Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

19 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

PUTUSAN

Nomor 217/B/PK/Pjk/2012

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, beralamat di Jalan Jenderal Gatot Subroto No.40-42, Jakarta 12190, dalam hal ini memberikan kuasa kepada :

1. Catur Rini Widosari, Pj. Direktur Keberatan dan Banding,

2. M. Ismiransyah M. Zain, Kepala Sub Direktorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding,

3. Yurnalis Ry, Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Direktorat Keberatan dan Banding,

4. Adhi Catur Nurhidayat, Penelaah Keberatan, Direktorat Keberatan dan Banding, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-401/ PJ/2010, tanggal 14 Mei 2010,

Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding ;

melawan:

PT. PRUDENTIAL LIFE ASSURANCE, beralamat di Prudential Tower, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 79, Setiabudi, Jakarta 12910, Termohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding ;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Banding, telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Nomor 22004/PP/M.V/16/2010, tanggal 8 Februari 2010 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Terbanding, dengan posita perkara sebagai berikut:

LATAR BELAKANG :

Bahwa berdasarkan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak Nomor: PRIN-060/PL/ WPJ.06/KP.1205/2006 tanggal 9 Juni 2006, Terbanding melakukan pemeriksaan pajak Pemohon Banding untuk Tahun Pajak 2005;

Bahwa SKPKB PPN Nomor 00014/207/05/07 diterbitkan sebagai hasil dari pemeriksaan pajak tersebut, dengan jumlah pajak yang yang masih harus dibayar sebesar Rp 2.939.417.126,00;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa jumlah pajak yang masih harus dibayar sesuai dengan SKPKB PPN sebesar Rp. 2.939.417.126,00 telah Pemohon Banding setor ke Kas Negara pada tanggal 24 April 2007 dan telah Pemohon Banding laporkan ke Terbanding pada tanggal 25 April 2007;

Bahwa berdasarkan Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Pemohon Banding mengajukan keberatan terhadap SKPKB PPN dimaksud;

Bahwa terhadap Keberatan yang Pemohon Banding ajukan, Terbanding telah memberikan keputusan dengan menerbitkan Keputusan Keberatan Nomor: KEP-915/ WPJ.06/BD.06/2008 tanggal 17 Juni 2008, yang menyatakan menolak permohonan keberatan Pemohon Banding;

Bahwa terhadap Keputusan Keberatan Nomor KEP-915/WPJ.06/BD.06/ 2008 tanggal 17 Juni 2008 Pemohon Banding mengajukan banding;

PANDANGAN PEMERIKSA PAJAK :

Bahwa berdasarkan Berita Acara Hasil Pemeriksaan Pemohon Banding mengetahui bahwa Terbanding melakukan koreksi dengan menetapkan adanya objek PPN berupa biaya investasi yang dibebankan kepada nasabah, dan koreksi dilakukan dengan alasan:

Bahwa Jasa Asuransi yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah Premi Asuransi, sedangkan Biaya Investasi yang dibebankan kepada nasabah adalah Jasa Kena Pajak;

Bahwa biaya investasi dibebankan kepada Nasabah dengan cara mengurangi Unit Link yang dimiliki oleh Nasabah dan bukan dimiliki oleh Perusahaan Asuransi, karena yang menginvestasikan dananya adalah pemegang polis;

ALASAN BANDING : Latar Belakang :

Bahwa Pemeriksa Pajak telah menetapkan bahwa biaya investasi yang dibebankan kepada pemegang polis sebagai bagian dari pembayaran premi asuransi yang berhubungan dengan produk asuransi yang dinamakan Produk Unit Link, merupakan objek PPN. Penjelasan lebih detail mengenai produk Unit Link sebagai produk asuransi terdapat dalam surat yang Pemohon Banding lampirkan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) Nomor: S-5355/ BL/2008 tanggal 12 Agustus 2008;

Bahwa karena jasa asuransi tidak dikenakan PPN, yang menjadi pertimbangan utama dari sengketa ini adalah porsi biaya investasi dalam premi asuransi produk Unit Link tersebut di atas merupakan penghasilan jasa asuransi dan oleh karena itu bukan subjek dari PPN;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan penetapan Terbanding dengan alasan-alasan sebagai berikut:

a Jasa Dibidang asuransi tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) :

Bahwa berdasarkan Pasal 4A Ayat (3) huruf d Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur bahwa jasa di bidang asuransi tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. Hal ini juga diatur lebih lanjut dalam Pasal 8 huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000 tanggal 22 Desember 2000;

Bahwa tidak ada definisi lebih lanjut dalam penjelasan Undang-Undang ataupun Peraturan Pemerintah mengenai jenis penghasilan yang termasuk dalam jasa asuransi;

Bahwa tidak ada juga peraturan perundang-undangan yang menyatakan jasa asuransi yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah premi asuransi, dan tidak ada penjelasan mengenai biaya investasi yang dibebankan kepada nasabah merupakan Jasa Kena Pajak;

Bahwa oleh karena itu definisi dari Jasa Asuransi seharusnya mencakup semua jasa yang umum diberikan oleh perusahaan asuransi;

Bahwa perusahaan asuransi berkewajiban untuk mengelola dana yang diperolehnya untuk dapat memenuhi klaim asuransi yang mungkin akan timbul, sehingga investasi termasuk dalam usaha pokok perusahaan asuransi;

Bahwa oleh karena itu, semua jasa yang disediakan oleh perusahaan asuransi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha asuransi, seharusnya dikecualikan dari pengenaan PPN;

b Unit Link adalah nama jenis produk asuransi jiwa. Dokumen yang dimiliki oleh nasabah adalah perjanjian polis asuransi dengan Prudential, bukan Unit Link.

Unit Link adalah Produk Jasa Asuransi Jiwa :

Bahwa adapun yang dimiliki oleh nasabah adalah perjanjian polis asuransi, bukan produk investasi;

Bahwa polis asuransi yang dimiliki oleh nasabah tersebut bukanlah surat berharga yang dapat diperjualbelikan layaknya suatu produk investasi;

Bahwa sesuai dengan Keputusan Dirjen Lembaga Keuangan Nomor: KEP-2475/ LK/2004 tanggal 14 Juni 2004, produk unit link sebagai salah satu produk asuransi jiwa tertuang secara jelas dalam peraturan yang berlaku untuk industri asuransi, dimana salah satu keharusan yang wajib ada dalam produk unit link adalah mengandung

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

pertanggungan risiko kematian alami yang jelas-jelas merupakan karakteristik dari suatu produk asuransi jiwa tradisional;

Bahwa penjelasan yang lebih dalam mengenai produk unit link ini dapat dilihat dalam surat yang Pemohon Banding lampirkan dari Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) Nomor: S-5355/BL/2008 tanggal 12 Agustus 2008 mengenai Penegasan Stuktur Premi dan Biaya Pengelolaan lnvestasi Terhadap Dana Unit Link Pemohon Banding. Surat ini adalah jawaban dari penegasan yang Pemohon Banding mintakan ke BAPEPAM-LK sebagai Regulator untuk industri asuransi. Surat ini menyatakan dengan jelas bahwa Produk Unit Link adalah Produk Asuransi, dan bukan Produk Investasi;

Bahwa dari surat ini jelas bahwa jasa yang berhubungan dengan produk Unit Link adalah Jasa Asuransi yang seharusnya dikecualikan dari pengenaan PPN;

Penyajian struktur produk :

Bahwa adapun yang membedakan produk asuransi tradisional dan unit link adalah bahwa pada produk Unit Link, rincian pembebanan biaya investasi dan biaya-biaya lain yang dibebankan kepada nasabah wajib dimuat dalam polis asuransi dan laporan perkembangan dana produk Unit Link tersebut. Untuk produk asuransi tradisional, biaya-biaya yang bebankan oleh Pemohon Banding tidak wajib untuk dirinci secara terpisah melainkan disatukan dalam pembayaran premi. Pada dasarnya perbedaannya hanya terletak pada kewajiban untuk memperinci biaya-biaya yang dibebankan;

Bahwa dalam proses perancangan suatu produk, baik asuransi jiwa tradisional maupun asuransi jiwa unit link, asumsi tingkat hasil investasi adalah sama antara produk tradisional dan unit link;

Bahwa Tingkat Hasil Investasi (Investment Return Rate) inilah yang akan dipergunakan oleh perusahaan untuk menutup kemungkinan kerugian yang terjadi sebagai akibat fluktuasi biaya aktual klaim yang terjadi jauh lebih besar dari klaim yang diperkirakan (expected claim);

Bahwa seperti dijelaskan di atas biaya-biaya yang dikenakan di produk asuransi jiwa traditional tidak dinyatakan secara transparan sedangkan produk asuransi jiwa unit link disajikan secara transparan sesuai dengan peraturan yang telah diatur oleh BAPEPAM-LK tentang produk unit link. Hal ini juga merupakan praktek bisnis yang seharusnya diterapkan demi kepentingan nasabah (best practices);

Bahwa berdasarkan penjelasan di atas, cukup jelas bahwa Unit Link adalah produk asuransi yang mempunyai perbedaan kewajiban penyajian (disclosure) saja. Oleh karena itu semua penghasilan yang dihasilkan dari produk Unit Link adalah penghasilan jasa asuransi yang seharusnya dikecualikan dari pengenaan PPN.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

c Portofolio investasi yang berasal dari premi produk unit link adalah milik

Prudential. Prudential tidak melakukan pengelolaan dana atas portfolio investasi diluar yang tercatat dalam neraca perusahaan :

Bahwa dalam produk Unit Link, dana yang dibayarkan oleh nasabah kepada Pemohon Banding dicatat sebagai pendapatan premi perusahaan dan pembayaran yang dilakukan kepada nasabahpun dicatat sebagai biaya klaim;

Bahwa dana yang dikelola dilaporkan baik secara hukum maupun akuntansi sebagai milik Pemohon Banding;

Bahwa portofolio investasi yang dikelola dari dana tersebut dimiliki atas nama Pemohon Banding;

Bahwa dengan demikian, pencatatan aktiva portofolio investasi dari dana tersebut pun dilakukan dalam pembukuan Pemohon Banding;

Bahwa Pemohon Banding juga melakukan pencatatan atas keuntungan maupun kerugian investasi yang dihasilkan dari dana yang dikelola tersebut;

Bahwa oleh karena itu pernyataan pemeriksa pajak bahwa dana yang dikelola tersebut dimiliki oleh nasabah dan bukan dimiliki oleh Pemohon Banding adalah tidak benar;

d Adapun yang melakukan investasi adalah Pemohon Banding, bukan nasabah ;

Bahwa sesuai penjelasan di atas, dana yang berasal dari premi produk asuransi unit link bersamaan juga dengan premi produk asuransi tradisional akan ditempatkan ke dalam suatu portfolio investasi;

Bahwa keputusan atas strategi penempatan investasi tersebut dilakukan oleh Pemohon Banding, begitu pula dengan aktifitas penempatan investasi itu sendiri;

Bahwa penempatan dana yang berasal dari premi asuransi ke dalam portfolio investasi dimaksudkan agar perusahaan asuransi mendapatkan kecukupan hasil investasi untuk membayar semua kewajiban kepada tertanggung/pemegang polis baik hutang nilai tunai maupun manfaat asuransi sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam perjanjian polis asuransi;

e Perbandingan kegiatan pengelolaan dana yang dilakukan perusahaan asuransi dengan lembaga keuangan lainnya sehubungan dengan perlakuan perpajakannya :

Bahwa Pemohon Banding ingin menegaskan kegiatan pengelolaan dana merupakan kegiatan utama dari lembaga-lembaga keuangan seperti perusahaan asuransi ataupun bank;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa kedua lembaga keuangan mendapatkan uang dari nasabah dan mengelola dana tersebut. Di bank dana-dana tersebut dikelola oleh bank untuk menghasilkan hasil investasi untuk nasabah. Pada dasarnya hal ini sama seperti produk asuransi;

Bahwa sama seperti penghasilan dari jasa perbankan, penghasilan dari jasa asuransi juga tidak dikenakan PPN. Menurut pandangan Pemohon Banding pengecualian dari pengenaan PPN ini secara umum berlaku terhadap jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama lembaga-lembaga keuangan tersebut. Dalam industri asuransi di dalamnya termasuk kegiatan pengelolaan dana premi;

Bahwa dalam hubungan dengan jasa perbankan dan kegiatan asuransi seharusnya Terbanding meneliti dahulu kegiatan dari lembaga-lembaga keuangan tersebut dan tidak memecah-mecah komponennya sebagai Jasa Kena Pajak;

Bahwa dalam hal penghasilan pengelolaan dana premi melalui produk unit link, penghasilan tersebut terkait dengan kegiatan utama industri asuransi yang tidak dikenakan PPN;

KETETAPAN PAJAK YANG SEHARUSNYA :

Bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, PPN yang terhutang menurut Pemohon Banding adalah NIHIL, dan dengan mempertimbangkan peraturan-peraturan dan alasan-alasan tersebut di atas, Pemohon Banding mohon agar SKPKB PPN tersebut di atas dapat dibatalkan ;

Bahwa oleh karena itu, Pemohon Banding mohon agar Pengadilan Pajak dapat mengabulkan banding Pemohon Banding. Jika ada data atau keterangan tambahan yang diperlukan dengan senang hati Pemohon Banding akan memberikannya. Untuk dapat memberikan penjelasan dan data/dokumen yang diperlukan, Pemohon Banding mohon untuk dapat diundang dalam Persidangan Pengadilan Pajak.

Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/PP/ M.V/16/2010, tanggal 8 Februari 2010 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:

Mengabulkan seluruhnya banding Pemohon Banding terhadap keputusan Terbanding Nomor KEP-915/WPJ.06/BD.06/2008 tanggal 17 Juni 2008 mengenai Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Pertambahan Nilai Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2005 Nomor: 00014/207/05/073/07 tanggal 26 Maret 2007, atas nama: PT. Prudential Life Asurance, NPWP: 01.343.965.8-073.000, Alamat lama: Menara Thamrin – Prudential Centre, Jl. MH Thamrin Kav. 3, Jakarta 10250, alamat baru: Prudential Tower, Jl. Jenderal Sudirman, Kav. 79, Setiabudi, Jakarta 12910, sehingga jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang masih harus dibayar menjadi sebagai berikut : Dasar Pengenaan Pajak

- Ekspor Rp. 0,00 - Penyerahan yang PPNnya tidak dipungut Rp. 0,00

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

- Penyerahan yang PPNnya harus dipungut Rp. 0,00 - Dikurangi : retur penjualan Rp. 0,00 - Jumlah Rp. 0,00 Pajak Keluaran Rp 0,00 Dikurangi : PPN atas retur penjualan Rp 0,00

Pajak Keluaran yg dipungut sendiri Rp. 0,00

Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan (Rp. 0,00) PPN yang lebih/kurang dibayar Rp. 0,00

Kelebihan pajak yang sudah dikompensasikan

ke Masa Pajak berikutnya Rp. 0,00 PPN yang kurang dibayar Rp. 0,00 Sanksi administrasi Rp. 0,00 Jumlah yang masih harus dibayar Rp. 0,00

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/PP/M.V/ 16/2010, tanggal 8 Februari 2010, diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali pada tanggal 05 Maret 2010, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Peninjauan Kembali dengan perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-401/PJ/2010 tanggal 14 Mei 2010, diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak pada tanggal 03 Juni 2010, sebagaimana ternyata dalam Akta Permohonan Peninjauan Kembali Nomor PKA-452/SP.51/AB/VI/2011, dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 03 Juni 2010 ;

Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 14 Juni 2010, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan Jawaban yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 13 Juli 2010 ;

Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasanya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima;

ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan Peninjauan Kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

A Surat Kuasa untuk mewakili Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon

Banding) selama di persidangan tidak menggunakan Surat Kuasa Khusus sesuai dengan ketentuan Hukum Acara yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak terutama Pasal 34 ayat 1 dan 2 :

1 Bahwa Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/PP/M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010 nyata-nyata telah cacat hukum karena pihak Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dalam memberikan kuasa untuk mewakili dirinya dalam persidangan adalah tidak tepat dan tidak sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini khususnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak ;

2 Bahwa setelah membaca, meneliti dan mempelajari lebih lanjut Putusan Pengadilan Pajak Nomor 22004/PP/M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) sangat keberatan atas pertimbangan Majelis Hakim yang antara lain berbunyi sebagai berikut :

Halaman 17 alinea ke-3:

"Bahwa Kuasa Pemohon Banding yaitu Nuryadi Mulyodiwarno, jabatan Kuasa Hukum dengan Surat Kuasa Nomor 376/FIN/PLA/X/2008 tanggal 09 Oktober 2008, Kamariah Chan, jabatan A VP-Financial Controlli dengan Surat Kuasa Nomor 374/FIN/PLA/X/2008 tanggal 09 Oktober 2008 dan Imelda Maria Pusposari, jabatan Manajer Tax dan Risk dengan Surat Kuasa Nomor 378/FIN/ PLA/X/2008 tanggal 09 Oktober 2009, hadir dalam 4 (empat) kali persidangan yang diselenggarakan untuk Banding ini, terakhir pada sidang tanggal 13 Juli 2009, memenuhi Pemberitahuan Sidang yang disampaikan dengan surat Nomor Pemb-0315/SP/Pg. 09/2009 tanggal 25 Juni 2009, untuk memberikan keterangan kepada Majelis, sehubungan dengan Surat Banding Pemohon Banding" ;

3 Bahwa dapat diketahui secara jelas dan nyata-nyata bahwa pemberian Surat Kuasa untuk mewakili Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dalam sengketa banding yang diajukan terhadap Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-915/WPJ.06/BD.06/2008 tanggal 17 Juni 2008, dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak terutama ketentuan Hukum Acara Pasal 34 ayat 1 dan 2 ;

4 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 34 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, menyebutkan sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Ayat (1): "Para Pihak yang bersengketa masing-masing dapat didampingi atau diwakili oleh satu atau lebih kuasa hukum dengan surat kuasa khusus ;

Ayat (2): "Untuk menjadi kuasa hukum harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a Warga Negara Indonesia;

b Mempunyai pengetahuan yang luas dan keahlian tentang peraturan perundang-undangan perpajakan;

c Persyaratan lain yang ditetapkan oleh Menteri" ;

Bahwa ketentuan atas surat kuasa khusus ini juga diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 22/PMK.03/2008 tanggal 6 Februari 2008 dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 1994 ;

5 Bahwa berdasarkan pemeriksaan sengketa banding di Pengadilan Pajak dan berdasarkan Putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.22004/PP/ M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010, dapat diketahui fakta-fakta antara lain sebagai berikut :

a Bahwa Surat Kuasa yang diberikan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) kepada Saudara Nuryadi Mulyodiwarno dengan Surat Kuasa Nomor 376/FIN/PLA/X/2008 tanggal 09 Oktober 2008, Kamariah Chan, dengan Surat Kuasa Nomor 374/FIN/PLA/ X/2008 tanggal 09 Oktober 2008 dan Imelda Maria Pusposari, dengan Surat Kuasa Nomor 378/FIN/PLA/X/2008 tanggal 09 Oktober 2009 merupakan Surat Kuasa biasa ;

b Bahwa dengan demikian pemberian surat kuasa yang dilakukan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) tidak memenuhi ketentuan formal atas persyaratan pemberian kuasa yang diatur dalam ketentuan Pasal 34 ayat 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002. Ketentuan dalam Pasal 34 ini mensyaratkan untuk pemberian Surat Kuasa Khusus dalam hal Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) membutuhkan bantuan pihak lainl kuasa hukum dalam mewakilinya di persidangan dan pemeriksaan sengketa pajak ini ; 6 Bahwa oleh karena itu, maka Majelis Hakim Pengadilan Pajak, yang memeriksa dan mengadili sengketa banding tersebut, telah terbukti dengan nyata-nyata telah melakukan perbuatan yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (contra legem) dengan memutus sengketa banding dimaksud dengan tidak meneliti surat kuasa yang dimiliki oleh kuasa hukum dan kuasa lainnya Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding), yang seharusnya berupa Surat Kuasa

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Khusus, sesuai dengan ketentuan Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak beserta Penjelasannya ;

7 Bahwa dengan demikian, Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/ PP/ M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010 tersebut secara nyata-nyata telah terbukti sebagai suatu Putusan yang cacat hukum. Sehingga oleh karenanya, Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/PP/M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010 tersebut harus dibatalkan demi hukum ;

B Sengketa atas Koreksi DPP PPN atas Biaya Jasa Penitipan Investasi sebagai Jasa Kena Pajak yang Terutang PPN senilai Rp. 22.610.900.974.00 :

1 Bahwa jika seandainya-pun, Majelis Hakim Mahkamah Agung Yang Terhormat, yang memeriksa dan mengadili sengketa peninjauan kembali ini berpendapat lain selain daripada dalil-dalil yang disampaikan dan diuraikan oleh Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) tersebut di atas, namun pada pokoknya Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) tetap tidak sependapat dan keberatan atas pertimbangan dan putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak sebagai-mana yang dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/PP/M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010 ;

2 Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) sangat keberatan dengan pertimbangan hukum Majelis Hakim Pengadilan Pajak, yang an tara lain berbunyi sebagai berikut :

Halaman 27 Alinea ke-5:

"Bahwa berdasarkan pemeriksaan Majelis terhadap bukti-bukti yang ada dalam berkas banding serta penjelasan para pihak yang bersengketa di persidangan, Majelis berpendapat Unit Link adalah nama jenis produk asuransi jiwa, oleh karena itu semua penghasilan yang dihasilkan dari produk Unit Link adalah penghasilan jasa asuransi yang seharusnya tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai" ;

Halaman 28 Alinea ke-1 :

"bahwa dari uraian di atas, Majelis berketetapan untuk membatalkan koreksi terbanding atas penyerahan yang PPNnya harus dipungut sebesar Rp 22.610.900.974,00" ;

3 Bahwa berkenaan dengan amar pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang tertuang dalam Putusan Pengadllan Pajak Nomor Put.22004/PP/M.V/16/201 0 tanggal 08 Februari 2010 tersebut di atas, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) dengan ini menyatakan bahwa Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang telah memeriksa dan mengadili sengketa banding tersebut telah salah dan keliru atau setidak-tidaknya telah membuat suatu kekhilafan (error facti) dalam membuat pertimbangan-

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

pertimbangan hukumnya dengan telah mengabaikan dasar hukum dan atau prinsip perpajakan yang berlaku sehingga hal tersebut nyata-nyata telah melanggar asas kepastian hukum dalam bidang perpajakan di Indonesia ;

4 Bahwa, berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000, menyebutkan sebagai berikut :

Pasal 1 angka 1 :

"Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan" ;

Pasal 1 angka 5 :

"Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk meng-hasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan" ;

Pasal 1 angka 6 :

"Jasa Kena Pajak adalah jasa sebagaimana dimaksud dalam angka 5 yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang" ;

Pasal 1 angka 7 :

"Penyerahan Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan pemberian Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 6" ;

Pasal 4 huruf c :

"PajakPertambahan Nilai dikenakan atas :

a Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha" ;

Bahwa berdasarkan Penjelasan Pasal 4 huruf c Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, pada alinea ke-2, menyebutkan :

"Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

d Jasa yang diserahkan merupakan Jasa Kena Pajak, e Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean, dan

f Penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

5 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal4A ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000, menyebutkan sebagai berikut :

"Penetapan jenis jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai sebagai- mana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan atas kelompok-kelompok jasa sebagai berikut :

a. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik ; b. Jasa di bidang pelayanan sosial ;

c. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko ;

d. Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa gun a usaha dengan hak opsi ; e. Jasa di bidang keagamaan ;

f. Jasa di bidang pendidikan ;

g. Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan Pajak Tontonan ; h. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan ;

i. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air; j. Jasa di bidang tenaga kerja ;

k. Jasa di bidang perhotelan ; dan

l. Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum" ;

6. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000 tentang Jenis Barang dan Jasa Yang Tidak Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai, menyebutkan :

"Kelompok jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai adalah : a. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik ;

b. Jasa di bidang pelayanan sosial ;

c. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko ;

d. Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi ; e. Jasa di bidang keagamaan ;

f. Jasa di bidang pendidikan ;

g. Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan Pajak Tontonan ; h. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan ;

i. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air; j. Jasa di bidang tenaga kerja ;

k. Jasa di bidang perhotelan ; dan

l. Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum" ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

7. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 13 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002, menyebutkan :

"Terutangnya Pajak atas penyerahan Jasa Kena Pajak, terjadi pada saat mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, baik sebagian atau seluruhnya" ;

8 Bahwa berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Asuransi, menyebutkan hal sebagai berikut :

Pasal 1 angka 1 :

"Asuransi atau Pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk pembayaran yang didasarkan atas meninggalnya atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan" ;

Pasal 2 huruf a :

"Usaha asuransi yaitu usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suat peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang" ;

Pasal 4 huruf b :

"Perusahaan Asuransi Jiwa hanya dapat menyelenggarakan usaha dalam bidang asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri, dan usaha anuitas, serta menjadi pendiri dan pengurus dana pensiun sesuai dengan peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku" ;

9 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 19 ayat (3) huruf b dan c Keputusan Menteri Keuangan Nomor 422/KMK.06/2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, menyebutkan "Penetapan tarif premi asuransijiwa harus dilakukan dengan mem-pertimbangkan sekurang-kurangnya:

c. Biaya akuisisi, biaya administrasi dan biaya umum lainnya; d. Prakiraan hasil investasi dan premi" ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

10. Bahwa sesuai dengan Surat Direktur Peraturan Perpajakan I Nomor S-403/ PJ.0233/2007 tanggal 17 April 2007 tentang permohonan penegasan pengenaan PPN atas biaya investasi produk asuransi unit link yang dibebankan kepada nasabah, ditegaskan bahwa Biaya Jasa Penitipan investasi ini adalah Jasa Kena Pajak yang terutang PPN;

11. Bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dan berdasarkan hasil pemeriksaan sengketa banding di Pengadilan Pajak sebagaimana yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor 22004/PP/M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010 serta berdasarkan penelitian atas dokumen-dokumen milik Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding), maka telah dapat diketahui secara jelas dan nyata-nyata adanya fakta-fakta sebagai berikut :

11.1.Bahwa Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) memiliki dua kegiatan usaha asuransi jiwa, yaitu :

a. Traditional Life Insurance, dimana nasabah menutup kontrak untuk menjamin resiko hidupnya kepada Termohon Peninjauan Kembali semula Pemohon Banding dengan membayar sejumlah prem ;

b. Linked Life Insurances, dimana nasabah menutup kontrak untuk menjamin resiko hidupnya kepada Termohon Peninjauan Kembali semula Pemohon Banding sama seperti Traditional Life Insurance, namun terdapat tambahan, nasabah dapat melakukan investasi dengan menitipkan dananya kepada Termohon Peninjauan Kembali semula Pemohon Banding untuk diinvestasikan sesuai dengan preferensi nasabah. Terhadap investasi nasabah ini ada potensi untung atau rugi yang tidak dicover oleh Termohon Peninjauan Kembali semula Pemohon

Banding. Atas penitipan dana dari nasabah ke Termohon Peninjauan Kembali semula Pemohon Banding , Termohon Peninjauan Kembali memungut dengan apa yang disebut Biaya Penitipan Investasi kepada nasabah;

11.2. Bahwa dana yang dipungut kepada nasabah sebenarnya bukanlah premi asuransi karena dana tersebut sepenuhnya milik nasabah dan dikhususkan untuk investasi yang hasilnya baik untung atau rugi dinikmati sepenuhnya oleh nasabah. Berbeda dengan premi asuransi yang milik perusahaan dan diinvestasikan untuk dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan dan diinvestasikan untuk dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan asuransi dan juga menutup resiko bagi nasabahnya;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

11.3 Bahwa kegiatan penitipan dana/investasi yang merupakan kegiatan tambahan dalam Linked Life Insurances ini oleh Pemohon Banding dipungut biaya yang disebut Biaya Penitipan Investasi, dengan perincian agai berikut : Jenis Investasi Saldo Dana (Rp.) Tarif Biaya Per Tahun Biaya Investasi (Rp.) 1. Investment in Ref at Par 213.291.795.777,00 1.75% 3.732.606.426,00 2. Porv. For Dimunition MV-REF 347.012.852.765,00 1.75% 6.072.724.923,00 3. Investment in RFIF at par 1.006.397.993.697,00 1.00% 10.063.979.937,00 4. Prov for Dimunition MV-RFIF 141.621.883.709,00 1.00% 1.416.218.837,00 5. Investment in RCF at Par 205.203.072.718,00 0.75% 1.539.023.045,00 5. Provo For Dimunition MV-RCF (28.486.959.334,00) 0.75% (213.652.195,00) Jumlah Biaya Investasi yang dipungut ke Nasabah 22.610.900.974,00

12. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 huruf a Undang-Uundang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Asuransi, menyebutkan "Usaha asuransi yaitu usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseoran", sedangkan Unit Link yang dikelola Termohon Banding (semula Pemohon Banding) terdiri dari 2 unsur yaitu 1) premi untuk menjamin resiko hidupnya dan 2) investasi dana yang mana atas investasi dana tersebut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) memungut biaya yang disebut Biaya Penitipan Investasi.;

13. Bahwa produk Unit Link tidak mempunyai dasar hukum yang cukup kuat karena tidak disebutkan secara eksplisit dan tegas sebagai produk asuransi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Asuransi sehingga kegiatan investasi yang mana Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) memungut Biaya Penitipan Investasi dalam produk unit link adalah kegiatan tambahan di luar produk asuransi jiwa;

14.Bahwa Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dalam setiap bulan mengirimkan laporan tentang kinerja unit link milik nasabah, yang menunjukkan peningkatan dan atau penurunan tentang jumlah dan unit link yang dimiliki nasabah;

15. Bahwa dengan demikian, karena dana unit link bukanlah premi, maka kegiatan penitipan dana tersebut oleh nasabah kepada Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) juga bukan merupakan kegiatan asuransi jiwa,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

sehingga atas biaya yang dipungut dari kegiatan tersebut bukan merupakan jasa tidak kena pajak sesuai dengan Undang-undang PPN;

16. Bahwa Undang-Undang PPN menganut prinsip negatif list, yang artinya pada dasarnya semua jasa dikenakan pajak, kecuali ditentukan lain oleh Undang-Usuransi sehingga Jasa Penitipan Investasi tersebut termasuk sebagai Jasa Kena Pajak dan terutang PPN;

17. Bahwa sesuai dengan Surat Direktur Peraturan Perpajakan I Nomor S-403/ PJ.0233/2007 tanggal 17 April 2007 tentang permohonan pengenaan PPN atas biaya investasi produk asuransi unit link yang kepada nasabah. Siaya Penitipan investasi ini adalah Jasa Kena Pajak ;

18. Bahwa dengan demikian, telah terbukti pula secara nyata-nyata bahwa amar pertimbangan dan amar putusan (dictum) Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/PP/ M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010 tersebut telah dibuat dengan tidak berdasarkan kepada fakta-fakta yang ada dan yang telah nyata-nyata terungkap dalam pemeriksaan sengketa banding tersebut, bukti yang valid serta aturan perpajakan yang berlaku, sehingga hal tersebut nyata-nyata telah melanggar ketentuan Pasal 78 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dan Penjelasannya, maka Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/ PP/M.V/16/2010 tanggal 08 Februari 2010 tersebut adalah cacat secara hukum dan harus dibatalkan demi hukum ;

Bahwa dengan demikian, putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak Nomor Put.22004/PP/M. V/16/201 0 tanggal 08 Februari 2010 yang menyatakan :

• Mengabulkan seluruhnya banding Pemohon Sanding terhadap Keputusan Terbanding Nomor KEP-915/WPJ.06/BD.06/2008 tanggal 17 Juni 2008 mengenai Surat Ketetapan Pajak Kurang Sayar Pajak Pertambahan Nilai Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2005 Nomor 00014/207/05/073/07 tanggal 26 Maret 2007, atas nama: PT Prudential Life Assurance, NPWP: 01.343.965.8-073.000, sehingga perhitungan jumlah Pajak Penghasilan Sadan dihitung kembali sebagaimana perhitungan di atas;

adalah tidak benar dan telah cacat hukum serta telah nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

PERTIMBANGAN HUKUM

Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan peninjauan kembali tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:

Mengenai alasan butir A :

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa alasan-alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena dalam Surat Kuasa telah dicantumkan objek yang diajukan banding, jadi sifatnya khusus sehingga memenuhi Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 ;

Mengenai alasan butir B :

Bahwa alasan-alasan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan karena Putusan Pengadilan Pajak yang mengabulkan permohonan banding Pemohon sudah tepat dan benar yaitu tidak terdapat putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan demikian permohonan peninjauan kembali tersebut tidak memenuhi unsur/syarat-syarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 91 Undang-Undang No.14 Tahun 2002 ;

Bahwa Unit Link adalah nama jenis produk Asuransi Jiwa oleh karena itu semua penghasilan yang dihasilkan dari produk Unit Link adalah Penghasilan Jasa Asuransi yang seharusnya tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali : DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tersebut tidak beralasan sehingga harus ditolak;

Menimbang, bahwa dengan ditolaknya permohonan peninjauan kembali, maka Pemohon Peninjauan Kembali dinyatakan sebagai pihak yang dikalahkan, dan karenanya dihukum untuk membayar biaya perkara dalam peninjauan kembali;

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak serta peraturan perundang-undangan yang terkait;

MENGADILI,

Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali : DIREKTUR JENDERAL PAJAK tersebut;

Menghukum Pemohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara dalam peninjauan kembali ini yang ditetapkan sebesar Rp. 2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu Rupiah) ;

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Rabu, tanggal 17 Juli 2013 oleh Widayatno Sastrohardjono, SH. M.Sc., Ketua Muda Pembinaan yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, H. Yulius, SH. MH. dan Dr. H. Imam Soebechi, SH. MH., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota Majelis tersebut dan dibantu oleh

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Rafmiwan Murianeti, SH. MH., Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak ; Hakim-Hakim Anggota : K e t u a : Panitera Pengganti : Biaya-biaya : 1. M e t e r a i ………….... : Rp. 6.000,-2. R e d a k s i ……… : Rp. 5.000,-3. Administrasi Peninjauan Kembali ... : Rp. 2.489.000,- Jumlah : Rp. 2.500.000,-Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Untuk Salinan MAHKAMAH AGUNG R.I.

a.n. Panitera

Panitera Muda Tata Usaha Negara,

ASHADI, SH. NIP. 220000754

Hakim-Hakim Anggota : K e t u a : ttd. ttd.

H. Yulius, SH. MH. Widayatno Sastrohardjono, SH. M.Sc. ttd. Dr. H. Imam Soebechi, SH. MH. Panitera Pengganti : ttd. Rafmiwan Murianeti, SH. MH. Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :