• Tidak ada hasil yang ditemukan

LENTERA Jurnal Ilmiah Kependidikan ISSN : Vol. 10 No 2 (2015) 33-42

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LENTERA Jurnal Ilmiah Kependidikan ISSN : Vol. 10 No 2 (2015) 33-42"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

LENTERA Jurnal Ilmiah Kependidikan ISSN : 0216-7433 Vol. 10 No 2 (2015) 33-42

33

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI SMK YUDHA

KARYA MAGELANG

Harina Fitriyani1, Wahyuningsih2 1

Universitas Ahmad Dahlan, [email protected] 2

SMK Yudha Karya Magelang, [email protected]

ABSTRAK

Motivasi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Tanpa adanya motivasi, kegiatan pembelajaran tidak akan berjalan lancar. Menumbuhkan motivasi belajar siswa adalah salah satu tugas guru dalam setiap proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi ada tidaknya peningkatan motivasi belajar matematika siswa dengan menggunakan kelas XI OF SMK Yudha Karya Magelang dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI jurusan otomotif semester gasal SMK Yudha Karya Magelang tahun ajaran 2012/2013. Penelitian ini dilakukan sebanyak tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Data dikumpulkan dengan metode non tes, instrumen berupa lembar observasi, angket dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bawah melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas XI jurusan otomotif SMK Yudha Karya Magelang. Hal ini terbukti dari hasil lembar observasi siswa pada setiap siklus mengalami peningkatan yaitu persentase keberhasilan penelitian motivasi siswa pada siklus I 47,42% (Sedang), siklus II sebesar 57,24% ( Sedang) dan siklus III sebesar 61,46% (Tinggi). Hasil lembar observasi siswa juga didukung dengan hasil angket motivasi belajar yang mengalami peningkatan pada setiap siklusnya yaitu persentase keberhasilan penelitian motivasi belajar siswa pada siklus I mencapai 65,27% (tinggi), pada siklus II sebesar 65,51% ( tinggi) dan pada siklus III sebesar 68,5% (tinggi). Hasil wawancara juga menunjukkan adanya respon positif dari siswa tentang pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Kata Kunci : Motivasi Belajar, Pembelajaran Kooperatif tipe Student Team Achievment Divissions (STAD)

PENDAHULUAN

Faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses belajar siswa adalah motivasi. Tanpa adanya motivasi, kegiatan pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar. Menumbuhkan motivasi belajar siswa adalah salah satu tugas guru dalam setiap proses pembelajaran. Sedangkan motivasi mungkin hanya akan muncul pada diri siswa manakala siswa merasa membutuhkannya. Apabila motivasi belajar ini sudah ada dalam diri siswa, maka siswa akan tekun mengikuti pembelajaran, tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah.

(5)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

34

Berdasarkan pengamatan dari salah satu guru yang mengajar di SMK Yudha Karya, selama kegiatan pembelajaran di dalam kelas untuk tahun ajaran 2012/2013 ini kebanyakan siswa kelas X masih kurang motivasi belajarnya dan cenderung bersikap pasif selama pembelajaran. Hanya sedikit siswa yang terlihat sudah mulai aktif dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian model pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran matematika belum bervariasi. Pembelajaran masih didominasi oleh guru dimana informasi hanya berlangsung satu arah, guru menerangkan materi ajar dan siswa mencatat, kemudian siswa mengerjakan latihan soal yang diberikan oleh guru sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajar matematika. Disamping itu siswa kurang semangat mengikuti pelajaran, banyak siswa yang absen maupun bolos pada saat pelajaran. Oleh karena itu, mendorong peneliti untuk meneliti lebih jauh lagi dengan cara berkolaborasi dengan guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas yang berfokus pada peningkatan motivasi belajar matematika siswa selama kegiatan pembelajaran di kelas. Adapun model pembelajaran yang akan diterapkan selama kegiatan pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alasan pemilihan model pembelajaran tipe STAD ini antara lain :1) Pembelajaran ini menggunakan kelompok-kelompok heterogen sehingga memungkinkan siswa untuk bekerjasama dengan teman sekelompoknya, 2) Adanya tes/kuis dalam pembelajaran ini yang mana siswa harus bekerja sendiri-sendiri, tidak diperbolehkan saling membantu, 3) Adanya penghargaan, sehingga diharapkan akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Selama keseluruhan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa dituntut untuk senantiasa aktif.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga cocok bagi guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. Selain itu, dapat digunakan untuk memberikan pemahaman konsep materi yang sulit kepada siswa dimana materi tersebut telah dipersiapkan oleh guru melalui lembar kerja atau perangkat pembelajaran yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dkk.

Adapun langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut (Widyantini, 2008).

1. Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu.

2. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa.

3. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 – 5 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.

4. Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikannya secara bersama-sama, saling membantu antaranggota lain, serta membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai.

5. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu

6. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.

7. Guru memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.

(6)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

35

Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD, materi pembelajaran didesain untuk pembelajaran secara berkelompok. Dengan menggunakan LKS atau perangkat pembelajaran yang lain, siswa bekerja secara bersama-sama untuk menyelesaikan materi. Siswa saling membantu satu sama lain untuk memahami materi pelajaran, sehingga setiap anggota kelompok dapat memahami materi pelajaran secara tuntas. Menurut Slavin STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu: (1) presentasi Kelas, (2) Kelompok, (3) Kuis (tes), (4) Skor peningkatan individual, (5) Penghargaan kelompok.

Terkait dengan pemberian penghargaan kelompok, Slavin dalam Widyantini (2008) menyatakan bahwa guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.

Ide utama yang diusung dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah untuk memotivasi siswa supaya saling memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-keterampilan yang dipresentasikan guru. Apabila siswa menginginkan kelompok mereka mendapatkan penghargaan, maka mereka harus membantu teman satu kelompok dalam mempelajari materi yang diberikan oleh guru. Mereka harus memberi semangat teman satu kelompoknya supaya melakukan yang terbaik, meyakinkan bahwa belajar itu penting, bermanfaat, dan menyenangkan. Siswa bekerja sama setelah guru mempresentasikan materi pelajaran. Mereka dapat bekerja berpasangan dengan cara membandingkan jawaban-jawabannya, mendiskusikan perbedaan yang ada, dan saling membantu satu sama lain saat menghadapi jalan buntu. Mereka dapat mendiskuskan langkah yang dipakai untuk memecahkan masalah. Mereka mengajari teman satu kelompoknya apabila ada yang masih belum paham dengan materi yang diberikan guru, supaya kelompok mereka berhasil dalam kuis. Dalam tipe STAD ini, meskipun siswa bekerja sama namun mereka tidak boleh saling membantu dalam mengerjakan kuis, karena kuisnya bersifat individu.

Motivasi merupakan unsur pokok dalam proses belajar mengajar. Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu (Morgan dalam Soekamto, 1997). Adanya motivasi dapat disimpulkan dari pengamatan tingkah laku. Apabila siswa mempunyai motivasi positif maka akan 1) memperlihatkan minat, mempunyai perhatian dan ingin ikut serta; 2) bekerja keras serta memberikan waktu kepada usaha tersebut; 3) terus bekerja sampai tugas terselesaikan (Worell&Stillwell dalam Soekamto, 1997).

Motivasi dibagi menjadi dua jenis, motivasi instriksik dan motivasi ekstriksik. Apabilan sumber motivasi berasal dari dalam diri orang yang bersangkutan maka disebut motivasi intriksik. Sedangkan apabila sumber motivasi berasal dari lingkungan di luar diri orang yang bersangkutan maka disebut motivasi ekstriksik. Dalam hal proses belajar mengajar, motivasi instriksik lebih menguntungkan karena pada umumnya motivasi ini akan bertahan lebih lama. Motivasi ekstriksik dapat diberikan oleh guru dengan jalan mengatur kondisi dan situasi belajar menjadi kondusif. Selain itu juga, pemberian penguatan-penguatan oleh guru juga akan memberikan motivasi ekstriksik pada siswa. Untuk selanjutnya, pengulangan pemberian penguatan-penguatan oleh guru yang semula merupakan motivasi ekstriksik lambat laun diharapkan menjadi motivasi intrinsik.

Ada empat aspek yang mempengaruhi motivasi belajar siswa antara lain sebagai berikut.

1. Orientasi keberhasilan, aspek dapat diamati dari sensitifitas siswa terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi unggul dan kegiatan siswa dalam rangka pencapaian prestasi unggul tersebut.

2. Antisipasi kegagalan, aspek ini dapat diamati dari kecermatan siswa dalam menentukan target prestasi dan usaha menanggulangi penghambat pencapaian keberhasilan.

3. Inovasi, aspek ini dapat diamati dari usaha siswa dalam menemukan suatu cara yang lebih mudah dan singkat, dan kesukaan siswa dengan tantangan.

(7)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

36

4. Tanggung jawab, aspek ini dapat diamati dari kesempurnaan dalam penyelesaian tugas, serta percaya diri dan tangguh dalam menyelesaikan tugas.

Fajar Shadiq di dalam artikelnya menyatakan bahwa motivasi dan proses pembelajaran matematika di kelas akan sangat ditentukan oleh pandangan dan keyakinan seorang siswa maupun orang tuanya terhadap matematika dan tujuan belajar matematika itu sendiri. Karenanya, ketidaksempurnaan memahami matematika dan tujuan pelajaran matematika dari seorang siswa dan orang tuanya sedikit banyak akan menyebabkan ketidaksempurnaan pada motivasi dan proses pembelajarannya.

Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan suatu masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini yaitu bagaimana capaian motivasi belajar siswa kelas XI OF SMK Yudha Karya dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe STAD?”.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini menggunakan penelitian tindakan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI jurusan otomotif semester gasal SMK Yudha Karya Magelang tahun ajaran 2012/2013. Penelitian ini dilakukan sebanyak tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Data dikumpulkan dengan metode non tes, instrumen berupa lembar observasi, angket dan wawancara. Selanjutnya setelah data terkumpul, data dianalisis menggunakan metode deskriptif dengan persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam proses pembelajaran.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut:

1. Siklus I

Berdasarkan pada tiap aspek motivasi belajar siswa yang diamati dalam pembelajaran pada siklus I diperoleh data hasil observasi motivasi belajar siswa sebagai berikut :

Tabel 1

Data hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa pada Siklus I

No

Aspek yang

diamati Indikator Skor Persentase

1

Orientasi keberhasilan

Sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan

dengan peningkatan prestasi unggul 56 66.67%

2 Kegiatan pencapaian prestasi unggul 70 41.67%

3

Antisipasi kegagalan

Cermat menentukan target prestasi 22 52.38%

4 Usaha menanggulangi penghambat

pencapaian keberhasilan 25 59.52%

5

Inovasi

Menemukan suatu cara yang lebih mudah

dan singkat 18 42.86%

6 Menyukai tantangan 7 16.67%

7

Tanggung jawab

Kesempurnaan penyelesaian tugas 23 54.76%

8 Percaya diri dan tangguh dalam

menyelesaikan tugas 18 42.86%

Skor Total 239

Persentase 47.42%

Dari tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa aspek yang sudah memenuhi kriteria tinggi adalah sensitive terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi unggul dengan presentasenya 66.67% dan untuk aspek yang lainnya masih dalam

(8)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

37

kriteria sedang, rendah dan sangat rendah. Sedangkan untuk kriteria motivasi untuk keseluruhan aspek yang diamati masih kriteria sedang. Berdasarkan angket motivasi belajar siswa yang telah dibagikan kepada siswa pada siklus I diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 2

Hasil Angket Motivasi Belajar Matematika Siswa pada Siklus I

Aspek Orientasi keberhasilan Antisipasi kegagalan Inovasi Tanggung jawab Indikator 1 2 3 4 5 6 7 8 Persentase 66.67% 57.38% 74.29% 69.21% 61.59% 71.43% 73.65% 62.14%

Kriteria Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

2. Siklus II

Berdasarkan pada tiap aspek motivasi belajar siswa yang diamati dalam pembelajaran pada siklus II diperoleh data hasil observasi motivasi belajar siswa sebagai berikut :

Tabel 3

Data hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa pada Siklus II

No

Aspek yang

diamati Indikator Skor Persentase

1

Orientasi keberhasilan

Sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan

dengan peningkatan prestasi unggul 48 63,16%

2 Kegiatan pencapaian prestasi unggul 85 55,92%

3

Antisipasi kegagalan

Cermat menentukan target prestasi 20 52,63%

4 Usaha menanggulangi penghambat

pencapaian keberhasilan 27 71,05%

5

Inovasi

Menemukan suatu cara yang lebih mudah

dan singkat 25 65,79%

6 Menyukai tantangan 12 31,58%

7

Tanggung jawab

Kesempurnaan penyelesaian tugas 25 65,79%

8 Percaya diri dan tangguh dalam

menyelesaikan tugas 19 50%

Skor Total 261

Persentase 57,24%

Dari tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa ada 4 aspek yang sudah memenuhi kriteria tinggi yaitu sensitive terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi unggul, usaha menanggulangi penghambat pencapaian keberhasilan, menemukan suatu cara yang lebih mudah dan singkat, kesempurnaan penyelesaian tugas. Sedangkan untuk aspek yang lainnya masih dalam kriteria sedang dan rendah. Secara keseluruhan kriteria motivasi belajar yang diamati masih kriteria sedang. Berdasarkan angket motivasi belajar siswa yang telah dibagikan kepada siswa pada siklus II diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4

Hasil Angket Motivasi Belajar Matematika Siswa pada Siklus I

Aspek Orientasi

keberhasilan

Antisipasi kegagalan

Inovasi Tanggung Jawab

Indikator 1 2 3 4 5 6 7 8

Persentase 67,02% 63,82% 71,58% 68,42% 62,46% 63,51% 66,67% 63,95%

(9)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

38 3. Siklus III

Dari hasil observasi motivasi belajar siswa pada siklus III terlihat bahwa motivasi belajar siswa sudah meningkat dari siklus II. Presentase kehadiran siswa masih kurang karena terlihat pada hanya 20 dari 32 siswa yang mengikuti pembelajaran. Oleh karenanya siswa hanya dibagi menjadi 4 kelompok yang masing-masingnya terdiri dari 5 siswa. Penempatan siswa dalam kelompok disusun oleh guru pada hari itu juga. Hasil analisis observasi motivasi belajar siswa pada siklus III dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5

