MODUL PERKULIAHAN 8
ANALISIS LAPORAN
KEUANGAN+LAB
ANALISIS CROSS SECTION DAN ANALISIS TIME SERIE SERIES
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ekonomi & Bisnis Akuntansi
08
LUSIA SRI ARINIAbstract Kompetensi
Sesi 6 ini akan membahas tentang analisis laporan keuangan dengan cross sectional
Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan tentang analisis laporan keuangan dengan cross sectional
MODUL 08
ANALISIS CROSS SECTION DAN TIME SERIES
Materi :
1. Pendahuluan
2. Pengertian Cross Sectional 3. Perbandingan Cross Section 4. Perhitungan Rata-Rata Industri 5. Perbandingan Industri
6. Analisis Time Series 7. Kesimpulan
ANALISIS CROSS SECTION DAN ANALISIS TIME SERIS
1. PENDAHULUAN
Analisis keuangan bias dilakukan dengan membandingkan angka-angka keuangan dengan suatu standar tertentu. Standar tersebut bisa berupa standar internal maupun standar eksternal. Standar tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan angka-angka
keuangan dengan angka-angka masa sebelumnya dan perbandingan dengan perusahaan atau industri sejenis. Tanpa perbandingan tidak akan diketahui apakah prestasi keuangan suatu perusahaan menunjukkan perbaikan atau sebaliknya menunjukkan penurunan.
Analisis cross-section adalah analisis yang dilakukan untuk memperbandingkan data laporan keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan atau industri yang sejenis dalam suatu periode tertentu.
Ruang lingkup pembahasan pada analisis cross-section adalah:
1.Perbandingan Cross-Section 2.Perhitungan Rata-Rata Industri 3.Perbedaan Antar industri
2. PENGERTIAN ANALISA CROSS SECTION
Analisis cross section adalah perbandingan data keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan atau industi yang sejenis. akan bermanfaaat untuk melihat prestasi perusahaan relatif terhadap industri dan juga bermanfaat dalam kasus khusus seperti untuk menentukan bonus bagi manjemen perusahaan. Bonus bagi manajemen perusahaan pada beberapa perusahaan ditentukan berdasarkan keuntungan perusahaan relatif terhadap industri.
Definisi industri sejenis adalah kesamaan dalam jenis bahan baku atau supplier, contoh standar klasifikasi industry listing di BEJ, dan kesamaan dari sisi permintaan.
Kriteria pengelompokan industry didasarkan atas produk yang di hasilkan .contoh : misal kebutuhan komunikasi, penghasil computer PC dengan mesin fax bisa bersaing, kamera dan HP.
Industri merupakan suatu kegiatan ekonomi yang mengolah barang mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi untuk dijadikan barang yang lebih tinggi kegunaannya.
Analisis cross section ( perbandingan dengan perusahaan atau industri yang sejenis) akan bermanfaat untuk melihat prestasi perusahaan relatif terhadap industri dan juga bermanfaat dalam kasus khusus seperti untuk menentukan bonus bagi manajemen perusahaan. Bonus bagi manajemen perusahaan pada beberapa perusahaan ditentukan berdasarkan keuntungan perusahaan relatif terhadap industri. Apabila perusahaan memeperoleh untung di atas industri, manajemen perusahaan akan memperoleh bonus, dan tidak memperoleh bonus apabila terjadi sebaliknya.
Mendefinisikan perusahaan sejenis bukan merupakan pekerjaan mudah. Industri yang bisa diperbandingkan pada dasarnya mempunyai satu atau beberapa elemen yang sama dengan perusahaan. Kesamaan tersebut antara lain :
(1) Kesamaan dalam jenis bahan baku atau supplier. Perusahaan bisa dikelompokan berdasarkan bahan baku yang dipakai, bisa juga berdasarkan proses produksi yang dipunyai. Standard Industrial Classification biasanya menggunakan kriteria semacam ini (struktur fisik dan tekhnologi proses produksi dalam homogenitas produksi). (2). Kesamaan dari sisi permintaan. Pendekatan ini menggunakan produk-produk yang dihasilkan sebagai kriteria pengelompokan industri. Apabila produk-produk memenuhi kebutuhan yang sama, dan produk-produk tersebut merupakan substitusi satu sama lainnya, maka produk-produk tersebut masuk dalam industri yang sama. Produk-produk tersebut bisa mempunyai horizon yang pendek yaitu produk-produk yang sama saat ini, tetapi bisa juga mempunyai horizon jangka panjang yaitu produk-produk yang saling berkompetisi pada beberapa tahun mendatang. (3) kesamaan dalam atribut keuangan. Dari sudut pandang investasi, saham- saham yang mempunyai berapa kesamaan atribut bisa dimasukan kedalam satu kelompok.
Dalam memilih perusahaan yang akan dipakai sebai perbandingan, analisis juga bisa menggabungkan ketiga atribut diatas, misalkan perusahaan transportasi dengan asset yang tidak terlalu besar ( misal Rp. 1,5 miliar), maka perbandingan yang tepat adalah perusahaan transportasi lainnya yang mempunyai asset yang hampir sama besarnya. Membandingkan perusahaan tersebut dengan perusahaan transportasi lain yang yang mempunyai asset Rp.
1 miliar barangkali tidak sepenuhnya tepat.
erhitungan rata-rata industri
3. PERBANDINGAN CROSS-SECTION
Analisis Cross-Section (perbandingan dengan perusahaan atau industri yang sejenis) akan bermanfaat untuk melihat prestasi perusahaan relatif terhadap industri dan juga
bermanfaat dalam kasus khusus seperti untuk menentukan bonus bagi manajemen perusahaan. Bonus bagi manajemen perusahaan pada beberapa perusahaan ditentukan berdasarkan keuntungan perusahaan relatif terhadap industri. Apabila perusahaan memperoleh untung di atas industri, manajemen perusahaan akan memperoleh bonus, dan tidak memperoleh bonus apabila yang terjadi sebaliknya.
Mendefinisikan industri sejenis bukan merupakan pekerjaan mudah. Industri yang bisa diperbandingkan pada dasarnya mempunyai satu atau beberapa elemen yang sama dengan perusahaan. Kesamaan tersebut antara lain:
1. Kesamaan dalam jenis bahan baku atau supplier.
Perusahaan bisa ddikelompokkan berdasarkan bahan baku yang dipakai, bisa juga berdasarkan proses produksi yang dipunyai. Standard Industrial Classification biasanya menggunakan kriteria semacam ini (struktur fisik dan teknologi proses produksi dan homogenitas produksi). Klasifikasi semacam ini juga banyak dipakai oleh lembaga lain.
2. Kesamaan dari sisi permintaan.
Pendekatan ini menggunakan produk-produk yang dihasilkan sebagai kriteria pengelompokkan industri. Apabila produk-produk memenuhi kebetuhan yang sama, dan produk-produk tersebut merupakan substitusi satu sama lainnya, maka produk-produk tersebut masuk dalam kelompok industri yang sama. Produk-produk tersebut bisa mempunyai horison yang pendek yaitu produk-produk yang sama saat ini, tetapi bisa juga mempunyai horison jangka panjang yaitu produk-produk yang saling berkompetisi pada beberapa tahun mendatang (misal sepuluh tahun mendatang).Perspektif jangka pendek juga mempunyai relevansi yang tinggi karena membicarakan situasi saat ini, tetapi perspektif jangka panjang membuat perusahaan waspada terhadap perubahan persaingan.
Produk yang saat ini bukan merupakan pesaing, barangkali merupakan pesaing potensial yang akan menjadi pesaing sesungguhnya pada masa mendatang.
3. Kesamaan dalam atribut keuangan.
Dari sudut pandang investasi, saham-saham yang mempunyai beberapa kesamaan atribut bisa dimasukkan ke dalam satu kelompok. Contoh atribut yang relevan adalah risiko, rasio PER (Price Earning Ratio), dan kapiatalisasi pasar untuk menentukan besar kecilnya kapitalisasi saham. Investor yang ingin menginvestasikan dananya kesaham kecil (kapitalisasi pasar kecil) barangkali akan memilih 25% saham paling kecil, dan membandingkan saham-saham yang mempunyai nilai kapiatalisasi yang kecil.
Dalam memilih perusahaan yang akan dipakai sebagai perbandingan, analisis juga bisa menggabungkan ketiga atribut di atas. Misalkan sebuah perusahaan transportasi dengan aset tidak terlalu besar (misal Rp 1,5 miliar), maka perbandingan yang tepat adalah
perusahaan transportasi lainnya dan yang mempunyai aset yang hampir sama besarnya, Membandingkan perusahaan transportasi lain yang mempunyai aset Rp100 miliar barangkali tidak sepenuhnya tepat.
Di negara-negara maju , data-data yang berkaitan dengan industri sejenis biasanya bisa dicari. Tetapi tidak demikian halnya dengan data industri di negara-negara yang bellum maju seperti di Indonesia. Saat ini perusahaan yang go public dan listing di BEI mencapai sekitar 400 saham (bandingkan dengan New York Stock Exchange yang mencapai 1.700 saham). Sebagian besar perusahaan di Indonesia belum go public. Perusahaan-perusahaan yang belum go public biasanya tidak memberikan laporan keuangan publik, dan dengan demikian data perbandingan akan sulit diperoleh. Kecuali bank-bank yang mempunyai data- data keuangan nasabahnya. Tetapi data seperti ini barangkali akan sulit diakses oleh perusahaan lain, meskkipun untuk perbandingan.
Masalah lain yang mungkin timbul adalah tidak "jelasnya" industri yang akan dipakai sebagai perbandingan. Perusahaa yang besar biasanya beroperasi tidak hanya pada satu sektor usaha saja, tetapi melakukan diversifikasinpada beberapa sektor. Banyak juga perusahaan yang mempunyai usaha pokok yang tertentu, tetapi juga mempunyai usaha pada sektor lain yang barangkali tidak terlalu dominan proporsinya. Kebanyakan laporan keuangan perusahaan semacam ini juga bersifat konsolidai, tidak melaporkan per segmen.
Perhatika urutan semacam ini.
A. Perusahaan dengan kegiatan tunggal pada sektor yang relevan. Laporan keuangan tersedia.
B. Perusahaan dengan beberapa aktivitas, tetapi mempunyai kegiatan yang dominan pada sektor yang relevan. laporan keuangan tersedia.
C. Perusahaan dengan banyak aktivitas, tidak ada aktivitas yang paling dominan (mirip dengan konglomerasi). Sulit menentukan sektor usaha yang relevan. Laporan keuangan per segmen tersedia.
D. Perusahaan dengan banyak aktivitas, tidak ada aktivitas yang paling dominan. Sulit menentukan sektor usaha yang relevan. Laporan keuangan hanya berupa laporan konsolidasi.
E. Perusahaan private, tidak ada laporan keuangan yang dipublikasikan.
(Sektor usaha yang relevan adalah sektor usaha yang akan dijadikan bahan perbandingan).
Perhatikan bahwa industri yang relatif "jelas" adalah industri dengan perusahaan- perusahaan masuk dalam kategori A. Kategori lainya memerlukan pertimbangan tersendiri untuk menentukan bagaimana sebaiknya suatu industri didefinisikan. Perusahaan dalam
kategori E barangkali sangat sulit dianalisis karena tidak adanya data relevan yang tersedia.
Perusahaan dalam kategori D juga sulit dianalisis karena laporan keuangan yang tersedia masih bersifat konsolidasi. Menentukan industri yang paling tepat untuk perbandingan dan mengkomunikasikan kepihak eksternal kadang-kadang bukan pekerjaan mudah. Sebagai contoh, Bankers Trust adalah bank yang terlibat dalam jual beli surat-surat berharga (sering disebut sebagai market maker).
Pada beberapa situasi barangkali tidak tersedia angka industri di dalam negeri.
Sebagai contoh adalah PT KAI (Kereta Api Indonesia) yang merupakan satu-satunya angkutan kereta api di Indonesia. Dalam situasi semacam ini perbandingan dengan rata-rata industri domestik tidak mungkin dilakukan. Dalam kasus PT KAI (Kereta Api Indonesia), barangkali analisis tidak bisa membandingkan secara langsung dengan perusahaan kereta api dinegara-negara lainnya, karena meskipun sama-sama bergerak dalam industri yang sama, kondisi lingkungan di negara-negara lain sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia.
4. PERHITUNGAN RATA-RATA INDUSTRI
Untuk menghitung rata-rata industri seorang analisis mempunyai beberapa alternatif:
1. Menghitung nilai tunggal sebagai perbandingan
2. Menghitung nilai tunggal dengan dispersinya (standar deviasinya),
3. Menghitung nilai untuk percentile tertentu (misal menghitung nilai untuk perusahaan- perusahaan yang mempunyai ukuran 25% paling kecil).
Untuk perhitungan di atas ada beberapa alternatif ang bisa di pakai:
1. Menghitung rata-rata aritmatika 2. Menghitung rata-rata tertimbang 3. Menggunakan median
4. Menggunakan modus
Perhitungan rata-rata sangat sensitif terhadap nilai-nilai ekstrem. Misalkan ada dua perusahaan dengan nilai ekstrem +40% (perusahaan X ) dan 15% (perusahaan Y). Misalkan perusahaan Y mengalami musibah bencana alam dan mengalamai kerugian sebesar 15%
dan perusahaan X baru saja melakukan ekspansi sehingga labanya meningkat 40 %, maka analisis dapat menghilangkan dua angka ekstrem tersebut. Dengan cara semacam itu angka-angka outlier bisa dihilangkan dan tidak merusak analisis. Cara lain yang bisa
digunakan untuk menghilangkan pengaruh nilai ekstrem ialah dengan menggunakan angka media atau modus.
Misalkan diketahui data beberapa induistri sebagai berikut :
PERUSAHAAN ROA Nilai Buku Saham Nilai pasar saham
K 20 % $ 600 $700
L 24% 840 800
M 24 % 500 840
N 26% 400 900
O 18% 500 920
P 24% 420 700
Q 16% 620 680
R 18% 670 800 JUMLAH - 4.550 6.340
Dengan perhitungan rata-rata aritmatika, ROA industry bisa di hitung sebagai berikut : 1/8 (20+24+24+26+18+24+16+18) = 21,25 %
Angka ini kemudian bisa dipakai sebagai standar untuk perbandingan. Alternative lain adalah dengan menghitung rata-rata tertimbang. Misalkan analisis menggunakan nilai buku saham sebagai pembobotnya, rata-rata ROA bisa dihitung sebagai berikut :
600/ 4.450 (20%) + 840/4.450 (24%) + 500/4.450 (24%) + 400/4.450 (26%) + 500/4.450 (18%) + 420/4.450 (24%) + 620/4.450(16%) + 670 /4.450 (18%) = 0,026 +0,045 + 0,026 + 0,023 +0,22+ 0,020 + 0,022+0,27 =10,3 %
Misalkan analis akan menggunakan nilai pasar saham sebagai pembobotnya, industri bisa dihitung sebagai berikut:
700/6.340(10%) + 800/6.340(12%) + 840/6.340(12%) + 900/6.340(13%) + 920/6.340(9%) + 700/6.340(12%) + 680/6.340(8%) + 800/6.340(9%) = 0,011 +0,015 + 0,0159 + 0,0184 + 0,031 + 0,0132 + 0.0114 = 11,4%
Dengan median ROA perusahaan diurutkan sebagai berikut : 16%, 18%, 18%, 20%, 24%, 24%, 24%, 26% , dan nilai tengahnya atau medianya adalah 20 % + 24 % = 22%. Misalkan kita menggunakan modus (nilai yang paling sering keluar), maka angka yang dipilih untuk dijadikan rata-rata industry adalah 24 %
Dari angka-angka yang dihitung di atas, berikut ini ringkasan hasil perhitungan dengan metode berberda tersebut.
ROA Rata-Rata Industri
Rata-rata aritmatik 21,25,63%
Rata-rata tertimbang
(dengan bobot nilai buku saham) 10,3%
Rata-rata tertimbang
(dengan bobot nilai pasar saham) 11,4%
Median 22,00%
Modus 24,00%
Pemilihan angka yang akan dijadikan rata-rata industri akan tergantung pertimbangan analis. Dari angka-angka diatas, ROA rata-rata industry adalah sekitar 10-24
%.
5. PERBEDAAN ANTAR INDUSTRI
Pada saat menggunakan analisis perbandingan industri, mempunyai asumsi implisit
yaitu ada perbedaan berarti dalam rasio-rasio keuangan antar industri. Kalau asumsi semacam itu tidak terpengaruh maka tidak ada artinya menggunakan perbandingan dengan industri yang sejenis, karena dengan perbandingan rasio perusahaan dalam perekonoian secara keseluruhanakan menghasilkan analisis yang sama. Perbandingan antarindustri secara implisit juga mengakui bahwa ada perbedaan risiko bisnis anatarindustri. Apabila asumsi ini benar, maka perbandingan dengan perusahaan-perusahaan dalam industri dalam relevan dilakukan karena perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain yang mempunyai kelas risiko bisnis yang sama. Tetapi apabila risiko bisnis antarindustri tidak berlainan, maka perbandingan antarindustri tidak punya dasar yang cukup kuat. Penelitian yang dilakukan oleh David F.Scoot Jr. dan John D. Martin (1975) menunjukkan bahwa memang ada perbedaan yang berarti dalam angka-angka industri.
6. ANALISIS TIME SERIES
Kegiatan Peramalan adalah suatu kegiatan memprediksi masa depan menggunakan kondisi ataupun data dimasa lalu. Hasil ramalan adalah situasi/kondisi yang diperkirakan akan terjadi pada masa yang akan datang. Ramalan dapat diperoleh dengan
bermacam‐macam cara yang dikenal dengan metode peramalan. Metode peramalan dapat diklasifikasikan 2 (dua) kelompok yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode peramalan kualitatif lebih mendasarkan kualitatif dimasa lalu yaitu berdasarkan pemikiran yang bersifat intuisi, pendapat dan pengetahuan serta pengalaman. Metode peramalan kuantitatif merupakan peramalan yang didasarkan pada data kuantitatif dimasa lalu. Hasil yang dibuat tergantung dari metode yang digunakan untuk melakukan peramalan.
Menurut Australia Bureau of Statistics, data time series adalah sekumpulan data pengamatan yang diperoleh dari perhitungan dari waktu ke waktu. Pada umumnya pengumpulan dan pencatatan itu dilakukan dalam jangka waktu tertentu misalnya tiap bulan, tiap akhir tahun, sepuluh tahun dan sebagainya. Contoh data time series adalah pertumbuhan ekonomi suatu negara pertahun, jumlah produksi minyak perbulan, indeks harga saham perhari. Untuk meramalkan data time series dibutuhkan teknik peramalan yang baik. Teknik peramalan dapat bermacam-macam tergantung pada pola data yang ada.
Menurut Hanke dan Wichern (2005:58), ada empat macam tipe pola data yaitu:
1. Pola Data Horizontal
Pola data horizontal terjadi saat data observasi berfluktuasi di sekitaran suatu nilai konstan atau mean yang membentuk garis horizontal. Data ini disebut juga dengan data stasioner. Jumlah penjualan selalu meningkat atau menurun pada suatu nilai konstan secara konsisten dari waktu ke waktu.
2. Pola Data Trend
Pola data trend terjadi bilamana data pengamatan mengalami kenaikan atau penurunan selama periode jangka panjang. Suatu data pengamatan yang mempunyaitrend disebut data non stasioner.
3. Pola Data Musiman
Pola data musiman terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman. Pola data musiman dapat mempunyai pola musim yang berulang dari periode ke periode
berikutnya. Misalnya pola yang berulang setiap bulan tertentu, tahun tertentu atau pada minggu tertentu.
4. Pola Data Siklis
Pola data siklis terjadi bilamana deret data dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis.
Dalam analisis data keuangan, analisis terhadap data historis diperlukan untuk melihat tren-tren yang mungkin timbul. Kemudian kita bisa menganalisis apa yang terjadi dibalik tren-tren angka tersebut. Data historis perusahaan sebaiknya juga dibandingkan dengan data historis industri untuk melihat apakah tren suatu perusahaan begerak relatif lebih baik terhadap tren industri.
Perbandingan ROA PT X Ddengan ROA rata-rata industry Tahun ROA PT X ROA rata-rata industry
2015 12 % 10%
2016 15% 12 %
2017 18 % 15%
2018 20 % 18%
2019 21 % 19%
Daeri data tersebut dapat dilihat ROA perusahaan bergerak diatas ROA rata-rata industri.
Dalam analisis times series, perubahan-perubahan struktural yang akan berpengaruh terhadap angka-angka keuangan harus diperhatikan. Perubahan-perubahan struktural yang akan mempengaruhi tren keuangan suatu perusahaan antara lain:
1. Peraturan Pemerintah 2. Perubahan Kompetisi 3. Perubahan Teknologi
4. Akuisi dan Merger (Penggabungan Perusahaan)
Tiga pendekatan dalam analisis time series:
1. Pendekatan Ekonomi 2. Pendekatan Statistik 3. Pendekatan Visual
7. KESIMPULAN
Analisis cross section adalah perbandingan data keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan atau industi yang sejenis.
Analisis time series adalah analisis perbandingan data dengan data keuangan periode sebelumnya (perbandingan dengan data historis).
Daftar Pustaka
Subramanyam, K.R, dan John J.Wild. 2018. Analisis Laporan Keuangan.Jakarta:Salemba Empat