, dimana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis manufaktur. Seperti yang terjadi juga pada tahun 1924 dimana Stalin berencana mengindustrialisasikan Uni Soviet dan kolektivitasnya, akan tetapi mayoritas petani menolak kebijakan ini.2 Periode awal dimulai dengan dilakukannya mekanisame terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan dibangunnya terusan perbaikan jalan raya dan rel kereta api.3 Adanya peralihan dari perekonomian yang berbasis pertanian ke perekonomian yang berbasis manufaktur menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk besar-besaran dari desa ke kota, dan pada akhirnya menyebabkan membengkaknya populasi di kota-kota besar di Inggris.
Istilah "Revolusi Industri" diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Faktor yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri adalah terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei serta adanya pengembangan riset dan penelitian dengan pendirian lembaga riset seperti The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science. Adapula faktor dari dalam seperti ketahanan politik dalam negeri, perkembangan kegiatan wiraswasta, jajahan Inggris yang luas dan kaya akan sumber daya alam.
Sebab-sebab timbulnya Revolusi Industri
Revolusi Industri untuk kali pertamanya muncul di Inggris. Adapun faktor-faktornya yang menyebabkannya adalah sebagai berikut:
1. Situasi politik yang stabil. Adanya Revolusi Agung tahun 1688 yang mengharuskan raja bersumpah setia kepada Bill of Right sehingga raja tunduk kepada undang-undang dan hanya menarik pajak berdasarkan atas persejutuan parlemen.
1 Lucas, Robert E., Jr. 2002. Lectures on Economic Growth. Cambridge: Harvard University Press.
2 Zazuli Mohammad. 60 Tokoh Dunia Sepanjang Masa. (Jakarta: Narasi, 2009).
2. Inggris kaya bahan tambang, seperti batu bara, biji besi, timah, dan kaolin. Di samping itu, wol juga yang sangat menunjang industri tekstil.
3. Adanya penemuan baru di bidang teknologi yang dapat mempermudah cara kerja dan meningkatkan hasil produksi, misalnya alat-alat pemintal, mesin tenun, mesin uap, dan sebagainya.
4. Kemakmuran Inggris akibat majunya pelayaran dan perdagangan sehingga dapat menyediakan modal yang besar untuk bidang usaha. Di samping itu, di Inggris juga tersedia bahan mentah yang cukup karena Inggris mempunyai banyak daerah jajahan yang menghasilkan bahan mentah tersebut.
5. Pemerintah memberikan perlindungan hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten) sehingga mendorong kegiatan penelitian ilmiah. Lebih-lebih setelah dibentuknya lembaga ilmiah Royal Society for Improving Natural Knowledge maka perkembangan teknologi dan industri bertambah maju.
6. Arus urbanisasi yang besar akibat Revolusi Agraria di pedesaan mendorong pemerintah Inggris untuk membuka industri yang lebih banyak agar dapat menampung mereka.
Tahap Perkembangan Industri
Pada akhir abad Pertengahan kota-kota di Eropa berkembang sebagai pusat kerajinan dan perdagangan. Warga kota (kaum Borjuis) yang merupakan warga berjiwa bebas menjadi tulang punggung perekonomian kota. Mereka bersaing secara bebas untuk kemajuan dalam perekonomian. Pertumbuhan kerajinan menjadi industri melalui beberapa tahapan, seperti berikut.
1. Sistem Domestik:
Tahap ini dapat disebut sebagai tahap kerajinan rumah (home industri). Para pekerja bekerja di rumah masing-masing dengan alat yang mereka miliki sendiri. Bahkan, kerajinan diperoleh dari pengusaha yang setelah selesai dikerjakan disetorkan kepadanya. Upah diperoleh berdasarkan jumlah barang yang dikerjakan. Dengan cara kerja yang demikian, majikan yang memiliki usaha hanya membayar tenaga kerja atas dasar prestasi atau hasil. Para majikan tidak direpotkan soal tempat kerja dan gaji.
2. Manufaktur:
kerja didirikan dan biasanya berada di bagian belakang rumah majikan. Rumah bagian tengah untuk tempat tinggal dan bagian depan sebagai toko untuk menjual produknya. Hubungan majikan dengan pekerja (buruh) lebih akrab karena tempat kerjanya jadi satu dan jumlah buruhnya masih sedikit. Barang-barang yang dibuat kadang-kadang juga masih berdasarkan pesanan.
8
3. Sistem pabrik:
Tahap sistem pabrik sudah merupakan industri yang menggunakan mesin. Tempatnya di daerah industri yang telah ditentukan, bisa di dalam atau di luar kota. Tempat tersebut untuk untuk tempat kerja, sedangkan majikan tinggal di tempat lain. Demikian juga toko tempat pemasaran hasil industri diadakah di tempat lain. Jumlah tenaganya kerjanya (buruhnya) sudah puluhan, bahkan ratusan. Barang-barang produksinya dibuat untuk dipasarkan.
Akibat Revolusi Industri
Revolusi Industri mengubah Inggris menjadi negara industri yang maju dan modern. Di Inggris muncul pusat-pusat industri, seperti Lancashire,
Manchester, Liverpool, dan Birmingham. Seperti halnya revolusi yang lain, Revolusi Industri juga membawa akibat yang lebih luas dalam bidang ekonomi, sosial dan politik, baik di negeri Inggris sendiri maupun di negara-negara lain.
