SKRIPSI
PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL, PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN AKSESIBILITASI LAPORAN
KEUANGAN TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
STUDI EMPIRIS PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI
OLEH
NURUL HIDAYAH HASIBUAN 140503033
PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
ABSTRAK
PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DAN AKSESBILITAS LAPORAN KEUANGAN TERHADAP AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
STUDI EMPIRIS PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem pengendalian internal, penyajian laporan keuangan dan aksesbilitas laporan keuangan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 40 responden. Sampel terpilih dengan menggunakan metode sampling jenuh berjumlah 40 responden. Responden merupakan SKPD Kota Tebing Tinggi.
Berdasarkan hasil pengolahan data kuesioner dengan menggunakan metode regresi linier berganda, uji f dan uji t, terbukti bahwa variabel sistem pengendalian internal, penyajian laporan keuangan dan aksesbilitas laporan keuangan secara simultan berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keungan daerah Kota Tebing Tinggi.
Secara parsial, sistem pengendalian internal dan penyajian laporan keuangan berpengaruh secara terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, tetapi variabel aksesbilitas laporan keuangan tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi.
Kata Kunci: Akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, Sistem pengendalian internal, Penyajian laporan keuangan, Aksesbilitas laporan Keuangan.
ABSTRACT
EFECT OF THE INTERNAL CONTROL, THE PRESENTING FINANCIAL REPORT AND ACCSESBILITY FINANCIAL REPORT OF ORGANIZATION
TOWARD THE ACCOUNTABILITY OF FINANCIAL MANAGEMENT OF TEBING TINGGI CITY
This research aims to find out the effect of the internal control system, the presenting financial report and the accsesibility financial report of organization towards the accountability of financial management of Tebing Tinggi city. The population in this research are 40 respondents. The samples were obtained by using saturated sampling techniques of 40 respondents. The respondents are SKPD (regional works unit) in Tebing Tinggi city.
Based on the results of questionnaire data processing using the multiple linear regression method, f test and t test, are proved that the variables of the internal control system, the presenting financial report and, the accsessibility financial report of organization are simultaneusly have significant effect towards the accontability of financial management of Tebing Tinggi city.
Partially, the internal control system and the presenting financial report have a significanteffect of the accountability of financial management, but the variables of the accessibility does not have a effect toward the accountability financial management of Tebing Tinggi city.
Key words: the accountability of financial management ,the internal control system, the presenting financial report and the accessbility financial report.
KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syukur Alhamdulillahpenulis haturkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya. Dengan nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan programpendidikan strata satu (S1) jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam menyusun skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE., MS., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, M.A.F.I.S., Ak., CPA., selaku Ketua Departemen/ Program Studi S-1Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan Bapak Drs. Syahrul Rambe, M.M., Ak., selaku Sekretaris Departemen/ Program StudiS-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
3. Bapak Drs. M. Zainul Bahri Torong, M.Si., Ak. selaku Dosen Pembimbing, Bapak Drs.Arifin Lubis,M.Si., Ak., CA., selaku Dosen Penguji, dan Ibu Dra. Mutia Ismail, M.M., Ak selaku Dosen Pembanding, terimakasih atas bimbingan kepada penulis selama penyelesaian penulisan skripsi ini.
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 10
2.1.1 Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah ... 10
2.1.2 Sistem Pengendalian Internal ... 12
2.1.3 Penyajian Laporan Keuangan ... 17
2.1.4 Aksesibilitas Laporan Keuangan ... 23
2.2 Review Penelitian Terdahulu ... 25
2.3 Kerangka Konseptual ... 30
2.4 Hipotesis Penelitian ... 30
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 34
3.2 Tempat dan Jadwal Penelitian ... 34
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 34
3.4 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 36
3.4.1 Variabel Dependen ... 36
3.4.2 Variabel Independen ... 37
3.5 Jenis dan SumberData... 40
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 41
3.7 Metode Analisis Data ... 41
3.7.1 Uji Kualitas Instrumen dan Data ... 41
3.7.2 Uji Asumsi Klasik ... 42
3.7.3 Uji Hipotesis Penelitian ... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 48
4.1.1 Data Penelitian ... 48
4.1.2 Uji Kualitas Instrumen Data ... 50
4.1.4 Uji Asumsi Klasik ... 54
4.1.5 Uji Hipotesis Penelitian ... 57
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian... 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 62
5.2 Saran... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 64
LAMPIRAN... 67
DAFTAR TABEL
No.Tabel Judul Halaman
2.1 Ringkasan Review Penelitian Terdahulu ... 28
3.1 Populasi/Sample Penelitian dan Responden ... 36
3.2 Ringkasan Definisi Operasional Variabel dan Skala Pengukuran ... 40
4.1 Data Hasil Kuesioner ... 49
4.2 Karakteristik Responden ... 50
4.3 Hasil Uji Validitas ... 52
4.4 Hasil Uji Reliabilitas ... 53
4.5 Hasil Statistik Deskriptif ... 54
4.6 Hasil Uji Normalitas ... 55
4.7 Hasil Uji Multikolinearitas ... 56
4.8 Hasil Uji Heteroskedasitas ... 57
4.9 Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2) ... 58
4.10 Hasil Uji Simultan (Uji Statistik F) ... 59
4.11 Hasil Uji Parsial (Uji Statistik t) ... 59
DAFTAR GAMBAR
No.Gambar Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual ... 31 4.1 Hasil Uji Heteroskedasitas... 57
DAFTAR LAMPIRAN
No.Lampiran Judul Halaman
1 Lembar Kuesioner ... 68
2 Tabulasi Data Primer ... 73
3 Output Hasil Uji Analisis ... 76
4 Surat Izin Penelitian ... 83
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Di era reformasi yang terjadi pada negeri ini telah memberikan perubahan pada tatanan pemerintahan. Otonomi daerah merupakan salah satu perubahan tersebut. Pemberlakuan sistem otonomi daerah merupakan amanat yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945).
Amandemen Kedua tahun 2000 untuk dilaksanakan berdasarkan undang-undang yang dibentuk khusus untuk mengatur pemerintahan daerah. UUD 1945 pascaamandemen itu mencantumkan permasalahan pemerintahan daerah dalam Bab VI, yaitu Pasal 18, Pasal 18A,dan Pasal 18B. Sistem otonomi daerah sendiri tertulis secara umum dalam Pasal 18 untuk diatur lebih lanjut oleh undang- undang. Pasal 18 ayat (2) menyebutkan, “Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.” Selanjutnya, pada ayat (5) tertulis,
“Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat.” Dan ayat (6) pasal yang sama menyatakan, “Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
Undang-undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, hak, wewenang dan kewajiban diserahkan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya. Dalam operasional pemerintahan daerah
dibutuhkan pembuatan laporan keuangan sebagai wujud pertanggung jawaban atas pengelolaan dana masyarakat. Hal ini diatur dalam Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Asas otonomi daerah membuat masyarakat meningkatkan tuntutannya terhadap pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan yang baik (good governance government), sehingga tuntutan ini mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menerapkan akuntabilitas publik. Akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodicErlina dan Rasdianto (2013:6).
Akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dituntut mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pertanggung jawaban, serta pengawasan yang dapat dilaporkan kepada DPRD terkait hasil pengelolaan keuangan daerah sebagai bahan evaluasi untuk kinerja pemerintah di tahun berikutnya.
Dalam meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah pemerintah harus melakukan reformasi dalam penyajian laporan keuangan, pemerintah harus mampu menyediakan semua informasi keuangan relevan secara jujur dan terbuka kepada publik, karena kegiatan pemerintah adalah dalam rangka melaksanakan amanat masyarakat Mulyana (2006:3). Sebagai organisasi yang mengelola dana masyarakat pemerintah harus mampu memberikan pertanggung jawaban publik melalui laporan keuangan yang transparan.
Fenomena dalam perkembangan sektor publik dewasa ini adalah semakin menguatnya tuntutan pelaksanaan akuntabilitas publik oleh organisasi sektor publik, seperti pemerintah pusat dan daerah, unit-unit kerja pemerintah, departemen, dan lembaga-lembaga negara.Praktek akuntabilitas publik di Indonesia masih berfokus hanya dari sisi pengelolaan keuangan negara, sedangkan dalam kenyataannya keingintahuan masyarakat tentang akuntabilitas pemerintah tidak dapat dipenuhi hanya oleh informasi keuangan saja.Masyarakat ingin mengetahui lebih jauh apakah pemerintah yang dipilihnya telah beroperasi dengan memenuhi prinsip value for money.Value for money merupakan konsep pengelolaan kinerja organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu ekonomi (spending less), efisiensi (spending well), dan efektivitas (spending wisely).
Pemerintah yang belum melaksanakan akuntabilitas secara maksimal untuk sekarang ini menyebabkan pertanggungjawaban pemerintah berupa laporan keuangan belum sepenuhnya dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.Hal ini disebabkan laporan tahunan yang tidak memuat semua informasi relevan yang dibutuhkan para pengguna laporan keuangan, sehingga laporan keuangan yang tidak aksesibel dan kurang lengkap itu secara mudah menurunkan kualitas dari akuntabiltas laporan keuangan.Masyarakat menuntut adanya aksesibilitas yang mudah dan terpercaya.
Aksesibilitasi laporan keuangan merupakan kemudahan bagi seseorang untuk memperoleh informasi mengenai laporan keuangan daerah. Akuntabilitas yang efektif bergantung pada kemudahan akses publik terhadap laporan keuangan
organisasi sektor publik yang dapat dipahami. Masyarakat sebagai pihak yang memberikan kepercayaan kepada pemerintah untuk mengelola keuangan publik berhak untuk mendapatkan informasi keuangan pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap pemerintah Mardiasmo (2006:2).
Aksesibilitas merupakan penunjang untuk menfasilitasi masyarakat dalam hal mengetahui laporan keuangan pemerintah di mana pemerintah memberikan kemudahan akses kepada masyarakat untuk dapat melihat dan meninjau laporan keuangan pemerintah tiap tahunnya agar masyarakat dapat mengetahui kinerja pemerintah dalam pengelolaan keuangan pemerintah sehingga masyarakat sendiri dapat menilai mana laporan keuangan yang benar dan mana yang salah.Tetapi dalam kenyataannya masih saja terdapat kesulitan untuk meninjau sendiri laporan keuangan pemerintah karena tidak adanya akses kepada masyarakat untuk ikut meninjau laporan keuangan. Masyarakat saat ini hanya dapat melihat atau mendapatkan hasil laporan keuangan yang sudah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan pempublikasiannya pun hanya sebatas laporan keuangan yang menunjukkan tingkat-tingkat kecurigaan ataupun yang sudah dicurigai, tidak keseluruhan laporan keuangan pemerintah.
Sebagaimana diketahui bahwa laporan keuangan pemerintah daerah disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pemerintah daerah selama satu periode pelaporan Erlina dan Rasdianto(2013:4). Untuk menghasilkan informasi yang baik, laporan keuangan memiliki beberapa karakteristik sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi pemerintah, dimana
sebuah laporan keuangan harus memiliki karakteristik relevan, andal, dapat dibandingkan, serta dapat dipahami.
Berdasarkan karakteristik di atas, dapat kita ketahui dengan jelas standar kualitas laporan keuangan yang berlaku secara umum. Hal ini memunculkan pertanyaan selanjutnya, apakah laporan keuangan pemerintah daerah sudah sesuai standar? Apakah pencatatan keuangan pemerintah daerah sudah mengikuti prinsip akuntabilitas sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka perlu kita ketahui bahwa setiap tahunnya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI) melakukan penilaian atas laporan keuangan pemerintah. Penilaian tersebut tentu dilakukan sesuai standar dan kriteria yang berlaku hingga akhirnya menghasilkan opini terhadap laporan keuangan pemerintah. Ada empat opini yang diberikan pemeriksa, yaitu: Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), Opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP), Tidak Memberi Pendapat (TMP), dan Opini Tidak Wajar (TW). Dari hasil pemeriksaan BPK sesuai dengan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) ITahun 2016, hasil pemeriksaan atas seluruh Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2015 (533 LKPD), BPK memberikan opini WTP atas 312(58%) LKPD, opini WDP atas 187 (35%) LKPD, opini TMP atas 30 (6%) LKPD, dan opini TW atas 4 (1%) LKPD. Dari fenomena tersebut dapat kita ketahui bahwa pemerintah belum sepenuhnya melakukan prinsip akuntabilitas karena masih tingginya persentase opini WDP dan masih terdapatnya opini TMP dan TW pada LKPD. Namun begitu perkembangan opini atas 533 LKPD tahun 2015 dibandingkan tahun sebelumnya (2014) mengalami peningkatan. Hal
tersebut ditunjukkan kenaikan opini atas 66 LKPD. Kenaikan opini tersebut meliputi dari TW atau TMP menjadi WDP atau WTP sebanyak 6 LKPD, dan dari WDP menjadi WTP sebanyak 60 LKPD. Secara keseluruhan, jumlah LKPD yang memperoleh opini WTP mengalami kenaikan dari 252 LKPD menjadi 312 LKPD atau naik sebesar 19%.
Hasil pemeriksaan BPK atas 533 LKPD menunjukkan terdapat 6.150 kelemahan SPI yang terdiri dari permasalahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan, kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja, dan kelemahan struktur pengendalian intern.
Pengendalian intern pada pemerintah pusat dan daerah berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008, tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Sistem pengendalian intern pemerintah memiliki fungsi untuk memberi keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektifitas dan efesiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintah negara, keandalan laporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan ketaatan terhadap undang- undang. Sistem pengendalian intern yang baik dapat mencegah pelaksanaan kegiatan yang tidak sesuai ketentuan yang berlaku sehingga dapat memperoleh efesiensi, efektivitas dan mencegah terjadinya kerugian negara.
Berdasarkan surat BPK perihal Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Tebing Tinggi Tahun Anggaran 2014, terdapat beberapa catatan kelemahan yang masih ditemukan diantaranya adalah masih ditemukan kelemahan sistem pengendalian internal dan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Hal ini sebagai bukti bahwa LKPD Kota Tebing Tinggi
yang sebelumnya mendapatkan opini WTP namun pada tahun 2015 mendapatkan opini WDP karena masih ditemukan catatan kelemahan.
Penelitian terdahulu terkait fenomena tersebut telah banyak dilakukan.Beberapa peneliti juga menyimpulkan beberapa faktor yang mempengaruhi akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Sande (2013) dalampenelitiannya menyimpulkan bahwapenyajian laporan keuangan dan aksesibilitasi laporan keuanganberpengaruh signifikan positif terhadapakuntabilitas pengelolaan keuangan daerah pada pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Wahyuni (2014) juga melakukan penelitian terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah pada pemerintah Kota Bandung dan menyimpulkan bahwa penyajian laporan keuangan dan aksesbilitas laporan berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Kesimpulan senada juga di dapat pada penelitian Wulansari (2014) bahwa sistem pengendalian internal dan sistem pelaporan keuangan berpengaruh pada akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Bandung
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Peggy Sande (2013), Wahyuni (2014) dan Wulansari (2014) faktor yang membedakannya adalah tempat penelitian, waktu penelitian dan adanya variabel independen tambahan.
Dari latar belakang dan hasil penelitian terdahulu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul“ Pengaruh Sistem Pengendalian Internal, Penyajian Laporan Keuangan dan Aksesibilitas Laporan Keuangan
Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah (Studi Pemerintah Kota Tebing Tinggi)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas, maka dapat dirumusan permasalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah sistem pengendalian internal berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi?
2. Apakah penyajian laporan keuangan berpengaruhterhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi?
3. Apakah aksesibilitasi laporan keuangan berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi?
4. Apakah sistem pengendalian internal, penyajian laporan keuangan dan aksesibilitasi laporan keuangan berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menguji pengaruh sistem pengendalian internal terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi.
2. Untuk mengetahui dan menguji pengaruhpenyajian laporan keuangan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi.
3. Untuk mengetahui dan menguji pengaruh aksesibilitasi laporan keuangan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi.
4. Untuk mengetahui dan menguji pengaruh sistem pengendalian internal, penyajian laporan keuangan dan aksesibiltasi laporan keuangan terhada akuntabiltas pengelolaan keuangan daerah Kota Tebing Tinggi.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang beberapa hal yang mempengaruhi akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
2. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan acuan/referensi bagi yang berminat melakukan penelitian yang berhubungan dengan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
3. Bagi pemerintah daerah yaitu walikota jajaran pejabat yang mengelola keuangan masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah Kota Tebing Tinggi terkait dengan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah 2.1.1.1 Pengertian Akuntabilitas
Tanjung (2008:9) menyatakan bahwa akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik.Mardiasmo (2006:24) akuntabilitas dapat diartikan sebagai bentuk kewajiban mempertanggung jawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui suatu media pertannggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik.
Dari pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntanbilitas adalah usaha dalam memberikan pertanggungjawaban terhadap kinerja atau operasional yang dilakukan oleh suatu entitas.
2.1.1.2 Jenis-Jenis Akuntabilitas
Mardiasmo (2009:21) akuntabilitas publik terdiri atas dua macam yaitu:
1. Akuntabilitas vertikal (vertical accountability)
Pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi, misalnya pertanggungjawaban unit-unit kerja (dinas) kepada pemerintah daerah, pertanggungjawaban pemerintah daerah kepada pemerintah pusat dan pertanggungjawaban pemerintah pusat kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
2. Akuntabilitas horizontal (horizontal accountability)
Pertanggungjawaban kepada DPRD dan masyarakat luas.Akuntabilitas publik yang harus dilakukan oleh organisasi sektor publik terdiri dari beberapa aspek.
Dimensi akuntabilitas yang harus dipenuhi oleh lembaga-lembaga publik tersebut anatara lain menurut Mahmudi (2010:28) terdiri dari:
1. Akuntabilitas hukum dan kejujuran
Akuntabilitas hukum dan kejujuran yang terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan dan jaminan adanya kepatuhan hukum adalah pertanggungjawaban lembaga-lembaga publik untuk berperilaku jujur dalam bekerja dan mentaati ketentuan hukum yang berlaku.
Akuntabilitas kejujuran berarti penyajian informasi yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Akuntabilitasi hukum dan peraturan terkait dengan jaminan adanya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lainnya yang disyaratkan dalam penggunaan sumberdaya publik.
Akuntabilitas hukum menghendaki kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lain dalam mengoperasikan organisasi sektor publik.
Akuntabilitas hukum menjamin ditegakkannya hukum, akuntabilitas kejujuran berhubungan dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan.
2. Akuntabilitas manajerial
Akuntabilitas manajerial adalah pertanggungjawaban lembaga publik untuk melakukan pengelolaan organisasi secara efektif dan efesien.
Akuntabilitas manajerial juga dapat diartikan sebagai akuntabilitas kinerja. Akuntabilitas manajerial berhubungan dengan akuntabilitas proses yang berarti proses organisasi harus dapat dipertanggungjawabkan dengan kata lain tidak terjadi inefesiensi dan ketidakefektifan organisasi
3. Akuntabilitas program
Akuntabilitas program berkaitan dengan pertimbangan apakah tujuan yang ditetapkan dapat dicapai atau tidak dan apakah organisasi telah mempertimbangkan alternatif program yang memberikan hasil optimal dengan biaya yang minimal. Lembaga publik harus mempertanggung jawabkan program yang telah dibuat sampai pada pelaksanaan program.
4. Akuntabilitas kebijakan
Akuntabilitas kebijakan terkait dengan pertanggungjawaban lembaga publik atas kebijakan-kebijakan yang diambil. Lembaga publik hendaknya dapat mempertanggungjawabkan kebijakan yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan dampak di masa depan. Dalam membuat kebijakan harus mempertimbangkan tujuan kebijakan tersebut dan memperoleh manfaat atas kebijakan yang dibuat.
5. Akuntabilitas keuangan
Akuntabilitas keuangan terkait dengan pertanggungjawaban lembaga publik untuk menggunakan dana masyarakat secara ekonomi, efesien dan efektif, tidak ada pemborosan dan kebocoran dana serta korupsi.
Akuntabilitas keuangan sangat penting karena pengelolaan keuangan publik akan menjadi perhatian utama masyarakat. Akuntabilitas keuangan mengharuskan lembaga publik membuat laporan keuangan untuk menggambarkan kinerja keuangan organisasi kepada pihak luar.
2.1.2 Sistem Pengendalian Internal
Setiap organisasi termasuk pemeritah memerlukan suatu alat pengendalian untuk menjamin bahwa aktivitas organisasi telah dilakukan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sistem pengendalian internal diterapkan untuk mencapai tujuan dan meminimalkan hal-hal yang terjadi di luar rencana, meningkatkan efesisensi, mencegah timbulnya kerugian atas aktiva, meningkatkan keandalan data dalam laporan keuangan dan mendorong dipatuhinya hukum dan aturan yang ditetapkan. Maka sistem pengendalian internal memiliki kedudukan yang sangat penting.
2.1.2.1 Pengertian Sistem Pengendalian Internal
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, sistem pengendalian internal adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberi keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah
sistem pengendalian internal yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Adapun tujuan dari SPIP adalah untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Inti dasar dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 ini adalah terciptanya suatu Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang bisa mewujudkan suatu praktek-praktek good governance.
2.1.2.2 Unsur-Unsur Sistem Pengendalian Internal
Adapun struktur pengendalian internal terdiri atas lima unsur pokok menurut Peraturan Pemerintah No 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah . Kelima unsur pokok tersebut yaitu :
1. Lingkungan pengendalian 2. Penilaian resiko
3. Kegiatan Pengendalian 4. Informasi dan Komunikasi
5. Pemantauan Pengendalian Internal
Unsur-unsur pengendalian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Lingkungan Pengendalian
Pimpinan instansi Pemerintah wajib menciptakan dan memlihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan sistem pegendalian internal dalam lingkungan kerjanya. Lingkungan pengendalian terdiri dari:
a. Penegakan integritas dan nilai etika b. Komitmen terhadap kompetensi c. Kepemimpinan yang kondusif
d. Pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan e. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
f. Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia
g. Perwujudan peran aparat pengawas intern pemerintah yang efektif h. Hubungan kerjasama yang baik dengan instansi pemerintah terkait
2. Penilaian Resiko
Dalam rangka penilaian resiko, pimpinan instansi pemerintah dapat menetapkan tujuan instansi dan tujuan pada tingkat kegiatan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Penilaian resiko terdiri dari:
a. Penetapan tujuan instansi secara keseluruhan b. Penetapan tujuan dan tingkat kegiatan c. Identifikasi resiko
d. Analisis resiko
e. Mengelola resiko selama perubahan 3. Kegiatan Pengendalian
Pimpinan instansi pemerintah wajib menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran, kompleksitas dari sifat dan tugas serta fungsi yang bersangkutan. Penyelenggaraan kegiatan pengendalian internal terdiri dari:
a. Review atas kinerja instansi yang bersangkutan b. Pembinaan sumber daya manusia
c. Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi d. Pengendalian fisik atas aset
e. Penetapan dan review atas indikator dan ukuran kinerja f. Pemisahan fungsi
g. Otorisasi atas transaksi dan kejadian yang penting
h. Pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi dan kejadian i. Pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya
j. Dokumentasi yang baik atas sistem pengendalian intern serta transaksi dalam kejadian penting
4. Informasi dan Komunikasi
Pimpinan instansi pemerintah wajib mengidentifikasi, mencatat dan mengkomunikasikan atas informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat.Komunikasi atas informasi wajib diselenggarakan secara efektif.
5. Pemantauan Pengengendalian Internal
Pimpinan instansi pemerintah wajib melakukan pemanntauan sistem pengendalian internal melalui:
a. Pemantauan berkelanjutan b. Evaluasi terpisah
c. Penyelesaian audit
Berkaitan dengan laporan keuangan, sistem pengendalian intern akan berpengaruh kepada kualitas laporan keuangan.Pengaruh pengendalian baik secara langsung maupun tidak langsung akan tergambar pada laporan keuangan. Jika pengendalian intern suatu organisasi efektif, maka laporan
keuangan akan disajikan secara wajar, sebaliknya jika pengendalian intern suatu organisasi tidak efektif, maka laporan keuangan kemungkinan besar mengandung salah saji sangat material.Pengendalianinternal bertujuan membuat laporan keuangan bebas dari salah saji yang material, yang disebabkan oleh kesalahan (error) maupun kecurangan (fraud).
2.1.2.3 Tujuan Pengendalian Internal
Lima tujuan pengendalian internal Tugiman(2006:9) adalah sebagai berikut:
1. Dapat dipercaya dan integeritas informasi
2. Kepatuhan terhadap kebijakan, rencana dan prosesur serta undang- undang yang berlaku
3. Pengamanan aktiva
4. Ekonomi dan efesiensi kegiatan 5. Efektivitas pencapaian tujuan
Tujuan pengendalian internal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Dapat dipercaya dan integeritas informasi
Informasi merupakan barang ekonomi yang kadang bernilai tinggi kadang bernilai tidak terlalu tinggi, pengendalian internal dilakukan salah satu tujuannya adalah untuk memberi keyakinan yang memadai bahwa informasi yang disajikanoleh organisasi yang menerapkan pengendalian internal dapat dipercaya oleh penerima informasi.
2. Kepatuhan terhadap kebijakan, rencana dan prosesur serta undang- undang yang berlaku
Tujuan pengendalian internal adalah memastikan bahwa suatu operasi berjalan dengan baik, sistematis dan beruntun, selain itu tujuan
dari pengendalian ini juga untuk menilai bahwa kegiatan yang telah dilakukan tidak keluar dari aturan dan norma hukum yang berlaku.
3. Pengamanan aktiva
Pengendalian yang paling nyata adalah design dan implementasi untuk melindungi aset negara/daerah. Pengendalian ini mencakup kunci-kunci setiap akses pintu masuk/keluar, petugas keamanan, pasword komputer dll
4. Ekonomi dan efesiensi kegiatan
Berdasarkan hukum kelangkaan yang menyatakan bahwa jumlah sumber daya memang sangat terbatas. Begitu pula jumlah anggaran pemerintah yang sangat terbatas dan harus dialokasikan dengan tepat agar tidak terjadi penyalahgunaan anggaran oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Adanya pengendalian internal ini diharapkan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dapat berjalan dengan ekonomis dan efesien.
5. Efektivitas pencapaian tujuan
Fokus seluruh pengendalian dan organisasi secara keseluruhan harus padapencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Pengendalian internal memainkan peranan yang penting karena pengendalian internal ini diharapkan efektivitas pencapaian tujuan organisasi dapat dengan mudah terlaksana.
Penerapan sistem pengendalian internal bertujuan untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan, pemborosan, penyelewengan, hambatan,
kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. Tujuan pengendalian internal juga dapat diartikan sebagai suatu pendekatan manajerial untuk meningkatkan efesiensi, efektivitas, rasionalitas dan ketertiban dalam pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas organisasi.
2.1.3 Penyajian Laporan Keuangan 2.1.3.1 Laporan Keuangan
Bastian (2010:297) laporan keuangan sektor publik merupakan representasi posisi keuangan dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas sektor publik.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang standart akuntansi berbasis akrual membahas laporan keuangan sebagai berikut:
“Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya (PP No 71 Tahun 2010).”
1. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyelenggrakan akuntansi atas transaksi keuangan yang berada dalam tanggung jawabnya dan menyediakan lapotan keuangan terdiri dari:
a. Laporan realisasi anggaran b. Neraca
c. Catatan atas laporan keuangan
Laporan keuangan dimaksud disampaikan kepada kepala daerah melalui pejabat pengelola keuangan daerah (kepala badan pengelola keuangan daerah) selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berahir.
2. Berdasarkan laporan keuangan yang dibuat oleh masing-masing SKPD. Pejabat pengelola keuangan daerah menyusun lapotan keuangan pemerintah daerah terdiri dari:
a. Laporan realisasi anggaran b. Neraca
c. Laporan arus kas
d. Catatan atas laporan keuangan
Laporan keuangan sebagaimana dimaksud disusun dan disajikan sesuai dengan standart akuntansi pemerintahan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standart Akuntansi Pemerintah.
Selain laporan keuangan yang pokok tersebut, pemerintah daerah diperkenankan menyajikan laporan keuangan pendukung yang terdiri dari Laporan Kinerja Keuangan Daerah dan Laporan Perubahan Ekuitas Dana.
3. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada poin (2) disampaikan kepada Badan Pemeriksa Keuangan selambat- lambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berahir.
4. Pemeriksaan laporan keuangan dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan diselesaikan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah menerima laporan keuangan dari pemerintah daerah.
5. Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentanng pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berahir.
6. Apabila sampai dengan batas waktu sebagaimana pada poin (4). Badan Pemeriksa Keuangan belum menyampaikan laporan hasil pemeriksaan maka rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada poin (5) diajukan ke DPRD.
2.1.3.2 Tujuan Laporan Keuangan Pemerintah
Mardiasmo (2009:161) secara umum tujuan dan fungsi laporan
1. Kepatuhan dan pengelolaan (compliance and stewardship)
Laporan keuangan digunakan untuk memberikan jaminan kepada pengguna laporan keuangan dan pihak otoritas penguasa bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan lain yang telah ditetapkan.
2. Akuntabilitas dan pelaporan retospektif (accountability and retrospective)
Laporan keuangan digunakan sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada publik. Laporan keuangan digunakan untuk memonitor kinerja dan mengevaluasi manajemen, memberi dasar untuk mengamati trend antar kurun waktu, pencapaian atas tujuan yang telah ditetapkan dan membandingkan dengan kinerja organisasi lain yang sejenis jika ada. Laporan keuangan juga memungkinkan pihak luar untuk memperoleh informasi biaya atas barang dan jasa yang diterima, serta memungkinkan bagi mereka untuk menilai efesiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya organisasi.
3. Perencanaan dan informasi otorisasi (planninng and authorization information)
Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan dasar perencanaan kebijakan dan aktivitas di masa yang akan datang. Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan informasi pendukung mengenai otorisasi penggunaan dana.
4. Kelangsungan organisasi (viability)
Laporan keuangan berfungsi untuk membantu pembaca dalam menentukan apakah suatu organisasi atau unit kerja dapat terus menyediakan barang dan jasa (pelayanan) di masa yang akan datang.
5. Hubungan masyarakat (public relation)
Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan kesempatan pada organisasi untuk mengemukakan pernyataan atas prestasi yang telah dicapai kepada pemakai yang dipengaruhi karyawan dan masyarakat. Laporan keuangan berfungsi sebagai alat komunikasi dengan publik dan pihak-pihak yang berkepentingan.
6. Sumber fakta dan gambaran (source of fact and figures)
Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi kepada berbagai kelompok kepentingan yang ingin mengetahui organisasi secara dalam.
PP No 71 Tahun 2010 menyatakan bahwa pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial maupun politik dengan:
a. Menyediakan informasi tentang sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya keuangan
b. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran
c. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai
d. Meyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatan dan mencukupi kebutuhan kasnya
e. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman
f. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan.
2.1.3.3 Komponen Laporan Keuangan Pemerintah
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standart Akuntansi Pemerintahan (SAP) komponen laporan keuangan pemerintah terdiri dari:
1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih 3. Neraca
4. Laporan Operasional 5. Laporan Arus Kas
6. Laporan Peubahan Ekuitas 7. Catatan atas Laporan Keuangan
Komponen laporan keuangan pemerintah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) menyediakan informasi mengenai anggaran dan realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer, surplus/deisit-LRA, dan pembiayaan dari suatu entitas pelaporan.
dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas pelapor terhadap anggaran.
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LP-SAL) menyajikan pos-pos berikut, yaitu: saldo anggaran lebih awal (saldo tahun sebelumnya), penggunaan saldo anggaran lebih, Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SILPA/SIKPA) tahun berjalan, koreksi kesalahan pembukuan tahun sebelumnya, lain-lain dan saldo anggaran lebih ahir untuk periode berjalan. Pos-pos tersebut disajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya.
3. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelapor mengenai aset, kewajiban dan ekuitas pada tanggal tertentu. Dalam neraca setiap entitas mengklasifikasikan asetnya dalam aset lancar dan nonlancar serta mengklasifikasikan kewajiban menjadi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang.
4. Laporan Operasional
Laporan Operasional (LO) menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional keuangan entitas pelaporan yang tercermin dalam pendapatan-LO, beban, dan surplus/defisit operasional dari suatu entitas pelaporan yang penyajiannya dibandingkan dengan periode sebelumnya.
5. Laporan Arus Kas
Tujuan pelaporan arus kas adalah memberikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Laporan arus kas adalah bagian dari laporan finansial yang menyajikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan aktiva operasi, investasi, pendanaan dan transitoris.
6. Laporan Peubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menyajikan sekurang-kurangnya pos- pos ekuitas awal atau ekuitas tahun sebelumnya. Surplus/defisit LO pada periode bersangkutan dan koreksi-koreksi yang langsung/mengurangi ekuitas, yang antara lain berasal dari dampak kumulatif yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan mendasar.
7. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporam dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam Standar Akuntansi Pemerintah serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan laporan keuangan secara wajar.
2.1.4 Aksesibilitas Laporan Keuangan
2.1.4.1 Pengertian Aksesibilitasi
Ketidakmampuan laporan keuangan dalam melaksanakan akuntabilitas, tidak saja disebabkan karena laporan tahunan yang tidak memuat informasi relevan yang dibutuhkan para pengguna tetapi juga karena laporan tersebut tidak dapat secara langsung dan aksibel pada para pengguna potensial. Sebagai konsekuensinya, penyajian laporan keuangan yang tidak lengkap dan tidak aksibel dapat menurunkan kualitas dari transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah. Oleh karena itu pemerintah daerah harus meningkatkan aksesibilitasi laporan keuangannya, tidak sekedar menyampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) saja.
Tetapi juga memfasilitasi masyarakat luas agar dapat mengetahui dan memperoleh laporan keuangan dengan mudah.
“laporan keuangan pemerintah merupakan hak publik yang harus diberikan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Hak publik atas informasi keuangan muncul sebagai konsekuensi konsep pertanggungjawaban publik. Pertanggungjawaban publik mensyaratkan organisasi publik untuk memberikan laporan keuangan sebagai bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan (accountability dan stewardship).”Mardiasmo (2009:197)
Aksesibilitas menurut perspektif tata ruang adalah keadaan atau ketersediaan hubungan dari suatu tempat ke tempat lainnya atau kemudahan seseorang atau kendaraan untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat lain dengan aman, nyaman, serta kecepatan yang wajar (Koester, 2002 yang dikutip Rohman, 2009).
“Pemerintah selaku perumus dan pelaksana kebijakan APBN berkewajiban untuk terbuka dan bertanggungjawab terhadap seluruh hasil pelaksanaan pembangunan. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut diwujudkan dengan menyediakan informasi keuangan yang komperhensif kepada masyarakat luas termasuk informasi keuangan daerah. Dengan kemajuan teknologi
yang pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, hal tersebut membuka peluang bagi berbagai pihak untuk mengakses, mengelola dan memberdayagunakan informasi secara cepat dan akurat untuk lebih mendorong terwujudnya pemerintahan yang bersih, transparan dan mampu menjawab tuntutanperubahan secara efektif. Yani (2009:122)
Pemerintah berkewajiban untuk memberikan informasi keuangan yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan ekonomi, sosial, dan politik oleh pihak-pihak yang be\rkepentingan. Akuntabilitas yang efektif tergantung akses publik terhadap laporan pertanggung jawaban maupun laporan temuan yang dapat dibaca dan dipahami. Akses atas laporan kinerja organisasi publik dapat diperoleh melalui media seperti surat kabar, majalah, radio, stasiun televisi dan website internet dan forum yang memberikan perhatian langsung atas peranan yang mendorong akuntabilitas pemerintah terhadap masyarakat, aksesibilitasi merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat.
Aksesibilitasi dalam laporan keuangan sebagai kemudahan seseorang untuk memperoleh informasi laporan keuangan. Dalam Undang-undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah pasal 103 dinyatakan bahwa informasi yang dimuat dalam sistem informasi keuangan daerah (SIKD) adalah data terbuka yang dapat diketahui diakses dan diperoleh oleh masyarakat. Ini berarti bahwa pemerintah daerah harus membuka akses kepada stakeholder secara luas atas laporan keuangan yang dihasilkannya, misal dengan mempublikasikan laporan keuangan daerah melalui surat kabar, internet atau cara lainnya.
Dengan begitu akses masyarakat untuk mengetahui laporan keuangan akan lebih mudah.
Informasi yang dimuat dalam SIKD tersebut sebagaimana dinyatakan dalam pasal 102, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mencakup:
a. APBD dan laporan realisasi APBD provinsi, kabupaten dan kota b. Neraca daerah
c. Laporan arus kas
d. Catatan atas laporan keuangan daerah
e. Dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan f. Laporan keuangan Badan Usaha Milik Daerah
g. Data yang berkaitan dengan kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal daerah
2.2 Review Penelitian Terdahulu
Berikut ini merupakan penelitian-penelitian terdahulu tentang faktor yang berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Sande (2013) meneliti “Pengaruh Penyajian Laporan Keuangan dan Aksesibilitas Laporan Keuangan Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah (Studi Empiris Pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat)” . Hasil penelitiannya menyimpulkan penyajian laporan keuanganberpengaruh signifikan positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. dan aksesibilitas laporan keuangan berpengaruh signifikan positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Wulansari (2014) juga meneliti dengan judul “Pengaruh Sistem Pengendalian Internal dan Sistem Pelaporan Keuangan Terhadap Akuntanbilitas Pengelolaan Keuangan Daerah Pemerintah Kota Bandung (Survey pada Dinas
Pemerintah Daerah Kota Bandung”. Hasil dari penelitian tersebut adalah Sistem pengendalian internal berpengaruh positif dan signifikan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, sistempelaporan keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadapakuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan sistem pengendalian internal dan sistem pelaporan keuangan secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Mulyana (2006) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penyajian Neraca Daerah dan AksesibilitasLaporan Keuangan TerhadapTransparansi dan AkuntabilitasPengelolaan Keuangan Daerah”. Hasil penelitiannya adalah penyajian neraca daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah, aksesibilitas laporan keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah dan penyajian neraca daerah dan aksesibilitas laporan keuangan secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah.
Iqbal (2009) melakukan penelitian berjudul “Pengaruh PenyajianNeraca SKPD dan AksesibilitasLaporan Keuangan SKPD TerhadapTransparansi dan AkuntabilitasPengelolaan Keuangan SKPD di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara”. Dengan kesimpulan penyajian neraca SKPD dan aksesibilitas laporan keuangan SKPD berpengaruh signifikan positif terhadap transparasi dan akuntanbilitas pengelolaan keuangan SKPD.
Mustofa (2012) dengan judul “Pengaruh Penyajian dan Aksesibilitasi Laporan Keuangan Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Kabupaten Pemalang”. Menyimpulkan penyajian laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, Aksesibilitas laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan Penyajian dan aksesibilitas laporan keuangan secara bersama-sama berpen- garuh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Wahyuni, Sulindawati dan Herawati meneliti “ Pengaruh Penyajian Laporan Keuangan Daerah dan Aksesibilitasi Laporan Keuangan Daerah Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah (Studi Empiris Pemerintahan Kota Bandung”. Menghasilkan kesimpulan Penyajian laporan keuangan berpengaruh signifikan dan positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, Aksesibilitas laporan keuangan berpengaruh signifikan dan positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan Penyajian laporan keuangan daerah dan aksesibilitas laporan keuangan daerah berpengaruh signifikan dan positif secara simultan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Tabel 2.1
Ringkasan Review Penelitian Terdahulu
No. Nama Peneliti / Tahun
Variabel Hasil Penelitian
1. Wulansari (2014)
Varibel Independen:
Pengaruh Sistem Pengendalian Internal dan Sistem Pelaporan Keuangan
Variabel Dependen:
AkuntabilitasPengelolaan
Keuangan Daerah Kota Bandung (Survey pada Dinas
Sistem pengendalian internal berpengaruh positif dan signifikan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, sistempelaporan keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadapakuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan sistem pengendalian internal dan sistem pelaporan keuangan secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap akuntabilitas
Kota Bandung) pengelolaan keuangandaerah.
2. Wahyuni dkk (2014)
Variabel Independen:
Penyajian Laporan Keuangan Daerah dan Aksesibilitasi Laporan Keuangan Daerah Variabel Dependen
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah (Studi Empiris Pemerintahan Kota Bandung
Penyajian
laporan keuangan berpengaruh signifikan
dan positif terhadap akuntabilitas
pengelolaan keuangan daerah, Aksesibilitas laporan keuangan
berpengaruh signifikan dan positif terhadap
akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan Penyajian laporan
keuangan daerah dan aksesibilitas laporan
keuangan daerah berpengaruh signifikan
dan positif secara simultan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah
3. Sande (2013) Variabel Independen:
PengaruhPenyajian Laporan Keuangan dan Aksesibilitas Laporan Keuangan.
Variabel Dependen:
Akuntanbilitas Pengelolaan Laporan Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Penyajian laporan keuanganberpengaruh signifikan
positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. dan aksesibilitas laporan keuangan berpengaruh signifikan positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
4. Mustofa (2012) Variabel Independen:
Penyajian dan Aksesibilitasi Laporan Keuangan
Variabel Dependen
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Kabupaten Pemalang
Penyajian laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, Aksesibilitas laporan keuangan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan Penyajian dan aksesibilitas laporan keuangan secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah
5. Iqbal (2009) Variabel Independen:
Pengaruh Penyajian Neraca SKPD dan Aksesibilitas Laporan Keuangan SKPD Variabel Dependen:
Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan SKPD Pemerintah Kota Medan.
Penyajian neraca SKPD dan aksesibilitas laporan keuangan SKPD berpengaruh signifikan positif terhadap transparasi dan akuntanbilitas pengelolaan keuangan SKPD.
6. Mulyana (2006) Varibel Independen:
Pengaruh Penyajian Neraca Daerah dan Aksesibilitas Laporan Keuangan
Variabel Dependen:
Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta
penyajian neraca daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah, aksesibilitas laporan keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah dan penyajian neraca daerah dan aksesibilitas laporan keuangan secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangandaerah.
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual akan menjelaskan secara teoritis hubungan antar variabel yang diteliti yaitu variabel bebas dan variabel terikat.Kerangka penelitian ini digunakan untuk mempermudah jalan pemikiran terhadap permasalahan yang dibahas. Adapun kerangka konseptual penelitian ini digambarkan melalui model penelitian pada gambar 2.1.
H1
H2 H4
H3
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.4 Hipotesis Penelitian
2.4.1 Sistem Pengendalian Internal dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah
Untuk hubungan sistem pengendalian internal dengan akuntabilitas laporan keuangan mengacu pada tujuan pengendalian internal Tugiman (2006:9) yaitu:
Penyajian Laporan Keuangan
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah
Aksesibilitas Laporan Keuangan Sistem Pengendalian
Internal
1. Dapat dipercaya dan integeritas informasi
2. Kepatuhan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur serta undang- undang yang berlaku
3. Pengamanan aktiva
4. Ekonomi dan efesiensi kegiatan 5. Efektifitas pencapaian tujuan
Kelima tujuan diatas erat kaitannya dengan jenis akuntabilitas horizontal yang memiliki 5 komponen menurut Mahmudi (2010:28) yaitu:
1. Akuntabilitas hukum dan kejujuran 2. Akuntabilitas manajerial
3. Akuntabilitas program 4. Akuntabilitas kebijakan 5. Akuntabilitas keuangan.
Dari uraian di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis pertama:
H1: Sistem Pengendalian Internal berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
2.4.2 Penyajian Laporan Keuangan dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah
Laporan keuangan sektor publikmerupakan representasi terstruktur posisi keuangan akibat transaksi yang dilakukan. Laporan keuangan organisasi sektor publik merupakan komponen penting untuk menciptakan akuntabilitas sektor publik. Penyajian laporan keuangan juga membuktikan transparansi penggunaan dana publik sehingga terdapat pengawasan antara pengguna dan pemilik dana. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Sande (2013) yang menyatakan bahwa penyajian laporan keuangan berpengaruh signifikan positif terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah pada pemerintah Provinsi Sumatera Barat,
Dari uraian di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis ke dua:
H2: Penyajian laporan keuangan berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
2.4.3 Aksesibilitasi Laporan Keuangan dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah
Aksesibilitas menurut perspektif tata ruang adalah keadaan atau ketersediaan hubungan dari suatu tempat ke tempat lainnya atau kemudahan seseorang atau kendaraan untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat lain dengan aman, nyaman, serta kecepatan yang wajar. Aksesibilitas laporan keuangan merupakan kemudahan bagi seseorang untuk memperoleh informasi mengenai laporan keuangan. Penyajian laporan keuangan saja tidak akan cukup apabila terhalang dari proses mendapatkan informasi hasil kinerja suatu entitas. Oleh sebab itu akses masyarakat sebagai fungsi pengawasan aparat pemerintah berkaitan dengan laporan keuangan cukup mempengaruhi akuntabilitas pengelolaan keuangan publik. Hal ini didukung penelitian dari Iqbal (2009) menyatakan bahwa aksesibilitasi laporan keuangan berpengaruh signifikan positif terhadap transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan SKPD di Provinsi Sumatera Utara.
Dari uraian di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis ke tiga:
H3: Aksesibilitasi laporan keuangan berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah
2.4.4 Sistem Pengendalian Internal, Penyajian Laporan Keuangan dan Aksesibilitasi Laporan Keuangan Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah sistem
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Adapun tujuan dari SPIP adalah untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Inti dasar dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008.
Tujuan penyusunan laporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan dan menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumberdaya yang dipercayakan kepadanya, Hak publik atas informasi keuangan muncul sebagai konsekuensi konsep pertanggungjawaban publik.
Pertanggungjawaban publik mensyaratkan organisasi publik untuk memberikan laporan keuangan sebagai bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan (accountability dan stewardship). Masyarakat sebagai pihak yang memberi kepercayaan kepada pemerintah untuk mengelola keuangan publik berhak untuk mendapatkan informasi keuangan pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap pemerintah.
Dari uraian di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis ke empat:
H4: Sistem pengendalian internal, penyajian laporan keuangan dan aksesibilitasi laporan keuangan berpengaruh terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kausal, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan merupakan penelitian yang menjelaskan fenomena dalam bentuk hubungan sebab akibat antar variabel Erlina (2011:20). Penelitian ini didesain untuk membuktikan hubungan sebab dan akibat dari beberapa variabel.
3.2 Tempat dan Jadwal Penelitian
Tempat penelitian ini dilaksanakan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Tebing Tinggi dan penelitian di laksanakan pada bulan Oktober 2017.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi merupakan sekelompok entitas yang lengkap yang dapat berupa orang, kejadian atau benda yang mempunyai karakteristik tertentu yang berada dalam suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian Erlina(2011:81). Populasi dalam penelitian ini adalah pengelola keuangan SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Tebing Tinggi terdiri dari SKPD, Kepala SKPD dan Kepala bagian keuangan SKPD sekaligus sebagai Responden berjumlah 37 Responden (Tabel 3.1). Sampel penelitian ini adalah seluruh anggota populasi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah menggunakan Sampling Jenuh, yaitu teknik pengambilan sampel dimana seluruh anggota populasi di jadikan sampel Sugiyono(2011:68).
Tabel 3.1
Populasi/Sampel Penelitian dan Responden
No. SKPD Responden
Keterangan Populasi Sampel
1 Dinas Pertanian 2 2 a dan b
2 Dinas Pendidikan 2 2 a dan b
3 LPSE Kota Tebing Tinggi 1 1 a
4 Inspektorat 2 2 a dan b
5 BAPPEDA 2 2 a dan b
6 Dinas Kesehatan 2 2 a dan b
7 Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata 2 2 a dan b
8 Dinas Sosial Tenaga Kerja 2 2 a dan b
9 Dinas Perhubungan 2 2 a dan b
10 Dinas Pendapatan - - -
11 Satpol PP 2 2 a dan b
12 Dinas Kouperindag 2 2 a dan b
13 Kantor Ketahanan Pangan 2 2 a dan b
14 Kantor KPP dan KB 2 2 a dan b
15 Badan Pemberdayaan Masyarakat dan
Pemerintah Kelurahan 2 2 a dan b
16 Kantor Lingkungan Hidup 2 2 a dan b
17 Kesbag Polinmas 2 2 a dan b
18 Perpustakaan 2 2 a dan b
19 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil 2 2 a dan b 20 Badan Kepegawaian, Pendidikan dan
Pelatihan 2 2 a dan b
Jumlah 37 37 -
Keterangan:
a = Kepala SKPD
b = Kepala Bagian Keuangan
Memilih kepala SKPD dan kepala bagian keuangan SKPD di dasari oleh tugas dan wewenang kepala SKPD dan kepala bagian keuangan SKPD sesuai dengan Peraturan Meteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 10, Pejabat Pengguna Anggaran (PA) / Pengguna Barang dapat diterangkan sebagai berikut
Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf c mempunyai tugas:
1. Menyusun RKA-SKPD 2. Menyusun DPA-SKPD
3. Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja
4. Melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya
5. Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran 6. Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak
7. Mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan
8. Mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya
9. Mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya
10. Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya
11. Mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya
12. Melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah 3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen (variabel bebas) adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat dan variabel dependen (variabel terikat) merupakan variabel yang menjadi perhatian utama peneliti Sekaran(2006:7).
Berikut ini diuraikan definisi operasional dan skala pengukuran variabel pada poin 3.4.1, 3.4.2, dan 3.4.3.
3.4.1 Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah yang disimbolkan dengan (Y).Tanjung (2008:9) Akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah adalah mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai
Pengukuran untuk variabel kualitas laporan keuangan menggunakan instrumen pertanyaan dengan skala sikap likertdengan lima alternatif jawaban dan masing-masing diberi skor yaitu: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-Ragu (RR), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS).
3.4.2 Variabel Independen
Pada penelitian ini variabel independennya adalah:
1. Sistem pengendalian internal (X1)
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 bahwa sistem pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang- undangan. Skala yang digunakan adalah skala sikap Likert dengan skala ukur Interval, untuk penilaiannya adalah sebagai berikut :
1. SS : Sangat Setuju 2. S : Setuju
3. RR : Ragu-Ragu 4. TS : Tidak Setuju
5. STS : Sangat Tidak Setuju 2. Penyajian Laporan Keuangan (X2)
Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas
pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya (PP No 71 Tahun 2010). Skala yang digunakan adalah skala sikap Likert dengan skala ukur Interval, untuk penilaiannya adalah sebagai berikut:
1. SS : Sangat Setuju 2. S : Setuju
3. RR : Ragu-Ragu 4. TS : Tidak Setuju
5. STS : Sangat Tidak Setuju
3. Aksesibilitasi Laporan Keuangan (X3)
Aksesibilitas menurut perspektif tata ruang adalah keadaan atau ketersediaan hubungan dari suatu tempat ke tempat lainnya atau kemudahan seseorang atau kendaraan untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat lain dengan aman, nyaman, serta kecepatan yang wajar. Skala yang diguna kan adalah skala sikap Likert dengan skala ukur Interval, untuk penilaiannya adalah sebagai berikut :
1. SS : Sangat Setuju 2. S : Setuju
3. RR : Ragu-Ragu 4. TS : Tidak Setuju
5. STS : Sangat Tidak Setuju