1
ASPEK SOSIAL BUDAYA PADA NOVEL PULANG
KARYA TERE LIYE SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
TESIS
Disampaikan untuk memenuhi persyaratan Memperoleh gelar Magister Pendidikan
Disusun oleh:
Achmad Yasin 1709057001
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA 2019
3
5
ABSTRAK
ACHMAD YASIN. Nim: 1709057001 Aspek Sosial Budaya Pada Novel Pulang Karya Tere Liye Serta Implikasinya Dalam Pembelajaran Sastra Di SMA.
Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA Jakarta. 2019.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar sosial budaya pada novel Pulang karya Tere Liye. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan sehingga tidak terikat dengan tempat. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis. Objek penelitian yang digunakan adalah novel Pulang karya Tere Liye. Penelitian ini difokuskan pada penelitian latar sosial budaya yang mencakup sistem bahasa, sistem sosial budaya, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat 81 pernyataan yang menyatakan latar sosial budaya yang terbagi atas 10 sistem bahasa, 50 sistem sosial budaya, 17 sistem mata pencaharian hidup, 4 sistem religi. Dalam penelitian ini sistem sosial budaya lebih mendominasi, hal tersebut telah dibuktikan dengan banyaknya pernyataan yang merujuk pada sistem tersebut. Sistem sosial budaya dalam novel ini merujuk tentang sikap dan perilaku pada tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari.
Relevansi antara novel Pulang dengan kehidupan sekarang ini yaitu minat belajar yang rendah, maka diharapkan novel ini dapat dijadikan bahan pembelajran sastra di SMA karena isi novel yang menunjukan belajar dengan sungguh-sungguh sangat penting untuk masa depan.
Kata kunci: Sosial, Budaya, Novel Pulang, Bahan Pembelajaran
ABSTRACT
ACHMAD YASIN. Nim: 1709057001 Social Cultural Aspects of Pulang Karya Tere Liye's Novel and Its Implications in Literature Learning in High School.
Indonesian Language Education Masters Program, Postgraduate School Muhammadiyah University Prof. DR. HAMKA Jakarta. 2019.
This study aims to find out the socio-cultural setting of the novel Pulang by Tere Liye. This research is library research so that it is not bound by the place. This research method uses a qualitative descriptive method with analytical techniques.
The object of the research used is the novel Pulang by Tere Liye. This research is focused on socio-cultural background research that includes language systems, socio-cultural systems, living livelihood systems, religious systems.
The results of this study can be concluded that there are 81 statements stating a socio-cultural background divided into 10 language systems, 50 socio-cultural systems, 17 living livelihood systems, 4 religious systems. In this study the socio- cultural system dominates, this has been proven by the number of statements that refer to the system. The socio-cultural system in this novel refers to the attitudes and behavior of each group of people whose life is governed by customs and rules regarding various kinds of unity in an environment where they live and interact day by day.
The relevance between novel Pulang and the present life is the low interest in learning, so it is hoped that this novel can be used as a material for studying literature in high school because the contents of the novel that show learning really are very important for the future.
7
Keywords: Social, Culture, Novel Pulang, Learning Materials
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang telah membawa risalah islamiah sehingga kita berada pada zaman yang tercerahkan dan berkeadaban.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Ade Hikmat, M.Pd., selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
2. Dr. Hj. Wini Tarmini, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
3. Dr. H. Sukardi, M.Pd., selaku dosen pembimbing I, yang telah membimbing penulis dalam menyusun tesis
4. Dr. Sugeng Riadi, M.Pd., selaku dosen pembimbing II, yang telah membimbing penulis dalam menyusun tesis.
5. Dosen Program Studi Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, yang telah memberikan ilmu kepada penulis.
6. Drs. H. Ahmad Yani dan Dra. Hj. Maimunah, selaku orang tua penulis, yang telah memberikan dukungan dan do’a.
7. Noveri Tauhid, S.A.P., dan Misnah, selaku mertua penulis, yang telah memberikan dukungan dan do’a.
8. Noly Pratiwi Amelia, S.Pd., selaku isteri penulis, yang telah memberikan dukungan dan do’a.
9. Arshaka Achmad Altaf, selaku anak penulis, menjadi penyemangat penulis dalam menyelesaikan tesis
10. Teman-teman Magister Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2017.
11. Rekan-rekan guru di SMK Putra Satria dan SMK Kesehatan Sekawan yang telah memberikan dukungan dan do’a.
12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam pembuatan tesis ini.
Semoga jasa dan kebaikan Bapak/Ibu tercatat sebagai amal baik yang akan mendapat balasan dari Allah swt. Semoga proposal tesisi ini memberi manfaat baik bagi penulis, pembaca, dan pengembangan ilmu. Akhir kata, penulis menyadari bahwa penulisan dalam tesis ini banyak kekurangan. Untuk itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun agar lebih baik.
9
Jakarta, ... September 2019
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
ABSTRAK …………...………. ii
ABSTRACT …………...……….. iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ………...…… ix
DAFTAR LAMPIRAN ………... x
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus dan Subfokus Masalah ...10
C. Pertanyaan Penelitian ...10
D. Tujuan Penelitian ... 10
E. Manfaat Penelitian ...11
BAB II : KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Kajian Teori ... 12
1. Hakikat Novel ... 12
a. Pengertian Novel ... 12
b. Jenis-Jenis Novel ... 13
c. Unsur-Unsur Novel ... 14
1) Unsur Intrinsik ... 14
2) Unsur Ekstrinsik ... 18
2. Pendekatan Sosiologi Sastra ... 19
3. Latar Sosial Budaya ... 21
4. Pembelajaran Sastra dalam Kurikulum SMA ... 23
a. Kurikulum Pembelajaran Sastra di SMA ... 23
b. Tujuan Pembelajaran Sastra di SMA ... 23
B. Kerangka Berpikir ... 25
C. Penelitian Relevan ... 26
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 28
B. Latar Penelitian ... 28
C. Metode Penelitian ... 30
D. Data dan Sumber Data ... 30
E. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data ... 31
F. Teknik Analisis Data ... 31
G. Instrumen Penelitian ... 32
BAB IV : HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Latar Penelitian ………... 34
B. Temuan Penelitian ……… 34
1. Analisis Struktur Novel Pulang ……….. 35
a. Tema ………. 35
b. Tokoh dan Penokohan ……….. 36
11
c. Alur (Plot) ………... 53
d. Latar (Setting) ………..… 53
e. Sudut Pandang ……….. 62
f. Amanat ………. 62
C. Analisis Latar Sosial Budaya ………... 63
1. Sistem Bahasa ……….... 63
2. Sistem Sosial Unsur Budaya ……….. 66
3. Sistem Mata Pencaharian Hidup ……… 83
4. Sistem Religi ……….. 88
BAB V : SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ……….. 90
B. Implikasi ………... 92
C. Saran ………. 92
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel 3.1 ………..………… 29
Tabel 3.2 ………..…… 33
Tabel 3.3 ………..……… 33
Tabel 4.1 ……….………. 35
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Tabel Analisis
Lampiran 2 : Sampul Novel Pulang Lampiran 3 : Biografi Pengarang
Lampiran 4 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
13
Lampiran 5 : Sinopsis Novel Pulang Lampiran 6 : Surat Pernyataan Lampiran 7 : Daftar Riwayat Hidup
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dunia kesastraan mengenal kata prosa atau dalam bahasa Inggris disebut prose, Istilah prosa disebut fiksi (fiction) yang berarti cerita rekaan,cerita khayalan, dan teks naratif yang biasa disebut karya fiksi. Karya fiksi adalah sutau karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata.1Sedangkan menurut Tarigan, fiksi adalah penyajian cara seorang pengarang memandang hidup ini, penulis mempunyai ide-ide yang tertentu dengan kehidupan.2
Sastra dapat berfungsi sebagai karya seni yang bisa digunakan sebagai sarana menghibur diri pembaca. Membaca sebuah karya sastra fiksi berarti menikmati cerita dan menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin.3
Jadi, karya fiksi merupakan cerita khayalan atau imajinatif yang ditulis oleh pengarang dengan cara pandangnya dari kehidupan nyata hubungan antar manusia, salah satu contohnya adalah novel.
Novel adalah salah satu jenis karya sastra yang popular dan banyak digemari kaum muda karena jalan ceritanya yang menarik serta memiliki kesan tersendiri bagi pembaca. Kesan yang didapat pembaca beragam, dari terkesan karena ceritanya hingga terkesan karena ikut merasakan peristiwa dalam cerita.
Novel merupakan karya fiksi dalam bentuk prosa yang bersifat naratif dengan alur yang kompleks.4
1Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012, hlm 2
2Henry Guntur Tarigan. Prinip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa 2011, hlm120
3Citra Salda Yanti, Religiositas Islam Dalam Novel Ratu Yang Bersujud Karya Amrizal Mochamad MahdavI,Jurnal Humanika No. 15, Vol. 3, Desember 2015 / ISSN 1979-8296
15
Lebih spesifik, novel merupakan salah satu karya sastra yang digemari oleh semua kalangan, baik kalangan muda maupun tua. Hal ini diperkuat oleh pendapat Warsiman bahwa, Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dalam bentuk naratif yang menggambarkan rangkaian peristiwa antar tokoh serta latar yang spesifik.5
Novel sebagai salah satu jenis karya sastra yang terpopuler dan banyak penikmatnya, merupakan media yang tepat untuk menampilkan serangkaian peristiwa secara terstruktur yang jalan ceritanya dapat menjadi sebuah pelajaran kehidupan, suatu kehidupan yang nyata dan dapat menjadi sebuah tugas untuk memberi pelajaran kepada para pembaca
Daya tarik yang dimiliki novel yaitu jalan cerita yang beragam sesuai keinginan pembaca serta memiliki nilai yang terkandung didalamnya sehingga pembaca bukan hanya tertarik membaca novel tetapi juga pesan yang tersirat dalam novel. Ciri khas novel yang tebal diisi sekitar lima puluh ribu kata dengan kompleks dan tanpa dibatasi oleh struktural. Hal ini diperkuat oleh pendapat Milingal dalam Warsiman, “The coventional definition of novel tell us that is it a work of fiction, off not less thats fifty thousand words, written in prose”.6
Dalam novel terdapat unsur instrinsik terdiri dari tema yaitu ide pokok sebuah cerita, latar waktu dan tempat yaitu latar yang menggambarkan suatu kejadian dalam cerita, sudut pandang (point of view) yaitu cara memandang penulis dalam menempatkan dirinya pada posisi tertentu di dalam cerita, alur yaitu struktur rangkaian kejadian dalam cerita, tokoh dan penokohan yaitu pemeran yang menggambarkan karakter
4Nani Solihati, Ade Hikmat, Syarif Hidayatullah, Teori Sastra: Pengantar Kesusastraan Indonesia, Jakarta: UHAMKA Press, 2016, hlm 96
5Warsiman, 2017, Pengantar Pembelajaran Sastra, Malang: UB. Press, Hlm 129
6Ibid, hlm 129
tokoh dalam cerita, gaya bahasa yaitu bahasa yang digunakan untuk memperlihatkan interaksi antar tokoh, dan amanat yaitu pesan, nasihat, yang disampaikan pengarang kepada pembaca.7
Pengertian tersebut sependapat dengan Subroto dalam Nani, Ade, dan Syarif bahwa, “unsur intrinsik terdiri dari tema, amanat, plot, perwatakan, dialog, dan pusat pengisahan.”8
Jadi, unsur intrinsik merupakan unsur yang membuat karya sastra kuat karena terdapat tema hingga amanat.
Unsur ekstrinsik meliputi latar belakang pengarang, bagaimana sikap, keyakinan, karakter serta pandangan hidup pengarang akan mempengaruhi karya sastranya. Selain itu, pandangannya terhadap bangsa, keadaan ekonomi, sosial, politik, budaya serta pendidikan akan berpengaruh terhadap karya sastranya.pembaca akan mendapat amanat dari tingkah laku tokoh, serta peristiwa yang mengiringi perjalanan tokoh dalam cerita. Hal itu merupakan cara pengarang memberikan amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca.9
Unsur Ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya.10
Jadi, unsur ekstrinsik adalah unsuryang secara tidak langsung terlibat dalam pembentukan karya sastra namun memiliki peran yang tidak kalah besar dengan unsur intrinsik.
7Kosasih, Dasar-dasar Keterampilan Bersastra, Bandung: CV. YRAMA WIDYA, 2012, hlm 60
8Nani Solihati, Ade Hikmat, Syarif Hidayatullah, op.cit, hlm 99
9Burhan Nurgiyantoro, op.cit, hlm 23
10Ibid, hlm 23
17
Salah satu kekuatan dari novel terletak pada latar atau setting, karena dalam latar atau setting cerita fiksi bukan hanya background, artinya bukan hanya menunjukkan tempat kejadian dan kapan kejadiannya. Latar adalah sebuah tempat dan waktu yang melingkupi peristiwa di dalam novel.11 Lebih lengkapnya, latar merupakan segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra12
Novel Pulang karya Tere Liye menjadi pilihan peneliti karena dalam novel tersebut memiliki latar/setting yang menarik untuk diteliti. Novel ini merupakan novel berseri, kelanjutan novel Pulang adalah novel Pergi.
Mengisahkan tokoh Bujang seorang anak dari tukang pukul Keluarga Tong, salah satu Keluarga besar shadow economy di dunia, ia direkrut dan didik untuk menjadi salah satu orang penting di Keluarga Tong karena keberanian, dan kecerdasannya.
Peneliti semakin yakin akan pilihan novel Pulang sebagai bahan penelitian, karena menurut Quincey dalam Endraswara, kriteria untuk menganalisis karysa sastra antara lain,“(1) literature of power, yaitu karya yang mampu menggerakkan hati pembacanya, dengan daya tarik emosi dan imajinasi.,(2) literature of knowledge, yaitu karya yang memiliki kandungan nilai, isinya berharga, dan disajikan melalui kata-kata yang terpilih.”13 Jadi, menurut peneliti novel ini memiiki dua kriteria tersebut, karena pembaca dibuat terbawa emosi dan ikut dalam aksi-aksi Bujang disetiap peristiwanya,
11Nani Solihati, Ade Hikmat, Syarif Hidayatullah, op.cit , hlm 103
12Melani Budianta, et.al, Membaca Sastra: Pengantar Memahami Sastra Untuk Perguruan Tinggi, Magelang: IndonesiaTera, 2002, hlm 86
13Suwardi Endaswara, Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra, Yogyakarta: CAPS, 2011, hlm 104
dan memiliki kandungan atau pesan dalam novel ini mengartikan kata
“Pulang” yang sebenarnya seperti judul novel.
Disamping itu terdapat pesan lainnya, yaitu karakteristik seorang Tere Liye dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan menarik serta imajinatif.
Diksi dan susunan katanya dapat menghanyutkan pembacanya pada alur cerita. Terdapat banyak amanat yang terkandung di dalamnya, baik tersirat maupun tersurat. Judul novel yang singkat dengan satu kata “Pulang”
memiliki daya tarik tersendiri karena pembaca akan penasaran dengan maksud dari kata pulang tersebut.
Hal itu menjadi contoh bagi peserta didik untuk bisa membuat karya sastra berupa cerpen atau novel dikemudian hari. Tere Liye menjadi contoh yang baik untuk peserta didik dalam membuat karya sastra. Dalam pembelajaran novel ini terbilang cukup ringan, baik secara bacaan maupun analisis bagi peserta didik.
Tere Liye menghasilkan satu bahkan dua buah novel setiap tahunnya.
Karya yang dimiliki Tere Liye setiap masing-masingnya sangat berbeda satu sama lain. Keunikan-keunikan yang terdapat disetiap novelnya selalu berbeda. Kehadiran novel Pulang berhasil menarik perhatian peneliti untuk menjadikan novel Pulang sebagai objek penelitian.
Kepopuleran novel Pulang karya Tere Liye sudah tidak diragukan lagi, terhitung dari tahun 2015 hingga April 2018 novel ini sudah mengeluarkan cetakan ke-28. Artinya, novel ini sangat diapresiasi oleh masyarakat, khususnya penggemar karya-karya Tere Liye.
19
Peneliti telah memilih Novel Pulang karya Tere Liye sebagai bahan penelitian,cara untuk mengkaji sebuah karya sastra khususnya novel sangat beragam, salah satunya adalah menganalisis salah satu unsur pembagun novel, dalam hal ini penelliti memilih latar sosial budaya sebagai hal yang diteliti atau dianalisis karena novel Pulang karya Tere Liye merupakan kisah yang ceritanya sering terjadi dalam masyarakat serta menggambarkan sebuah tata nilai kemasyarakatan.
Selain itu, masih jarang penelitian yang berkaitan dengan aspek latar sosial budaya dalam menganalisis novel, serta masih banyak yang belum mengetahui khususnya peserta didik bahwa latar dalam novel bukan hanya latar tempat, waktu, dan suasana tetapi juga ada latar sosial dan budaya seperti yang akan peneliti paparkan.
Pada dasarnya latar terdiri atas latar waktu, tempat, dan sosial. Latar sosial berperan menentukan kekhasan yang terdapat pada latar tempat. Latar sosial dapat secara meyakinkan menggambarkan suasana kedaerahan, local color, dan warna setempat daerah tertentu. Disamping penggunaan bahasa daerah, masalah penamaan tokoh dalam banyak hal juga berhubungan dengan latar sosial.14 Latar sosial mengandung unsur-unsur yang tergolong dalam latar spiritual, seperti kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, sikap hidup, cara berpikir, status sosial, dan lain-lain.
Jadi, dalam penelitian ini latar budaya termasuk dalam latar sosial yang dimaksud karena mengandung latar budaya didalamnya yang mampu
14Burhan Nurgiyantoro, op.cit, hlm 235
membentuk atau merubah watak tokoh, yaitu Bujang dalam novel Pulang karya Tere Liye.
Salah satu cabang ilmu sastra yang dekat dengan analisis latar sosial budaya adalah pendekatan sosiologi sastra, menurut Djoko dalam Yudiono, pendekatan sosiologi sastra adalah pendekatan yang memandang karya sebagai produk sosial, karena pengarang adalah anggota masyarakat yang tidak lepas dengan kehidupan disekitarnya.15 Tujuan dari sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan, dalam hal ini karya sastra disusun secara imajinatif, tetapi kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luat kerangka empirisnya dan karya sastra bukan semata- mata merupakan gejala individual tetapi gejala sosial. 16
Salah satu bahan kajian dari sosiologi sastra adalah latar sosial budaya artinya peneliti melihat tokoh utama, yaitu Bujang, karena latar khususnya latar sosial budaya mampu memengaruhi kepribadian Bujang dalam mencari jati dirinya yang sebenarnya.
Seperti diketahui bahwa Tere Liye terlahir di pedalaman Tanah Sumatra serta pekerjaan orang tuanya sebagai petani, hal itu menginspirasinya untuk membuat karakter tokoh Bujang dalam novel Pulang.
Diceritakan Bujang lahir di tanah Sumatra bersama kedua orang tuanyayang berprofesi sebagai petani, tanah Sumatra membuatnya memiliki fisik dan mental yang kuat, selain fisik dan mental, tanah Sumatera juga membentuk
15Yudiono, Pengkajian Kritik Sastra Indonesia, Semarang: Grasindo, 2009, hlm 112
16CARAKA,Aspek Sosial dalam Novel Partikel Karya Dewi Lestari: Tinjauan Sosiologi Sastra, Volume 3, Nomor 1, Edisi Desember 2016
21
kepribadian, serta pandangan hidup sehingga ketika usia 15 tahun. Bujang dibawa oleh sahabat sang Ayah ke Kota. Petualangan Bujang bersama dengan latarnya yang beragam membantu Bujang berkembang secara fisik maupun mental. Disitulah kecerdasan Tere Liye membuat tokoh Bujang terasa begitu emosional disetiap latar dan konfliknya.
Selain latar sosial budaya, penelitian ini menyangkut pendekatan struktural genetik. Menurut Goldman dalam Alfian bahwa, Karya sastra merupakan sebuah struktur yang tidak bisa berdiri sendiri, melainkan banyak hal yang menyokongnya sehingga secara ia menjadi satu bangunan yang otonom.17Artinya peneliti juga menganalisis unsur pembangun novel dari mulai tema hingga amanat dalam novel Pulang karya Tere Liye.
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) merupakan informasi, alat dan teks yang dipergunakan guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.18 Dengan kata lain, bahan ajar adalah segala bentuk bahan atau materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang dijadikan bahan ajar sastra di sekolah. Sebagai bahan ajar, novel harus diperkenalkan sejak usia sekolah, agar peserta didik mampu menghargai karya sastra, memperoleh pengalaman tentang karya sastra, menumbuhkan kesenangan, memperoleh
17Alfian Rokhmansyah, Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014,hlm 74.
18Melani Budianta, et.al , Ibid. Hlm 86
informasi yang berbeda dengan informasi dalam ensiklopedia dan mengembangkan warisan budaya.
Dalam silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XI, Kompetensi Dasar 3.9 berisi, “Menganalisis pesan dari buku fiksi yang dibaca.”
Artinya dalam Kompetensi Dasar tersebut, peserta didik diminta untuk menganalisis isi dan kebahasan, yang dimaksud isi dan kebahasaan adalah unsur pembangun yang ada dalam novel, dari tema hingga amanat.
Dalam kurikulum 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) mewajibkan setiap sekolah untuk melakukan kegiatan literasi atau gerakan membaca, hal itu agar peserta didik dapat meningkatkan minat baca terhadap buku-buku selain buku pelajaran, selain itu juga agar peserta didik mendapatkan ilmu yang seimbang antara buku pelajaran dan buku non-pelajaran.
Maka dari itu, novel dapat menjadi bahan bacaan menarik bagi peserta didik, karena selain cerita yang menarik, terdapat juga pesan atau amanat yang positif bagi peserta didik.
Berdasarkan hal tersebut peneliti semakin yakin bahwa novel Pulang karya Tere Liye ini dapat dijadikan bahan yang dapat diapresiasikan dalam pembelajaran sastra di SMA karena mengandung analisis, salah satunya analisis latar atau setting. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian dengan judul “Aspek Sosial Budaya dalam Novel Pulang Karya Tere Liye sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di SMA.”
B. Fokus dan Subfokus Masalah
23
1. Fokus
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini difokuskan pada, “Aspek Sosial Budaya Dalam Novel Pulang Karya Tere Liye Sebagai Bahan Pembelajaran Sastra Indonesia di SMA”.
2. Subfokus
Berdasarkan fokus penelitian yang dikemukakan di atas, maka peneliti dapat merumuskan subfokus penelitian sebagai berikut:
a. Aspek sosial budaya menggunakan pendekatan sosiologi sastra
b. Implikasi novel pulang karya tere liye sebagai bahan pembelajaran sastra Indonesia di SMA
C. Pertanyaan Penelitian
a. Bagaimana unsur sosial budaya dari sistem bahasa?
b. Bagaimana unsur sosial budaya dari sistem sosial budaya?
c. Bagaimana unsur sosial budaya dari sistem mata pencaharian hidup?
d. Bagaimana unsur sosial budaya dari sistem religi?
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Siswa, dapat mengetahui amanat novel Pulang sebagai motivasi belajar.
2. Bagi Guru, dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan ajar Sastra Indonesia serta dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.
3. Bagi Peneliti Lain, dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang latar budaya yang terdapat pada Novel Pulang karya Tere Liye.
25 BAB II
KAJIAN TEORETIS DAN KERANGKA BERPIKIR A. Deskripsi Teori
Dalam penelitian ini peneliti berusaha mengemukakan teori-teori yang sesuai dengan manfaat dan teori-teori yang digunakan adalah teori yang dapat menunjang penelitian ini tentang “Aspek Sosial Budaya dalam Novel Pulang karya Tere Liye sebagai Bahan Pembelajaran Sastra Indonesia di SMA”.
1. Hakikat Novel a. Pengertian Novel
Novel merupakan salah satu karya sastra yang banyak digemari orang karena ceritanya yang mampu membawa pembaca masuk ke dalam dunia tokoh dalam novel tersebut, serta keberagaman isi cerita yang menarik dan membuat penasaran pembaca.
Novel pada awalnya berasal dari bahasa Italia, novella, yang berarti
‘sebuah kisah, sepotong berita’. Novel adalah gambaran dari kehidupan dan perilaku yang nyata dari zaman pada saat novel itu ditulis.1
Sedangkan menurut Tarigan, novel berasal dari bahasa latin novellus yang diturunkan juga dari kata novies yang berarti “baru”. Dikatakan baru karena bila dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lainnya.2
Novel tetap sebuah karya sastra bersifat naratif fiksi, walaupun novel itu berdasarkan kisah nyata, hal ini diperkuat oleh pendapat Clara Reeve
1Pujiharto, Pengantar Teori Fiksi. Yogyakarta: Ombak, 2010, hlm 8
2Henry Guntur Tarigan. op.cit, hlm.164
dalam Renne Wellek dan Austin Warren bahwa,“The novel is a picture of real life and manners, and of the time in which is written.”3
b. Jenis-Jenis Novel
Berdasarkan cara penyajian dan tujuan penyampaiannya, Nurgiantoro berpendapat bahwa, “Novel dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu: Novel Serius, Novel Populer, Novel Teenlit.”4 Dilain pihak, Mochtar Lubis dalam bukunya Tatigan berpendapat bahwa, novel dapat diidentifikasikan menurut jenisnya, di antaranya: “(1) Novel Avontur, (2) Novel Psikologis, (3) Novel Sosial dan Politik.”5
Melalui kedua pendapat tersebut maka, dapat diketahui bahwa jenis novel di antaranya:
1) Novel Serius, yaitu novel yang menuntut pembaca untuk menggunakan daya intelektualnya.
2) Novel Populer, yaitu novel yang dibuat dengan tujuan sebagai hiburan dan simpel.
3) Novel Teenlit, yaitu novel yang ditujukan untuk remaja, seperti cerita cinta atau persahabatan.
4) Novel Avontur, yaitu novel yang berpusat pada tokoh tau lakon melalui garis cerita secara kronologis.
5) Novel Psikologis, yaitu novel yang bertujuan pada pemeriksaan seluruhnya dari semua pikiran-pikiran tokoh.
3Renne Wellek dan Austin Warren, terj Melani Budianta, Teori Kesusastraan, Jakarta: PT GramediaPustaka Utama, 1993, hlm 282
4Burhan Nurgiantoro,op,cit, hlm. 23
5Henry Guntur Tarigan, op.cit, hlm 169
27
6) Novel Sosial dan Politik, yaitu novel yang memberikan gambaran antara dua golongan yang bentrok pada satu waktu.
Melalui berbagai jenis kategori novel yang diidentifikasikan, maka novel sebagai karya fiksi dapat dikatakan sebagai cerminan hidup manusia, karena jenis-jenis novel tersebut terdapat dalam aspek kehidupan manusia.
c. Unsur-Unsur Novel
Novel terdiri dari dua unsur, yaitu unsur intrinsik (unsur dalam) dan unsur ekstrinsik (unsur luar).
1) Unsur Intrinsik
Menurut Milhorn dalam Nani, Ade, dan Syarif bahwa, elemen karya fiksi dibangun dengan enam aspek, yakni: (1) alur, cerita dan struktur, (2) latar, (3) penokohan, (4) sudut pandang, (5) prosa, dan (6) tema dan subyek.6
Unsur intrinsik sebuah karya sastra memiliki ciri yang konkret, ciri- ciri tersebut meliputi jenis sastra (genre), pikiran, perasaan, gaya bahasa, gaya penceritaan, dan strukutur karya sastra.7
Jadi, unsur intrinsik merupakan unsur pembangun dalam karya sastra yang di dalamnya terdapat penokohan atau perwatakan, tema, alur, latar, pusat pengisahan, serta gaya bahasa. Tanpa unsur-unsur yang membentuk suatu karya sastra tidak akan menarik untuk dinikmati.
6Nani Solihati, Ade Hikmat, dan Syarif Hidayatullah, op.cit, hlm 98
7Sri Lestari dkk, Analisis Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Pada Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2014 Serta Relevansinya Sebagai Materi Pembelajaran Sastra Di Sekolah Menengah Atas, Basastra Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya Volume 4 Nomor 1, 2016
a) Tema
Tema adalah ide pokok sebuah cerita atau garis besar yang terdapat dalam sebuah cerita. Novel merupakan gagasan penulis untuk memberikan pesan kepada pembacanya.8
Theme is not summary of the story, theme in literature is important subject and experience of our public and private lives such as love, death, marriage, hope, despair, dan so on. the common experience in lives can be a theme in literature.9
Dapat disimpulkan bahwa, tema merupakan dasar dalam sebuah karya sastra, ide pokok dalam cerita yang memperlihatkan isi cerita sehingga tersampaikan kepada pembaca.
b) Tokoh dan Penokohan
Tokoh dan Penokohan adalah pelaku atau pemeran yang menggambarkan karakter tokoh dalam cerita. Penokohan merupakan cara pengarang dalam melukiskan tokoh, sedangkan perwatakan merupakan cara pengarang dalam menggambarkan watak dan kepribadian tokoh.10
Dalam menggambarkan secara analitik, penulis memperkenalkan tokohnya dengan cara mengidentifikasikan fisik tokoh dan kebiasaan- kebiasaannya.11
8Nani Solihati, Ade Hikmat, dan Syarif Hidayatullah, op.cit, hlm 99
9Nicholas Marsh, How to Begin Studying English Literature, New York: Palgrave, 2016, page 1
10Pujiharto, op.cit, hlm 44
11Nani Solihati, Ade Hikmat, dan Syarif Hidayatullah, op.cit, hlm 101
29
Jadi, tokoh dalam hal ini merupakan individu ciptaan pengarang yang memerankan bagian dan mengalami peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita, serta menampilkan watak dari tokoh melalui kebiasaan-kebiasaanya.
c) Alur
Alur atau plot adalah tahapan peristiwa di dalam sebuah cerita yang berisi tingkah laku tokoh yang bersifat kausal. 12
Menurut Tarigan,alur atau plot adalah struktur gerak yang terdapat dalam fiksi atau drama.Secara umum alur terbagi atas beberapa bagian yaitu (1) Pengenalan situasi cerita (exposition), (2) Pengungkapan peristiwa (complication), (3) Menuju pada adanya konflik (rising action), (4) Puncak konflik (turning point), (5) Penyelesaian (ending).13
Jadi, alur merupakan kerangka utama cerita yang menandai urutan- urutan peristiwa dalam cerita serta memiliki hubungan sebab-akibat.
d) Latar
Latar (setting) adalah tempat dan waktu yang berlangsung dan menggambarkan suatu kejadian dalam cerita. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Pujiharto, bahwa “Latar adalah elemen fiksi yang menyatakan pada pembaca dimana dan kapan terjadinya peristiwa.”14
Pendapat lainnya, Latar adalah sebuah tempat dan waktu yang melingkupi peristiwa di dalam novel, latar tempat merupakan lokasi terjadinya peristiwa di dalam novel, sedangkan latar waktu berkaitan dengan
12Ibid,hlm 99
13Henry Guntur Tarigan, op.cit, hlm 126
14Pujiharto, op.cit, hlm 47
waktu terjadinya peristiwa. Waktu bisa berupa musim, tahun, bulan, jam, hari, menit, detik.15
e) Gaya
Gaya Bahasa adalah suatu bahasa yang digunakan pengarang untuk menciptakan nada serta merumuskan dialog yang memperlihatkan interaksi dan komunikasi antar tokoh. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Nani, Ade, dan Syarif, bahwa “Gaya Bahasa adalah gaya penceritaan penulis ketika membangun unsur intrinsik dalam novel’’16
f) Sudut Pandang
Sudut Pandang (point of view) adalah sudut pandang yang dipilih penulis untuk melihat suatu kejadian pada cerita. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Nani, Ade, dan Syarif, bahwa
“Sudut Pandang adalah serangkaian teknik yang dipilih pengarang agar dapat memposisikan dirinya di dalam sebuah karangan untuk menyampaikan gagasannya. Berdasarkan teknik bercerita pengarang dapat menempatkan dirinya dalam tiga sudut, yaitu: (1) sudut pandang orang pertama, (2) sudut pandang orang kedua, (3) sudut pandang orang ketiga’’17
g) Amanat
Amanat adalah suatu pesan atau nasehat yang disampaikan penulis kepada pembaca melalui novelnya dan untuk memberikan pembelajaran hidup penulis kepada pembaca. Hal ini dikuatkan dengan pendapat Nani, Ade, dan Syarif, bahwa amanat adalah pesan yang inginn disampaikan
15Nani Solihati, Ade Hikmat, dan Syarif Hidayatullah, op.cit, hlm 101
16Ibid., hlm 104.
17Ibid., hlm 74.
31
penulis kepada pembacanya dalam usaha menyampikan amanat ini, novel umumnya menyampaikan amanat secara tersirat.18
Jadi, amanat merupakan pesan secara implisit yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca sebagai nasihat, anjuran, peringatan, pelajaran, dan lain-lain.Dalam karya sastra pengarang ingin menyampaikan pesan moral dan pesan sosial yang nantinya akan menjadi amanat bagi pembaca atau penikmat karya sastra.
2) Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, dan secara tidak langsung mempengaruhi unsur intrinsik dalam karya sastra.
Dengan kata lain, unsur ekstrinsik mempengaruhi cerita dalam karya sastra tetapi tidak ikut bagian di dalamnya. Adanya unsur ekstrinsik cukup menentukan cerita yang di hasilkan dalam karya sastra.
Hal ini dikuatkan dengan pendapat Nani, Ade, dan Syarif, bahwa yang dimaksudkan bagian di luar karya sastra adalah latar belakang pengarangnya dan sosial budaya yang melingkupi keberadaannya.19
Jadi, unsure ekstrinsik terbagi menjadi tiga aspek yaitu yang pertama adalah latar belakang pengarang, artinya yang akan berpengaruh banyak pada novel yang dibuat, karena mengenal dengan baik untuk dijelaskan pada novel yang dibuat. Kedua, kondisi social budaya pengarang, artinya ketika pengarang hidup zaman kemerdekaan pasti akan bercerita tentang zaman kemerdekaan pada novel yang dibuat.
18Ibid., hlm 106
19Ibid., hlm 82
2. Pendekatan Sosiologi Sastra
Menurut Endraswara menyebutkan bahwa sosiologi sastra (sosiologi of literature) adalah ilmu yang memanfaatkan faktor sosial sebagai pembangun sastra.20Pengertian lain, menurut Faruk “sosiologi sastra sebagai studi ilmiah dan objektf mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga dan proses-proses sosial”21
Artinya, faktor sosial diutamakan untuk mencermati karya sastra, sehingga sosiologi sastra sering disebut sastra dan masyarakat.
Menurut Damono sosiologi adalah studi objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat; telaah tentang lembaga dan proses sosiologi22. Jadi, sosiologi sastra merupakan ilmu yang mempelajari tentang proses sosiologi dalam masyarakat.
Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain yang kesemuanya itu merupakan struktur sosial.23
Aspek-aspek yang diteliti atau dibahas dalam sosiologi sastra adalah semua yang berhubungan dengan struktur sosial masyarakat, seperti ekonomi, politik, agama, budaya, dan lain-lain.
Menurut Nyoman Kuta Ratna Ratna, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan
20Suwardi Endraswara, op.cit, hlm 5
21Faruk, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1994, hlm 1.
22Supardi Djoko Damono, Kesusastraan Indonesia Modern, Jakarta: Gramedia, 1983, hlm 8.
23Juna Tamaraw, Analisis Sosiologi Sastra Terhadap Novel 5cm, Universitas Sam Ratulangi, Jurnal Skripsi, 2015, hlm 6
33
masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut:
1) Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, ketiganya adalah anggota masyarakat.
2) Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat.
3) Karya sastra baik lisan maupun tulisan dipinjam melalui kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya telah mengandung masalah kemasyarakatan.
4) Berbeda denga ilmu pengetahuan, agama, dan adat-istiadat dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetik, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentigan terhadap ketiga aspek tersebut.
5) Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya24
Wilayah sosiologi sastra cukup luas. Rene Wellek dan dan Austin Warren (1956) membagi telaah sosiologis menjadi tiga klasifikasi.
Pertama, sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang. Kedua, sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra. Yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya. Ketiga, sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.25
Jadi, dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan klasifikasi sosiologi karya sastra, yaitu menelaah suatu karya sastra, dalam hal ini adalah novel.
24Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, Dan Teknik Penelitian Sastra, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003,hlm 332
25Muslimin, Modernisasi Dalam Novel Belenggu Karya Armijn Pane “Sebuah Kajian Sosiologi Sastra”Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya | Issn 2088-6020 | Vol. 1, No. 1 Mei 2011 hlm 5
3. Latar Sosial Budaya
Latar atau setting cerita dalam fiksi bukan hanya background, artinya bukan hanya menunjukkan tempat kejadian dan kapan kejadiannya. Latar dalam arti yang lengkap meliputi aspek ruang dan waktu terjadinya peristiwa, serta aspek suasana.26 Latar atau setting cerita dapat berperan untuk menjelaskan atau menghidupkan peristiwa dalam isi cerita. Hal ini disebabakan latar atau setting sangat berpengaruh sekali bagi perilaku dan jiwa seorang tokoh.
Latar merupakan satu unsur karya sastra yang keberadaannya turut menentukan isi dan jalan cerita sebuah roman. Pada hal ini latar diartikan sebagai keterangan tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah karya sastra khususnya roman. Secara garis besar unsur latar dapat dikelompokkan menjadi tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial. Ketiga unsur tersebut meski masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya, saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. 27
Latar sosial budaya merupakan salah satu pembahasan dari cabang ilmu sastra yaitu sosiologi sastra. Sosisologi sastra adalah sebuah perspektif pemahaman sastra dan aspek sosial. Oleh karena itu, perspektif yang dibangun mengadopsi bidang lain, seperti antropologi, agama, filsafat,
26Alfian Rokhmansyah, op.cit. hlm 38.
27Burhan Nurgiyantoro, op.cit, hlm227.
35
politik, budaya, dan lain-lain.28Sastra menawarkan kehidupan unik manusia yang bersifat imajinatif.Menurut Djoko dalam Yudiono, pendekatan sosiologi sastra adalah pendekatan yang memandang karya sebagai produk sosial, karena pengarang adalah anggota masyarakat yang tidak lepas dengan kehidupan disekitarnya.29
Menurut Nurgiyantoro, Latar sosial menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.30 Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat-istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir, cara bersikap, dan lain-lain. Selain itu hubungan status sosial tokoh yang bersangkutan misalnya, rendah, menengah, dan atas.
Kebudayaan berasal dari kata Sansakerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Jadi, ke-budaya-an dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal.31
Kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan, istilah ini meliputi cara- cara berlaku, kepercayaan- kepercayaan dan sikap- sikap dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu. Selain tokoh diatas ada beberapa tokoh antropologi yang mempunyai pendapat berbeda tentang arti dari budaya (Culture).
28Suwardi Endaraswara, op.cit, hlm 94
29Yudiono, Pengkajian Kritik Sastra Indonesia, Semarang: Grasindo, 2007, hlm 112
30Ibid, hlm 233
31Koentjaraningrat,. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004, hlm 9
Menurut Koentjaraningrat, istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Menurutnya, ada tujuh unsur kebudayaan, yaitu: (1) Sistem Bahasa Sistem,(2) Pengetahuan, (3) Sistem Sosial Unsur budaya,(4) Sistem Hidup dan Teknologi, (5) Sistem Mata Pencaharian Hidup,(6) Sistem Religi (7) Kesenian.32
Dari ketujuh yang akan dibahas dalam novel ini adalah 1) sistem bahasa, 2) sistem sosial 3) sistem mata pencaharian hidup, 4) sistem religi.
Keempat sistem tersebut merupakan sistem yang menurut peneliti dominan dalam novel Pulang karya Tere Liye.
4. PembelajaranSastra dalam Kurikulum SMA a. Kurikulum Pembelajaran Sastra di SMA
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia sehingga menjadikan bangsa Indonesia yang cerdas dan dan kompetitif.
b. Tujuan Pembelajaran Sastra di SMA
Pembelajaran sastra dalam kurikulum SMA dirasakan penting, karena sastra dapat meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, sosial, dan menumbuhkan kreativitas untuk berkarya, dan mengajarkan kesantunan, sehingga terciptanya rasa menghargai dan bangga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
32Ibid.,hlm 2
37
Namun, ada pula pendapat bahwa sastra hanya diperlukan sebagai penambah wawasan saja, tanpa harus mempelajari secara mendalam, hal ini dikarenakan pelajar belum bisa menangkap makna dan mengambil manfaat secara maksimal dari karya sastra itu sendiri. Sementara memasukan materi sastra pada pendidikan formal berarti memaksa mereka yang tidak suka menjadi harus menyukai sastra. Selain berarti memasung kreativitas pelajar, hal ini berlawanan dengan tujuan pendidikan yang ingin menghasilkan generasi yang kreatif.
Masalah yang harus dibenahi adalah pengemasan pengajaran sastra yang masih kaku dan rumit. Hal ini akan sangat mempersulit tercapainya tujuan pengajaran sastra yang bermaksud menumbuhkan nilai kehidupan. Sementara, jika untuk kurikulum sendiri, Hernawan, dkk mengungkapkan bahwa kurikulum memiliki peranan dan fungsinya.
Kurikulum memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan, bahkan kurikulum merupakan syarat muttlak dan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri. Apabila dirinci secara lebih mendetail peranan kurikulum sangat penting dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan, paling tidak terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting, yaitu peranan konservatif, peranan kritis, atau evaluatif, dan peranan kreatif.33
Maka melalui pernyataan di atas, kurikulum merupakan faktor penting dalam menjalankan aktifitas pembelajaran. Selain itu, dalam proses
33Asep Herry Hernawan. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka. 2008, hlm 6.
pembelajaran seorang guru dituntut untuk aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan, serta tidak ketinggalan jaman. Guru juga dituntut mengembangkan kompetensinya sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dari segi isi maupun kemasannya.
B. Kerangka Berpikir
Sastra merupakan sebuah karya dimana seseorang dapat mengekspresikan gayanya dengan bebas. Dengan pengimajinasian, pencitraan, perasaan bebas dituangkan melalui karya sastra. Karya sastra memiliki banyak bentuk diantaranya adalah novel. Novel merupakan sebuah karya dimana seseorang menuangkan segala ide, imajinasi yang ada di dalam pikiran dan perasaannya ke dalam sebuah tulisan. Meskipun novel terbilang baru dikalangan karya sastra lainnya namun sampai saat ini novel masih memiliki tempat khusus bagi sebagian orang.
Unsur-unsur dalam sebuah karya sastra terlebih mengenai novel terdapat dua unsur yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik membahas mengenai hal-hal yang ada di dalam karya sastra itu sendiri, seperti tema, tokoh, alur, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat. Selain itu adapun unsur ekstrinsik yang memiliki ruang lingkup lebih kepada hal-hal yang berada di luar karya sastra. Biasanya mengenai nilai-nilai yang ada di lingkungan sekitarnya.
Menurut Koentjaraningrat, ada tujuh unsur kebudayaan yaitu sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem sosial unsur budaya, sistem hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Dari ketujuh
39
yang akan dibahas dalam novel ini adalah 1) sistem bahasa, 2) sistem sosial 3) sistem mata pencaharian hidup, 4) sistem religi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra, yaitu melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat, karena pengarang dari sebuah karya sastra berasal dan terinspirasi dari kehidupan masyarakat.
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia sehingga menjadikan bangsa Indonesia yang cerdas dan dan kompetitif.
C. Penelitian Yang Relevan
Penelitian ini memperoleh data yang relevan dari penelitian sebelumnya. Data yang didapat oleh peneliti untuk memperjelas masalah.
Penelitian ini relevansi dengan penelitian yang dianalisis oleh:
Nama: Yuliani Rahmah “Dongeng Timun Emas (Indonesia) Dan Dongeng Sanmai No Ofuda (Jepang) (Studi Komparatif Struktur Cerita Dan Latar Budaya)”Tesis. Semarang: Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Diponegoro, 2007.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menjawab tiga permasalahan utama, yakni: (1) mengungkap struktur cerita dongeng Timun Emas dan dongeng Sanmai no Ofuda; (2) mengungkap unsur-unsur budaya yang terdapat dalam dongeng Sanmai no Ofuda dan dongeng Timun Emas;
dan (3) mengungkap persamaan dan perbedaan dari kedua dongeng tersebut.
Untuk dapat menjawab ketiga permasalahan tersebut digunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan sastra bandingan, pendekatan strukturalisme model A.J Greimas dan pendekatan kebudayaan. Ketiga pendekatan tersebut digunakan karena yang menjadi objek penelitian ini adalah dua buah karya sastra berbeda bahasa yang kemudian dibandingkan dari segi struktur dan aspek budayanya.
Relevansi dengan penelitian di atas adalah persamaan pertanyaan penelitian yang menyangkut tentang unsur dan latar kebudayaan.
Perbedaannya terletak pada objek penelitian, serta pendekatan yang digunakan dalam penelitian. Hasil penelitian lebih kompleks karena menggunakan dua objek penelitian untuk membandingkan latar budaya dari setiap objek.
41 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini akan dijelaskan tentang tujuan, tempat dan waktu penelitian, latar penelitian, metode dan prosedur penelitian, data dan sumber data, teknik dan prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data.
A. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali latar sosial budaya yang terdapat pada Novel Pulang karya Tere Liye dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran Sastra Indonesia di SMA.
B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Tempat penelitian
Tempat penelitian tidak terkait pada satu tempat karena merupakan kajian pustaka, yaitu Pulang karya Tere Liye.
2. Waktu Peneltian
Waktu penelitian ini selama dua bulan terhitumg sejak bulan November 2018 sampai bulan Juli 2019. Penelitian dimulai dari pengajuan judul hingga tesis bab I – V.
Tabel 3.1
Jadwal Penelitian Tesis
C. Latar Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian yang sudah dikumpulkan kemudian dicari latar sosial budaya yang terdapat dalam novel tersebut.
Penyajian penelitian ini agar mudah memahami dan mengambil latar sosial budaya yang terkandung dalam novel Pulang karya Tere Liye oleh para pembaca masa kini.
Menurut Koentjaraningrat, istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Menurutnya, ada tujuh unsur kebudayaan, yaitu:1 (1) Sistem Bahasa Sistem,(2) Pengetahuan, (3) Sistem Sosial Unsur budaya,(4) Sistem Hidup dan Teknologi, (5) Sistem Mata Pencaharian Hidup,(6) Sistem Religi (7) Kesenian.
1 Koentjaraningrat,op.cit, hlm 2
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
Pengajuan judul tesis dan persetujuan kepada dosen pembimbing 2 Penyusunan Bab
I dan Revisi 3 Penyusunan Bab
II dan revisi II 4 Penyusunan Bab
III dan revisi III 5 Seminar proposal
tesis
6 Revisi proposal tesis
7
Penyusunan Bab IV dan revisi Bab IV
8
Penyusunan Bab V, abstrak dan revisi 9 Konsultasi Bab I-
V, abstrak dll 10 Sidang tesis
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli
No Keterangan
November Desember
43
Dari ketujuh yang akan dibahas dalam novel ini adalah 1) sistem bahasa, 2) sistem sosial 3) sistem mata pencaharian hidup, 4) sistem religi.
D. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Penelitian deskriptif artinya penelitian yang diarahkan untuk memberikan fakta-fakta, gejala- gelaja, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat populasi atu daerah tertentu.1
Pengertian lain, metode deskriptif kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data keskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.2
Dalam perspektif sastra, penelitian ini menggunakan penelitian sastra secara sosiologis. Menurut Damono dalam Endraswara, “mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelitian. Penelitian diarahkan pada teks untuk menguraikan strukturnya, kemudian digunakan untuk memahami gejala sosial”3
Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menggunakan dua metode.
Pertama metode deskriptif, karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata.
Kedua, menggunakan penelitian perspektif sosiologis sastra, karena karya sastra menjadi bahan penelitian.
E. Data dan Sumber Data
Data merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang dibahas dan sumber data merupakan data yang terkait dengan
1 Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, Jakarta: BumiAksara, 2009, hlm 47
2Waslam, Analisis Tokoh Dan Penokohan Novel Jantan Karya Edijushanan, Jakarta:
Universitas Esa Unggul, Forum Ilmiah Volume 14 Nomor 1, Januari 2017, hlm 103
3Suwardi Endraswara, op.cit, hlm 95
subyek penelitian dari data yang diperoleh. Data dalam penelitian ini adalah novel Pulang karya Tere Liye dan sumber data dalam penelitian ini berupa gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, pengulangan.
Novel Pulang karya Tere Liye diterbitkan oleh Republika pada bulan September 2015 di Jakarta. Novel ini berjumlah 399 halaman, novel ini merupakan jenis sastra: Novel, Fiksi.
F. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan objek penelitian.
2. Membaca dan memahami isi novel Pulang karya Tere Liye yang menjadi objek penelitian.
3. Menganalisis latar sosial budaya pada novel.
4. Memasukan data ke dalam tabel analisis.
5. Mengelompokan data kutipan berdasarkan kriteria analisis.
6. Mendeskripsikan data kutipan yang mengandung latar sosial budaya.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah kegiatan pemaknaan data yang telah diperolehdari latar sosial budaya Pulang karya Tere Liye. Pemaknaan melaluidata dihubungkan dengan ide atau gagasan (visi) yang ingin disampaikan olehpengarang. Dengan demikian, analisis data ini mendeskripsikan ide atau gagasan yang merupakan visi pengarang untuk mendukung keberadaan latar sosial budaya yang akan dikaji. Teknik analisis
45
digunakan karena data bersifat kualitatif dan memerlukan penjelasan secara deskriptif.
Setelah data terkumpul, langkah yang akan dilakukan dalam teknik analisis data ini adalah:
1. Menganalisis latar sosial budaya yang terdapat pada sampel dengan menandai kalimat atau paragraf yang sesuai fokus penilaian.
2. Memasukan data kutipan yang telah ditemukan ke dalam tabel analisis.
3. Mengelompokan data hasil analisis sesuai dengan kriteria analisis.
4. Mendeskripsikan data kutipan yang mengandung latar sosial budaya H. Instrumen Penelitian
Intrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk memudahkan peneliti dalam melakukan penelitiannya.Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan teknik catatan karena data-datanya berupa teks, novel, buku sumber, dan dibantu tabel analisis.Peneliti berperan sebagai perencana,pengumpul data, penafsir data, penganalisis, dan pelapor hasil penelitian.
Kegiatan analisis yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan mengklasifikasikan data yang didapat dari novel Pulang karya Tere Liye. Data tersebut kemudian dimasukkan kedalam tabel analisis. Adapun tabel analisis sebagai berikut:
Tabel 3.2
Format Penyajian Data Hasil Analisis Latar Sosial Budaya
HLM
LATAR SOSIAL BUDAYA
KET Sistem Bahasa Sistem Sosial Sistem Mata
Pencaharian
Sistem Religi
Tabel 3.3
Kriteria Analisis Latar Sosial Budaya1
Sistem Bahasa Bahasa yang digunakan penulis dalam novel serta komunikasi antar tokoh.
Sistem Sosial Unsur Budaya
Sikap dan perilaku pada tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari.
Sistem Mata Pencaharian Hidup
Profesi atau pekerjaan yang menjadikannya pokok penghidupan, pekerjaan untuk biaya sehari-hari.
Sistem Religi Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
1Koentjaraningrat,. op.cit, hlm 2
47
BAB IV
HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Latar Penelitian
Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah novel Pulang karya Tere Liye. Beliau lahir di Lahat, Indonesia, 21 Mei 1979, terlahir di keluarga petani, serta tumbuh dewasa di pedalaman Sumatera. Karyanya yang pernah diangkat ke layar kaca yaitu Hafalan Shalat Delisa (2005) dan Moga Bunda Disayang Allah (2005). Sejak kepopulerannya pada tahun 2005 tersebut, novelis ini terus berkarya seperti, Kisah Sang Penandai (2007), Sunset bersama Rosie (2008), Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2009), Pukat (2010), Eliana (2011), Negeri Para Bedebah (2012), Negeri di Ujung Tanduk (2013), Rindu (2014), Pulang (2015), Hujan (2016), dan yang terbaru Pergi (2018).
Fokus penelitian ini menggunakan refrensi dari Koentjaningrat dalam bukunya yang berjudul Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan diterbitkan pada tahun 2004. Beliau merumuskan bahwa dalam kebudayaan memiliki 7 unsur.
B. Temuan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memilih 4 dari 7 unsur kebudayaan diantaranya, sistem bahasa, sistem sosial, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi. Hasil temuan penelitian membuktikan bahwa dari keseluruhan novel yang berisi 25 Bab dengan 400 halaman dalam novel Pulang karya Tere Liye diperoleh 81 kutipan yang mengandung unsur kebudayaan.
Tabel 4.1 Hasil Penelitian
NO LATAR SOSIAL BUDAYA JUMLAH
1 Sistem Bahasa
hlm 1, 3, 5, 7, 47,63,73,112,228,355 10 kutipan
2 Sistem Sosial hlm 2,4,7,11, 40, 42, 45, 53, 68, 69, 73,75,78, 86, 94, 96, 112, 156, 158, 161, 168, 180, 187, 189, 191, 199, 202, 210, 221, 228, 231, 232, 234, 237, 245, 258, 277, 285, 319, 322, 333, 339, 351, 357, 392, 393, 394
50 kutipan
3 Sistem Mata Pencaharian Hidup
hlm 3, 30, 34, 55, 99, 103,109, 113,117, 167, 170, 199, 201, 235, 249, 258, 270
17 kutipan
4 Sistem Religi hlm 24, 322, 323, 400 4 kutipan
1. Analisis Struktur Novel Pulang
Struktur novel yang akan diteliti meliputi unsur intrinsik novel yang terdiri dari tema, tokoh/penokohan, alur/plot, latar/setting, sudut pandang/point of view, dan amanat.
a. Tema
Perjalanan Manusia dari titik nol kehidupan yang diwarnai dengan pengabdian, cinta, ketulusan, kesetiaan, pertarungan, rasa sakit, kebencian, pengorbanan, sampai manusia kembali pulang, dan memeluk erat semua yang dirasakannya. Hal itu dikuatkan pada kutipan berikut:
“Tapi sungguh jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apapun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit
49
indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apapun kau dengan hari-hari itu, matahari kan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.” (hlm 339)
“Peluklah semuanya, Agam. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?” (hlm 339)
Dua kutipan tersebut mewakili tema dari novel ini, nasihat Tuanku Imam kepada Bujang yang sedang terpuruk akibat rasa takutnya yang kembali datang. Hal itu karena, orang-orang yang dicintainya telah meninggal, serta pengkhianatan yang terjadi di Keluarga Tong. Tuanku Imam menasihati Bujang agar tidak lagi melawan masa lalunya, karena itu tidak akan bisa diubah kembali. Bujang harus memeluk semua perasaannya agar kembali bangkit, mengambil kekuasaan Keluarga Tong yang direbut Basyir.
b. Tokoh dan Penokohan
Novel Pulang memiliki banyak tokoh, namun yang dituliskan hanya tokoh-tokoh yang berpengaruh dan berdialog dalam novel tersebut.
1) Bujang / Agam / si Babi Hutan (Tokoh Utama) a) Pemberani
“Aku tidak takut. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” (hlm 1)
Awal kalimat novel sangat meyakinkan, menyatakan dan membuktikan bahwa tokoh Aku/Bujang tidak memiliki rasa takut hingga akhir novel. Sifat pemberani ini berasal dari bapak Bujang-Samad. Seorang mantan tukang pukul nomor 1 di Keluarga Tong.
b) Penurut
“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang.
Agar... Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.”,“Aku menggangguk.” (hlm 24)
Bujang menuruti permintaan mamak-nya untuk tidak makanan atau minuman haram, agar bujang masih memiliki titik putih dalam tubuhnya dikemudian hari, karena mamak tahu apa yang akan dilakukan atau dikerjakan anak satu-satunya itu.
c) Jenius
“Kau memang kesulitan menjawab pengetahuan umum, tapi itu bisa dimengerti karena kau tidak pernah sekolah dan tidak pernah melihat dunia luar. Tapi nilai logika, matematika, dan potensi akademik lainnya, itu sudah seperti sifatmu. Kau jenius, Bujang.” (hlm 51)
Keluarga Tong memiliki masa depan cerah dengan kehadiran Bujang, karena kepintarannya mereka bisa menguasai banyak hal diberbagai bidang. Hal itulah yang dilihat oleh Tauke Besar (Pemimpin Keluarga Tong).
“Saat Salonga pergi, aku sudah di tahun terakhir kuliahku, lebih cepat dibanding siapapun. Saat mengerjakan skripsi, aku mengambil topik yang sangat aku kuasai, shadow economy.