BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI. dilakukan.penelitian yang pernah dilakukan tersebut dapat digunakan untuk

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI A. Tinjauan Pustaka

Penelitian terkait bagi hasil tanah pertanian bukan pertama kali dilakukan.Penelitian yang pernah dilakukan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat landasan dalam penelitian ini, diantaranya:

1. Adhe (2013), “Pelaksanaan Bagi Hasil Pertanian Sawah di Desa Bumen Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif, dimana peneliti mengumpulkan data primer (wawancara dan obeservasi) dan data sekunder (dokumentasi). Setelah itu data yang diperoleh dianalisis dengan UU No.2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah di Desa Bumen, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang dilakukan dengan sistem maro dan mertelu yaitu pembagiannya masing-masing pemilik dan penggarap sawah bisa mendapatkan 1/2 bagian ataupun 1/3 bagian, faktor-faktor yang mempengaruhi tidak dapat dilaksanakannya undang-undang nomor 2 tahun 1960 tentang perjanjian bagi hasil ini ialah masyarakat tidak mengetahui adanya ketentuan bagi hasil pertanian yang diatur dalam undang-undang tersebut karena tidak adanya sosialisasi dari perangkat desa maupun dinas yang terkait dan kurangnya wawasan dari masyarakat karena rendahnya tingkat

2. Skripsi Penelitian oleh Siti Khusnul Khotimah, yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Sistem Bagi Hasil (Profit Sharing) di

(2)

Baitul Mal Wattamwil (BMT) Arrahman” Dalam rumusan masalahnya dituliskan tentang: 1) Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap akad sistem bagi hasil di BMT Arrahman? 2) Bagaimana Tinjauan Hukum Islam terhadap proses penentuan pencairan yang dilakukan pihak BMT Arrahman? 3) Bagaimana pembatasan angsuran pembiayaan sekaligus bagi hasilnya?

Metode penelitian yang digunakan berupa jenis pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus serta studi diskriptif kualitatif.Dari hasil kesimpulannya bahwa dari data analisis data kualitatif yang berdasarkan data hasil interview, observasi serta dokumentasi menunjukkan kemurnian dari penerapan sistem bagi hasil di BMT Arrahman. Terhadap proses penentuan pencairan yang dilakukan pihak BMT Arrahman sudah sesuai dengan hukum Islam serta sesuai dengan aturan perbankan syariah yang ada, walaupun belum 100% semua cara ideal digunakan. Dari cara pembatasan waktu angsuran pembiayaan sekaligus bagi hasilnya tidak ada penyelewengan terhadap hukum Islam atau operasional BMT Arrahman.

Letak perbedaannya pada sistem bagi hasil, yang mana pada penelitian yang dilakukan Siti Khusnul Khotimah, membahas bagi hasil terkait masalah perbankan bebas bunga. Sedangkan pada penelitian yang saya lakukan ini membahas sistem bagi hasil berdasarkan prinsip Kerja sama disektor pertanian. Persamaannya adalah sama-sama membahas bagi hasil, dan metode yang digunakan berupa jenis pendekatan kualitatif.

(3)

3. Penelitian tentang kemitraan/kerjasama (syirkah) yang dilakukan oleh Zainulloh Zabidi, yang berjudul: Analisis Hukum Islam Terhadap Pola Kemitraan Ayam Ras di UD Jatinom Indah PS, Desa Jatinom Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Dalam penelitian tersebut dikemukakan bahwa dalam hukum Islam sudah diatur mengenai tata cara dalam melakukan kemitraan. Dimana tentang sistem akad, hutang piutang, pembiayaan, serta jual beli dalam kajian hukum Islam dalam mekanisme pelaksanaannya harus jelas tanpa mengurangi rukun dan syarat yang bisa menjadikan hal tersebut menjadi menyimpang dari hukum Islam atau peraturan yang sudah ditetapkan. Islam sudah memberikan arahan dan tuntunan dalam melaksanakan jual beli, hutang piutang, serta pembiayaan. Sedangkan pola kemitraan yang diterapkan dalam Islam adalah bertujuan saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan analisis hukum Islam terhadap pola kemitraan ini adalah apabila tidak ada kejelasan akad dalam bertransaksi, maka transaksi atau kemitraan tersebut tidak sah karena hal tersebut akan berimbas pada cacatnya kerjasama tersebut sehingga salah satu pihak akan dirugikan, dan hal itu sangat bertentangan dengan hukum Islam. Sedangkan kemitraan yang diterapkan yang dilakukan oleh perusahaan dengan plasma termasuk kategori mudharabah musyarakah, dimana dalam kemitraan tersebut mengandung unsur hutang piutang, selain itu antara mudharib dan shahibul maal sama-sama menyertakan modalnya walaupun porsinya tidak sama.

(4)

Sudah jelas diketahui bahwa dari ketiga penelitian, diatas berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis. Di dalam penelitian ini penulis lebih menekankan kepada petani kebun salak dalam penerapan bagi hasil antara penggarap dan pemilik kebun dengan bagi hasil sesuai kesepakatan antara dua belah pihak, menurut Fatwa Dewan Syariah nasional (DSN).

B. Kerangka Teoritik

1. Tinjauan Umum Bagi Hasil

a. Prinsip Pembiayaan Mudharabah Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional

Dalam pelaksanaan akad pembiayaan mudharabah pelaku harus mentaati hukum yang berwenang. Di Indonesia Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia yang berwenang untuk mengeluarkan fatwa terkait dengan pembiayaan mudharabah ini. Yaitu dalam fatwa Dewan Syariah Nasional nomor: 07/ DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan mudharabah (qiradh).

Dalam fatwa tersebut Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia menetapkan pembiayaan mudharabah sebagai berikut:

1) Ketentuan Pembiayaan

a) Pembiayaan mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif. b) Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik

(5)

sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha.

c) Jangka waktu usaha, tatacara pengembalian dana, dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha).

d) Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati bersama dan sesuai dengan syariah; dan LKS tidak ikut serta dalam managemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan. e) Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam

bentuk tunai dan bukan piutang.

f) LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian. g) Pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah tidak ada

jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad.

h) Kriteria pengusaha, prosedur pembiayaan, dan mekanisme pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN.

(6)

j) Dalam hal penyandang dana (LKS) tidak melakukan kewajiban atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan, mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang telah dikeluarkan. 2) Rukun dan Syarat Pembiayaan

a) Penyedia dana (shahibul mal) dan pengelola (mudharib) harus cakap hukum.

b) Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad), dengan memperhatikan hal-hal berikut:

i) Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad).

ii) Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. iii) Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau

dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern.

c) Modal ialah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut:

i) Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya.

ii) Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Jika modal diberikan dalam bentuk aset, maka asset tersebut harus dinilai pada waktu akad.

iii) Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib, baik secara bertahap maupun tidak, sesuai dengan kesepakatan dalam akad.

(7)

d) Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi:

i) Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya untuk satu pihak.

ii) Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan.

iii) Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah, dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.

e) Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib), sebagai perimbangan (muqabil) modal yang disediakan oleh penyedia dana, harus memperhatikan hal-hal berikut:

i) Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib, tanpa campur tangan penyedia dana, tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan.

ii) Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah, yaitu keuntungan.

(8)

iii) Pengelola tidak boleh menyalahi hukum Syari’ah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah, dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu.

3) Beberapa Ketentuan Hukum Pembiayaan

a) Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu.

b) Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi.

c) Pada dasarnya, dalam mudharabah tidak ada ganti rugi, karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad alamanah), kecuali akibat dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.

d) Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari‟ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

b. Pengertian Bagi Hasil

Bagi hasil menurut istilah adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dan pengelola dana (Ahmad Rofig, 2004: 153).

Pengertian bagi hasil. Muhammad (2004:18) menyebutkan bahwa: Bagi hasil menurut terminologi asing dikenal dengan profit

(9)

sharing dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba. Secara definitif profit sharing adalah distribusi beberapa bagian dari laba pada para pegawai dari suatu perusahaan. Dalam buku yang lain dijelaskan bahwa bagi hasil adalah :

“bentuk return (perolehan kembaliannya) dari kontrak investasi, dari waktu ke waktu, tidak pasti dan tidak tetap. Besar-kecilnya perolehan kembali itu bergantung pada hasil usaha yang benar-benar terjadi” (Adiwarman A. Karim, 2007: 203).

Sedangkan menurut pengertian dari UU No. 2 tahun 1960 tentang perjanjian Bagi Hasil (Tanah pertanian) disebutkan dalam pasal 1 poin c, bahwa:

perjanjian bagi hasil adalah perjanjian dengan nama apapun juga yang diadakan antara pemilik pada suatu pihak dan seseorang atau Badan Hukum pada lain pihak yang dalam Undang-undang ini disebut “penggarap” berdasarkan perjanjian mana penggarap di perkenankan oleh pemilik tersebut untuk menyelenggarakan usaha pertanian di atas tanah pemilik, dengan pembagian hasilnya antara kedua belah pihak (Dahlan Idami, 1994).

Sedangkan menurut (Muhamad Syafi’i Antonio, 2001: 90) juga menjelaskan tentang bagi hasil, bahwa:

Bagi hasil adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

(10)

Jadi perjanjian Bagi Hasil menurut Hukum Adat pada dasarnya adalah suatu perjanjian yang timbul dalam masyarakat, Hukum Adat antara pemilik tanah dengan petani penggarap dan umumnya perjanjian tersebut tidak diwujudkan dalam bentuk tertulis tetapi hanya bersifat lisan dengan dasar saling percaya.

Sebelum menjelaskan perjanjian Bagi Hasil, perlu kiranya diketahui pemakaian istilah dari perjanjian bagi hasil, karena disetiap daerah berbeda-beda penyebutannya seperti:

1) Memperduoi (Minangkabau) 2) Toyo (Minahasa)

3) Tesang (Sulawesi)

4) Maro (1:1), Mertelu (1.2), (Jawa Tengah). 5) Nengah (1.1), Jejuron (1.2), (Priangah)

Menurut para ahli hukum adat perjanjian bagi hasil itu mempunyai pengertian yang bermacam-macam, di antaranya sebagai berikut:

“perjanjian bagi hasil adalah hubungan hukum antara seorang yang berhak atas tanah dengan pihak lain (kedua), dimana pihak kedua ini diperkenankan mengolah tanah yang bersangkutan dengan ketentuan, hasil dari pengolahan tanah dibagi dua antara orang yang berhak atas tanah dan yang mengolah tanah itu” (Djaren Saragih,1984: 97)

Pengertian perjanjian bagi hasil menurut Hilman Hadikusuma, 1990) menyatakan Sebagai asas umum dalam hukum adat:

“Apabila seseorang menanami tanah orang lain dengan persetujuan atau tanpa persetujuan, berkewajiban menyerahkan sebagian hasil tanah itu kepada pemilik tanah. Asas ini berlaku tidak saja untuk tanah kosong, tanah ladang, tanah kebun, atau tanah sawah, tetapi juga untuk tanah perairan, perikanan dan peternakan”.

(11)

Dari beberapa pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan sistem bagi hasil merupakan sistem di mana dilakukannya perjanjian atau ikatan bersama di dalam melakukan kegiatan usaha. Di dalam usaha tersebut diperjanjian adanya pembagian hasil atas keuntungan yang akan didapat antara kedua belah pihak atau lebih besarnya penentuan porsi bagi hasil antara kedua belah pihak ditentukan sesuai kesepakatan bersama, dan harus terjadi dengan adanya kerelaan di masing-masing pihak tanpa adanya unsur paksaan.

c. Prinsip Bagi Hasil

Prinsip bagi hasil secara murni ada empat macam yaitu:al-musyarakah, al-mudharabah, al-muzara’ah dan al-musaqah (Muhammad Syafi’i Antonio, 2001: 90).

Prinsip al-musyarakah dan al-mudharabah sering dipakai atau digunakan dalam bentuk akad bagi hasil yang ada kaitannya dengan masalah perbankan bebas bunga. Sedangkan al-muzara’ah dan al-musaqah sering digunakan pada hal-hal yang berkaitan dengan pertanian. Mekanisme pelaksanaan sistem bagi hasil pada petani kebun salak merupakan aplikasi bagi hasil dengan prinsip al-musaqah, di mana pembagian hasil dibagi antara pemilik kebun salak dengan penggarap atau juga disebut dengan pekerja yang mana masing-masing pihak berhak atas segala keuntungan dan bertanggung jawab atas usaha yang dilaksanakan menurut perjanjian tersebut. Dari hasil pertanian kebun salak maka hasil dibagi bersama dengan jumalah yang ada, masing-masing pihak medapatkan sesuai dengan kesepakatan.

(12)

d. Bagi Hasil Pertanian dalam Hukum Islam

Dalam hukum Islam, kerjasama dalam pertanian biasa disebut dengan tiga istilah yakni musaqah, muzara’ah, dan mukhabarah.

1) Musaqah

a) Pengertian Musaqah

Musaqah diambil dari kata al-saqa, yaitu seseorang bekerja dengan mengurus pohon tamar, anggur, atau pohon-pohon lainnya supaya mendatangkan kemaslahatan dan mendapatkan bagian tertentu dari hasil yang diurus sebagai imbalan (Hendi, 2014: 120). Sedangkan secara etimologi, musaqah berarti transaksi dalam pengairan, yang oleh penduduk Madinah disebut dengan al-mu’amalah, akan tetapi istilah yang lebih dikenal adalah musaqah (Abdul, 2015: 23).

Musaqah menurut terminologi Islam dalam Rachmat (2001) di antaranya:

“Suatu akad dengan memberikan pohon kepada penggarap agar dikelola dan hasilnya dibagi antara keduanya.” Ulama Syafi’iyah: “Memperkerjakan orang lain untuk menggarap kurma atau pohon anggur, dengan perjanjian dia akan menyiram dan mengurusnya, kemudian buahnya untuk mereka berdua”.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, akad musaqah adalah bentuk kerja sama antara pemilik kebun dan petani dimana pemilik kebun menyerahkan kebun kepada petani untuk dirawat dan dipelihara, sehingga ketika kebun itu menghasilkan kemudian pemilik memberikan upah kepada petani yang diambil dari hasil dari kebun tersebut sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.

(13)

Kiranya dapat dimengerti bahwa pada akad musaqah, pada kebun telah ada pohon/tanaman yang sudah ada, kemudian penggarap dalam hal ini berkewajiban untuk merawat dan memelihara pohon/tanaman dalam kebun tersebut agar dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Kerjasama dalam bentuk musaqah berbeda dengan mengupah tukang kebun untuk merawat tanaman, karena hasil yang diterimanya adalah bukan upah yang telah pasti ukurannya seperti tukang kebun, melainkan dari hasil kebun yang belum tentu besarannya.

b) Dasar Hukum

Menurut kebanyakan ulama, hukum musaqah yaitu boleh atau mubah (Abdul, 2015). Asas hukum musaqah dalam Hendi (2014) dan Abdul (2015) adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Umar r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi SAW telah menyerahkan kebun beliau kepada penduduk Khaibar agar dipelihara dengan perjanjian: mereka akan memperoleh dari penghasilannya, baik dari buah-buahan maupun dari hasil tanaman”. (HR. Muslim).

c) Rukun dan Syarat

Ulama Hanafiyah berpendirian bahwa yang menjadi rukun dalam akad musaqah adalah ijab dari pemilik tanah perkebunan, kabul dari petani, dan pekerjaan dari pihak penggarap (Abdul, 2015). Menurut Nasroen (2007) dalam Abdul (2015). Adapun Jumhur Ulama fiqh terdiri dari ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendirian bahwa rukun musaqah ada lima, yaitu:

1) Dua orang/pihak yang melakukan transaksi. 2) Tanah yang dijadikan objek musaqah.

(14)

3) Jenis usaha yang akan dilakukan petani penggarap. 4) Ketentuan mengenai pembagian hasil musaqah. 5) Shigat (ungkapan) ijab dan kabul.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak dalam akad musaqah adalah sebagai berikut (Abdul, 2015):

1. Kedua belah pihak harus cakap bertindak hukum, yakni dewasa (akil balig) dan berakal.

2. Objek musaqah haruslah pohon yang memiliki buah. Dalam menentukan objek musaqah terdapat perbedaan pendapat para ulama. Menurut Hanafiyah, haruslah pohon yang berbuah seperti kurma, anggur, dan terong. Namun Hanafiyah mutaakhirin menyatakan, musaqah juga berlaku bagi pepohonan yang tidak berbuah jika memang diperlukan oleh masyarakat. Menurut ulama Hanabilah, yang boleh menjadi objek musaqah adalah pohon yang memiliki buah saja. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa yang boleh menjadi objek musaqah adalah kurma dan anggur saja. Sedangkan ulama malikiyah menyatakan objek musaqah adalah tanaman keras dan palawija, seperti kurma, terong, apel, dan anggur dengan syarat bahwa:

a) Akad musaqah itu dilakukan sebelum buah itu layak dipanen. b)Tenggang waktu yang ditentukan jelas.

c) Akadnya dilakukan setelah tanaman itu tumbuh.

d)Pemilik perkebunan tidak mampu untuk mengolah dan memelihara tanaman.