I.) Akibat di bidang ekonomi :
1. Barang melimpah dan harga murah
Revolusi Industri telah menimbulkan peningkatan usaha industri dan pabrik secara besar-besaran melalui proses mekanisasi. Dengan demikian, dalam waktu singkat dapat menghasilkan barang-barang yang melimpah. Produksi barang menjadi berlipat ganda sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Akibat pembuatan barang menjadi cepat, mudah, serta dalam jumlah yang banyak sehingga harga menjadi lebih murah.
2. Perusahaan kecil gulung tikar
Dengan penggunaan mesin-mesin maka biaya produksi menjadi relatif kecil sehingga harga barang-barang pun relatif lebih murah. Hal ini membawa akibat perusahaan tradisional terancam dan gulung tikar karena tidak mampu bersaing.
3. Perdagangan makin berkembang
Adanya penemuan di berbagai sarana dan prasarana transportasi yang makin sempurna dan lancar. Dengan demikian, dinamika kehidupan masyarakat makin meningkat.
9
II.) Akibat di bidang sosial :
1. Berkembangnya urbanisasi
Berkembangnya industrialisasi telah memunculkan kota-kota dan pusat-pusat keramaian yang baru. Karena kota dengan kegiatan industrinya menjanjikan kehidupan yang lebih layak maka banyak petani desa pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini mengakibatkan terabaikannya usaha kegiatan pertanian.
2. Upah buruh rendah
Akibat makin meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri maka jumlah tenaga kerja makin melimpah. Sementara itu, pabrik-pabrik banyak yang menggunakan tenaga mesin. Dengan demikian, upah tenaga kerja menjadi murah. Selain itu, jaminan sosial pun berkurang sehingga kehidupan mereka menjadi susah. Bahkan para pengusaha banyak memilih tenaga buruh wanita dan anak-anak yang upahnya lebih murah.
3. Munculnya golongan pengusaha dan golongan buruh
Di dalam kegiatan industrialisasi dikenal adanya kelompok pekerja (buruh) dan kelompok pengusaha (majikan) yang memiliki industri atau pabrik. Dengan demikian, dalam masyarakat timbul golongan baru, yakni golongan pengusaha (kaum kapitalis) yang hidup penuh kemewahan dan golongan buruh yang hidup dalam kemiskinan.
4. Adanya kesenjangan antara majikan dan buruh
Dengan munculnya golongan pengusaha yang hidup mewah di satu pihak, sedangkan di pihak lain adanya golongan buruh yang hidup menderita, menimbulkan kesenjangan antara pengusaha dan buruh. Kondisi seperti ini, sering menimbulkan ketegangan-ketegangan yang diikuti dengan pemogokan kerja untuk menuntut perbaikan nasib. Hal ini menimbulkan kebencian terhadap sistem ekonomi kapitalis, sehingga kaum buruh condong kepada paham sosialis.
5. Munculnya revolusi sosial
adanya perbaikan nasib rakyat dan buruh. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib kaum buruh dan orang miskin. Undang-undang tersebut, antara lain sebagai berikut:
10
1. Tahun 1832 dikeluarkan Reform Bill atau Undang-Undang Pembaharuan Pemilihan. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan hak-hak perwakilan di dalam parlemen.
2. Tahun 1833 dikeluarkan Factory Act atau Undang-Undang Pabrik. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan jaminan sosial. Di samping itu, undang-undang juga berisi larangan pengunaan tenaga kerja anak-anak dan wanita di daerah tambang di bawah tanah.
3. Tahun 1834 dikeluarkan Poor Law Act atau Undang-Undang Fakir Miskin. Oleh karena itu, didirikan pusat-pusat penampungan dan perawatan para fakir miskin sehingga tidak berkeliaran.
4. Makin kuatnya sifat individualisme dan menipisnya rasa solidaritas. Dengan adanya Revolusi Industri sifat individualitas makin kuat karena terpengaruh oleh sistem ekonomi industri yang serba uang. Sebaliknya, makin menipisnya rasa solidaritas dan kekeluargaan.
III.) Akibat di bidang politik :
1. Munculnya gerakan sosialis
Kaum buruh yang diperlakukan tidak adil oleh kaum pengusaha mulai bergerak menyusun kekuatan untuk memperbaiki nasib mereka. Mereka kemudian membentuk organisasi yang lazim disebut gerakan sosialis. Gerakan sosialis dimotivasi oleh pemikiran Thomas Marus yang menulis buku Otopia. Tokoh yang paling populer di dalam pemikiran dan penggerak paham sosialis adalah Karl Marx dengan bukunya Das Kapital.
2. Munculnya partai politik
Kaum pengusaha/kapitalis umumnya mempunyai pengaruh yang kuat dalam pemerintahan untuk melakukan imperialisme demi kelangsungan industrialisasinya. Dengan demikian, lahirlah imperialisme modern, yaitu perluasan daerah-daerah sebagai tempat pemasaran hasil industri, mencari bahan mentah, penanaman modal yang surplus, dan tempat mendapatkan tenaga buruh yang murah. Dalam hal ini, Inggris yang menjadi pelopornya.
11
Kolonialisme
Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.
Pendukung dari kolonialisme berpendapat bahwa hukum kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi. Mereka menunjuk ke bekas koloni seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Hong Kong dan Singapura sebagai contoh sukses pasca-kolonialisme.
Peneori ketergantungan seperti Andre Gunder Frank, berpendapat bahwa kolonialisme sebenarnya menuju ke pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke daerah pengkolonisasi, dan menghambat kesuksesan pengembangan ekonomi.
