• Tidak ada hasil yang ditemukan

Unram SeNSosio

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Unram SeNSosio"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Unram

SeNSosio

Stereotip Kecantikan Karyawan Perempuan Perbankan Cabang Selong Kabupaten Lombok Timur

Rafika Miatul S1, Ika Wijayanti2, Ratih Rahmawati3 Universitas Mataram

Abstract

This study discussed the beauty stereotypes of female bank employees. This research was conducted at the Selong Branch Banking, East Lombok Regency using a qualitative research approach. The type of research used was descriptive research in the form of written or spoken words of observed behavior related to the topic. Research informants were female bank employees, customers and company supervisors. Data collection used were observation, interviews and documentation. The data analysis used was data reduction, data presentation and drawing conclusions. Research informants were selected using purposive sampling techniques. The theory used was the Marxist theory of capitalist feminism.

The results of this study show the stereotypes of bank employees at Selong Branch, such as female employees tend to be considered to have a beautiful, neat, and attractive appearance, have a polite, kind, and friendly. From this assumption, it caused the meaning of beauty for female employees, such as, by having white skin and using branded goods, female employees feel more confident when working.

This is made the female employees at Selong Branch banking carry out beauty treatments to salons, clinics of beauty, and treatments to doctors to maintain appearance while working and shopping to malls or online to get branded goods. In addition, a neat and attractive appearance was as attractive as the attractiveness of getting customers, customers tend to feel more comfortable when they served by the female employees who are attractive, neat, fragrant, and friendly.

Banking company is one of the many industries that employs women. There is a commodification of attitudes and appearances that must be displayed in front of the customers, such as the body shape of the bank employees must be proportional, how to walk, make up, dress, accessories, already have rules in working.

Keywords: Stereotypes, Beauty, Women Employees, Banking Abstrak

Penelitian ini membahas stereotip kecantikan karyawan bank perempuan. Penelitian ini dilakukan di Perbankan Cabang Selong Kabupaten Lombok Timur dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu berupa kata-kata tertulis atau lisan dari perilaku yang diamati terkait dengan topik tersebut. Informan penelitian berasal dari karyawan bank perempuan, nasabah dan supervisor perusahaan. Pengambilan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teori yang digunakan adalah teori feminism kapitalis Marxis.

Hasil penelitian menujunjukkan stereotip karyawan bank di Cabang Selong, seperti karyawan perempuan cenderung dianggap memiliki paras cantik, rapi, dan berpenampilan menarik, memiliki sikap sopan, baik, ramah dan bersahabat. Dari anggapan tersebut menimbulkan makna kecantikan bagi karyawan perempuan seperti, dengan memiliki kulit putih dan menggunakan barang branded karyawan perempuan merasa lebih percaya diri saat bekerja. Hal tersebut membuat karyawan perempuan di perbankan Cabang Selong melakukan perawatan kecantikan ke salon, klinik kecantikan, dan perawatan ke dokter untuk menjaga penampilan saat bekerja dan berbelanja ke mall ataupun secara online untuk mendapatkan barang branded. Selain itu, penampilan yang rapi serta menarik sebagai daya tarik

(2)

Unram

SeNSosio

mendapatkan nasabah, nasabah cerderung merasa lebih nyaman saat dilayani oleh karyawan perempuan yang menarik, rapi, wangi, dan bersahabat.

Perusahaan perbankan merupakan salah satu dari banyaknya industri yang mempekerjakan perempuan.

Terjadi komodifikasi terhadap sikap dan penampilan yang harus ditampilkan saat berada di hadapan nasabah, seperti bentuk tubuh karyawan bank harus proporsional, cara berjalan, cara merias diri, cara berpakaian, aksesoris, sudah memiliki aturan dalam bekerja.

Kata Kunci : Stereotip, Kecantikan, Karyawan Perempuan, Perbankan.

(3)

Unram

SeNSosio

Pendahuluan

Menurut Poerwdarminta (2007) istilah kecantikan asal mulanya telah ada dari zaman Mesir, sekitar 4.500 tahun yang lalu, telah ditemukan artefak di piramida dan peninggalan raja zaman Mesir yang menggambarkan hubungan antara kecantikan manusia dan keyakinan.

Perdagangan membuat tersebarnya pengetahuan kecantikan di benua Eropa pada awal abad 17 Masehi. Perdagangan tersebut membawa kebudayaan Mesir ke Eropa dan menyebar ke berbagai negara Eropa. Ahli kecantikan Prancis dan Inggris berperan penting dalam penelitian kosmetik dan perawatan kecantikan Mesir, sehingga dapat dipahami bahwa Prancis dan Inggris tetap menjadi pusat kecantikan dunia hingga saat ini (Yunita, 2019). Dapat diketahui bahwa kebutuhan mengenai kecantikan di masa modern saat ini bagi perempuan cenderung meningkat, sehingga sampai saat ini negara Eropa, Prancis dan Inggris menjadi sentral kecantikan dunia.

Survei yang dilakukan oleh Head Medical and Training ZAP Clinic, dr Dara Ayuningtyas tentang definisi cantik menurut perempuan Indonesia, mengatakan cantik bisa dimaknai dengan cukup luas, ternyata hampir seluruh responden pada 2019 memberikan jawaban yang sama dengan survei tahun 2018. Sebesar 82,5 persen responden beranggapan bahwa cantik berarti memiliki kulit cerah dan bercahaya. Dalam survei 2018, sebesar 40,9 persen perempuan menyatakan cantik adalah bertubuh sehat dan bugar. Pada tahun 2019 46,7 persen responden meyakini bahwa cantik adalah memperindah penampilan secara saksama dan secara keseluruhan (Susilawati, 2020)

Penampilan cantik dan menarik bagi perempuan cenderung menjadi tuntutan, bahkan dalam memasuki dunia kerja paras cantik dan terlihat menarik adalah syarat dalam melamar pekerjaan yang harus dipenuhi pelamar kerja di perusahaan-perusahaan tertentu, tidak terkecuali dalam dunia perbankan.

Bank adalah badan atau perusahaan yang beroperasi di bidang keuangan. Definisi bank menurut undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 atas perubahan undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan, menetapkan bahwa bank ialah suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat (https://jdih.Kemenkeu.go.id/fulltext/1998/10tahun ~1998 uu.htm di akses 8 November 2021).

(4)

Unram

SeNSosio

Sebagaimana yang diketahui penampilan karyawan bank diharuskan lebih menarik dibandingkan penampilan pekerja lainnya. Penggunaan blazer dan rok pendek bagi karyawan perempuan dan rok panjang bagi karyawan yang berhijab membuat kesan anggun, rapi dan berwibawa. Dalam lingkungan perbankan, karyawan perempuan tampak lebih mencolok dilihat dari penampilan. Pembentukan pandangan masyarakat tentang karyawan bank perempuan yang dimaknai berparas cantik dan berpenampilan menarik ditentukan oleh pakaian, riasan wajah, gaya hidup, penggunaan barang yang memberi makna pada posisi kelas tertentu dan aktualisasi diri.

Selain penampilan fisik, sikap dan perilaku juga menjadi hal penting dalam pelayanan di dunia perbankan. Sikap melayani sudah menjadi bawaan perempuan, perempuan dikenal dengan keramahan, kelembutan dan keluwesan, sehingga tidak jarang posisi frontliner di dominasi perempuan. Karyawan perempuan dijadikan sebagai ikon suatu perusahaan yang dituntut untuk berpenampilan menarik dengan memakai riasan wajah, cara berpakaian sebagai salah satu kriteria.

Pada penelitian terdahulu yang berjudul “Komodifikasi Tubuh Perempuan Pegawai Bank (Studi pada Bank BTN Cabang Gresik), 2018” menemukan hasil bahwa umumnya masyarakat mengira dan beranggapan bahwa syarat utama menjadi karyawan bank adalah harus berparas cantik, modis, berpenampilan menarik setiap harinya. Memakai make up sudah menjadi kebutuhan primer bagi karyawan bank perempuan. Hal ini dapat dimaknai sebagai gambaran dalam kaitannya dengan rumor yang beredar di masyarakat, bahwa jika ingin menjadi karyawan bank harus memiliki kriteria khusus dan memenuhi syarat yang dikhususkan bagi perempuan. Karyawan perempuan selalu berusaha mempercantik diri semaksimal mungkin untuk terlihat enak dipandang oleh nasabah maupun rekan kerja di kantor (Rahayu, 2018).

Hal tersebut memunculkan stereotip di profesi karyawan bank perempuan dimana karyawan bank perempuan dituntut untuk berpenampilan menarik, tubuh dan ekspresi perempuan dijadikan sebagai kesan atau citra pada suatu perusahaan. Ketika perempuan digunakan sebagai “Alat” dalam menarik perhatian nasabah memunculkan isu gender pada profesi karyawan bank perempuan. Stereotip adalah pelabelan atau pandangan negatif terhadap kelompok atau jenis kelamin tertentu. Salah satu bentuk stereotip yang melekat pada masyarakat adalah pencari nafkah merupakan tugas laki-laki dan karakter perempuan yang lemah dan emosional atau penuh perasaan (Utaminingsih, 2017).

(5)

Unram

SeNSosio

Stereotip kecantikan tersebut tidak terkecuali juga dialami karyawan perempuan perbankan di Selong Lombok Timur. Selong merupakan kota yang berada di Kabupaten Lombok Timur yang menjadi pusat keramaian, menjadi pusat pertumbuhan perekonomian dan terdapat bank-bank yang berperan membantu perekonomian masyarakat di Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur yang dimana dari hasil observasi karyawan perempuan lebih mendominasi di posisi pelayanan dibandingkan dengan karyawan laki-laki. Selain itu Kecamatan Selong juga menjadi salah satu daerah religi yang ada di Kabupaten Lombok Timur, dikarenakan terdapat salah satu organisasi kemasyarakatan “Nahdatul Wathan” dan pondok-pondok pesanteren. Maka dari itu peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut terkait stereotip kecantikan karyawan perempuan perbankan di Selong.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Lokasi dalam penelitian ini terletak di Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, menjadi pusat keramaian dan pusat pertumbuhan ekonomi. Dalam posisi pelayanan di perbankan Cabang Selong di dominasi oleh karyawan perempuan. Perbankan yang diambil dalam penelitian ini yaitu di Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Syariah Indonesia (BSI), BPR Prima Nadi dan Bank Mandiri. Unit analisis dalam penelitian ini adalah karyawan bank perempuan.

Penelitian ini meggunakan teori feminisme kapitalis Karl Marx, Faktor penindasan feminisme marxis, pada umumnya disebabkan oleh sistem ekonomi. Sistem ekonomi tersebut dianggap sebagai eksploitasi terhadap perempuan seperti menjadi tenaga kerja murah, pekerja tidak memiliki pilihan bebas. Kapitalis memonopoli alat-alat produksi dan membiarkan para pekerja di antara pilihan eksploitasi atau tidak memiliki pekerjaan.

Teknik pengumpulan informan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, informan tersebut adalah karyawan bank, nasabah dan supervisor pada bank tersebut.

Penelitian ini menggunakan informan sebanyak 17 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, teknik wawancara terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang diajukan mengenai stereotip kecantikan dan bentuk eksploitasi yang terjadi di karyawan bank peremepuan Cabang Selong. Adapun dokumentasi yang digunakan yakni foto, rekaman suara dan catatan lapangan yang telah dilakukan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Kemudian dalam pengujian keabsahan data dengan melakukan perpanjang pengamatan, dan teknik trianggulasi metode (Maleong, 2008).

(6)

Unram

SeNSosio

Hasil dan Pembahasan

Selain patriarki, perempuan juga tertindas oleh faktor-faktor dalam sistem kapitalis.

Menurut Marx, kapitalisme adalah sistem kekuasaan dan hubungan pertukaran, dan kapitalisme dianggap sebagai sistem pertukaran dimana sistem tersebut dikendalikan oleh mereka yang berkuasa untuk tujuan menghasilkan keuntungan. Kapitalisme juga dianggap sebagai eksploitasi seksual dan ekonomi. Begitu juga dengan karyawan perempuan perbankan di Selong yang dijadikan sebagai komoditi perusahaan dalam meningkatkan citra perusahaan.

Pertama, Menurut Marx penindasan perempuan didasarkan oleh sistem kekuasaan, sebagaimana yang terjadi di karyawan perempuan perbankan di Selong, sebelum melamar pekerjaan di bank saja harus mempertimbangkan fisik yang dimiliki sudah memenuhi standar atau tidak. Syarat penampilan sebagai pelamar kerja sudah ditetapkan oleh perusahaan jika ingin bekerja di perbankan seperti memiliki penampilan menarik, memenuhi standar fisik dengan memiliki tinggi maksimal 160 bagi perempuan dan 170 bagi laki-laki sesuai dengan syarat yang ditampilkan di brosur lowongan kerja. Sebagai perusahan yang berada di bidang pelayanan perusahaan perbankan sangat mengutamakan penampilan dibandingkan dengan kemampuan khususnya di bagian frontliner.

Bahkan setelah pelamar kerja perbankan diterima menjadi karyawan bank, membuat pekerja memiliki berbagai tuntutan yang harus dipatuhi sebagai karyawan bank. Pada umumnya semua bank memiliki aturan mengenai penampilan dan pelayanan bagi karyawannya, seperti aturan penggunaan pakaian dan aksesoris yang boleh digunakan, selain fisik terdapat juga cara pelayanan terhadap nasabah seperti senyum, salam, sapa yang harus dijalankan karyawan bank.

Bagi karyawan bank perempuan di Selong, memiliki aturan sebagai berikut.

1) Penggunaan pakaian tidak diizinkan menggunakan pakaian ketat dan juga tidak terlalu besar, tidak menggunakan rok yang memiliki belahan terlalu tinggi, harus menggunakan pakaian casual (di luar seragam) yang memiliki kerah dan berwarna senada.

2) Penggunaan jilbab setiap bank di perbankan selong mengatur karyawan perempuan untuk menggunakan jilbab dengan aturan diikat ke belakang untuk memberikan kesan nyaman saat bekerja dan nyaman pula terlihat oleh nasabah.

3) Penggunaan aksesoris karyawan bank perempuan di Selong diperbolehkan menggunakan aksesoris seperti cincin dengan maksimal dua buah, jam tangan, kaca mata, gelang, anting bagi yang tidak berhijab, dan terdapat juga perusahan perbankan di selong yang membolehkan dan tidak membolehkan penggunaan kalung, selain itu tambahan penggunaan aksesoris pendukung

(7)

Unram

SeNSosio

seperti softlest dan nail art dengan warna yang tidak mencolok.

4) Penggunaan make up karyawan bank perempuan di perbankan Selong tidak dianjurkan menggunakan make up yang terlalu mencolok.

1.1 Gambar Penggunaan Pakaian Karyawan Perempuan

(Sumber: Dokumen Pribadi)

1.2 Gambar Penggunaan Aksesoris

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Selain aturan penampilan perusahaan perbankan juga mengatur karyawannya dalam hal lain yaitu sebagai berikut.

1) Posisi berjalan yang harus ditunjukan saat bekerja karyawan bank perempuan harus berjalan dengan anggun,

2) Posisi duduk, karyawan bank perempuan di perbankan di Selong juga memiliki aturan mengenai posisi duduk pekerjanya, seperti yang terlihat posisi duduk harus tegak, posisi kaki tidak boleh di lebarkan, dan tetap memberikan kesan anggun kepada yang melihat.

3) Pelayanan kepada nasabah pada saat melakukan pelayanan, karyawan bank diwajibkan untuk memberikan senyum, salam sapa.

Kedua, Selama pelayanan karyawan dengan sikap ramahnya mendengarkan keluhan nasabah tanpa harus memalingkan wajah dan tetap memberikan senyum hangat kepada

(8)

Unram

SeNSosio

nasabah dalam kondisi apapun yang dihadapi. Tujuannya adalah memberikan kesan nyaman dan rasa dihargai terhadap nasabah dengan sikap ramah dan bersahabat yang diberikan.

Meskipun ketika kondisi nasabah saat memberikan keluhan marah-marah atau emosional, sebagai karyawan bank tidak diizinkan melakukan hal yang sama, apapun kondisi yang dihadapi harus diterima dan memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah. Dari hal tersebut, dalam teori kapitalis Karl Marx menyatakan bahwa pekerjaan perempuan membentuk pemikiran dan membentuk sifat-sifat alamiah perempuan. Terlihat bahwa perempuan pada dasarnya mempunyai sifat kelembutan, dan ketekunan yang membuat perempuan pada posisi terdepan yang bertugas dalam memberikan kenyamanan dan kepercayaan kepada nasabah.

Dalam hal ini yaitu ekspresi karyawan bank yang dijadikan sebagai aturan perusahaan yaitu selalu tersenyum saat memberikan pelayanan kepada nasabah hal tersebut masuk kepada peran tubuh resolusi. Karyawan bank setiap Senin sampai Jumat berhadapan langsung dengan nasabah, sehingga karyawan bank diwajibkan memberikan pelayanan dengan baik, salah satunya dengan selalu tersenyum dalam menghadapi nasabah.

Pada perbankan di Cabang Selong di posisi frontliner di dominasi oleh kaum perempuan dibandingkan laki-laki. Berkaitan dengan konsep gender, perempuan di labelkan sebagai makhluk yang feminism. Dari sifat-sifat alami yang dimiliki perempuan dan feminim tersebut sesuai dengan persyaratan dalam bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan seperti perbankan, karyawan perempuan dengan penampilan yang menarik dan memiliki sisi kelembutan menjadi garda terdepan dalam melayani nasabah.

Sebagaimana aturan perusahaan tersebut membentuk anggapan di mata masyarakat atau nasabah karyawan bank dilabelkan dengan pekerja yang cantik, menarik, ramah, dan rapi.

Demikian halnya dengan stereotip yang diterima karyawan bank perempuan di Cabang Selong yang tidak terlepas dari anggapan mengenai karyawan bank perempuan memiliki paras cantik, rapi, wangi dan fashionable, memiliki sikap ramah, sopan, baik, dan murah senyum. Hal tersebut cenderung terjadi karena karyawan bank berpenampilan semenarik mungkin dan hal tersebut menjadi aturan standar layanan yang harus karyawan bank perempuan di Cabang Selong patuhi.

Ketiga, Karyawan perempuan di perbankan Selong selain mematuhi peraturan atau standar layanan perbankan saat bekerja juga membuat dirinya nyaman dengan aturan tersebut.

Karl Marx menyatakan kapitalisme dianggap sebagai sistem pertukaran dimana sistem tersebut dikendalikan oleh mereka yang berkuasa untuk tujuan menghasilkan keuntungan. Sebagaimana penampilan menarik dan pelayanan baik yang karyawan bank lakukan akan berdampak pada

(9)

Unram

SeNSosio

citra perusahaan yang positif.

Bagi perempuan-perempuan di frontliner, memiliki paras cantik bukan menjadi rahasia umum lagi, ditambah dengan penampilan dan pelayanan yang baik membuat siapa saja akan terfokus pada karyawan bank perempuan terlebih lagi nasabah. Mendapatkan pujian cantik, ramah, dan sopan bagi karyawan bank menjadi hal yang lumrah, namun di balik itu karyawan perempuan di perbankan Selong kerap mendapatkan sikap tidak profesional dari nasabah yang menimbulkan bahaya laten. Secara langsung dan tidak langsung karyawan menjadi korban seksual harassment yang tidak disadarinya. Karyawan bank perempuan di Selong mengakui selain mendapatkan pujian cantik dan ramah, mereka kerap mendapatkan perilaku tidak profesional, seperti nasabah yang menggoda karyawan bank perempuan saat bekerja bahkan mengganggu di luar jam kerja, seperti mendapat ajakan keluar jalan, makan, diminta untuk menemani nasabah hingga diiming-imingkan mendapatkan imbalan dengan uang jika karyawan bank perempuan mau dan perilaku tersebut didapatkan secara verbal maupun non- verbal.

Secara umum seksual harassment merupakan tindakan maupun perilaku yang berorientasi atau mengarah pada hal-hal yang berkonotasi seksual, bisa berupa lelucon, atau ujaran-ujaran “Jorok” yang bersifat vulgar, tindakan menggoda serta gangguan maupun usikan.

Selain tindakan-tindakan berbau seksual, terdapat beberapa hal yang termasuk sebagai pelecehan seksual seperti pelecehan gender, perilaku menggoda, pemaksaan seksual, menjanjikan imbalan, dan sentuhan fisik yang disengaja.

Keempat, Menurut Marx, Kapitalisme juga dianggap sebagai eksploitasi seksual dan ekonomi. Tubuh perempuan digunakan sebagai daya tarik dan strategi pemasaran dengan tujuan kepentingan perusahaan, seperti di era industri ini daya tarik seksual (tubuh perempuan) yang mampu menjadi nilai komoditi. Dalam hal ini bisa dilihat dari aturan posisi duduk dan berjalan karyawan bank yang anggun, tidak boleh bungkuk, berdiri tegak, selain memberikan kesan baik dan tidak seperti bermalas-malasan, hal tersebut bisa saja juga membuat tubuh karyawan bank perempuan lebih terekspos terlebih lagi pada bagian dada. Dengan cara duduk yang tegap akan memperlihatkan dada yang dibusungkan ke depan. Keindahan tubuh karyawan bank dianggap memiliki nilai jual (ekonomi) tinggi dibandingkan dengan karyawan laki-laki.

Tubuh perempuan dijadikan sebagai tanda yang menghasilkan makna tertentu yang akan sisi seksualitas dan kecantikan. Kapitalis menganggap tanda yang ada pada tubuh perempuan bisa membangkitkan hasrat yang diperjual-belikan.

(10)

Unram

SeNSosio

Perusahaan seperti perbankan, mempunyai cara tersendiri dalam menjaga eksistensi perusahaan, dapat dilihat dari aturan yang diberlakukan kepada karyawannya tentang berpenampilan menarik, rapi, bersih, menjaga personality, norma, attitude sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Ketentuan-ketentuan tersebut membuat karyawan bank perempuan mengeluarkan biaya lebih untuk menunjang penampilannya dibandingkan dengan karyawan laki-laki.

Melakukan perawatan diri bagi karyawan perempuan di perbankan Selong sangat penting, mereka memiliki anggapan bahwa tubuh yang dimiliki adalah aset yang harus dijaga selain itu sebagai karyawan bank yang memiliki tuntutan untuk berpenampilan menarik, merawat diri untuk tetap terlihat bersih dan rapi harus dijaga karena berpengaruh terhadap kenyamanan pelayanan yang akan diberikan kepada nasabah.

Sebagai perusahaan yang memiliki aturan mengenai penampilan karyawannya, terdapat perusahaan perbankan di Selong yang memiliki tunjangan dan tidak terhadap karyawannya, bagi perusahaan perbankan di Selong yang memiliki tunjangan dengan memberikan Rp2.000.000/tahun untuk karyawan, hal tersebut tidak sebanding dengan pengeluaran yang dihabiskan oleh karyawan perempuan di perbankan Selong dalam menunjang penampilannya saat bekerja yang berkisaran Rp1.000.000 s.d Rp4.000.000/bulan. Kemudian dalam unsur biaya yang dikeluarkan oleh karyawan bank perempuan tidak sebanding dengan tunjangan yang diberikan perusahaan perbankan bahkan terdapat juga perusahaan yang tidak memberikan tunjangan dari hal tersebut dapat dijadikan sebagai indikator eksploitasi karyawan bank perempuan.

Kelima,Marx, memandang bahwa pekerja tidak memiliki pilihan bebas. Kapitalis memonopoli alat-alat produksi dan membiarkan para pekerja di antara pilihan eksploitasi atau tidak memiliki pekerjaan. Dimana secara sadar karyawan bank perempuan paham bahwa tubuh dan sifat alami yang dimiliki dijadikan sebagai daya tarik dalam mendapatkan nasabah.

Kaitannya dengan hal ini, karyawan bank perempuan di Selong menganggap hal tersebut sebagai profesionalitas bekerja, dimana mereka butuh pekerjaan dan hal tersebut sebagai aturan yang harus dipatuhi karena merupakan konsekuensi pekerjaan.

Perusahaan mengharuskan karyawan perempuan di frontliner tampilcantik, menarik dan memberikan pelayanan prima, dari aturan tersebut karyawan bank perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk melakukan perawatan dan memenuhi kebutuhan penampilan lainnya. Dengan alasan membutuhkan pekerjaan, karyawan tidak dapat memberikan protes dikarenakan posisi karyawan bank adalah buruh yang harus menerima

(11)

Unram

SeNSosio

aturan tersebut, jika melakukan protes akan menimbulkan konsekuensi di keluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja. Atas dasar kondisi tersebut bahwa, karyawan perempuan tidak memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada tubuhnya. Penampilan fisik dan kepribadian ramah, lembut dijadikan perusahaan sebagai citra dalam meningkatkan eksistensi perusahaan.

