• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM HUKUM ANGLO SAXON DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SISTEM HUKUM ANGLO SAXON DI INDONESIA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM HUKUM ANGLO SAXON DI INDONESIA

FATIMA H. ISMAIL*

Program Studi Pasca sarjana IPS/Pendidikan Antropologi Universistas Negeri Makassar

A. SISTEM HUKUM ANGLO SAXON

Sistem Anglo-Saxon adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada yurisprudensi, yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim-hakim selanjutnya. Sistem hukum Anglo Saxon disebut sebagai Sistem “ Common Law” dan sistem “Unwritten Law” (tidak tertulis). Walaupun disebut sebagai unwritten law tetap tidak sepenuhnya benar, karena di dalam sistem hukum ini dikenal pula adanya sumber-sumber hukum yang tertulis (statutes). Sumber hukum dalam sistem hukum Anglo Saxon ialah “putusan-putusan hakim/pengadilan” (judicial decisions).1 Sistem hokum Anglo Saxon berasal dari Inggris yang kemudian menyebar ke Amerika Serikat dan negara-negara bekas jajahannya. Kata “Anglo Saxon” berasal dari nama bangsa yaitu bangsa Angel-Sakson yang pernah menyerang sekaligus menjajah Inggris yang kemudian ditaklukan oleh Hertog Normandia, William.2

1HaniBlush. 2010.Hukum Tanah Inggrs Anglo Saxon, diakses dari http://hanyblush.blogspot.co.id/2010/09/hukum-tanah-inggris-anglo-saxon.html, pada tanggal 20 Nofember 2017. Pukul 12.32 Wita

(2)

Selain itu dalam sistem Anglo Saxon ada “peranan” yang diberikan kepada hakim yaitu hakim mempunyai wewenang yang sangat luas untuk menafsirkan peraturan hukum yang berlaku dan menciptakan prinsip-prinsip hukum baru yang akan menjadi pegangan bagi hakim-hakim lain untuk memutuskan perkara yang sejenis. Sistem Anglo Saxon menganut suatu doktrin yaitu “the doctrine of precedent/stare decisis” yang pada hakekatnya menyatakan bahwa dalam memutuskan suatu perkara, seorang hakim harus mendasarkan putusannya kepada prinsip hukum yang sudah di dalam putusan hakim lain dari perkara sejenis sebelumnya (preseden). Dalam hal tidak ada putusan hakim yang terdahulu atau ada tetapi tidak sesuai dengan perkembangan, maka hakim dapat memutuskan perkara berdasarkan nilai-nilai keadilan, kebenaran dan akal sehat (common sense) yang dimiliki. 3

Adapun cir-ciri dari system hokum anglo saxon atau common law system,yaitu diantranya: 4

• Tidak ada perbedaan secara tajam antara hukum public/umum dan perdata/antara orang-perorang atau individu

• Tidak ada perbedaan antara hak kebendaan dan perorangan • Tidak ada kodifkasi

• Keputusan hakim terdahulu mengikat hakim yang kemudian (asas precedent atau stare decisis)

3HaniBlush. 2010.Hukum Tanah Inggrs Anglo Saxon, diakses dari http://hanyblush.blogspot.co.id/2010/09/hukum-tanah-inggris-anglo-saxon.html, pada tanggal 20 Nofember 2017. Pukul 12.32 Wita

(3)

Dalam penerapannya, sistem hukum Anglo Saxon ini memiliki kelebihan dan kelemahan seperti:5

a. Kelebihan

1. Sistem hukum Anglo Saxon, penerapannya lebih mudah terutama pada masyarakat di negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman. Pendapat para ahli dan prakitisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutus perkara.

2. Sumber-sumber hukum terdiri dari putusan-putusan hakim, kebiasaan-kebiasaan,serta peraturan-peraturan tertulis undang-undang dan peraturan administrasi negara, walaupun banyak landasan bagi terbentuknya kebiasaan dan peraturan tertulis itu berasal dari putusan-putusan dalam pengadilan. Sehingga, sumber hukum yang ada telah teruji dalam menyelesaikan suatu perkara sebelumnya.

3. Kepastian hukum lebih dihargai lagi bila dilihat dari sistem pelaksanaan peradilan di negara-negara Anglo Saxon yaitu sistem Juri. Menurut sistem ini dalam suatu persidangan perkara pidana para Juri-lah yang menentukan apakah terdakwa atau tertuduh itu bersalah (guilty) atau tidak bersalah (not guilty) setelah pemeriksaan selesai. Jika Juri menentukan bersalah barulah Hakim (biasanya tunggal) berperan menentukan berat ringannya pidana atau jenis pidananya. Bila Juri menentukan tidak bersalah maka Hakim membebaskan terdakwa (tertuduh).

(4)

4. Juri yang digunakan dalam sistem hukum ini adalah orang-orang sipil yang mendapatkan tugas dari Negara untuk berperan sebagai juri dalam sidang perkara. Juri ditunjuk oleh Negara secara acak dan seharusnya adalah orang-orang yang kedudukannya sangat netral dengan asumsi juri adalah orang-orang awam yang tidak mengetahui sama sekali latar belakang perkara yang disidangkan. Kedua pihak dalam perkara kemudian diberi kesempatan untuk mewawancara dan menentukan juri pilihannya. Sehingga kenetralan dan keadilan dapat lebih terlihat nyata.

5. Hakim memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk seluruh tata kehidupan masyarakat. Karena hekim memiliki wewnang yang sangat luas untuk menafsirkan peraturan hukum yang berlaku. Selain itu, menciptakan prinsip-prinsip hukum baru yang akan menjadi pegangan bagi hakim-hakim lain untuk memutuskan perkara yang sejenis.

6. Jika ada suatu putusan yang sudah dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, hakim dapat menetapkan putusan baru berdasarkan nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan akal sehat (common sense). Sehingga putusan-putusan yang ada benar-benar sesuai kenyataan dan menyesuaikan perkembangan masyarakat.

b. Kelemahan:

(5)

yang tinggi. Untuk negara-negara berkembang yang tingkat korupsinya tinggi tentunya sistem hukum anglo saxon kurang tepat dianut.

2. Hakim terlalu diberi kekuasaan yang amat besar dalam menentukan hukuman. Sehingga terkadang faktor subyek dapat terjadi. Karena hakim juga manusia yang terkadang ada rasa sungkan dan juga ada gejolak untuk melakukan tindakan-tindakan curang. Suatu contoh, akhir-akhir ini ada berita yang mencuat mengenai hakim yang salah membei putusan hukum mati pada terdakwa pada tahun 1991. Setelah diselidiki lebih lanjut, kini terbukti terdakwa yang dihukum mati tersebut tidak bersalah sama sekali.

B. SEJARA PERKEMBANGAN SISTEM HUKUM ANGLO SAXON

Sebelum terjadinya resepsio hukum Romawi pada abab ke 13 oleh Eropa

Kontinental, di lnggeris telah dikembangkan suatu sistem peradilan nasional yang

sentralisitik dan bekerjasecara efektif menerapkan hukum-hukum kebiasaan di

lnggeris. Dalam tradisi feodal di kala itu, lnggeris merupakan suatu Fief Yakni

negeri yang dapat diwarisi dari seorang tuan tanah sebagai imbalan atau

kompensasi atas pengabdian kepadatuan tanah. Pada keadaan demikian, harus ada

suatu kekuasaan yang kuat, dapat bekerja efektif dan terpusat yang dapat diterima

oleh warga masyarakat di bagian-bagian wilayah negeri secara keseluruhan.6

Atas dasar pijakan berpikir demikian itu, maka Raja-Raja lnggeris

memandang perlu dalam rangka mempertahankan kewenangan dan

kepentingannya dalam memerintah untuk membentuk badan-badan yang dapat

(6)

melanggengkan kekuasaaanya. Salah satu badan yang paling penting untuk

mempertahankan dan memperkuat kelanggengan kekuasaan pusat pemerintahan

yang dikendalikan oleh Raja adalah Pengadilan Kerajaan. Hal ini dilakukan oleh

Raja Wiiliem dan para penggantinya kemudian.Raja Henry I pada abad XII, telah

mengirim utusannya ke wilayah-wilayah negeri kekuasaannya untuk mengadili

perkara di Pengadilan-Pengadilan local. Sebelum berakhirnya abad XII,

Pengadilan Kerajaan bersama dengan Pengadilan-Pengadilan local merupakan

institusi politik yang paling kuat dan disegani di lnggeris. Pengadilan Kerajaan

dikelola oleh pejabat-pejabat yang diangkat oleh kerajaan yang sudah terlatih,

dimana secara teratur mendatangi setiap bagian dari wilayah-wilayah negeri

kerajaan.7

Masa kekuasaan Pemerintahan Raja Henry 11, lnggeris melakukan

reformasi dan strukturisasi peradilan dan hokum proseduralnya. Reformasi

tersebut, melahirkan perubahan yang berarti di bidang peradilan, yakni diaturnya

dasar-dasar bagi hakim kerajaan dan kompetensinya dalam mengadili

perkara-perkara. Reformasi hukum yang dilakukan lnggeris dibawah RajaHenry II,

dikatakan sangat pesat, oleh karena Raja Henry melihat bahwa sarana terbaik

untuk mempertahankankekuasaan politik agar tetap eksis di kala itu adalah dengan

pengadilan yang professional, dengan hakim-hakim kerajaan yang mampu bekerja

dibawah kendali feodal. Berhubung dengan tradisi sejarah pemberdayaan hakim

dan Pengadilan Kerajaan di kala itu di lnggeris, maka Pengadilan Kerajaan ramai

menangni perkara-perkara yang diajukan kepadanya, sehingga dengan

(7)

penetapan dan putusan-putusan pengadilan dijadikan sebagai hokum yang harus

ditaati dan dijalankan. Maka atas dasar itu pulalah dikatakan bahwa pada system

Common Law, kegiatan hukumnya sangat terpusat diPengadilan-Pengadilan, lain

halnya dengan Civil Law yang pusat kegiatan hukumnya berada di Parlemen.

Penyebaran Common law system sampai pada negaranegara jajahan lnggeris.

Salah satu bekas negara jajahanlnggeris adalah Amerika Serikat. Namun demikian

dalam perjalanan sejarahnya Arnerika Serikat yang perkembangannya sangat pesat

telah mengembangkan pula sistemnya denganmodel dan variasinya sendiri namun

tetap saja dalam bingkaiCommon Law System.8

Common law system diterapkan dan mulai berkembang sejak abad XVI di Negara Inggris. Di dukung keadaan geografis serta perkembangan politik dan sosial yang terus menerus, sistem hukum ini dengan pesat berkembang hingga di luar wilayah Inggris, seperti di Kanada, Amerika, dan negara-negara bekas koloni Inggris (negara persemakmuran / commonwealth). Namun amerika merupaka Negara yang cepat mengalami perubahan dalam segala bidang kehidupan, dan sumber daya manusia sehiga amerika membangun system hokum sendiri namun tetaptidak terlebas dari sebagian sisem hokum anglo saxon dalam melihat kehidupan sehari-hari. Sebagai sistem hukum yang lebih mengutamakan pada hukum kebiasaan dan hukum adat masyarakat, maka dalam common law kedudukan kebiasaan dalam masyarakat lebih berperan daripada undang-undang dan selalu menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat yang semakin maju. Sumber-sumber hukum dalam sistem Anglo-Saxon pun memiliki perbedaan

(8)

fundamental dengan tidak tersusun secara sistematik dalam hierarki tertentu seperti di dalam sistem Eropa Kontinental. 9

Adapun sumber-sumber hukum dalam sistem common law, meliputi:

1. Yurisprudensi (judicial decisions), yakni hakim mempunyai wewenang yang luas untuk menafsirkan peraturan-peraturan hukum dan menciptakan prinsip prinsip hukum baru yang berguna sebagai pegangan bagi hakim–hakim lain dalam memutuskan perkara sejenis (hukum hakim, rechterrecht, judge made law). Dalam hal ini hakim terikat pada prinsip hukum dalam putusan pengadilan yang sudah ada dari perkara-perkara sejenis (asas doctrine of precedent). Yurisprudensi merupakan sumber hukum yang utama dan terpenting dalam sistem common law. Hakim harus berpedoman pada putusan-putusan pengadilan terdahulu apabila dihadapkan pada suatu kasus. Oleh karenanya di sini hakim berpikir secara induktif. Asas keterikatan hakim pada precedent disebut stare decisis et quieta non movere (pengadilan yang tingkatannya lebih rendah harus mengikuti keputusan yang lebih tinggi), yang lazimnya disingkat stare decisis atau disebut juga the binding force of precedent (perkara yang sama harus diproses dengan cara yang mirip atau sama). Hakim hanya terikat pada isi putusan pengadilan yang esensial atau disebut ratio decidendi, yakni berhubungan langsung dengan pokok perkara. Sedangkan dalam hal yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan pokok perkara, yakni sebatas merupakan tambahan dan ilustrasi atau disebut obiter dicto, maka hakim dapat menilai sebagai suasana yang meliputi pokok perkara

(9)

menurut pandangan hakim itu sendiri. Putusan yang bersifat “binding precedent” berarti putusan tersebut memiliki kekuatan yang meyakinkan. 2. Statute Law, yakni peraturan yang dibuat oleh parlemen Inggris seperti layaknya

undang-undang dalam sistem kontinental. Statute Law merupakan sumber hukum kedua setelah yurisprudensi. Untuk melaksanakan Statute Law dibuat perangkat peraturan pelaksanaan oleh instansi-instansi pemerintah yang bersangkutan.Fungsi Statute Law sebatas pelengkap common law yang terkadang memiliki celah celah, dan tidak ditujukan untuk mengatur suatu permasalahan secara menyeluruh. II akibat desakan perubahan peraturan-peraturan secara cepat, dibandingkan dengan yurisprudensi yang dirasakan lamban. Pembentukan statute law oleh Parlemen sebenarnya merupakan bentuk penyimpangan sistem common law, yakni bentuknya yang berupa undang-undang (written law),dan dapat merubah putusan pengadilan (yurisprudensi) dengan suatu undang-undang baru. Namun tindakan parlemen untuk mengubah yurisprudensi ini dibatasi oleh pendapat umum serta pendapat para sarjana hukum. Sehingga meski memiliki hukum tertulis, masih dibatasi pendapat-pendapat umum maupun para sarjana hukum secara obyektif yang didasarkan pada pengetahuan atas kebiasaan atau common law yang telah ada. 3. Custom, yakni kebiasaan yang sudah berlaku selama berabad-abad di Inggris

sehingga menjadi sumber nilai-nilai. Dari nilai-nilai ini hakim menggali serta membentuk norma-norma hukum. Custom ini kemudian dituangkan dalam putusan pengadilan. Di Inggris dikenal dua macam custom, yaitu local custom

(kebiasaan setempat) dan commercial custom (kebiasaan yang

(10)

4. Reason (akal sehat). Reason atau common senses berfungsi sebagai sumber hukum jika sumber hukum yang lain tidak memberikan penyelesaian terhadap perkara yang sedang ditangani oleh hakim, artinya tidak didapatkan norma hukum yang mampu memberikan penyelesaian mengenai perkara yang sedang diperiksa. Reason merupakan cara penemuan hukum dalam sistem common law ketika menghadapi masalah-masalah hukum yang tidak ditemukan norma-norma hukumnya dari sumber-sumber hukum yang lain. Dengan reason, para hakim dibantu untuk menemukan norma-norma hukum untuk memberikan keputusan.

C. SISTEM HUKUM ANGLO SAXON DI INDONESIA

Bicara istilah hukum merupakan sesuatu hal yang tidak asing di telinga kita. Apabila kita mulai membicarakan hukum sebagai sarana, maka sebenarnya kita telah memasuki pembicaraan mengenai hukum sebagai konsepsi yang modern. Hal ini dikarenakan hukum merupakan suatu kebutuhan masyarakat sehingga ia bekerja dengan cara memberikan petunjuk tingkah laku kepada manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Ia merupakan pencerminan kehendak manusia tentang bagaimana seharusnya masyarakat itu dibina dan kemana harus diarahkan.

(11)

of Law”. Tumbuh dan berkembangnya konsep Rule of Law pertama kali diterapkan di Negara-negara yang menganut common law system seperti Inggris dan Amerika Serikat, dimana kedua negara tersebut mengejawantahkannya sebagai perwujudan dari persamaan hak, kewajiban, dan derajat dalam suatu negara di hadapan hukum. Hal tersebut berlandaskan pada nilai-nilai hak asasi manusia, bahwasanyasetiap warganegara dianggap sama di hadapan hukum dan berhak dijamin hak asasi manusianya melalui sistem hukum dalam Negara tersebut. Pokok ajaran dari rule of law adalah terciptanya tatanan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana rakyat bisa memperoleh kepastian hukum, rasa keadilan, rasa aman, dan dijamin hak-hak asasinya. Hal ini mengandung makna, rasa keadilan yang kembali kepada rakyat, bukan kepada kekuasaan dan para penguasa yang menciptakan hukum.10

Sistem hukum di Indonesia saat ini merupakan sistem hukum yang didasarkan pada asas konkordasi, yakni menerima secara sukarela untuk memperlakukan sistem hukum yang berasal dari daratan Eropa Kontinental. Namun sebagai negara kepulauan yang memiliki beragam tradisi dalam masyarakatnya, di Indonesia juga berlaku hukum adat sebagai hukum asli. Belum lagi penetrasi ajaran-ajaran hukum Islam dalam kehidupan bangsa Indonesia sebagai konsekuensi penduduknya yang mayoritas muslim. Sehingga di beberapa daerah hukum adat turut pula dipengaruhi oleh nilai-nilai ajaran Islam.

Sebagai negara yang menganut civil law sistem, Indonesia mengedepankan hokum positif sebagai patokan dalam menjalankan tugas-tugas negara dan juga

(12)

dalamm sistem peradilannya. Apabila Sebagai negara yang menganut civil law sistem, Indonesia mengedepankan hukum positif sebagai patokan dalam menjalankan tugas-tugas negara dan juga dalam sistem peradilannya. Apabila konsep negara hukum Indonesia dengan civil law sistemnya diterapkan sesuai dengan prinsip-prinsip idealnya maka rule of law sudah pasti akan dapat terwujud. Dan civil law sistem yang dianut merupakan sistem yang telah menjadi dasar tata hukum di sini. Rule of law yang menjadi konsep hukum dan keadilan dari negara-negara common law merupakan suatu tatanan yang sifatnya baru bagi sistem hukum kita saat ini.11

Tampak dari gambaran di atas, Indonesia adalah penganut pluralisme hukum, meliputi; Hukum Adat, Hukum Islam, Civil Law, dan Common Law yang kesemuanya hidup berdampingan. Keanekaragaman sistem hukum yang ada menjadikan pembangunan hukum di Indonesia sulit untuk diciptakannya suatu unifikasi hukum yang berlaku menyeluruh. Unifikasi hanya terbatas pada bidang-bidang hukum yang netral, seperti ekonomi, perdagangan, perburuhan, dan pidana. Setelah Indonesia merdeka dan mulai masuknya investasi asing, lambat laun pengaruh common law menginfiltrasi perkembangan hukum di Indonesia. Akibatnya di Indonesia terdapat pluralisme hukum, meliputi; Hukum Adat, Hukum Islam, Civil Law dan Common Law yang kesemuanya hidup berdampingan. Sehingga perkembangan hukum di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keanekaragaman agama, adat, masyarakat dan sistem hukum yang hidup di Indonesia itu sendiri, civil law, common law, maupun hukum-hukum adat yang ada

(13)

Sistem hukum di Indonesia saat ini merupakan sistem hukum yang didasarkan pada asas konkordasi, yakni menerima secara sukarela untuk memperlakukan sistem hukum yang berasal dari daratan Eropa Kontinental. Namun Indonesia juga memiliki beragam tradisi dalam masyarakatnya, yang di dalamnya berlaku hukum adat sebagai hukum asli. Belum lagi penetrasi ajaran-ajaran hukum Islam yang di beberapa daerah turut mempengaruhi hukum adat. Setelah Indonesia merdeka dan mulai masuknya investasi asing, lambat laun pengaruh common law menginfiltrasi perkembangan hukum di Indonesia. Akibatnya di Indonesia terdapat pluralisme hukum, meliputi; Hukum Adat, Hukum Islam, Civil Law dan Common Law yang kesemuanya hidup berdampingan. Sehingga perkembangan hukum di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keanekaragaman agama, adat, masyarakat dan sistem hukum yang hidup di Indonesia itu sendiri, civil law, common law, maupun hukum-hukum adat yang ada

(14)

Dr. Nurul Qamal.2010. Perbandingan Sistem Hukum dan Peradaban Civil law Syistem dan common Law System. Makassar: Pustaka Refleksi.

Sripuji Ningsih. 2012. Konsep Hukum Indonesia di Masa Sekarang. Pekalongan:FHU. Peter de Cruz. 2010. Perbandingan Sistem Hukum. Bandung: Nusamedia.

Makalah

Kelompok V. 2012. Makalah Sejarah Civil law dan Common Law System,hubungannya dan Perkembangan Hukum di Indonesia.

Internet

Fariza Eupho. Sistem Hukum Anglo Saxon dan Sistem Hukum Eropa Kontinental, diakses melalui http://eupholaw.blogspot.co.id/2014/10/sistem-hukum-anglo-saxon-dan-sistem.html, pada tanggal 18 Nofember 2017. Pukul 17.23 Wita

HaniBlush. 2010.Hukum Tanah Inggrs Anglo Saxon, diakses dari http://hanyblush.blogspot.co.id/2010/09/hukum-tanah-inggris-anglo-saxon.html, pada tanggal 20 Nofember 2017. Pukul 12.32 Wita

Rahma. 2012. Sistem hokum Anglo Saxon, diakses dari

(15)
(16)

Referensi

Dokumen terkait

suatu hubungan hukum yang melibatkan tiga pihak, yang disebut dengan nama settlor, trustee dan beneficiary, meskipun salah satu pihak tersebut dapat merupakan orang yang

Sistem hukum Anglo Saxon, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Anglo Amerika”, mulai berkembang di Inggris pada abad XI yang sering disebut sebagai Sistem “ Common

Hakim sebagai pejabat yang diberikan wewenang untuk memeriksa serta memutuskan suatu perkara mempunyai kedudukan yang istemewa, karena hakim selain sebagai pegawai negeri,

a. Undang-undang merupakan sumber hukum formal yang utama. Dalam kelompok ini terbagi atas:.. 1) Peraturan (regel), yakni keputusan pemerintah yang isinya berlaku atau

Secara umum antara Sistem Hukum Eropah Kontinental dengan Sistem Hukum Anglo Saxon dibedakan berdasarkan mana yang dipentingkan dalam pembentukan dan penegakkan hukum, melalui

• Dalam sistem hukum Anglo Saxon ( Amerika) menganut suatu doktrin yang dikenal dengan istilah “the doctrine of presedent/Stare Decisis” doktrin menyatakan bahwa dalam memutuskan

Keputusan hakim yang lalu yurisprudensi pada Sistem Hukum Eropa Kontinental Civil Law tidak dianggap sebagai kaidah atau sumber hukum sedangkan pada Sistem Hukum Anglo Saxon Comman Law

Perbedaan Common Law System dengan Civil Law System Perbedaan Civil Law System Eropa Continental Common Law System Anglo- Saxon Sumbernya Produk legislative Produk