(15)

3. Tanah itu diserahkan sepenuhnya kepada petani penggarap, tanpa campur tangan pemilik kebun lagi.

4. Hasil buah merupakan hasil bersama sesuai kesepakatan awal pemilik dan penggarap. Bagi penggarap hasil yang didapatkannya merupakan upahnya.

5. Lamanya perjanjian harus jelas agar terhindar dari ketidakpastian. d) Berakhirnya Akad

Berakhirnya akad musaqah berdasarkan fiqh dan pendapat para ulama adalah sebagai berikut:

1)Jangka waktu yang disepakati dalam akad telah habis (berakhir). (fiqh dan pendapat jumhur ulama)

2)Dibatalkan atas kesepakatan pihak pemilik kebun dan penggarap. Jika pembatalan itu terjadi ketika buah telah berbuah, maka hasilnya dibagi dua antara pemilik kebun dan penggarap. (Ulama Hanabilah) Menurut ulama Syafi’iyah, akad musaqah tidak boleh dibatalkan karena penggarap tidak mampu bekerja. Jika penggarap tidak mampu bekerja, misalnya karena sakit, maka harus menunjuk orang lain untuk menggantikannya.Dalam akad musaqah, menurut ulama Malikiyah adalah akad yang boleh diwariskan. Sehingga apabila salah satu pihak meninggal dunia dapat diteruskan oleh ahli warisnya. Namun jika kedua belah pihak meninggal dunia, ahli waris dibolehkan bersepakat untuk melanjutkan ataupun membatalkan akad musaqah (Abdul, 2015).

(16)

a) Pengertian Muzara’ah

Menurut bahasa, al-muzara’ah memiliki dua arti, yang pertama al-muzara’ah yang berarti tharhal-zur’ah (melemparkan tanaman), yang kedua maksudnya adalah modal (al-hadzar). Makna yang pertama adalah makna majaz dan yang kedua adalah makna hakiki. (Hendi, 2015). Menurut Abdul, (2014) secara etimologi, muzara’ah berarti kerjasama di bidang pertanian antara pihak pemilik dan petani penggarap. Secara terminologi, terdapat beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama fiqh, diantaranya: Ulama Malikiyah, muzara’ah adalah perserikatan dalam pertanian. (Abdul, 2015)

Ulama Hanabilah, muzara’ah adalah penyerahan tanah pertanian kepada seorang tani untuk ditanami dan yang bekerja diberi bibit. (Hendi, 2014).Ulama Syafi’iyah membedakan muzara’ah dan mukhabarah, “Mukhabarah adalah mengelola tanah di atas sesuatu yang dihasilkannya dan benihnya berasal dari pengelola. Adapun muzara’ah, sama seperti mukhabarah, hanya saja benihnya berasal dari pemilik tanah” (Rachmat, 2001).

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa muzara’ah adalah bentuk kerjasama antara pemilik tanah dengan penggarap tanah dimana bibit berasal dari pemilik tanah dengan perjanjian bagi hasil dengan bagian masing-masing yang telah disepakati.

(17)

Kerjasama dalam bentuk muzara’ah menurut kebanyakan ulama fiqh hukumnya boleh (mubah). Dasar kebolehan muzara’ah di samping dapat dipahami dari firman-firman Allah yang memerintahkan saling tolong menolong, terdapat hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a (Hendi, 2014):

“Sesungguhnya Nabi SAW menyatakan, tidak mengharamkan bermuzara’ah, bahkan beliau menyuruhnya, supaya yang sebagian menyayangi sebagian yang lain, dengan katanya, barang siapa yang emmiliki tanah, maka hendaklah ditanaminya atau diberikan faedahnya kepada saudaranya, jika ia tidak mau, maka boleh ditahan saja tanah itu”.

c) Rukun dan Syarat

Jumhur ulama yang membolehkan akad muzara’ah mengemukakan rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga akad dianggap sah, diantaranya (Abdul, 2015):

1) Pemilik tanah. 2) Petani penggarap.

3) Objek al-muzara’ah, yaitu antara manfaat dan hasil kerja petani.

4) Ijab dan Kabul.

Untuk syarat-syarat muzara’ah, menurut jumhur ulama adalah sebagai berikut (Abdul, 2015):

1) Syarat yang menyangkut orang yang berakad, keduanya harus baligh dan berakal.

(18)

2) Syarat yang menyangkut dengan tanaman, yaitu harus disebutkan tanaman jenis apa yang akan ditanam agar jelas dan akan menghasilkan.

3) Syarat yang berhubungan dengan tanah yang akan ditanami, yaitu tanah tersebut dapat ditanami (bukan lahan tandus yang tidak dapat ditanami), dapat diketahui batas-batanya secara jelas, tanah itu diserahkan sepenuhnya kepada penggarap untuk digarap.

4) Syarat yang berhubungan dengan bagi hasil tanaman, yaitu: a) Pembagian masing-masing pihak harus disebutkan secara

jelas ketika akad.

b) Hasil itu benar-benar milik bersama orang yang berakad. c) Bagian itu ditentukan: setengah, sepertiga, atau

seperempat, sejak awal akad. Penentuannya tidak boleh dalam bentuk jumlah tertentu secara mutlak seperti misalnya satu kuintal/satu karung.

5)Syarat yang berkaitan dengan jangka waktu akad muzara’ah harus dijelaskan dalam akad sejak semula.

d) Berakhirnya muzara’ah

Beberapa hal yang menyebabkan muzara’ah berakhir (Rachmat, 2001):

1) Berakhirnya masa akad muzara’ah.

2) Salah seorang yang berakad meninggal dunia. 3) Adanya uzur, seperti:

(19)

a) Tanah garapannya terpaksa dijual, misalnya untuk membayar utang.

b)Penggarap tidak dapat mengelola tanah, seperti sakit keras. 3) Mukhabarah

a. Pengertian Mukhabaah

Mengacu pada pendapat ulama Syafi’iyah terkait pengertian muzara’ah dan mukhabarah, maka kiranya dapat dimengerti mukhabarah adalah bentuk kerjasama antara pemilik tanah dengan penggarap tanah dimana bibit berasal dari penggarap tanah dengan perjanjian bagi hasil dengan bagian masing-masing yang telah disepakati.

Untuk rukun, syarat, dan berakhirnya akad dalam mukhabarah ialah sama dengan muzara’ah kecuali asal dari benih tanaman. Pada muzara’ah benih tanaman berasal dari pemilik, sedangkan dalam mukhabarah benih berasal dari penggarap. Pada umunya, kerjasama mukhabarah ini dilakukan pada pertanian yang benihnya murah, seperti padi, jagung, dan kacang. Namun tidak menutup kemungkinan pada tanaman yang benihnya relatif murah pun dilakukan kerja sama muzara’ah. (Abdul, dkk., 2015). b) Dasar Hukum Mukhabarah

Hukum mukhabarah sama dengan muzara’ah yaitu mubah (boleh). Landasan hukum mukhabarah adalah sabda Nabi SAW (Abdul, 2015):

“Dari Thawus r.a bahwa ia suka bermukhabarah, Amru berkata: Lalu aku katakan kepadanya: Ya Abu Abdurrahman, kalau

(20)

engkau tinggalkan mukhabarah ini, nanti mereka mengatakan bahwa Nabi SAW telah melarang mukhabarah. Lantas Thawus berkata: Hai Amr, telah menceritakan kepadaku orang yang sungguh-sungguh mengetahui hal itu, yaitu Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW tidak melarang mukhabarah itu, hanya beliau berkata: Seseorang memberi manfaat kepada saudaranya lebih baik daripada ia mengambil manfaat dari saudaranya itu dengan upah tertentu” (HR. Muslim).

C. Karangka Berpikir

Pada prinsipnya Islam membolehkan semua bentuk kerjasama, selama kerjasama tersebut saling mendatangkan masalah yang baik terhadap dirinya dan masyarakat banyak. Begitu halnya dengan pelaksanaan sistem bagi hasil pada petani kebun salak yang ada di Dusun Gang Gong Kecamatan Turi Yogyakarta. Kontrak bagi hasil ini merupakan model yang dikembangkan dari konsep perjanjian bagi hasil yang dikenal dalam hukum Islam, yaitu seorang yang berhak atas tanah yang karena suatu sebab tidak dapat mengerjakannya sendiri, tetapi ingin tetap mendapatkan hasilnya, maka memperkenankan orang lain untuk menyelenggarakan usaha pertanian atas tanah yang dimilikinya dan hasilnya dibagi antara mereka berdasarkan persetujuan. Konsep perjanjian bagi hasil yang dikenal dalam hukum Islam tersebut telah dimodifikasi dalam UU Nomor. 2 tahun 1960 tentang perjanjian Bagi Hasil pasal 1 huruf c, yang berbunyi:

“Perjanjian bagi hasil adalah perjanjian dengan nama apapun juga yang diadakan antara pemilik pada suatu pihak dan seseorang atau Badan Hukum pada lain pihak yang dalam Undang-undang ini disebut “penggarap” berdasarkan perjanjian mana penggarap di perkenankan oleh pemilik tersebut untuk menyelenggarakan usaha pertanian diatas tanah pemlik, dengan pembagian hasilnya antara kedua belah pihak. (Dahlan Idami, 1994: 9)”

Pelaksanaan sistem bagi hasil pada petani salak yang dilaksanakan oleh masyarakat Gang Gong merupakan salah satu kerjasama para petani

(21)

pemilik dan penggarap kebun salak, masing-masing pihak berhak atas segala keuntungan dan usaha yang dilaksanakan menurut perbandingan tertentu dari hasil pertanian tersebut. Dari hasil pertanian tersebut hasilnya dibagi bersama dengan jumlah sekian persen (%) untuk masing-masing pihak sesuai dengan kesepakatan.

Dalam Islam memang tidak dijelaskan secara terperinci mengenai pertanian kebun salak. Tetapi Islam lebih mengarahkan kepada kebijakan dari kedua belah pihak atau lebih dengan tidak ada pihak yang dirugikan disamping itu juga Islam tidak memberikan metode yang jelas tentang cara pembagian keuntungan menurut situasi dan kondisi serta faktor lain sehinga dikalangan para ulama dan ahli hukum Islam menyesuaikan faktor-faktor tersebut sesuai dengan kewajaran dan kemaslahatan. Namun didalam pelaksanaan sistem bagi hasil pertanian kebun salak tersebut jika dikaji dari hukum Islam lebih tepat menggunakan akad musaqah yang mana mereka bersekutu dalam sebuah usaha pertanian, dan masing-masing pihak berhak atas segalah keuntungan dan bertanggung jawab atas usaha yang dilaksanakan menurut perbandingan tersebut dari hasil pertanian kebun salak tersebut.

Hal ini dengan Firman Allah SWT, dalam Q.S An Najm 53:39        

Artinya: Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (Q.S An Najm 53:39)

(22)

                   ...

Artinya: ... Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu...(QS. An-Nisa 4:29)

Penafsiran tentang memakan harat sesama adalah berlaku curang dalam perserikatan dan cara yang terbaik dalam pengembangan modal adalah berniaga dengan kerja sama yang iklas dan menguntungkan bagi kedua pihak atau lebih.

Sistem bagi hasil yang dijadikan sebagai pegangan dalam Islam mengkaji permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah sangat umum dilakukan pada masa Rasullullah dan Khalifah setelah beliau.

Penentuan hukum pelaksanaan bagi hasil pada petani kebun salak di Dusun Gang Gong Kecamatan Turi Yogyakarta menurut hukum Islam akan dibahas berdasarkan istilah yakni salah satu penetapan hukum Islam terdapat suatu peristiwa dengan memperhatikan faktor kemaslahatan bagi manusia dalam hidup (Zarkasji, 1986: 121). Dengan demikian dapat diketahui sejauh mana pelaksana bagi hasil para petani salak tersebut dapat membawa kemaslahatan dan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang berakad pada khususnya dan masyarakat Dusun Gang Gong pada umumnya. Prinsip bagi hasil yang dilakukan pada masyarakat Dusun Gang Gong merupakan prinsip-prinsip yang mengatur pembagian hasil yang diperoleh dari hasil pertanian antara pemilik lahan kebun salak dan

(23)

penggarap. Pembagian hasil ini dirungikan di antara para pihak dan biasanya dilakukan dalam bentuk perjanjian secara lisan.

Gambar 1 Skema Karangka Berpikir

Pemilik Kebun Salak

Perjanjian Bagi Hasil

Pada Petani Kebun Salak Menurut Hukum Islam

Penggarap Kebun

Salak Hak dan Kewajiban

Penerapan Sistem Bagi Hasil Pada Petani kebun salak di Dusun Gang Gong

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :