PERBEDAAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SETELAH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SEARCH SOLVE CREATE AND SHARE (SSCS) DAN PREDICT OBSERVE EXPLAIN (POE) DENGAN METODE REFLECTIVE
THINKINGDALAM PEMBELAJARAN FISIKA
Vinsensius Lantik1, Hartoyo Yudhawardana2, Nike Gresy Fangidae3 Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Nusa Cendana, Kupang-NTT e-mail:[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen 1 dengan desain penelitian Control Group Pretest- postest Design yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kupang Timur. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create And Share (SCSS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking, serta untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create And Share (SCSS) dengan metode Reflective Thinking lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE)dengan metode Reflective Thinking.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Kupang Timur, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling yaitu siswa kelas X MIPA2 yang berjumlah 36 siswa sebagai kelas eksperimen yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create And Share (SCSS) dengan metode Reflective Thinking dan X MIPA4 yang berjumlah 35 siswa sebagai kelas eksperimen 2 yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking. Kemampuan berpikir kritis dalam penelitian ini diperoleh dari instrumen tes soal berpikir kritis. Indikator kemampuan berpikir kritis yang diteliti meliputi merumuskan masalah, melakukan deduksi, melakukan induksi, melakukan evaluasi dan menarik kesimpulan.Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji-t diperoleh bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create And Share (SCSS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking, yang dibuktikan dengan hasil thitung= 3,531 >ttabel = 1,66724 dan kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode Reflective Thinking lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective Thinking, yang dibuktikan dengan hasil thitung= 3,531 >ttabel= 1,66724.
Kata kunci: Model SCSS,POE, Reflective Thinking, dan Kemampuan Berpikir Kritis.
PENDAHULUAN
Perkembangan Sains dan Teknologi pada era digital ini memberikan tantangan baru di dunia pendidikan. Pendidikan era digital
menuntut setiap individu untuk memiliki kecakapanatau kemampuan baik hard skill maupun soft skill yang diharapkan membantu siswa agar dapat terjun ke dunia pekerjaan dan Jurnal Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam
siap berkompetisi dengannegara lain.Laimenegaskan bahwa salah satu kecakapan hidup yang harus dimiliki siswa pada era ini adalah kecakapan berpikir kritis (Yanuarta,dkk 2016:268).Badan Penelitian dan Pengembangan KementerianPendidikan dan Kebudayaan (Litbang Kemdikbud) pada tahun 2013merumuskan bahwa paradigma pembelajaran era digital yaitu pembelajarandiarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagaisumber, merumuskan masalah, berpikir analitis dan kritis dalampengambilan keputusan, serta menekankan pentingnya kerjasama danberkolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Yuliarini, 2016:1).
Berpikir Kritis menurut Dede Rosyada ialahkemampuan berpikir lebih tinggi dari sekedar mengetahui memahami, mengaplikasi menganalisis, mensintesis, akan tetapikemampuan tersebut bisa dilatih dan dikembangkan, kemudiandiintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran yang memungkinkanuntuk pengembangan berpikir tersebut(Hudda, 2016:4). Oleh karena itu kemampuan berpikir kritis perlu diterapkan dalam berbagai mata pelajaran, salah satunya adalah fisika. Mata pelajaran fisika merupakan studi tentang mengenal alam dan perubahannya secara sistematis. Proses pembelajaran fisika menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Proses pembelajaran untuk memberi pengalaman langsung di kelas salah satunya adalah dengan metode eksperimen 1.
Penyelenggaraan pendidikan era digital lebih membuat peserta didik menjadi pembelajar yang aktif bukan pembelajar yang pasif. Hasil identifikasi Depdiknas terhadap kondisi obyektif pembelajaran di sekolah saat ini menunjukkan permasalahan antara lain: (1) banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi pelajaran yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya tidak memahaminya; (2) sebagian besar dari siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana
pengetahuantersebut akan
dipergunakan/dimanfaatkan; serta (3) siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan yaitu dengan menggunakan sesuatu yang abstrak dengan metode ceramah (Taufik, dkk., 2010:32). Padahal di sisi lain, siswa sangat
membutuhkan pemahaman konsep yang berhubungan dengan aktivitas kehidupan di masyarakat di mana mereka akan menjalani kehidupan dan bekerja.
Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kurikulum, penggunaan model, strategi dan metode pembelajaran serta pembelajaran fisika yang berlaku di sekolah- sekolah harus terus dikaji dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.
Namunseringkali upaya tersebut belum menunjukkan dampak perbaikan yang signifikan. Menurut Jeremy, Inovasi model, strategi dan metode pembelajaran fisika yang dilakukan guru di kelas biasanya kurang berhasil karena dalam implementasinya kurang memperhatikan karakteristik siswa, termasuk perkembangan kemampuan berpikirnya(Taufik, dkk., 2010:32).
