• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Mencermati realita penegakan hukum di Indonesia dapat kita lihat bahwa jumlah perkara yang ada setiap tahunnya mengalami peningkatan. Manusia memang merupakan makhluk sosial yang tidak dapat dihindarkan dari interaksi terhadap sesamanya. Inilah yang kemudian menjadi faktor kunci dalam munculnya sengketa. Interaksi yang terjadi antara manusia yang satu dengan lainnya tidak selalu berjalan dengan mulus. Perbedaan pendapat, ketersinggungan, ataupun perselisihan merupakan risiko yang turut hadir dalam interaksi tersebut. Keadaan inilah yang kemudian kita kenal sebagai konflik, perselisihan, atau sengketa.

Permanent Court of International Justice dalam Kasus Mavrommatis menyebutkan definisi perselisihan sebagai sebuah perbedaan pendapat terhadap suatu poin hukum atau fakta, sebuah konflik atas pandangan hukum atau atas kepentingan di antara dua orang (...a disagreement on a point of law or fact, a conflict of legal views or of interests between two persons) (Mavrommatis Palestine Concessions (Greece v.

U.K.), 1924:5).

Penyelesaian sengketa merupakan tindakan yang dilakukan sebagai respons manakala terjadi suatu sengketa. Penyelesaian sengketa dapat dilakukan dengan berbagai cara, untuk menentukan cara apa yang akan digunakan dalam meyelesaikan suatu sengketa diperlukan pemahaman terhadap faktor-faktor dalam sengketa itu sendiri. Menurut William Ury, J. M. Brett, dan S. B. Goldberg sebagaimana yang dikutip dalam Suyud Margono, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi proses penyelesaian sengketa, yaitu kepentingan (interest), hak-hak (rights), dan status kekuasaan (power). Para pihak yang bersengketa menginginkan agar kepentingannya tercapai, hak-haknya dipenuhi, dan kekuasaannya diperlihatkan dan dipertahankan. Dalam proses penyelesaian sengketa para pihak lazimnya akan bersikeras untuk mempertahankan ketiga faktor tersebut (Margono, 2004:35). Perselisihan harus diselesaikan, membiarkan perselisihan yang berkepanjangan akan mengurangi energi untuk lebih memikirkan kemajuan bisnis. commit to user

(2)

Pemilihan upaya penyelesaian sengketa yang tepat dapat memberikan pengaruh positif di kemudian hari bagi hubungan bisnis yang terjalin antara para pihak yang bersengketa (Pujiyono, 2014:25-26).

Terdapat dua aliran besar yang dapat dipilih sebagai upaya penyelesaian sengketa, yaitu litigasi dan nonlitigasi. Litigasi dikenal sebagai upaya baku yang dirujuk untuk menjadi sarana penyelesian sengketa. Dalam litigasi, para pihak menyelesaikan sengketa melalui pengadilan untuk kemudian melakukan tindakan hukum dengan berdasar kepada putusan yang dijatuhkan oleh hakim. Nonlitigasi, yang dikenal juga sebagai alternatif penyelesaian sengketa, didefinisikan sebagai

’lembaga’ penyelesaian sengketa melalui prosedur yang disepakati oleh para pihak, secara spesifik merujuk pada penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Beberapa cara alternatif penyelesaian sengketa yang dapat digunakan, antara lain konsultasi;

negosiasi; mediasi; konsiliasi; atau penilaian ahli; serta cara-cara lain selama tidak bertentangan dengan perundang-undangan.

Data dari Mahkamah Agung Republik Indonesia (Mahkamah Agung) sebagai pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) menunjukkan bahwa mekanisme litigasi belum mampu menyelesaikan sengketa yang masuk secara efisien. Faktor pertama, ialah banyaknya perkara yang diajukan ke badan peradilan setiap tahunnya. Jumlah perkara yang diterima badan peradilan Indonesia tahun 2018, yaitu sebanyak 6.123.197 (enam juta seratus dua puluh tiga ribu seratus sembilan puluh tujuh) perkara, menunjukkan adanya peningkatan sebesar 13,27%

dibandingkan tahun 2017 (yang menerima sebanyak 5.405.939 [lima juta empat ratus lima ribu sembilan ratus tiga puluh sembilan] perkara) (Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2018:70). Kemudian, perkara yang diterima badan peradilan Indonesia tahun 2019, yaitu sebanyak 6.730.663 (enam juta tujuh ratus tiga puluh ribu enam ratus enam puluh tiga) perkara juga menunjukkan adanya peningkatan, yaitu sebesar 9,92% jika dibandingkan dengan tahun 2018 (yang menerima sebanyak 6.123.197 [enam juta seratus dua puluh tiga ribu seratus sembilan puluh tujuh] perkara) (data tersebut terdiri atas perkara-perkara yang masuk di peradilan commit to user

(3)

MA, Pengadilan Tingkat Banding, Pengadilan Tingkat Pertama, dan Pengadilan Pajak) (Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2019:75). Jumlah perkara masuk yang terus meningkat dari tahun ke tahun menunjukkan adanya kecenderungan masyarakat dalam memilih litigasi sebagai cara untuk menyelesaikan sengketa yang dialaminya.

Faktor kedua, Indonesia mengenal sistem peradilan bertingkat yang memungkinkan suatu perkara diperiksa melalui lebih dari satu proses pengadilan.

Kondisi tersebut disebabkan karena Indonesia, antara lain melalui UU Kekuasaan Kehakiman, mengatur adanya Upaya Hukum. Upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan, yang diwujudkan dalam bentuk perlawanan atau banding atau kasasi atau hak terpidana untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam perundang-undangan. Dalam teori dan praktik dikenal adanya dua macam upaya hukum, yaitu upaya hukum biasa dan upaya hukum luar biasa.

Perbedaan antara keduanya adalah, bahwa pada asasnya, upaya hukum biasa bersifat menangguhkan eksekusi (kecuali bila terhadap suatu putusan dikabulkan tuntutan serta mertanya [uitvoerbaar bij voorraad]), sedangkan upaya hukum luar biasa tidak menangguhkan eksekusi. Upaya hukum biasa yang banyak dikenal adalah Banding dan Kasasi. Pasal 26 ayat (1) UU Kekuasaan Kehakiman mengatur bahwa putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada pengadilan tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain. Selain itu, melalui Pasal 23 UU Kekuasaan Kehakiman, diatur pula bahwa putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh pihak-pihak yang bersangkutan, kecuali undang- undang menentukan lain. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut, dapat kita ketahui bahwa Peradilan Umum memfungsikan Pengadilan Negeri sebagai Pengadilan Tingkat Pertama; Pengadilan Tinggi sebagai Pengadilan Tingkat Banding; dan Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Tingkat Kasasi. Upaya hukum luar biasa merupakan suatu upaya atas putusan pengadilan, baik dalam tingkat Pengadilan Negeri; Pengadilan Tinggi; maupun Mahkamah Agung, yang telah berkekuatan hukum tetap. Bila kita menilik praktik di lapangan, rata-rata suatu commit to user

(4)

perkara memerlukan waktu untuk pemeriksaan dan persidangan selama 8 sampai 12 bulan sebelum mencapai putusan dalam satu tingkatan peradilan.

Rasio Beban Penanganan Perkara muncul sebagai faktor ketiga. Rasio beban penanganan perkara adalah perbandingan jumlah perkara yang ditangani badan peradilan dengan jumlah hakim pada lembaga tersebut. Rasio beban penanganan perkara tingkat pertama tahun 2018 menunjukkan angka pada Peradilan Umum sebanyak 1:1.862, pada Peradilan Agama sebanyak 1:223, pada Peradilan Militer sebanyak 1:29, dan pada Peradilan TUN sebanyak 1:9 perkara.

Untuk mendapatkan rata-rata beban penanganan perkara per hakim, hasil perbandingan tersebut dikalikan tiga (ini karena pemeriksaan perkara dilakukan oleh majelis yang terdiri atas tiga orang hakim) (Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2018:121). Hal yang mendasari ketentuan tersebut adalah Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU Kekuasaan Kehakiman) yang mengatur bahwa persidangan dilaksanakan dengan sistem majelis yang terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang hakim, kecuali apabila ditentukan lain oleh undang-undang. Dengan demikian setiap perkara didistribusikan kepada sekurang-kurangnya tiga orang hakim sehingga satu orang hakim dipastikan mendapat beban perkara lebih banyak dari angka yang ditunjukkan oleh rasio tersebut. Dengan memperhatikan jumlah perkara masuk, sistem pengadilan yang bertingkat, serta rasio beban penanganan perkara, satu perkara bisa menghabiskan waktu hingga bertahun-tahun untuk diselesaikan melalui litigasi.

Dalam perspektif bisnis, tingginya tingkat interaksi yang dilakukan oleh para pelakunya berbanding lurus dengan risiko terjadinya perselisihan. Hal ini membuat pertimbangan bisnis, disamping mencari keuntungan sebanyak mungkin, juga mengarah kepada pencarian iklim yang kondusif atas wilayah bisnis.

Menumpuknya perkara di pengadilan, serta penyelesaian secara litigasi terkadang justru menimbulkan masalah yang lebih panjang (Latupono & Anggraeni, 2019:627). Adanya penumpukan perkara menunjukkan kurang sesuainya upaya penyelesaian sengketa yang digunakan sebagai rujukan baku di Indonesia yang commit to user

(5)

kemudian dapat membentuk stigma dan berpotensi mempengaruhi kepercayaan pelaku bisnis untuk menjalankan kegiatannya di Indonesia. Upaya penyelesaian sengketa harus disesuaikan dengan perkembangan dunia bisnis. Mekanisme nonlitigasi melalui mediasi merupakan upaya yang dirasa sesuai dengan kebutuhan tersebut. Beberapa hal yang melatarbelakangi pernyataan tersebut adalah karena penyelenggaraannya dapat dilaksanakan secara informal dengan keleluasaan untuk mengutamakan pertimbangan kepentingan bisnis daripada pertimbangan aspek- aspek legal, tentu sepanjang penyampingan yang dilakukan tidak bertentangan dengan hukum. Dengan demikian potensi untuk mendapatkan hasil win-win solution bagi para pihak lebih terbuka lebar sehingga hubungan bisnis yang tadinya

terganggu dapat diperbaiki dan terjaga secara berkelanjutan (Umar, 2016:57).

Mediasi adalah suatu prosedur dimana pihak ketiga terlibat guna membantu para pihak yang bersengketa untuk mencapai penyelesaian yang bersifat sukarela.

Kaitannya dengan aspek proses dan kontrol keputusan, mediasi dikenal sebagai upaya yang memberikan wewenang yang cukup tinggi bagi pihak ketiga untuk mengontrol keberjalanan proses namun rendah dalam memberikan kewenangan untuk mengatur keputusan (Gelfand & Brett, 2004:260). Tujuan yang ingin dicapai, antara lain menemukan area kesepakatan, mengajak untuk saling memberikan kelonggaran, dan tentu saja membantu para pihak yang bersengketa untuk menciptakan penyelesaian yang bisa diterima oleh para pihak itu sendiri. Dengan demikian mediasi dapat disebut sebagai upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang dilakukan melalui proses perundingan secara aktif dari para pihak yang bersengketa guna mencapai kesepakatan perdamaian dengan dibantu peran pihak ketiga di luar sengketa sebagai Mediator. Mediasi dipilih karena adanya keinginan para pihak untuk menyelesaikan sengketa tanpa saling merugikan atau guna mendapatkan kesepakatan yang bersifat win-win solution dan juga mampu mempertahankan hubungan bisnis yang terjalin secara jangka panjang. Tergantung pada kerumitan sengketanya, mediasi bisa dilaksanakan dalam hitungan jam, mungkin juga dalam hitungan hari, minggu, bahkan beberapa bulan untuk mencapai penyelesaian. Beberapa penyelesaian akan benar-benar bersifat win-win solution, sedangkan sebagian lainnya disetujui karena poin-poin dalam perdamaian tersebut commit to user

(6)

semata-mata bisa diterima oleh para pihak, tapi hal itu tentu masih lebih baik daripada harus melanjutkan perselisihan atau bertarung di pengadilan. Sekitar 80%

dari mediasi sengketa menunjukkan adanya pengaruh yang mendorong keadaan ke arah penyelesaian (Harvard Law School, 2012:5). Melalui Konvensi PBB, tertanggal 7 Agustus 2019 yang bertajuk ”Konvensi PBB tentang Hasil Kesepakatan Perdamaian Internasional yang Berasal dari Mediasi” (United Nations Convention on International Settlement Agreements Resulting from Mediation) yang juga dikenal sebagai ”Konvensi Singapura tentang Mediasi,” Komisi PBB Bidang Perdagangan Internasional (UNCITRAL) menyatakan dukungannya, bahwa mediasi merupakan metode yang mampu menyelesaikan perselisihan secara damai atas sengketa yang timbul terutama dalam konteks hubungan perdagangan internasional. Hal tersebut kiranya dapat menegaskan betapa pentingnya mediasi dalam pengembangan penyelesaian sengketa yang efisien.

Ada dua metode yang dapat digunakan oleh hukum untuk membuat para pihak yang bersengketa menempuh mediasi. Pertama, dengan menjadikan mediasi sebagai kewajiban. Para pihak secara hukum diharuskan untuk melaksanakan proses mediasi sebelum perkara yang diajukan bisa berlanjut ke persidangan, meskipun tidak serta merta ada tekanan bahwa mediasi tersebut harus mencapai penyelesaian. Kedua, kerugian akibat keengganan melakukan mediasi dapat dibuat sedemikian jelasnya sehingga para pihak beserta kuasa hukumnya mempertimbangkan kembali, untuk kemudian justru secara aktif mengusulkan ketertarikannya untuk memilih bermediasi. Dalam beberapa versi terkait terobosan ini, pengadilan itu sendiri yang mengorganisir pelaksanaan alternatif penyelesaian sengketa yang ditawarkan atau dipaksakan. Hal ini kemudian dikenal dengan 'court-annexed mediation' (mediasi di pengadilan) (Gould, King, & Britton, 2010:25).

Eksistensi mediasi sebagai upaya penyelesaian sengketa di Indonesia telah disampaikan secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU AAPS). Pengaturan mengenai Alternatif Penyelesaian Sengketa dalam Pasal 6 UU AAPS kemudian menjadi dasar commit to user

(7)

hukum pelaksanaan mediasi terutama bagi Mediasi di Luar Pengadilan (Out of Court Mediation). Kesadaran tentang perlunya menguatkan eksistensi mediasi sebagai pilihan penyelesaian sengketa bagi masyarakat Indonesia telah nampak dari banyaknya lembaga dan badan yang menyediakan layanan mediasi di Indonesia.

Sampai saat penelitian ini dilakukan ada 6 lembaga yang telah masuk dalam daftar resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diumumkan melalui Pengumuman OJK Nomor PENG-1/D.07/2017 Tentang Daftar Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan, yaitu Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI); Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI); Badan Mediasi Dana Pensiun (BMDP); Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI); Badan Arbitrase dan Mediasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (BAMPPI); serta Badan Mediasi Pembiayaan, Pegadaian dan Modal Ventura Indonesia (BMPPVI). Atensi OJK terhadap keberadaan lembaga alternatif penyelesaian sengketa menunjukkan suatu bentuk pengakuan terhadap pentingnya eksistensi mediasi di Indonesia. Aspek yang menonjol ialah karena salah satu hal yang dipersyaratkan oleh OJK bagi sebuah lembaga penyelesaian sengketa untuk dapat masuk dalam daftar tersebut adalah memiliki layanan penyelesaian sengketa yang setidak-tidaknya berupa mediasi; ajudikasi;

dan arbitrase. Munculnya mediasi sebagai salah satu upaya yang dipersyaratkan menunjukkan kesadaran OJK atas pentingnya pengembangan mediasi di Indonesia.

Terlebih lagi, selain lembaga-lembaga dalam daftar tersebut ada banyak lembaga lain yang juga menyediakan jasa penyelesaian sengketa melalui mediasi, antara lain Pusat Mediasi Nasional (PMN), Badan Mediasi Indonesia (BaMI), Badan Arbitrase Ventura Indonesia (BAVI), serta Badan Mediasi Ekonomi Syariah (BAMES).

Meski demikian, tingkat kecenderungan masyarakat Indonesia masih mengarah pada metode litigasi yang dibuktikan dengan angka-angka dalam data keadaan perkara dari Mahkamah Agung (tersebut di atas sebagai faktor pertama). Sampai saat ini pengadilan masih dipercaya masyarakat sebagai lembaga untuk menyelesaikan sengketa. Keberadaan lembaga pengadilan merupakan suatu lembaga yang berfungsi untuk mengkoordinasi sengketa sengketa yang terjadi

commit to user

(8)

dalam masyarakat pencari keadilan yang mempercayai jalur litigasi (Amarini, 2016:88).

Mahkamah Agung melalui Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, yang kemudian sampai saat tulisan ini disusun telah mengalami beberapa perubahan dengan terbitnya Perma Nomor 1 Tahun 2008 dan Perma Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, berusaha memunculkan mediasi sebagai terobosan dalam upaya penyelesaian sengketa di pengadilan secara nasional. Meskipun secara spesifik Perma tersebut berlaku dalam proses berperkara di Peradilan Umum dan Peradilan Agama, khususnya dalam bidang perkara perdata, hal tersebut telah menunjukkan keselarasan gagasan akan perlunya atensi yang ditujukan terhadap pengembangan mediasi di Indonesia. Ketika Perma tersebut diterbitkan seketika itu pula secara resmi dinyatakan bahwa penyelesaian litigasi bukan lagi menjadi satu-satunya upaya baku penyelesaian sengketa di pengadilan. Namun faktanya, bahkan setelah beberapa tahun berjalan sejak pembaharuannya, mediasi di pengadilan belum mampu mengatasi masalah penumpukan perkara. Data Mahkamah Agung pada tahun 2018 menunjukkan dari total 86.814 (delapan puluh enam ribu delapan ratus empat belas) ’perkara mediasi’ (perkara yang diselesaikan melalui upaya mediasi), hanya 5.306 (lima ribu tiga ratus enam) perkara mediasi yang berhasil, 67.321 (enam puluh tujuh ribu tiga ratus dua puluh satu) perkara mediasi berakhir dengan status tidak berhasil, dan sisanya sebanyak 14.187 (empat belas ribu seratus delapan puluh tujuh) perkara mediasi masuk dalam kategori ’tidak dapat dilaksanakan’.

Dengan kata lain, rasio tingkat keberhasilannya tidak sampai pada angka 6,2%

dengan tingkat kegagalan hampir menyentuh angka 77,6% (Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2018:120).

Berlandaskan fakta-fakta tersebut Penulis melihat sebuah persoalan, yaitu eksistensi mediasi di Indonesia, baik di pengadilan maupun di luar pengadilan, sampai saat ini belum optimal sehingga sengketa bisnis belum bisa terselesaikan dengan efisien. Bersamaan dengan keadaan jumlah perkara masuk di pengadilan

commit to user

(9)

yang masih tinggi, sengketa bisnis tidak mendapatkan resolusi sengketa yang cepat dan tepat.

Mengkaji tulisan ilmiah tahun 2018 oleh I Komang Wiantara dari Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Udayana, melalui penelitian berjudul ”Penyelesaian Perkara Perdata di Pengadilan Berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016,” yang diterbitkan dalam Jurnal Magister Hukum Udayana, Volume 7 Nomor 4, Desember 2018, I Komang berpendapat bahwa penerbitan Perma Nomor 1 Tahun 2016 bertujuan untuk mengatasi penumpukan perkara di pengadilan dan Mahkamah Agung serta lebih memberikan akses keadilan bagi para pihak dengan proses yang cepat, sederhana, dan biaya murah. Kemudian memberikan penyelesaian yang benar-benar tuntas, bukan hanya secara hukum namun juga secara sosial dan moral, serta memberikan kepastian hukum bagi para pihak atas kesepakatan perdamaian yang telah dilakukan. Namun pada kenyataanya sejak Perma tersebut diterbitkan tahun 2016, hingga saat ini penumpukan perkara masih saja terjadi (Wiantara, 2018:456-467).

Penelitian lain pada tahun 2018 juga telah dilakukan oleh Mariah S. M.

Purba dengan judul ”Rekonstruksi Perma No. 1 Tahun 2016 Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa di Pengadilan (Studi Kasus Pengadilan Negeri Simalungun),” yang diterbitkan dalam Jurnal Hukum Samudra Keadilan, Volume 13 Nomor 1, Januari-Juni 2018. Menurut Mariah, penyebab ketidakberhasilan Perma Nomor 1 Tahun 2016 adalah belum diaturnya ketentuan mediasi secara rinci dan lengkap, antara lain insentif bagi mediator hakim, sedangkan dalam mekanisme mediasi di luar pengadilan mediator yang bukan hakim biasanya mendapatkan insentif sesuai dengan kesepakatan para pihak. Hal tersebut menimbulkan adanya kecenderungan mediator hakim yang kurang serius dan maksimal dalam mengupayakan mediasi di pengadilan (Purba, 2018:20-31).

Pendapat lain dikemukakan dalam penulisan hukum (skripsi) tahun 2016 oleh Kartika Laksmitasari dari Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret melalui penelitian berjudul ”Efektivitas Fasilitas Penyelesaian Pengaduan Oleh Otoritas commit to user

(10)

Jasa Keuangan (OJK) Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Dalam Memberikan Perlindungan Nasabah”. Kartika menyatakan, bahwa efektivitas fasilitas penyelesaian pengaduan nasabah dapat diukur berdasarkan pencapaian tujuan, integrasi, dan adaptasi. Dalam tataran tersebut, tujuan fasilitasi penyelesaian pengaduan untuk mencapai akta kesepakatan telah terpenuhi. Namun berbagai hambatan masih ditemui dalam tahap fasilitas penyelesaian pengaduan, misalnya aspek integrasi yang belum dapat dipenuhi oleh OJK. Hal itu berakibat pada belum membudayanya fasilitas penyelesaian pengaduan di masyarakat karena kurangnya pengetahuan akan hal tersebut sebagai alternatif penyelesaian sengketa perbankan (Laksmitasari, 2016:89-90).

Kesadaran akan pentingnya mediasi sebagai alternatif penyelesaian bagi sengketa bisnis perlu lebih ditanamkan dalam masyarakat. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, terkait mediasi sebagai alternatif penyelesaian sengketa, pembahasannya hanya terbatas pada lingkup jenis persoalan tertentu, yaitu perbankan, dan mediasi di pengadilan. Berbeda dengan kajian-kajian terdahulu, penelitian ini melakukan kajian mengenai mediasi secara lebih dalam serta kaitannya dengan efektivitas penyelesaian sengketa bisnis. Penulis dalam melakukan kajian ini hendak memberikan gambaran terkait nilai-nilai utama yang menjadikan mediasi sebagai upaya penyelesaian sengketa bisnis yang tepat untuk masalah yang dihadapi saat ini dan keberlanjutannya di masa yang akan datang.

Berdasarkan latar belakang di atas, Penulis melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai mediasi sebagai upaya penyelesaian sengketa di bidang bisnis dengan harapan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan wawasan untuk menjadi dalil dan pertimbangan konkret mengenai pentingnya mediasi untuk mengatasi permasalahan ketimpangan rasio beban penanganan perkara dan berusaha menjadikan mediasi sebagai pilihan utama upaya penyelesaian sengketa di bidang bisnis demi terwujudnya kehidupan hukum yang akomodatif serta mendorong terciptanya iklim bisnis yang kondusif di Indonesia.

commit to user

(11)

B. Rumusan Masalah

Dengan mencermati uraian dalam latar belakang tersebut, Penulis merumuskan permasalahan untuk dikaji dalam pembahasan, yaitu:

1. Mengapa mediasi belum menjadi model utama dalam upaya penyelesaian sengketa bisnis?

2. Politik hukum apa yang harus dilakukan agar mediasi menjadi model utama dalam upaya penyelesaian sengketa bisnis?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian dilakukan untuk mencapai suatu hasil tertentu. Dalam penelitian ini tujuan yang hendak dicapai oleh Penulis secara umum adalah untuk memberikan uraian secara deskriptif guna menjawab pertanyaan yang telah dituangkan dalam rumusan masalah (Ali, 2019:174). Secara spesifik tujuan penelitian ini, antara lain:

1. Untuk mengungkapkan tendensi masyarakat dalam memilih upaya penyelesaian sengketa; dan

2. untuk merumuskan politik hukum atau cara yang sesuai guna menjadikan mediasi sebagai model utama dalam upaya penyelesaian sengketa bisnis.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada beberapa aspek. Penulis membaginya dalam dua aspek, yaitu Manfaat Teoritis dan Manfaat Praktis. Manfaat teoritis dimaksudkan sebagai manfaat yang berkenaan dengan pengembangan ilmu hukum, sedangkan manfaat praktis adalah manfaat yang berkenaan dengan pemecahan masalah yang diteliti.

1. Manfaat Teoritis:

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan landasan teoritis untuk perkembangan disiplin ilmu hukum perdata pada umumnya, dan kepada upaya penyelesaian sengketa bisnis pada khususnya; dan b. hasil dari penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan pemikiran

lebih lanjut dengan memperkaya referensi dan literatur guna commit to user

(12)

memberikan gambaran yang jelas dan teruji untuk melakukan kajian dan penulisan ilmiah dalam bidang Hukum di kemudian hari.

2. Manfaat Praktis:

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan wawasan agar menjadi dalil dan pertimbangan konkret mengenai pentingnya mediasi untuk mengatasi permasalahan ketimpangan rasio beban penanganan perkara di Indonesia, khususnya untuk Mahkamah Agung, termasuk juga lembaga-lembaga di bawahnya, dan lembaga lain yang terkait;

b. hasil penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan pemahaman yang jelas dan teruji untuk meyakinkan masyarakat dalam memilih mediasi sebagai upaya penyelesaian sengketa; dan

c. hasil penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi terhadap terwujudnya kehidupan hukum yang akomodatif bagi masyarakat serta mendorong terciptanya iklim bisnis yang kondusif di Indonesia.

E. Metode Penelitian

Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang digunakan manusia sebagai sarana untuk memperkuat, membina, mengembangkan serta menguji kebenaran ilmu pengetahuan, baik dari segi teoritis maupun praktis, yang dilakukan secara metodologis dan sistematis sesuai dengan pedoman atau aturan yang berlaku dalam pembuatan suatu karya ilmiah (Soekanto, 1986:3). Sebuah penelitian hukum perlu metode penelitian untuk menunjang hasil penelitian guna mencapai tujuan dari dilakukannya penelitian hukum itu sendiri. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian hukum ini diuraikan sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian hukum Empiris (dikenal juga dengan istilah Nondoktrinal atau socio-legal research). Metode penelitian hukum empiris adalah suatu metode penelitian hukum yang berfungsi untuk melihat hukum dalam artian nyata dan meneliti bagaimana bekerjanya commit to user

(13)

hukum di lingkungan masyarakat. Penelitian dengan pendekatan empiris selalu diarahkan kepada pengenalan terhadap hukum nyata berlaku sepenuhnya: yang implisit berlaku (sepenuhnya), dan bukan yang eksplisit (jelas, tegas diatur) di dalam perundangan atau yang diuraikan dalam kepustakaan (Hadikusuma, 1995:61-62). Penelitian ini berusaha memberikan gambaran tentang urgensi mediasi dalam upaya penyelesaian sengketa bisnis di Indonesia.

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu dalam masyarakat, dengan campuran kajian kuantitatif dan kualitatif yang bertujuan untuk mendapatkan penggambaran dan penilaian yang paling dekat atau paling sesuai terhadap isu yang diteliti.

3. Pendekatan Penelitian

Penulis menggunakan paradigma critical theory dalam pendalaman pembahasan isu pada penelitian ini, yaitu paradigma yang berusaha untuk mengungkap bagaimana keadaan struktur yang sebenarnya dibalik ketidakpastian dari kebutuhan palsu yang ada. Tujuannya adalah membentuk kesadaran manusia untuk memperbaiki dan mengubah kehidupannya.

4. Lokasi Penelitian

Guna mendapatkan data-data yang diperlukan, penelitian dilakukan di Mahkamah Agung Republik Indonesia (yang beralamat di Jalan Medan Merdeka Utara No.9 - 13, RT.2/RW.3, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110) dan Kantor Advokat Soemadipradja & Taher (yang beralamat di Wisma GKBI Level 9, Jl.

Jenderal Sudirman No. 28, RT.14/RW.1, Bendungan Hilir, RT.14/RW.1, Bend. Hilir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10210).

Mahkamah Agung Republik Indonesia dipilih sebagai lokasi penelitian karena data keadaan perkara secara nasional seluruhnya commit to user

(14)

dilaporkan secara terpusat kepada Mahkamah Agung. Selanjutnya Soemadipradja & Taher dipilih karena kantor advokat tersebut merupakan salah satu kantor hukum terbaik dalam menangani perkara di bidang bisnis;

yang direkomendasikan, antara lain dalam IFLR1000 of 2020 (oleh International Financial Law Review) (peringkat firma hukum terkemuka dalam menangani perkara-perkara korporasi dan keuangan di dunia), dan dalam The Legal 500 Asia Pacific Top Tier 2020.

5. Jenis Data

Data merupakan suatu fakta atau keterangan dari objek yang diteliti.

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data yang relevan dan menunjang judul penelitian ini. Jenis data yang digunakan oleh Penulis dalam penelitian ini adalah:

a. Data Primer

Data primer adalah “data dasar,” “data asli,” yang diperoleh Penulis dari tangan pertama, dari sumber asalnya yang pertama yang belum diolah dan diuraikan orang lain (Hadikusuma, 1995:65). Data primer merupakan data-data berupa keterangan atau fakta yang diperoleh langsung dari penelitian di lapangan, dengan studi lapangan ataupun dengan wawancara. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain Laporan Tahunan Mahkamah Agung, Cetak Biru Pembaruan Peradilan 2010-2035, dan hasil wawancara dan komunikasi dengan narasumber. Data-data tersebut Penulis dapatkan dari lokasi penelitian.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data-data yang didapatkan dari literatur atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian ini.

Data sekunder adalah keterangan atau fakta yang tidak secara langsung didapatkan dari lapangan, melainkan didapatkan dari studi kepustakaan berbagai buku, dokumen, dan peraturan perundang-undangan, serta hasil penelitian ilmiah dan bahan-bahan kepustakaan lainnya yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini, data commit to user

(15)

sekunder yang digunakan, antara lain buku-buku, dokumen empiris berupa laporan tahunan Mahkamah Agung, peraturan dan perundang- undangan, hasil penelitian terdahulu, serta bahan kepustakaan penunjang (dengan cakupan, antara lain Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) berdasarkan Permendikbud 50/2015, dan kamus-kamus bahasa asing).

6. Sumber Data

a. Sumber Data Primer

Sumber data yang primer dalam penelitian ini didapatkan dari beberapa nararumber melalui berbagai jenis komunikasi, yaitu

1) wawancara lisan serta komunikasi jarak jauh dengan Romi Emirat, S.H., LL.M., yang merupakan Partner dari Soemadipradja & Taher, berdasarkan kapasitasnya sebagai praktisi hukum yang telah berkarir selama lebih dari 12 tahun (area utama yang ditanganinya, antara lain litigasi, arbitrase, alternatif penyelesaian sengketa, sengketa persaingan usaha, dan likuidasi perusahaan, selain itu ia kerap menangani sengketa tanah dan melakukan mediasi terkait perselisihan pengadaan tanah);

2) korespondensi melalui media Whatsapp dan surat elektronik dengan Dwi Hananta, S.H., M.H. (Hakim Yustisial Mahkamah Agung); dan 3) korespondensi melalui media Whatsapp dengan alm. Mohammad

Noor (Hakim Yustisial Mahkamah Agung) sebagai Pegiat Mediasi Mahkamah Agung Republik Indonesia.

b. Sumber Data Sekunder 1) Bahan hukum primer

Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:

a) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa;

b) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman; commit to user

(16)

c) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;

d) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis;

e) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Paten;

f) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta;

g) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan; dan h) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi.

2) Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder merupakan data bahan hukum yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu Penulis dalam melakukan analisis serta memahami bahan hukum primer, juga memberikan bahan kajian penelitian dan bahan hukum yang berupa hasil pemikiran ilmiah para sarjana, hasil penelitian, buku-buku, publikasi, situs daring, serta tulisan-tulisan dan berbagai literatur lainnya yang meliputi:

a) Karya ilmiah mengenai hukum, mediasi, penyelesaian sengketa, dan bisnis;

b) Buku-buku penunjang mengenai hukum, mediasi, penyelesaian sengketa, dan bisnis; dan

c) Jurnal-jurnal yang berkaitan dengan penulisan hukum ini.

3) Bahan hukum tersier

Bahan hukum tersier adalah bahan-bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan atas bahan hukum primer dan sekunder agar dapat dimengerti sebaik mungkin. Bahan hukum tersier yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a) Kamus Besar Bahasa Indonesia,

b) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) berdasarkan Permendikbud 50/2015, dan

c) kamus bahasa asing. commit to user

(17)

7. Teknik Pengumpulan Data

Penulis melakukan studi dokumen empiris yang berupa data-data keadaan perkara yang didapatkan dari Laporan Tahunan Mahkamah Agung Republik Indonesia Tahun 2018 dan 2019, selain itu Penulis juga melakukan wawancara dengan narasumber dari Soemadipradja & Taher, serta melakukan kegiatan observasi.

8. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan metode analisis kualitatif dan kuantitatif yang dijalankan dengan paradigma critical theory. Penulis melakukan analisis terhadap data berupa angka dalam dokumen empiris (sebagaimana kemudian disusun berdasarkan data- data perkara yang didapatkan dari Laporan Tahunan Mahkamah Agung), kemudian dikuatkan dengan analisis terhadap keadaan empiris yang datanya didasarkan pada hasil wawancara dan korespondensi dengan narasumber yang telah disebutkan di atas. Analisis dilakukan dengan cara pandang yang kritis, yaitu dengan berusaha mengungkap bagaimana keadaan struktur yang sebenarnya dibalik ketidakpastian dari kebutuhan palsu yang ada, tujuannya adalah membentuk kesadaran manusia untuk memperbaiki dan mengubah kehidupan manusia.

F. Sistematika Penulisan Hukum

Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang sistematika hukum yang sesuai dengan aturan penulisan hukum maka Penulis menggunakan sistematika penulisan yang terdiri empat bab, dimana setiap bab bisa terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan penulisan ini. Empat bab tersebut terdiri dari Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Hasil Penelitian dan Pembahasan, dan Penutup.

Bab I memuat mengenai pendahuluan. Dalam bagian ini Penulis menjabarkan latar belakang dan kegelisahan Penulis terhadap isu yang diangkat, dan hal-hal yang mendorong Penulis untuk melakukan penelitian ini. Hal-hal

commit to user

(18)

tersebut tertuang dalam latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan hukum.

Bab II memuat mengenai tinjauan pustaka. Bagian tinjauan pustaka ini berisi penjelasan secara teoretis (landasan teori), prinsip, dan variabel-variabel dari sumber-sumber literatur hukum dan doktrin ilmu hukum, yang dianut secara universal, yang diperlukan untuk menjadi dasar analisis atas isu hukum yang diangkat dalam penelitian ini. Bab tinjauan pustaka terdiri dari dua bagian, yaitu:

bagian pertama yang memuat kerangka teori, berisi tinjauan umum mengenai sengketa, mediasi, hukum, dan upaya penyelesaian sengketa; serta bagian kedua yang memuat kerangka pemikiran, berisikan gambar alur berpikir Penulis berupa konsep yang dijabarkan dalam penelitian ini.

Bab III membahas mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Bab ini berisi uraian hasil penelitian yang telah diperoleh dari proses penelitian serta analisis permasalahan sebagaimana yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah. Bab ini menguraikan jawaban sistematis mengenai sengketa, mediasi, dan upaya penyelesaian sengketa di bidang bisnis.

Bab IV merupakan penutup yang terdiri atas simpulan dan saran. Bagian akhir penulisan hukum ini memuat kesimpulan dan saran berdasarkan hasil analisis dari data yang diperoleh selama penelitian sebagai jawaban terhadap rumusan masalah agar dapat menjadi bahan pemikiran dan pertimbangan untuk menuju perbaikan atas isu yang diangkat sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

1 M.. Hal ini me nunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Pertukaran keanggotaan kelompok belajar

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Hubungan Budaya Organisai dengan Komitmen Organisasi di Badan Kepegawaian Daerah Kota Cimahi.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu