EVALUASI PROGRAM PENCEGAHAN TERHADAP KEJADIAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI RSUP H. ADAM MALIK
TAHUN 2016
TESIS
Oleh
SITI RABIAH 147032069/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
EVALUASI PROGRAM PENCEGAHAN TERHADAP KEJADIAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI RSUP H. ADAM MALIK
TAHUN 2016
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Oleh SITI RABIAH 147032069/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
Telah Diuji
pada Tanggal : 21 Juli 2016
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, M.P.H Anggota : 1. dr. Fauzi, S.K.M
2. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes 3. dr. Heldy BZ, M.P.H
PERNYATAAN
EVALUASI PROGRAM PENCEGAHAN TERHADAP KEJADIAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI RSUP H. ADAM MALIK
TAHUN 2016
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Juli 2016
SITI RABIAH 147032069/IKM
ABSTRAK
Evaluasi Program PPIRS HAM adalah langkah awal untuk menurunkan morbiditasdanmortalitasdi rumah sakit. Mencapai akreditasi Joint Commission International (JCI) yang telah mengalami perubahan paradigma dari survey berfokus dokumen menjadi berfokus pasien sehingga sangat penting dalam program PPIRS.
Penelitian ini bertujuan untuk gambaran sruktur organisasi dan tugas pokok komite, proses perencanan, pengawasan dan gambaran output terhadap laporan pelaksanaan program pencegahan IN. Populasi dalam penelitian ini adalah kepala Bidang Pelayan Medik, Ketua Komite, IPCO,IPCN dan 6 orang IPCLN. Penelitian ini secara kualitatif dan observasi. Pengumpulan data melalui dokumentasi, observasi, wawancara mendalam.
Hasil penelitian ini menujukkan bahwa sruktur organisasi dan tugas pokok komite PPIRS HAM sudah sesuai dengan Depkes 2008, Proses pelaksanan dan pengawasan terhadap program pencegahan masih belum optimal dimana masih masih di dapat pegawai yang belum melaksanakan tindakan sesuai dengan SOP dan masih rendahnya kepatuhan tenaga kesehatan terhadap 5 moment keberihantangan, dan kendala yang dihadapi IPCLN adalah banyak tugas yang harus di kerjakan seperti mengontrol kamar, sebagai CI yang harus membimbing mahasiswa dan membuat laporan setiap hari, masih ada kasus infeksi sebanyak 131 orang (0,11%) dari 109.848 pasien dan kepatuhan tenaga kesehatan dalam melakukan PPI berkisar 50-80%.
Saran Meningkatkan kemampuan direktur utama dan tim PPIRS supaya tenaga kesehatan bersedia melakukan semua tindakan sesuai dengan SOP yang telah di tetapkan.Mengupayakan membuat insentif bagi anggota IPCLN dan membuat CCTV di setiap ruangan sehingga bisa di pantau dengan benar dan akurat.
Kata Kunci: Evaluasi, Program, Pencegahan Infeksi Nosokomial
ABSTRACT
The evaluation on PPIRS HAM program is the first step to decrease morbidity and mortality in a hospital. In order to achieve the accreditation of Joint Commission International (JCT) which has changed its paradigm from document-based survey to patient-based one, the PPIRS program becomes very important.
The objective of the research was to describe the organization structure and the primary mission of the committee, the planning process, the supervision, and the output of the report in the implementation of the prevention from IN program. The population was the Head of the Medical Care Department, the Head of the Committee, IPCO, IPCN, and 6 IPCLN personnel. The research used qualitative and observational method. The data were gathered by conducting documentary study, observation, and in-depth interviews.
The result of the research showed that the organization structure and the primary mission of PPIRS HAM committee was in accordance with DEPKES 2008, the process of the implementation and supervision on the prevention program was not optimal in which some employees did not do their job according to SOP and the health care providers did not comply with 5 moments contact with patients. Some obstacles faced by IPCLN were as follows: many tasks which had to be done like controlling rooms, CI that had to supervise students and writing daily reports, and the cases of infection in 131 patients (0.11%), cases of IN of 109.848 patients, and the compliance of health care providers in doing PPI was about 50%-80%.
It is recommended that the capacity of the chief director and PPIRS team be increased in order that the health care providers are willing to do their job according to the SOP standard. IPCLN should be given incentives and CCTV should be installed in each room so that situation can be monitored well and accurately.
Keywords: Evaluation, Program, Prevention from Nosocomial Infection
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunianya-Nya sehingga dapat menyelesaikan Tesisini dengan judul : “Evaluasi Program Pencegahan Terhadap Kejadian InfeksiNosokomial di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016”. Tesis ini dibuat sebagai persyaratan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M. Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
3. Prof. Dr. Ir. EvawaniYAritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
4. Prof. dr. SorimudaSarumpaet, M.P.HSelaku Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan moril serta pengetahuan sekaligus memotivasi penulis untuk menyelesaikan tesis ini
5. dr. Fauzi, S.K.Mselaku Pembimbing II yang telah bersedia komunikasi sekaligus memberikan saran, masukan dan arahan serta motivasi selama penulisan tesis ini
6. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kesselaku Penguji I yang telah banyak memberikan saran dan masukan dalam penyempurnaan tesis ini.
7. dr. Heldy BZ, M.P.H selaku penguji II yang juga telah memberikan berbagai masukan saran dan kritikan yang konstruktif untuk kesempurnaan tesis ini.
8. Bapak / Ibu Dosen pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang telah memberikan bimbingan dan pengetahuan kepada penulis.
9. Seluruhkeluargatercinta yang selalu memberi motivasi dan do’a kepada penulis untuk menyelesaikan tesis initepatwaktu
10. Teman-teman Angkatan Tahun 2014 Program S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM USU yang saling memberi semangat dan motivasi untuk selalu berjuang bersama dalam menyelesaikan pendidikan.
Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan tesis ini.
Untuk itu penulis berharap masukan dan saran dari para pembaca untuk kesempunaan penelitian ini nantinya.
Medan, Juni2016 Penulis’
SitiRabiah 147032069/IKM
RIWAYAT HIDUP
Penulis yang bernama Siti Rabiah lahir di Pengidam, pada tanggal 04 Juli 1989 beragama islam putri dari Bapak Abdul Malik (Alm) dan Ibu tercinta Hj.
Masturi, anak ke 6 dari 8 bersaudara dan saat ini tinggal di Jln. Medan Banda Aceh Desa Bundar Dusun Bahagia Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang.
Pendidikan sekolah dasar di SD Negeri Pengidam tahun1995 dan lulus pada tahun 2001, Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah pada tahun 2001 dan lulus pada tahun 2007, D III Kebidanan Cut Nyak Dhien Langsa pada tahun 2007 lulus 2010, dan D-IV Bidan Pendidik USU pada tahun 2011 lulus 2012.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR ISTILAH ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB 1.PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.3.1 Tujuan umum ... 7
1.3.2 Tujuan Khusus ... 7
1.4ManfaatPenelitian ... 8
1.4.1 Bagi RumahSakit ... 8
1.4.2 Bagi Peneliti ... 8
1.4.3 Bagi Peneliti yang Lain ... 8
BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 InfeksiNosokomial ... 9
2.1.1 DefinisiInfeksiNosokomial ... 9
2.1.2 EtiologiInfeksiNosokomial ... 10
2.1.3 DampakInfeksiNosokomial ... 12
2.2 PengendaliandanPencegahanInfeskiNosokomial ... 13
2.3Evaluasi Program ... 16
2.3.1 Pengertian Evaluasi Program ... 15
2.3.2 TujuanEvaluasi Program ... 18
2.3.3TahapanEvaluasi Program ... 19
2.4Faktor- faktoryang Dibutuhkan Agar PencegahanInfeski Nosokomial ... 22
2.4.1 Organisasi ... 23
2.5LandasanTeori ... 37
2.6KerangkaPikirPenelitian ... 39
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 41
3.1 JenisPenelitian ... 41
3.2 Lokasi Penelitaindan WaktuPenelitian ... 41
3.3 InformanPenelitian ... 42
3.4 Sumber Data ... 42
3.5MetodePengumpulan Data ... 42
3.6MetodeAnalisa Data ... 42
BAB 4.HASIL PENELITIAN ... 43
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 43
4.2Karakteristik Informan ... 45
4.3Sruktur Organisasi ... 46
4.4Uraian Tugas ... 49
4.5 Program Kerja ... 51
BAB 5.PEMBAHASAN ... 60
5.1 Sruktur Organisasi ... 60
5.2Uraian Tugas ... 65
5.3Program Kerja ... 71
BAB 6.KESIMPULAN DAN SARAN ... 74
5.1 Kesimpulan ... 74
5.2Saran ... 75
DAFTAR PUSTAKA ... 76 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
2.1 Struktur Organisasi Komite PPIRS ... 25
2.2 Struktur Organisasi Komite PPI RSUP H. Adam Malik ... 25
2.3 Evaluasi Program ... 39
2.4 Kerangka Konsep Penelitian ... 40
4.1 Latar Belakang Pendidikan Informan di RSUP Adam Malik ... 46
4.2 Pernah atau tidak Pernah Mendapatkan Pelatihan ... 46
4.3 Sruktur Organisasi Komite PPIRS ... 47
4.1 Angka Kejadian IDO/ILO dari Bulan Januari sampai April 2016 ... 58
DAFTAR ISTILAH
IADP : Infeksi Aliran Darah Primer IDO : Infeksi Daerah Operasi ILO : Infeksi Luka Operasi IN : Infeksi Nosokomial
IPCO :Infection Prevention and Control Officer IPCLN : Infection Preventif and Control Link Nurse ISK : Infeksi Saluran Kemih
JCI : Joint Commission International KARS :Komisi Akreditasi Rumah Sakit
PPIRS : Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit SOP : Standar Prosedur Operasional
DAFTAR LAMPIRAN
1. Struktur Organisasi RSUP H. Adam Malik 2. PanduanWawancara
3. Izin Survei Pendahuluan
4. Balasan Izin Studi Pendahuluan 5. Izin Penelitian
6. Balasan Izin Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Evaluasi program adalah langkah awal daslam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula.
Evaluasi program sangat penting dan bermanfaat terutama bagi pengambil keputusan.
Alasannya adalah dengan masukan hasil evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan. Sehingga program pencegahan infeksi nosokomial (IN)dapat berjalan dengan baik(Kemenkes RI, 2010).
Infeksi rumah sakit nosokomialyaitu infeksi yang didapatkan pasien ketika dirawat di rumah sakit, merupakan persoalan serius yang menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Saat ini, IN bervariasi antara 3-21% dengan rata-rata 9%, suatu angka yang sesungguhnya cukup tinggi. IN ini mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dana dan terlebih lagi meningkatkan angka kematian (Komite PPIRS, 2015).
IN saat ini menjadi salah satu penyebab peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas)di rumah sakit. Angka IN menjadi salah satu tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit (Salawati, 2012).
Program dapat berjalan dengan baik bila tujuan jelas dan telah dijabarkan langkah-langkahnya dengan efisien dan efektif data menunjukkan bahwa
INmerupakan masalah penting di seluruh dunia.IN ini terus meningkat dari 1% di beberapa Negara Eropa dan Amerika, sampai lebih dari 40% di Asia, Amerika Latin dan Afrika (Kemenkes RI, 2011).
Hasil Survei yang dilakukan di Amerika Serikat pada 183 rumah sakit dengan klasifikasi rumah sakit large, medium, small didapat bahwa pada rumah sakit dengan klasifikasi large didapatkan angka kejadian IN tahun 2011 sebanyak 31,4%, rumah sakit dengan klasifikasi medium didapatkan angka kejadian IN sebanyak 33,5% dan rumah sakit dengan klasifikasi small didapatkan angka kejadian IN sebanyak 24,1%
(Magill dkk, 2014).
Data IN di Indonesia sendiri dapat dilihat dari data surveilans yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 1987 di 10 RSU Pendidikan, diperoleh angka IN cukup tinggi yaitu sebesar 6-16 % dengan rata-rata 9,8 Hasil survey point prevalensi dari 11 Rumah Sakit di DKI Jakarta yang dilakukan oleh Perdalin Jaya dan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta pada tahun 2003 didapatkan angka IN untuk ILO (Infeksi Luka Operasi) 18,9%, ISK (Infeksi Saluran Kemih) 15,1%, IADP (Infeksi Aliran Darah Primer) 26,4%, Pneumonia 23,8%(Depkes RI, 2008).
Di Indonesia tahun 2006 diperoleh angka persentasi terjadinya IN di Provinsi Lampung 4,3%, Jambi 2,8%, DKI Jakarta 0,9%, Jawa Barat 2,2%, Jawa Tengah 0,5%, dan Yogyakarta 0,8% (Pratami dkk, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Fitriyastanli, dkk, 2003.IN dapat diketahui setelah penderita dirawat selama kurang lebih 3x24 jam. Pada penelitian ini kejadian
ILO terbanyak adalah pada pasien yang mengalami perawatan > 7 hari, yaitu 4 dari 30 pasien (13,330 ), sedangkan pada kelompok lama perawatan 2 - 6 hari ada 3 dari 40 pasien (7,5%).
Angka kejadian infeksi yang tidak berkurang maka pemerintah menyadari betul pentingnya pencegahan dan pengendalian IN di rumah sakit, sehingga kebijakan itu dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 270/Menkes/SK/III/2007 tentang pedoman manajerial pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnyaserta Keputusan Menkes Nomor 382/Menkes/SK/III/2007 mengenai pedoman pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan serta berdasarkan Menteri Kesehatan RI No 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan minimal rumah sakit tentang kejadian IN yaitu ≤1,5%(Depkes, 2008).
Data IN di RSUP H. Adam Medan tahun 2015 menunjukkan ada 342 kasus IN dari 447.038 (0,0765%) pasien dengan perincian sebagai berikut kasus infeksi saluran kemih (ISK) sebanyak 50 orang (0.11%) dari 442.308 Pasien pasang kateter, kasus infeksi luka operasi (ILO) 48 orang (0.86%) dari 5.532 pasien operasi, kasus plebitis 167 (0.10%) dari 155.867 pasien pasang infus / three way, kasus infeksi aliran darah primer (IADP) 7 orang (0.07%) dari 9.074 Pasien pasang Central Venous Catheter (CVC), Kasus dekubitus sebanyak 56 orang (0.10%) dari 5.1954 pasien bedres total, kasus hospital acquired pneumonia (HAP) 1 orang (0.0005%) dari 176.853 Pasien yang Rawat Inap, dan kasus ventilator associated pneumonia (VAP)13 orang (0.23%) dari 5.450 Pasien pasang ventilator(Komite PPIRS, 2015).
Dilihat dari data bahwa di RSUP H. Adam Malik angka IN 0,0765% sudah mengikuti standar pelayanan minimal yang di tetapakan ≤1,5% tapi dalam standar mempersiapkan persaingan Masyakat Ekonomi Asean maka RSUP H. Adam Malik mempersiapkan akreditasi R.S. Bertaraf Internasionaldengan Keputusan Menkes R.I.
No. 1195/VIII/2010, tentang Lembaga/Badan akreditasi R.S versi 2012 merupakan akreditasi rumah sakit oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan Mencapai Akreditasi Joint Commission International (JCI) yang telah mengalami perubahan paradigma dari survey berfokus dokumen menjadi berfokus pasien sehingga sangat penting dalam program pencegahan dan pengendalian terhadap kejadian IN.
Pengendalian IN di rumah sakit meliputi kegiatan pencegahan dan penanggulangan.IN dapat terjadi pada setiap ruang/unit rumah sakit, tetapi pada umumnya terjadi pada pelayanan medis dimana pasien ditangani dan mendapat tindakan invasif.IN selain menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas juga menyebabkan kerugian lain, seperti : rasa tidak nyaman bagi pasien, perpanjangan hari rawat (length of stay), menambah biaya perawatan dan pengobatan serta masalah sosial ekonomi lainnya (Darmadi, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Handiyani, dkk 2004 Keberhasilan kegiatan pengendalian IN bila dilihat dari proses melalui setiap komponen kegiatan secara komposit menunjukkan 53.5% tingkat keberhasilannya buruk, dimana prosentase terburuk pada tahap utilisasi (69.8%), adanya hubungan bermakna antara peran dan fungsi manajemen kepala ruangan dengan faktor keberhasilan kegiatan pengendalian IN.
RSUP. H. Adam Malik Medan merupakan rumah sakit kelasA , dibentuk suatu tim pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit merupakan salah satu bentuk upaya rumah sakit dalam melaksanakan program pencegahan dan pengendalian infeksi. Sebagaimana yang diputuskanMenteri Kesehatan Nomor 270/MENKES/2007 yang mengharuskan setiap rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Agar terlaksana dengan optimal, maka perlu sebuah organisasi struktural yang bertanggung jawab mengawal program tersebut.Dan di harapkan melakukan pelayanan sesuai dengan standar sebagai upaya penyelamatan pasien dari IN maka dari itu Direktur utama RSUP H. Adam Malik sudah membentuk suatu komite yang berfungsi membantu membuat kebijakan dan memberikan masalah-masalah yang berkaitan dengan pengendalian infeksi di sebut Komite PPIRS,yangmenjalankantugas membuat kebijakan dan standar prosedur operasional terhadap pencegahan IN dengan struktur organisasi Komite PPIRS yaitu Direktur, Ketua Komite, Wakil Ketua Komite, Infection Prevention and Control Officer (IPCO), Infection Preventif and Control Nurse (IPCN) dan Infection preventif and Control Link Nurse (IPCLN) (Komite PPIRS, 2015).
Setelah dilakukan survey awal di RSUP H. Adam Malik masih ada tenaga kesehatan tidak menjalankan SOP dalam melaksanakan tindakan seperti perilaku tenanga kesehatan sebelum memeriksa pasien mencuci tanggan dan melakukan cuci tangan tidak benar. kebiasaan penggunjung atau keluarga yang terlalu banyak dan berlama-lama dalam kunjungan.Dan masih ada yang berjualan di sekitar ruangan.Dan
jika dilihat dari peralatan sudah sterill.Sehingga bagaimana peran komite PPIRS dalam menghadapi masalah tersebut.
Penelitian yang dilakukan banyak sekali tentang masalah kepatuhan tenaga kesehatan dalam mencuci tangan. Seperti yang di lakukanpenelitian Pratami 2008, dari 30 orang rata-rata angka kuman yang didapatkan dari tangan tenaga medis dan paramedis adalah 1,59 CFU/cm2 dan jenis bakteri yang didapatkan adalah Staphylococcus saprophyticus, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Serratia liquefacients, Serratia marcescens, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes, Citrobacter freundii, Salmonella sp, Basillus cereus, Neisserria mucosa.
Peneliti ingin meneliti bagaimana peran komite dalam perencanaan, pengawasan dalam pelaksanaan program PPIRS dan bila tidak dievaluasi maka tidak dapat diketahui bagaimana dan seberapa tinggi kebijakan yang sudah dikeluarkan dapat terlaksana. Karena informasi yang diperoleh dari kegiatan evaluasi sangat berguna bagi pengambilan keputusan dan kebijakan lanjutan dari program, karena dari masukan hasil evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan.
Sehingga peneliti ingin melakukan penelitian tentang progam pencegahan INRumah Sakit H. Adam Malik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka peneliti ingin mengetahuiprogram pencegahan terhadap kejadian IN di RSUP H. Adam Malik 2016
1.2.1 Bagaimana kesedian input dalam uraian tugas pokok dan program kerja pencegahan terhadap kejadian IN di RSUP H. Adam Malik tahun 2016?
1.2.2 Bagaimana proses pelaksananan dan penangulanganprogram pencegahan terhadap kejadian IN di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016?
1.2.3 Bagaimana output terhadap pelaksanaan program pencegahan IN di RSUP H.
Adam Malik tahun 2016?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasiprogram pencegahanterhadap IN di RSUP H. Adam Malik Tahun 2016.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasisruktur organisasi dan tugas pokokkomite PPIRS di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016.
1.3.2.2 Mengidentifikasi proses perencanan dan pengawasan terhadap program pencegahan terhadap kejadian IN di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016.
1.3.2.3 Mengidentifikasi output terhadap laporan pelaksanaan program pencegahan IN di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Rumah Sakit
Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi Rumah Sakit untuk meningkatkan pelayanan kesehatan umumnya dan terhadap pelaksanan program infeksi nosokomial di RSUP H. Adam Malik Medan.
1.4.2 Bagi Peneliti
Penulisan tesis ini menjadi pengalaman yang berharga dalam menetapkan ilmu yang diperoleh di pendidikan dalam program studi administrasi kebijakan kesehatan dan tambahan informasi tentang evaluasi program IN.
1.4.3 Bagi Peneliti yang Lain
Bagi peneliti yang lain hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar dan referensi dalam mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang IN.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Infeksi Nosokomial
2.1.1 Definisi Infeksi Nosokomial
Nosokomial berasal dari bahasa Yunani, dari kata nosos yang artinya penyakit dan komeo yang artinya merawat. Nosokomion berarti tempat untuk merawat/ rumah sakit. Jadi dapat diartikan IN adalah infeksi yang didapat selama dirawat di rumah sakit (Darmadi, 2008).
IN adalah infeksi yang terjadi atau didapat penderita ketika sedang dirawat di rumah sakit sebagai berikut :
a. Pada saat pasien masuk rumah sakit/dirawat tidak didapatkan tanda-tanda klinis dan tidak sedang dalam masa inkubasi penyakit tersebut.
b. Infeksi timbul sekurang-kurangnya 3 x 24 jam sejak dirawat di rumah sakit.
c. Infeksi terjadi pada pasien dengan masa perawatan lebih lama daripada waktu inkubasi penyakit tersebut.Beberapa faktor yang sering menjadi sumber IN di rumah sakit antara lain sebagai berikut :
d. Banyaknya pasien yang dirawat dan menjadi sumber infeksi bagi pasien lain maupun lingkungan.
e. Kontak langsung antara pasien yang menjadi sumber infeksi dengan pasien lainnya.
f. Kontak langsung antara petugas rumah sakit yang terkontaminasi oleh kuman dengan pasien yang dirawatnya.
g. Penggunaan peralatan medis yang terkontaminasi oleh kuman.
h. Kondisi pasien yang lemah akibat penyakit yang sedang dideritanya (Septiari, 2015).
2.1.2 Etiologi Infeksi Nosokomial
Menurut (Darmadi,2008) proses terjadinya IN dapat dipengaruhi 2 faktor yaitu:
a. Faktor yang datang dari luar (extrinsic factors) a.1 Petugas pelayanan medis
Dokter, perawat, bidan, tenaga laboratorium.
a.2 Peralatan dan material medis Jarum, kateter, instrumen, respirator, kain/doek, kassa.
a.3 Lingkungan
Berupa lingkungan internal seperti ruangan/bangsal perawatan,kamar bersalin dan kamar bedah, sedangkan lingkungan eksternal adalah halaman rumah sakit dan tempat pembuangan sampah/pengolahan limbah.
a.4 Makanan/minuman
Hidangan yang disajikan setiap saat kepada penderita.
a.5 Penderita lain
Keberadaan penderita lain dalam satu kamar/ruangan perawatan dapat merupakan sumber penularan.
a.6 Pengunjung
Keberadaan tamu/keluarga dapat merupakan sumber penularan.
b. Faktor dari dalam (intrinsic factors)
b.1 Faktor-faktor yang ada dari penderita (intrinsic factors)seperti umur, jenis kelamin, kondisi umum penderita, resiko terapi, atau adanya penyakit lain yang menyertai penyakit dasar (multipatologi) beserta komplikasinya.
b.2 Faktor keperawatan seperti lamanya hari perawatan (length of stay), menurunya standarpelayanan perawatan, serta padatnya penderita dalam satu ruangan.
b.3 Faktor pathogen seperti tingkat kemampuan invasi sertatingkat kemampuan merusak jaringan, lamanya pemaparan (lenght of exposure) antara sumber penularan (reservoir) dengan penderita.
Untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi perlu mengetahui rantai penularan.Apabila satu mata rantai dihilangkan atau dirusak, maka infeksi dapat dicegah atau dihentikan. Komponen yang diperlukan sehingga terjadi penularan tersebut adalah:
a. Agen infeksi (infectious agent) adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi.Ada tiga faktor pada agen penyebab yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu : patogenitas, virulensi dan jumlah (dosis, atau “load”).
b. Reservoir atau tempat dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang biak dan siap ditularkan kepada orang.
c. Pintu keluar (portal of exit) adalah jalan darimana agen infeksi meninggalkan reservoir. Pintu keluar meliputi saluran pernapasan, pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit dan membrana mukosa, transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain (Darmadi, 2008).
2.1.3 Dampak Infeksi Nosokomial
IN dapat memberikan dampak sebagai berikut:
a. Menyebabkan cacat fungsional, serta stress emosional, dan dapat menyebabkan cacat yang permanen serta kematian.
b. Dampak tertinggi pada negara berkembang dengan prevalensi HIV/AIDS yang tinggi.
c. Meningkatkan biaya kesehatan di berbagai negara yang tidak mampu, dengan meningkatkan lama perawatan di rumah sakit, pengobatan dengan obat-obat mual, dan penggunaan pelayanan lainnya.
d. Morbiditas, dan mortalitas semakin tinggi.
e. Adanya tuntutan secara hukum.
f. Penurunan citra Rumah Sakit (Septiari, 2015).
2.2 Pengendalian dan Pencegahan Infeksi Nosokomial
Mengendalikan IN di Rumah Sakit, ada tiga hal yang perlu ada dalam program pengendalian IN di Rumah Sakit, diantaranya:
2.2.1 Adanya sistem surveilan yang mantap.
Surveilan suatu penyakit adalah tindakan pengamatan yang sistemik, dan dilakukan terus menerus terhadap penyakit tersebut yang terjadi pada suatu populasi tertentu dengan tujuan untuk dapat melakukan pencegahan, dan pengendalian.Jadi tujuan dari surveilan adalah untuk menurunkan resiko terjadinya IN. Perlu ditegaskan dsini bahwa keberhasilan pengendalian INbukanlah ditentukan oleh canggihnya peralatan yang ada, tetapi ditentukan oleh kesempurnaan perilaku petugas dalam melaksanakan perawatan penderita secara benar. Dalam pelaksanaan surveilan ini perawat sebagai petugas lapangan di garis paling depan mempunyai peran yang sangat menentukan.
2.2.2 Adanya peraturan yang jelas dan tegas serta dapat dilaksanakan dengan tujuan untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi.
2.2.3 Adanya program pendidikan yang terus-menerus bagi semua petugas Rumah Sakit dengan tujuan mengembalikan sikap mental yang benar dalam merawat penderita.
Keberhasilan program ini ditentukan oleh perilaku petugas dalam melaksanakan perawatan yang sempurna kepada penderita. Perubahan perilaku inilah yang memerlukan proses belajar dan mengajar yang terus menerus. Program
pendidikan hendaknya tidak hanya ditekankan pada aspek perawatan yang baik saja, tetapi kiranya juga aspek epidemiologi dari IN ini.Jadi jelaslah bahwa dalam seluruh lini program pengendalian IN perawat mempunyai peran yang sangat menentukan.
Pencegahan dari IN ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi, monitoring, dan program. Program yang termasuk diantaranya:
a. Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan dan aseptik, sterilisasi dan disinfeksi.
b. Mengontrol risiko penularan dari lingkungan.
c. Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi yang cukup, dan vaksinasi.
d. Membatasi risiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasive.
e. Pengawasan infeksi, identifikasi, dan mengontrol penyebarannya.
f. Mencegah penularan dari lingkungan yang disposable.
g. Mengecek dengan menginspeksi bahwa prosedur pengendalian infeksi, dan aseptik telah dilaksanakan sesuai dengan kebijakan Rumah Sakit.
h. Menghubungkan antara laboratorium dan staf ruang dengan memberi nasihat tentang masalah pengendalian infeksi.
i. Melakukan kerjasama dengan staf kesehatan okupasi (occupational health staf) dalam pemeliharaan rekaman infeksi staf medis, perawat, catering, domestik, dan berbagai golongan staf lainnya yang terinfeksi.
j. Melakukan kerjasama dengan dan memberi petunjuk kepada perawat komunitas tentang berbagai masalah infeksi.
k. Memberi informasi segera melalui telepon, tentang penyakit yang harus diberitahukan kepada petugas kesehatan masyarakat.
l. Memberitahu berbagai Rumah Sakit lain, praktisi lain dan lain-lain yang berkepentingan ketika pasien yang terinfeksi dibebaskan dari rumah sakit atau dipindahkan ke tempat lain.
m. Melakukan partisipasi dalam edukasi, dan demonstrasi praktis tentang teknik pengendalian infeksi kepada staf medis, perawat domestik, katering, pembantu dan staf lainnya.
n. Memberitahu perawat tentang masalah dan kesulitan praktis dalam melaksanakan prosedur rutin yang berkaitan dengan aspek perawatan pengendalian infeksi.
o. Menghadiri berbagai komite relevan yang biasanya mengendalikan infeksi dari berbagai komite prosedur perawatan.
p. Melakukan perundingan dengan pimpinan pelayanan steril tentang infeksi tertentu dalam Rumah Sakit. Pencegahan infeksi nosokomial terdiri atas: kewaspadaan universal, tindakan invasive, tindakan non invasive, tindakan terhadap anak, dan neonatus, sterilisasi dan desinfeksi (Septiari, 2015).
2.3 Evaluasi Program
2.3.1 Pengertian Evaluasi Program
Evaluasi adalah merupakan kegunatan integral dari fungsi manajer dan didasarkan pada sistem informasi manajemen.Evalusi dilaksanakan karena adanya dorongan atau keinginan untuk mengukur pencapaian hasil kerja atau kegiatan
pelaksaaan program terhadap tujuan yang telah di tetapkan.Evalusi di maksudkan untuk mendapatkan informasi yang relevan guna pengambilan keputusan. Evalusi di bidang kesehatan(WHO) termasuk keguatan analisis berbagai macam aspek perkembangan dan pelaksaan program dengan mempelajari relevansi, adekuasi, progres, efektivitas, efisiensi dan dampak dari program (Suprianto, 2007).
Pengertian evaluasi yang bersumber dari kamus Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English evaluasi adalah to findout,decide the amount or value yang artinya suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah. Selain arti berdasarkan terjemahan, kata-kata yang terkandung dalam dalam definisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi harus dilakukan secara hati-hati, bertangung jawab, menggunakan strategi dan dapat dipertanggung jawabkan (Sudijono, 2013).
Berdasarkan pengertian diatas, evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut.Sehingga evaluasi hendaknnya membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu program, perbaiakn program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi, menambah penegtahuan dan dukungn dari mereka yang terlibat (Tayibnapis, 2000).
Program dapat diartikan menjadi dua istilah yaitu program dalam arti khusus dan program dalam arti umum. Pengertian secara umum dapat diartikan bahwa program adalah sebuah bentuk rencana yang akan dilakukan. Apabila
”program” ini dikaitkan langsung dengan evaluasi program maka progran
didefinisikan sebagai unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Dengan demikian yang perlu ditekankan bahwa program terdapat 3 unsur penting yaitu :
a. Program adalah realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan.
b. Terjadi dalam kurun waktu yang lama dan bukan kegiatan tunggal tetapi jamak berkesinambungan.
c. Terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi merupakan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan. Oleh karena itu, sebuah program dapat berlangsung dalam kurun waktu relatif lama.Pengertian program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan maka program sebuah sistem, yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan bukan hanya satu kali tetapi berkesinambungan. Pelaksanaan program selalu terjadi dalam sebuah organisasi yang artinya harus melibatkan sekelompok orang (Arikunto, 2008).
Evaluasi Program adalah adalah alat penting bagi pekerjaan mempelajari tehnik dan keterampilan evaluasi program dapat membatu dalam menentukan apakah ada kebutuhan akan program (studi asesmen kebutuhan), bagaimana proses dan prosedur program dilakukan (pemantauan program), dan apakah tujuan program tercapai (evaluasi program berorentasi sasaran) (Greene, 2009, Bastian, 2007).
Evaluasi program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan yang bertujuan mengumpulkan informasi tentang realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang guna pengambilan keputusan(Arikunto, 2008).
Dari berbagai definisi tersebut di atas dapat diintisarikan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi program adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu program pemerintah, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternative atau pilihan yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan.
2.3.2 Tujuan EvaluasiProgram
Tujuan evaluasi adalah membuat kebijakan dan keputusan, menilai hasil yang dicapai dalam program yang telah di tetapkan, menilai sejauh mana program berjalan, memonitor sehingga membantu pengembangan implementasi, kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi,motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari merka yang terlibat (Tayibnapis, 2000).
Fungsi evaluasi berbeda dengan fungsi monitoring (pengawasan). Perbedaan ini terletak pada sasarannya, sumber data dan siapa yang akan melaksanakannya.
Perbedaan ini dapat dilihat pada dasarnya tujuan evaluasi adalah:
a. Sebagai alat untuk memperbaiki pelaksanaan kebijakan dan perencanaan program yang akan datang. Hasil evaluasi akan memberikan pengalaman mengenai
hambatan atau pelaksanaan program yang lalu selanjutnya dapat dipergunakan untuk memperbaiki kebijakan dan pelaksanaan program yang akan datang.
b. Sebagai alat memperbaiki alokasi sumber dana, daya dan manajemen (resources) saat ini serta dimasa datang, karena tanpa adanya evaluasi akan terjadi pemborosan sumber dana dan daya yang sebenarnya dapat diadakan penghematan serta penggunaannya.
c. Memperbaiki pelaksanaan perencanaan kembali suatu program, dengan kegiatan ini antara lain mengecek relevansi program, mengukur kemajuan terhadap target yang direncanakan secara terus menerus serta menentukan sebab dan faktor didalam maupun diluar yang mempengaruhi pelaksanaan program (Supriyanto, 2007).
2.3.3 Tahapan Evaluasi Program
Dimensi utama evaluasi diarahkan kepada hasil, manfaat, dan dampak dari program. Pada prinsipnya yang perlu dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui empat dimensi yaitu (Muninjaya, 2004)
a. Indikator masukan (Input)
Masukan (input) adalah sumber-sumber daya manajemen yang dapat dikelompokkan atas sumber daya manusia (human resource) dan sumber daya non manusia (non human resource) yang meliputi sumber daya finansial (financial), sumber daya fisik (physical resource), serta sumber daya sistem dan teknologi (system and technologicalresource) (Sulaeman, 2011).
Semua masukan ini dievaluasi sebelum kegiatan program dilaksanakan, bertujuan untuk mengetahui apakah sumber daya yang dimanfaatkan sudah sesuai dengan standar dan kebutuhan.Kegiatan evaluasi ini juga bersifat pencegahan (Muninjaya, 2004).
b. Proses (Process)
Dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung, untuk mengetahui apakah metode yang dipilih sudah efektif, bagaimana dengan motivasi staf dan komunikasi diantara staf dan sebagainya. Proses ini dapat dikaitkan dengan fungsi manajemen yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controling (POAC).
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah proses yang di mulai dengan merumuskan tujuan organisasi, sampai dengan menetapkan alternative kegiatan untuk mencapainya. Tanpa ada fungsi perencanana tidak akanada kejelasan kegiatan yang akan di lakukan oleh staf untuk mencapai tujuan organisasi.
Melalui funsi perencanaan akan dapat di tetapkan tugas-tugas pokok staf, dan dengan tugas-tugas ini seorang pemimpin akan mempunyai pedoman supervise dan menetapkan sumber daya yang di butuhkan oleh staf untuk menjalankan tugas-tugasnya .
2. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian adalah suatu rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi
dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.Atas dasar pengertian tersebut fungsi pengorganisasian juga meliputi langkah untuk menetapkan, menggolong-golongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang, dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi.secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi (Muninjaya, 2004).
Keefektifan organisasi terlihat dari struktur organisasi yang dibentuk.
Dengan menempatkan orang-orang sesuai dengan keahliaan dan pengalamanya akan mampu membuat organisasi mencapai tujuannya danTugas-tugas staf dan mekanisme pelimpahan wewenang dapat diketahui melalui struktur organisasi yang dianut(Robbins, 2007).
3. Pelaksanaan (Actuasiting)
Pelaksanaan adalah usaha untuk menciptakan iklim kerja sama diantara staf pelaksana program sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien dan proses bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan keterampilan yang telah dimiliki, dan dukungan sumberdaya yang tersedia (Muninjaya, 2004).
Prinsip pembagian kerja dan pelimpahan wewenang sangat berkaitan dengan hubungan pribadi. Mekanisme komunikasi antara pimpinan dengan
staf akan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pelaksanaan program yang sudah disusun sebelumnya(Muninjaya, 2004).
4. Pengawasan dan Pengendalian (Controling)
Pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi dari proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai denagn pelaksanaan kegiatan seseui dengan rencana kerja yang sudah di susun dan mengadakan koreksi jika terjadi penyimpangan. Fungsi pengawasan dan pengendalian bertujuan agar penggunaan sumber daya dapat lebih diefisienkan, dan tugas-tugas staf dapat dipantau secara berkelanjutan dengan perumusan standar kinerja staf (standard performance sesuai dengan prosedur tetap) oleh Direktur yang disesuaikan dengan pencapaian tujuan dari organisasi (Muninjaya, 2004).
c. Keluaran (Output)
Dilaksanakan setelah pekerjaan selesai dilaksanakan untuk mengetahui efek dari program yang sudah dikerjakan.
2.4 Faktor-faktor yang di Butuhkan dalamPelaksanaan Pencegahan Infeksi Nosokomial
2.4.1 Organisasi
Faktor- faktor yang termasuk didalam organisasi adalah struktur organisasi, uraian tugas dan program kerja.
a. Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah sebagai penentuan bagaimana pekerjaan dibagi, dibagi dan dikelompokkan secara formal.Sedangkan organisasi merupakan unit sosial yang dikoordinasikan secara sadar, terdiri dari dua orang atau lebih dan berfungsi dalam suatu dasar yang relatif terus-menerus guna mencapai serangkaian tujuan bersama (Robbins, 2007).
Kemampuan implementing agency untuk menjalankan peranya sangat dipengaruhi oleh kapasitas organisasi tersebut. Kapasitas organisasi itu sendiri merupakan fungsi dari berbagai macam hal seperti: ketetapan struktur, jumlah dan kualitas SDM yang dimiliki, businesss process yang dirancang untuk menjalankan peran yang harus diemban oleh organisasi, dan last but not leastdukungan lingkungan dimana tugas organisasi tersebut harus dilakukan(Purwato dan Sulistyastuti, 2012).
Struktur organisasi merupakan wadah atau wahana interaksi di mana para petugas, birokrasi, atau pejabat yang berwenang mengola implementasi kebijakan dengan berbagai kegiatanya sertakapasitas organisasi sebagai suatu kesatuan unsur organisasi yang melibatkan:
1. Struktur
2. Mekanisme kerja atau koordinasi antar unit yang terlibat dalam implementasi.
3. Sumber daya manusia yang ada dalam organisasi.
KOMITE PPI
TIM PPI
KOMITE DIREKTORAT DIREKTORAT DIREKTORAT
DIREKTUR UTAMA
4. Dukungan finansial serta sumber daya yang dibutuhkan organisasi tersebut untuk bekerja (Purwato dan Sulistyastuti, 2012).
Proses implementasi yang menggunakan mekanisme kerja yang bersifat sequential terjadi ketika implementasi suatu kebijakan melibatkan banyak organisasi dengan kelompok sasaran tertentu dan Hubungan antar organisasi (interorganizational) dipahami sebagai interaksi diantara berbagai organisasi yang terlibat dalam proses implementasi untuk mewujudkan tujuan kebijakan yang telah ditetapkan (Purwato dan Sulistyastuti, 2012).
Struktur organisasi komite pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit atau pasilitas kesehatan lainnya.
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Komite PPIRS
Sumber : Pedoman Manjerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya (Depkes RI, 2007)
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Komite PPIRS RSUP H. Adam Malik Sumber : Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Umum
Pusat H. Adam Malik Medan (Komite PPIRS, 2015).
Struktur organisasi komite pencegahan dan pengendalian IN bervariasi dan sangat bergantung pada situasi dan kondisi rumah sakit.Prinsipnya ada dua tingkatan organisasi yaitu tingkat penentu atau penyusun kebijakan dan tingkat pelaksanaan kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi nosocomial. Direktur dan komite PPI merupakan tingkat penentu atau penyusun kebijakan sedang tim PPI merupakan pelaksana kebijakan.
Organisasi/ komite dibentuk dari sebanyak mungkin perwakilan departemen di rumah sakit dan secara berkala mengadakan pertemuan untuk menangani perkembangan dan masalah terkini. Alasan yang mendasari pentingnya ada perwakilan dari tiap departemen :
Direktur Utama
Komite- komite Direktur-Direktur
Komite PPIRS
Ketua: dr.Yosia Ginting SpPD,KPTI Wk. Ketua:dr.Ricke Loesnihari SpPK(K)
Sekretaris IPCN
1 Permasalan dalam upaya pencegahan dan pengendalian IN sering lalai lintas departemen sehingga untuk penyelesaiannya membutuhkan peran serta dari semua departemen di rumah sakit.
2 Pelaksanaan kebijakan yang telah diambil lebih efektif apabila peran serta setiap departemen untuk memberikan pengaruhnya terhadap anggota departemennya masing-masing.
3 Perwakilan dari setiap departemen di Komite PPIRS memberikan dukungan yang kuat bagi otoritasnya sebagai advokat bagi keseluruhan rumah sakit.
b. Uraian Tugas
Uraian tugas merupakan uraian tertulis tentang apa yang menjadi konstribusi tiap pemegang jabatan kepada organisai. Kata kunci dari pengertian ini adalah kontribusi. Ini berarti bahwa uraian tugas haruslah memuat hal-hal apasaja yang merupakan konstribusi dari sebuah jabatan
Adapun uraian tugas Komite PPIRS adalah sebagai berikut menurut Depkes RI, 2008.
a. Direktur
Direktur adalahpimpinan tertinggi yang ada di dalam organisasi rumah sakit (Perpres, 2015).
Adapun tugas direktur sebagai berikut:
1. Membentuk Komite dan Tim PPIRS dengan Surat Keputusan.
2. Bertanggung jawab dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap penyelenggaraan upaya pencegahan dan pengendalian IN.
3. Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana termasuk anggaran yang dibutuhkan.
4. Menentukan kebijakan pencegahan dan pengendalian IN.
5. Mengadakan evaluasi kebijakan pencegahan dan pengendalianIN berdasarkan saran dari Komite PPIRS.
6. Mengadakan evaluasi kebijakan pemakaian antibiotika yang rasional dan disinfektan di rumah sakit berdasarkan saran dari Komite PPIRS.
7. Dapat menutup suatu unit perawatan atau instalasi yang dianggap potensial menularkan penyakit untuk beberapa waktu sesuai kebutuhan berdasarkan saran dari Komite PPIRS.
8. Mengesahkan Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk PPIRS.
b. Komite PPI
Komite PPI adalah unsur organisasi yang mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan tata kelola dalam melaksanankan tugasnya di dalam PPI yang baik (good clinical governance). (Perpres, 2015)
a. Kriteria Anggota Komite PPI : 1. Mempunyai minat dalam PPI.
2. Pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI.
b. Tugas dan Tanggung Jawab Komite PPI :
1. Menyusun dan menetapkan serta mengevaluasi kebijakan PPI.
2. Melaksanakan sosialisasi kebijakan PPIRS, agar kebijakan dapat dipahami dan dilaksanakan oleh petugas kesehatan rumah sakit.
3. Membuat SPO PPI.
4. Menyusun program PPI dan mengevaluasi pelaksanaan program tersebut.
5. Bekerjasama dengan Tim PPI dalam melakukan investigasi masalah atau KLB infeksi nosokomial.
6. Memberi usulan untuk mengembangkan dan meningkatkan cara pencegahan dan pengendalian infeksi.
7. Memberikan konsultasi pada petugas kesehatan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dalam PPI.
8. Mengusulkan pengadaan alat dan bahan yang sesuai dengan prinsip PPI dan aman bagi yang menggunakan.
9. Mengidentifikasi temuan di lapangan dan mengusulkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) rumah sakit dalam PPI.
10. Melakukan pertemuan berkala, termasuk evaluasi kebijakan.
11. Menerima laporan dari Tim PPI dan membuat laporan kepada Direktur dan berkoordinasi dengan unit terkait lain.
12. Memberikan usulan kepada Direktur untuk pemakaian antibiotika yang rasional di rumah sakit berdasarkan hasil pantauan kuman dan resistensinya terhadap antibiotika dan menyebar-luaskan data resistensi antibiotika.
13. Menyusun kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
14. Turut menyusun kebijakan clinical governance dan patient safety.
15. Mengembangkan, mengimplementasikan dan secara periodik mengkaji kembali rencana manajemen PPI apakah telah sesuai kebijakan manajemen rumah sakit.
16. Memberikan masukan yang menyangkut konstruksi bangunan dan pengadaan alat dan bahan kesehatan, reno-vasi ruangan, cara pemrosesan alat, penyimpanan alat dan linen sesuai dengan prinsip PPI.
17. Menentukan sikap penutupan ruangan rawat bila diperlukan karena potensial menyebarkan infeksi.
18. Melakukan pengawasan terhadap tindakan-tindakan yang menyimpang dari standar prosedur / monitoring surveilans proses.
19. Melakukan investigasi, menetapkan dan melaksanakan penanggulangan infeksi bila ada KLB di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
c. IPCO / Infection Prevention and Control Officer a. Kriteria IPCO :
1. Ahli atau dokter yang mempunyai minat dalam PPI.
2. Mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI.
3. Memiliki kemampuan leadership.
b Tugas IPCO :
1. Berkontribusi dalam diagnosis dan terapi infeksi yang benar.
2. Turut menyusun pedoman penulisan resep antibiotika dan surveilans.
3. Mengidentifikasi dan melaporkan kuman patogen dan pola resistensi antibiotika.
4. Bekerjasama dengan Perawat PPI memonitor kegiatan surveilans infeksi dan mendeteksi serta menyelidiki KLB.
5. Membimbing dan mengajarkan praktek dan prosedur PPI yang berhubungan dengan prosedur terapi.
6. Turut memonitor cara kerja tenaga kesehatan dalam merawat pasien.
7. Turut membantu semua petugas kesehatan untuk memahami pencegahan dan pengendalian infeksi.
d. IPCN (Infection Prevention and Control Nurse) a. Kriteria IPCN :
1. Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi PPI.
2. Memiliki komitmen di bidang pencegahan dan pengendalian infeksi.
3. Memiliki pengalaman sebagai Kepala Ruangan atau setara.
4. Memiliki kemampuan leadership, inovatif dan convident.
5. Bekerja purna waktu.
b. Tugas dan Tanggung Jawab IPCN :
1. Mengunjungi ruangan setiap hari untuk memonitor kejadian infeksi yang terjadi di lingkungan kerjanya, baik rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
2. Memonitor pelaksanaaan PPI, penerapan SPO, kewaspadaan isolasi.
3. Melaksanakan surveilans infeksi dan melaporkan kepada Komite PPI.
4. Bersama Komite PPI melakukan pelatihan petugas kesehatan tentang PPI di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
5. Melakukan investigasi terhadap KLB dan bersama-sama Komite PPI memperbaiki kesalahan yang terjadi.
6. Memonitor kesehatan petugas kesehatan untuk mencegah penularan infeksi dari petugas kesehatan ke pasien atau sebaliknya.
7. Bersama Komite menganjurkan prosedur isolasi dan memberi konsultasi tentang pencegahan dan pengendalian infeksi yang diperlukan pada kasus yang terjadi di rumah sakit.
8. Audit Pencegahan dan Pengendalian Infeksi termasuk terhadap limbah, laundry, gizi, dan lain-lain dengan mengunakan daftar tilik.
9. Memonitor kesehatan lingkungan.
10. Memonitor terhadap pengendalian penggunaan antibiotika yang rasional.
11. Mendesain, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi surveilans infeksi yang terjadi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
12. Membuat laporan surveilans dan melaporkan ke Komite PPI.
13. Memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan PPI.
14. Memberikan saran desain ruangan rumah sakit agar sesuai dengan prinsip PPI.
15. Meningkatkan kesadaran pasien dan pengunjung rumah sakit tentang PPIRS.
16. Memprakarsai penyuluhan bagi petugas kesehatan, pengunjung dan keluarga tentang topik infeksi yang sedang berkembang di masyarakat, infeksi dengan insiden tinggi.
17. Sebagai koordinator antara departemen / unit dalam mendeteksi, mencegah dan mengendalikan infeksi di rumah sakit.
e. IPCLN (Infection Prevention and Control Link Nurse) a. Kriteria IPCLN :
1. Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi PPI.
2. Memiliki komitmen di bidang pencegahan dan pengendalian infeksi.
3. Memiliki kemampuan leadership.
b. Tugas IPCLN :
IPCLN sebagai perawat pelaksana harian / penghubung bertugas:
1. Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilans setiap pasien di unit rawat inap masing-masing, kemudian menyerahkan-nya kepada IPCN ketika pasien pulang.
2. Memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan pencegahan dan pengendalian infeksi pada setiap personil ruangan di unit rawatnya masing-masing.
3. Memberitahukan kepada IPCN apabila ada kecurigaan adanya IN pada pasien.
4. Berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB, penyuluhan bagi pengunjung di ruang rawat masing-masing, konsultasi prosedur yang harus dijalankan bila belum faham.
5. Memonitor kepatuhan petugas kesehatan yang laindalam menjalankan standar isolasi.
3.1.2 Program Kerja
Program pencegahan dan pengendalian IN adalah kegaiatan yang meiputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan dalam upaya menurunkan angka kejadian IN di rumah sakit (Depkes RI, 2008). Prosedur baku perlu dibuat untuk setiap tindakan-tindakan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian INkerena kegiatan ini melibatakan berbagai disiplin ilmu dan tingkatan personil di rumah sakit.
Tujuan program pencegahan dan pengendalian IN adalah untuk melindungi pasien, petugas dan pengunjung.Program pencegahan dan pengendalian IN dicapai melalui kegiatan survailans, menerapkan kewaspadaan isolasi, pendidikan dan pelatiahan, pengembangan kewajiban kebijakan atau prosedur.Untuk perlu ditujang oleh perencanaan secara rinci dalam membuat strategi dan langkah yang memerlukan
koordinasi dari banyak pihak, baik individu, bagian, ataupun unit pelayanan disarana kesehatan tersebut.Program harus dijabarkan secara tertulis dan menjadi dasar perencanaan pencegahan dan pengendalian IN, serta memuat unsur standar akreditasi rumah sakit dan juga ketentuan pemerintah yang berlaku (Depkes RI, 2008).
2.3.1 Organisasi/ Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit
Organisasi dapat digunakan dalam menilai keberhasilan pelaksanaan program pengendalian IN mengingat sistematikanya sesuai dengan langkah-langkah kegiatan pengendalian IN. dalam rangkaian pelaksanaan kegiatan yang saling berhubungan, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Setiap sistem terdiri atas lima unsure yaitu :input, proses, output, control dan mekanisme unpan balik (feedback).
a. Input
Input dalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian IN ditinjai dari manajemen dan organisasi.Dalam mengembangkan penerapan pencegahan dan pengendalian IN maka langkah yang harus ditempuh (Depkes RI, 2008).
1. Advokasi pada penentu kebijakan tentang pentingnya penerapan pencegahan dan pengendalian IN.
2. Membentuk organisasi yang bertanggung jawab dalam pencegahan dan pengendalian IN.
3. Mengembangkan pedoman dan standar operasional procedure.
4. Melaksanakan pelatihan dan supervisi.
5. Menyediakan bahan, alat dan instalasi yang diperlukan.
6. Memantau dan mengawasi pelaksanaannya.
7. Melaksanakan survailans dan pencatatan dan pelaporan.
Didalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian IN memerlukan koordinasi dari berbagai pihak oleh karena itu diperlukan jalur komunikasi dan garis komando yang tergambar jelas di dalam struktur organisasi dan dikomunikasikan kepada seluruh staf. Hal terpenting dalam melaksanakan semua kegiatan dalam rangka pencegahan dan pengendalian IN adalah apa yang dinyatakan Haley, 1985 seperti dikutip Wirjoatmodjo, 1988 pencegahan IN sesungguhnya adalah masalah pengawasan dan peningkatan kemampuan manusia, bukannya membunuh kuman dengan lebih sempurna atau membeli peralatan yang lebih baik.
b. Proses
Proses pada umunya melibatkan kelompok pimpinan hingga pelakasana.
Tahap proses merupakan kegiatan yang sangat penting dalam suatu sistem sehingga dapat mempengaruhi hasil yang diiharapkan oleh suatu organisasi. Proses adalah interaksi profesional antara pemberi pelayanan dengan konsumen (pasien, masyarakat). Setiap tindakan medik atau keperawatan harus selalu memepertimbangkan nilai yang dianut pada diri pasien.Keluhan pasien merupakan indikasi adanya ketidaksesuaian antara harapannya dengan pelayanan yang diberikan.
Dengan mengacu pada keluhan pasien, setiap tindakan korektifbuat dan meminimalkan resiko terulangnya keluhan atau ketidakpuasan pada pasien.
Indikator proses memberikan petunjuk tentang pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan, prosedur asuhan yang ditempuh oleh tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya.
c. Output
Output merupakan hasil atau kualitas pelayanan kesehatan, pengembangan staf, serta kegiatan penelitian untuk menindaklanjuti hasil atau keluaran. Tanpa mengukur hasil kinerja rumah sakit tidak dapat diketahui apakah input dan proses yang baikakanmenghasilkan output yang baik pula. Indicator outcomes merupakan indicator hasil yaitu input dan proses dan output.
Output dalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian IN adalah laporan pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian IN.
d.Umpan Balik (feedback)
Mekanisme umpan balik (feedback) diperlukan untuk menyelaraskan hasil dan perbaikan kegiatan yang akan datang. Mekanisme umpan balik dapat dilakukan melalui laporan keuangan, audit dan survei kendali mutu.
2.2 Landasan Teori
Landasan teori adalah menggunakan metode CIPP(contex,input, proses, product). metode ini mengkaji suatu objek penelitian dengan membandingkan kondisi yang ada (actual) dengan ketetapan perencanan yang ada. Dengan demikian program pencegahan terhadap IN di rumah sakit.
Kegiatan evaluasi yang dapat menyumbangkan nilai yang besar dan dapat pula membantu menyempurnakan pelaksannan kebijakkan beserta perkembangannya.Pengertian tersebut menjelaskan bahwa kegiatan evaluasi tersebut dapat menjadi tolak ukur apakah suatu kebijakan atau kegiataan dapat diteruskan, perlu di perbaiki atau di hentikan kegiatannya.
Evaluasi program adalah proses penetapan secara sistematis tentang nilai, tujuan, efektifitas atau kecocokan sesuatu sesuai dengan kriteria dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pencegahan dan pengendalian IN adalah suatu sistem mengendalikan perkembangbiakan dan penyebaran mikroba patogen (Darmadi, 2008).
Mengendalikan perkembangan mikroba pathogen berarti upaya mengeliminasi reservoil mikroba pathogen yang sedang atau akan melakukan kontak dengan penderita baik langsung maupun tidak langsung. Program pencegahan dan pengendalian IN adalah kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan dalam upaya menurunkan angka kejadian IN dirumah sakit (Depkes RI, 2008).
Pendekatan manajemen dapat digunakan dalam menilai keberhasilan pelaksanaan program pengendalian IN mengingat sistematikanya sesuai dengan langkah-langkah kegiatan pengendalian IN.
Manajemen merupakan seuatu pandekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Manajemen mencakup kegaiatan POAC
(Planning, organizing, actuating, controlling) terhadap staf, sarana, dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Muninjaya, 2004)
Program pencegahan dan pengendalian IN dirumah sakit merupakan indikator mutu pelayanan kesehatan, sehingga program tersebut harus direncanakan, dilaksanakan, diawasi dan dibina dengan melibatkan seluruh anggota rumah sakit.Dalam pelaksanaannya diperlukan suatu sistem yang dapat dipakai untuk menilai keberhasilan program. Pada penelitian ini yang sesuai adalah teori manajemen dari (Muninjaya, 2004)
Rangkaian pelaksanaan kegiatan yang saling berhubungan, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Setiap sistem terdiri lima unsure yaitu :input, proses, output, control, dan mekanisme umpan balik (Feedback) (Muninjaya, 2004)
Berdasarkan teori tersebut, maka landasan teori dapat di gambarkan dalam gambar di bawah ini:
Gambar 2.3 Evalusi Program terhadap IN Lingkungan
Output Process
Input Effect Outcome
Umpan Balik
2.6 Kerangka Pikir Penelitian
Kerangka pikir dalam penelitian ini mengacu kepada landasan teori yang telah di uraikan di atas dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut ini :
INPUT PROSES OUTPUT
Struktur Organisasi Uraian Tugas Program Kerja
Pengorganisasian Pelaksanaan
uraian tugas Pelaksanaan
Program Kerja Pengawasan dan
pengendalian
Laporan Pelaksanaan
Program Pencegahan terhadap kejadian Infeksi Nosokomial
Feedback
Gambar 2.4Kerangka Pikir Penelitian Sumber :(Muninjaya,2004)
Penelitian ini akan membahas tahapan input, proses, output yang berkaitan dengan organisasi yang meliputi struktur organisasi, uraian tugas dalam program kerja.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1.Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan observasi dengan design penelitian adalah studi kasus (case study) untuk mengidentifikasiprogram pencegahan terhadap kejadian IN di RSUP H. Adam Malik.
3.2.Lokasi Penelitian dan Jadwal Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik, adapun waktu penelitian di lakukan pada bulan Februari sampai Juni 2016. Mulai dari pengajuan judul, penelusuran pustaka, sampai seminar proposal, seminar hasil dan ujian tesis.
3.3.Informan Penelitian
Informan yang dianggap berkompeten memberikan informasi internal rumah sakit adalah :
a. informan I adalah Direktur dikarenkan direktur tidak ada ditempat maka diwakilkan dengan Kepala bidang pelayanan medik.
b. Informan 2adalahKetua Komite PPIRS c. Informan 3 adalah IPCO
d. Informan 4adalah IPCN
e. informan 5 sampai 10 adalah IPCLN
3.4.Sumber Data 3.4.1.Data Primer
Merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya dan dicatat untuk pertama kalinya.Teknik pengumpulan data primer dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (indepth interview) yang dilakukan oleh peneliti sendiri dengan menggunakan panduan wawancara. Alat yang digunakan pada saat wawancara adalahtape recorder.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti.Data untuk penelitian ini berasal dari laporan-laporan yang berasal dari RSUP H. Adam Malik.
3.5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara mendalam (indepth interview) kepada Direktur, Ketua Komite, IPCO, IPCN, dan IPCLN sebagai informan dengan menggunakan panduan wawancara yang disiapkan oleh peneliti.
3.6. Metode Analisa Data
Metode analisa data dalam penelitian ini difokuskan dalam proses penelitian di lapangan. Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2012) langkah-langkah dalam menganalisis data penelitian kualitatif dengan tahapan sebagai berikut :
1) Reduksi data
Proses reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Data yang di reduksi akan memberikan gambaran yang lebih spesifik dan mempermudah peneliti melakukan anlisis data serta mencari data tambahan jika dibutuhkan.
2) Menyajikan data
Penyajian data disajikan dalam bentuk matriks yang menyajikan uraian singkat hasil wawancara mendalam.Penyajian data diarahakan agar data hasil reduksi dapat teroganisir dan mudah dipahami.
3) Menarik kesimpulan dan verifikasi
Tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari semua data yang telah diperoleh sebagai hasil dari penelitian. Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah usaha untuk mencari atau memahami makna/arti, keteraturan, pola-pola, penjelasan, dan alur sebab akibat. kesimpulan bersifat kausal berdasarkan informasi yang terus berkembang dari informan serta penelusuran kepusatakaan.
Verifikasi dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan sebelumnya untuk meyakinkan peneliti dalam menarik kesimpulan.