Pengkritik post-kolonialisme seperti Franz Fanon berpendapat bahwa kolonialisme merusak politik, psikologi, dan moral negara terkolonisasi.Penulis dan politikus India Arundhati Roy berkata bahwa perdebatan antara pro dan kontra dari kolonialisme/ imperialisme adalah seperti "mendebatkan pro dan kontra pemerkosaan". Lihat juga neokolonialisme sebagai kelanjutan dari dominasi dan eksploitasi dari negara yang sama dengan cara yang berbeda (dan sering kali dengan tujuan yang sama).
Definisi
penyelesaian Eropa dan kontrol politik atas seluruh dunia, termasuk Amerika, Australia, dan sebagian Afrika dan Asia." Ini membahas perbedaan antara kolonialisme dan imperialisme dan menyatakan bahwa "mengingat kesulitan konsisten membedakan antara dua istilah, entri ini akan menggunakan kolonialisme sebagai suatu konsep umum yang mengacu pada proyek dominasi politik Eropa dari keenam belas hingga abad kedua puluh yang berakhir dengan gerakan-gerakan pembebasan nasional dari tahun 1960-an ".
12
Dalam pengantarnya untuk Jürgen Osterhammel yang Kolonialisme: Sebuah Tinjauan Teoritis, Roger Tignor mengatakan, "Untuk Osterhammel, esensi kolonialisme adalah adanya koloni, yang secara definisi diatur berbeda dari wilayah lain seperti protektorat atau bola informal pengaruh." Dalam buku tersebut, Osterhammel bertanya, "Bagaimana bisa 'kolonialisme' didefinisikan secara independen dari 'koloni?'" Ia menempel pada definisi tiga-kalimat: Kolonialisme adalah hubungan antara mayoritas (atau paksa diimpor) adat dan minoritas penyerbu asing. Keputusan fundamental yang mempengaruhi kehidupan masyarakat terjajah yang dibuat dan dilaksanakan oleh penguasa kolonial demi kepentingan yang sering didefinisikan dalam sebuah metropolis yang jauh. Menolak kompromi budaya dengan penduduk terjajah, penjajah yakin superioritas mereka sendiri dan mandat mereka dihabiskan untuk memerintah.
2.3. Neoliberalisme
Neoliberalisme adalah sebuah pola pemikiran politik (ideologi) barat yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi diatas segala-gala nya.neoliberalisme sebagai perwujudan baru paham liberalisme yang berarti Neo ‘baru’ dapat dikatakan telah menguasai sistem perekonomian dunia.
Dalam pemikiran neoliberal, peraturan-peraturan ekonomi harus menguasai sector-sektor yang lain, bukan sebaliknya. Apa saja yang menghalangi perkembangan sektor ekonomi harus dihilangkan termasuk peraturan-peraturan dan undang-undang pemerintah. Akibatnya, Negara terhambat dalam menjamin kesejahteraan rakyat, kesehatan, kedaulatan nasional dan melestarikan lingkungan hidup jika dianggap bahwa kebijakan-kebijakan itu terhambat pertumbuhan ekonomi.
Dari hambatan inilah para penganut neoliberalisme merasa tidak efisien nya ekonomi karena masyarakat tidak dapat mengambil keuntungan dari produktivitas Negara lain. Mereka merasa bahwa pihak yang paling menguntungkan adalah produsen dan pemerintah. Produsen mendapatkan proteksi dari hambatan perdagangan, sementara pemerintah mendapatkan penghasilan dari bea-bea. Namun ada beberapa argumentasi yang menyatakan bahwa adanya
13
hambatan perdagangan antara lain untuk perlindungan terhadap industry dan tenaga kerja lokal. Alasannya untuk melindungi konsumen dari produk-produk yang dirasa tidak patut dikonsumsi.
Pokok-pokok pemikiran neoliberialisme:
- Kekuasaan pasar
Membebaskan usaha “bebas “ atau usaha swasta dari ikatan apapun yang diterapkan pemerintah (negara) tak peduli seberapa besar kerusakan social yang diakibatkanya. Menurunkan upah dengan cara melucuti buruh dari serikat buruhnya dan menghapuskan hak-hak buruh yang telah dimenangkan dalam bertahun-tahun lamanya. Tidak ada lagi kontrol harga. Secara keseluruhan, kebebasan total bagi pergerakan kapital, barang dan jasa.
- Memangkas pembelanjaan publik untuk layanan sosial seperti pendidikan dan layanan kesehatan. Mengurangi jaringan pengamanan bagi kaum miskin, dan bahkan biaya perawatan jalanan, atau pertolongan pada masyarakat dengan mengurangi peran pemerintah. Tentunya, mereka tidak menentang subsidi dan kuntungan pajak bagi bisnis besar.
- Deregulasi
Mengurangi regulasi pemerintah terhadapa segala hal yang dapat menekan profit, termasuk perlindungan lingkungan hidup dan keamanan tempat kerja.
Dampak neoliberalisme
Contohnya pada pola kasus upah pekerja, dalam pemahaman neoliberalisme pemerintah tidak berhak ikut campur dalam penentuan gaji pekerja atau masalah pekerja semua menjadi tanggungan pengusaha/pemilik modal. Dalam hal ini, para pekerja tidak mendapatkan perlindungan dari negara untuk mendapatkan hak-hak nya. Tentu para pekerja menjadi sangat lemah posisi nya ketika pengusaha memberikan upah yang tidak layak dan menerima dengan terpaksa karena takut dipecat jika pekerja menolak. Dan jelas para pekerja menjadi tidak berdaya karena tidak adanya perlindungan dari negara.
14
Salah satu dampak positive dari neoliberalisme adalah pelaksanaan privatisasi yaitu pemindahan kepemilikan perusahaan sektor publik ke sektor swasta. Privatisasi ini menimbulkan banyak manfaat bagi perusahaan diantaranya, perusahaan akan banyak memperoleh tambahan modal untuk pengembangan usaha dan perusahaan lebih diawasi sehingga kinerjanya akan lebih bagus.
2.4. Sistem Dunia Saat Ini
Latar Belakang Muncul Sistem Dunia Modernisasi
Sejarah politik global kontemporer terkadang sangat minim pengembangannya di dunia akademik, khususnya studi hubungan internasional. Ketika melihat fenomena, teoritisi dan praktisi cenderung melihat unsur-unsur empiris, variabel-varibel terkini, dan kebijakan-kebijakan semata yang sama sekali melupakan corak dan pola masa lalu atau konteks historis yang melekat pada setiap unit analisis.
Realisme misalnya, lebih tertarik menunjukkan adanya perimbangan kekuasaan yang dianggap dapat mejaga kestabilan interaksi antar-negara. Dengan menekankan penjunjungan tinggi terhadap kedaulatan, Realisme selalu memandang sifat negara yang satu kesatuan (unitary actor) guna menciptakan kedudukan yang sama rata dengan kedaulatan negara lain.
Pandangan ini tidak lain terbentuk kala ketika ide untuk menciptakan suatu pemerintahan dunia ala Wodrow Wilson (LBB), telah gagal menghentikan Perang Dunia II. Ide yang muncul daripara pemikir Realisme dalam hal ini, tidak melihat pola yang lebih besar yang terjadi ratusan tahun sebelumnya. Realisme hadir dalam konteks mengkritik pemikiran utopia,guna menegaskan sifat dunia (yang terdiri dari negara-bangsa) yang anarki. Negara-bangsa,adalah entitas paling tinggi yang tidak dapat disubordinasikan oleh badan manapun.
melekat. Seperti siklus perang-damai sejak The Peloponnesian War yang menjadi tumpuan analisa realisme. Seperti juga siklus campur tangan negara, yang tergambar dalam debat Smithian, Keynesian, danneo-klasikal dalam pemikiran liberal-institusional.
Namun satu hal yang terjadi bahwa teorisasi-teorisasi tersebut enggan mempertanyakan kapitalisme dan sistem negara itu sendiri yang melekat pada tatanan atau sistem dunia.
Dengan merujuk pada teori sistem dunia para ahli menunjukkan bahwa
15
hampir selalu mirip dan bersifat siklis di setiap fenomena global
yang terjadi. Historis yangdimaksud para pemikir ini tentu historis dalam pemaknaan yang sangat luas bahkansebelum tatanan negara-bangsa terbentuk.
Menurut mereka, pembentukkan perilaku negara-bangsa masa kini tidak lepas dari lahirnya kapitalisme dan lahirnya sistem tatanan
negara-bangsa. Dimulai dari konflik, krisis, hingga perang, tidak lain adalah hasil kreasi dua struktur ini. Dan kedua struktur inilah yang kemudian membentuk struktur histori yang sangat berpola.
Permasalahan Sistem Dunia Saat Ini Menurut Para Ahli
Para ahli yang membahas sistem dunia yang terkenal yaitu Immanuel Wallerstein dengan bukunya yang berjudul ‘World System Analysis’ dan ‘The Modern World System’ serta Samir Amin, dalam bukunya ‘Eurocentrism’.
Kedua buku ini akan diulas dengan memulai pada pembahasan sejarah menurut analisa sistem dunia yang terdeskripsi dalam sejarah peralihan feodalisme ke kapitalisme di Eropa pada abad ke-16, yang akan menunjukkan pola krisis. Kemudian pembahasan akan terfokus pada sistem dunia apa yang sebenarnya ada dalam pemikiran Wallerstein dan Amin.
Dengan merujuk pada analisis sistem dunia, Wallerstein berpijak pada gagasan bahwa dunia tidaklah sesederhana tatanan negara-bangsa, dimana kita semua menjadi warga di salah satu teritorinya. Dunia yang ia maksud adalah sesuatu yang lebih besar,yakni dunia sistem, dunia struktur, dan dunia sejarah dimana akan selalu ada pola didalamnya.
Gagasan tentang pola, dan struktur dan sejarah ini tidak lepas dari kritik Wallerstein mengenai pengkotak-kotakan displin ilmu dalam menggapai penjelasan komprehensif fenomena dunia. Wallerstein menganggap pengkotak-kotakan tersebut hanyaakan membuat akademisi tidak bisa melihat dan menjelaskan secara komprehensif struktur kontrol apa yang ada dan menetukan pola fenomena global.
kapital. Dengan mengacu padapemikiran ini, Wallerstein menggabungkannya dengan pemikiran Fernand Braudel mengenai siklus repetitif finansialisasi kapitalisme.