Kesimpulan

1. Pada umumnya semua bank memiliki aturan mengenai penampilan dan pelayanan bagi karyawannya, seperti aturan penggunaan pakaian dan aksesoris yang boleh digunakan, selain fisik terdapat juga cara pelayanan terhadap nasabah seperti senyum, salam, sapa yang harus dijalankan karyawan bank. Dari aturan tersebut menimbulkan anggapan atau stereotip terhadap karyawan perempuan yang bekerja di bank cenderung memiliki paras cantik, penampilan menarik, rapi, wangi, sopan, ramah dan bersahabat. Hal tersebut juga membuat karyawan perempuan memaknai cantik apabila memiliki kulit putih, wajah yang tidak berjerawat dan menggunakan barang-barang branded. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut karyawan perempuan melakukan perawatan ke klinik kecantikan, salon dan dokter kecantikan untuk menujang penampilan, selain itu membeli barang-barang branded ke mall maupun secara online.

2. Karyawan bank perempuan di Selong mengakui selain mendapatkan pujian cantik dan ramah, mereka kerap mendapatkan perilaku tidak profesional, seperti nasabah yang menggoda karyawan bank perempuan saat bekerja bahkan mengganggu di luar jam kerja.

3. Tubuh perempuan dijadikan sebagai tanda yang menghasilkan makna tertentu yang akan menghasilkan sisi seksualitas dan kecantikan. Kapitalis menganggap tanda yang ada pada tubuh perempuan bisa membangkitkan hasrat yang diperjual-belikan.

(12)

Unram

SeNSosio

Daftar Pustaka

Damsar. 2015. Pengantar Teori Sosiologi. Edisi Pert. Jakarta: PRENADA MEDIA GRUP.

Moleong, J. Lexy. 2018. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rahayu, Amelia Dwi, and Refti Handirini Listyani. 2018. “Komodifikasi Tubuh Perempuan Pegawai Bank (Studi Pada Bank BTN Kantor Cabang Gresik).” 2.

Rokhmansyah, Alfian. 2016. Pengantar Gender Dan Feminisme. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca.

Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: ALFABETA.

Tong, Rosemarie Putnam. 2010. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.

Tyson, Lois. 2006. “Marxism Criticism” Dalam Critical Theory Today A User-Friendly Guide. Second Edi. London: Routledge.

Utaminingsih, Alifiulahtin. 2017. Gender Dan Wanita Karir. Cetakan Pe. Malang: UB Press.

Yulita, Serviana. 2020. “Eksploitasi Perempuan Dalam Dunia Kerja.” UMM Institutuonal Repository.

https://id.scribd.com/document/415959540/Ketentuan-Pakaian-Kerja-bri (diakses 8 November 2021)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan nilai kalor yang dimilikinya, sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan bakar pada suatu pembangkit listrik.. Penelitian ini ditujukan untuk memperoleh rancangan

Untuk mengetahui biodiesel yang dihasilkan, maka perlu dilakukan beberapa uji biodiesel sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Persyaratan mutu biodiesel di

Ini yang menjadi fungsi waktu luang yakni untuk memberikan keseimbangan hidup dalam kaitannya dengan kegiatan rutin, untuk memberikan penyegaran (refreshing), untuk

Minyak atsiri di Indonesia memiliki nilai putar optik positif, hal tersebut disebabkan minyak jahe yang dihasilkan dari proses distilasi memiliki kandungan zingiberene yang

Sesuai dengan latar belakang, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan, bagaimana gambaran struktur geologi bawah permukaan daerah penelitian melalui nilai

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi adalah komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit Rumah Tangga yang tumbuh 13,28 persen..  Perekonomian DIY triwulan

Kalibrasi yang paling tepat dilakukan adalah pada saat musim kemarau, dengan asumsi bahwa debit terukur (debit total) yang ada di sungai, sebagian besar adalah berasal dari

Peserta didik mampu membaca Q.S.at- Tiin dengan tartil, mengetahui makna Q.S.at- Tiin dengan benar, mencontohkan perilaku saling mengingatkan dalam hal kebajikan