BAB 4.HASIL PENELITIAN
4.5 Program Kerja
Program kerja komite PPIRS HAM dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial dan meliputi kebijakan dan prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi, surveilans, investigasi kejadian luar biasa,monitoring sterilisasi di rumah sakit, monitoring peralatan kadaluwarsa, single-use menjadi reuse, monitoring kegiatan pelayanan makanan dan permesinan, monitoring pengendalian sanitasi lingkungan rumah sakit, monitoring pelaksanaan isolasi pasien, monitoring pembuangan benda tajam dan jarum, monitoring pembongkaran, pembangunan dan renovasi, monitoringhand hygine, monitoring kepatuhan penggunaan APD, pelatihan staf rumah sakit, edukasi, pegendalian mikroba resisten, dengan program ini yang telah di terapkan di RSUP HAM. Dilihat dari penelitian
dokumen program kerja komite PPIRS tahun 2016 ada tertulis tentang program-program yang akan diadakan setiap tahunnya.
Peryataan informan tentang pelaksanaan program bahwa semua tenaga kesehatan sudah mengetahuinya pada saat apel pagi di hari senin tentang 5 momen yaitu berdasarkan surat keputusan Direktur Utama No PM 01.23/IX/44/2015 tentang kebijakan kebersihan tangan. Hal ini dapat diperkuat dengan peryataan.
“…..semua petugas wajib apel pagi setiap hari senin disana selalu diingatkan tentang 5 momenyaitu sebelum kontak dengan pasien, sebelum melakukan tindakan aseptic, setelah terkena cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien dan di ikuti mempraktikkan cuci tangan yang benar di harapkan semuanya sadar tentang pentingnya cuci tangan….”(Informan 1 sampai 10)
Dari hasil informasi tersebut, menunjukkan bahwa semua petugas kesehatan selalu mendapatkan informasi tentang 5 momen kebersihan tangan yaitu sebelum kontak dengan pasien, sebelum melakukan tindakan aseptic, setelah terkena cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien serta mempraktikkan cara cuci tangan yang benar.
Berdasarkan hasil wawancara informan IPCLN tentang Pelatihan PPIRS rata-rata baru pertama kali ikut pelatihan/sosialisasi tentang PPIsebagimana informasi yang di peroleh dari informan lima sampai sepuluh dapat disimpulkan sebagai berikut ini .
“…..saya baru ikut pelatihan tentang PPIRS 2 tahun yang lalu sekitar tahun 2014 dan pelatihannya biasanya bergeliran gitu…” (Infoman 5 sampai 10)
Dari hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa anggota IPCLN baru mendapatkan pelatiahan/sosialisasi tentang PPI pertama sekali sebelum diangkat menjadi IPCLN.
Hal yang berbeda di informasikan pada informan kedua tentang pelatihan/
sosialisasi maka di peroleh informasi sesuai dengan pernyatan berikut ini:
“…….salah satu program PPI adalah pelatihan yang wajib dilaksanakan 3 kali dalam setahun supaya semua petugas kesehatan sadar pentinya pencegan infeksi…….” (informan 2)
Hal serupa juga disampaikan oleh informan keempat pada pernyataan berikut ini :
“…….sekitar bulan februari yang lalu baru saja kita lakukan pelatihan dekkan tentang PPIRS itu diadakan selama tiga hari pesertanya ada juga dari luar rumah sakit Adam malik dek…….”(informan 4)
Berdasarkan informasi yang diproleh dari informan kedua dan keempat tersebut, menunjukkan bahwa pelatihan yang dilaksanakan 3 kali dalam setahun.
Berdasarkan hasil wawancara tentang laporan yang di berikan setiap bulan dari IPCLN ke IPCN sebagaimana yang diinformasikan dari informan IPCLN dengan kesimpulan berikut ini:
“….. sayawajib melaporkansetiap bulan tentang kejadian infeksi ke pada IPCN dan jika terdapat infeksi tim PPI langsung turun untuk pemantauan lanjut…..” (informan 5 sampai 10)
Dari hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa pelaporan kejadian infeksi dilakukan setiap bulan.Hal ini serupa dengan pelaporan kepatuhan tenaga kesehatan tentang PPI.Pernyataan ini dapat di perkuat dengan pernyataan.
“…….wajib melaporkansetiap bulan tentang kepatuhan tenaga kesehatan ke pada IPCN...….” (Informan 5 sampai 10)
Dari hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa pelaporan kepatuhan petugas kesehatan dilakukan setiap bulan.
Berdasarkan hasil wawancara tingkat kevalitan laporan dapat di informasikan oleh kedua informandari pernyataan Ketua Komite dan IPCO tentang pelaporan kejadian infeksi dan kepatuhan tenaga kesehatan yang di lakukan oleh IPCLN, maka diperoleh informasi sesuai dengan pernyataan berikut ini :
“…..setiap harinya dipantau oleh perawat ruangan disebut IPCLN.Makanya dilaporkan kepatuh CoAss 40%, kepatuhan perawat 70%.yang lebih patuh itu memang perawat karena mereka yang menilai jadi tidakpasti….”(Informan 2,3)
Berdasarkan informasi yang di peroleh dari informan tersebut menunjukkan bawa terdapat ketidak akuratan/valitasi terhadap laporan kejadian infeksi dan kepatuhan petugas kesehatan.
Data laporan surveilan didapat angka infeksi yang didapatdirumah sakit dari bulan Januari sampai dengan April 2016 menunjukkan ada 131 orang (0,11%) kasus IN dari 109.848 pasien yaitu :ISK sebanyak 16 orang (0.11%) dari 13.763 pasien pasang kateter, IDO/ILO 11 orang (0,55%) dari 1986 pasien operasi, Plebitis sebanyak 73 orang (0,12) dari 58.379 pasien pasang infus, IADP 1 orang (0,15) dari 660 pasien CVC, Dekubitus 28 orang (0,15%) dari 17.829 pasien bedres total, HAP 1 orang (0.005) dari 17.180 pasien rawat inap, VAP 1 orang (0.21%) dari 458 pasien yang pasang ventilator.
Dari laporan hasil surveilan, kejadian infeksi yang paling tinggi akibat IDO dan flebitis merupakan infeksi yang terbanyak, angka kejadian infeksi tersebut
berdasarkn laporan komite PPIRS Adam Malik dari bulan Januari sampai dengan bulan April tahun 2016 dapat di lihat dalam table 4.1
Tabel 4.1Angka Kejadian IDO/ILO dan Plebitis di RSUP H. Adam Malik Medan dari bulan Januari sampai dengan April 2016
NO Spesialis
Sumber : Laporan Komite PPIRS dari bulan Januari sampai April 2016
Dari laporan tersebut kejadian infeksi yang paling tinggi akibat IDO dan flebitis merupakan infeksi yang terbanyak terdapat pada ruangan RB3 dimana diperlukan pemantauan dan pengawasan terhadap ruangan tersebut.
Data laporan surveilan tentang kepatuhan kebersihan tangan berdasarkan profesi PPI tahun 2015 adalah tingkat kepatuhan CoAss 29.3%, tingkat kepatuhan PPDS 45%, tingkat kepatuhan siswa 50.1%, tingkat kepatuhan spesialis 63.3%, tingkat kepatuhan perawat 69,5%.
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Sruktur Organisasi
Struktur organisasi adalah sebagai penentuan bagaimana pekerjaan dibagi, dibagi dan dikelompokkan secara formal.Sedangkan organisasi merupakan unit sosial yang dikoordinasikan secara sadar, terdiri dari dua orang atau lebih dan berfungsi dalam suatu dasar yang relatif terus-menerus guna mencapai serangkaian tujuan bersama (Robbins, 2007).
Struktur organisasi PPIRS sudah di tetapkan oleh Depkes RI, 2008 tentang pedoman manjerial pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Sehingga RSUP HAM sudah mengubah sruktur organisasi PPI tahun 2007 tentang komite PPIRS sebelum tahun 2007 komite PPIRS di bawah komite medik dan keperawatan. Dari penelitian mengenai sruktur organisasi Komite PPI RS sudah sesuai dengan pedoman, dimana Direktur Utama dan Komite PPIRS merupakan tingkat penentu atau penyususun kebijakan sedangkan tim PPI merupakan pelaksana kebijakan.
Komite PPIRS menyatakan bahwa komite PPI telah mengikuti prinsip yang di atur oleh Depkes RI 2008 demikian juga dengan buku menurut Purwanto dan Sulistyastuti, 2012 dimana komitmen dan kompetensi merupakan dua hal persyaratan penting yang harus dimiliki personel yang di berikan mandat untuk mencapai tujuan dalam implementasi dan kesungguhan seseorang dalam menjalankan tugasnya dan
memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk menjalankan tugasnya tersebut sebagai komite PPIRS.
Pelaksanaan PPI INdi RSUP H. Adam Malik telah memiliki koordinasi dari berbagai pihak,maka jalur komunikasi dan garis komando yang tergambar jelas di dalam struktur organisasi dan dikomunikasikan kepada seluruh staf.merupakan hal yang terpenting dalam melaksanakan semua kegiatan dalam rangka pencegahan dan pengendalian.
Komitmen dan kompetensi merupakan dua persyaratan penting yang harus dimiliki oleh personel dalam sruktur organisasi sehingga tujuan dapat terlaksana dengan baik.Dimana komitmen menujukkan pada kesungguhan seseorang dalam menjalakan tugas yang diberikan kepadanya dengan sungguh-sungguh, memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk menjalakan tugasnya dan menggunakan segala potensi yang ada pada dirinya untuk mencapai tujuan yang dibebankan oleh organisasi terhadap orang tersebut. Komitmen akan muncul ketika personal menggangap bahwa percapaian tujuan organisasi dihayati sebagai tujuan pribadinya sehingga keberhasilan atau kegagalan dirinya. Memiliki hubungan yang kuat antara personal dengan organisasi sehinga tugas yang didelegasikan oleh organisasi kepada para personil tersebut secara serius.
Komitmen saja tidak cukup untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan organisasi. Komitmen akan berkontribusi dalam menghasilkan output kerja yang maksimal ketika para personilmemiliki kompetensi dan komitmen dalam pencegahan infeksi.
Hasil penelitian yang dilakukan Gammahendra, dkk, 2014 menunjukkan bahwa dimensi struktur organisasi yang terdiri dari variabel kompleksitas, formalisasi, sentralisasi secara bersama-sama berpengaruh terhadap efektivitas organisasi.Selanjutnya hasil penelitian juga menunjukkan bahwa secara parsial dimensi struktur organisasi yang terdiri dari variabel kompleksitas, formalisasi, sentralisasiberpengaruh signifikan terhadap efektivitas organisasi.Variabel kompleksitas, formalisasi, sentralisasi mampu memberikan kontribusi terhadap variabel efektivitas organisasi dengan hasil R2 (koefisien determinasi) sebesar 0,596 atau 59,6%sedangkan sisanya 40,4% merupakan kontribusi dari variabel lain yang tidak masuk dalam penelitian ini yaitu karakteristik organisasi (teknologi), karakteristik lingkungan (eksternal dan internal/iklim), karakteristik pekerja (keterikatan pada organisasi dan prestasi kerja), kebijakan dan praktik manajemen.
Variabel bebas yang dipilih dapat disesuaikan dengan keadaan organisasi perusahaan obyek penelitian.
Hasil penelitan diperolehpetugas kesehatan yang di tunjuk sebagai IPCLN dan tidak diberikan kesempatan untuk menolak ikut serta dalam organisasi PPIRS sehingga kendala di hadapi bahwa IPCLN tidak menjalankan tanggung jawabnya secara optimal sesuai yang diharapkan direktur utama dan kepala Komite PPIRS hal ini menjadi permasalahan dimana tenaga IPCLN masih memiliki tugas pokok yang lain sebagai perawat sehingga organisasi PPI tidak secara optimal dilaksanakan.
Halini sesuai dengan penelitian Aisyah, dkk tahun 2013menunjukkan bahwa sebagian besar komponen surveilans Infeksi Daerah Operasi (IDO) di Rumah Sakit X Surabaya tahun 2013 berjalan dengan baik sesuai dengan pedoman surveilans yang ada. Hanya saja, terdapat kekurangan di bagian pengumpulan data, khususnya pada ketepatan laporan dan kelengkapan pengisian formulir.Hal tersebut dikarenakan kesibukan IPCLN yang juga harus bertugas sebagai perawat sehingga mengakibatkan kelalaian.
Hal ini sesuai dengan penelitian Mustariningrum, dkk 2015pelatihan berhubungan cukup kuat serta berpengaruh signifikan, motivasi kerja IPCLN tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerjanya, supervisi berhubungan kuat serta berpengaruh signifikan terhadap kinerja IPCLN. Pelatihan, motivasi kerja, dan supervisi berhubungan kuat dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja IPCLN secara simultan. Kinerja IPCLN dapat dijelaskan sebesar 52,6% dari variabel pelatihan, motivasi kerja dan supervisi secara simultan, dan supervisi yang berpengaruh dominan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka peran ketua dalam memikirkan kebijakan yang tepat terhadap permasalahan yang ada,misalnyameningkatkan motivasi para petugas surveilans melalui pelatihan, absensi pengumpulan formulir, sistem reward dan punishmentyang memiliki indikator jelas dan tertulis, dan berbagai metode lain yang dapat meningkatkan kesadaran IPCLN untuk melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi.
Permasalahan tidak ada insentif kepada para petugas IPCLN menyebabkan petugas tidak memiliki motivasi dan semangat dalam menjalan program tersebut.
Direktur dan ketua komite untuk memperhatikan masalah insentif agar dapatmerangsang atau pendorong kepada perawat yang di tunjuk sebagai IPCLN berkerja. agar timbul semangat yang lebih besar dalam melakukan program PPI.
Apabila program insentif diberikan kepada petugas IPCLN atas beban kerja tambahan maka akan menimbulkanrasadihargai.Maka petugas dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Apabila sudah diberikan insentif maka jika tugas yang diberikan kepadanya tidak menjalankan bisa mendapat sanksi yang tegas dan tertulis. Insentif bisa berupa dengan materi atau penambahan poin untuk kenaikan jabatan/golongan.
Hal ini sesuai dengan penelitian Khairati tahun 2013 di Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Pesisir Selatan yang menyatakan bahwa insentif berpengaruh secara positif terhadap kinerja. Hal ini dapat diketahui dari hasil uji regresi yang mendapatkan nilai p value 0,019 (lebih kecil dari0,05).
Besarnyakonstribusi insentif terhadap kinerja pegawai Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah sebesar 13,69%. Dari ketentuan ini dapat diketahuibahwasistem insentifmenunjukkanhubungan yang paling jelas antara kompensasi dan kinerja.
PenelitianFauziah tahun 2012 juga menyatakan bahwa dengan uji persamaan regresi maka ada pengaruh insentif dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai pada kantor Dinas Bina Marga Balai Besar Pelaksanaan Jalan NasionalII Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Bandar Lampung
5.2 Uraian Tugas
Uraian tugas merupakan uraian tertulis tentang apa yang menjadi konstribusi tiap pemegang jabatan kepada organisasi. Kata kunci dari pengertian ini adalah kontribusi. Ini berarti bahwa uraian tugas haruslah memuat hal-hal apasaja yang merupakan konstribusi dari sebuah jabatan dalam tugas Komite PPIRS (Depkes RI, 2008).
Uraian pekerjaan (job description) dan uraian jabatan (job position) di ketahui dan disusun berdasarkan informasi yang telah dihasilkan oleh analisis pekerjaan.Uraian tugas digunakan untuk tenaga kerja operasional, sedangkan uraian jabatan digunakan untuk tenaga kerja manajerial.Uraian pekerjaan atau jabatan harus ditetapkan secara jelas untuk setiap jabatan, agar pejabat tersebut bertanggungjawab atastugas yang dilakukan. Uraian tugas harus akan memberikan ketegasan dan standar tugas yang harus dicapai oleh seorang pejabat yang memengang jabatan tersebut.
Uraian tugas ini menjadi dasar untuk menetapkan spesifikasi pekerjaan dan evaluasi pekerjaaan bagi pejabat yang memegang jabatan itu. Uraian tugas yang kurang jelas akan mengakibatkan seorang pejabat kurang menegatahui tugas dan tanggung jawabnya. Hal ini mengakibatkan hal yang tidak beres, bahkan pejabat bersangkutan menjadi overacting(Hasibuan, 2005).
Uraian tugas harus di uraikan secara jelas, tanggung jawab, dan standar prestasi yang harus dicapainya. Uraian tugas harus menjadi dasar untuk menetapkan sifikasi tugas, supaya pengisian jabatan didasarkan apa baru siapa sehingga mismanajemen dapat dihindari.
Spesifikasi tugas (job spesification) terhadap program pencegahan dan pengendalian dimana setiap pejabat sruktur organisasi dalam PPI tersebut mempunyai minat untuk berkerja sesuai tugas pokok dan fungsi PPI dan Pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI. Adapun kreteria yang telah di tetapkan adalah sebagai berikut :
1. Kriteria IPCO adalah Ahli atau dokter yang mempunyai minat dalam PPI.
Mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI. Memiliki kemampuan leadership.
2. Kriteria IPCN adalah Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi PPI, memiliki komitmen di bidang pencegahan dan pengendalian infeksi, memiliki pengalaman sebagai Kepala Ruangan atau setara, memiliki kemampuan leadership, inovatif dan convident. Bekerja purna waktu.
3. Kriteria IPCLN adalah Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi PPI, memiliki komitmen di bidang pencegahan dan pengendalian infeksi, memiliki kemampuan leadership.
Dalam penelitian ini uraian tugas masing-masing jabatan di dalam komite PPIRS sudah tercantum dalam panduan PPIRS HAM dan uraian tugas sudah jelas dan persepsi mudah dipahami misalnyatelah memberikan jabatan sesuai dengan standar yang di harapkan, hubungan tugas dan tanggung jawab,yaitu perincian tugas dan tanggun jawab secara nyata diuraikan secara terpisah dan jelas diketahui dan menunjukkan hubungan antara pejabat dengan orang lain maupun di luar organisasi, standar wewenang dan prestasi yang harus dicapai, sudah memenuhi persayaratan dalam organisasi. Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa semua sudah mengetahui
dengan baik uraian tugas yang harus di lakukan terhadap masing-masing jabatan yang telah di amanahkan dan semua yang dipilih menjadi penangung jawab sudah mendapatkan pelatihan PPIRS dan sosialisasi.
Pada saat informan ditanya mengenai pelaksanaan tugas yang menjadi kewajibannya, hampir semua informan menyatakan bahwa pelaksanaan tugasnya dalam program PPIRS belum maksimal karena belum semua tugas di laksanakan informan yaitu mengisi dan mengumpulkan formulir surveilans setiap pasien di unit rawat inap masing-masing setiap hari,kemudian menyerahkanya kepada IPCN ketika pasien pulang, memberi motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan pengendalian infeksi pada setiap pasien, memberitahukan kepada IPCN apabila ada kecurigaan adanyaIN pada pasien, berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB,penyuluhan bagi pengunjung di ruang rawat masing-masing,konsultasi prosedur yang harus dijalankan bila belum faham, memonitor kepatuhan petugas kesehatan yang lain dalam menjalankan Standar Isolasi.
Informan IPCLN mengatakan bahwa masih belum optimal pada saat melakukan tugas tersebut seperti :
1. Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilans setiap pasien di unit rawat inap masing-masing setiap hari dan melaporkannnya setiap bulan kepada IPCNkendalanya petugas IPCLN rata-rata masih bertangung jawab dengan kamar, masih dapat giliran dinas malam dan CI dimana tugas CI memberikan bimbingan ke mahasiswa dan banyak tugas laporan yang harus di kerjakan setiap harinya,
2. Memberi motivasi dan teguran tentang pelaksanaankepatuhan pencegahan dan pengendalian infeksi pada setiap personil ruangan. tapi karena merubah prilaku seseorang sangat sulit sekali sehingga masih banyak petugas yang mengangap pencegahan infeksi hal yang biasa terjadi dan tidak langsung efeknya. Adapun kendalal petugas yang dihadapi adalah terlalu banyaknya pihak yang ingin diperhatikan dilapangan misalnya pasien, mahasiswa dan petugas-petugas lainnya.
3. Masih kurangnya kepatuhan petugas kesehatan yang lain dalam menjalakan program PPI
Hal ini sesuai yang dilakukan penelitan oleh Ulfa dan Adhyaksafitri. 2015 tentang Pelaksanaan standar prosedur operasional (SPO) pemasangan ventilator di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta oleh perawat dapat dikatakan belum maksimal karena hanya 80% perawat yang patuh mengunakan SOP pada saat melakukan tindakan di karena banyaknya pekerjaan yang harus di lakukan.
Cuci tangan merupakan tindakan utama dalam pengendalian infeksi nosokomial. Cuci tangan adalah kegiatan dengan air mengalir ditambah sabun atau sabun antiseptik yang bertujuan untuk meminimalkan atau menghilangkan mikroorganisme di tangan dan mencegah perpindahan mikroorganisme(infeksi silang) dari lingkungan ke pasien dan dari pasien ke petugas. Direktur Utama RSUP HAM membuat keputusan No.PM.01.23/IX/44/15kebijakan tentang kebersihan tangandan telah disampaikan kepada petugas apel pagi dan diikuti dengan peserta apel, tapi masih saja di temukan petugas tidak mencuci tangan pada saat 5 moment
hand hygiene yaitu sebelum kontak dengan pasien, sebelum melakukan tindakan aseptic, setelah terkena cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien.Alasan petugas kesehatan tidak melaksanakan cuci tangan tersebut adalah tidak cukup waktu untuk cuci tangan, waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan cuci tangan adalah 20-30 detik.
Berdasarkan laporan Komite PPIangka kepatuhan melakukan hand hygiene pada tahun 2015 hanya berkisar 50-70% adalahtingkat kepatuhanCoAss 29.3%,tingkat kepatuhan PPDS 45%, tingkat kepatuhan siswa 50.1%, tingkat kepatuhanspesialis 63.3%, tingkat kepatuhanperawat 69,5%.
Angka kepatuhan tentang hand hygienemasih dibawah standar yang diharapkan yaitu tingkat kepatuhan 100%. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kepatihan perawat yang paling tinggi dikarenakan prerawat yang selalu kontak dengan pasien 24 jam di ruangan.
Penelitian yang di lakukan oleh Rikayanti HK, Arta KS tahun 2013 tentang tenaga kesehatan memiliki tingkat pengetahuan mencuci tangan baik sebanyak 54 orang (73%) dan tenaga kesehatan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 20 orang (27%). Tenaga kesehatan yang memiliki perilaku baik sebanyak 43 orang (58,1%) dan tenaga kesehatan yang memiliki perilaku kurang sebanyak 31 orang (41,9%).
Peryataan tentang IPCN tentang urainya tugas masih kurangnya kesadaran pasien dan pengunjung rumah sakit tentang PPIRS walupun sudah membuat stand Hand Hygiene dimana pengunjung mendapatkan informasi mengenai Hand
Hygienedari perawat IPCN dan IPCLN tapi masih ditemukan pengunjung tidak melakukannya sebelum kontak dengan pasien, memajang tehnik cuci tangan di depan pintu masuk kamar pasien tapi masih banyak pengunjung tidak membaca semua tulisan yang telah dibuat, membuat leaflet dan brosur Hand hygiene, Membuat video tema Hand hygiene peringatan hand hygiene day.Hal tersebut tidak berjalan karena terlalu banyak pengunjung di rumah sakit dan kurangnya sosialisasi tentang cara penggunaan hand sanitizer.
Salahsatu tantangan terberat dalam melaksanakan program pengendalian infeksi adalah meyakinkan petugas kesehatan lainnya untuk menerapkan pencegahan infeksi yang telah diprogramkan oleh tim PPI. Untuk itu data surveilans harus diolah dengan baik, jujur dan professional sehingga dapat dipercaya dan dijadikan pedoman bagi upaya PP IN.
Ujung tombak dari pelaporan ini adalah IPCLN dimana apabila IPCLN tidak mendata dengan jujur dan benar maka validitas data tersebut tidak bisa di jadikan acuan dalam pelaksanaan PPI tidak bisa bisa berjalan sesuai yang di harapkan.
Kendala keterbatasan IPCLN dalam pengawasan yang di lakukan hanya mengawasi pada saat shift dinas saja. Jadi untuk kepatuhan petugas pada saat dinas malam dan sore tidak bisa di kontrol. Tidak ada sanksi yang tegas mengenai pelanggaran tentang pencegahan dan pengendalian infeksi.Menumbuhkan kesadaran terhadap tenaga kesehatan ini sangat susah tanpa dasar pemaksaan dan tindakan yang tegas.
5.3 Program Kerja
Pengendalian infeksi dirumah sakit adalah suatu program kegiatan yang bertujuan untuk melindungi pasien, keluarga/pengunjung dan petugas dari suatu penularan penyakit infeksius.Akibat adanya infeksi rumah sakit ini banyak menimbulkan masalah antara lain mengenai kuman penyebab, pengobatan, penanganannya serta mengakibatkan bertambah panjangnya masa perawatan dan bertambahnya biaya pengobatan dari penderita-penderita di rumah sakit.Pada akhir masalah infeksi rumah sakit telah dijadikan salah satu tolak ukur kualitas pelayanan di rumah sakit.
Keberhasilan program ini ditentukan oleh perilaku petugas dalam melaksanakan perawatan yang sempurna kepada pasien. Perubahan perilaku inilah yang memerlukan proses belajar dan mengajar yang terus menerus. Program pendidikan hendaknya tidak hanya ditekankan pada aspek perawatan yang baik saja, tetapi kiranya juga aspek epidemiologi dari IN ini.Jadi jelaslah bahwa dalam seluruh lini program pengendalian IN perawat mempunyai peran yang sangat menentukan.
PPIIN adalah kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan dalam upaya menurunkan angka kejadian IN di rumah
PPIIN adalah kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan serta pembinaan dalam upaya menurunkan angka kejadian IN di rumah