• Tidak ada hasil yang ditemukan

tesis risprapti prasetyowati S831208072

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "tesis risprapti prasetyowati S831208072"

Copied!
357
0
0

Teks penuh

(1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(2)
(3)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(4)
(5)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat

dan petunjuk serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini

yang berjudul “Pengembangan Modul IPA SMP Berbasis Inkuiri Terbimbing

pada Materi Tekanan”.

Penulisan tesis ini dapat terselesaikan berkat bantuan, arahan, bimbingan

dan kerja sama dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan

banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., selaku Rektor Universitas Sebelas Maret,

Surakarta.

2. Prof. Dr. M. Furqon H., M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pengetahuan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

3. Dr. M. Masykuri, M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan

Sains.

4. Dra. Suparmi, M.A., Ph.D, selaku pembimbing utama yang telah

memberikan bimbingan dan masukan dalam penyusunan tesis ini.

5. Dr. Sarwanto, M.Si., selaku pembimbing pendamping yang telah

mengarahkan dan memberikan masukan dalam penyusunan tesis ini.

6. Ahmad Marzuki, S.Si., Ph.D., dan Sukarmin, M.Si., Ph.D, selaku penelaah

yang telah menelaah dan memberikan saran untuk perbaikan modul.

7. Segenap staf SMP N 2 Ngrampal yang telah membantu penulis

memperoleh informasi dalam penulisan tesis ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan serta jauh dari kesempurnaan

dalam penulisan tesis ini dikarenakan keterbatasan kemampuan yang penulis

miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat

membangun. Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak yang memerlukannya, akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.

Aamiin.

Surakarta, 2014

Penulis

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(6)

Dan Allah tidak menj gembira bagi keme kemenanganmu itu ha (QS. Ali Imran:126)

Allah akan meninggi orang yang diberi ilmu

Segala puji bagi Allah Quran) dan Dia tidak yang lurus, untuk me memberi berita gembi amal saleh, bahwa me

(QS: Al Kahfi ayat

1-vi

MOTTO

enjadikan pemberian bala bantuan itu melainka menanganmu, dan agar tentram hatimu ka u hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa, lagi Ma

)

ggikan orang-orang yang beriman diantara ka lmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al Muj

llah yang telah menurunkan kepada hamba-Ny dak mengadakan kebengkokan di dalamnya; seba

memperingatkan siksaan yang sangat pedih dar mbira kepada orang-orang yang beriman, yan mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

t 1-2)

Nya Al Kitab (Al-sebagai bimbingan dari sisi Allah dan yang mengerjakan k,

(7)

vii

PERSEMBAHAN

1. Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah yang telah diberikan, serta

junjungan besar kita nabi Muhammad SAW.

2. Bapak dan Ibunda tercinta yang selalu mengarahkan, memberikan

semangat, do’a dan kasih sayang.

4. Teman-teman Mahasiswa Pendidikan Sains Minat Fisika 2012

3. Kakakku Mas Hery, Mbak Sari, Mbak Rita, keponakanku ,rhab dan

,stahal.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(8)

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

ABSTRAK ... xvi

ABSTRACT... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah... 9

C. Pembatasan Masalah ... 10

D. Perumusan Masalah ... 11

E. Tujuan Penelitian ... 11

F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan ... 12

G. Manfaat Penelitian ... 13

BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori ... 14

1. Teori Belajar ... 14

2. Hakikat Pembelajaran... 29

3. Pembelajaran Inkuiri Terbimbing... 30

4. Bahan Ajar... 40

5. Media Pembelajaran ... 42 Halaman

(9)

ix

6. Modul ... 46

7. IPA... 53

8. Prestasi Belajar ... 55

9. Materi Tekanan... 58

B. Penelitian yang Relevan... 68

C. Kerangka Berpikir... 71

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Model Pengembangan ... 74

B. Tempat dan Waktu Penelitian... 74

C. Prosedur Pengembangan ... 74

D. Subjek Penelitian ... 95

E. Jenis Data ... 96

F. Instrumen Pengumpulan Data... 97

G. Teknik Analisis Data... 98

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Hasil Penelitian dan Pengembangan ... 106

B. Pembahasan Hasil Penelitian dan Pengembangan ... 154

C. Temuan Lapangan... 176

D. Keterbatasan Penelitian... 176

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan ... 178

B. Implikasi... 182

C. Saran ... 182

DAFTAR PUSTAKA ... 185

LAMPIRAN ... 192

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(10)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Benda Cair Berada pada Keadaan Keseimbangan ... 59

Gambar 2.2 Dongkrak Hidrolik ... 61

Gambar 2.3 Bejana Berhubungan ... 62

Gambar 2.4 Gaya Eksternal yang Bekerja pada Suatu Bagian Cairan ... 64

Gambar 2.5 Benda Tenggelam Sepenuhnya ... 65

Gambar 2.6 Grafik Hubungan Tekanan dengan Ketinggian... 67

Gambar 2.7 Barometer Logam... 67

Gambar 3.1 Langkah-langkah Metode Research and Development ... 75

Gambar 4.1 Hasil Validasi Modul Draf 1 oleh Dosen ... 114

Gambar 4.2 Hasil Validasi Modul Draf 1 oleh Guru ... 115

Gambar 4.3 Hasil Validasi Modul Draf 1 oleh Teman Sejawat ... 116

Gambar 4.4 Revisi Modul Saran 1... 119

Gambar 4.5 Revisi Modul Saran 2... 120

Gambar 4.6 Revisi Modul Saran 3... 121

Gambar 4.7 Revisi Modul Saran 4... 122

Gambar 4.8 Revisi Modul Saran 5... 123

Gambar 4.9 Revisi Modul Saran 6... 125

Gambar 4.10 Revisi Modul Saran 7... 126

Gambar 4.11 Hasil Respon Siswa terhadap Keterbacaan Modul ... 128

Gambar 4.12 Grafik Peningkatan Prosentase Jumlah Siswa Menjawab Betul 132 Halaman

(11)

xi

Gambar 4.13 Tingkat Keterpahaman Materi ... 134

Gambar 4.14 Prosentase Siswa Menjawab Betul Soal Kegiatan Inkuiri ... 135

Gambar 4.15 Diagram Rata-rata Hasil Belajar Pretest Postest ... 137

Gambar 4.16 Histogram Kenaikan Skor Pretest dan Postest ... 141

Gambar 4.17 Histogram Distribusi Tingkat Kecapaian Hasil Belajar ... 142

Gambar 4.18 Histrogram Distribusi Frekuensi Penilaian Psikomotorik... 144

Gambar 4.19 Histrogram Distribusi Frekuensi Penilaian Afektif... 148

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Skenario Pembelajaran Inkuiri... 34

