BAB III
PELAKSANAAN KERJA MAGANG
3.1 Kedudukan dan Koordinasi
Berdasarkan diagram 2.1, maka posisi Social Media Marketing intern berada di bawah Digital Marketing Department dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab selama melakukan internship di Little Hannah. Pada praktik kerja magang yang dilakukan di Little Hannah, tugas yang dapat dilakukan oleh Social Media Marketing intern melainkan menciptakan ide kreatif dan menghasilkan konten yang digunakan untuk kegiatan pemasaran di media sosial Little Hannah yang berfungsi guna meningkatkan engagement akun media sosial Instagram dan Tiktok Little Hannah serta untuk menyampaikan pesan yang tepat kepada target konsumen yang dituju oleh Little Hannah di bawa pengawasan Ibu Syana selaku Digital marketing manager dan juga pembimbing lapangan.
Selain itu, tugas lainnya yang dilakukan oleh Social Media Marketing intern adalah mengembangkan perencanaan konten (content plan) yang kreatif, konsisten, dan juga sesuai dengan identitas Little Hannah , mengelola post media sosial Instagram Little Hannah, mengembangkan konten Tiktok Little Hannah, mengatur program yang akan dilaksanakan dengan mom influencer (endorsement), memberikan rekomendasi strategi social media marketing kepada Digital Marketing Manager, membuat mood board
19
photoshoot atau videoshoot, dan memberikan arahan mengenai visual konten kepada tim desain agar sesuai dengan yang sudah direncanakan.
Praktik magang dilaksanakan selama enam puluh lima hari di bawah divisi Media Social Marketing Little Hannah . Pada praktiknya, proses pelaksanaan kerja magang yang dilakukan peserta magang akan dipertanggungjawabkan langsung kepada koordinator Digital Marketing Manager di Little Hannah yaitu Ibu Syana Widartha, selaku pembimbing lapangan untuk melaporkan seluruh kegiatan yang telah dilakukan selama praktik kerja magang berlangsung. Social Media Marketing intern juga berkoordinasi dengan tim desain untuk melakukan pengarahan mengenai desain visual yang direncanakan.
Koordinasi yang dilakukan dengan Digital Marketing Manager tersebut dilakukan melalui Whatsapp dan meeting tatap muka langsung dua minggu sekali.
Koordinasi yang dilakukan tiap hari seputar kehadiran pagi dan sore hari, serta update mengenai kegiatan apa saja yang telah dikerjakan setiap harinya. Koordinasi yang dilakukan dengan tim desain juga dilakukan melalui Whatsapp dan meeting tatap muka langsung saat sedang ada rapat tim. Pada biasanya yang dibahas dalam tatap muka langsung itu untuk membahas product launching dan untuk konten post feed serta story Instagram Little Hannah sehari-hari dilakukan melalui Whatsapp.
3.2 Tugas yang Dilakukan
Dalam menjalankan praktik kerja magang ini, tugas yang dilakukan sebagai Social Media Marketing intern tugas-tugas yang dilaksanakan peserta magang meliputi Social Media Copywriting, Social Media content planning and ideation on Instagram and Tiktok Platform, Media Monitoring and Data Entry for Social Media Report, mengumpulkan
insight dan analyze terutama di akun Instagram @littlehannah.id, Content Scheduling, serta selalu melakukan research mengenai konten apa yang sedang trending di masyarakat.
3.3 Uraian Pelaksanaan Kerja Magang
3.3.1 Social Media Marketing
Platform yang digunakan Little Hannah dalam kegiatan Social Media Marketing ini adalah Instagram, Tiktok, dan website Little Hannah (www.littlehannah.co.id). Dalam pelaksanaan kerja magang yang dilakukan, Social Media Marketing Intern hanya berfokus pada akun Instagram dan Tiktok Little Hannah. Kegiatan pertama yang dilakukan setiap harinya adalah membuka media sosial Little Hannah untuk mengecek engagement, comment, like, dan feedback dari konten yang telah dipost. Hal penting yang perlu dilakukan juga merespon komentar yang ada di post sebelumnya dalam akun Instagram Little Hannah. Jika ada respon yang berupa pertanyaan dan perlu dibalas, maka akan dibalas karena interaksi dan hubungan yang dibangun dengan pembaca merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dijaga. Dengan membalas komentar yang diberikan pembaca, mereka akan merasa diperhatikan dan tidak dianggurkan saja serta apabila pembaca merespon lagi hal itu dapat meningkatkan interaksi yang ada di kolom komentar.