Pola yang inginditunjukkan Wallerstein dengan demikian, adalah pola dimana akumulasi kapital dengancara eksploitatif akan memuncak pada suatu titik kulminasinya. Titik kulminasi tersebutmenurut Wallerstein merupakan titik destruktif yang menjadi bumerang terhadap sistem kapitalisme global.Secara lebih
16
mendetail, sistem ekonomi-politik kapitalisme dengan sendirinya akan kontra terhadap dirinya sendiri (kontradiktif), dan kembali terstimulasi setelah masa kontra tersebut selesai.
Wallerstein dan para pengikut Braudel melihat masa kontra diri kapitalisme tersebut dalam fenomena krisis ekonomi. Krisis ekonomi sejatinya adalah ketikakapitalisme semakin abstrak dalam akumulasi kapitalnya (karena bergerak dalam logikafinansialisasi), dimana nilai riil ekonomi dan komoditi jauh di bawah komoditas virtual(seperti saham dan obligasi). Fenomena ini yang menurut Braudelian akan terus berlanjut selama kapitalisme masih menjadi pucuk sistem ekonomi dunia. Dimana krisis akan terus dipakai dalam upaya merevitalisasi kembali sistem akumulasi kapital tanpa henti.
Munculnya saham tidak lain merupakan upaya mempermudah akumulasi kapitaldengan mengabaikan kondisi nilai riil komoditi yang ada pada saat itu, sehingga dengan mudah pula terjadi transaksi perdagangan. Krisis dimulai ketika tenggat penukaran uang virtual tersebut habis, dan tidak ada komoditi dengan nilai riil yang dapat menggantikan besarnya nilai uang virtual yang notabene ‘abstrak’ tersebut.Dengan kata lain, antara nilai riil dan nilai virtual menjadi penyebab adanya krisis.
Nikolai Kondratiev dan Joseph Schumpeter dengan jelas mengatakan bahwa krisis adalah siklus dan dibutuhkan dalam sistem kapitalisme. Dengan adanya krisis, kapitalisme dapat terus berinovasi (tentu sesuai kebutuhan yang muncul akibat krisis).Perkembangan kapitalisme sedianya tidak bisa dilepaskan dari kelahiran sistem negara-bangsa. Pasca-perjanjian Westphalia yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa. Perjanjian ini setidaknya menghasilkan apa yang disebut tatanan negara-bangsa dimana teritorial batas-kedaulatan dijunjung guna menghindarkan dunia dari perang yang berkepanjang. Dari semangat kedaulatan inilah terjadi begitu banyak revolusi, yang salahsatunya adalah revolusi industri di Inggris dilanjutkan revolusi Perancis.
Bagaimana secara lebih detail kapitalisme dan sistem tatanan negara-bangsa dapatmenjadi Sistem Dunia? Wallerstein dan Amin memilih untuk kembali pada historisasinya yang membawa kajian mereka ke dunia Eropa tepat sesudah masa pencerahan selesai terjadi.
Amin dalam bukunya ‘Eurocentrism’ melihat bahwa modernitas tidak dapat dilepaskan dari proses berpisahnya unsur keagamaan dengan unsur politik, pendidikan,dan sebagainya yang berkenaan dengan pengaturan relasi sosial.
17
Modernitas yang dihasilkan dari proses revolusioner ini bersifat kulural dan menjamah hingga kehidupanmasyarakat. Kapitalisme oleh karenanya, tidak bisa dilepaskan dari proses modernisasi ini.Oleh karena dimensi kultural menjadi argumen utama Amin, Eropa pada saat zaman pencerahan mempunyai semangat untuk membentuk tatanan di luar unsur keagamaan, yang mana menegaskan bahwa manusia otonom dan dapat berdiri sendiritanpa bantuan Tuhan. Dengan ide keotonoman ini, ide untuk mengembalikan kekuasaan kedalam berbagai entitas semakin kuat.
Wallerstein dalam ‘The Modern World System’ , mendeskripsikan Eropa yang pada saat itu mengalami krisis agrikultur dimana hasil panentidak lagi dependensi. Immanuel Wallerstein memandang bahwa dunia adalah sebuah sistem kapitalis yang mencakup seluruh Negara di dunia tanpa kecuali. Sehingga, integrasi yang terjadi lebih banyak dikarenakan pasar (ekonomi) daripada kepentingan politik. Dimana ada dua atau lebih Negara interdependensi yang saling bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan seperti. Juga, terdapat satu atau dua persaingan politik untuk mendominasi yang dilakukan untuk menghindari hanya ada satu Negara sentral yang muncul ke permukaan selamanya.
“a world-system is a social system, one that has boundaries, structures, member groups, rules of legitimating, and coherence. Its life is made up of the conflicting forces which hold it together by tension and tear it apart as each group seeks eternally to remold it to its advantage. It has the characteristics of an organism, in that is has a lifespan over which its characteristics change in some respects and remain stable in others… Life within it is largely self-contained, and the dynamics of its development are largely internal” 4
Menurut Wallerstein, sistem dunia kapitalis dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu negara core atau pusat, semi-periferi atau setengah pinggiran, dan negara
periferi atau pinggiran. Perbedaan bagi ketiga jenis negara ini adalah kekuatan ekonomi dan politik dari masing-masing kelompok. Kelompok negara-negara kuat (pusat) mengambil keuntungan yang paling banyak, karena kelompok ini dapat memanipulasi sistem dunia sampai batas-batas tertentu dengan kekuatan dominasi yang dimilikinya. Kemudian negara setengah pinggiran mengambil keuntungan dari negara-negara pinggiran yang merupakan pihak yang paling dieksploitir.
