Pikiran
Rakyat
~UNPADNON UNPAD5
(
-
)
o
SJlasa0
Rabu456 7 20 21 22 .Mar OApr OMei
o
Kamis
0
Jumat
8 9 10 11 23 24 25 26
OJun 0 Jul 0 Ags
o
Sabtu
0
Minggu
~
12 13 14 15
~
27 28 29 30 31o
Sep0
Okt0
Nov0
Des
.~--_.._.__._.__._---_._--Bola
di
Tangan
JK
Golkar. Ternyata pasangan SBY-JK terpilih sebagai Presi-den dan Wakil PresiPresi-den RI dan tidak berselang lama JK te~ilih sebagai Ketum Golkar.
Dengan latar seperti itu, ti-daklah mengherankan kalau gerak gerik politik JK dan GoI-. Manuver JK kar yang dipimpinnya senantia-Tidal<bisa dimungkiri bahwa sa menjadi bahan sorotan ber-JK saat ini dipandang sebagai bagai kalangan. Akankah JK salah ~eorang tokoh politik In- kembali mempertontonkan ke-donesla yang sangat cerdik da- pada publik Indonesia perma-lam memainkan peran politik- inan politik tingkat tinggi di nya. Prestasi tertingginya da- mana ia berperan sebagai diri-lam ranah politik hingga saat gennya?
ini, sel~ menjadi wapres,juga Setelah rnenghadiri oodang-sebagal Ketua Umum Partai an dari elite Partai Keadilan Se-Golkar. Padahal, sebenarnya ia jahtera (PKS) beberapa waktu termasuk orang yang relatifba- lalu, JK kemudian melakukan
M
ENARIK
sekali
ru dalam lingkaranelitepolitik
pertemuan politikdengan elite
.mencermati berba-
Golk.ardiba~dii1gkandengan
PartaiPersatuan
Pembangun-gai manuver politik
pesam~-pesamgnya.ketikaitu,
an. Yang teranyar tentu saja
yang dipertontonkan oleh Wa-
seperti Akbar TandJung (AT), pertemuan politik JK dengan
pres Jusuf Kalla (JK) belakang- Swya paloh,.
~
lain-lain.. Megawati Soekarnoputri yangan ini. Pernyataan kesediaan-
Caraberpikir ~Kyang raslO- salah satunya membahas
ten-nya maju sebagai calon presi-
nal dan pragmatisalapengusa-
tang pemerintahan Indonesia
den (capres)PartaiGolkarpada
ha membaw~~ ke dalam pe-
yangkuat di masa datang.
Per-pemilihan presiden (pilpres)
tual~ngan p~htik y~g serbaf-
tem~an.yangterakhirini seolah
Juli mendatangtampaknyacu-- lekslbel:BagIse~a?Iankalang-
menJadikelanjutanpertemuan
kup serius. lni dipandang ber-
~~, ~erilaku poh~ ~emacam
antara Golkar dan Partai
De-bagai pihak seDe-bagai kehendak
n:ndianggap~ebagaltidak kon-
mokrasiIndc:mesiaPeljuangan
JK untuk "bercerai"dari Presi-
s~en a~u p~p~,
namooba-
(PDlP)yangtelah dirintis oleh
den SusiloBambangYudhoyo- gIsebagIanlam dipandang se-
Swya Palohdan TaufikKiemas
no (SBY).
bagaikece~
dan kelihaian. beberapawaktu lalu.
Tanda-tanda perceraian ke-
Pada Peprilu ~0~4, misal~ya,
Ten~
sajaberbagaipertemu-dua sejoli tersebut kian kuat
JKyang?Iengiku~konvenslca-
an pohtikJK dengan elite-elite
akhir-akhirini.Keduanyakerap
Ion preslden dan. Golkarbah-
p.arpoltersebut mempertegas
melakukanpolitiktebar pesona
kan sudah samp~ pada tahap-
smyalemenberbagai kalangan
secara terpisah yang terbung-
an kedua,.k~mu~lanmengun-
bah~aJKbenar-benar hendak
kus dalam balutan acara-acara
du~kan din. la JUstru berga-
memnggalkanSBY.Hal ini
di-kenegaraan seperti kunjungan
bung dengan SBYsebagai pa-
tambah dengansejumlah
per-kelja ke berbagai daerah Na-
sangan capres-cawapres yang
nyataanJKsendiriyangmeng-_ nyataanJKsendiriyangmeng-_'
_:
_ _n~~bene ~dak di.usung oleh
indikasikanhal tersebut,antara
Oleh IDING R. HASAN
moo, apakah pasangan SBY-JK benar-benar akan bercerai? lni-lah pertanyaan yang coba dija-wab dalam tulisan ini.
lain penolakannya terhadap pa-sangan campuran Ja.wa-non-Jawa. Meriurut dia, pasangan semacam itu sekadar mitos, bab masyarakat Indonesia se-karang sudah cerdas sehingga mampu memberikan pilihan politik secara rasional. Padahal, di masa lalu ia termasuk orang yang sependapat dengan model pasangan campuran tersebut.
Sekadar peqjajakan Menurut hemat penulis, ber-bagai manuver politik JK dan Golkar tadi sebenarnya lebih merupakan satu langkah penja-jakan belaka untuk menakar berbagai pilihan politik demi Pilpres 2009. Dengan kata lain, berbagai kemungkinan pilihan masih bisa teljadi paling tidal< sampai pemilu legislatif (pileg) April, termasuk kembali berdu-etnya JK dengan SBY. Selain itu, langkah tersebut bisa diba-ca pula sebagai "gertakan" bagi patpol-parpollain, khususnya Partai Demokrat, bahwa GoI-karlah parpol yang hariJs paling diperhitungkan dalam konste-lasi politik nasional. Bagaima-napoo magnitude politik Partai Golkar masih tetap besar di-bandingkan dengan parpol-parpol lain. Oleh karena itu, Partai DemoIITat cukup ketar-ketir juga jika JK betul-betul meninggalkan SBY.
Namun demikian, kalkulasi politik JK dan Golkar yang di-landaskan pada piliP.anrasional dan pragmatis tetap akan men-jadi pijakannya. Dalam
per-- -_. ... _. '
,---..--..-Kliping
Humas
Unf ad
2009
--spektif ini, sulit sebenarnya ba-gi JK untuk, misalnya, mening-galkan Demokrat dan kemudi-an merapat ke PDIP. Meskipun secara realistis dukungan poli-tik akan besar, tetapi bagaima-na membagi kekuasaan antara
JK dan Megawati.Bersediakah
IJK menjadi cawapres Mega yang sudah menyebutkan har-ga mati untuk menjadi capres, dan apakah peluang duet ini akan lebih besar dibandingkan dengan duet SBY-JK yang sela-lu unggul dalam berbagai sur-vei. Tentu saja JK tidak akan mau mengambil pilihan politik yarigjustru merugikannya.
Pada sisi lain, kehadiran Ak-bar Tanjung (AT) sebagai sesa-ma tokoh Golkar juga akan menjadi pernmbangan serius JK, apalagi sekarang mulai muneul wacana duet SBY-AT. Meskipun AT kurang berpe-ngaruh lagi di Golkar pada ting-kat DPP, tetapi pengaruhnya di daerah masih sangat kuat. Da-lam satu survei disebutkan, jika SBY berduet dengan AT de-ngan asumsi SBY~JK pecah, ternyata hasilnya 76% ("PR", 12/03). Kalau pasangim SBY-AT betul-betul teIjadi dan ke-mudian menjadi pemenang-nya, bukan tidak mungkin GoI-kar pun akan mendukung AT. Ini akan menjadl semacam "karma" politi}<bagi JK, yang dulu juga meninggalkan GoI-kar, tetapi kemudian setelah menjadi cawapres iajustru di-dukung Golkar. Tentu JK tidak akan membiarkan semua itu
teIjadi.
Sementara itu, kans JK untuk maju menjadi capres sangat ke-eil. Maka, pada akhirnya, JK mau tidak mau mesti mengam-bil pilihan yang paling mengun-tungkan dirinya dan Golkar. Ji-ka memang maqam politiknya hanya sebatas wap~ dan kaJ,1S-nya lebih besar jika tetap berdu-et dengan SBY,maka hemat pe-nulis, JK akan mengambil pilih-an tersebut. Masalah ''harga di-ri", bagi pengusaha yang terbia-sa berpikir rasional dan prag-matis seperti JK tampaknya ti-dak terlalu signifikan.***
Penulis, mahasiswa Prog-ram Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung dan Deputi Direktur Bidang Politik The Political Literacy Institute.