Bahasa yang digunakan untuk membalas komentar cenderung baku dan menggunakan sapaan khusus seperti moms, mom, mommy, dan daddy. Ciri khas sapaan ini yang juga bisa menekankan bahwa keluarga Little Hannah mempunyai
21
Gambar 3.1 Merespon Komentar Pembaca
Sumber: Instagram @littlehannah.id, 2021
Selanjutnya, peserta magang akan melakukan research di Internet seperti Pinterest untuk mencari inspirasi dalam mengembangkan materi konten feed dan story yang perlu dipublikasikan. Setelah itu, melakukan brainstorming dengan Digital Marketing Manager apabila ide-ide sudah terkumpul tersebut dapat dilanjutkan untuk direalisasikan atau tidak. Perlu untuk mencari ide kreatif yang masih booming dan juga interaktif. Konten yang interaktif akan menarik pembaca untuk mengisi kolom komentar atau memberikan reaksi (react) story.
Hal tersebut sangat diperhatikan karena engagement merupakan hal yang paling penting agar media sosial tetap berjalan dengan baik dan dapat memperluas jangkauan target. Engagement dapat dibangun dengan hubungan baik antara brand dengan followers dan juga para pengguna Instagram lainnya yang merupakan calon pelanggan. Penting sekali untuk mengunggah konten (feed atau story) yang dapat menarik keinginan pembaca untuk memberikan reaksi seperti save, share, comment, dan like. Oleh karena itu, Little Hannah sering mengembangkan konten mengenai fakta menarik yang dapat berguna bagi para orang tua sehingga kemungkinan untuk followers membagikan konten tersebut sangat tinggi. Hal ini akan berlanjut kepada
lebih banyaknya pengguna Instagram yang mungkin bukan followers Little Hannah untuk juga melihat dan membagikan konten tersebut. Algoritma Instagram akan membaca bahwa banyak orang yang tertarik dengan berbagai konten yang diunggah oleh Little Hannah yang berujung pada sistem Instagram yang akan menampilkannya di halaman explore lebih banyak pengguna lagi.
Dalam membuat konten story juga diperlukan kalimat yang kreatif, singkat, padat, dan jelas dalam waktu yang bersamaan juga harus penuh dengan informasi.
Untuk video di story hanya dapat berdurasi 15 detik. Setiap harinya aka nada minimal satu feed dan story untuk dipublikasikan ke dalam Instagram Little Hannah.
Gambar 3.2 Membuat Konten Story Instagram
Sumber: Instagram @littlehannah.id, 2021
23
Gambar 3.3 Contoh Konten Feeds Instagram
Sumber: Instagram @littlehannah.id, 2021
Selanjutnya, hal yang dilakukan adalah mencari info mengenai spesifikasi dan kegunaan produk-produk yang di jual di website official masing-masing brand.
Jika sudah didapatkan maka perlu dikonfirmasi kepada pembimbing lapangan.
Apabila konten dirasa sudah bagus maka akan diserahkan kepada divisi desain untuk kemudian dibuat visualnya. Konten yang dicari juga sesuai dengan karakteristik media sosial Little Hannah yang berisi mengenai produk-produk ibu dan anak, serta berisi tentang tips untuk para ibu, atau fakta menarik yang topiknya seputar ibu dan anak.
Tahap selanjutnya adalah membuat caption untuk konten Instagram yang akan diunggah di feeds @littlehannah.id. Caption untuk feeds @littlehannah.id
seharusnya jangan terlalu panjang dan dapat menimbulkan adanya pertanyaan dari pembaca. Contohnya: Bahasa disesuaikan dengan konten dan target pasar dari
@littlehannah.id, misalnya saat memposisikan pembaca dengan panggilan “Moms”
yang artinya Ibu atau Mama. Kata “Moms” biasa digunakan untuk kalangan sesama Ibu untuk terkesan lebih dekat dengan pembaca.
Selain kalimat yang menarik, perlu juga menyertakan hashtag. Hashtag juga dapat memperluas jangkauan target tapi dalam membuat hashtag, disarankan jangan membuat terlalu banyak, maksimalnya adalah lima belas buah. Hal ini dikarenakan nilai keeleganan dari akun tersebut dapat berkurang kalau terlalu banyak menyertakan hashtag. Tip penting lainnya juga hashtag harus relevan agar pengguna Instagram lainnya mudah menemukan konten tersebut.