Penekanan pada teori ini adalah, Negara-negara di dunia bisa naik dan juga bisa turun kelas. Negara pusat bisa saja menjadi Negara semi pinggiran, Negara semi pinggiran bisa menjadi Negara pusat atau Negara pinggiran, dan Negara pinggiran bisa menjadi Negara semi pinggiran. Hal ini terbukti pada Perang Dunia II, Inggris dan Belanda yang sebelumnya menjadi Negara pusat turun kelas digantikan Amerika Serikat pasca kehancuran dahsyat di Eropa.
Wallerstein merumuskan tiga strategi bagi terjadinya proses kenaikan kelas, yaitu:
1. Kenaikan kelas terjadi dengan merebut kesempatan yang datang. Sebagai misal negara pinggiran tidak lagi dapat mengimpor barang-barang industri oleh karena mahal sedangkan komiditi primer mereka murah sekali, maka negara pinggiran mengambil tindakan yang berani untuk melakukan industrialisasi substitusi impor. Dengan ini ada kemungkinan negara dapat naik kelas dari negara pinggiran menjadi negara setengah pinggiran.
2. Kenaikan kelas terjadi melalui undangan. Hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan industri raksasa di negara-negara pusat perlu melakukan ekspansi ke luar dan kemudian lahir apa yang disebut dengan MNC (Multinational
Corporation). Akibat dari perkembangan ini, maka muncullah industri-industri di negara-negara pinggiran yang diundang oleh oleh perusahaan-perusahaan MNC untuk bekerjasama. Melalui proses ini maka posisi negara pinggiran dapat meningkat menjadi setengah pinggiran.
3. Kenaikan kelas terjadi karena negara menjalankan kebijakan untuk
memandirikan negaranya. Sebagai misal saat ini dilakukan oleh Peru dan Chile yang dengan berani melepaskan dirinya dari eksploitasi negara-negara yang lebih maju dengan cara menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing. Namun demikian, semuanya ini tergantung pada kondisi sistem dunia yang ada, apakah pada saat negara tersebut mencoba memandirikan dirinya, peluang dari sistem dunia memang ada. Jika tidak, mungkin dapat saja gagal.
Teori Siklus Panjang (Long Cycle of World Politics)
Menurut George Modelski dalam bukunya Long Cycle of World Politics (1987) peperangan adalah produk alami dari siklus panjang atau yang lebih luas lagi, siklus sistem global. Modelski percaya bahwa masyarakat internasional adalah komunitas anarkis. Sehingga, perang tidak lain adalah keputusan sistemik yang menekankan pergerakan sistem pada interval yang teratur yang merupakan bagian hidup dari pemerintahan global dan tatanan social. Karena politik dunia
19
bukanlah sistem acak, hit or miss, menang atau kalah, tergantung pada keberuntungan atau kekuatan pada kontestan, anarki tidak hanya berperan sampai di situ saja.
Pada kenyataannya, setiap periode di dunia pernah dipegang oleh hanya satu negara berkuasa seperti pada abad ke-16 yang dipegang oleh Bangsa Portugis, abad ke-17 oleh Belanda, abad ke-18 dan ke-19 yang dipegang oleh Inggris, dan dunia yang dipegang oleh Amerika Serikat pasca Perang Dunia II sampai sekarang. Akan tetapi, Modelski tidak pernah mengklasifikasikan salah satu Negara sebagai kekuatan dunia.
Saat ini, dunia terbagi atas 3 kelas dan setiap kelas berusaha menjadi kelas tertinggi dimana kelas tertinggi juga berusaha agar tetap bisa berada di posisi tersebut. Namun, hal yang tidak mungkin adalah semua Negara hanya berada pada satu kelas, yaitu Negara pusat. Sehingga, dimunculkan hegemoni atau kekuasaan satu Negara saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh sebagian pihak yang menilai rezim mereka harus dipertahankan.
Teori sistem dunia bertumpu pada sistem kapitalisme atau ekonomi, sedangkan long cycle theory menekankan bahwa setiap hegemoni memiliki satu aspek kuat yang sedang berkembang dan melingkupi seluruh Negara di dunia, sedangkan aspek hegemoni yang berkembang saat ini adalah aspek ekonomi yang bercabang ke aspek politik dan aspek-aspek yang lainnya. Untuk mempertahankan hegemoninya, sebuah Negara hegemon harus memiliki aspek-aspek geografis yang mapan misalnya Negara tetangga sebagai aliansi yang bisa diandalkan, letak geografis yang strategis dan bukan Negara yang land locked, kekuatan militer yang mendukung, serta aspek-aspek geopolitik yang lainnya.
Kedua teori ini saling mendukung satu sama lain.
Untuk menjalankan sebuah negara, dibutuhkan pemerintah atau pemerintahan. Pemerintahan memerlukan sebuah sistem yang disebut sistem pemerintahan. Sistem pemerintahan diperlukan untuk menjaga kestabilan negara. Secara luas, sistem pemerintahan merupakan suatu tatanan atau struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak dari hubungan antarsemua organ negara, termasuk hubungan pemerintahan pusat dan bagian di tingkat lokal.
negara menggunakan sistem pemerintahan yang berbeda dengan negara lain. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi di negara tersebut.
Sistem Pemerintahan di Dunia Saat Ini
Berikut ini adalah beberapa macam sistem pemerintahan yang saat ini digunakan oleh berbagai negara.