Tabel 2.2 Fase dalam Menerapkan Pembelajaran Inkuiri ... 35

Tabel 2.3 Tahapan Hasil Pengembangan dalam Menerapkan Inkuiri ... 36

Tabel 3.1 Tingkat Validitas Soal Tes Akhir Modul ... 91

Tabel 3.2 Indeks Kesukaran Soal Tes Akhir Modul ... 93

Tabel 3.3 Daya Pembeda Soal Tes Akhir Modul... 95

Tabel 3.4 Desain Penelitian ... 95

Tabel 3.5 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif ... 100

Tabel 3.6 Kriteria Skor Rata-rata menjadi Nilai dengan Kriteria ... 105

Tabel 4.1 Hasil Analisis Angket Pengungkap Kebutuhan Siswa ... 107

Tabel 4.2 Hasil Analisis Angket Pengungkap Kebutuhan Guru... 108

Tabel 4.3 Hasil Validasi Draf 1 oleh Dosen ... 114

Tabel 4.4 Hasil Validasi Draf 1 oleh Guru ... 115

Tabel 4.5 Hasil Validasi Draf 1 oleh Teman Sejawat ... 116

Tabel 4.6 Saran dan Revisi Tahap 1 ... 118

Tabel 4.7 Hasil Respon Siswa terhadap Keterbacaan Modul ... 128

Tabel 4.8 Distribusi Analisis Jawaban Siswa ... 132

Tabel 4.9 Prosentase Siswa Menjawab Betul Soal Kegiatan Inkuiri ... 135

Tabel 4.10 Analisis Jawaban Soal Pengembangan ... 136

Tabel 4.11 Distribusi Butir Soal Pengembangan ... 136

Tabel 4.12 Hasil Analisis Data Pretest dan Postest ... 137 Halaman

(13)

xiii

Tabel 4.13 Analisis Hasil Belajar Pretest dan Postest ... 139

Tabel 4.14 Hasil Data Gain dan Ngain... 140

Tabel 4.15 Peningkatan Hasil Belajar Pretest Postest... 141

Tabel 4.16 Analisis Gain Ternormalisasi... 142

Tabel 4.17 Deskripsi Data Hasil Penilaian Psikomotorik... 143

Tabel 4.18 Distribusi Penilaian Psikomotorik ... 144

Tabel 4.19 Deskripsi Data Hasil Penilaian Afektif ... 147

Tabel 4.20 Distribusi Penilaian Afektif ... 148

Tabel 4.21 Hasil Respon Siswa... 151

Tabel 4.22 Hasil Respon Guru ... 153

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(14)

xiv

LAMPIRAN

Lampiran 1 Analisis Kebutuhan Siswa ... 192

Lampiran 2 Analisis Kebutuhan Guru ... 196

Lampiran 3 Daya Serap Siswa pada Materi Tekanan Tahun 2012/2013... 201

Lampiran 4 Hasil Validasi Silabus... 202

Lampiran 5 Hasil Validasi RPP ... 209

Lampiran 6. Hasil Validasi Kisi-Kisi Soal Tes Prestasi Belajar ... 223

Lampiran 7. Hasil Validasi Modul ... 230

Lampiran 8. Hasil Respon Siswa terhadap Keterbacaaan Modul ... 287

Lampiran 9. Angket Respon Siswa... 292

Lampiran 10. Angket Respon Guru IPA... 301

Lampiran 11. Analisis Hasil Tryout Soal Tes Prestasi Belajar ... 306

Lampiran 12. Kisi-kisi Soal Tes Prestasi Belajar... 307

Lampiran 13. Soal Tes Prestasi Belajar ... 308

Lampiran 14. Hasil Pretest... 318

Lampiran 15. Hasil Postest ... 320

Lampiran 16. Analisis Hasil Pretest dan Postest... 322

Lampiran 17. Analisis Hasil Tes Soal Kegiatan Inkuiri ... 325

Lampiran 18. Analisis Hasil Tes Soal Pengembangan ... 327

Lampiran 19. Nilai Gain dan Ngain... 329

Lampiran 20. Output Analisis Nilai Menggunakan SPSS 18 ... 330

Lampiran 21. Kisi Kisi Soal Tes Pretest dan Postest ... 334 Halaman

(15)

xv

Lampiran 22. Soal Tes Pretest dan Postest ... 335

Lampiran 23. Penilaian Afektif... 342

Lampiran 24. Penilaian Psikomotorik... 354

Lampiran 25. Silabus ... 366

Lampiran 26. RPP ... 375

Lampiran 27. Dokumentasi Penelitian... 452

Lampiran 28. Surat Keterangan Penelitian ... 455

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(16)

xvi

Risprapti Prasetyowati, 2014. Pengembangan Modul IPA SMP Berbasis Inkuiri

Terbimbing Pada Materi Tekanan. TESIS. Pembimbing I: Dra. Suparmi, M.A.,

Ph.D., Pembimbing II: Dr. Sarwanto, M.Si. Program Studi Magister Pendidikan Sains, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) prosedur pengembangan modul pembelajaran IPA SMP berbasis inkuiri terbimbing pada materi tekanan; (2) kelayakan modul pembelajaran IPA SMP berbasis inkuiri terbimbing pada materi tekanan; (3) efektivitas modul IPA berbasis inkuiri terbimbing pada materi tekanan di SMP N 2 Ngrampal terhadap hasil belajar.

Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan yang mengacu pada model Thiagarajan. Penilaian modul dilaksanakan 6 tahap yaitu validasi ahli materi dan kegrafikan, validasi guru, validasi sejawat, uji coba kecil dilaksanakan pada 8 siswa, uji coba diperluas dilaksanakan 31 siswa SMP N 2 Ngrampal dan penyebaran modul pada guru IPA SMP. Data hasil penelitian berupa nilai validasi modul oleh ahli, guru dan sejawat, respon keterbacaan siswa, nilai tes prestasi, respon siswa, dan respon guru.

Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan: (1) prosedur pengembangan modul IPA berbasis inkuiri terbimbing menggunakan model 4-D yang dikemukakan oleh Thiagarajan mencakup define, design, develop dan

disseminate; dengan modifikasi pada tahap disseminate dilakukan dengan cara

sosialisasi modul melalui pendistribusian dengan jumlah terbatas kepada guru; (2) modul IPA SMP berbasis inkuiri terbimbing pada materi tekanan yang dikembangkan memiliki kelayakan dengan kategori sangat baik yang mencakup aspek isi, bahasa, penyajian, kegrafikan dan kesesuaian dengan inkuiri. Hasil validasi yaitu validasi ahli rata-rata 3,42 nilai terendah pada aspek kegrafikan ada beberapa kontent yang perlu direvisi yang dipandang kurang menarik, validasi guru rata-rata 3,52 nilai terendah pada aspek penyajian perlu penambahan pada glosarium, validasi sejawat rata-rata 3,48 dalam penyajian kurang adanya petunjuk dalam mengerjakan soal, uji coba skala kecil rata-rata 3,45 nilai terendah pada aspek bahasa, ada beberapa kalimat belum jelas dan kurang dipahami, uji coba skala besar rata-rata 3,56 nilai terendah pada aspek bahasa, pada awal pembelajaran siswa masih asing dengan istilah yang belum pernah diketahui tetapi setelah pembelajaran berlangsung dan membaca petunjuk yang jelas, maka siswa mulai memahami sehingga proses pembelajaran berjalan lancar dan respon guru SMP rata-rata 3,50 materi tersusun sistematis, runtut sehingga mudah dipahami, tampilannya menarik dengan gambar memperjelas konsep; (3) modul produk pengembangan efektif untuk menaikkan rerata hasil belajar ditinjau dari skor rata-rata pretest 50,66 dan postest 71,90 serta ketuntasan belajar mencapai 77%.

Kata kunci : modul, IPA, SMP, inkuiri terbimbing, tekanan

(17)

xvii

Risprapti Prasetyowati, 2014. The Development Of Guided Inquiry-Based

Science Modules Junior High On Material Pressure. Thesis : Lecturer I Dra.

Suparmi, M.A., Ph.D. Lecturer II: Dr. Sarwanto, S.Pd., M.Si., Master Study Program Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sebelas Maret Surakarta University.

ABSTRACT

The aims of the research are to analyze : (1) procedure development of modules guided inquiry-based science learning at the junior high pressure material; (2) Determine the feasibility of modules guided inquiry-based science learning at the junior high pressure material; (3) the effectiveness of guided inquiry-based science module to the material pressure in SMP N 2 Ngrampal on learning outcomes.

This study is a research and development that refers to the model Thiagarajan. Assessment of the module conducted through 6 stages: validation of lesson expert and design, validation by teacher, validation of peer review, Small trials consisted of 8 students, larger trials consisted of 31 students of SMP N 2 Ngrampal, and deployment of module on junior science teacher. Research data in the form of score validation of modules by experts, teachers and peers, students legibility response, achievement test scores, student response, and teacher responses.

Based on the results of data analysis concluded: (1) procedure development guided inquiry-based science modules using the model 4-D advanced by Thiagarajan encompass define, design, develop and disseminate; with modifications to the stage disseminate done by way of socialization module through distribution with limited number of teachers. (2) modules guided inquiry-based science learning at the junior high pressure material that was developed have eligibility with the very good category which includes aspects of the content, language, presentation, design, and compatibility with inquiry. The results of the validation that is the validation of expert averaged 3.42 the lowest value on aspects design there is some content that needs to be revised are considered less interesting,validation of teachers averaged 3.52, the lowest value on aspects presentation need to additions to the glossary, validation of peer review average of 3.48, in the presentation of a lack of clue in working on, small-scale trials an average of 3.45, the lowest value on aspects language there are a few sentences unclear and poorly understood, large-scale trials averaged 3.56, the lowest value on aspects language in early the learning students are not familiar with the term that has never been known but after the learning take place and read the clue clear, then students begin to understand so that the learning process goes smoothly, and junior high school teacher responses on average 3.50; systematic coherently material is made systematic, cascading so it is easy to understand, looks interesting with image clarify the concept; (3) module product development effective to increase the average learning outcomes in terms of the average pretest score of 50.66 and posttest 71,90 and learning completeness achieve 77%.

Key word : modules, science, junior high, guided inquiry, pressure

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mutu pendidikan merupakan keberhasilan totalitas layanan manajemen

pendidikan dalam menghantarkan peserta didik memiliki nilai-nilai yang

bermakna bagi kehidupan. Mutu pendidikan masih merupakan impian dan

harapan bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah berupaya meningkatkan

perbaikan mutu pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Upaya

perbaikan mutu meliputi konteks pembaruan pendidikan diantaranya pembaruan

kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan efektivitas metode

pembelajaran. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan harkat martabat

manusia Indonesia, Sehingga pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk

meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Salah satu upaya perbaikan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan

pembaharuan kurikulum. Kurikulum pendidikan harus komprehensif dan

responsif terhadap dinamika sosial, relevan, dan mampu mengakomodasi

keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Saat ini pemerintah sedang

menerapkan kurikulum dengan mengembangkan kurikulum 2013 yang mengacu

pembelajaran dengan proses saintifik dan pembentukan watak peserta didik yang

beriman dan berakhlak mulia.

Terbentuknya manusia-manusia unggul dapat tercapai jika memiliki

keterampilan dan kemampuan dasar dalam hidupnya meliputi keterampilan

(19)

2

mengambil keputusan, mampu beradaptasi, dapat memotivasi diri dan mampu

menyusun pertimbangan dari berbagai alternatif pemecahan masalah. Penciptaan

sumber daya manusia yang berkualitas ini merupakan salah satu tujuan

pendidikan nasional.

Media pembelajaran mempunyai peranan yang sama pentingnya dengan

faktor-faktor pendidikan yang lain, tetapi terkadang kurang diperhatikan guru.

Padahal dengan pemilihan media yang tepat, merupakan kunci keberhasilan suatu

proses belajar mengajar. Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses

komunikasi yang diwujudkan melalui kegiatan penyampaian informasi kepada

peserta didik. Informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan, keahlian,

keterampilan, ide, pengalaman dan sebagainya. Informasi dapat dikemas dalam

satu kesatuan yaitu bahan ajar. Bahan ajar merupakan seperangkat materi

pelajaran yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari

kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

Dengan adanya bahan ajar memungkinkan peserta didik mempelajari suatu

kompetensi secara runtun dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu

menguasai kompetensi secara utuh dan terpadu.

Keterbatasan bahan ajar IPA menjadi salah satu penghambat pelaksanaan

pembelajaran. Pada penelitian ini mencoba mengembangkan bahan ajar yang

berupa modul IPA. Modul diartikan sebagai sebuah buku yang ditulis dengan

tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan

bimbingan guru. Sebuah modul harus dapat dijadikan bahan ajar sebagai

pengganti fungsi pendidik. Jika pendidik mempunyai fungsi menjelaskan sesuatu,

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(20)

maka modul harus mampu menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah

diterima peserta didik sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya (Andi

Prastowo, 2012 : 104), sehingga modul merupakan salah satu media pembelajaran

yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Dengan adanya

modul, siswa lebih dapat belajar terarah di rumah walaupun tidak ada guru. Modul

yang disertai dengan gambar dan contoh dalam kehidupan sehari-hari diharapkan

akan lebih menambah motivasi siswa untuk belajar.

Pemilihan metode yang tepat dalam pengembangan modul menjadi salah

satu hal yang penting. Pemilihan metode yang salah hanya akan membuat IPA

menjadi sulit dan membosankan bagi para siswa. Pada pengembangan ini akan

menggunakan pendekatan inkuiri. Inkuiri berasal dari kata to inquire yang artinya

ikut serta atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari

informasi dan melakukan penyelidikan. Sehingga inkuiri dapat diartikan sebagai

salah satu cara belajar yang bersifat mencari pemecahan permasalahan dengan

cara kritis, analisis dan ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu

menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan karena didukung oleh data atau

kenyataan. Pendekatan inkuiri dilaksanakan dengan bimbingan guru dan

prosesnya guru memberikan bimbingan atau petunjuk yang cukup kepada siswa.

Petunjuk itu berupa pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya membimbing untuk

memperoleh konsep. Pada kegiatan pembelajaran siswa dilibatkan secara aktif

dalam proses mencari tahu untuk mampu menginterpretasikan informasi,

membedakan antara asumsi yang benar dan yang salah serta memandang suatu

(21)

4

memiliki informasi tetapi lebih jauh lagi, siswa menempatkan diri sebagai sainstis

yang melakukan penelitian, berpikir dan merasakan lingkungan penelitian (Abdul

Kodir, 2011: 182).

Collette dan Chiappetta (1994) menyatakan bahwa hakekat IPA adalah

sebagai produk (“a body of knowledge”), sikap (“a way of thinking”), dan proses

(“a way of investigating”).Saintis mempelajari gejala melalui proses dan sikap

ilmiah tertentu. Proses itu dilakukan melalui pengamatan dan eksperimen.

Sedangkan sikap ilmiah terbentuk melalui proses yang dapat berupa sikap objektif

dan jujur pada waktu mengumpulkan data. Dengan menggunakan proses dan

sikap ilmiah maka saintis memperoleh penemuan-penemuan yang dapat berupa

fakta atau teori dan penemuan itulah yang disebut sebagai produk. Sehingga dapat

disimpulkan dalam pembelajaran IPA untuk meneliti masalah-masalah harus

melalui kerja ilmiah, yang disebut metode ilmiah yaitu: merumuskan masalah,

merumuskan hipotesis, merancang dan melaksanakan eksperimen, menganalisis

data pengamatan, serta menarik simpulan. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan

hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang

terorganisir, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui

serangkaian proses ilmiah. Hakekat IPA tersebut tercermin pada langkah-langkah

inkuiri yang akan dijadikan metode pembelajaran dalam penelitian ini.

Strategi pembelajaran inkuiri berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia

lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri

pengetahuannya, rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekitarnya merupakan

kodrat manusia sejak lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(22)

untuk mengenal segala sesuatu melalui indera pengecapan, pendengaran,

penglihatan dan indera-indera lainnya, hingga dewasa keingintahuan manusia

secara terus-menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya.

Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna ketika didasari oleh

keingintahuan. Tujuan utama pembelajaran melalui strategi inkuiri adalah

menolong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan

keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan

mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka. Strategi pembelajaran

inkuiri merupakan bentuk dari pembelajaran yang berorientasi pada siswa.

Modul IPA berbasis inkuiri terbimbing dikembangkan dengan maksud

untuk menumbuhkan kemampuan bekerja ilmiah, bersikap ilmiah dan dapat

mengkomunikasikan sebagai komponen penting dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran dengan metode inkuiri bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa

untuk membangun kecakapan berpikir. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari

pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk

membangun kemampuan itu. Kenyataan yang selama ini terjadi di sekolah bahwa

dalam proses pembelajaran tidak melalui inkuiri ilmiah melainkan didominasi

oleh kegiatan transfer informasi dan bersifat hafalan, sehingga hasil belajar IPA di

SMP menjadi rendah dan tidak bermakna.

Pembelajaran inkuiri menitikberatkan pada aktivitas dan pemberian

pengalaman belajar secara langsung pada siswa. Pembelajaran berbasis inkuiri ini

akan membawa dampak belajar perkembangan mental positif siswa, sebab melalui

(23)

6

menemukan sendiri yang dibutuhkan terutama dalam pembelajaran yang bersifat

abstrak. Setiap siswa harus menggunakan segenap kemampuannya dan bertindak

sebagai ilmuwan yang melakukan eksperimen dan mampu melakukan proses

mental berinkuiri yang digambarkan dengan terapan-terapan yang dilaluinya.

Siswa dapat terlibat aktif dalam pembelajaran inkuiri sehingga memperoleh

kesempatan untuk menanyakan, menjelaskan, merancang dan menguji hipotesis

yang dilakukan dapat melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa

untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analisis dan dapat

merumuskan sendiri penemuannya. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran

inkuiri diperlukan guru yang memiliki kompetensi profesional dan kompetensi

pedagogik yang dapat merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi

pembelajaran IPA berbasis inkuiri. Selain itu bahan ajar juga penting sebagai

sumber belajar dalam proses pembelajaran inkuiri sehingga diperlukan

pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis inkuiri.

Materi yang akan disampaikan dalam modul pembelajaran berbasis inkuiri

terbimbing adalah konsep tekanan. Materi ini tergolong mudah diterapkan dalam

kehidupan sehari-hari. Namun proses fisisnya harus dipelajari secara lebih

mendasar dan mendetail. Materi tekanan merupakan bahan ajar IPA kelas VIII

yang konsepnya abstrak dan komplek contohnya peristiwa benda terapung,

melayang dan tenggelam dalam zat cair maka dalam pembelajaran menggunakan

metode inkuiri. Pada materi tekanan ini diharapan materi tersebut dapat dikuasai

siswa dan dapat meningkatkan prestasi belajar.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(24)

Prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan melalui proses pembelajaran IPA,

sehingga perlu adanya fasilitas dan media pembelajaran menarik yang

meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan

di SMP N 2 Ngrampal, diketahui bahwa kebutuhan bahan ajar menjadi faktor

utama yang harus dipenuhi dalam pembelajaran. Selama ini bahan ajar yang

digunakan guru dan siswa hanya buku paket yang dipinjam dari sekolah dan LKS

yang hanya menguraikan sejumlah materi yang harus dikuasai siswa. Buku

tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tidak dapat membuat siswa

tertarik untuk mempelajari, sehingga materi yang seharusnya dapat dikuasai siswa

hanya sebagian yang dapat diserap. Hal ini menyebabkan prestasi belajar siswa

rendah.

Hasil observasi di SMP N 2 Ngrampal Kabupaten Sragen menunjukkan

belum adanya bahan ajar yang dapat mengembangkan keterampilan siswa secara

menyeluruh dan terintegrasi. Pemahaman siswa tentang konsep menjadi tidak

maksimal, sehingga menyebabkan kemampuan berpikir siswa rendah,

pengetahuan yang dimilikinya kurang mendalam dan berakibat pada hasil belajar

rendah.

SMP N 2 Ngrampal Kabupaten Sragen merupakan Sekolah Standar

Nasional, siswa dituntut untuk belajar lebih baik dari siswa-siswa di sekolah

reguler. Agar siswa dapat menguasai kompetensi dasar yang telah ditetapkan,

maka siswa perlu memiliki sikap kemandirian belajar yang tinggi. Namun

kenyataannya belum banyak dimiliki oleh siswa dan guru. Diantaranya yaitu

(25)

8

ketika pelajaran, saat siswa diberi topik untuk melaksanakan diskusi masih

banyak siswa yang pasif mengajukan atau menjawab pertanyaan. Ditinjau dari

segi guru, masih banyak guru mendominasi dalam proses pembelajaran, buku ajar

yang digunakan adalah buku paket sekolah dan LKS yang penggunaannya tidak

maksimal, guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran.

Hasil observasi tentang permasalahan dalam proses pembelajaran

mempengaruhi prestasi belajar siswa. Data hasil ulangan harian untuk mata

pelajaran IPA kelas VIII menunjukkan hasil yang masih rendah. Hal ini tampak

dari tingkat pencapaian ketuntasan materi pada KKM IPA yaitu 75, rata-rata

perkelas siswa yang tuntas kurang dari 60%.

Bahan ajar berupa modul dibutuhkan untuk membantu siswa

mengembangkan kemampuan menguasai konsep secara menyeluruh. Modul

sangat berpotensi menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi jumlah siswa yang

terlalu banyak di dalam kelas, karena modul dirancang untuk belajar secara

mandiri oleh peserta pembelajaran, modul dilengkapi dengan petunjuk untuk

belajar sendiri. sehingga peserta didik dapat belajar sendiri tanpa kehadiran

pengajar secara langsung.

Abdul Kodir (2011) modul merupakan sarana pembelajaran yan berisi

materi, metode, batasan batasan materi pembelajaran, petunjuk kegiatan belajar

latihan dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik

untuk mencapai kompetensi yang diharapkan dan dapat digunakan secara mandiri.

Dalam pengembangan modul ini yang dikembangkan adalah modul berbasis

inkuiri terbimbing yaitu modul yang dalam kegiatan intinya mengikuti

langkah-perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(26)

langkah pada sintaks inkuiri. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan

siswa dalam menemukan konsep melalui serangkaian kegiatan belajar. Selain itu

juga mengarahkan siswa berpikir menemukan konsep yang sedang dipelajari.

Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan pengembangan modul IPA

berbasis inkuiri terbimbing pada materi tekanan di SMP N 2 Ngrampal.

Diharapkan modul nantinya dapat membantu upaya pemerintah dalam

meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

B. Identifikasi masalah

Latar belakang masalah yang telah diuraikan dapat diidentifikasi beberapa

masalah sebagai berikut :

1. Upaya perbaikan mutu pendidikan meliputi konteks pembaruan

pendidikan diantaranya pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas

pembelajaran dan efektivitas metode pembelajaran.

