• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA. pavement), perkersaan kaku (rigid pavement) dan perkersaan komposit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA. pavement), perkersaan kaku (rigid pavement) dan perkersaan komposit"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Perkerasan Jalan

Perkersaan jalan adalah kombonasi dari lapisan pondasi bawah, pondasi atas dan

pondasi permukaan yang telah dipadatkan untuk memikul bebn lalulintas. Secara

umum perkersaan jalan terdiri dari tiga (3) jenis, yaitu perkersan lentur (flexible pavement), perkersaan kaku (rigid pavement) dan perkersaan komposit (composite pavement).

1. Perkerasan Lentur (flexible pavement)

Perkerasan lentur adalah jenis perkerasan yang menggunakan aspal sebagai

bahan pengikat untuk lapisan perkerasan. Konstruksi perkerasan lentur

terdiri dari lapisan-lapisan yang diletakkan diatas tanah dasar yang telah

dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi sebagai penerima beban lalu

lintas dan menyebarkan ke lapisan di bawahnya.

2. Perkerasan Kaku (rigid pavement)

Perkerasan kaku adalah jenis perkerasan yang menggunakan lapisan pelat

(2)

tanah dasar dengan atau tanpa pondasi bawah. Beban yang bekerja atau yang

melintasi lapisan perkerasan kaku sebagian besar dipikul oleh pelat beton

tersebut.

3. Perkerasan Komposit (composite pavement)

Perkerasan komposit adalah kombinasi antara konstruksi perkerasan lentur

dengan konstruksi perkerasan kaku. Dalam kombinasi tersebut, perkerasan

kaku dapat diletakkan di atas perkerasan lentur atau juga sebaliknya.

B. Aspal

Defenisi dari aspal adalah material berwarna hitam atau coklat tua. Pada

temperatur ruang berbentuk padat sampai agak padat, jika dipanaskan sampai

temperatur tentu dapat menjadi lunak atau cair sehingga dapat membungkus

partikel agregat pada waktu pembuatan campuran aspal beton atau dapat

masuk kedalam pori-pori yang ada pada penyemprotan atau penyiraman pada

perkerasan macadam atau pelaburan. Jika temperatur mulai turun maka aspal

akan mengeras dan mengikat agregat pada tempatnya (sifat Termoplastis).

Komposisi Aspal

a. Aspal merupakan unsur hydrocarbon yang sangat komplek sukar memisahkan molekul-molekul yang memberntuk aspal tersebut.

b. Secara umum komposisi dari aspal terdiri dari asphaltenes dan maltenes.

c. Asphaltenes merupakan material berwarna hitam atau coklat tua yang larut dalam heptane.

(3)

d. Maltenes merupakan cairan kental yang terdiri dari resin dan oils, dan larut dalam heptanes

e. Resins adalah cairan berwarna kuning atau coklat tua yang memberikan sifat adhesi dari aspal, merupakan bagian yang mudah

hilang atau berkurang selama masa pelayanan jalan. Oils adalah

media dari asphaltenes dan resin, berwarna lebih muda

f. Proporsi dari asphaltenes, resin, oils berbeda tergantung dari banyak faktor seperti kemungkinan beroksidasi, proses pembuatan dan

ketebalan aspal dalam campuran.

Berdasarkan bentuknya aspal dapat dibedakan dalam 3 jenis yakni :

a. Aspal keras (Asphalt Cemen, AC)

1. Aspal keras pada suhu ruang (250 – 300 C) berbentuk padat

2. Aspal keras dibedakan berdasarkan nilai penetrasi (tingkat

kekerasannya).

3. Aspal keras yang biasa digunakan :

a. AC Pen 40/50, yaitu aspal keras dgn penetrasi antara 40 – 50

b. AC pen 80/100, yaitu aspal keras dengan penetrasi antara 80 –

100

c. AC pen 200/300, yaitu aspal keras dengan penetrasi antara

200-300

4. Aspal dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca panas,

(4)

5. Aspal dengan penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca

dingin, lalu lintas rendah.

6. Di Indonesia umumnya digunakan aspal penetrasi 60/70 dan

80/100.

b. Aspal cair (Cut Back Asphalt)

a. Aspal cair merupakan campuran aspal keras dengan bahan pengencair dari hasil penyulingan minyak bumi.

b. Pada suhu ruang berbentuk cair.

c. Berdasarkan bahan pencairnya dan kemudahan penguapan bahan

pelarutnya, aspal cair dibedakan atas :

a. RC (Rapid curing cut back )

1. Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan bensin

(premium), RC

2. merupakan curback asphal yang paling cepat menguap.

3. RC cut back asphalt dugunakan sebagai : a. Tack coat (Lapis perekat)

b. Prime Coat (Lapis resap pengika c. MC (Medium Curingcut back)

Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan minyak tanah (Kerosine). MC merupakan cut back aspal yang kecepatan menguapnya sedang.

(5)

b. SC (Slow Curing cut back)

Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan solar, SC

merupakan cut back asphal yang paling lama menguap. SC Cut back asphalt digunakan sebagai:

1. Prime coat

2. Dust laying (lapis pengikat debu)

Cut back aspal dibedakan berdasarkan nilai viscositas pada suhu 600°C RC 30 – 60, MC 30 – 60, SC 30 – 60, RC 70 –

140, MC 70 – 140 dan SC 70 – 140.

c. Aspal Emulsi

1. Aspal emulsi adalah suatu campuran aspal dengan air dan bahan

pengemulsi

2. Emulsifer agent merupakan ion bermuatan listrik (Elektrolit), (+) Cation , (-) Annion

3. Partikel aspal melayang-layang dalam air karena partikel aspal

diberi muatan listrik.

