kerja global. Mereka pun harus memiliki keahlian. Karena dapat menjadikan mereka memiliki posisi tawar yang lebih baik. Prospek antara kesepakatan pemerintah dengan ILO menyebutkan, bahwa TKI yang bekerja untuk kelompok pembantu rumah tangga sudah setingkat dengan
housekeeper. Tentu, sesuai dengan SKKNI dimana ditetap Menakertrans tahun 2005. Ada pun sejumlah negara asing tidak menerima tenaga kerja pembantu rumah tanga, melainkan untuk tenaga TLRT.
Oleh karena itu, faktor-faktor pendidikan yang dimiliki bagi calon TKI, rata-rata masih sangat minim dimana untuk menguasai teknologi (IT) maupun produktivitasnya. Serta menimbulkan berbagai macam ketimpangan, apakah antara pengguna jasa dengan SDM TKI, ketika sedang bekerja di luar negeri. Mengenai pemberian sertifikasi kompetensi kepada calon TKI, tentu disesuaikan denganbacground
pendidikan formal ataupun non-formal calon TKI. Karena pendidikan serta pelatihan yang diberikan terutama yaitu; berkaitan dengan adanya hak-hak di dalam sebuah perjanjian kontrak kerja (draf). Rata-rata dari calon TKI dibidang TLRT tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD). Lain hal dengan di Filipina bahwa untuk tenaga TLRT saja, tingkat pendidikan disana SMP.
Sertifikasi Aspal:
Sementara, HR. Unggul Hendrobroto Ketua Ketua Badan Pengarah LSP LSK TKI, mengatakan bahwa banyaknya TKW bekerja di sektor TLRT, ada beberapa hal yaitu; Di negara Asia dan Asia Timur Tengah begitu membutuhkan para tenaga dibidang TLRT. Satu sisi, Indonesia membutuhkan peluang pekerja bagi ribuan tenaga produktif. Namun, masih sempit dan sulit untuk mencari lapangan pekerjaan dan sebagian tenaga produktif tersebut, memutuskan untuk mengadu keberuntungan di negeri Jiran. Lanjut Unggul, kunci utama adalah memberikan pembekalan terhadap calon TKI secara maksimal yaitu; memberikan pelatihan-pelatihan selama tiga bulan. Bila dilakukan
dengan baik dibawah pengawasan yang baik pula, maka calon TKI akan mudah untuk mengatasi semua kendala ataupun masalah di luar negeri, saat mereka sudah bekerja. Mereka juga dapat bekerja dengan optimal. Terkait kasus TKI di negeri tetangga, Unggul menjelaskan bahwa hal tersebut, karena lemahnya SDM bagi calon TKI. Mereka sangat mudah diperdaya oleh sponsor ataupun
oknum-oknum untuk dijadikan sebagai TKI, namun tidak memiliki ketrampilan. Mereka pun tidak pernah mengikutimedical check up, bahkan masuk ke negara tujuan pun mereka melalui jalurilegal.
Ditambahkannya, bagi calon TKI harus mengikuti pelatihan-pelatihan misal; di Taiwan dan Hongkong saja, bagi calon TKI harus mengikuti pelatihan-pelatihan selama 600 jam materi. Bila di Singapura mencapai 400 jam materi. Sedangkan di Arab Saudi dan Malaysia hanya 200 jam materi.”Aturanini seharusnya
dipatuhi,”tandasnya.
Agar mendapatkan sertifikasi kompetensi, mereka harus
memperoleh sertifikasi lokal dari Balai Latihan Kerja Nyata (BLKN). Tetapi, bila melalui evaluasi dan dinyatakan lengkap secara administrasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Calon TKI pun berhak untuk mengikuti uji kompetensi di TUK.”Sertifikasi kompetensi merupakan pembuktian
secara tertulis bahwa mereka memiliki kemampuan dan kompetensi di bidang TLRT yang telah mengacu pada standarSKKNI,”terangnya.
”Merekaini melakukan penempatan TKI secara illegal. Dan melakukan pelatihan tidak sesuai dengan ketentuan. Disamping itu, mereka menggunakan sertifikasi kompetensi palsu. Karena itu, kami menyambut baik atas diterbitkannya
Permenakertrans No.14/Men/2010 tentang pelaksanaan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Semoga dapat menghindari adanya sertifikasipalsu,”tandas Unggul yang juga Wakil Ketua Komite Tetap Tenaga Kerja Dalam Negeri KADIN Indonesia.
Mengenai atas beredarnya sertifikasi palsu, tiga Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) menyoroti di bidang PLRT, merumuskan untuk membentuk Asosiasi LSP TLRT. Tiga Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) tersebut yaitu; LSP LSK, LSP LUK dan LSP Nusantara. Tetapi, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) ini juga mengadakan uji kompetensi secara bersama. Dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) pada bidang TLRT yang sudah mendapatkan lisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) ada tujuh. Namun, hanya baru tiga Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang tergabung dalam asosiasi tersebut.
tujuan yaitu; untuk membantu pedoman Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) seperti; menjaga kualitas pengujian dan tempat uji kompetensi sesuai dengan standar dan mekanisme yang sesuai dengan pedoman BNSP. Di dalam mensosialisasikan Asosiasi hendak mengembangkan skema kompetensi dan sesuai dengan kebutuhan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
”Kitaingin mengatasi maraknya penerbitan sertifikasi kompetensi palsu, dan merugikan semua
stakeholderTKI dari sisi peningkatan kualitas TKI. Disamping itu, kita juga turut serta membantu program pelatihan 200 jam pelajaran dalam sistem IT yang diberlakukan kembali. Selain itu, kita ingin menjadi LSP sebagai lembaga yang mandiri dan tidak bergantung kepada lembaga
lain,”katanya.
Secara terpisah, Ketua Umum DPP Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPPI) Drs. Sjukur Sarto, MS, mengakui bahwa pelatihan yang dilakukan untuk para calon TKI, banyak mengandung manipulasi, sehingga kurang maksimal di dalam melakukan pelatihan terhadap calon TKI yang akan diberangkatkan. Segera dituntaskan untuk dibenahi, entah dari sisi calon TKI ataupun pihak pemerintah. Ia menambahkan, bahwa problem mendasar yang menghambat para calon TKI merupakan masalah kompetensi semata. Bila kompetensi
www.bnsp.go.id edisi 1 I 2011
dengan berbagai pelatihan kerja, dapat menjadikan bagi calon TKI di bidang TLRT untuk memahami segala sesuatu yang seharusnya dilakukan sebagai TLRT sebagaiPLRT,”tegas Ketua Umum DPP Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.
Langkah Melindungi TKI:
Bagaimana untuk melindungi para calon TKI di sektor TLRT, agar tidak terjerat para oknum PJTKI”nakal”. Membutuhkan energi secara ekstra untuk perubahan dalam pembenahan tersebut. Namun, bila ditengok dari aspek SDM bagi calon TKI, dalam konteks mengenai TKW, maka bisa memulainya memberikan pembekalan-pembakalan kompetensi bagi
calon TKI. Oleh krena itu, program sertifikasi kompetensi mampu menjadi bagian dari upaya agar memberikan perlindungan kepada calon TKI.
”Sebagaialat perlindungan, Sertifikasi Kompetensi TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) bisa menjadi instrumen perlindungan yangefektif,”ungkap Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh. Jumhur Hidayat belum lama ini.
Menurut Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh. Jumhur Hidayat mengatakan, bahwa pemerintah tidak bisa bermain-main dalam mengirimkan calon TKI LPRT. Mereka yang diberangkatkan pun harus sudah memiliki sertifikasi kompetensi.”Negaraharus
mewajibkan setiap TKI PLRT sudah memilikisertifikasi,”ujarnya.
Pemerintah pun optimis akan mampu mengurangi tingginya angka TKI yang bermasalah. Hal itu, diungkapkan Jumhur bahwa pentingnya TKI PLRT memiliki sertifikasi, karena ruang lingkup kerja mereka yang isolatif, di rumah, hubungan emosional dan tidak terjamah Undang-Undang Perburuhan. Kondisi tersebut menjadikan profesi TKI LPRT sangat rentan terhadap kemungkinan timbulnya kekerasan oleh sang majikan di negara penempatan.(***)
14
”Program
sertifikasi kompetensi
dapat menjadikan bagian
dari sebuah upaya untuk
perlindungan kepada calon
TKI di luar negeri. Terutama
adalah bagi calon tenaga
TLRT. Pemberian sertifikasi
kompetensi setelah melalui
uji kompetensi yang pada
pelaksanaannya diawali dengan
berbagai pelatihan kerja, dapat
menjadikan bagi calon TKI di
bidang TLRT untuk memahami
segala sesuatu yang seharusnya
dilakukan sebagai TLRT
sebagai
PLRT”
mereka baik, maka segala hal buruk selama bekerja di mancanegera dapat terhindar. Ia pun menegaskan, bahwa pelatihan-pelatihan bagi calon TKI dilakukan secara maksimal.
MEMBANGUN KOMPETENSI BANGSA
DENGAN KOMPETEN
Hampir semua industri/organisasi ingin tenaganya kompeten dan
tentu ingin terpelihara kompetensinya, tapi tidak semua industri
dapat memastikan keinginannya tercapai. Juga negara kita ini,
semua kalangan ingin bangsa kita ini kompeten agar negara kita
mampu bersaing, tetapi belum tahu bagaimana memastikan hal
ini dapat capai dan kapan dapat dicapai, pernyataan ini acap kali
disampaikan dalam berbagai kesemapatan, terutama pada isu
menghangat pada rekrutmen anggota lembaga-lembaga negara
melatih tenaga hingga kompeten, sedangkan pada persyaratanshall be competent, maka industri harus melatih hingga kompeten, kemudian memastikan kompetensi melalui asesmen dan memelihara kompetensi melalui surveilan kompetensi. Apabila terjadi kegagalan/ketidaksesuaian maka pada persyaratan kompetensi should, maka tindakan koreksi dengan retraining, sedang pada persyaratan
shall,maka tindakan koreksi adalah
retrainingdanreassess. Singkat
kata bahwa industri/bisnis harus mengembangkan, memastikan dan memelihara kompetensi porsonilnya sesuai dengan profesinya.
Kenapa sistem industri dan organisasi mempersyaratkan kompetensi? Karena faktor sumberdaya manusia dipercaya sebagai faktor penentu untuk membagun, memastikan dan memelihara bisnis tetap berkembang,
memenuhi dan selalu memenuhi harapan pelanggan. Suatu organisasi atau bisnis dapat runtuh dalam waktu sekejab ketika SDM diganti oleh tenaga yang tidak kompeten.
Sistem pengembangan SDM berbasis kompetensi
Standar kompetensi. Untuk membangun, memastikan dan memelihara pencapaian kompetensi diharuskan adanya standar
kompetensi. Standar kompetensi adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Terdapat beberapa model standar personil diantaranya standar jabatan Oleh: Ir. Surono MPhil
Master Asesor Kompetensi, dan anggota BNSP
Tuntutan kompetensi dalam sistem manajemen industri
Kompetensi Kerja adalah spesifikasi dari setiap sikap, pengetahuan, keterampilan dan atau keahlian serta penerapannya secara efektif dalam pekerjaan sesuai dengan standar kinerja yang dipersyaratkan. Tuntutan kompetensi dalam sistem industri baik standar internasional (ISO 9000, ISO 14000, ISO 17025, ISO 17021, ISO 22000, CODEX, OIE, IPPC, IFOAM, dll) maupun regulasi teknis telah semakin jelas, ketat dan pasti. Sejak tahun 2000, hampir seluruh sistem telah menetapkan perubahan yang semula persyaratannyashould be competent
menjadishall be competent. Bahkan dalam regulasi teknis semakin tegas lagi, bahwa seseorang dalam jabatan atau fungsi tertentu harusQulified, Competent and Assigned personel.
www.bnsp.go.id edisi 1 I 2011
16
dimana penyusunananya didasarkan dari jabatan-jabatan kerja, serta standar berbasis kompetensi dimana penyusunannya didasarkan pada fungsi-fungsi kerja. Dan Indonesia dengan meyakinkan memilih berbasis kompetensi memalui berbagai regulasi, yang mempu telusur terhadap standar internasional
RMCS (Regional Model Competency Standard)yang dikembangkan oleh ILO.
Standar kompetensi secara umum mencakupi unit kompetensi, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, batasan variabel dan panduan penilaian. Bagi lembaga pelatihan, standar kompetensi menjadi acuan dalam menyusun program dan modul serta indikator pencapaian kompetensi peserta didik. Bagi lembaga sertifikasi, menjadi dasar pengembangan skema sertifikasi dan pelaksanaan asesmen. Bagi industri/ organisasi, standar kompetensi apabila diterapkan akan memastikan kompetensi dan meyakinkan klien bahwa produk/ jasanya diproduksi oleh tenaga yang kompeten, dan, bagi peserta didik, standar kompetensi ini menjadi acuan pencapaian kompetensi saat mengikuti pendidikan/pelatihan dan merencanakan karirnya.
Sistem pendidikan/pelatihan berbasis kompetensi. Untuk mengembangkan kompetensi maka diperlukan suatu pendidikan/pelatihan dan sistem pelatihan yang kredibel dan kompeten. Pendidikan/Pelatihan berbasis kompetensi mendasarkan pencapaian kompetensi sesuai dengan kriteria unjuk kerja dalam standar kompetensi yang dibangun oleh industri dan sistem industri. Untuk memastikan pendidikan/ pelatihan berasis kompetensi beberapa persyaratan dasar harus dipenuhi, yakni:
Dilaksanakan oleh lembaga pendidikan/pelatihan berbasis kompetensi yang kredibel, bukan oleh kepanitiaan yang umumnya tidak mampu telusur dan sulit dipertanggungjawabkan, karena setelah pelatihan panitia bubar.
Modul disusun berdasar standar kompetensi, atau apabila belum ada standar didasarkan pada fungsi-fungsi bidang pekerjaan.
Target pencapaian adalah kompetensi, bukan waktu yang kaku.
Menggunakan pendidik/pelatih berbasis kompetensi dan mampu melakukan asesmen kompetensi dalam evaluasi pencapaian.
Sertifikasi kompetensi : Memastikan dan memeliharaan kompetensi. Sering orang mendengar istilah sertifkasi malah mngernyitkan dahi dan timbul pertanyaan jualan sertifikat apalagi ini. Hal ini dapat dimaklumi akibat banyaknya sertifikasi dibangun hanya berdasarkan niat baik, tetapi belum dibangun dengan kesisteman dan kompoeten yang mampu telusur. Untuk memastikan dan memelihara kompetensi diperlukan sistem sertifikasi yang kredibel.
Sertifikasi bertujuan membantu secara formal para profesi, industri/ organisasi untuk memastikan dan memelihara kompetensi para tenaga kerja yang kompeten, serta membantu meyakinkan kliennya bahwa industri menggunakan tenaga yang kompeten.
Bagaimana kita memulai membangun kompetensi dengan kompeten?
Pengakuan kompetensi
didasarkan pada sistem yang mampu telusur baik organisasi, proses maupun acuan secara internasional. Tidak hanya tenaga kerja peserta didik atau peserta uji kompetensi yang harus kompeten, tetapi lembaga pelatihan harus kompeten, badan/lembaga sertifikasi harus kompeten, tempat uji kompetensi harus kompeten, lembaga akreditasi
harus kompeten, otoritas kompeten/ instansi teknis juga harus kompeten. Tentu kompetensi memiliki tolok ukur yang mampu telusur apakah standar, pedoman ataupun regulasi teknis baik nasional maupun internasional.
Peran Komitmen politik. Komitmen politik yang dijabarkan dalam undang-undang telah
ditetapkan yang dimulai dari Undang-Undang No 20/tahun 2003 tentang Sistem pendidikan nasional, dan Undang-Undang No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan diikuti beberapa Undang-undang lainnya telah menetapkan pengembangan SDM berbasis kompetensi. Otoritas pemerintahan tertinggi Presiden RI telah menyatakan dan memulai dengan memilih dan merekrut para Menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu kedua salah satunya
berdasarkan kompetensi, dan ini akan menjadi sinyal dan modal bagi para Menteri dan seterusnya akan merekrut dan memilih para aparat birokrasinya juga berbasis kompetensi. Dan tentu saja DPR dan partai politik seharusnya juga demikian untuk mendapatkan wakil rakyat yang kompeten.
Peran Kementrian dan lembaga pemerintahan. Untuk memastikan tercapainya reformasi birokrasi yang kompeten untuk menghasilkan birokrasi yang efisien dan kredibel, maka diperlukan pemetaan dan standardisasi
standar kompetensi fungsi-fungsi kerja pada instansi teknis ini maka Menteri atau Kepala Lembaga dapat mengembangkan perencanaan SDM, rekrutmen, pengembangan karir dan pemeliharaan berbasis kompetensi. Persyaratan suatu jabatan diberbagai negara yang sudah maju dan biasa menjadi persyaratan dalam kerjasama perdagangan adalah bahwa suatu jabatan fungsional maupun struktural harus dijabat olehQualified, competent and assigned personel.
Peran Industri. Industri
merupakan penentu utama dalam pengembangan SDM berbasis kompetensi, karena selain pengguna, industrilah yang dapat memastikan bahwa seorang tenaga kerja memenuhi persyaratan tempat kerja. Jargon dari kalangan industri bahwa hasil pendidikan dan latihan tidak siap kerja tetapi hanya siap latih, atau tidak adanyalink and matchantara dunia pendidikan dan latihan dengan dunia industri, tidak melulu kesalahan dunia pendidikan dan pelatihan, tapi justru masih banyak industri yang belum mampu mengidentifikasi kompetensi apa yang diinginkan menjadi suatu standar kompetensi, sehingga masih banyak iklan rekrutmen karyawan dengan persyaratan bukan persyaratan kompetensi tetapi kualifikasi yang tidak berbasis kompetensi, seperti
“dicaritenaga dengan kualifikasi SLA sederajat, berpengalaman 2 tahun dansebagainya”.Akibat dari hal ini mengakibatkan pemborosan sumber daya yang besar, karena calon tenaga kerja yang sudah mengikuti pendidikan dan latihan, masih harus dilatih lagi. Hal ini dapat diatasi apabila industri berperan aktif untuk mengidentifikasi kompetensi tenaga untuk menghasilkan produk atau jasa dalam wujud standar kompetensi. Standar-standar kompetensi dari industri sejnis dalam bidang/ sektor dapat dikonvensikan dengan koordinasi otoritas standadisasi menjadi Standar Kompetensi Nasional Indonesia, sehingga dapat dipastikanLink and matchantara dunia pendidikan dan dunia industri dapat berjalan. Dengan kompetensi industri dalam mengembangkan standar kompetensi dipastikan akan
memberikan inisiasi luar biasa dalam pengembangan berbasis kompetensi.
Kelembagaan Pendidikan dan Pelatihan.
Kelembagaan pendidikan dan latihan harus memastikan menggunakan standar kompetensi sebagai acuan dalam menyusun kurikulum berbasis kompetensi, dimana format standar kompetensi yang terdiri atas judul unit yang performatif, elemen, kriteria unjuk kerja, batas variable dan panduan
penilaian merupakan komponen-komponen kurikulum berbasis kompetensi, sehingga menjamin berjalannyalink and matchantara dunia pendidikan dan dunia industri. otoritas pendidikan dan pelatihan seharusnya memastikan penggunaan kurikulum berbasis kompetensi ini secara konsisten.
Kelembagaan sertifikasi
profesi.
Sertifikasi merupakan proses pemberian sertifikat kepada peserta asesmen kompetensi melalui proses asesmen kompetensi, dan selanjutnya dipelihara kompetensinya oleh lembaga sertifikasi melalui proses surveilan. Untuk itu kelembagaan sertifikasi profesi harus membangun sistem kelembagaan yang kredibel yang mencakupi otoritas kelembagaan sertifikasi, dalam hal ini Indonesia telah menetapkan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), Lembaga Sertifikasi Profesi, dan Tempat Uji Kompetensi. Kemampuan telusur sistem ini terhadap sistem
internasional baik standar sistem kelembagaan sertifikasi (ISO 17024) maupun sistem standardisasi
kompetensi(RMCS= Regional Model Competency standard)dari ILO, sehingga akan memastikan dalam harmonisasi untuk pengakuan lintas negara. Manfaat sertifikasi bagi industri akan membantu meyakinkan kepada kliennya bahwa produk/ jasanya diproduksi oleh tenaga-tenaga kompeten, bagi profesi/ tenaga kerja membatu meyakinkan kepada klien atau industri bahwa
dirinya kompeten dan terpelihara kompetensinya.
Asosiasi profesi.Asosiasi profesi yang dalam fungsinya memberikan advokasi dan memelihara kompetensi anggotanya, maka peran yang besar diharapkan bersama asosiasi industri mengembangkan standar kompetensi dan kelembagaan sertifikasi untuk memastikan kemandirian sertifikasi.
P
roduktivitas kerja sebagai salah satu orientasi manajemen dewasa ini, keberadaannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap produktivitas pada dasarnya dapat diklasifikasikan kedalam dua jenis, yaitu pertama faktor-faktor yang berpengaruh secara langsung, dan kedua faktor-faktor yang berpengaruh secara tidak langsung. Tiga faktor diantara yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja.Remunerasi:
Untuk memberikan penghargaan atas kinerja atau prestasi yang diraih, maka pekerja perlu diberikan imbalan atau penghargaan.
Istilah imbalan ini biasa disebut remunerasi, yakni merupakan imbalan
www.bnsp.go.id edisi 1 I 2011
Pengertian ini mengisyaratkan bahwa keberadaannnya di dalam suatu organisasi perusahaan tidak dapat diabaikan begitu saja.
Sebab, akan terkait langsung dengan pencapaian tujuan
perusahaan. Remunerasi yang rendah tidak dapat dipertanggungjawabkan, baik dilihat dari sisi kemanusiaan maupun dari sisi kelangsungan hidup perusahaan.
Secara teoritis dapat dibedakan dua sistem remunerasi, yaitu yang mengacu kepada teori Karl Mark dan yang mengacu kepada teori Neo-Klasik. Kedua teori tersebut masing-masing memiliki kelemahan. Oleh karena itu sistem pengupahan yang berlaku dewasa ini selalu berada diantara dua sistem tersebut. Berarti bahwa tidak ada satupun
18
Secara teoritis dapat
dibedakan dua sistem
remunerasi, yaitu yang
mengacu kepada teori Karl
Mark dan yang mengacu
kepada teori Neo-Klasik.
Kedua teori tersebut
masing-masing memiliki
kelemahan.
atau balas jasa yang diberikan perusahaan kepada tenaga kerja sebgai akibat dari prestasi yang telah diberikannya dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.
TIGA LANGKAH MEMOTIVASI KERJA
SEDANGKAN pengertian produktivitas tersebut mengandung cara atau metode
pengukuran tertentu yang secara praktek sukar dilakukan. Kesulitan-kesulitan itu
dikarenakan, pertama karakteristik-karakteristik kepribadian individu bersifat komplek,
sedangkan yag kedua disebabkan masukan-masukan sumber daya bermacam-macam
dan dalam proporsi yang berbeda-beda.
pola yang dapat berlaku umum. Yang perlu dipahami bahwa pola manapun yang akan dipergunakan seyogyanya disesuaikan dengan kebijakan remunerasi masing--masing perusahaan dan mengacu kepada rasa keadilan bagi kedua belah pihak (perusahaan dan karyawan).
Besarnya tingkat remunerasi untuk masing-masing perusahaan adalah berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya diantaranya, yaitu permintaan dan penawaran tenaga kerja, kemampuan perusahaan, kemampuan dan keterampilan tenaga kerja, peranan perusahaan, serikat buruh, besar kecilnya resiko perusahaan, campur tangan pemerintah dan biaya hidup. Dilihat dari sistemnya pembelian remunerasi dapat dibedakan atas prestasi kerja, lama kerja, senioritas atau lama dinas, kebutuhan, dan premi atau upah borongan.
Pendidikan dan Latihan:
Pendidikan dan latihan dipandang sebagai suatu investasi di bidang sumber daya manusia yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dari tenaga kerja. Oleh karena itu pendidikan dan latihan merupakan salah satu faktor penting dalam organisasi perusahaan.
Pentingnya pendidikan dan latihan disamping berkaitan dengan
berbagai dinamika (perubahan) yang terjadi dalam lingkungan perusahaan, seperti perubahan produksi,
teknologi, dan tenaga kerja, juga berkaitan dengan manfaat yang dapat dirasakannya. Manfaat tersebut antara lain: meningkatnya produktivitas perusahaan, moral dan disiplin kerja, memudahkan pengawasan, dan menstabilkan tenaga kerja.
Besarnya tingkat remunerasi
untuk masing-masing
perusahaan adalah
berbeda. Perbedaan
tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor yang
mempengaruhinya
diantaranya, yaitu
permintaan dan penawaran
tenaga kerja, kemampuan
perusahaan, kemampuan dan
keterampilan
Pendidikan dan latihan
dipandang sebagai suatu
investasi di bidang sumber daya
manusia yang bertujuan untuk
S
Melalui Peningkatan Kompetensi SDM
www.bnsp.go.id edisi 1 I 2011
penyampaiannya semakin tinggi. Hal ini menyebabkan sifat aktualisasi dan kedekatan pesan–pesan antara pengirim dan penerima (proximity) juga makin tinggi , sehingga terjadi global proximity, yang menyatukan kedekatan sosiologis,kedekatan kaltural, serta kedekatan psikologis.
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi menghadirkan aneka ragam saluran dan media, yang kian lama kian canggih sehingga mampu memperbesar volume dan frekwensi berita. Konsep informasi saat ini disamakan dengan data yang diproses dengan komputer. Sedangkan dalam dunia komunikasi, informasi adalah segala sesuatu yang belum diketahui atau yang meniadakan ketidakpastian tentang dua atau lebih alternatif yang dihadapi,atau disebut juga angka-angka ganda (binary digits) (Muis, 2001:66).
Berbagai media baru dalam teknologi komunikasi dan informasi diciptakan dan digunakan, mulai dari pesawat televisi, telepon, komputer, faximile, e-mail, internet, cybercom, dan lain-lain. Semua menunjukkan tingkat peradaban sebagai langkah antisipasi dalam menghadapi kebutuhan.Namun, belakangan ini terjadi kesalah pahaman dalam mengartikan revolusi komunikasi berarti revolusi terhadap alat-alat komunikasi seperti penyebaran teknologi, inovasi sistem komunikasi serta meningkatnya frekwensi dan volume pesan yang dikirim. Padahal, makna revolusi komunikasi seperti dikemukakan Maulana (1986) adalah upaya untuk menciptakan interaksi yang memuaskan antar manusia, atau revolusi dalam meyampaikan pesan antar manusia.
Namun demikian adalah mendasar dan menjadi ciri dalam globalisasi komunikasi. Misalnya dalam penggunaan internet tidak diketahui identitas pengirim pesan, meskipun memiliki dampak berita yang kurang dahsyatnya terhadap stabilisasi sosial. Ini merupakan dampak negatif yang dapat berpengaruh terhadap
20
Oleh:
Dr. H. Adjat Daradjat, M.Si Ketua BNSP
aat ini, kita memasukiera globalisasi. Hampir tidak ada negara atau bangsa yang luput dari pengaruh globalisasi. Dunia sudah menjadi dusun global(global village), karena berkomunikasi orang lain, meskipun secara geografis tempat tinggal mereka berjauhan, dapat dengan mudah dilakukan. Ini disebabkan karena menguatnya proses globalisasi yang dimulai dengan penemuan dan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi sejak dasawarsa 1970 an.
Dengan penggunaan alat mutakhir, arus komunikasi meluas keseluruh pelosok dunia. Apa yang terjadi disuatu tempat, meskipun terpencil dipelosok negeri, akan diketahui oleh negara lain. Sehingga, suatu peristiwa akan mempengaruhi keadaan masyarakat dinegara lain. Inilah yang dikatakan Jonh Naisbit (1991) bahwa dunia seakan-akan sudah menjadiglobal village.
Memang sebagai bagian dari sistem mega kehidupan, kemajuan dibidang teknologi informasi pada akhirnya memancar (multiflier effect)
pada berbagai dimensi kehidupan yang lain. Pada sektor ekonomi , munculnya perdagangan bebas antar negara dan bangsa. Dibidang politik ,
munculnya kecenderungan pengaruh kebijakan dan kejadian politik yang multi lateral maupun upaya intervensi politik yang direncanakan. Dibidang sosial, berpengaruh terhadap tingkat
”Dengan
penggunaan alat
mutakhir, arus komunikasi
meluas keseluruh pelosok
dunia. Apa yang terjadi
disuatu tempat, meskipun
terpencil dipelosok negeri,
akan diketahui oleh
negara lain. Sehingga,
suatu peristiwa akan
mempengaruhi keadaan
masyarakat dinegara lain.
Inilah yang dikatakan Jonh
Naisbit (1991) bahwa dunia
seakan-akan sudah menjadi
global
village”
kesejahteraan masyarakat maupun kesiapan dalam peroleh kesempatan kerja. Dibidang nilai dan budaya, terjadi komunikasi lintas budaya dan pengaruh akulturasi. Dibidang hukum, terjadi tuntutan akan perlunyacyber lawakibat adanya kemungkinan terjadinya kejahatan maya (cyber crimes). Meskipun begitu setiap fenomena kehidupan selalu memiliki sistem yang kontra posisi, yaitu bisa positif dan negatif maupun bisa menguntungkan dan merugikan.
GLOBALISASI KOMUNIKASI
DAN INFORMASI
aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, hukum, serta kriminalitas. Ada beberapa faktor yang menjadi peluang menguntungkan dalam globalisasi komunikasi.
Pertama, meningkatnya volume kecepatan dalam penyebaran ilmu pengetahuan dengan biaya yang relatif murah jika dibandingkan melalui pola tradisional seperti buku,tabloid, jurnal,dan sebagainya.
Kedua, meningkatnya interaksi antar manusia dari segala penjuru dunia, sehingga meningkatnya relasitas dan koneksitas.
Ketiga, mempercepat informasi dan komunikasi, sehingga mendorong efisiensi dan efektivitas dalam setiap kegiatan.
Keempat, mempercepat arus jasa ,produk,modal ,maupun informasi pasar kerja dan pasar barang.
Sementara itu , ada juaga beberapa faktor dapat merugikan dan menjadi ancaman akibat globalisasi komunikasi dan ekonomi.
Pertama, dapat merusak nilai-nilai budaya, termasuk nilai agama dan etika komunikasi sosial.misalnya, pergaulan bebas pria dan wanita , memudarnya lembaga perkawianan, meluasnya gaya hidup hedonisme, dan lain sebagainya.
Kedua, lahirnya pola hidup kebarat-baratan (westernisasi),
karena arus komunikasi global cenderung dikendalikan oleh jaringan media barat.
Ketiga, melunturnya paham nasionalisme budaya, karena dikalahkan oleh uniformitas global atau internasional .
Keempat, munculnya imperialisme gaya baru melalui jarinagan
komunikasi.
GLOBALISASI EKONOMI Era globalisasi di bidang ekonomi ditandai dengan perdagangan bebas (free trade) . Kekuatan pasar demikian kuatnya sehingga hampir tidak ada satu negara yang tidak ikut arus untuk mengakomodasi pasar secara lebih efektif. Tonggak perubahan tatanan perekonomian yang paling mendasar adalah terbentuknya organisasi perdagangan dunia (world trade organisation atau WTO)
. Arus barang dan jasa demikian pula hanya dengan lalulintas faktor-faktor
perekonomian , bahkan merambah pada sektor sosial seperti
penyelenggaraan pendidikan dan pelayanan kesehatan .
Kedua, bertambah luasnya pasar barang dan jasa .
Ketiga, meningkatnya pemanfaatan produk dan jasa unggulan yang selama ini tidak terakomodir seperti sektor usaha pariwisata.
Keempat, meningkatnya penggunaan teknologi industri.
Kelima, terbentuknya kartel-kartel perdagangan antar negara yang memperkuat daya saing sektoral , memperluas pemasaran , maupun memperlancar arus bahan baku.
Namun begitu, pada sisi yang berhadapan, globalisasi ekonomi juga membawa dampak dalam bentuk ancaman terutama bagi negara berkembang.
Pertama,bertambahnya
persaingan global. Tidak saja disektor dunia usaha, tapi juga dalam merebut lapangan kerja.
Kedua,hegemoniperusahaan investor dari luar negeri sehingga mereka bisa berbuat sewenang-wenang terhadap kondisi, sistem dan regulasi perekonomian lokal.
Ketiga,adanya intervensi negara donor terhadap negara-negara penerima bantuan dalam kebijakan perekonomian, bahkan dapat meluas pada kebijakan politik, kebijakan administrasi dan terhadap sitem hukum.
POLITIK DAN SOSIAL BUDAYA Menurut Thomas Friedman (1999), globalissasi memiliki enam dimensi utama yaitu, politik budaya, keamanan nasional, pasar uang , teknologi, serta lingkungan. Dalam bidang politik, globalisasi juga berdampak positif dan negatif. Salah satu bentuk positifnya adalah terwujudnya demokratisasi disegala aspek, baik kekuasaan pemerintahan, pertisipasi keuangan, informasi dan komunikasi, serta teknologi. Globalisasi menjadi energi untuk mendorong perubahan dalam sikap pandang, keberanian, pola perilaku, mekanisme dan struktur politik seperti munculnya kebijakkan partai politik, kebebasan pers, kemerdekaan berserikat dan berpendapat.
promosi dan produksi seperti modal , tenaga kerja , teknologi dengan cepat dan deras antar negara.
Hilangnya hambatan dalam perdagangan antar negara
menyebabkan meningkatnya volume perdagangan dunia. Oleh karena itu, lapangan kerja dan tingkat pendapatan mengalami peningkatan . Perkembangan pesat dialami negara di kawasan Asia Pasifik, khususnya Asia, . Sampai tahun 2000 telah terjadi peningkatan produksi sebesar 40 persen yang dihasilkan oleh kawasan Asia Timur , yang sekarang sudah menguasai 25 persen dari global
Menurut Thomas
Friedman (1999),
globalissasi memiliki
enam dimensi utama
yaitu,politik budaya ,
keamanan nasional ,
pasar uang , teknologi ,
serta lingkungan. Dalam
bidang politik,globalisasi
juga berdampak positif
dan negatif.Salah
satu bentuk positifnya
adalah terwujudnya
demokratisasi disegala
aspek, baik kekuasaan
pemerintahan, pertisipasi
keuangan, informasi
dan komunikasi, serta
teknologi.
out put.Bersamaan dengan integrasi perdagangan dunia, juga terjadi proses integrasi keuangan dunia (global finance). Arus dana dinegara-negara maju yang sebelumnya hanya berputar antara mereka sendiri, kini telah mengalir dengan deras kenegara-nagara berkembang termasuk Indonesia.
Dari sini dapat bergambar beberapa peluang yang bisa diraih oleh setiap negara terhadap masuknya era globalisasi pada sektor perekonomian .
Sisi negatifnya antara lain :
Pertama,arus globalisasi membuat sebagian negara belum siap untuk menerimanya sehingga timbul tuntutan yang berlebihan dan bersifat destruktif.
Kedua,sistem globalisasi terlalu instruktif sehingga batas-batas kebebasan individu dan kelompok menjadi kabur.
Ketiga,sistem globalisasi tidak dapat memberikan rasa keadilan bagi banyak orang. Kelompok minoritas memiliki hegemoni terhadap kelompok yang lebih besar secara kuantitatif.
Keempat,karena dukungan dan filosofinya terlalu teknologi sentris, maka sistem ini dianggap terlalu meminggirkan aspek kemanusiaan (humanising).
Kelima,sistem globalisasi memiliki tingkat hubungan yang ketat , sehingga sekelompok orang yang lebih berdaya(super emprowed angry men) dapat dengan mudah merusak sistem globalisasi.
Sistem globalisasi ditandai dengan terjadinya transisi perubahan dalam tatanan sosial (social change), baik secara fisik dalam bentuk perpindahan atau migrasi penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain dalam satu negara , maupun perpindahan penduduk antar negara. Selain itu juga terjadi transisi yang bersifat non-fisik, yaitu berupa perubahan sikap , sistem nilai sistem kepercayaan , budaya atau terjadinya sinkretisme budaya. Sinkretisme tersebut berlangsung pada setiap sisi kehidupan , melalui informasi , hiburan, pendidikan, dunia kerja , dan lain-lain. Dalam jangka waktu panjang, sinkretisme budaya ini akan menuju padasinkretismeperadaban.
Sebagai sesuatu yang bisa dipelajari dan dipengaruhi oleh faktor-faktor luar, maka dalam era globalisasi yang memilki terpaan informasi yang keras dan terbuka, sangat memungkinkan seseorang mengadopsi nilai-nilai , pengetahuan dan kebiasaan dari luar lingkungan sosialnya, yang berjauhan secara fisik . Imitasi dapat terjadi melalui media massa dan menjadi perilaku global sebagai mana yang telah terjadi dalam sejarah peradaban manusia, kemajuaan suatu peradaban akan
www.bnsp.go.id edisi 1 I 2011
hilangnya budaya lokal atau regional dan terjadinya ketimpangan sosial akibat ketidak samaamn akselerasi daya serap globalisasi.
PENGEMBANGAN SDM GLOBAL Pengembangan SDM memiliki peran penting di era globalisasi ini. Namun, dalam pengelolaannya tidaklah mudah. Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis serta tersedianya sarana yang mampu menunjang dalam pengembangannya. Pemikiran strategis harus
dilaksanakan dengan paradigma yang baru yang mengantisipasi globalisasi. Sebab, kepentingan yang dicapai bukan hanya kepentingan lokal atau nasional semata, melainkan langkah untuk menuju sasaran global. Salah satu langkah strategis dalam menyiapkan SDM yang berwawasan global adalah melalui reformasi pendidikan yang mencakup pendidikan formal, latihan untuk persiapan kerja, pelatihan ditempat kerja (on the job training), serta yang terpenting adalah budaya belajar terus menerus (long life education), serta sikap responsif terhadap perubahan lingkungan . Dalam pendidikan formal. Perlu dilaksanakannya konsep keselarasan dan kesepadan (link and match) antara dunia pendidikan dengan dunia kerja .
Pengembangan SDM merupakan tanggung jawab semua pihak. Karenanya, perusahaan harus mulai meningkatkan kompetensi SDM ,
22
dialami dengan pesat apabila terjadi penyerapan dari peradaban yang lain dan dikembangkan lebih lanjut.
Ada banyak keuntungan dan puluang dibidang sosio budaya melalui sinkreatisme peradaban. Diantaranya, adalah berkurang atau bahkan hilangnya sekat budaya yang sering menjadi sumber konflik antar