Permasalahan-permasalahan yang diuraikan memperlihatkan danmengindikasikan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa masih rendahkarena guru pun ketika di kelas kurang bisa mengembangkan kemampuanberpikir kritis siswa. Oleh karena itu alternatif untuk mengatasi masalah yang ada salah satunya adalah dengan penggunaan model pembelajaran yang dapat mengembangkan atau mengikutsertakan siswa aktif dalam setiap proses pembelajaran. Model pembelajaran yang diterapkan adalah Search Solve Create and Share (SSCS) dan Predict Observe Explain (POE) yang akan dipadukan dengan metode Reflective Thinking sehingga penerapan kedua model tersebut dapat berjalan seefektif mungkin.
Model pembelajaran Search Solve Create Share (SSCS) adalah modelyang menggunakan pendekatan pemecahan masalah untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Model SSCS adalah model yang berpusat pada siswa karena melibatkan siswa pada setiap tahapnya. Empat fase penyelesaian masalah yaitu siswa menyelidiki dan mendefinisikanmasalah (search), siswa merencanakan dan melaksanakan pemecahan masalah (solve), siswa memformulasikan hasil dan menyusun penyajian hasil (create), dan siswa mengkomunikasikan penyelesaianyang diperoleh (share). Menurut Pizzini, dengan menggunakan model SSCS siswaakan menjadi lebih aktif dalam penerapan isi, konsep dan keterampilan berpikirtingkat tinggi (Syaputra, 2014:9).
Model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dimana siswa dihadapkan pada suatu permasalahan sebagai dasar dalam suatu pembelajaran. Menurut Indrawanti dan wanwan, pada model ini guru dapat menggali pemahaman siswa dengancara memintamereka untuk melaksanakan tiga tugas utama, yaitu memprediksi (predict), melakukanpengamatan (observe) dan memberikan penjelasan(explain) (Setyarini, 2013:7). Tahapan-tahapan yang terdapat pada model pembelajaranPOE diharapkan dapat mendukung siswa untuk mempunyai kemampuan berpikir kritis dan menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran karena setiap tahapan pada model pembelajaran POE melibatkan siswa secara langsung.
Sadirman mengemukakan metode Reflective Thinkingadalah metode pembelajaran yang memberikan siswa kesempatan untuk mendapat pengalaman langsung dalam menemukan pemahaman konsepnya sendiri dari permasalahan yang ada dimana siswa menganalisis dan mensintesis pemecahan masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah (Fitri, 2015:2).
Kedua model pembelajaran di atas yang masing dipadukan dengan metode Reflective Thinking diharapkan mampu mengembangkan bahkan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Indikator penilaian kemampuan berpikir kritis dalam penelitian ini, adalah kriteria berpikir kritis hasil modifikasi dari Ennis (Suparman, 2018:21) yaitu: (1) Merumuskan masalah yaitu kemampuan siswa memformulasikan bentuk pertanyaan yang memberi arah untuk memperoleh jawaban; (2) Melakukan deduksi yaitu kemampuan mendeduksi secara logis, melakukan interpretasi terhadap pertanyaan dengan menghubung-hubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya; (3) Melakukan induksi yaitu kemampuan melakukan investigasi atau pengumpulan data, membuat generalisasi dari data, membuat tabel dan grafik; (4) Melakukan evaluasi yaitu kemampuan siswa untuk mengevaluasi hasil pengamatannya berdasarkan fakta dan berdasar prinsip atau pedoman, dan memberikan alternatif penyelesaian masalah; (5) Menarik kesimpulan yaitu kemampuan siswa untuk menarik kesimpulan dari hasil pengamatannya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.
Berdasarkan pada uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan upaya peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menambahkan metode Reflective Thinking diantara kedua model tersebut, penulis menetapkan judul penelitian sebagai berikut:“Penerapan Model Pembelajaran SearchSolveCreateAnd Share (SSCS) Dan PredictObserve Explain (POE) Dengan Metode Reflective Thinking Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa”.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create And Share (SCSS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking, serta untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create And Share (SCSS) dengan metode Reflective Thinking lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain (POE)dengan metode Reflective Thinking.
Hipotesis Penelitian 1. Hipotesis pertama:
H0:1=2:Tidak terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar
menggunakan model
pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
Ha:12:Terdapat perbedaan kemampuanberpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar
menggunakan model
pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
2. Hipotesis Kedua:
H0:1
2: Kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar menggunakanmodelpembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking lebih rendah atau sama dengan siswa yang diajar
menggunakan model
pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
Ha:1>2: Kemampuanberpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking lebih tinggi dari siswa yang diajar
menggunakan model
pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Kupang Timur pada bulan Januari tahun ajaran 2018/2019. Populasi dari penelitian ini adalah semua siswa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Kupang Timur tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini akan mengambil dua dari beberapa kelas sebagai sampel dengan menggunakan teknik pengambilan Simple Random Sampling. Jenis desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Randomised Group Pretest-Postest Design.
Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes tertulis dengan bentuk soal-soal uraian pada materi hukum newton dan penerapannya.
Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes kemampuan awal dan tes akhir kemampuan berpikir kritis siswa yang diperoleh dari hasil tes analisis dengan bentuk tes uraian (essay).Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa data kuantitatif sehingga harus dianalisis dengan menggunakan persamaan statistik.
Uji statistik yang digunakan adalah uji t, uji homogenitas dan uji normalitas. Perhitungan uji normalitas menggunakan sofware SPSS v.23 adalah dengan menggunakan Uji Shapiro- Wilk. Dasar pengambilan keputusan adalah jika nilai signifikansi atau p-value (Sig.) > 0,05
maka sebaran data berdistribusi normal, dan jika nilai signifikansi atau p-value (Sig.) < 0,05 maka sebaran data berdistribusi tidak normal.
Perhitungan uji homogenitas menggunakan sofware SPSS v.23 adalah dengan menggunakan Uji Levene Statistic.
Dasar pengambilan keputusan adalah jika signifikansi atau p-value (Sig.) > 0,05 maka variansi populasi homogen, dan jika nilai signifikansi atau p-value (Sig.) < 0,05 maka variansi populasi tidak homogen.
Perhitungan uji t menggunakan sofware SPSS v.23 adalah dengan menggunakan Uji Independent Sample T-Test.
Uji Kemampuan Awal Sampel
Uji kemampuan awal sampel dilakukan untuk mengetahui kesamaan kemampuan awal (pre-test) siswa dari kedua kelompok sampel.
Selain itu, uji ini jugs disyaratkan apabila teknik sampling penelitian mengikuti teknik simple random sampling. Untuk menguji kemampuan awal sampel digunakan uji-t dua sampel independenyaitu: uji-t dua pihak yang dianalisis SPSS v.23.
1. Untuk Hipotesis Pertama
H0:1=2:Tidak terdapat perbedaan kemampuan awal berpikir kritis yang signifikan antara siswa yang diajar mengunakan model pembelajaran Serarch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranPredict Observe Explain(POE)dengan metode Reflective Thinking.
2. Untuk Hipotesis Kedua
Ha:12:Terdapat perbedaan kemampuan awalberpikir kritisyang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran pembelajaran Serarch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranPredict Observe Explain (POE)dengan metode Reflective Thinking.
Adapun dasar pengambilan keputusan uji-t dua pihak adalah sebagai berikut:
a. Berdasarkan perbandingan nilai signifikansi (p-value) (Sig. 2-tailed):
Jika nilai signifikansi (p-value) >
0,05 maka H0diterima
Jika nilai signifikansi (p-value) <
0,05 maka H0ditolak
b. Berdasarkan perbandingan antara thitungdan ttabel:
Jika –ttabel< thitung< ttabel, maka Hoditerima, dimana ttabeldiperoleh dari daftar distribusi t dengan dk = (n1+ n2– 2) dan signifikansi (0,05). Untuk harga-harga t lainnya Ho
ditolak.
Uji hipotesis Penelitian
Uji hipotesis penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan atau hubungan antara perlakuan yang digunakan dalam suatu penelitian. Hipotesis pertama duji dengan menggunakan uji-t dua pihak, dan hipotesis kedua diuji menggunakan uji t satu pihak yaitu uji t pihak kanan. Semua uji tersebut dianalisis menggunakan SPPS v.23.
1. Uji hipotesis pertama (Uji Dua Pihak) Uji hipotesis pertama dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking. Adapun hipotesis pertama antara lain:
H0:1=2:Tidak terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar
menggunakan model
pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
Ha:12:Terdapat perbedaan kemampuanberpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar
menggunakan model
pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
Adapun dasar pengambilan keputusan uji-t dua pihak antara lain sebagai berikut:
a. Berdasarkan perpandingan nilai signifikansi (p-value) (Sig. 2-tailed):
Jika nilai signifikansi (p-value) > 0,05 maka Hoditerima
Jika nilai signifikansi (p-value) < 0,05 maka Hoditolak
b. Berdasarkan perbandingan antara thitungdan ttabel:
Jika –ttabel< thitung< ttabel, maka Hoditerima, dimana ttabeldiperoleh dari daftar distribusi t dengan dk = (n1+ n2– 2) dan signifikansi (0,05). Untuk harga-harga t lainnya Ho
ditolak.
2. Uji hipotesis kedua
Uji hipotesis kedua dilakukan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang diajarmenggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.Hipotesis kedua diuji dengan menggunakan uji pihak kanan. Syarat uji-t adalah sampel penelitian berdistribusi normal.
H0:1
2: Kemampuan berpikir kritis siswa yang diajarmenggunakan model
pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking lebih rendah atau sama dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
Ha:1>2: Kemampuanberpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking lebih tinggi dari siswa yang diajar menggunakan
model pembelajaran
PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
Adapun dasar pengambilan keputusan uji-t pihak kanan antara lain sebagai berikut:
a. Berdasarkan perbandingan nilai signifikasi satu pihak (p-value) (Sig.1-tailed):
Untuk nilai signifikansi satu pihak atau p- value dapat diperoleh dengan membagi nilai signifikansi dua pihak dengan dua (2). Dan dasar pengambilan keputusannya sebagai berikut:
Jika nilai signifikansi (p-value) > 0,05 maka H0diterima
Jika nilai signifikansi (p-value) < 0,05 maka H0ditolak
b. Berdasarkan perbandingan antara thitungdan ttabel:
Jika thitung< ttabel, maka Hoditerima dimana ttabel diperoleh dari daftar distribusi t dengan dk = (n1+n2 – 2) dan signifikansi (0,05). Untuk harga t lainnya Hoditolak.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kupang Timur tepatnya pada kelas X MIPA2 dan X MIPA4 pada bulan januari 2019. Kelas Eksperimen 1 pada penelitian ini adalah kelas X MIPA2yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dan kelas eksperimen 2 adalah X MIPA4 yang diajar menggunakan model Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking. Jumlah Siswa di kelas eksperimen 1 36 orang dan di kelas eksperimen 2 35 orang. Penelitian ini menggunakan materi hukum newton dan penerapannya. Penelitian ini dilakukan selama tiga pertemuan untuk masing-masing kelas.
Adapun tahap persiapan data sebelum dilakukan penelitian yaitu menyiapkan soal pre-test dan post-test yang telah divalidasi dengan jumlah butir soal yang digunakan adalah 5 butir soal uraian. Untuk tingkat kesukarannya, rata-rata soal yang diberikan sedang yang disesuaikan dengan taraf taksonomi bloom yaitu C4. Hal ini berkaitan dengan variabel terikat pada penelitian ini yaitu kemampuan berpikir kritis siswa sehingga soal yang diberikan tertuju pada taraf menganalisis.
Data yang dikumpulkan dari penelitian ini terdiri dari; data skor kemampuan awal siswa yang belum diberi perlakuan melalui pre test dan data skor kemampuan akhir berpikir kritis yang sudah diberi perlakuan melalui post test.
1. Hasil Tes Kemampuan berpikir kritis Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa terhadap tes kemampuan berpikir kritis yang telah diberikan. Indikator kemampuan berpikir kritis
yang diukur pada tes ini meliputi merumuskan masalah, melakukan induksi, melakukan deduksi, melakukan evaluasi, dan menarik kesimpulan. Tes yang digunakan berupa tes uraian yang diberikan pada saat pretest dan posttest. Berdasarkan hasil test kemampuan berpikir kritis untuk kegiatan pre test, diperoleh hasil bahwa untuk kelas eksperimen 1 memiliki rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 23,75 dengan rentangan data 7,00- 44,00 dan simpangan baku 9,94, sedangkan kelas eksperimen 2 memiliki rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 22,40 dengan rentangan data 6,00-43,00 dan simpangan baku 9,97. Adapun secara jelas perbandingan nilai kemampuan berpikir kritis siswa dari kelas eksperimen 1 yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dengan kelas eksperimen 2 yang diajar menggunakan model Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Diagram Rata-rata kemampuan awal sampel
Selanjutnya setelah kedua sampel diberikan perlakuan berupa kegiatan pembelajaran data test kemampuan berpikir kritis siswa akhir dikumpulkan lagi melalui kegiatan post test. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan melalui analisis data, maka diperoleh hasil bahwa setelah mendapatkan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking, pada kelas eksperimen 1 diperoleh rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 55,00 dengan rentangan data 38,00-75,00 dan simpangan baku 9,99, sedangkan kelas eksperimen 2 setelah mendapatkan kegiatan pembelajaran
23.75 22.4
10 15 20 25 30 35 40 45 50
Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2
menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking, memiliki rata-rata sebesar 46,71 dengan rentangan 31,00-68,00 dan simpangan baku 9,77. Adapun, secara jelas perbandingan nilai kemampuan akhir berpikir kritis dari kelas eksperimen 1 yang diajar menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dan kelas eksperimen 2 yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Diagram Rata-Rata kemampuan akhir sampel
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh nilai presentasi dari
hasil tes kemampuan berpikir kritis fisika siswa untuk materi Hukum newton dan penerapannya, seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Test Kemampuan Berpikir Kritis Fisika
Kelas Tabel rata-rata nilai (%)
Kemamp uan Merumus
kan Masalah
Kemampua n Melakukan
Induksi
Kemampuan Melakukan
Deduksi
Kemamp uan Mengeval
usi
Kemampuan Menarik Kesimpulan
Eksperim en 1
85 70 76 66 81
Eksperim en 2
79 59 60 54 75
Jika Tabel 1disajikan dalam bentuk grafik pencapaian tiap indikator, maka hasil test kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilihat seperti pada Gambar dibawah ini.
Gambar 3. persentase hasil test kemampuan berpikir kritis siswa per indikator
Berdasarkan Gambar 3 Dapat diketahui bahwa rata-rata persentase hasil tes kemampuan berpikir kritis fisika siswa pada
kelas eksperimen 1 lebih tinggi daripada kelas eksperimen 2. Hal ini berlaku pada setiap indikator yakni, kemampuan merumuskan
55
46.71
35 40 45 50 55 60
Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2
85
70 76
66 81
79
59 60 54
75
0 20 40 60 80 100
Merumuskan
Masalah Melakukan
Induksi Melakukan
Deduksi Mengevaluasi Menarik Kesimpulan INDIKATOR KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS (%)
Grafik rata-rata nilai (%) Eksperimen 1 Ekperimen 2
masalah, kemampuan melakukan induksi, kemampuan melakukan deduksi, kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan. Nilai persentasi tertinggi dicapai pada indikator kemampuan merumuskan masalah dan kemampuan menarik kesimpulan, sedangkan nilai persentasi terendah pada indikator kemampuan mengevaluasi.
Uji Prasyarat Analisis
Uji prasyarat analisis hipotesis yang diperlukan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan uji homogenitas. Kedua uji ini dilakukan terhadap data kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 untuk mengetahui apakah kemampuan berpikir kritis awal maupun akhir berdistribusi normal atau memiliki varians yang homogen.
1. Kemampuan Awal Sampel a. Uji Normalitas
Berdasarkan hasil uji normalitas shapiro- Wilk menggunakan SPSS v.23,diperoleh bahwa nilai signifikansi atau p-value(Sig) pada kelas eksperimen 1 adalah sebesar 0,212, sedangkan untuk kelas eksperimen 2 nilai signifikansi atau p-value(Sig.) sebesar 0,205. Karena hasil dari uji normalitas Shapiro-Wilk baik untuk kelas eksperimen 1 maupun kelas eksperimen 2 lebih besar (>) dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data kemampuanawal berpikir kritis siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 berdistribusinormal.
b. Uji Homogenitas
Berdasarkan hasil uji homogenitas yang ditunjukan oleh Lavene’s Test menggunakan SPSS v.23, diperoleh bahwa nilai signifikansi atau p-value dari data kemampuan awal berpikir kritis siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 adalah sebesar 0,935.
Karena hasil yang ditunjukkan ini lebih besar (>) dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data kemampuan awal berpikir kritis siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 memiliki variansi yang homogen.
2. Kemampuan akhir sampel a. Uji Normalitas
Berdasarkan hasil uji normalitas shapiro- Wilk menggunakan SPSS v.23, diperoleh bahwa nilai signifikansi atau p-value(Sig) pada kelas eksperimen 1 adalah sebesar 0,199, sedangkan untuk kelas eksperimen 2, nilai signifikansi atau p-value(Sig.) sebesar 0,233.
Karena hasil dari uji normalitas Shapiro-Wilk baik untuk kelas eksperimen 1 maupun kelas eksperimen 2 lebih besar (>) dari 0,05, maka
dapat disimpulkan bahwa data kemampuan akhir berpikir kritis kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Berdasarkan hasil uji homogenitas yang ditunjukan oleh Lavene’s Test menggunakan SPSS v.23, diperoleh bahwa nilai signifikansi atau p-value dari data kemampuan akhir berpikir kritis siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 adalah sebesar 0,889.
Karena hasil yang ditunjukkan ini lebih besar (>) dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data kemampuan akhir berpikir kritis siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 memiliki variansi yang homogen.
Uji Kesamaan Kemampuan Awal Sampel Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS v.23, diperoleh bahwa besarnya thitung
untuk kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 0,571. Dengan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,570.Karena total sampel adalah 71, maka data kemampuan berpikir kritis siswa memiliki derajat kebebasan (df) 69 yang kemudian menunjukan ttabel adalah sebesar 1,99495 pada taraf 5% (0,05). Dengan demikian thitung< ttabel, dan nilai Sig.(2-tailed)>0,05. Maka, hipotesis nol (Ho) diterima dan hipotesis alternatifnya (Ha) ditolak, yang memberikan kesimpulan bahwa Tidak terdapat perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara siswa yang diajar mengunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking.
Uji Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua hipotesis yang kebenarannya akan diuji menggunakan uji-t (independent sample t-test). Berdasarkan hasil uji prasyarat analisis, diketahui bahwa data-data yang dikumpulkan telah berdistribusi normal dan memiliki varian yang homogen, serta kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama melalui uji t dua pihak (independent sample t-test two tailed). Oleh karena itu, kedua test uji hipotesis tersebut dapat dilanjutkan sebagai uji parametrik.
1. Uji Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama menggunakan uji t dua pihak (independent sample t-test two tailed) untuk mengetahui adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search
Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking. Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS v.23, diperoleh thitung
sebesar 3,531 dengan Sig.(2-tailed) sebesar 0,001. Dengan menetapkan taraf kesalahan 5%
(0,05) dengan derajat kebebasan (df) sebesar 69, maka diperoleh ttabel sebesar 1,99495.
Dengan demikian, thitung>ttabel, dan nilai Sig.(2- tailed) < 0,05. Maka, hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) yang diterima, yang memberikan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking.
2. Uji Hipotesis Kedua
Hipotesis kedua menggunakan uji t satu pihak (independent sample t-test one tailed), yakni uji t- pihak kanan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang lebih tinggi antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking. Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS v.23, diperoleh
thitung sebesar 3,531 dengan Sig.(1-tailed)
sebesar 0,001 yang membagi dua nilai Sig(2- tailled). Dengan menetapkan taraf signifikan 5% (0,05) dengan derajat kebebasan (df) 69, maka diperoleh ttabelone tailed sebesar 1,66724.
Dengan demikian thitung> ttabel, dan nilai Sig(1- tailed) < 0,05. Maka hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima, yang memberikan kesimpulan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking.
Pembahasan
Penelitian kuasi eksperimen 1 dengan desain Randomized Control Group Pretest- Posttest Design ini telah dilakukan selama
kurang lebih tiga minggu. Penelitian ini dilaksanakan dengan menerapkan model Search Solve Create and Share dan Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking, dengan melihat variabel terikat berupa kemampuan berpikir kritits siswa.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Kupang Timur, dengan sampel yang diambil secara simple random sampling untuk mewakili populasi adalah siswa kelas X MIPA2 sebagai kelas eksperimen 1 dan siswa kelas X MIPA4sebagai kelas eksperimen 2.
Sebelum dilaksanakan kegiatan pembelajaran sebagai pemberian perlakuan (treatment), kemampuan awal kedua sampel diperoleh dan dianalisis dari kegiatan pretest pada minggu pertama. Adapun kemampuan awal yang dianalisis berupa kemampuan berpikir kritits siswa yang diambil dari nilai tes awal kemampuan berpikir kritits siswa. Adapun Instrumen yang digunakan adalaha soal essay tes yang sudah mencakup semua indikator kemampuan berpikir kritis yang ingin dicapai dalam penelitian ini diantaranya merumuskan masalah (siswa mampu memformulasikan pertanyaan berkaitan dengan informasi yang diberikan) , melakukan deduksi (siswa mampu mendeduksi secara logis, melakukan interpretasi terhadap pertanyaan dengan menghubung-hubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya), melakukan induksi (siswa mampu memberikan penafsiran terhadap gambar, tabel atau grafik yang diberikan), melakukan evaluasi (siswa mampu mengevaluasi hasil pengamatannya berdasarkan fakta dan berdasarkan prinsip atau pedoman, dan memberikan alternatif penyelesaian masalah) dan menarik kesimpulan (siswa mampu menarik kesimpulan dari sebuah pernyataan atau hasil pengamatannya berdasarkan pengetahuan yang dimiliki). Pada hasil pre test diketahui bahwa nilai kemampuan berpikir kritis awal siswa pada kedua kelas memiliki rata-rata yang sama, yang dibuktikan melalui uji-t dua pihak(independent sample t-test two tailed). Berdasarkan hasil analisis, nilai thitung<
ttabel, dan p-value(Sig.) > 0,05, sehingga keputusannya adalah menerima Hoyang memberikan kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan kemampuan awal berpikir kritis yang signifikan antara siswa yang diajarmenggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode
Reflective thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking.
Setelah kedua kelas diberikan perlakuan, untuk kelas eksperimen 1 diberikan perlakuan
dengan menggunakan model
pembelajaranSearch Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dan kelas eksperimen 2 diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking maka dilakukan pos test untuk mengetahui kemampuan akhir berpikir kritis siswa. Berdasarkan hasil analisis maka diperoleh nilai kemampuan berpikir kritis siswa pada kedua kelas memiliki rata – rata yang berbeda secara signifikan, yang dibuktikan melalui uji hipotesis pertama berupa uji-t dua pihak (independent sample t-test two tailed).Berdasarkan hasil analisis, nilai thitung>
ttabel, dan p-value(Sig.) <0,05, sehingga keputusannya adalah menolak Ho. Setelah diberikan perlakuan kedua kelas sampel menunjukan skor yang lebih tinggi, yakni pada rentangan nilai 38,00-75,00 untuk kelas eksperimen 1, dan pada rentangan 31,00-68,00.
Siswa kedua sampel pun mampu menjawab pertanyaan dari keseluruhan nomor. Selain melalui uji-t dua pihak (independent t-test two tailed), perbedaan antara pembelajaran model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode Reflective thinking dengan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking diperlihatkan melalui perbandingan presentase kemampuan berpikir kritis yang disajikan dalam diagram batang pada Gambar 4.3.
Dari hasil persentase menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa kedua kelas memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini terjadi karena penerapan kedua model pembelajaran dengan metode reflective thinking dalam proses pembelajaran di dalam kelas memiliki sintaks atau tahapan yang berbeda sehingga kemampuan berpikir kritis yang ditunjukkan siswa dari kedua kelas pun berbeda. Pada kelas X MIPA2 sebagai kelas eksperimen 1 diajar menggunakan model pembelajaran Search Solve Create and Share dengan metode reflective thinking dengan sintaks meliputi Search (Menyatakan masalah), Solve (menentukan kriteria, menetapkan rencana), Create (melaksanakan rencana, menyajikan data) dan Share (menampilkan dan
mengkomunikasikan solusi). Pada kelas eksperimen 1 ini dengan model pembelajaran Search Solve Create and Share yang dipadukan dengan metode reflective thinking, proses pembelajaran lebih terarah karena pada proses pemecahan masalah siswa secara mandiri menemukan dan memecahkan masalah yang diberikan sesuai sintak-sintak model SSCS.
Peranan metode reflective thinking pada proses pembelajaran adalah siswa secara mandiri menemukan dan memecahkan masalah tetapi proses berpikir siswa lebih aktif dan hati-hati serta dilandasi dengan proses berpikir ke arah kesimpulan-kesimpulan yang definitif untuk memperoleh jawaban dari masalah yang diberikan. Pada kelas eksperimen 1 dengan model SSCS ini siswa secara mandiri menyelesaikan masalah dan guru hanya sebagai fasilitator sehingga kemampuan berpikir kritis siswa lebih terasah dan berkembang karena siswa menemukan sendiri konsep ilmu yang dipelajari. Semua indikator berpikir kritis meningkat meliputi: (1) Merumuskan Masalah, dimana siswa mampu memahami makna dari demonstrasi yang dibuat oleh guru menjadi suatu pemikiran awal yang dapat dijadikan arah untuk menyelesaikan masalah yang diberikan.
Untuk itu seorang guru harus sekreatif mungkin memberikan demonstrasi/simulasi yang bermakna sehingga siswa dapat memahami dengan jelas dan menuangkan pemikiran tersebut baik. (2) Melakukan Induksi, siswa melakukan investigasi atau pengumpulan data dan membuat generalisasi dari data. (3) Melakukan deduksi, k siswa mendeduksi secara logis, melakukan interpretasi terhadap pertanyaan dengan menghubu-hubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Dengan adanya konsep dari siswa sebelumnya dapat membantu siswa dalam memahami konsep baru yang diberikan.
(4) Melakukan Evaluasi, siswa dapat mengevaluasi hasil pengamatannya berdasarkan fakta atau pedoman yang telah didapat sehingga dapat diperoleh alternatif penyelesaian masalah. (5)Menarik Kesimpulan, siswa dapat menarik kesimpulan dari hasil pengamatannya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.
Sedangkan persentase pada kelas X MIPA4 sebagai kelas eksperimen 2 diajar dengan menggunakan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking dengan sintaks meliputi Predict (Memprediksi atau meramalkan), Observe
(Mengamati), dan Explain (menjelaskan) juga mengalami peningkatan, namun perbedaannya berbeda dengan persentase kelas eksperimen 1.
Hal ini karena pada penerapan model pembelajaran Predict Observe Explain dengan metode Reflective thinking, siswa terlebih dahulu dibagi dalam beberapa kelompok kemudian siswa mengamati demonstrasi yang dilakukan guru, setelah itu siswa membuat prediksi dari demostrasi dalam bentuk jawaban sementara dan melakukan percobaan untuk menguji hipotesisnya. Setelah dianalisis, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan menghubungkannya dengan hipotesis awal apakah benar atau tidak. Pada pembelajaran ini guru bertindak sebagai mediator dan fasilitator selama proses pembelajaran sehingga kemampuan berpikir kritis siswa tidak di asah. Hal ini berbanding terbalik dengan kelas eksperimen 1 karena pada pembelajarannya siswa diberikan kesempatan untuk menemukan pengetahuannya sendiri sehingga kemampuan bepikir kritis siswa dapat berkembang.
Hal yang membedakan kedua model ini adalah pada tahap perumusan masalah, dimana pada model POE guru sudah memberikan rumusan masalah kepada siswa sehingga hal ini membuat kemampuan berpikir kritis siswa menjadi pasif dan tidak berkembang.
Sedangkan pada model SSCS siswa merumuskan masalah dan menemukan pengetahuannya sendiri melalui tahapan- tahapan SSCS dan guru hanya sebagai fasilitator saja.
Berdasarkan persentase rata-rata nilai hasil test kemampuan berpikir kritis siswa, indikator yang lebih meningkat adalah pada indikator merumuskan masalah dengan nilai rata-rata kelas eksperimen 1 85 sedangkan kelas eksperimen 2 79. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan merumuskan masalah siswa pada kelas eksperimen 1 lebih tinggi dari pada siswa kelas eksperimen 2, dikarenakan pada kelas eksperimen 1 sudah dilatih untuk membuat rumusan masalah pada saat mengerjakan LKS.
Sedangkan pada kelas eksperimen 2 kemampuan merumuskan masalah tidak dilatih karena guru sudah menentukan rumusan masalahnya. Sedangkan indikator yang meningkat paling rendah adalah pada indikator melakukan evaluasi dengan nilai rata-rata pada kelas eksperimen 1 66 dan kelas eksperimen 2 54. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan siswa dan fakta-fakta yang cukup untuk
mengevaluasi dan memberikan alternatif penyelesaian masalah dari soal-soal yang diberikan. Siswa hanya mengharapkan pengetahuan ditransfer dari guru saja tanpa mencari sumber-sumber yang dapat menambah pengetahuannya untuk memahami suatu materi.
Begitupun dengan ketiga indikator lainnya yang mengalami peningkatan seperti indikator melakukan induksi persentase nilai rata-rata kelas eksperimen 1: 70 sedangkan kelas eksperimen 2: 59; indikator melakukan deduksi persentase nilai rata-rata kelas eksperimen 1: 76 dan kelas eksperimen 2: 60; indikator menarik kesimpulan persentase nilai rata-rata kelas eksperimen 1 adalah 81 dan kelas eksperimen 2: 75. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen 1 lebih tinggi dari kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen 2.
Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa model pembelajaranSearch Solve Create and Share dengan metode Reflective
thinkingdapatmeningkatkankemampuan
berpikir kritis siswa karena setiap tahapannya membuat siswa termotivasi, aktif, dan siap dalam proses pembelajaran untuk menyelesaikan suatu masalah, dan memunculkan banyak gagasan dalam memecahkan masalah yang ada serta dapat menemukan pengetahuannya sendiri melalui pengalaman di dalam proses pembelajaran.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking.
2. Kemampuanberpikir kritis siswa yang
diajar menggunakan model
pembelajaranSearch Solve Create and Share (SSCS) dengan metode Reflective Thinking lebih tinggi dari siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran PredictObserve Explain (POE) dengan metode Reflective Thinking, dibuktikan
dengan hasil thitung 3,531 > ttabel 1,66724 dengan sig. 0,001<0,05.
Daftar Rujukan
Asih, D. 2015. Pembelajaran Model SSCS UntukMeningkatkan Kemampuan Berpikir KritisSiswa Kelas XI Materi Barisan Dan DeretTak Hingga. Skripsi. Fakultas MIPA, Universitas Negeri Semarang.
Fitri, F. 2015. Penerapan Metode Pembelajaran Reflectivethinking Dengan Pendekatan Berorientasi Pertanyaan Dan Brainstorming Pada Mata Kuliah Mekanika. Jurnal Inovasi Dan Pembelajaran Fisika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.
Herliantari, H. 2018. Efektivitas Model Pembelajaran Search, Solve, Create, And Share (SSCS) Terhadap Kemampuan Creative Problem Solving Peserta Didik Pada Pembelajaran Fisika. Skripsi. Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.
http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/3289
Hudda, K. 2016. Pengembangan Modul IPA Berbasis Model Project Based Learning pada Pokok Bahasan Perubahan Benda-Benda di Sekitr Kita untuk Menumbuhkan Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik SMP Kelas VII. Tesis. FMIPA. Diakses tanggal 14 oktober 2018
Ibda, F. 2015. Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget. Jurnal Intelektualita. Vol. 3, nomor 1, Januari-Juni 2015.
Jahro, dkk. 2010. Pengembangan Berpikir Kritis dan Optimalisasi Penerapan Keterampilan Proses Pada Pola Pelaksanaan Semi Riset Praktikum Kimia Anorganik I, FMIPA, Unimed, Medan.
Khoirifah, dkk. 2013. Pengaruh Pendekatan Problem Solving Model Search, Solve, Create and Share (SSCS) Berbantuan Modul Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis. Jurnal. Program Studi Pendidikan Fisika, IKIP PGRI Semarang.
Pratiwi, dkk. 2012. Pengaruh Penerapan Creative Problem Solving (CPS) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran Fisika Kelas XI IPA MAN 3 Malang.
Artikel, Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Negeri Malang: Malang.
Saaiq, M. 2016. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Pelaksanaan ProsesBelajar Mengajar Dan Motivasi Belajar TerhadapPrestasi Belajar Siswa Pada Mata PelajaranKelistrikan Kendaraan Ringan Kelas XI TKR Di SMK Kesatrian Purwokerto. Skripsi. Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.
Santoso, E. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Search, Solve, Create, And Share Dan Predict Observe Explain TerhadapHasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII SMPN 1Gondangrejo Karanganyar. Naskah Publikasi Skripsi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sari, K. 2014. Keefektifan Model Pembelajaran POE (Predict-Observe-Explain) Terhadap Aktivitas Dan Hasil Belajar IPA Materi Perubahan Sifat Benda Pada Siswa Kelas V SD Negeri Kejambon 4 Kota Tegal. Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang.
Setyarini, H. 2013. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran POE (Prediction, Observation, And Explanation) Terhadap Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA Materi Sifat-Sifat Cahaya Kelas V SDN Klero 01 Kabupaten Semarang Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013. Skripsi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Univesitas Kristen Satya Wacana.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung: ALFABETA.
Suliono. 2017. Deskripsi Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa Pendidikan Kimia FKIP Untan.
Artikel Penelitian. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Tanjungpura Pontianak.
Suparman, A. 2018. Penerapan Model Pembelajaran Induktif Dengan Berbantuan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Terstruktur Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa. Skipsi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Nusa Cendana Kupang. Naskah Tidak Dipublikasikan.
Syaputra, M. 2014. Penerapan Model SSCS (Search, Solve, Create, Share) Dengan Metode Eksperimen 1 Pada KonsepFluida Statis Untuk Meningkatkan HasilBelajar Siswa Di Kelas XI IPA1 SMAN 4Kota Bengkulu. Skripsi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bengkulu.
Taufik, dkk. 2010. Desain Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran IPA (Fisika) Sekolah Menengah Pertama Di kota Bandung. Jurnal. 13(2): E31-E34
Ulfah, Q. 2013. Penerapan Model Pembelajaran POE (Predict-Observe-Explain) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Motivasi Belajar Siswa Kelas X-MIPA 4 SMA N 6 Malang Dalam Materi Fisika Kalor. FMIPA, Universitas Negeri Malang.
Yanuarta, dkk. 2016. Pemberdayaan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa melalui Implementasi Model Pemebelajaran Think Talk Write dipadu Problem Based Learning. Proceeding Biology Education Conference. 13(1): 268-271.
Yuliana. 2012. Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Melalui Pendekatan Kontekstual Kelas IV SD Negeri Bantengurip Tahun 2012/2013. Naskah Publikasi. Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Yuliarini, S. 2016. Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Search, Solve, Create, And Share (SSCS) Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Universitas Pendidikan Indonesia.