1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kewirausahaan merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai upaya memberikan pelayanan yang lebih baik atau upaya untuk memperoleh keuntungan yang lebih dari sebelumnya, karena suatu barang atau jasa telah diolah dan memiliki nilai tambah. Menurut Kristanto (2009) kewirausahaan didefinisikan sebagai sebuah ilmu tentang nilai, kemampuan, dan perilaku seseorang untuk menghadapi tantangan dalam dunia usaha. Kewirausahaan juga merupakan kemampuan untuk memilih objek dan dapat menciptakan sesuatu yang baru serta bernilai bagi kehidupan (Zimmerer and Scarborough, 1998).
Pelaku usaha yang sering disebut sebagai wirausaha adalah ujung tombak dari adanya penciptaan sebuah usaha dengan kepekaan melihat peluang dan kemampuan mengeksekusi setiap ide yang di pikirkannya. Wirausaha biasanya mulai sebuah usaha tanpa sesuatu kecuali ide, ide sederhana yang dikembangkan dan kemudian berusaha untuk mendapatkan sumber daya yang diperlukan untuk mengimplementasikan ide tersebut menjadi sebuah usaha yang berkesinambungan (Tunggal, 2008). Wirausaha merupakan seseorang yang dapat menciptakan usaha baru dengan keberanian lebih untuk mengambil risiko dan mampu menghadapi ketidakpastian yang akan dihadapi dengan tujuan untuk memperoleh laba. Setiap keputusan yang diambil oleh seorang wirausaha pasti membawa dampak, baik dampak yang bersifat membangun ke arah yang lebih baik maupun dampak negatif yang membuat usaha tersebut mengalami kegagalan.
Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan data jumlah penduduk 252 juta yang tercatat pada BPS tahun 2016 dan penduduk yang berwirausaha mencapai 7,8 juta atau sekitar 3,1 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Persentase ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah wirausaha di Indonesia, karena pada tahun 2013/2014 hanya tercatat sebesar 1,67 persen saja.
Selain meningkat dalam jumlah yang cukup signifikan, ini juga menunjukkan persentase yang melampaui 2 persen dari populasi jumlah penduduk. Jumlah tersebut mampu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah wirausaha yang lebih dari syarat minimal suatu negara yang akan sejahtera. Apabila melihat
2
peningkatan jumlah wirausaha di atas tentu merupakan sebuah kemajuan untuk dunia usaha di Indonesia. Meski demikian jumlah persentase tersebut masih di bawah dari negara ASEAN yang lainnya, seperti Malaysia dan Singapura.
(http://www.depkop.go.id/content/read/ratio-wirausaha-indonesia-naik-jadi-31- persen/, diakses 8 Maret 2018).
Berdasarkan jumlah wirausaha di atas tentu masih ada banyak kesempatan yang begitu besar untuk membuka sebuah usaha dan menjadi seorang wirausaha.
Banyak faktor yang akhirnya membuat seseorang memutuskan untuk berwirausaha seperti yang dikemukakan oleh Zimmerer dan Scarborough (2008) bahwa seseorang tidak harus memiliki latarbelakang keluarga sebagai seorang wirausaha karena saat ini banyak juga sekolah atau institusi pendidikan yang menyediakan kelas untuk belajar bisnis. Selain ilmu dan bekal untuk mendirikan sebuah usaha yang dapat diperoleh dibangku pendidikan formal, para wirausaha tersebut juga mempunyai faktor pendorong yang berbeda-beda. Beberapa hal yang menjadi pemicu menjadi seorang wirausaha diantaranya juga adalah dorongan ekonomi atau mereka yang kehilangan pekerjaan karena adanya pemutusan hubungan kerja serta masih banyak hal lainnya
Dari beberapa faktor pendorong seseorang mendirikan usaha perlu juga dipelajari mengenai cara mengelola usaha yang baik dan benar supaya usaha tetap berjalan dan tidak mengalami kegagalan atau gulung tikar. Para wirausaha tersebut biasanya akan menemui banyak sebab yang mengakibatkan usahanya gagal (http://m.liputan6.com/bisnis/read/2883445/6-penyebab-kegagalan-saat- menjalankan-usaha-sampingan, diakses 8 Mei 2018) Melihat banyaknya fenomena usaha yang tutup atau tidak dapat berlanjut di lingkungan sekitar penulis, baik lingkup terkecil yaitu di kampung tempat tinggal penulis hingga di wilayah Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Menarik untuk diteliti lebih lanjut mengenai faktor penyebab kegagalan seorang wirausaha.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kegagalan sebuah usaha, cara mengantisipasi terjadinya kegagalan, dan cara mengatasi kegagalan yang sedang atau sudah terjadi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi para pembaca atau wirausaha. Memungkinkan juga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kegagalan menjadi wirausaha.
3 Persoalan Penelitian
Berdasarkan penjelasan dalam latar belakang di atas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimana sebuah usaha mengalami kegagalan?
b. Bagaimana upaya wirausaha mengantisipasi kegagalan?
c. Bagaimana upaya wirausaha mengatasi kegagalan?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Menjelaskan faktor-faktor penyebab kegagalan usaha b. Menjelaskan upaya wirausaha melakukan antisipasi terhadap
kegagalan
c. Menjelaskan upaya wirausaha mengatasi kegagalan Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menambah bukti-bukti empiris mengenai faktor-faktor penyebab gagalnya wirausaha dalam menjalankan usahanya.
b. Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membantu para wirausaha mengetahui faktor apa saja yang dapat menyebabkan usaha mereka gagal, stuck atau mengalami kemunduran, sehingga dapat diupayakan untuk pencegahan dan meminimalkan adanya peluang kegagalan.
TINJAUAN LITERATUR
Wirausaha
Banyak peneliti atau ilmuan yang mengemukakan pendapat mereka mengenai definisi dari seorang wirausaha. Pengertian atau penjelasan mengenai
4
wirausaha yang merupakan terjemahan dari bahasa Perancis yaitu kata entrepreneur dan kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris yaitu between taker atau go-between. Berikut beberapa definisi kewirausahaan menurut para ahli dalam (Alma 2000) di antaranya:
a. Tahun 1725, Richard Cantillon berpendapat bahwa entrepreneur merupakan orang yang berani menanggung risiko yang lebih daripada orang yang memberi modal atau pemodal (investor).
b. Tahun 1797, Bedeau menyatakan wirausaha merupakan orang yang memiliki rencana, supervisi, mampu mengorganisasikan dan berani menanggung risiko.
c. Tahun 1876, Francis Walker berpendapat dengan memberikan pandangan yang berbeda mengenai pemodal dan pengusaha atau wirausaha, dimana pemodal adalah orang yang menyediakan dana dan menerima bunga, sementara wirausaha adalah orang yang menjalankan atau mengelola sebuah usaha dan mendapat keuntungan.
d. Tahun 1934, Joseph Schumpeter entrepreneur adalah seorang inovator dan pengembang teknologi sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dengan mengolah bahan baku menjadi barang dan jasa yang memiliki nilai tambah atau nilai baru.
e. Tahun 1961, David McLelland menurutnya seorang wirausaha adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengambil risiko dalam setiap keputusan di usahanya.
f. Tahun 1964, Peter Drucker berpendapat bahwa wirausaha adalah seseorang yang mampu melihat dan memanfaatkan peluang.
Masih banyak lagi definisi mengenai seorang wirausaha, namun inti dari beberapa definisi tersebut adalah wirausaha merupakan seseorang yang dapat melihat peluang, mampu mengambil keputusan dan memanfaatkan peluang tersebut untuk menjalankan sebuah usaha.
Ciri-ciri Wirausaha
Berdasarkan beberapa definisi di atas berikut juga ada ciri-ciri atau karakter seseorang yang dapat dikatakan memiliki jiwa wirausaha atau seseorang
5
dapat disebut sebagai wirausaha. Berikut beberapa ciri-ciri seorang wirausaha secara umum dalam (Alma 2000):
1) Seorang yang berani menanggung risiko
2) Seorang yang mengurus sebuah usaha atau perusahaan
3) Seorang yang mampu menggerakkan dan mengalokasikan modal untuk keperluan usaha
4) Seorang yang mampu menciptakan barang baru atau memberi nilai tambah pada suatu barang atau kegiatan jasa
5) Seorang yang mampu melihat peluang dan memanfaatkannya untuk memulai sebuah usaha.
Selain beberapa ciri-ciri di atas, berikut ada juga ciri-ciri seorang wirausaha yang diungkapkan atau disebutkan oleh beberapa ahli dan telah dirangkum oleh (Tunggal 2008) di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Weber (1917) berpendapat bahwa wirausaha adalah sumber daya yang memiliki kemampuan menciptakan sebuah usaha.
2) Schumpeter (1934) mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang mampu berinovasi dan memiliki inisiatif.
3) Sutton (1954) wirausaha adalah orang yang memiliki sifat bertanggung jawab.
4) McClelland (1961) seorang wirausaha harus berani mengambil risiko dan selalu merasa bahwa dirinya membutuhkan pencapaian.
5) Palmer (1971) wirausaha harus mampu mengukur risiko.
6) Mescon dan Montanari (1981) seorang wirausaha harus memiliki pencapaian, dominasi, kekuasaan, ketahanan atau kesabaran dalam menghadapi hambatan pada usahanya, percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
7) Welsh and White (1981) menjadi seorang wirausaha juga membutuhkan kontrol, tanggung jawab, memiliki kepercayaan diri, mampu memanfaatkan kesempatan, dan mampu meminimalkan risiko.
8) Dulkelberg dan Cooper (1982) berorientasi pada perkembangan, berorientasi pada kemandirian, dan berorientasi pada kreativitas.
6
Ciri-ciri wirausaha yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha haruslah seseorang yang memang memiliki kapasitas untuk menciptakan ide baru dan berinovasi dengan sebuah usaha. Selain itu seorang wirausaha juga harus bisa membuat keputusan, tidak takut dengan risiko dan mampu bertanggung jawab atau mengatasi risiko yang kemungkinan terjadi dalam usahanya.
Jenis-jenis Usaha
Saat ini banyak jenis usaha yang bisa dilakukan, semua itu tergantung dari minat dan kemampuan setiap wirausaha untuk menangkap dan memaksimalkan peluang. Berikut adalah beberapa jenis bidang usaha yang bisa dimasuki, di antaranya:
1) Bidang usaha pertanian (agriculture) meliputi usaha pertanian, kehutanan, perikanan dan perkebunan.
2) Bidang usaha pertambangan (mining) meliputi usaha galian pasir, galian tanah, batu dan bata.
3) Usaha pabrikasi (manufacturing) di antaranya adalah usaha industri, assemblasi dan sintesis.
4) Bidang usaha konstruksi (construction) di antaranya adalah usaha konstruksi bangunan, jembatan, pengairan, dan jalan raya.
5) Bidang usaha perdagangan (trade) meliputi usaha perdagangan kecil (retailer), grosir, agen, dan ekspor impor.
6) Bidang usaha jasa, dalam bidang usaha jasa ini dibagi menjadi beberapa jenis di antaranya adalah usaha jasa keuangan, usaha jasa perseorangan, usaha jasa-jasa umum, dan usaha jasa wisata.
(http://pusdiklathut.org/baktirimbawan/kewirausahaan/jenis_jenis_bida ng_usaha.html, diakses 12 Juni 2017).
Berdasarkan uraian di atas, berbagai jenis usaha yang dapat dimasuki dan tentunya yang sesuai dengan minat, peluang dan kemampuan setiap wirausaha.
Namun berbeda jenis usaha berbeda juga masalah dan risiko yang harus dihadapi.
Jadi untuk memulai sebuah usaha ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dan direncanakan supaya usaha dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.
7 Faktor Penyebab Kegagalan Usaha
Seorang wirausaha tidak dapat menebak kemungkinan yang akan terjadi pada usahanya. Ketika usaha sudah berjalan tidak berarti semua akan baik-baik saja sesuai yang diharapkan oleh wirausaha, baik sebuah usaha yang memiliki rencana jauh ke depan maupun usaha yang hanya dijalankan tanpa perencanaan jangka panjang. Berikut beberapa faktor yang mampu membuat seorang wirausaha mengalami kegagalan dalam menjalankan usahanya menurut Zimmerer dan Scarborough (2008) di antaranya adalah:
1. Ketidakmampuan Manajemen
Banyak usaha kecil yang baru didirikan mengalami kegagalan, hal ini biasanya disebabkan karena kurangnya perencanaan yang matang dan ada ketidakmampuan dalam mengelola hal yang mendasar yaitu kurangnya penilaian atau pemahaman yang baik mengenai sebuah usaha. Tanggung jawab ini biasanya dilakukan oleh wirausaha yang belum sepenuhnya memahami mekanisme usahanya. Jadi, kesalahan mereka terletak pada kegagalan manajemennya.
2. Kurang Pengalaman
Perlunya memiliki pengalaman pada bidang usaha yang sedang atau akan dijalankan. Pentingnya pengalaman dapat mempengaruhi kinerja para manajer atau wirausaha tersebut. Sebagai contoh banyak orang yang memiliki modal atau uang namun gagal dalam menjalankan usahanya karena mereka tidak memahami usaha yang sedang mereka jalankan. Apalagi jika mereka menyerahkan usaha tersebut langsung pada karyawan atau orang lain, hal ini akan memperbesar kemungkinan usaha tersebut dikendalikan oleh karyawannya, sementara wirausaha tersebut tidak tahu apabila terjadi kecurangan dalam menjalankan usahanya. Biasanya akan diketahui adanya hal yang tidak sesuai dengan yang seharusnya setelah kondisi usaha sudah mengalami penurunan.
3. Pengendalian Keuangan yang Buruk
8
Modal merupakan faktor utama dalam menjalankan sebuah usaha.
Namun pada kenyataanya banyak wirausaha yang terlalu yakin dan optimis dengan usahanya tersebut sehingga tidak mampu mengontrol arus modal atau tidak sadar bahwa usahanya juga memiliki keterbatasan modal sehingga membuat usaha tersebut gagal di tengah jalan sebelum mampu beroperasi dengan stabil. Selain itu wirausaha sering lupa akan pentingnya arus kas, hal ini diperlukan untuk ketersediaan uang untuk membayar tagihan setiap bulan. Apabila ini diabaikan dan tidak dapat dikelola dengan baik maka dampaknya adalah usaha tersebut akan mengalami kebangkrutan karena gagal beroperasi atau tidak dapat beroperasi dengan kondisi uang kas yang tidak cukup.
4. Lemahnya Usaha Pemasaran
Seorang wirausaha terkadang mampu menangkap peluang dan memproduksi atau menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan oleh pasar. Kendala yang sering mereka hadapi adalah ketidakmampuan mereka dalam memasarkan barang dan jasa yang telah dihasilkan.
Tentu saja ini menjadi hal yang sangat berisiko dalam sebuah usaha, bagaimanapun juga seorang wirausaha tidak bisa hanya berdiam diri tanpa berbuat apa-apa dan menunggu keajaiban supaya pembeli atau pelanggan datang. Kesalahan dengan tidak dapat melakukan pemasaran dengan baik berdampak pada lambatnya perkembangan usaha atau justru lebih buruk dari itu akan berdampak pada kegagalan usaha tersebut.
5. Kegagalan Mengembangkan Perencanaan Strategis
Seorang wirausaha dalam sebuah usaha kecil dan menengah sering mengabaikan pentingnya membuat rencana strategis. Mereka berpikir bahwa rencana tersebut tidak terlalu penting, yang terpenting bagi mereka adalah usaha tersebut berjalan pada hari itu dan dapat menghasilkan laba atau keuntungan. Mereka tidak berpikir bahwa dalam berwirausaha pasti akan ada hambatan atau setidaknya perubahan yang harus mereka atasi dan sesuaikan dengan kondisi yang
9
selalu berubah-ubah. Mayoritas dari mereka yang tidak memiliki perencanaan strategis akan mengalami kesulitan mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi karena merasa tertekan dan tidak ada pemikiran bagaimana menghadapi situasi seperti itu sebelumnya.
6. Pertumbuhan yang tidak Terkendali
Sebuah usaha tentu diharapkan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik apalagi mampu berkembang dengan perubahan yang sangat signifikan dalam tempo waktu yang singkat. Hal ini biasanya karena ada ekspansi yang dilakukan seorang wirausaha.
Mengembangkan usaha memang bukan hal yang salah apabila dananya dari hasil laba ditahan atau tambahan modal dari pemiliknya dan tidak menggunakan dana pinjaman. Namun pada kenyataannya banyak wirausaha yang memilih untuk meminjam uang sebagai tambahan investasi pengembangan usaha. Apabila tidak direncanakan dengan baik maka dampak dari perubahan atau ekspansi tersebut akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Banyak wirausaha yang tidak memikirkan hal itu dan terlalu cepat memutuskan untuk melakukan ekspansi tanpa memperhatikan kemampuan untuk mengelolanya.
7. Lokasi yang Buruk
Pemilihan lokasi adalah hal yang sangat penting karena ini akan berhubungan langsung dengan proses berjalannya usaha, baik proses memperoleh bahan baku untuk usaha produksi dan juga proses pendistribusian atau penjualan produk. Apabila terjadi kesalahan dalam memperhitungkan lokasi yang baik untuk menempatkan sebuah usaha maka dapat berdampak pada kelangsungan usaha tersebut.
Lokasi yang baik akan mempermudah dan membuat lebih efektif serta efisien proses operasi usaha. Jadi, seorang wirausaha tidak memilih lokasi hanya karena tempat tersebut kosong, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek lainnya seperti letaknya yang strategis, akses menuju lokasi yang mudah, dekat dengan sumber daya, dan tentunya harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Perlu diingat banyak usaha yang akhirnya tutup atau gagal karena pemilihan lokasi
10
yang buruk dan beberapa wirausaha tidak melakukan penelitian terlebih dahulu.
8. Pengendalian Persediaan yang Tidak Tepat
Investasi terbesar yang biasa dilakukan oleh seorang wirausaha adalah ketika ia memutuskan untuk membelanjakan uangnya membeli persediaan. Ketika persediaan yang dibeli kurang maka akan menghambat proses produksi atau proses jual beli dan berakibat pada pelanggan yang merasa kecewa dan pergi berpindah ke tempat lain.
Namun jika yang dibeli dalam jumlah berlebih atau bahkan persediaan yang tidak begitu penting dan fatalnya lagi salah memilih jenis barang, ini akan membuat uang perusahaan menjadi tidak dapat berputar secara efektif.
9. Penetapan Harga yang Tidak Tepat
Besaran harga yang ditetapkan oleh seorang wirausaha dalam menjual barangnya seringkali hanya berdasarkan angan-angan tanpa perhitungan yang jelas. Kesalahan yang dapat menyebabkan kegagalan usaha adalah harga yang seharusnya ditetapkan berdasarkan biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku, ditambah biaya produksi, biaya distribusi serta biaya lainnya yang meliputi operasional perusahaan diabaikan hanya karena ingin menjual dengan harga murah untuk menarik minat pembeli. Jadi, harus ada perhitungan terlebih dahulu, jangan sampai menetapkan harga rendah hanya mengikuti harga pesaing atau menetapkan harga rendah supaya lebih dipilih oleh pembeli.
10. Ketidakmampuan Membuat “Transisi Kewirausahaan”
Wirausaha yang mampu membawa usahanya melewati tahap awal kewirausahaan tidak menyadari pentingnya melibatkan orang lain yang lebih kompeten dalam setiap bidangnya. Mereka terlalu percaya diri akan kemampuannya dan merasa bisa melakukan semuanya sendiri.
Padahal adanya orang yang lebih kompeten untuk mengelola beberapa bidang tertentu penting adanya, karena sebuah usaha yang telah mengalami perkembangan dan mampu bertahan pada tahap awal akan
11
mengalami perubahan sistem manajerialnya. Namun banyak wirausaha yang merasa bahwa semua hal harus di bawah kekuasaannya dan keputusan harus hasil dari pemikirannya sendiri, mereka tidak ingin melimpahkan wewenang dan kegiatan pengendalian dilakukan oleh orang lain. Sementara di sisi lain ada beberapa hal yang tidak semua wirausaha mampu melakukannya.
Dari beberapa faktor penyebab kegagalan wirausaha di atas dapat disimpulkan bahwa menjadi wirausaha tidak mudah dan banyak hal yang dapat menghambat atau membuat usaha mereka gagal.
Cara Wirausaha Mencegah Kegagalan
Kegagalan merupakan bagian dari hasil karena adanya gerakan suatu tindakan, dimana dalam konteks ini adalah wirausaha yang mengalami kegagalan dalam menjalankan usahanya. Bagaimanapun juga seorang wirausaha pasti tidak menginginkan adanya kegagalan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini mungkin terjadi dalam sebuah usaha, apalagi dengan banyak faktor baik dari luar maupun dari dalam usaha tersebut. Menindaklanjuti masalah yang dihadapi wirausaha tersebut menimbulkan pemikiran mengenai cara untuk meminimalkan terjadinya kegagalan. Menurut Kristanto (2009) ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi terjadinya kegagalan dalam menjalankan sebuah usaha:
1. Wirausaha harus memahami dan benar-benar mempelajari secara detail dari usaha yang akan atau sedang berjalan. Selain itu juga dapat memanfaatkan pengalaman pribadi di masa lalu maupun pengalaman orang lain, sehingga dapat mengetahui kemungkinan apa saja yang dapat terjadi dan mengganggu jalannya usaha.
2. Seorang wirausaha harus berusaha untuk mengembangkan usahanya secara mendalam. Hal ini diperlukan supaya dapat memperkuat pondasi usaha. Pondasi usaha yang dimaksud adalah seperti modal yang apabila awalnya hanya berhutang bisa menjadi memiliki modal sendiri, usaha yang mulai berjalan stabil dan dengan adanya dukungan sumber daya yang berkualitas. Upaya utama yang dapat
12
dilakukan seorang wirausaha untuk membuat usahanya berjalan sesuai dengan rencana adalah dengan membuat perencanaan bisnis atau business plan, hal ini dianggap penting karena suksesnya sebuah usaha biasanya berawal dari lancarnya hasil implementasi rencana yang disusun sebelumnya.
3. Peran wirausaha juga harus aktif dalam melihat perubahan dunia usaha, dengan update seputar apa saja yang terjadi maka wirausaha diharapkan dapat membuat strategi yang tepat untuk usahanya tersebut.
4. Belajar dan memahami yang menjadi dasar manajemen dalam mengelola sebuah usaha.
5. Mengelola keuangan dan sumber daya dengan perencanaan yang baik dan penuh dengan tanggung jawab.
6. Wirausaha harus memahami laporan keuangan dari perusahaannya tersebut sebagai laporan operasional perusahaan yang disederhanakan dan mudah dipahami juga dicek kebenarannya.
7. Seorang wirausaha juga harus menjadi pengendali dan pengelola sumber daya manusia yang bekerja dalam usahanya. Hal ini bertujuan supaya karyawan dapat bekerja secara efektif dan efisien sesuai dengan pembagian tugasnya masing-masing.
8. Memperdalam konsep kompetensi yang dimiliki sebagai upaya menghadapi perubahan yang selalu terjadi setiap saat.
9. Seorang wirausaha juga harus selalu siap secara fisik dan mental untuk menghadapi adanya perubahan yang dapat terjadi setiap waktu.
10. Meningkatkan mental keagamaan yang dapat dijadikan landasan kehidupan usaha.
Penelitian Terdahulu
Studi atau karya tulis mengenai kegagalan usaha telah dilakukan terlebih dahulu sebagaimana yang juga menjadi panduan penulis dalam penelitian ini.
Sebagai contoh tulisan yang telah dibuat oleh Jannah (2015) dengan judul Faktor-
13
faktor Yang Mempengaruhi Kegagalan Usaha dengan hasil faktor penyebab kegagalan perusahaan adalah adanya kesalahan manajemen, faktor ekonomi, dan bencana alam.
Tulisan tersebut merupakan kumpulan pemikiran mengenai faktor-faktor penyebab kegagalan. Hal ini yang mendorong untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan cara menggali informasi langsung dari beberapa narasumber terpilih yaitu para wirausaha yang pernah mengalami kegagalan usaha. Melalui wawancara langsung dengan narasumber diharapkan dapat semakin menjelaskan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan wirausaha mengalami kegagalan.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono (2005) penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut padang partisipan.
Responden Penelitian
Responden pada penelitian ini adalah beberapa wirausaha yang pernah mengalami kegagalan pada usahanya di wilayah Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga (wilayah yang dekat dengan tempat tinggal penulis). Responden dipilih untuk mewakili jenis-jenis usaha yang ada di antaranya pertanian, pertambangan, pabrikasi, konstruksi, perdagangan, dan jasa. Penentuan responden dengan memilih wirausaha dari berbagai bidang tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria kegagalan wirausaha yang mewakili setiap bidang yang berbeda dengan tujuan dapat dibandingkan persamaan dan perbedaan setiap faktor yang mempengaruhi seorang wirausaha mengalami kegagalan.
Responden yang dipilih adalah wirausaha yang pernah mengalami kegagalan atau mengalami kesulitan pada usahanya, baik yang kemudian mampu menjalankan usahanya kembali maupun yang kemudian memutuskan tidak
14
menjadi seorang wirausaha lagi. Dipilih enam responden yang masing-masing mewakili jenis-jenis bidang usaha yang ada.
Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer. Data primer ini diperoleh dari hasil wawancara. Wawancara dilakukan dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang yang menjadi informan (Afifudin dan Saebani 2009). Wawancara dilakukan kepada enam responden yang telah dipilih.
Jadi, diperlukan beberapa pertanyaan pokok yang jawabannya akan mampu memenuhi tujuan penelitian ini. Pertanyaan pokok tersebut diajukan untuk memperoleh informasi yang diperlukan di antaranya faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kegagalan atau hambatan dalam menjalankan sebuah usaha, cara mengantisipasi terjadinya kegagalan, dan cara mengatasi kegagalan yang sedang atau sudah terjadi. Tiga pertanyaan pokok tersebut dapat mewakili tujuan penulis mendapatkan informasi untuk penelitian ini.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan penulis untuk menjawab persoalan penelitian adalah menggunakan teknik analisis data kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor dalam (Basrowi dan Suwandi 2008) mengatakan bahwa metode kualitatif merupakan sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari responden yang perilaku atau fenomenanya dapat diamati. Penelitan ini ingin menjelaskan dan mengetahui lebih lanjut faktor apa saja yang menjadi penyebab wirausaha gagal dalam menjalankan usahanya.
Pada penelitian ini setelah dilakukan wawancara langsung dengan enam responden yang telah dipilih, maka data akan diolah menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dalam (Basrowi dan Suwandi 2008) yaitu dengan melakukan tiga kegiatan bersamaan yang meliputi:
1. Reduksi data
15
Tahap ini penulis melakukan pemilihan dan memfokuskan penelitian untuk dilakukan pada enam responden terpilih yang masing- masing mewakili setidaknya satu jenis usaha yang ada.
Misalnya salah satu responden bernama Sutrisno yang memiliki usaha pertanian kentang di kawasan Dieng. Berawal dari adanya permintaan kerjasama seorang teman yang menjadi supplier kentang di PT Indofood, akhirnya beliau memutuskan menginvestasikan uangnya untuk menyewa lahan dan menanam kentang. Kentang yang sudah berusia tiga sampai empat bulan akan dipanen dan dikirim ke pabrik. Usaha yang dijalankan oleh beliau ini termasuk ke dalam kategori usaha pertanian.
2. Penyajian data
Semua informasi yang diperoleh dari hasil wawancara akan diseleksi dan dikelompokkan untuk mempermudah dalam proses penarikan kesimpulan. Data akan disajikan atas beberapa sub bab dengan membuat tabel dan teks naratif. Tujuannya adalah untuk memudahkan pembaca dalam memahami hasil penelitian yang disampaikan oleh penulis. Misalnya:
Tabel 1 Nama Responden dan Jenis Usahanya No Nama Responden Jenis Usaha
1 Tutut Rohayah Yulianti - Usaha perdagangan - Usaha jasa
2 Sriyono - Usaha perdagangan
- Usaha pertambangan
3 Sutrisno Usaha pertanian
4 Susanto Usaha pabrikasi
5 Erni Dwi T Usaha Jasa
6 Mahfud Usaha Konstruksi
3. Menarik kesimpulan
Penarikan kesimpulan dilakukan melalui data-data yang telah diperoleh dengan membuat rumusan proposisi dan mengkaitkannya dengan prinsip logika sebagai hasil penelitian. Langkah selanjutnya adalah melaporkan hasil penelitian tersebut secara lengkap, dengan adanya temuan baru yang berbeda dari temuan yang sudah ada.
16 HASIL PENELITIAN
Setelah dilakukan penelitian dengan melakukan wawancara langsung kepada enam responden terpilih maka pada bab ini akan dijelaskan mengenai berbagai hasil data yang diperoleh. Praktik nyatanya banyak faktor penyebab kegagalan usaha. Sebelum mulai pada pembahasan hasil, berikut ini merupakan profil responden yang pernah mengalami kegagalan atau kesulitan pada usahanya dan dipilih untuk menjadi informan dalam penelitian ini yaitu:
Profil Responden dan Usahanya Tutut R. Yulianti
Tutut Rohayah Yulianti atau yang akrab disapa dengan ibu Tutut ini merupakan seorang wirausaha perempuan (woman preneur) yang memulai usahanya pada tahun 1998 sampai saat ini. Beliau bertempat tinggal di Punjangsari, RT 01 RW 08, Bergas Lor, Kabupaten Semarang.
Beliau memiliki minat pada bidang usaha sejak masih berusia belasan tahun. Saat itu beliau masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Ketika ayahnya berangkat bekerja dan garasi rumah kosong beliau memanfaatkan tempat tersebut untuk berjualan es dan gado-gado.
Beliau berpikir untuk melanjutkan pendidikan manajemen pemasaran dengan alasan yang sangat sederhana yaitu ingin belajar bagaimana cara berjualan yang baik dan benar supaya dapat menarik minat pelanggan. Setelah menamatkan pendidikan terakhirnya pada jenjang sarjana ekonomi (S1) beliau akhirnya berani memasuki dunia kewirausahaan. Berangkat dari keinginan tersebut akhirnya usaha pertama yang beliau lakukan setelah lulus dari perguruan tinggi yaitu membuka usaha jasa dan kemudian dilanjutkan pengembangan usaha dengan berdagang.
Pada tahun 1998 beliau memutuskan untuk membuka usaha jasa komunikasi. Beliau menyediakan warung telekomunikasi atau yang sering disebut wartel dengan menjalin kerjasama dengan pihak operator. Pada saat itu memang usaha ini sangat menjanjikan karena kebutuhan akan
17
komunikasi yang meningkat dan belum banyak ditemui produsen handphone atau alat komunikasi sejenisnya yang menjadi pesaing, meskipun ada itupun masih berbiaya yang lumayan mahal.
Menjadi penyedia jasa komunikasi ini setidaknya mampu menjadi awal beliau untuk memulai usaha selanjutnya. Dua tahun setelah usaha wartelnya cukup berkembang dengan banyaknya pengguna wartel yang datang, beliau akhirnya memutuskan untuk mengembangkan usahanya.
Saat itu beliau merasa menjadi seorang wirausaha dapat memberikan penghasilan yang cukup dan beliau juga memiliki modal lebih. Hal ini akhirnya mendorong beliau untuk membuka usaha yang lain.
Usaha yang beliau dirikan selanjutnya adalah membuka toko serba ada atau toserba. Pada saat itu di tempat tinggal beliau belum banyak yang membuka toko dan beliau dapat memanfaatkan peluang tersebut. Tahun 2000 ibu Tutut mulai memberanikan diri untuk membuka tokonya. Jadi pada saat itu beliau menjalankan dua usaha sekaligus, dimana wartel dan toko berada pada satu tempat.
Beliau memulai semua usahanya sendiri, namun kemudian karena barang semakin banyak dan memerlukan perawatan serta pengawasan persediaan barang akhirnya beliau memperkerjakan dua orang karyawan.
Upaya beliau untuk memaksimalkan waktu dan modal juga dilakukan dengan cara mengupayakan untuk selalu mencari pemasok barang yang dapat memberikan harga termurah atau beliau mencari produk pengganti yang sedang memberikan promo tertentu.
Sebagai contoh beliau membeli produk kopi yang baru dipasaran dan memberi promo menarik beli dua dapat satu produk gratis. Kemudian beliau mampu menjual kembali dengan harga yang tidak terlalu tinggi karena beliau mengambil keuntungan dari menjual produk yang gratis tersebut. Cara yang beliau tempuh tersebut sangat bermanfaat untuk menarik minat konsumen.
Usaha tersebut berjalan dengan baik dan terbukti dapat bertahan hingga mampu melewati tahun ke enam dari awal berdirinya. Namun dalam perjalanannya menjadi seorang wirausaha tidaklah mudah, banyak
18
hambatan dan kendala yang harus dihadapi. Bahkan usaha tersebut akhirnya mengalami kegagalan dan akhirnya harus dihentikan karena tidak mungkin dipaksa untuk terus berjalan.
Sriyono
Sriyono adalah seorang wirausaha yang sudah cukup banyak menjalankan berbagai macam usaha. Beliau bertempat tinggal di Dawung, RT 02 RW 02, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Meskipun demikian saat ini beliau lebih sering menghabiskan waktunya di Kalimantan dan Ambon, Maluku. Pendidikan terakhir beliau hanya sampai sekolah dasar saja. Namun hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi seorang wirausaha.
Berawal dari kerja sebagai buruh sebuah pabrik yang memproduksi mi instan, kemudian sebagai buruh yang bertugas menjual kasur dan pintu hasil home industri di kampung tempat tinggalnya. Sekitar lima tahun bekerja menjadi seorang karyawan akhirnya beliau memutuskan untuk belajar berdagang dengan saudaranya. Beliau selalu membantu untuk menjalankan usaha saudaranya tersebut sebagai pedagang sapi yang dibeli dari Madura dan dijual kembali di wilayah Jawa Tengah.
Pada tahun 1998 beliau memutuskan untuk menjadi seorang wirausaha dan mandiri dengan berdagang. Beliau merasa bahwa dengan menjadi seorang wirausaha tidak perlu bekerja pada orang lain dan bahkan bisa memperkerjakan orang. Ketika itu beliau melihat keadaan di Kalimantan Tengah, dimana dengan lahan yang luas seharusnya penduduk tercukupi kebutuhan akan sayuran. Namun kenyataannya berbanding terbalik, karena mayoritas penduduk disana tidak mau bertani sayuran, jadi banyak permintaan sayur.
Beliau yang merupakan penduduk asli di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tentu tahu bahwa di daerah Bandungan, Kabupaten Semarang dan sekitarnya merupakan tempat yang menghasilkan banyak sayuran. Kemudian beliau memutuskan untuk berdagang sayuran yang beliau peroleh dari daerah Bandungan dan dibawa ke Kalimantan.
19
Bermodalkan uang dari hasil kerja sebelumnya beliau kemudian memulai karirnya menjadi seorang wirausaha.
Sayur yang beliau bawa dari pulau Jawa ke Kalimantan semuanya di drop langsung pada pedagang di Pasar di daerah Seruyan dan Sekitarnya. Setelah semua sayur habis beliau harus kembali ke Jawa untuk mengambil sayur lagi, karena tidak ingin pulang dengan tangan kosong beliau juga membawa ikan asin yang dibeli di Kalimantan dan kemudian dijual kembali ke pedagang di seluruh pasar di wilayah Semarang dan sekitarnya. Usaha ini berjalan cukup lama yaitu sekitar lima tahun.
Selama tiga tahun awal beliau selalu pulang pergi ke Kalimantan membuatnya mengetahui lebih banyak mengenai komoditi yang dibutuhkan penduduk disana. Jadi tidak hanya kebutuhan akan sayur tetapi penduduk disana juga senang berternak sapi, baik sapi yang diternak untuk dikembang biakkan maupun sapi yang diternak untuk dipotong. Namun beliau melihat belum banyak orang yang berternak dengan skala besar bahkan terjadi permintaan daging sapi yang tinggi dan tidak ada yang mampu memenuhi kebutuhan disana secara maksimal.
Dari hasil berdagang sayur beliau mulai memiliki uang lebih dan kemudian dialokasikan untuk berdagang sapi. Pada awalnya bapak Sriyono hanya mengambil sapi dari Bali dan Madura kemudian dibawa ke Kalimantan untuk dijual kembali kepada para peternak dan sebagian juga dipotong langsung. Jadi disana beliau membuka rumah pemotongan sapi.
Semakin hari permintaan akan sapi meningkat dan beliau mulai mencari tempat lain yang mampu memenuhi permintaan pasar akan kebutuhan daging sapi, hingga membawa beliau ke daerah Makasar, Sulawesi Selatan.
Pada saat usaha sapi semakin berkembang dengan pesat justru usaha sayur beliau mulai mengalami penurunan. Di tahun 2003 beliau memutuskan untuk menghentikan usaha sayurnya dan fokus pada jual beli sapi. Namun di tahun 2005 usaha sapinya juga tidak dapat dilanjutkan.
Beliau mengalami kebangkrutan dan berhenti menjadi wirausaha. Setelah mengalami kegagalan dengan semua usahanya harus ditutup, beliau juga
20
terlilit hutang dengan banyak pihak hingga semua aset pribadinya habis.
Kemudian beliau memutuskan untuk pergi dari rumah selama tujuh tahun.
Selama tujuh tahun tersebut beliau sudah bekerja diberbagai tempat seperti Batam, Kalimantan, Sulawesi, dan yang terakhir adalah Maluku.
Tahun 2011 beliau di Maluku dan kebetuan disana sedang ada pembukaan lahan tambang. Beliau ikut menjadi penambang liar yang hanya menggunakan peralatan mendulang sederhana. Enam bulan setelah menjadi pendulang beliau memiliki modal yang cukup dan kemudian dipakai untuk membeli peralatan tambang. Peralatan tersebut kemudian digunakan sendiri dan disewakan bagi para penambang. Perkembangan usaha tambangnya sangat cepat sehingga beliau akhirnya memutuskan untuk pulang ke Jawa dan melunasi semua hutangnya serta membeli lagi beberapa aset yang pernah dijualnya dulu.
Ketika itu uang beliau masih banyak dan beliau berpikir untuk membelanjakan uangnya untuk keperluan tambang dan akan dijual kembali kepada para penambang baik yang berada di Maluku maupun di luar pulau Jawa lainnya. Namun usaha tersebut akhirnya juga mengalami banyak kendala dan harus ditutup pada tahun 2014. Perjalanan beliau selama menjadi seorang wirausaha tidak lepas dari jatuh bangun dengan apa yang dikerjakannya. Namun tetap beliau tidak menyerah, semangat yang beliau miliki menunjukkan bahwa beliau memiliki karakter seorang wirausaha yang sangat kuat.
Sutrisno
Bapak Sutrisno merupakan seorang wirausaha yang bergerak pada bidang pertanian. Beliau tinggal di Lingkungan Sekebrok, RT 01 RW 08, Beji, Ungaran Timur. Pendidikan terakhir beliau adalah sekolah menengah atas. Setelah menamatkan pendidikannya beliau mulai belajar berwirausaha, karena pada dasarnya beliau memang merupakan keturunan seorang wirausaha, jadi kemampuannya berwirausaha diperoleh dari ayahnya.
21
Beliau mulai menjadi seorang wirausaha ketika masih berusia 23 tahun. Pada saat itu beliau dituntut untuk menjalankan usaha keluarganya yang bergerak pada bidang jual beli kayu. Ketika itu beliau belum memiliki gambaran akan menjadi seorang wirausaha seperti saat ini.
Sekarang beliau merupakan wirausaha yang mandiri dengan memiliki beberapa usaha dan bahkan usahanya ada juga yang berada di luar pulau Jawa.
Tahun 2012 beliau mendapat tawaran untuk bekerjasama dengan salah seorang temannya. Teman beliau tersebut sebelumnya sudah menjadi supplier resmi PT Indofood yang secara periode menyuplai kebutuhan kentang untuk proses produksinya. Setelah dipikirkan akhirnya beliau memutuskan untuk menerima tawaran temannya tersebut. Pada saat awal memulai usaha ini beliau hanya menyewa lahan seluas delapan hektare di kawasan pegunungan Dieng dengan biaya sewa dan pemeliharaan dari awal tanam sampai panen sebesar Rp 60.000.000 – Rp 65.000.000 per hektare. Sekarang beliau mampu menyewa lahan seluas tiga puluh enam hektare.
Usaha ini dikelola sendiri oleh beliau dengan dibantu istri yang bertugas untuk mencatat semua administrasi dan memantau setiap perkembangan yang terjadi. Sedangkan yang bertugas mengerjakan lapangan tidak ada karyawan khusus karena semua pengerjaannya dilakukan secara borongan. Perjalanan beliau menjadi seorang wirausaha tidaklah selalu sesuai dengan apa yang direncanakan. Ada beberapa hal yang terkadang menghambat jalannya usaha. Pada tahun 2014 beliau sempat menutup usahanya selama satu tahun. Meskipun sempat ditutup dan merugi beliau terbukti dapat mengatasi kegagalannya dan usahanya saat ini semakin besar.
Susanto
Bapak Susanto adalah seorang wirausaha yang menjalankan usaha pembuatan kasur, bantal dan guling. Beliau dipilih menjadi salah satu responden karena usaha yang beliau kerjakan tersebut termasuk ke dalam
22
kategori usaha pabrikasi. Usaha pabrikasi adalah sebuah usaha yang mengolah barang mentah menjadi barang jadi atau barang yang siap digunakan, jadi ada beberapa proses penambahan nilai di dalamnya.
Beliau bertempat tinggal di Dawung, RT 02 RW 02, Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Pendidikan terakhir beliau adalah sekolah menengah atas.
Beliau menjadi seorang wirausaha sejak tahun 1998. Usaha yang beliau jalankan merupakan usaha keluarga dan beliau merupakan generasi ketiga penerus usaha itu. Beliau adalah anak terakhir dari lima bersaudara dan satu-satunya yang dipilih untuk melanjutkan usaha keluarga tersebut.
Meskipun saudaranya yang lain juga memiliki usaha perdagangan dengan menjual produk jadi atau toko kelontong biasa, namun beliau merasa lebih tertarik dengan usaha kasur. Menurutnya dengan usaha ini beliau dapat memperkerjakan banyak orang yang tidak memiliki kesempatan untuk bekerja pada perusahaan formal, karena dalam usaha ini tidak ada tuntutan pendidikan minimal dan selama karyawan tersebut tekun maka dapat menjadi sumber pekerjaan bagi mereka.
Selama usaha tersebut berjalan dari tahun 1998-2015 setidaknya ada dua puluh lima orang karyawan yang bekerja. Mereka memiliki tugas yang berbeda tergantung dari kemampuan masing-masing. Setiap hari rumah produksi ini bisa membuat sedikitnya 100 kasur dengan isian kain perca dan kapuk. Produk kemudian dikirim ke toko yang sudah menjadi langganan untuk menerima barang dari bapak Susanto. Namun itu hanya berlangsung selama tujuh tahun saja. Pada tahun 2005 barang tidak lagi dikirim ke toko dengan alasan bahwa toko mulai sulit memberikan pembayaran. Jadi sejak saat itu barang mulai dipasarkan dengan cara door to door. Cara tersebut memang membutuhkan banyak tenaga kerja dan menyita banyak waktu akan tetapi lebih kecil kemungkinan barang tidak dibayar.
Usaha ini memiliki tiga rumah produksi ditempat berbeda, namun masih dalam satu Desa yang sama. Tahun 2010 keatas usaha ini mulai menemui banyak hambatan dan kendala. Hal tersebut mengakibatkan
23
salah satu cabangnya harus ditutup dan dua puluh lima karyawannya juga harus dirumahkan. Sebuah keputusan yang sulit dan sudah diupayakan untuk mempertahankannya, namun keputusan terbaik adalah dengan menutup dan menghentikan semua jenis kegiatan produksi.
Erni Dwi T.
Erni Dwi adalah seorang wirausaha perempuan yang memulai usahanya pada bidang jasa salon kecantikan. Beliau tinggal di Ds. Sraten, No. 5, Kec. Tuntang, Kab. Semarang. Latar belakang pendidikannya adalah sekolah menengah kejuruan dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis ataupun dengan bidang kecantikan. Awal menjadi seorang wirausaha dilakukan dengan tanpa sengaja. Saat itu beliau masih berstatus sebagai sales pada sebuah rumah usaha yang menjual produk kecantikan.
Tuntutan untuk dapat menarik customer membeli krim wajah yang dijualnya saat itu membuat beliau memutar otak dan mencari cara supaya krimnya cepat laku. Muncul ide untuk melakukan promosi dengan cara memberikan facial gratis kepada pembeli krim itu. Ide tersebut muncul karena beliau terbiasa membantu bosnya ketika ada tamu untuk facial saat berada di tempat kerja. Keberanian beliau memberikan promo facial gratis inilah yang akhirnya membawa beliau menjadi seorang wirausaha.
Dua hari setelah beliau melakukan facial pada pembeli krim pertamanya, pihak kantor tempat beliau bekerja menerima telepon dari pihak customer. Saat itu yang ada dalam benaknya adalah apabila terjadi kesalahan atau keluhan dari customer maka beliau akan mendapat masalah besar. Namun ternyata yang terjadi justru sebaliknya, customer tersebut memberi pujian dan meminta beliau untuk melakukan facial rutin setiap hari rabu. Sejak saat itu customer beliau semakin hari semakin bertambah.
Para customer tersebut meminta beliau untuk resign dari tempat kerjanya dan fokus dengan usaha facial.
Setelah resign dan fokus pada usaha facial beliau merasa bahwa penghasilannya jauh lebih banyak daripada bekerja sebagai sales. Apabila
24
bekerja sebagai karyawan hanya mendapat gaji maksimal sebesar Rp1.250.000 sedangkan ketika beliau menekuni usaha facial beliau mampu memperoleh keuntungan sebesar Rp3.000.000 dalam sebulan. Saat belum memiliki salon beliau mencari pelanggan dengan cara door to door.
Selama satu tahun merintis usaha ada satu orang pelanggan yang menginginkannya untuk membuka salon dan memiliki tempat khusus yang bisa didatangi ketika ingin melakukan perawatan. Kendalanya adalah beliau belum memiliki cukup modal, mengetahui masalahnya adalah permodalan maka pelanggan tersebut mengenalkan beliau kepada orang tuanya. Orang tua dari pelanggannya itu memberikan modal sebesar Rp25.000.000 untuk membuka usaha salon, baik untuk sewa tempat dan membeli keperluan lainnya, dengan catatan beliau harus menjaga pelanggannya tersebut selama masih berkuliah di Salatiga.
Setelah mendapat modal yang cukup, pada tahun 2006 beliau akhirnya membuka salon pertamanya di Jalan Imam Bonjol No. 23C, Salatiga dan diberi nama C-Quita Salon. Salon berjalan dengan baik dan menunjukkan perkembangan yang signifikan dengan semakin banyaknya pelanggan yang datang. Merasa usaha salonnya sudah dapat berjalan dibawah pengawasannya beliau memperkerjakan sepuluh orang karyawan, sementara beliau mulai mencoba usaha lain. Beberapa usaha beliau saat itu adalah properti, jual beli komputer, dan menjadi konsultan untuk usaha salon kecantikan. Usaha beliau tersebut sempat mengalami kegagalan dan harus dihentikan selama lima tahun yaitu dari tahun 2012 salon ditutup dan dibuka kembali pada tahun 2017.
Mahfud
Bapak Mahfud merupakan seorang wirausaha yang bergerak pada bidang usaha konstruksi. Beliau merupakan lulusan D3 ilmu ekonomi dari salah satu perguruan tinggi di Semarang. Beliau berdomisili di Perumahan Domas, Salatiga. Usaha yang saat ini dijalaninya bukanlah usaha pertama yang beliau kerjakan. Beliau dulu sempat menjadi petani sayur di daerah Kebumen, kemudian menjadi pedagang kelapa yang diambil dari Nusa
25
Tenggara, pernah juga menjadi agen marketing di salah satu perusahaan asuransi, dan masih banyak lagi.
Pada tahun 2012 salah seorang temannya menghubungi dan meminta tolong karena ingin membangun rumah akan tetapi dana yang dimiliki hanya cukup untuk membeli tanahnya saja. Mengingat beliau tidak memiliki latar belakang pada usaha kontruksi atau properti, akhirnya beliau mencoba menghubungi temannya yang lain untuk membantu.
Setelah diberi gambar model rumahnya dan dijelaskan rincian biaya yang dibutuhkan ternyata dapat menghasilkan keuntungan. Di situ beliau berpikir untuk mengerjakannya sendiri dan bisa mendapat keuntungan dari pengerjaan rumah tersebut.
Setelah pengerjaan pertama selesai dan beliau merasa keuntungannya lumayan banyak dengan waktu yang tidak begitu lama, akhirnya beliau mulai membeli tanah dan kemudian membuat bangunan rumah untuk dijual dan dilakukan secara berulang. Sebagai langkah memperoleh legalitas usaha dan upaya untuk membuat usahanya dapat dipercaya oleh pihak pembeli maupun pihak investor maka usaha tersebut didaftarkan menjadi CV dan diberi nama CV Bangun Citra Mandiri.
Awal memulai karir tidak ada yang menyangka bahwa beliau akan sampai pada titik ini, dimana beliau mampu menjadi seorang wirausaha yang dapat bertahan di bidang konstruksi. Sementara banyak juga teman seperjuangannya yang bergerak pada bidang yang sama justru menghentikan usahanya. Menurut beliau memang menjadi seorang wirausaha tidaklah mudah. Namun ada kepuasan tersendiri ketika mampu menghadapi ketidakmudahan tersebut dan dapat bertahan di tengah ketatnya persaingan dunia usaha saat ini.
26
Tabel 2 Profil Wirausaha dan Jenis Usahanya
No Nama Alamat Jenis Usaha Tempat Usaha
1 Tutut Rohayah Y.
Punjangsari, RT 01 RW 08, Bergas Lor
- Jasa
(1998-2007) - Perdagangan (2000-2007)
- Jalan Raya Karangjati Ngempon
2 Sriyono
Dawung, RT 02 RW 02, Desa Wonoyoso, Kec. Pringapus, Kab.
Semarang
- Perdagangan (1998-2005) - Pertambangan
(2011-2014)
- Pulau Jawa dan
Kalimantan - Ambon,
Maluku 3 Sutrisno
Sekebrok, RT 01 RW 08, Beji, Ungaran Timur
Pertanian (2012-sekarang)
Area pertanian Dieng
4 Susanto
Dawung, RT 02 RW 02, Desa Wonoyoso, Kec. Pringapus, Kab.
Semarang
Pabrikasi (1998-2015)
Dawung, RT 05 RW 02, Desa Wonoyoso, Kec. Pringapus, Kab. Semarang 5 Erni Dwi T.
Ds. Sraten, No. 5, Kec. Tuntang, Kab.
Semarang
Jasa
(2006-sekarang)
Sraten no. 5, Kec. Tuntang, Kab. Semarang 6 Mahfud Perumahan Domas,
Salatiga
Kontruksi (2012-sekarang)
Perumahan Domas, Salatiga
Enam responden di atas tentu memiliki alasan masing-masing mengenai setiap usaha yang mereka pilih. Latar belakang pemilihan usaha dan cara mereka mendirikan serta menjalankan usahanya juga berbeda. Namun yang pasti mereka telah mampu menunjukkan bahwa usaha apa saja dapat dijadikan upaya untuk menyejahterakan kehidupannya dan juga membuat mereka menjadi berbeda dengan yang lainnya. Dimana mereka mampu menantang diri mereka sendiri untuk memanfaatkan setiap peluang yang mereka anggap mampu menjadi sebuah usaha yang menghasilkan. Terlepas dari adanya risiko yang pasti akan dihadapi selama menjalankan usahanya. Sehubungan dengan topik penelitian ini maka sebenarnya usaha yang para responden lakukan tersebut sebenarnya sudah banyak yang mengalami kegagalan dan beberapa di antaranya sudah dihentikan pengoperasiannya. Saat ini dari keenam responden tersebut ada yang kembali menjadi wirausaha dengan bidang yang sama dan ada juga yang sudah benar-
27
benar tidak lagi menjalankan usaha yang sama, bahkan bidang usaha yang mereka jalankan jauh berbeda dengan usaha yang mereka lakukan di atas.
Kendala Usaha (faktor-faktor penyebab kegagalan)
Hambatan atau kendala yang menjadi penyebab gagalnya usaha yang dijalankan oleh para responden dalam penelitian ini sangat beragam. Semua usaha memiliki masalah dan keterbatasan dengan tingkat kerugian yang juga berbeda- beda. Namun yang namanya kerugian tentu tidak seorangpun yang menginginkannya, akan tetapi hal tersebut tidak dapat dihindari. Berikut adalah faktor-faktor yang menjadi penghambat atau penyebab gagalnya usaha setiap responden yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini, adalah:
Tutut Rohayah Y.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Tutut usaha salon yang saat ini beliau jalankan adalah hasil dari kegagalan usahanya yang terdahulu. Seperti yang telah diuraikan pada penjelasan sebelumnya bahwa usaha beliau saat awal memutuskan menjadi seorang wirausaha adalah usaha jasa wartel dan toko serba ada. Namun pada tahun 2007 usaha yang bisa membawa banyak perubahan ekonomi pada diri beliau saat itu tidak dapat dipertahankan lagi. Banyak hal yang menjadi pertimbangan beliau sebelum menutup usaha tersebut. Akan tetapi keputusan akhirnya adalah usaha harus dihentikan supaya tidak terjadi kerugian yang berkelanjutan.
Berikut ini yang disampaikan oleh ibu Tutut mengenai faktor penyebab kegagalan usahanya:
“Kendala yang saya hadapi adalah modal yang terbatas, karyawan tidak jujur, tidak ada kontrol manajemen yang memadahi karena memang saat itu usaha berjalan dengan baik sehingga tidak membuat saya berpikir untuk mengatur bagaimana yang seharusnya”.
“Selain itu munculnya waralaba membuat pelanggan saya banyak yang berpindah belanja ke supermarket atau minimarket lainnya, banyaknya pengguna jasa wartel yang berpindah menggunakan handphone, serta adanya faktor X atau sesuatu yang berhubungan dengan hal tak terduga yang berasal dari lawan bisnis saya karena saya percaya di Jawa hal yang seperti itu masih ada”.
28
“Usaha toserba berjalan dengan baik, sebelum banyaknya minimarket, waralaba, dan sejenisnya masuk ke wilayah Karangjati dan sekitarnya. Sedangkan usaha wartel mulai sepi semenjak banyak konsumen yang beralih menggunakan HP”.
Pada saat yang hampir bersamaan usaha wartel dan toserba beliau menghadapi banyak kendala. Mulai masuknya industri handphone yang menyediakan produk dengan harga terjangkau dan kemudahan yang ditawarkan karena bersifat privasi dan juga mudah dibawa kemana saja.
Pengaruh dari perkembangan teknologi ini adalah semakin lama para pelanggan pengguna jasa komunikasi umum tersebut perlahan berpindah menggunakan handphone. Akibatnya wartel menjadi sepi dan semakin hari secara berkelanjutan tidak ada lagi yang menggunakan jasa wartel di tempat beliau.
Ketika kondisi usaha jasanya mulai lesu justru masalah ditambah dengan banyaknya usaha waralaba yang masuk, dimana usaha tersebut mampu menjadi pesaing beliau dalam menjalankan tokonya. Usaha waralaba dengan modal yang tentunya jauh lebih besar akan lebih mudah memperoleh banyak produk dan juga mereka mampu memberikan harga yang bersaing. Kelengkapan produk dan harga tersebut juga secara perlahan mampu menarik pelanggan yang selama ini menjadi konsumen beliau. Dari hari ke hari usahanya semakin sepi dan pendapatannya semakin tidak menentu. Penghasilan yang tidak dapat diprediksi dan selalu mengalami penurunan membuat beliau berada pada tahap yang hanya berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, mampu membayar karyawan dan belanja dagangan dengan kuantitas yang semakin berkurang.
Selama dua tahun beliau mencoba mempertahankan tokonya dengan kondisi penghasilan sama dengan pengeluaran atau break event point (BEP). Menurut beliau kondisi usahanya semakin terpuruk ketika kejujuran karyawan juga dipertanyakan, pasalnya beberapa kali sering terjadi ketidaksesuaian jumlah persediaan barang yang masih tersisa dengan uang yang dihasilkan. Beliau merasa ada oknum karyawan yang
29
tidak menjalankan tugasnya dengan jujur dan benar. Hal ini tentu semakin memperberat usaha beliau untuk tetap stabil. Bahkan beliau menyebutkan adanya unsur tak terduga atau uncontrollable factor yang digunakan oleh lawan bisnisnya untuk menjatuhkan usahanya tersebut. Sering ditemukan hal-hal yang sebenarnya tidak masuk akal dan tidak dapat dijelaskam atau diteliti secara ilmiah namun menurut beliau di tanah Jawa ini memang banyak yang menggunakan kekuatan magis untuk menjalankan sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Semua hal yang terjadi pada usahanya merupakan faktor-faktor yang akhirnya membuat beliau tidak dapat bertahan menjadi wirausaha pada saat itu. Banyak hal yang menghambat jalannya usaha hingga kemudian beliau menutup usaha tersebut karena dirasa apabila usaha yang sudah tidak sehat terus dipertahankan justru akan semakin merugikan untuknya. Selain dirugikan dalam bentuk uang yang akan habis untuk menutup kebutuhan akan tetapi juga kerugian atas waktu yang terbuang sia-sia karena mempertahankan sesuatu yang sudah tidak menghasilkan apa-apa.
Sriyono
Sejak awal beliau menjadi seorang wirausaha tidak semua yang dijalankannya dapat berjalan sesuai dengan perencanaan. Seperti yang telah disebutkan di atas banyak usaha beliau yang akhirnya ditutup karena tidak dapat dipertahankan lagi. Bahkan sampai ada yang ditutup karena mengakibatkan beliau terlibat hutang dengan banyak pihak.
Bapak Sriyono menyatakan hal yang terkait dengan faktor penyebab kegagalan usahanya:
“Pedagang tidak membayar sayur yang sudah mereka terima”.
“Sering juga terjadi ketika belanja dengan harga beli mahal sampai ditempat harga menjadi turun. Sayur busuk karena cuaca atau terlalu lama diperjalanan. Keluarga tidak mendukung usaha ini jadi membuat saya tidak bisa konsentrasi dan tidak fokus. Saya juga menggunakan uang dari hasil pinjaman bank dan uang tersebut terbagi menjadi beberapa jenis usaha”.
“Tidak mendapat dukungan penuh dari keluarga, mereka menyuruh saya untuk menarik semua usaha yang di Kalimantan
30
dan membuka usaha di Jawa. Saya membuka usaha jual beli tanah kavling dan kayu yang saya bawa dari Lampung. Uang hasil berdagang sapi digunakan untuk modal usaha lainnya ditambah pinjaman dari bank dan saudara serta teman saya dengan bunga yang besar dan saya juga mengambil kredit truk”
“Kesalahan dalam menjalankan tender yang saya menangkan.
Waktu itu saya diminta menyediakan 100 ekor sapi dalam waktu satu bulan. Keuntungan yang saya dapat sebesar 10 persen akan tetapi karena gagal dalam memenuhinya saya mendapat penalti sebesar 15 persen. Akan tetapi karena cuaca buruk kapal menunggu ombak tenang dan waktu semakin mepet. Ternyata setelah dipaksa menyebrang sapi mati sejumlah tujuh ekor”.
“Mulai banyak saingan”.
“Harga turun, ketika saya belanja dengan harga normal atau harga tinggi kemudian saat hendak dijual harga turun jauh dibawah harga beli”.
“Untuk usaha kayu 10-20 kali masih menghasilkan keuntungan, namun berikutnya kayu tidak dibayar”.
“Perijinan”
“Lokasi material yang tidak pasti menyebabkan pengeluaran yang tidak dapat dipastikan juga”.
“Karyawan yang tidak bekerja dengan benar, bahkan ada yang hanya ikut-ikutan saja namun ternyata tidak bekerja dan malah menghasut karyawan lain untuk tidak bekerja”.
“Pencurian material oleh karyawan yang tidak jujur. Pencurian bahan kebutuhan seperti solar, beras, dan air raksa
Sering terjadi operasi di area pertambangan”.
Dari hasil wawancara dengan beliau, setelah dikaji lebih mendalam maka berikut adalah uraian mengenai penyebab kegagalan usaha yang beliau hadapi. Usaha pertamanya yaitu sayuran pada tiga tahun pertama berjalan dengan baik namun setelah itu mulai menemui banyak masalah.
Masalah yang normal dihadapi beliau adalah sayur yang dibawa terkadang busuk setelah sampai di Kalimantan. Hal ini biasanya disebabkan oleh lamanya perjalanan yang tidak dapat diperkirakan atau karena cuaca sedang buruk sehingga terjadi penundaan kapal untuk menyebrang. Tentu sayur yang busuk tersebut mengakibatkan kerugian secara material karena beliau akhirnya tidak dapat menjual sayur tersebut. Belum lagi beliau masih harus menanggung biaya transportasi dan mengorbankan waktunya tanpa mendapatkan hasil sama sekali. Selain barang yang busuk setelah sampai tempat tujuan ada juga kendala yang dihadapi beliau yaitu harga yang tidak dapat diperkirakan, karena menurut beliau sering juga terjadi
31
ketika sayur yang dibelinya dengan harga normal namun ketika sampai tempat tujuan harga sayur tersebut mengalami penurunan, kembali lagi beliau harus mengalami kerugian dengan adanya penurunan harga tersebut. Apabila beliau tidak mau menurunkan harga sayurnya maka yang terjadi adalah orang tidak akan membeli sayur dagangannya. Jadi beliau memilih untuk mengikuti harga yang berlaku disana meskipun harus menanggung kerugian. Kendala selanjutnya yang beliau alami ketika menjalankan usahanya tersebut adalah pembeli yang mulai tidak disiplin dalam pembayaran atau pelunasan sayuran yang mereka beli dari beliau.
Mereka ada yang hanya membayar sebagian dan banyak juga yang tidak membayar sama sekali. Kesalahan beliau saat itu adalah sayur sudah terlanjur dibawa apabila tidak diberikan kepada pembeli maka sayur tersebut juga akan membusuk jadi beliau hanya menjalankan usahanya atas dasar kepercayaan saja dan di dua tahun terakhir sebelum usaha sayurnya ditutup hampir sebagian besar modalnya habis karena pembeli yang tidak mau membayar barang dagangannya tersebut. Sebagai langkah aman beliau akhirnya menghentikan usaha dagang sayurnya itu dan fokus pada usaha sapi yang telah beliau jalankan selama tiga tahun sejak masih berdagang sayur.
Dari beberapa usahanya, usaha sapi yang mampu membawa beliau ke puncak kejayaannya. Namun bukan hal yang mudah juga menjadi wirausaha antar pulau. Banyak kendala yang sering beliau hadapi ketika menjalankan usaha sapi. Kendala yang paling sering beliau alami adalah ketika cuaca buruk dan beliau harus tetap membawa sapi dari luar pulau Kalimantan. Risiko yang harus beliau hadapi adalah sapi setres dan tidak jarang karena terkena hantaman ombak maka sapi-sapi tersebut harus berdesakan serta harus mengalami luka atau yang sering terjadi adalah patah tulang kaki. Selain faktor alam ada juga kendala yang berasal dari keluarga yang tidak mendukung beliau dalam menjalankan usaha ini.
Alasannya adalah beliau terlalu sibuk dengan usahanya dan jarang memiliki waktu untuk di rumah bersama keluarga. Tentu saja dengan tidak adanya keluarga yang setuju dengan usaha beliau ini membuat setiap
32
hendak memutuskan sesuatu tidak ada yang bisa beliau ajak untuk berdiskusi.
Semua masalah dan beban dalam usahanya beliau sendiri yang menangani, keluarganya justru menginginkan beliau untuk menghentikan usahanya dan memulai usaha lain yang bisa beliau kerjakan di rumah.
Dorongan dari keluarga tersebut akhirnya membuat beliau memutuskan untuk menggunakan sebagian dari modalnya berdagang sapi untuk memulai usaha kayu yang dibeli dari Lampung dan dijual kembali di wilayah pulau Jawa. Selain kayu beliau juga mengalokasikan uangnya untuk membeli tanah dan kemudian menjual kembali tanah tersebut dalam bentuk tanah kavling. Ambisi keluarga beliau untuk membuatnya menjadi wirausaha di pulau Jawa sepertinya masih belum cukup. Terbukti dengan permintaan keluarganya lagi untuk membeli truk supaya beliau lebih fokus dengan usahanya yang ada di Jawa, karena modal sudah dialokasikan untuk banyak usaha maka beliau akhirnya memutuskan untuk membeli truk secara kredit.
Modal yang harus dibagi menjadi beberapa jenis usaha tentu tidak dapat menutupi semua kebutuhan apalagi ketika beliau juga mempunyai tanggungan untuk selalu membayar bank setiap bulan, tentu saja saat itu mulai timbul masalah dimana uang untuk belanja barang dagangan dan biaya operasi lainnya menjadi tidak seimbang. Penyebabnya adalah usaha kayunya banyak sekali pembeli yang tidak membayar kayu yang telah mereka terima dan itu sekitar sepuluh container tidak terbayar. Bukan hanya itu saja terkadang pasar juga berperan ketika beliau membeli kayu dengan harga normal sesampainya di tempat tujuan harga justru turun.
Kembali beliau harus menghadapi kerugian. Di sisi lain usaha kavling tanahnya juga tidak setiap hari atau setiap bulan terjual, sekalipun terjual banyak juga yang hanya kredit dan pembayaran diangsur beberapa kali.
Sementara beliau sendiri masih memiliki tanggungan hutang terhadap bank yang setiap bulan harus dibayar.
Hanya usaha sapi yang beliau andalkan ketika itu, namun karena beliau tidak fokus pada usahanya ini juga akhirnya berakibat pada
33
banyaknya pesaing yang masuk ke dalam usaha yang sama. Tanpa beliau sadari sudah banyak pelanggannya yang berpindah ke penjual lain.
Semakin banyaknya pesaing yang masuk ke dalam usaha ini membuat persaingan antar wirausaha semakin ketat, bahkan mereka mulai bermain dengan menurunkan harga. Mau tidak mau beliau juga harus melakukan hal yang sama, keuntungannya semakin berkurang sedangkan beban kebutuhannya semakin meningkat dengan modal yang menjadi terbatas karena telah digunakan untuk banyak usaha yang lain. Tidak habis akal beliau untuk dapat mengembalikan usahanya menjadi seperti dulu lagi, pada saat itu sedang ada tender dari pemerintah untuk menjadi penyedia sapi ternak di daerah Kalimantan. Saat itu pemerintah meminta pemenang tender harus menyiapkan seratus ekor sapi dalam waktu satu bulan.
Jumlah tersebut harus dipenuhi dengan tepat waktu dan beliau akan mendapat keuntungan 10 persen. Namun jika tidak mampu memenuhinya maka akan mendapat penalti sebesar 15 persen. Rasa percaya diri dan optimisme beliau membuatnya memenangkan tender dari pemerintah, beliau kemudian mencari sapi di daerah Bali. Di sana beliau mendapat seratus ekor sapi sesuai dengan perjanjian, namun karena cuaca yang sedang tidak baik membuatnya sulit untuk melakukan penyeberangan.
Ketika cuaca sudah mulai sedikit baik dan ombak mulai lebih tenang beliau memutuskan untuk segera menyeberangkan sapi-sapinya tersebut.
Satu minggu sebelum waktu yang telah disepakati habis beliau sudah sampai Kalimantan beserta sapi-sapinya akan tetapi ada tujuh sapi yang mati sehingga jumlah tidak genap seratus.
Selama satu minggu beliau berusaha untuk mencari sapi sebagai ganti yang telah mati, namun saat itu beliau tidak berhasil mendapatkannya. Sehingga pada hari terakhir jumlah sapi tidak sesuai dengan permintaan dan beliau harus menanggung kerugian karena mendapat pinalti sebesar 15 persen dari total harga yang telah disetujui.
Hal tersebut semakin memperburuk kondisi keuangan beliau. Selain modal yang semakin habis, beliau juga memiliki hutang dengan beberapa pihak untuk menjalankan tendernya tersebut. Akhirnya beliau tidak mampu lagi
34
membayar hutangnya dan untuk truk sudah menunggak beberapa bulan hingga truk harus diambil oleh dealer serta beberapa hutang lainnya yang menggunakan jaminan sertifikat tanah juga harus disita oleh pihak pemberi pinjaman. Saat itu beliau benar-benar sudah tidak mampu lagi menjalankan usahanya. Jadi usaha sapi dihentikan bukan karena keinginan beliau, akan tetapi karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa beliau lakukan untuk menjalankan usahanya. Sekalipun semua aset sudah disita beliau juga masih harus menanggung hutang dengan beberapa kerabat dan orang terdekatnya. Setelah kejadian tersebut beliau akhirnya memutuskan untuk pergi dari kampung tempat tinggalnya untuk merantau.
Selama berada di perantauan banyak pekerjaan yang telah beliau lakukan. Beberapa diantaranya adalah menjadi buruh bangunan, menjadi pedagang sayur keliling, menjadi penjaga ternak, hingga menjadi penambang timah di Batam, dan yang terakhir adalah menjadi penambang emas liar di Sulawesi dan Ambon, Maluku. Usaha pertambangan ini mampu membawa beliau kembali ke puncak kejayaannya lagi. Semua aset yang dulu terjual akhirnya dapat dibeli lagi dan semua hutangnya dilunasi beserta semua bunga pinjamannya. Namun usaha tersebut tidak dapat berlangsung lama, hanya bertahan selama tiga tahun saja. Penyebab ditutupnya usaha ini karena belum adanya ijin sehingga masih ilegal dimata hukum. Tiga tahun menjalankan usaha ini kendala yang dialami adalah ketika ada operasi mendadak dari pihak kepolisian dan pihak keamanan setempat. Ketidak stabilan usaha yang harus dibuka dam ditutup tanpa waktu yang pasti ini menjadi salah satu penyebab usaha dihentikan.
Namun selain itu ada juga faktor sumberdaya yang bermasalah dan tidak dapat dipercaya. Sejumlah pekerjanya beliau datangkan dari pulau Jawa.
Semua biaya perjalanan dan biaya hidup disana berasal dari beliau akan tetapi sesampainya disana mereka tidak bekerja dengan baik bahkan terbukti ada yang justru bekerja dengan orang lain. Tidak berhenti sampai disitu kendala yang beliau hadapi adalah ketidak pastian lokasi tambang, dalam proses menambang memang tidak dapat diketahui dengan pasti titik tempat yang mengandung emas. Sering kali beliau dan pekerjanya