4. Berdasarkan muatan listriknya, aspal emulsi dapat dibedakan atas :

a. Kationik

disebut juga aspal emulsi asam, merupakan aspal emulsi yang bermuatan arus listrik posirif

(6)

b. Anionik

disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan aspal emulsi yang bermuatan negatif

c. Nonionik

merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi, berarti tidak mengantarkan listrik.

5. Yang umum digunakan sebagai bahan perkerasan jalan adalah aspal emulsi anionic dan kationik.

6. Berdasarkan kecepatan pengerasannya aspal emulsi dibedakan atas

7. Rapid Setting (RS), aspal yang mengandung sedikit bahan pengemulsi sehingga pengikatan cepat terjadi. Digunakan untuk

Track Coat.

8. Medium Setting (MS), Digunakan untuk Seal Coat.

(7)

Berikut ini adalah Tabel 1. Yang berisi spesifikasi dari aspal keras penetrasi

60/70 yang sering digunakan dalam pelaksanaan perkersan di indonesia.

Tabel 1. Spesifikasi Aspal Keras Pen 60/70

No. Jenis Pengujian Metode Persyaratan

1 Penetrasi, 25 oC, 100 gr, 5 detik; 0,1 mm SNI 06-2456-1991 60 – 70

2 Viskositas 135 oC SNI 06-6441-1991 385

3 Titik Lembek; oC SNI 06-2434-1991 ≥ 48

5 Daktilitas pada 25 oC SNI 06-2432-1991 ≥ 100

6 Titik Nyala (oC) SNI 06-2433-1991 ≥ 232

7 Kelarutan dlm Toluene, % ASTM D 5546 ≥ 99

8 Berat Jenis SNI 06-2441-1991 ≥ 1,0

9 Berat yang Hilang, % SNI 06-2441-1991 ≤ 0,8

Sumber: Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi BAB VII Spesifikasi Umum 2010 Devisi 6 Tabel 6.3.2.5

C. Suhu / Temperatur

Aspal merupakan material termoplastis yang peka terhadap perubahan suhu,

semakin suhu meningkat maka aspal akan mencair dan sebalikya jika suhu turun

aspal kembali mengeras. Setiap jenis aspal memiliki kepekaan terhadap

temperatur berbeda–beda, Karena kepekaan tersebut dipengaruhi oleh komposisi

kimiawi aspal, walapun mempunyai nilai penestrasi atau viskositas yang sama

pada temperature tertentu. Pemeriksaan sifat kepekaan aspal terhadap perubahan

temperatur perlu dilakukan sehingga diperoleh informasi tentang rentang

temperatur yang baik untuk pelaksanaan pekerjaan jalan. Dengan melihat sifat

(8)

pengujian kepadatan pada ruas percobaan. Campuaran aspal yang tidak

memenuhi batas temperatur yang disyaratkan pada saat pencurahan dari AMP

kedalam truk, tidak boleh diterima untuk digunakan pada pekerjaan yang

permanen. Berikut adalah Tabel 2 yang memperlihatkan nilai viskositas aspal,

batasan suhu selama pencampuran, penghamparan, dan pemadatan pada proses

pelaksanaan pekerjaan perkerasan jalan.

Tabel 2. Ketentuan Viskositas, Temperatur Aspal Untuk Pencampran dan

Pemadatan.

No. Prosedur Pelaksanaan Viskositas aspal (PA.S)

Suhu Campuran (oC) Pen 60/70 1 Pencampuran benda uji Marshall 0,2 155 ± 1

2 Pemadatan benda uji Marshall 0,4 145 ± 1

3 Pencampuran rentang temperatur sasaran

0,2 – 0,5 145 – 155

4 Menuangkan campuran dari AMP ke dalam truk

± 0,5 135 – 150

5 Pasokan ke alat penghamparan (paver)

0,5 – 1,0 130 – 150

6 Penggilasan awal (roda baja) 1 – 2 125 – 145 7 Penggilasan kedua (roda karet) 2 – 20 100 – 125 8 Penggilasan akhir (roda baja) < 20 > 95

Sumber : Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi BAB VII Spesifikasi Umum Devisi 6 Tabel 6.3.5.1.

(9)

D. Agregat

ASTM mendefinisikan agregat sebagai suatu bahan yang terdiri dari mineral

padat, berupa massa berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen.

Agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan jalan, yaitu

90-95% agregat berdasarkan prosentase berat atau 75-85% agregat berdasarkan

prosentase volume. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan ditentukan

dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain.

Saat memilih agregat yang akan digunakan harus memperhatikan

ketersediaan bahan di lokasi, jenis konstruksi, gradasi, ukuran maksimum,

kebersihan, daya tahan, bentuk, tekstur, daya lekat agregat terhadap aspal,

dan berat jenisnya. Agregat yang digunakan dalam perkerasan jalan ini

memiliki diameter agregat antara 19 mm sampai 0.075 mm, atau agregat

yang lolos saringan ¾ sampai no. 200.

Sifat agregat yang menentukan kualitas sebagai bahan konstruksi perkerasan jalan dapat dikelompokan menjadi 3( tiga) kelompok yaitu :

a. Kekuatan dan keawetan (strength and durability) lapis perkerasaan dilapisi oleh gradasi, ukuran maksimum, kadar lempung, kekerasan dan

ketahanan (toughness and durability).

b. Kemampuan dilapisi aspal dengan baik, yang dipengaruhi oleh porositas,

(10)

c. Kemudahan dalam pelaksanan dan menghasilkan lapis yang nyaman dan

aman, yang dipengaruhi oleh tahanan geser (skid resistance) serta campuran yang memberikan kemudahan dalam pelaksanaan (bituminous

mixworkability).