2. Belajar IPA masih dianggap sulit, membosankan dan tidak menyenangkan

bagi para siswa.

3. Banyak siswa yang pasif dan sedikit yang mengajukan pertanyaan dalam

proses pembelajaran. Sehingga pembelajaran IPA masih banyak terpusat

pada guru.

4. Keterbatasan bahan ajar IPA menjadi salah satu penghambat pelaksanaan

pembelajaran.

5. Masih jarang ditemukan modul yang menjadikan inkuiri sebagai basis

pengembangan.

(27)

10

6. Sejak lahir manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri

pengetahuannya, rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekitarnya yang

tercermin pada langkah-langkah inkuiri.

7. Untuk menghadapi kurikulum 2013 yang akan diterapkan, SMP N 2

Ngrampal membutuhkan bahan ajar yang memiliki karakteristik yang

mencakup proses saintifik yang salah satunya tercermin pada metode

inkuiri sehingga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bahan ajar.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, dapat diketahui bahwa masalah dalam

penelitian ini sangat luas. Agar penelitian lebih terarah, maka permasalahan

dibatasi pada:

1. Pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis inkuiri terbimbing kelas

VIII jenjang SMP pada materi tekanan.

2. Modul pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing hanya dikembangkan dalam

pokok bahasan tekanan.

3. Pada tahap penyebaran dilakukan dengan cara sosialisasi modul melalui

pendistribusian dengan jumlah terbatas kepada guru.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(28)

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah

yang telah dipaparkan, maka di dapat rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana prosedur pengembangan modul pembelajaran IPA SMP berbasis

inkuiri terbimbing pada materi tekanan ?

2. Bagaimana kelayakan modul pembelajaran IPA SMP berbasis inkuiri

terbimbing pada materi tekanan?

3. Bagaimana efektivitas modul IPA berbasis inkuiri terbimbing pada materi

tekanan di SMP N 2 Ngrampal terhadap hasil belajar?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis prosedur pengembangan modul pembelajaran IPA SMP

berbasis inkuiri terbimbing pada materi tekanan.

2. Menganalisis kelayakan modul pembelajaran IPA SMP berbasis inkuiri

terbimbing pada materi tekanan.

3. Menganalisis efektivitas modul IPA berbasis inkuiri terbimbing pada materi

tekanan di SMP N 2 Ngrampal terhadap hasil belajar.

(29)

12

F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan

Produk yang akan dikembangkan memiliki spesifikasi sebagai berikut:

1. Produk berupa modul IPA berbasis inkuiri terbimbing pada materi tekanan

untuk SMP/MTs Kelas VIII.

2. Produk yang disusun merupakan modul berbasis inkuiri terbimbing dengan

karakteristik self instructional yang memiliki kelengkapan bahan ajar mandiri

berupa :

a. Halaman Judul.

b. Petunjuk penggunaan modul.

c. Rumusan tujuan pembelajaran.

d. Materi pembelajaran yang berisi pengetahuan, keterampilan, sikap yang

harus dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik.

e. Prosedur atau kegiatan pembelajaran yang harus diikuti oleh pengguna

untuk mempelajari modul berdasarkan kemampuan inkuiri ( identifikasi

masalah, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan

data, analisis data dan generalisasi).

f. Kilas balik yang membahas tentang contoh penyelesaian soal.

g. Tes pengetahuan yang berfungsi mengukur kemampuan siswa dalam

menguasai pembelajaran dalam modul.

h. Suplemen konsep yang memuat ringkasan materi untuk memantapkan

pemahaman materi pelajaran yang telah ditemukan dalam kegiatan

belajar.

i. Kunci jawaban dari soal dan latihan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(30)

j. Glosarium yang berisi pengertian terhadap istilah-istilah sulit.

3. Penjabaran materi dan petunjuk di dalam modul dapat merangsang siswa

untuk mau menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan ilmiah yang ada.

4. Modul berbentuk media cetak.

G. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

1. Menambah pengalaman siswa dalam mempelajari IPA.

2. Menambah ketersediaan modul IPA berbasis inkuiri pada materi tekanan

3. Memotivasi guru untuk mengikuti pengembangan bahan ajar IPA.

(31)

14

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Teori Belajar

a. Teori Belajar Burner

1) Pemikiran Belajar Penemuan Menurut Jerome Bruner

Jerome Bruner mengembangkan empat tema pendidikan (Jeri, 2014), tema

pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Hal ini perlu

karena dengan struktur pengetahuan dapat menolong siswa untuk melihat

fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang

lain.

Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. Bruner menyatakan

bahwa kesiapan terdiri atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih

sederhana dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai

keterampilan-keterampilan yang lebih tinggi.

Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan.

Dengan intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi

tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui

formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak. Tema keempat adalah

tentang motivasi atau keinginan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada

para guru untuk merangsang motivasi itu.

Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi kognitif yang memberi

dorongan agar pendidikan memberi perhatian pada pengembangan berfikir.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(32)

Penelitian yang sering dilakukan Bruner meliputi persepsi manusia, motivasi,

belajar dan berfikir. Dalam mempelajari manusia, menganggap manusia sebagai

pemroses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menandai perkembangan

kognitif manusia sebagai berikut (Asri Budiningsih, 2008: 40-41) :

a) Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam

menanggapi suatu rangsa

b) ngan.

c) Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan sistem

penyimpanan informasi secara realistik.

d) Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara

pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang

sesuatu yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan

dengan kepercayaan pada diri sendiri.

e) Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan

anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.

f) Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat

komunikasi antara manusia. Untuk memahami konsep-konsep yang ada

diperlukan bahasa. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu

konsep kepada orang lain.

g) Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan

beberapa alternatif secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat

memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi

(33)

16

2) Konsep Belajar penemuan Menurut Jerome Bruner

Belajar merupakan aktifitas yang berproses, tentu didalamnya

terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul

melalui tahap-tahap yang antara satu dan lainnya bertalian secara berurutan dan

fungsional. Dalam konsep belajar penemuan menurut Jerome Bruner ada tiga

tahap yang ditempuh oleh siswa (Muhibbin Syah, 2006:10), yaitu: (1) tahap

informasi (tahap penerimaan materi), (2) tahap transformasi (tahap pengubahan

materi) dan (3) tahap evaluasi (tahap penilaian materi). Dan konsep ini merupakan

konsep belajar yang menentang konsep belajar aliran behavioristik. Dari ketiga

tahapan konsep penemuan Jerome Bruner tersebut adalah saling berkaitan.

a) Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

Setiap pelajaran diperoleh sejumlah informasi, ada yang menambah

pengetahuan yang telah dimiliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya,

ada pula informasi yang bertentangan dengan yang telah diketahui sebelumnya.

b) Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)

Informasi itu harus dianalisis, diubah atau ditransformasi kebentuk yang

lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas.

c) Tahap evaluasi

Kemampuan pengetahuan yang diperoleh dinilai dan ditransformasikan itu

dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain. Proses belajar ketiga

tahapan ini selalu terdapat permasalahan yaitu banyaknya informasi yang

diperlukan agar dapat ditransformasi. Lama tiap tahapan tidak selalu sama. Hal ini

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(34)

antara lain juga tergantung pada hasil yang diharapkan, motivasi murid belajar,

minat, keinginan untuk mengetahui dan dorongan untuk menemukan sendiri.

Konsep ini juga menjelaskan bahwa prinsip pembelajaran harus memperhatikan

perubahan kondisi internal peserta didik yang terjadi selama pengalaman belajar

diberikan dikelas. Pengalaman yang diberikan dalam pembelajaran harus bersifat

penemuan yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh informasi dan

keterampilan baru dari pelajaran sebelumnya.

Konsep pembelajaran penemuan secara sadar mengembangkan proses

belajar siswa yang mengarah kepada aspek jiwa dan aspek raga. Sesuai dengan

pengertian belajar itu sendiri yaitu serangkaian kegiatan jiwa raga untuk

memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu

dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, efektif, dan

psikomotorik atau menurut Ki Hajar Dewantara adalah menyangkut cipta, rasa

dan karsa.

3) Proses Belajar Menurut Jerome Bruner

Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku

seseorang. Dengan teorinya yang disebut “free discovery learning”. Bruner

mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru

memberikan kesempatan kepada siwa untuk menemukan suatu konsep, teori,

aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam

kehidupannya. Siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran

umum untuk memahami konsep kejujuran, misalnya siswa pertama-tama tidak

(35)

18

tentang kejujuran. Contoh-contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefinisikan

kata “kejujuran”.

Bruner menganggap bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu

memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan

ketepatan pengetahuan. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa

kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan

sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan

menjadi tiga tahap (Muhibbin Syah, 2006:10). Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap

informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman

baru, (2) tahap transformasi yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis

pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin

bermanfaat untuk hal-hal yang lain, dan (3) evaluasi yaitu untuk mengetahui hasil

tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.

Proses belajar penemuan menurut Burner yang telah diuraikan di atas dapat

disimpulkan bahwa suatu proses yang memberikan kesempatan kepada siswa

untuk menemukan konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh

yang dijumpai dalam kehidupannya. Teori belajar Bruner dikenal dengan teori

Free Discovery learning.

4) Proses Mengajar Menurut Jerome Bruner

Bruner mengemukakan perlunya teori pembelajaran yang akan menjelaskan

asas-asas untuk merancang pembelajaran efektif di kelas. Menurut pandangan

Bruner bahwa teori belajar itu bersifat deskriptif dimaksudkan untuk memberikan

hasil, karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(36)

Sedangkan teori pembelajaran itu bersifat prespektif dimaksudkan untuk

mencapai tujuan dan tujuan utama teori pembelajaran itu sendiri adalah

menetapkan metode pembelajaran yang optimal, misalnya, teori belajar

memprediksikan berapa usia maksimum seorang anak untuk belajar penjumlahan,

sedangkan teori pembelajaran menguraikan cara-cara mengajarkan penjumlahan.

Guru mengajar menurut proses penemuan, tidak menyajikan bahan

pembelajaran dalam bentuk final tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari

dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan

masalah. Secara garis besar, prosedurnya sebagai berikut (Ahmadi, 2005: 22-23):

a) Stimulus : kegiatan belajar dimulai dengan memberikan pertanyaan yang

merangsang berfikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk

membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan

pemecahan masalah.

b) Problem Statement (mengidentifikasi masalah) : Memberikan kesempatan

kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang

relevan dengan bahan belajar kemudian memilih dan merumuskan dalam

bentuk hipotesa (jawaban sementara dari masalah tersebut).

c) Data Collection (pengumpulan data) : memberikan kesempatan kepada para

siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya

untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesa tersebut.

d) Data Processing (pengolahan data) : mengolah data yang telah diperoleh

siswa melalui kegiatan wawancara, observasi dan lain-lain. Kemudian data

tersebut ditafsirkan.

(37)

20

e) Verifikasi : mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan

benar dan tidaknya hipotesis yang diterapkan dan dihubungkan dengan hasil

dan processing.

f) Generalisasi : mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip

umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan

memperhatikan hasil verifikasi.

Selain itu Jerome Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam

menurut fungsinya (Nasution, 2000 : 15) sebagai berikut :

a) Alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”, yaitu menyajikan

bahan-bahan kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan

pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat dilakukan melalui

film, TV, rekaman suara dll.

b) Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip

suatu gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga

eksperimen atau demonstrasi, juga program yang memberikan

langkah-langkah untuk memahami suatu prinsip atau struktur pokok.

c) Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau

tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup,

untuk memberi pengertian tentang suatu ide atau gejala.

d) Alat automatisasi seperti “teaching machine” atau pelajaran berprogram, yang

menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi balikan

atau feedback tentang respon murid.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(38)

Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melaui tiga tahap

pembelajaran yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu : Enaktif,

Ikonik dan Simbolik (Budiningsih, 2008 : 40-41).

a) Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk

memahami lingkungan sekitar, artinya dalam memahami dunia sekitarnya

anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan,

sentuhan, pegangan, dan sebagainya.

b) Tahap Ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui

gambar-gambar atau visualisasi verbal. Maksudnya dalam memhami dunia

sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan dan perbandingan.

c) Tahap Simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau

gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam

berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar

melalui simbol bahasa, logika, matematika dan sebagainya. Komunikasinya

dilakukan dengan menggunakan banyak sistem simbol. Semakin matang

seseorang dalam proses berpikirnya, semakin dominan sistem simbolnya.

Meskipun begitu tidak berarti Bruner tidak lagi menggunakan sistem enaktif

dan ikonik. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah

satu bukti masih diperlukannnya sistem enaktif dan ikonik dalam proses

belajar.

5) Peran Guru dalam Teori Jerome Bruner

Dalam belajar penemuan, peranan guru dapat dinyatakan sebagai berikut:

(39)

22

a) Merencanakan pelajaran demikian sehingga pelajaran itu terpusat pada

masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para siswa.

b) Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa

untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat

mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan,

misalnya dengan penggunaan fakta-fakta yang berlawanan. Guru hendaknya

mulai dengan sesuatu yang sudah dikenal oleh siswa-siswa. Kemudian guru

mengemukakan sesuatu yang berlawanan. Dengan demikian terjadi konflik

dengan pengalaman siswa. Akibatnya timbul masalah. Dalam keadaan yang

ideal, hal yang berlawanan itu menimbulkan suatu kesangsian yang

merangsang para siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun

hipotesis-hipotesis, dan mencoba menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang

mendasari masalah itu.

c) Selain hal-hal yang tersebut di atas, guru juga harus memperhatikan tiga cara

penyajian yang telah dibahas terdahulu. Cara-cara penyajian itu ialah cara

enaktif, cara ikonik, dan cara simbolik. Contoh cara penyajian ini telah

diberikan dalam uraian terdahulu. Untuk menjamin keberhasilan belajar, guru

hendaknya jangan menggunakan cara penyajian yang tidak sesuai dengan

tingkat kognitif siswa. Disarankan agar guru mengikuti aturan penyajian dari

enaktif, ikonik, lalu simbolik. Perkembangan intelektual diasumsikan

mengikuti urutan enaktif, ikonik, dan simbolik, jadi demikian pula harapan

tentang urutan pengajaran.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(40)

d) Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru

hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya

jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan

dipelajari, tetapi ia hendaknya rnemberikan saran-saran yang diperlukan.

Sebagai seorang tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu

yang tepat. Umpan balik sebagai perbaikan hendaknya diberikan secara

maksimal sehingga siswa tidak tetap tergantung pada pertolongan guru.

Akhirnya siswa harus melakukan sendiri fungsi tutor itu.

e) Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan.