Data hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa pada Siklus III

No

Aspek yang

diamati Indikator Skor Persentase

1

Orientasi keberhasilan

Sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan

dengan peningkatan prestasi unggul 61 76,25%

2 Kegiatan pencapaian prestasi unggul 81 51,63%

3

Antisipasi kegagalan

Cermat menentukan target prestasi 25 62,5%

4 Usaha menanggulangi penghambat

pencapaian keberhasilan 28 70%

5

Inovasi

Menemukan suatu cara yang lebih mudah

dan singkat 36 90%

6 Menyukai tantangan 13 32,5%

7

Tanggung jawab

Kesempurnaan penyelesaian tugas 31 77,5%

8 Percaya diri dan tangguh dalam

menyelesaikan tugas 20 50%

Skor Total 295

Persentase 61,46%

Dari tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa ada 5 indikator yang sudah memenuhi kriteria tinggi yaitu sensitive terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi unggul, cermat menentukan target prestasi, usaha menangulangi penghambat pencapaian keberhasilan, menemukan suatu cara yang lebih mudah dan singkat, dan kesempurnaan penyelesaian tugas. Sedangkan untuk aspek yang lainnya masih dalam kriteria sedang dan rendah. Secara keseluruhan kriteria motivasi belajar yang diamati sudah ada peningkatan dibandingkan pada siklus II dan termasuk dalam kriteria baik. Berdasarkan angket motivasi belajar siswa yang telah dibagikan kepada siswa pada siklus III diperoleh hasil bahwa motivasi belajar siswa meningkat dari siklus II. Data hasil motivasi belajar siswa dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut.

Tabel 6

Hasil Angket Motivasi Belajar Matematika Siswa pada Siklus III

Aspek Orientasi

keberhasilan

Antisipasi kegagalan

Inovasi Tanggung Jawab

Indikator 1 2 3 4 5 6 7 8

Persentase 72 % 68,13% 73,67% 72,33% 62,67% 72% 65,67% 63,75%

Kriteria Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

4. Pembahasan

Hasil penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 3 siklus mengenai pembelajaran matematika dengn menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

(10)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

39

menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Hal ini terlihat dari analisis hasil observasi dan angket pada ketiga siklus serta tanggapan positif dari hasil wawancara. Berdasarkan lembar observasi motivasi belajar siswa, diperoleh persentase motivasi belajar siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai berikut:

Tabel 7

Persentase rata-rata motivasi belajar matematika siswa berdasarkan hasil observasi

No Aspek Indikator Persentase

Siklus I Siklus II Siklus III

1

Orientasi keberhasilan

Sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi unggul 66,67% (Tinggi) 63,16% (Tinggi) 76,25% (Tinggi)

2 Kegiatan pencapaian prestasi unggul 41,67%

(Sedang) 55,92% (Sedang) 50,63% (sedang) 3 Antisipasi kegagalan

Cermat menentukan target prestasi 52,38%

(Sedang)

52,63% (Sedang)

62,50% (Tinggi)

4 Usaha menanggulangi penghambat

pencapaian keberhasilan 59,52% (Sedang) 71,05% (Tinggi) 70% (Tinggi) 5 Inovasi

Menemukan suatu cara yang lebih mudah dan singkat

42,86% (Sedang) 65,79% (Tinggi) 90% (Sangat Tinggi) 6 Menyukai tantangan 16,67% (Sangat rendah) 31,58% (Rendah) 32,5% (Rendah) 7 Tanggung jawab

Kesempurnaan penyelesaian tugas 54,76%

(Sedang)

65,79% (Tinggi)

77,5% (Tinggi)

8 Percaya diri dan tangguh dalam

menyelesaikan tugas 42,86% (Sedang) 50% (sedang) 50% (Sedang) Rata-rata 47,42% (Sedang) 57,24% (Sedang) 61,46% (Tinggi) Berdasarkan hasil observasi motivasi belajar siswa pada tabel 7 di atas, secara umum ada peningkatan motivasi belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan rata-rata kriteria siklus I 47,42% dan siklus II 57,24% meningkat lagi menjadi 61,46%. Kategori motivasi belajar siswa dari kategori sedang pada siklus I dan siklus II meningkat menjadi kategori tinggi pada siklus III. Meskipun peningkatan ini tidak cukup tinggi namun melihat kondisi siswanya di kelas, hal ini sudah memberikan hasil yang baik. Dari kedelapan indikator motivasi belajar, indikator menyukai tantangan memiliki persentase yang paling rendah. Meskipun selama 3 siklus tindakan, indikator ini selalu mengalami peningkatan namun peningkatannya tidak cukup besar yaitu dari 16, 67% pada siklus I meningkat menjadi 31,58% pada siklus II dan terakhir 32,5% pada siklus III.