20
1. Sistem Pemerintahan Presidensial
Pemerintahan presidensial disebut juga sistem kongresional. Sistem pemerintahan presidensial merupakan sistem pemerintahan negara republik,
kekuasaan eksekutif dipilih melalui Pemilu dan terpisah dengan kekuasaan legislatif. Rod Haque membagi sistem pemerintahan presidensial ke dalam tiga unsur, di antaranya sebagai berikut.
Presiden yang terpilih oleh rakyat memimpin pemerintahan dan mengangkat para pejabat pemerintahan terkait. Presiden dan dewan perwakilan mempunyai masa jabatan yang tetap. Mereka juga tidak bisa saling menjatuhkan. Antara badan eksekutif dan badan legislatif tidak terjadi tumpang tindih.
Di dalam sistem pemerintahan presidensial, biasanya, presiden berada pada posisi yang relatif kuat dan tidak dapat dijatuhkan. Meskipun demikian, presiden tetap bisa dikontrol. Ia juga bisa dijatuhkan apabila melakukan pengkhianatan terhadap negara atau terbukti melakukan pelanggaran-pelanggaran tertentu.
Contoh negara yang menganut sistem ini : Indonesia, Amerika Serikat, Filipina, dan lain-lain.
2. Sistem Pemerintahan Parlementer
Sistem pemerintahan parlementer pernah diterapkan di Republik Weimar Jerman dan Republik keempat Prancis. Sistem parlementer, biasanya, memiliki pembedaan yang jelas antara kepala pemerintahan dan kepada negara. Kepala pemerintahan dipegang oleh seorang perdana menteri dan kepala negara ditunjuk dengan kekuasaan yang sedikit atau seremonial.
Di beberapa negara, sistem parlementer juga memiliki presiden yang berfungsi sebagai kepala negara. Di dalam sistem parlementer, parlemen memiliki peranan yang sangat penting. Parlemen mempunyai wewenang mengangkat perdana menteri dan dapat menjatuhkan pemerintahan dengan cara mengeluarkan mosi tidak percaya.
Contoh Negara yang menganut sistem ini : Malaysia, Swedia, Australia, dan lain-lain.
Komunisme merupakan sebuah ideologi yang lahir untuk menentang paham kapitalisme di awal abad ke-19. Pencetusnya adalah Karl Marx dan Fredrich Engels yang menulis pemikiran berjudul Manifest der Kommunistischen. Komunisme mengambil alih kekuasaan dengan menggunakan sistem partai komunis. Mereka sangat menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu.
Komunisme mempunyai prinsip bahwa semua harus dipresentasikan sebagai milik rakyat. Semua alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat secara merata. Mereka juga beranggapan bahwa perubahan sosial harus dimulai dari kaum buruh atau proletar.
21
Kenyataannya, produksi beserta alat-alat produksi negara hanya dikelola untuk menguntungkan elit politik saja.
Komunisme coba menerapkan penggunaan sistem demokrasi keterwakilan yang dilakukan elit-elit partai komunis. Mereka sangat membatasi langsung demokrasi pada rakyat yang bukan bagian dari anggota partai komunis. Oleh karena itulah, di dalam paham komunisme, tidak dikenal hak perorangan seperti dalam paham liberalisme.
Contoh negara yang menganut Sistem ini : Rusia, China, Korea Utara, dan lain-lain.
4. Sistem Pemerintahan Liberal
Pemerintahan liberal merupakan pandangan politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik utama. Liberalisme menginginkan masyarakatnya mempunyai kebebasan yang ditandai dengan kebebasan berpikir bagi para individu. Paham ini sangat menolak adanya pembatasan, baik pembatasan dari pemerintah maupun agama.
Contoh negara yang menganut sistem ini adalah : Chili, Jepang, Australia, New Zealand, dan lain-lain.
5. Sistem Pemerintahan Demokrasi
Sistem pemerintahan demokrasi merupakan bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara yang berupaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Contoh negara yang menganut sistem ini adalah : Indonesia, Amerika Serikat, dan lain-lain
Tatanan Dunia Sekarang Secara Geopolitik
dan kemiskinan dianggap sebuah hasil dari kekurangterlibatan suatu negara dalam perdagangan dunia.
Selain model di atas juga terdapat alternatif model yaitu Core-periphery,
yang justru berpendapat bahwa kemiskinan muncul karena keterlibatan negara dengan ekonomi dunia, contoh negara core adalah Amerika utara, Jepang dan Eropa, sedangkan yang termasuk negara peripheral adalah Australia (dalam perkembangannya menjadi negara maju) dan Afrika Selatan dimana perkembangan sektor ekonominya dititik beratkan pada pertambangan dan
22
komoditas utama negara tersebut, sedangkan negara semi-peripheral seperti seperti Brazil, keadaan ekonominya berada pada level otonom.
Hobson Lenin juga berpendapat bahwa kunci penting perekonomian adalah ekspor modal, kepentingan pasar luar negeri untuk ekonomi negar core, kekuatan multinasional dalam menentukan kebijakan domestik dan luar negeri, hubungan krusial antara kepentingan ekonomi dan konflik politik antara negara
core. Dalam perkembangan selanjutnya, bentuk dunia sekarang memepergunakan sistem politik tertutup, dengan kekuatan imperialis yang digunakan untuk menghadapi aktivitas politik lain dengan pertimbangan aspek lingkungan juga.
Selanjutnya di masa setelah perang dingin, susunan perdagangan dunia ditegakkan oleh negara core secara keseluruhan dan Amerika Serikat khususnya. Ketika GATT dibentuk sebagai suatu organisasi yang mengatur perdagangan dan tarif, sempat mendapat kritikan dari negara berkembang yang merasa dianak tirikan sehingga akhirnya terbentuklah UNCTAD. Tatanan ekonomi internasional yang baru mendapat banyak tanggapan dan prediksi, yang terombang-ambing antara permintaan dari kesepakatan global yang baru dan peningkatan perlingdungan dari pekerjaan di negara core. Tapi secara garis besar, perubahan konstelasi geopolitik global setelah usainya Perang Dingin masih belum menunjukkan akan terbentuknya suatu tatanan internasional yang lebih menjanjikan kestabilan, keseimbangan, dan jaminan keamanan bagi negara dan warga masyarakat serta hubungan antar-bangsa di dunia.
Muslim yang dimasukan dalam kategori kantong terorisme internasional, semuanya dalam situasi yang rawan dan jauh dari kondisi ideal negara-bangsa berdaulat sebagaimana dimaksud dalam hukum internasional.
Kondisi yang tidak stabil, seimbang, dan aman pada skala global tersebut muncul dan marak karena dipicu oleh beberapa faktor:
1) adanya kevakuman kekuatan penyangga setelah hilangnya kekuatan yang saling mengimbangi antara negara adikuasa
2) terjadinya pergeseran geopolitik dan geostrategis global menyusul munculnya kekuatan ekonomi dan politik baru yang memiliki visi serta strategi yang berbeda.
23
Kevakuman tersebut, membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk tampil menjadi kekuatan tunggal yang tak memiliki tandingan dan bahkan sekedar penyeimbang yang dapat mengerem ambisi hegemoninya dalam realitas politik global. Secara riil, kekuatan militer Amerika Serikat yang superior dalam teknologi dan didukung oleh anggaran pertahanan yang besar. Ditambah lagi dengan dorongan untuk menguasai ekonomi dunia dari para pemilik modal raksasa Amerika Serikat, maka ambisi hegemoni dan penciptaan sebuah kekaisaran dunia seperti tak terbendung. Hegemonisasi Amerika Serikat justru terancam dengan proses globalisasi yang memunculkan dan memperkuat spirit
nasionalisme dan sentimen lokal yang semula terpisah di berbagai wilayah dunia menjadi menyatu akibat terciptanya jejaring pada tataran global. Hal ini menyebabkan legitimasi Amerika Serikat berkurang karena semua negara punya kesempatan yang sama dalam bersaing. tidak dalam proporsi yang sama besar.
Dengan dalih melindungi kepentingan nasional dan ekonomi pasar bebas, maka Amerika Serikat merasa berkewajiban untuk meningkatkan jangkauan globalnya. Intervensi langsung maupun tak langsung, pemakaian tekanan diplomasi maupun militer dan intelijen, menjadi bagian tak terpisahkan dalam upaya mempertahankan kepentingan nasional dan legitimasinya tersebut. Unipolaritas Amerika sekarang mendapat saingan dari negara yang disebut macan Asia seperti Cina, India, dan Korea Selatan, apalagi akibat resesi ekonomi AS yang saat ini sedang mengalami turbulensi akibat kasus kredit perumahan yang selanjutnya merembet hingga ke tingkat nasional Amerika Serikat, semua negara yang memiliki hubungan kerjasama ekonomi dengannya ikut merasakan imbasnya juga.
Konflik timur-barat yang dulunya high political context yang kebanyakan berkutat seputar ideologi dan pengaruh sekarang menjadi low political context
yang mengutamakan ekonomi, dan sebagai tambahan biasanya negara tersebut kebanyakan melakukan pengembangan nuklir juga untuk mendapatkan pengakuan sebagai negara superpower, semua negara yang ikut dalam persaingan tersebut memunculkan tatanan multipolar.
bila suatu negara tidak memiliki kans untuk menang paling tidak negara tersebut tidak mengalami kerugian dalam proses persaingan untuk bertahan hidup, yang paling penting dari kesemuanya apapun sistem yang ada semua negara bisa meraih apa yang menjadi kepentingan nasionalnya, baik negara core, semi-periphery ataupun periperhy walaupun
24
Bab 3
Kesimpulan
25
DAFTAR PUSTAKA
Internet:
http://deedde.wordpress.com/2010/12/15/teori-sistem-dunia-dan-siklus-panjang-world-system-and-long-cycle-theory/
http://www.academia.edu/4346658/Melihat_Mazhab_Analisis_Sistem_Dunia_Dar i_pemikiran_Immanuel_Wallerstein_dan_Samir_Amin
http://deedde.wordpress.com/2010/12/15/teori-sistem-dunia-dan-siklus-panjang-world-system-and-long-cycle-theory/
http://kabar-toraja.com/toraja-lounge/32/711
http://phaul-heger.blogspot.com/2011/11/sistem-pemerintahan-di-dunia.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri, diakses Jumat 6 Desember 2013 pukul 20:51
http://id.wikipedia.org/wiki/Kolonialisme, diakses Sabtu 7 Desember 2013 pukul 18:52
Catatan Belakang:
Lucas, Robert E., Jr. 2002. Lectures on Economic Growth. Cambridge: Harvard University Press.
2 Zazuli Mohammad. 60 Tokoh Dunia Sepanjang Masa. (Jakarta: Narasi, 2009).