Gambar 3.4 Contoh Caption untuk Feeds Instagram
Sumber: Instagram @littlehannah.id, 2021
25
Setelah visualnya sudah jadi dan caption sudah dibuat, maka akan memasuki tahap scheduling. Scheduling ini meliputi dua akun, yaitu Instagram (@littlehannah.id) dan Tiktok (Littlehannah). Kegiatan ini bertujuan untuk menentukan jadwal post di peak hour Instagram @littlehannah.id sesuai saat followers sedang aktif scrolling. Proses scheduling juga berguna agar akun media sosial Little Hannah tetap aktif setiap harinya dan selalu update produk serta info baru seputar keperluan ibu dan anak. Materi-materi yang digunakan dalam proses scheduling merupakan gagasan dan ide yang telah disetujuii oleh pembimbing lapangan.
Setiap hari Senin di awal bulan dilaksanakan rapat umum yang dihadiri oleh semua tim divisi Little Hannah. Dalam rapat tersebut, biasanya dibahas tentang evaluasi dari berbagai kegiatan yang sudah dilakukan selama satu bulan, lalu membahas mengenai prospek ke depannya serta projek baru dengan berbagai brand, setelah itu juga sekaligus menelaah tentang perkembangan penjualan dan pemasaran Little Hannah yang mengalami perkembangan atau tidak. Ada pula diadakan rapat antara Digital Marketing Manager dengan Social Media Marketing intern setiap seminggu sekali untuk membahas mengenai jadwal post, brainstorming ide untuk konten, mengembangkan projek dengan brand yang merupakan partner Little Hannah, mendata endorsement list, mendiskusikan campaign untuk Little Hannah, membuat ide giveaway, sampai membahas mood board untuk keperluan shooting. Dalam rapat setiap individu boleh memberikan kritik, saran, dan pendapat termasuk peserta magang.
Chary (2014) berpendapat bahwa Social Media Marketing mengacu pada proses yang dilakukan untuk mendapatkan kunjungan situs website atau perhatian melalui media sosial. Program Social Media Marketing biasanya berpusat pada usaha untuk menghasilkan konten yang dapat menarik perhatian dan mendorong pembaca agar ikut berbagi di jaringan sosial mereka sendiri (word of mouth).
Social Media Marketing juga merupakan teknik atau taktik pemasaran yang memanfaatkan social media sebagai alat untuk mempromosikan suatu produk atau jasa secara spesifik. Social Media Marketing merujuk kepada pembangunan dan pemanfaatan area media sosial sebagai sarana atau tempat untuk membentuk kelompok atau target pasar dari bisnis online. Dalam upaya pembangunan Social Media Marketing, perlu diingat bahwa pebisnis atau pengusaha harus membangun kelompok atau target pasar dengan cara saling menghormati dan selalu berinteraksi serta berkomunikasi dengan target pasar. Semakin luas area Social Media Marketing yang dibangun, maka akan semakin besar pula yang dihasilkan bagi media sosial atau website bisnis tersebut (Drury, 2018).
Media sosial adalah sarana atau saluran pergaulan sosial yang dipraktekkan secara online karena dilakukan di dunia maya. Para pengguna media sosial berinteraksi, berkomunikasi, saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (networking). Andreas Kaplan dan Michael Haenlein menyatakan mengenai definisi media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi yang berbasis Internet dan teknologi web 2.0 yang memungkinkan pertukaran serta penciptaan
27
user generated content (Kaplan & Haelein, 2014). Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa media sosial yaitu media online berbasis Internet yang digunakan untuk memudahkan penggunanya dalam berpartisipasi dengan cepat melalui berbagai bentuk media sosial, seperti blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual. Van Dijk (2013) dalam Nasrullah (2015), media sosial merupakan platform media yang memfokuskan pada eksistensi eksistensi dari pengguna yang memberikan fasilitas kepada mereka dalam berakktivitas maupun berkolaborasi. Oleh karena itu, media sosial dilihat sebagai sebagai sebuah medium (fasilitator) online yang dapat menguatkan hubungan antar pengguna sebagai sebuah ikatan sosial.