Berdasarkan hasil angket motivasi belajar yang diisi oleh siswa, motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini.

Tabel 8

Persentase motivasi belajar matematika siswa berdasarkan hasil angket

No Aspek Indikator Persentase

Siklus I Siklus II Siklus III

1

Orientasi keberhasilan

Sensitif terhadap hal-hal yang

berkaitan dengan peningkatan

prestasi unggul 66,67% (Tinggi) 67,02% (Tinggi) 72% (Tinggi)

2 Kegiatan pencapaian prestasi unggul 57,38%%

(Sedang)

63,82% (Tinggi)

68,13% (Tinggi)

(11)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

40

kegagalan (Tinggi) (Tinggi) (TInggi)

4 Usaha menanggulangi penghambat

pencapaian keberhasilan 69,21% (Tinggi) 68,42% (Tinggi) 72,33% (Tinggi) 5 Inovasi

Menemukan suatu cara yang lebih mudah dan singkat

61,59% (Tinggi) 62,46% (Tinggi) 62,67% (Tinggi) 6 Menyukai tantangan 71,43% (Tinggi) 63,51% (Tinggi) 72% (Tinggi) 7 Tanggung jawab

Kesempurnaan penyelesaian tugas 73,65%

(Tinggi)

66,67% (Tinggi)

65,67% (Tinggi)

8 Percaya diri dan tangguh dalam

menyelesaikan tugas 62,14% (Tinggi) 63,95% (Tinggi) 63,75% (Tinggi) Rata-rata 65,27% (Tinggi) 65,51% (Tinggi) 68,5% (Tinggi) Berdasarkan hasil angket, diperoleh rata-rata motivasi belajar siswa per siklusnya mengalami peningkatan. Rata-rata motivasi belajar siswa pada tiap siklus termasuk dalam kategori tinggi yaitu pada siklus I mencapai 65,27 %, pada siklus II mencapai 65,51% dan pada siklus III mencapai 68,5%. Persentase tiap indikator memiliki kecenderungan naik, namun masih ada persentase indikator yang mengalami penurunan yaitu indikator kesempurnaan penyelesaian tugas yang mempunyai persentase 73,65% pada siklus I dan 66,67% pada siklus II dan menurun lagi pada siklus III menjadi 65,67%. Hal ini dimungkinkan karena siswa kurang teliti membaca angketnya bahkan peneliti menjumpai ada siswa yang mengisi angket tanpa membaca tiap butir pernyataannya. Hal ini yang diduga peneliti menyebabkan adanya perbedaan yang cukup besar antara hasil observasi dan angket.

Dalam penelitian ini, selain menggunakan data hasil observasi dan angket, peneliti juga menggunakan data berupa wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa. Berdasarkan hasil wawancara, motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan, ditandai dengan tanggapan yang baik dari siswa dan guru mengenai pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berdasarkan hasil analisis hasil observasi, angket dan wawancara dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa . hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata skor motivasi belajar siswa pada setiap siklus tindakan, dan tanggapan positif dari siswa berdasarkan hasil wawancara. Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mempermudah siswa memahami materi pelajaran karena siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru tapi juga beraktivitas dalam kelompoknya untuk memahami materi maupun mengerjakan soal. Siswa dilatih untuk diskusi dengan teman-temannya. Di akhir pembelajaran, siswa dilatih untuk mengkomunikasikan hasil diskusi kelompoknya melalui presentasi di depan kelas. Hal ini sangat baik untuk melatih kemampuan komunikasi siswa di depan orang banyak.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas melalui model pembelajarn kooperatif tipe STAD yang dilakukan pada siswa kelas XI OF SMK Yudha Karya Magelang Tahun ajaran 2012/2013 dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat peningkatan motivasi belajar matematika setelah menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi siswa yang menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I mencapai 47,42% dengan kriteria sedang, pada siklus II 57,24% dengan kriteria tinggi dan meningkat lagi pada siklus III 61,46% dengan kriteria tinggi.

(12)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

41

Adanya peningkatan motivasi belajar matematika juga bisa dilihat dari hasil angket siswa pada siklus I memperoleh persentase 65,27%, pada siklus II memperoleh persentase 65,51% dan meningkat lagi pada siklus III memperoleh persentase 68,5%. Kriteria persentase motivasi siswa dari ketiga siklus termasuk dalam kriteria tinggi. Sedangkan berdasarkan hasil wawancara diperoleh bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran koopertaif tipe STAD mendapatkan respon yang positif dari siswa artinya siswa dapat menerima dengan baik serta tertarik dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD.

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan ada beberapa saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, yaitu:

1. Bagi siswa

Siswa hendaknya selalu menanamkan motivasi untuk belajar dalam dirinya karena motivasi belajar siswa sangat mempengaruhi dan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.

2. Bagi guru

Dalam proses belajar mengajar matematika, sebaiknya guru menggunakan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Disamping sebagai variasi dalam penyampaian materi pelajaran, pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD juga dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa.

3. Bagi sekolah

Sekolah menganjurkan kepada guru untuk menggunakan variasi-variasi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi siswa misalnya dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD saat pembelajaran. 4. Bagi peneliti

Bagi peneliti yang hendak melakukan penelitian sejenis, hendaknya direncanakan lebih matang sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.

DAFTAR RUJUKAN

Djaafar, T.Z. 2001. Konstribusi Strategi Pembelajaran terhadap Hasil Belajar. Jakarta : Depdiknas.

Hamalik, O. 1991. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Hudoyo, H. dkk. 2001 Strategi Belajar Mengajar Matematika Kontemporer. Malang : UNM

Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Unesa University Press.

Riduwan, 2012. Skala Pengukuran Variable-variabel Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Shadiq, F. Untuk Apa Belajar Matematika. Yogyakarta : PPPPK Matematika. Diakses pada tanggal 5 maret 2013.

Soedjadi. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Jakarta : Depdiknas.

Soekamto, T & Winataputra, U.S,. 1997. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PAU-PPAI Universitas Terbuka.

(13)

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMK Yudha Karya Magelang

42

Suherman, E. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : JICA-UPI

Widyantini. 2008. Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP. Yogyakarta : PPPPTK Matematika.

Zuriah, N. 2003. Penelitian Tindakan dalam bidang pendidikan dan Sosial. Malang : Banyumedia Publishing.

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian berdasarkan hasil observasi pendahuluan pada semester 2 tahun ajaran 2012-2013 terhadap guru dan siswa, terdapat beberapa permasalahan pembelajaran IPS di kelas VII

Secara spesifik smartphone mampu menjadi (1)alat penelusuran informasi dan pengetahuan (berbagi, memberi dan menerima)koreografi melalui penggunaan google dan youtube

Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah bercak berwarna coklat, berbentuk oval sampai bulat, berukuran sebesar biji wijen, pada permukaan daun (GB. 61), pada pelepah, atau

Berikut ini aktivitas untuk menemukan rumus luas daerah lingkaran (untuk selanjutnya jika disebutkan luas lingkaran, maka yang dimaksud adalah luas daerah lingkaran).

(1) Hasil belajar siswa yang diberi perlakuan model pembelajaran TPSq dengan metode question student have lebih baik dari hasil belajar siswa yang diberi

menyatakan probabilitas jawaban benar untuk butir ke-j, parameter menyatakan ciri individu yang dapat berupa kemampuan akademik peserta tes, parameter adalah ciri

Konstruk kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) berpengaruh terhadap konstruk sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior) dalam penerimaan

Hal ini dapat dilihat dari hasil data 4 artikel dan 7 berita yang menunjukan bahwa dampak COVID-19 terhadap implementasi pembelajaran daring di SD dapat