Secara umum agregat yang digunakan dalam campuran beraspal dibagi atas

dua (2) fraksi yaitu:

a. Agregat Kasar

Fraksi agregat kasar untuk rancangan campuran adalah yang tertahan

ayakan No. 8 (2,36 mm) yang dilakukan secara basah dan harus bersih,

keras, awet, dan bebas dari lempung atau bahan yang tidak dikehendaki

lainnya dan memenuhi ketentuan. Agregat yang digunakan dalam

lapisan perkerasan jalan ini adalah agregat yang memiliki diameter

agregat antara 2,36 mm sampai 19 mm. Berikut ini adalah Tabel 3 yang

(11)

Tabel 3. Ketentuan Agregat Kasar

Pengujian Standar Nilai

Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan

natrium dan magnesium sulfat SNI 3407:2008 Maks.12 %

Abrasi dengan mesin Los Angeles

Campuran AC bergradasi kasar

SNI 2417:2008

Maks. 30% Semua jenis campuran

aspal bergradasi lainnya

Maks. 40%

Kelekatan agregat terhadap aspal SNI 03-2439-1991 Min. 95 %

Angularitas (kedalaman dari permukaan <10 cm) DoT’s Pennsylvania Test Method, PTM No.621 95/90 1 Angularitas (kedalaman dari permukaan ≥ 10

cm) 80/75

1

Partikel Pipih dan Lonjong ASTM D4791

Perbandingan 1 :5 Maks. 10 %

Material lolos Ayakan No.200 SNI 03-4142-1996 Maks. 1 %

Sumber: Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi BAB VII Spesifikasi Umum 2010 Devisi 6 Tabe 6.3.2(1a).

b. Agregat Halus

Agregat halus adalah material yang lolos saringan no.8 (2,36 mm) dan

tertahan saringan no. 200 (0,075 mm). Fungsi agregat halus adalah

sebagai berikut:

1) Menambah stabilitas dari campuran dengan memperkokoh sifat

saling mengunci dari agregat kasar dan juga untuk mengurangi

(12)

2) Semakin kasar tekstur permukaan agregat halus akan menambah

stabilitas campuran dan menambah kekasaran permukaan.

3) Agregat halus pada #8 sampai #30 penting dalam memberikan

kekasaran yang baik untuk kendaraan pada permukaan aspal.

4) Agregat halus pada #30 sampai #200 penting untuk menaikkan

kadar aspal, akibatnya campuran akan lebih awet.

5) Keseimbangan proporsi penggunaan agregat kasar dan halus

penting untuk memperoleh permukaan yang tidak licin dengan

jumlah kadar aspal yang diinginkan.

Agregat halus pada umumnya harus memenuhi persyaratan yang telah

ditetapkan. Berikut adalah Tabel 4 yang berisikan ketentuan mengenai

(13)

Tabel 4. Ketentuan Agregat Halus

Pengujian Standar Nilai

Nilai setara pasir SNI 03-4428-1997

Min 50% untuk SS, HRS dan AC bergradasi Halus Min 70% untuk AC bergradasi kasar Material Lolos Ayakan

No. 200 SNI 03-4428-1997

Maks. 8%

Kadar Lempung SNI 3423 : 2008 Maks 1%

Angularitas (kedalaman

dari permukaan < 10 cm) AASHTO TP-33 atau

ASTM C1252-93

Min. 45

Angularitas (kedalaman

dari permukaan 10 cm) Min. 40

Sumber: Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi BAB VII Spesifikasi Umum 2010 Devisi 6 Tabel 6.3.2.(2a)

c. Bahan Pengisi (Filler)

Bahan Pengisi (filler) berfungsi sebagai pengisi rongga udara pada material sehingga memperkaku lapisan aspal. Bahan yang sering

digunakan sebagi filler adalah fly ash, abu sekam, debu batu kapur, dan semen Portland. Filler yang baik adalah yang tidak tercampur dengan kotoran atau bahan lain yang tidak dikehendaki dan dalam keadaan

kering (kadar air maks 1%).

Filler yang digunakan pada penelitian ini adalah semen Portland. Fungsi filler dalam campuran adalah:

(14)

1) Untuk memodifikasi agregat halus sehingga berat jenis campuran

meningkat dan jumlah aspal yang diperlukan untuk mengisi rongga

akan berkurang.

2) Filler dan aspal secara bersamaan akan membentuk suatu pasta yang akan membalut dan mengikat agregat halus untuk membentuk mortar.

Dan mengisi ruang antara agregat halus dan kasar serta meningkatkan

kepadatan dan kestabilan.

E. Lapis Aspal Beton

Lapis beton aspal adalah lapisan penutup konstruksi jalan yang mempunyai nilai

struktural yang pertama kali dikembangkan di Amerika oleh Asphalt Institude dengan nama Asphalt Concrete (AC). Menurut Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, campuran ini terdiri dari atas agregat menerus dengan aspal

keras, dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu

tertentu. Suhu pencampuran ditentukan berdasarkan jenis aspal yang akan

digunakan. Sedangkan yang dimaksud gradasi menerus adalah komposisi yang

menunjukkan pembagian butiran yang merata mulai dari ukuran yang terbesar

sampai ukuran yang terkecil.

Beton aspal dengan campuran bergradasi menerus memiliki komposisi dari

agregat kasar, agregat halus, mineral pengisi (filler) dan aspal (bitumen) sebagai pengikat. Ciri lainnya memiliki sedikit rongga dalam struktur agregatnya, saling

mengunci satu dengan yang lainnya, oleh karena itu beton aspal memiliki sifat

(15)

Menurut spesifikasi campuran beraspal Departemen Pekerjaan Umum 2010,

Laston (AC) terdiri dari tiga macam campuran, Laston Lapis Aus (AC-WC),

Laston Lapis Pengikat (AC-BC) dan Laston Lapis Pondasi (AC-Base) dengan

ukuran maksimum agregat masing-masing campuran adalah 19 mm, 25,4 mm,

37,5 mm.

Ketentuan sifat – sifat campuran beraspal panas di Indonesia seperti campuran

beraspal jenis AC-WC adalah ketentuan yang telah dikeluarkan oleh Departemen

Permukiman dan Prasarana Wilayah bersama-sama dengan Bina Marga, hal itu

menjadi acuan dalam penelitian ini. yaitu seperti tertera dalam.

Tabel 5. Ketentuan Sifat-Sifat Campuran Laston (AC)

Sifat-sifat Campuran

LASTON

Lapis Aus Lapis Antar Pondasi Halus Kasar Halus Kasar Halus Kasar Kadar Aspal Efektif (%) Min. 5,1 4,3 4,3 4,0 4,0 3,5 Penyerapan Aspal (%) Maks. 1,2

Jumlah Tumbukan per Bidang 75 112

Rongga dalam Campuran (%) Min. 3,5 Maks. 5,0

Rongga dalam Agregat (%) Min. 15 14 13

Rongga Terisi Aspal (%) Min. 65 63 60

Stabilitas Marshall (kg) Min. 800 1800

Pelelehan (mm) Min. 3,0 4,5

Marshall Quotient (kg/mm) Min. 250 300

Sumber: Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi BAB VII Spesifikasi UmumDevisi 6 Tabel6.3.3.(1c)

(16)

F. Gradasi

Gradasi agregat adalah distribusi dari variasi ukuran butir agregat. Gradasi

agregat berpengaruh pada besarnya rongga dalam campuran dan menentukan

workabilitas serta stabilitas campuran. Gradasi agregat ditentukan dengan cara

analisa saringan, dimana sampel harus melalui satu set saringan.

Gradasi agregat dapat dibedakan atas:

1. Gradasi seragam (uniform graded atau gradasi terbuka (open graded)

Gradasi seragam (uniform graded) atau gradasi terbuka adalah agregat dengan ukuran yang hampir sama atau sejenis atau mengandung agregat

halus yang sedikit jumlahnya sehingga tidak dapat mengisi rongga antar

agregat. Agregat dengan gradasi seragam akan menghasilkan lapisan

perkerasan dengan sifat permeabilitas tinggi, stabilitas kurang, berat volume

kecil.

2. Gradasi rapat (dense graded)

Gradasi rapat, merupakan campuran agregat kasar dan halus dalam porsi

yang seimbang, sehingga dinamakan juga agregat bergradasi baik. Gradasi

rapat akan menghasilkan lapisan perkerasan dengan stabilitas tinggi, kurang

kedap air, sifat drainase jelek, dan berat volume besar.

3. Gradasi senjang (gap graded)

Gradasi senjang (gap graded), merupakan campuran yang tidak memenuhi dua kategori di atas. Aggregate bergradasi buruk yang umum digunakan untuk lapisan perkerasan lentur merupakan campuran dengan satu fraksi

(17)

hilang atau satu fraksi sedikit. Gradasi seperti ini juga disebut gradasi

senjang. Gradasi senjang akan menghasilkan lapis perkerasan yang mutunya

terletak antara kedua jenis di atas.

Penentuan distribusi ukuran agregat akan mempengaruhi kekakuan jenis

campuran aspal. Gradasi rapat akan menghasilkan campuran dengan kekakuan

yang lebih besar dibandingkan gradasi terbuka. Dari segi kelelehan, kekakuan

adalah suatu hal yang penting karena akan mempengaruhi tegangan dan regangan

yang diderita campuran beraspal panas akibat beban dinamik lalu lintas.

Gradasi agregat gabungan untuk campuran aspal, ditunjukkan dalam persen

terhadap berat agregat dan bahan pengisiharus memenuhi batas-batas yang

(18)

Tabel 6. Gradasi Agregat Gabungan Untuk Campuran Aspal

Ukuran Ayakan (mm)

% Berat yang Lolos Terhadap Total Agregat dalam Campuran Lapis Aspal Beton (AC)

Gradasi Halus Gradasi Kasar

WC BC Base WC BC Base 37,5 - - 100 - - 100 25 - 100 90 – 100 - 100 90 – 100 19 100 90 – 100 73 – 90 100 90 – 100 73 – 90 12,5 90 – 100 74 – 90 61 – 79 90 – 100 71 – 90 55 – 76 9,5 72 – 90 64 – 82 47 – 67 72 – 90 58 – 80 45 – 66 4,75 54 – 69 47 – 64 39,5 – 50 43 – 63 37 – 56 28 – 39,5 2,36 39,1 – 53 34,6 – 49 30,8 – 37 28 – 39,1 23 – 34,6 19 – 26,8 1,18 31,6 – 40 28,3 – 38 24,1 – 28 19 – 25,6 15 – 22,3 12 – 18,1 0,600 23,1 – 30 20,7 – 28 17,6 – 22 13 – 19,1 10 – 16,7 7 – 13,6 0,300 15,5 – 22 13,7 – 20 11,4 – 16 9 – 15,5 7 – 13,7 5 – 11,4 0,150 9 – 15 4 – 13 4 – 10 6 – 13 5 – 11 4,5 – 9 0,075 4 – 10 4 – 8 3 – 6 4 - 10 4 – 8 3 – 7

Sumber : Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi BAB VII Spesifikasi Umum 2010 Devisi 6 Tabel 6.3.2.3.

G. Karakteristik Campuran Beraspal

Tujuan karakteristik campuran yang harus dimiliki oleh beton aspal adalah

stabilitas, keawetan atau durabilitas, kelenturan atau fleksibilitas, ketahanan

terhadap kelelahan (fatique risistance), kekesatan permukaan atau ketahanan geser, kedap air, dan kemudahan pelaksanaan (workability) Silvia Sukirman (2003). Karakteristik campuran yang harus dimiliki oleh campuran aspal beton

campuran panas adalah:

(19)

1. Stabilitas

Stabilitas lapisan perkerasan jalan adalah kemampuan lapisan perkerasan

menerima beban lalu lintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti

gelombang, alur ataupun bleeding. Kebutuhan akan stabilitas setingkat dengan jumlah lalu lintas dan beban kendaraan yang akan memakai jalan

tersebut.

Kestabilan yang terlalu tinggi menyebabkan lapisan itu menjadi kaku dan

cepat mengalami retak, disamping itu karena volume antar agregat kurang

maka kadar aspal yang dibutuhkan pun rendah. Hal ini menghasilkan ikatan

aspal mudah lepas sehingga durabilitas menjadi rendah. Stabilitas terjadi

dari hasil geseran antar butir, penguncian antar partikel, dan daya ikat yang

baik dari lapisan aspal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai stabilitas beton aspal adalah :

a. Gesekan internal yang dapat berasal dari kekasaran permukaan butir-butir

agregat, luas bidang kontak antar butir atau bentuk butir, gradasi agregat,

kepadatan campuran.

b. Kohesi yang merupakan gaya ikat aspal yang berasal dari daya lekatnya,

sehingga mampu memelihara tekanan kontak antar butir agregat.

2. Durabilitas (Keawetan/Daya Tahan)

Durabilitas diperlukan pada lapisan permukaan sehingga lapisan dapat

(20)

ataupun keausan akibat gesekan roda kendaraan. Faktor yang

mempengaruhi durabilitas lapis aspal beton adalah:

a. VIM kecil sehingga lapis kedap air dan udara tidak masuk ke dalam

campuran yang menyebabkan terjadinya oksidasi dan aspal menjadi

rapuh (getas).

b. VMA besar sehingga film aspal dapat dibuat tebal. Jika VMA dan VIM

kecil serta kadar aspal tinggi maka kemungkinan terjadinya bleeding cukup besar, untuk mencapai VMA yang besar ini digunakan agregat

bergradasi senjang.

c. Film (selimut) aspal, film aspal yang tebal dapat menghasilkan lapis

aspal beton yang durabilitas tinggi, tetapi kemungkinan terjadinya

bleeding menjadi besar. 3. Fleksibilitas (Kelenturan)

Fleksibilitas pada lapisan perkerasan adalah kemampuan lapisan perkerasan

untuk dapat mengikuti deformasi yang terjadi akibat beban lalu lintas

berulang tanpa timbulnya retak dan perubahan volume. Untuk mendapatkan

fleksibilitas yang tinggi dapat diperoleh dengan:

a. Penggunaan agregat bergradasi senjang sehingga diperoleh VMA yang

besar.

b. Penggunaan aspal lunak (aspal dengan penetrasi yang tinggi).

c. Penggunaan aspal yang cukup banyak sehingga diperoleh VIM yang

(21)

4. Kekesatan (Skid Resistance)

Tahanan geser adalah kekesatan yang diberikan oleh perkerasan sehingga

kendaraan tidak mengalami slip baik di waktu hujan (basah) maupun di

waktu kering. Kekesatan dinyatakan dengan koefisien gesek antara

permukaan jalan dengan roda kendaraan. Tingginya nilai tahanan geser ini

dipengaruhi oleh:

a. Penggunaan agregat dengan permukaan kasar.

b. Penggunaan kadar aspal yang tepat sehingga tidak terjadi bleeding. c. Penggunaan agregat kasar yang cukup.

5. Fatique Resistance (Ketahanan Kelelahan)

Ketahanan kelelahan adalah ketahanan dari lapis aspal beton dalam

menerima beban berulang tanpa terjadinya kelelahan yang berupa alur

(rutting) dan retak. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan terhadap kelelahan adalah:

a. VIM yang tinggi dan kadar aspal yang rendah akan mengakibatkan

kelelahan yang lebih cepat.

b. VMA dan kadar aspal yang tinggi dapat mengakibatkan lapis perkerasan

(22)

6. Kedap Air

Kemampuan beton aspal untuk tidak dapat dimasuki air ataupun udara

lapisan beton aspal. Air dan udara dapat mengakibatkan percepatan proses

penuaan aspal dan pengelupasan selimut aspal dari permukaan agregat.

7. Workability (Kemudahan Pelaksanaan)

Kemudahan pelaksanaan adalah mudahnya suatu campuran untuk dihampar

dan dipadatkan sehingga diperoleh hasil yang memenuhi kepadatan yang

diharapkan. Workability ini dipengaruhi oleh gradasi agregat. Agregat bergradasi baik lebih mudah dilaksanakan dari pada agregat bergradasi lain.

H. Volumetrik Campuran Aspal Beton

Beton aspal dibentuk dari agregat, aspal dan atau tanpa bahan tambahan yang

dicampur secara merata. Campuran kemudian dihampar dan dipadatkan. Aspal

beton sangat ditentukan oleh volumetrik, campuran aspal beton padat yang

terdiri dari:

1. Berat Jenis

a. Berat jenis bulkagregat

Berat jenis bulk adalah perbandingan antara berat bahan di udara (termasuk rongga yang cukup kedap dan yang menyerap air) pada satuan

volume dan suhu tertentu dengan berat air suling serta volume yang sama

(23)

Karena agregat total terdiri dari atas fraksi-fraksi agregat kasar, agregat

halus dan bahan pengisi yang masing-masing mempunyai berat jenis

yang berbeda maka berat jenis bulk (Gsb) agregat total dapat dirumuskan sebagai berikut. s 1 2 n 1 2 2 2 n n (1 Keterangan:

Gsb = Berat jenis bulk total agregat

P1, P2 n = Persentase masing-masing fraksi agregat

G1, G2 n = Berat jenis bulk masing-masing fraksi agregat

b. Berat jenis efektif agregat

Berat jenis efektif adalah perbandingan antara berat bahan di udara

(tidak termasuk rongga yang menyerap aspal) pada satuan volume dan

suhu tertentu dengan berat air destilasi dengan volume yang sama dan

suhu.

tertentu pula, yang dirumuskan :

se mm

mm mm

(24)

Keterangan:

Gse = Berat jenis efektif agregat

Pmm = Persentase berat total campuran (=100)

Gmm = Berat jenis maksimum campuran, rongga udara 0 (Nol)

Pb = Kadar aspal berdasarkan berat jenis maksimum

Gb = Berat jenis aspal

c. Berat jenis maksimum campuran

Berat jenis maksimum campuran untuk masing-masing kadar aspal

dapat dihitung dengan menggunakan berat jenis efektif (Gse) rata-rata

sebagai berikut:

mm mm

se

(3

Keterangan:

Gmm = Berat jenis maksimum campuran, rongga udara 0 (Nol).

Pmm = Persentase berat total campuran (=100) Pb = Kadar aspal

berdasarkan berat jenis maksimum.

Ps = Kadar agregat persen terhadap berat total campuran.

Gse = Berat jenis efektif agregat.

(25)

2. Penyerapan Aspal

Penyerapan aspal dinyatakan dalam persen terhadap berat agregat total tidak

terhadap campuran yang dirumuskan sebagai berikut:

a 100 se s

s se (4

Keterangan:

Pba = Penyerapan aspal, persen total agregat Gsb = Berat jenis bulk agregat

Gse = Berat jenis efektif agregat Gb = Berat jenis aspal

3. Kadar Aspal Efektif

Kadar efektif campuran beraspal adalah kadar aspal total dikurangi jumlah

aspal yang terserap oleh partikel agregat. Kadar aspal efektif ini akan

menyelimuti permukaan agregat bagian luar yang pada akhirnya menentukan

kinerja perkerasan aspal. Kadar aspal efektif ini dirumuskan sebagai berikut :

e a

100 s (5

Keterangan:

Pbe = Kadar aspal efektif, persen total agregat.

Pb = Kadar aspal persen terhadap berat total campuran.

Pba = Penyerapan aspal,persen total agregat.

(26)

4. Rongga di antara Mineral Agregat (VMA)

Rongga di antara mineral agregat (VMA) adalah ruang diantara partikel

agregat pada suatu perkerasan beraspal, termasuk rongga udara dan volume

aspal efektif (tidak termasuk volume aspal yang diserap agregat). VMA

dihitung berdasarkan Berat Jenis Bulk Agregat dan dinyatakan sebagai persen volume bulk campuran yang dipadatkan. VMA dapat dihitung pula terhadap berat campuran total atau terhadap berat agregat total. Perhitungan VMA

terhadap campuran total dengan persamaan:

a. Terhadap berat campuran total

V A 100 m s s

(6

Keterangan:

VMA = Rongga diantara mineral agregat, persen volume bulk. Gsb = Berat jenis bulk agregat.

Gmb = Berat jenis bulk campuran padat.

Ps = Kadar agregat, persen terhadap berat total campuran

b. Terhadap berat agregat total

V A 100 m s

100

(100 100 (7 Keterangan:

VMA = Rongga diantara mineral agregat, persen volume bulk Gsb = Berat jenis bulk agregat

(27)

Gmb = Berat jenis bulk campuran padat

Pb = Kadar aspal persen terhadap berat total campuran

5. Rongga Di Dalam Campuran (VIM)

Rongga di dalam campuran atau VIM dalam campuran perkerasan beraspal

terdiri atas ruang udara di antara pertikel agregat yang terselimuti aspal.

Volume rongga udara dalam persen dapat ditentukan dengan rumus:

V 100 mm m mm

(8

Keterangan :

VIM = Rongga udara campuran, persen total campuran.

Gmm = Berat jenis maksimum campuran agregat rongga udara 0 (Nol).

Gmb = Berat jenis bulk campuran padat.

6. Rongga Terisi Aspal (VFA)

Rongga terisi aspal adalah persen rongga yang terdapat di antara partikel

agregat yang terisi oleh aspal, tidak termasuk aspal yang diserap oleh agregat.

Untuk mendapatkan rongga terisi aspal (VFA) dapat ditentukan dengan

persamaan:

V A 100 (V A V mm

(9

Keterangan:

VFA = Rongga terisi aspal.

(28)

VIM = Rongga udara campuran, persen total campuran.

Secara skematis campuran aspal beton yang telah dipadatkan dapat digambarkan

sebagai Gambar 1 dibawah ini

Gambar 1. Skematis campuran aspal beton

Keterangan:

Vmb = Volume bulk dari campuran beton aspal padat.

Vsb = Volume agregat, adalah volume bulk dari agregat (volume bagian masif + pori yang ada di dalam masing-masing butir

agregat).

Vse = Volume agregat, adalah volume aktif dari agregat (volume

bagian masif + pori yang tidak terisi aspal di dalam masing-

masing butir agregat).

VMA = Volume pori diantara butir agregat di dalam beton aspal padat. Udara Aspal Agregat VIM Vmb Vmm VMA VFA Vab Vse Vsb

(29)

Vmm = Volume tanpa pori dari beton aspal padat.

Va = Volume aspal dalam beton aspal padat.

VIM = Volume pori dalam beton aspal padat.

VFA = Volume pori beton aspal yang terisi oleh aspal.

Vab = Volume aspal yang terabsorbsi kedalam agregat dari beton aspal

Padat.

I. Kadar Aspal Rencana

Kadar aspal rencana merupakan perkiraan awal kadar aspal optimum dapat

direncanakan setelah dilakukan pemilihan dan pengabungan pada tiga fraksi

agregat. Sedangkan perhitungannya adalah sebagai berikut:

Pb = 0,035(%CA) + 0,045(%FA) + 0,18(%FF) + K ...(10)

Keterangan:

Pb = Perkiraan kadar aspal optimum.

CA = Nilai presentase agregat kasar.

FA = Nilai presentase agregat halus.

FF = Nilai presentase Filler.

K = konstanta (kira-kira 0,5 - 1,0).

(30)

J. Metode Marshall

Metode marshall ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari suatu perkersan lentur. Metode marshall ini terdiri dari uji marshalldan parameter marshall yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Uji Marshall

Rancangan campuran berdasarkan metode Marshall ditemukan oleh Bruce Marshall. Pengujian Marshall bertujuan untuk mengukur daya tahan

(stabilitas) campuran agregat dan aspal terhadap kelelehan plastis (flow). Flow didefinisikan sebagai perubahan deformasi atau regangan suatu campuran mulai dari tanpa beban, sampai beban maksimum.

Alat marshall merupakan alat tekan yang dilengkapi dengan Proving ring (cincin penguji) berkapasitas 22,2 KN (5000 lbs) dan flowmeter. Proving ring digunakan untuk mengukur nilai stabilitas, dan flowmeter untuk mengukur kelelehan plastis atau flow. Benda uji marshall standart berbentuk silinder berdiamater 4 inchi (10,16 cm) dan tinggi 2,5 inchi (6,35 cm).

2. Parameter Pengujian Marshall

3. Sifat-sifat campuran beraspal dapat dilihat dari parameter-parameter

(31)

a. Stabilitas marshall

Menurut The Asphalt Institute, Mudianto (2004), Stabilitas adalah kemampuan campuran aspal untuk menahan deformasi akibat beban yang

bekerja tanpa mengalami deformasi permanen seperti gelombang, alur

ataupun bleeding yang dinyatakan dalam satuan kg atau lb. Nilai stabilitas diperoleh dari hasil pembacaan langsung pada alat Marshall Test sewaktu melakukan pengujian Marshall. Nilai stabilitas yang terlalu tinggi akan menghasilkan perkerasan yang terlalu kaku sehingga tingkat keawetannya

berkurang.

b. Kelelehan (Flow)

Seperti halnya cara memperoleh nilai stabilitas, nilai flow merupakan nilai dari masing-masing yang ditunjukkan oleh jarum dial (dalam satuan mm) pada saat melakukan pengujian Marshall. Suatu campuran yang memiliki kelelehan yang rendah akan lebih kaku dan cenderung untuk mengalami

retak dini pada usia pelayanannya, sedangkan nilai kelelehan yang tinggi

mengindikasikan campuran bersifat plastis.

c. Marshall quotient

Marshall Quotient merupakan hasil perbandingan antara stabilitas dengan kelelehan (flow). Semakin tinggi MQ, maka akan semakin tinggi kekakuan suatu campuran dan semakin rentan campuran tersebut terhadap keretakan.

(32)

(

Keterangan:

MQ = Marshall Quotient (kg/mm). S = Nilai stabilitas terkoreksi (kg).

F = Nilai flow (mm).

d. Rongga terisi aspal / Void Filled with Asphalt (VFA)

Rongga terisi aspal/ Void Filled with Asphalt (VFA) adalah persen rongga yang terdapat diantara partikel agregat (VMA) yang terisi oleh aspal, tidak

termasuk aspal yang diserap oleh agregat.

e. Rongga antar agregat / Void in Mineral Aggregate (VMA)

Rongga antar agregat (VMA) adalah ruang rongga diantara partikel agregat

pada suatu perkerasan, termasuk rongga udara dan volume aspal efektif

(tidak termasuk volume aspal yang diserap agregat).

f. Rongga udara didalam campuran / Voids In Mix (VIM)

Rongga udara dalam campuran (Va) atau VIM dalam campuran perkerasan

beraspal terdiri dari atas ruang udara diantara partikel agregat yang

(33)

K. Penelitian Terkait

Penelitian tentang pengaruh variasi temperatur pada proses pencampuran

terhadap campuran aspal panas (asphalt hotmix) yang pernah dilakukan oleh beberapa peneliti dan dapat dijadikan acuan atau literatur untuk penyusunan

skripsi yaitu M. Zainul Arifin, dkk. 2012 Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya alang dengan judul “ Pengaruh Penurunan Suhu (Dengan dan Tanpa Pemanasan) terhadap Parameter Marshall Campuran Aspal Beton “.

Penelitian ini mengambil variasi suhu awal dari 50°C sampai 100°C dengan

interval 10°C. Dalam rentang suhu tersebut akan diperoleh suhu optimum.

Variasi penurunan suhu yang dilakukan adalah 50C, 60C, 70C, 80C, 90C, 100C, dan 110C. Penentuan variasi penurunan suhu yang paling rendah adalah 50C. Sedangkan variasi suhu tertinggi diambil 110C, hal ini berdasarkan dari SKBI – 2.4.26.1987 bahwa pemadatan dilakukan pada saat suhu

campuran minimum 110C. Penurunan suhu tanpa pemanasan ulang, masing – masing campuran didiamkan sampai suhu 50C, 60C, 70C, 80C, 90C, 100C dan 110C lalu masing-masing campuran tersebut dipadatkan.

Untuk campuran beraspal yang mengalami penurunan suhu dengan pemanasan

ulang, masing-masing campuran didiamkan sampai suhu 50C, 60C, 70C, 80C, 90C, 100C lalu masing–masing campuran tersebut dipanaskan lagi

(34)

sampai suhu pemadatan minimum yaitu 110C. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

a. Campuran LASTON dengan kadar aspal 6% yang mengalami penurunan

suhu lalu dipanaskan ulang akan menghasilkan suhu optimum yang

berbeda bila dibandingkan dengan campuran yang tidak dipanaskan

ulang. Suhu optimum untuk campuran yang tidak dipanaskan ulang

adalah 104,81°C sedangkan untuk campuran yang dipanaskan ulang

sampai suhu 110°C adalah 75ºC. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan

pemanasan ulang sangat berpengaruh karena campuran beraspal yang

telah mencapai suhu rendah membutuhkan banyak aspal untuk mencapai

ikatan agregat yang optimal.

b. Campuran yang tidak dipanaskan ulang nilai VIM nya tidak ada yang

memenuhi spesifikasi SNI, sedangkan nilai stabilitas yang memenuhi

spesifikasi adalah yang berada di atas suhu 99,515°C dan untuk nilai MQ

yang memenuhi adalah yang diatas 99,62ºC. Untuk nilai VMA, dan

kelelehan (flow) semuanya memenuhi spesifikasi. Sedangkan untuk campuran dengan pemanasan ulang, nilai stabilitas, VMA, dan kelelehan

(flow) semuanya memenuhi spesifikasi. Sedangkan untuk Nilai VIM dan MQ tidak ada yang masuk dalam spesifikasi.

RE. Sugiarto, dengan judul penelitian “Pengaruh Variasi Tingkat

Kepadatan terhadap Sifat Marshall Dan Indek Kekuatan Sisa Berdasarkan Spesifikasi Baru Beton Aspal Pada Laston(AC-WC)

(35)

Menggunakan Jenis Aspal Pertamina Dan Aspal Esso Penetrasi 60/70”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi tingkat

kepadatan terhadap sifat Marshall berdasarkan spesifikasi pada AC-WC dengan menggunakan aspal Pertamina dan aspal Esso memenuhi

persyaratan untuk konstruksi lapisan lentur dengan lalu lintas berat,

dimana untuk menghasilkan kinerja konstruksi jalan yang baik untuk

volume lalu-lintas tinggi harus dipilih gradasi agregat gabungan yang

lewat didaerah penolakan.

Sutaryo, dengan judul penelitian “Pengaruh Variasi Temperatur

Pemadatan Terhadap Sifat Marshall Dan Indek Stabilitas Sisa Berdasarkan Spesifikasi Baru Beton Aspal Pada Laston (AC-BC)

Menggunakan jenis aspal pertamina dan aspal Esso penetrasi 60/70”

Penelitian ini menggunakan jenis aspal pertamina dan aspal Esso penetrasi 60/70 ditunjukkan bahwa nilai stabilitas aspal jenis Esso sampai akhir pelayanan lebih besar, nilai flow lebih kecil, nilai MQ lebih besar

dan nilai indek stabilitas sisa pada masa pelayanan yang lebih besar dari

jenis pertamina, menjadikan nilai aspal jenis Esso kinerjanya lebih baik dibandingkan dengan menggunakan aspal jenis pertamina. Hasil analisis

rongga dan pengujian Marshall, direkomendasikan temperatur pemadatan antara 1100C - 1600C untuk hal tersebut, temperatur pencampuran AMP

(36)

Tandem Roller dilaksanakan 2 lintasan, temperatur lapangan 1200C

sampai 1500C untuk menghindari nilai stabilitas yang terlalu tinggi dan

nilai flow.

Akem, dengan judul penelitian “Pengaruh suhu pemadatan pada lapis

perkerasan lataston (HRS –WC) yang menggunakan bahan pengikat 55”

Hasil pemeriksaan awal nilai Pb yang diperoleh ialah 6,5% maka didapat variasi kadar aspal yaitu 5,5%–6,0%–6,5%–7,0%–7,5%. Hasil pengujian

di laboratorium dengan parameter Marshall diketahui pengaruh suhu pemadatan pada suhu 135°C, 140°C, 145°C memenuhi syarat, sedangkan

Gambar

Tabel 1.  Spesifikasi Aspal Keras Pen 60/70
Tabel  2.  Ketentuan  Viskositas,  Temperatur  Aspal  Untuk  Pencampran  dan
Tabel 3.  Ketentuan Agregat Kasar
Tabel 4.  Ketentuan Agregat Halus
+4

Referensi

Dokumen terkait

Semen yang biasa digunakan pada campuran beton atau disebut juga semen portland adalah bahan pengikat hidrolis berupa bubuk halus yang dihasilkan dengan cara menghaluskan

Material penyusun pada beton dengan campuran bottom ash ini tidak berbeda dengan material penyusun beton pada umumnya, yaitu terdiri dari semen, agregat kasar, agregat halus,

Beton merupakan material yang dibentuk dari campuran semen, agregat halus, agregat kasar, dan air. Material ini telah digunakan sebagai bahan konstruksi sejak lama

Campuran aspal panas adalah campuran perkerasan lentur yang terdiri dari agregat kasar, agregat halus, filler dan bahan pengikat aspal yang dibuat dengan perbandingan

Berdasarkan SNI 03-0691-1996 paving block adalah suatu komposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air dan

Lapisan permukaan terdiri dari campuran agregat kasar, agregat halus dan pengisi (filler) yang diseliputi aspal dengan perbandingan yang diatur sangat teliti, bila campuran

• Paving block, yaitu didefinisikan sebagai suatu komposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air, dan agregat

5 2.1 Paving-Block Paving block adalah suatu komposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidraulis lainnya, air dan agregat dengan atau