Pada kenyataannya, Social Media Marketing erat kaitannya dengan Content Marketing. Definisi dari Content Marketing menurut Chaffey & F. (2019) yakni pengelolaan konten teks, audio, multimedia, dan video yang ditujukan kepada pelanggan dan prospek dalam memenuhi tujuan bisnis yang dipublikasikan melalui media cetak maupun digital termasuk platform web dan mobile. Praktik kerja magang yang dilaksanakan di Little Hannah selaras dengan teori Social Media Marketing yang telah dikemukakan oleh Chary (2014) bahwa konten media sosial harus diciptakan dan dikembangkan semenarik mungkin agar pembaca jadi menyukai, mengikuti (follow), dan membagikannya kepada kepada teman- teman mereka. Selain hal yang di atas, teori lainnya yang menyebutkan bahwa media sosial merupakan sarana untuk promosi juga sesuai dengan praktik kerja magang di lapangan. Maka dari itu, setiap harinya di akun Instagram dan Tiktok
@littlehannah.id selalu membuat konten dengan teknik promosi soft selling yang menarik disertai dengan topik ringan lainnya seputar fakta dan kuis ringan lainnya.
3.1.1 Social Media Metrics
Evaluasi pengukuran media sosial @littlehannah.id akan dibahas menggunakan konsep Social Media Metrics yang dijelaskan melalui gambar yang ada di bawah:
Gambar 3.5 Konsep Social Media Metrics
Sumber: www.socialmediaexaminer.com, 2021
1. Mengukur Social Media Exposure
Dalam aspek ini, kita bisa melihat peningkatan jumlah followers dan page visit menggunakan akun bisnis di Instagram.
29
Adanya peningkatan followers Instagram @littlehannah.id ketika awal peserta magang melakukan praktik magang adalah 63,7k followers dan setelah selesai magang naik menjadi 70,633k followers.
Gambar 3.6 Jumlah Followers Little Hannah
Sumber: Instagram @littlehannah.id, 2021
2. Mengukur Engagement
Engagement rate dapat diartikan sebagai berapa orang yang berinteraksi dengan pesan yang dipublikasikan oleh sebuah akun. Dalam platform media sosial Instagram, yang dianalisis adalah jumlah likes dan juga comments. Likes terbanyak dari konten yang telah dibuat peserta magang selama melaksanakan praktik magang adalah 116 likes.
Gambar 3.7 Total Likes Konten Little Hannah
Sumber: Instagram @littlehannah.id, 2021
31
Comments terbanyak dari konten yang telah dibuat peserta magang selama menjalankan praktik magang adalah sebanyak 798 comments dengan ketentuan pekerjaan yang dilakukan, meliputi harus selalu membalas comment, menyeleksi comment, menyertakan emoticon agar lebih ekspresif. Hal ini dikarenakan membalas comment sangat penting, agar pembaca merasa dihargai dan ini merupakan salah satu cara untuk dapat meningkatkan eksistensi media.
Gambar 3.8 Comments Konten Little Hannah
Sumber: Instagram @littlehannah.id, 2021
3. Tracking Influence
Influence merupakan perhitungan subjektif yang bergantung pada perspektif dari sebuah bisnis. Setelah menghitung engagement, perhatikan apakah engagement tersebut mempunyai efek positif, negatif, atau netral. Dalam rangka untuk melihat tingkat influence yang timbul dari kampanye (campaign) media sosial, bisa menggunakan tools seperti Twitalyzer, Social Mention, atau Scoutlabs. Tahap ini tidak dianalisis oleh peserta magang secara langsung.
4. Lead Generation Funnel
Dalam bagian ini, sebuah perusahaan dapat menghitung Return on Investment (ROI) dari campaign social media. Exposure, influence, dan engagement merupakan sebuah representasi dari brand awareness. Tahap lead generation adalah tahap mengkonversi individu-individu yang sudah mengenal sebuah brand untuk melaksanakan sesuatu, misalnya melaksanakan transaksi. Tahap ini tidak dianalisis oleh peserta magang secara langsung.
3.4 Kendala dalam Praktek Kerja Magang
Dalam proses pelaksanakaan kerja magang di Little Hannah terdapat beberapa kendala seperti yang dianalisa melalui konsep Social Media Metrics, antara lain:
33
jadi kurang akurat. tahap ini dianalisis secara tradisional oleh pembimbing lapangan. Hal ini bisa menimbulkan kesalahan karena apabila dianalisis secara tradisional atau manual maka keakurasian data akan berkurang. Apabila kearukasian data berkurang maka tracking yang dilakukan Little Hannah tidak seratus persen tepat.
2. Promosi produk-produk Little Hannah tidak menggunakan Paid Advertising di Instagram yang kontennya tidak dijadikan iklan. Litte Hannah mengandalkan konten-konten yang akan atau telah diunggah di feed dan story Instagram Little Hannah, serta endorsement kepada influencers. Little Hannah menganggap hal itu sudah cukup tapi sebenarnya belum. Strategi yang tidak menggunakan Paid Advertising di Instagram tersebut menghasilkan engagement Little Hannah yang semakin berkurang serta ramai jika Little Hannah sedang mengadakan giveaway saja. Engagement yang rendah tersebut (di bawah 3%) tidak baik untuk akun yang mempunyai jumlah followers sebanyak Little Hannah dan dapat menimbulkan shadow ban dari Instagram yang dapat membuat sistem Instagram mengira kalau Little Hannah membeli Fake Followers.
3. Little Hannah kurang menerapkan langkah-langkah influencers briefing untuk Endorsement yang tepat, seperti Endorsement Briefing, Endorsement Posting Schedule, dan Endorsement Follow Up yang lebih terstruktur. Little Hannah
tidak menentukan jadwal post untuk influencers. Jadwal untuk posting dipercayakan kepada influencers yang menerima endorsement dapat merugikan pihak brand yang melakukan endorsement karena kasus yang banyak terjadi adalah influencers menumpuk kerjaan dan tidak memposting brand Little Hannah terlalu lama dari waktu influencers tersebut menerima barang. Ada pula kasus influencers melakukan review tidak sesuai yang diinginkan Little Hannah karena tidak ada briefing sehingga hasil yang diinginkan dari endorsement tersebut tidak sebaik yang diharapkan. Feedback dari followers juga terkadang jadi tidak sepadan dengan value barang yang diberikan untuk endorsement.
3.4 Solusi atas Kendala
Dalam menghadapi kendala di atas, maka ada beberapa solusi dari peserta magang yang dapat diterapkan, antara lain:
1. Menggunakan Tracking Influencers Tools seperti Twitalyzer, Social Mention, atau Scoutlabs untuk melacak atau memantau berbagai influencers saat akan melakukan endorsement dan campaign sehingga data yang didapatkan lebih akurat dan tidak menyita waktu yang lama, seperti membaca comment satu per satu, melakukan tracking akun Instagram Little Hannah denngan mengamati konten dari setiap influencers. Dengan menggunakan tools tersebut, Little Hannah dapat mencari influencers yang
35
kerjasama dengan para influencers. Dalam hal ini, tools tersebut menjadi jembatan yang menyambungkan brand dengan target influencers yang berjalan dalam satu value.
2. Memasang iklan promosi pada Instagram Paid Advertising yang sasarannya menggunakan Lookalike Audiences sehingga Instagram akan menargetkan user (pengguna media sosial) sesuai dengan demografis dan juga karakteristik yang cocok dengan target @littlehannah.id, sehingga dapat menjangkau audience yang lebih besar dalam waktu yang lebih singkat. Dengan menggunakan Instagram Paid Advertising, maka konten Instagram Little Hannah dapat muncul di jam yang traffic penggunaan Instagram sedang tinggi. Apabila konten Little Hannah dapat menjangkau lebih banyak orang lagi maka kemungkinan bertambahnya engagement dan calon konsumen Little Hannah semakin tinggi.
3. Little Hannah merancang Endorsement Briefing, Endorsement Posting Schedule, dan Endorsement Follow Up yang lebih terstruktur. Hal ini akan memudahkan Little Hannah untuk menentukan patokan yang dapat dilakukan oleh influencers mulai dari konsep foto feed apa yang diinginkan Little Hannah (warna baju, warna background, konsep video, konsep unboxing), story review (harus membuka paket dengan menunjukkan packaging Little Hannah yang aman jadi calon konsumen yang melihat unboxing tersebut dapat tau bahwa pengiriman yang dilakukan tidak akan membahayakan produk yang akan dipesan), serta jadwal post untuk tiap influencers (mulai dari jam, tanggal, dan hari).