Seperti diketahui, tujuan-tujuan tidak dapat dirumuskan secara mendetail, dan

tujuan-tujuan itu tidak diminta sama untuk berbagai siswa. Lagi pula tujuan

dan proses tidak selalu seiring. Secara garis besar, tujuan belajar penemuan

ialah mempelajari generalisasi-generalisasi dengan menemukan sendiri

generalisasi-generalisasi itu.

Pènilaian basil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang

prinsip-prinsip dasar mengenai suatu bidang studi, dan kemampuan siswa untuk

menerapkan prinsip-prinsip itu pada situasi baru. Untuk maksud ini bentuk tes

dapat berupa tes objektif atau tes essai.

Peran guru menurut Bruner, guru biasa menjadi tutor, fasilitator, motivator

dan evaluator. Pada belajar penemuan, guru tidak begitu mengendalikan proses

pembelajaran. Guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada penemuan dan

pemecahan masalah. Penilaian hasil belajar meliputi tentang konsep dasar dan

penerapannya pada situasi yang baru.

(41)

24

6) Peran Teman dan Siswa

Peran teman dan siswa dianggap penting, sebagaimana diketahui bahwa

teori Bruner ini lebih menekankan agar siswa dalam proses belajar-mengajarnya

lebih berperan aktif, dan siswa diberikan kesempatan untuk menemukan suatu

konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai

dalam kehidupannya. Oleh karena itu dalam belajar guru perlu mengusahakan

agar setiap siswa berpartisipasi aktif, minatnya perlu ditingkatkan, kemudian perlu

dibimbing untuk mencapai tujuan tertentu (Slameto, 2003:12).

Peran teman dalam proses belajar “Discovery Learning” cukup diperlukan,

mereka bisa saling bertukar informasi dari yang mereka pelajari dan temukan

sendiri, selain itu teori ini bisa disajikan dalam bentuk diskusi kelas, demonstrasi,

kegiatan laboratorium, kertas kerja siswa, dan evaluasi-evaluasi (Ahmadi,

2005:78).

7) Kelebihan dan Kelemahan Teori Jerome Bruner

Kelebihan dari Teori Belajar Penemuan (Free Dicovery Learning) adalah :

(1) Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji kebermaknaan belajar. (2)

Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tertinggal lama dan mudah diingat. (3)

Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang

diinginkan dalam belajar agar siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang

diterima. (4) Transfer dapat ditingkatkan di mana generalisasi telah ditemukan

sendiri oleh siswa daripada disajikan dalam bentuk jadi. (5) Penggunaan belajar

penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi belajar.

(6) Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(42)

Kelemahan dari Teori Belajar Penemuan (Free Discovery Learning) adalah:

(1) Belajar Penemuan ini memerlukan kecerdasan anak yang tinggi. Bila kurang

cerdas, hasilnya kurang efektif. (2) Teori belajar seperti ini memakan waktu cukup

lama dan kalau kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menyebabkan

kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari (Ahmadi, 2005:79).

b. Teori Belajar Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu

tindakan mencipta sesuatu makna dari yang dipelajari. Beda dengan aliran

behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat

mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar

sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan

memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamannya.

Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, segala sesuatu

yang dilalui dalam kehidupan selama ini merupakan himpunan dan pembinaan

pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai

pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

Teori kontruktivisme, satu prinsip yang mendasar adalah guru tidak hanya

memberikan pengetahuan kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif

membangun sendiri pengetahuan di dalam memorinya. Guru dapat memberikan

kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk

menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi

sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru

(43)

26

pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang mereka tulis

dengan bahasa dan kata-kata mereka sendiri. Dari uraian tersebut, makna belajar

menurut konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif, peserta didik membina

sendiri pengetahuannya, mencari arti dari yang mereka pelajari dan merupakan

proses menyelesaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang

telah ada dan dimilikinya. Dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut peserta

didik diharuskan mempunyai dasar membuat hipotesis dan mempunyai

kemampuan untuk mengujinya, menyelesaikan persoalan, mencari jawaban dari

persoalan yang ditemuinya, mengadakan renungan, mengekspresikan ide dan

gagasan sehingga diperoleh konstruksi yang baru (Trianto,2007:13).

c. Teori Belajar Piaget

Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159)

menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk

menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran

guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator

atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih

mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa

ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi

dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Proses mengkonstruksi,

sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut:

1) Skemata

Sekumpulan konsep yang digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan

disebut dengan skemata. Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(44)

kemudian dinamakan skema (schema). Skema terbentuk karena pengalaman.

Misalnya, anak senang bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama

berbulu putih. Berkat keseringannya, ia dapat menangkap perbedaan keduanya,

yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci berkaki dua. Pada akhirnya, berkat

pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang

berkaki empat dan binatang berkaki dua. Semakin dewasa anak, maka semakin

sempunalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan skema dilakukan

melalui proses asimilasi dan akomodasi.

2) Asimilasi

Asimilasi adalah proses kognitif seseorang mengintegrasikan persepsi,

konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam

pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan

dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah

ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan

perubahan skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah

satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan

lingkungan baru pengertian orang itu berkembang.

3) Akomodasi

Pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang

baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi

sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian

orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema

(45)

28

baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang

telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.

4) Keseimbangan

Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan

diskuilibrasi adalah keadaan tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan

akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar

dengan struktur dalamnya.

d. Teori Belajar Vygotsky

Karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama. Pertama, perkembangan

intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari konteks historis dan budaya

pengalaman anak. Kedua, perkembangan bergantung pada sistem-sistem isyarat

mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang

berfikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah, dengan demikian

perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem komunikasi budaya dan

belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk menyesuaikan proses-proses

berfikir diri sendiri.

Teori Vygotsky terdapat dua implikasi utama dalam pendidikan. Pertama,

dikehendakinya setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar

kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa dapat

berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan

strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan

terdekat masing-masing. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran

menekankan perancahan (scaffolding). Dengan scaffolding, semakin lama siswa

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(46)

semakin dapat mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri

(Trianto, 2007:27).

Uraian teori belajar diatas yang sejalan dengan penelitian dan

pengembangan ini adalah toeri belajar Burner dan Piaget, bahwa penekanan teori

tersebut pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari

realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator atau

moderator. Hal itu tercermin dalam langkah-langkah inkuiri yang digunakan

sebagai basis metode pembelajaran pada modul yang akan dikembangkan.

2. Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu system atau proses membelajarkan subjek didik

atau pembelajaran yang dirancang atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi

secara sistematis agar subjek didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara

efektif dan efisien. Dengan demikian, jika pembelajaran dipandang sebagai suatu

sistem, berarti pembelajaran terdiri dari atas sejumlah komponen yang terorganisir

antara tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode

pembelajaran, media pembelajaran, pengorganisasian kelas, evaluasi

pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran. Sebaliknya jika pembelajaran

dipandang sebagai proses maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau

kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar (Najib Sulhan, 2010 :7).

Proses pembelajaran dimulai dari merencanakan program pengajaran

tahunan, semesteran, dan penyusunan persiapan mengajar antara lain berupa alat

peraga dan alat-alat evaluasi. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, struktur dan

(47)

30

pendekatan atau strategi dan metode-metode pembelajaran yang telah dipilih dan

dirancang penerapannya (Najib Sulhan, 2010:7).

3. Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

a. Pembelajaran inkuiri

Inkuiri berasal dari bahasa inggris ‘inquiry’ yang artinya pertanyaan atau

penyelidikan. Dalam pendekatan ini siswa berperan aktif dalam proses

pembelajaran dengan bebas memilih atau mengatur objek belajarnya, bebas

berkreasi melakukan penyelidikan sendiri, kemudian menarik kesimpulan dari

permasalahan yang ada namun jika diperlukan bisa berdiskusi dengan guru untuk

memahami permasalahan. Petersen (2006 : 21) mengatakan bahwa menyajikan

sebuah penelitian berbasis model pembelajaran, siswa membangun pengetahuan

sendiri, siswa bebas memilih materi pembelajaran selama investigasi pada habitat

halaman sekolah, dan kontak dengan teman sebaya selama penyelidikan,

mendiskusikan temuan-temuan dan memanfaatkan sumber-sumber belajar untuk

mempertinggi pembelajaran.

Pendekatan inkuiri berangkat dari pandangan bahwa siswa sebagai subjek

belajar yang mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal

sesuai kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran harus dipandang

sebagai stimulus yang menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar.

Peranan guru lebih banyak menempatkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin

belajar dan fasilitator belajar. Dengan demikian siswa lebih banyak melakuan

sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan

bimbingan guru. Tentang inkuiri ini Dahlan dalam Sujarwo (2002 : 130)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(48)

menyebutkan inkuiri adalah stategi pembelajaran yang berpusat pada siswa

(student centered learning) yang lebih banya pengembangan kemampuan siswa

untuk menentukan dan mereflesikan sifat kehidupan sosial. Inkuiri memberikan

perhatian dalam membantu siswa menyelidiki teka-teki secara bebas yang

dilakukan secara teratur. Siswa mencari jawab mengapa suatu peristiwa terjadi,

mengumpulkan data dan mengolah data dan memecahkan persoalan secara logis.

b. Proses Inkuiri Terbimbing

Kindsvatter, dkk dalam Paul Suparno (2007:68) pendekatan inkuiri dapat

dilakukan dalam dua bentuk pendekatan yakni inkuiri terbuka dan inkuiri

terbimbing (terarah). Sedangkan Margono dalam Sujarwo (2002 : 17) mengatakan

dengan memperhatikan besar kecilnya informasi dari guru kepada siswa, inkuiri

dibedakan menjadi inkuiri terpimpin, inkuiri bebas dan inkuiri bebas yang

dimodifikasi.

Pendekatan inkuiri terbimbing merupakan pendekatan inkuiri yang

dilaksanakan dengan bimbingan guru. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk

siswa yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Prosesnya

guru memberikan bimbingan atau petunjuk yang cukup kepada siswa. Petunjuk

itu berupa pertanyaan-pertanyaaan yang sifatnya membimbing. Artinya siswa

dihadapkan pada permasalahan yang belum diketahui jawabannya. Untuk

mendapatkan jawaban, siswa melakukan penyelidikan, analisis dan percobaan.

Dengan demikian metode ini menitikberatkan pemecahan masalah yang dilakukan

oleh siswa sendiri. Guru hanya berfungsi sebagai fasilitator, membantu siswa jika

diperlukan.

(49)

32

Inkuiri terbimbing terdiri dari : (a) pernyataan masalah atau persoalan.

Masalah untuk masing-masing kegiatan dapat dinyatakan sebagai pertanyaan atau

pertanyaan biasa; (b) hipotesis, siswa diminta menyusun hipotesis atau jawaban

sementara dari permasalahan yang dimunculkan; (c) pengumpulan data, siswa

diminta melakukan kegiatan yang telah dirancang guru, mengamati dan mencatat

yang terjadi; (d) analisa data, siswa diminta menganalisa data yang terkumpul; (e)

kesimpulan, siswa membuat kesimpulan dengan bimbingan guru.

Penggunaan model inkuiri terbimbing dalam pengembangan modul ini,

disebabkan peserta didik merupakan siswa SMP sehingga dalam proses

pembelajaran masih memerlukan bimbingan dari guru sebagai fasilitator. Gulo

(2002) menyatakan bahwa inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan

intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional

dan keterampilan inkuiri merupakan suatu proses yang bermula dari merumuskan

masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dan

membuat kesimpulan.

c. Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri

Gulo (2002) menyatakan bahwa kemampuan yang diperlukan untuk

melaksanakan pembelajaran inkuiri dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Mengajukan permasalahan

Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan.

Untuk meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut

dituliskan kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(50)

2) Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan

yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahkan proses ini, guru

menanyakan kepada siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari

semua gagasan yang ada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan

permasalahan yang diberikan.

3) Mengumpulkan data

Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang

dihasilkan dapat berupa tabel, matrik atau grafik.

4) Analisis data

Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan

menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji

hipotesis adalah pemikiran ‘benar’ atau ‘salah’. Setelah memperoleh

kesimpulan dari data percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah

dirumuskan. Bila ternyata hipotesis itu salah atau ditolak, siswa dapat

menjelaskan sesuai dengan proses inkuiri yang telah dilakukan.

5) Membuat kesimpulan

Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan

sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa. Lima langkah pada inkuiri

ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar

di kelas. Para siswa akan berperan aktif melatih keberanian. Berkomunikasi

dan berusaha mendapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan

(51)

34

sehingga pembelajaran dapat berjalan lancar. Skenario pembelajaran inkuiri

menurut Gulo (2002: 88-89) dapat dilihat pada Tabel 2.1 Skenario

Pembelajaran Inkuiri.

Tabel 2.1 Skenario Pembelajaran Inkuiri

Kegiatan siswa Sintak aliran kegiatan tentang konten dan prosedur kerja

8.1 menulis laporan kelompok antarsiswa

Laporan kelompok

Memberi bantuan Saling membantu

9.1 Menanggapi dan bertanya

Diskusi kelas Memantau,membant u, mengelola kelas

Memimpin diskusi

10. Tanya jawab, catat Rangkuman Sintesis menyimpulkan

Memimpin diskusi

11. Memberi saran Tindakan lanjut

Gambar

Tabel 2.2 Fase dalam Menerapkan Pembelajaran Inkuiri
gambar dibawah terlihat bahwa informasi yang diperoleh melalui berbagai
Gambar 2.4 gaya eksternal yang bekerja pada suatu bagian cairan berbentuk
Gambar 2.5 (a) sebuah benda yang sepenuhnya tenggelam yang massa
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis jawaban siswa, angket, wawancara, observasi bahwa kesulitan dalam kemampuan spasial merupakan kesulitan paling banyak yang dilakukan siswa yang

Maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil penelitian, siswa SMP N 2 Petarukan mengalami kesulitan belajar dalam memahami pokok bahasan gerak lurus dan metode

Wawancara dan observasi yang peneliti lakukan terhadap anak tersebut dapat disimpulkan, anak mengalami berbagai kesulitan dalam hal perkembangan keterampilan motorik

Data proses pengembangan dihimpun menggunakan angket validasi ahli desain dan ahli materi, angket respon guru dan siswa serta data lembar observasi karakter siswa berupa sikap

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA SMP N 11 Semarang diketahui bahwa aktivitas siswa dalam proses pembelajaran rendah, sehingga siswa mengalami

Berdasarkan data dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab terdahulu, baik hasil wawancara, hasil observasi, maupun hasil angket tentang kinerja guru PKn SMP

Wawancara dan observasi yang peneliti lakukan terhadap anak tersebut dapat disimpulkan, anak mengalami berbagai kesulitan dalam hal perkembangan keterampilan motorik

Berdasarkan hasil pengumpulan data dari studi dokumen lembar soal, wawancara, dan angket menunjukkan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan masalah operasi