SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Sanata Dharma
Oleh:
Lukas Wiyatno
Nim: 062214041
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
i
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Sanata Dharma
Oleh:
Lukas Wiyatno
Nim: 062214041
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
” AKU JALANI HIDUP APA ADANYA DAN AKU TERUS BERJUANG
DAN TERUS BERJUANG TANPA MENYERAH. AKU TIDAK AKAN
BERKATA AKU TIDAK BISA, AKU TIDAK MAMPU DAN LAIN
SEBAGAINYA KARENA ITU AKAN MENGEMBOK AKU DALAM PENJARA
KEGAGALAN”
KU PERSEMBAHKAN SKRIPSI INI UNTUK
ALLAH BAPA DISURGA DAN UNTUK KARYAKU
DI TENGAH KELUARGA DAN MASYARAKAT
v
tidak menjiplak karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 20 Juli 2010
vi
Lukas Wiyatno Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2010
vii
Lukas Wiyatno Sanata Dharma University
Yogyakarta 2010
viii
Nama : Lukas Wiyatno Nomor Mahasiswa : 062214041
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan pada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham, Studi Kasus pada Industri Makanan dan Minuman yang Go Public di Bursa Efek
Indonesia
beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkajian data, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa meminta ijin dari saya maupun memberikan loyalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya tulis dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal 24 September 2010
Yang menyatakan
ix
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun guna melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulisan skripsi ini dapat selesai karena bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Y. P. Supardiyono, M.Si., Akt., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.
2. Bapak V. Mardi Widyadmono, S.E., M.B.A., selaku Ketua Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma.
3. Bapak Dr. H. Herry Maridjo, M.Si., selaku dosen pembimbing I, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis dengan kesungguhan hati.
4. Bapak Drs. P. Rubiyatno, M.M., selaku dosen pembimbing II yang juga telah mengarahkan dan membimbing penulis dengan kesungguhan hati.
5. Bapak dan ibuku tercinta yang telah mengasihi dan mendoakanku selalu. 6. Kakakku tercinta Chatarina. S yang telah memberikan biaya kuliah selama
masa studi.
7. Tarekat Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) yang telah memberikan bimbingan iman.
x
keterbatasan dan pengalaman yang dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan masukan yang membangun dari para pembaca guna meyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat menjadi bahan masukan bagi barbagai pihak yang memerlukan.
Yogyakarta, 20 Juli 2010
xi
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN. ... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT. ... vii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI. ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Batasan Masalah ... 3
D. Tujuan Penelitian ... 4
E. Manfaat Penelitian ... 4
xii
C. Kerangka Konseptual ... 36
D. Hipotesis ... 37
BAB III METODE PENELITIAN ... 39
A. Jenis Penelitian ... 39
B. Lokasi dan Waktu ... 39
C. Subyek dan Obyek ... 39
D. Data yang Dicari ... 39
E. Populasi ... 39
F. Jenis Data ... 40
G. Teknik Pengumpulan Data. ... 40
H. Metode Analisis Data ... 40
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 50
A. PT. Ades Water Indonesia, Tbk ... 50
B. PT. Aqua Golden Misisipi, Tbk. ... 51
C. PT. Cahaya Kalbar ... 53
D. PT. Davomas Abadi, Tbk ... 55
E. PT. Delta Djakarta, Tbk ... 56
F. PT. Fast Food Indonesia, Tbk ... 57
G. PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk ... 59
xiii
L. PT. Sekar Laut, Tbk ... 67
M. PT. Siantar Top, Tbk ... 68
N. PT. SMART, Tbk ... 69
O. PT. Tiga Pilar Sejahtera Food ... 71
P. PT. Tunas Baru lampung ... 72
Q. PT. Ultra Jaya, Tbk ... 74
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN DATA. ... 76
A. Gambaran Data ... 76
B. Perhitungan Data pada Tahun Pengamatan... 77
C. Analisis Data. ... 82
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. ... 93
A. Kesimpulan. ... 93
B. Saran. ... 94
DAFTAR PUSTAKA. ... 96 LAMPIRAN
xiv
Tabel 5.1 Perusahaan yang Listing di Bursa Efek Indonesia ... 80
Tabel 5.2 Debt to equity ratio ... 81
Tabel 5.3 Systematic risk... 82
Tabel 5.4 Earning per share ... 83
Tabel 5.5 Price earning ratio ... 84
Tabel 5.6 Return saham... 85
Tabel 5.7 Statistika deskripftif ... 86
Tabel 5.8 Analisis regresi berganda ... 87
Tabel 5.9 Hasil uji multikolonieritas ... 88
Tabel 5.10 Nilai Durbin Watson ... 91
Tabel 5.11 Hasil uji F ... 92
xv
Gambar 2.2 Kerangka konseptual ... 37
Grafik 5.1 Scatterplot ... 89
Grafik 5.2 Histogram ... 90
1 A. Latar Belakang
Pembangunan suatu negara memerlukan dana investasi dalam jumlah
yang tidak sedikit. Salah satu ciri negara berkembang adalah tingkat tabungan
masyarakat masih rendah, sehingga dana untuk investasi menjadi tidak
mencukupi (Lloyd dalam Anoraga, 1995:1). Dalam rangka peningkatan
pengerahan dana tabungan masyarakat itu, lembaga-lembaga keuangan
perbankan maupun non perbankan perlu dituntut bekerja lebih keras untuk
meningkatkan penarikan dana masyarakat. Pasar modal dipandang sebagai
salah satu sarana yang efektif untuk mempercepat pembangunan suatu negara.
Hal ini dimungkinkan karena pasar modal merupakan wahana yang dapat
menggalang pengerahan dana jangka panjang dari masyarakat untuk
disalurkan ke sektor-sektor yang produktif di dalam memajukan
perekonomian Indonesia.
Pasar modal merupakan salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan
perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dananya. Meskipun telah ada
lembaga perbankan, namun karena terbatasnya leverage suatu perusahaan tidak dapat memperoleh pinjaman dari bank sehingga perusahaan
memerlukan pasar modal.
Perusahaan yang membutuhkan dana dapat menerbitkan saham dan
mendapatkan pengembalian atas dana yang disetorkannya sehingga para
investor selalu berusaha mencari alternatif investasi yang memberikan return
tertinggi dengan tingkat risiko tertentu. Risiko yang melekat pada investasi
saham lebih besar daripada investasi dalam bentuk tabungan karena pada
investasi dalam bentuk saham, jika perusahaan tempat berinvestasi dilikuidasi,
maka pemegang saham (investor) ikut menanggung kerugian, sedangkan
investasi dalam bentuk tabungan jika bank tempat investor menanamkan
dananya dilikuidasi, investor tidak menanggung kerugian.
Dengan alasan di atas maka penulis melakukan penelitian dengan topik Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham. Ada banyak variabel yang
dapat mempengaruhi return saham antara lain debt to equity ratio, systematic
risk, earning per share, price earning ratio,sedangkan menurut Munte (2009: 7) di samping variabel-variabel tersebut di atas masih terdapat variabel lain
yang dapat mempengaruhi return saham yaitu return on equity (ROE), ukuran
perusahaan, price book value (PBV). Dalam penelitian ini penulis memilih menggunakan empat variabel diantara variabel yang lain. Variabel tersebut
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka dapat
dirumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu:
1. Apakah debt to equity ratio (DER), systematic risk (Beta), earning per share (EPS) dan price earning ratio (PER) secara simultan berpengaruh terhadap return Saham?
2. Apakah debt to equity ratio (DER), systematic risk (Beta), earning per share (EPS) dan price earning ratio (PER) secara parsial berpengaruh terhadap return saham?
C. Pembatasan Masalah
Di dalam penelitian ini agar penelitian tetap terarah pada judul maka penulis
melakukan pembatasan masalah yang meliputi:
1. Perusahaan tersebut termasuk dalam kelompok perusahaan makanan dan
minuman.
2. Perusahaan tersebut menyajikan laporan keuangan setiap tahun, selama
tahun pengamatan yaitu tahun 2004-2008.
3. Perusahaan tersebut harus mempunyai data yang lengkap tentang DER,
Beta, EPS dan PER.
4. Perusahaan tersebut adalah perusahaan yang sudah mencatatkan sahamnya
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan debt to equity ratio,
systematic risk, earning per share dan price earning ratio terhadap return saham.
2. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial debt to equity ratio,
systematic risk, earning per share dan price earning ratio terhadap return saham.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:
1. Investor, dengan penelitian ini diharapkan para investor maupun calon
investor dapat mengetahui dan menganalisis saham mana yang dapat
memberikan return terbaik dengan risiko tertentu.
2. Universitas Sanata Dharma, dengan penelitian ini diharapkan dapat
menambah koleksi bacaan di perpustakaan dan dapat menjadi bahan
penambah pengetahuan bagi para pembacanya yang terkait dengan
masalah investasi saham.
3. Bagi penulis, dengan melakukan penelitian ini penulis dapat menambah
wawasan dan pengetahuan tentang invetasi khususnya investasi dalam
F. Sistematika Penulisan
Sistematika pembahasan skripsi ini dibagi menjadi enam bab yaitu
sebagai berikut:
BAB I. PENDAHULUAN
Dalam bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, rumusan
masalah, pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.
BAB II. LANDASAN TEORI
Dalam bab ini dibahas mengenai teori-teori yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, penelitian sebelumnya, kerangka
konseptual dan rumusan hipotesis.
BAB III. METODE PENELITIAN
Dalam bab ini dibahas mengenai jenis penelitian, waktu dan lokasi
penelitian, subyek dan obyek penelitian, variabel penelitian, data
yang dibutuhkan, metode pengumpulan data, populasi, teknik
pengujian data, serta teknik analisis data.
BAB IV. GAMBARAN UMUM
Dalam bab ini dibahas mengenai sejarah dan perkembangan
perusahaan yang diteliti, lokasi perusahaan setruktur manajemen,
BAB V. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang analisis data berdasarkan teori-teori
yang relevan dalam landasan teori dan pembahasannya serta
pengujian terhadap hipotesis yang diajukan.
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian
yang telah dilakukan dan memberikan saran-saran yang diperlukan
7 A. Landasan Teori
1. Pengertian Pasar Modal
UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal (Undang-Undang Pasar
Modal), memberikan batasan pasar modal sebagai kegiatan yang
bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,
perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal atau bursa
efek adalah salah satu jenis pasar dimana para pemodal bertemu untuk
menjual atau membeli surat-surat berharga atau efek (Koetin, 1997:1).
Sedangkan Anoraga (1995:6) pasar modal pada hakikatnya adalah
jaringan tatanan yang memungkinkan pertukaran klaim jangka panjang,
memungkinkan penambahan financial assets (dan hutang) pada saat yang
sama memungkinkan investor untuk merubah dan menyesuaikan
portofolio investasinya (melalui pasar sekunder).
Pasar modal adalah tempat bertemunya para pembeli dan penjual
dengan dua risiko yaitu untung dan rugi (Gunawan, 2003:39). Dengan melakukan investasi di pasar modal, maka dana yang tertumpuk di satu
pihak dapat disalurkan kepada pihak lain yang membutuhkan, sehingga
operasional perusahaan dan akhirnya dapat menggerakkan roda
perekonomian secara nasional.
2. Sejarah Pasar Modal
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia
merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak zaman kolonial
Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika
itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan
pemerintah kolonial atau VOC. Meskipun pasar modal telah ada sejak
tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar
modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa
faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari
pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan
berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat
berjalan sebagaimana mestinya.
Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar
modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal
mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi
yang dikeluarkan pemerintah. Secara singkat, tonggak perkembangan
pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut:
a. 14 Desember 1912 :Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di
Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda.
c. 1925 – 1942 :Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan
Bursa Efek di Semarang dan Surabaya.
d. Awal tahun 1939 :Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek di
Semarang dan Surabaya ditutup.
e. 1942 – 1952 :Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang
Dunia II.
f. 1952 :Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat
Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri kehakiman
(Lukman Wiradinata) dan Menteri keuangan (Prof.DR. Sumitro Djojohadikusumo). Instrumen yang diperdagangkan: Obligasi
Pemerintah RI (1950).
g. 1956 :Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek
semakin tidak aktif.
k. 1956 – 1977 :Perdagangan di Bursa Efek vakum.
l. 10 Agustus 1977 :Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden
Soeharto. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana
Pasar Modal). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar
Modal. Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan
go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama.
m. 1977 – 1987 :Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten
hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih
n. 1987 :Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES
87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk
melakukan Penawaran Umum dan investor asing menanamkan
modal di Indonesia.
o. 1988 – 1990 :Paket deregulasi di bidang Perbankan dan Pasar Modal
diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat
meningkat.
p. 2 Juni 1988 :Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan
dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer.
q. Desember 1988 :Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88
(PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go
public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan
pasar modal.
r. 16 Juni 1989 :Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan
dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek
Surabaya.
s. 13 Juli 1992 :Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan
Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.
t. 22 Mei 1995 :Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan
dengan sistem computer JATS (Jakarta Automated Trading
u. 10 November 1995 : Pemerintah mengeluarkan Undang –Undang
No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai
diberlakukan mulai Januari 1996.
v. 1995 :Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya.
x. 2000 :Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai
diaplikasikan di pasar modal Indonesia.
y. 2002 :BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh
(remote trading).
z. 2007 :Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia
(BEI)
3. Jenis-Jenis Transaksi di Pasar Modal
Sebagaimana diketahui bahwa motif investor dalam melakukan
investasi senantiasa mengharapkan untuk mendapatkan return yang
memadai dan disertai kesediaan menanggung risiko sampai sejumlah
batas tertentu yang mampu ditanggung. Di sisi lain pasar modal dapat
disebut sebagai tempat transaksi bagi kedua belah pihak. Sebenarnya
transaksi yang terjadi di pasar modal secara garis besar dapat dibagi ke
dalam dua kelompok, yaitu:
a. Penyertaan, bentuk ini biasanya ditandai dengan kepemilikan
dalam wujud saham. Jumlah saham yang dimiliki oleh seorang
investor menandai besarnya porsi kepemilikan investor di suatu
Penyertaan investor dapat dilakukan dengan cara membeli saham
dari sebuah badan usaha yang telah go public atau emiten dan
terdaftar di otoritas pasar modal.
b. Hutang, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.
Hutang yang bersifat jangka pendek dapat dilakukan dengan
menerbitkan surat hutang, sedangkan hutang yang bersifat jangka
panjang dilakukan dengan menerbitkan obligasi atau sekuritas
lainnya seperti right, warrant, opsi dan future.
4. Manfaat Pasar Modal
Manfaat pasar modal bisa dirasakan baik oleh investor,
emiten/perusahaan, pemerintah maupun lembaga penunjang lainnya.
Manfaat Pasar Modal bagi emiten/Perusahaan (Anoraga, 1995: 29)
yaitu:
a. Jumlah dana yang dapat dihimpun bisa berjumlah besar.
b. Dana tersebut dapat diterima sekaligus pada saat pasar perdana
selesai.
c. Manajemen dapat lebih bebas dalam pengelolaan dana perusahaan.
d. Solvabilitas perusahaan tinggi sehingga memperbaiki citra perusahaan.
e. Ketergantungan emiten terhadap bank menjadi kecil.
f. Cash flow hasil penjualan saham biasanya lebih besar dari harga
nominal perusahaan.
g. Emisi saham cocok untuk membiayai perusahaan yang berisiko
h. Tidak ada beban finansial yang tetap.
i. Jangka waktu penggunaan dana tidak terbatas.
j. Tidak dikaitkan dengan kekayaan sebagai jaminan tertentu.
k. Profesionalisme dalam manajemen meningkat.
Sedangkan manfaat pasar modal bagi investor adalah:
a. Nilai investasi berkembang mengikuti pertumbuhan ekonomi.
b. Memperoleh dividen bagi mereka yang memiliki atau memegang
saham dan memperoleh bunga obligasi bagi pemegang obligasi.
c. Mempunyai hak suara dalam RUPS bagi pemegang saham, mempunyai hak suara dalam RUPO bagi pemegang obligasi.
d. Dapat dengan mudah mengganti instrumen investasi, misal dari
saham A ke saham B sehingga dapat meningkatkan keuntungan.
Manfaat Pasar Modal bagi Pemerintah (pembangunan) menurut
Lukman Nul Hakim (dalam Anoraga,1995: 37) adalah:
a. Dengan berkembangnya pasar modal dimana perusahaan-perusahaan
menjual sahamnya di bursa efek, maka hal ini sejalan dengan tujuan
pemerataan hasil pembangunan, membuka kesempatan kerja dan
mengurangi ketegangan sosial di kalangan masyarakat.
b. Perkembangan pasar modal adalah pendayagunaan secara optimal
dana yang dimiliki masyarakat untuk dimanfaatkan dalam
5. Pengertian Investasi
Investasi adalah penanaman uang dengan harapan mendapatkan
hasil dan nilai tambah (Koetin, 1993: 16). Investasi merupakan
pengeluaran pada saat ini dimana hasil yang diharapkan dari
pengeluaran itu baru akan diterima di waktu mendatang. Investasi dapat
digunakan oleh perusahaan untuk pertumbuhan kekayaannya melalui
distribusi hasil investasi untuk apresiasi nilai investasi atau untuk
manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi, seperti manfaat yang
diperoleh melalui hubungan dagang (Gitosudarmo, 2002:133).
Keputusan untuk melakukan investasi pada perusahaan lain
sangat kompleks (Simamora, 2000:438). Motivasi perusahaan untuk
membeli saham perusahaan lain bisa digunakan sebagai:
a. Investasi jangka pendek kelebihan kas perusahaan.
b. Investasi jangka panjang dalam persentase substansial saham
perusahaan lain guna memastikan suatu kepentingan tertentu.
Investasi jangka panjang untuk ekspansi. Perusahaan melaporkan
investasi mereka dalam surat-surat berharga melalui berbagai cara.
Pada umumnya investasi-investasi tersebut diklasifikasikan sebagai
aktiva lancar (current asset) dan aktiva jangka panjang (noncurrent
6. Kategori – Kategori Investasi
Aset (sumber daya) entitas bisnis dapat meliputi investasi pada
surat berharga utang ataupun surat berharga ekuitas. Setiap investasi
pada surat berharga utang maupun surat berharga ekuitas dapat
ditempatkan ke dalam salah satu dari lima kategori sebagai berikut
(Simamora, 2000:440):
a. Trading securities adalah surat berharga utang dan surat berharga
ekuitas yang dibeli oleh manajemen dengan maksud untuk dijual
kembali dalam waktu dekat.
b. Available for sale securities adalah surat berharga utang yang tidak
ingin dijual dalam waktu dekat ataupun ditahan hingga jatuh tempo
oleh manajemen, selain itu dapat diartikan sebagai surat berharga
ekuitas yang tidak berpengaruh dan tidak ingin dijual oleh
manajemen dalam waktu dekat.
c. Hold to maturity securities adalah surat berharga utang yang ingin
ditahan oleh manajemen hingga jatuh tempo.
d. Influential securities adalah surat berharga ekuitas yang merupakan
20% hingga 50% kepemilikan dari saham biasa.
e. Controlling securities adalah surat berharga ekuitas yang
7. Investasi Dalam Saham
Saham adalah unit kepemilikan dalam sebuah perusahaan. Sebagai
bukti kepemilikan dalam sebuah perusahaan tersebut, Perseroan
Terbatas menerbitkan sertifikat saham (stock sertificate) kepada para
pemegang sahamnya (Simamora, 2000: 408). Investasi saham (stock
investment) adalah investasi pada modal saham perusahaan (Simamora, 2000: 445).
8. Pengertian Rasio
Rasio adalah alat yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data finansial (Riyanto, 1996:329). Rasio
merupakan alat yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut
untuk menjelaskan hubungan tertentu antara faktor yang satu dengan
faktor yang lain dari suatu laporan finansial. Rasio menggambarkan
suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan
jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio
ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada
penganalisa tentang baik atau buruknya posisi keuangan suatu
perusahaan terutama apabila angka-angka tersebut dibandingkan
dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standard
(Munawir, 2000: 64).
Manfaat analisis rasio pada dasarnya tidak hanya berguna bagi
kepentingan intern perusahaan melainkan juga bagi pihak luar.
tahun ke tahun (time series) atau dengan perusahaan lain (cross
section) dalam industri yang sama (Slamet, 2003: 31). 9. Pengguna Analisis Rasio
Pada umumnya terdapat tiga kelompok yang paling berkepentingan dengan rasio keuangan yaitu (Syamsuddin, 2001: 37):
a. Para pemegang saham dan calon pemegang saham
Pemegang saham menaruh perhatian utama pada tingkat
keuntungan pada masa yang akan datang. Selain itu mereka juga
berkepentingan terhadap tingkat likuiditas, aktivitas, dan leverage perusahaan.
b. Para kreditur
Berkepentingan terhadap kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban jangka panjang maupun jangka pendek.
c. Manajemen perusahaan
Manajemen perusahaan berkepentingan terhadap seluruh keadaan
keuangan perusahaan, karena hal-hal tersebut yang akan dinilai oleh
pemilik perusahaan maupun para kreditur.
10. Debt to Equity Ratio (DER)
DER merupakan rasio yang digunakan untuk melihat struktur
keuangan perusahaan dengan mengaitkan jumlah kewajiban dengan
jumlah ekuitas pemilik (Simamora, 2000: 533). Menurut Syamsuddin
(2001: 54) DER adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara
diberikan pemilik perusahaan. Berdasarkan pendapat di atas,
pengertian DER dalam penelitian ini adalah rasio yang
membandingkan antara total hutang dengan total ekuitas pemilik.
DER mengidentifikasikan sejauh mana perusahaan dapat menanggung
kerugian tanpa harus membahayakan kepentingan krediturnya dalam
hal terjadi likuiditas.
Kreditur mempunyai prioritas klaim dibandingkan pemegang
saham. Dari sudut pandang kreditur, jumlah ekuitas dalam struktur
permodalan perusahaan dapat dianggap sebagai katalisator, membantu memastikan bahwa terdapat asset yang memadai untuk menutup klaim
pihak lain. Rasio yang tinggi dapat mengindikasikan bahwa klaim
pihak lain relatif lebih besar ketimbang asset yang tersedia untuk
menutupnya, sehingga meningkatkan risiko bahwa klaim kreditur
kemungkinan tidak akan tertutup secara penuh bilamana terjadi
likuidasi. Dalam mengukur risiko, perhatian kreditur jangka panjang
terutama difokuskan pada prospek laba dan perkiraan arus kas.
Meskipun demikian mereka tetap memperhatikan keseimbangan
antara proporsi aktiva yang didanai oleh kreditur dan pemilik
perusahaan. Keseimbangan proporsi tersebut diukur dengan rasio debt
to equity.
Rasio ini juga dapat memberikan gambaran mengenai struktur
modal yang dimiliki oleh perusahaan sehingga dapat dilihat tingkat
jangka panjang pada umumnya lebih menyukai angka DER yang
kecil. Semakin kecil angka rasio ini, berarti semakin besar jumlah
aktiva yang didanai oleh pemilik perusahaan dan semakin besar
penyangga risiko kreditur. Jika DER semakin meningkat maka
menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin memburuk, selain itu
semakin tinggi DER menunjukkan struktur permodalan lebih banyak
dibiayai oleh pinjaman sehingga ketergantungan perusahaan terhadap
kreditur semakin meningkat. Dengan meningkatnya DER maka beban
perusahaan kepada pihak luar (kreditur) juga semakin meningkat sehingga harapan tingkat kembalian (return) para pemegang saham
semakin kecil (Farchan & Sunarto, 2002: 72). Penghitungan DER
dinyatakan dalam rumus (Resmi, 2002: 281):
DER= Total hutang/Total ekuitas
11. Systematic risk
Risiko sistematis atau risiko yang tidak dapat didiversifikasi
(dihindarkan) disebut juga dengan risiko pasar. Risiko ini berkaitan
dengan kondisi di pasar secara umum, misalnya perubahan
perekonomian secara makro, risiko tingkat bunga, risiko politik, risiko
nilai tukar dan risiko pasar. Risiko ini mempengaruhi semua
perusahaan dan karenanya tidak bisa dihilangkan dengan
didiversifikasi. Parameter yang digunakan untuk mengukur risiko ini
adalah beta. Pengertian beta menurut Jones (dalam Suharli, 2005: 104)
Dimana pengertian volatilitas adalah sebagai fluktuasi dari return dari
suatu sekuritas dalam suatu periode tertentu. Jika fluktuasi return
sekuritas secara setatistik mengikuti return pasar, maka beta dari
sekuritas tersebut bernilai 1. Misalnya apabila return pasar naik
sebesar 5%, maka investor mengharapkan kenaikan return sebesar 5%
pula.
Scoot (dalam Suharli, 2005: 104) yang menyatakan bahwa ”beta
a mesure stock’s volatility relative to an average stock” lain halnya dengan pendapat Brealy (dalam Suharli, 2005: 104) yang mendefinisikan ”beta is sensitivity of a stock’s return to the return on
the market portofolio”. Dapat disimpulkan bahwa beta adalah pengukur volatilitas suatu risiko sistematis pada sekuritas. Beta suatu
sekuritas dapat dihitung dengan titik estimasi yang menggunakan data
historis berupa data pasar (return sekuritas dan retun pasar).
Secara matematis menurut Bodie (dalam Suharli, 2005: 104)
beta dapat dihitung dengan rumus:
12. Earning Per Share (EPS)
EPS merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar
keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham
per lembar saham (Darmadji, 2001: 139). Menurut Simamora (2000:
530) EPS adalah laba bersih per lembar saham biasa yang beredar
selama suatu periode. Berdasarkan pendapat di atas, pengertian EPS
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rasio yang menunjukkan
berapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor atau
pemegang saham per lembar saham yang beredar selama suatu periode.
Rasio ini ingin menyampaikan berapa besar bagian dividen yang
akan didapatkan oleh setiap saham, dalam hal ini jumlah saham telah
dirata-ratakan secara tertimbang (Slamet, 2003: 40). Variabel EPS
merupakan proxy bagi laba per saham perusahaan yang diharapkan
dapat memberikan gambaran bagi investor mengenai bagian
keuntungan yang dapat diperoleh dalam suatu periode tertentu dengan
memiliki suatu saham (Chandradewi, 2000: 17). Seorang investor
membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan
harapan akan memperoleh dividen atau capital gain. Laba biasanya
menjadi dasar penentuan pembayaran dividen dan kenaikan nilai
saham di masa mendatang (Prastowo, 2002: 93). Oleh karena itu, para
pemegang saham biasanya tertarik dengan angka EPS yang dilaporkan
perhitungannya tergantung dari struktur modal perusahaan sehingga
perhitungannya dapat sederhana atau kompleks. Terdapat dua masalah
yang dapat timbul dalam hubungannya dengan perhitungan EPS ini.
Masalah pertama timbul apabila dalam perhitungan laba rugi terdapat
pos luar biasa, sedangkan masalah kedua terjadi apabila perusahaan
mempunyai struktur modal yang kompleks. Apabila perusahaan
mempunyai pos luar biasa pada laporan laba ruginya, maka harus
menghitung dua angka EPS yaitu EPS yang dihasilkan dari operasi
normal perusahaan dan EPS yang merupakan akibat dari pos luar biasa. Suatu perusahaan dikatakan mempunyai struktur modal yang
kompleks, apabila mempunyai modal saham biasa perusahaan dan
juga mempunyai instrumen-instrumen keuangan yang dapat
menambah jumlah lembar saham biasa yang beredar. Menurut
Simamora (2000: 530) penghitungan EPS dinyatakan dalam formula
sebagai berikut:
EPS = ( Total Net Profit / Jumlah saham beredar )
13. Price Earning Ratio (PER)
Menurut Jordan (dalam Sangaji, 2003: 157) PER merupakan
rasio harga saham suatu perusahaan dengan pendapatan per saham
perusahaan tersebut. PER menggambarkan apresiasi pasar terhadap
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (Darmadji,
2001:139). Berdasarkan pendapat di atas, pengertian PER yang
antara harga pasar per lembar saham biasa yang beredar dengan laba
per lembar saham. Kegunaan PER adalah untuk melihat bagaimana
pasar menghargai kinerja saham perusahaan yang dicerminkan oleh
EPS nya. PER menunjukkan hubungan antara harga pasar saham biasa
dengan earning per share. Makin besar PER suatu saham, maka saham tersebut akan semakin mahal terhadap pendapatan bersih per
sahamnya. Jika dikatakan saham mempunyai PER 10X, berarti harga
pasar saham tersebut 10X lipat terhadap EPS nya (pendapatan bersih
per saham). Angka rasio ini digunakan oleh para investor untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
(earning power) di masa yang akan datang.
Kesediaan investor untuk menerima kenaikan PER sangat
bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang
tingkat pertumbuhan tinggi biasanya mempunyai PER yang tinggi
pula, dan hal ini menunjukkan bahwa pasar mengharapkan
pertumbuhan dan laba yang tinggi di masa mendatang. Sebaliknya
perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung
mempunyai PER yang rendah pula. PER tidak punya makna apabila
perusahaan mempunyai laba yang sangat rendah (abnormal) atau
menderita rugi. Dalam keadaan ini PER perusahaan akan begitu tinggi
(abnormal) atau bahkan negatif. Semakin rendah hasil PER sebuah
saham, maka semakin baik atau murah harganya untuk diinvestasikan.
semakin turun atau karena meningkatnya laba bersih perusahaan.
Penafsiran terhadap rasio ini juga dipengaruhi oleh persepsi pemodal
terhadap kualitas perusahaan dan trend pendapatannya, risiko relatif,
penggunaan metode akuntansi alternatif , dan faktor-faktor lain.
Penghitungan PER dinyatakan dengan formulasi sebagai berikut
(Simamora, 2000:531) :
PER = Harga saham/EPS
14. Pengertian Return Saham
Return saham adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi saham yang dilakukannya (Ang,
1997:19). Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi yang
berupa return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return). Menurut Ang (1997: 19) setiap investasi baik
jangka panjang maupun jangka pendek memiliki tujuan utama untuk
mendapatkan keuntungan yang disebut return baik langsung maupun
tidak langsung.
Return dari suatu investasi tergantung dari instrumen investasi
yang dibelinya. Misalnya ivestasi dalam saham, saham tidak
menjanjikan suatu return yang pasti bagi para pemodal, namun
beberapa komponen return pada saham yang memungkinkan pemodal
meraih keuntungan adalah dividen, saham bonus, dan capital gain.
Faktor yang mempengaruhi return suatu investasi meliputi faktor
meliputi kualitas dan reputasi manajemen, struktur hutang, tingkat
laba yang dicapai, dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal meliputi
pengaruh kebijakan moneter dan fiskal, perkembangan sektor industri,
faktor ekonomi, dan sebagainya. return/tingkat pengembalian dari
suatu investasi dibedakan menjadi dua yaitu return yang telah terjadi
(realized return) berdasarkan data historis. Return yang diharapkan
oleh para investor akan diperoleh dimasa yang akan datang (expeted
return) (Halim, 2003:2)
Return yang digunakan dalam penelitian ini adalah return realisasi atau sering disebut dengan actual return. Return realisasi
merupakan return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis dan digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja
perusahaan. Return realisasi ini juga berguna sebagai dasar penentuan
return ekspektasi (expected return) yang merupakan return yang diharapkan oleh investor di masa mendatang. Return realisasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah cpital gain atau capital loss
alasan menggunakan capital gain atau capital loss dan tidak
menggunakan return total karena perusahaan tidak membagikan laba dalam bentuk Deviden secara periodik, hal ini juga sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Menurut Hartono
(2008: 197) capital gain atau capital loss dapat dihitung dengan
15. Komponen Return
Komponen suatu return terdiri dari dua jenis yaitu (Ang, 1997:20):
a. Current Income (keuntungan lancar) adalah keuntungan yang diperoleh melalui pembayaran yang bersifat periodik seperti
pembayaran bunga deposito, bunga obligasi, dividen, dll.
b. Capital Gain yaitu keuntungan yang diterima karena adanya selisih
antara harga jual dan harga beli suatu instrumen investasi, yang
berarti bahwa instrumen investasi harus diperdagangkan di pasar.
Besarnya capital gain dilakukan dengan analisis return historis yang terjadi pada periode sebelumnya, sehingga dapat ditentukan
besarnya tingkat kembalian yang diinginkan (expected return).
16. Jenis-jenis return Saham
Menurut Hartono (2008, 1995) return saham dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu:
a. Return realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi, return realisasi dihitung menggunakan data historis. Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari suatu perusahaan. Beberapa pengukuran
return realisasi yang banyak digunakan adalah:
1). Return total, merupakan return keseluruhan dari suatu
investasi dalam satu periode yang tertentu, return total
2). Relatif return, return total dapat bernilai negatif atau positif. Kadangkala untuk perhitungan tertentu, misalnya rata-rata
geometri yang menggunakan perhitungan pengakaran
dibutuhkan suatu return yang harus bernilai positif. Relatif
return dapat digunakan yaitu dengan menambahkan nilai 1 terhadap nilai return total (Return Total + 1).
3). Kumulatif retun, return total hanya mengukur kemakmuran pada saat waktu tertentu saja, tetapi tidak mengukur total
kemakmuran yang dimiliki, untuk mengetahui total kemakmuran, indeks kemakmuran kumulatif dapat
digunakan, indeks kemakmuran kumulatif ini menunjukkan
kemakmuran akhir yang diperoleh dalam suatu periode
tertentu.
4). Return disesuaikan, retun yang dibahas dimuka adalah return
nominal yang hanya mengukur perubahan nilai uang tetapi
tidak mempertimbangkan tingkat daya beli dari nilai uang
tersebut. Untuk mempertimbangkan hal ini return nominal
perlu disesuaikan dengan tingkat inflasi yang ada. Return
tersebut disebut dengan return riil atau return yang
disesuaikan dengan tingkat inflasi.
5). Rata-rata geometrik (geometric mean) digunakan untuk
menghitung rata-rata yang memperhatikan tingkat
b. Return ekspektasi (expeted return) adalah return yang diharapkan
akan diperoleh investor di masa mendatang. Berbeda dengan
return realisasi yang sifatnya sudah terjadi, return ekspektasi sifatnya belum terjadi. Return ekspektasi dapat dihitung dengan
beberapa cara yaitu berdasarkan ekspektasi masa depan,
berdasarkan nilai-nilai return historis,dan berdasarkan model
return ekspektasi yang ada.
17. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham Semakin kecil rasio ini berarti semakin kecil jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Rasio
yang tinggi dapat mengindikasikan bahwa klaim pihak lain relatif
lebih
besar ketimbang asset yang tersedia untuk menutupnya,
meningkatkan risiko bahwa klaim kreditor kemungkinan tidak akan
tertutup secara penuh bilamana terjadi likuidasi. Jika DER semakin
meningkat, maka menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin
memburuk, sehingga semakin tinggi DER akan berdampak pada
menurunnya harga saham perusahaan di pasar modal.
Kreditor jangka panjang lebih menyukai rasio DER yang kecil,
karena menunjukkan bahwa semakin besar jumlah aktiva yang
didanai oleh pemilik perusahaan, dan semakin besar penyangga
risiko kreditor yang secara tidak langsung akan meningkatkan return
perusahaan tidak tergantung pada struktur modalnya, jadi proporsi
saham (ekuitas) dan surat obligasi (hutang) tidak mempengaruhi nilai
perusahaan (Tanous, 2001:301). Hutang berfungsi seperti pedang
bermata dua, selama ekonomi sulit atau suku bunga tinggi
perusahaan dengan debt ratio yang tinggi dapat mengalami masalah
keuangan sebaliknya selama ekonomi baik atau suku bunga rendah
hutang dapat meningkatkan keuntungan yaitu dengan membiayai
pertumbuhan dengan harga yang murah/rendah (Salim, 2003: 151).
Semakin besar DER mencerminkan risiko perusahaan yang semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh investor.
Dalam ilmu ekonomi pada umumnya dan ilmu investasi pada
khususnya terdapat asumsi bahwa investor adalah mahkluk yang
rasional tentunya tidak akan menyukai ketidak pastian atau risiko.
Investor yang enggan terhadap risiko disebut risk averse investor,
investor seperti ini tidak akan mengambil risiko suatu investasi jika
investasi itu tidak memberikan harapan return yang layak sebagai
kompensasi terhadap risiko yang harus ditanggung investor tersebut.
Investor akan menghindari pembelian saham perusahaan, sehingga
dapat dikatakan DER akan berpengaruh negatif terhadap return
18. Pengaruh Systematic Risk terhadap Return Saham
Dalam teori manajemen keuangan, ada trade-off antara risiko dan
return. Jika risiko suatu investasi lebih tinggi, return yang diharapkan juga tinggi. Banyak para manajer mengetahui risiko untuk
dipertimbangkan dalam menilai dan mengambil keputusan investasi.
Penilaian dan pemahaman trade-off antara risiko dan return membentuk
landasan untuk memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham.
Perusahaan seharusnya mengenali apakah return yang diharapkan dapat
dicapai atau tidak, yang berarti perusahaan harus mengenali elemen risiko dalam proses pengambilan keputusan. Risiko dapat didefinisikan sebagai
variabilitas return dari apa yang diharapkan. Dengan kata lain risiko adalah sebagai kemungkinan return sesungguhnya dari suatu investasi
akan lebih rendah dari return yang diharapkan. Return adalah keuntungan
atau aliran kas neto yang diperoleh dari suatu investasi. Secara umum
investor enggan terhadap risiko (averse risk). Jika risiko lebih besar,
investor mengharapkan return dari suatu investasi yang lebih besar.
Return yang tinggi tidak selalu disertai investasi berisiko. Investasi yang berisiko tidak akan dilakukan oleh investor jika investasi tersebut tidak
memberi harapan tingkat return yang tinggi.
Secara teknis, semakin besar hasil pengembalian yang diharapkan
maka risiko yang dihadapi semakin besar hal ini dapat dilihat pada
Expeted Return
Security market line
Rf
Risiko Sumber: Ross (dalam Suharli, 2005: 103)
Gambar 2.1 Trade-off risk and Return.
Gambar tersebut menunjukkan adanya hubungan positif antara
risiko dan return. Garis vertikal di dalam gambar menunjukkan
besarnya tingkat hasil yang diharapkan yang layak, sedangkan garis
horizontal memperlihatkan risiko yang ditanggung investor. Titik Rf
pada gambar menujukkan return bebas risiko (risk-free rate). Rf pada
gambar di atas menunjukkan satu pilihan investasi yang menawarkan
return sebesar Rf dengan risiko sebesar nol (0). Kesimpulan dari pola hubungan antar risiko dan return adalah, bahwa risiko dan return
mempunyai hubungan yang searah dan linier. Artinya semakin tinggi
risiko suatu aset semakin tinggi pula return dari aset tersebut demikian
19. Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Return Saham
Earning per share merupakan salah satu bentuk dari rasio pasar (market ratio) yang didapatkan dengan membagi laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar (Slamet, 2003: 39).
Rasio laba per lembar saham ini mengukur profitabilitas dari sudut
pandang pemegang saham biasa. Informasi mengenai kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dapat membantu
investor untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
arus kas yang baik di masa mendatang.
Semakin tinggi nilai EPS suatu perusahaan, maka akan
menggembirakan bagi para pemegang saham karena semakin besar
laba yang disediakan untuk pemegang saham (Darmadji, 2001:139).
Menurut Tandelilin (2001: 241) komponen penting yang harus
diperhatikan dalam analisis perusahaan adalah EPS. Informasi EPS
suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan
yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham. Besarnya EPS
dapat diketahui dari laporan keuangan. EPS adalah jumlah
pendapatan dalam satu periode untuk saham beredar, EPS
merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
20. Pengaruh Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Saham Price earning ratio merupakan suatu rasio yang lazim dipakai untuk mengukur harga pasar (market price) setiap lembar saham
biasa dengan laba per lembar saham (Simamora, 2000: 531). PER
merupakan ukuran untuk menentukan bagaimana pasar memberi
nilai atau harga pada saham perusahaan. Rasio ini mencerminkan
penilaian pemodal terhadap pendapatan perusahaan di masa
mendatang. Rasio harga/laba yang tinggi menunjukkan bahwa pasar
mengharapkan pertumbuhan laba yang tinggi di masa yang akan mendatang.
Rasio harga/laba mencerminkan ekspektasi pemodal
menyangkut kinerja perusahaan di masa mendatang. Semakin
optimistik ekspektasi ini, maka akan semakin tinggi pula
kemungkinan rasio harga/labanya. Keinginan investor melakukan
analisis kesehatan suatu saham melalui rasio-rasio keuangan seperti
PER, dikarenakan adanya keinginan investor atau calon investor
akan hasil (return) yang layak dari suatu investasi saham
(Susilowati, 2003:53). PER memberikan petunjuk kepada investor
atau calon investor mengenai kemungkinan return saham yang
dihasilkan oleh suatu perusahaan.
Membeli saham adalah kegiatan berinvestasi, investasi
dikatakan berhasil jika mendapatkan keuntungan. Untuk
harganya murah. PER memberikan indikasi tentang jangka waktu
yang diperlukan untuk mengembalikan dana pada tingkat harga
saham dan keuntungan suatu perusahaan pada periode tertentu. Oleh
karena itu rasio ini menggambarkan ketersediaan investasi
membayar untuk suatu jumlah tertentu untuk setiap perolehan laba
perusahaan. PER yang tinggi akan menyebabkan harga saham yang
rendah begitu pula sebaliknya (Husnan, 2001: 299). Semakin tinggi
tingkat keuntungan (return) maka semakin rendah PER atau dapat
disimpulkan bahwa PER berpengaruh negatif terhadap return saham.
B. Penelitian Sebelumnya 1. Jurnal
Michell Suherli (2005). Studi Empiris terhadap Dua Faktor yang
Mempengaruhi Return Saham pada Industri Food & Beverages di Bursa Efek Jakarta. Objek penelitian adalah perusahaan public di
bidang industri food and baverages yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta dengan periode laporan keuangan tahun 2001-2004. Tujuan
penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan return saham yang
diharapkan dengan faktor yang mempengaruhinya dalam hal ini adalah
debt to equity ratio dan beta. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa debt to equity ratio dan beta saham tidak mempengaruhi return
2. Jurnal
Sri Dewi Ari Ambarwati (2008). Pengaruh Debt to Equity Ratio dan Systematic Risk terhadap Return Saham. Penelitian tersebut dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek
Indonesia Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
debt to equity ratio dan systematic risk (beta) terhadap return saham. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa secara besama-sama debt
to equty ratio dan systematic risk (beta) berpengaruh signifikan terhadap return saham. Secara parsial, debt to equity ratio berpengaruh posetif terhadap return saham sedangkan systematic risk (beta)
C. Kerangka Konseptual
Untuk memudahkan dalam memahami penelitian ini, maka penulis
kemukakan kerangka konseptual sebagai berikut:
Secara Simultan
Secara Parsial.
Gambar 2. 2 Kerangka Konseptual Debt to Equity Ratio
(DER) (X1)
Systematic Risk (Beta)
(X2)
Eraning Per Share (EPS)
(X3)
Price Earning Ratio (PER)
(X4)
D. Hipotesis
Semakin kecil rasio debt to equity ratio (DER) berarti semakin kecil
jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva
perusahaan. Rasio yang tinggi dapat mengindikasikan bahwa klaim pihak
lain relatif lebih tinggi dan semakin besar DER mencerminkan risiko
perusahaan yang semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh
investor. Investor tidak akan mengambil risiko suatu investasi jika investasi
itu tidak memberikan harapan return yang layak sebagai kopensasi terhadap
risiko yang harus ditanggung investor tersebut. Investor akan menghindari pembelian saham perusahaan tersebut.
Dalam teori manajemen keuangan, ada trade-off antara risiko dan
return. Jika risiko suatu investasi lebih tinggi, return yang diharapkan juga tinggi. Jika risiko lebih besar, investor mengharapkan return dari suatu
investasi yang lebih besar. Secara teknis, semakin besar hasil pengembalian
yang diharapkan maka risiko yang dihadapi semakin besar.
Earning per share merupakan salah satu bentuk dari rasio pasar (market ratio) yang didapatkan dengan membagi laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar (Slamet, 2003:39). Semakin
tinggi nilai EPS suatu perusahaan, maka akan menggembirakan bagi para
pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk
pemegang saham (Darmadji, 2001:139). EPS merupakan ukuran
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan per lembar saham
Price earning ratio (PER) merupakan suatu rasio yang lazim dipakai untuk mengukur harga pasar (market price) setiap lembar saham biasa
dengan laba per lembar saham (Simamora, 2000:531). Rasio harga/laba
mencerminkan ekspektasi pemodal menyangkut kinerja perusahaan di masa
mendatang. Semakin optimistik ekspektasi ini, maka akan semakin tinggi
pula kemungkinan rasio harga/labanya. Keinginan investor melakukan
analisis kesehatan suatu saham melalui rasio PER, dikarenakan adanya
keinginan investor atau calon investor akan hasil (return) yang layak dari
suatu investasi saham (Susilowati, 2003:53). PER memberikan petunjuk kepada investor atau calon investor mengenai kemungkinan return saham
yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.
Berdasarkan kajian teori-teori di atas maka penulis dapat merumuskan
hipotesis sebagai berikut:
H1: Debt to equity ratio, systematic risk, earning per share dan price earning ratio secara simultan berpengaruh terhadap return saham.
39 A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus yaitu studi kasus pada
Industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek indonesia.
B. Lokasi dan Waktu
Lokasi : Pojok Bursa Efek Indonesia Universitas Sanata Dharma.
Waktu : Mei tahun 2010.
C. Subyek dan Obyek
1. Subyek Penelitian
Subyek penelitian di dalam hal ini adalah seluruh industri makanan dan
minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2 . Objek penelitian
Objek penelitian yang diteliti adalah laporan keuangan pada tahun 2004
sampai tahun 2008.
D. Data yang dicari 1. Sejarah perusahaan
2. Laporan keuangan tahun 2004-2008.
E. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan makanan dan minuman yang
F. Jenis Data
Data yang digunakan adalah data sekunder, diperoleh dari laporan keuangan
yang telah dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mencatat
data atau mengumpulkan keterangan-keterangan yang tercantum pada
Indonesian Capital Market Directory yang berupa laporan keuangan perusahaan tersebut.
H. Metode Analisis Data 1. Variabel Penelitian
Ada dua variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu variabel
independen atau variabel bebas yang selanjutnya dinyatakan dengan
simbol X dan variabel dependen atau variabel tidak bebas yang
selanjutnya dinyatakan dengan simbol Y.
a. Variabel Bebas (X)
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi variabel
terikat. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
1). Debt to equity ratio (X1)
2). Systematic risk (X2)
2). Earning per share (X3)
b. Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel
bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat keuntungan
(return) yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi saham yang
dilakukannya.
2. Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian agar dapat
diinterpretasikan dan mudah dipahami adalah:
a. Analisis Deskriptif
Penggunaan analisis deskriptif ini ditunjukkan untuk mengetahui
pengaruh debt to equity ratio, systematic risk, earning per share dan price earning ratio terhadap return saham.
b. Analisis Regresi Berganda
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis regresi berganda. Regresi berganda berguna untuk meramalkan
pengaruh dua variabel prediktor atau lebih terhadap satu variabel
kriterium atau untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan
fungsional antara dua buah variabel bebas (X) atau lebih dengan
sebuah variabel terikat (Y) (Usman, 2003: 241). Analisis regresi
berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh
Formulasi persamaan regresi berganda sendiri adalah sebagai berikut:
Y = a + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + e
Dimana:
Y : Return saham
a : Bilangan konstanta β1 – β3: Koefisien regresi
X1 : Debt to equity ratio
X2 : Systematic risk
X3 : Earning per share
X4:Price earning ratio e : Variabel pengganggu
c. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah model regresi
benar- benar menunjukkan hubungan yang signifikan dan representatif.
Ada empat pengujian dalam uji asumsi klasik, yaitu:
1). Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas
(independent) (Ghozali, 2001: 57). Apabila terjadi korelasi antara
variabel bebas, maka terdapat problem multikolinieritas (multiko)
a). Besaran VIF (variance inflation faktor) dan Tolerance
Model regresi yang bebas multikolinearitas adalah
mempunyai nilai VIF disekitar angka 1, mempunyai angka
tolerance mendekati 1, dan besaran korelasi antar variabel
independen. Pedoman suatu model regresi yang bebas
multikolinearitas adalah koefisien korelasi antar variabel
independent haruslah di atas 0,05. Jika korelasi lemah maka
terjadi problem multiko (Santoso, 2004: 207).
2). Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas ditujukan untuk menguji apakah
dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan
residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika
variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastis dan jika berbeda
disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2001: 69). Model regresi
yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi
heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya
heteroskedastisitas dapat diketahui dengan melihat ada
tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara nilai
prediksi variable terikat (ZPRED) dengan residualnya
(SRESID) di mana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi,
Dasar analisis dari uji heteroskedastis melalui grafik plot
adalah sebagai berikut:
a). Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada
membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang,
melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan
telah terjadi heteroskedastisitas.
b). Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di
atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak
terjadi heteroskedastisitas. 3). Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya
memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.
Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal,
dan ploting data akan dibandingkan dengan dengan garis
diagonal. Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang
menghubungkan data sesungguhnya akan mengikuti garis
diagonalnya (Ghozali 2001:83). Deteksi normalitas dapat
dilakukan dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu
diagonal dari grafik (Santoso, 2004:214). dasar pengambilan
a). Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti
arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi
normalitas.
b). Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak
mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak
memenuhi asumsi normalitas.
c). Jika data menyebar jauh dari diagonal dan atau tidak
mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak
menunjukan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
d). Jika data menyebar tidak jauh dari diagonal dan atau
mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram
menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi
memenuhi asumsi normalitas.
4). Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (periode
sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada
problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi
yang bebas dari autokorelasi. Autokorelasi pada sebagian besar
kasus ditemukan pada regresi yang datanya adalah time series
seterusnya. Konsekuensi dengan adanya autokorelasi dalam
suatu model regresi adalah interval keyakinan menjadi lebar,
dimana jika dipaksakan akan bias dalam mengambil
kesimpulan terutama tentang signifikan atau tidaknya secara
statistik bagi setiap koefesien regresi yang diuji.
Langkah-langkah untuk melihat ada atau tidak adanya
autokorelasi adalah sebagai berikut:
a). Bila nilai DW berada diantara du sampai dengan 4 – du
maka koefisien autokorelasi sama dengan nol, artinya tidak ada autokorelasi.
b). Bila nilai DW lebih kecil dari pada du koefisien
autokorelasi lebih besar dari pada nol, artinya ada
autokorelasi positif.
c). Bila nilai DW terletak diantara dL dan du maka tidak dapat
disimpulkan.
d). Bila nilai DW lebih besar dari pada 4 – du koefisien
autokorelasi lebih besar daripada nol , artinya ada
autokorelasi negatif.
e). Bila nilai DW terletak diantara 4 – du dan 4 – dL maka tidak
d. Uji F atau Uji Simultan
Uji F-statistik digunakan untuk menguji besarnya pengaruh dari
seluruh variabel independen secara bersama-sama atau simultan
terhadap variabel dependen. Pembuktian dilakukan dengan cara
membandingkan nilai F kritis (F tabel) dengan F hitung yang terdapat
pada tabel analysis of variance.
Untuk menentukan nilai Ftabel, tingkat signifikansi yang
digunakan sebesar 5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df
= n-k dan k-1 dimana n adalah jumlah observasi, kriteria uji yang digunakan adalah Jika F reg > F tabel, maka H0 ditolak, dan apabila F
reg < F tabel, maka H0 diterima.
H0 : β1; β2; β3; β4 = 0, artinya debt to equity ratio, systematic
risk, earning per share dan price earning ratio secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap return saham. Ha : β1; β2; β3; β4 minimal
salah satu ≠ 0 artinya debt to equity ratio, systematic risk, earning per share dan price earning ratio secara bersama-sama berpengaruh terhadap return saham.
e. Uji t atau Uji Parsial
Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial
dari variabel independennya. Untuk menentukan nilai t-statistik
tabel,ditentukan dengan tingkat signifikansi 5% dengan derajat
jumlah variabel. Jika t hitung > t tabel (n-k-1), maka H0 ditolak
Jika t hitung < t tabel (n-k-1), maka H0 diterima.
H0 : β1; β2; β3; β4 = 0, artinya debt to equity ratio, systematic risk,
earning per share dan price earning ratio secara parsial tidak berpengaruh terhadap return saham. Ha : β1; β2; β3; β4 ≠ 0 artinya
debt to equity ratio, systematic risk, earning per share dan price earning ratio secara parsial berpengaruh terhadap return saham. f. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) dari hasil regresi berganda menunjukkan seberapa besar variabel dependen bisa dijelaskan oleh
variabel-variabel bebasnya (Santoso, 2004: 167).
Dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda maka
masing-masing variabel independen yaitu debt to equity ratio, earning
per share, price earning ratio, dan systematic risk secara parsial dan secara simultan mempengaruhi variabel dependen yaitu return saham
yang dinyatakan dengan R2 untuk menyatakan koefisien determinasi atau seberapa besar pengaruh debt to equity ratio, earning per share,
price earning ratio, dan systematic risk terhadap variabel return saham.
Sedangkan r2 untuk menyatakan koefisien determinasi parsial variabel independen terhadap variabel dependen. Besarnya koefisien
determinasi adalah 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati nol, maka semakin kecil pula pengaruh semua variabel independen terhadap nilai
dalam menjelaskan perubahan nilai variabel dependen). Sedangkan jika
koefisien determinasi mendekati 1 maka dapat dikatakan semakin kuat
model tersebut dalam menerangkan variasi variabel independen
50 A. PT. Ades Water Indonesia,Tbk
1. Pendirian dan Informasi Umum
PT. Ades Water Indonesia, Tbk (Perseroan), perusahaan yang
berdomisili di Indonesia dengan kantor pusat di perkantoran Hijau Arkadia
Jln. TB. Simatupang Kav 88, Jakarta didirikan dengan nama PT. Alfindo
Putra Setia di tahun 1985. Nama perseroan telah berubah beberapa kali terakhir di tahun 2004 nama perseroan diubah menjadi PT. Ades Water
Indonesia, Tbk
Anggaran dasar perseroan telah mengalami beberapa kali
perubahan terakhir di bulan Maret tahun 2006, untuk mengubah status
perseroan menjadi penanaman modal asing dan disahkan oleh menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sesuai pasal 2 angaran dasarnya
perseroan dapat bergerak di beberapa bidang usaha, di tahun 2005 dan
2006 perseroan bergerak di bidang usaha pengelolaan dan distribusi air
minum dalam kemasan. Produksi secara komersial dimulai pada tahun
1986 pabrik berlokasi di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Sesuai dengan surat ketua BAPEPAM no. S-774/PM/1994 tanggal
2 Mei 1994 mengenai pemberitahuan efektifnya penyertaan pendaftaran.
perseroan telah melakukan penawaran umum kepada masyarakat melalui
lembar. Perseroan telah mencatatkan semua sahamnya di Bursa Efek
jakarta pada tanggal 14 juni 1994.
2. Dewan Komisaris dan Direksi a. Susunan Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Hanjaya Limanto
Komisaris : Danny Yuwono
: Ernie Susilowati
b. Susunan Dewan Direksi
Presiden Direktur : Agus Soewandi Wangsaputra Direktur : M. Wisnu Adji.
B. PT. Aqua Golden Misisipi, Tbk
1. Pendirian dan Informasi Umum
Aqua lahir atas ide almarhum Tirto Utomo (1930-1994). Beliau
menggagas lahirnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) di
Indonesia melalui PT. Golden Mississippi pada tanggal 23 Pebruari 1973.
Kegiatan fisik perusahaan dimulai pada bulan Agustus 1973, ditandai
dengan pembangunan pabrik di kawasan Pondok Ungu, Bekasi, Jawa
Barat. Percobaan produksi dilaksanakan pada bulan Agustus 1974 dan
produk komersil dimulai sejak tanggal 1 Oktober 1974 dengan kapasitas
produksi 6 juta liter setahun. Produk pertamanya adalah AQUA botol kaca
950 ml yang kemudian disusul dengan kemasan AQUA 5 galon, pada
Tahun 1974 hingga tahun 1978 merupakan masa-masa sulit karena
masih rendahnya tingkat permintaan masyarakat terhadap produk AQUA.
Dengan berbagai upaya dan kerja keras, AQUA mulai dikenal masyarakat,
sehingga penjualan dapat ditingkatkan dan akhirnya titik impas berhasil
dicapai pada tahun 1978. Saat itu merupakan titik awal perkembangan
pesat produk AQUA yang selanjutnya terus berkembang hingga sekarang.
Semula produk AQUA ditujukan untuk masyarakat golongan menengah
atas, baik perkantoran maupun rumah tangga dan restoran. Namun, saat
berbagai jenis kemasan baru : 1500ml, 500ml, 220ml, dari kemasan plastik mulai diproduksi sejak 1981, maka produk AQUA dapat terjangkau oleh
masyarakat luas, karena mudahnya transportasi dan harga terjangkau. Pada
tahun 1981, AQUA memutuskan untuk mengganti bahan baku yang
semula dari sumur bor ke mata air pegunungan yang mengalir sendiri (self
flowing spring). Diterimanya AQUA oleh masyarakat luas dan wilayah
penjualan yang telah menjangkau seluruh pelosok Indonesia, maka Aqua
harus segera meningkatkan kapasitas produksinya. Untuk memenuhi
kebutuhan pasar yang terus meningkat itu, lisensi untuk memproduksi
AQUA diberikan kepada PT. Tirta Jayamas Unggul di Pandaan, Jawa
Timur pada tahun 1984 dan Tirta Dewata Semesta di Mambal, Bali pada
tahun 1987. Hal yang sama juga diterapkan di berbagai daerah di
Indonesia. Pemberian lisensi ini disertai dengan kewajiban penerapan
standar produksi dan pengendalian mutu yang prima. Upaya ekspor